Anda di halaman 1dari 58

PREDIKSI DAN EVALUASI EROSI

PREDIKSI DAN EVALUASI EROSI

Pengertian dari prediksi adalah memperkirakan sesuatu yang akan terjadi. Misalnya
suatu prediksi erosi = laju erosi yang akan terjadi. Tujuan diprediksi adalah untuk
mengetahui tindakan pengelolaan tersebut, jumlah erosi maksimal yang diperbolehkan.
Alat bantu dalam perencanaan konservasi adalah evaluasi lahan. Laju erosi yang masih
bisa dipertimbangkan dan dibiarkan adalah dalam kondisi lestari.
Untuk memprediksi erosi :
Metode USLE (universal soil loss equation)
- Dikembangkan oleh wishchmeier dan smith
- Digunakan untuk memprediksi laju rata-rata erosi suatu bidang tanah tertentu pada suatu
kelerengan curam dengan pola hujan tertentu dan tindakan pengelolaan yang mungkin
dilakukan atau yang akan digunakan.
- Rumus : A = RKLSCP (ket : A = erosi [ton/Ha/thn], R = indeks erosivitas hujan, K = indeks
erodibilitas tanah [jumlah tanah yang terserosi setiap tahun perindeks, dapat dilihat melalui
tabel], L = panjang lereng, S = lereng, P = pencegahan erosi, C = 1 [petak buku yaitu petak
tanpa tanaman])

Faktor lereng (L) = [X/22]m Nb : m = nilai faktor kemiringan lereng.


P = 1 yakni karena tidak ada tindakan erosi, tetap bernilai 1
LS = 1 yakni karena tidak disebutkan , kecuraman 9%, dan panjang lereng = 22 m
C = 1 yakni tanah tanpa tanaman (nilai baku)

Soal :
Diketahui kelerengan 15%, R = 1200, K = 0.32, maka
S = 0.43 + 0.3 x 15 + 0.043 x 225 / 6.613
= 14.605 / 6.613 = 2.2

A = 1200 x 0.32 x 1.0 x 2.2 x 0.357 x 10 = 301.6 ton/ha/thn

Dengan demikian nilai C dan P dapat dimodifikasi (untuk menekan erosi menjadi <30
ton/ha/thn)
CP T/RKLS yakni CP 0.036
Contoh :
A = 1200 x 0.32 x 1.0 x 2.2 x 0.357 x 0.04
= 12.1 ton/ha/thn
= 1 mm/thn (yakni P diubah menjadi teras bangku)

Erosi potensial (A=RKLS) merupakan tidak ada konservasi, tumbuhan penutup tanah (C
dan P = 1)
Erosi actual yakni C dan P # 1 maka sesuai dengan di lapangan saat dilakukan penilaian
(A = RKLSCP)

Indeks bahaya erosi = erosi potensial (ton/ha/thn) / T (ton/ha/thn)


Pengukuran erosi
- Kotak penampung tanah erosi
- Petak percobaan lapangan
- Tongkat pengukur yakni dibuat lahan (ditancapkan ke dalam lahan dan dilihat perubahan)
- Survey tanah yakni melihat lapangan lalu menghitung A = RKLSCP
- Teknologi penginderaan jarak jauh
- Mengukur volume parit = erosi parit
- Pengukuran sedimen di DAS yakni diambil air, didiamkan dan dihitung sedimennya.

Metode Kimia KTA


Yakni ditunjukkan supaya tanah-tanah kita agregatnya kuat dan waktu hujan turun tetap
menyatu.
Hifa = jamur di dalam tanah untuk mengikat atau menutupi tanah antara butir-butir liat ada
kutub positif dan negatif. Metode kimia ini menggunakan preparat kimia sintetis atau
alami untuk memantapkan agregat (struktur) tanah dan mencegah erosi.
Soil conditioner = bahan pemantap tanah berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik tanah
(stabilitas daya agregat tanah, daya olah tanah)

Preparat yang digunakan berupa emulsi bitumen yang dicampur dengan air disemprot ke
dalam tanah dan diaduk. Preparat kimia ini mempengaruhi kandungan tanah.

Soal J
1. Bagaimana hubungan kesuburan tanah dengan ikatan agregat tanah ?kesuburan
berhubungan dengan fisik, kimia, dan biologi.

2. Sebidang tanah podsolik merah kuning (tropudult) terdapat di daerah pekalongan, lampung
tengah dengan kelerengan 15% dan ditanami dengan pola tanam padi-jagung-kacang tanah
secara berurutan. Nilai R untuk daerah ini 1200 , nilai K = 0.32, maka nilai S ?

Jawab :
2.Nilai S = 0.43 + 0.30 x 15 + 0.043 x 225 / 6.613 = 14.605 / 6.613 = 2.2

Sumber : Bahan kuliah USU kehutanan


Nurina Endra Purnama

PENDUGAAN EROSI DENGAN METODE USLE (Universal Soil


Loss Equation) DI SITU BOJONGSARI, DEPOK

Oleh: NURINA ENDRA PURNAMA, F14104028, 2008


DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Nurina Endra Purnama. F14104028. Pendugaan Erosi dengan Metode USLE


(Universal Soil Loss Equation) di Situ Bojongsari, Depok . Di bawah bimbingan : Dr.
Ir. Roh Santoso Budi Waspodo, M.T. 2008

Sumber: http://repository.ipb.ac.id/

RINGKASAN

Situ Bojongsari merupakan situ terbesar di Kota Depok dengan luas mencapai 28.25 Ha
yang kondisinya semakin kritis akibat erosi yang disebabkan oleh pertumbuhan penduduk
dan aktifitas pembangunan di sekitarnya. Padahal keberadaan situ tersebut sangat
potensial dalam menjaga wilayah Jakarta dan Depok dari banjir.

Erosi merupakan peristiwa hilangnya lapisan tanah atau bagian-bagian tanah. Erosi
menimbulkan kerusakan pada tanah tempat terjadi erosi dan pada tujuan akhir tanah
terangkut tersebut diendapkan. Erosi di Situ Bojongsari terjadi pada tanah di
bantaran/pinggir situ yang menyebabkan tanah terangkut dan mengendap di perairan
sehingga menyebabkan pendangkalan situ.

Oleh sebab itu besar erosi pada suatu wilayah harus diperkirakan guna merencanakan aksi
tindak pemulihan dan pencegahan erosi yang lebih besar lagi. Salah satu metode untuk
menduga atau menghitung nilai erosi melalui pendekatan USLE (Universal Soil Loss
Equation). Parameter-parameter yang diperhitungkan untuk pendugaan dengan metode
USLE adalah erosivitas hujan (R), erodibilitas tanah (K), panjang lereng (L), kemiringan
lereng (S), pengelolaan tanaman (C), dan konservasi tanah (P).

Proses erosi terjadi melalui tiga tahap, yaitu pelepasan partikel tanah, pengangkutan oleh
media seperti air adan angin, dan selanjutnya pengendapan. Beberapa faktor yang
mempengaruhi besarnya erosi adalah curah hujan, tanah, lereng (topografi), vegetasi, dan
aktifitas manusia. Faktor-faktor tersebutlah yang merupakan komponen-komponen pengali
dalam pendekatan USLE. Aplikasi dari pendugaan erosi dengan metode USLE ini telah
banyak dilakukan untuk perencanaan penggunaan lahan.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap pendugaan erosi yang dilakukan di Situ Bojongsari,
maka diperoleh hasil laju erosi rata-rata yang terjadi di Situ Bojongsari dibagi dalam lima
wilayah erosi berdasarkan perbedaan faktor vegetasi serta konservasi (CP). Laju erosi di
lokasi 1 sebesar 300.111 ton/ha/tahun, lokasi 2 dengan laju erosi 0.806 ton/ha/tahun, lokasi
3 sebesar 118.303 ton/ha/tahun, lokasi 4 sebesar 10.315 ton/ha/tahun, di lokasi 5 nilai laju
erosinya 1.612 ton/ha/tahun.
Berdasarkan perhitungan cakupan daerah tangkapan pada masing-masing zona maka dapat
diketahui bahwa nilai erosi terbesar yang tergolong kelas erosi berat terdapat pada lokasi 1
sebesar 4969.84 ton/ha. Sedangkan nilai erosi terkecil terdapat pada lokasi 5 yang
tergolong kategori erosi sangat ringan sebesar 22.66 ton/ha.

Penyebaran luas untuk kelas TBE yang tergolong sangat ringan terjadi pada kelas
kelerengan 0-5 % dan sedang pada kelas kelerengan 15-35 %, sedangkan kelas erosi berat
terjadi pada kelas kelerengan 35-50 %. Sehingga dapat disimpulkan bahwa areal di
sekeliling Situ Bojongsari masih dalam kondisi relatif aman terhadap bahaya erosi dan
sedimentasi. Hal ini juga diperkuat dengan perhitungan kemungkinan umur Situ
Bojongsari.

Umur Situ Bojongsari mampu mencapai 211 tahun. Hasil ini bukan merupakan nilai
mutlak. Nilai ini hanya berupa prediksi, karena pada hakekatnya umur situ juga tergantung
dari aktivitas manusia di sekelilingnya dan kemauan manusia untuk mengelola lingkungan
hidup. Bukan tidak mungkin, umur situ lebih pendek dari prediksi perhitungan akibat
perilaku masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan.

Faktor penyebab erosi terbesar pada Situ Bojongsari adalah karena tanah yang terbawa
aliran permukaan akibat vegetasi di sekitar situ tidak dapat menahan aliran permukaan
serta vegetasi yang jarang. Untuk mencegah terjadinya erosi maka perlu dilakukan
reboisasi di sekitar situ dan pembuatan bangunan penangkal erosi.

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tanah sebagai sumber daya alam telah mengalami berbagai tekanan seiring dengan
peningkatan jumlah manusia. Tekanan tersebut telah menyebabkan penurunan mutu tanah
yang berujung pada pengurangan kemampuan tanah untuk berproduksi. Penurunan mutu
tanah tersebut disebabkan oleh proses pencucian hara dan proses erosi tanah terutama pada
lahan-lahan yang tidak memiliki penutupan vegetasi. Erosi merupakan peristiwa hilangnya
lapisan tanah atau bagian-bagian tanah di permukaan. Di Indonesia erosi yang sering
dijumpai adalah erosi yang disebabkan oleh air.

Erosi dapat menimbulkan kerusakan baik pada tanah tempat terjadi erosi maupun pada
tempat tujuan akhir tanah yang terangkut tersebut diendapkan. Kerusakan pada tanah
tempat erosi terjadi berupa penurunan sifat-sifat kimia dan fisik tanah yang pada akhirnya
menyebabkan memburuknya pertumbuhan tanaman dan rendahnya produktivitas.
Sedangkan pada tempat tujuan akhir hasil erosi akan menyebabkan pendangkalan sungai,
aduk, situ/danau, dan saluran irigasi. Dengan peningkatan jumlah aliran air di permukaan
dan mendangkalnya sungai menyebabkan makin seringnya terjadi banjir (Murdis, 1999).

Situ-situ yang ada di wilayah Jabodetabek merupakan bagian dari sumber daya air lintas
provinsi di wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, wilayah Ciujung-Ciliman, dan wilayah
Sungai Citarum. Sebagian besar situ-situ tersebut, saat ini kondisinya sangat
memprihatinkan karena telah mengalami penurunan baik kuantitas maupun kualitasnya,
sehingga banyak yang tidak dapat difungsikan dan dimanfaatkan dengan optimal, yang
diakibatkan oleh berbagai faktor yaitu faktor fisik dan faktor non fisik. Faktor fisik antara
lain: pengurangan luasan situ karena alih fungsi, sedimentasi, kurangnya pemeliharaan
sehingga dipenuhi gulma air dan rerumputan, juga kerusakan pada bangunan prasarana
situ. Faktor non fisik berupa penyalahgunaan wewenang pemberian izin pemanfaatan situ,
pemberian hak atas tanah pada kawasan situ, penyerobotan/pemanfaatan secara ilegal,
keterbatasan kemampuan pengelolaan situ oleh pemerintah dan pemerintah daerah,
kurangnya partisipasi masyarakat serta kurangnya kesamaan persepsi terhadap perundang-
undangan.

Kota Depok merupakan daerah yang tergolong memiliki banyak situ. Tercatat 26 situ
tersebar di wilayah selatan Jakarta ini. Namun, dari 26 situ yang tersebar di enam
kecamatan, kira-kira 80 persen diantaranya dalam kondisi mengkhawatirkan. Sebagian
sudah banyak yang beralih fungsi, yang semula dimanfaatkan sebagai daerah resapan air
atau penampung hujan kini menjadi permukiman penduduk, lapangan bola, dan
pembuangan limbah atau sampah. Bahkan erosi yang terjadi di daerah situ semakin parah
dari waktu ke waktu. Padahal situ-situ tersebut itu cukup potensial menjaga wilayah
Jakarta dan Depok dari banjir.

Situ atau danau merupakan bentuk mikro daerah tangkapan air. Dengan mengetahui
karakteristik biofisik situ beserta tingkat bahaya erosi dan sedimentasinya maka dapat
dilakukan tindakan pengelolaan yang diperlukan berupa pengendalian laju erosi tanah dan
rehabilitasi lahan. Salah satu situ yang di Kota Depok yang termasuk dalam kategori situ
kritis adalah Situ Bojongsari. Situ Bojongsari merupakan situ terluas di Kota Depok. Luas
Situ Bojongsari mencapai 28.25 Ha. Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas
pembangunan di Kota Depok menyebabkan peningkatan jumlah buangan limbah domestik,
limbah industri, dan limbahlimbah lainnya serta kurangnya pemeliharaan kawasan Situ
Bojongsari menimbulkan pencemaran dan erosi pada situ dan daerah di sekitarnya.

Semula prediksi erosi adalah suatu metode untuk memperkirakan atau menduga laju erosi
yang terjadi dari lahan yang dipergunakan bagi usaha pertanian tertentu. Persamaan yang
sering digunakan untuk memprediksi erosi adalah persamaan Universal Soil Loss Equation
(USLE). Persamaan ini adalah model pendugaan erosi yang digunakan untuk menghitung
besarnya erosi yang terjadi dalam jangka panjang pada suatu daerah. Metode USLE
mempunyai kelebihan, yaitu proses pengolahan datanya yang sedehana, sehingga mudah
dihitung secara manual maupun menggunakan alat bantu program komputer (software).
Hal ini memudahkan para petugas yang bekerja di lapangan dalam membuat suatu
perkiraan kasar terhadap besarnya
laju erosi (Indrawati, 2000).

Universal Soil Loss Equation (USLE) sudah dua puluh tahun lebih digunakan sebagai
metode pendugaan besarnya erosi yang cukup baik. Metode ini dikembangkan di Amerika
Utara dengan tujuan untuk mengetahui besarnya erosi pada lahan pertanian.
Pengembangan metode ini didasarkan pada hasil pengukuran pada sepuluh ribu stasiun
pengamatan erosi yang tersebar di seluruh Amerika Utara. Dengan keserdahanaan,
kemudahan dalam pemasukan input data, dan hasil yang cukup baik metode ini banyak
dipakai di berbagai sektor di luar pertanian termasuk di sektor kehutanan (Ispriyanto,
2001). Nilai erosi yang diperoleh dari pendekatan USLE selanjutnya dapat dipergunakan
untuk menduga laju erosi yang terjadi pada suatu wilayah dan menentukan Klasifikasi
Tingkat Bahaya Erosi, sehingga untuk mencegah kerusakan lahan akibat erosi dapat
dihindari sedini mungkin dengan teknikteknik konservasi lahan.

B. TUJUAN

Penelitian ini bertujuan menduga besarnya nilai erosi dan Tingkat Bahaya Erosi (TBE) di
Situ Bojongsari, Kota Depok dengan pendekatan USLE (Universal Soil Loss Equation).

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN UMUM SITU ATAU DANAU

Perairan pedalaman terdiri dari sungai, danau, dan rawa. Sungai merupakan suatu bentuk
perairan mengalir (Lotic system) dan danau serta rawa sebagai bentuk perairan tergenang
(Lentic system). Perairan tergenang dengan berbagai jenisnya memiliki pergerakan air
yang minim dengan arah arus yang tidak tetap. Pergerakkan air disebabkan oleh aksi
gelombang, arus internal atau pergerakan inlet dan outlet (Weltch, 1952).

Berbagai bentuk perairan tersebut merupakan bagian dari lahan basah (Wetlands) yang
merupakan sistem pendukung kehidupan paling produktif di muka bumi ini. Lahan basah
adalah habitat berbagai jenis organisme dan penyedia keanekaragaman hayati yang sangat
tinggi. Danau, situ, dan rawa merupakan bagian dari ekosistem lahan basah.

Situ adalah istilah yang digunakan masyarakat sunda untuk menyebut danau yang
memiliki ukuran relatif kecil. Situ merupakan daerah penampung air yang terbentuk
secara alamiah ataupun buatan manusia yang merupakan sumber air baku bagi berbagai
kepentingan dalam kehidupan manusia. Sumber air yang ditampung di perairan ini pada
umumnya berasal dari air hujan (run off), sungai atau saluran pembuangan, dan mata air.
Air tersebut dipasok dari Daerah Tangkapan Air (DTA) di sekitar situ. Daerah tangkapan
air adalah wilayah di atas danau atau situ memasok air ke danau atau situ tersebut.

Situ merupakan tipe perairan tergenang yang memiliki fungsi sangat penting bagi
kehidupan manusia, diantaranya sebagai resapan air, pengendali banjir, pengendali iklim
mikro, habitat bagi biota, sumber air, pemasok air ke lingkungan sekitarnya (akuifer),
pengendap lumpur serta pencegah intrusi air laut pada daerah pesisir. Bahkan dari segi
estetika yang dimiliki, situ dapat berperan sebagai obyek wisata (Hotib dan Suryadiputra,
1998).

Situ merupakan tipe ekosistem perairan tawar yang tergenang (lentic) dan dangkal. Zona
kedalaman situ ditunjukan pada Gambar 1. Situ juga merupakan kesatuan sistem drainase
dan tata aliran air setempat (ekodrainase). Bentuk badan air situ seperti bentuk tampungan
air permukaan dan air tanah dangkal yang menggenang (Strategi Pengelolaan Situ
Jabodetabek, 2007).
Gambar 1. Zona Kedalaman Bentuk Perairan Menggenang dan Proses Fotosintesis
(Suwignyo, P, 2000 di dalam Strategi Pengelolaan Situ Jabodetabek, 2007)

Sementara itu Haeruman (1999) berpendapat bahwa keberadaan danau atau situ sangat
penting dalam turut menciptakan keseimbangan ekologi dan tata air. Dari sudut ekologi,
situ merupakan ekosistem yang terdiri dari unsur air, kehidupan akuatik, dan daratan yang
dipengaruhi oleh tinggi rendahnya muka air, sehingga kehadiran situ akan mempengaruhi
iklim mikro dan keseimbangan ekosistem sekitarnya. Sedangkan jika ditinjau dari sudut
tata air, situ berperan sebagai reservoir yang dapat dimanfaatkan airnya sebagai alat
pemenuhan irigasi dan perikanan, sebagai sumber air baku, sebagai tangkapan air untuk
pengendaliuan banjir, serta penyuplai air tanah.

Secara alamiah Situ mempunyai kawasan tandon air yang dibatasi oleh tanggul yang
merupakan daerah peralihan (ekoton) antara ekosistem perairan dan daratan. Secara fisik
komponen pembentuk tipologinya dibagi dalam tiga (3) bagian, yaitu:

a) Medium tampungan sumber daya air.


b) Daerah peralihan (ekoton)/penyangga (buffer zone).
c) Daerah tangkapan air (catchment area).

Suplai air ke dalam Situ dipengaruhi oleh aliran air baik dari air hujan, permukaan dan air
tanah. Bentuk perairannya merupakan perairan daratan sistem terbuka (open system). Bila
dilihat dari morfologi bentukan, suplai air dan sistem tata airnya, maka arus alirannya
adalah relatif tenang. Asal-usul situ di wilayah Jabodetabek terdiri dari situ alami dan
buatan. Beberapa situ alami mempunyai mata air, sehingga tidak kering di musim
kemarau. Situ alami terbentuk secara alami dapat terbentuk dari sisa rawa/lahan basah,
dimana sumber air utamanya berasal dari rembesan air tanah (seepage). Situ buatan dapat
berasal dari dam pengendali pada sistem irigasi sawah, bekas galian lio-bata (pembuatan
batu-bata), bekas galian pasir, atau waduk buatan yang dibuat sebagai pengendali banjir
(Strategi Pengelolaan Situ Jabodetabek, 2007).

B. EROSI

1. Pengertian Erosi

Erosi adalah suatu proses dimana tanah dihancurkan (detached ) dan kemudian
dipindahkan ke tempat lain oleh kekuatan air, angin, dan gravitasi (Hardjowigeno, 1995).
Secara deskriptif, Arsyad (2000) menyatakan erosi merupakan akibat interaksi dari faktor
iklim, tanah, topografi, vegetasi, dan aktifitas manusia terhadap sumber daya alam.

Erosi dibagi menjadi dua macam, yaitu erosi geologi dan erosi dipercepat (Hardjowigeno,
1995). Erosi geologi merupakan erosi yang berjalan lambat dengan jumlah tanah yang
tererosi sama dengan jumlah tanah yang terbentuk. Erosi ini tidak berbahaya karena terjadi
dalam keseimbangan alami. Erosi dipercepat (accelerated erosion) adalah erosi yang
diakibatkan oleh kegiatan manusia yang mengganggu keseimbangan alam dan jumlah
tanahnya yang tererosi lebih banyak daripada tanah yang terbentuk. Erosi ini berjalan
sangat cepat sehingga tanah di permukaan (top soil) menjadi hilang.

Laju pelapukan tanah memang susah diukur secara tepat, namun dengan beberapa
pendekatan, para pakar geologi telah sepakat bahwa untuk membentuk lapisan tanah
setebal 25 mm pada lahan-lahan alami dibutuhkan waktu kurang lebih 300 tahun (Bennet,
1939). Waktu yang diperlukan menjadi berkurang sangat drastis dengan adanya campur
tangan manusia, untuk membentuk lapisan tanah setebal 25 mm hanya memerlukan
waktu kurang lebih 30 tahun (Hudson, 1971). Berdasarkan laju pembentukan tanah ini,
maka batas laju yang dapat diterima adalah 1.1 kg/m2/tahun. Namun demikian penentuan
batas laju erosi untuk berbagai macam kondisi tanah akan berbeda, sebagaimana yang
ditunjukkan pada Tabel 1.
2. Proses Erosi

Erosi merupakan proses alamiah yang tidak bisa atau sulit dihilangkan sama sekali atau
tingkat erosinya nol, khusunya untuk lahanlahan yang diusahakan untuk pertanian.
Tindakan yang dapat dilakukan adalah mengusahakan supaya erosi yang terjadi masih di
bawah ambang batas yang maksimum (soil loss tolerance), yaitu besarnya erosi tidak
melebihi laju pembentukan tanah (Suripin, 2001)

Menurut Suripin (2001) erosi terjadi melalui tiga tahap, yaitu tahap pelepasan partikel
tunggal dari masa tanah dan tahap pengangkutan oleh media yang erosif seperti aliran air
dan angin. Pada kondisi dimana energi yang tersedia tidak lagi cukup untuk mengangkut
partikel, maka akan terjadi tahap yang ketiga yaitu pengendapan.

Proses terjadinya erosi di suatu lereng dapat digambarkan dengan suatu diagram pada
Gambar 2 (Mayer dan Wishmeier, 1969) dalam Hardjowigeno (1995). Untuk dapat terjadi
erosi, tanah harus dihancurkan oleh curah hujan dan aliran permukaan, kemudian diangkut
ke tempat lain oleh curah hujan dan aliran permukaan.
Gambar 2. Diagram Proses Terjadinya Erosi Air (Meyer dan Wiscmeier, 1969 di dalam
Hardjowigeno 1995)

Pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa pada suatu bagian lereng terdapat input bahan-bahan
tanah yang dapat dierosikan yang berasal dari lereng atas serta penghancuran tanah di
tempat tersebut oleh pukulan curah hujan dan pengikisan aliran permukaan. Kecuali itu
terdapat output akibat pengangkutan tanah oleh curahan air hujan dan aliran permukaan
(run off). Bila total daya angkut dari air tersebut (curahan air hujan + aliran permukaan),
lebih besar dari tanah yang tersedia, maka akan terjadi erosi. Sebaliknya bila total daya
angkut lebih kecil dari total tanah yang dihancurkan akan terjadi pengendapan di bagian
lereng tersebut.

3. Faktor faktor yang Mempengaruhi Erosi

Beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya erosi yang terpenting adalah curah hujan,
tanah, lereng, vegetasi, dan manusia (Hardjowigeno, 1995).

a. Curah Hujan
Sifat hujan yang terpenting yang mempengaruhi besarnya erosi adalah curah hujan.
Intensitas hujan menunujukan banyaknya curah hujan per satuan waktu (mm/jam atau
cm/jam).

Kekuatan menghancurkan tanah dari curah hujan jauh lebih besar dibandingkan dengan
kekuatan pengangkut dari aliran permukaan (Hardjowigeno, 1995).

Hujan yang turun sampai ke permukaan tanah memiliki energi kinetik yang dapat
menghancurkan tanah (butir-butir tanah), sehingga bagian-bagian tanah terhempas, hilang,
dan hanyut oleh aliran permukaan. Hilang atau terkikisnya lapisan tanah inilah yang
disebut erosi.

b. Tanah

Sifat fisik tanah sangat berpengaruh terhadap besarnya erosi. Kepekaan tanah terhadap
erosi disebut erodibilitas. Semakin besar nilai erodibilitas suatu tanah maka semakin peka
tanah tersebut terhadap erosi (Hardjoamidjojo dan Sukartaatmadja, 1992).

Hardjowigeno (1995) menyebutkan sifat-sifat tanah yang berpengaruh terhadap erosi


adalah tekstur tanah, bentuk dan kemantapan struktur tanah, daya infiltrasi atau
permeabilitas tanah, dan kandungan bahan organik. Nilwan (1987) menyebutkan sifat fisik
tanah yang mudah mengalami erosi adalah tanah dengan tekstur kasar (pasir kasar),
bentuk struktur tanah yang membulat, kapasitas infiltrasi yang rendah, dan kandungan
bahan organik kurang dari 2%. Sedangkan sifat fisik tanah yang dapat menahan erosi
adalah tanah dengan tekstur halus (liat, debu, pasir, pasir halus, kapasitas infiltrasinya
besar, dan kandungan bahan organik yang besar untuk menambah kemantapan struktur
tanah).

c. Lereng

Arsyad (2000) dan Hardjowigeno (1995) mengemukakan unsur topografi yang paling
berpengaruh terhadap erosi adalah panjang dan kemiringan lereng. Erosi akan meningkat
apabila lereng semakin curam atau semakin panjang. Apabila lereng semakin curam maka
kecepatan aliran permukaan meningkat sehingga kekuatan mengangkut semakin
meningkat pula. Lereng yang semakin panjang menyebabkan volume air yang mengalir
menjadi semakin besar.

d. Vegetasi

Menurut Hardjowigeno (1995) Pengaruh vegetasi terhadap erosi adalah :

1. Menghalangi air hujan agar tidak jatuh langsung di permukaan


tanah, sehingga kekuatan tanah untuk menghancurkan dapat
dikurangi ;
2. Menghambat aliran permukaan dan memperbanyak air infiltrasi ;
3. Penyerapan air ke dalam tanah diperkuat oleh tranpirasi
(penguapan air) melalui vegetasi.
e. Manusia

Kepekaan tanah terhadap erosi dapat diubah oleh manusia menjadi lebih baik atau lebih
buruk. Pembuatan teras-teras pada tanah yang berlereng curam merupakan pengaruh baik
dari manusia karena dapat mengurangi erosi. Sebaliknya penggundulan hutan di
daerahdaerah pegunungan merupakan pengaruh manusia yang buruk karena dapat
menyebabkan erosi (Hardjowigeno,1995).

4. Pendugaan Erosi

Praktek-praktek bercocok tanam dapat merubah keadaan penutupan lahan dan oleh karena
itu dapat mengakibatkan terjadinya erosi permukaan pada tingkat atau besaran yang
bervariasi. Oleh karena besaran erosi yang berlangsung ditentukan oleh intensitas dan
bentuk aktifitas pengelolaan lahan, maka perkiraan besarnya erosi yang terjadi akibat
aktifitas pengelolaan lahan tersebut perlu dilakukan. Dari beberapa metode untuk
memperkirakan besarnya erosi permukaan, metode Universal Soil Loss Equation (USLE)
adalah metode yang paling umum digunakan (Asdak, 1995).

Wischmeier dan Smith (1978) juga menyatakan bahwa metode yang umum digunakan
untuk menghitung laju erosi adalah metode Universal Soil Loss Equation (USLE). Adapun
persamaan ini adalah:

A = R . K . L . S . C . P ..(1)

dimana :

A : Jumlah tanah yang hilang rata-rata setiap tahun (ton/ha/tahun)


R : Indeks daya erosi curah hujan (erosivitas hujan)
K : Indeks kepekaan tanah terhadap erosi (erodibilitas tanah)
LS : Faktor panjang lereng (L) dan kemiringan lereng (S)
C : Faktor tanaman (vegetasi)
P : Faktor usaha-usaha pencegahan erosi (konservasi)

a. Erosivitas Hujan (R)

Erosivitas merupakan kemampuan hujan untuk menimbulkan atau menyebabkan erosi.


Indeks erosivitas hujan yang digunakan adalah EI30. Erosivitas hujan sebagian terjadi
karena pengaruh jatuhan butir-butir hujan langsung di atas permukaan tanah. Kemampuan
air hujan sebagai penyebab terjadinya erosi adalah bersumber dari laju dan distribusi
tetesan air hujan, dimana keduanya mempengaruhi besar energi kinetik air hujan. Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa erosivitas hujan sangat berkaitan dengan energi kinetis
atau momentum, yaitu parameter yang berasosiasi dengan laju curah hujan atau volume
hujan (Asdak, 1995).

Persamaan yang umum digunakan untuk menghitung erosivitas adalah persamaan yang
dikemukakan oleh Bols (1978) dalam Hardjowigeno (1995). Persamaan tersebut adalah :
dimana :

EI30 : Erosivitas curah hujan bulanan rata-rata


R12 : Jumlah E130 selama 12 bulan
R : Curah hujan bulanan (cm)
D : Jumlah hari hujan
M : Hujan maksimum pada bulan tersebut (cm)

Cara menentukan besarnya indeks erosivitas hujan yang lain dapat menggunakan rumus
yang dikemukakan oleh Lenvain (DHV, 1989) sebagai berikut :

dimana :

R : Indeks erosivitas
P : Curah Hujan Bulanan (cm)

Cara menentukan besarnya indeks erosivitas hujan yang terakhir ini lebih sederhana
karena hanya memanfaatkan data curah hujan bulanan.

b. Erodibilitas Tanah (K)

Erodibilitas tanah merupakan jumlah tanah yang hilang ratarata setiap tahun per satuan
indeks daya erosi curah hujan pada sebidang tanah tanpa tanaman (gundul), tanpa usaha
pencegahan erosi, lereng 9% (5), dan panjang lereng 22 meter (Hardjowigeno, 1995).
Faktor erodibilitas tanah menunjukan kekuatan partikel tanah terhadap pengelupasan dan
transportasi partikel-partikel tanah oleh adanya energi kinetik air hujan. Besarnya
erodibilitas tanah ditentukan oleh karakteristik tanah seperti tekstur tanah, stabilitas
agregat tanah, kapasitas infiltrasi, dan kandungan bahan organik serta bahan kimia tanah.

Metode penetapan nilai faktor K secara cepat dapat dilihat pada Tabel 2 dengan terlebih
dahulu mengetahui informasi jenis tanah. Nilai faktor K juga dapat diperoleh dengan
menggunakan nomograf erodibilitas tanah seperti yang ditunjukan pada Gambar 3.
Nomograf ini disusun oleh lima parameter yaitu % fraksi debu dan pasir sangat halus, %
fraksi pasir, % bahan organik, struktur tanah, dan permeabilitas tanah
(Purwowidodo,1999).
Gambar 3. Nomograf Erodibilitas Tanah (United States Environmental Protection Agency,
1980 di dalam Asdak, 1995)

c. Faktor Panjang Lereng (L) dan Kemiringan Lereng (S)

Faktor lereng (LS) merupakan rasio antara tanah yang hilang dari suatu petak dengan
panjang dan curam lereng tertentu dengan petak baku (tanah gundul,curamlereng 9%,
panjang 22 meter, dan tanpa usaha pencegahan erosi) yang mempunyai nilai LS = 1.

Menurut Weismeier dan Smith (1978) dalam Hardjoamijojo dan Sukartaatmadja (1992),
faktor lereng dapat ditentukan dengan persamaan :

dimana :

l = Panjang lereng (meter)


S = Kemiringan lahan (%)
m = Nilai eksponensial yang tergantung dari kemiringan
S < 1% maka nilai m = 0.2
S = 1 3 % maka nilai m = 0.3
S = 3 5 % maka nilai m = 0.4
S > 5% maka nilai m = 0.5

Selain menggunakan rumus di atas, nilai LS dapat juga ditentukan menurut kemiringan
lerengnya seperti ditunjukan pada Tabel 2 berikut .
d. Faktor Tanaman (C)

Faktor pengelolaan tanaman merupakan rasio tanah yang tererosi pada suatu jenis
pengelolaan tanaman terhadap tanah yang tererosi dengan pada kondisi permukaan lahan
yang sama tetapi tanpa pengelolaan tanaman atau diberakan tanpa tanaman. Pada tanah
yang gundul (diberakan tanpa tanaman/petak baku) nilai C = 1.0. Untuk mendapatkan
nilai C tahunan perlu diperhatikan perubahan-perubahan penggunaan tanah dalam setiap
tahun. Besarnya nilai C pada beberapa kondisi dapat dilihat pada Lampiran 8 dan Tabel 3.

Terdapat sembilan parameter sebagai faktor penentu besarnya nilai C, yaitu konsolidasi
tanah, sisa-sisa tanaman, tajuk vegetasi, sistem perakaran, efek sisa perakaran dari
kegiatan pengelolaan lahan, faktor kontur, kekasaran permukaan tanah, gulma, dan
rumputrumputan (Asdak, 1985).
e. Faktor Usaha-usaha Pencegahan Erosi / Konservasi (P)

Faktor praktik konservasi tanah adalah rasio tanah yang hilang bila usaha konservasi tanah
dilakukan (teras, tanaman, dan sebagainya) dengan tanpa adanya usaha konservasi tanah.
Tanpa konservasi tanah nilai P = 1 (petak baku). Bila diteraskan, nilai P dianggap sama
dengan nilai P untuk strip cropping, sedangkan nilai LS didapat dengan menganggap
panjang lereng sebagai jarak horizontal dari masingmasing teras. Besarnya nilai P pada
beberapa kondisi dapat dilihat pada Tabel 4. Konservasi tanah tidak hanya tindakan
konservasi secara mekanis dan fisik, tetapi termasuk juga usaha-usaha yang bertujuan
untuk mengurangi erosi tanah. Penilaian faktor P di lapangan lebih mudah apabila
digabungkan dengan faktor C, karena dalam kenyataannya kedua faktor tersebut berkaitan
erat. Beberapa nilai faktor CP telah dapat ditentukan berdasarkan penelitian di Jawa
seperti terlihat pada Lampiran 9. Pemilihan atau penentuan nilai faktor CP perlu
dilakukan dengan hati-hati karena adanya variasi keadaan lahan dan variasi teknik
konservasi yang dijumpai di lapangan.
5. Klasifikasi Tingkat Bahaya Erosi (TBE)

Perkiraan erosi dan kedalaman tanah dipertimbangkan untuk memprediksi Tingkat Bahaya
Erosi (TBE) untuk setiap satuan lahan. Kelas Tingkat Bahaya Erosi diberikan pada tiap
satuan lahan dengan matriks yang mengguanakan informasi solum tanah dan perkiraan
erosi menurut Rumus USLE. Kelas Tingkat Bahaya Erosi ditentukan dengan
menggunakan matriks yang disajikan pada Tabel 5.
Keterangan :

0 SR = Sangat Ringan
I R = Ringan
II S = Sedang
III B = Berat
IV SB = Sangat Berat

C. KEADAAN UMUM SITU BOJONGSARI

Situ Bojongsari merupakan situ terluas di Kota Depok. Secara administratif Situ
Bojongsari terletak di Kelurahan Sawangan (Sawangan Lama), Kecamatan Sawangan,
dengan letak geografisnya pada 62315 LS dan 1064513 BT. Situ ini termasuk dalam
lingkup administratif DAS Angke yang memiliki tujuh muara (teluk), yang masing-
masing teluknya terletak di dukuh yang berbeda dalam Wilayah Kecamatan Sawangan.
Situ Bojongsari memiliki luas perairan 28.25 ha dengan kedalaman 3 4 meter, terletak
70 meter dari permukaan laut. Perairan situ dikelilingi oleh areal perkebunan pada sebelah
selatan, permukiman di sebelah barat, areal perkebunan di sebelah utara, dan terdapat
sarana rekreasi di sebelah timurnya. Selain itu terdapat padang golf (Club Golf Sawangan)
pada bagian tenggara Situ Bojongsari.

Permukiman yang terdapat pada barat situ merupakan milik penduduk sekitar dan usaha-
usaha rumah makan dengan bangunan non permanen. Beberapa bangunan diantaranya
terletak sangat dekat dengan danau, sehingga sering mendapat peringatan dari pemerintah
daerah setempat untuk memindahakan bangunannya karena dikhawatirkan dapat
mengganggu ekosistem situ/danau. Kolam-kolam ikan milik penduduk juga banyak
dijumpai di bagian utara dan barat Situ Bojongsari. Bahkan perairan pada bagian barat
dan utara ini kurang lebih 35 persen dipakai untuk tambak ikan yang diusahakan oleh
pihak swasta.

Gambar 4. Kondisi Perairan Situ Bojongsari

Selanjutnya pada bagian selatan situ didominasi oleh perkebunan milik penduduk sekitar
dengan komoditas utama ketela pohon dan jagung. Selain tanaman perkebunan, juga
dijumpai beberapa areal sawah milik penduduk dengan padi sebagai komoditas utamanya.
Sawah ini mendapatkan air irigasi dari situ.

Bagian tenggara situ merupkan areal komersil yang dikelola oleh pihak swasta. Di bagian
tenggara ini terdapat lapangan golf dengan vegetasi rumputnya yang tertata dengan baik.
Lapangan golf ini bersebelahan dengan hotel dan cottage yang sengaja dikelola oleh pihak
swasta dengan memanfaatkan keindahan alam Situ Bojongsari.

Menurut Fakhruddin (1989), Situ Bojongsari terletak pada ketinggian 70 meter dari
permukaan air laut, dengan luas genangan air tertinggi 28.25 Ha dan kedalaman
maksimum 10 meter. Fluktuasi permukaan air situ antara musim kemarau dan musim
penghujan kurang lebih 1.2 meter dan waktu simpan air selama 27 hari.
Gambar 5. Kondisi Sekitar Situ Bojongsari

Gambar 6. Usaha Rumah Makan di Timur Situ Bojongsari Sebagai Sarana Rekreasi
Gambar 7. Vegetasi Ketela Pohon di Barat Daya Situ Bojongsari

Gambar 8. Cottage di Tengah Situ Bojongsari

Tepat di bagian utara situ terdapat check dam dengan panjang 7 meter dengan dua pintu
air. Check dam dibangun pada tahun 1997, namun pengoperasiannya kurang baik sehingga
penggunaannya belum efektif bahkan kondisi pintu airnya sudah tidak sempuran. Check
dam ini dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pendistribusian air situ ke pemukiman
dan sawah/kebun milik penduduk sekitar. Oleh karena itu hendaknya dilakukan perbaikan
check dam agar dapat berfungsi optimal dan menambah bangunan pengendali erosi
lainnya seperti teras yang efektif untuk mencegah erosi longsor.

Situ Bojongsari merupakan suatu bentuk perairan yang bersifat terbuka. Selain untuk
irigasi penduduk, juga dimanfaatkan untuk aktivitas harian seperti mencuci dan mandi.
Perairan situ dikelilingi oleh kebun, lapangan golf, permukiman, dan persawahan. Adanya
sisa pupuk dan sampah dari permukiman dapat menambah ketersediaan bahan organik dan
anorganik di perairan. Hal ini dapat memacu pertumbuhan makrofita sehingga dapat
berakibat negatif.

Gambar 9. Kondisi Check Dam yang Tidak Terawat

Menurut Hartoto (1989a), selama bertahun-tahun selama musim kemarau hampir 60%
permukaan air situ tertutup oleh Salvinia sp, yang biasanya berkurang selama musim
hujan karena hanyut terbawa oleh arus air. Pertumbuhan Salvinia sp selain ditentukan oleh
sinar matahari , juga ditentukan oleh ketersediaan unsur hara terutama N dan P.
Pertumbuhan Salvinia sp. merupakan petunjuk arus dalam suatu perairan relatif tenang .
Secara umum lokasi Situ Bojongsari sangat kotor dan tak terawat.

Di bantaran-bantaran situ terdapat banyak sampah, baik sampah plastik maupun seresah
daun-daunan yang gugur. Maka tak heran kendati Situ Bojongsari yang merupakan tempat
wisata yang relatif murah dan mudah terjangkau ini kurang menarik minat wisatawan
lokal maupun asing. Bahkan tanggul-tanggul yang dibuatpun sudah banyak yang rusak
dan tidak berfungsi lagi guna mencegah erosi dan sedimentasi. Selain itu, akses jalan
menuju Situ Bojongsari juga masih berupa tanah tanpa penutup, sehingga dengan situasi
curah hujan Kota Depok yang tinggi, maka jalan-jalan tanah tersebut secara otomatis
sering basah, becek, dan menyulitkan pengguna jalan yang ingin melewatinya.
Gambar 10. Kondisi Situ Bojongsari yang Tidak Terawat

D. KERUSAKAN SITU

Secara umum kondisi Situ Bojongsari memang terlihat masih bagus, bahkan bagian
selatan situ masih tampak alami belum terjamah aktifitas manusia. Namun apabila kita
tinjau dari parameter kerusakan-kerusakan situ, maka saat ini Situ Bojongsari termasuk
kategori situ kritis, yang memerlukan pemulihan sesegera mungkin untuk
mempertahankan fungsi optimal situ. Kerusakan di Situ Bojongsari sebagai berikut :

1. Sedimentasi

Perairan Situ Bojongsari kini sudah dipenuhi limbah rumah tangga dan sampah yang
berakibat pada pendangkalan situ. Limbah rumah tangga diprediksi akan semakin
bertambah dari tahun ke tahun akibat jumlah permukiman ilegal yang bertambah. Belum
lagi sumber mata air yang sudah tertutup sedimen dan sampah. Selain itu, sedimentasi di
Situ Bojongsari terutama di bagian selatan hingga barat daya disebabkan terutama oleh
aktifitas penduduk yang menanam singkong di tepi situ.

Selain itu, luas situ juga mulai menyusut dengan banyaknya permukiman penduduk dan
kolam pemancingan ikan atau empang. Situ mengalami pendangkalan antara tiga dan lima
meter sehingga harus dikeruk dengan kedalaman yang sama.

2. Vegetasi Enceng Gondok (Eichhornia crassipes)

Selain itu, perairan situ juga banyak ditumbuhi tumbuhan air seperti enceng gondok
( Eichhornia crassipes ) dan Salvinia sp. Situ Bojongsari hampir 60 % tertutup oleh
Salvinia sp. Keadaan tersebut apabila dibiarkan akan menimbulkan akibat negatif bagi
perairan yaitu mengurangi ketersediaan volume air karena evapotranspirasi dan
pendangkalan perairan karena pembusukan Salvinia s.p. Akibat selanjutnya akan terjadi
penipisan oksigen terutama di kolom air bagian bawah, sehingga keadaan dapat menjadi
anaerob. Sumber daya air yang demikian ini jelas kurang bermanfaat. Dalam hal ini usaha
restorasi perairan akan dapat meningkatan manfaatnya.

Gambar 11. Vegetasi Enceng Gondok di Perairan Situ Bojongsari

3. Erosi Longsor

Selanjutnya pada tepi / bantaran situ juga ditemui peristiwa erosi longsor. Walaupun tidak
semua tepi situ terjangkit erosi, namun apabila hal ini dibiarkan, maka tidak menutup
kemungkinan bantaran-bantaran lainnya akan tertular erosi serupa.
Gambar 12. Erosi Longsor pada Tebing Situ

III. METODOLOGI

A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Situ Bojongsari, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Waku
penelitian dimulai Bulan November 2007 sampai dengan Bulan Pebruari 2008.

B. ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan berupa komputer dengan program Microsoft Office Excel dan
program (software) ArcView 3.2 yang dibuat oleh ESRI (Environmental Systems Research
Institute) untuk perhitungan.

Bahan yang digunakan berupa data sekunder dan peta-peta sebagai berikut :

1. Data Curah Hujan DAS Ciliwung Tengah Tahun 1992 2001


2. Peta Jenis Tanah DAS Ciliwung Skala 1 : 20000000
3. Peta Rupa Bumi Digital Indonesia Skala 1 : 25000

C. METODE PENELITIAN

1. Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam studi ini adalah data sekunder hasil pengukuran yang
berhubungan dengan erosi di Situ Bojongsari. Data dikumpulkan melalui salinan atau
turunan data/copy dari instansi yang terkait melalui pengadaan dan pembelian data atau
peta. Selain itu datadata juga diperoleh dari akses internet. Sumber data yang akan
digunakan untuk penelitian dapat dilihat pada Tabel 8. Pengumpulan data dilakukan pada
Bulan Januari sampai Februari 2008. Jenis data yang diperlukan untuk melakukan analisa
pekerjaan studi ini terdiri dari :

a. Curah Hujan

Data curah hujan yang dipakai adalah data curah hujan DAS Ciliwung Tengah, kendati
Situ Bojongsari termasuk dalam DAS Angke. Data curah hujan DAS Ciliwung Tengah
diukur dari stasiun pengamatan Depok, sehingga sebaran curah hujan masih menjangkau
Situ Bojongsari. Ketersediaan data curah hujan selama 10 tahun mulai tahun 1992 hingga
tahun 2001.

b. Peta Kontur

Peta kontur berupa peta rupa bumi Situ Bojongsari terbaru, kondisi perairan, daerah
pemukiman di sekitar, batas administratif, dan kenampakan artifisial lainnya.

Berdasarkan peta kontur ini akan dikaji untuk penentuan panjang dan kemiringan lahan
(faktor L dan S).
c. Peta Jenis Tanah

Peta jenis tanah berupa peta yang menampakan jenis tanah di wilayah Kota Depok
tepatnya di Situ Bojongsari. Dengan mengetahui jenis tanah, maka dapat digunakan untuk
menentukan nilai K (erodibilitas tanah) dengan Tabel Nilai K.

d. Peta Penutupan Lahan Tahun 2001

Peta tata guna lahan digunakan untuk mengetahui kondisi pemanfaatan lahan saat ini yang
dapat digunakan untuk memonitor pengembangan suatu aktifitas dalam land-form
tersebut. Peta ini biasanya dipakai untuk melakukan kajian terhadap rencana
pengembangan suatu wilayah.

Pada pengukuran erosi dengan pendekatan USLE ini, peta tata guna lahan berfungsi untuk
menentukan faktor tanaman (C) dan faktor konservasi tanah (P). Selain mengacu pada
peta penutupan lahan, pada penelitian kali ini faktor C dan faktor P juga ditentukan
melalui pengamatan langsung di lokasi penelitian dan juga wawancara dengan masyarakat
sekitar.

2. Pengolahan Data

Penelitian ini dilakukan dengan mengikuti kerangka pendekatan yang dapat dilihat pada
gambar 13. Tahap awal penelitian adalah pengumpulan data-data yang dibutuhkan dalam
mendeskripsikan permasalahan untuk memprediksi nilai erosi di Situ Bojongsari, yang
terdiri dari data hujan (curah hujan dan hari hujan) dan peta-peta. Tahap selanjutnya
mengolah data-data yang diperlukan untuk dipakai dalam perhitungan pendekatan USLE
guna memprediksi besarnya erosi. Tahap-tahap pengolahan data selengkapnya sebagai
berikut:

a. Menghitung nilai R (erosivitas hujan) menggunakan rumus yang dikemukakan oleh


Lenvain (DHV, 1989) sebagai berikut :

dimana :

R : indeks erosivitas
P : curah hujan bulanan (cm)

b. Dari berbagai rumus perhitungan erosivitas, pada kasus ini dipilih rumus di atas karena
data curah hujan yang tersedia hanya data curah hujan bulanan.

c. Menentukan nilai K (erodibilitas tanah) berdasarkan jenis tanah, bersumber pada nilai K
yang terdapat pada Lampiran 7. Jenis tanah diperoleh berdasarkan Peta Jenis Tanah DAS
Ciliwung.
d. Menentukan Nilai LS, bersumber pada nilai LS pada Tabel 2. Sebelum menentukan
besarnya nilai LS, harus diketahui terlebih dahulu kemiringan lereng. Kemiringan lereng
pada penelitian ini diperoleh dari Peta Kontur DAS Ciliwung.

e. Menentukan nilai CP. Nilai CP dapat dicari dengan menentukan faktor C dan P masing-
masing atau digabungkan sekaligus menjadi faktor CP. Pada penelitian ini, karena faktor
CP diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan, maka penentuan nilai CP
dilakukan dengan dua cara di atas disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Selanjutnya
nilai CP atau C dan P dapat dilihat pada Tabel 3, Tabel 4, Lampiran 7, dan Lampiran 9.

f. Selanjutnya nilai A (jumlah kehilangan tanah maksimum) dapat


dihitung sesuai dengan Rumus USLE

A=R.K.L.S.C.P

dimana :

A : Jumlah tanah yang hilang rata-rata setiap tahun (ton/ha/tahun)


R : Indeks daya erosi curah hujan (erosivitas hujan)
K : Indeks kepekaan tanah terhadap erosi (erodibilitas tanah)
LS : Faktor panjang lereng (L) dan kemiringan lereng (S)
C : Faktor tanaman (vegetasi)
P : Faktor usaha-usaha pencegahan erosi (konservasi)

g. Menghitung luas Daerah Tangkapan Air (DTA) di sekeliling Situ Bojongsari dengan
memplotkan hasil penelusuran DTA melalui kontur peta top pada milimeter block.

h. Selanjutnya dengan informasi solum tanah, dapat ditentukan Tingkat Bahaya Erosi
(TBE).

i. Setelah itu dilakukan pendugaan kemungkinan umur Situ Bojongsari dengan terlebih
dahulu mengukur luas Situ Bojongsari dan menghitung volumenya.
Gambar 13. Diagram Alir Pendugaan Nilai Erosi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. PERHITUNGAN EROSI

Berdasarkan persamaan USLE (Universal Soil Loss Equation), faktorfaktor erosi yang
akan dihitung meliputi faktor erosivitas hujan (R), faktor erodibilitas (K), faktor panjang
dan kemiringan lereng (LS), dan faktor pengelolaan tanaman dan usaha pencegahan erosi
(CP).

1. Faktor Erosivitas (R)


Data curah hujan yang digunakan untuk menghitung faktor erosivitas diperoleh dari data
curah hujan DAS Ciliwung Tengah. Secara administratif Situ Bojongsari masuk dalam
lingkup DAS Angke. Namun, kendati demikian data curah hujan DAS Ciliwung Tengah
tetap dapat dipakai dalam penelitian ini karena data curah hujan diukur dan diolah oleh
stasiun klimatologi Depok. Karena sebaran data curah hujan yang diambil dari suatu
stasiun memiliki sebaran sampai 30 km. Curah hujan rata-rata bulanan untuk DAS
Ciliwung Tengah berkisar antara 168 mm sampai dengan 377 mm, dengan curah hujan
tertinggi terjadi pada Bulan November dan terendah pada Bulan Juli.

Curah hujan mempunyai peranan yang cukup tinggi terhadap erosi tanah yang terjadi.
Pada daerah yang berlereng terjal, erosivitas hujan yang tinggi sangat berpengaruh
terhadap besarnya erosi.

Masukan data curah hujan terdiri dari jumlah curah hujan bulanan selama 10 tahun dari
tahun 1992 sampai tahun 2001. Sehingga setelah dilakukan perhitungan diperoleh nilai
erosivitas seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 7.

Untuk lebih mudah mengetahui peningkatan maupun penurunan nilai erosivitas hujan dari
tahun 1992 hingga 2001 di DAS Ciliwung Tengah dapat dilihat pada grafik pada Gambar
14.
Gambar 14 . Grafik Erosivitas Hujan DAS Ciliwung Tengah

2. Faktor Erodibilitas (K)

Berdasarkan peta jenis tanah pada Gambar 15, maka Situ Bojongsari termasuk kawasan
yang memiliki jenis tanah latosol coklat kemerahan. Tanah latosol secara umum memiliki
bahan induk berupa batuan vulkanik bersifat intermedier, yaitu batuan dengan kadar Besi
(Fe) dan Magnesium (Mg) cukup tinggi. Tanah jenis ini bersolum dalam, pH agak tinggi,
dan memiliki kepekaan terhadap erosi rendah.

Gambar 15. Peta Tanah DAS Ciliwung (Departemen Pekerjaan Umum Kota Administratif
Depok)
Selanjutnya setelah mengetahui jenis tanah, maka nilai erodibilitas (K), dapat diketahui
pada Lampiran 7. Sehingga didapat nilai K untuk daerah Situ Bojongsari sebesar 0.121.

3. Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng (LS)

Untuk Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng (LS) ditentukan dengan menggunakan Peta
Sebaran Kelas Kelerengan DAS Ciliwung, kemudian nilai LS dapat diperoleh melalui
Tabel 2. Secara umum wilayah Kota Depok di bagian utara merupakan daerah dataran
tinggi, sedangkan di bagian selatan merupakan daerah perbukitan bergelombang lemah.
Berdasarkan atas elevasi atau ketinggian garis kontur, maka bentang alam daerah Depok
dari selatan ke utara merupakan daerah dataran rendah perbukitan bergelombang lemah.
Bentuk kemiringan suatu wilayah sangat menentukan jenis penggunaan lahan, intensitas
penggunaan lahan dan kepadatan bangunan.

Gambar 16. Peta Digitasi Kelas Kelerengan DAS Ciliwung

Dari Peta Kelas Kelerengan DAS Ciliwung, dapat diketahui bahwa Situ Bojongsari
terletak pada kemiringan lahan yang beragam dari 0 50 %. Pada penelitian ini, kelas
kemiringan ditentukan berdasarkan peta kontur DAS Ciliwung (lembar Cibinong) yang
diolah dengan program Arc View 3.2. Berdasarkan bentuk topografinya, areal DAS
Ciliwung dikelompokan menjadi 5 kelas kemiringan (s) yaitu 0 5 %, 5 15 %, 15 35
%, 35 50 %, dan > 50 %. Nilai indeks LS berkisar antara 0.25 sampai 12.
Gambar 17. Pembagian Kelas Kelerengan Situ Bojongsari

Faktor panjang dan kemiringan lereng merupakan sumber terjadinya kesalahan yang
terbesar dalam perhitungan erosi. Hal ini disebabkan oleh penggunaan peta untuk
mendapatkan nilai panjang dan kemiringan lereng. Peta yang digunakan memberikan
informasi terlalu umum, sehingga untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, nilai LS harus
ditentukan berdasarkan pengukuran di lapangan.

4. Faktor Pengelolaan Tanaman dan Usaha Pencegahan Erosi (CP)

Faktor Pengelolaan Tanaman dan Usaha Pencegahan Erosi dapat diketahui dari Peta Tata
Guna Lahan atau Peta Penutupan Lahan dan pengamatan langsung di lapangan, kemudian
nilai dari faktor CP dapat diperoleh dari Tabel 3, Tabel 4, Lampiran 8, dan Lampiran 9.

Pada penelitian ini faktor CP diketahui langsung dengan melakukan pengamatan di lokasi
penelitian. Hal ini dilakukan agar nilai CP yang didapat benar-benar aktual atau kondisi
terkini di lokasi, sehingga diharapkan nilai hasil pendugaan erosi memiliki tingkat
keakuratan yang tinggi. Nilai C dan P harus diteliti secara intensif dan dipetakan lebih
terperinci dengan menggunakan interprestasi foto udara dan kerja lapangan. Setelah
melakukan pengamatan di lapangan, maka diperoleh hasil bahwa faktor C dan P di
bantaran sekeliling Situ Bojongsari berbeda-beda. Vegetasi sekaligus praktik konservasi
yang terdapat di sekeliling Situ Bojongsari ditunjukkan pada Gambar 19.
Gambar 18. Vegetasi di Barat Daya Situ Bojongsari

Tepat di barat daya perairan Situ Bojongsari. Terdapat banyak perkebunan terutama
singkong dan kacang tanah milik penduduk sekitar yang ditanam di pinggir situ. Terdapat
juga tanaman kebun lainnya seperti jagung dan pisang, namun jumlahnya hanya sedikit.
Padahal seperti yang diketahui, bahwa tanaman seperti ubi kayu atau singkong dan kacang
tanah apabila ditanam di areal yang rawan erosi, maka akan meningkatkan resiko erosi,
karena akar tanaman yang kurang kuat menahan air dan tradisi masyarakat Indonesia yang
menanam singkong atau kacang tanah dengan jarak tanam yang relatif jarang.

Di bagian tengah atau lekukan situ juga merupakan area komersil berupa hotel dan cottage
lengkap dengan berbagai fasilitasnya. Kendati telah dibangun hotel/cottage, namun pada
pinggiran situ masih tampak jelas semak dan sebagian rumput yang mungkin oleh
pengelola hotel sengaja dibiarkan tumbuh liar untuk memberikan kesan natural pada
pengunjung hotel maupun cottage. Vegetasi semak dengan sebagian rumput menyebar
tidak hanya di tengah (lekukan situ), tetapi juga dijumpai di bagian barat laut hingga utara
situ.

Selanjutnya di selatan Situ Bojongsari merupakan padang golf komersil dengan penutupan
lahan berupa rumput golf dengan penutupan sempurna dan tentu saja dapat dipastikan
rumput-rumput tersebut terawat dengan baik. Maka pada wilayah ini, penentuan nilai C
dan P tidak dilakukan masing-masing, namun sekaligus dalam bentuk CP sesuai kondisi
lahan. Sehingga dapat dipastikan dengan penutupan lahan yang begitu sempurna dengan
vegetasi rumputnya, areal ini cenderung mengalami tingkat erosi yang rendah.
Gambar 19. Vegetasi di Daerah Tangkapan Air Situ Bojongsari

Selanjutnya di bagian tenggara hingga timur Situ Bojongsari adalah sarana rekreasi.
Kendati bertajuk sarana rekreasi, namun lokasi ini tampak sepi. Menurut masyarakat
sekitar, lokasi ini hanya ramai pada hari libur, itupun pengunjung tidak banyak seperti
tempat wisata pada umumnya. Aktivitas yang kental terlihat di lokasi ini adalah
banyaknya para pencari ikan baik dengan jala maupun sekedar menyalurkan hobi
memancing, sebab di Situ Bojongsari terkenal dengan hasil ikan air tawar yang melimpah
yang oleh masyarakat sekitar disebut ikan melem. Karena memang direncanakan sebagai
tempat wisata, maka lokasi ini sangat sejuk oleh pohon-pohon akasia yang ditanam di
pinggiran situ disertai dengan penutupan rumput yang tidak sempurna, karena mungkin
tidak dirawat dengan baik.

Kemudian di bagian utara hingga timur laut pada Gambar 19 merupakan areal yang penuh
dengan alang-alang dan sebagian rumput. Menurut penuturan masyarakat sekitar, rumput-
rumput di daerah ini sering dibabat penduduk untuk pakan ternak. Vegetasi yang dominan
di bantaran situ daerah ini adalah perumputan dengan penutupan tanah sebagian dan
ditumbuhi alang-alang. Untuk lokasi barat hingga barat laut Situ Bojongsari memiliki
jenis vegetasi yang sama dengan lokasi tengah atau lekukan situ .

5. Perhitungan Nilai Laju Erosi (A)

Setelah parameter-parameter dalam persamaan USLE telah ditentukan nilainya, maka


besanya erosi di Situ Bojongsari dapat diperkirakan dengan mengkalikan faktor-faktor
erosi melalui persamaan berikut :

A = R x K x LS x CP

dimana :

A : Jumlah tanah yang hilang rata-rata setiap tahun (ton/ha/tahun)


R : Indeks daya erosi curah hujan (erosivitas hujan)
K : Indeks kepekaan tanah terhadap erosi (erodibilitas tanah)
LS : Faktor panjang lereng (L) dan kemiringan lereng (S)
C : Faktor tanaman (vegetasi)
P : Faktor usaha-usaha pencegahan erosi (konservasi)

Gambar 20 . Deretan Pohon Akasia dan Rumput di Timur Situ Bojongsari

Gambar 21. Erosi Longsor di Bantaran Situ Bojongsari


Perhitungan erosi di Situ Bojongsari ini, dibagi dalam lima wilayah erosi (zonasi)
berdasarkan faktor vegetasi (C) dan konservasi (P) seperti yang terlihat pada Gambar 19.
Perbedaan vegetasi dan konservasi ditunjukan oleh perbedaan warna.

Untuk lebih memudahkan dalam pengolahan data, maka masingmasing lokasi akan
disimbolkan dengan angka 1 5, yang urutannya adalah :

Zona warna coklat : Lokasi 1


Zona warna ungu : Lokasi 2
Zona warna oranye : Lokasi 3
Zona warna hijau : Lokasi 4
Zona warna abu-abu : Lokasi 5

Pembagian lima daerah erosi akan disajikan pada Tabel 8 Tabel 12 berikut.
Pada lokasi 3, memiliki tingkat kemiringan lereng yang seragam. Terdapat tiga kelas
kemiringan lereng pada lokasi ini, yaitu 0 5 %, 15 35 %, dan 35 50 %. Sehingga
untuk memperoleh nilai LS total sebagai berikut :
Untuk lokasi 1 memili kemiringan lereng yang sama yaitu 35-50 %. Selanjutnya pada
lokasi 2 kemiringan lereng seragam antara 0 5 %.Kondisi yang sama juga terdapat di
lokasi 4 dan lokasi 5 yang memilki kemiringan lereng yang sama. Hasil perhitungan nilai
total laju kehilangan tanah selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 13.

6. Klasifikasi Tingkat Bahaya Erosi (TBE)

Setelah nilai erosi dari kelima lokasi diperoleh, selanjutnya melalui informasi solum tanah
dapat diketahui Tingkat Bahaya Erosi (TBE). Tanah di sekitar Situ Bojongsari termasuk
jenis tanah latosol yang mempunyai solum tanah > 90 cm (Djunaedi, 1999 dan Soil Staff,
1999). Selanjutnya TBE dapat diketahui dari Tabel 5. Sehingga diperoleh Kelas Tingkat
Bahaya Erosi untuk lima zona erosi di sekeliling Situ Bojongsari Tabel 17.
Dari Tabel 15 perhitungan di atas didapat nilai rata-rata kehilangan tanah di lima lokasi
yang mengelilingi Situ Bojongsari berdasarkan batas Daerah Tangkapan Air (DTA) seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 19. Kelima lokasi ini diduga dapat menyebabkan erosi di
sekitar situ, sehingga dalam kurun waktu beberapa tahun mendatang apabila tidak segera
dilakukan aksi tindak pencegahan erosi maka akan menyebabkan sedimentasi situ.

Dari perhitungan nilai A dan klasifikasi tingkat bahaya erosi dapat diketahui bahwa nilai
kehilangan tanah yang paling kecil berada di lokasi 5. Lokasi 5 merupakan areal dengan
vegetasi perumputan dengan penutupan tanah sebagian dan ditumbuhi alang-alang
tepatnya pada bagian utara hingga timur laut Situ Bojongsari dengan total kehilangan
tanah 22.66 ton/tahun. Nilai erosi yang kecil terjadi karena vegetasi perumputan dan
alang-alang dapat menyerap air hujan yang jatuh ke tanah, selain itu zona ini ditunjang
dengan luas petak daerah tangkapan air yang kecil dan kemiringan yang landai. Sehingga
kemungkinan tanah yang terbawa aliran permukaan masuk ke dalam situ sedikit. Nilai
erosi yang juga terbilang kecil juga terdapat pada lokasi 2 yang merupakan padang golf
dengan vegetasi penutup sekaligus konservasi perumputan yang sempurna. Sehingga
dengan curah hujan di wilayah Depok yang relatif tinggi setiap tahunnya, air hujan yang
turun dapat diserap sempurna oleh vegetasi rumput tanpa harus terjadi aliran permukaan
yang membawa pecahanpecahan tanah ke perairan situ. Selain itu nilai kehilangan tanah
yang kecil ini, juga akibat kemiringan lereng yang landai yaitu berkisar antara 0 5 %.
Dengan kemiringan lereng yang landai, maka dapat dipastikan apabila terjadi
pengangkutan partikel tanah akibat erosi, tanah tidak langsung dengan mudah jatuh ke
perairan. Sehingga nilai persentasi kemiringan yang kecil ini akan memperkecil resiko
erosi.

Sedangkan total kehilangan tanah terbesar terdapat di lokasi 1 yaitu kawasan barat daya
Situ Bojongsari dengan nilai erosi 4969.84 ton/tahun. Lokasi 1 memiliki kemiringan
lereng sangat curam berkisar antara 35 50 %. Selain itu dengan vegetasi berupa ubi kayu
dan kacang tanah yang ditanam dengan jarak tanam yang lebar (jarang), menyebabkan
tanah di sekitar situ menjadi rawan terjangkit erosi. Faktor utama yang menyebabkan
lokasi ini masuk dalam kategori erosi berat karena cakupan luas daerah tangkapan airnya
yang luas, sehingga resiko erosi tinggi.
Lokasi 3 dengan vegetasi semak dan rumput termasuk kelas erosi sedang. Lokasi ini
memiliki kemiringan lereng yang beragam, yaitu 0 5 %, 15 35 %, 35 50 %. Padahal
apabila ditinjau dari vegetasi dan faktor konservasinya, seharusnya zona 3 dengan semak
dan sebagian rumputnya mampu menjadi daerah resapan air yang baik. Namun, vegetasi
dan konservasi yang baik tanpa didukung oleh persentase kemiringan yang kecil juga
dapat meningkatkan resiko erosi. Karena perhitungan erosi dengan metode USLE ini
merupakan perpaduan dari seluruh faktor erosi yaitu hujan, erodibilitas, faktor kelas
lereng, faktor vegetasi serta konservasi, dan luas daerah tangkapan air. Faktor-faktor ini
saling terkait satu dan lainnya.

Selanjutnya lokasi 4 yaitu daerah tenggara hingga timur Situ Bojongsari, yang merupakan
areal dengan vegetasi dan praktik konservasi yang kurang baik. Apabila kita meninjau
hanya dari faktor CP, maka lokasi 4 inilah wilayah yang sangat rawan terhadap erosi.
Karena areal ini ditujukan untuk objek wisata, maka dapat dipastikan jumlah
bangunanbangunan komersil seperti warung, panggung hiburan, MCK akan lebih banyak
dibanding vegetasi penutupnya. Vegetasi yang diusahakan di areal ini adalah pohon akasia
dengan penutupan rumput yang kurang rapat (jelek). Ditambah lagi dengan aktivitas
pengunjung objek wisata yang gemar menginjak rumput, membuang sampah
sembarangan, bahkan melakukan kegiatan bakar jagung/ubi di tepi situ. Kegiatan-kegiatan
ini secara tak langsung memberikan resiko erosi yang lebih tinggi lagi. Selain itu pada
zona 4 memiliki cakupan daerah tangkapan air yang luas yaitu sebesar 46.25 ha. Namun,
pada perhitungan prediksi erosi yang dilakukan nilai total kehilangan tanah lokasi 4 ini
relatif kecil dan masuk dalam kelas erosi ringan. Hal ini dapat terjadi karena lokasi 4
didukung oleh kemiringan lereng yang relatif landai berkisar antara 0 5 %, sehingga
dapat memperkecil resiko erosi.

Penyebaran luas untuk kelas TBE yang tergolong sangat ringan terjadi pada kelas
kelerengan 0-5 % dan kelas sedang pada kelas kelerengan 15-35 %, sedangkan kelas erosi
berat terjadi pada kelas kelerengan 35-50 %.

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa areal di sekeliling Situ Bojongsari masih dalam
kondisi relatif aman terhadap bahaya erosi dan sedimentasi. Hal ini juga diperkuat dengan
perhitungan kemungkinan
umur Situ Bojongsari.

Pendugaan umur situ dilakukan dalam rangka memprediksi sampai kapan suatu situ dalam
kondisi bagus secara ekosistem dan merencanakan praktik konservasi yang harus
dilakukan umtuk memperpanjang umur situ.

Penentuan umur situ dimulai dengan terlebih dahulu menghitung kedalaman situ. Situ
Bojongsari memiliki kedalaman yang beragam antara 3 10 meter. Pada pengukuran
kedalaman Situ Bojongsari diwakili tiga titik kedalaman. Selanjutnya dengan informasi
luas Situ Bojongsari dapat dicari volume situ. Setelah volume diketahui maka selanjutnya
umur Situ Bojongsari dapat diketahui dengan membagi nilai volume situ dengan jumlah
erosi di lima zona erosi . Perhitungan sebagai berikut.

Kondisi Situ Bojongsari


Diketahui :

h1 = 3 meter
h2 = 4 meter
h3 = 10 meter
hrata2 = 5.67 meter
A = 28.25 ha = 282500 m2

Maka, Volume Situ = A X hrata2

= 282500 m2 X 5.67 meter


= 1601775 m3

Volume Sedimen (Vs)

Jumlah erosi Situ Bojongsari = erosi zona 1-7

= 9200.19 ton / tahun

Berdasarkan hasil pengambilan contoh sedimen dari beberapa penelitian sedimen di


daerah Jawa oleh Puslitbang Pengairan Bandung, diambil nilai rata-rata konsentrasi
sedimen () 1.21 gr/cm3. Sehingga volume sedimen (Vs) Situ Bojongsari 7601 m3/tahun.

Sehingga kemungkinan umur Situ Bojongsari

= Volume Situ / Vs
= 1601775 m3 / 7603.46 m3/tahun
= 210.66 tahun 211 tahun

Dari prediksi tersebut umur Situ Bojongsari mampu mencapai 211 tahun. Hasil ini bukan
merupakan nilai mutlak. Nilai ini hanya berupa prediksi, karena pada hakekatnya umur situ
juga tergantung dari aktivitas manusia di sekelilingnya dan kemauan manusia untuk
mengelola lingkungan hidup. Bukan tidak mungkin, umur situ lebih pendek dari prediksi
perhitungan akibat perilaku masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian terhadap pendugaan erosi yang dilakukan di Situ Bojongsari,
maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Situ Bojongsari memiliki tujuh muara dengan luas genangan


airnyasebesar 28.25 Ha.
2. Kedalaman rata-rata Situ Bojongsari adalah 3-4 m.
3. Situ Bojongsari terletak pada ketinggian 70 m dari permukaan
laut.
4. Fluktuasi permukaan air situ antara musim kemarau dan musim
penghujan kurang lebih 1.2 meter dan waktu simpan air selama
27 hari.
5. Kondisi Situ Bojongsari sudah mengalami penurunan. Kerusakan
yang terindikasi di Situ Bojongsari adalah pendangkalan dasar
situ, penyempitan luas situ, pencemaran air, dan adanya vegetasi
enceng gondok hampir memenuhi 60% perairan.
6. Laju erosi rata-rata yang terjadi di Situ Bojongsari dihitung dengan
metode zonasi yang terbagi dalam lima wilayah erosi (zona erosi)
berdasarkan perbedaan faktor lereng (LS) dan faktor vegetasi,
cakupan daerah tangkapan air, serta faktor konservasi (CP). Laju
erosi di lokasi 1 sebesar 300.111 ton/ha/tahun, lokasi 2 dengan
laju erosi 0.806 ton/ha/tahun, lokasi 3 sebesar 118.303
ton/ha/tahun, lokasi 4 sebesar 10.315 ton/ha/tahun, di lokasi 5
nilai laju erosinya 1.612 ton/ha/tahun.
7. Berdasarkan perhitungan cakupan daerah tangkapan pada
masingmasing zona maka dapat diketahui bahwa nilai erosi
terbesar yang tergolong kelas erosi berat terdapat pada lokasi 1
sebesar 4969.84 ton/ha. Sedangkan nilai erosi terkecil terdapat
pada lokasi 5 yang tergolong kategori erosi sangat ringan sebesar
22.66 ton/ha.
8. Penyebaran luas untuk kelas TBE yang tergolong sangat ringan
terjadi pada kelas kelerengan 0-5 % dan sedang pada kelas
kelerengan 15-35 %, sedangkan kelas erosi berat terjadi pada
kelas kelerengan 35-50 %. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
areal di sekeliling Situ Bojongsari masih dalam kondisi relatif aman
terhadap bahaya erosi dan sedimentasi. Hal ini juga diperkuat
dengan perhitungan kemungkinan umur Situ Bojongsari.
9. Faktor penyebab erosi terbesar pada Situ Bojongsari karena tanah
yang terbawa aliran permukaan akibat vegetasi di sekitar situ
tidak dapat menahan aliran permukaan serta jarak tanam yang
terlalu jauh (kurang rapat).
10. Umur Situ Bojongsari mampu mencapai 211 tahun. Hasil ini
bukan merupakan nilai mutlak. Nilai ini hanya berupa prediksi,
karena pada hakekatnya umur situ juga tergantung dari aktivitas
manusia di sekelilingnya dan kemauan manusia untuk mengelola
lingkungan hidup. Bukan tidak mungkin, umur situ lebih pendek
dari prediksi perhitungan akibat perilaku masyarakat yang kurang
peduli terhadap lingkungan.
11. Untuk mencegah terjadinya erosi maka perlu dilakukan
reboisasi di sekitar situ dan pembuatan bangunan penangkal
erosi.
12. Untuk mengatasi masalah sedimentasi yang telah
menumpuk di Situ Bojongsari, maka perlu diadakan pengerukan
terhadap lapisan lumpur yang berada di dasar situ. Waktu yang
tepat untuk melakukan pengerukan sedimentasi adalah pada
akhir musim kemarau, karena lumpur akan mudah dibuang. Selain
itu juga menjelang musim hujan, saat air hujan pada awal musim
hujan dapat menjadi pencuci situ.

B. SARAN

Dalam rangka peningkatan pelestarian dan pemulihan Situ Bojongsari serta untuk
penelitian-penelitian selanjutnya, maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Pada tanah yang tererosi berat dan sangat berat perlu diupayakan
usaha konservasi lahan baik secara mekanis maupun vegetatif.
2. Diperlukan adanya Kebijakan Pemerintah Daerah dalam kegiatan
pemeliharaan dan pemulihan kerusakan Situ Bojongsari
3. Perlu adanya tata ruang dan batas bantaran Situ Bojongsari yang
kemudian menjadi Perda (Peraturan Daerah) agar kerusakan
dapat dihindarkan sehingga kelestarian situ dapat dijaga.
4. Kepada masyarakat yang bermukim di sekitar Situ Bojongsari
hendaknya lebih peduli terhadap ekosistem situ dengan selalu
menjaga kebersihan dan keindahan situ.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor

Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada
University Press. Jogjakarta.

Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah. 1986. Petunjuk Pelaksanaan Penyusunan
RTL-RLKT. Departemen Kehutanan RI. Jakarta.

BAKOSURTANAL. 1998. Peta Rupa Bumi Digital Indonesia Skala 1 : 25000. Cibinong.
Bogor

Direktorat Jendral Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. 1998. Pedoman Penyusunan Rencana
Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Daerah Aliran Sungai.
Departemen Kehutanan RI. Jakarta.

Ekaputri, Erlinda. 2003. Menentukan Kerusakan Resapan Secara Kuantitatif Pada Daerah
Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dengan Metode Analisa Resesi Aliran Dasar (Base Flow
Resession Analysis). Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB.
Bogor.

Haeruman, H. 1999. Kebijaksanaan Pengelolaan Danau Dan Waduk Ditnjau Dari Aspek
Tata Ruang, Seminaloka Nasional Pengelolaan Dan Pemanfaatan Danau Dan Waduk.
PPLH-LP. IPB.Bogor.23 hal.

Hardjoamidjojo, S. dan Sukartaatmadja, S. 1992. Teknik Pengawetan Tanah dan Air. JICA
IPB. Bogor.
Haerdjowigeno, S. 1995. Ilmu Tanah. Akademika Presindo. Jakarta.

Hendrawan, H. 2004. Aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) Untuk Pendugaan Erosi
dengan Pendekatan USLE (Universal Soil Loss Equation) di Sub- DAS Cimuntur, Ciamis.
Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.

Hotib dan I Nyoman Suryadiputra. 1998. Situ-situ di Jabotabek dan Permasalahannya .


Warta Konservasi Lahan Basah. Vol. 7 (1): 6-7

http:/dithias.hortikultura.go.id. Diakses tanggal 4 Pebruari 2008

http:/portal pemerintahan depok.wordpress.com. Diakses tanggal 24 Januari 2008

http:/satriadharma.wordpress.com. Diakses tanggal 30 Januari 2008

http:/www.asiamaya.com. Diakses tanggal 30 Januari 2008

http:/www.bakosurtanal.go.id. Diakses tanggal 30 Januari 2008

http:/www.depok.go.id. Diakses tanggal 24 Januari 2008

http:/www.indonesianestate.com. Diakses tanggal 24 Januari 2008

Indrawati. 2000. Kajian Erosi DAS Citarum Hulu Terhadap Sedimentasi Waduk Saguling,
Jawa Barat. Skripsi. Jurusan Geofisika dan Meteorologi. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam. IPB. Bogor.

Ispriyanto, R. 2001. Erosi di Areal Tumpangsari Tegakan Pinus merkussi Jungh et de


Vriese Umur 1 tahun (Studi Kasus di KPH Tasikmalaya, Perum Perhutani Unit III Jawa
Barat). Skripsi. Jurusan Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan. IPB. Bogor.

Murdis, R. 1999. Pendugaan Erosi dengan Pendekatan USLE (Universal Soil Loss
Equation) Menggunakan SIG (Sistem Informasi Geografi) di Sub-DAS Ciwidey, Bandung.
Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.

Nilwan. 1987. Pendugaan Besar Erosi dan Daya Angkutan Sedimen pada Daerah Aliran
Sungai Citarum Hulu. Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian.
IPB. Bogor.

Purwowidodo. 1999. Pokok-pokok Bahasan Konservasi Tanah di Kawasan Hutan.


Laboratorium Pengaruh Hutan. Fakultas Kehutanan. IPB. Bogor.

Rahim, S.E. 2000. Pengendalian Erosi Tanah Dalam Rangka Pelestarian Lingkungan
Hidup. Bumi Aksara. Jakarta

Suripin. 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Penerbit ANDI.Yogyakarta
Wasfi, A.2002. Tingkat Kesuburan Situ Rawa Besar Depok Berdasarkan Kandungan unsur
hara N dan P. Skripsi. Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan.IPB,
Bogor.

Zachar, D. 1982. Soil Erosion. Elsevier Scientific Publishing Company. Amsterdam


Leave a Reply
Home
About Kami
Arsip Berita
o Berita 2003
o Berita 2004
o Berita 2005
o Berita 2006
o Berita 2007
o Berita 2008
o Berita 2009
o Berita 2010
o Berita 2011
o Berita 2012
o Berita 2013
Artikel Situ Depok
o Hadi Pranoto
o R Adhi Kusumaputra
o Rina Ginting
o Risfan Munir dan Bambang Capicoren
o Sahroel Polontalo
o Teguh Setiawan
o Yusuf Assidiq
Artikel tentang Situ
o Nirwono Joga
o Paulus Londo
o Yayat Supriatna
Buku tentang Situ
o Lani Puspita, dkk.
o Lani Puspita, dkk.
Diskusi tentang Situ
Kebijakan terkait Situ
o Balai PSDA Ciliwung Cisadane
o Balai PSDA Ciliwung Cisadane
o Bappeda Jawa Barat
Kondisi Situ-Situ di Depok
o Tahun 2000
o Tahun 2006
o Tahun 2009
Kualitas Air Situ
Makalah Situ Depok
o Nining Betawati Prihantini, dkk.
o R. Saraswati, dkk
o R. Saraswati, dkk.
o Tarsoen Waryono (1)
o Tarsoen Waryono (2)
o Yenny Sucipto dan Roy Prigyna
Makalah tentang Situ
o Dwi Agustiyani
o Harry Wiriadinata dan Fransisca M. Setyowati
o M. Noerdjito, dkk.
o Masayu S. Hanim, dkk.
o Roemantyo, dkk.
o Rosichon Ubaidillah dan Ibnu Maryanto
o Seno Adi
o Sugiarto
o Sulastri
o Supriyanto
o Yusli Wardiatno, dkk
Penelitian Situ Depok
o Asep Arofah Permana
o Rosnila
1. Pendahuluan
2. Tinjauan Pustaka
3. Metodologi Penelitian
4. Gambaran Umum Wil.
5. Hasil dan Pembahasan
6. Kesimpulan dan Saran
Peraturan Terkait Situ
o Inmendagri No. 14/1998
o Kepmendagri No. 179/1996
o Perda Depok No. 14/2001
o Perda Depok No. 18/2003
o Permen LH No. 28/2009
Presentasi Situ Depok
o Balai PSDA WS Cil-Cis
o Bhuana Khatulistiwa
o Dinas KLH Kota Depok
o Dinas Pertanian Kota Depok
Profil Pokja Situ
Situ Asih Pulo
o Berita Situ Asih Pulo
o Galeri Foto Situ Asih Pulo
o Pokja Situ Asih Pulo
Situ Bahar
o Artikel Situ Bahar
o Berita Situ Bahar
o Galeri Foto Situ Bahar
o Pokja Situ Bahar
Situ Baru
o Berita Situ Baru
o Penelitian Situ Baru
Evi Anggraheni
Situ Bojongsari
o Berita Situ Bojongsari
o Galeri Foto Situ Bojongsari
o Makalah Situ Bojongsari
Dede Irving Hartoto
Hefni Effendi, dkk.
o Penelitian Situ Bojongsari
Nurina Endra Purnama
o Pokja Situ Bojongsari
Situ Buperta
o Berita Situ Buperta
o Galeri Foto Situ Buperta
Situ Cilangkap
o Galeri Foto Situ Cilangkap
o Berita Situ Cilangkap
o Pokja Situ Cilangkap
Situ Cilodong
o Artikel Situ Cilodong
o Berita Situ Cilodong
o Galeri Foto Situ Cilodong
o Pokja Situ Cilodong
Situ Citayam
o Berita Situ Citayam
o Galeri Foto Situ Citayam
o Pokja Situ Citayam
Situ Gadog
o Berita Situ Gadog
o Galeri Foto Situ Gadog
o Pokja Situ Gadog
Situ Jatijajar
o Berita Situ Jatijajar
o Galeri Foto Situ Jatijajar
o Makalah Situ Jatijajar
Randy Indira Kusuma, dkk
o Pokja Situ Jatijajar
Situ Jemblung
o Galeri Foto Situ Jemblung
o Pokja Situ Jemblung
Situ Kostrad Cilodong
Situ Krukut
Situ Lembah Gurame
Situ Pasir Putih
o Galeri Foto Situ Pasir Putih
Situ Patinggi
o Berita Situ Patinggi
o Galeri Foto Situ Patinggi
Situ Pedongkelan
o Artikel Situ Pedongkelan
Moh Topan N
o Berita Situ Pedongkelan
o Galeri Foto Situ Pedongkelan
o Penelitian Situ Pedongkelan
Nurul Laila Muslihah
o Pokja Situ Pedongkelan
Situ Pengarengan
o Artikel Situ Pengarengan
o Berita Situ Pengarengan
o Galeri Foto Situ Pengarengan
o Pokja Situ Pengarengan
Situ Pengasinan
o Artikel Situ Pengasinan
Iskandar Hadji
Tri Mardi Rasa
o Berita Situ Pengasinan
o Galeri Foto Situ Pengasinan
o Penelitian Situ Pengasinan
Sri Pantjawati Handayani
1. Pendahuluan
5. Kesimpulan dan Rekomendasi
o Pokja Situ Pengasinan
Situ Pitara / Pancoran Mas
o Berita Situ Pancoran Mas
o Galeri Foto Situ Pitara
o Pokja Situ Pancoran Mas / Pitara
Situ Pladen
o Berita Situ Pladen
o Galeri Foto Situ Pladen
o Pokja Situ Pladen
Situ Puri Cinere
Situ Rawa Baru
Situ Rawa Besar
o Artikel Situ Rawa Besar
Kompas
Rini
Yusuf Assidiq
o Berita Situ Rawa Besar (1)
o Berita Situ Rawa Besar (2)
o Galeri Foto Situ Rawa Besar
o Kajian Situ Rawa Besar
o Makalah Situ Rawa Besar
Tarsoen Waryono
o Penelitian Situ Rawa Besar
Dian Fitria
Listiani
Supri Hanjono
Wahyuni Susilowati
Yuliananto Supriyadi
o Pokja Situ Rawa Besar
Situ Rawa Binong
o Berita Situ Rawa Binong
Situ Rawa Gede
o Berita Situ Rawa Gede
Situ Rawa Jati
o Galeri Foto Situ Rawa jati
Situ Rawa Kalong
o Artikel Situ Rawa Kalong
o Berita Situ Rawa Kalong
o Galeri Foto Situ Rawa Kalong
o Pokja Situ Rawa Kalong
Situ Sawangan
o Berita Situ Sawangan
o Galeri Foto Situ Sawangan
o Pokja Situ Sawangan
Situ Studio Alam
o Galeri Foto Situ Studio Alam
o Pokja Situ Studio Alam
Situ Sukamaju
Situ Telaga RRI
o Berita Situ Telaga RRI
o Galeri Foto Situ Telaga RRI
Situ Telaga Subur
o Galeri Foto Situ Telaga Subur
Situ Tipar / Cicadas
o Berita Situ Tipar
o Galeri Foto Situ Tipar
o Pokja Situ Cicadas
o Proyek Situ Tipar
Situ Universitas Indonesia
o Artikel Situ di UI
o Berita Situ Universitas Indonesia
o Galeri Foto Situ di UI
SLHD Kota Depok
Suara Warga
Wawancara tentang Situ
o Gadis Sri Haryani
Subscribe

Konservasi Situ-Situ Depok syndicates its weblog posts and Comments using a technology
called RSS (Real Simple Syndication). You can use a service like Bloglines to get notified
when there are new posts to this weblog.

Archives
March 2010

Categories
Uncategorized (1)

Blogroll
o Practical Action
o Situs Pemerintah Kota Depok
o WordPress.com
o WordPress.org

Meta
Register
Log in
XFN
WordPress.com

Blog at WordPress.com.