Anda di halaman 1dari 3

ZAMAN YANG MENCEMASKAN

dan Wacana Etika Menjelang Pemilihan Presiden

Suasana menjelang pemilihan presiden, di negara mana pun, senantiasa mengundang


berseliwerannya informasi yang bernuansa menyerang pihak yang berseberangan. Barangkali,
dari sisi politik, itu adalah suatu kewajaran. Sah-sah saja. Akan tetapi, ketika pesan-pesan itu
disampaikan melalui para ahli agama, ia menjadi berbeda. Benar bahwa agama tidak melarang
penganutnya untuk berpolitik. Bahkan, dalam Ilmu Fikih, selain Fikih Ibadah ada Fikih
Muamalah, Fikih Mawaris, Fikih Munakahat, .....ada juga Fikih Siyasi: Fikih Politik.

Fikih Politik mengatur bagaimana berpolitik secara santun, tetap menjunjung etika dan saling
menghormati, meskipun terhadap pihak lawan. Kalau seorang politikus masuk wilayah meja
hijau, hakim tetap netral. Ia akan memutuskan perkara berasaskan keadilan.

Seorang khalifah kehilangan baju besi. Pakaian perang itu diketahui berada pada tetangga, yang
kebetulan seorang beragama Yahudi. Kedua belah pihak mengklaim bahwa barang itu milik
mereka. Perkara masuk ke pengadilan.

"Adakah saksi bahwa itu baju milik Saudara?" hakim bertanya kepada pihak pengadu.

"Ya, ini Hasan dan Husain. Mereka tahu betul benda itu milik saya."

"Mereka anak-anakmu, dan tentu saja akan membela ayahnya. Kesaksian lemah, tak bisa
diterima!"

Hakim Syuraih memutus sidang. Baju tetap menjadi milik orang Yahudi itu, dan khalifah,
pemimpin negara, kalah dalam perkara.

Menurut hemat saya, posisi ulama tidak kalah terhormat dibanding para hakim. Oleh sebab itu,
jika orang-orang berilmu itu bersikap lebih bijak dalam menyampaikan ceramah, adalah memang
pada tempatnya.

Saya tidak tahu, apakah "fatwa" yang banyak beredar lewat surat elektronika maupun BBM yang
tersebar dalam masa pemilihan presiden ini, benar-benar berasal dari agamawan atau nama
pemuka agama itu dimanfaatkan.

Para ahli agama, tentu saja, tidak diharamkan berpolitik. Bahkan, ada baiknya kelompok yang
kita hormati ini mengerti politik. Dengan itu, beliau-beliau tidak mudah didekati golongan
tertentu untuk menyampaikan pesan kelompok yang berkepentingan. Atau, kalau perlu, para
ustaz dan kiai dapat terjun langsung ke politik praktis yang dengannya ia bisa lebih melebarkan
sayap dakwah, menyeru orang kepada kebaikan, dan mencegah manusia dari perbuatan munkar.
Cerita menjadi berbeda ketika forum keagamaan digunakan untuk menyebarkan paham politik
dari partai yang ustaz dukung, sambil sekaligus menyerang kelompok lain, yang juga banyak ahli
agamanya. Secara tidak langsung (ataupun langsung), terjadilah perang antarulama.

Kata ulama dalam bahasa aslinya adalah bentuk jamak dari alim, orang berilmu. Jadi, ulama
-sebenarnya adalah- sebutan untuk orang-orang berilmu. Kendatipun dalam kesehariaanya, ia
cenderung tertuju kepada orang-orang yang mendalami ilmu agama.

Ulama adalah pemersatu umat. Karenanya, tidak elok didengar, apabila demi kepentingan politik
yang dibungkus dengan isu keagamaan, ulama berfatwa sesuatu yang bukan bidangnya dengan
cara kurang enak didengar dan tidak sedap dibaca. Kita tahu, kalau fatwa ulama turun, banyak
orang akan mengikutinya. Ketika sebuah jemaah mengikuti pepatah ulamanya, dan di pihak
sana, ulamanya berfatwa juga dengan isi yang berbeda, ini berpotensi menyimpan malapetaka.
Kawan-kawan kita di sana sami'na wa athona. Taat dan patuh kepada titah kiai. Ulama
menyerang ulama, kita berhadapan dengan kita!

Barangkali, ada baiknya semua orang untuk lebih banyak membuka buku-buku supaya ilmu
tumbuh lebih subur. Kita perlu membuka telinga lebar-lebar untuk lebih banyak mendengar agar
wawasan makin mekar. Juga, berusaha melapangkan dada, serta melatih diri untuk berbicara
dengan hati. Kita posisikan diri seandainya dia adalah aku, mereka adalah kami. Dengan
demikian, saling pengertian akan semakin berkembang.

Sangat boleh jadi, apa yang kita pegang kukuh, setelah pembelajaran lebih dalam, ternyata ada
kelemahan di sana. Atau, segala yang kita benci yang dijalankan dan diusung orang, tidak
mustahil ada mutiara yang belum kita ketahui di dalamnya.

Jika masing-masing pihak tetap keukeuh sebagai yang paling benar dan berpendapat bahwa
pihak lain pasti salah, karenanya perlu diserang; di situlah akar keretakan dalam berbangsa dan
bernegara, mulai menjalar.

Alangkah indahnya jika kita melakukan silaturahmi dan diskusi dengan saling menghormati.
Menghindarkan rasa paling benar sendiri. Menjauhkan saling cerca dan saling hina.
Menyuburkan suasana saling menegur serta saling menyapa. Menebarkan salam, memakmurkan
senyum, dan membangun dialog (berasal dari bahasa Inggris: dialogue).

Semua orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tiada yang sempurna. Bukalah pintu, agar
bau busuk yang terkungkung -sedangkan kita tidak menyadarinya, menguap keluar dan pergi
bersama angin. Bukalah semua jendela, supaya angin segar yang dahulu kita khawatirkan
membawa debu dan kebisingan- padahal ia membuat nyaman adanya, masuk ke dalam.

Kedua calon presiden adalah orang-orang terpilih dari lebih dua ratus juta penduduk Indonesia.
Bayangkan, betapa sangat luar biasanya Mas Joko dan Om Prabo! Dalam hal kepemimpinan
bangsa, mereka memiliki banyak hal yang tidak dipunyai sebagian besar penduduk Indonesia.
Rakyat diberi kesempatan memilih salah satu dari keduanya, sesuai bisikan hati. Lantaran hanya
seorang yang bakal jadi presiden, tentunya salah satu calon akan tidak memenangkan pemilu ini.
Dan, siapa pun yang mendapatkan suara terbesar, hendaknya kita dukung demi kemajuan bangsa
dan negara. Dalam perjalanannya, kelak, jika ada langlah yang salah, tentu boleh kita
mengoreksinya. Karena pada dasarnya, siapa pun yang memimpin negara besar dan begitu luas;
sangat heterogen suku, adat istiadat, kondisi dan situasi ekonomi, politik, sosial, budaya; dengan
bertumpuk-tumpuk masalah di dalamnya; pasti tidak mudah. Perlu kerja sama semua pihak.

Sekali lagi, yang harus kita utamakan adalah kesatuan bangsa. Kita mesti mengikat yang
terserak, bukan menghancurkan yang sudah padu.

Kita perlu lebih banyak melakukan dialogue, dan jangan menyengaja memetak-metak diri dalam
dia, lo, dan gue!

Namun, apabila nasihat-nasihat para ustaz yang senantiasa memojokkan pihak yang
berseberangan berkelanjutan dan terus tumbuh subur, serta beredar semakin luas; jangan-jangan
zaman yang pernah Nabi Muhammad saw. nubuwat-kan, sudah tiba waktunya. Apabila agama
semata dimanfaatkan untuk mendulang suara, petunjuk Ilahi dipakai mengais rezeki, bangunan
arah beribadah hanya digunakan untuk hiasan bendera, bulan dan bintang hanya sebagai
lambang; saya khawatir apa yang disinyalir Nabi terjadi saat ini. Ditambah lagi dengan
peristiwa-peristiwa hangat yang terjadi di ini negeri, saya tambah ngeri. Para pemimpin partai
berlambang agama berurusan dengan KPK, Ketua Majelis Ulama mengutip duit sertifikasi,
banyak pekerja Kementerian Agama -sejak lama- memakan rezeki jemaah haji, hingga
pengadaan kitab suci tak luput dari sasaran korupsi. Saya khawatir, zaman yang mencemaskan
itu adalah kini:

Akan datang pada manusia satu zaman, di kala itu Islam tidak tinggal melainkan namanya,
dan Al-Quran tidak tinggal melainkan tulisannya, masjid-masjidnya bagus namun kosong dari
petunjuk, ulama-ulamanya termasuk manusia paling jelek yang berada di kolong langit, karena
dari mereka timbul beberapa fitnah dan akan kembali kepada mereka. (HR. Baihaqi).

Di sela-sela mengikuti Konvensi Nasional Operasi Penunjang, Trans Bandung, 17 Juni; dan
dalam kereta Commuter Bogor-Jakarta-Bogor, 19 Juni 2014.

Salam,
jr