Anda di halaman 1dari 12

GASTROENTERITIS AKUT

A. Pendahuluan
Usus halus dan kolon secara normal terlibat dalam proses absorpsi dan
sekresi cairan dan ion dalam proses defekasi. Absorpsi makanan dan cairan
terjadi di usus halus dan terjadi sebelum proses sekresi. Absorpsi cairan di
usus halus dan kolon sangatlah penting dan efisien. Usus halus dapat
menyerap cairan sebanyak 10 liter/hari yang berasal dari asupan makanan atau
minuman, salivasi, sekresi lambung, pankreas, dan empedu. Kolon
mereabsorpsi cairan yang tersisa dari proses absorpsi usus halus. Kolon dapat
mereabsorpsi cairan sebanyak 4-5 liter/hari dan hanya menyisakan 100 ml
cairan yang tertinggal bersama feses (Lung, 2003).
Melalui penyerapan garam dan air di kolon, terbentuklah massa feses
yang padat. Dari 500 ml bahan yang masuk ke kolon setiap harinya, kolon
dalam keadaan normal dapat menyerap sekitar 350 ml, meninggalkan 150
gram feses untuk dikeluarkan dari tubuh setiap harinya. Bahan feses ini
biasanya terdiri dari 100 gram air dan 50 gram bahan padat yang terdiri dari
selulosa, bilirubin, bakteri, dan sejumlah kecil garam. Produk-produk sisa
utama yang diekskresikan di feses adalah bilirubin. Konstituen feses lainnya
adalah residu makanan yang tidak diserap dan bakteri-bakteri yang pada
dasarnya tidak pernah menjadi bagian dari tubuh (Sherwood, 2001).
Banyak orang yang percaya frekuensi normal defekasi adalah satu kali
sehari, tetapi pada kenyataannya hal tersebut tidaklah benar. Tidak ada aturan
frekuensi defekasi yang normal, tetapi pada umumnya frekuensi normal
defekasi adalah berkisar tiga kali sehari sampai tiga kali dalam seminggu.
Seseorang dengan frekuensi defekasi kurang dari tiga kali dalam seminggu
dikatakan mengalami konstipasi dan lebih dari tiga kali sehari dengan
konsistensi feses yang cair dikatakan mengalami diare (Tresca, 2009).

B. Definisi
Gastroenteritis akut merupakan peradangan pada lambung dan usus yang
ditandai dengan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah, dan sering kali

1
disertai peningkatan suhu tubuh. Diare yang dimaksudkan adalah buang air
besar berkali-kali (dengan jumlah yang melebihi 4 kali, dan bentuk feses yang
cair, dapat disertai dengan darah atau lendir. (Suratun, 2010)

C. Klasifikasi
Diare dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Ditinjau dari ada atau tidaknya infeksi, diare dibagi menjadi dua golongan:
a) Diare infeksi spesifik : tifus dan para tifus, staphilococcus disentri
basiler, dan Enterotolitis nektrotikans.
b) Diare non spesifik : diare dietetis.
2. Ditinjau dari organ yang terkena infeksi diare :
a) Diare infeksi enteral atau infeksi di usus, misalnya: diare yang
ditimbulkan oleh bakteri, virus dan parasit.
b) Diare infeksi parenteral atau diare akibat infeksi dari luar usus,
misalnya: diare karena bronkhitis.
3. Ditinjau dari lama infeksi, diare dibagi menjadi dua golongan yaitu:
a) Diare akut : Diare yang terjadi karena infeksi usus yang bersifat
mendadak, berlangsung cepat dan berakhir dalam waktu 3 sampai 5
hari. Hanya 25% sampai 30% pasien yang berakhir melebihi waktu 1
minggu dan hanya 5 sampai 15% yang berakhir dalam 14 hari.
b) Diare kronik dalah diare yang berlangsung 2 minggu atau lebih
(Sunoto, 1990).

D. Etiologi
1. Faktor infeksi
a) Infeksi internal : infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan
penyebab utama gastroenteritis pada anak, meliputi infeksi internal
sebagai berikut:
1) Infeksi bakteri : vibrio, ecoly, salmonella shigella, capylabactor,
versinia aoromonas dan sebagainya.
2) Infeksi virus : entero virus ( v.echo, coxsacria, poliomyelitis)
3) Infeksi parasit : cacing (ascaris, tricuris, oxyuris, srongyloidis,
protozoa, jamur).
b) Infeksi parenteral : infeksi di luar alat pencernaan, seperti : OMA,
tonsilitis, bronkopneumonia, dan lainnya.
2. Faktor malabsorbsi:
a) Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan
sukrosa), mosiosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan galatosa).
b) Malabsorbsi lemak

2
c) Malabsorbsi protein
3. Faktor makanan
Makanan basi, beracun dan alergi terhadap makanan.

E. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah:
1. Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik meninggi, sehingga terjadi pergeseran air
dan elektrolit ke dalam rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang
usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan
selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya jika peristaltik
menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya
akan menimbulkan diare.
F. Manifestasi Klinis
1. Konsistensi feces cair (diare) dan frekuensi defekasi semakin sering
2. Muntah (umumnya tidak lama)
3. Demam (mungkin ada, mungkin tidak)
4. Kram abdomen, tenesmus
5. Membrane mukosa kering
6. Fontanel cekung (bayi)
7. Berat badan menurun
8. Malaise

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan tinja
- Makroskopis: memeriksa bakteri atau kuman penyebab diare tanpa
pewarnaan
- Mikroskopis: memeriksa kuman penyebab diare dengan pewarnaan dan
dengan menggunakan mikroskop mikro.
2. Berat jenis plasma untuk menentukkan defisit cairan akibat diare.
3. Pemeriksaan kadar elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium
dalam serum (terutama pada penderita diare yang disertai kejang).

3
4. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam-basa dalam darah (Analisa
Gas Darah) mendeteksi adanya asidosis metabolik.
5. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
6. Pemeriksaan radiologis seperti sigmoidoskopi, kolonoskopi dan lainnya
biasanya tidak membantu untuk evaluasi diare akut infeksi.

H. Penatalaksanaan
1. Rehidrasi
Pemberian cairan pada pasien diare dan memperhatikan derajat
dehidrasinya dan keadaan umum.
a) Cairan Rehidrasi Oral
Pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan yang diberikan
peroral berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na HCO3, KCL dan
glukosa untuk diare akut.
b) Cairan Rehidrasi Parenteral
Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang di perlukan sesuai dengan
kebutuhan pasien, tetapi semuanya itu tergantung tersedianya cairan
setampat. Pada umumnya cairan Ringer Laktat (RL) di berikan
tergantung berat/ringan dehidrasi, yang di perhitungkan dengan
kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya.
1) Dehidrasi Ringan
1 jam pertama 25 50 ml / kg BB / hari, kemudian 125 ml / kg BB /
oral.
2) Dehidrasi sedang 1 jam pertama 50 100 ml / kg BB / oral
kemudian 125 ml / kg BB / hari.
3) Dehidrasi berat
1 jam pertama 20 ml / kg BB / jam atau 5 tetes / kg BB / menit
(inperset 1 ml : 20 tetes), 16 jam nerikutnya 105 ml / kg BB oralit
per oral.
2. Obat- obatan
Prinsip pengobatan diare adalah mengganti cairan yang hilang melalui
tinja dengan / tanpa muntah dengan cairan yang mengandung elektrolit
dan glukosa / karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras, dsb).
a) Obat anti sekresi
Terobosan terbaru dalam milenium ini adalah mulai tersedianya secara
luas racecadotril yang bermanfaat sekali sebagai penghambat enzim
enkephalinase sehingga enkephalin dapat bekerja kembali secara

4
normal. Perbaikan fungsi akan menormalkan sekresi dari elektrolit
sehingga keseimbangan cairan dapat dikembalikan secara normal.
Contoh : Asetosal, dosis 25 mg / ch dengan dosis minimum 30 mg.
Klorrpomozin, dosis 0,5 1 mg / kg BB / hari.
b) Obat spasmolitik, umumnya obat spasmolitik seperti papaverin ekstrak
beladora, opium loperamia tidak digunakan untuk mengatasi diare akut
lagi, obat pengeras tinja seperti kaolin, pectin, charcoal, tabonal, tidak
ada manfaatnya untuk mengatasi diare sehingga tidak diberikan lagi.
c) Antibiotik
Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare
akut infeksi, karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari
tanpa pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik diindikasikan pada :
Pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti demam, feses
berdarah, leukosit pada feses, mengurangi ekskresi dan kontaminasi
lingkungan, persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare
pada pelancong, dan pasien immunocompromised. Contoh antibiotik
untuk diare, Ciprofloksasin 500mg oral (2x sehari, 3 5 hari),
Tetrasiklin 500 mg (oral 4x sehari, 3 hari), Doksisiklin 300mg (Oral,
dosis tunggal), Ciprofloksacin 500mg, Metronidazole 250-500 mg
(4xsehari, 7-14 hari, 7-14 hari oral atauIV).

I. Komplikasi
1. Dehidrasi
Dari komplikasi Gastroenteritis, tingkat dehidrasi dapat di klasifikasikan
sebagai berikut :
a) Dehidrasi ringan
Kehilangan cairan 2 5% dari BB dengan gambaran klinik turgor kulit
kurang elastis, suara serak, penderita belum jatuh pada keadaan syok.
b) Dehidrasi sedang
Kehilangan 5 8% dari BB dengan gambaran klinik turgor kulit jelek,
suara serak, penderita jatuh pre syok, nadi cepat dan dalam.
c) Dehidrasi berat
Kehilangan cairan 8 10% dari BB dengan gambaran klinik seperti
tanda dihidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis
sampai koma, otot kaku sampai sianosis.
2. Renjatan Hipovolemik

5
Renjatan hipovolemik menyebabkan pasien akan merasa haus, lidah
kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun, serta suara menjadi
serak, gangguan biokimiawi seperti asidosis metabolik akan menyebabkan
frekuensi pernafasan lebih cepat dan dalam (pernafasan kusmaul). Bila
terjadi renjatan hipovolemik berat maka denyut nadi cepat (lebih dari 120
kali/menit) tekanan darah menurun tak terukur, pasien gelisah, muka
pucat, ujung ekstremitas dingin dan kadang sianosis, kekurangan kalium
dapat menimbulkan aritmia jantung. Perfusi ginjal dapat menurun
sehingga timbul anuria, sehingga bila kekurangan cairan tak segera diatasi
dapat timbul penulit berupa nekrosis tubular akut.
3. Bakteremia
Bakteremia adalah suatu kondisi di mana bakteri hadir dalam aliran darah.
4. Malnutrisi
5. Hipoglikimia
6. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus

J. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Identitas
b) Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
BAB lebih dari 3 kali
2) Riwayat Penyakit Sekarang
BAB warna kuning kehijauan, bercampur lendir dan darah atau
lendir saja. Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu
pengeluaran : 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari (diare
berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).
3) Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakaian antibiotik atau
kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari
saprofit menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA
campak.
4) Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.
5) Riwayat Kesehatan Lingkungan
Penyimpanan makanan pada suhu kamar, kurang menjaga
kebersihan, lingkungan tempat tinggal.
c) Pola Fungsi Kesehatan

6
1. Aktivitas/ istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah, insomnia, tidak
tidur semalam karena diare, merasa gelisah dan ansietas,
pembatasan aktivitas/ kerja sehubungan dengan efek proses
penyakit
2. Sirkulasi
Tanda : Takikardia (respons terhadap demam, dehidrasi, proses
inflamasi, dan nyeri), kemerahan, area ekimosis (kekurangan
vitamin K), TD : hipotensi, termasuk postural, kulit/ membran
mukosa (turgor buruk, kering, lidah pecah-pecah (dehidrasi/
malnutrisi)
3. Integritas Ego
Gejala : Ansietas, ketakutan, emosi, perasaan tak berdaya/ tak ada
harapan, stress
Tanda : Menolak, perhatian menyempit, depresi.
4. Eliminasi
Gejala : Tekstur feses bevariasi dari bentuk lunak sampai bau atau
berair, episode diare berdarah tak dapat diperkirakan, perdarahan
per rectal, riwayat batu ginjal (dehidrasi).
Tanda : Menurunnya bising usus, tak ada peristaltik atau adanya
peristaltik yang dapat dilihat, oliguria
5. Makanan/ Cairan
Gejala : Anoreksia, mual/ muntah, penurunan berat badan, tidak
toleran terhadap diet/ sensitif (buah, sayur, susu, dll)
Tanda : Penurunan lemak subkutan/ massa otot, kelemahan, tonus
otot dan turgor kulit buruk, membran mukosa pucat, luka, inflamasi
rongga mulut.
6. Hygiene
Tanda : Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri,
stomatitis kekurangan vitamin, bau badan.
7. Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Nyeri tekan pada kuadran kiri bawah (mungkin hilang
dengan defekasi).
Tanda : Nyeri tekan abdomen/ distensi.
8. Keamanan
Gejala : Lesi kulit (nyeri tekan, kemerahan, dan membengkak).
Tanda : Riwayat lupus eritematosus, anemia metabolik, vaskulitis,
peningkatan suhu 39,6-40, alergi terhadap makanan/produk susu

7
(mengeluarkan histamin kedalam usus dan mempunyai efek
inflamasi).
9. Seksualitas
Gejala : Frekuensi menurun/ menghindari aktivitas seksual.
10. Interaksi social
Gejala : Masalah hubungan/ peran sehubungan dengan kondisi,
ketidakmampuan aktif dalam sosial
d) Pemeriksaan Penunjang
1. Darah
Ht meningkat, leukosit menurun
2. Feses
Bakteri atau parasit
3. Elektrolit
Natrium dan Kalium menurun
4. Urinalisa
Urin pekat, BJ meningkat
5. Analisa Gas Darah
Antidosis metabolik (bila sudah kekurangan cairan)
e) Data Fokus
1. Subjektif
a. Kelemahan
b. Diare lunak s/d cair
c. Anoreksia, mual, dan muntah
d. Tidak toleran terhadap diet
e. Perut mulas s/d nyeri (nyeri pada kuadran kanan bawah,
abdomen tengah bawah)
f. Haus, kencing menurun
2. Objektif
a. Lemah, gelisah
b. Penurunan lemak / masa otot, penurunan tonus
c. Penurunan turgor, pucat, mata cekung
d. Nyeri tekan abdomen
e. Urine kurang dari normal
f. Hipertermi
g. Hipoksia / Sianosis
h. Mukosa kering
i. Peristaltik usus lebih dari normal
j. Nadi meningkat, tekanan darah turun, respirasi rate turun cepat
dan dalam (kompensasi asidosis).
2. Diagnosa Keperawatan
a. Diare berhubungan dengan faktor-faktor infeksi, makanan,
psikologis

8
b. Defisit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan
sekunder akibat diare
c. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kram abdomen
sekunder akibat gastroenteritis
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
diare atau output berlebihan dan intake yang kurang
e. Hipertemi berhubungan dengan proses infeksi sekunder terhadap
diare
f. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan
frekwensi diare
3. Intervensi Keperawatan
a) Diare berhubungan dengan faktor-faktor infeksi, makanan, psikologis
Tujuan :
Mencapai BAB normal
Kriteria Hasil :
-Melaporkan penurunan frekuensi defekasi (BAB < 3 kali)
-Konsistensi kembali normal/feses memiliki bentuk
Intervensi :
1) Kaji faktor penyebab yang mempengaruhi diare
Rasional : Untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan
2) Ajarkan pada klien penggunaan yang tepat dari obat-obatan
antidiare
Rasional : supaya klien tahu cara penggunaan obat anti diare
3) Pertahankan tirah baring
Rasional : Tirah baring dapat mengurangi hipermotiltas usus
4) Kolaborasi untuk mendapat antibiotik
Rasional : bila penyebab diare kuman maka harus diobati
b) Defisit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan
sekunder akibat diare
Tujuan :
Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
Kriteria Hasil :
-Tanda vital dalam batas normal
-Turgor elastik, membran mukosa bibir basah, mata tidak cekung
-Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari

Intervensi :
1) Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
Rasional : Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan
kekeringan mukosa. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian
cairan segera untuk memperbaiki defisit.

9
2) Pantau intake dan output
Rasional : Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus
membuat keluaran tak adekuat untuk membersihkan sisa
metabolisme.
3) Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3
lt/hr
Rasional : Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
4) Kolaborasi :
a. Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
Rasional : Koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk
mengetahui faal ginjal (kompensasi).
b. Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur.
Rasional : Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan
cepat.
c. Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
Rasional : Anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan
elektrolit agar simbang. Antispasmolitik untuk proses absorbsi
normal. Antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk
menghambat endotoksin.
c) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kram abdomen
sekunder akibat gastroenteritis
Tujuan :
Nyeri hilang lebih berkurang, rasa nyaman terpenuhi
Kriteria Hasil :
- Klien mengatakan nyeri berkurang
- Nadi 60 90 x / menit
- Klien nyaman, tenang, rileks
Intervensi :
1) Kaji karakteritas dan letak nyeri
Rasional : untuk menentukan tindakan dalam mengatur nyeri
2) Ubah posisi klien bila terjadi nyeri, arahkan ke posisi yang paling
nyaman
Rasional : posisi yang nyaman dapat mengurangi nyeri
3) Beri kompres hangat diperut
Rasional : untuk mengurangi perasaan kram di perut
4) Kolaborasi untuk memberikan obat analgetik
Rasional : untuk memblok syaraf yang menimbulkan nyeri

10
d) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
diare atau output berlebihan dan intake yang kurang
Tujuan :
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil :
- Nafsu makan meningkat
- BB meningkat atau normal sesuai umur
- Tidak mual / muntah
Intervensi :
1) Timbang BB tiap hari
Rasional : untuk mengetahui terjadinya penurunan BB dan
mengetahui tingkat perubahan
2) Berikan diet tinggi kalori, protein dan mineral serta rendah zat sisa
Rasional : untuk memenuh gizi yang cukup
3) Berikan makanan yang tidak merangsang (lunak / bubur)
Rasional : untuk membantu perbaikan absorbsi usus
4) Anjurkan klien untuk makan dalam keadaan hangat
Rasional : keadaan hangat dapat meningkatkan nafsu makan
5) Anjurkan klien untuk makan sedikit tapi sering
Rasional : untuk memenuhi asupan makanan
e) Hipertemi berhubungan dengan proses infeksi sekunder terhadap diare
Tujuan :
Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh
Kriteria Hasil :
- Suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)
- Tidak terdapat tanda infeksi (rubur, dolor, kalor, tumor, fungtio leasa)
Intervensi :
1) Monitor suhu tubuh setiap 2 jam
Rasional : deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh
(adanya infeksi)
2) Berikan kompres hangat
Rasional : merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan
produksi panas tubuh
3) Anjurkan untuk minum banyak
Rasional : mengganti cairan yang hilang
4) Kolaborasi pemberian antipirektik
Rasional : menurunkan panas

11
12