Anda di halaman 1dari 30

STRUMA NODOSA NON TOXIC

A. Definisi
Pembesaran pada kelenjar tiroid biasa disebut sebagai struma
nodosa atau struma. Pembesaran pada tiroid yang disebabkan
akibat adanya nodul, disebut struma nodosa (Tonacchera, Pinchera
& Vitty, 2009). Biasanya dianggap membesar bila kelenjar tiroid
lebih dari 2x ukuran normal. Pembesaran ini dapat terjadi pada
kelenjar yang normal (eutirodisme), pasien yang kekurangan
hormon tiroid (hipotiroidisme) atau kelebihan produksi hormon
(hipertiroidisme) (Black and Hawks, 2009). Menurut Penelitian
Framingham, setiap orang berisiko 5-10% untuk menderita struma
nodosa dan perempuan berisiko 4 kali lipat disbanding laki-laki
(Incidence and Prevalence Data, 2012). Kebutuhan hormon tiroid
meningkat pada masa pertumbuhan, masa kehamilan dan
menyusui. Pada umumnya struma nodosa banyak terjadi pada
remaja, wanita hamil dan ibu menyusui. Struma nodosa terdapat
dua jenis, toxic dan non toxic. Struma nodusa non toxic merupakan
struma nodusa tanpa disertai tanda- tanda hipertiroidisme
(Hermus& Huysmans, 2004). Pada penyakit struma nodusa non
toxic tiroid membesar dengan lambat. Struma nodosa toxic ialah
keadaan dimana kelenjar tiroid yang mengandung nodul tiroid yang
mempunyai fungsi yang otonomik, yang menghasilkan suatu
keadaan hipertiroid. Dampak struma nodosa terhadap tubuh dapat
mempengaruhi kedudukan organ-organ di sekitarnya. Di bagian
posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus.
Struma nodosa dapat mengarah ke dalam sehingga mendorong
trakea, esophagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan
bernapas dan disfagia (Rehman, dkk 2006). Hal tersebut akan
berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta
cairan dan elektrolit. Bila pembesaran keluar maka akan memberi

1
bentuk leher yang besar dapat asimetris atau tidak, jarang disertai
kesulitan bernapas dan disfagia.

B. Anatomi & Fisiologi


Kelenjar tiroid merupakan organ kecil pada anterior leher
bagian bawah, di antara muskulus sternokleidomastoideus, yang
terdiri dari dua buah lobus lateral yang dihubungkan oleh sebuah
istmus (Price & Wilson, 2006). Kelenjar tiroid terletak di leher,
dibawah kartilago krikoid dan berbentuk seperti huruf H (Black &
Hawks, 2009). Dan menurut Newton, Hickey, &Marrs, (2009),
kelenjar tiroid terletak di pangkal leher di kedua sisi bagian bawah
laring dan bagian atas trakea. Panjang kelenjar tiroid kurang lebih 5
cm dengan lebar 3 cm dan berat sekitar 30 gram (Brunner &
Suddarth, 2002). Kelenjar tiroid yang dimiliki wanita lebih besar
dibanding laki-laki (Seeley et al, 2007). Kegiatan metabolik pada
kelenjar tiroid cukup tinggi, ditandai dengan aliran darah yang
menuju kelenjar tiroid sekitar 5 kali lebih besar dari aliran darah ke
dalam hati (Skandalakis, 2004).
Kelenjar tiroid menghasilkan tiga jenis hormon yang berbeda,
yaitu tiroksin (T4), triodotironin (T3) yang keduanya disebut dengan
satu nama, hormon tiroid dan kalsitonin. Triiodotironin (T3) memiliki
efek yang cepat dalam jaringan. Dibutuhkan waktu 3 hari untuk T3
dan 11 hari bagi T4 dalam mencapai titik puncak efek pada
jaringan. Sehingga T3 merupakan bentuk aktif dari hormon tiroid
(Black & Hawks, 2009). Pelepasan hormon tiroid T3 dan T4
distimulasi oleh tirotropin atau TSH (Thyroid Stimulating Hormon)
yang disekresi oleh kelenjar hipofisis (Braverman dkk, 2010).
Pengeluaran TSH diatur oleh TRH (Thyrotropin Releasing Hormon)
yang disekresikan oleh hipotalamus. Penurunan suhu tubuh dapat
meningkatkan sekresi TRH. Pengeluaran TSH begantung pada
kadar T3 dan T4 yang biasa disebut sebagai pengendalian umpan
balik atau feedback control. Kalsitonin merupakan hormon penting

2
lain yang disekresi kelenjar tiroid yang tidak dikendalikan oleh TSH.
Fungsi kalsitonin adalah menjaga keseimbangan kadar kalsium
plasma dengan meningkatkan jumlah penumpukan kalsium pada
tulang dan menurunkan reabsorpsi kalsium pada ginjal, dengan
demikian kadar kalsium plasma tidak menjadi tinggi (Black &
Hawks, 2009).
Yodium berperan penting dalam pembentukan hormon tiroid
(Brunner & Suddarth, 2002). Yodium yang telah terserap dalam
darah dari GI track akan diambil oleh kelenjar tiroid dan akan
dipekatkan dalam sel kelenjar tiroid. Molekul yodium yang telah
diambil akan bereaksi dengan tirosin (asam amino) untuk
membentuk hormon tiroid. Kelenjar tiroid mengatur fungsi
metabolisme tubuh, dimana tubuh menghasilkan energi yang
berasal dari nutrisi dan oksigen yang mempengaruhi fungsi tubuh
penting, seperti tingkat kebutuhan energi dan detak jantung (ATA,
2013). Selain itu kelenjar tiroid juga berfungsi meningkatkan kadar
karbohidrat, meningkatkan ukuran dan kepadatan mitokondria,
meningkatkan sintesis protein dan meningkatkan pertumbuhan
pada anak-anak. Sel-sel sasaran untuk hormon tiroid adalah
hampir semua sel di dalam tubuh. Fungsi hormon tiroid antara lain
(Black & Hawks, 2009).:
1. Merangsang laju metabolik sel-sel sasaran dengan
meningkatkan metabolisme protein, lemak, dan karbohidrat,
2. Merangsang kecepatan pompa natrium-kalium di sel sasaran,
3. Meningkatkan responsivitas sel-sel sasaran terhadap
katekolamin sehingga meningkatkan frekuensi jantung,
4. Meningkatkan responsivitas emosi,
5. Meningkatkan kecepatan depolarisasi otot rangka, yang
meningkatkan kecepatan kontraksi otot rangka,
6. Hormon tiroid penting untuk pertumbuhan dan perkembangan
normal semua sel tubuh dan dibutuhkan untuk fungsi hormon
pertumbuhan

C. Klasifikasi

3
Struma nodosa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal
yaitu (Roy, 2011):
1. Berdasarkan jumlah nodul : bila jumlah nodul hanya satu
disebut struma nodosa soliter (uninodosa) dan bila lebih dari
satu disebut struma multinodosa.
2. Berdasarkan kemampuan menyerap yodium radioaktif, ada tiga
bentuk nodul tiroid yaitu nodul dingin, hangat, dan panas. Nodul
dingin apabila penangkapan yodium tidak ada atau kurang
dibandingkan dengan bagian tiroid sekitarnya. Hal ini
menunjukkan aktivitas yang rendah. Nodul hangat apabila
penangkapan yodium sama dengan sekitarnya. Ini berarti fungsi
nodul sama dengan bagian tiroid lainnya. Dan nodul panas bila
penangkapan yodium lebih banyak dari sekitarnya. Keadaan ini
memperlihatkan aktivitas yang berlebih.
3. Berdasarkan konsistensinya lunak, kistik, keras dan sangat
keras. Struma nodosa memiliki beberapa stadium, yaitu
(Lewinski, 2002) :
a) Derajat 0 : tidak teraba pada pemeriksaan
b) Derajat I : teraba pada pemeriksaan, terlihat jika kepala
ditegakkan
c) Derajat II : mudah terlihat pada posisi kepala normal
d) Derajat III : terlihat pada jarak jauh.
4. Berdasakan fisiologisnya struma nodosa dapat diklasifikasikan
sebagai berikut (Rehman, dkk, 2006) :
a) Eutiroidisme
Eutiroidisme adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar
tiroid yang disebabkan stimulasi kelenjar tiroid yang berada
di bawah normal sedangkan kelenjar hipofisis menghasilkan
TSH dalam jumlah yang meningkat. Struma nodosa atau
struma semacam ini biasanya tidak menimbulkan gejala
kecuali pembesaran pada leher yang jika terjadi secara
berlebihan dapat mengakibatkan kompresi trakea.
b) Hipotiroidisme
Hipotiroidisme adalah kelainan struktural atau fungsional
kelenjar tiroid sehingga sintesis dari hormon tiroid menjadi

4
berkurang. Kegagalan dari kelenjar untuk mempertahankan
kadar plasma yang cukup dari hormon. Beberapa pasien
hipotiroidisme mempunyai kelenjar yang mengalami atrofi
atau tidak mempunyai kelenjar tiroid akibat
pembedahan/ablasi radioisotop atau akibat destruksi oleh
antibodi autoimun yang beredar dalam sirkulasi. Gejala
hipotiroidisme adalah penambahan berat badan, sensitif
terhadap udara dingin, dementia, sulit berkonsentrasi,
gerakan lamban, konstipasi, kulit kasar, rambut rontok,
mensturasi berlebihan, pendengaran terganggu dan
penurunan kemampuan bicara.
c) Hipertiroidisme
Dikenal juga sebagai tirotoxicosis atau Graves yang dapat
didefenisikan sebagai respon jaringan-jaringan tubuh
terhadap pengaruh metabolik hormon tiroid yang berlebihan.
Keadaan ini dapat timbul spontan atau adanya sejenis
antibodi dalam darah yang merangsang kelenjar tiroid,
sehingga tidak hanya produksi hormone yang berlebihan
tetapi ukuran kelenjar tiroid menjadi besar. Gejala
hipertiroidisme berupa berat badan menurun, nafsu makan
meningkat, keringat berlebihan, kelelahan, lebih suka udara
dingin, sesak napas. Selain itu juga terdapat gejala jantung
berdebar-debar, tremor pada tungkai bagian atas, mata
melotot (eksoftalamus), diare, haid tidak teratur, rambut
rontok, dan atrofi otot.
5. Secara klinis pemeriksaan klinis struma nodosa dapat
dibedakan menjadi (Tonacchera, dkk, 2009):
a) Struma nodosa toxic
Struma nodosa toxic dapat dibedakan atas dua yaitu struma
nodosa diffusa toxic dan struma nodosa nodusa toxic. Istilah
diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada perubahan
bentuk anatomi dimana struma nodosa diffusa toxic akan
menyebar luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan

5
medis sementara nodusa akan memperlihatkan benjolan
yang secara klinik teraba satu atau lebih benjolan (struma
nodosa multinodular toxic). Struma nodosa diffusa toxic
(tiroktosikosis) merupakan hipermetabolisme karena jaringan
tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam
darah. Penyebab tersering adalah penyakit Grave (gondok
eksoftalmik/exophtalmic struma nodosa), bentuk
tiroktosikosis yang paling banyak ditemukan diantara
hipertiroidisme lainnya. Perjalanan penyakitnya tidak
disadari oleh pasien meskipun telah diiidap selama
berbulan-bulan. Antibodi yang berbentuk reseptor TSH
beredar dalam sirkulasi darah, mengaktifkan reseptor
tersebut dan menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif.
Meningkatnya kadar hormon tiroid cenderung menyebabkan
peningkatan pembentukan antibodi sedangkan turunnya
konsentrasi hormon tersebut sebagai hasilpengobatan
penyakit ini cenderung untuk menurunkan antibodi tetapi
bukan mencegah pembentukannya. Apabila gejala gejala
hipertiroidisme bertambah berat dan mengancam jiwa
penderita maka akan terjadi krisis tirotoksik. Gejala klinik
adanya rasa khawatir yang berat, mual, muntah, kulit dingin,
pucat, sulit berbicara dan menelan, koma dan dapat
meninggal.
b) Struma nodosa non toxic
Struma nodosa non toxic sama halnya dengan struma
nodosa toxic yang dibagi menjadi struma nodosa diffusa non
toxic dan struma nodosa nodusa non toxic. Struma nodosa
non toxic disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik.
Struma nodosa ini disebut sebagai simpel struma nodosa,
struma nodosa endemik, atau struma nodosa koloid yang
sering ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali

6
mengandung yodium dan goitrogen yang menghambat
sintesa hormon oleh zat kimia.
Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu
nodul, maka pembesaran ini disebut struma nodusa. Struma
nodusa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme dan
hipotiroidisme disebut struma nodusa non toksik. Biasanya
tiroid sudah mulai membesar pada usia muda dan
berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa.
Kebanyakan penderita tidak mengalami keluhan karena
tidak ada hipotiroidisme atau hipertiroidisme, penderita
datang berobat karena keluhan kosmetik atau ketakutan
akan keganasan. Namun sebagian pasien mengeluh adanya
gejala mekanis yaitu penekanan pada esofagus (disfagia)
atau trakea (sesak napas), biasanya tidak disertai rasa nyeri
kecuali bila timbul perdarahan di dalam nodul.
Struma non toksik disebut juga dengan gondok endemik,
berat ringannya endemisitas dinilai dari prevalensi dan
ekskresi yodium urin. Dalam keadaan seimbang maka
yodium yang masuk ke dalam tubuh hampir sama dengan
yang diekskresi lewat urin. Kriteria daerah endemis gondok
yang dipakai Depkes RI adalah endemis ringan prevalensi
gondok di atas 10 %-< 20 %, endemik sedang 20 % - 29 %
dan endemik berat di atas 30 %.

D. Etiologi
Penyebab utama struma nodosa ialah karena kekurangan
yodium (Black and Hawks, 2009). Defisiensi yodium dapat
menghambat pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar. Hal
tersebut memungkinkan hipofisis mensekresikan TSH dalam jumlah
yang berlebihan. TSH kemudian menyebabkan sel-sel tiroid
mensekresikan tiroglobulin dalam jumlah yang besar ke dalam
folikel, dan kelenjar menjadi bertambah besar. Penyebab lainnya
karena adanya cacat genetic yang merusak metabolisme yodium,

7
konsumsi goitrogen yang tinggi (yang terdapat pada obat, agen
lingkungan, makanan, sayuran), kerusakan hormone kelenjar tiroid,
gangguan hormonal dan riwayat radiasi pada kepala dan leher
(Rehman dkk, 2006).
Hal yang mendasari pertumbuhan nodul pada struma nodosa
non toxic adalah respon dari sel-sel folikular tiroid yang heterogen
dalam satu kelenjar tiroid pada tiap individu. Dalam satu kelenjar
tiroid yang normal, sensitivitas sel-sel dalam folikel yang sama
terhadap stimulus TSH dan faktor perumbuhan lain (IGF dan EGF)
sangat bervariasi. Terdapat sel-sel autonom yang dapat bereplikasi
tanpa stimulasi TSH dan sel-sel sangat sensitif TSH yang lebih
cepat bereplikasi. Sel-sel akan bereplikasi menghasilkan sel
dengan sifat yang sama. Sel-sel folikel dengan daya replikasi yang
tinggi ini tidak tersebar merata dalam satu kelenjar tiroid sehingga
akan tumbuh nodul-nodul.

E. Patofisiologi
Yodium merupakan bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk
pembentukan hormon tiroid. Bahan yang mengandung yodium
diserap usus, masuk kedalam sirkulasi darah dan ditangkap paling
banyak oleh kelenjar tiroid. Dalam kelenjar, yodium dioksida
menjadi bentuk yang aktif yang distimulasikan oleh Tiroid
Stimulating Hormon (TSH) kemudian disatukan menjadi molekul
tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk
dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul
triiodotironin (T3). Tiroksin (T4) menunjukan pengaturan umpan
balik negatif dari seksesi TSH dan bekerja langsung pada
tirotropihypofisis, sedangkan T3 merupakan hormon metabolik yang
tidak aktif. Akibat kekurangan yodium maka tidak terjadi
peningkatan pembentukan T4 dan T3, ukuran folikel menjadi lebih
besar dan kelenjar tiroid dapat bertambah berat sekitar 300-500

8
gram. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis,
pelepasan dan metabolisme tiroid sekaligus menghambat sintesis
tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif
meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hipofisis. Keadaan ini
menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid. Biasanya tiroid mulai
membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular
pada saat dewasa. Karena pertumbuhannya berangsur-angsur,
struma dapat menjadi besar tanpa gejala kecuali benjolan di leher.
Sebagian besar penderita dengan struma nodosa dapat hidup
dengan strumanya tanpa keluhan. Walaupun sebagian struma
nodosa tidak mengganggu pernafasan karena menonjol kebagian
depan, sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea bila
pembesarannya bilateral.

F. Manifestasi Klinis
Beberapa penderita struma nodosa non toxic tidak memiliki gejala
sama sekali. Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea
yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga
esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan.
Peningkatan seperti ini jantung menjadi berdebar-debar, gelisah,
berkeringat, tidak tahan cuaca dingin, dan kelelahan. Beberapa
diantaranya mengeluh adanya gangguan menelan, gangguan
pernapasan, rasa tidak nyaman di area leher, dan suara yang
serak. Pemeriksaan fisik struma nodosa non toxic berfokus pada
inspeksi dan palpasi leher untuk menentukan ukuran dan bentuk
nodular. Inspeksi dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan
penderita yang berada pada posisi duduk dengan kepala sedikit
fleksi atau leher sedikit terbuka. Jika terdapat pembengkakan atau
nodul, perlu diperhatikan beberapa komponen yaitu lokasi, ukuran,
jumlah nodul, bentuk (diffus atau noduler kecil), gerakan pada saat
pasien diminta untuk menelan dan pulpasi pada permukaan

9
pembengkakan. Pemeriksaan dengan metode palpasi dimana
pasien diminta untuk duduk, leher dalam posisi fleksi. Pemeriksa
berdiri di belakang pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan
ibu jari kedua tangan pada tengkuk penderita. Struma nodosa tidak
termasuk kanker tiroid, tapi tujuan utama dari evaluasi klinis adalah
untuk meminimalkan risiko terhadap kanker tiroid.

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk struma nodosa antara lain
(Tonacchera, dkk, 2009):
1. Pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan tes fungsi hormon : T4 atau T3, dan TSH.
Status fungsional kelenjar tiroid dapat dipastikan dengan
perantara tes-tes fungsi tiroid untuk mendiagnosa penyakit tiroid
diantaranya kadar total tiroksin dan triyodotiroin serum diukur
dengan radioligand assay. Tiroksin bebas serum mengukur
kadar tiroksin dalam sirkulasi yang secara metabolik aktif. Kadar
TSH plasma dapat diukur dengan assay radioimunometrik.
Kadar TSH plasma sensitif dapat dipercaya sebagai indikator
fungsi tiroid. Kadar tinggi pada pasien hipotiroidisme sebaliknya
kadar akan berada di bawah normal pada pasien peningkatan
autoimun (hipertiroidisme). Uji ini dapat digunakan pada awal
penilaian pasien yang diduga memiliki penyakit tiroid. Tes
ambilan yodium radioaktif (RAI) digunakan untuk mengukur
kemampuan kelenjar tiroid dalam menangkap dan mengubah
yodida.
2. Pemeriksaan radiologi.
Foto rontgen dapat memperjelas adanya deviasi trakea, atau
pembesaran struma yang pada umumnya secara klinis sudah
bisa diduga, foto rontgen pada leher lateral diperlukan untuk
evaluasi kondisi jalan nafas.
3. Pemeriksaan ultrasonografi (USG). Manfaat USG dalam
pemeriksaan tiroid :
a) Untuk menentukan jumlah nodul.
b) Dapat membedakan antara lesi tiroid padat dan kistik.

10
c) Dapat mengukur volume dari nodul tiroid.
d) Dapat mendeteksi adanya jaringan kanker tiroid residif yang
tidak
e) menangkap yodium, dan tidak terlihat dengan sidik tiroid.
f) Untuk mengetahui lokasi dengan tepat benjolan tiroid yang
akan dilakukan biopsi terarah.
g) Pemeriksaan sidik tiroid. Hasil pemeriksaan dengan
radioisotope adalah tentang ukuran, bentuk, lokasi dan yang
utama adalah fungsi bagian-bagian tiroid.
4. Biopsi aspirasi jarum halus (Fine Needle Aspiration Biopsy).
Biopsi ini dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan
suatu keganasan. Biopsi aspirasi jarum tidak nyeri, hampir tidak
menyebabkan bahaya penyebaran sel-sel ganas. Kerugian
pemeriksaan ini dapat memberikan hasil negatif palsu karena
lokasi biopsi kurang tepat. Selain itu teknik biopsi kurang benar
dan pembuatan preparat yang kurang baik atau positif palsu
karena salah intrepertasi oleh ahli sitologi.

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan struma dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Penatalaksanaan konservatif
a) Pemberian Tiroksin dan obat Anti-Tiroid.
Tiroksin digunakan untuk menyusutkan ukuran struma,
selama ini diyakini bahwa pertumbuhan sel kanker tiroid
dipengaruhi hormon TSH. Oleh karena itu untuk menekan
TSH serendah mungkin diberikan hormon tiroksin (T4) ini
juga diberikan untuk mengatasi hipotiroidisme yang terjadi
sesudah operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Obat anti-
tiroid (tionamid) yang digunakan saat ini adalah
propiltiourasil (PTU) dan metimasol/karbimasol.
b) Terapi Yodium Radioaktif .
Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang
tinggi pada kelenjar tiroid sehingga menghasilkan ablasi
jaringan. Pasien yang tidak mau dioperasi maka pemberian
yodium radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50 %.

11
Yodium radioaktif tersebut berkumpul dalam kelenjar tiroid
sehingga memperkecil penyinaran terhadap jaringan tubuh
lainnya. Terapi ini tidak meningkatkan resiko kanker,
leukimia, atau kelainan genetik. Yodium radioaktif diberikan
dalam bentuk kapsul atau cairan yang harus diminum di
rumah sakit, obat ini ini biasanya diberikan empat minggu
setelah operasi, sebelum pemberian obat tiroksin.
2. Penatalaksanaan operatif
a) Tiroidektomi
Tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat
kelenjar tiroid adalah tiroidektomi, meliputi subtotal ataupun
total. Tiroidektomi subtotal akan menyisakan jaringan atau
pengangkatan 5/6 kelenjar tiroid, sedangkan tiroidektomi
total, yaitu pengangkatan jaringan seluruh lobus termasuk
istmus (Sudoyo, A., dkk., 2009). Tiroidektomi merupakan
prosedur bedah yang relative aman dengan morbiditas
kurang dari 5 %. Menurut Lang (2010), terdapat 6 jenis
tiroidektomi, yaitu :
1) Lobektomi tiroid parsial, yaitu pengangkatan bagian atas
atau bawah satu lobus
2) Lobektomi tiroid, yaitu pengangkatan seluruh lobus
3) Lobektomi tiroid dengan isthmusectomy, yaitu
pengangkatan satu lobus dan istmus
4) Subtotal tiroidektomi, yaitu pengangkatan satu lobus,
istmus dan sebagian besar lobus lainnya.
5) Total tiroidektomi, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar.
6) Tiroidektomi total radikal, yaitu pengangkatan seluruh
kelenjar dan kelenjar limfatik servikal.
Setiap pembedahan dapat menimbulkan komplikasi,
termasuk tiroidektomi. Komplikasi pasca operasi utama yang
berhubungan dengan cedera berulang pada saraf laring
superior dan kelenjar paratiroid. Devaskularisasi, trauma,
dan eksisi sengaja dari satu atau lebih kelenjar paratiroid
dapat menyebabkan hipoparatiroidisme dan hipokalsemia,

12
yang dapat bersifat sementara atau permanen. Pemeriksaan
yang teliti tentang anatomi dan suplai darah ke kelenjar
paratiroid yang adekuat sangat penting untuk menghindari
komplikasi ini. Namun, prosedur ini umumnya dapat
ditoleransi dengan baik dan dapat dilakukan dengan cacat
minimal (Bliss et al, 2000). Komplikasi lain yang dapat timbul
pasca tiroidektomi adalah perdarahan, thyrotoxic strom,
edema pada laring, pneumothoraks, hipokalsemia,
hematoma, kelumpuhan syaraf laringeus reccurens, dan
hipotiroidisme (Grace & Borley, 2007).
Tindakan tiroidektomi dapat menyebabkan keadaan
hipotiroidisme, yaitu suatu keadaan terjadinya kegagalan
kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon dalam jumlah
adekuat, keadaan ini ditandai dengan adanya lesu, cepat
lelah, kulit kering dan kasar, produksi keringat berkurang,
serta kulit terlihat pucat. Tanda-tanda yang harus diobservasi
pasca tiroidektomi adalah hipokalsemia yang ditandai
dengan adanya rasa kebas, kesemutan pada bibir, jari-jari
tangan dan kaki, dan kedutan otot pada area wajah (Urbano,
FL, 2000). Keadaan hipolakalsemia menunjukkan perlunya
penggantian kalsium dalam tubuh. Komplikasi lain yang
mungkin terjadi adalah kelumpuhan nervus laringeus
reccurens yang menyebabkan suara serak. Jika dilakukan
tiroidektomi total, pasien perlu diberikan informasi mengenai
obat pengganti hormon tiroid, seperti natrium levotiroksin
(Synthroid), natrium liotironin (Cytomel) dan obat-obatan ini
harus diminum selamanya.

I. Peran Perawat Dalam Post Operative Care Pada Pasien Dengan


Struma Nodosa Non Toxic

13
Pembedahan tiroid dapat menyebabkan komplikasi potensial
yang fatal selama fase awal pasca operasi. Penting bagi perawat
untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mendeteksi
tanda dan gejala awal dari komplikasi potensial yang mungkin
terjadi dan mengambil langkah yang tepat. Deteksi dini dan respon
yang cepat merupakan kunci untuk mempertahankan patient safety
dan untuk meminimalkan risiko cedera pada klien.
Fase awal pasca operasi dimulai ketika pasien berada di
ruang pemulihan atau recovery room. Asuhan keperawatan
difokuskan pada penilaian dan pemeliharaan status kardiopulmonal
dan neurologi, tingkat kenyamanan dan keadaan metabolic
(Roberts and Fenech, 2010). Fase kedua dimulai ketika pasien
dipindahkan ke ruang perawatan. Perawat harus menyadari
komplikasi yang biasa terjadi, termasuk perdarahan, infeksi pada
luka, cedera syaraf, dan hipoparatiroidisme sekunder.
Perdarahan pasca pembedahan tiroid terjadi pada 0,1 1,5%
pasien, hal ini dapat terjadi karena banyaknya suplai darah ke
organ dan sebagai hasil dari pemisahan jaringan yang luas akibat
pengangkatan kelenjar tiroid. Pada sebagian besar pasien,
perdarahan terjadi pada 6 12 jam pertama pasca pembedahan.
Evaluasi keperawatan paca operasi meliputi observasi dressing
luka yang sering, dimana darah cenderung menumpuk. Segala
bentuk observasi perlu didokumentasikan, seperti volume drainase,
konsistensi, warna dan fungsional drainase. Suction drain umum
digunakan untuk menghindari akumulasi darah dan serum (seroma)
setelah pengangkatan tiroid (Morrisey et al, 2008). Luka
tiroidektomi harus dipantau secara ketat untuk kenyamanan pasien.
Tandat-tanda perdarahan seperti hipotensi dan takikardi harus
selalu diobservasi oleh perawat.
Tanda-tanda infeksi pada luka tiroidektomi harus diobservasi.
Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri Staphylococcus atau
Streptococcus. Infeksi pada luka tiroidektomi jarang ditemukan,

14
hanya sekitar 0,3 0,8% (Rosato et al, 2004). Pemantauan suhu
dan kadar leukosit harus dipantau sebagai indikator dini adanya
infeksi. Kolaborasi pemberian antibiotik dapat menjadi salah satu
bentuk intervensi kolaborasi yang dapat diberikan kepada pasien.
Cedera syaraf pada laring merupakan komplikasi yang paling
serius pasca tiroidektomi. Hal ini disebabkan oleh mekanisme yang
berbeda, termasuk sayatan, klem, peregangan syaraf,
skeletonisasion (proses dimana serat kecil saraf dibagi dari struktur
utama), kompresi lokal saraf akibat edema atau hematoma.
Perawat perlu memonitor kualitas suara pasien, refleks menelan
dan status pernapasan pasca pembedahan (Beldi dkk, 2004). Ada
kemungkinan paresis pada pita suara pada 6 minggu pertama,
tetapi jika selama 12 bulan tidak ada perbaikan maka kerusakan ini
akan dianggap permanen.
Hipokalsemia pasca tiroidektomi terjadi pada 1 50 %
pembedahan (Karamanakos et al, 2010). Penyebab hipokalsemia
multifaktorial. Penyebab yang paling umum adalah kerusakan pada
kelenjar paratiroid. Gejala hipoparatiroidisme timbul pada 24 72
jam pasca operasi. Pasien akan menunjukkan rendahnya kadar
kalsium dalam darah atau hipokalsemia dan rasa kesemutan di
ekstrimitas. Pengkajian Trousseaus dan Chvosteks signs
dilakukan untuk mengindikasikan hipokalsemia. Trousseaus sign
merupakan kejang yang disebabkan oklusi pada arterial dengan
manset tekanan darah. Trousseaus sign dilakukan dengan
mengkompresi lengan atas dengan manset tensimeter,
kembangkan manset tekanan darah sampai sekitar 20 mmHg di
atas tekanan sistolik dan tahan 2 5 menit, dimana mula-mula
timbul rasa kesemutan pada ujung ekstremitas, lalu timbul kejang
pada jari-jari dan tangan. Chvosteks sign dilakukan dengan
memukul ringan 2 cm di depan tragus telinga (bagian telinga yang
menonjol kecil di daerah pipi/jambang). Chvosteks sign terdiri atas

15
kedutan pada otot yang dipersarafi oleh saraf fasial ketika saraf
tersebut ditekan sekitar 2 cm. Chvosteks sign memiliki beberapa
tingkat, yaitu :
1. Grade 1: kedutan di sudut bibir
2. Grade 2: kedutan di hidung
3. Grade 3: kedutan di mata
4. Grade 4: kedutan di otot-otot wajah.
Pemberian kalsium karbonat dosis tinggi dapat diberikan pada
pasien dengan hipokalsemia. Pasien dengan hipokalsemia yang
parah dapat diberikan intervensi kolaborasi terapi intravena dengan
10 ml 10% glukonat selama lima menit kemudian infus lanjutan
NaCl 0,9% dengan 30 40 ml dari 10% kalsium glukonat per 24
jam sampai total kadar kalsium mencapai nilai normal (8,6 10,3
mg/dL) (LeMone & Burke, 2000).

J. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Identitas
Contoh :
Nama : Ny. R
Usia : 39 tahun
Tgl. Lahir : 5 Agustus 1974
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku Bangsa : Sunda
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Perum Bumi Alam Hijau Bekasi
Dx Medis : Struma Nodosa Non Toxic Dextra
Tgl. Masuk RS : 18 Juni 2013
Sumber Informasi : Klien, keluarga dan rekam medik
b) Riwayat Kesehatan
Contoh :
1) Alasan Masuk RS :
Benjolan di leher depan kanan sejak 5 tahun yang lalu.
Klien mengatakan sejak 1 bulan yang lalu, suara menjadi
serak dan kadang-kadang hilang.
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Ny. R, usia 39 tahun, datang ke rumah sakit dengan
keluhan adanya benjolan yang muncul di leher depan sisi

16
kanan sejak 5 tahun yang lalu. Ukuran benjolan tidak
berubah sejak awal pertama kali muncul. Klien tidak
merasakan adanya nyeri di daerah leher. Tidak ada
keluhan gangguan bernapas atau gangguan menelan.
Klien mengeluhkan sering merasa jantung berdebar-debar
setelah beraktifitas banyak, klien juga mengeluhkan sering
merasa kesemutan saat udara dingin. Nafsu makan normal
dan ada penurunan berat badan 0,5 kg dalam sebulan
terakhir.
3) Riwayat Penyakit Dahulu
Klien tidak memiliki riwayat Hipertensi, DM, Jantung.
Riwayat pengobatan sebelumnya (-), keluhan adanya
benjolan di leher sejak 5 tahun yang lalu, suara kadang
serak dan hilang sejak satu bulan SMRS, riwayat TB (-),
riwayat OAT (-), maag (+), riwayat alergi (-), riwayat
merokok (-), riwayat konsumsi alkohol (-), riwayat konsumsi
jamu-jamuan (-). Riwayat operasi pengangkatan kista
ovarium pada tahun 2006.
4) Riwayat Penyakit Keluarga
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang
mengalami hal yang serupa dengan klien.
5) Riwayat Ginekologi
Klien mengalami keguguran pada kehamilan kedua dan
ketiga, masing masing pada usia kehamilan 3 bulan. Klien
memiliki 2 anak dengan proses melahirkan normal. Klien
menggunakan alat kontrasepsi jenis suntik 3 bulan sekali.
Sebelumnya klien menggunakan alat kontrasepsi jenis pil.
c) Pola Pemuhan Kebutuhan Sehari-hari
1) Aktivitas/Istirahat
Klien mengatakan pekerjaan sehari-hari adalah Ibu Rumah
Tangga. Aktivitas lain adalah ikut dalam kelompok
pengajian dan qasidahan yang ada di lingkungan tempat
tinggalnya. Klien mengatakan jika suaranya serak dan
terkadang hilang mengganggu kegiatan qasidahan yang

17
dilakukannya, sehingga klien beralih menjadi pemain alat
musik. Klien istirahat dari pukul 22.00 05.00 WIB. Klien
tidak memiliki keluhan insomnia. Kesadaran compos
mentis, GCS E4M6V5. Klien mengatakan jantung
berdebar-debar dan merasa jika banyak beraktivitas dan
kadang merasa sesak.
2) Sirkulasi
Klien tidak memiliki riwayat Hipertensi dan masalah
jantung. Klien mengatakan terkadang merasa kesemutan
di jari-jari kaki ketika udara dingin. Tanda-tanda vital
(baring) tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 80 x/menit,
pernapasan 20 x/menit, suhu 36C. Pengkajian thoraks :
inspeksi pengembangan dada simetris, retraksi dinding
dada (-), lesi (-). Palpasi fremitus kanan dan kiri sama,
nyeri tekan (-), krepitasi (-), massa (-). Perkusi timpani di
kedua lapang paru depan dan belakang. Auskultasi bunyi
jantung I-II reguler, gallop (-),murmur(-), suara napas
vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-). Distensi vena
jugularis (-), CRT < 2, Homans sign (-), varises (-),
membran mukosa lembab, bibir lembab, konjungtiva
anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), sianosis (-), distensi vena
jugularis (-), akral hangat pada ekstrimitas atas.
3) Integritas Ego
Klien mengatakan selalu menceritakan masalah pada
suaminya. Tentang penyakitnya ini, klien juga berdiskusi
pada suaminya. Klien mengatakan takut suaranya akan
hilang setelah operasi. Klien berharap akan sembuh
setelah dilakukan operasi. Klien mengatakan tidak memiliki
masalah finansial.
4) Eliminasi
Klien mengatakan BAB 1 x sehari. Karakter feses padat,
warna kuning kecoklatan. Klien tidak memiliki riwayat
hemorroid. Klien BAK > 5 kali sehari. Karakter urin : warna

18
kuning jernih. Klien mengatakan tidak ada nyeri saat
berkemih. Klien mengatakan tidak memiliki riwayat
penyakit ginjal/ kandung kemih. Klien tidak memiliki
hemoroid dan tidak terpasang kateter. Pengkajian
abdomen : inspeksi tampak luka pasca operasi datar,
benjolan (-). Auskultasi bising usus (+) 6 x/menit. Perkusi
timpani. Palpasi nyeri tekan (-), massa (-), teraba elastis.
Tidak ada hemorroid dan klien tidak menggunakan kateter.
5) Makanan/Cairan
Klien makan 3x sehari. Klien tidak memiliki kehilangan
selera makan. Klien juga mengatakan tidak merasa mual
dan ingin muntah. Klien tidak ada riwayat alergi makanan.
Klien tidak memantang makanan apapun. Klien
mengatakan suka makanan seafood. Klien tidak memilliki
gangguan menelan. Berat badan saat ini : 55,5 kg. Tinggi
badan : 160 cm. Turgor kulit : elastis, membran mukosa
lembab, gangguan menelan (-), mual (-), muntah (-), tidak
ada edema pada ekstrimitas, asites (-), bising usus 6
x/menit. Pembesaran tiroid (+). Pengkajian tiroid : inspeksi
tampak benjolan di leher depan sisi kanan, berbatas tegas,
berukuran + 3 x 2 cm x 2 cm. Warna kulit pada benjolan
sama dengan warna kulit sekitar. Benjolan ikut bergerak ke
atas pada saat menelan. Palpasi benjolan teraba kenyal
dan padat, mobile (ikut bergerak ketika menelan), nyeri
tekan (-), pembesaran KGB (-).
6) Hygiene
Klien mandi 2 kali sehari dan aktivitas sehari-hari dilakukan
secara mandiri. Penampilan umum bersih, cara berpakaian
rapih, bau badan (-), kondisi kulit kepala dan rambut
bersih, rambut tidak berminyak, berketombe dan lesi, kuku
tangan dan kaki bersih.
7) Neurosensori

19
Klien tidak merasa pusing. Klien mengatakan terkadang
kesemutan jika sedang cuaca dingin. Klien tidak memiliki
riwayat stroke. Klien menggunakan alat bantu penglihatan
kaca mata. Status mental : compos mentis. Orientasi
waktu, orang dan tempat baik. Kesadaran : baik, CM,
kooperatif, klien menggunakan alat bantu penglihatan
(kaca mata), penggunaan alat bantu dengar (-).
8) Pernapasan
Klien tidak memiliki riwayat asma dan TBC. Klien tidak
merokok. Klien tidak mengeluh adanya sesak dan batuk.
Penggunaan alat bantu pernafasan : tidak ada. Pernafasan
: Frekuensi : 20 x/mnt. Simetris : Ya. Penggunaan otot-otot
aksesori : tidak ada. Bunyi nafas : vesikuler ( +/+). Sianosis
: tidak ada
9) Keamaanan
Klien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi makanan
maupun obat-obatan. Tidak ada riwayat cedera
kecelakaan. Klien memiliki gangguan penglihatan jarak
jauh. Cara berjalan : normal, tidak ada paralysis, tidak ada
edema, tremor pada ektrimitas atas.
10) Seksualitas (tidak terkaji)
d) Pemeriksaan Radiologi
1) Foto Roentgen Thorax :
- Sinus, diafragma, dan cor normal
- Kedua hilus normal
- Tak tampak proses spesifik aktif di kedua paru
- Tak tampak infiltrasi di paru-paru
- Kesan: Cor/pulmo normal
2) USG Thyroid :
Thyroid kanan :
- Membesar
- tampak nodul iso echoic, homogen, batas tegas, ukuran
1,3 cm x 1,0 cm x 2,1 cm
- Trakhea intact , di tengah.
- Thyroid kiri :

20
- besar dan bentuk normal
- internal echostructure normal
- tidak tampak lesi fokal
- Kesan : Struma nodosa lobus kanan
2. Analisa Data
Contoh :
Pre Op
No. Data Masalah Keperawatan
1. DS : Ansietas
Klien mengatakan
sudah pernah operasi
sebelumnya tapi klien
mengatakan tetap
merasa cemas
Klien mengatakan
takut dipasang infus
Klien menanyakan
kapan waktu
pelaksanaan operasi
Klien menanyakan
berapa lama operasi
akan berlangsung
Klien menanyakan
kapan bisa pulang
setelah dilakukan
operasi
Klien mengatakan
tidurnya kurang
nyenyak menjelang
operasi
DO :
TTV (18 Juni 2013) :
TD 130/90 mmHg
Nadi 84 x/menit
RR 20 x / menit
S 36C

21
Klien tampak selalu
menanyakan hal yang
sama terkait
pelaksanaan operasi
2. DS : Defisiensi
Klien mengatakan pengetahuan
hanya ingin sembuh mengenai prognosis
setelah dioperasi penyakit
Klien mengatakan
takut suaranya akan
hilang setelah operasi
Klien mengatakan
berapa lama
penyembuhan luka
pasca operasi
Klien mengatakan
pasrah dengan
operasi yang akan
dilakukan
DO :
Klien tampak aktif
bertanya mengenai
penyakit yang
dideritanya
Post Op
No Data Masalah Keperawatan
.
DS : Nyeri akut berhubungan
Klien mengeluhkan nyeri dengan prosedur
di area luka post pembedahan
operasi, skala 4
Klien mengatakan nyeri
bertambah ketika

22
bergerak dan
menelan.
DO :
Pengkajian nyeri :
Nyeri pada luka post
operasi, nyeri yang
dirasakan menetap
dan seperti
ditusuktusuk, nyeri
yang dirasakan tidak
menyebar, skala nyeri
4 dan nyeri
berlangsung terus
menerus.
TTV (19 Juni 2013):
TD 130/80 mmHg
Nadi 78 x/menit
RR 22 x / menit
S 36C
Post tiroidektomi jam
15.00 19 Juni 2013 :
Luka post operasi
tertutup kassa, kering
dan tidak terdapat
rembesan, ukuran
luka 10 x 10 cm2
Klien terlihat lemah
dan hanya berbaring
di tempat tidur
Pucat (-), kelemahan
(+)
2. DS : Risiko Cedera berhubungan
Klien mengatakan tidak dengan aspek anastesi dan
ada rasa kebas dan pembedahan

23
kesemutan di
ekstrimitas dan area
wajah
Klien mengatakan tidak
merasa jantung
berdebar-debar
DO :
TTV (19 Juni 2013): TD
130/80 mmHg, nadi 78
x/menit, RR 22 x /
menit, S 36C
Klien post tiroidektomi
19 Juni 2013 pk.15.00
Terpasang drain
produksi 5 cc, warna
merah darah segar

3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Pre Operatif :
a) Ansietas berhubungan dengan tindakan operasi yang akan
dilakukan
b) Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya
sumber informasi
Diagnosa Intra Operatif :
a) Resiko defisit volume cairan dan elektrolit yang berhubungan
dengan prosedur dan teknik anastesi
b) Resiko infeksi berhubungan dengan dilaksanakannya
prosedur infasif serta pembedahan
Diagnosa Post Operatif :
a) Nyeri akut berhubungan dengan prosedur pembedahan
b) Resiko cidera berhubungan dengan aspek anastesi dan
pembedahan
c) Resiko infeksi berhubungan dengan efek pembedahan

4. Rencana Intervensi Keperawatan

24
a) Masalah Keperawatan Ansietas
Tujuan setelah 1 x 24 jam pemberian asuhan keperawatan
ansietas berkurang atau tidak ada.
Kriteria evaluasi :
Klien secara verbalisasi menyatakan ansietas berkurang.
Klien dapat mengidentifikasi penyebab yang
mempengaruhinya.
Rencana intervensi :
Mandiri
1) Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan, dan lakukan
tindakan bila menunjukkan perilaku merusak.
R/ Reaksi verbal dan nonverbal dapat menunjukkan rasa
agitasi, marah, gelisah.
2) Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan
(tarik napas dalam). Beri lingkungan yang nyaman dan
suasana penuh istirahat.
R/ Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu.
3) Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan
kecemasaannya.
R/ Dapat menghilangkan ketegangan terhadap
kekhawatiran yang tidak diekspresikan.
4) Beri privasi untuk klien dan keluarga terdekat.
R/ Memberi waktu untuk mengekspresikan perasaan.
b) Masalah Keperawatan Defisiensi Pengetahuan Mengenai
Prognosis Penyakit
Tujuan setelah 1 x 24 jam pemberian asuhan keperawatan
klien menyatakan pemahaman terkait penyakit.
Kriteria evaluasi :
Menyatakan pemahaman tentang proses
penyakit/prognosis.
Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi
dalam perawatan
Rencana intervensi :
Mandiri
1) Tentukan persepsi klien terkait penyakit dan prognosis
serta harapan di masa depan.

25
R/ Membuat pengetahuan dasar dan memberikan
beberapa kesadaran yang konstruktif pada klien.
2) Berikan informasi tentang etiologi penyakit yang diderita
klien, penyebab/efek hubungan perilaku pola hidup.
R/ Memberikan pengetahuan dasar dan klien dapat
membuat pilihan informasi tentang kontrol masalah
kesehatan.
3) Bantu klien untuk mengidentifikasi hubungan masukan
makanan dengan penyakit (diet tinggi kalsium dan vitamin
D).
R/ Memberikan informasi terkait makanan yang baik untuk
dikonsumsi
4) Tekankan petingnya nutrisi yang baik.
R/ Pemeliharaan asupan nutrisi yang tepat dapat
memperbaiki gejala.
c) Masalah Keperawatan Nyeri
Tujuan setelah 3 x 24 jam pemberian asuhan keperawatan
nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria evaluasi :
Melaporkan nyeri berkurang/terkontrol (skala berkurang
menjadi 3/5).
Menunjukkan perilaku mengurangi atau mengontrol nyeri
(wajah tidak meringis, tidak pucat).
Rencana intervensi :
Mandiri
1) Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik (skala 0-10). Laporkan
perubahan nyeri dengan tepat.
R/ Nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus
dijelaskan oleh klien. Identifikasi karakteristik nyeri dan
faktor yang berhubungan merupakan suatu hal yang
sangat penting untuk memilih intervensi yang cocok dan
untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan.
2) Observasi adanya tanda-tanda nyeri non verbal (ekspresi
wajah, meringis, dll).

26
R/ Merupakan indikator/derajat nyeri yang tidak langsung
dialami.
3) Berikan masase/gosokan punggung dengan menjauhi
daerah operasi.
R/ Menghilangkan/menurunkan nyeri dengan perubahan
pada neuron sensori dan relaksasi otot.
4) Anjurkan untuk beristirahat di tempat yang tenang.
R/ Menurunkan stimulasi yang berlebihan yang dapat
mengurangi rasa nyeri.
5) Ajarkan teknik relaksasi/napas dalam.
R/ Mengurangi rasa nyeri.
Kolaborasi
6) Berikan analgesik sesuai indikasi.
R/ Mengurangi dan menghilangkan nyeri.
d) Masalah Keperawatan Risiko Cedera
Tujuan setelah 3 x 24 jam pemberian asuhan keperawatan
cedera post operasi tiroidektomi tidak terjadi.
Kriteria evaluasi :
Klien tidak menunjukkan tanda-tanda kegawatan tiroid
seperti parastesia dan hipermetabolisme.
Klien terbebas dari cedera akibat keterbatasan fisik dan
efek anestesi.
Klien melakukan aktivitas tanpa menimbulkan cedera.
TTV dalam batas normal.
Rencana intervensi :
Mandiri
1) Monitor tanda-tanda vital post operasi.
R/ Tanda-tanda vital memberikan informasi mengenai
perubahan kondisi klien pasca tiroidektomi.
2) Pantau tingkat kesadaran klien
R/ Efek anestesi dan kondisi fisik mempengaruhi tingkat
kesadaran.
3) Pantau terhadap tanda-tanda hipokalsemia seperti kebas,
kedutan, kesemutan pada wajah dan ekstremitas dengan
pemeriksaan Trousseaus dan Chvosteks signs.
R/ Kebas dan kesemutan menunjukkan tanda dari kondisi
hipokalsemia pasca pembedahan tiroid.

27
4) Pantau tanda-tanda hipermetabolisme seperti keringat
berlebih dan jantung berdebar.
R/ Hipermetabolisme seperti keringat berlebih dan jantung
berdebar akibat manipulasi kelenjar selama tiroidektomi.
5) Berikan lingkungan yang aman pada klien, pasang
handrail, jauhkan dari benda-benda berbahaya.
R/ Mencegah resiko jatuh dan cedera pada klien.
6) Instruksikan kepada keluarga untuk memeriksakan kondisi
kulit setiap hari terhadap kerusakan integritas kulit.
R/ Perubahan sensori persepsi beresiko meningkatkan
kerusakan integritas kulit.
Kolaborasi
7) Pemeriksaan kalsium 24 jam post op.
R/ Untuk mengetahui apakah klien membutuhkan terapi
pengganti.

PATHWAY

28
DAFTAR PUSTAKA

29
Cahyani, Isti. 2013. Asuhan Keperawatan Post Operative Pasca
Tiroidektomi Pada Ny. R dengan Struma Nodosa Non Toxic. Filetype:Pdf.
Universitas Indonesia.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20013/4/Chapter%20II.pdf

30