Anda di halaman 1dari 5

Pengertian ismolobektomi adalah operasi pengangkatan kelenjar tiroid bisa sebelah dekstra atau

sinistra atau kedua-duanya (bilateral). (R.Sjamsuhidayat,1997)


Indikasi ismolobektomi adalah :
- Kosmetik atau kecantikan
- Eksisi nodulus tunggal ( yang mungkin ganas )
- Struma multinoduler yang berat
- Struma yang menyebabkan kompresi laring atau struktur leher lain
Bila diagnosis kemungkinan telah ditegakkan dan operabel, operasi yang dilakukan adalah
lobektomi sisi yang patologik (Kaplan), atau lobektomi subtotal dengan risiko bila ganas
kemungkinan ada sel-sel karsinoma yang tertinggal. Pembedahan umumnya berupa tiroidektomi
total.

Enukleasi nodulnya saja adalah berbahaya karena bila ternyata nodul tersebut ganas, telah terjadi
penyebaran (implantasi) sel-sel tumor dan operasi ulang untuk tiroidektomi secara teknis akan
menjadi lebih sukar.

Bila ada fasilitas pemeriksaan dengan sediaan beku dan ada persangkaan keganasan,
pemeriksaan preparat sediaan beku dilakukan dengan potongan-potongan ke beberapa arah.

Bila hasilnya jinak, lobektomi tersebut sudah cukup. Bila ganas, lobus kontra lateral diangkat
seluruhnya (tiroidektomi totalis). Dapat pula dilakukan near total thyroidectomy.

Keterangan: Tiroidektomi artinya mengangkat kelenjar tiroid, bisa sebelah (dekstra atau sinistra)
atau keduanya (bilateral).

Tiroidektomi subtotal artinya mengangkat sebagian besar tiroid lobus kanan dan sebagian besar
lobus kiri dari jaringan tiroid dengan sisa masing-masing 3 gram.

Tiroidektomi totalis artinya semua kelenjar tiroid diangkat.

Lobektomi artinya mengangkat satu lobus saja, aisu secara rinci:

lobektomi totalis dekstra atau lobektomi totalis sinistra

lobektomi subtotal dekstra, artinya mengangkat sebagian besar lobus kanan, sisa 3 gram.

Ismolobektomi artinya mengangkat satu lobus dan ismus juga.

Near total thyroidectomy artinya ismolobektomi dekstra dan lobektomi subtotal sinistra, atau
sebaliknya.

Bila dari hasil pemeriksaan kelenjar getah bening dicurigai adanya metastasis, dilakukan diseksi
radikal kelenjar getah bening pada sisi yang bersangkutan. Komplikasi-komplikasi operasi antara
lain terputusnya nerws laringeus rekurens dan cabang eksterna dari nervus laringeus superior,
hipoparatirodisme, dan ruptur esofagus.
Kebanyakan neoplasma folikuler berukuran besar, relatif lunak dan nodulnya tunggal. Pada
sitologo Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) umumnya dilaporkan sebagi indeterminant atau
dicurigai neoplasma folikuler atau Hurtle cell neoplasma. Sekitar 80% dari kasus yang
didiagnosis neoplasma folikular dan Hurtle cell neoplasma bersifat jinak. Sayangnya, penentuan
bahwa tumor yang ditemukan adalah adenoma atau adenokarsinoma tidak dapat ditentukan pada
saat pembedahan dilakukan. Oleh karena itu, kebanyakan ahli memilih tindakan
isthmolobektomi. Bila pada pemeriksaan patologi lesi tersebut terbukti jinak, maka tidak
diperlukan penanganan lanjut. Bila tumor tersebut ganas maka tiroidektomi total perlu dilakukan
untuk memfasilitasi terapi radioactive iodine. Metastasis ke kelnjar getah bening ditemukan
hanya pada 10% dari karsinoma tiroid folikuler.

Pemeriksaan penunjang terdiri dari pemeriksaan laboratorium, pencitraan, FNAB dan


pemeriksaan histopatologi. Pemeriksaan laboratorium terdiri dari pemeriksaan kadar
tiroglobulin, kalsitonin dan kadar TSH dan fT4. Pada keganasan tiroid, umumnya fungsi tiroid
normal. Namun, perlu diingat bahwa abnormalitas fungsi tiroid tidak menghilangkan
kemungkinan keganasan meskipun memang kecil. Pemeriksaan kadar tiroglobulin serum untuk
keganasan tiroid cukup sensitif tetapi tidak spesifik karena peningkatan kadar tiroglobulin juga
ditemukan pada tiroiditis dan penyakit Graves dan adenoma tiroid. Pemeriksaan kadar tiroglobuli
sangat penting untuk monitoring kekambuhan karsinoma tiroid pasca terapi. Pada penderita
dengan riwayat keluarga karsinoma tiroid medular, perlu dikerjakan tes genetik dan pemeriksaan
kadar kalsitonin. Bila tidak ada kecurigaan ke arah karsinoma tiroid medulare attau neoplasia
endokrin multipel II, pemeriksaankalsitonin tidak dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin.
Pencitraan pada nodul tiroid tidak dapat menentukan jinak atau ganas, tetapi dapat membantu
mengarahkan dugaan nodul tiroid tersebut cenderung jinak atau ganas. Modalitas yang sering
digunakan adalah sidik tiroid dan ultrasonografi. Sidik tiroid dapat dengan menggunakan dua
macam isotop yaitu iodium aktif I-123 dan teneksiun Tc-99m. melalui pemeriksaan ini dapat
dibedakan apakah nodul tersebut cold nodule, warm nodule atau hot nodule. USG padaevaluasi
awal nodul tiroid dilakukanuntuk menentukan ukuran dan jumlah nodul, meskipun sebenarnya
USG tidak dapat membedakan nodul jinak atau ganas. USG dapat mendeteksi nodul yang kecil
atau yangterletak di posterior yang secara klinis belum dapat dipalpasi. Foto paru dapat
dilakukan untuk melihat apabila ada metasstasis.

FNAB merupakan metode yang sangat efektif untuk membedakan nodul jinak atau ganas.
Pemeriksaan sitologi dari spesimen FNAB dengan jumlah sel yang adekuat terbagi menjadi
karsinoma, curiga keganasan, limfoma tiroid, dan jinak. FNAB kurang dapat membedakan
karsinoma folikuler dan Hurtle cell dari bentuk adenoma jinak. Hal ini oleh karena untuk
didiagnosis sebagai keganasan memerlukan bukti adanya invasi ke kapsul atau vaskuler. Jadi,
jarang sekali ditemukan diagnosis karsinoma foliikuler atau Hurtle cell pada FNAB.
Pemeriksaan ulangan tidak disarankan. Disarankan biopsi surgikal oleh karena sekitar 20% dari
lesi merupakan karsinoma. Pemeriksaan histopatologi merupakan alat diagnostik utama jaringan
setelah dilakukan tindakan lobektomi atau isthmolobektomi. Sedangkan untuk kasus inoperable,
jaringan yang diambil dari biopsi insisi.

Kontroversi terus berlanjut dalam menegakkan diagnosis dan penanganan karsinoma tiroid. Pada
awal perjalannan penyakit tidak terdapat gejala khas untuk karsinoma tiroid, sehingga penderita
umumnya datang dengan benjolan yang tidak nyeri di daerah tiroid atau di tempat lain di leher,
tergantung apakah yang didapatkan pertama itu tumor primer atau metastasis ke kelenjar limfe.
Penanganan karsinima tiroid adalah dengan pembedahan dan non pembedahan. Bila diagnosis
kemungkinan telah ditegakkan dan operabel, operassi yang dilakukan adalah lobektomo sisi yang
patologis (Kaplan), atau lobektomi subtotal dengan resiko bila ganas kemungkinan ada sel-sel
ganas yang tertinggal. Pembedahan umumnya berupa tiroidektomi total. Bila hasilnya jinak,
lobektomi atau ismolobektomi sudah cukup. Bila ganas, lobus kontralateral diangkat seluruhnya.
Dapat pula dilakukan near total thyroidectomy. Bila dari hasil pemerikasaan kelenjar getah
bening pada sisi yang dicurigai adanya metastasis, dilakukan diseksi radikal kelanjar getah
bening pda sisi yang bersangkutan. Non pembedahan dapat berupa pemberian iodium radioaktif,
radiasi, terapi hormon, dan kemoterapi. Pemberian radioaktif berdasarkan bahwa beberapa
karsinoma tiroid jenis folikuleratau campuran dapat menyerap I131. Karena jaringan tiroid
normal lebih banyak dari jaringan karsinoma, maka semua jaringan tiroid harus diangkat lebih
dahulu. Jadi terapi ini bersifat ablatif. Radioterapi dilakukan bila tumor sudah inoperabel atau
pasien menolak operasi llagi untuk lobus kontralateral. Kemoterapi menggunakan obat sitostatik
Vincristin, Cisplatin dan sebagainya.

Prognosis karsinoma tiroid berdeferensiasi baik tergantung pada umur; semakin buruk pada
bertambahnya umur, adanya lesi metastasis; menurunkan survival rate sebanyak 20 tahun dari
91% menjadi 46%, ukuran tumor primer dan jenis histopatologi; pada jenis papiler survival rate
10 tahun 93% dan jenis folikuler survival rate 10 Tahun 85%. Umur merupakan faktor
prognostik terpenting dalam mortalitas kanker, angka kematian meningkat seiring bertambahnya
umur terutama di atas 40 taun. Rekurensi sebanyak 40% pada usia kurang dari 20 tahun atau
lebih dari 60 tahun sedangkan pada usia lain rekurensi sebesar 20%. Angka kematian berbeda-
beda pada tiap jenis histopatilogi. Tumor yang berbatas tegas yang ditemukan pada 10%
karsinoma papiler memiliki prognosis yang lebih baik. Prognosis buruk pada: transformasi
anaplastik, varian tall cell papilar, columnar variant papilary carcinoma dan varian sklerosing
difus di mana infiltrasi sudah terjadi pada seluruh kelenjar. Karsinoma papiler varian folikuler
tidak memiliki prognosis yanng lebih buruk dibanding yang murnin papiler. Karsinoma folikuler
merupakan tumor soliter yang agresif di banding karsinoma papiler. Karsinoma ini memiliki pola
histologik berupa mikrofolikuler dengan sel folikuler yang menginvasi kapsul atau vaskuler.
Kebanyakan merupakan tumor invasif minimal dengan sedikit penetrasi ke kapsul tetapi tidak ke
vaskuler.seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa pada FNAB sulit dibedakan antara
adenoma dan karsinoma sehingga pada hasil pemeriksaan biasanya hanya tertulis neoplasma
folikuler. Keganasan hanya dapat ditentukan dengan pada pemeriksaan histopatologi sesudah
tiroidektomi. Ukuran tumor primer berhubungan dengan rekurensi dan mortalitas; meningkat
seiring besarnya tumor. Karsinoma papiler maupun folikuler berukuran kecil (<1,5cm)>1,5cm
adalah sebesar 0,4% dan 7%.ekstensi dan invasi tumor baik terlihat mikroskopik maupun
makroskopik dapat terjadi baik pada karsinoma pailer maupun folikuler. Angka rekurensinya 2
kali lipat dibanding tumor tanpa invasi, kematian terjadi pada 33% kasus dalam dekade pertama.
Berdasarkan terapi inisial dan faktor prognostik lainnya, rekurensi terjadi sebesar 30% dalam
beberapa dekade. Pada sebuah penelitian, rekurensi terbanyak di kelenjar getah bening servikal
(74%), diikuti 20% tiroid remnant, 6% di trakea atau otot. Metastasis jauh ditemukan pada 21%
penderita, terbanyak di paru (63%).