Anda di halaman 1dari 14

DIABETES MELITUS

A. Pengertian
Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit kronik yang kompleks
yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak
serta berkembangnya komplikasi mikrovaskuler, makrovaskuler dan
neurologist (Long, 1996).
Diabetes Mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia
(Smeltzer, 2002).
Diabetes militus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemi.
Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah.
Glukosa dibentuk dihati dari makanan yang dikonsumsi (Brunner dan
Suddarth, 2002).

B. Etiologi
Faktor penyebab terjadinya Diabetes Mellitus (Sjaifoellah, 1996) yaitu :
1. Faktor keturunan
Karena adanya kelainan fungsi atau jumlah selsel betha pancreas
yang bersifat genetic dan diturunkan secara autosom dominant
sehingga mempengaruhi sel betha serta mengubah kemampuannya
dalam mengenali dan menyebarkan rangsang yang merupakan bagian
dari sintesis insulin.
2. Fungsi sel pancreas dan sekresi insulin berkurang
Jumlah glukosa yang diambul dan dilepaskan oleh hati dan yang
digunakan oleh jaringan perifer tergantung keseimbangan fisiologis
beberapa hormon. Hormon yang menurunkan glukosa darah yaitu
insulin yang dibentuk sel betha pulau pancreas.

3. Kegemukan atau obesitas


Terjadi karena hipertrofi sel betha pancreas dan hiperinsulinemia dan
intoleransi glukosa kemudian berakhir dengan kegemukan dengan
diabetes mellitus dan insulin insufisiensi relative.
4. Perubahan pada usia lanjut berkaitan dengan resistensi insulin

1
Pada usia lanjut terjadi penurunan maupun kemampuan insulin
terutama pada post reseptor.

Tabel: Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa dengan Belum


Bukan
metode enzimatik sebagai patokan penyaring dan diagnosis pasti DM
DM
DM (mg/dl) DM
Kadar glukosa darah sewaktu:
110 -
Plasma vena <110 >200
199
90 -
Darah kapiler <90 >200
199
Kadar glukosa darah puasa:
110 -
Plasma vena <110 >126
125
90 -
Darah kapiler <90 >110
109

C. Tipe Diabetes
Diabetes mellitus dibagi menjadi tiga tipe, yaitu:
1. Diabetes melitus tipe 1, yakni diabetes mellitus yang disebabkan oleh
kurangnya produksi insulin oleh pankreas.
2. Diabetes melitus tipe 2, yang disebabkan oleh resistensi insulin,
sehingga penggunaan insulin oleh tubuh menjadi tidak efektif.
3. Diabetes gestasional, adalah hiperglikemia yang pertama kali
ditemukan saat kehamilan.

D. Manifestasi Klinik
Gejala diabetes mellitus type 1 muncul secara tibatiba pada usia
anakanak sebagai akibat dari kelainan genetika sehingga tubuh tidak
memproduksi insulin dengan baik. Gejalagejalanya antara lain adalah
sering buang air kecil, terus menerus lapar dan haus, berat badan turun,
kelelahan, penglihatan kabur, infeksi pada kulit yang berulang,
meningkatnya kadar gula dalam darah dan air seni, cenderung terjadi pada
mereka yang berusia dibawah 20 tahun.

2
Sedangkan diabetes mellitus tipe II muncul secara perlahanlahan
sampai menjadi gangguan kulit yang jelas, dan pada tahap permulaannya
seperti gejala pada diabetes mellitus type I, yaitu cepat lemah, kehilangan
tenaga, dan merasa tidak fit, sering buang air kecil, terus menerus lapar
dan haus, kelelahan yang berkepanjangan dan tidak ada penyebabnya,
mudah sakit yang berkepanjangan, biasanya terjadi pada mereka yang
berusia diatas 40 tahun tetapi prevalensinya kini semakin tinggi pada
golongan anakanak dan remaja.
Gejalagejala tersebut sering terabaikan karena dianggap sebagai
keletihan akibat kerja. Jika glukosa darah sudah tumpah ke saluran urine
sehingga bila urine tersebut tidak disiram akan dikerubungi oleh semut
adalah tanda adanya gula. Gejala lain yang biasa muncul adalah
penglihatan kabur, luka yang lam asembuh, kaki tersa keras, infeksi jamur
pada saluran reproduksi wanita, impotensi pada pria.

E. Komplikasi
Komplikasi diabetes mellitus terbagi menjadi 2 yaitu komplikasi akut dan
komplikasi kronik (Carpenito, 2001).

Komplikasi Akut, ada 3 komplikasi akut pada diabetes mellitus yang


penting dan berhubungan dengan keseimbangan kadar glukosa darah
dalam jangka pendek, ketiga komplikasi tersebut adalah (Smeltzer, 2002 :
1258)
1. Diabetik Ketoasedosis (DKA)
Ketoasedosis diabetik merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari
suatu perjalanan penyakit diabetes mellitus. Diabetik ketoasedosis
disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah
insulin yang nyata ( Smeltzer, 2002)
2. Koma Hiperosmolar Nonketotik (KHHN)
Koma Hiperosmolar Nonketotik merupakan keadaan yang didominasi
oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai perubahan
tingkat kesadaran. Salah satu perbedaan utama KHHN dengan DKA
adalah tidak terdapatnya ketosis dan asidosis pada KHHN (Smetzer,
2002)
3. Hypoglikemia

3
Hypoglikemia (Kadar gula darah yang abnormal yang rendah) terjadi
kalau kadar glukoda dalam darah turun dibawah 50 hingga 60 mg/dl.
Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian preparat insulin atau
preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit
(Smeltzer, 2002)

Komplikasi kronik Diabetes Melitus pada adsarnya terjadi pada semua


pembuluh darah diseluruh bagian tubuh (Angiopati Diabetik). Angiopati
Diabetik dibagi menjadi 2 yaitu (Long 1996) :
1. Mikrovaskuler
a. Penyakit Ginjal
Salah satu akibat utama dari perubahanperubahan mikrovaskuler
adalah perubahan pada struktural dan fungsi ginjal. Bila kadar
glukosa darah meningkat, maka mekanisme filtrasi ginjal akan
mengalami stress yang menyebabkan kebocoran protein darah
dalam urin (Smeltzer, 2002 : 1272)
b. Penyakit Mata (Katarak)
Penderita Diabetes melitus akan mengalami gejala penglihatan
sampai kebutaan. Keluhan penglihatan kabur tidak selalui
disebabkan retinopati (Sjaifoellah, 1996 : 588). Katarak
disebabkan karena hiperglikemia yang berkepanjangan yang
menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan lensa (Long,
1996 : !6)
c. Neuropati
Diabetes dapat mempengaruhi saraf - saraf perifer, sistem saraf
otonom, Medsulla spinalis, atau sistem saraf pusat. Akumulasi
sorbital dan perubahanperubahan metabolik lain dalam sintesa
atau fungsi myelin yang dikaitkan dengan hiperglikemia dapat
menimbulkan perubahan kondisi saraf (Long, 1996 : 17)
2. Makrovaskuler
a. Penyakit Jantung Koroner
Akibat kelainan fungsi pada jantung akibat diabetes melitus maka
terjadi penurunan kerja jantung untuk memompakan darahnya
keseluruh tubuh sehingga tekanan darah akan naik atau hipertensi.

4
Lemak yang menumpuk dalam pembuluh darah menyebabkan
mengerasnya arteri (arteriosclerosis), dengan resiko penderita
penyakit jantung koroner atau stroke
b. Pembuluh darah kaki
Timbul karena adanya anesthesia fungsi saraf saraf sensorik,
keadaan ini berperan dalam terjadinya trauma minor dan tidak
terdeteksinya infeksi yang menyebabkan gangren. Infeksi dimulai
dari celahcelah kulit yang mengalami hipertropi, pada selsel
kuku yang tertanam pada bagian kaki, bagia kulit kaki yang
menebal, dan kalus, demikian juga pada daerahdaerah yang
tekena trauma (Long, 1996 : 17)
c. Pembuluh darah otak
Pada pembuluh darah otak dapat terjadi penyumbatan sehingga
suplai darah ke otak menurun (Long, 1996 : 17)

F. Pathofisiologi
Dalam keadaan normal jika terdapat insulin, asupan glukosa/produksi
glukosa yang melebihi kebutuhan kalori akan disimpan sebagai glikogen
dalam sel-sel hati dan sel-sel otot. Proses glikogenesis ini mencegah
hiperglikemia (kadar glukosa darah > 110 mg/dl). Pada pasien DM, kadar
glukosa dalam darah meningkat/tidak terkontrol, akibat rendahnya produk
insulin/tubuh tidak dapat menggunakannya, sebagai sel-sel akan starvasi.
Bila kadar meningkat akan dibuang melalui ginjal yang akan
menimbulkan diuresi sehingga pasien banyak minum (polidipsi). Glukosa
terbuang melalui urin maka tubuh kehilangan banyak kalori sehingga
nafsu makan meningkat (poliphagi). Akibat sel-sel starvasi karena glukosa
tidak dapat melewati membran sel, maka pasien akan cepat lelah.

G. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan yang dilakukan sebagai penunjang diagnostik medis antara
lain:
1. Pemeriksaan gula darah
Orang dengan metabolisme yang normal mampu mempertahankan
kadar gula darah antara 70-110 mg/dl (engliglikemi) dalam kondisi

5
asupan makanan yang berbeda-beda. Test dilakukan sebelum dan
sesudah makan serta pada waktu tidur.
2. Pemeriksaan dengan Hb
Dilakukan untuk pengontrolan DM jangka lama yang merupakan Hb
minor sebagai hasil dari glikolisis normal.
3. Pemeriksaan Urine
Pemeriksaan urine dikombinasikan dengan pemeriksaan glukosa darah
untuk memantau kadar glukosa darah pada periode waktu diantara
pemeriksaan darah.

H. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian pasien dengan Diabetes mellitus (Doenges, 2000)
meliputi :
a. Aktivitas / Istirahat
Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus otot
menurun.
Tanda : Penurunan kekuatan otot.
b. Sirkulasi
Gejala : ulkus pada kaki, penyembuhan lama, kesemutan/kebas
pada ekstremitas.
Tanda : kulit panas, kering dan kemerahan.
c. Integritas Ego
Gejala : tergantung pada orang lain.
Tanda : ansietas, peka rangsang.
d. Eleminasi
Gejala : perubahan pola berkemih (poliuria), nakturia
Tanda : urine encer, pucat kering, poliurine.
e. Makanan/cairan
Gejala : hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mengikuti diet,
penurunan berat badan.
Tanda : kulit kering/bersisik, turgor jelek.
f. Nyeri/ kenyamanan
Gejala : nyeri pada luka ulkus
Tanda : wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat hati-hati.
g. Keamanan
Gejala : kulit kering, gatal, ulkus kulit.
Tanda : demam, diaforesis, kulit rusak, lesi/ulserasi
h. Penyuluhan / pembelajaran
Gejala : faktor risiko keluarga DM, penyakit jantung, stroke,
hipertensi, penyembuhan yang lamba. Penggunaan obatseperti

6
steroid, diuretik (tiazid) : diantin dan fenobarbital (dapat
meningkatkan kadar glukosa darah).

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pada pasien dengan Diabetes mellitus
(Doenges, 2000) adalah :
a. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik
jaringan.
b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik,
kehilangan gastrik, berlebihan diare, mual, muntah, masukan
dibatasi, kacau mental.
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral :
anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan
kesadaran : status hipermetabolisme, pelepasan hormon stress.
d. Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya
pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang
tinggi, prosedur invasif dan kerusakan kulit.
e. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi
metabolik, perubahan kimia darah, insufisiensi insulin,
peningkatan kebutuhan energi, status hipermetabolisme/infeksi.

3. Intervensi dan Implementasi


Intervensi dan implementasi keperawatan pada pasien dengan diabetes
mellitus (Doenges, 1999) meliputi :
a. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik
jaringan.
Tujuan : rasa nyeri hilang/berkurang
Kriteria hasil :
1) Penderita secara verbal mengatakan nyeri
berkurang/hilang.
2) Penderita dapat melakukan metode atau
tindakan untuk mengatasi atau mengurangi
nyeri.
3) Pergerakan penderita bertambah luas.
4) Tidak ada keringat dingin, tanda vital dalam
batas normal.( S : 36 37,5 0C, N: 60 80

7
x /menit, T : 100 130 mmHg, RR : 18 20
x /menit ).
Intervensi/Implementasi :
1) Kaji tingkat, frekuensi, dan reaksi nyeri yang dialami pasien.
R / untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien
2) Jelaskan pada pasien tentang sebab-sebab timbulnya nyeri.
R / pemahaman pasien tentang penyebab nyeri yang terjadi
akan mengurangi ketegangan pasien dan memudahkan pasien
untuk diajak bekerjasama dalam melakukan tindakan.
3) Ciptakan lingkungan yang tenang.
R / Rangasanga yang berlebihan dari lingkungan akan
memperberat rasa nyeri.
4) Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.
R / Teknik distraksi dan relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri
yang dirasakan pasien.
5) Atur posisi pasien senyaman mungkin sesuai keinginan pasien.
R / Posisi yang nyaman akan membantu memberikan
kesempatan pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin.
6) Lakukan massage dan kompres luka dengan BWC saat rawat
luka.
R / massage dapat meningkatkan vaskulerisasi dan pengeluaran
pus sedangkan BWC sebagai desinfektan yang dapat
memberikan rasa nyaman.
7) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.
R / Obat obat analgesik dapat membantu mengurangi nyeri
pasie

b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik,


kehilangan gastric, berlebihan (diare, muntah) masukan dibatasi
(mual, kacau mental).
Tujuan : Kondisi tubuh stabil, tanda-tanda vital,
turgor kulit,
normal.
Kriteria Hasil :
1) pasien menunjukan adanya perbaikan
keseimbangan cairan, dengan kriteria
2) pengeluaran urine yang adekuat (batas normal),
tanda-tanda vital stabil, tekanan nadi perifer

8
jelas, turgor kulit baik, pengisian kapiler baik
dan membran mukosa lembab atau basah.
Intervensi / Implementasi :
1) Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan tekanan darah
ortestastik.
R / Hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan
takikardia.
2) Kaji pola napas dan bau napas.
R / Paru-paru mengeluarkan asam karbonat melalui pernapasan
yang menghasilkan kompensasi alkosis respiratoris terhadap
keadaan ketoasidosis
3) Kaji suhu, warna dan kelembaban kulit.
R / Demam, menggigil, dan diaferesis merupakan hal umum
terjadi pada proses infeksi. Demam dengan kulit yang
kemerahan, kering, mungkin gambaran dari dehidrasi.
4) Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran
mukosa.
R / Merupakan indikator dari tingkat dehidrasi atau volume
sirkulasi yang adekuat.
5) Pantau intake dan output. Catat berat jenis urine.
R/ memeberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti,
fungsi ginjal dan keefektifan dari terapi yang diberikan.
6) Ukur berat badan setiap hari.
R / memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan
yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan
cairan pengganti.
7) Kolaborasi pemberian terapi cairan sesuai indikasi
R / tipe dan jumlah dari cairan tergantung pada derajat
kekurangan cairan dan respon pasien secara individual.

c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan ketidak cukupan insulin, penurunan masukan oral :
anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan
kesadaran : status hipermetabolisme, pelepasan hormon stress.
Tujuan : berat badan dapat meningkat dengan nilai
laboratorium normal dan tidak ada tanda-tanda
malnutrisi.
Kriteria Hasil :

9
1) pasien mampu mengungkapkan pemahaman
tentang penyalahgunaan zat, penurunan jumlah
intake ( diet pada status nutrisi).
2) mendemonstrasikan perilaku, perubahan gaya
hidup untuk meningkatkan dan
mempertahankan berat badan yang tepat.
Intervensi / Implementasi :
1) Timbang berat badan setiap hari sesuai indikasi
R / Mengetahui pemasukan makan yang adekuat.
2) Tentukan program diet dan pola makanan pasien dibandingkan
dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.
R / Mengindentifikasi penyimpangan dari kebutuhan.
3) Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen/perut
kembung, mual,muntah, pertahankan puasa sesuai indikasi.
R / mempengaruhi pilihan intervensi.
4) Observasi tanda-tanda hipoglikemia, seperti perubahan tingkat
kesadaran, dingin/lembab, denyut nadi cepat, lapar dan pusing.
R / secara potensial dapat mengancam kehidupan, yang harus
dikali dan ditangani secara tepat.
5) Kolaborasi dalam pemberian insulin, pemeriksaan gula darah
dan diet.
R / Sangat bermanfaat untuk mengendalikan kadar gula darah.

d. Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya


pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang
tinggi, prosedur invasif dan kerusakan kulit.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi.
Kriteria Hasil :
1) mengindentifikasi faktor-faktor risiko individu
dan intervensi untuk mengurangi potensial
infeksi.
2) pertahankan lingkungan aseptik yang aman.
Intervensi / Implementasi
1) Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam,
kemerahan, adanya pus pada luka , sputum purulen, urin warna
keruh dan berkabut.

10
R / pasien masuk mungkin dengan infeksi yang biasanya telah
mencetus keadaan ketosidosis atau dapat mengalami infeksi
nosokomial.
2) Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan
yang baik, setiap kontak pada semua barang yang berhubungan
dengan pasien termasuk pasien nya sendiri.
R / mencegah timbulnya infeksi nosokomial.
3) Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasif (seperti
pemasangan infus, kateter folley, dsb).
R / Kadar glukosa yang tinggi dalam darah akan menjadi media
terbaik bagi pertumbuhan kuman.
4) Pasang kateter / lakukan perawatan perineal dengan baik.
R / Mengurangi risiko terjadinya infeksi saluran kemih.
5) Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh.
Masase daerah tulang yang tertekan, jaga kulit tetap kering,
linen kering dantetap kencang (tidak berkerut).
R / sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien
pada penigkatan risiko terjadinya kerusakan pada kulit / iritasi
dan infeksi.
6) Posisikan pasien pada posisi semi fowler.
R / memberikan kemudahan bagi paru untuk berkembang,
menurunkan terjadinya risiko hipoventilasi.
7) Kolaborasi antibiotik sesuai indikasi.
R / penenganan awal dapat membantu mencegah timbulnya
sepsis
e. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi
metabolik, perubahan kimia darah, insufisiensi insulin, peningkatan
kebutuhan energi, status hipermetabolisme/infeksi.
Tujuan : Rasa lelah berkurang / Penurunan rasa lelah
Kriteria Hasil :
1) menyatakan mapu untuk beristirahat dan
peningkatan tenaga.
2) mampu menunjukan faktor yang berpengaruh
terhadap kelelahan.
3) Menunjukan peningkatan kemampuan dan
berpartisipasi dalam aktivitas.
Intervensi / Implementasi :

11
1) Diskusikan dengan pasien kebutuhan aktivitas. Buat jadwal
perencanaan dengan pasien dan identifikasi aktivitas yang
menimbulkan kelelahan.
R / pendidikan dapat memberikan motivasi untuk
meningkatkan aktivitas meskipun pasien mungkin sangat
lemah.
2) Berikan aktivitas alternatif denagn periode istirahat yang
cukup / tanpa terganggu.
R / mencegah kelelahan yang berlebihan.
3) Pantau tanda-tanda vital sebelum atau sesudah melakukan
aktivitas.
R / mengidentifikasi tingkat aktivitas yang ditoleransi secara
fisiologi.
4) Diskusikan cara menghemat kalori selama mandi, berpindah
tempat dan sebagainya.
R / dengan penghematan energi pasien dapat melakukan lebih
banyak kegiatan.
5) Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-
hari sesuai kemampuan / toleransi pasien.
R / meningkatkan kepercayaan diri / harga diri yang positif
sesuai tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi pasien.

4. Evaluasi
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan diabetes mellitus
adalah :
1. Nyeri berkurang / hilang
2. Kondisi tubuh stabil, tanda-tanda vital, turgor kulit, normal.
3. Berat badan dapat meningkat dengan nilai laboratorium normal dan
tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
4. Infeksi tidak terjadi
5. Rasa lelah berkurang/Penurunan rasa lelah

12
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. (2002). Text book of Medical-Surgical Nursing. EGC.


Jakarta.

Carpenito, L.J. (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : Buku


Kedokteran EGC.

Doengoes Merillynn. (2000) (Rencana Asuhan Keperawatan). Nursing care plans.


Guidelines for planing and documenting patient care. Alih bahasa : I
Made Kariasa, Ni Made Sumarwati. EGC. Jakarta.

13
Long, B.C. (1996). Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan. Alih Bahasa, Yayasan Ikatan Alumni pendidikan
Keperawatan Padjadjaran. Bandung: YPKAI.

Olly, Renaldi. http://www.mitrakeluarga.com/bekasibarat/diabetes-melitus/ (Di


Akses pada selasa, 12 Agustus 2014 pukul 22.15)

Prince A Sylvia. (1995). (patofisiologi). Clinical Concept. Alih bahasa : Peter


Anugrah EGC. Jakarta.

Regina. http://diabetesmelitus.org/definisi-tipe-diabetes/#ixzz3AC18ODDc (Di


Akses pada selasa, 12 Agustus 2014 pukul 22.15)

Sjaifoellah, N. (1996). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Smeltzer, S. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Buku


Kedokteran EGC.

Wikipedia. http://id.wikipedia.org/wiki/Diabetes_melitus#Patofisiologi (Di Akses


pada selasa, 12 Agustus 2014 pukul 22.15)

14