Anda di halaman 1dari 10

SERUMEN OBTURANS

A. Latar Belakang
Serumen secara umum dapat ditemukan di kanalis akustikus
eksternus. Serumen adalah campuran sekresi (sekret kelenjar sebasea dan
kelenjar serumen) yang ada di kulit sepertiga liang telinga. Bila serumen
tidak berhasil dikeluarkan maka akan menimbulkan sumbatan pada kanalis
akustikus eksternus atau sumbatan yang terdapat dikulit sepertiga luar
liang telinga. Hal ini disebut dengan serumen prop (serumen obturans).
Penumpukan serumen sering disebabkan oleh produksi kotoran
telinga yang berlebihan sehingga akan menimbulkan gejala seperti: rasa
nyeri karena terjadi penekanan pada kulit liang telinga, berdenging, rasa
penuh, gatal dan penurunan pendengaran. Serumen dapat menghambat
penghantaran suara dari liang telinga luar ke liang telinga dalam sehingga
menyebabkan gangguan pendengaran yaitu tuli konduktif.
Sumbatan serumen ini memiliki prevalensi yang cukup tinggi di
dunia. Berdasarkan laporan Karlsmose B dalam penelitian ACTA
Otorhinolaryngologica Italica tahun 2009 mengatakan bahwa dari 1.507
pasien yang diskrining mengalami gangguan pendengaran memperlihatkan
hubungan dengan serumen sekitar 2,1%.
Pada penelitian ACTA Otolaryngologi Italica tahun 2009
mengatakan pasien yang sering menggunakan cotton bud (kapas
pembersih telinga) untuk membersihkan telinganya, akan menekan
serumen ke arah membran timpani, sehingga membuat pengeluarannya
semakin sulit, akibatnya serumen akan terjebak dan terakumulasi hingga
akhirnya menyebabkan sumbatan pada telinga. Selain itu masih banyak
yang memiliki kebiasaan membersihkan telinga dengan menggunakan jari
berkuku tajam. Tanpa disadari akibat gesekan kuku jari dan cotton bud
(kapas pembersih telinga) dapat melukai kulit liang telinga dan dapat
menyebabkan hematoma dan otitis eksterna.

B. Definisi
Serumen obturans adalah serumen yang tidak berhasil dikeluarkan dan
menyebabkan sumbatan pada kanalis akustikus eksternus.

1
C. Anatomi dan Fisiologi Serumen
Telinga termasuk salah satu organ tubuh yang sangat kompleks,
karena terdiri dari tiga bagian utama yang saling berkaitan. Bagian
pertama adalah telinga luar yang berfungsi untuk melindungi gendang
telinga dari kerusakan langsung, bagian kedua adalah telinga tengah
berbentuk rongga udara berfungsi sebagai penghubung antara bagian luar
telinga dengan bagian belakang hidung melalui tabung Eustachio. Bagian
terakhir adalah tulang kecil yang berfungsi mengirimkan getaran dari
gendang telinga ke telinga bagian dalam (koklea). Oleh karena itu,
kebersihan organ telinga harus selalu diperhatian. Salah satu permasalahan
yang sering terjadi pada telinga adalah terbentuknya kotoran telinga.
Kotoran telinga dalam bahasa kedokteran disebut serumen. Serumen
diproduksi oleh kelenjar yang terdapat pada lapisan kulit liang telinga.
Serumen juga mengandung sel-sel kulit yang telah mati, kuman yang
secara normal hidup di dalam liang telinga serta air. Serumen sendiri
bentuknya bermacam macam, ada yang cair, lembek dan keras. Warnanya
pun bervariasi tergantung komposisi yang terkandung di dalamnya.
Apabila serumen tidak pernah dibersihakan dapat menimbulkan sumbatan
liang telinga.
Konsistensi serumen biasanya lunak, tetapi kadang-kadang padat,
terutama dipengaruhi oleh faktor keturunan, iklim dan usia. Sepertiga
bagian luar dari lubang telinga mengandung kelenjar yang berfungsi
menghasilkan serumen.
Pada sebagian orang dihasilkan banyak serumen seperti halnya
sebagian orang lebih mudah berkeringat dibandingkan yang lain. Oleh
karena sengaja dibentuk, tentunya serumen tidak dimaksudkan sebagai
pengganggu, justru sebaliknya serumen merupakan suatu bentuk
perlindungan terhadap telinga.
Fungsi utama serumen adalah untuk melindungi telinga dari
kerusakan dan infeksi. Serumen di lubang telinga akan menangkap debu,
mikroorganisme, maupun partikel-partikel asing, dan mencegahnya masuk

2
ke struktur telinga yang lebih dalam. Serumen pun memiliki efek
bakterisidal (dapat membunuh bakteri). Efek tersebut diduga berasal dari
komponen asam lemak, lisozim dan immunoglobulin yang dikandungnya.
Selain itu, pH serumen yang relatif rendah merupakan suatu faktor
tambahan yang dapat mencegah terjadinya infeksi telinga. Serumen juga
berfungsi sebagai pelumas, yang akan menjaga telinga supaya tidak
kekeringan.

D. Etiologi
Faktor yang menyebabkan serumen terkumpul dan mengeras di liang
telinga, sehingga menyumbat antara lain ialah :
1. Dermatitis kronis liang telinga luar
2. Liang telinga sempit
3. Produksi serumen banyak dan kental
4. Adanya benda asing di liang telinga
5. Adanya eksostosis (pertumbuhan jinak dari permukaan tulang) liang
telinga
6. Serumen terdorong oleh jari tangan atau ujung handuk setelah mandi,
atau kebiasaan mengorek telinga.

E. Patofisiologi
Pada keadaan normal, liang telinga mempunyai mekanisme
pembersihan sendiri. Kulit pada liang telinga terbentuk sedemikian rupa
sehingga memudahkan kotoran telinga bergerak dari dalam ke udara luar.
Serumen akan menumpuk dalam liang telinga lalu mengering dan keluar
melalui lubang telinga sambil membawa bahan-bahan yang tertangkap
olehnya seperti debu dan partikel kecil lainnya.
Masalah terjadi jika mekanisme normal tersebut terganggu sehingga
kotoran telinga menumpuk, mengeras dan akhirnya menutupi/menyumbat
liang telinga. Ini biasanya terjadi akibat upaya mengeluarkan kotoran
telinga dengan menggunakan kapas pembersih telinga atau alat lain.
Benda-benda ini menyebabkan kotoran telinga didorong ke bagian telinga
yang lebih dalam, atau menyebabkan kotoran telinga menjadi padat,
sehingga mencegah migrasi normal ke bagian luar telinga. Terlalu rajin

3
membersihkan kotoran telinga juga akan membuat liang telinga kering,
gatal dan mudah terinfeksi. Produksi kotoran telinga yang berlebihan dan
bentuk liang telinga yang abnormal (misal liang telinga yang sempit) juga
dapat menyebabkan penumpukan kotoran telinga.

F. Manifestasi Klinis
Gejala yang timbul akibat sumbatan serumen dapat berupa rasa telinga
tersumbat, sehingga pendengaran berkurang. Rasa nyeri dapat timbul
apabila serumen keras membatu, dan menekan dinding liang telinga.
Telinga berdengung (tinitus) dan pusing dapat timbul apabila serumen
telah menekan membran timpani, terkadang dapat disertai batuk, oleh
karena rangsangan nervus vagus melalui cabang aurikuler.

G. Penatalaksanaan
Kotoran telinga (serumen) bisa menyumbat saluran telinga dan
menyebabkan gatal-gatal, nyeri serta tuli yang bersifat sementara dan
dokter akan membuang serumen tersebut dengan cara menyemburnya
secara perlahan dengan menggunakan air hangat (irigasi). Tetapi jika dari
telinga keluar nanah, terjadi perforasi gendang telinga atau terdapat infeksi
telinga yang berulang, maka irigasi tidak dapat dilakukan karena air bisa
masuk ke telinga tengah dan kemungkinan akan memperburuk infeksi.
Pada keadaan ini, serumen dibuang dengan menggunakan alat yang
tumpul atau dengan alat penghisap. Biasanya tidak digunakan pelarut
serumen karena bisa menimbulkan iritasi atau reaksi alergi pada kulit
saluran telinga dan tidak mampu melarutkan serumen secara adekuat.
Adapun cara-cara / tips untuk mengeluarkan serumen yang menumpuk di
liang telinga, antara lain:
1. Serumen yang lembek dibersihkan dengan kapas yang dililitkan pada
aplikator (pelilit). Membersihkannya pun jangan terlampau dalam.
Cukup 1/3 luar liang telinga saja.
2. Serumen yang keras dikeluarkan dengan pengait atau kuret.
3. Serumen yang sangat keras (membatu), dilembekkan terlebih dahulu
dengan karbogliserin 10%, 3 x 5 tetes sehari, selama 3 5 hari, setelah

4
itu dikeluarkan dengan pengait atau kuret dan bila perlu dilakukan
irigasi telinga dengan air yang suhunya sesuai dengan suhu tubuh.
4. Serumen yang terlalu dalam dan mendekati membran timpani
dikeluarkan dengan cara mengirigasi liang telinga dengan
menggunakan air hangat bersuhu 37oC agar tidak menimbulkan vertigo
karena terangsangnya vestibuler.

H. Irigasi (Spooling) Liang Telinga


1. Syarat tindakan spooling
Dalam melakukan tindakan irigasi liang telinga (spooling) ada
beberapa hal yang harus diketahui dan diperhatikan oleh tenaga medis
sebelum melakukan tindakan tersebut, antara lain :
a) Pasien tidak mempunyai riwayat sakit telinga yang menyebabkan
ruptur gendang telinga, seperti riwayat congekan (OMSK), maupun
riwayat trauma gendang telinga.
b) Pasien tidak sedang mengalami sakit telinga luar (otitis eksterna).
2. Prosedur tindakan spooling (Irigasi)
a) Persiapan Alat :
1) Alat Spooling atau Spuit 20 cc
2) Kom berisi air hangat kuku secukupnya.
3) Bak Bengkok untuk menampung kotoran telinga.
4) Handuk sebagai alas pelindung.
5) Spuit disposible.
6) Otoscope.
7) Cotton bud secukupnya.
8) Cairan NaCl hangat atau air hangat.
9) Cairan H2O2 3 % dalam tempatnya.
b) Persiapan Pasien
1) Jelaskan kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan
(inform consent), dan minta kepada pasien agar bersikap
kooperatif.
2) Posisikan pasien dengan terlentang dan kepala miring ke sisi
berlawanan dengan telinga yang akan dibersihkan.
c) Langkah Kerja Spooling
1) Tetesi telinga pasien dengan H2O2 3 % (jika masih ada yang
keras), tunggu sampai kotoran hancur atau larut kira-kira 10
15 menit.

5
2) Tempatkan bak bengkok di bawah telinga yang dibersihkan,
dan beri alas handuk untuk mencegah tetesan air mengenai
pasien.
3) Perintahkan pasien agar bangun dan duduk tegak
4) Semprot telinga pasien dengan Cairan NaCl hangat secara
perlahan sampai telinga bersih.
5) Eksplorasi dengan otoscope.

I. Cara Membersihkan Telinga yang Benar


1. Gunakan Kain atau Tissue. Jangan Menggunakan Cotton Bud.
Bersihkan bagian luar telinga dengan tissue atau kain bersih yang
berbahan halus. Sumbatan atau gumpalan serumen biasanya terjadi
akibat penggunaan cotton bud atau pinset telinga untuk membersihkan
telinga. Penggunaan cotton bud justru akan mendorong serumen
masuk ke dalam dan dapat menyebabkan cedera pada gendang
telinga. Penggunaan cotton bud, hanya untuk pada bagian daun telinga
(luar) saja dengan cara mengusap perlahan.
2. Cairan Pelunak Serumen
Untuk serumen yang keras dan padat, masukan cairan serumen olitik
(cairan untuk melarutkan serumen) ke dalam liang telinga. Kita dapat
menggunakan baby oil, mineral oil, glycerin, tetes telinga berbahan
peroxida, hydrogen peroxide dan larutan garam. Meskipun beberapa
produk dijual bebas dan mudah ditemui di pasaran, untuk penggunaan
cairan pelunak serumen sangat disarankan dengan bantuan pengawasan
dan penilaian dokter sebelumnya.
3. Tidak sembarangan digunakan tanpa indikasi.
a) Irigasi
Irigasi dapat dilakukan dengan menggunakan spuit/suntikan yang
telah diisi air atau larutan salin/garam. Gunakan air hangat atau
sesuai dengan suhu tubuh untuk mencegah pusing. Irigasi
dilakukan setelah serumen dilunakkan dengan cairan serumen
olitik. Irigasi tidak boleh dilakukan pada orang yang dicurigai
memiliki perforasi (lubang) di gendang telinga.
b) Terapi Ear Candle Tidak Direkomendasikan
Selain tidak terbukti secara ilmiah, terapi ini juga bisa
menyebabkan luka bakar dan cedera pada telinga. Banyak yang

6
mengklaim terapi ini dapat mengangkat kotoran telinga,
menyembuhkan sinusitis, vertigo, gangguan pendengaran, bahkan
kanker. Namun berdasarkan studi yang dilakukan oleh Seeley yang
diterbitkan pada jurnal Laryngoscope berjudul Ear Candles
Efficacy and Safety, ear candle tidak berfungsi mengangkat
kotoran telinga malah dapat menyebabkan cedera serius lainnya.
c) Menggunakan Alat
Serumen dapat diangkat dengan alat khusus yang biasanya dimiliki
oleh dokter, seperti sendok serumen, forsep, atau alat penghisap.
Untuk penanganan ini dapat dilakukan dengan kunjungan ke dokter
spesialis THT setelah adanya pemeriksaan yang menyeluruh oleh
dokter yang berkompetensi.

J. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Biodata pasien dan penanggung jawab
b) Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama saat MRS
Penderita biasanya mengeluhkan pendengarannya mulai
menurun, nyeri, telinga berdengung, dan pusing dimana pasien
merasakan lingkungan di sekitarnya berputar (vertigo).
2) Riwayat kesehatan masa lalu
Riwayat kesehtan masa lalu yang berhubungan dengan
penyakit impaksi serumen adalah kebiasaan membersihkan
telinga yang tidak benar.
2. Diagnosa Keperawatan
a) Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi ditandai dengan
keluhan nyeri di telinga.
b) Gangguan persepsi sensori (auditori) berhubungan dengan
banyaknya kotoran telinga, cairan atau benda asing ditandai dengan
pendengaran kurang jelas
c) Kegagalan interaksi sosial berhubungan dengan hambatan
berkomunikasi ditandai dengan tidak nyambung ketika diajak
berbicara.
3. Intervensi Keperawatan
a) Diagnosa : Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi ditandai
dengan keluhan nyeri di telinga.

7
Tujuan : mengurangi nyeri
Kriteria Hasil : melaporkan atau menunjukkan nyeri berkurang
Intervensi :
1) Kaji tingkat (skala) nyeri 1-10
R : memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan
pilihan atau keefektifan intervensi.
2) Lakukan tindakan memasang sumbu/tampon bila kanalis
auditorius eksterna mengalami edema
R : untuk menjaga agar kanalis auditorius eksterna tetap
terbuka
3) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik
R : untuk menghilangkan rasa nyeri
b) Diagnosa : Gangguan persepsi sensori (auditori) berhubungan
dengan banyaknya kotoran telinga, cairan atau benda asing ditandai
dengan pendengaran kurang jelas.
Tujuan : memperbaiki fungsi pendengaran
Kriteria Hasil : fungsi pendengaran baik atau normal
1) Catat/observasi adanya serumen, cairan atau benda asing di
telinga
R : mengetahui tipe serumen, warna, dan adanya bau untuk
menegakkan intervensi
2) Lakukan tindakan untuk membuang serumen atau benda asing
yang terdapat di telinga bagian luar
R : usaha membersihkan kanalis auditorius eksterna agar fungsi
pendengaran tidak terganggu
3) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat seperti
antibiotik
R : Antibiotik seperti hydrogen peroksida dapat membantu
melembutkan sekret agar mudah dikeluarkan
c) Diagnosa : Kegagalan interaksi sosial berhubungan dengan
hambatan berkomunikasi ditandai dengan tidak nyambung ketika
diajak berbicara.
Tujuan : membantu pasien dalam berinteraksi
Kriteria Hasil : dapat bersosialisasi dengan baik dengan orang lain
Intervensi :
1) Berikan alat bantu pendengaran
R : membantu fungsi pendengaran klien
2) Ajarkan klien tanda/bahasa non verbal dan bentuk komunikasi
lainnya

8
R : merupakan alternatif lain untuk mempermudah komunikasi
dengan orang lain
3) Ciptakan lingkungan yang tenang
R : ketengangan lingkungan dapat membantu kelancaran
komunikasi

Daftar Pustaka

Caesar, Rio. 2010. Sekilas tentang Serumen. (http://www.medicalera.com/3/7301?


thread=7301
http://www.pantirapih.or.id/index.php/artikel/umum/132-cerumen-prop, diakses
pada tangga; 18 Agustus 2014)

Docstoc. 2013. Askep pada Klien dengan Penumpukan Serumen.


(http://www.docstoc.com/docs/159442042/ASKEP-PADA-KLIEN-DENGAN-
PENUMPUKAN-SERUMEN, diakses pada tanggal 18 Agustus 2014).

Made. 2008. Untung Ruginya Kotoran Telinga.


(http://www.blogdokter.net/2008/12/20/untung-ruginya-kotoran-telinga/, diakses
pada tanggal 18 Agustus 2014).

9
Pramuditha. Dissy. 2010. Membersihkan Telinga.
(http://www.klikdokter.com/healthnewstopics/read/2010/04/22/150239/membersih
kan-telinga-, diakses pada tanggal 18 Agustus 2014).

Secondking. 2009. Sumbatan Serumen.


(http://secondking.wordpress.com/2009/10/25/sumbatan-serumen/, diakses pada
tanggal 18 Agustus 2014)

Triska, Anita. 2013. Bahaya Membersihkan Serumen Di Telinga.


(http://mjeducation.com/bahaya-membersihkan-serumen-di-telinga/, diakses pada
tanggal 18 Agustus 2014).

10