Anda di halaman 1dari 16

Post Op Laparatomi

Peritonitis e.c Apendisitis Perforasi

A. Apendisitis Perforasi
B. Peritonitis

1. Definisi
Peritonitis adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan peradangan pada
peritoneum. Peritoneum adalah lapisan tipis dari jaringan yang melapisi organ-organ
perut dan terletak di dalam dinding perut. Peradangan ini disebabkan oleh infeksi bakteri
atau jamur pada membran ini. Pada keadaan normal, peritoneum resisten
terhadap infeksi bakteri secara inokulasi kecil-kecilan. Kontaminasi yang terus
menerus, bakteri yang virulen, penurunan resistensi, dan adanya benda asing
atau enzim pencernaan aktif merupakan faktor-faktor yang memudahkan
terjadinya peritonitis.
Peritonitis dapat disebabkan oleh infeksi yang berkembang di peritoneum
(disebut peritonitis sekunder) atau oleh infeksi di tempat lain yang menyebar
ke peritoneum (disebut peritonitis sekunder). Penyebab umum peritonitis
adalah sirosis hati, yang menyebabkan penumpukan cairan di perut (ascites)
yang mengundang bakteri, dan pencucian darah dengan metode dialisisis
peritoneal pada penderita gagal ginjal.
Peritonitis adalah keadaan darurat yang mengancam jiwa karena memerlukan perawatan
medis secepatnya. Infeksi menghentikan pergerakan usus yang normal (peristaltik).
Tubuh segera mengalami dehidrasi, dan zat-zat kimia penting yang disebut elektrolit
dapat menjadi sangat terganggu. Seseorang yang menderita peritonitis dan tidak dirawat
dapat meninggal dalam beberapa hari.

Peritonitis adalah peradangan yang disebabkan oleh infeksi pada selaput organ perut
(peritonieum). Peritonieum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan
dinding perut sebelah dalam. Lokasi peritonitis bisa terlokalisir atau difuse, riwayat akut atau
kronik dan patogenesis disebabkan oleh infeksi atau aseptik. Peritonitis merupakan suatu
kegawat daruratan yang biasanya disertai dengan bakterecemia atau sepsis. Akut peritonitis
sering menular dan sering dikaitkan dengan perforasi viskus (secondary peritonitis). Apabila
tidak ditemukan sumber infeksi pada intraabdominal, peritonitis diketagori sebagai primary
peritonitis. (Fauci et al, 2008)

Apa itu peritonitis? Peritonitis adalah peradangan


peritoneum (membrane serosa yang melapisi rongga abdomen
dan menutupi visera abdomen) yang biasanya terjadi akibat
penyebaran infeksi dari organ abdomen (e.g. appendicitis,
salpingitis), perforasi saluran cerna, atau dari luka tembusa
abdomen. Organism yang sering menginfeksi adalah organism
yang hidup dalan colon (pada kasus rupture app) yang
mencakup E.coli atau bacteroides, sedangkan stafilokokus dan
streptokokus seringkali masuk dari luar.

2. Anatomi Fisiologi Peritoneum

Oc, sebelum kita lanjut ke peritonitis, kita resapi dulu anatomi peritoneum :

Peritoneum Merupakan membrana Serosa tipis yang terdiri atas satu lapis sel
mesothelium yang melapisi dinding dalam abdomen dan organ intra abdomen dengan
luas 1,8 M

Peritoneum yg melapisi dinding dalam abdomen disebut Peritoneum parietal sedangkan


yg melapisi organ intra peritoneum disebut peritoneum visceral

Ruang diantara peritoneum disebut cavum peritonii

Cavum peritonii terbagi atas:

Cavum Peritonii Major

Cavum Peritonii Minor(bursa Omentalis)


Omentum Major adalah duplikatur peritoneum visceral dari curvatura major sampai
diafragma

Fisiologi Peritoneum

Peritoneum berfungsi untuk mengurangi gesekan antara organ intraabdomen agar


dapat bergerak bebas

Peritoneum menghasilkan cairan peritoneum sekitar 100 cc berwarna kuning


jernih

Jika terjadi cedera peritoneum daerah defect mesothelium akan segera ditutupi
oleh mesothelium sekitarnya dan sembuh dalam waktu 3-5 hari

Jika cedera cukup luas dan,membrana basalis terpapar cairan peritonii maka ekan
memacu timbulnya jaringan fibrosis sehingga timbul adhesi yang akan mencapai
maksimal 2-3 minggu setelah cedera

3. Etiologi

Peritonitis dapat disebabkan oleh infeksi yang berkembang pada peritoneum (peritonitis primer
spontan) atau oleh infeksi di bagian lain yang menular ke peritoneum (peritonitis sekunder).

Penyebab umum periotinitis primer spontan:

Sirosis, karena menimbulkan penumpukan cairan perut (ascites) yang mengundang


infeksi.

Dialisis peritoneal, metode cuci darah ini mengundang bakteri lewat kateter.

Penyebab umum peritonitis sekunder:

Usus buntu yang pecah.


Perforasi usus oleh ulkus peptikum.

4. Patofisiologi
5. Klasifikasi

Ada 2 tipe peritonitis: primer dan sekunder. Peritonitis primer disebabkan oleh
penyebaran infeksi dari pembuluh darah dan pembuluh limfe ke peritoneum. Penyebab
peritonitis primer yang paling umum adalah penyakit hati. Peritonitis sekunder adalah
tipe peritonitis yang lebih umum. Hal ini terjadi ketika infeksi yang berasal dari saluran
pencernaan atau saluran empedu menyebar kedalam peritoneum. Peritonitis juga dapat
bersifat akut atau kronis. Peritonitis akut adalah peradangan yang tiba-tiba pada
peritoneum sedangkan peritonitis kronis adalah peradangan yang berlangsung sejak lama
pada peritoneum.

Peritonitis bisa dibedakan berdasarkan daerah yang terlibat :

1. Peritonitis local

2. Peritonitis general / Peritonitis Difusa

Tanda-tanda :

1. Peritonitis general :

a. Pasien terlihat tidak enak badan d. Demam

b. Hippocratic face e. Peningkatan denyut nadi

c. Coated tounge : lidahnya terlapisi f. Napas pendek dan cepat


sesuatu

2. Peritonitis local :
a. Distensi abdominal e. Disappear of liver dullness

b. Diffusely tenderness f. Shifting dullness

c. Diffusely rebound tenderness g. Absent of bowel sound

d. Muscular guarding
h. Peritonitis dibedakan berdasarkan penyebab :

1. Peritonitis kimia atau benda asing ( Bile, Urine, Darah, Asam


Lambung, Pankreatic Juice ): bisa dikarenakan kebocoran lambung
yang menyebabkan keluarnya cairan lambung ke rongga abdomen,
akhirnya peritoneum terkena cairan lambung tersebut. Atau bisa juga
karena pancreas yang bocor

2. Peritonitis septic atau bacterial (infeksi) bisa dibagi berdasarkan


sumber bakteri :

a) Primary (hematogenous orogin)

b) Specific

c) Non-specific

d) Secondary :

I. Luka tajam

II. Lubang organ karena perforasi

III. Komplikasi inflamasi organ intraabdominal

i.

j.

k. Gejala-gejalanya :

1. Pyrexia : panasnya tinggi

2. Nausea, muntah, cingultus

3. Nyeri abdominal

4. Abdominal meteorism

5. Tidak bisa defekasi dan flatus


l. Pemeriksaan rectal :

1. Penurunan regangan sfingter anal (sfingternya jadi lembek)

2. Udara didalam rectal ampulla (ampulanya kolaps)

3. Nyeri waktu diperiksa

m. Pemeriksaan laboratorium :

1. Leukositosis : jika angka leukositnya mencapai 18.000 harus curiga


app yang sudah jadi peritonitis klo udah 20.000 berarti sudah bocor
atau ada nanah

2. Haemogram : shift to the left

3. Metabolic acidosis atau alkalosis respiratorik

n. Foto polos abdomen :

1. Preperitoneal fat tidak jelas lagi

2. Penebalan dinding intestinal

3. Subdiaphragmatic

o. Treatment :

1. Preoperasi

a. Nasogastric tube, intravenous line, indwelling catheter

b. Terapi penggantian cairan intravenous : air, elektrolit, asam-basa


seimbang

c. antibiotik

2. Operasi

Exploratory laparatomy
3. Postoperasi

a. Mempertahankan cairan intravenous : air, elektrolit, nutrisi

b. Oral feeding, jika :

Flatus

Sudah tidak ada specimen yang keluar dari NGT

Normalnya, peristaltic usus

Tidak ada distensi

p. Prognosis pada peritonitis ini baik jika peritonitis local, tapi untuk
yang general prognosisnya buruk. Prinsip pengobatannya adalah
denganpemberian antibiotikyang sesuai, dekompresi saluran pencernaan (hayo
dengan apa? Bisa dengan NGT), penggatian cairan dan elektrolit yang hilang
secara intravena, tirah baring adalam posisi fowler, pembuangan organ yang
terkena infeksi (e.g app) dan tindakan untuk menghilangkan nyeri.

q.

r.
6. Manifestasi Klinis
7. Pemeriksaan Penunjang
8. Penatalaksanaan Medis
9. Asuhan Keperawatan Peritonitis
C. Bedah Laparatomi
s.
1. Definisi
t. Laparatomi adalah operasi yang dilakukan untuk membuka
abdomen (bagian perut). Kata "laparatomy" pertama kali digunakan untuk
merujuk operasi semacam ini pada tahun 1878 oleh seorang ahli bedah
Inggris, Thomas Bryant. Kata tersebut terbentuk dari dua kata Yunani,
"lapara" dan "tome". Kata "lapara" berarti bagian lunak dari tubuh yang
terletak di antara tulang rusuk dan pinggul (perut/abdomen). Sedangkan
"tome" berarti penyayatan. Sehingga laparatomi dapat didefenisikan
sebagai penyayatan pada dinding abdomen atau peritoneal. Istilah lain untuk
laparotomi adalah celiotomi (Fossum, 2002).
u. Laparatomi merupakan prosedur pembedahan yang
melibatkan suatu insisi pada dinding abdomen hingga ke cavitas abdomen
(Sjamsurihidayat dan Jong, 1997). Ditambahkan pula bahwa laparatomi
merupakan teknik sayatan yang dilakukan pada daerah abdomen yang
dapat dilakukan pada bedah digestif dan obgyn. Adapun tindakan bedah
digestif yang sering dilakukan dengan tenik insisi laparatomi ini adalah
herniotomi, gasterektomi, kolesistoduodenostomi, hepatorektomi,
splenoktomi, apendektomi, kolostomi, hemoroidektomi dan fistuloktomi.
Sedangkan tindakan bedah obgyn yang sering dilakukan dengan tindakan
laoparatomi adalah berbagai jenis operasi pada uterus, operasi pada tuba
fallopi, dan operasi ovarium, yang meliputi hissterektomi, baik
histerektomi total, radikal, eksenterasi pelvic, salpingooferektomi bilateral.
v.Prosedur ini dapat direkomendasikan pada pasien yang mengalami
nyeri abdomen yang tidak diketahui penyebabnya atau pasien yang
mengalami trauma abdomen.
w.
2. Tujuan Tindakan
x. Laparotomi dibutuhkan ketika ada kedaruratan perut. Operasi laparatomi
dilakukan apabila terjadi masalah kesehatan yang berat pada area
abdomen, misalnya trauma abdomen. Nyeri perut yang terus menerus atau
berulang membuat laparotomi perlu dilakukan. Alasan lain antara lain,
muntah yang berulang, mual, gangguan usus atau pembengkakan perut
yang tidak bisa dijelaskan yang bisa disebabkan oleh kanker. Bila perut
cedera parah, mungkin karena benturan hebat dalam kecelakaan lalu
lintas, kemungkinan terjadi adalah pendarahan dalam atau cedera serius
pada organ dalam. Pada situasi seperti ini, laparotomi sering dilakukan
untuk menaksir tingkat cedera, menutup pembuluh darah yang robek, dan
membuang jaringan yang rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Bila
penderita merasakan nyeri perut hebat dan gejala-gejala lain dari masalah
internal yang serius dan kemungkinan penyebabnya tidak terlihat, usus
buntu, tukak peptik yang berlubang atau kondisi ginekologi, perlu
dilakukan operasi untuk menemukan dan mengoreksinya sebelum terjadi
kerusakan lebih lanjut. Sejumlah operasi yang membuang usus buntu
berawal dari laparotomi. Beberapa kasus, laparotomi mungkin hanyalah
prosedur kecil. Pada kasus lain, laparotomi bisa berkembang menjadi
pembedahan besar, diikuti oleh transfusi darah dan masa perawatan
intensif.
y.
3. Indikasi Tindakan
z. Ada banyak indikasi dilakukannya laparatomi, dibawah ini akan
dipaparkan, diantaranya :

a) Trauma abdomen (tumpul atau tajam)

aa. Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur


yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka
tumpul atau yang menusuk (Ignativicus & Workman, 2006). Dibedakan
atas 2 jenis yaitu : Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi
kedalam rongga peritonium) yang disebabkan oleh : luka tusuk, luka
tembak. Dan jenis kedua yaitu trauma tumpul (trauma perut tanpa
penetrasi kedalam rongga peritoneum) yang dapat disebabkan oleh
pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman
(sit-belt).

b) Peritonitis
ab. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membran serosa
rongga abdomen, yang diklasifikasikan atas primer, sekunder dan
tersier. Peritonitis primer dapat disebabkan oleh spontaneous bacterial
peritonitis (SBP) akibat penyakit hepar kronis. Peritonitis sekunder
disebabkan oleh perforasi appendicitis, perforasi gaster dan penyakit
ulkus duodenale, perforasi kolon (paling sering kolon sigmoid),
sementara proses pembedahan merupakan penyebab peritonitis tersier.
c) Sumbatan pada usus halus dan besar (Obstruksi)
ac. Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun
penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi
usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsinoma dan
perkembangannya lambat. Sebagian dasar dari obstruksi justru
mengenai usus halus. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan
gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan
darurat bila penderita ingin tetap hidup. Penyebabnya dapat berupa
Perlengketan (lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh
secara lambat atau pada jaringan parut setelah pembedahan abdomen),
Intusepsi (salah satu bagian dari usus menyusup kedalam bagian lain
yang ada dibawahnya akibat penyempitan lumen usus), Volvulus (usus
besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri dengan
demikian menimbulkan penyumbatan dengan menutupnya gelungan
usus yang terjadi amat distensi), Hernia (protrusi usus melalui area
yang lemah dalam usus atau dinding dan otot abdomen), dan Tumor
(tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor
diluar usus menyebabkan tekanan pada dinding usus).
d) Apendisitis
ad. Apendisitis mengacu pada radang apendiks, suatu tambahan seperti
kantong yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dari sekum.
Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah obstruksi lumen
oleh feses yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis
mukosa sehingga menyebabkan inflamasi.
e) Massa pada abdomen ( Tumor, cyste dll)
ae.
4. Cara-cara pembedahan
af. Ada 4 cara pembedahan yang dilakukan, antara lain (Yunichrist, 2008):
a) Midline incision, yaitu metode insisi yang paling sering digunakan,
karena sedikit perdarahan, eksplorasi dapat lebih luas, cepat dibuka dan
ditutup, serta tidak memotong ligamen dan saraf. Namun demikian,
kerugian jenis insis ini adalah terjadinya hernia cikatrialis. Indikasinya
pada eksplorasi gaster, pankreas, hepar, dan lien serta di bawah
umbilikus untuk eksplorasi ginekologis, rektosigmoid, dan organ dalam
pelvis.
b) Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang
(12,5 cm). Terbagi atas 2 yaitu, paramedian kanan dan kiri, dengan
indikasi pada jenis operasi lambung, eksplorasi pankreas, organ pelvis,
usus bagian bagian bawah, serta plenoktomi. Paramedian insicion
memiliki keuntungan antara lain : merupakan bentuk insisi anatomis
dan fisiologis, tidak memotong ligamen dan saraf, dan insisi mudah
diperluas ke arah atas dan bawah
c) Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas,
misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
d) Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian
bawah 4 cm diatas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi
appendectomy.
ag.
5. Jenis-jenis pembedahan
ah.
D. Post Op Laparatomi
ai.
1. Definisi
aj. Post op atau post operatif laparatomi merupakan tahapan setelah proses
pembedahan pada area abdomen (laparatomi) dilakukan. Dalam Perry &
Potter (2005) dipaparkan bahwa tindakan post operatif dilakukan dalam 2
tahap yaitu periode pemulihan segera dan pemulihan berkelanjutan
setelah fase post operatif. Proses pemulihan tersebut membutuhkan
perawatan post laparatomi. Perawatan post laparatomi adalah bentuk
pelayanan perawatan yang di berikan kepada klien yang telah menjalani
operasi pembedahan abdomen.
ak.
2. Tujuan perawatan
a) Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
b) Mempercepat penyembuhan.
c) Mengembalikan fungsi klien semaksimal mungkin seperti sebelum
operasi.
d) Mempertahankan konsep diri klien.
e) Mempersiapkan klien pulang.
al.
3. Manifestasi klinis
a) Nyeri tekan pada area sekitar insisi pembedahan
b) Dapat terjadi peningkatan respirasi, tekanan darah, dan nadi.
c) Kelemahan
d) Mual, muntah, anoreksia
am.e) Konstipasi
an.
4. Perawatan pasca pembedahan
a) Tindakan keperawatan post operasi
1) Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output
2) Observasi dan catat sifat dari drain (warna, jumlah) drainage.
3) Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati,
jangan sampai drain tercabut.
b) Perawatan luka operasi secara steril
1) Makanan
ao. Pada pasien pasca pembedahan biasanya tidak
diperkenankan menelan makanan sesudah pembedahan. makanan
yang dianjurkan pada pasien post operasi adalah makanan tinggi
protein dan vitamin C. Protein sangat diperlukan pada proses
penyembuhan luka, sedangkan vitamin C yang mengandung
antioksidan membantu meningkatkan daya tahan tubuh untuk
pencegahan infeksi. Pembatasan diet yang dilakukan adalah NPO
(nothing peroral)
Biasanya makanan baru diberikan jika:
a. Perut tidak kembung
b. Peristaltik usus normal
c. Flatus positif
d. Bowel movement positif
2) Mobilisasi
Biasanya pasien diposisikan untuk berbaring di tempat tidur agar
keadaanya stabil. Biasanya posisi awal adalah terlentang, tapi juga
harus tetap dilakukan perubahan posisi agar tidak terjadi dekubitus.
Pasien yang menjalani pembedahan abdomen dianjurkan untuk
melakukan ambulasi dini.
3) Pemenuhan kebutuhan eliminasi
Sistem Perkemihan.
ap. Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 8
jam post anesthesia inhalasi, IV, spinal. retensio urine. Anesthesia,
infus IV, manipulasi operasi abdomen bawah (distensi buli-buli).
Pencegahan : kaji warna, jumlah urine, output urine - Dower
catheter < komplikasi ginjal. 30 ml / jam.
b. Sistem Gastrointestinal.
-40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat mual
muntah menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat
meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO
meningkat.
-Kaji fungsi gastrointestinal dengan auskultasi suara usus. Suara
usus (-), distensi abdomen, tidak flatus.
-Kaji paralitic ileus
-Jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 8 jam.
-Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif
dengan decompresi dan drainase lambung.
4) Meningkatkan istirahat.
5) Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.
6) Memonitor perdarahan.
7) Mencegah obstruksi usus.
8) Irigasi atau pemberian obat.
aq.
5. Komplikasi
a) Syok
ar. Digambarkan sebagai tidak memadainya oksigenasi selular yang
disertai dengan ketidakmampuan untuk mengekspresikan produk
metabolisme. Manifestasi Klinis :
1) Pucat
2) Kulit dingin dan terasa basah
3) Pernafasan cepat
4) Sianosis pada bibir, gusi dan lidah
5) Nadi cepat, lemah dan bergetar
6) Penurunan tekanan nadi
7) Tekanan darah rendah dan urine pekat.
b) Hemorrhagi
as. 1) H. Primer : terjadi pada waktu pembedahan
at. 2) H. Intermediari : beberapa jam setelah pembedahan ketika
kenaikan tekanan darah ke tingkat normalnya melepaskan bekuan
yang tersangkut dengan tidak aman dari pembuluh darah yang tidak
terikat
au. 3) H. Sekunder : beberapa waktu setelah pembedahan bila ligatur
slip karena pembuluh darah tidak terikat dengan baik atau menjadi
terinfeksi atau mengalami erosi oleh selang drainage. Manifestasi
Klinis Hemorrhagi : Gelisah,, terus bergerak, merasa haus, kulit
dingin-basah-pucat, nadi meningkat, suhu turun, pernafasan cepat
dan dalam, bibir dan konjungtiva pucat dan pasien melemah.
c) Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
av. Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah
operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas
dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli
ke paru-paru, hati, dan otak. Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan
kaki post operasi, ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien
sebelum mencoba ambulatif.
d) Buruknya intergritas kulit sehubungan dengan luka infeksi.
aw. Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi.
Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus
aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan
pernanahan. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah
perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.
e) Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau
eviserasi.
ax. Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Eviserasi luka
adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Faktor penyebab
dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu
pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai
akibat dari batuk dan muntah.
ay.
6. Fase-fase penyembuhan luka
a) Fase pertama
az. Berlangsung sampai hari ke 3. Batang leukosit banyak yang rusak /
rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana
serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.
b) Fase kedua
ba. Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh
pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru
tumbuh dengan kuat dan kemerahan.
c) Fase ketiga
bb. Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun,
timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.
d) Fase keempat
bc. Fase terakhir. Luka akan menyusut dan mengkerut.
bd.
7. Upaya untuk meningkatkan penyembuhan luka
a) Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c.
b) Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
c) Pencegahan infeksi.
d) Pengembalian fungsi fisik.
e) Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan
latihan napas dan batuk efektf, latihan mobilisasi dini.
f) Mempertahankan konsep diri.
be. Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada
pasien post laparatomi karena adanya perubahan sehubungan dengan
pembedahan. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian
support psikologis, ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang
perubahan-perubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien
setelah operasi.
bf.
8. Kriteria Evaluasi
bg. Hasil yang diharapkan setelah perawatan pasien post operasi, meliputi;
a) Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan.
b) Luka insisi normal tanpa infeksi.
c) Tidak timbul komplikasi.
d) Pola eliminasi lancar.
e) Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat.
f) Kehilangan berat badan minimal atau tetap normal.
g) Sebelum pulang, pasien mengetahui tentang :
1) Pengobatan lanjutan
2) Jenis obat yang diberikan
3) Diet
4) Batas kegiatan dan rencana kegiatan di rumah.
bh.
bi.