Anda di halaman 1dari 5

DIABETES MELLITUS

A. Latar Belakang Masalah


Pola penyakit saat ini dapat dipahami dalam rangka transisi epidemiologis, yaitu
mengenai konsep perubahan pola kesehatan dan penyakit. Konsep tersebut hendak
menghubungkan dengan morbiditas dan mortalitas pada beberapa golongan penduduk.
Sebagai dampak positif dari pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah, pola
penyakit di Indonesia mengalami pergeseran yang cukup meyakinkan. Penyakit infeksi
dan kekurangan gizi berangsur turun sedangkan penyakit menahun yang disebabkan oleh
penyakit degeneratif, diantaranya penyakit Diabetes Mellitus meningkat dengan tajam
(Suyono, 2004: 574).
Diabetes Melitus merupakan salah satu jenis penyakit degeneratif yang bersifat
kronis, tidak dapat disembuhkan namun dapat dikendalikan (Dinkes Jateng, 2006).
Diabetes melitus atau dikenal oleh masyarakat dengan kencing manis menurut PERKENI
(2011), kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar
gula dalam darah akibat kekurangan insulin, baik tidak sama sekali dihasilkan atau kadar
insulin yang sedikit dihasilkan.
Data World Health Organization (WHO) tahun 2007 Indonesia menempati urutan
keempat dengan jumlah penderita diabetes melitus terbesar di dunia setelah India, Cina,
dan Amerika Serikat dengan prevalensi 8,6 % dari seluruh penduduk Indonesia. Jumlah
penduduk dunia sendiri yang menderita diabetes melitus berjumlah 171 juta jiwa pada
tahun 2000 dan diperkirakan pada tahun 2030 menjadi 366 juta penderita. Total penderita
diabetes melitus Indonesia menurut Depkes RI tahun 2008 mencapai 8.246.000 jiwa pada
tahun 2000 dan diperkirakan menjadi 21.257.000 jiwa penderita pada tahun 2030.
Didapatkan data dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2011 jumlah penderita diabetes
melitus di Propinsi Jawa Tengah sebanyak 509.319 orang dan prevalensi pada tahun 2007
penderita diabetes melitus tipe 1 sebesar 0,09%, sedangkan kasus diabetes melitus tipe 2
mengalami peningkatan sebesar 0,74% pada tahun 2005; 0,83% pada tahun 2006 dan
0,96% pada tahun 2007. Penderita diabetes melitus di Kabupaten Banyumas pada tahun
2008 sebesar 3.232 orang. Berdasarkan data diatas tersebut prevalensi diabetes melitus
tiap tahun ke tahun memang semakin meningkat.
Peningkatan pasien diabetes melitus menurut Waspadji (2005) dilihat secara
epidemiologi dikarenakan empat faktor. Faktor yang pertama adalah faktor demografi,
jumlah penduduk yang bertambah, penduduk usia lanjut yang bertambah banyak, serta
urbanisasi yang tak terkendali. Faktor kedua gaya hidup yang kebarat-baratan,
penghasilan yang tinggi, restoran siap santap, teknologi canggih menimbulkan
sendentary life (kurang gerak badan). Faktor ketiga berkurangnya penyakit infeksi dan
kurang gizi, dan faktor yang keempat meningkatnya pelayanan kesehatan hingga umur
pasien diabetes menjadi lebih panjang.
Diabetes Mellitus akan mengakibatkan timbulnya komplikasi akut dan kronis
apabila tidak ditangani dengan baik (Syafei, 2006). Menurut Smeltzer dan Bare (2002),
terdapat tiga komplikasi akut pada diabetes yang penting dan berhubungan dengan
gangguan keseimbangan kadar glukosa darah jangka pendek. Ketiga komplikasi tersebut
adalah: hipoglikemia, ketoasidosis diabetic dan sindrom HHNK (hiperosmolar
nonketotik) atau HONK (hiperosmoler nonketotik). Komplikasi jangka panjang diabetes
dapat menyerang semua sistem organ dalam tubuh. Kategori komplikasi kronis diabetes
yang lazim digunakan adalah, penyakit makrovaskuler, penyakit mikrovaskuler, dan
neuropati. Komplikasi yang bersifat akut maupun kronis dapat menyebabkan gangguan
kualitas hidup dari penderita diabetes melitus dan penurunan kualitas diabetes melitus
akibat komplikasi yang menahun. Sehingga kualitas hidup penderita diabetes melitus
perlu ditangani dengan penanganan yang tepat.
Penanganan yang tepat untuk menangani faktor penyebab serta komplikasi
tersebut dapat dikendalikan dengan adanya kemauan merubah gaya hidup sehat dari
penderita diabetes mellitus (Hendra, 2007). Pasien diabetes mellitus dalam hal gaya
hidup, perlu perencanaan makan (diet), latihan (olahraga), pemantauan glukosa darah,
terapi (bila diperlukan) dan pendidikan kesehatan. Oleh karena itu, peran dan dukungan
kelompok keluarga, saudara dan penyuluhan gizi yang berkelanjutan sangat dianjurkan
(Smeltzer dan Bare, 2002).
Pada penelitian Goz et al (2007), pasien diabetes melitus diperlukan pengontrolan
terhadap metabolik yang dapat mempengaruhi gaya hidup pasien (dalam menggunakan
terapi insulin dan obat antidiabetik oral), makanan, pengukuran gula darah, dan latihan.
Hal ini dapat dicapai dengan partisipasi atau keterlibatan keluarga. Adanya pengalaman
kesulitan bagi pasien, keluarga, dan komplikasi yang mungkin muncul pada saat pasien
beradaptasi dengan semua perubahan yang terjadi akan berdampak terhadap kualitas serta
kemandirian keluarga dalam menghadapi permasalahan kesehatan pasien diabetes
melitus.
Terapi dan perawatan diabetes melitus memerlukan waktu yang panjang tentunya
menimbulkan kebosanan dan kejenuhan pada pasien diabetes melitus. Oleh sebab itu
selain memperhatikan masalah fisik maka perlu juga diperhatikan faktor psikologis
pasien dalam penyelesaian masalah diabetes melitus. Keikutsertaan anggota keluarga
dalam memandu pengobatan, diet, latihan jasmani, dan pengisian waktu luang yang
positif bagi kesehatan keluarga merupakan bentuk peran aktif bagi keberhasilan
penatalaksanaan diabetes melitus. Pembinaan terhadap anggota keluarga lainnya untuk
bekerja sama menyelesaikan masalah diabetes melitus dalam keluarganya, hanya dapat
dilakukan bila sudah terjalin hubungan yang erat antara tenaga kesehatan dengan pihak
pasien dan keluarganya (Rifki, 2009).
Penelitian yang dilakukan Robinson (2010), terhadap 19 pasien diabetes melitus,
menyimpulkan bahwa dukungan keluarga merupakan faktor yang paling utama untuk
mempertahankan metabolik kontrol yang akan mempengaruhi kualitas hidup pasien.
Sementara pada penelitian Konradsdottir dan Erla (2011), pemberian pendidikan dan
intervensi dukungan terhadap keluarga menghasilkan hubungan positif terhadap
kemampuan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan anggota keluarga penderita diabetes
melitus.
Setiawan (2010) melakukan penelitian terhadap pasien skizofrenia beserta
keluarganya yang diberikan terapi keluarga, didapatkan hasil bahwa terapi keluarga
efektif terhadap penurunan angka kekambuhan pada pasien skozofrenia. Sementara
penelitian Sutanto (2010) pemberian terapi keluarga berupa pendidikan kesehatan,
pendampingan dan konseling dalam pengembangan keterampilan, serta pengembangan
keterampilan keluarga dalam berkomunikasi efektif terhadap peningkatan tingkat
kemandirian keluarga dengan permasalahan remaja.
Penelitian yang dilakukan oleh Sjattar, Elly, Burhanuddin, dan Sitti (2011),
membuktikan bahwa penerapan model keluarga untuk keluarga yang merupakan integrasi
dari konsep model dan teori keperawatan Self Care dan Family Centered Nursing dengan
cara edukasi suportif pada keluarga yang dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan selama
tiga minggu sangat berpengaruh terhadap kemandirian keluarga dalam merawat anggota
keluarga yang menderita tuberkulosis yang ditandai dengan adanya peningkatan
pengetahuan dan kemandirian pada saat post test.
Sudiharto (2007) menyatakan, keluarga merupakan unit pelayanan kesehatan yang
terdepan dalam meningkatkan derajat kesehatan komunitas. Apabila tercipta keluarga
yang sehat, maka akan tercipta komunitas yang sehat pula. Masalah kesehatan yang
dialami oleh salah satu anggota keluarga, mengakibatkan berpengaruh terhadap sistem
keluarga tersebut. Dan secara tidak langsung turut mempengaruhi komunitas, bahkan
komunitas yang lebih luas (global). Oleh karena itu keluarga menjadi salah satu bagian
terpenting dalam mencapai suatu keberhasilan kemandirian keluarga.

B. Pengertian
Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok kelainan heterogen yang ditandai
oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hyperglikemia. Glukosa secara normal
bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Glukosa dibentuk di hati dari makanan
yang dikonsumsi (Smeltzer dan Bare, 2002).
Pereira, Berg-Cross, Almeida, dan Machado (2008) menyatakan, diabetes bukanlah
satu-satunya penyakit yang termasuk ke dalam penyakit gangguan pada sistem metabolik
yang secara umum penyakit ini disebabkan oleh ketidakmampuan atau ketidakcukupan
pankreas dalam menghasilkan insulin. Diabetes melitus adalah penyakit kronis yang
memerlukan perawatan medis dan penyuluhan untuk self management yang
berkesinambungan untuk mencegah komplikasi akut maupun kronis. Diabetes mellitus,
yakni suatu penyakit heterogen dan merupakan penyakit tersering yang berkaitan dengan
gangguan sekresi hormone pankreas endokrin (Mc Phee dan Ganong, 2011).

C. Klasifikasi
Klasifikasi yang ditentukan oleh National Diabetes Data Group of The National Institutes of
Health, sebagai berikut :
1. Diabetes Melitus tipe I atau IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus) atau tipe juvenile.
Yaitu ditandai dengan kerusakan insulin dan ketergantungan pada terapi insulin untuk
mempertahankan hidup. Diabetes Melitus tipe I juga disebut juvenile onset, karena
kebanyakan terjadi sebelum umur 20 tahun. Pada tipe ini terjadi destruksi sel beta pankreas
dan menjurus ke defisiensi insulin absolut. Mereka cenderung mengalami komplikasi
metabolik akut berupa ketosis dan ketoasidosis.
2. Diabetes Melitus tipe II atau NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus), dikenal
dengan maturity concept, dimana tidak terjadi defisiensi insulin secara absolut melainkan
relatif oleh karena gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin. Terjadi pada semua
umur, lebih sering pada usia dewasa dan ada kecenderungan familiar. NIDDM dapat
berhubungan dengan tingginya kadar insulin yang beredar dalam darah namun tetap memiliki
reseptor insulin dan fungsi post reseptor yang tidak efektif.
3. Gestational Diabetes
Disebut juga DMG atau diabetes mellitus gestational. Yaitu toleransi glukosa yang
timbul selama kehamilan, dimana meningkatnya hormon-hormon pertumbuhan dan
meningkatkan suplai asam amino dan glukosa pada janin yang mengurangi
keefektifitasan insulin.
4. Intoleransi Glukosa
Berhubungan dengan keadaan atau sindroma tertentu, yaitu hiperglikemi yang terjadi
karena penyakit lain. Penyakit pankreas, obat-obatan, dan bahan kimia. Kelainan
reseptor insulin dan sindrom genetik tertentu. Umumnya obat-obatan yang
mencetuskan terjadinya hiperglikemi antara lain : diuretik furosemid (lasik), dan
thiazide, glukotikoid, epinefrin, dilantin, dan asam nikotinat (Long, 1996).

D. Etiologi
DM dapat disebabkan oleh beberapa banyak faktor, Noer (1996) menyebutkan bahwa ada
4 penyebab terjadinya DM, faktor keturunan, fungsi sel pankreas dan sekresi insulin yang
berkurang, kegemukan atau obesitas, perubahan karena usia lanjut berhubungan dengan
resistensi insulin.
Faktor keturunan dapat menjadi penyebab
E. Patofisiologi
F. Manifestasi Klinis
G. Penegakan Diagnosa
H. Penatalaksanaan
I. Diagnosa Keperawatan