Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN BAHAN ALAM

PENGUJIAN SUSUT PENGERINGAN, SARI LARUT


AIR DAN SARI LARUT ETANOL DARI SIMPLISIA
DARI KELOPAK BUNGA ROSELLA

Disusun oleh:
Ambarita Indarti

Chintya Tifani

Dedi febriandi

Ervin Okta Riza

Fajar Asmara Nur Alam

Indri

Novi wardani

Puji Lestari

Putri fatika

Muhammad Ilham

Dosen Pembimbing:

Husnani M, Sc. Apt

AKADEMI FARMASI YARSI PONTIANAK

2015 / 2016
A. TUJUAN
Mahasiswa memahami dan melakukan penetapan parameter non spesifik obat
herbal meliputi penetapan kadar, kadar sari larut dalam pelarut tertentu.

B. TEORI DASAR
Untuk menjamin kualitas dari simplisia atau ekstrak diperlukan
standararisasi simplisia atau ekstrak. Parameter standarisasinya berupa
parameter standar spesifik dan non spesifik.
1. Parameter spesifik
Identitas
Tujuannya memberikan identitas objektif dari nama dan spesifik dari
senyawa identitas. Diantaranya deskripsi tata nama dan ekstrak yang
mempunyai senyawa identitas artinya senyawa tertentu yang menjadi
penunjuk spesifik dengan metode tertentu. Deskripsi nama berupa nama
ekstrak, nama latin tumbuhan, bagian tumbuhan yang digunakan dan
nama Indonesia tumbuhan.
Organoleptik
Penggunaan panca indera mendeskripsikan bentuk, warna, bau, dan rasa.
Tujuannya untuk pengenalan awal yang sederhana seobjektif mungkin.
Senyawa terlarut dalam pelarut tertentu
Melarutkan ekstrak dengan pelarut (alcohol atau air) untuk ditentukan
jumlah solute yang identik dengan jumlah senyawa kandungan secara
gravimetri. Dalam hal tertentu dapat diukur senyawa terlarut dalam
pelarut lain misalnya heksana, diklorometan, metanol. Tujuannya
memberikan gambaran awal jumlah senyawa kandungan. (Ditjen POM,
2000)
Kadar sari
Penetapan kadar sari adalah metode kuantitatif untuk jumlah kandungan
senyawa dalam simplisia yang dapat tersari dalam pelarut tertentu.
Penetapan ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu kadar sari yang larut
dalam air dan kadar sari yang larut dalam etanol. Kedua cara ini didasarkan
pada kelarutan senyawa yang terkandung dalam simplisia. (Djarwis, 2004).
Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat
dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berdasarkan berat
kering (dry basis). Kadar air berat basah mempunyai batas maksimum
teoritis sebesar 100 persen, sedangkan kadar air berdasarkan berat kering
dapat lebih dari 100 persen (Syarif dan Halid, 1993). Kadar air merupakan
pemegang peranan penting, kecuali temperatur maka aktivitas air
mempunyai tempat tersendiri dalam proses pembusukan danketengikan.
Kerusakan bahan makanan pada umumnya merupakan proses
mikrobiologis, kimiawi, enzimatik atau kombinasi antara ketiganya.
Berlangsungnya ketiga proses tersebut memerlukan air dimana kini telah
diketahui bahwa hanya air bebas yang dapat membantu berlangsungnya
proses tersebut (Tabrani,1997).
Kadar air
Kadar air suatu bahan biasanya dinyatakan dalam persentase berat bahan
basah, misalnya dalam gram air untuk setiap 100 gr bahan disebut kadar air
berat basah. Berat bahan kering adalah berat bahan setelah mengalami
pemanasan beberapa waktu tertentu sehingga beratnya tetap (konstan). Pada
proses pengeringan air yang terkandung dalam bahan tidak dapat seluruhnya
diuapkan (Kusumah, dan Andarwulan, 1989).
Berdasarkan Materia Medica, parameter untuk simplisia yang baik sebagai
berikut :

Kadar Air : 10,00

Kadar Minyak Atsiri : 0,19

Kadar Abu Total : 10,00

Kadar Abu Tidak Larut Asam : 2,60

Kadar Sari Larut Air : 18,00

Kadar Sari Larut Etanol : 6,30


C. ALAT DAN BAHAN
ALAT BAHAN
Labu erlenmeyer Penetapan kadar sari larut air:
Cawan Uap Simplisia, Etanol, Aquadest
Oven Penetapan kadar sari larut etanol:
Batang Pengaduk Simplisia, kloroform, Aquadest
Gelas Ukur

D. PROSEDUR KERJA

CARA KERJA

1. Uji susut pengeringan

2 g simplisia

- Ditimbang ke krus yang telah dipanaskan pada suhu penetapan


105oC selama 30 menit yang sudah di tata.
- Dimasukkan ke dalam oven
- Dibuka tutupnya
- Dikeringkan beserta tahapannya pada suhu 105oC selama 1 jam

Simplisia kering
- Ditutup krus segera jika oven terbuka
- Dimasukkan krus kedalam deksikator selama 30 menit biarkan
dingin
- Timbang
- Pengeringan dilanjutkan sampai bobot tetap

Bobot tetap
2. Penetapan kadar sari larut air

1 g simplisia
- Dimaserasi dengan 25 ml kloroform selama 24 jam
menggunakan labu ukur
- Dikocok sesekali selama 6 jam pertama
- Dibiarkan selama 18 jam
- Disaring

Filtrat
- Diuapkan sebanyak 5 ml dalam cawan dangkal berdasarkan
rata yang telah ditara
- Dipanaskan residu pada suhu 105oC sampai bobot tetap

Bobot tetap
3. Penetapan kadar sari larut etanol

1 g simplisia
- Dimaserasi dengan 25 ml etanol 96% selama 24 jam
menggunakan labu ukur tersumbat
- Dikocok sesekali selama 6 jam pertama
- Dibiarkan selama 18 jam
- Disaring cepat untuk menghindarkan penguapan etanol

Filtrat
- Diuapkan sebanyak 5 ml dalam cawan dangkal berdasarkan
rata yang telah ditara
- Dipanaskan residu pada suhu 105oC sampai bobot tetap

Bobot tetap

E. HASIL PENGAMATAN

Berat ekstrak : 2 gram


Berat cawan kosong : 72,03 gram
Berat cawan + ekstrak : 74,03 gram

Pemanasan 1 = 73,41 gram


74,03 gram 73,41 gram = 0,62 gram
0,62 gram
2 gram 100% = 31%

Pemanasan 2 = 72,84 gram


73,41 gram 72,84 gram = 0,57 gram

0,57 gram
2 gram 100% = 28,5%

Pemanasan 3 = 72,20
72,84 gram 72,80 gram = 0,04 gram
0,04 gram
2 gram 100% = 2%

F. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan penetapan kadar sari larut air ,
penetapan kadar sari larut etanol dan serta uji susut pengeringan pada serbuk
simplisia kelopak bunga rosella , untuk penetapan kadar sari larut air dan etanol
tidak dilakukan sampai selesai dikarenkan oven yang ada di laboratorium kimia
Akfar Yarsi sudah tidak bagus lagi. Sedangkan untuk uji susut pengeringan
dilakukan sampai selesai. Pada uji susut pengeringan, dilakukan pengukuran sisa
zat setelah pengeringan pada temperatur105oC selama 15 menit, 30 menit, dan 45
menit atau sampai berat konstan. Pada suhu 105 oC ini, air akan menguap, dan
senyawa-senyawa yang mempunyai titik didih yang lebih rendah dari air akan ikut
menguap juga. Susut pengeringan dinyatakan sebagai nilai persen terhadap bobot
awal. Pada praktikum ini uji susut pengeringan tidak sampai pada berat konstan
yaitu < 0,25 %. Ini di karenkan keterbatasan waktu dan oven yang digunakan
tidak bagus lagi. Pada menit ke 15 susut pengeringan sebesar 31%. Pada menit ke
30 susut pengeringan sebesar 28,5%, dan pada menit ke 45 susut pengeringan
sebesar 2%. Tujuan mengetahui susut pengeringan adalah memberikan batasan
maksimal (rentang) tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses
pengeringan.

H. KESIMPULAN
1. Untuk penetapan kadar larut air dan penetapan kadar larut etanol tidak
dikerjakan sampai selesai dikarenakan oven yang digunakan sudah tidak
bagus lagi.
2. Untuk uji susut pengeringan dihasilkan 26,5% tidak sampai berat konstan
yaitu < 0,25%.
3. Untuk uji susut pengeringan didapat hasil pengeringan, yang pertama
31%, yang kedua 28,5% dan yang ketiga 2%.

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM.2000.Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.
Jakarta:Departemen Kesehatan RI.
Ditjen POM.1977.Materia Medika Indonesia I.Jakarta:Departemen Kesehatan RI
Syarief, R. dan Halid Hariyadi., 1993. Teknologi Penyimpanan Pangan, Arcan, Jakarta.
Tabrani. 1997. Teknologi Hasil Perairan. Universitas Islam Riau Press. Riau.
Kusumaha, Hermianto M.Andarwulan A. 1989. Pengolahan pangan .Journal of Food
Engineering Vol. 78, Page 98-108.
LAMPIRAN

PEMANASAN 1
PEMANASAN 2

PEMANASAN 3
Kadar sari larut etanol

Kadar sari larut air