Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Peluang Pasar


Peningkatan kebutuhan akan surfaktan mengakibatkan semakin berkembangnya
industri-industri pengguna surfaktan. Industri surfaktan dihadapkan pada masalah
lingkungan terutama dari segi bahan baku dan limbah yang dihasilkan. Untuk mengurangi
masalah tersebut, industri surfaktan mulai menghasilkan surfaktan yang memiliki sifat
bebas dari toxic, biodegradable, dan mudah diformulasikan dengan komponen lain.
Surfaktan Alkil Poliglikosida (APG) merupakan salah satu surfaktan non-ionik yang
ramah lingkungan karena disintesis dengan menggunakan bahan baku yang berbasis
minyak nabati dan karbohidrat seperti tapioka, sagu, dan lain-lain. APG telah
diklasifikasikan sebagai surfaktan kelas satu yang ramah lingkungan banyak digunakan
untuk industri personal care product, herbisida, kosmetik dan industri tekstil (Hill et al.
1997).
Kebutuhan akan APG di Indonesia saat ini dipenuhi dari impor. Jumlah impor
surfaktan non-ionik yang masuk ke indonesia pada tahun 2011 mencapai 19.640 ton (BPS,
2011). Kapasitas produksi APG di seluruh dunia meningkat sekitar 60.000 ton/tahun
menjadikan APG surfaktan berbasis gula yang paling penting (Robb, 1997). Menurut Hill
et al (1997) tingginya permintaan dunia terhadap surfaktan ini mencapai 85.000 ton/tahun.
Data diatas menunjukkan bahwa adanya peluang pasar untuk memproduksi APG untuk
memenuhi permintaan dan mengurangi impor surfaktan Indonesia.

1.2 PentingnyaPendirianPabrik
Ketersediaan kelapa sawit sebagai bahan baku alkohol lemak dan pati sagu untuk
pembuatan surfaktan APG di Indonesia cukup banyak. Indonesia, khususnya provinsi Riau
Indonesia, khususnya Riau adalah salah satu penghasil sawit terbesar sehingga banyak
pabrik pengolahan sawit yang didirikan. Dengan ketersediaan ini akan dapat memenuhi
kebutuhan bahan baku pendirian pabrik surfaktan APG dan layak untuk didirikan di
Indonesia. Dengan demikian pentingnya pendirian pabrik akan mengurangi impor
surfaktan negara Indonesia dari negara lain dan mengurangi ketergantungan dari negara
lain.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Alkil Poliglikosida


Alkil poliglikosida (APG) merupakan surfaktan non-ionik yang ramah lingkungan
karena disintesis dengan menggunakan bahan baku yang berbasis karbohidrat seperti sagu
dan minyak nabati misalnya minyak kelapa sawit. Bahan baku utama untuk memproduksi
APG adalah pati (sagu, tapioka dan sebagainya) atau dekstrosa (berbasis pati-pati tersebut)
dan alkohol lemak (berbasis minyak nabati).
Alkil poliglikosida pertama kali disintesis dan diidentifikasi di laboratorium oleh
Emil Fischer sekitar 100 tahun yang lalu dengan mereaksikan glukosa dan alkohol yang
bersifat hidrofilik seperti metanol, etanol, gliserol, dan lain-lain kemudian mereaksikannya
pada alkohol yang bersifat hidrofobik dengan rantai alkil dari octil (C 8) hingga heksadecil
(C16) yang merupakan sifat dari alkohol lemak. Hasil sintesis yang diperoleh berupa
kumpulan dari alkil mono, poli, dan oliglikosida. Karena kompleksitas inilah maka produk
yang dihasilkan disebut Alkil poliglikosida (Hill 1997). Struktur molekul dari APG
disajikan pada Gambar 2.1

Gambar 2.1 Rumus Molekul Alkil Poliglikosida (Hill, 1997)

Alkil poliglikosida (APG) mempunyai dua struktur kimia. Rantai hidrokarbon yang
bersifat hidrofobik (lipofilik) dan bagian molekul yang bersifat hidrofilik. Sifat rantai yang
hidrofobik disebabkan oleh rantai hidrokarbon tersebut tersusun dari alkohol lemak
(dodekanol/tetradodecanol). Sedangkan, bagian molekul yang bersifat hidrofilik dari APG
disebabkan bagian tersebut tersusun dari molekul glukosa yang berasal dari pati (Hill,
1997).

2.2 Proses-proses Pembuatan Alkil Poliglikosida


Menurut Hill et al. (1997), proses pembuatan Alkil Poliglikosida (APG) dapat
dilakukan dengan tiga cara yaitu:

2
1. Secara langsung yaitu dengan proses satu tahap berupa tahap asetalisasi dengan
bahan baku dekstrosa (gula turunan pati) dan alkohol lemak (fatty alcohol).
2. Secara tidak langsung melalui proses dua tahap yaitu tahap butanolisis dan
transasetalisasi dengan bahan baku pati dan alkohol lemak (fatty alcohol).
3. Secara mikrobial atau enzimatik dimana melibatkan reaksi enzimatik dengan
bioproses.
Perbedaan ketiga proses diatas terletak pada bahan baku yang digunakan serta
tahapan proses yang dilalui hingga menghasilkan produk APG dengan kemurnian yang
berbeda. Berikut diagram alir sintes Alkil Poliglikosida (APG):

Pembuatan APG

Secara Kimia Secara Enzimatik


Proses 1 Proses 2
Tahap
Pati
Butan
Glukosa Pati Fatty Alcohol
Fatty Alcohol
Pelarut
Organi
Asetalisasi Butanolisis
Fatty k
Alcohol
Air Transasetalisasi Glucosylation

Amyloglucosida
Butanol/Ai se
Pemurnian Klorofo Vaccum Filtration
m

APG Alkil Glikosida

Gambar 2.2 Proses Sintesa Alkil Poliglikosida (Hill, 1997)

2.2.1 Proses Satu Tahap (Asetalisasi)


Alkil poliglikosida (APG) merupakan suatu asetal yang diperoleh dari glukosa dan
alkohol rantai panjang (C8 - C22), sehingga proses pengikatan glukosa siklik terhadap

3
alkohol sering disebut reaksi asetalisasi. Salah satu proses asetalisasi bisa melalui
glikosidasi (pembentukan ikatan glikosida) glukosa dengan menggunakan alkohol berlebih
sehingga proses asetalisasi pada sintesa APG sering pula disebut glycosidation. Tahapan
asetalisasi pada sintesa alkil poliglikosida (APG) merupakan tahapan yang sangat penting,
karena pada tahap ini ikatan antara glukosa dan alkohol lemak terbentuk. Secara umum
pada tahapan ini ada tiga bahan baku utama dalam sintesa alkil APG secara langsung yaitu
dekstrosa, alkohol lemak rantai panjang (C8 - C22) dan katalis asam. Sedangkan kondisi
selama reaksi harus pada suhu tinggi dan tekanan rendah.

Gambar 2.3 Proses Sintesis APG Satu Tahap (Hill, 1997)


Proses ini berbasis dekstrosa - alkohol lemak melalui satu tahap berupa tahap
asetalisasi sebelum masing-masing prosedur masuk ke proses pemurnian yaitu proses
netralisasi, distilasi, pelarutan dan pemucatan (Hill 1997). Diagram proses disajikan pada
Gambar 2.4.

Fatty Alcohol

Dekstrosa Asetalisasi Pemurnian APG

Air

Gambar 2.4 Diagram Alir Proses Satu Tahap (Hill, 1997)

4
2.2.2 Proses Dua Tahap (Butanolisis dan Transasetalisasi)
Pembentukan APG pada proses dua tahap menggunakan bahan baku pati dan fatty
alcohol. Tahap pertama, pati direaksikan dengan alkohol rantai pendek yaitu butanol
dengan mengguanakan katalis asam untuk membentuk produk intermediate butil glikosida.
Reaksi pada tahap ini dikenal sebagai reaksi glikosidasi. Tahap kedua berupa reaksi
transasetalisasi yang mereaksikan hasil dari tahap pertama dengan fatty alcohol rantai
panjang, C8 C22 terutama C12 C18 yang merupakan bahan baku alami. Reaksi tahap
kedua dikenal sebagai reaksi transglikosidasi. Setelah tahapan transasetalisasi diperoleh
APG kasar yang kemudian dilanjutkan dengan proses pemurnian. Proses reaksi sintesis
APG dua tahap dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2.5 Proses Sintesis APG Dua Tahap (Hill, 1997)

Proses ini berbasis pati - alkohol lemak melalui dua tahap berupa tahap butanolisis
dan tahap transasetalisasi yang kemudian dilanjutkan dengan proses pemurnian yaitu
proses netralisasi, distilasi, pelarutan dan pemucatan. Diagram proses disajikan pada
Gambar 2.6.

5
Butanol Fatty Alcohol

Pati Butanolisis Transasetalisasi Pemurnian

Butanol/Air APG

Gambar 2.6 Diagram Alir Proses Dua Tahap (Hill, 1997)

2.2.3 Proses Enzimatis


Selain proses 1 tahap dan 2 tahap, alkil poliglikosida dan alkil
glikosida bisa disintesis secara enzimatis menggunakan
amyloglucosidase. Proses yang digunakan dalam memproduksi alkil
poliglikosida adalah proses Glucosylation atau reverse hydrolysis
dengan menggunakan enzim sebagai katalisnya. Selanjutnya dilakukan tahap pemurnian
dengan metode vacuum filtration menggunakan klorofom sebagai pelarut. Terdapat tiga
bahan baku yang digunakan yaitu amyloglucosidase sebagai sumber
enzim, pati sebagai glucosyl donor dan fatty alcohol sebagai glucosyl
acceptor. Berikut reaksi enzimatik dan diagram alir sintesis alkil
glikosida secara enzimatik.

Amyloglucosidase

Starch + water D-Glucose

6
Gambar 2.7 Proses Sintesis Alkil Glikosida secara Enzimatik (Divakar, 2006)

Pelarut Organik (H2O) Klorofom

Pati
Glucosylation Vaccum
Fatty Alcohol
Filtration

Amyloglucosidase Alkil
Enzyme Glikosida

Gambar 2.8 Diagram Alir Proses Enzimatik

Glukosilasi enzimatik biasanya dipengaruhi oleh kondisi termodinamika atau kinetis


yang dikendalikan dengan pelarut bebas, substrat yang tinggi, suhu tinggi dan kondisi
aktivitas air yang tinggi untuk menghasilkan glikosida.

7
BAB III
DASAR PERANCANGAN

3.1 Spesifikasi Bahan Baku


Bahan baku utama pembuatan alkil poliglikosida adalah fatty alcohol, glukosa dan
pati sagu. Berikut spesifikasi bahan bakunya.

3.1.1 Fatty Alcohol


Alkohol lemak (fatty alcohol) dapat diperoleh baik dari sumber petrokimia seperti
parafin dan etilen (alkohol lemak sintetik) atau dari sumber oleokimia seperti lemak dan
minyak nabati (alkohol lemak alami). Alkohol lemak berbasis oleokimia merupakan jenis
alkohol alifatik yang memiliki panjang rantai atom karbon (C8 - C22) yang bersifat mudah

terurai oleh lingkungan dan tidak menimbulkan pencemaran. Alkohol lemak yang
digunakan dalam sintesis APG akan membentuk bagian molekul hidrofobik (Hill et al.
1997).

3.1.2 Glukosa
Glukosa adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber
tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis
dan awal bagi respirasi. Bentuk alami (D-glukosa) disebut juga dekstrosa, terutama pada
industri pangan. Glukosa yang digunakan dalam sintesis APG akan membentuk bagian
molekul hidrofilik. Glukosa (C6H12O6) memiliki berat molekul 180,18 gr/mol, merupakan
heksosa monosakarida yang mengandung enam atom karbon. Bentuk alam (D-glukosa)
disebut juga dektrosa merupakan aldehida (mengandung gugus CHO). Lima karbon dan
satu oksigennya membentuk cincin yang disebut cincin piranosa, bentuk paling stabil
untuk aldose berkarbon enam. Dalam cincin ini, tiap karbon terikat pada gugus samping
hidroksil dan hidrogen kecuali atom kelimanya, yang terikat pada atom karbon keenam di
luar cincin, membentuk suatu gugus CH2OH.

3.1.3 Pati Sagu


Pati merupakan nyawa berbentuk bubuk, berwarna putih, tidak berbau dengan rumus
molekul (C6H10O5)n reaktif terhadap agen oksidasi, stabil pada tekanan dan temperatur
normal. Pati sagu, selain sebagai bahan pangan juga banyak digunakan sebagai bahan baku
pada industri kosmetik, makanan, kertas, dan plastik. Sagu mempunyai keunggulan

8
antara lain dapat disimpan lebih lama, dapat dipanen dan diolah tanpa
mengenal musim, dan jarang terkena hama penyakit.

3.2 Spesifikasi Produk


Produk utamanya adalah alkil poliglikosida yang merupakan surfaktan nonionik yang
dipakai pada beberapa produk seperti herbisida, produk-produk perawatan badan, kosmetik
maupun pemucatan kain tekstil. Surfaktan ini tingkat toksiknya rendah, aman
secara ekologi dan terbuat dari bahan-bahan yang dapat diperbarui.
Alkil Poliglikosida mempunyai dua struktur kimia rantai hidrokarbon yang bersifat
hidfilik dan hidrofobik. Sifat rantai yang hidrofobik disebabkan oleh rantai hidrokarbon
tersebut tersusun dari alkohol lemak sedangkan bagian molekul yang bersifat hidrofilik
tersusun dari molekul glukosa/pati. Berikut spesifikasi produknya.

3.2.1 APG - 0810


Appearance : Cairan berwarna kuning terang
Jumlah rantai karbon (C) : C8 - C10
Solid matter (wt%) : 50 53%
pH : 11,5 12,5
Kadar air : 47 50%
Fatty alcohol residue (wt%) : 1%
Viskositas (25C) : < 500 mPa.s
Densitas (g/cm3, 25C) : 1,07 1,20
Kadar abu : 4%
Critical Micelle Concentration : 1.72 x 10-3 mol/L
(CMC) 500 ppm
Emulsion Stability (s) : 230
Wetting Time (s) : 67
Foam Height (mm) : 20
Foam Half Live (min) : 31
Alkaline Resistance (g/L) : 600
Surface Tension (mN/m) : 27,9

3.2.2 APG - 1214


Appearance : Cairan kental berwarna kuning gelap
Jumlah rantai karbon (C) : C12 - C14
Solid matter (wt%) : 50 53%
pH : 11,5 12,5
Kadar air : 47 50%
Fatty alcohol residue (wt%) : 1%

9
Viskositas (25C) : 2000 mPa.s
Densitas (g/cm3, 25C) : 1,07 1,20
Kadar abu : 4%
Critical Micelle Concentration : 2,973 x 10-4 mol/L
(CMC) 100 ppm
Emulsion Stability (s) : 310
Wetting Time (s) : 53
Foam Height (mm) : 30
Foam Half Live (min) : 210
Surface Tension (mN/m) : 27,1

3.2.3 APG - 0814


Appearance : Cairan kental berwarna kuning gelap
Jumlah rantai karbon (C) : C8 - C14
Solid matter (wt%) : 50 53%
pH : 11,5 12,5
Kadar air : 47 50%
Fatty alcohol residue (wt%) : 1%
Viskositas (25C) : 2000 mPa.s
Densitas (g/cm3, 25C) : 1,07 1,20
Kadar abu : 4%
Alkaline Resistance (g/L) : 600
Surface Tension (mN/m) : 27,1
Critical Micelle Concentration : 40,9 mg/L

3.2.4 APG - 8170


Appearance : Cairan kental berwarna kuning gelap
Jumlah rantai karbon (C) : C8 - C10
Solid matter (wt%) : 70%
pH : 11,5 12,5
Kadar air : 47 50%
Fatty alcohol residue (wt%) : 1%
Viskositas (25C) : 2000 mPa.s
Densitas (g/cm3, 25C) : 1,07 1,20
Kadar abu : 4%

3.2.5 APG - 225


Appearance : Cairan berwarna cokelat gelap
Jumlah rantai karbon (C) : C8 - C10
Solid matter (wt%) : 70%
pH : 11,5 12,5
Kadar air : 47 50%
10
Fatty alcohol residue (wt%) : 1%
Viskositas (25C) : 2000 mPa.s
Densitas (g/cm3, 25C) : 1,07 1,20
Kadar abu : < 4%

3.3 Kapasitas Produksi


Kapasitas produksi ditentukan melalui pertimbangan terhadap permintaan pasar,
harga jual, pertumbuhan produksi global, kebutuhan dalam negeri dan kebutuhan global
terhadap produk yang diproduksi serta kapasitas pabrik yang sudah beroperasi, antara lain:
PT. Aktif Indonesia Indah 100.000 ton/tahun, BASF (Jerman) kapasitas 40.000 ton/tahun
dan Henkel (Jerman) kapasitas 65.000 ton/tahun.
Berikut data statistik kebutuhan impor surfaktan non-ionik Indonesia tahun 2009-
2011 menurut Badan Pusat Statistik (BPS):

3500

3000

2500

2000

Kuantitas (Ton) 1500 f(x) = 2.52x + 1635.23


R = 0
1000

500

Bulan/Tahun

11
Gambar 3.1 Grafik Statistik Impor Surfaktan Non-Ionik Indonesia

Berdasarkan grafik dan data kapasitas pabrik yang sudah beroperasi kami
sekelompok memutuskan bahwa kapasitas produksi Alkil Poliglikosida (APG) adalah
sebesar 50.000 ton/tahun.

3.4 Lokasi Pabrik


Lokasi perencanaan pembangunan pabrik adalah di Kawasan Industri Pelintung,
Dumai. Berdasarkan tata letak, Kota Dumai yang berada dipesisir timur pantai sumatera
sekitar 188 km dari Kota Pekanbaru. Dengan kondisi geografis rata-rata ketinggian adalah
3 meter di atas muka laut, beriklim tropis dengan curah hujan antara 100 - 300 cm dan
suhu udara 24 - 30C dan kondisi tanah rawa bergambut menjadikan Dumai sebagai
wilayah yang sangat strategis untuk berinvestasi. Selain itu, posisi Dumai juga berhadapan
langsung dengan selat tersibuk di Dunia yakni selat malaka yang menjagi High Way laut di
Asia tenggara dan berhadapan dengan tiga negara maju di Asia seperti Malaysia,
Singapura, dan Thailand.

Gambar 3.2 Lokasi Pabrik

12
Saat ini Industri Crude Palm Oil (CPO) atau produk kelapa sawit dan turunannya
masih memiliki harapan menjadi komoditas ekspor unggulan kota Dumai. CPO dapat
diserap oleh pasar dalam jumlah besar dan produksi CPO dapat dilakukan secara
berkelanjutan. Dengan ketersediaan Industri CPO akan memenuhi kebutuhan bahan baku
utama dalam pembuatan APG yaitu alkohol lemak. Dengan begitu pertimbangan bahan
baku utama dapat selalu terpenuhi karena adanya industri-industri CPO yang memproduksi
alkohol lemak dalam skala besar. Sementara itu, di dalam Kawasan Industri Dumai yang
seluas 1.000 hektare, telah dilengkapi dengan jetty dermaga, pembangkit listrik, terminal
bulking palm oil, tanki, pengolahan air bersih, dan pengolahan limbah. Dengan lengkapnya
infrastruktur dan sarana lain akan memudahkan untuk membangun pabrik disana.

3.5 Apek Perlindungan Lingkungan


Dalam membangun pabrik harus mempertimbagkan banyak hal salah satunya aspek
perlindungan lingkungan seperti regulasi lingkungan, pengendalian pencemaran air, dan
kontrol polusi udara, peraturan tentang limbah serta baku mutu standar limbah dan
pengendalian pengolahan limbah.
Untuk mencegah polusi udara perlu dilakukan pembersihan udara dari partikulat
menggunakan cyclone dan pembersihan gas-gas berbahaya bisa dilakukan dengan proses
absorpsi atau adsorpsi. Untuk pencemaran air pada suatu pabrik dapat diatasi dengan tiga
pengolahan yaitu pengolahan secara fisika (sedimentasi, filtrasi, adsorbsi, ultrafiltrasi,
reverse osmosis dan elektrodialisis), kimia (koagulasi, emulsion breaking, presipitasi dan
netralisasi) dan biologi dengan cara melibatkan mikroorganisme. Untuk pengolahan limbah
padat agar tidak berbahaya bagi lingkungan yaitu dengan cara chemical conversion,
insenerasi, pirolisis dan landfill.
Temperatur juga mempengaruhi sifat-sifat bahan seperti densitas, viskositas,
tekanan uap, tegangan permukaan dan difusi gas, untuk itu diperlukan alat untuk mengatur
temperatur salah satunya cooling tower yang berfungsi sebagai alat pendingin. Untuk
mengatasi kebisingan maka diperlukan pengetahuan tentang sumber, sifat-sifat,
karakteristik dari kebisingan itu sendiri.

13
BAB IV
SELEKSI PROSES

4.1 Gross Profit Margin (GPM)


Kelayakan pendirian pabrik Alkil Poliglikosida dari Alkohol Lemak dan Glukosa
diuji secara kasar melalui Gross Profit Margin (GPM). GPM merupakan perkiraan secara
global mengenai keuntungan yang diperoleh dari penjualan produk utama dan produk
samping dikurangi dengan biaya bahan baku, tanpa melihat biaya peralatan, biaya operasi,
dan biaya perawatan.

4.1.1 Proses Satu Tahap


Rx: C6H12O6 + C12H26O C18H36O6+ H2O

Dekstrosa Dodekanol APG Air


C6H12O6 C12H26O C18H36O6 H2O
Kg mol 1 1 1 1
Mr 180 186 348 18
kg/kg of APG 0,518 0,534 1 0,05
Kg (Rp) 10.000 25.607 47.000 -

Gross Profit = (45.000*1) - (25.607*0,534) - (10.000*0,518)


= Rp 28.146/Kg
4.1.2 Proses Dua Tahap
Rx: C6H12O6 + C4H9OH C10H20O6 + H2O
C10H20O6 + C12H26O + H2O C18H36O6 + C4H9OH

Pati Sagu Dodekanol APG Air


C6H12O5 C12H26O C18H36O6 H2O
kg mol 1 1 1 1
Mr 164 186 348 18
kg/kg of APG 0,471 0,534 1 0,05
Kg (Rp) 5.000 25.607 47.000 -

Gross Profit = (45.000*1) - (25.607*0,534) (5.000*0,471)

14
= Rp 30.971/Kg
4.1.3 Proses Enzimatik Amyloglucosidase
Rx: C6H12O6 + H2O Enzyme D-Glucose
D-Glucose + C12H26O Alkil Glikosida
Pati Sagu Dodekanol Alkil Air
C6H12O5 C12H26O Glikosida H2O
kg mol 1 1 1 1
Mr 164 186 348 18
kg/kg of APG 0,471 0,534 1 0,05
Kg (Rp) 5.000 25.607 45.000 -

Gross Profit = (45.000*1) (5.000*0.471) - (25.607*0,534)


= Rp 28.970/Kg

4.2 Ketersediaan Bahan Baku


4.2.1 Proses Satu Tahap
Pada proses satu tahap menggunakan bahan baku alkohol lemak dan glukosa melalui
proses asetalisasi. Glukosa didapat dari pabrik gula dengan harga yang cukup mahal,
sementara alkohol lemak didapatkan dari PT. Ecogreen Oleochemicals dengan kapasitas
produksi 350.000 ton/tahun.

4.2.2 Proses Dua Tahap


Pada proses dua tahap menggunakan bahan baku berupa alkohol lemak dan pati
dengan melalui proses butanolisis dan transasetalisasi. Pati yang digunakan berupa pati
yang berasal dari sagu yang didapat dari PT. Nasional Sago Prima dengan kapasitas
produksi sebesar 33.000 ton pati sagu per tahun sementara alkohol lemak didapatkan dari
PT. Ecogreen Oleochemicals dengan kapasitas produksi 350.000 ton/tahun.

4.2.3 Proses Enzimatis


Pada proses enzimatis menggunakan bahan baku alkohol lemak, pati dan enzim
amyloglucosydase melalui proses asetalisasi. Alkohol lemak didapat dari PT. Ecogreen
Oleochemicals, pati yang berasal dari sagu didapat dari PT. Nasional Sago Prima,
sementara enzim amyloglucosydase dibeli.

4.3 Tipikal Kondisi Proses

15
Ada tiga metode dalam pembuatan APG dimana masing-masing metode memiliki
tipikal kondisi proses yang berbeda seperti yang disajikan pada tabel 4.3.
Tabel 4.1 Kondisi Proses Masing-masing Metode Pembentukan APG
Metode Satu Tahap
Proses Suhu Tekanan Waktu
Reaksi asetalisasi 1-100
50-150 oC 1-8 jam
mmHg
Metode Dua Tahap
Proses Suhu Tekanan Waktu
Butanolisis 140 - 150 0C 4.5-7 bar 30 menit
Transasetalisasi 110 - 120 0C Vakum 2 jam
Metode Enzimatis
Proses Suhu Tekanan Waktu
Enzimatis 40 60
10 35 oC 1 bar
menit

4.4 Konversi dan Selektifitas


Konversi APG untuk metode satu tahap ini sebesar 35.7 % (Mc Curry, 1996).
Selektivitas metode satu tahap ini sendiri dapat ditunjukkan pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Reaksi Pembentukan APG dengan Metode Satu Tahap

Konversi APG untuk metode dua tahap ini sebesar 45 % (A. Siti, 2011). Selektivitas
metode dua tahap ini sendiri dapat ditunjukkan pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2 Reaksi Pembentukan APG dengan Metode Dua Tahap

16
Konversi APG untuk metode enzimatis ini sebesar 36 % (Divakar, 2006).
Selektivitas metode enzimatis ini sendiri dapat ditunjukkan pada Gambar 4.3.

Amyloglucosidase

Starch + water D-Glucose

Gambar 4.3 Reaksi Pembentukan APG dengan Metode Enzimatis

4.5 Utilitas
Pendirian lokasi pabrik yang berada pada daerah industri oleokimia sudah tersedia
dengan baik sehingga dapat menjamin ketersediaan sistem utilitas yang dibutuhkan baik itu
listrik dan sumber air. Listrik berguna untuk menjalankan peralatan dan fasilitas-fasilitas
pabrik, sedangkan air berguna untuk umpan proses dan sanitasi di dalam pabrik. Namun
terdapat perbedaan utilitas yang diperlukan untuk metode pembuatan alkil poliglikosida
seperti yang di tampilkan pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 Perbandingan Sitem Utilitas Metode Satu Tahap dan Dua Tahap
Metode
Proses
Satu Tahap Dua Tahap
Butanolisis - Pompa untuk menaikkan tekanan
dari 1 bar menjadi 4,5 bar
Heater untuk menaikkan suhu dari
25 oC menjadi 150 oC
Transasetilasi Heater untuk menaikkan Expander untuk menurunkan
suhu dari 25 oC menjadi 150 tekanan dari 4,5 bar menjadi vakum
o
C

17
Netralisasi - Cooler untuk mendinginkan suhu
dari 150 oC menjadi 80 oC
Distilasi Expander untuk menurunkan Heater untuk menaikkan suhu dari
tekanan dari 1 atm menjadi 25 oC menjadi 140 oC
vakum
Pelarutan - Pompa untuk menaikkan tekanan
menjadi 1 atm
Cooler untuk mendinginkan dari
suhu 140 oC menjadi 80 oC
Pemucatan - Pompa untuk mengaliran hydrogen
peroksida kedalam tanki bleaching

4.6 Produk Samping dan Limbah yang Dihasilkan


Pada metode satu tahap menghasilkan produk samping polybasic acid esther dan air.
Metode dua tahap menghasilkan produk samping gula hasil degradasi yang berwarna
coklat dan juga air. Sedangkan metode enzimatis menghasilkan produk samping air.
Limbah dari proses pembuatan APG dengan metode satu tahap adalah sisa sisa
senyawa hasil reaksi yaitu polybasic acid esther. Limbah dari proses pembuatan APG
dengan metode dua tahap adalah katalis PTSA, alkohol lemak, air, NaOH, H 2O2 dan MgO.
Dengan banyaknya limbah pada metode dua tahap ini maka diperlukan unit pengolahan
limbah. Hal ini juga membutuhkan bayak biaya untuk alat pengolahan limbah mengingat
bahwa tidak semua limbahnya aman untuk langsung dibuang ke lingkungan. Limbah dari
proses pembuatan APG dengan metode enzimatis adalah sisa enzim, alkohol lemak dan air.
Proses pengolahan limbah pada metode ini tidak serumit metode dua tahap.
Dari analisa kami jika dilihat dari aspek produk samping dan limbah maka metode
enzimatis yang paling aman untuk dilakukan. Namun, mengingat bahwa konversi APG
dari metode ini sangat kecil maka kami memilih metode dua tahap untuk pembuatan APG
karena konversinya yang cukup besar.

4.7 Proses Pendukung


Pada proses sintesis APG terdapat proses pemurnian. Proses pemurnian dilakukan
untuk memperoleh APG yang memiliki penampakan lebih murni, karena aplikasi APG saat
ini lebih banyak digunakan pada industri personal care product yang menuntut kondisi
fisik APG yang lebih menarik dan memiliki kinerja yang bagus. Untuk proses metode satu
tahap dan dua tahap proses pemurniannya sama yaitu tahap pemurnian dengan cara

18
netralisasi, distilasi, pelarutan dan pemucatan. Namun untuk metoda enzimatis pemurnian
dilakukan dengan cara vaccum filtration menggunakan klorofom sebagai pelarut.

4.8 Proses yang Terpilih


Karena dilihat berdasarkan GPM, ketersediaan bahan baku, tipikal kondisi proses,
dan konversi reaksi maka proses 2 tahap lebih baik untuk diterapkan dalam pendirian
pabrik. Pada proses 1 tahap GPM yang didapatkan = Rp 28.146,- pada proses 2 tahap GPM
yang didapatkan = Rp 30.971,- dan pada proses enzimatik GPM yang didapatkan Rp
28.970,- seperti yang ditampilkan pada tabel dibawah.

Tabel 4.3 Rangkuman Proses Pembuatan Alkil Poliglikosida


Kriteria Teknologi Proses
1 Tahap 2 Tahap Enzimatik
GPM Rp 28.146,-/kg Rp 30.971,-/kg Rp 28.970,-
Pati, fatty
alcohol, dan
Glukosa dan fatty Pati, fatty alcohol,
Bahan Baku enzim
alcohol dan buatnol
amyloglucosidas
e
Tipikal Kondisi Butanolisis dan
Asetalisasi Glucosylation
Proses Transasetalisasi
Konversi (%) 35,7 45 36
Sistem Utilitas Listik dan Air Listik dan Air Listik dan Air

Produk Samping Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada

Proses Pendukung Pemurnian Pemurnian Pemurnian

4.9 Uraian Proses yang Terpilih


Adapun alur proses produksi Alkil Poliglikosida dengan proses 2 tahap adalah
sebagai berikut :
Reaksi Butanolisis
Reaksi butanolisis (glikosidasi) merupakan reaksi antara monosakarida (sumber pati
sagu) dan butanol dengan mengguanakn katalis asam untuk membentuk produk
intermediate butil glikosida. Selama proses reaksi butanolisis terjadi pemisahan air
(H2O). Pemilihan katalis pada proses sintesis APG bertujuan untuk mempercepat /
memperpendek proses sintesis APG. Selain itu juga sangat menentukan keberhasilan
terbentuknya ikatan asetal. Katalis yang dipilih dalam proses sintesis APG adalah
katalis organik asam p-toluena sulfonat. Katalis asam p-toluena sulfonat bersifat bisa
diurai oleh lingkungan, dan merupakan jenis asam lemah. Penggunaan asam lemah
bertujuan untuk menghindari adanya kemungkinan bereaksi asam dengan

19
menghidrolisa glukosa. Penggunaan asam lemah ini juga akan memudahkan dalam
proses netralisasi. Selain itu asam p-toluena sulfonat juga bersifat tidak korosif
terhadap pipa besi ataupun stainless steel (Hill dkk., 1997).
Reaksi Transasetalisasi
Reaksi transasetalisasi (transglikosidasi) merupakan reaksi antara produk butil
glikosida hasil dari proses butanolisis dengan fatty alcohol / alkohol rantai panjang
(C8-C22) dengan katalis asam. Pada proses reaksi transasetalisasi ini, gugus butil pada
produk butil glikosida akan diganti dengan gugus alkil pada alkohol rantai panjang
sehingga membentuk produk Alkil Poliglikosida (APG). Selama proses reaksi
transasetalisasi butanol dan air akan menguap.
Netralisasi
Tahapan netralisasi bertujuan untuk menghentikan proses tranasetalisasi dengan
menambahkan basa hingga tercapai suasana basa yaitu pada pH sekitar 8-10.
Netralisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara antarra lain dengan penetralan
menggunakan alkali, natrium karbonat, ammonia ataupun dengan menggunakan uap
(deacidifikasi). Netralisasi dengan alkali terutama dengan NaOH sering dilakukan
pada industry karena lebih efisien dan lebih murah. Penggunaan larutan sodium
hidroksida (NaOH) sangat dianjurkan karena NaOH tidak bereaksi terhadap alkohol
atau produk. Selain itu, proses penambahannya lebih mudah karena berbentuk
larutan dan tidak memerlukan penyaringan untuk menghilangkan garam yang
tebentuk.
Distilasi
Tahapan distilasi bertujuan untuk menghilangkan fatty alcohol yang tidak ikut
bereaksi. Proses distilasi ini memerlukan suhu tinggi dan tekanan rendah untuk
memisahkan / menguapkan fatty alcohol yang tidak ikut bereaksi. Proses distilasi ini
dapat dilakukan pada suhu sekitar 140 - 180 C dengan tekanan sekitar 0,1 - 2
mmHg, tergantung fatty alcohol yang digunakan. Semakin panjang rantai fatty
alcohol maka semakin tinggi suhu dan semakin rendah tekanan yang dibutuhkan.
Pada tahapan destilasi diharapkan memperoleh kandungan fatty alcohol sekecil
mungkin pada produk APG yaitu kurang dari 5 % dari berat produk. Kelebihan fatty
alcohol yang tidak bereaksi pada produk akan mengurangi efektifitas kerja dari
surfaktan APG. Hasil akhir dari proses distilasi akan diperoleh produk surfaktan APG
kasar berbentuk pasta yang bewarna kecoklatan dan berbau kurang enak. Oleh
karena itu perlu dilakuakn proses pemurnian untuk memperoleh APG yang memiliki
penampakan yang lebih baik dan bau yang tidak terlalu menyengat.
Pemucatan (Bleaching).

20
Proses pemucatan (bleaching) merupakan salah satu tahap pemurnian surfaktan APG
yang dilakukan sebagai tahap akhir proses sintesis surfaktan APG. Proses pemucatan
bertujuan untuk membuat penampakan dan bau surfaktan APG yang lebih baik.
Proses pemucatan dilakukan dengan menambahkan larutan H2O2 ditambah air dan
NaOH hingga diperoleh produk dengan pH 8-10. Proses bleaching dilakukan pada
suhu 80 90 C selama 30 120 menit pada tekanan normal (Hill, 1997).

Gambar 4.4 Diagram Alir Proses Dua Tahap


BAB V
KESIMPULAN

1. Pembuatan Alkil Poliglikosida dari glukosa dan alkohol lemak terdiri atas 3 proses yaitu
satu tahap, dua tahap, dan enzimatik.
2. Proses yang terpilih yaitu menggunakan proses dua tahap dengan bahan baku alkohol
lemak dan pati sagu.
3. Kapasitas produksi Alkil Poliglikosida pada perancangan ini sebesar 50.000 ton/tahun
dengan nilai gross profit margin sebesar Rp. 30.971/Kg Alkil Poliglikosida

21