Anda di halaman 1dari 7

Ringkasan Chapter 1 buku Accounting ethic (oleh Ronald Duska, Brenda Shay

Duska,Julli anne Ragatz ; 2011) dan Artikel Kasus Enron

Akuntansi adalah teknik yang dalam prakteknya disebut juga sebuah seni yang
dikembangkan untuk membantu orang memonitor atau mengelola transaksi ekonominya.
Akuntansi memberikan orang gambaran keuangan atas organisasi atau kegiatan mereka.

Menurut Duska dalam buku Accounting Ethics, ada empat makna dasar dari kata etika, yaitu:

1. Disiplin terhadap apa yang baik dan buruk dan dengan tugas moral serta kewajiban.

2. Seperangkat prinsip-prinsip moral atau nilai-nilai

3. Sebuah teori atau sistem atas nilai-nilai moral

4. Prinsip atas pengaturan prilaku suatu individu atau kelompok

Sedangkan Bertens menyatakan bahwa etika dapat juga didefinisikan sebagai nilai-nilai dan
norma-norma yang menjadi pegangan untuk seseorang/kelompok dalam mengatur tingkah
lakunya.

Dari pengertian diatas mengisyaratkan bahwa etika memiliki peranan penting dalam
menjalankan segala tindakan yang disepakati oleh masyarakat. Dalam prakteknya, terkadang
penerapan nilai etika hanya dilakukan sebatas untuk persetujuan atas standar moral yang telah
disepakati untuk tidak dilanggar. Norma moral yang menjadi standar masyarakat untuk
menentukan baik buruknya perilaku dan tindakan seseorang, terkadang hanya dianggap suatu
aturan yang disetujui bersama tanpa dipertimbangkan mengapa aturan-aturan moral tersebut
harus kita patuhi. Untuk itu, pemikiran-pemikiran yang lebih mendalam mengenai alasan-
alasan mengapa kita perlu berperilaku yang etis sesuai dengan norma-norma moral yang telah
disepakati, melahirkan suatu bentuk teori etika yang menyediakan kerangka untuk
memastikan benar tidaknya keputusan moral kita.

Akuntansi dalam arti orang Yunani kuno disebut etos, yang artinya kebiasaan atau konvensi.
Akuntansi adalah suatu teknik yang dilakukan untuk membantu orang-orang dalam
memonitor/mengelola transaksi-transaksi ekonominya. Akuntan menyediakan informasi yang
dapat digunakan sesuai kebutuhan masing masing pemakai. Dimana informasi keuangan nya
akan digunakan oleh pengguna internal dan eksternal untuk hal-hal tertentu seperti
mengambil keputusan bagi pemilik/pengelola perusahaan. Pemakai informasi keuangan yaitu
pihak manajemen (pemilik, manager), kreditor, pemasok, pemerintah, investor, pelanggan
dan masyarakat. Manager menggunakan informasi ini untuk membantu mereka dalam
merencanakan dan mengendalikan kinerja perusahaannya. Kreditor memakai informasi ini
untuk mempertimbangkan berapa banyak dana yg bias dipinjamkan kepada organisasi,
apakah akan terjamin dibayar atau tidak. Pemasok dan investor dengan informasi ini dapat
melihat.menilai tingkat pengembalian atas investasi mereka dan seberapa baik kinerja
keuangan perusahaan tersebut.

Informasi keuangan yang mereka hasilkan ini adalah laporan keuangan, yang diharapkan
dapat memberikan gambaran keuangan yang reliabel dan berguna bagi semua pengguna nya.
Pedoman dari penyususnan laporan keuangan ini didasarkan pada FASB (Financial
Accounting Standarts Board). Seorang akuntan dapat melayani kepentingan pihak yang
menyewa akuntan lebih dari kebutuhan lainnya. Tergantung pada teknik yang digunakan,
akuntan perusahaan dapat membuat sebuah organisasi terlihat lebih baik atau lebih buruk.
Untuk tujuan pinjaman, dapat dibuat untuk terlihat lebih baik. Untuk tujuan pajak dapat
dibuat agar terlihat lebih buruk. Kita akan kembali ke isu gambaran yang tepat itu seperti apa.

Pada umumnya ada empat komponen laporan keuangan:


Laporan posisi keuangan
Laporan laba/rugi
Laporan perubahan ekuitas
Laporan arus kas
Laporan posisi keuangan memiliki tiga unsur yaitu asset (aset lancer dan aset tetap),
Kewajiban (kewajiban lancer dan kewajiban jangka panjang) dan ekuitas pemilik yaitu dana
yang disediakan oleh pemilik organisasi, dan hasil akumulasi laba atau rugi yang dihasilkan
selama bertahun-tahun. Total asset sama dengan total kewajiban (total kewajiban ditambah
dengan total ekuitas pemilik), persamaan ini menjelaskan bagaimana aset dibiayai: dengan
meminjam uang (kewajiban) atau dengan uang pemilik (ekuitas pemilik).
Aset dan kewajiban dapat diklasifikasikan menjadi lancer atau tidak lancar. Aset tidak lancar
adalah piutang dan aktiva tetap seperti tanah, bangunan, dan panjang - investasi jangka. Aset
lancar meliputi kas, jumlah piutang, persediaan, dan aset lainnya yang diharapkan untuk
dikonsumsi atau mudah dikonversi menjadi uang tunai dalam siklus operasi berikutnya.
ekuitas pemilik terdiri atas saham biasa atau saham preferen, modal yang dibayar, dan laba
ditahan.
Laporan laba/rugi akan menunjukkan laba bersih (keuntungan) ketika pendapatan lebih besar
dari pada beban, dan akan mrugi apabila pendapattan lebih kecil dari beban-bebannya.
Laporan perubahan ekuitan menjelaskan bagaimana perubahan ekuitas yang terjadi selama
satu periode. Terdiri dari saldo awal modal (yang tercantum pada laporan posisis keuangan)
di tambah/dikurangi dengan laba/rugi, dan prive.
Ada beberapa teknik yang dapat dimanfaatkan akuntan dalam membuat atau menyelesaikan
laporan keuangannya yaitu:
Net income: laba bersih menunjukkan perubahan dalam kekayaan perusahaan, selama
periode waktu, dari semua sumber selain suntikan atau penarikan dana investasi
Transaction approach: Pendekatan ini mengakui sebagai pendapatan hanya
peningkatan kekayaan (yang dapat dibuktikan) dari data yang berkaitan dengan
transaksi yang sebenarnya yang telah terjadi dengan orang di luar perusahaan.
Pengakuan penghasilan: yang melibatkan estimasi pendapatan dan perkiraan biaya.
akuntan perlu memperkirakan persentase penjualan kotor, mengakui bahwa untuk
beberapa pembayaran barang yang akan diterima. Biaya Perkiraan didasarkan pada
biaya historis dari sumber daya yang dikonsumsi.
Historical cost less depreciation: Untuk menentukan nilai aset, perlu adanya
penyusutan beberapa item
Cost of goods solf formula (HPP): untuk menentukan harga pokok penjualan, akuntan
dapat menggunakan salah satu dari beberapa metode pengukuran: (A) FIFO (first in,
first out). Dalam FIFO, biaya barang yang dijual sama dengan total biaya berbagai
batch barang yang tersedia, dimulai dengan batch yang paling pertama dalam
persediaan. (B) LIFO (last in first out). Kebalikan dari FIFO, LIFO berarti bahwa item
yang paling baru-baru ini dibeli dicatat sebagai dijual pertama. (C) Biaya rata-rata.
Dalam metode ini, diasumsikan bahwa biaya persediaan didasarkan pada biaya rata-
rata dari barang yang tersedia untuk dijual selama periode pelaporan. Rata-rata biaya
ditentukan dengan membagi total biaya barang yang tersedia untuk dijual dengan total
unit yang tersedia untuk dijual.
Dengan berbagai penjelasan diatas dapat dijelaskan bahwa profesi akuntansi dikembangkan
untuk memberikan gambaran yang benar dan akurat mengenai informasi keuangan
organisasi. Bagaimana proses pengelolaan, pengungkapan hingga pengauditan laporan
keuangannya harus dijalankan dengan jujur dan etis. Akuntan juga harus menjalankan
prakteknya secara etik, jujur, dan sesuai dengan norma yang berlaku umum.

Kasus Enron dan KAP Anderson

Enron Corporation adalah sebuah perusahaan energi Amerika yang didirikan tahun
1985 di Houston, Texas, Amerika Serikat. Enron merupakan hasil merger antara
perusahaan Houston Natural Gas dan InterNorth, sebuah perusahaan pipa di Nebraska. Pada
saat itu, Enron dipimpin oleh Kenneth Lay sebagai CEO dan hanya berkecimpung dalam
industri pipa gas yang merupakan penjual gas alam terbesar pada tahun 1992 di Amerika
Utara, dengan menghasilkan laba sebelum pajak sebesar $122 juta, dan merupakan
penyumbang kedua terbesar dalam laba usaha perusahaan.

Selama proses merger antara Houston Natural Gas dan Internorth, Enron
Coorporation mempunyai hutang yang cukup besar. Tahun 1987 Enron memiliki hutang
sampai dengan 75% dari nilai pasar saham. Kenneth Lay sebagai CEO Enronn saat itu
berkonsultasi dengan Mc.Kinsey & Co. Dimana Mc Kinsey
menugaskan konsultannya Jeffrey Skilling. Tahun 1989, Kenneth Lay mempekerjakan Jeffrey
Skilling untuk menjadi kepala departemen keuangan Enron. Enron kemudian menjadi
pemediasi antara pembeli dan penjual yang diharapkan dapat mengurangi risikonya dengan
menawarkan kontrak pada penjual untuk membeli minyak mereka dengan harga tetap dalam
beberapa tahun dan kontrak pada pembeli dengan harga minyak yang sama ditambah nilai
keuntungan untuk Enron. Hal ini kemudian dikembangkan ke bidang lain seperti di bidang
perlistrikan, batu bara, pulp kertas, alumunium, baja, obat-obatan, kayu, air, broadband, dan
plastik. Diperhitungkan terdapat 1.800 produk yang ditangani.

Semakin lama Enron semakin maju, sehingga pada 1990 Jeff Skilling yang telah
diangkat sebagai CEO Enron merekrut seorang ahli keuangan yang bernama Andrew Fastow
untuk membantu bisnisnya. Andrew Fastow menggunakan nilai kelebihan kontrak sebagai
pendapatan. Andrew dan KAP Arthur Anderson bekerjasama dan menyiapkan serial limited
partnership (perusahaan rekanan terbatas) yang disebut Special Purpose Entities. Aturan
akuntansi memungkinkan bahwa perusahaan dapat tidak mencantumkan special purpose
entitieZ pada laporan keuangan, asalkan terdapat suatu pihak yang dapat mengontrol
penyelenggaraannya serta memiliki setidaknya 3 persen nilai special purpose entity. Pada
tahun 1999, Enron mendirikan 3 SPE yaitu Chewco Investment LP, LJM Cayman LP, dan
LJM 2 Cp-Investment. Tahun 2000 Enron mengumumkan bahwa perusahaannya berhasil
memperoleh pendapatan bersih setelah pajak sebesar $1.01 Milyar. Selanjutnya Enron
menempatkan sahamnya sebesar $62 juta kedalam 3 SPE tersebut.

Entitas khusus ini kemudian mengajukan sejumlah hutang dengan jaminan saham
enron, tetapi mereka mencatat hutang sebagai pendapatan (dengan menganggap itu sebagai
nilai kelebihan kontrak). Karna tingginya pendapatan dan tidak begitu besar nilai hutang yang
dicantumkan Enron, maka pemegang saham percaya bahwa Enron tidak mengalami lonjakan
hutang. Mereka juga percaya bahwa Enron menghasilkan lagi yang baik serta
mengalami peningkatan tiap tahunnya yang dikuatkan dengan pernyataan KAP Arthur
Anderson bahwa laporan Enron adalah akurat.

Pada 2001 Jeffrey Skilling secara tiba-tiba mengundurkan diri sebagai president dan
CEO dengan alasan pribadi bersamaan dengan harga saham jatuh ke nilai $47 per saham. .
Sherron Watikins (wakil presiden Enron) pada 22 Agustus secara pribadi menemui
Kenneth Lay dan bagian hukum dan mengirimkan enam halaman surat yang menjelaskan
ketidakberesan terkait entitas khusus dan memperingatkan mereka, namun Kenneth Lay dan
pengacaranya justrul mengumumkan pada pekerja dan investor bahwa pertumbuhan Enron di
masa mendatang baik, dan menganjurkan pada investor untuk terus menanamkan saham di
Enron dan menjual secara diam-diam saham mereka bersama dengan eksekutif lainnya saat
itu. Sheron Watkins mencoba menghubungi temannya di Arthur Anderson untuk
mendiskusikan masalah ini pada kepala auditor, namun tidak ada tanggapan. Hal ini membuat
saham Enron semakin lama semakin anjlok.

Pada 12 Oktober 2001, Enron mengumumkan mengambil alih hutang dan aset entitas
khusus, hal ini menurunkan $544 juta atas laba dan mengurangi nilai ekuitas pemegang
saham dengan $1.2 milyar. Seminggu berikutnya, 22 Oktober, komisi sekuritas
mengumumkan akan menginvestigasi entitas tujuan khusus Enron. Hari
berikutnya, Andrew Fastow diberhentikan. Pada tanggal 8 November 2001,
Enron mengumumkan akan melaporkan ulang semua laporan keuangan sejak tahun 1997.
Laporan ulang tersebut diperkirakan menurunkan ekuitas pemegang saham sebesar $2.1
milyar dan meningkatkan hutang $2.6 juta.

Pada tanggal 16 Oktober 2001, Enron menerbitkan laporan keuangan triwulan ketiga.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa laba bersih Enron telah meningkat menjadi $393 juta,
naik $100 juta dibandingkan periode sebelumnya. CEO Enron, Kenneth Lay, menyebutkan
bahwa Enron secara berkesinambungan memberikan prospek yang sangat baik. Ia juga tidak
menjelaskan secara rinci tentang pembebanan biaya akuntansi khusus (special accounting
charge/expense) sebesar $1 miliar yang sesungguhnya menyebabkan hasil aktual pada
periode tersebut menjadi rugi $644 juta. Ternyata mengenai beban $1 miliar tersebut berasal
dari transaksi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang didirikan oleh CFO Enron.

Tanggal 2 Desember 2001 Enron mendaftarkan kebangkrutan perusahaan ke


pengadilan dan memecat 5000 pegawai. Pada saat itu terungkap bahwa terdapat hutang
perusahaan yang tidak di laporkan senilai lebih dari satu milyar dolar. Dengan pengungkapan
ini nilai investasi dan laba yang di tahan (retained earning) berkurang dalam jumlah yang
sama. Enron dan KAP Andersen dituduh telah melakukan kriminal dalam bentuk
penghancuran dokumen yang berkaitan dengan investigasi atas kebangkrutan Enron sehingga
terjadi penghambatan terhadap proses peradilan. dimana sebelumnya Enron menyatakan
bahwa periode pelaporan keuangan yang bersangkutan tersebut, perusahaan mendapatkan
laba bersih sebesar $ 393, padahal pada periode tersebut perusahaan mengalami kerugian
sebesar $ 644 juta yang disebabkan oleh transaksi yang dilakukan oleh perusahaan-
perusahaan yang didirikan oleh Enron.
Perlu diketahui, Enron merupakan salah satu perusahaan besar pertama yang
melakukan outsourcing secara total atas fungsi internal audit perusahaan, hal ini dapat dilihat
dari : 1) Mantan Chief Audit Executif Enron (Kepala internal audit) semula adalah partner
KAP Andersen yang di tunjuk sebagai akuntan publik perusahaan. 2) Direktur keuangan
Enron berasal dari KAP Andersen, dan 3) Sebagian besar Staf akunting Enron berasal dari
KAP Andersen.
CEO Enron, Kenneth Lay mengundurkan diri pada tanggal 2 Januari 2002 akan tetapi masih
dipertahankan posisinya di dewan direktur perusahaan. Pada tanggal 4 Pebruari Mr. Lay
mengundurkan diri dari dewan direktur perusahaan. Tanggal 28 Pebruari 2002 KAP Andersen
menawarkan ganti rugi 750 Juta US dollar untuk menyelesaikan berbagai gugatan hukum
yang diajukan kepada KAP Andersen.

Kecurangan yang dilakukan oleh Arthur Andersen telah banyak melanggar prinsip
etika profesi akuntan diantaranya yaitu melanggar prinsip integritas dan perilaku profesional.
KAP Arthur Andersen tidak dapat memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik sebagai
KAP yang masuk kategoti The Big Five dan tidak berperilaku profesional serta konsisten
dengan reputasi profesi dalam mengaudit laporan keuangan dengan melakukan penyamaran
data. Selain itu Arthur Andesen juga melanggar prinsip standar teknis karena tidak
melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang
relevan.

Setelah Kasus Enron terkuak oleh publik, hal ini menyebabkan dicabutnya izin KAP
Arthur Andersen oleh Otoritas Keuangan Amerika Serikat. Dan tidak lama setelah kasus ini,
terjadi juga kasus serupa seperti Tyco, Global Crossing, WorldCom, Xerox Corp, dll. Yang
mana semua kejadian tersebut mencemarkan nama baik profesi akuntan public yang
seharusnya independen. Atas dasar tersebut, Parlemen Amerika Serikat pada tanggal 23
Januari 2001 mengeluarkan ketentuan di bidang jasa akuntan publik yang terkenal sebagai
Sarbanes Oxley Act.

Pembelajaran dari Kasus Enron dan KAP Anderson

Publik, pers, dan pihak legislatif sangat terkejut atas kebangkrutan Enron. Aakuntan
publik independen telah berpartisipasi dengan manajer Enron dalam membuktikan laporan
keuangan yang menyimpang sehingga telah menyebabkan kritik kuat dari pihak akuntan
publik umumnya. Para kritikus akan menuntut pembentukan terhadap lembaga pemerintah
untuk mengatur pengungkapan laporan keuangan. Segala lembaga memiliki wewenang untuk
membuat laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum dan standar
audit, review dan laporan keuangan harus terdaftar semua. SEC juga dapat mendisiplinkan
CPA yang menandatangani pernyataan tersebut, baik dengan menolak untuk menerima
pernyataan mereka, menandatangani, atau dengan menangguhkan atau melarang mereka dari
praktek SEC. SEC dapat melakukan investigasi dan merekomendasikan tindakan perdata atau
pidana ke Departemen Kehakiman.

Namun demikian, beberapa aturan tambahan telah diusulkan. Termasuk melarang perusahaan
terkait CPA untuk mengaudit laporan keuangannya sendiri, menawarkan klien mereka jasa
keuangan lainnya (seperti persiapan pajak, audit internal, analisis sistem, dukungan litigasi,
dan perencanaan keuangan). CPA individu yang didominasi oleh non-akuntan mungkin
merekomendasikan atau memberikan sanksi tambahan terhadap mereka.

Kesimpulan (Kasus Enron dan KAP Anderson)

GAAP Amerika Serikat terstruktur dan dikelola oleh SEC, FASB, dan AICPA, yang secara
substansial bertanggung jawab atas kasus keuangan Enron. Enron dan auditor eksternalnya
merasa nyaman dalam mengikuti persyaratan akuntansi yang ditentukan untuk menentukan
pengkonsolidasian SPEnya (entitas khusus mereka). Dimana SEC memiliki tanggung jawab
dan kesempatan untuk mengubah aturan-aturan nya untuk mencerminkan fakta diketahui
bahwa perusahaan yang menggunakan cara ini untuk menutup kewajiban mereka di laporan
posisi keuangan sehingga terlihat hutangnya tidak begitu besar dengan pendapatan yang terun
meningkat dan stabil, meskipun perusahaan mensponsori secara substansial (sering hampir
seluruhnya) bertanggung jawab atas kewajiban yang SPE.

GAAP di UK, mengharuskan auditor untuk melaporkan secara '' Benar dan adil '' dari kondisi
keuangan suatu perusahaan menjadi lebih baik untuk seperti yang ditentukan oleh model AS.
Model AS memungkinkan - bahkan mendorong - pejabat perusahaan untuk melihat
persyaratan akuntansi seolah-olah mereka ditentukan dalam taxcode. Untuk pajak,
menghindari kewajiban pajak dengan cara apapun secara hukum tidak hanya diterima, tapi
merupakan kewajiban dari perusahaan bertindak dalam kepentingan pemegang saham
mereka. Enron tampaknya telah mengambil pendekatan yang sama akuntansi (kecuali bahwa
apa yang dilakukan adalah merugikan pemegang saham). Penjaga gerbang (Vinson & Elkins
dan Andersen) tampaknya telah pergi bersama dan bahkan mungkin berpartisipasi dalam
pendekatan ini akuntansi.

Sarbanes Oxley Act


Di akhir abad ke 20 sampai dengan awal abad ke 21, terjadilah skandal akuntansi
terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Skandal ini melibatkan perusahaan-perusahaan
besar yang telah go publik di Amerika Serikat seperti Enron, Worldcom, Adelphia, Tyco
International, dan Peregrine System. Skandal ini yang menyebabkan kerugian bilyunan dolar
bagi investor karena runtuhnya harga saham perusahaan-perusahaan yang terpengaruh ini
mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap pasar saham nasional. Tidak hanya pasar
saham nasional USA saja yang terpengaruh, tetapi juga segera meluas ke berbagai negara
lainnya karena harga-harga saham bursa lain serta tingkat kepercayaan masyarakat pada pasar
saham global juga anjlok secara keseluruhan. Skandal-skandal ini merupakan contoh yang
sangat menyedihkan bagaimana fraud scheme berdampak sangat buruk bagi investor, pasar,
pegawai, dan masyarakat secara keseluruhan.
Sebagai jawaban tuntutan publik atas terjadinya skandal perusahaan besar yang juga
ternyata melibatkan Kantor Akuntan Publik yang termasuk dalam kelompok Big Five
seperti Arthur Anderson, PWC, dan KPMG tersebut, disahkanlah Sarbanes-Oxley Act pada
tahun 2002. Akta (Undang-undang) ini diberi nama sesuai dengan dua pencetusnya yaitu,
Paul Sarbanes (Senator partai Demokrat dari negara bagian Maryland) dan Michael G.Oxley
(Representatif partai Republik asal negara bagian Ohio).
Undang-undang ini ditandatangani dan disahkan oleh George W. Bush pada tanggal
30 Juli 2002 dalam Ascotiation Certified Fraud Examiner (ACFE) Annual Fraud Conference
ke 14 di Chicago, Illinois. Undang-undang ini merupakan terobosan yang sangat besar bagi
penilaian corporate governance sekaligus merupakan pelengkap Securities Act of 1933 dan
1934. Undang-undang ini diharapkan membawa dampak yang positif bagi Akuntan Publik
Bersertifikat (CPA), Kantor Akuntan Publik (KAP), perusahaan-perusahaan yang telah go
publik, dan lain-lain.
Pada dasarnya pemerintah mengatur perusahaan melalui berbagai cara. Tujuannya
adalah agar perusahaan-perusahaan dapat bersaing secara sehat, tidak merugikan masyarakat
secara umum, dan juga tidak merusak lingkungan secara berlebihan. Secara lebih terinci,
Suradi dalam Mengenal Sarbanes Oxley Act (SOX/SOA)menyatakan bahwa tujuan
pengaturan berkaitan dengan lima hal:
1. Mengatur persaingan (regulate competition)
2. Melindungi konsumen (protect consumers)
3. Mendorong keadilan dan keselamatan (promote equity and safety)
4. Melindungi lingkungan alam (protect natural environment)
5. Adanya etika untuk mencegah dan menegakkan hukum terhadap tindakan ilegal (ethics to
deter and provide for enforcement againts misconduct)