Anda di halaman 1dari 52

WRAP UP SKENARIO 3

BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

PEMBIAYAAN KESEHATAN

Kelompok: A-01

KETUA : Ardiandhy Rukhma Megananda 1102012027

SEKRETARIS : Ibramu Al Furqan 1102012115

ANGGOTA : Affy Syifarani 1102012008

Ajeng Dwi Restiantie 1102012013

Andriani Purwaningrum 1102012022

Dewa Ayu Bulan Nabila 1102012059

Dita Pangesti Nur Anggraini 1102012070

Fitriana Dyah Lestari 1102012093

Halimatusakdiah 1102012104

Listiyani 1102012145

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

2014/2015

1
SKENARIO

PEMBIAYAAN KESEHATAN

Dr. Ahmad, 31 tahun, praktek di sebuah klinik dokter keluarga yang bekerja sama dengan
BPJS. Klinik ini dikelola dengan baik sehingga dalam waktu yang relatif singkat mengalami
kemajuan yang cukup pesat dan dikenal luas di masyarakat. Suatu hari klinik ini dikunjungi
seorang pasien, Ny. A, 38 tahun dengan kehamilan trimester 1 pada G5P2A2. Pasien ingin
melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin di klinik Dr. Ahmad karena pasien mendapat
informasi bahwa pelayanan di klinik ini baik. Pasien mempunyai keluhan sering mual, muntah,
lemas, cepat lelah dan sesak. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan fisik bersama bidan.
Pada pemeriksaan ditemukan bahwa kandungan dalam kondisi yang baik namun ibu tampak
pucat, takikardi, murmur, takipnea, dan terdapat nyeri tekan epigastrium.
Dr. Ahmad menyarankan agar pasien mengikuti pemeriksaan ANC yang teratur dan
menjelang partus kelak pasien akan dirujuk ke spesialis Obgyn yang sudah bekerja sama dengan
klinik dokter keluarga tersebut. Pasien menanyakan ke dokter tentang pilihan pembiayaan
persalinan, mengingat kemungkinan membutuhkan biaya yang lebih besar.

2
KATA SULIT

1. BPJS: Jaminan sosial yang dibentuk pemerintah untuk memberikan jaminan ke


masyarakat
2. Rujukan: Upaya melimpahkan wewenang dan tanggung jawab, penanganan kasus
penyakit yang sedang ditangani dokter kepada dokter lainnya

PERTANYAAN

1. Apa saja metode pembiayaan kesehatan?


2. Berapa macam sistem rujukan? Sebutkan?
3. Bagaimana alur klinik bekerja sama dengan BPJS?
4. Bagaimana alur penggunaan BPJS?
5. Apa saja tujuan pembiayaan kesehatan?
6. Bagaimana pengelolaan klinik dokter keluarga yang baik?
7. Bagaimana adab dan tata cara menangani pasien dalam islam?
8. Apa saja rincian penyakit yang di tanggung BPJS?
9. Apa saja kerjasama yang dilakukan oleh dokter keluarga dan dokter spesialis?
10. Apa saja kriteria klinik dokter keluarga yang baik?

JAWABAN

1. Kapitasi, fee for service, dan cash payment.


2. a. Rujukan medis: pasien, ilmu pengetahuan, dan bahan pemeriksaan lab
b. Rujukan kesehatan masyarakat: tenaga, sarana, dan operasional
3. Pengajuan izin pada kantor BPJS Survey dari pihak BPJS persetujuan
4. Puskesmas merujuk ke RS umum. Dari RS umum merujuk ke RS pusat. Apabila
kasus emergensi bisa langsung merujuk ke RS umum tanpa melalui puskesmas.
5. Supaya setiap warga negara memiliki akses pelayanan kesehatan yang memadai,
terjangkau, kapan saja, dan dimana saja.
6. a. peningkatan dan pengembangan kemampuan staf medis
b. peningkatan dan pengembangan kemampuan staf non medis
c. ramah terhadap pasien
7. Meminta persetujuan pasien, menjaga rahasia, dan apabila dokter laki-laki yang
memeriksa pasien perempuan, maka dokter tersebut harus didampingi oleh perawat
perempuan.
Syarat : membayar iuran BPJS, daftarkan diri ke BPJS
8. Penyakit layanan primer yaitu dengan SKDI 4A, obat kemoterapi, thalassemia, dan
hemofili. Terkecuali kasus emergensi.
9. Merujuk pasien, memberikan pengobatan.

3
10. Sesuai dengan standar pelayanan dokter keluarga.

HIPOTESA

Dokter
praktek di
klinik
dokter
keluarga
Adab dan tatacara
Ditangani sendiri menangani pasien
dalam islam
Pasien
4
banyak
Sistem rujukan Alur rujukan

Manajem
en dokter
keluarga

Pribadi

Sistem
pembiaya
an
kesehata
BPJS
n

SASARAN BELAJAR

LO 1. Memahami dan Menjelaskan Standar Pemeriksaan Pasien dalam Dokter Keluarga

LO 2. Memahami dan Menjelaskan Manajemen Klinik Dokter Keluarga

LO 3. Memahami dan Menjelaskan Sistem Pembiayaan Kesehatan

LO 4. Memahami dan menjelaskan Sistem Rujukan dalam Klinik Dokter Keluarga

5
LO 5. Memahami dan menjelaskan Hubungan Dokter dengan Mitra Kesehatan di Klinik Dokter
Keluarga

LO 6. Memahami dan Menjelaskan Adab dan Tatacara Menangani Pasien dalam Islam

LO 1. Memahami dan Menjelaskan Standar Pemeriksaan Pasien dalam Dokter Keluarga

1) Anamnesis
Pelayanan dokter keluarga melaksanakan anamnesis dengan pendekatan pasien
(patient-centered approach) dalam rangka memperoleh keluhan utama pasien,
kekhawatiran dan harapan pasien mengenai keluhannya tersebut, serta memperoleh
keterangan untuk dapat menegakkan diagnosis

6
2) Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Dalam rangka memperoleh tanda - tanda kelainan yang menunjang diagnosis atau
menyingkirkan diagnosis banding, dokter keluarga melakukan pemeriksaan fisik
secara holistik; dan bila perlu menganjurkan pemeriksaan penunjang secara rasional,
efektif dan efisien demi kepentingan pasien semata.

3) Penegakkan diagnosis dan diagnosis banding


Pada setiap pertemuan, dokter keluarga menegakkan diagnosis kerja dan beberapa
diagnosis banding yang mungkin dengan pendekatan diagnosis holistik.

4) Prognosis
Pada setiap penegakkan diagnosis, dokter keluarga menyimpulkan prognosis pasien
berdasarkan jenis diagnosis, derajat keparahan, serta tanda bukti terkini (evidence
based).

5) Konseling
Untuk membantu pasien (dan keluarga) menentukan pilihan terbaik penatalaksanaan
untuk dirinya, dokter keluarga melaksanakan konseling dengan kepedulian terhadap
perasaan dan persepsi pasien (dan keluarga) pada keadaan di saat itu.

6) Konsultasi
Pada saat - saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan konsultasi ke dokter lain
yang dianggap lebih piawai dan / atau berpengalaman. Konsultasi dapat dilakukan
kepada dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, atau dinas
kesehatan, demi kepentingan pasien semata.

7) Rujukan
Pada saat - saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan rujukan ke dokter lain yang
dianggap lebih piawai dan/atau berpengalaman. Rujukan dapat dilakukan kepada
dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, rumah sakit atau
dinas kesehatan, demi kepentingan pasien semata.

8) Tindak lanjut
Pada saat - saat dinilai perlu, dokter keluarga menganjurkan untuk dapat dilaksanakan
tindak lanjut pada pasien, baik dilaksanakan di klinik, maupun di tempat pasien.

9) Tindakan

7
Pada saat - saat dinilai perlu, dokter keluarga memberikan tindakan medis yang
rasional pada pasien, sesuai dengan kewenangan dokter praktik di strata pertama, dan
demi kepentingan pasien.

10) Pengobatan rasional


Pada setiap anjuran pengobatan, dokter keluarga melaksanakannya dengan rasional,
berdasarkan tanda bukti (evidence based) yang sahih dan terkini, demi kepentingan
pasien.

11) Pembinaan keluarga


Pada saat - saat dinilai bahwa penatalaksanaan pasien akan berhasil lebih baik, bila
adanya partisipasi keluarga, maka dokter keluarga menawarkan pembinaan keluarga,
termasuk konseling keluarga.

LO 2. Memahami dan Menjelaskan Manajemen Klinik Dokter Keluarga

Jenis Klinik Dokter Keluarga :


a. Klinik keluarga mandiri (free-standing family clinic)
- Dapat dilaksanakan secara solo
- Bersama sama dalam satu kelompok
b. Klinik keluarga merupakan bagian dari rumah sakit (satelite family clinic)

Hal hal essensial yang harus dipenuhi :


a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan primer
b. Terletak ditempat strategis (mudah dicapai dengan kendaraan umum)
c. Bangunannya memenuhi syarat untuk pelayanan kesehatan
d. Dilengkapi dengan sarana administratif yang memenuhi
syarat
e. Dilengkapi dengan sarana komunikasi
f. Mempunai sejumlah tenaga dokter yang telah lulus pelatihan DK
g. Mempunyai sejumlah tenaga pembantu klinik dan paramedi telah lulus
pelatihan pembantu DK

8
Program menjaga mutu adalah suatu upaya yang berkesinambunagn, sistematis
dan objektif dalam memantau dan menilai pelayanan yang diselenggrakan dibandingkan
dengan standar yang telah ditetapkan, serta menyelesaikan masalah yang ditemukan
untuk memperbaiki mutu pelayanan. (Maltos and Keller, 1989)
Karakteristik program menjaga mutu ada empat macam :
1) Program menjaga mutu harus dilakukan secara berkesinambungan. Artinya
pelaksanaan program menjaga mutu tidak hanya satu kali, tetapi harus terus menerus.
Dalam kaitan perlunya memenuhi sifat berkesinambungan, program menjaga mutu
sering pula disebut dengan nama program meningkatkan mutu berkelanjutan
(continous quality improvement program).
2) Program menjaga mutu harus dilaksanakan secara simpatis. Artinya pelaksanaan
program menjaga mutu harus mengikuti alur kegiatan serta sasaran yang baku. Alur
kegiatan yang dimaksud dimulai dengan menetapkan masalah dan penyebab masalah
mutu, dilanjutkan dengan menetapkan dan melaksanakan upaya penyelesaian
masalah, untuk kemudian diakhiri dengan melakukan penilaian serta menyusun
saran-saran untuk tindak lanjut. Sedangkan sasaran yang dimaksud adalah semua
unsur pelayanan yakni lingkungan, masukan proses serta keluaran pelayanan.
3) Program menjaga mutu harus dilaksanakan secara objektif. Artinya pelaksanaan
program menjaga mutu, terutama pada waktu menetapkan masalah penyebab
masalah dan penilaian, tidak dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan lain. Kecuali
atas dasar data yang ditemukan. Untuk menjamin objektifitas, dipergunakanlah
berbagai standar dan indikator.
4) Program menjaga mutu harus dilakukan secara terpadu. Artinya pelaksanaan
program menjaga mutu harus terpadu dengan pelayanan yang diselengarakan,
bukanlah program menjaga mutu yang baik. Karena adanya sifat terpadu ini.
Program menjaga mutu disebut pula sebagai manajamen mutu terpadu (total quality
management).

Unsur program menjaga mutu banyak macamnya. Unsur-unsur yang dimaksud :


1) Mutu pelayanan. Mutu pelayanan yang dimaksud adalah menunjuk kepada tingkat
kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggrakan, yang disatu pihak dapat
menimbulkan kepuasan pada setiap pasien sesuai dengan tinkat kepuasan rata-rata
penduduk, serta dipihak lain tata cara penyelengaraannya sesuai dengan kode etik
dari standar pelayanan profesi yang telah ditetapkan.

9
2) Sasaran program menjaga mutu. Untuk melaksanakan hal ini diperkukan empat
hal :
a. Unsur masukan. Yang dimaksud adalah semua hal yang diperlukan untuk dapat
menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Yang termasuk dalam hal ini adalah
tenaga pelaksana, sarana dan dana.
b. Unsur lingkungan. Yang dimakud lingkungan adalah keadaan sekitar yang
mempengaruhi pelayanana kesehatan. Untuk satu saran pelayanan kesehatan
yang terpenting adalah kebijakan (policy), struktur organisasi (organization) serta
sistem manajemen (management) yang diterapkan.
c. Unsur proses. Yang dimaksud dengan unsur proses disini adalah semua tindakan
yang dilakukan pada pelayanan kesehatan. Tindakan ini secara umum dapat
dibedakan atas dua macam. Pertama, tindakan medis (medical procedure)
mulaidari anamesis sampai dengan pengobatan. Kedua, tindakan nonmedis (non
medical procedure) seperti tata cara rekam medis, persetujuan tindakan medis,
penerimaan dan perawatan pasien dan lain selanjutnya yang seperti ini.
d. Unsur keluaran. Yang dimaksud denganunsur keluaran adalah yang menunjukan
pada penampilan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan. Penampilan
pelyanan tersebut dibedakan atas dua macam :
a) Penampilan aspek media (medical performance) seperti misalnya
kesembuhan penyakit, kecacatan dan atau kematian.
b) Penampilan aspek nonmedis (non mediacal performance) seperti misalnya
kepuasan dan keluhan pasien.

Fungsi dasar manajemen :

10
Perencanaan (Planning) merupakan tahap awal dalam langkah - langkah untuk
mencapai suatu tujuan, visi, misi, program, dsb. Selanjutnya adalah dengan membentu
kepanitian (Organizing) untuk mengatur waktu, biaya, SDM ataupun SDA. Tahap
berikutnya adalah dengan melakukan aksi (Actuating) atas apa yang sudah kita
rencanakan serta mengontrolnya (Controling) sehingga berjalan dengan baik. Langkah
terakhir adalah dengan melakukan peninjauan (Evaluation) kegiatan untuk mengetahui
kekurangan ataupun kesalahan sehingga kita dapat memperbaikinya. Semua hal inilah
yang disebut dengan POACE.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa POACE merupakan suatu konsep
yang terdiri dari langkah - langkah yang digunakan sebagai acuan untuk menjalankan
sesuatu kegiatan sesuai yang dikehendaki. Langkah - langkahnya terdiri dari : Planning,
Organizing, Actuating, Controling dan Evaluation.
Namun apa kaitannya dengan Lingkungan Hidup ? POACE akan sangat berguna
karena dalam Lingkungan Hidup tentu membutuhkan tujuan untuk menumbuhkan
kesadaran - kesadaran pada manusia tentang pentingnya kehidupan yang ada di muka
bumi sehingga bisa merubah perilaku atau pola kehidupan manusia ke arah yang lebih
baik. Dalam hal ini tentu diperlukan adanya suatu program untuk mengendalikan /
mengubah pemikiran masyarakat sehingga bisa lebih menghargai Lingkungan Hidup.
Program - program Lingkungan Hidup terikat oleh tempat dan waktu sehingga disinilah
peran POACE akan terjadi.

Berikut langkah - langkah dalam POACE untuk pengembangan program Lingkungan


Hidup.
1. Planning
" Sebuah kebaikan yang tidak terencana akan kalah dengansebuah kejahatan yang
terencana dengan baik. "
Suatu kegiatan mustahil dilakukan tanpa adanya perencanaan. Untuk membuat
program diperlukan perencanaan yang matang dari segi kelemahan, kelebihan,
hambatan, tujuan dan manfaat dari program tersebut. Agar suatu program dapat
berjalan dengan sukses diperlukan perencanaan dengan pertimbangan yang matang.

11
Perencanaan membutuhkan suatu konseptor yang benar - benar memiliki kemampuan
dan pemahaman terhadap kegiatan yang akan diadakan. Planning juga berperan
dalam pembuatan jadwal kegiatan agar suatu program berjalan sesuai yang
diharapkan.
Dalam program Lingkungan Hidup. Planning membutuhkan sarana manajemen
yang terdiri dari 6 M, yakni :
- Men : SDM yang dimiliki oleh suatu program/organisasi. Tanpa ada manusia
tidak ada proses kerja. Oleh karena itu manajemen timbul karena adanya
orang - orang bekerja untuk mencapai tujuan. Dalam program Lingkungan
Hidup perlulah direkrut orang - orang yang memang berkomitmen untuk
menciptakan suatu tujuan yang baik dan bermanfaat
- Money : Uang merupakan suatu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang
digunakan untuk menggaji tenaga kerja dan membeli alat - alat yang
dibutuhkan selama menjalankan Program Lingkungan Hidup. Dalam hal ini
sebagai program yang bergerak secara independen ataupun dibawah naungan
pemerintah. Dana dapat dicari dalam bentuk hibah maupun diajukan dalam
bentuk proposal untuk mendapatkan sponsor. Dari ke-6M sarana manajemen,
Uang merupakan sesuatu hal yang paling rumit dalam proses mewujudkan
Planning
- Material : Bahan Program Lingkungan Hidup terdiri dari bahan setengah jadi
(raw material) dan bahan jadi. Dalam Program Lingkungan Hidup untuk
mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya
juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana.
Bahan dapat didapatkan dengan menemukan bahan yang telah tersedia.
- Machine : Mesin digunakan untuk memberi kemudahan atau menciptakan
efesiensi kerja dalam Program Lingkungan Hidup.
- Metode : Suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya Program
Lingkungan Hidup. Sebuah metode dapat dinyatakan sebagai penetapan cara
pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan-
pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan
waktu, serta uang dan kegiatan Program Lingkungan Hidup. Perlu diingat
meskipun metode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak
mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan

12
memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam langkah ini tetap
manusianya sendiri.
- Market : Memasarkan bukan hanya dalam bentuk produk, namun juga dapat
dilakukan dengan pemberian informasi mengenai terbentuknya suatu program
sehingga bisa ditujukan kepada orang - orang yang tepat. Pelaksanaan
Program Lingkungan Hidup haruslah diketahui masyarakat karena tujuan
program ini diadakan adalah untuk masyarakat itu sendiri. Penyebarluasan
informasi tentang Program Lingkungan Hidup dapat dilakukan dengan cara
sosialisasi yang sudah terjadwal.

2. Organizing
" Jika anda gagal dalam memepersiapkan, maka anda mempersiapkan untuk
kegagalan."
Dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan
yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan
pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas yang
telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan
tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-
tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, dan
pada tingkatan mana keputusan harus diambil.
3. Actuating
" Perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah kecil. "
Pelaksanaan dari sebuah kegiatan merupakan puncak dari hasil kerja sama sebuah
kepanitiaan, dengan harapan sebuah tim kepanitiaan dapat saling membantu dan
memberikan solusi terhadap suatu masalah yang terjadi antara panitia satu dengan
yang lain. Sehingga, dalam keadaan seperti apapun, kegiatan dapat berjalan dengan
lancar dan sukses.

Untuk itu maka dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas dan kerjasama. Semua sumber
daya manusia yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai visi, misi dan program
kerja organisasi. Pelaksanaan kerja harus sejalan dengan rencana kerja yang telah
disusun. Kecuali memang ada hal-hal khusus sehingga perlu dilakukan penyesuian.
Setiap SDM harus bekerja sesuai dengan tugas, fungsi dan peran, keahlian dan

13
kompetensi masing-masing SDM untuk mencapai visi, misi dan program kerja
organisasi yang telah ditetapkan.
4. Controlling
" Lelah itu pasti, namun menyerah itu pilihan. Sesungguhnya banyak orang yang
tidak tahu betapa dekatnya mereka dengan kesuksesan saat mereka memutuskan
untuk menyerah. "
Merupakan pengendalian semua kegiatan dari proses perencanaan, pengorganisasian
dan pelaksanaan, apakah semua kegiatan tersebut memberikan hasil yang efektif dan
efisien serta bernilai guna dan berhasil guna dalam program Lingkngan Hidup.
5. Evaluating
" Belajarlah dari pengalaman karena pengalaman adalah guru yang baik. "
Jika seluruh kegiatan telah selesai, maka yang dilakukan selanjutnya adalah evaluasi.
Mengapa hal ini diperlukan, karena dengan adanya setiap permasalahan atau
kekurangan yang terjadi dapat diketahui dan dikumpulkan sebagai arsip, sehingga
pada kegiatan serupa yang selanjutnya dapat dijadikan pelajaran dan diharapkan
untuk kegiatan yang selanjutnya tidak terulang permasalahan yang serupa. Evaluasi
minimal dilakukan sekali di akhir kegiatan. Namun, perlu juga dilakukan evaluasi
dipertengahan pelaksanaan kegiatan, tanpa mengganggu jalannya kegiatan. Evaluasi
juga merupakan salah satu sarana controling ketika kegiatan berlangsung.

Klinik Dokter Keluarga


a. Merupakan klinik yang menyelenggarakan Sistem Pelayanan Dokter Keluarga
(SPDK)
b. Sebaiknya mudah dicapai dengan kendaraan umum. (terletak di tempat strategis)
c. Mempunyai bangunan yang memadai, d) Dilengkapi dengan saraba komunikasi,
d. Mempunyai sejumlah tenaga dokter yang telah lulus pelatihan DK
e. Mempunyai sejumlah tenaga pembantu klinik dan paramedis telah lulus perlatihan
khusus pembantu KDK
f. Dapat berbentuk praktek mandiri (solo) atau berkelompok.
g. Mempunyai izin yang berorientasi wilayah
h. Menyelenggarakan pelayanan yang sifatnya paripurna, holistik, terpadu, dan
berkesinambungan
i. Melayani semua jenis penyakit dan golongan umur
j. Mempunyai sarana medis yang memadai sesuai dengan peringkat klinik ybs.

14
Manajemen klinik

Peningkatan Kemampuan & Pengembangan Staf


o Bentuk: Kursus, pelatihan, pendidikan formal,dll
o Bentuk Lain: Selia Bestari (peer review) di antara sesama staf (medis dan non-
medis) Pengaturan: Bisa dibuat perjanjian tersendiri
o Proses: berdasarkan permintaan karyawan atau kebutuhan KDK
Untuk tenaga medis
o PKB (pendidikan kedokteran berkelanjutan) Seminar, Simposium, Lokakarya.
o Peer Review: Pembahasan kasus secara EBM
o Kursus singkat untuk satu ketrampilan tertentu (ATLS, ACLS, EKG,
Kepemimpinan, dll)
o Pendidikan formal (S2 Aktuaria, S2 Kesehatan Kerja, dll)
Untuk paramedis
o Kursus keperawatan
o Peer Review: Diskusi kelompok
o membahas satu masalah (rutin)
o Kursus Manajemen pengelolaan

15
o keperawatan di klinik (asuhan keperawatan,dll)
o Pendidikan formal seperti Akademi Keperawatan, Akademi Kebidanan, dll
Untuk tenaga non-medis
o Kursus penggunaan alat tertentu
o Kursus Manajemen laboratorium,
o Pemeriksaan Kesehatan Berkala

Pendidikan Formal seperti Akademi Penata Rontgen, AKK, Kursus perpajakan

Sistem Pelayanan Dokter Keluarga ( SPDK )

Untuk menunjang tugas dan wewenang nya diperlukan Sistem Pelayanan Dokter
Keluarga yang terdiri atas komponen :
a. Dokter keluarga yang menyelenggarakan pelayanan primer di klinik Dokter Keluarga
(KDK)
b. Dokter Spesialis yang menyelenggarakan pelayanan sekunder di klinik Dokter
Spesialis (KDSp)
c. Rumah sakit rujukan
d. Asuransi kesehatan/ Sistem Pembiayaan
e. Seperangkat peraturan penunjang.

Dalam sistem ini kontak pertama pasien dengan dokter akan terjadi di KDK yang
selanjutnya akan menentukan dan mengkoordinasikan keperluan pelayanan sekunder jika
dipandang perlu sesuai dengan SOP standar yang disepakati. Pasca pelayanan sekunder,
pasien segera dirujuk balik ke KDK untuk pemantauan lebih lanjut. Tata
selenggarapelayanan seperti ini akan diperkuat oleh ketentuan yang diberlakukan dalam
skema JPKM/asuransi.

Pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga banyak macamnya. Secara
umum dapat dibedakan atas tiga macam:
1. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga hanya
pelayanan rawat jalan saja. Dokter yang menyelenggarakan praktek dokter keluarga
tersebut tidak melakukan pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di rumah atau
pelayanan rawat inap di rumah sakit. Semua pasien yang membutuhkan pertolongan
diharuskan datang ke tempat praktek dokter keluarga. Jika kebetulan pasien tersebut
memerlukan pelayanan rawat inap, pasien tersebut dirujuk ke rumah sakit.

16
2. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien dirumah.
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga
mencakup pelayanan rawat jalan serta pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di
rumah. Pelayanan bentuk ini lazimnya dilaksanakan oleh dokter keluarga yang tidak
mempunyai akses dengan rumah sakit.

3. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien di rumah,


serta pelayanan rawat inap di rumah sakit.
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga telah
mencakup pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien di rumah, serta
perawatan rawat inap di rumah sakit. Pelayanan bentuk ini lazimnya diselenggarakan
oleh dokter keluarga yang telah berhasil menjalin kerja sama dengan rumah sakit
terdekat dan rumah sakit tersebut memberi kesempatan kepada dokter keluarga untuk
merawat sendiri pasiennya di rumah sakit.

Tentu saja penerapan dari ketiga bentuk pelayanan dokter keluarga ini tidak sama
antara satu negara dengan negara lainnya, dan bahkan dapat tidak sama antara satu
daerah lainnya. Di Amerika Serikat misalnya, pelayanan kunjungan dan perawatan
pasien di rumah mulai jarang dilakukan. Penyebabnya adalah karena mulai timbul
kesadaran pada diri pasien tentang adanya perbedaan mutu pelayanan antara
kunjungan dan perawatan pasien di rumah dengan di tempat praktek. Pasien akhirnya
lebih senang mengunjungi tempat praktek dokter, karena telah tersedia pelbagai
peralatan kedokteran yang dibutuhkan.
Di beberapa negara lainnya, terutama di daerah pedesaan, karena dokter keluarga
tidak mempunyai akses dengan rumah sakit, maka dokter keluarga tersebut hanya
menyelenggarakan pelayanan rawat jalan saja. Pelayanan rawat inap dirujuk sertakan
sepenuhnya kepada dokter yang bekerja dirumah sakit. Tetapi pengaturan rujukan
untuk pelayanan rawat inap tersebut, tetap dilakukan oleh dokter keluarga. Dokter
keluarga memberikan bantuan sepenuhnya, dan bahkan turut mencarikan tempat
perawatan dan jika perlu turut mengantarkannya ke rumah sakit.
Sekalipun pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga tidak sama,
perlulah diingatkan bahwa orientasi pelayanan dokter keluarga yang diselenggarakan
tetap tidak boleh berbeda. Orientasi pelayanan dokter keluarga bukan sekedar
menyembuhkan penyakit, tetapi diarahkan pada upaya pencegahan penyakit. Atau

17
jika tindakan penyembuhan yang dilakukan, maka pelaksanaannya, kecuali harus
mempertimbangkan keadaan pasien sebagai manusia seutuhnya, juga harus
mempertimbangkan pula keadaan sosial ekonomi keluarga dan lingkungannya.
Praktek dokter keluarga tidak menangani keluhan pasien atau bagian anggota badan
yang sakit saja, tetapi individu pasien secara keseluruhan

LO 3. Memahami dan Menjelaskan Sistem Pembiayaan Kesehatan

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial
Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme asuransi
kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2004 tentang SJSN dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan
masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran
atau iurannya dibayar oleh Pemerintah.
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) adalah suatu tata cara penyelenggaraan program
jaminan sosial oleh beberapa badan penyelenggara jaminan sosial.
Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) adalah Dewan yang berfungsi untuk membantu
Presiden dalam perumusan kebijakan umum dan sinkronisasi penyelenggaraan Sistem
Jaminan Sosial Nasional.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan adalah badan hukum yang
dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan. BPJS Kesehatan mulai
operasional pada tanggal 1 Januari 2014.

Semua penduduk Indonesia wajib menjadi peserta jaminan kesehatan yang dikelola oleh BPJS
termasuk orang asing yang telah bekerja paling singkat enam bulan di Indonesia dan telah
membayar iuran.

Peserta BPJS Kesehatan ada 2 kelompok yaitu:

1. PBI Jaminan Kesehatan.

Penerima Bantuan Iuran (PBI) adalah peserta Jaminan Kesehatan bagi fakir miskin dan orang
tidak mampu sebagaimana diamanatkan UU SJSN yang iurannya dibayari Pemerintah sebagai
peserta program Jaminan Kesehatan. Peserta PBI adalah fakir miskin yang ditetapkan oleh
Pemerintah dan diatur melalui Peraturan Pemerintah.

18
2. Bukan PBI jaminan kesehatan.

Peserta bukan PBI jaminan kesehatan terdiri dari:

1. Pekerja penerima upah dan anggota keluarganya.


2. Pekerja bukan penerima upah dan anggota keluarganya.
3. Buka pekerja dan anggota keluarganya

BPJS memberikan manfaat sebagai berikut:


Pelayanan Promotif, Preventif yaitu: penyuluhan, Imunisasi (BCG, DOT-HB, Polio dan
Campak), Keluarga Berencana (kontrasepsi, vasektomi dan tubektomi) dan skrining
kesehatan (selektif).
Pelayanan Kuratif dan Rehabilitatif, termasuk obat dan bahan medis, yaitu (1) Rawat Jalan
dengan dokter spesialis dan subspesialis, dan (2) Rawat Inap di ruang intensif dan non
intensif.
Manfaat Non Medis meliputi akomodasi dan ambulans.

Prosedur BPJS

Pendaftaran Bagi Penerima Bantuan Iuran / PBI

Pendataan Fakir Miskin dan Orang Tidak mampu yang menjadi peserta PBI dilakukan oleh
lembaga yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan di bidang statistik (Badan Pusat Statistik)
yang diverifikasi dan divalidasi oleh Kementerian Sosial.

Selain peserta PBI yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, juga terdapat penduduk yang
didaftarkan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan SK Gubernur/Bupati/Walikota bagi Pemda
yang mengintegrasikan program Jamkesda ke program JKN.

Pendafataran Bagi Peserta Pekerja Penerima Upah / PPU

1. Perusahaan / Badan usaha mendaftarkan seluruh karyawan beserta anggota keluarganya


Kantor BPJS Kesehatan dengan melampirkan :

19
a. Formulir Registrasi Badan Usaha / Badan Hukum Lainnya
b. Data Migrasi karyawan dan anggota keluarganya sesuai format yang ditentukan oleh
BPJS Kesehatan.
2. Perusahaan / Badan Usaha menerima nomor Virtual Account (VA) untuk dilakukan
pembayaran ke Bank yang telah bekerja sama (BRI/Mandiri/BNI)
3. Bukti Pembayaran iuran diserahkan ke Kantor BPJS Kesehatan untuk dicetakkan kartu
JKN ataumencetak e-ID secara mandiri oleh Perusahaan / Badan Usaha.

Pendaftaran Bagi Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah / PBPU dan Bukan Pekerja

Pendaftaran PBPU dan Bukan Pekerja


1. Calon peserta mendaftar secara perorangan di Kantor BPJS Kesehatan
2. Mendaftarkan seluruh anggota keluarga yang ada di Kartu Keluarga
3. Mengisi formulir Daftar Isian Peserta (DIP) dengan melampirkan:
Fotokopi Kartu Keluarga (KK)
Fotokopi KTP/Paspor, masing-masing 1 lembar
Fotokopi Buku Tabungan salah satu peserta yang ada didalam Kartu Keluarga
Pasfoto 3 x 4, masing-masing sebanyak 1 lembar.
4. Setelah mendaftar, calon peserta memperoleh Nomor Virtual Account
5. Melakukan pembayaran iuran ke Bank yang bekerja sama (BRI/Mandiri/BNI)
6. Bukti pembayaran iuran diserahkan ke kantor BPJS Kesehatan untuk dicetakkan kartu
JKN.

Pendaftaran Bukan Pekerja Melalui Entitas Berbadan Hukum (Pensiunan


BUMN/BUMD)

Proses pendaftaran pensiunan yang dana pensiunnya dikelola oleh entitas berbadan
hukum dapat didaftarkan secara kolektif melalui entitas berbadan hukum yaitu dengan
mengisi formulir registrasi dan formulir migrasi data peserta.

20
Untuk dapat tercatat sebagai anggota, masyarakat harus mendaftar melalui kantor
BPJS Kesehatan dengan membawa kartu identitas (KTP) serta pasfoto. Setelah mengisi
formulir pendaftaran dan membayar iuran lewat bank (BRI, BNI dan Mandiri), calon anggota
akan mendapat kartu BPJS Kesehatan yang bisa langsung digunakan untuk mendapat
pelayanan kesehatan.

Mendaftar BPJS Mandiri Online memang disarankan, untuk mengurangi antrian di kantor
BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Dengan adanya sistem pendaftaran online,
diharapkan masyarakat juga tidak membutuhkan waktu atau bahkan harus izin bekerja hanya
untuk mendaftar JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Pendaftaran BPJS secara Online bisa
dilakukan selama 24 jam, sehingga tentu sangat menguntungkan.

Karena Program ini wajib, dan sangat penting diikuti oleh masyarakat Indonesia pada
kesempatan ini, Admin Tips Kesehatan untuk Keluarga akan berbagi pengalaman bagaimana
pendaftaran BPJS online, yang bisa dilakukan tidak lebih dari 1 jam.

Hal-hal yg harus dipersiapkan sebelum melakukan Pendaftaran Peserta BPJS Kesehatan


secara Online, adalah sebagai berikut:

Kartu Tanda Penduduk

Kartu Keluarga

Kartu NPWP (kalau ada)

Alamat E-mail (sebaiknya gmail.com )dan No. HP yg bisa dihubungi

Nomor Rekening Penanggung yang digunakan untuk pembayaran Iuran (Mandiri, BRI,
BNI)

Alur Pelayanan BPJS adalah sebagai berikut:

Peserta BPJS membawa kartu BPJS Kesehatan atau kartu anggota Askes yang lama
mendatangi fasilitas kesehatan tingkat pertama tempat peserta terdaftar, (Puskesmas,
dokter keluarga, klinik TNI/Polri, dan fasilitas kesehatan setingkat itu). Pada tahap ini

21
peserta akan mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kompetensi dan kapasitas fasilitas
kesehatan di tingkat pertama tersebut (seperti konsultasi kesehatan, laboratorium klinik
dasar dan obat-obatan).
Apabila setelah pemeriksaan awal pasien belum sembuh, maka pasien dirujuk ke fasilitas
kesehatan tingkat lanjutan (Rumah Sakit Pemerintah, Rumah Sakit Swasta, Rumah Sakit
TNI-Polri yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan). Sedangkan untuk kondisi gawat
darurat, peserta BJPS bisa mendapatkan pelayanan fasilitas kesehatan tingkat lanjutan,
tanpa mendapatkan rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Di fasilitas Kesehatan Tingkat lanjutan, peserta menunjukkan kartu BPJS Kesehatan atau
kartu lama dan surat rujukan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama kepada petugas BPJS
kesehatan Center. Selanjutnya petugas akan menerbitkan surat Eligibilitas Peserta (SEP)
sebagai dokumen yang menyatakan bahwa peserta dirawat dengan biaya BPJS
Kesehatan.
Setelah mendapatkan SEP, pasien akan mendapatkan pelayanan kesehatan di Fasilitas
Kesehatan Tingkat Lanjutan, baik untuk pelayanan rawat jalan ataupun rawat inap.
Apabila penyakit pasien dapat ditangani tanpa harus mendapatkan perawatan inap, pasien
boleh pulang atau dirujuk kembali ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. Sedangkan
untuk pasien dengan penyakit kronis, dapat masuk ke dalam program Pengelolaan
Penyakit Kronis (Prolanis) di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama tersebut.

Prosedur Umum

22
Prosedur Pelayanan Rawat Jalan di Faskes Tingkat Pertama

Prosedur Pelayanan Kesehatan di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan

23
Prosedur Pelayanan Obat

Prosedur Pelayanan Alat Kesehatan

24
Prosedur Kerjasama Faskes dengan BPJS Kesehatan

Prosdeur Klaim Pelayanan Kesehatan

25
Sistem Biaya

Iuran yang dibayarkan ke bank disesuaikan dengan jenis kepesertaan, yang diantaranya adalah:

26
Anggota yang terdaftar sebagai penerima bantuan iuran (PBI), (adalah anggota pekerja
penerima upah dan bukan penerima upah, dan ada pula bukan pekerja), jumlahnya sudah
ditetapkan oleh pemerintah sebanyak 86,4juta orang dengan iuran Rp19.225 per orang
dalam satu bulan.

Peserta penerima upah seperti pekerja perusahaan swasta, membayar jumlah iuran
sebesar 4,5 % dari upah satu bulan dan ditanggung oleh pemberi kerja 4 persen dan 5%
ditanggung pekerja. Sedangkan PNS dan pensiunan PNS membayar iuran sebesar 5 %,
sebanyak 3 % ditanggung pemerintah dan 2 % ditanggung pekerja.

Untuk peserta bukan penerima upah seperti pekerja sektor informal besaran iuran yang
harus dibayarkan, sesuai dengan jenis kelas perawatan yang diambil. Untuk ruang
perawatan kelas III Rp 25.500, kelas II Rp 42.500 dan kelas I Rp59.500.

Dengan adanya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh BPJS bertujuan untuk memberikan
perlindungan kesehatan agar setiap peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan .
Pengertian definisi jaminan kesehatan, dengan prinsip asuransi social berdasarkan:

Kegotongroyongan antara masyarakat kaya dan miskin, yang sehat dan sakit, yang tua
dan muda, dan yang beresiko tinggi dan rendah.

Anggota yang bersifat wajib dan tidak selektif.

Iuran yang dibayarkan per bulan berdasarkan persentase upah / penghasilan.

Jaminan Kesehatan Nasional Bersifat nirlaba.

Sedangkan yang dimaksud dengan prinsip ekuitas adalah kesamaan anggota dalam memperoleh
pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis yang terikat dengan besaran iuran yang dibayarkan.
Dan ini adalah bagian dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang masuk dalam program
kesehatan Pemerintah Indonesia pada tahun 2014 oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) nantinya.

Sumber pembiayaan praktek keluarga

27
Keuangan dalam praktik DOGA tercatat secara seksama dengan cara yang umum dan
bersifat transparansi. Manajemen keuangannya dapat mengikuti sistem pembiayaan
praupaya maupun sistem pembiayaan fee for service.

Manajemen Pembiayaan Klinik Doga

28
Berdasarkan bagan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem pembiayaan klinik dokter
keluarga dapat berasal dari asuransi sosial, asuransi komersial, dan out of pocket. Model
pembiayaan yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan.

Bentuk - Bentuk Pembiayaan Pra-Upaya


Mengingat bentuk pembayaran pra-upaya banyak menjanjikan keuntungan, maka pada saat
ini bentuk pembayaran pra-upaya tersebut banyak diterapkan. Pada dasarnya ada tiga
bentuk pembiayaan secara pra-upaya yang dipergunakan.
Ketiga bentuk yang dimaksud adalah:
1) Sistem kapitasi (capitation system)
Yang dimaksud dengan sistem kapitasi adalah sistem pembayaran dimuka yang dilakukan
oleh badan asuransi kepada penyelenggara pelayanan kesehatan berdasarkan kesepakatan
harga yang dihitung untuk setiap peserta untuk jangka waktu tertentu. Dengan sistem
pembayaran ini, maka besarnya biaya yang dibayar oleh badan asuransi kepada
penyelenggara pelayanan yang tidak ditentukan oleh frekwensi penggunaan pelayanan
kesehatan oleh peserta, melainkan ditentukan oleh jumlah peserta dan kesepakatan jangka
waktu jaminan.
2) Sistem paket (packet system)
Yang dimaksud dengan sistem paket adalah sistem pembayaran di muka yang dilakukan
oleh badan asuransi kepada penyelenggara pelayanan kesehatan berdasarkan kesepakatan
harga yang dihitung untuk suatu paket pelayanan kesehatan tertentu. Dengan sistem
pembayaran ini, maka besarnya biaya yang dibayar oleh badan asuransi kepada
penyelenggara pelayanan kesehatan tidak ditentukan oleh macam pelayanan kesehatan
yang diselenggarakan, melainkan oleh paket pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan.
Penyakit apapun yang dihadapi, jika termasuk dalam satu paket pelayanan yang sama,
mendapatkan biaya dengan besar yang sama. Sistem pernbiayaan paket ini dikenal pula
dengan nama sistem pembiayaan kelompok diagnosis terkait (diagnosis related group)
yang di banyak negara maju telah lama diterapkan.
3) Sistem anggaran (budget system)
Yang dimaksud dengan sistem anggaran adalah sistem pembayaran di muka yang
dilakukan oleh badan asuransi kepada penyelenggara pelayanan kesehatan berdasarkan
kesepakatan harga, sesuai dengan besarnya anggaran yang diajukan penyelenggara

29
pelayanan kesehatan. Sama halnya dengan sistern paket, pada sistem anggaran ini,
besarnya biaya yang dibayar oleh badan asuransi kepada penyelenggara pelayanan
kesehatan tidak ditentukan oleh macam pelayanan kesehatan yang diselenggarakan,
melainkan oleh besarnya anggaran yang telah disepakati.

PELAKSANAAN DOGA DI INDONESIA


Mekanisme dan jenjang pelayanan kesehatan masyarakat yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan sebenarnya atau idealnya, ada tiga tahap pelayanan kesehatan yang diperlukan
oleh masyarakat. Ketiga tahap pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut:
1. Pelayanan Tingkat Primer
Pelayanan di sini diselenggarakan oleh Dokter Praktik Umum atau yang selama ini
dikenal dengan sebutan Dokter Umum. Tahap ini merupakan kontak pertama pasien
dengan dokter yang biasanya bertempat di Klinik Pribadi, Klinik Dokter Bersama,
Puskesmas, Balai Pengobatan, Klinik Perusahaan, atau Poliklinik Umum di rumah sakit,
dsb.
2. Pelayanan Tingkat Sekunder
Jika diangap perlu, pasien akan dirujuk ke Pelayanan Tingkat Sekunder. Untuk itu dokter
praktik umum akan menulis surat konsultasi atau rujukan kepada tenaga kesehatan yang
lebih ahli, dalam hal ini dokter spesialis.
3. Pelayanan Tingkat Tersier
Jika masalahnya juga tidak dapat atau tidak mungkin diselesaikan oleh pelayanan di
tingkat sekunder maka pasien akan dikirim ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu pasien
akan dirujuk kepada dokter konsultan atau subspesialis.

Mengenai sistem pembiayaan dokter keluarga, ASKES sebagai salah satu BUMN
yang digadang menjadi BPJS menerapkan besaran kapitasi Dokter keluarga mengacu
pada pola perhitungan yang didasarkan pada 2 (dua) ketentuan popok:
a) Hasil penetapan penggololongan Dokter Keluarga berdasarkan kapasitas pelayan yang
dimiliki
b) Penetapan komposisi jenis kelamin dan umur peserta yang terdaftar di Dokter Keluarga
tersebut (Community Rating by Class)

Pembayaran besaran kapitasi tersebut, pada prinsipnya hanya dapat dilakukan bila Kantor
Cabang telah melaksanakan perhitungan sesuai ketentuan-ketentuan pokok seperti di atas
Penetapan penggolongan Dokter Keluarga berdasarkan kapitasi pelayanan yang

30
dimilikinya dilakukan melalui pelaksanaan seleksi PPK (credentialing) dan seleksi
kembali PPK (re-credentialing) dengan memperhatihkan indicator-indikator penentu
yakni:
a) Hasil penilaian sarana dan prasarana
b) Ketersediaan tenaga perawat
c) Ketersediaan tenaga administrasi
d) Kemampuan penyediaan sarana laboratorium
e) Penggolongan besaran kapitasi Dokter Keluarga berdasarkan kapasitas

Pelayanan yang dimiliki di bagi atas 3 kategori yakni:


Kategori Kapitasi A yakni apabila Dokter Keluarga memenuhi seluruh indicator
(indicator penentu point (1)-(4) point c). besaran kapitasi yang ditetapkan adalah
maksimal sebesar Rp 6500,00 per jiwa
Kategori Kapitasi B yakni apabila Dokter Keluarga hanya mampu memenuhi minimal
2 (dua) indicator penentu. Besaran kapitasi yang ditetapkan adalah maksimal sebesar
Rp 6000,00 per jiwa
Kategori Kapitasi C yakni apabila Dokter keluarga hanya mampu memenuhi indicator
sarana dan prasarana sedangkan indicator penentu lainnya tidak terpenuhi. Besarnya
kapitasi yang ditetapkan adalah maksimal Rp 5500,00

Penetapan komponen besaran kapitasi yang dibayarkan kepada Dokter Keluarga untuk
masing-masing kategori adalah sebagai berikut:
Kategori Kapitasi A yakni maksimal sebesar Rp 6.500,00 per jiwa, terdiri dari: jasa
medis dokter, pelayanan obat dan pelayanan laboratorium sederhana (darah rutin dan
urine rutin). Besaran jasa medis dokter adalah sebesar Rp 2.000,00, siasanya adalah
biaya obat dan pelayanan laboratorium sederhana (darah rutin dan urine rutin).
Kategori Kapitasi B yakni maksimal sebesar Rp 6.000,00 per jiwa terdiri dari : jasa
medis dokter, pelayanan obat dan salah satu pelayanan laboratorium sederhana (darah
rutin dan urine rutin). Besaran jasa medis dokter adalah sebesar Rp 2.000,00, sisanya
adalah biaya obat dan salah satu pelayanan laboratorium sederhana (darah rutin dan
urine rutin).
Kategori Kapitasi C yakni maksimal sebesar Rp 5.500,00 per jiwa, terdiri dari : jasa
medis dokter, pelayanan obat (tanpa pelayanan laboratorium sederhana). Besaran jasa

31
medis dokter adalah sebesar Rp 2.000,00, sisanya adalah pelayanan obat (tanpa
pelayanan laboratorium sederhana)

Jenis sistem pembiayaan

Jenis pelayanan kesehatan dan pembiayaan kesehatan antara lain :

1. Penataan Terpadu (managed care)


Merupakan pengurusan pembiayaan kesehatan sekaligus dengan pelayanan
kesehatan. Pada saat ini penataan terpadu telah banyak dilakukan di masyarakat
dengan program Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat atau JPKM. Managed
care membuat biaya pelayanan kesehatan yang dikeluarkan bisa lebih efisien.

Persyaratan agar pelayanan managed care di perusahaan dapat berhasil baik,


antara lain:
a. Para pekerja dan keluarganya yang ditanggung perusahaan harus sadar bahwa
kesehatannya merupakan tanggung jawab masing-masing atau tanggung
jawab individu. Perusahaan akan membantu upaya untuk mencapai derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya.
b. Para pekerja harus menyadari bahwa managed care menganut sistem rujukan.
c. Para pekerja harus menyadari bahwa ada pembatasan fasilitas berobat,
misalnya obat yang digunakan adalah obat generik kecuali bila keadaan
tertentu memerlukan life saving.
d. Prinsip kapitasi dan optimalisasi harus dilakukan

2. Sistem reimbursement
Perusahaan membayar biaya pengobatan berdasarkan fee for services. Sistem ini
memungkinkan terjadinya over utilization. Penyelewengan biaya kesehatan yang
dikeluarkan pun dapat terjadi akibat pemalsuan identitas dan jenis layanan oleh
karyawan maupun provider layanan kesehatan.

3. Asuransi
Perusahaan bisa menggunakan modal asuransi kesehatan dalam upaya
melaksanakan pelayanan kesehatan bagi pekerjanya. Dianjurkan agar asuransi
yang diambil adalah asuransi kesehatan yang mencakup seluruh jenis pelayanan
kesehatan (comprehensive), yaitu kuratif dan preventif. Asuransi tersebut

32
menanggung seluruh biaya kesehatan, atau group health insurance (namun kepada
pekerja dianjurkan agar tidak berobat secara berlebihan).

4. Pemberian Tunjangan Kesehatan


Perusahaan yang enggan dengan kesukaran biasanya memberikan tunjangan
kesehatan atau memberikan biaya kesehatan kepada pegawainya dalam bentuk
uang. Sakit maupun tidak sakit tunjangannya sama. Sebaiknya tunjangan ini
digunakan untuk mengikuti asuransi kesehatan (family health insurance).
Tujuannya adalah menghindari pembelanjaan biaya kesehatan untuk kepentingan
lain, misalnya untuk membeli rokok, minuman beralkohol, dan hal hal lain yang
malah merugikan kesehatannya.

5. Rumah Sakit Perusahaan


Perusahaan yang mempunyai pegawai berjumlah besar akan lebih diuntungkan
apabila mengusahakan suatu rumah sakit untuk keperluan pegawainya dan
keluarga pegawai yang ditanggungnya. Menyangkut kesehatan pegawainya,
rumah sakit perusahaan harus menyiapkan rekam medis khusus, yang lebih
lengkap, dan perlu dievaluasi secara periodik. Perlu diingatkan bahwa pelayanan
kesehatan yang didapat dari rumah sakit perusahaan diupayakan bisa lebih baik
bila dibandingkan jika dilayani oleh rumah sakit lain. Dengan demikian, pegawai
perusahaan yang dirawat akan merasa puas dan bangga terhadap fasilitas yang
disediakan. Rasa senang menerima fasilitas kesehatan ini akan membuahkan
semangat bekerja untuk membalas jasa perusahaan yang dinikmatinya.

Secara universal, beberapa jenis asuransi kesehatan yang berkembang di


Indonesia :

Asuransi Kesehatan Sosial (Social Health Insurance)


Asuransi ini memegang teguh prinsipnya bahwa kesehatan adalah sebuah
pelayanan sosial, pelayanan kesehatan tidak boleh semata-mata diberikan
berdasarkan status sosial mayarakat sehingga semua lapisan berhak untuk
memperoleh jaminan pelayanan kesehatan.

Asuransi Kesehatan Sosial dilaksanakan menggunakan prinsip :


a) Keikutsertaan bersifat wajib

33
b) Menyertakan tenaga kerja dan keluarganya
c) Iuran/premi berdasarkan gaji/pendapatan
d) Untuk Askes menetapkan 2% dari gaji pokok PNS
e) Premi untuk tenaga kerja ditanggung bersama (50%) oleh pemberi
kerja dan tenaga kerja
f) Premi tidak ditentukan oleh resiko perorangan tetapi didasarkan
pada resiko kelompok
g) Tidak diperlukan pemeriksaan kesehatan awal
h) Jaminan pemeliharaan kesehatan bersifat menyeluruh
i) Peran pemerintah sangat besar untuk mendorong berkembangnya
asuransi kesehatan sosial di Indonesia
Asuransi Kehatan Komersial Perorangan (Private Voluntary Health
Insurance)
Model asuransi kesehatan ini juga berkembang di Indonesia, dapat dibeli
preminya baik oleh individu maupun segmen masyarakat kelas menengah
ke atas.
Asuransi kesehatan komersial perorangan mempunyai prinsip kerja
sebagai berikut :
a) Kepesertaannya bersifat perorangan dan sukarela
b) Iuran/premi berdasarkan angka absolut, ditetapkan berdasar jenis
tanggungan yang dipilih
c) Premi didasarkan atas resiko perorangan dan ditentukan oleh faktor
usia, jenis kelamin, dan jenis pekerjaan
d) Dilakukan pemeriksaan kesehatan awal
e) Santunan diberikan sesuai kontrak
f) Peranan pemerintah relatif kecil

Asuransi Kesehatan Komersial Kelompok (Regulated Voluntary Health


Insurance)
Prinsip-prinsip dasar sebagai berikut :
a) Keikutsertaannya bersifat sukarela tetapi berkelompok
b) Iuran / preminya dibayar berdasarkan atas angka absolut
c) Perhitungan premi bersifat community rating yang berlaku untuk
kelompok masyarakat
d) Santunan diberikan sesuai kontrak
e) Tidak diperlukan pemeriksaan awal
f) Peranan pemerintah cukup besar dengan membuat undang-undang

Tujuan pembiayaan kesehatan

34
Tujuan pembiayaan kesehatan adalah tersedianya pembiayaan kesehatan dengan
jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil dan termanfaatkan secara berhasil-guna
dan berdaya-guna, untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Pokok utama dalam pembiayaan kesehatan adalah:

a. Mengupayakan kucukupan dan kesinambungan pembiayaan kesehatan pafa


tingkat pusat dan daerah
b. Mengupayakan pengurangan pembiayaan OOP dan meniadakan hambatan
pembiayaan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terutama kelompok miskin
dan rentan melalui pengembangan jaminan
c. Peningkatan efisiensi dan efektifitas pembiayaan kesehatan

LO 4. Memahami dan menjelaskan Sistem Rujukan dalam Klinik Dokter Keluarga

Definisi
Sistem rujukan ialah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang
melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau
masalah kesehatan secara vertikal (dari unit yang lebih mampu menangani), atau secara
horizontal (antar unit-unit yang setingkat kemampuannya).Hal yang dirujuk bukan hanya
pasien saja tapi juga masalah-masalah kesehatan lain, teknologi, sarana, bahan-bahan
laboratorium, dan sebagainya.

Secara garis besar rujukan dibedakan menjadi 2, yakni :

Rujukan medik
Rujukan ini berkaitan dengan upaya penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
pasien. Disamping itu juga mencakup rujukan pengetahuan (konsultasi medis) dan bahan-
bahan pemeriksaan. Tujuan: untuk menyembuhkan penyakit dan atau memulihkan status
kesehatan pasien

1. Rujukan pasien (transfer of patient)


Penatalaksanaan pasien dari strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu ke strata
pelayanan kesehatan yang lebih sempurna atau sebaliknya untuk pelayanan tindak
lanjut

35
2. Rujukan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge)
Pengiriman dokter/ tenaga kesehatan yang lebih ahli dari strata pel.kes. Yang lebih
mampu ke strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu untuk bimbingan dan
diskusi atau sebaliknya, untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan
3. Rujukan bahan pemeriksaan laboratorium (transfer of specimens)
Pengiriman bahanbahanpemeriksaan bahan laboratorium daristrata pelayanan
kesehatan yangkurang mampu ke strata yang lebih mampu atau sebaliknya, untuk
tindak lanjut.

Rujukan kesehatan masyarakat


Rujukan ini berkaitan dengan upaya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan
kesehatan (promosi). Rujukan ini mencakup rujukan teknologi, sarana dan operasional.
Tujuan: untuk meningkatkan derajat kesehatan dan ataupun mencegah penyakit yang ada
di masyarakat.
1. Rujukan tenaga,
Pengiriman dokter/tenaga kesehatan dari strata pelayanan kesehatan yang lebih
mampu ke strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu untuk menanggulangi
masalah kesehatan yang ada di masyarakat atau sebaliknya, untuk pendidikan dan
latihan.
2. Rujukan sarana
Pengiriman berbagai peralatan medis/ non medis dari strata pelayanan kesehatan yang
lebih mampu ke strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu untuk
menanggulangi masalah kesehatan di masyarakat, atau sebaliknya untuk tindak lanjut.
3. Rujukan operasional
Pelimpahan wewenang dan tanggungjawab penanggulangan masalah kesehatan
masyarakat dari strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu ke strata pelayanan
kesehatan yang lebih mampu atau sebaliknya untuk pelayanan tindak lanjut.

Rujukan kesehatan:
Lingkup: Masalah kesehatan masyarakat
Tujuan: Pemeliharaan den pencegahan
Jalur: Dinas Kesehatan secara bertingkat

36
2. Karakteristik

b. Ruang lingkup kegiatan


Konsultasi memintakan bantuan profesional dari pihak ketiga. Rujukan, melimpahkan
wewenang dan tanggung jawab penanganan kasus penyakit yang sedang dihadapi
kepada pihak ketiga
c. Kemampuan dokter
Konsultasi ditujukan kepada dokter yang lebih ahli dan atau yang lebih
pengalaman.Pada rujukan hal ini tidak mutlak.
d. Wewenang dan tanggung jawab
Konsultasi wewenang dan tanggung jawab tetap pada dokter yang meminta
konsultasi.Pada rujukan sebaliknya.

3. Manfaat
a) Dari sudut pandang pemerintah sebagai penentu kebijakan
Membantu penghematan dana, karena tidak perlu menyediakan berbagai macam
alat kedokteran pada setiap sarana kesehatan.
Memperjelas system pelayanan kesehatan, kemudian terdapat hubungan antara
kerja berbagai sarana kesehatan yang tersedia.
Memudahkan pekerjaan administrasi, terutama pada aspek perencanaan
b) Dari sudut masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan
Meringankan biaya pengobatan, karena dapat dihindari pemeriksaan yang sama
secara berulang-ulang
Mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan, karena telah diketahui
dengan jelas fungsi dan wewenang setiap sarana pelayanan kesehatan
c) Dari sudut tenaga kesehatan
Memperjelas jenjang karir tenaga kesehatan dengan berbagai akibat positif,
semangat kerja, ketekunan dan dedikasi.
Membantu peningkatan pengetahuan dan ketrampilan melalui jalinan kerjasama
Memudahkan/ meringankan beban tugas, karena setiap sarana kesehatan
mempunyai tugas dan kewajiban tertentu

4. Tata Cara
Tata cara rujukan
Terbatas hanya pada masalah penyakit yang dirujuk saja
Tetap berkomunikasi antara dokter konsultan dan dokter yg meminta rujukan
Perlu disepakati pembagian wewenang dan tanggungjawab masing-masing pihak

37
Pembagian wewenang & tanggungjawab
1. Interval referral
Pelimpahan wewenang dan tanggung jawab penderita sepenuhnya kepada dokter
konsultan untuk jangka waktu tertentu, dan selama jangka waktu tersebut dokter tersebut
tidak ikut menanganinya
2. Collateral referral
Menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita hanya untuk satu
masalah kedokteran khusus saja
3. Cross referral
Menyerahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan penderita sepenuhnya kepada
dokter lain untuk selamanya
4. Split referral
Menyerahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan penderita sepenuhnya kepada
beberapa dokter konsultan, dan selama jangka waktu pelimpahan wewenang dan
tanggung jawab tersebut dokter pemberi rujukan tidak ikut campur.

38
LO 5. Memahami dan menjelaskan Hubungan Dokter dengan Mitra Kesehatan di Klinik
Dokter Keluarga

Hubungan kerjasama antara dokter keluarga dengan mitra kerjanya

Kolaborasi merupakan istilah umum yang sering digunakan untuk


menggambarkan suatu hubungan kerja sama yang dilakukan pihak tertentu. Berdasarkan
kamus Heritage Amerika (2000), kolaborasi adalah bekerja bersama khususnya dalam
usaha penggambungkan pemikiran. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukanan oleh
Gray (1989) menggambarkan bahwa kolaborasi sebagai suatu proses berfikir dimana
pihak yang terlibat memandang aspek-aspek perbedaan dari suatu masalah serta
menemukan solusi dari perbedaan tersebut dan keterbatasan pandangan mereka terhadap
apa yang dapat dilakukan. American Medical Assosiation (AMA), 1994, Kolaborasi
adalah proses dimana dokter dan perawat merencanakan dan praktek bersama sebagai
kolega, bekerja saling ketergantungan dalam batasan-batasan lingkup praktek mereka
dengan berbagi nilai-nilai dan saling mengakui dan menghargai terhadap setiap orang
yang berkontribusi untuk merawat individu, keluarga dan masyarakat.

Partnership kolaborasi merupakan usaha yang baik sebab mereka menghasilkan


outcome yang lebih baik bagi pasien dalam mencapai upaya penyembuhan dan
memperbaiki kualitas hidup. Kolaborasi merupakan proses komplek yang membutuhkan
sharing pengetahuan yang direncanakan dan menjadi tanggung jawab bersama untuk
merawat pasien. Bekerja bersama dalam kesetaraan adalah esensi dasar dari kolaborasi
yang kita gunakan untuk menggambarkan hubungan perawat dan dokter.

Komunikasi dokter Profesi lain :

Kolaborasi dokter perawat

Komunikasi dokter-Apoteker

Kolaborasi Prinsip : Perencanaan

Pengambilan keputusan bersama

39
Berbagi saran / ide

Kebersamaan

Tanggung gugat

Pendekatan Praktik Hirarkis

Dokter Registerd nurse Pemberi pelayanan lain Pasien

Menekankan komunikasi satu arah


Kontak Dokter dengan pasien terbatas
Dokter merupakan tokoh yang dominan
Cocok untuk diterapkan di keadaan tertentu, sepert IGD

Pendekatan ini sekarang masih dominan dalam praktik dokter di Indonesia

Model kolaboratif tipe II :

Register
DOKTER
d nurse
PASIE

Pemberi
pelayan
an lain

Lebih berpusat pada pasien


Semua pemberi pelayanan harus bekerjasama
Ada kerja sama dengan pasien
Tidak ada pemberi pelayanan yang mendominasi secara terus-menerus

Hubungan dokter-Apoteker

40
McDonough dan Doucette (2001) mengusulkan satu model untuk Hubungan Kerja
Kolaboratif antara Dokter dan Apoteker (Pharmacist-Phycisian Collaborative Working
Relationship. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hubungan ini antara lain
disebutkan:
a. Karakteristik partisipan. Yang termasuk karakteristik partisipan adalah faktor demografi
seperti pendidikan dan usia. Contohnya, dokter muda yang sejak awal dididik untuk dapat
bekerja sama dalam tim interdisipliner mungkin akan lebih mudah menerima konsep
hubungan dokter-Apoteker.
b. Karakteristik konteks. Yang dimaksud adalah kondisi pasien, tipe praktek (apakah
tunggal atau bersama), kedekatan jarak praktek, banyaknya interaksi, akan menentukan
seberapa intensif hubungan yang akan terjalin.
c. Karakteristik pertukaran. Yang termasuk di sini antara lain adalah: ketertarikan secara
profesional, komunikasi yang terbuka dan dua arah, kerjasama yang seimbang, penilaian
terhadap performance, konflik dan resolusinya. Semakin seimbang pertukaran antara
kedua belah pihak, akan memungkinkan hubungan kolaboratif yang lebih baik.

3. Termasuk mitra kerja dokter

Mitra kerja dokter ialah Sesama dokter, perawat, bidan, petugas rumah sakit atau pun
puskesmas serta klinik, pasien dan petugas lainnya

LO 6. Memahami dan Menjelaskan Adab dan Tatacara Menangani Pasien dalam Islam

5S

Untuk itu sudah selayaknya kita umat manusia meneladeni kepribadian beliau.
Dengan cara mengamalkan 5S tersebut.
- Pertama adalah Senyum, setiap orang dapat tersenyum, macamnyapun
beragam, ada yang karena senyuman orang menjadi teriris hatinya. Ada juga
'senyum menggoda' yang membuat orang yang melihatnya terjerumus ke
lembah maksiat. Tetapi ada juga senyuman yang membuat hati kita tergetar
melihatnya yaitu 'senyum ketabahan' . Serta ada senyum yang sebaiknya
diamalkan setiap saat yaitu 'senyum tulus' yang lahir dari hati yang paling
dalam, lahir dari kerinduan ingin membahagiakan. Dalam hal ini Rasulullah

41
saw, telah mempraktekkan senyuman yang tulus di hadapan para sahabat.
Keuntungan senyum ada banyak seperti dapat menambah daya tarik
seseorang, dari segi kesehatan orang yang murah senyum akan jauh dari
stress, jantungnya akan berdetak normal, ketiga dari hubungan sosial, bagi
yang ahli senyum pergaulan akan terasa menyenangkan.
- S kedua dari 5S adalah 'Salam' . Bagi orang Islam salam mengandung makna
yang dalam, selain merupakan doa yang tulus dari seorang muslim kepada
muslim lainnya, salam oleh sebagian ulama diartikan dengan, "Semoga
engkau dalam penjagaan Allah" atau ada juga yang mengartikan "Selamat.
Semoga keselamatan dari Allah tetap bagimu."
- S ketiga yiatu 'Sapa.' Aa Gym mengatakan mengapa, untuk menyapa orang
yang berada di samping kita terasa berat sekali. Padahal kalau kita melihat
kenyataan, saat kita duduk bersebelahan dalam bis, saat naik kereta api, itu
merupakan kesempatan untuk bertegur sapa. Dengan menyapa secara hangat
kebekuan akan mencair dan kita akan merasa nyaman sepanjang perjalanan
- Kemudian S Keempat adalah 'Sopan.' Orang yang sopan akan dapat mencuri
hati siapapun yang melihatnya. setidaknya kita menjadi hormat pada orang
yang bersikap sopan. Selain itu kesopanan merupakan sikap menentukan nilai
orang tersebut, semakin tinggi nilai sikap kesopanan, maka makin tinggi
derajatnya. Serta kesopanan yang muncul dari kemuliaan akhlak merupakan
tanda-tanda kedalaman pemahaman agama seseorang. Jadi apalah artinya jika
mempunyai ilmu agama yang luas, gelar yang panjang, kedudukan yang
tinggi, kalau memiliki sikap yang tidak sopan.
- Terakhir adalah 'Santun.' Penyantun adalah orang yang bisa memaafkan atau
Ia bisa membalas keburukan dengan kebaikan. Dalam arti orang yang
penyantun adalah orang yang mampu menekan ego dirinya untuk mengalah
demi kemashlahatan bersama. Jadi bila ingin mempunyai pribadi yang
simpatik lagi menawan, harus menjauhi sekuat-kuatnya sikap egois

Adab-adab yang bersifat khusus diantaranya:

42
1. Berusaha menjaga kesehatan pasien sebagai konsekuensi amanah dan tanggung jawabnya
dan berusaha menjaga rahasia pasien kecuali dalam kondisi darurat atau untuk tindakan
preventif bagi yang lainnya.
Rosulullah sholallohu 'alaihi wasalam bersabda :
"Barangsiapa yang menutup (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup (aibnya)
pada hari kiamat. " (HR. al-Bukhari 2442 dan Muslim 7028).
2. Senantiasa menyejukkan hati pasien, menghiburnya dan mendo'akannya.
Salah satunya ialah dengan mengucapkan "Tidak mengapa, insyaallah ini adalah
penghapus dosa", atau meletakkan tangan kanan di tempat yang sakit seraya berdo'a :
" Wahai Robb manusia, hilangkanlah penyakit tersebut, sembuhkanlah, Engkau adalah
penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak
ditimpa penyakit lagi. " (HR. Muslim 2191 dan yang lainnya).
3. Hendaknya memberitahukan kepada pasien bahwa yang menyembuhkan hanya Allah
Ta'ala sehingga hatinya bergantung kepada Allah, bukan kepada dokter.Nabi sholallohu
'alaihi wasalam berkata kepada Abu Rimtsah (seorang dokter ahli) :
" Allah adalah dokter, sedangkan kamu adalah orang yang menemani yang sakit. " (HR.
Abu Dawud 4209, ash-shahiihah 1537).
4. Seorang dokter tidak boleh membohongi pasiennya.
Misalnya tatkala stok obat habis ia memberikan obat yang tidak sesuai dengan
penyakitnya atau memberikan obat yang di dalamnya terkandung bahan-bahan yang
diharamkan.
5. Hendaknya profesi dalam bidang kedokteran bertujuan untuk memuliakan manusia.
Oleh karena itu tidak diperkenankan bagi seorang dokter atau petugas kesehatan lainnya
untuk membakar potongan tubuh pasien, namun hendaknya diberikan kepada sang pasien
atau keluarganya untuk dikubur. Selain itu tidak diperbolehkan memperjualbelikan darah
pasien, mengadakan operasi-operasi plastik untuk mengubah wajah, telinga, alis, hidung
dan lainnya, karena hal itu termasuk mengubah ciptaan Allah yang diharamkan dalam
Islam. Allah Ta'ala berfirman :
(Setan berkata) : "Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-
benar mereka mengubahnya. " (QS. an-Nisa' (4) : 119).
Di samping itu, tidak diperbolehkan ta'awun dalam kejelekan, seperti menjual obat-obat
penggugur kehamilan sehingga melariskan perzinaan.
6. Seorang dokter, perawat, mantri, bidan, apoteker dan petugas kesehatan lainnya
hendaknya betul-betul meningkatkan dan menekuni pekerjaanya.
Rosulullah sholallohu 'alaihi wasalam :

43
"Barangsiapa yang menerjuni kedokteran sedangkan tidak diketahui orang itu ahli
kedokteran, maka ia menanggung (kerugian pasien)." (HR. Abu Dawud 4586, ash-
shahiihah 635).
7. Profesi dalam bidang pengobatan termasuk pekerjaan yang mulia sehingga diharapkan
bagi para dokter untuk menggapai ridha Allah dalam setiap aktivitasnya.
Nabi sholallohu 'alaihi wasalam bersabda : "Sebaik-baik manusia adalah yang paling
bermanfaat bagi manusia yang lain." (Dikeluarkan oleh ad-Daruqutni, ash-shahiihah
426).

Adab pemeriksaan terhadap pasien


Jika dokter laki-laki (dikarenakan tidak terdapat dokter perempuan) dengan dalih
mengobati dan atau pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan di atas (memandang
dan menyentuh) seperti; mendeteksi denyut nadi, mengambil darah dan memijit, dimana dokter
tidak memiliki cara lain kecuali terpaksa memandang badan yang bukan mahramnya atau
menyentuh badannya (dan tidak memungkinkan dia menggunakan kaos tangan atau
semacamnya, dengan maksud menyentuh secara tidak langsung), dalam hal ini menyentuh dan
memandang tidak ada masalah.
Akan tetapi jika dalam masalah ini dokter mampu mengobati hanya dengan memandang
saja dan atau hanya dengan menyentuh pasien yang bukan mahramnya tersebut maka dokter
harus mencukupkan dengan memandang saja atau menyentuh saja (itupun sebatas darurat) dan
lebih daripada itu tidak boleh. Dokter perempuan dalam hal memandang dan menyentuh pasien
laki-laki yang bukan mahramnya juga berlaku hukum demikian. Begitu para ulama mengatakan.
Karena orang yang sakit sengaja menemui dan menaruh kepercayaan terhadap dokter,
para terapis atau ahli medis harus memberikan pelayanan dan perlindungan yang terbaik bagi
pesiennya. Namun harus tetap menjaga syariat. Misalnya tidak boleh memberikan obat yang
haram. Juga harus menjaga hubungan lawan jenis. Jika pasiennya bukan muhrimnya, hendaklah
ada pihak ketiga yang menemani. Jangan hanya berdua didalam kamar pengobatan.
Telah di nukil dari Imam Musa ibnu Jafar yang mengatakan: Seorang lelaki buta dengan
lebih dahulu meminta izin telah memasuki rumah Fatimah (sepertinya dia perlu dengan
Rasulullah SAW) Fatimah mengambil kerudungnya dan beliau bersembunyi di dalam kerudung
tersebut (mengambil hijab), Nabi SAW berkata: Putriku mengapa engkau menutup dirimu
sedangkan dia tidak melihatmu? Beliau berkata: Apabila dia tidak melihat saya, tapi saya melihat

44
dia dan dia (jika tidak melihat dan buta) tetapi dia mencium bau wanita. Rasulullah SAW
sedemikian gembiranya sambil berkata: Saya bersaksi bahwa engkau adalah belahan jiwaku.
(Hayaatu Al-Imam Husain,Khutbah Hadrat Zaenab)
Lihatlah begitu diagungkannya urusan hijab oleh Rasulullah SAW.
Allah Ta`ala menyebutkan dalam firman-Nya surat al-An'am/6 ayat 119:

"Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya
atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya".
Bila memang dalam keadaan darurat dan terpaksa, Islam memang membolehkan untuk
menggunakan cara yang mulanya tidak diperbolehkan. Selama mendatangkan maslahat, seperti
untuk pemeliharaan dan penyelamatan jiwa dan raganya.
Meskipun dibolehkan dalam kondisi yang betul-betul darurat, tetapi harus mengikuti
rambu-rambu yang wajib untuk ditaati. Tidak berlaku secara mutlak. Keberadaan mahram adalah
keharusan, tidak bisa ditawar-tawar. Sehingga tatkala seorang muslim/muslimah terpaksa harus
bertemu dan berobat kepada dokter yang berbeda jenis, ia harus didampingi mahramnya saat
pemeriksaan. Tidak berduaan dengan sang dokter di kamar praktek atau ruang periksa.
Syarat ini disebutkan Syaikh Bin Baz rahimahullah untuk pengobatan pada bagian tubuh
yang nampak, seperti kepala, tangan, dan kaki. Jika obyek pemeriksaan menyangkut aurat
wanita, meskipun sudah ada perawat wanita misalnya, maka keberadaan suami atau wanita lain
(selain perawat) tetap diperlukan, dan ini lebih baik untuk menjauhkan dari kecurigaan.

Sistem Pembiayaan Kesehatan Dalam Islam


Asuransi Syariah (Takaful)
1 Arti Kata Takaful
Secara bahasa, takaful ( ) berasal dari akar kata ( ) yang artinya menolong,
memberi nafkah dan mengambil alih perkara seseorang. Dalam Al-Qur'an tidak dijumpai
kata takaful, namun ada sejumlah kata yang seakar dengan kata takaful, seperti dalam :
QS. Thoha/ 20 : 40

"(yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga
Fir'aun): 'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?"

45
QS. Annisa/ 04 : 85 :

"Dan barangsiapa yang memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian
(dosa) daripadanya.."
Asuransi Syariah (Ta'min, Takaful atau Tadhamun) adalah usaha saling melindungi
dan tolong menolong diantara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk aset
dan / atau tabarru' yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko
tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.
Akad yang sesuai dengan syariah adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan),
maysir (perjudian), riba, dzulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan
maksiat.
2 Cikal Bakal Asuransi Syariah
a Al-Aqila ( )
Yaitu saling memikul atau bertanggung jawab untuk keluarganya. Jika salah satu
anggota suku terbunuh oleh anggota suku yang lain, pewaris korban akan dibayar
dengan uang darah (diyat) sebagai konpensasi saudara terdekat dari terbunuh. Saudara
terdekat dari pembunuh disebut aqilah. Lalu mereka mengumpulkan dana (al-kanzu)
yang diperuntukkan membantu keluarga yang terlibat dalam pembunuhan tidak
sengaja.
b Al-Muwalah ( )
Yaitu perjanjian jaminan. Penjamin menjamin seseroang yang tidak memiliki waris
dan tidak diketahui ahli warisnya. Penjamin setuju untuk menanggung bayaran dia,
jika orang yang dijamin tersebut melakukan jinayah. Apabila orang yang dijamin
meninggal, maka penjamin boleh mewarisi hartanya sepanjang tidak ada ahli
warisnya.

Penyelenggaraan kesehatan dalam pandangan Islam termasuk pengertian riayatus


suun(pelayanan umum) yang wajib dilakukan oleh negara atas seluruh rakyatnya, baik
muslim maupun non muslim, kaya ataupun miskin. Seluruh biaya yang diperlukan secara
wajib di tanggung oleh Baitul Mal (kas negara). Adapun peran non-pemerintah (swasta) dalam
pembiayaan kesehatan bukanlah hal yang utama.
Negara bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar itu. Nabi saw
Bersabda: Imam (Khalifah) laksana pengembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya
( HR al-Bukhari).

46
Beberapa perbedaan asuransi syariah dengan asuransi konvensional, di antaranya
adalah sebagai berikut:
Akad (Perjanjian)
Setiap perjanjian transaksi bisnis di antara pihak-pihak yang melakukannya harus
jelas secara hukum ataupun non-hukum untuk mempermudah jalannya kegiatan
bisnis tersebut saat ini dan masa mendatang. Akad dalam praktek muamalah menjadi
dasar yang menentukan sah atau tidaknya suatu kegiatan transaksi secara syariah. Hal
tersebut menjadi sangat menentukan di dalam praktek asuransi syariah. Akad antara
perusahaan dengan peserta harus jelas, menggunakan akad jual beli (tadabuli) atau
tolong menolong (takaful).
Akad pada asuransi konvensional didasarkan pada akad tadabuli atau perjanjian jual
beli. Syarat sahnya suatu perjanjian jual beli didasarkan atas adanya penjual, pembeli,
harga, dan barang yang diperjual-belikan. Sementara itu di dalam perjanjian yang
diterapkan dalam asuransi konvensional hanya memenuhi persyaratan adanya
penjual, pembeli dan barang yang diperjual-belikan. Sedangkan untuk harga tidak
dapat dijelaskan secara kuantitas, berapa besar premi yang harus dibayarkan oleh
peserta asuransi utnuk mendapatkan sejumlah uang pertanggungan. Karena hanya
Allah yang tahu kapan kita meninggal. Perusahaan akan membayarkan uang
pertanggunggan sesuai dengan perjanjian, akan tetapi jumlah premi yang akan
disetorkan oleh peserta tidak jelas tergantung usia. Jika peserta dipanjangkan usia
maka perusahaan akan untung namun apabila peserta baru sekali membayar
ditakdirkan meninggal maka perusahaan akan rugi. Dengan demikian menurut
pandangan syariah terjadi cacat karena ketidakjelasan (gharar) dalam hal berapa
besar yang akan dibayarkan oleh pemegang polis (pada produk saving) atau berapa
besar yang akan diterima pemegang polis (pada produk non-saving).

Gharar (Ketidakjelasan)
Definisi gharar menurut Madzhab Syafii adalah apa-apa yang akibatnya
tersembunyi dalam pandangan kita dan akibat yang paling kita takuti.
Gharar/ketidakjelasan itu terjadi pada asuransi konvensional, dikarenakan tidak
adanya batas waktu pembayaran premi yang didasarkan atas usia tertanggung,

47
sementara kita sepakat bahwa usia seseorang berada di tangan Yang Mahakuasa. Jika
baru sekali seorang tertanggung membayar premi ditakdirkan meninggal, perusahaan
akan rugi sementara pihak tertanggung merasa untung secara materi. Jika tertanggung
dipanjangkan usianya, perusahaan akan untung dan tertanggung merasa rugi secara
financial. Dengan kata lain kedua belah pihak tidak mengetahui seberapa lama
masing-masing pihak menjalankan transaksi tersebut. Ketidakjelasan jangka waktu
pembayaran dan jumlah pembayaran mengakibatkan ketidaklengkapan suatu rukun
akad, yang kita kenal sebagai gharar. Para ulama berpendapat bahwa perjanjian jual
beli/akad tadabuli tersebut cacat secara hukum.
Pada asuransi syariah akad tadabuli diganti dengan akad takafuli, yaitu suatu niat
tolong-menolong sesama peserta apabila ada yang ditakdirkan mendapat musibah.
Mekanisme ini oleh para ulama dianggap paling selamat, karena kita menghindari
larangan Allah dalam praktik muamalah yang gharar.
Pada akad asuransi konvensional dana peserta menjadi milik perusahaan asuransi
(transfer of fund). Sedangkan dalam asuransi syariah, dana yang terkumpul adalah
milik peserta (shahibul mal) dan perusahaan asuransi syariah (mudharib) tidak bisa
mengklaim menjadi milik perusahaan.

Tabarru dan Tabungan


Tabarru berasal dari kata tabarraa-yatabarra-tabarrawan, yang artinya sumbangan
atau derma. Orang yang menyumbang disebut mutabarri (dermawan). Niat
bertabbaru bermaksud memberikan dana kebajikan secara ikhlas untuk tujuan saling
membantu satu sama lain sesama peserta asuransi syariah, ketika di antaranya ada
yang mendapat musibah. Oleh karena itu dana tabarru disimpan dalam rekening
khusus. Apabila ada yang tertimpa musibah, dana klaim yang diberikan adalah dari
rekening tabarru yang sudah diniatkan oleh sesama peserta untuk saling menolong.
Menyisihkan harta untuk tujuan membantu orang yang terkena musibah sangat
dianjurkan dalam agama Islam, dan akan mendapat balasan yang sangat besar di
hadapan Allah, sebagaimana digambarkan dalam hadist Nabi SAW,"Barang siapa
memenuhi hajat saudaranya maka Allah akan memenuhi hajatnya."(HR Bukhari
Muslim dan Abu Daud).

48
Untuk produk asuransi jiwa syariah yang mengandung unsur saving maka dana yang
dititipkan oleh peserta (premi) selain terdiri dari unsur dana tabarru terdapat pula
unsur dana tabungan yang digunakan sebagai dana investasi oleh perusahaan.
Sementara investasi pada asuransi kerugian syariah menggunakan dana tabarru
karena tidak ada unsur saving. Hasil dari investasi akan dibagikan kepada peserta
sesuai dengan akad awal. Jika peserta mengundurkan diri maka dana tabungan
beserta hasilnya akan dikembalikan kepada peserta secara penuh.
Prof. Mustafa Ahmad Zarqa berkata bahwa dalam asuransi konvensional terdapat
unsur gharar yang pada gilirannya menimbulkan qimar. Sedangkan al qimar sama
dengan al maisir. Muhammad Fadli Yusuf menjelaskan unsur maisir dalam asuransi
konvensional karena adanya unsur gharar, terutama dalam kasus asuransi jiwa.
Apabila pemegang polis asuransi jiwa meninggal dunia sebelum periode akhir polis
asuransinya dan telah membayar preminya sebagian, maka ahliwaris akan menerima
sejumlah uang tertentu. Pemegang polistidak mengetahui dari mana dan bagaimana
cara perusahaan asuransi konvensional membayarkan uang pertanggungannya. Hal
ini dipandang karena keuntungan yang diperoleh berasal dari keberanian mengambil
risiko oleh perusahaan yang bersangkutan. Muhammad Fadli Yusuf mengatakan,
tetapi apabila pemegang polis mengambil asuransi itu tidak dapat disebut judi. Yang
boleh disebut judi jika perusahaan asuransi mengandalkan banyak/sedikitnya klaim
yang dibayar. Sebab keuntungan perusahaan asuransi sangat dipengaruhi oleh
banyak /sedikitnya klaim yang dibayarkannya.

Riba
Dalam hal riba, semua asuransi konvensional menginvestasikan dananya dengan
bunga, yang berarti selalu melibatkan diri dalam riba. Hal demikian juga dilakukan
saat perhitungan kepada peserta, dilakukan dengan menghitung keuntungan di depan.
Investasi asuransi konvensional mengacu pada peraturan pemerintah yaitu investasi
wajib dilakukan pada jenis investasi yang aman dan menguntungkan serta memiliki
likuiditas yang sesuai dengan kewajiban yang harus dipenuhi. Begitu pula dengan
Keputusan Menteri Keuangan No. 424/KMK.6/2003 Tentang Kesehatan Keuangan
Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Semua jenis investasi yang diatur

49
dalam peraturan pemerintah dan KMK dilakukan berdasarkan sistem bunga.
Asuransi syariah menyimpan dananya di bnak yang berdasarkan syariat Islam dengan
sistem mudharabah. Untuk berbagai bentuk investasi lainnya didasarkan atas
petunjuk Dewan Pengawas Syariah. Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imron ayat
130,"Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan riba yang memang
riba itu bersifat berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu
mendapatkan keberuntungan." Hadist, "Rasulullah mengutuk pemakaian riba,
pemberi makan riba, penulisnya dan saksinya seraya bersabda kepada mereka semua
sama."(HR Muslim)

Dana Hangus
Ketidakadilan yang terjadi pada asuransi konvensional ketika seorang peserta karena
suatu sebab tertentu terpaksa mengundurkan diri sebelum masa reversing period.
Sementara ia telah beberapa kali membayar premi atau telah membayar sejumlah
uang premi. Karena kondisi tersebut maka dana yang telah dibayarkan tersebut
menjadi hangus. Demikian juga pada asuransi non-saving atau asuransi kerugian jika
habis masa kontrak dan tidak terjadi klaim, maka premi yang dibayarkan akan hangus
dan menjadi milik perusahaan.
Kebijakan dana hangus yang diterapkan oleh asuransi konvensional akan
menimbulkan ketidakadilan dan merugikan peserta asuransi terutama bagi mereka
yang tidak mampu melanjutkan karena suatu hal. Di satu sisi peserta tidak punya dana
untuk melanjutkan, sedangkan jika ia tidak melanjutkan dana yang sudah masuk akan
hangus. Kondisi ini mengakibatkan posisi yang dizalimi. Prinsip muamalah melarang
kita saling menzalimi, laa dharaa wala dhirara ( tidak ada yang merugikan dan
dirugikan).
Asuransi syariah dalam mekanismenya tidak mengenal dana hangus, karena nilai tunai telah
diberlakukan sejak awal peserta masuk asuransi. Bagi peserta yang baru masuk karena satu
dan lain hal mengundurkan diri maka dana/premi yang sebelumnya dimasukkan dapat
diambil kembali kecuali sebagian kecil dana yang dniatkan sebagai dana tabarru (dana
kebajikan). Hal yang sama berlaku pula pada asuransi kerugian. Jika selama dan selesai masa
kontrak tidak terjadi klaim, maka asuransi syariah akan membagikan sebagian dana/premi

50
tersebut dengan pola bagi hasil 60:40 atau 70:30 sesuai kesepakatan si awal perjanjian
(akad). Jadi premi yang dibayarkan pada awal tahun masih dapat dikembalikan sebagian ke
peserta (tidak hangus). Jumlahnya sangat tergantung dari hasil investasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Anies. 2006. Kedokteran Keluarga & Pelayanan Kedokteran yang Bermutu. Semarang.

Gani A. Pembiayaan Kesehatan. FKM UI. 1996

51
Sistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia. 2010

Tristantoro L. Prinsip-Prinsip Asuransi Kesehatan Untuk Mahasiswa Kedokteran Dan Residen.


FK UGM.

http://www.pelita.or.id/baca.php?id=21313

http://maktabahabiyahya.wordpress.com/2012/09/04/akhlak-dokter-dan-perawat-muslim/

http://franzsinatrayoga.blogspot.com/2011/11/klinik-dokter-keluarga-sistem.html

52