Anda di halaman 1dari 18

4

MANUSIA DAN PERADABAN

A. HAKIKAT PERADABAN MANUSIA

Hakikat peradaban bisa kita mulai dengan definisi peradaban itu


sendiri. Peradaban mengambil padanan kata civilizati on yang berarti nilai
hidup satu kelompok atau bangsa dalam merespons tantangan masa yang
dihadapinya dalam era tertentu (Oxport Dictionary English by Hassan
Shadly: 2003). Peradaban adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menyebut bagian-bagian atau unsur-unsur suatu kebudayaan yang
dianggap halus, maju, dan indah. Dalam definisi peradaban juga
mengandung adanya perkembangan pengetahuan dan kecakapan,
sehingga orang memungkinkan memiliki tabiat beradab. Karena itu,
manusia beradab salah satunya memiliki ciri mampu mengendalikan
dirinya, yakni menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan
suatu bangsa. Peradaban juga sering menunjuk pada kemajuan ekonomi,
teknologi, dan politik.
Sekurangnya terdapat tiga inti peradaban, yaitu: (1) nilai, (2)
kelompok tertentu, dan (3) tantangan zaman. Pengertian demikian
memungkinkan respons suatu kelompok orang akan berbeda, dengan
kelompok lainnya. Juga bisa tantangan taman berbeda maka nilai yang
dipakai berbeda pula. Dengan demikian. penegakan satu peradaban
tergantung pada kelompok dengan nilai yang dianutnya, serta tantangan
za, maunya. Repons dengan cara berbeda itu bahkan yang tidak beradab
sekalipun dimungkin bisa terjadi.
Agaknya dengan dimensi peradaban itu, antara dimensi masalalu dan
masa kini kerap mendatangkan kebimbangan pada kita. Padahal masalalu
itu sesuatu yang sudah selesai, masa kini dan masa depan menyediakan
kreativitas yang baru. Ibarat buku masa kini dan masa akan datang itu,
merupakan sambungan halaman demi halaman yang berbeda, namun
merupakan kesatuan yang utuh.
Peradaban adalah sebuah entitas terluas dari budaya, yang
teridentifikasi melalui unsur-unsur objektif umum, seperti bahasa, sejarah,
agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subjektif.
Budaya di sebuah desa di Italia Selatan mungkin berbeda dengan yang di
Utara, tetapi keduanya bisa disebut budaya Italia yang membedakan
mereka dari karakteristik desa-desa di jerman.
Sepanjang sejarah umat manusia, sebuah peradaban mengalami
pasang surut. Terkadang, suatu peradaban mampu berkembang dengan
pesat, mampu beradaptasi dan mempengaruhi kehidupan manusia. Akan
tetapi, banyak juga peradaban yang hilang ditelan bumi dan terkubur di
dalam pasir-pasir masa, tak lagi relevan dengan kehidupan manusia.
Peradaban yang mampu bertahan (Peradaban Mayor) antara lain:
Peradaban Tionghoa, Peradaban Jepang, Peradaban Hindu, Peradaban
islam, Peradaban Ortodoks, Peradaban Barat, Peradaban Amerika Latin,
dan Peradaban Afrika.
Mungkinkah lahir sebuah peradaban universal? Asumsi ini lahir dari
satu pemikiran bahwa suatu budaya senantiasa tidak lepas dari
kemanusiaan dan adanya penerimaan secara umum terhadap nilai-nilai,
keyakinan-keyakinan, orientasi-orientasi, perilaku-perilaku, dan institusi-
institusi oleh umat manusia di seluruh dunia. Kondisi ini terjadi pada
masyarakat modern di mana dalam perjalanannya telah melahirkan
adanya proses globalisasi. Mengglobal berarti mendunia. Dalam alam yang
serba canggih, suatu kebudayaan dapat diserap dan merambah ke seluruh
dunia jika memiliki perangkatnya, yaitu transportasi dan komunikasi.
Dengan dua modal tersebut suatu kebudayaan akan memiliki banyak
peluang untuk disosialisasikan ke segala penjuru negeri, dan mempunyai
kemampuan untuk menghadirkan selalu produk budaya yang up to date.
Karena itu negara-negara maju yang mempunyai kekuatan akses yang
besar akan mampu membentuk opini dunia. Artinya negara-negara maju
mampu memprakarsai format peradaban masyarakat dunia.

B. MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BERADAB DAN MASYARAKAT


ADAB
Sejak dahulu kala manusia selalu mempertanyakan asal usul
kehidupan dan dirinya. jawaban sementara atas pertanyaan tersebut ada
tiga altenatif, yaitu melalui konsep penciptaan, transformasi. dan/atau
evolusi biologi.
Definisi evolusi biologi bermacam-macam tergantung dari aspek
biologi yang dikaji. Beberapa definisi yang umum dijumpai di buku buku
biologi. antara lain: evolusi pada makhluk hidup adalah perubahan yang
dialami makhluk hidup secara perlalnin-lahnn dalam kurun waktu yang
lama dan diturunkan. sehingga lama kelamaan dapat terbentuk species
baru. Ainu evolusi diartikan dengan perubahan frekuensi gen pada
populasi dari masa ke masa. Atau evolusi juga sering dimaksudkan
sebagai perubahan karakter adaptif pada populasi dari masa ke masa.
Melalui pemikiran evolusi inilah kemudian pelbagai pandangan dari
cabang ilmu bio-logi dipersatukan.
Idea tentang terjadinya evolusi biologis sesungguhnya sudah lama
menjadi pemikiran manusia. Namun, di antara berbagai teori evolusi yang
pernah diusulkan, tampaknya teori emlusi oleh Darwin lah yang paling
sering dijadikan rujukan pokok. Darwin (1858) mengajukan dua teori pokok
yaitu spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup
sebelumnya, dan evolusi terjadi melalui seleksi alam. Perkembangan
tentang teori evolusi tersebut sangat menarik untuk diikuti. Darwin
berpendapat bahwa berdasarkan pola evolusi bersifat gradual,
berdasarkan arah adaptasinya bersifat divergen dan berdasarkan hasilnya
sendiri selalu dimulai terbenmknya varian baru.
Dalam perkembangannya teori evolusi Darwin mendapat tantangan
(terutama dari golongan agama, dan yang menganut paham teori
penciptaan-Universal Creation), dukungan dan pengayaan-pengayaan.
jadi, teori sendiri juga berevolusi sehingga teori evolusi biologis yang
sekarang kita kenal dengan label Neo Darwinian dan Modern Sintesis;
bukanlah murni seperti yang diusulkan oleh Darwin. Berbagai istilah di
bawah ini merupakan hasil pengayaan yang mencerminkan pergulatan
pemikiran dan argumentasi ilmiah seputar teori evolusi: berdasarkan
kecepatan evolusi (evolusi quasi dan evolusi quantum); berdasarkan
polanya (evolusi gradual, evolusi punctual, dan evolusi saltasi) dan
berdasarkan skala produknya (evolusi makro dan evolusi mikm).
Topik yang akan dibahas di bawah ini meliputi perkembangan teori
evolusi Darwin dan implikasi dari teori evolusi biologi Darwin terhadap
cara pandang kita tentang keberadaan makhluk dan alam semesta.
Pada tahun 1858 Darwin memublikasikan The Origin yang memuat
dua teori utama yaitu:
1. Spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies lain yang hidup di
masa lampau.
2. Evolusi terjadi melalui seleksi alam.
Menurut Darwin, agen tunggal penyebab terjadinya evolusi adalah
seleksi alam. Seleksi alam adalah process of pre-serving in nature
favorable variations and ultimately eliminating those that are injurzous.
Secara umum, tanggapan ahli lain terhadap teori Darwin adalah:
a. Mendapat tantangan terutama dari golongan agama, dan yang
menganut paham teori penciptaan (universal creation).
b. Mendapat pembelaan dari penganut Darwin antara lain, Yoseph Hooker
dan Thomas Henry Huxley (1825-1895 ).
c. Mendapat kritik dan pengayaan dari banyak ahli antara lain Morgan
(1915), Fisher (1930), Dobzhansky (1937), Goldschmidt (1940) dan Mayr
( 1942).
Dengan berbagai perkembangan dalam ilmu biologi, khususnya
genetika maka kemudian teori evolusi Darwin diperkaya. Seleksi alam
tidak lagi menjadi satu-satunya agen penyebab terjadinya evolusi,
melainkan ada tambahan fakttor-faktor penyebab lain yaitu: mutasi, aliran
gen, dan genetic drift. Oleh karenanya teori evolusi yang sekarang kita
sering disebut Neo-Darwinian atau Modern Systhesis.
Secara singkat, proses evolusi oleh seleksi alam (Neo Darwinian)
terjadi karena adanya:
a. Perubahan frekuensi gen dari satu generasi ke generasi berikutnya.
b. Perubahan dan genotipe yang terakumulasi seiring berjalannya waktu.
c. Produksi varian baru melalui pada materi genetik yang diturunkan (DNA/
RNA).
d. Kompetisi antar-individu karena keberadaan besaran individu melebihi
sumber daya lingkungan tidak cukup untuk menyokongnya.
e. Generasi berikut mewarisi kombinasi gen yang sukses dari individu
fertile (dan beruntung) yang masih dapat bertahan hidup dari kompetisi.
Teori utama Darwin bahwa spesies yang hidup sekarang berasal dari
spesies lain yang hidup di masa lampau dan bila diurut lebih lanjut semua
spesies makhluk hidup diturunkan dari nenek moyang umum yang sama.
Seperti yang juga diperkirakan oleh Darwin. Teorinya akan ditentang
banyak pihak. Para penentang teori ini dikategorikan dalam tiga kelompok
utama:
a. Kelompok yang berpendapat bahwa teori Darwin tersebut tidak cukup
ilmiah.
b. Kelompok Creationist yang berpendapat bahwa inasing-masing
spesies diciptakan khusus oleh yang Maha kuasa untuk tujuan tertentu.
c. Kelompok penganut filsafat idealist yang berpendapat bahwa spesies
tidak berubah. Variasi yang ada merupakan tiruan tidak sempurna dari
pola umum archetypes. Goethe mengabstraksikan satu archetype atau
Urbild untuk semua tanaman (Urplanze) dan beberapa Bauplane untuk
hewan.
Untuk para penentangnya dari dua kelompok pertama di atas Darwin
cukup menandaskan bahwa keajaiban-keajaiban atau intervensi dari
kekuatan supranatural dalam pembentukan spesies adalah tidak ilmiah.
Dalam menanggapi kelompok Idealist (seperti Owen dan Lois Agassiz)
Darwin mampu menangkis dengan baik. Pada Origin edisi pertama, Darwin
(1959) di halaman 435, menyimpulkan bahwa penjelasan Owen pada
masalah archetype adalah interesting dan unity of type-nya
merupakan hukum biologi yang penting. Kemudian setelah Owen lebih
keras lagi menentang teorinya. Darwin pada edisi berikutnya
menambahkan ...tetapi itu bukan penjelasan ilmiah. Menurut Darwin
penjelasan tentang homologi dan unity of types terkait dengan nenek
moyang adalah ilmiah, sementara penjelasan terkait dengan archetype
tidak ilmiah. Oleh karena Darwin memandang masalah ini sebagai proses,
sementara konsep archetype adalah timeless. Secara umum, Darwin
adalam penganut paham materialisme.

Darwin mengemukakan bahwa seleksi alam merupakan agen utama


penyebab terjadinya evolusi. Darwin (dan Wallace) menyimpulkan seleksi
dari prinsip yang dikemukakan oleh Malthus bahwa setiap populasi
cenderung bertambah jumlahnya seperti deret ukur, dan sebagai
akibatnya cepat atau lambat akan terjadi perbenturan antar-anggota
dalam pemanfaatan sumber daya khususnya bila ketersediaannya
terbatas. Hanya sebagian, sering kali merupakan bagian kecil, dari
keturunannya bertahan hidup: sementara besar lainnya tereliminasi.
Dengan berkembangnya ilmu genetika, teori itu diperkaya sehingga
muncul Neo-Darwinian. Menurut Lemer (1958), definisi seleksi alam
adalah segala proses yang menyebabkan pembedaan non-random dalam
reproduksi terhadap genotipe; atau allele gen dan kompleks gen dari
generasi ke generasi berikutnya.
Anggota pOpulasi yang membawa genotipe yang lebih adaptif
(superior) berpeluang lebih besar untuk bertahan daripada keturunan
yang inferior. jumlah individu keturunan yang superior akan bertambah
sementara jumlah individu inferior akan berkurang dari satu generasi ke
generasi lainnya. Seleksi alam pun juga masih bekerja, sekalipun jika
semua keturunan dapat bertahan hidup dalam beberapa generasi.
Contohnya adalah pada jenis fauna yang memiliki beberapa generasi
dalam satu tahun. Jika makanan dan sumber daya yang lain tidak terbatas
selama suatu musim, populasi akan bertambah seperti deret ukur dengan
tidak ada kematian di antara keturunannya. Hal itu tidak berarti seleksi
tidak terjadi, karena anggota populasi dengan genotipe yang berbeda
memproduksi keturunan dalam jumlah yang berbeda atau berkembang
mencapai matang seksual pada kecepatan yang berbeda. Musim yang lain
kemungkinan mengurangi jumlah individu secara drastis tanpa pilih-pilih.
jadi pertumbuhan eksponensial dan seleksi kemungkinan akan dilanjutkan
lagi pada tahun berikutnya. Perbedaan fekunditas, sesungguhnya juga
merupakan agen penyeleksi yang kuat karena menentukan perbedaan
jumlah individu yang dapat bertahan hidup atau dan jumlah individu yang
akan mati, yang ditunjukkan dalam angka kematian (Dobzhansky, 1970).
Darwin telah menerima, namun dengan sedikit keraguan, slogan
Herbert Spencer survival of the fittest in the struggie for life sebagai
alternatif untuk menerangkan proses seleksi alam. Namun saat ini slogan
itu tampaknya dipandang tidak sepenuhnya tepat. Tidak hanya individu
atau jenis yang terkuat tetapi mereka yang lumayan pas dengan
lingkungan dapat bertahan hidup dan bereproduksi. Dalam kondisi seleksi
yang lunak atau halus semua individu atau jenis pembawa genotipe yang
bermacam-macam dapat bertahan hidup ketika populasi berkurang.
Individu yang {it (individu yang sesuai dengan lingkungan dapat
bertoleransi dengan lingkungan) tidak harus mereka yang paling kuat,
paling agresif atau paling bertenaga, melainkan mereka yang mampu
bereproduksi menghasilkan keturunan dengan jumlah terbanyak yang
viable dan fertile.
Seleksi alam tidak menyebabkan timbulnya materiel baru (bahan
genetic yang baru yang di masa mendatang akan datang diseleksi lagi),
melainkan justru menyebabkan hilangnya suatu varian genetic atau
berkurang frekuensi gen tertentu. Seleksi alam bekerja efektif hanya bila
populasi ber-isi dua atau lebih genotype, yang mana dari varian itu ada
Yang akan tetap bertahan atau ada yang tereliminasi pada kecepatan yang
berbeda-beda. Pada seleksi buatan, breeder akan memilih varian genetic
(individu dengan genotipe) tertentu untuk dijadikan induk untuk generasi
yang akan datang. Permasalahan yang timbul adalah dari mana sumber
materi dasar atau bahan mentah genetik penyebab keanekaragaman
genetik pada varian-varian yang akan objek seleksi oleh alam.
Permasalahan itu terpecahkan setelah T.H Mars gan dan kawan-kawan
meneliti mutasi pada lalat buah Drosophilia. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa proses mutasi menyuplai bahan mentah genetik yang
menyebabkan terjadinya keanekaragaman genetik di mana nantinya
seleksi alam bekerja (Dobzhansky, 1970).
Implikasi dari teori evolusi melalui alam ini sangat luas, tidak hanya
mencakup bidang filsafat, namun juga sosial-ekonomi dan budaya, yaitu:
a. Penggantian cara pandang bahwa dunia tidak statis melainkan
berevolusi.
b. Paham creationisme berkurang pengaruhnya.
c. Penolakan terhadap theology kosmis.
d. Penjelasan desain di dunia oleh proses materialistik seleksi alam,
proses yang mencakup interaksi antara variasi yang tidak beraturan dan
reproduksi yang sukses bersifat Oportunistik yang sepenuhnya jauh dari
dogma agama.
e. Penggantian pola pikir esensialisme oleh pola pikir populasi.
f. Memberikan inspirasi yang disalahgunakan untuk tujuan yang tidak baik
seperti gerakan Nazi di jerman,
Musolini di Italia, kebijakan eugenic di Singapura di masa Lee Kuan Yu
dan berkembangnya ekonomi liberal yang dikemas dengan label Social-
Darwinian.
Secara ilmiah teori evolusi Darwin utama belum dapat dikatakan
runtuh, karena sebelum ditemukan bukti-bukti empiris yang bertentangan
dengan kesimpulan teori tersebut, maka pernyataan dalam teori itu masih
dianggap benar. Akan tetapi sampai saat ini banyak kalangan masih
meragukan kebenaran teori itu terutama dari kalangan agamawan.
Saat ini Indonesia kebanjiran buku-buku Islam yang diproduksi Dr.
Harun Yahya yang menyerang teori Dar-win. Dari segi teologis ada
kekhawatiran bahwa teori Darwin akan mengusir Tuhan dari kehidupan,
namun Haidar Bagir. pakar Iilsafat Islam, tidak sepenuhnya sependapat
dengan Harun Yahya. Bagir (2003) menanggapinya dengan mengatakan
Sikap kita terhadap keyakinan Darwinian mengenai sifat kebetulan dan
materialistic asal usul kehidupan yang terkandung dalam teori itu sudah
jelas. Kita tetap menolaknya. Tetapi tidak demikian halnya dengan
kesimpulan utama teori ini mengenai sifat-sifat evolusioner kehidupan.
Karena betapa pun demikian, tetap saja Tuhan bisa dipercayai sebagai
Dzat di balik semua gerakan evolusi itu. . .. Tentang prinsip survival of the
littest, Bagir justru membenarkannya dan kita harus mengambil
hikmahnya, karena hal itu sesuai dengan kenyataan sehari-hari dan tidak
bertentangan dengan kandungan Al-Qur'an.
Apa yang diperdebatkan tentang hipotesis akar pohon asal mula
keluarga manusia di atas oleh banyak ahli mulai dianggap tidak terlalu
penting untuk didiskusikan lebih jauh. Yakni apakah nenek moyang
manusia berasal dari simpanse atau neanderthal, adalah lebih bijak jika
mulai diteliti faktor yang menyebabkan manusia modern dapat bertahan
lebih lama hingga kini dan tidak punah seperti simpanse atau nenderthal.
Menurut antropolog john Hawk dari Universitas of Wisconsin-Madison
(2010), lebih baik kita mendis kusikan apa yang membuat kita dapat
bertahan hingga kini Apakah disebabkan oleh kondisi fisik kita yang lebih
tahan terhadap penyakit, ataukah keahlian manusia dalam berkomunikasi,
ataukah kebiasaan manusia yang suka berkumpul? Penjelasan dari
pertanyaan tersebut lebih bermanfaat untuk dikaji para ahli karena akan
menjelaskan perbedaan manusia dengan simpanse atau neanderthal.
Karena itu adalah tidak penting memperdebatkan apakah manusia dari
spesies yang sama dengan simpanse atau neanderthal, meskipun terdapat
temuan ilmiah manusia secara genetik tidak jauh berbeda dengan
simpanse dan neanderthal (Kompas, 15 Mei 2010).

Apakah manusia ada melalui penciptaan atau proses evolusi,


keduanya adalah dialektika pemikiran tentang asal mula manusia yang
cemerlang. Kita tidak boleh terjebak pada penjelasan kausal empirik
tentang akar pohon manusia yang tanpa akhir. Kita tetap perlu melihat sisi
lain berupa pelajaran penting dari diskusi tersebut. Mengapa manusia
dapat bertahan lebih kuat dibanding makhluk lainnya dari proses seleksi
alam yang sedang berlangsung? Apakah melalui nilai- nilai kemanusiaan
sehingga melahirkan peradaban modern berupa peralatan-peralatan
canggih ataukah memang secara fisik lebih kuat dibanding makhluk
lainnya? Ataukah karna keahlian manusia dalam berkomunikasi dengan
menusia lainnya sehingga pelbagai tantangan dan rintangan alam mampu
direkayasa dan dicarikan Jalan keluarnya? Apa pun jawabannya. kita tidak
dapat menolak bahwa kemampuan manusia dalam bertahan melewati
seleksi alam melahirkan pelbagai produk peradaban berharga (baik yang
bernilai positif dan negatif bagi kemanusiaan) yang patut dijadikan
pelajaran penting bagi setiap generasi manusia mendatang.

C. EVOLUSI BUDAYA DAN WUJUD PERADABAN DALAM KEHIDUPAN


SOSIAL BUDAYA
Pada perkembangannya kehidupan manusia modern muncul sejak
beberapa ratus ribu tahun terakhir sungguh hanya sekejap jika
dibandingkan dengan sejarah planet bumi yang sudah berusia 5 miliar
tahun. Kita tidak dapat mengganggu sistem bumi secara keseluruhan,
namun kita telah memengaruhinya dengan menggunakan energi yang
menyebabkan polusi sewaktu membuat makanan, tempat berteduh, dan
sejumlah produk lainnya bagi populasi dunia yang meningkat. Kita
melepas senyawa-senyawa kimia yang menyebabkan timbulnya lubang di
lapisan ozon yang berfungsi melindungi kita dari radiasi ultraviolet dan
kita membakar bahan bakar yang menyebabkan terbentuknya gasgas
panas yang tidak dapat keluar dari lapisan atmosfer sehingga jumlahnya
terus bertambah. Penambahan jumlah populasi juga menambah beban
bagi potensi pertanian dan kebutuhan lahan semakin meningkat.
Hutan-hutan tropis yang merupakan tempat tinggal bagi jutaan
spesies ditebang untuk pertanian, padang rumput, tempat tinggal, dan
kawasan industri. Bahan baku yang diambil dari permukaan bumi untuk
menjaga kestabilan ekonomi dari dunia yang sedang berkembang, dan
kita memperlakukan atmosfer, tanah. dan air sebagai limbah yang
dihasilkan dari penggunaan energi dan barang-barang dalam kehidupan
sehari-hari.
Melalui geologi masa lampau, kondisi di atmosfer, sa. mudra dan
biosfer untuk sebagian besar telah mengikuti perputaran alami. Sekarang,
kegiatan-kegiatan manusia me. rupakan kekuatan yang penting yang
mendorong perubahan.. perubahan di dalam lingkungan global. Kekuatan
pendorong dalam peradaban budaya manusia modern ini sangat dipe..
ngaruhi oleh kemampuan akal pikiran dan budi daya manusia dalam
mempertahankan kehidupannya di planet bumi ini. Dengan meningkatnya
populasi manusia di planet bumi akan semakin menambah marak
kehidupan terhadap lahan dan sumber daya lainnya yang potensial dan
strategis bagi kelangsungan hidup kelompok-kelompok manusia yang
pada suatu saat terjadi ketergantungan terhadap lingkungan alam.
Ketergantungan terhadap lingkungan alam akan segera teratasi dengan
meningkatnya budaya manusia dalam penguasaan ilmu dan teknologi
yang nantinya akan semakin jelas bagaimana manusia akan berperilaku
terhadap lingkungan alam dan perubahan yang menyertainya.
Peradaban manusia dalam perkembangan evolusi budaya dan
adaptasi biologis dimulai setelah ditemukannya api sebagai alat untuk
memenuhi berbagai keperluan dan keinginan. Api merupakan penemuan
teknologi paling awal yang membawa peradaban manusia pada
kemampuan untuk mengubah lingkungan alamiah menjadi lingkungan
binaan yang sesuai dengan kehendak dan aspirasinya. Perkembangan
berikutnya menunjukkan bahwa evolusi budaya lebih mendominasi
adaptasi biologis manusia terhadap lingkungan manusia. Terlebih lagi
ketika perkembangan teknologi sebagai bagian dari perkembangan
budaya yang paling menonjol. Akibat kemajuan yang pesat di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi menjadikan manusia kurang menyadari
pentingnya adaptasi terhadap lingkungan alam, karena dengan teknologi
manusia bisa mengatasi berbagai hal dalam bentuk relung dan kondisi
lingkungan tanpa memiliki kemampuan alami. Kita sudah dapat
menyaksikan bahwa manusia dapat berkeliaran di dasar samudra tanpa
memiliki insang seperti halnya ikan, atau bertamasya ke ruang angkasa
tanpa harus bersayap. Akibat perkembangan budaya manusia karena
peradaban yang dibawanya dengan teknologi sebagai instrumen yang
menyertainya menjadikan pandangan manusia terhadap lingkungan
alamiah mengalami perubahan yang berarti. Dengan ilmu dan teknologi
yang dimilikinya manusia telah merasa menguasai lingkungan, padahal
kejadian yang sebenarnya lingkungan alam dan lingkungan binaan
manusia jauh dari kekuasaannya.
Kemampuan manusia untuk menguasai lingkungan alam hanyalah
suatu impian atau khayalan yang kurang mendasar. Tidaklah etis bilamana
ada manusia yang mengatakan dengan bangganya telah menaklukkan
lingkungan alam yang berupa kawasan pegunungan, kawasan pantai,
kawasan DAS, lautan, sumber daya air serta bahan galian mineral.
Bukankah semua potensi lingkungan alam tersebut merupakan tanggung
jawab kita sebagai pengelola sumber daya bumi demi kemaslahatan umat
manusia. Tidak banyak yang menyadari bahwa kehadiran lingkungan alam
beserta proses alam yang menyertainya merupakan amanah terhadap
manusia. Dalam pandangan geofilosofi, kehadiran manusia dengan
budayanya selalu dipandang sebagai pemelihara alam, Tetapi kini dengan
munculnya krisis lingkungan, manusia telah menjadi perusaknya. Manusia
telah mengubah peran. nya, berkat uluran tangan peradaban modern, dari
makhluk yang diturunkan dari langit dan hidup harmonis dengan bumi
menjadi sebuah makhluk ciptaan yang memandang di. rinya sebagai yang
merangkak dari bawah dan kini menjadi pemangsa dan pembasmi yang
sangat mematikan.
Dalam pandangan Islam sebagai rahmatan seluruh alam semesta,
memandang manusia sebagai wakil (alo-khalifah) Allah SWT di atas bumi
dan secara eksplisit Al-Qur'an menegaskan, Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang wakil (khalifah) di muka bumi (al-Baqarah: 30).
Lebih jauh lagi, kualitas kewakilan ini disempurnakan dengan kualitas
kehambaan (al-'ubudiyyah) kepada Allah SWT. Manusia adalah hamba
Allah dan karenanya harus menaati-Nya. Sebagai khalifah Allah, manusia
harus aktif di dunia, memelihara keharmonisan lingkungan alam dan
menyebarluaskan berkah dan karunia karena ia sehubungan dengan
kedudukan manusia sebagai ciptaan yang terdidik dan berbudaya di dunia
yang sementara ini merupakan perantara.
Seperti halnya Allah SWT memelihara dan mengasuh dunia, manusia
sebagai wakil-Nya juga harus memelihara dan mengasuh dengan kasih
sayang, keharmonisan terhadap: litosfer, atmosfer, tanah/lahan, mineral,
energi, serta air, di mana ia memainkan peran penting. Fungsi
pemeliharaan terhadap lingkungan alam merupakan kesaksian manusia
sebagai pemegang amanah ketika bersaksi di hadapan Sang Pencipta.
Allah SWT menunjukkan hal ini dalam ayat yang terkenal, Bukankah Aku
ini Tuhanmu? Mereka (yaitu, anggota kelompok manusia) menjawab, betul
Engkau Tuhan kami. kami bersaksi (al A'raaf. l72). Menjadi masyarakat
manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan terdidik berarti menyadari
akan tanggung jawab yang melekat dalam status wakil Allah SWT ".
Dalam ayat-Nya bahwa Allah SWT telah menundukkan (sakhkhara)
lingkungan alam bagi manusia sebagaimana termuat dalam ayat, "Apakah
kamu tiada melihathat bahwa Allah menundukkan bagimu apa yang ada di
bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintahnyaa' (al-Hajj:
65) tidaklah berarti bahwa dengan perkembangan peradaban di bidang
ilmu dan teknologi manusia semenamena melakukan eksploitasi terhadap
lingkungan alam! sumber daya bumi (apa yang ada di bumi). Dengan ayat
itu dimaksudkan, bahwa dominasi atas segala apa yang ada di bumi
diperbolehkan bagi manusia sejauh itu sesuai dengan hukum-hukum Allah
pada sifat-sifat dasar dinamika kebumian dan perilaku lingkungan alam.
Secara makro dapat diartikan bahwa eksploitasi sumber alam itu lebih
ditekankan pada kemaslahatan masyarakat/umat manusia.
Namun apa yang banyak terjadi di sekitar kita saat ini. bahwa
manusia mulai bisa hidup dan merasa aman dalam lingkungan alam yang
sudah diubahnya menjadi lingkungan binaan dan secara budaya telah
menjauhkan kepekaan menusia terhadap risiko yang dapat ditimbulkannya
maupun risiko proses kebumian yang menyertainya. Perlakuan terhadap
sumber daya alam kebumian ini harus menekankan pada kemampuan
daya dukung alam/lingkungan di mana diperbolehkannya untuk
dimanfaatkan sebagaimana adanya. Kepekaan manusia dalam dimensi
penghambaan kepada . Allah SWT serta dimensi kewakilan-Nya di bumi ini
mulai luntur dan makin hias dengan kemajuan peradaban modern,
Manusia semakin tidak menyadari bahwa dalam setiap pe rcncanaan dan
pelaksanaan pembangunan terdapat dimensi kewakilan (ni-khalifah) dan
kehambaan (ain'ubudiyyah) serta adanya proses perubahan alam
(atmosfer dan liwat'era) di dalamnya. Perubahan lingkungan alam menjadi
lingkungan binaannya selalu dimulai dengan munculnya kesempatan yang
lebih baik dan mapan. Karena itu, di balik kemapanan kesempatan itu,
manusia hanya mampu memandang berbagai manfaat dari manipulasi
terhadap lingkungan alam dengan berbagai potensi sumber daya
kebumian yang terkandung didalamnya. Setiap manusia memiliki
keinginan dan kehendak untuk mengeksploitasi lingkungan alam, bayang-
bayang risiko selalu tertutup rapat-rapat, sehingga kemungkinan muncul
ancaman baik dari proses alam kebumian maupun lingkungan binaannya
kurang mendapat perhatian yang proporsional.
Bencana alam merupakan peristiwa atau kerugian/kehilangan secara
mendadak karena proses alam. Terdapat tiga unsur dalam bencana alam,
yaitu pertama adalah unsur kerugian/kehilangan, kedua unsur dadakan
sehingga manusia tidak mempunyai waktu untuk menghindar, serta ketiga
adalah unsur proses alamiah. Unsur kerugian atau kehilangan dapat
berupa kehilangan jiwa manusia, harta benda, budi daya manusia.
kerusakan lingkungan, juga dapat berupa hilangnya aset nasional yang
potensial. Unsur dadakan yang dimaksud adalah dalam hal yang
menyangkut kerugian yang ditimbulkannya.
Dari perkembangan peradaban budaya, manusia telah mengenai apa
yang disebut dengan bencana alam. Dilihat dari kacamata geologi,
bencana alam merupakan proses alam kebumian, tetapi yang berjalan
sangat cepat dengan ukuran manusia yang di dalamnya terdapat unsur
manusia. Pada dasarnya terdapat dua jenis proses alam yang dapat
mengakibatkan bencana alam. Proses alam yang bersumber dari dalam
bumi atau juga disebut proses alam asal dalam atau proses endogen, dan
yang bersumber di atmosfer atau disebut juga proses asal luar atau proses
eksogen. Yang termasuk dalam proses endogen adalah gempa bumi dan
letusan gunung api. Gempa bumi dapat menimbulkan goncangan dan
pergesaran pada permukaan. Bila akumulasi energi melebihi kondisi
elastoplastis, bahkan ke kondisi runtuh maka energi akan menimbulkan
getaran yang menyebar melalui tanah dan batuan ke permukaan bumi
menjadi gempa tektonik yang dahsyat dan memorakporandakan semua
aktivitas yang dikenainya. Bilamana hal ini terjadi di perairan samudra,
maka akan terjadi gelombang tsunami yang sangat berbahaya bila dekat
dengan kawasan pantai yang padat dengan aktivitas budaya manusia,
seperti yang telah terjadi di Aceh, 26 Desember 2004 yang lalu.
Aktivitas gunung api merupakan fenomena yang jarang diperhatikan
banyak orang kecuali para saintis bidang volkanologi maupun fisika
gunung api. Bahan padat hasil erupsi baik berupa aliran lava, penumpukan
kubah lava, bahan piroklastik merupakan materiel-materiel yang sangat
merusak bila mengenai kawasan budaya manusia di lereng-lereng gunung
api. Guguran kubah lava yang menyebabkan awan bersuhu tinggi dan
bergerak sangat cepat merupakan bahaya yang sangat fatal terhadap
kehidupan manusia maupun lingkungan di lereng gunung api. Demikian
juga bila terjadi banjir lahar dingin yang bersifat merusak pada aliran
dilewatinya.
Gejala eksogen ialah hujan yang berlebihan misalnya (atau
sebaliknya. kekeringan), serta angin kencang. Di kawasan yang berlereng
curam dengan kestabilan batuan dan tanahnya tidak baik. kemudian bila
akumulasi air dalam tanah berlebihan sering terjadi longsoran, runtuhan
yang merupakan gejala yang wajar. Demikian juga bila terjadi kelebihan
massa air dan curah hujan, sering menimbulkan banjir baik banjir
genangan maupun banjir bandang/banjir kiriman Bencana kekeringan
yang pada gilirannya dapat menjadi penyebab paceklik dan kelaparan,
penyakit, dan juga kebakaran. Angin kencang atau angin ribut dapat
menimbulkan bencana. Gelombang air laut pasang dapat pula ditimbulkan
oleh angin yang meniup kuat.
Semua ini menyangkut gejala alam yang pada hakikatnya merupakan
proses alam yang wajar-wajar saja. Proses alam akan menjadi sebuah
bencana alam bilamana proses alam tersebut mengenai semua aktivitas
budaya manusia. Apakah aktivitas itu di kota, di desa, di kawasan
pegunungan, kawasan pantai, daerah kantong-kantong kemiskinan atau
daerah dengan akses ekonomi yang tinggi atau wilayah yang mempunyai
aset nasional. Bencana alam yang melanda bumi akhir-akhir ini hendaknya
menjadikan kita sadar betapa tidak berdayanya manusia terhadap
lingkungan alam.
Kenyataan menjadi jelas bahwa lingkungan alam kebumian dan
lingkungan binaan manusia memiliki berbagai potensi bencana alam
seperti gempa bumi tektonik. tsunami, bencana awan panas,, tanah
longsor, banjir bandang/banjir genangan, angin kencang, badai salju yang
sangat fatal terhadap perkembangan budaya manusia. Hal ini terkadang
lepas dari sorotan pada saat manusia merencanakan berbagai kegiatan
hidupnya. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibanggakan dan
diharapkan oleh manusia untuk dapat melindungi dirinya dari ancaman
bencana alam justru menimbulkan berbagai bentuk gangguan terhadap
lingkungan maupun ekosistem. Pada gilirannya, gangguan dan degradasi
lingkungan akibat penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak
tepat telah menimbulkan dampak negatif terhadap perikehidupan dan
peradaban lingkungan budaya manusia itu sendiri. Sebagaimana ilmu
pengetahuan dan teknologi tentang tata cara pembuangan
sampah/limbah padat pada media geologi tertentu perlu perlakukan
khusus. Namun demikian, kesalahan dalam manajemen ilmu dan teknologi
tersebut mengakibatkan satu rangkaian komunitas budaya masyarakat
Leuwigajah (Cimahi) harus hilang seketika (kasus longsoran di lokasi
penimbunan sampah di Leuwigajah, Cimahi, pertengahan Februari 2005
lalu).
Dalam dua dasawarsa terakhir hingga memasuki abad ke-21 kini,
tanpa disadari jumlah manusia, harta benda/aset nasional yang menjadi
korban bencana alam ternyata meningkat, meskipun dari kacamata
geologi maupun klimatologi, lingkungan geologi di masa kini (Kuarter,
kurang dari 1,8 juta tahun yang lalu hingga sekarang ini) tidak
menunjukkan suatu perubahan yang mendasar. Tetapi jika mengaca
betapa dahsyatnya bencana alam seperti gempa bumi di Peru, gempa
bumi di Kobe. gempa bumi di Meksiko, tsunami di Flores, tsunami di
Banyuwangi, Gempa bumi di Liwa, gempa bumi dan tsunami di
Pangandaran dan Cilacap juli 2006, awan panas Merapi, banjir Pantura.
banjir di Jakarta, banjir di Aceh dan Sumatera Utara, tanah longsor di Jawa
Barat, tanah longsor dan banjir bandang di Bohorok dan di Pacet-Jawa
Timur, tanah longsor di Purworejo, banjir di berbagai tempat di Sumatera-
Kalimantan, dan Jawa, gempa bumi di Iran, gempa bumi di Nabire, tsunami
di Biak, gempa bumi di Alor, gempa bumi dan tsunami di Aceh dan
Sumatera Utara, gempa bumi Bantul dan Klaten, longsor di Solok, gempa
bumi di Mandailing Natal Sumur, hingga gempa bumi Haiti, merupakan
peningkatan bencana alam yang nyata baik ditinjau dari segi kejadiannya
maupun jumlah korban manusia yang ditimbulkannya. Lebih berat lagi
ketika kita mendapati kenyataan bahwa jumlah penduduk bumi juga
semakin meningkat. Belum lagi peristiwa semburan lumpur panas di
sekitar sumur eksplorasi Banjar Panji-l milik Lapindo Brantas di Porong,
sebagai bentuk akumulasi kekuatan alam yang kurang diantisipasi dengan
kamampuan teknologi eksplorasi sumber daya migas yang handal.
Akibatnya keperluan manusia akan lingkungan alam juga semakin meluas
dan makin meningkat baik ditinjau dari segi kebutuhan akan ruang untuk
hidup maupun kebutuhan akan sumber daya yang terkandung di
dalamnya. Oleh karena itu, bila keperaluan manusia akan ruang hidup dan
sumber daya bumi yang terkandung didalamnya tidak dipertimbangkan
dengan potensi sumber bencana kebumian, risiko yang akan
ditimbulkannya semakin fatal dan sangat berbahaya.
Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan
sumber daya bumi dan sumber bahaya kebumian. karena itu sudah
sepantasnyalah pertimbangan terhadap resiko bahaya kebumian ini harus
mendapat perhatian saksama di Indonesia. Apalagi bila dikaitkan dengan
adanya pusat pusat pertumbuhan wilayah strategis yang sebagian berada
di kawasan rawan bahaya kebumian. Bila perhatian terhadap sumber
bahaya kebumian beserta risikonya lolos dari betbagal rencana
pembangunan nasional maupun daerah, maka bukan hanya manusia yang
semakin peka terhadap bencana kebumian, bahkan proses pembencanaan
alam yang bersumber dari kelalaian peradaban manusia terhadap
ancaman bencana kebumian tidak dapat dihindarkan.
Akhirnya evolusi budaya manusia akan membawanya kepada
perubahan lingkungan awal secara global, karena kita mengetahui bahwa
perubahan-perubahan akan membawa konsekuensi yang baik maupun
yang buruk. Perikehidupan manusia modern saat ini sedang berada pada
suatu titik kulminasi yang menentukan proses evolusi sejarah peradaban
modern, yaitu apakah terjatuh pada kondisi semakin memburuk atau
sebaliknya semakin membaik. Kondisi nyata yang sedang kita alami saat
ini adalah meluasnya kemiskinan, kelaparan, ketidaksehatan, tunaaksara
dan berlanjutnya kerusakan ekosistem, global warming, dan seterusnya.
Demikian juga kesenjangan antara kaya dan miskin makin berlanjut.
Karena itu, satu-satunya alternatif jalan untuk menjamin adanya
masa depan yang lebih aman dan lebih sejahtera bagi kita adalah
mengembalikan fitrah manusia pada kekhalifahan dan kehambaan kepada
Tuhan dengan konsekuensinya melakukan pembangunan nasional/daerah
yang ramah lingkungan kebumiannya dalam mengupayakan kebutuhan
pokok umat manusia, memperbaiki taraf hidup semua orang dan
mengupayakan perlindungan serta pengelolaan ekosistem yang lebih baik
dan bijaksana. Dalam menjalankan semua ini kita harus mempunyai suatu
visi yang jauh kedepan

demi kesatuan dan keutuhan bangsa/umat manusia serta kelestarian


pembangunan yang berwawasan lingkungan kebumian. Di samping itu,
kita perlu memandang perlunya solidaritas kemanusiaan dalam
pelaksanaan pembanguan. Umat manusia adalah satu, oleh karena itu
dalam transfer.. masi kebudayaan untuk mengantisipasi berbagai
perubahan termasuk di dalamnya risiko bencana kebumian, degradasi
lingkungan global, peledakan populasi, memerlukan solidaritas
kemanusiaan yang berkelanjutan untuk evolusi budaya manusia. Pada
dasawarsa terakhir ini, terlihat bahwa interaksi dinamis antara atmosfer
dan litosfer yang berimplikasi pada risiko kehidupan dan hasil budaya
bangsa ini telah menunjukkan satu proses pembelajaran yang sangat
mendalam tentang makna kehadiran manusia sebagai khalifahtull fill ardh.
Ke mana hakikat kehidupan budaya manusia dan budaya bangsa ini
dibawa dalam lingkungan yang sangat dinamis yang melibatkan semua
elemen/ unsur atmosfer dan litosfera bergerak mengikuti ritme Sunatullah-
Nya. Semoga kita mampu mengambil pelajaran dari semua kejadian itu
untuk tahun yang akan datang, dan selalu berpikir bahwa: tidaklah Aku
ciptakan ini dengan sia-sia.

D. DINAMIKA PERADABAN GLOBAL


Mobilitas antarbangsa seperti saat ini menjadi salah satu ciri kuat
perkembangan masyarakat global. Mobilitas yang dilakukan atas alasan
apa pun telah menjadi fenomena penting yang menandai terbukanya
isolasi-isolasi rutinitas kehidupan di pelbagai belahan dunia. Namun
demikian, tidak dapat disangkal pula bahwa berbagai model dan
perkembangan mobilitas antarbangsa tidak lagi mengenal adanya batasan
spasial. teritorial kedaulatan suatu bangsa, ruang, maupun waktu.
Berbagai pergerakan manusia yang berlangsung dapat dikatakan bergerak
di luar kendali ruang dan waktu.
Dalam konteks kehidupan global, tantangan utama yang dihadapi
banyak negara adalah terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan sosial,
budaya, dan politik. termasuk ketimpangan pertumbuhan ekonomi yang
berimbas pada pesaingan ketat pasar tenaga kerja secara global.
Globalisasi dengan demikian, merupakan dunia terbuka yang benar benar
telah meleburkan sekat-sekat yang membatasi pergerakan manusia dari
dan ke berbagai negara. Sehingga hampir menghilangkan ruang, waktu
yang menjadi identifikasi identitas sebuah bangsa. Dalam konteks
tersebut penting memberikan ruang besar bagi terjadinya dialog yang
menjembatani kompleksitas persoalan budaya. Dengan demikian, mampu
menjadi katalisator pertumbuhan peradaban. Ialan penting yang perlu
dilakukan adalah melalui jalur pendidikan. Melalui pendidikan di buka
ruang maha luas bagi berlangsungnya berbagai mobilitas, baik dalam
konteks praksis maupun teoretis. Keterbukaan ruang mobilitas tersebut
pada gilirannya menciptakan persinggungan peradaban dan pemikiran
pemikiran yang bersifat dialogis.
Perbincangan tentang globalisasi (terlebih dibaca dari perspektif
negeri-negeri pheriperie-istilah Wallerstein) akan mengambil dua pokok
pertanyaan: apa itu globalisasi dan bagaimana dampaknya bagi
kehidupan keseharian kita. Global-isasi sebagai sebuah konsep akan
mengacu pada intensifikasi kesadaran sebuah dunia secara keseluruhan.
Perspektif ini mengingatkan pada perdebatan klasik ( Marx-Weber), yakni
antara kekuatan dominasi ekonomi dan kekuatan pluralisme sosiokultural.
Dalam praktiknya. globalisasi adalah tadptanya sebuah dunia yang tanpa
batas. Sebuah transnasional ruang? Tak berlebihan bila Giddens (1990)
menyebut bahwa masyarakat kita dewasa ini adalah masyarakat
pengembara dalam ruang dan waktu" (cf. Bauman l998).

Kekuatan ekonomi yang dimotori oleh kekuatan kapitalisme.


menumbuhkembangkan globalisasi produksi dan konsumsi. Sektor
produksi muncul dengan tumbuhnya industri,transnasional, yang
merambah mendekati pasar dan upah buruh murah. Proses ini
menciptakan transnasionalisasi kapital. dan sekaligus melokalisasi
problem-problem sosial. Maka. apa yang kini kita kenal sebagai
Neoliberalisme pun merambah dunia keseharian kita, memformat proses
kebangsaan kita dan membuat runtuhnya bangunan bangunan sosial
lama. Kekuatan kapital telah menggulung tatanan sosial. Berbagai kasus
kebijakan publik tentang politik swastanisasi pendidikan adalah contoh
nyata betapa dunia sosiokultural berhadapan langsung dengan kekuatan
pasar. Negara pun seperti tak bisa berbuat banyak terhadap pengaruh
deras kapitalisme. Pengaruh sektor produksi internasional yang
berkembang menciptakan pula tingkah laku konsumtif di berbagai belahan
bumi. Bahkan, negeri-negeri pheripheri justru menjadi ladang subur bagi
pertumbuhan tingkah laku konsumtif, yang sering tampil sebagai gaya
hidup. Scott ush menyebabnya sebagai proses estetikanisasi dunia
kehidupan global. Globalisasi sektor produksi dan konsumsi secara nyata
telah membawa sebuah situasi baru: polarisierung und strafi-zierung der
Weltbevoelkerung in globalislerte Reicha und lokalisierte Arme (polarisasi
dan stratifikasi penduduk dunia dan jam globalitas kaum kaya dan
lokalitas kaum miskin) (Beck, 1997: 101). Dengan bahasa lain bahwasanya
akses global hanya dapat tersentuh oleh kaum kaya, sementara kaum
miskin terkotak-kotak dalam permasalahannya sendiri (Anjal, anak
berhadapan dengan hukum (ABH), PSK, warga miskin kota, pemulung, dll),
tanpa memiliki daya dan kuasa untuk terlibat aktif dalam kemajuan dunia
global. Polarisasi ekonomi tersebut dibarengi pula oleh adanya situasi
dunia yang terfragmentasi. Penyebabnya adalah tidak hanya akibat dari
pergeseran sektor produksi menuju sektor konsumsi, namun lebih dahsyat
lagi adalah terjadinya konsekuensi penalaran modernitas (Giddens 1990;
Beck 1986).
Konsekuensi penalaran dan praktik modernitas tersebut menciptakan
impact-impact yang tak terdeteksi atau tak teramalkan sebelumnya. Risiko
adalah kata kunci untuk mendeskripsikan proses kerusakan atau biaya.
Beck dalam bukunya Risikogesellschaft: Auf dem Weg in eine andere
Modeme (1986) menyebut proses modernitas semacam itu sebagai
masyarakat risiko. Individuasi adalah proses sosial yang tak terelakkan,
yang menghidupi dan dihidupi oleh roh modernitas.
Spirit modernitas yang menyertai proses globalisasi tersebut kiranya
juga menghantam dunia kehidupan warga masyarakat. jika di negeri-
negeri pusat terjadi proses individuasi yang luar biasa, demikian pula
masyarakat negerinegeri pheripheri mengalami goncanganwgoncangan
luar biasa pada tatanan sosialnya. Periode transisi ini ditandai oleh proses
disembedding ofsocial system. Akibatnya, sistem komunikasi sosial
masyarakat pada situasi yang khaotik dan pula semakin menghilangnya
nilai kepercayaan" institusionai dan individual (cf. Luhman, 1999).
Pemahaman di atas memberikan makna bahwa proses in.. tensitikasi
ruang-ruang transnasional, problem-problemnya, konflik dan peristiwa
selalu berjalan dalam logika global" inilah yang kemudian disebut proses
globalisasi. Dimensi. dimensi tersebut tak pelak mengerucut pada soal
bahwa semuanya dimotori oleh kekuasaan pasar yang berideologi neo-
liberal (globalisme).
Dalam era globalisasi dan persaingan internasional yang ketat. daya
saing bangsa Indonesia kerap disalip bangsa lain karena kita terlena dari
membangun bangsa yang kuat dan mandiri. Adalah ]ohn Kendrick (1573-
1624) di akhir dasawarsa 60-an yang mengingatkan kepada kita
bagaimana pentingnya pembangunan sebuah bangsa yang didasari oleh
optimalisasi peran sumber daya manusia (human stock), setelah sekian
lama kita berpikir bahwa capital stock merupakan aspek terpenting dalam
proses perubahan peradaban manusia. Pergeseran pemikiran tersebut
berimplikasi pada penen-tuan target-target pembangunan yang harus
dicapai oleh suatu negara di dunia. Oleh karenanya, indeks mutu sumber
daya manusia pun dijadikan indikator strategis untuk mem-bangun daya
saing suatu bangsa. Dalam konteks itu, maka sektor pendidikan,
kesehatan, dan ekonomi menjadi sarana yang efektif untuk mendongkrak
peraihan indeks mutu sumber daya manusia. Untuk menyiapkan sumber
daya manusia tersebut, keberadaan dunia pendidikan terutama
pendidikan tinggi menjadi hal yang strategis untuk mempresentasikan
tingkat ketercapaian pembangunan ketiga pada sektor itu.

E. PROBLEMATIKA PERADABAN PADA KEHIDUPAN MANUSIA


Awal kelahiran modernisme merupakan sebuah proses revolusi
peradaban tentang cara pandang manusia terhadap realitas. Melalui fisika
Descartes, ia membangun sebuah wacana besar tentang metode
pemahaman terhadap realitas yang bertumpu pada konsep democritus.
Descrates membagi realitas ke dalam atom-atom penyusun realitas dan
kemudian dicari sistemnya terhadap keseluruhan. Bersama para
pengikutnya kemudian ilmu fisika menjelma sebagai bentuk ideologi besar
modernisme, bahkan kemudian mampu meruntuhkan dominasi gereja
yang kala itu menjadi satu-satunya tafsir kebenaran terhadap segala
macam realitas. Alam dalam pemaknaan Descartes adalah kurang lebih
dipahami sebagai sesuatu yang (langsung jadi' dan tidak memiliki
perubahan, sistemnya tetap, begitu juga semua elemen pembentuk
alamnya.
Setelah konsepsi Descartes memengaruhi segala macam kehidupan,
termasuk tatanan sosial melalui pemikiran F. Bacon (1561-1626) dan
Comte (1798-1857), berlanjut kemudian alam pikiran modern mengenal
seorang Lamarckl (1744 ~1829) dan Charles Robert Darwin2 (1809-1882)
dengan teori evolusinya di bidang biologi. Walaupun keduanya sejatinya
berbeda dalam memaknai proses evolusi, namun konsep evolusi ini
merupakan sebuah revisi terhadap konsep realitas dari sumbangsih
Descartes yang menganggap alam sebagai sebuah sistem yang tetap.
Ternyata ide Darwin tersebut kemudian mendapat dukungan dari
generasai berikutnya, yaitu Karl Marx (1818-1883) yang dikenal sebagai
seorang Darwinian Sosial yang menganggap bahwa proses pergantian
sosial pun selalu melalui proses seleksi alam. Bahkan adanya konflik
adalah sesuatu yang niscaya sebagai upaya untuk keluar dari kerumitan
sosial sekalgus menjadi pemenang dari proses seleksi alam tersebut.
Berikutnya adalah ilmuwan Sir Isaac Newton (16431727). melalui
Newton perkembangan ilmu fisika mengalami proses penyempurnaan.
Dengan demikian, realitas yang terdiri atas sistem dan elemen pembentuk
sistem (Descrates). dan realitas yang mengalami sebuah evolusi secara
terus-menerus (Darwin) diterangkan dalam konsepsi berbeda yang dikenal
dengan konsepsi mekanika. Mekanika Newton atau sering juga disebut
dengan mekanika klasik menjelaskan adanya fenomena benda yang relatif
besar, dengan kecepatan relatif rendah, tetapi juga dapat digunakan
sebagai pendekatan fenomena benda mikroskopik. Secara makro
penjelasan mekanika Newton tersebut membuka wacana besar yang
membentuk peradaban modern semakin sempurna. Melalui Descartes,
Darwin dan Newton fondasi modernisme semakin kukuh. Pemikiran ketiga
tokoh tersebut menemukan bentuk fungsionalnya saat perkembangan
alat-alat teknologi semakin meluas dan mendunia, dimulai saat revolusi
industri pada akhir abad ke17.
Bergulirnya percepatan penggunaan teknologi cangih saat ini tidak
perlu selalu dimaknai sebagai keadaan yang negatif (Fritjof Capra: 2004).
Sebagaimana dalam kebijaksanaan klasik Cina, konsep krisis
menggunakan kata weiji yang terdiri dari huruf-huruf yang berarti
bahaya dan kesempatan. Artinya, saat terjadi krisis sesungguhnya
terjadi proses transisi, yaitu selain mengandung bahaya juga mengandung
kesempatan yang bisa membuat kondisi umat manusia menjadi lebih baik.
Dilihat dari proses kelahiran modernisme di atas, bisa dimaknai
bahwa peran sains (atau lebih tepatnya natural science) dalam
menentukan arah peradaban manusia sangat besar. Demikian juga
kontribusi para saintis yang memiliki kompetensi filosofis ternyata terbukti
mampu menggiring sejarah umat manusia. Begitu juga peran teknologi, di
mana ketika sains memiliki peran besar dalam proses pembentukan
wacana besar yang menjadi fondasi kebenaran, teknologi sebagai
bentuk aplikasi sains memiliki peran besar dalam pembentukan realitas
sosial. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa para saintis berwacana
dan para teknolog membumikan pemikiran mereka dalam bentuk
peralatanperalatan yang berguna bagi kehidupan manusia.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana peran sains dan teknologi dalam
penentuan bentuk peradaban baru pasca-modernisme? Fritjof Capra
menyitir Toynbee tentang proses kelahiran Minoritas Kreatif sebagai
nukleolus penentu arah peradaban sebagai berikut:
Budaya runtuh karena kehilangan Fleksibilitas. Pada waktu struktur
sosial dan pola perilaku telah menjadi kaku sedangkan masyarakat tidak
lagi mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang berubah, peradaban
itu tidak akan mampu melanjutkan proses kreatif evolusi budayanya. Dia
akan hancur dan secara berangsur mengalami disintegrasi.
Sementara peradaban-peradaban yang sedang berkembang
menunjukkan keberagaman dan kepandaian yang tak pernah berhenti,
peradaban-peradaban yang berada dalam proses disintegrasi
menunjukkan keseragaman dan kurangnya daya temu. Hilangnya
fleksibilitas dalam masyarakat yang mengalami disintegrasi ini disertai
dengan hilangnya harmoni secara umum pada elemen-elemennya, yang
mau tak mau mengarah pada meletusnya perpecahan dan kekacauan
sosial.
Namun demikian, selama proses disintegrasi yang menyakitkan itu,
kreativitas masyarakat-kemampuannya untuk menghadapi tantangan-
tidak hilang sama sekali. Meskipun arus budaya telah menjadi beku
dengan melekatkan diri pada pemikiran-pemikiran mapan dan pola-pola
perilaku yang kaku, minoritas kreatif akan tetap muncul ke permukaan dan
melanjutkan proses tantangan dan tanggapan itu. Lembaga-lembaga
sosial yang dominan akan menolak menyerahkan peran-peran utama
kepada kekuatan-kekuatan budaya baru ini, tetapi mereka mau tak mau
akan tetap runtuh dan mengalami disintegrasi, dan kelompok minoritas
kreatif itu mungkin akan mampu mentransformasikan berberapa elemen
lama menjadi konfigurasi baru. Proses evolusi budaya ini akan terus
berlanjut, tetapi berada dalam kondisi-kondisi baru dan dengan tokoh-
tokoh baru pula (Titik Balik Perdaban, Fritjof Capra, 1981).
Melalui penjelasan Toynbee di atas, peradaban baru manusia
postmodern mulai terbentuk secara perlahan. Bahkan setelah ada
interaksi antara matematika dengan teknologi elektronika. kita kemudian
mengenal bentuk aplikasi tekanologi yang dikenal dengan teknologi
komputer. yang jauh meninggalkan konsep mekanika newton. Dunia
kemudian juga mengenal adanya pengaruh iilosoiis dari konsep fisika
kuantum terhadap realitas sosial. yaitu ketika teknologi komputer
berinteraksi dengan realitas sosial. sehingga terlahir sebuah teknologi
informasi yang bergerak dalam logika kuantum yang diprediksikan oleh
Toiler akan menjadi tulang punggung bentuk peradaban baru pengganti
modernisme.
Selain itu, kita mengenal bagaimana konsep cepat lambat mengalami
perubahan secara drastis. Juga konsep keterbatasan ruang yang bisa
diatasi sehingga konsep jauh dan dekat secara &losofrs juga mengalami
perubahan makna. Dengan demikian, jaring-jaring cartesian akan sulit
untuk menggambarkan karena konsep ruang dan waktu ini sudah berubah
secara filosofis. Bahkan perbedaan konsep nyata dan imajiner yang juga
kemudian di klaim oleh dunia IT akan segera teratasi akan semakin
meninggalkan jaring-jaring cartesian sebagai satu-satunya yang bisa
menggambarkan kenyataan. Inga dengan berkembangnya pemetaan DNA,
rekayasa genetika yang meninggalkan konsep evolusinya Darwin. Sekali
lagi terbukti, pengaruh dominan sainstis dan teknolog ternyata masih
sangat dominan untuk menentukan masa depan umat manusia. Apalagi
setelah ilmuwan sosial mahzab kritis dengan posmodernismenya terjebak
dalam wacana dan definisi semata, serta para teolog dan ahli agama yang
terus disibukkan dengan perdebatan liberal dan konservatifnya, disadari
atau tidak para saintis dan teknolog akan terus menjadi penentu arah
peradaban.
Ketika Descartes merumuskan konsep geometri analitis mungkin tidak
berpikir tentang implikasi moral dan sosial dari konsepnya tersebut.
Demikian juga seorang Darwin dan juga Newton. Apalagi melihat konsep
reduksionisnya Descartes yang kemudian mengilhami pembagian bidang
spesialisasi ilmu yang di masa peradaban Islam dianggap belum begitu
penting. Sehingga, pengaruh pemikiran yang mereka berikan terhadap
perubahan sosial bisa jadi tidak terpikirkan sebelumnya. Dengan bahasa
lain, ekses modernisme terhadap tatanan sosial pengganti tatanan sosial
abad kegelapan bisa jadi tidak pernah mereka pikirkan bahkan tidak
pernah mereka bayangkan. Apalagi dampak negatifnya terhadap
kenyataan sosial.
Adanya penyesalan umat manusia terhadap proses per-adaban
manusia yang merusak lingkungan dan tatanan sosial ekses dari
modernisme perlu disikapi dengan bijak. Adalah sebuah kebutuhan mutlak
bagi kita semua saat ini agar para komunitas saintis dan teknolog terus
membangun dan mengembangkan penerapan sains dan teknologi. Namun
demikian, seluruh kemajuan teknologi perlu terus mempertimbangkan
konsekuensi ekologi, moral, dan sosial dari proses inovasi maupun
inventori yang mereka lakukan. Karenanya, sindiran, teguran dan
peringatan dari kalangan ahli ilmu sosial dan juga teolog atau ulama perlu
disikapi secara bijak oleh para saintis dan teknolog itu sendiri.
Hal yang cukup memprihatinkan adalah budaya pragmatis, egois
bahkan tertutup (elitis) di tengah masyarakat kita. Hal tersebut secara
tidak sadar adalah sedikit banyak adalah kontribusi dari kalangan saintis
dan teknolog. Pertanyaannya bagaimana kita mengembalikan sistem yang
memungkinkan terbukanya kembali sekat-sekat komunikasi antara sains
dan teknologi, dari pihak saintis dan teknolog tentunya, dengan disiplin
ilmu dan spesialisasi lain tanpa harus memandang bidang ilmu lain lebih
rendah. Kuntowidjoyo (1943-2005) mengusulkan pentingnya membangun
sebuah etika profetis di kalangan saintis dan teknolog, sebagaimana
layaknya para nabi yang memandang dirinya sebagai sosok pembebas
umat manusia dari segala penindasan, sebagai sosok yang
mendedikasikan proses inovasi dan inventorinya untuk pembangunan
kembali hakikat kemanusiaan yang nyaris musnah, dan juga sebagai para
pengingat umat manusia akan kenyataan bahwa sejatinya mereka adalah
makhluk Tuhan.
Oleh karena itu, setiap ilmuwan seyogianya mengemban misi
kenabian (profetik), yaitu dengan melakukan transmisi keilmuan untuk
peradaban yang lebih maju tanpa merusak tatanan kehidupan manusia
dan ekologi lingkungan hidup. Yakni dengan membangun pemahaman
bersama bahwa sejatinya ilmu adalah untuk kemanusiaan (humanity) dan
kemaslahatan bersama (common good). Ilmuwan tidak saja
menyelesaikan persoalan kehidupan, tetapi ia harus turut andil
memastikan nasib keberlangsungan hidup dan masa depan generasi umat
manusia ke depan. Dengan kebersamaan satu misi tersebut, para ilmuwan
diharapkan tidak lagi terjebak dalam sekat-sekat pembidangan keilmuwan
yang absurd dan merusak tujuan mulia dari ilmu pengetahuan.