Anda di halaman 1dari 22

Analisis Transformasi Stuktur Tenaga Kerja dari sektor Primer ke sektor Tersier di

Kota Kendari tahun 2005-2010

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Salah satu ciri negara sedang berkembang adalah banyak masyarakatnya yang bekerja

di sektor primer seperti sektor pertanian dan pertambangan. Tujuan pelaksanaan

pembangunan jangka panjang di segala bidang diharapkan terjadi perubahan struktur

ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder atau sektor tersier menjadi lebih seimbang

dengan di dukung oleh kekuatan industri dan jasa maka sasaran pembangunan akan tercapai.

Dari serangkaian pelaksanaan pembangunan tersebut diharapkan struktur ekonomi akan

mengalami perubahan. Pada awal pembangunan dengan meningkatnya sektor pertanian

sebagai sektor primer dan sektor industri secara bertahap dibarengi dengan peningkatan

sektor tersier berupa jasa-jasa dengan secara bertahap pula, maka diharapkan akan tercapai

keseimbangan pada struktur ekonomi dalam jangka panjang. Menurut Fisher (dalam Sukirno

2006;143) menjelaskan bahwa perubahan struktur ekonomi untuk berbagai negara dapat

dibedakan berdasarkan persentase tenaga kerja yang berada di sektor primer, sektor sekunder

dan sektor tersier. Pendapat ini menunjukkan bahwa makin tinggi pendapatan perkapita suatu

negara maka makin kecil peranan sektor pertanian dalam menyediakan kesempatan kerja, dan

sebaliknya sektor industri makin penting peranannya dalam menampung tenaga kerja. Untuk

mencapai tujuan tersebut, baik skala nasional maupun skala regional tidak terlepas dari upaya

pemerintah, peran swasta dan masyarakat. Untuk melakukan proses perubahan struktur
ekonomi yang dapat menanggulangi kepincangan dalam perekonomian terdapat tiga dimensi

yang terjalin dalam suatu kegiatan secara terpadu, yaitu :

1. Usaha untuk mengarahkan proses pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produksi di

berbagai sektor.

2. Usaha untuk menciptakan lapangan kerja dan menanggulangi jumlah angkatan kerja yang

terus meningkat.

3. Usaha untuk menanggulangi kesulitan dan tekanan pada neraca pembayaran luar negeri.

Ketiga dimensi tersebut mencerminkan usaha pokok struktur ekonomi, sebab struktur

ekonomi pada hakekatnya ditentukan oleh :

1. Struktur produksi sebagai dasar dan sumber pendapatan masyarakat.

2. Struktur penduduk dan mata pencahariannya (lapangan kerja dan sumber pendapatan

masyarakat).

3. Struktur lalu lintas barang dan jasa dalam hubungannya dengan ekonomi internasional.

Secara umum struktur tenaga kerja di Kota Kendari selama tahun 2006-2008 terserap

pada sembilan sektor dalam perekonomian. Sektor-sektor tersebut terbagi menjadi tiga

sektor utama yaitu sektor primer terdiri dari sektor pertanian, pertambangan dan penggalian,

sektor sekunder meliputi, industri, listrik, gas, air, dan konstruksi dan sektor tersier meliputi

perdagangan, komunikasi, transportasi, keuangan, persewaan serta sektor jasa.

Tenaga kerja yang terserap pada sektor primer di tahun 2006 sebanyak 4.962 orang,

terdiri dari sektor pertanian sebanyak 4.880 orang dan sektor pertambangan dan penggalian

sebanyak 82 orang. Pada tahun 2007 penyerapan tenaga di sektor primer mengalami

peningkatan dengan jumlah 5.059 orang dan pada tahun 2008 turun menjadi 10.029 orang.

Pada tahun 2006 jumlah tenaga kerja yang terserap pada sektor tersier berjumlah 62.726

dengan rincian tenaga kerja yang terserap pada sektor perdagangan sebanyak 18.102 orang,

pengangkutan dan komunikasi sebanyak 1.588 orang, keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan sebanyak 11.132 orang serta sektor jasa-jasa lainnya sebanyak 31.904 orang.

Pada tahun 2007 tenaga kerja yang terserap pada sektor tersier sebanyak 69.121 orang, yang

kemudian menurun pada tahun 2008 menjadi 64.763 orang. (BPS Kota Kendari, 2008)

Sesuai dengan kenyataan diatas, maka dapat dikatakan bahwa kegiatan ekonomi di

Kota Kendari selama tahun 2006-2008 telah memperlihatkan adanya fluktuasi perubahan

struktur tenaga kerja di Kota Kendari. Sejauh mana perubahan struktur tersebut belum

diketahui.

Atas dasar kondisi tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian

dengan judul Analisis Transformasi Stuktur Tenaga Kerja dari sektor Primer ke sektor

Tersier di Kota Kendari tahun 2005-2010


1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini

adalah apakah terjadi transformasi struktur tenaga kerja antar sektor yaitu dari sektor primer

ke sektor tersier di Kota Kendari pada tahun 2005-2010.

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tranformasi struktur tenaga kerja dari sektor

primer ke sektor tersier di Kota Kendari selama 5 tahun terakhir.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Dapat digunakan sebagai bahan informasi untuk perumusan kebijaksanaan pembangunan di

Kota Kendari, khususnya yang berkaitan dengan ketenagakerjaan.

2. Merupakan informasi untuk penelitian selanjutnya tentang trasformasi struktur ekonomi

melalui proses alokasi tenaga kerja di Kota Kendari.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini difokuskan pada 9 sektor perekonomian yang

memberikan kontibusi terhadap PDRB. Dari 9 sektor tersebut diklasifikasikan menjadi 3

sektor utama yaitu sektor primer, sektor sekunder dan sektor tersier. Namun penelitian ini

difokuskan pada sektor primer dan sektor tersier, tentang proses transformasi struktur tenaga

kerja pada 2 sektor tersebut di Kota Kendari dari tahun 2005-2010.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kajian Teori

2.1.1. Teori Trasformasi Struktur Ekonomi

Pembangunan ekonomi dalam jangka panjang mengikuti pertumbuhan pendapatan

nasional akan membawa suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi dari ekonomi

tradisional dengan pertanian sebagai sektor utama ke ekonomi modern yang didominasi oleh

sektor non pertanian. Perubahan struktur ekonomi atau transformasi struktural dapat

didefenisikan sebagai suatu rangkaian perubahan yang saling terkait satu dengan lainnya

dalam komposisi Agregat Demand, perdagangan luar negeri ( eksport dan import ), Agregat

Supply ( produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal yang

dipergunakan guna mendukung proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang

berkelanjutan ( Chenery 1979 dalam Tambunan 2001).

Lebih lanjut menurut (Chenery 1992 dalam Tambunan 2001) menjelaskan bahwa

proses transformasi struktur akan mencapai tarafnya yang paling cepat bila pergeseran pola

permintaan domestik ke arah output industeri manufaktur diperkuat oleh perubahan yang

serupa dalam komposisi perdagangan atau ekspor sebagaimana yang terjadi di Negara-

negara kelompok Newly Industrialized Countries ( NICs ).

Transformasi struktural dapat dilihat pada perubahan pangsa nilai output atau nilai

tambah dari setiap sektor di dalam pembentukan PDB atau Produk Nasional Bruto atau

Pendapatan Nasional. Indikator lain yang sering digunakan untuk mengukur pola perubahan

struktur ekonomi adalah distribusi kesempatan kerja menurut sektor. Pada awal pembangunan

sektor-sektor primer merupakan kontributor terbesar dalam penyerapan tenaga kerja. Pada

tahap akhir pembangunan ekonomi sektor-sektor sekunder terutama industri menjadi sangat

penting dalam penyediaan kesempatan kerja. Relasi antara tingkat pendapatan per kapita
dengan perubahan struktur ekonomi dapat dianalisis selain dengan pendekatan time series

juga dapat dianalisis dengan pendekatan cross-section. Negara-negara dengan pendapatan

rendah memiliki pangsa pertanian di dalam total penyerapan tenaga kerja dan pembentukan

PDB jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara dengan pendapatan tinggi.

Lebih lanjut Lewis menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi umumnya diiringi

dengan transformasi struktural dalam perekonomian itu sendiri. Dalam konteks

perekonomian negara, teori perubahan struktural memusatkan perhatian pada mekanisme

yang memungkinkan perekonomian negara berkembang mentransformasikan struktur

perekonomiannya dari pertanian subsisten ke sektor modern. Dua pakar ekonomi terkenal

yang berhasil mengembangkan teori ini adalah Arthur Lewis yang terkenal dengan model

surplus tenaga kerja dua sektor dan Hollis Chenery dengan analisa empirisnya tentang pola-

pola pembangunan.

Menurut Lewis dalam Todaro (1995:68) menjelaskan bahwa perekonomian negara

berkembang terdiri atas dua sektor utama, yaitu sektor pertanian yang subsisten dan sektor

modern (industri dan jasa). Sektor pertanian adalah sektor pedesaan yang penduduknya

melimpah sehingga tenaga kerja juga melimpah (surplus of labour). Kondisi ini secara teknis

ditunjukkan oleh marginal produktivitas sama dengan nol. Dengan begitu, perpindahan

tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor lain sama sekali tidak mempengaruhi produksi di

sektor pertanian. Penekanan utama teori ini adalah proses terjadinya perpindahan tenaga kerja

dari sektor pertanian pedesaan ke sektor industri perkotaan serta peningkatan outputnya.

Proses transformasi struktural secara ilustrasi dapat dijelaskan dengan bantuan kurva

kemungkinan produksi (the production possibility or transformation curve), yaitu suatu kurva

yang menunjukkan batas maksimum dari tingkat produksi yang dapat dicapai oleh suatu

masyarakat dengan menggunakan seluruh sumber-sumber daya yang dimiliki.


Menurut Samuelson dan Nordhaus, (1992:126-127) menjelaskan bahwa kurva

kemungkinan produksi diasumsikan seluruh tenaga kerja yang tersedia dipekerjakan dan alat-

alat produksi sepenuhnya digunakan, jumlah faktor-faktor produksi tetap, tingkat teknologi

tidak mengalami perubahan dan di dalam perekonomian hanya dapat dihasilkan dua jenis

barang yaitu barang industri (barang modal) dan barang pertanian (barang konsumsi),

pendeknya perekonomian dalam keadaan full employment. Diawali dengan proses memilih

jenis barang yang hendak diproduksikan, barang modal dan barang konsumsi misalnya,

dalam membuat pilihan tergantung kepada tujuan-tujuan yang ingin dicapai masyarakat.

Apabila masyarakat ingin menikmati kehidupan sekarang secara maksimal maka

hampir seluruh produksi terdiri dari barang konsumsi dan sedikit saja barang modal. Tetapi

kalau masyarakat menginginkan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan kemakmuran yang

tinggi di masa depan, maka barang modal cukup banyak diproduksikan. Investasi tentu akan

menjadi lebih tinggi dan ini selanjutnya akan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Akan

tetapi masyarakat yang bijaksana biasanya berusaha menikmati kemakmuran yang

semaksimal mungkin pada masa kini, tetapi pada waktu yang sama ingin mencapai

pertumbuhan ekonomi yang cepat di masa depan, maka produksi barang modal dan barang

konsumsi relatif di produksi seimbang. Pilihan-pilihan produksi di atas tentu saja

mempengaruhi alokasi dan distribusi tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi yang

digunakan.

Pada pilihan pertama jumlah tenaga kerja lebih banyak terserap untuk memproduksi

barang konsumsi dari pada barang modal. Tetapi pada pilihan kedua dan ketiga alokasi tenaga

kerja akan bergeser dari memproduksi barang konsumsi ke memproduksi barang modal.

Kejadian ini akan berlaku sama di dalam memilih kombinasi produksi barang konsumsi dan

barang modal dengan barang tersier (jasa). Proses perubahan produksi dan alokasi tenaga

kerja antar sektor inilah yang dimaksud dengan "transformasi struktural".


Menurut Chenery dan Syrquin dalam Sukirno (1995: 216) menganalisis mengenai

perubahan struktural ekonomi dalam proses pembangunan di negara-negara berkembang

menunjukkan sepuluh jenis perubahan yang terjadi. Perubahan-perubahan tersebut dibedakan

menjadi tiga perubahan yang terjadi. Perubahan-perubahan dalam struktur ekonomi yang

dipandang sebagai perubahan dalam proses akumulasi, perubahan-perubahan dalam struktur

ekonomi yang dipandang sebagai perubahan dalam proses alokasi sumber-sumber daya

(resources), dan perubahan-perubahan dalam struktur ekonomi yang dipandang sebagai

perubahan dalam proses demografis dan distributif.

Kegiatan-kegiatan ekonomi yang termasuk dalam proses akumulasi adalah

pembentukan modal atau investasi, pengumpulan pendapatan pemerintah dan kegiatan

menyediakan pendidikan kepada masyarakat yang tergolong sebagai alokasi sumber-sumber

daya adalah struktur permintaan domestik (pengeluaran-pengeluaran masyarakat atas

produksi dalam negeri), struktur produksi dan struktur perdagangan. Dalam golongan yang

ketiga yaitu proses demografis dan distributif, termasuklah proses perubahan dalam faktor-

faktor alokasi tenaga kerja dalam berbagai sektor, urbanisasi, tingkat kelahiran dan kematian,

dan distribusi pendataan.

Pembangunan ekonomi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi umumnya diiringi

dengan perubahan mendasar pada aspek : pertama ; produksi; kedua ; permintaan domestik;

ketiga ; perdagangan, keempat transisi demografis, kelima ; ketenagakerjaan, dan keenam ;

distribusi. Perubahan dalam keenam aspek ini terjadi secara simultan. Dari aspek produksi

terjadi penurunan kontribusi sektor primer terhadap PDB dan meningkatnya kontribusi sektor

sekunder dan tersier. Laju pertumbuhan sektor industri dan jasa lebih cepat dari laju

pertumbuhan PDB itu sendiri. Dari segi permintaan domestik, peningkatan pendapatan

perkapita maka terjadi penurunan porsi konsumsi total terhadap PDB dan penurunan belanja

bahan kebutuhan pokok terhadap konsumsi keseluruhan.


Menurut Mahi (1997: 156) menjelaskan bahwa konsumsi pemerintah yang mengalami

penurunan, dimana pada tahap awal pembangunan, konsumsi pemerintah bersifat dominan

dan makin menurun sejalan dengan meningkatnya kinerja perekonomian sehingga peran

pemerintah sebagai pelaku pembangunan makin berkurang. Ditunjang oleh berbagai

kebijakan dibidang produksi dan perdagangan maka sejalan dengan perubahan dalam struktur

produksi, perdagangan internasional mengalami perubahan dari lebih banyak menjual barang

primer kepada peningkatan dalam perdagangan barang-barang industri dan jasa.

Struktur ekonomi akan mengalami perubahan dalam proses pembangunan ekonomi.

Menurut Fisher dalam Mahi,1997:158 mengatakan bahwa berbagai negara telah dapat

dibedakan berdasarkan kepada persentase tenaga kerja yang berada di sektor primer, sekunder

dan tersier. Pendapat ini dibuktikan oleh Clark yang telah mengumpulkan data statistik

mengenai persentase tenaga kerja yang bekerja pada sektor primer, sekunder dan tersier di

beberapa negara.

Sukirno (1995: 151) menjelaskan bahwa data yang dikumpulkannya itu menunjukkan

bahwa semakin tinggi pendapatan perkapita suatu negara, maka semakin kecil peranan sektor

pertanian dalam menyediakan kesempataan kerja. Akan tetapi sebaliknya, sektor industri dan

jasa makin penting peranannya dalam menampung tenaga kerja. Yang dimaksud dengan

sektor primer adalah kegiatan ekonomi dalam bidang pertanian, kehutanan, perikanan dan

pertambangan. Sektor sekunder adalah industri-industri pengolahan, industri air dan listrik

dan industri bangunan. Sedangkan sektor tersier meliputi kegiatan dalam bidang

pengangkutan dan perhubungan, pemerintahan, perdagangan dan jasa-jasa perseorangan.

Pertumbuhan ekonomi biasanya disertai dengan proses akumulasi atau proses

penggunaan sumber daya dan dana untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas stok barang

modal, meningkatnya pendidikan formal dan non formal dari tenaga kerja yang pada

gilirannya terjelma dalam kenaikan persentase tenaga kerja terdidik dan terampil serta
kemampuan dalam menguasai teknologi, selain itu makin baiknya keadaan sarana dan

prasarana perhubungan serta sarana dan prasarana lainnya.

Kuznets dalam Sukirno (1995: 116) mengemukakan bahwa terjadinya perubahan

struktur ekonomi dalam proses pembangunan bukan hanya karena adanya perubahan

persentase penduduk yang bekerja di berbagai sektor dan sub sektor dalam pembangunan

ekonomi, tetapi karena adanya perubahan kontribusi berbagai sektor ekonomi kepada produk

nasional. Dalam proses tersebut Kuznets menyimpulkan bahwa terjadinya perubahan

sumbangan sektor pertanian, sektor industri dan jasa-jasa terhadap produksi nasional, corak

perubahan tersebut sebagai berikut :

1. Kontribusi sektor pertanian terhadap produksi nasional menurun.

2. Kontribusi sektor industri terhadap produksi nasional meningkat

3. Kontribusi sektor jasa-jasa terhadap produksi nasional tidak mengalami perubahan berarti,

jumlah pertumbuhan itu tidak konsisten adanya.

Kuznets dalam Sukirno (1995: 118) selanjutnya membagi analisisnya dalam beberapa

sektor :

1. Sektor pertanian

2. Sektor industri dibagi kedalam lima sektor yaitu : sub sektor pertambangan, sub sektor

pembangunan, sub sektor industri pengolahan, sub sektor listrik, gas dan air minum.

3. Sektor jasa-jasa dibagi ke dalam lima sub sektor yaitu : perdagangan, bank, pemerintah dan

pertahanan, sewa rumah serta jasa perseorangan.

Irawan (1993: 57) menyatakan perubahan struktural ekonomi Indonesia terdiri atas :

1. Perubahan dalam struktur penerimaan dalam negeri dan penerimaan migas kepada

penerimaan di luar negeri wilayah khususnya penerimaan pajak.

2. Perubahan dalam penerimaan devisa hasil perdagangan luar negeri, dari penerimaan hasil

ekspor migas kepada penerimaan hasil ekspor non migas.


3. Penerimaan dari sektor swasta yang semakin besar dari penerimaan sektor negara dalam

pembiayaan investasi.

4. Penerimaan dari pemerintah daerah yang semakin besar bukan saja harus meningkatkan

kemandirian dalam pembiayaan di daerah, tetapi juga karena perlu melayani sektor dunia

usaha yang semakin meningkat kegiatannya di daerah.

Perubahan struktur diperkirakan akan berlangsung terus-menerus, bahkan akan

semakin meningkat di masa mendatang. Peranan sektor pertanian terhadap produk nasional

semakin kecil, sedangkan peranan di luar pertanian semakin besar terutama pada sektor

industri dan jasa yang pada akhimya menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

Dengan demikian laju pertumbuhan sektor-sektor di luar pertanian akan lebih tinggi

dibandingkan dengan laju pertumbuhan sektor pertanian.

Sudarsono (1995: 86) menyatakan bahwa perubahan struktur di lndonesia

kecenderungannya adalah sebagai berikut :

1. Peranan sektor pertanian (di ukur dengan sumbangan value added dan penyerapan tenaga

kerja) akan semakin menurun dan secara bertahap digantikan peranannya oleh sektor industri

dan jasa.

2. Walaupun peran sektor pertanian akan menurun secara relatif terhadap sektor lainnya,

mayoritas penduduk miskin akan tetap menggantungkan hidupnya pada sektor tradisional ini.

3. Selama ini mayoritas penduduk Indonesia terkonsentrasi pada pekerjaan sebagai usaha

bekerja dengan dibantu oleh anggota rumah tangga. Dengan memperhatikan perubahan

sektor ekonomi di masa depan perkembangan penduduk dari daerah pedesaan ke daerah

perkotaan akan mendorong laju tumbuhnya usaha rumah tangga pada kegiatan perdagangan,

industri pengolahan (skala kecil) dan jasa.


2.1.2. Perubahan Struktur dalam Proses Pembangunan Ekonomi

Struktur ekonomi akan mengalami perubahan dalam proses pembangunan ekonomi.

Tulisan A.G.B. Fisher dalam International Labour Review pada tahun 1935 telah

mengemukakan pendapat bahwa berbagai negara dapat dibedakan berdasarkan persentase

tenaga kerja yang berada di sektor primer, sekunder dan tersier. Pendapat ini dibuktikan oleh

Clark yang telah mengumpulkan data statistik mengenai persentase tenaga kerja yang bekerja

di sektor primer, sekunder dan tersier di beberapa negara.

Data yang dikumpulkannya itu menunjukkan bahwa makin tinggi pendapatan per

kapita suau negara, makin kecil peranan sektor pertanian dalam menyediakan kesempatan

kerja. Akan tetapi sebaliknya, sektor industri makin penting peranannya dalam menampung

tenaga kerja.

Kuznets menunjukkan perubahan sumbangan berbagai sektor kepada produksi

nasional, sedangkan Chenery mengkhususkan analisisnya pada corak perubahan sumbangan

berbagai sektor dan industri-industri dalam sub-sektor industri pengolahan kepada produksi

nasional.

2.1.3. Faktor yang Menyebabkan Perubahan Struktur Ekonomi

Ada beberapa faktor yang menyebabkan perubahan struktur ekonomi suatu daerah

atau wilayah :

1. Produksi sektor pertanian mengalami perkembangan yang lebih lambat dibanding

perkembangan produksi nasional;


2. Tingkat pertambahan produksi sektor industri lebih cepat daripada tingkat pertambahan

produksi nasional, dan


3. Tidak adanya perubahan dalam peranan sektor jasa dalam produksi nasional berarti bahwa

tingkat perkembangan sektor jasa adalah sama dengan tingkat perkembangan produksi

nasional.
Perubahan struktur ekonomi yang demikian coraknya disebabkan oleh beberapa

faktor yaitu:

1. Sifat manusia dalam kegiatan konsumsi

Hukum Engels mengatakan bahwa makin tinggi pendapatan masyarakat, maka

akan makin sedikit proporsi pendapatan yang digunakan untuk membeli bahan pertanian,

sedangkan proporsi pendapatan yang digunakan untuk membeli produksi barang-barang

industri menjadi bertambah besar.

2. Perubahan teknologi

Kemajuan teknologi akan mempertinggi produktivitas kegiatan-kegiatan ekonomi

yang akan memperluas pasar serta kegiatan perdagangan. Kemajuan teknologi juga

menyebabkan perubahan dalam struktur produksi nasional yang bersifat inducive, yaitu

kemajuan tersebut menciptakan barang-barang baru yang menambah pilihan barang-barang

yang dapat dikonsumsi masyarakat.

2.1. 4. Perubahan Struktur Penggunaan Tenaga Kerja

Ciri perubahan penggunaan tenaga kerja yaitu :

1. Peranan sektor pertanian dalam menyediakan kesempatan kerja menurun.

2. Peranan sektor industri dalam menyediakan kesempatan kerja menjadi bertambah penting,

akan tetapi kenaikan tersebut sangat kecil.

3. Peranan sektor jasa dalam menyediakan kesempatan kerja tidak mempunyai pengaruh besar.

Pada perubahan peranan masing-masing sektor dalam menciptakan produksi nasional

dengan peranan mereka dalam menampung tenaga kerja mempunyai sifat yang berbeda, yaitu

1. Di sektor pertanian, secara relatif, perubahan yang terjadi dalam menciptakan produksi

nasional adalah hampir bersamaan dengan perubahan peranannya dalam menyediakan

pekerjaan.
2. Di sektor industri, perubahan relatif dari peranannya dalam menciptakan produksi nasional

adalah lebih besar daripada perubahan relatif peranannya dalam menampung tenaga kerja.

3. Di sektor jasa, perubahan relatif dari peranannya dalam menciptakan produksi nasional

adalah lebih kecil dari perubahan relatif perananya dalam menampung tenaga kerja.Menurut

Kuznets perbedaaan di atas disebabkan oleh perbedaan dalam perkembangan tingkat

produktivitas di masing-masing sektor dalam proses pembangunan.

2.1.5. Perubahan Struktur Sektor Industri dan Jasa

Dalam analisis Kuznets, sektor industri dibedakan menjadi 4 sub-sektor, yaitu

pertambangan, industri pengolahan (manufacturing), industri bangunan, dan perhubungan

serta pengangkutan. Perubahan peranan berbagai sub-sektor dalam sektor industri dalam

menghasilkan produksi nasional dan menciptakan kesempatan kerja, sifat-sifat pokoknya

adalah sebagai berikut :

Pada tingkat pembangunan yang rendah, sub-sektor pertambangan pada umumnya

selalu merupakan sub-sektor industri yang kecil peranannya dalam menciptakan produksi

nasional dan menampung tenaga kerja. Dalam proses pembangunan, peranan tersebut

menjadi bertambah kecil lagi. Sub-sektor industri bangunan juga mengalami perubahan yang

sama sifatnya dengan sub-sektor pertambangan, yaitu di kebanyakan negara yang

diobservasi, peranannya dalam menciptakan produksi sektor industri dan menampung tenaga

kerja menjadi bertambah kecil apabila tingkat pembangunan ekonomi bertambah tinggi.

Peranan sub-sektor industri pengolahan, termasuk industri utilities (penyediaan air dan

listrik), dalam menciptakan produksi sektor industri dan menampung tenaga kerja pada

umumnya bertambah besar apabila tingkat pembangunan ekonomi menjadi bertambah tinggi.

Perubahan peranan sub-sektor perhubungan dan pengangkutan dalam menciptakan produksi

sektor industri dan menampung tenaga kerja tidak emnunjukkan pola yang seragam. Sub-
sektor industri pengolahan, perhubungan dan pengangkutan merupakan bidang kegiatan

ekonomi yang mengalami perkembangan yang sangat besar.

2.1.6. Perubahan Peranan Berbagai Kegiatan di Sektor Jasa

Sektor jasa dibedakan menjadi lima sub-sektor, yaitu perdagangan, badan keuangan

dan real estate, pemilikan rumah, pemerintahan dan pertahanan, dan berbagai jasa

perseorangan. Pokok-pokok kesimpulannya:

1. Peranan sektor jasa dalam menciptakan produksi nasional tidak mengalami perubahan atau

penurunan.

2. Peranannya dalam menyediakan kesempatan kerja menjadi bertambah besar.

Perkembangan sektor jasa yang bercorak seperti ini dalam proses pembangunan

ekonomi disebabkan oleh karena :

Adanya spesialisasi secara kawasan dari kegiatan ekonomi yang berkembang.

Pertambahan pendapatan per kapita yang diakibatkan oleh pembangunan ekonomi.

Karena perkembangan produktivitas yang lambat di sektor jasa.

Walaupun peranan sektor jasa dalam menampung atau menyerap tenaga kerja yang

terdapat dalam perekonomian meningkat, peranan sektor tersebut dalam menciptakan

pendapatan nasional tidak mengalami perubahan atau menurun. Faktor yang menimbulkan

keadaan ini adalah karena tingkat produktivitas di sektor jasa berkembang lebih lambat dari

perkembangan tingkat produktivitas rata-rata yang terjadi dalam keseluruhan perekonomian.

2.1.7. Faktor-Faktor yang Mempegaruhi Perubahan Struktur Perekonomian Negara

Berkembang

Analisis Chenery dan Syrquin tentang perubahan struktur perekonomian di negara

berkembang menunjukan corak dari sepuluh jenis perubahan dalam struktur perekonomian

yang berlaku dalam proses pembangunan negara berkembang. Perubahan-perubahan tersebut

dibedakan menjadi 3 golongan yaitu :


1. Perubahan dalam struktur ekonomi yang dipandang sebagai perubahan dalam proses

akumulasi.

2. Perubahan dalam struktur ekonomi yang dipandang sebagai perubahan dalam proses

alokasi sumber daya.

3. Perubahan dalam struktur ekonomi yang dipandang sebagai perubahan dalam proses

demografis dan distribusi.

Kegiatan-kegiatan ekonomi yang termasuk sebagai proses akumulasi meliputi

kegiatan pembentukan modal, mengumpulan tabungan pemerintah dan kegiatan penyediaan

pendidikan kepada masyarakat. Yang tergolong sebagai alokasi sumberdaya adalah struktur

permintaan domestik (pengeluaran masyarakat atas produksi dalam negeri), struktur produksi

dan struktur perdagangan.

Proses demografis dan distribusi yaitu proses perubahan dalam faktor-faktor seperti

alokasi tenaga kerja dalam berbagai sektor, urbanisasi, tingkat kelahiran dan kematian dan

distribusi pendapatan.(Chenery dan Cyrquin dalam Sukirno 2006: 160)

2.1.8. Pengertian Tenaga Kerja

Tenaga kerja adalah penduduk yang mampu bekerja memproduksi barang dan jasa.

(Badan Pusat Statistik, 2010) menggolongkan penduduk berusia 15 tahun ke atas sebagai

tenaga kerja.

Tenaga kerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam proses produksi

disamping faktor-faktor produksi lainnya seperti tanah, modal, interprenur dan teknologi.

Simanjuntak (1990: 27) memberikan pengertian tentang tenaga kerja sebagai penduduk yang

sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan dan yang melakukan kegiatan lain

seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga. Tiga golongan terakhir pencari kerja mereka

secara fisik mampu dan sewaktu-waktu dapat ikut bekerja. Hasibuan (1993: 9)
mengemukakan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang bekerja atau mencari pekerjaan

dan mampu bekerja serta memenuhi persyaratan perburuhan suatu negara.

Tiap-tiap negara memiliki batasan umur, karena situasi tenaga kerja pada masing-

masing negara berbeda, misalnya India menggunakan batasan umur 14 - 60 tahun,

sedangkan penduduk yang berumur di bawah 14 tahun atau 60 tahun ke atas digolongkan

sebagai bukan tenaga kerja. Di Indonesia awalnya dipilih umur 10 tahun ke atas namun

dikeluarkannya Undang-Undang No. 25 Tahun 1997 tentang ketenagakerjaan, yang

pelaksanaannya 1 oktober 1998 maka Indonesia sudah menggunakan umur 15 tahun tanpa

batas umur maksimal.

Lebih lanjut menurut Soebroto (1996: 10) mengemukakan bahwa tenaga kerja adalah

setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja

guna menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat dikatakan bahwa mereka yang termasuk

tenaga kerja adalah mereka yang mampu bekerja memproduksi barang atau jasa serta aktif

mencari pekerjaan.

2.2. Kajian Empiris

Beberapa kajian empiris yang berkaitan dengan penelitian ini adalah: Ignatia Rahana

Sitanggang dan Nacrowi Djalal Nacrowi (2004) dalam penelitinnya tentang Pengaruh

Struktur Ekonomi pada penyerapan Tenaga Kerja Sektoral; Analisis model Demometrik di 30

Propinsi pada 9 sektor di Indonesia, pada jurnal terakreditasi nasional. Hasil penelitiannya

menunjukan bahwa; Struktur Ekonomi Indonesia secara Nasional mengalami perubahan dari

sektor pertanian ke sektor-sektor lainnya. Akan tetapi berdasarkan propinsi, maka ada

beberpa propinsi yang masih bertumpuh ada sektor pertanian seperti, propinsi Bengkulu,

Gorontalo, Jambi, Kalbar, Kalsel,Kalteng, Lampung, Maluku, Malut, NTB, NTT, Sulsel,

Sulteng, Sultra, Sulut, Sumbar danSumut. Sedangkan Propinsi Bali, Banten, DIY, DKI jaya
dan berapa propinsi lainnya sudah bertumpu pada sektor manufaktur, sektor perdagangan

hotel dan restoran, sektor jasa dan sektor bangunan. Terjadi pergeseran Penyerapan tenaga

kerja antar sektor.

Hidayat Amir dan Suahasil Nazara, (2005). dengan judul Analisis Perubahan Stuktur

Ekonomi,dan Kebijakan Strategi Pembangunan di Jawa Timur tahun 1994 dan tahun 2000,

Analisis input out put pada jurnal terakreditasi nasional hasil penelitiannya menunjukan

bahwa, telah terjadi pergeseran dalam beberaapa sektor unggulan dan angka pengganda

sektoral. Perana sektor industri lainnya dan sektor industri makanan,minuman dan tembakau,

sangat dominan dari sisi besaran outputnya, juga memiliki angka pengganda yang cukup

tinggi. Secara umum pembangunan di jawa timur diarahkan untuk menjadi pusat industri,

yaitu industri makanan, minuman dan tembakau karena kedua sektor ini sanagt menonjol

peranannya dalam input maupaun pendapatan dan tenaga kerja. Jawa Timur merupakan pusat

perdagangan dan distribusi hal ini didukung oleh sektor perdagangan yang bergeser menjadi

sektor unggulan pada tahun 2000, dengan peningkatan dan kontribusi out put yang besar.

Margaret.MC.Milan, (2011). dengan judul penelitian Globalisasi, Pertumbuhan

Ekonomi, Produktivitas dan Perubahan Struktur Ekonomi di Australia pada Jurnal

terakreditasi Internasionl. Hasil penelitiannya menyimpulakan bahwa ; Terjadi perubahan

Struktur ekonomi antara 2 sektor ekonomi yaitu sektor pertanian tradisional di desa (rural) ke

sektor Industri modern di kota (urban), dengan melihat produktivitas antara 2 sektor, maka

sektor industri lebih berkembang dibandingkan dengan sektor pertanian sehingga

pertumbuhan ekonomi meningkat.

2.3. Kerangka Pemikiran

Penduduk merupakan subjek dan objek pembangunan, sebagai pelaku ekonomi

tenaga kerja melaksanakan kegiatan ekonominya pada berbagai lapangan usaha. Mereka
terserap pada sembilan sektor perekonomian yang disederhanakan menjadi tiga sektor, yaitu

sektor primer (agriculture), sektor sekunder (manufacturing) dan sektor tertier (services).

Kegiatan perekonomian suatu negara atau daerah, selalu diukur dengan pertumbuhan

ekonomi. Pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi mencerminkan tingkat keberhasilan

negara/daerah itu. Pertumbuhan ekonomi ini juga biasanya diiringi dengan transformasi

struktur tenaga kerja pada masing-masing sektor. Tenaga kerja yang tersedia pada berbagai

sektor ekonomi di Kota Kendari tumbuh dan berkembang, namun perkembang maupun

perubahan alokasi untuk sekor-sektor yang akan di teliti belum diketahui perubahannya.

Pendekatan persentase dipilih untuk mengidentifikasi transformasi struktur tenaga kerja antar

sektor dalam perekonomian di Kota Kendari. Hal ini dapat digambarkan dalam skema

berikut:

2.4. Hipotesis

Berdasarkan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini, maka diajukan hipotesis

penelitian, yaitu terjadi trasformasi struktur tenaga kerja di Kota Kendari dari sektor primer

ke sektor tersier sejak tahun 2005-2010.


BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu menggambarkan perubahan

struktur tenaga kerja pada sektor primer, ke sektor tersier di Kota Kendari.

3.2. Jenis dan Sumber Data

Data yang gunakan pada penelitian ini adalah data sekunder meliputi 9 (sembilan)

sektor ekonomi yaitu pertanian, pertambangan, industri, listrik, gas dan air, konstruksi,

perdagangan, transportasi, keuangan dan jasa. Dari 9 (sembilan) sektor dikelompokkan

menjadi 3 sektor utama, yaitu sektor primer, sektor sekunder dan sektor tersier.

Sumber data berasal dari kantor BPS Kota Kendari, kantor Ketenagakerjaan Kota

Kendari, serta instansi terkait.

3.3. Variabel Penelitian

Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah jumlah tenaga kerja yang bekerja

pada sektor primer dan sektor tersier di Kota Kendari sejak tahun 2005-2010.

3.4. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :

1. Persiapan

Penyusunan dan pengajuan proposal

Administrasi (perizinan).

2. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi, yaitu suatu

teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mencatat berbagai data yang telah

didokumentasikan oleh lembaga/instansi yang terkait dengan penelitian ini.


3.5. Prosedur Pengolahan Data

Proses pengolahan data dalam penelitian ini adalah:

1. Pengelompokkan data, yaitu data yang diperoleh dikelompokkan menurut jenisnya sesuai

dengan kebutuhan analisis.

2. Tabulasi data, yaitu data yang diperoleh disusun secara teratur kemudian ditabelkan.

3. Processing, yaitu setelah diadakan tabulasi data kemudian disusun secara kwantitatif

4. Analisis data, yaitu data yang telah diproses dalam bentuk kuantitatif, kemudian dianalisis

dengan menggunakan alat analisis yang telah ditentukan.

5. lnterpretasi, yaitu data yang telah diproses dalam bentuk kuantitatif kemudian hasilnya

dijelaskan dalam kalimat atau dideskripsikan dan selanjutnya disimpulkan.

3.6. Analisis Data

Untuk mengetahui transformasi struktur tenaga kerja di Kota Kendari digunakan

analisis persentase :

Keterangan :

%TK-Si = Persentase tenaga kerja sektor i

TK-Si = Jumlah tenaga kerja sektor i

TK-SS = Jumlah tenaga kerja semua sektor

(sumber: Kependudukan LDFE-UI,1997)

3.7. Definisi Operasional Variabel

Untuk menghindari penafsiran yang keliru pada karya ilmiah ini, maka penulis

memberikan definisi operasional sebagai berikut :

1. Tenaga kerja yang dimaksud adalah penduduk Kota Kendari yang bekerja pada sektor

primer dan sektor tersier, diukur dengan batas umur (15 tahun tanpa batas umur maksimum).

2. Transformasi struktur tenaga kerja yang dimaksud adalah perubahan jumlah tenaga kerja

yang bekerja pada sektor primer dan sektor tersier di Kota Kendari sejak tahun 2005-2010.
3. Sektor primer yang dimaksud adalah sektor pertanian dan pertambangan. Sedangkan sektor

tersier meliputi perdagangan, transportasi, keuangan, serta sektor jasa.