Anda di halaman 1dari 10

Program Pengendalian Demam Tifoid... (Ivan Elisabeth Purba, et.al.

Program Pengendalian Demam Tifoid di Indonesia:


tantangan dan peluang
Typhoid Fever Control Program in Indonesia: Challenges and Opportunities

Ivan Elisabeth Purba1, Toni Wandra1*, Naning Nugrahini2, Stephen Nawawi3, dan Nyoman
Kandun4
1
Universitas Sari Mutiara Indonesia, Medan, Sumatera Utara
2
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI
3
Ikatan Dokter Indonesia
4
Field Epidemiology Training Program, Indonesia
*
Korespondensi Penulis: tony_wdr2009@yahoo.com

Submitted: 11-11-2015, Revised: 28-01-2016, Accepted: 05-04-2016

Abstrak
Demam tifoid (selajutnya disebut tifoid) merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah
kesehatan masyarakat dengan jumlah kasus sebanyak 22 juta per tahun di dunia dan menyebabkan
216.000600.000 kematian. Di Indonesia, tifoid harus mendapat perhatian serius dari berbagai pihak,
karena penyakit ini bersifat endemik dan mengancam kesehatan masyarakat. Tujuan kajian adalah untuk
mengetahui program pengendalian tifoid di Indonesia serta tantangan dan peluang dalam pelaksanaan
program tersebut. Metode yang digunakan adalah mengkaji berbagai literatur dan dokumen terkait yang
diperoleh dari perpustakaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dan Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan serta hasil pencarian di google dengan kata
kunci demam tifoid, typhoid fever, program pengendalian demam tifoid, dan typhoid fever control
program. Secara keseluruhan, diperoleh sebanyak 31 literatur dan dokumen yang relevan dengan
topik kajian. Hasil kajian menunjukkan bahwa program pengendalian tifoid belum terlaksana secara
optimal di Indonesia dan berbagai permasalahan dan tantangan mempersulit pelaksanaan program
tersebut, seperti keterbatasan dana dalam program pengendalian serta meningkatnya kasus-kasus
karier atau relaps dan resistensi. Untuk memperkuat program pengendalian dan menurunkan angka
kesakitan tifoid, maka perlu dilakukan advokasi dan sosialisasi yang lebih intensif, kerja sama lintas
program dan lintas sektor khususnya dalam meningkatkan akses air bersih, peran agen perjalanan
dalam melakukan vaksinasi tifoid pada wisatawan, kajian efektivitas penggunaan vaksin tifoid dalam
program pengendalian sebagai bahan pertimbangan agar dapat dimasukkan ke dalam program
imunisasi nasional, pencegahan kasus-kasus karier atau relaps dan resistensi, serta meningkatkan
pembiayaan program pengedalian di provinsi dan kabupaten/ kota.

Kata Kunci: program pengendalian, demam tifoid, tantangan, peluang, Indonesia

Abstract
Typhoid fever (hereinafter referred to as typhoid) is a communicable disease with a heavy public
health burden estimated at 22 million cases per year globally resulting in 216,000 to 600,000 deaths
annually. In Indonesia, typhoid should receive serious attention from various parties as it is endemic.
The purpose of this study is to review the typhoid control program in Indonesia as well as the challenges
and opportunities in the implementation of the program. The method used is review of literature and
documents related to the study obtained from National Institute of Health Research and Development
library, as well as Directorate General of Disease Control and Environmental Health, and the google
search results with the keywords demam tifoid, typhoid fever, program pengendalian demam tifoid,
and typhoid fever control program. Overall, we collected 31 articles and documents relevant to the
study topic. The study found that the typhoid control program has not been implemented optimally in
Indonesia with many outstanding challenges such as lack of financing the control program as well as the
increasing cases of carriers or relapse and resistance. To strengthen the typhoid control program and
reduce the typhoid morbidity, there is a need to intensify advocacy, improve cooperation across programs
and sectors particularly on access to clean water, the role of travel agents in typhoid vaccination for
travelers, study of the effectiveness of typhoid vaccination in control program for adding the vaccine to
a national immunization program, prevention of carriers or relapse and resistance, as well as financing
the control program in provinces and districts/cities.

Keywords: control program, typhoid fever, challenges, opportunities, Indonesia

99
Media Litbangkes, Vol. 26 No. 2, Juni 2016, 99 - 108

Pendahuluan Tifoid dapat menurunkan produktivitas


Demam tifoid (selanjutnya disebut tifoid) kerja, meningkatkan angka ketidakhadiran
merupakan penyakit infeksi akut usus halus yang anak sekolah, karena masa penyembuhan dan
disebabkan oleh Salmonella typhi.1 Penyakit pemulihannya yang cukup lama, dan dari aspek
menular ini masih merupakan masalah kesehatan ekonomi, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit.
masyarakat dengan jumlah kasus sebanyak 22 juta Hasil penelitian di 5 negara Asia (Cina, Vietnam,
per tahun di dunia dan menyebabkan 216.000 India, Pakistan, dan Indonesia), biaya perawatan
600.000 kematian.2 Studi yang dilakukan di per penderita di rumah sakit berkisar antara
daerah urban di beberapa negara Asia pada anak USD129 di Kolkata (India) dan USD432 di
usia 515 tahun menunjukkan bahwa insidensi Jakarta Utara (Indonesia), sedangkan biaya non
dengan biakan darah positif mencapai 180194 perawatan berkisar antara USD13 di Kolkata,
per 100.000 anak, di Asia Selatan pada usia 515 USD67 di Hechi (Cina) dengan biaya tertinggi
tahun sebesar 400500 per 100.000 penduduk, di di Hechi, diikuti Jakarta Utara, dan Karachi
Asia Tenggara 100200 per 100.000 penduduk, (Pakistan). Biaya semakin meningkat bila disertai
dan di Asia Timur Laut kurang dari 100 kasus per pemberian obat-obatan tambahan atau harga
100.000 penduduk.3 yang lebih mahal dan hari perawatan yang lebih
Komplikasi serius dapat terjadi hingga lama. Sebagian besar biaya tersebut ditanggung
10%, khususnya pada individu yang menderita oleh keluarga, yang merupakan 15% pendapatan
tifoid lebih dari 2 minggu dan tidak mendapat keluarga per tahun.7
pengobatan yang adekuat. Case Fatality Rate Mengingat tingginya angka kesakitan
(CFR) diperkirakan 14% dengan rasio 10 tifoid dan akibat yang ditimbulkan, maka peneliti
kali lebih tinggi pada anak usia lebih tua (4%) tertarik untuk melakukan kajian. Tujuan kajian
dibandingkan anak usia 4 tahun (0,4%). Pada adalah untuk mengetahui program pengendalian
kasus yang tidak mendapatkan pengobatan, CFR tifoid di Indonesia serta tantangan dan peluang
dapat meningkat hingga 20%.2 dalam pelaksanaan program tersebut.
Di Indonesia, tifoid harus mendapat
perhatian serius dari berbagai pihak, karena Metode
penyakit ini bersifat endemis dan mengancam Metode yang digunakan adalah mengkaji
kesehatan masyarakat. Permasalahannya berbagai literatur dan dokumen terkait, seperti
semakin kompleks dengan meningkatnya Riskesdas tahun 2007 dan 2013, Permenkes dan
kasus-kasus karier (carrier) atau relaps dan Kepmenkes, buku-buku yang diterbitkan oleh
resistensi terhadap obat-obat yang dipakai, Kementerian Kesehatan dan artikel jurnal yang
sehingga menyulitkan upaya pengobatan dan diperoleh dari perpustakaan Badan Penelitian
pencegahan.4 Pada tahun 2008, angka kesakitan dan Pengembangan Kesehatan dan Direktorat
tifoid di Indonesia dilaporkan sebesar 81,7 per Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
100.000 penduduk, dengan sebaran menurut Lingkungan (Ditjen PP dan PL) serta hasil
kelompok umur 0,0/100.000 penduduk (01 pencarian di google dengan kata kunci demam
tahun), 148,7/100.000 penduduk (24 tahun), tifoid, typhoid fever, program pengendalian
180,3/100.000 (5-15 tahun), dan 51,2/100.000 demam tifoid, dan typhoid fever control
(16 tahun). Angka ini menunjukkan bahwa program.
penderita terbanyak adalah pada kelompok usia
2-15 tahun.5 Hasil
Hasil telaahan kasus di rumah sakit besar di Dari hasil pengumpulan literatur dan
Indonesia menunjukkan adanya kecenderungan dokumen, secara keseluruhan diperoleh sebanyak
peningkatan jumlah kasus tifoid dari tahun ke 31 literatur dan dokumen yang relevan dengan
tahun dengan rata-rata kesakitan 500/100.000 topik kajian.
penduduk dan kematian diperkirakan sekitar Berdasarkan Permenkes Nomor 1144/
0,65%.4 Berdasarkan hasil Riset Kesehatan MENKES/PER/VIII/2010 tentang Struktur
Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi demam Organisasi Kementerian Kesehatan, program
tifoid di Indonesia mencapai 1,7%. Distribusi pengendalian tifoid di tingkat kementerian
prevalensi tertinggi adalah pada usia 514 tahun merupakan tanggung jawab Ditjen PP dan
(1,9%), usia 14 tahun (1,6%), usia 1524 tahun PL, Kementerian Kesehatan RI, sedangkan
(1,5%) dan usia <1 tahun (0,8%).6 pelaksana program adalah dinas kesehatan

100
Program Pengendalian Demam Tifoid... (Ivan Elisabeth Purba, et.al.)

provinsi, dinas kesehatan kabupaten/ kota, dan program imunisasi nasional di Indonesia; 3) Masih
fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) seperti rendahnya akses keluarga terhadap air bersih;
puskesmas dan rumah sakit di seluruh Indonesia.8 4) Rendahnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Tujuan pengendalian tifoid di Indonesia, (PHBS) masyarakat dan terbatasnya ketersediaan
yaitu: 1) Meningkatkan upaya pencegahan tifoid sanitasi yang baik12,13; 5) Masih tingginya angka
terutama pada kelompok masyarakat berisiko kemiskinan13; 6) Banyaknya tempat-tempat
tinggi; 2) Meningkatkan pengetahuan dan penjualan makanan yang belum memenuhi syarat
kesadaran masyarakat tentang tifoid; serta 3) kesehatan; dan 7) Meningkatnya arus transportasi
Menurunkan angka kesakitan dan kematian.9 dan perjalanan penduduk dengan berbagai tujuan
Secara umum pengendalian tifoid didasari dari satu daerah/ negara ke daerah/ negara lain14,15,
oleh 3 pilar: 1) Peran pemerintah melalui sehingga membawa konsekuensi meningkatkan
pengembangan dan penguatan kegiatan pokok risiko penularan tifoid sekaligus mempersulit
pengendalian tifoid; 2) Peran masyarakat sipil upaya pengendaliannya.
melalui pengembangan dan penguatan jejaring Walaupun berbagai permasalahan dan
kerja pengendalian tifoid; dan 3) Peran masyarakat tantangan yang dihadapi dalam program
melalui pengembangan dan penguatan kegiatan pengendalian tifoid di Indonesia, namun beberapa
pencegahan dan penanggulangan tifoid berbasis peluang dapat dimanfaatkan dalam melakukan
masyarakat.10 pencegahan dan menurunkan angka kesakitan
Kegiatan pokok pengendalian tifoid, tifoid, yaitu: 1) Peran pemerintah dalam program
meliputi: 1) Melaksanakan review dan pengendalian tifoid; 2) Pengembangan kegiatan
memperkuat aspek legal pengendalian tifoid; 2) pemberian perlindungan khusus (vaksinasi) yang
Melaksanakan advokasi dan sosialisasi termasuk lebih luas di Indonesia; 3) Peran agen perjalan
Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE); dalam pencegahan tifoid pada wisatawan; 4)
3) Melaksanakan kegiatan pencegahan karier, Peran jejaring kerja dalam program pengendalian
relaps dan resistensi tifoid; 4) Melaksanakan tifoid; 5) Peran masyarakat dalam program
kegiatan perlindungan khusus (vaksinasi tifoid); pengendalian tifoid; 6) Akreditasi rumah sakit;
5) Melaksanakan deteksi dini karier tifoid; 6) dan 7) Peran Badan Penyelenggara Jaminan
Melaksanakan pengamatan tifoid; 7) Memperkuat Sosial (BPJS) dalam pengobatan penderita tifoid.
Sumber Daya Manusia (SDM); 8) Memperkuat
pengelolaan logistik pengendalian tifoid; 9)
Pembahasan
Melaksanakan supervisi dan bimbingan teknis;
10) Melaksanakan montoring dan evaluasi, Di negara-negara maju seperti di Eropa,
dan 11) Melaksanakan kegiatan pencatatan dan tidak ditemukan informasi yang memadai tentang
pelaporan.9,10 program pengendalian tifoid. Mengingat faktor
Untuk penanganan penderita tifoid risiko kejadian tifoid seperti akses air besih,
antara lain mengacu pada Kepmenkes Nomor higiene, dan sanitasi, serta kemiskinan bukan
365/MENKES/SK/V/2006 tentang Pedoman merupakan masalah, maka pencegahan tifoid
Pengendalian Demam Tifoid4 dan Buku Pedoman lebih difokuskan pada pemberian vaksinasi pada
Pengobatan di Puskesmas.11 wisatawan yang berkunjung ke negara-negara
Hasil kajian menunjukkan bahwa kegiatan endemis tifoid dengan melakukan vaksinasi.16
pengendalian tifoid belum dapat dilaksanakan Negara lain seperti Fiji, program pengendalian
secara optimal, karena berbagai permasalahan tifoid yang dikembangkan antara lain melakukan
dalam program pengendalian tifoid di Indonesia, skrining tifoid berbasis serologi, mengoptimalkan
antara lain keterbatasan anggaran yang tersedia pasokan air di desa, penyimpanan dan pengolahan
di Ditjen PP dan PL dan belum semua kabupaten/ air rumah tangga dan penyediaan sarana sanitasi
kota menyediakan anggaran khusus untuk yang memenuhi syarat kesehatan, melakukan
pengendalian tifoid. Kegiatan dan permasalahan penyuluhan tentang pencegahan tifoid, pelatihan
lain dalam pengendalian tifoid di Indonesia tenaga kesehatan, dan vaksinasi tifoid.17 Di
sebagaimana terlihat pada Tabel 1. India, dikembangkan kegiatan surveilans tifoid
Tantangan yang dihadapi dalam program pada semua kelompok umur sebagai bagian
pengendalian tifoid di Indonesia dalam mencegah dari program integrasi surveilans. Di Thailand,
dan menurunkan angka kesakitan tifoid, yaitu: 1) kegiatan surveilans dilakukan untuk semua
Meningkatnya kasus-kasus karier atau relaps dan kelompok umur terintegrasi dengan surveilans
resistensi4 2) Vaksinasi tifoid belum merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.16

101
Media Litbangkes, Vol. 26 No. 2, Juni 2016, 99 - 108

Tabel 1. Kegitan dan Permasalahan dalam Pengendalian Tifoid di Indonesia

No. Kegiatan Pengendalian Permasalahan

1. Review dan memperkuat aspek legal Tidak ada keseragaman struktur organisasi yang menaungi pengelolaan
pengendalian tifoid program pengendalian tifoid,
Adanya kebijakan otonomi daerah, sehingga petugas yang sudah dilatih sering
pindah ke bagian/unit lain atau berganti-ganti
Keterbatasan jumlah Norma, Standar, Posedur dan Kriteria (NSPK) dan
distribusinya tidak memadai

2. Advokasi dan sosialisasi Kurangnya upaya advokasi dan sosialisasi dalam pengendalian tifoid di semua
level, sehingga dukungan pemangku kepentingan masih rendah

3. Komunikasi, Informasi dan Edukasi Belum efektifnya kegiatan KIE dalam pencegahan tifoid, karena keterbatasan
(KIE) media KIE dan biaya operasional

4. Penemuan kasus dan tata laksana kasus Penemuan kasus belum optimal, karena keterbatasan penunjang diagnosis di
puskesmas, sehingga penderita perlu dirujuk. Namun setelah dirujuk, sebagian
penderita tidak mau memeriksakan diri, atau tidak ada umpan balik dari
tempat rujukan ke puskesmas
Sensitivitas tes widal dan kultur relatif rendah
Gejala klinis bervariasi dari yang ringan (tidak khas) sampai yang khas, dan
sarana pemeriksaan penunjang yang sesuai dengan standar (gold standard)
belum tersedia di lini terdepan
Interpretasi hasil pemeriksaan penunjang tifoid relatif tidak mudah
Biaya pengadaan penunjang medik masih sangat minim

5. Pencegahan karier, relaps, dan resistensi Pemakaian antibiotika yang bebas oleh masyarakat (tanpa resep)
Pemakaian antibiotika oleh dokter yang tanpa pedoman dan tanpa kontrol
Pilihan antibiotika lini pertama yang kurang tepat
Dosis tidak tepat
Lama pemberian kurang tepat
Ada penyakit lain (komorbid) yang menurunkan imunitas, serta kelainan-
kelainan yang merupakan predisposisi untuk karier tifoid

6. Perlindungan khusus Penggunaan vaksin tifoid masih terbatas pada sejumlah praktek dokter pribadi
dan rumah sakit swasta

7. Surveilans Belum ada sistem surveilans nasional atau standar pencatatan dan pelaporan,
sehingga kegiatan pencatatan dan pelaporan tifoid di setiap jenjang
administratif masih jauh dari yang diharapkan
Belum bisa menyediakan data untuk mengetahui situasi masalah yang
sebenarnya untuk mendukung perencanaan yang matang, dan belum bisa
dijadikan sebagai bahan evaluasi yang akurat

8. Sumber Daya Manusia Belum semua tenaga kesehatan mendapat pelatihan tata laksana kasus dan
pengendalian

9. Penyediaan logistik Keterbatasan logistik, reagen, bahan, dan alat untuk pemeriksaan laboratorium
tifoid di puskesmas

10. Supervisi dan bimbingan teknis Belum optimal

11. Monitoring dan evaluasi Belum optimal

12. Pembiayaan Jumlah anggaran pusat (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) di
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
terbatas
Belum semua kabupaten/ kota di Indonesia menyediakan anggaran khusus
(Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) untuk program pengendalian
tifoid.

102
Program Pengendalian Demam Tifoid... (Ivan Elisabeth Purba, et.al.)

Di Indonesia, kegiatan pengendalian Salah satu cara untuk melakukan


belum dapat dilaksanakan secara optimal, antara pencegahan tifoid adalah dengan melakukan
lain karena belum didukung dengan pendanaan vaksinasi, namun vaksinasi tifoid belum
yang memadai. Pada tahun 2014, biaya yang merupakan program imunisasi nasional. Hingga
dialokasikan untuk pengendalian tifoid di Ditjen saat ini pemakaian vaksin tifoid terbatas pada
PP dan PL hanya sekitar Rp200 juta atau 1,3% sejumlah praktek dokter pribadi dan rumah sakit
dari perkiraan biaya rata-rata yang diperlukan swasta. Sejauh ini, vaksinasi pada anak sekolah
dalam setahun dari tahun 2015 sampai dengan dasar masih dalam bentuk pilot proyek, yaitu
2019.10 Selain itu, belum semua kabupaten/ kota pemberian vaksin pada 1500 anak SD di Kota
di Indonesia menyediakan anggaran khusus untuk Bogor tahun 20142015. Evaluasi terhadap
program pengendalian tifoid (Tabel 1). efektivitas pemberian vaksin pada anak sekolah
SD ini belum dapat dilaksanakan karena
Tantangan dalam Program Pengendalian keterbatasan dana.
Tifoid Mengingat endemisitas dan morbiditas
tifoid yang cukup tinggi di Indonesia, maka
Di negara-negara lain, pada umumnya
pada dasarnya pemberian vaksinasi tifoid sangat
tantangan yang dihadapi dalam program
strategis untuk kelompok masyarakat berisiko
pengendalian tifoid adalah adanya resistensi
tinggi, seperti: 1) Anak sekolah; 2) Penjamah
terhadap antibiotik, dan pemeriksaan
makanan di hotel-hotel, restoran, kantin,
laboratorium yang kurang praktis dan dengan
katering, dan warung-warung yang tersebar luas
sensitivitas yang rendah, sehingga sebagian kasus
di Indonesia termasuk para petugas di bagian
tidak terdiagnosis.17
(instalasi) gizi rumah sakit; dan 3) Pekerja atau
Di Indonesia, masalah rumit yang sering
petugas yang berkaitan atau kontak dengan
timbul adalah masalah karier (carrier) atau
makanan/minuman atau peralatan makan/
relaps dan resistensi.4 Penyakit ini dapat sembuh
minum yang disajikan kepada sekelompok
sempurna, tetapi jika tidak ditangani dengan orang, misalnya di kantor-kantor pemerintah dan
baik, maka selain dapat menyebabkan seseorang swasta.9
menjadi karier atau relaps, dan resistensi, juga Keterbatasan akses terhadap air bersih,
menimbulkan komplikasi seperti perforasi dan dalam hal ini air minum improved merupakan salah
kematian.4 satu faktor yang berhubungan dengan kejadian
Hasil skrining karier tifoid pada tifoid.20 Menurut kriteria Joint Monitoring
penjamah makanan di DKI Jakarta tahun 2013 Programme World Health Organization-The
menunjukkan bahwa dari 105 penjamah makan, United Nations Childrens Fund (JMP WHO-
3 (2,9%) diantaranya merupakan karier. Dari 3 Unicef) tahun 2006, rumah tangga memiliki
karier tersebut, masing-masing 1 karier berasal akses ke sumber air minum improved adalah
dari Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta rumah tangga dengan sumber air minum dari air
Selatan. Menurut jenis kelamin, 2 laki-laki, dan ledeng/Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM),
lainnya perempuan. Namun dengan rendahnya sumur bor/pompa, sumur gali terlindung, mata
sensitivitas pemeriksaan laboratorium (biakan air terlindung, penampungan air hujan, dan air
tinja) yang digunakan untuk skrining karier tifoid kemasan. Di Indonesia, proporsi rumah tangga
tersebut, maka jumlah karier yang ditemukan yang memiliki akses terhadap sumber air minum
belum mencerminkan jumlah yang sebenarnya improved sebesar 66,8%.12
(iceberg phenomena).18 Tifoid sangat mudah dicegah dengan
Beberapa faktor yang berhubungan perubahan perilaku masyarakat dan ketersediaan
dengan kejadian karier, relaps, dan resisten, fasilitas sanitasi yang baik. Namun merubah
adalah: 1) Pemakaian antibiotika yang bebas perilaku masyarakat tersebut tidaklah mudah.
oleh masyarakat (tanpa resep); 2) Pemakaian Dari 298.595 keluarga di Indonesia tahun
antibiotika oleh dokter yang tanpa pedoman 2013, 52,8% tidak melakukan cuci tangan
dan tanpa kontrol; 3) Pilihan antibiotika lini dengan benar, yaitu dengan air mengalir dan
pertama yang kurang tepat; 4) Dosis yang tidak menggunakan sabun.12 Selain itu, hanya 70,1%
tepat; 5) Lama pemberian yang kurang tepat; 6) rumah tangga yang melakukan pengolahan air
Ada penyakit lain (komorbid) yang menurunkan sebelum diminum, yaitu dengan cara dimasak,
imunitas, serta kelainan-kelainan yang merupakan dijemur di bawah sinar matahari, menambahkan
predisposisi untuk karier tifoid.4,10 larutan tawas, disaring dan ditambah larutan

103
Media Litbangkes, Vol. 26 No. 2, Juni 2016, 99 - 108

tawas dan disaring saja.12 Hasil Riskesdas tahun sampai saat ini belum ada sistem surveilans
2013 juga menunjukkan bahwa rumah tangga nasional untuk mengetahui jumlah penduduk
di Indonesia yang menggunakan fasilitas Buang Indonesia yang tertular pada saat melakukan
Air Besar (BAB) milik sendiri (76,2%), milik perjalanan ke negara-negara endemis tifoid atau
bersama (6,7%), dan fasilitas umum (4,2%). jumlah wisatawan asing tertular di Indonesia.
Meskipun sebagian besar rumah tangga di
Indonesia memiliki fasilitas BAB, masih terdapat Peluang dalam Program Pengendalian Tifoid
rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah
BAB, sehingga melakukan BAB sembarangan, merekomendasikan penggunaan vaksin
yaitu sebesar 12,9%. Walaupun pembuangan tifoid dalam program pengendalian tifoid di
tinja rumah tangga di Indonesia sebagian besar daerah endemis sejak tahun 1998. Beberapa
menggunakan tangki septik (66,0%), masih negara, seperti Vietnam, Cina, dan India telah
terdapat rumah tangga dengan pembuangan melaksanakan kegiatan vaksinasi secara rutin.17
akhir tinja tidak ke tangki septik (kolam/sawah, Di Indonesia, peran pemerintah pusat dan
langsung ke sungai/ danau/ laut, langsung ke daerah merupakan peluang sekaligus kekuatan
lubang tanah, atau ke pantai/ kebun).12 untuk meningkatkan dan memperkuat program
Secara tidak langsung, kemiskinan pengendalian tifoid dalam mencegah dan
berhubungan dengan kejadian tifoid, antara menurunkan angka kesakitan dan kematian tifoid,
lain karena keterbatasan akses air bersih dan yaitu diterbitkannya Permenkes tentang Struktur
ketersedian fasilitas sanitasi yang baik.19 Organisasi, pedoman manajemen pengendalian
Pada tahun 2013, jumlah penduduk miskin di tifoid, rencana aksi kegiatan pengendalian tifoid,
Indonesia masih tinggi, yaitu 28,55 juta jiwa. tersedianya sarana dan prasarana KIE, adanya
Pada perhitungan kondisi September 2013, kerjasama lintas program mencakup PHBS,
kategori penduduk miskin di desa adalah mereka air bersih, jamban dan sanitasi darurat, serta
dengan tingkat pengeluaran per kapita per bulan kegiatan penyuluhan (KIE) tentang pencegahan
kurang dari Rp275.779 dan penduduk miskin di tifoid. Dalam upaya tata laksana, adanya
kota adalah mereka dengan tingkat pengeluaran Kepmenkes tentang Pedoman Pengendalian
per kapita per bulan kurang dari Rp308.826.13 Tifoid, dan tersedianya pedoman dan petunjuk
Banyaknya tempat-tempat penjualan teknis program pengendalian dan tata laksana
makanan yang belum memenuhi syarat kesehatan tifoid, obat program, dukungan Komite Ahli
di Indonesia, seperti tingkat kebersihan yang (Komli) dalam tata laksana tifoid. Dalam hal
buruk, berkontribusi terhadap peningkatan surveilans epidemiologi, adanya Kepmenkes
jumlah kasus tifoid. tentang Penyelenggaraan Sistem Surveilans
Meningkatnya arus transportasi dan Epidemiologi Kesehatan, dan sistem pelaporan,
perjalanan penduduk dari suatu daerah/ negara monitoring dan evaluasi kegiatan pengendalian
ke daerah/ negara lain dengan berbagai tujuan, tifoid. Dalam upaya manejemen, adanya struktur
seperti rekreasi, ibadah, perjalanan dinas, bekerja, organisasi di pusat dalam pengendalian tifoid,
dan bisnis14, meningkatkan risiko penularan tifoid dan penanggungjawab program di tingkat
juga mempersulit upaya pengendaliannya tifoid. provinsi, kabupaten/ kota, puskesmas, dan
Di Amerika Serikat, diperkirakan sebanyak 5.700 masyarakat/ kader dalam pengendalian tifoid.
kasus tifoid terjadi setiap tahunnya, sebagian Melalui studi yang mendalam, vaksin
besar kasus (75%) tertular pada saat melakukan dianggap alat pencegah yang paling cost effective,
perjalanan internasional.20 Berdasarkan data Pusat disusul oleh pengadaan air bersih. Pemberian
Data dan Informasi Kementerian Pariwisata dan vaksin untuk pencegahan tifoid dianjurkan
Ekonomi Kreatif RI, jumlah penduduk Indonesia untuk wisatawan, anak sekolah, dan petugas
yang melakukan perjalanan ke luar negeri laboratorium yang bekerja dengan kuman.21
meningkat dari 5,05 juta orang pada tahun 2009 Membuat tubuh kebal merupakan upaya penting
menjadi 7,23 juta pada tahun 2013. Sedangkan agar masyarakat khususnya kelompok berisiko
jumlah wisatawan luar negeri yang berkunjung tinggi terhindar dari penularan tifoid.
ke Indonesia meningkat dari 5.033.400 orang Badan Kesehatan Dunia (WHO)/
tahun 2002 menjadi 8.802.129 orang tahun 2013. Strategic Advisory Group of Experts (SAGE)
Di Bali misalnya, jumlah pengunjung wisatawan merekomendasikan penggunaan vaksin tifoid,
asing meningkat dari 2.385.122 orang pada tahun yaitu perlunya negara mencanangkan program
2009 menjadi 3.278.598 tahun 2013.15 Namun penggunaan vaksin tifoid untuk kontrol endemik.

104
Program Pengendalian Demam Tifoid... (Ivan Elisabeth Purba, et.al.)

Pada banyak negara, vaksinasi dilakukan pada sakarida. Vaksin ini mengandung polisakarida
populasi berisiko tinggi, dan diintegrasikan dengan Vi dari kapsul bakteri Salmonella. Vaksin dapat
program imunisasi rutin. Imunisasi pada anak mencapai level protektif setelah 23 minggu
usia pra sekolah dan sekolah direkomendasikan pemberian, dan dapat diberikan pada usia 2
untuk daerah dimana tifoid merupakan masalah tahun. Vaksin tersedia dalam syringe siap pakai
kesehatan masyarakat khususnya pada kelompok (suntikan) 0,5ml yang berisi 25 mikrogram antigen
umur ini. Program vaksinasi tifoid juga Vi dalam buffer fenol isotonik. Vaksin diberikan
diimplementasikan bersamaan dengan upaya secara intramuskular (IM) di deltoid. Vaksinasi
pengendalian lain, seperti promosi kesehatan, ulangan dilakukan setiap 3 tahun. Kontra
pelatihan petugas medis untuk diagnosis dan indikasi vaksin, yaitu pada keadaan hipersensitif
pengobatan serta peningkatan kualitas air dan terhadap vaksin, ibu hamil, dan anak <2 tahun.
sanitasi.2 Bila keadaan sedang demam, pemberian vaksin
Dalam periode 20092015, sebanyak 9 dari sebaiknya ditunda, dan untuk ibu menyusui perlu
48 negara di Asia Tenggara dan Pasifik Barat telah dikonsultasikan lebih lanjut ke dokter; 2) Vaksin
mengimplementasikan penggunaan vaksin tifoid. kombinasi Vi kapsuler polisakarida dan hepatitis
Target program vaksinasi tifoid pada banyak A inaktif, Vaksin kombinasi Vi kapsuler polisa-
negara tersebut ditujukan pada kelompok berisiko karida dan hepatitis A inaktif (double). Kelebihan
tinggi dan pengelola makanan. Sebelas Negara vaksin ini lebih praktis dalam pemberian vaksin
(Australia, Kamboja, Fiji, India, Indonesia, tifoid dan hepatitis A. Tidak ada perbedaan
Nepal, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Sri efektivitas pemberian vaksin secara bersamaan
Lanka, dan Thailand) melaporkan pemanfaatan dengan pemberian vaksin tifoid dan hepatitis A
vaksin tifoid pada sektor swasta.2 Cina, India secara terpisah. Vaksin dapat mencapai level
dan Vietnam telah melakukan program vaksinasi protektif setelah 23 minggu pemberian. Vaksin
publik sebelum 2008, dengan target anak usia pra ini dapat diberikan pada usia 16 tahun ke atas.
sekolah dan sekolah.22, 23 Vaksin tersedia dalam bentuk dual-chamber
Di Guilin, Propinsi Guangxi, Tiongkok, syringe (suntikan) siap pakai dengan volume 1
program vaksinasi tifoid telah dimulai sejak ml, masing-masing 0,5 ml untuk setiap vaksin.
tahun 1995 pada anak sekolah semua usia, Vaksin diberikan secara intramuskular di deltoid
penjamah makanan dan masyarakat yang tinggal dan vaksinasi ulangan diberikan setiap 3 tahun.
di dan sekitar daerah kejadian luar biasa. Re- Kontra indikasi vaksin, yaitu pada keadaan
vaksinasi dilakukan setiap tiga tahun. Dari tahun hipersensitif terhadap komponen vaksin, ibu
1995 hingga 2006, lebih dari 1,4 juta dosis telah hamil, dan ibu menyusui.9,10
diberikan, dengan rerata cakupan 6070% pada Pemberian vaksin untuk pencegahan
anak sekolah dan 8085 % pada target lain. tifoid dianjurkan untuk wisatawan, terutama
Insidensi sebelum program dimulai dilaporkan bila bepergian ke daerah/ negara endemis
47/100,000 pada seluruh populasi dan 61/100,000 tifoid.26 Center for Disease Control, USA
pada anak sekolah. Setelah program dilakukan, merekomendasikan vaksinasi tifoid untuk
dari tahun 19952006 insidensi pada seluruh wistawan yang melakukan perjalanan ke daerah
populasi dan anak sekolah turun menjadi 0.2 endemis tifoid, khususnya ke daerah rural
4.5/100,000. Perbaikan kualitas air dan sanitasi atau dengan makanan atau suplai air yang
juga dilakukan pada periode ini.24 tidak aman.27 Public Health Agency Kanada
Nepal menerapkan program inisiasi merekomendasikan vaksinasi pada wisatawan
vaksinasi ViPS di sekolah di Kathmandu pada yang melakukan perjalanan ke daerah endemik:
tahun 2011 dan mengembangkan program kota kecil, perkampungan atau rural lebih dari 4
vaksinasi anak sekolah dan penjamah makanan.2 minggu. Juga merekomdasikan untuk individu
Thailand menerapkan program vaksinasi tifoid dengan sekresi asam lambung yang berkurang
nasional pada tahun 1977 untuk anak usia 712 atau tidak ada.28
tahun. Rasio kasus infeksi Salmonella typhi Health Protection Agency, United
dan S. paratyphi A menurun dari 4:1 (sebelum Kingdom merekomendasikan vaksinasi tifoid
epidemik 19701973) menjadi 0.9:1 (setelah untuk wisatawan yang melakukan perjalanan
epidemik 19841985) dan proporsi kasus turun ke daerah endemis, khususnya dengan higiene
dari 30% menjadi 10%.25 makanan dan sanitasi yang buruk.29 Department of
Di Indonesia saat ini telah tersedia 2 jenis Health and Ageing, Australia merekomendasikan
vaksin tifoid, yaitu: 1) Vaksin Vi kapsuler poli- untuk wisatawan mulai usia >2 tahun ke daerah

105
Media Litbangkes, Vol. 26 No. 2, Juni 2016, 99 - 108

endemik, termasuk subkontinen India, negara- sebagai sumber penularan penyakit, atau relaps
negara Asia Tenggara, kebanyakan negara-negara dan resistensi. Dengan adanya pembiayaan dari
di Pasifik Selatan dan Papua New Guinea.26 Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS),
Di Indonesia, agen perjalanan dapat maka meningkatnya kesempatan memperoleh
berperan dalam menyediakan informasi tentang pengobatan khususnya pada penderita yang
tifoid dan memfasilitasi pemberian vaksinasi kurang mampu.
tifoid.
Untuk mencegah kasus baru tifoid, dapat Kesimpulan
dilakukan dengan memperkuat aspek legal (law Berdasarkan hasil kajian dapat
enforcement) tentang ketentuan bebas karier disimpulkan bahwa program pengendalian tifoid
tifoid pada penjamah makanan dan pemberian belum terlaksana secara optimal di Indonesia
vaksinasi. Bila memungkinkan vaksinasi tifoid dan berbagai permasalahan dan tantangan
pada anak dijadikan sebagai salah satu persyaratan mempersulit pelaksanaan program tersebut,
untuk bisa diterima di sekolah dasar seperti yang seperti keterbatasan dana dalam program
telah diterapkan di beberapa negara di dunia. pengendalian serta meningkatnya kasus-
Dalam melaksanakan upaya pengendalian kasus karier atau relaps dan resistensi. Namun
tifoid, dapat melibatkan berbagai sektor, demikian beberapa peluang dapat dimanfaatkan
kelompok masyarakat, dan lembaga pemerintah untuk meningkatkan dan memperkuat program
untuk bekerjasama berdasarkan atas kesepakatan, pengendalian dalam mencegah dan menurunkan
prinsip dan peranan masing-masing mitra dalam angka kesakitan tifoid di Indonesia.
pengendalian tifoid. Upaya tersebut diwujudkan
dengan membentuk jejaring, baik lokal, nasional, Saran
regional, maupun internasional. Tujuan dari Untuk meningkatkan dan memperkuat
jejaring kerja ini adalah: 1) Meningkatnya program pengendalian dalam mencegah dan
komitmen pemerintah dan mitra terkait di menurunkan angka kesakitan tifoid di Indonesia,
masyarakat dalam upaya pengendalian tifoid, maka perlu dilakukan advokasi dan sosialisasi
dan 2) Adanya harmonisasi dan sinergi dalam yang lebih intensif, kerja sama lintas program
berbagai kegiatan. Selain itu perlu dilakukan dan lintas sektor khususnya dalam meningkatkan
koordinasi pengendalian tifoid, yaitu upaya untuk akses air bersih, peran agen perjalanan dalam
menyelaraskan kegiatan dari berbagai jenjang melakukan vaksinasi tifoid pada wisatawan,
administratif dan pihak terkait lainnya.9,10 kajian efektivitas penggunaan vaksin tifoid
Untuk meningkatkan partisipasi dan dalam program pengendalian sebagai bahan
kemandirian masyarakat dalam pencegahan dan pertimbangan agar dapat dimasukkan ke dalam
penanggulangan tifoid, maka dapat dikembangkan program imunisasi nasional, pencegahan
kegiatan pencegahan dan penanggulangan tifoid kasus-kasus karier atau relaps dan resistensi,
berbasis masyarakat yang dilaksanakan secara serta meningkatkan pembiayaan program
terintegrasi pada wadah milik masyarakat yang pengendalian di provinsi dan kabupaten/kota.
ada di masing-masing daerah.9,10
Salah satu simpul pengendalian penyakit Ucapan Terima Kasih
tifoid adalah pengendalian pada sumbernya.
Pada kesempatan ini, penulis ingin
Oleh karena itu kemampuan manajemen kasus
mengucapkan terima kasih kepada Direktur
sesuai dengan Standard Operating Procedure
Jenderal PP dan PL atas dukungan yang telah
(SOP) mulai dari diagnosis hingga sembuh
diberikan dalam melaksanakan kajian. Ucapan
sangat penting untuk diterapkan. Dengan adanya
terima kasih juga disampaikan kepada staf
akreditasi rumah sakit yang dilaksanakan oleh
Subdit Pengendalian Diare dan Infeksi Saluran
Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan
Pencernaan, Ditjen PP dan PL yang telah
Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) maupun
membantu memfasilitasi mendapatkan literatur
Joint Commission Internasional (JCI) secara
dan dokumen yang diperlukan.
berkala, maka secara tidak langsung mengurangi
kemungkinan terjadinya karier tifoid, relaps, dan Daftar Pustaka
resistensi.30, 31
1. Juwono R. Demam tifoid. Dalam: Soeparman,
Bila penderita tifoid tidak berobat editor. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ke 2.
misalnya karena keterbatasan biaya, maka Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 1984. p.3238.
penderita tersebut berisiko menjadi karier dan 2. Centers for Disease Control and Prevenion.

106
Program Pengendalian Demam Tifoid... (Ivan Elisabeth Purba, et.al.)

Morbidity and Mortality Weekly Report 19. Mogasale V, Maskery B, Ochiai RL, et al. Burden
(MMWR) 2008;83(6): 4960. of typhoid fever in low-income and middle-
3. Ochiai RL, Acosta CJ, Agtini M, et al. The use of income coun-tries: a systematic, literature-based
typhoid vaccines in Asia: the DOMI experience. update with risk-factor adjustment. www. the
Clin Infect Dis 2007; 45(suppl 1):S34S38. lancet.com/lancetgh 2014;2:e570e580.
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 365/ 20. The National Center for Emerging and Zoonotic
MENKES /SK/V/2006 tentang Pedoman Infectious Diseases (NCEZID): http://www.cdc.
Pengendalian Demam Tifoid. gov/nczved/divisions/dfbmd/diseases/typhoid_
5. World Health Organization. Bulletin of the World fever/#avoidance. (Diakses 15 Mei 2015).
Health Organization 2008;86 (5):32146. 21. Achmadi UF. Seri ilmu kesehatan masyarakat:
6. Badan Litbang Kesehatan. Riset Keseha-tan imunisasi mengapa perlu? Edisi 1. Jakarta:
Dasar 2007. Jakarta; 2008. Diunduh di: https:// Penerbit Buku Kompas; 2006. p. 3 82.
www.k4health.org/sites/defa ult/files/laporan 22. World Health Organization. Weekly Epid Record
Nasional Riskesdas 2007. pdf. (Diakses 20 Mei (WER) 2008;83(1):116.
2015). 23. Cuong NV. Typhoid vaccine used in Vietnam and
7. Poulos C, Riewpaiboon A, Stewart JF, et al. its impact. In: Ad-Hoc Consultation on Typhoid
Cost of illness due to typhoid fever in five Vaccine Introduction and Typhoid Surveillance,
Asian countries. Trop Med and Int Health 18-20 April 2011, Bangkok, Thailand. Diunduh
2011;16(3):314323. di: http://www. sabin.org/sites/ sabin.org/ files/
8. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1144/ CUONG Typhoid Vaccine in Vietnam.pdf.
MENKES/PER/VIII/2010 tentang Organisasi (Diakses 15 April 2015).
dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan RI. 24. Background paper on vaccination against typhoid
9. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman manajemen fever using new-generation vaccines-presented
hepatitis, diare, dan infeksi saluran pencernaan. at the SAGE November 2007 meeting. World
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2014. Health Organization. Diunduh di: http://www.
10. Kementerian Kesehatan RI. Rencana Aksi who.int/immunization/SAGE_Background_
Kegiatan Pengendalian Tifod 2015-2019. publicpaper_typhoid_newVaccines.pdf(Diakses
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2014. 10 Maret 2015).
11. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pengobatan 25. Bodhidata L, Taylor DN, Thisyakorn U, et al.
Dasar di Puskesmas. Direktorat Jenderal Bina Control of typhoid fever in Bangkok, Thailand
Kefarmasian. Jakarta: Kementerian Kesehatan by annual immunization of school children with
RI; 2007. Diunduh di: http://www. scribd.com/ parenteral typhoid vaccine. Rev. Infect. Dis.
doc/ 223833946/ Pedoman-Pengobatan-Dasar- 1987;9:8415.
di- Puskesmas-2007-pdf # scribd (Diakses 10 26. Typhoid. In: The Green Book. Chapter 33.
Mei 2015). Department of Health UK; 2014. Diunduh di:
12. Badan Litbang Kesehatan. Riset Keseha-tan ttps://www.gov.uk/ govern ment/collections/
Dasar 2013. Jakarta: Badan Litbang Kesehatan; immunesation-against-infectious-disease-the-
2013. Diunduh di: www.depkes.go.id/resources/ greenbook. (Diak- ses 2 Mei 2015).
down-lo ad/general/Hasil Riskesdas 2013.pdf 27. Centers for Disease Control and Prevenion.
(Diakses 12 April 2015). Immunization of health-care personnel:
13. Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan recommendations of the Advisory Committee on
Indonesia Tahun 2013. Jakarta: Kementerian Immunization Practices (ACIP) 2011. Diunduh
Kesehatan RI; 2014. Diunduh di: http://www. di: http://www.cdc.gov/mmwr/preview/
depkes.go.id/resources/download/pusdatin/ mmwrhtml/rr6007a1.htm (Diakses 10 April
profil-kesehatan-indonesia/profil-keseh atan- 2015).
indonesia-2013.pdf. (Diakses 10 Mei 2015). 28. Public Health Agency of Canada. Canadian
14. World Tourism Organization UNWTO. Immunzation Guide 2012. Diunduh di: http://
UNWTO Highlights 2014 Edition. World Health www.phac-aspc.gc.ca/ publicat/cig-gci/index-
Organisation. Bulletin of the World Health eng.php (Diakses 10 Mei 2015).
Organization 2008;86 (5):32146. 29. World Health Organisation. Weekly Epid Recort
15. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali 2014. (WER) 2013;88 (44/45):477488.
Diunduh di: http://bali.bps.go.id/ tabel. 30. Kementerian Kesehatan RI. Standar akreditasi
php?id=14 (Diakses 19 Januari 2016). rumah sakit: standar akreditasi rumah sakit kerja
16. Centers for Disease Control and Prevenion. sama Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan
Morbidity and Mortality Weekly Report Kemen-terian Kesehatan Republik Indonesia
(MMWR) October 2014; 63(39):855860. dengan Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)
17. World Health Organization. Immuniza-tion, September 2011. Diunduh di: http://www.
vaccines, and biologicals (updated: 13 April academia.edu/6137073/Standar_Akreditasi_
2015). Diunduh di: http://www. who.int/ Rumah_Sakit_i_STANDAR_AKREDITASI_
immunization/diseases/typhoid/en/. (Diakses 27 RUMAH_SAKIT_KERJASAMA_
Januri 2015). D I R E K T O R AT _ J E N D E R A L _ B I N A _
18. Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk Teknis UPAYA_KESEHATAN_KEMENTERIAN_
Pengamatan Karier Tifoid. Jakarta: Kementerian KESEHATAN_REPUBLIK_INDONESIA_
Kesehatan RI; 2015. DENGAN_KOMISI_AKREDITASI_RUMAH_

107
Media Litbangkes, Vol. 26 No. 2, Juni 2016, 99 - 108

SAKIT_KARS_SEPTEMBER_2011. (Diakses
28 April 2015).
31. Joint Commission International (JCI): A Partner
in Quality and Safety. Diunduh di: http://www.
ingenta con-nect. com/ content/jcaho/jcjqs/2004/
00000030/A00 112s1/art00002. (Diakses 27
Januari 2015).

108