Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

FISIKA MODERN

Gejala relativitas khusus Einstein dan Dinamika Relativistik

Oleh:

Kelompok 2

1. Nyswatul Khair (15033008)


2. Zakiah afrida pulungan (15033026)
3. Yenni nofita sari (15033068)
4. Larasati gustia ayopma (15033004)
5. Syafri (15033082)

Dosen Pembimbing :Silvi Yulia Sari, S.Pd, M.Pd

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2017

PEMBAHASAN
A. GEJALA RELATIVITAS KHUSUS EINSTEIN
1.1 DILATASI WAKTU

Dilasi berasal dari kata dilation yang berarti memuai atau mengambang.
Dilasi/pemuaian waktu merupakan konsekwensi dari postulat-postulat Einstein.

(Husna, 2003 : 20)

Dilatasi waktu adalah fenomena yang dijelaskan dalam teori relativitas dimana waktu
yang dirasakan oleh sesuatu yang diam akan terasa lebih lama dibandingkan dengan waktu
yang ditempuh benda yang bergerak dengan syarat benda yang bergerak tersebut memiliki
kecepatan mendekati kecepatan cahaya, yaitu 3 x 108 m/s.

Dilatasi waktu adalah peristiwa dimana terdapatnya perbedaan kecepatan waktu pada
suatu kejadian yang diamati oleh 2 pengamat yang berbeda medan grafitasi. Seperti yang kita
ketahui bahwa hubungan waktu, kecepatan konstan dan jarak lalu lintas objek terdapat pada
persamaan berikut :

D = ct

Dimana D adalah jarak lintas, c adalah kecepatan cahaya, dan t adalah waktu perjalanan.

Misalkan pada suatu pengamatan terdapat dua cermin A dan B yang memiliki jarak
besar D. Sebuah sinar dipancarkan dengan kecepatan c. Waktu yang dibutuhkan sinar untuk
pergi dari A menuju B dan kembali lagi menuju A adalah t. Sehingga waktu yang dibutuhkan
sinar untuk melakukan perjalanan adalah

t = 2
D
c

A
t = 2L/c L
dimana l adalah
lintasan cahaya

Sekarang, andaikan objek tersebut bergerak dari titik A menuju C dengan kecepatan
sebesar v diamati oleh pengamat B sesuai gambar dibawah :
B

t = 2D/c

D L D

A C
1/2v t

Berdasarkan teorema phythagoras, dapat kita tentukan bahwa panjang D adalah sebagai
berikut :

(
2
1
D= 2 )
v t + L2

t
substitusikan t = 2L/c L =c 2

(
2 2
1 1
D= 2 )(
v t + c t
2 )

Bila digabung pada persamaan ini , maka :

(
2 2
t= 2 1 1
t = c 2 )(
v t + c t
2 )
Substitusikan D pada persamaan awal maka akan didapatkan
persamaan berikut
2L
t ' c
v2
1 2
c

Kembalikan kepada persamaan awal dimana L adalah D sehingga :

t
t '
v2
1 2
c
Misalnya pengamat yang bergerak dengan kecepatan v terhadap pengamat yang diam,
mengamati 2 kejadian di suatu titik P. Maka hubungan kedua kejadian itu menurut
pengamat yang diam dan pengamat yang bergerak dapat dirumuskan :
t
t '
v2
1 2
c
t = selang waktu kejadian menurut
pengamat yg bergerak
t = selang waktu kejadian menurut
pengamat yg diam
v = kecepatan pengamat yg bergerak
c = kecepatan cahaya

1.2 KONTRAKSI PANJANG

Pada mekanika Newton jarak merupakan besaran yang invariant terhadap transfrmasi
Galileo, sedangkan dalam Teoi Relativitas jarak adalah varian terhadap transformasi Lorentz,
maka kita mengenal adanya pengerutan panjang Lorenzt-Fitz Gerald (kontraksi panjang
Lorentz-Fitz Gerald). Gejala ini hanya teramati bila arah batang/panjang yang diamati
searah/sejajar dengan arah gerak v.Jika arah v tegak luus terhadap arah panjang batang maka
kontraksi tidak terjadi.

Misalkan sebuah batang dengan panjang L0 berada pada sumbu x dari kerangka acuan
diam S. Koordinat ujung-ujung batang pada kerangka acuan S adalah x1 dan x2 sehingga x2 -
x1 = L0. Kemudian, batang tersebut melekat pada kerangka acuan S yang bergerak dengan
kecepatan v terhadap kerangka S. Koordinat ujung-ujung batang pada kerangka S adalah x1
dan x2 sehingga x2 x1 = L. Waktu pengukuran koordinat x1 adalah bersamaan dengan
waktu pengukuran koordinat x2 (dalam kerangka acuan S) sehingga t1 = t2. Sesuai
dengan persamaan

maka

karena t2 = t1 maka t2-t1 = 0, jadi

karena x2-x1 = L0 dan x2- x1 = L, jadi


dengan:

L = panjang benda bergerak yang diamati oleh kerangka diam

L0 = panjang benda yang diam pada suatu kerangka acuan

v = kecepatan benda terhadap kerangka diam

c = kecepatan cahaya dalam ruang hampa udara m/s

Tetapan transformasi k adalah bilangan yang selalu besar dari 1 (k >1) sehingga
dalam persamaan L=L0/k selalu lebih kecil daripada L0. Dapat kita simpulkan bahwa benda
yang bergerak akan tampak lebih pendek apabila diukur dari kerangka acuan diam (L < L 0).
Peristiwa penyusutan panjang ini disebut kontraksi panjang.

1.3 PEMUAIAN MASSA

Massa diam paling kecil

Sampai saat ini kita baru meninjau aspek kinematis dari relativitas khusus. Akibat
dinamika dari relativitas sama menariknya dengan diatas, termasuk dalam kasus ini perubahan
massa terhadap kecepatan dan kesetaraan massa dan energi.

Kita meninjau dari tumbukan lenting elastisitas(lenting-yaitu tumbukan yang energi


kinetiknya kekal) antara dua partikel A dan B, yang saling disaksikan oleh pengamat dalam
kerangka acuan S dan S yang berada dalam gerak relatif uniform. Sifat A dan B identik jika
ditentukan terhadap kerangka acuan tempat partikel itu diam. Kerangka S dan S terorientasi
seperti dalam gambar 1.10, dengan S bergerak dalamarah +x terhadap S dengan kecepatan v.

Sebelum tumbukan, partikel A dalam keadaan diam terhadap kerangka S dan partikel B
terhadap S. Kemudian pada saat yang sama, A dilemparkan dalam arah+y dengan kecepatan
'
VA
, sedangkan B dalam arah y dengan kecepatan V B , dengan

V A =V 'B

Jadi prilaku A seperti terlihat dari S sama benar dengan perilaku B sperti terlihat dari.

VA
Ketika kedua partikel bertumbukan, A memantul dalam arah -y dengan kecepatan

,sedangkan B memantul dalam arah +y dengan kecepatan V 'B . Jika partikel tersebut

dilemparkan dalam kedudukan yang berjarak y, pengamat di S menemukan bahwa tumbukannya

1
y= Y
terjadi pada 2 dan pengamat di S menemukan bahwa tumbukannya terjadi pada

1
y '= Y T0
2 . Waktu pulang-pergi untuk A diukur dari kerangka S menjadi

Y
T0=
VA

Dan waktu sama untuk B dalam S

Y
T0=
V 'A

Jika momentum kekal dalam kerangka S, harus berlaku bahwa

m A V A=mB V B
mA mB VA VB
Dengan dan menyatakan massa A dan B, dan dan menyatakan

VB
kecepatan diukurydari kerangka S. Dalam kerangka S, di dapat dari
y
Y
V B=
T
S x

S x Vb
y
Va
z

B
A B
A
Tumbukan terlihat dari kerangka S :

Tumbukan terlihat dari kerangka S :

Gambar. Tumbukan elastis teramati dalam dua kerangka acuan berbeda

Dengan T menyatakan waktu yang diperlukan B untuk melakukan pulang-pergi saat diukur dari

T0
S. Dalam S, perjalanan b memerlukan waktu , dengan
T0
T=
1V 2 /C 2

Menurut hasil yang lalu. Walaupun pengamat dalam kedua kerangaka melihat kejadian
yang sama, mereka melihat perbedaan waktu yang diperlukan partikel yang dilemparkan
kerangka lain untuk melakukan tumbukan kemudian kembali ke tempat semula.

T0
Dengan mengganti T dalam pers. Diatas dengan besaran yang sama dinyatakan dalam ,

kita peroleh

1V 2 /C2
V B=
T0

dari persamaan

Y
V A=
T0

VA VB
Dengan memasukkan persamaan ini untuk dan dalam persamaan (1.12) kita lihat

momentum kekal jika dipenuhi

m A=mB 1V 2 /C 2

Hipotesis kita semula ialah A dan B identik bila dalam keadaan daim terhadap pengamat

mA mB
perbedaan antara dan berarti pengukuran massa, seperti juga ruang dan waktu

bergantung dari kecepatan relatif antara pengamat, kejadian apapun yang sedang ia amati.

Dalam contoh di atas baik A dan B bergerak terhadap S. Supaya kita mendapat rumusan

m0
massa suatu benda yang terukur ketika benda itu bergerak dinyatakan dalam massa yang

VA V 'B
terukur dalam keadaan diam, kita perlu meninjau contoh yang dengan dan

sangatkecil. Dalam hal ini pengamat di S akan melihat B mendekati A dengan kecepatan v,
V ' B v
membuat tumbukan yang luput ( karena ), dan kemudian melanjutkan perjalanannya.

Dalam S

m A=m0 mB =m
dan

Sehingga

m0
m=
Massa relativistik 1V 2 /C2

Massa benda yang bergerak dengan kecepatan yang relatif terhadap pengamat lebih besar

1
daripada massa ketika benda diam terhadap pengamat dengan faktor 1V 2 /C 2 .

m A=m0
Pertambahan massa ini berlaku . Diukur dari bumi, sebuah roket yang sedang

meluncur, lebih pendek daripada roket kembangnya yang diam di bumi, dan massa nya menjadi
lebih besar. Terhadap orang dalam roket yang meluncur, roket di bumi kelhatan lebih pendek dan
mempunyai massa yang lebih besar. Persamaan (1.16) diplot dalam gambar 1.1

m/m0
v/c

Gambar realtivitas massa. Bila v=c; maka m= , jadi tidak ada benda yang dapat melebihi

kelajuan cahaya dalam ruang hampa.

Pertambahan massa relativistik hanya penting untuk kelajuan yang mendekati kelajuan
cahaya. Pada kelajuan sepersepluluh kecepatan cahaya pertambahan massanya hanya 0.5 persen,
tetapi pertambahannya melebihi 100 persen pada kelajuan sembilan per sepuluh kelajuan cahaya.
Hanya partikel atomik seperti elektron, proton, meson, dan sebagainya yang bisa mempunyai
keljuan cukup tinggi sehingga efek relativistik dapat terukur, dan dalam mempersoalkan parikel
ini hukum fisika yang biasa tidak dapat dipakai. Menurut sejarahnya pers. (1.16) ditemukan oleh

Bucherer dalam tahun 1908; ia mendapatkan rasio e /m yaitu rasio muatan terhadap massa

untuk elektron yang lebih kecil untuk elektro yang berkecepatan tinggi daripada elektron yang
berkecepatan rendah. Persamaan ini seperti juga persamaan relativitas khusus lainnya, telah
dibuktikan melalui begitu banyak eksperimen sehingga sekarang dikenal sebagai rumus dasar
dalam fisika.

Ketika v mendekati c, 1V 2 /C2 dalam persmaan (1.16) mendekati 0, dan massa m

mendekati tak berhingga. Jika v=c, m= , dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa

tidak dapat sama dengan c; tiadak ada benda yang dapat melaju secepat cahaya. Tetapi

v 1=0.5 c
bagaimana mengenai roket yang bergerak pada relatif terhadap bumi yang

v 2=0.5 c
menembakan peluru dengan kelajuan dalam arah yang sama ? Kita dibumi bisa

v 1 + v 2=c
mengarapkan untuk mengamati peluru dengan kelajuan . Sebenarnya, pertambahan

kecepatan dalam relativitas bukanlah persoalan yang sederhana, dan kita kan mendpatkan bahwa
kelajuan peluru hanya 0.8c saja dalam kasus seperti itu.
Kelajuan cahaya c dalam relativitas selalumenyatakan harga besaran itu dalam ruang

hampa yaitu 3,00 108 m/detik . Dalam semua media material, seperti udara, air, ataupun

gelas, cahaya merambat lebih perlahan dari itu, dan partikel atomik dapat bergerak lebih cepat
dalam media semacam itu daripada cahaya. Bila partikel bermuatan bergerak melalui bahan
dengan kelajuan melebihi cahaya dalam bahan itu, sekerucut gelombang cahaya dipancarkannya
yang serupa busur gelombang yang ditimbulkan oleh kapal yang melintasi air dengan kelajuan
lebih cepat dari gelombang air. Gelombang cahaya serupa itu dikenla dengan radiasi Cerenkov
dan dapat dipakai sebagai dasar dari suatu metode untuk menetukan kelajuan partikel seperti itu.

Jika momentum liner p didefenisikan sebagai

m0 v
p=mv=
Momentum relativistik 1V 2 /C2

Hukum kekekalan momentum berlaku dalam realtivitas khusus seprti dalam fisika klasik.
Namun, hukum kedua newton mengenai gerak hanya benar dalam bentuk

m0 v
F=
d
dt
( mv )=
d
dt ( 1V 2 /C 2 )
Persamaan ini tidak setara dengan persamaan

dv
F=ma=m
dt

d dv dm
( mv )=m + v
dt dt dt

Dan dm/dt tidak nol jika kelajuan benda berubah terhadap waktu. Gaya resultan pada benda
selau sama dengan laju perubahan momentum terhadap waktu.

(Beiser, arthur.1987:22-27)
1.4 EFEK DOPPLER RELATIVITAS

Kita mengenal efek doppler pada bunyi, dimana terjadinya pertambahan tinggi nada
jika sumbernya mendekati kita dan sebaliknya. Perubahan frekuensi ini merupakan efek
doppler yang asal usulnya dapat dicari secara langsung.

Efek doppler tentang bunyi menyatakan bahwa pertambahan tinggi nada terjadi, jika
sumber bunyi mendekati kita, dan menurun jika sumber bunyi menjauhi kita atau kita
menjauhi sumber bunyi.

Gerak relatif antara pengamat dengan sumber bunyi mengubah frekuensi yang
diterima. Hubungan frekuensi sumber V0 dan frekuensi pengamat V dapat dinyatakan
sebagai:

v
v =v
( 1+ )
c
0

(1 Vc )
Dengan :

c = kelajuan bunyi

V = kelajuan sumber (+ jika bergerak kearah pengamat dan sebaliknya)

v = kelajuan pengamat (+ jika bergerak kearah sumber dan sebaliknya)

v = frekuensi pengamat

v0 = frekuensi sumber

Efek doppler untuk bunyi jelas berubah bergantung pada sumbernya, atau pengamatnya
atau keduanya bergerak, seakan bertentangan dengan prinsip relativitas, semua hanya bergantung
pada gerak relatif antara sumber dan pengamat. Diketahui bahwa gelombang bunyi hanya terjadi
dalam medium materi seperti udara atau air, medium itu sendiri merupakan kerangka acuan,
terhadap kerangka ini bergerak sumber dan dan pengamat dapat diamati dan diukur. Berarti tidak
ada kontradiksi.

Sedangkan untuk kasus cahaya tidak berkaitan dengan medium melainkan hanya oleh
gerak relatif antara pengamat dan sumber saja. Jadi efek doppler dalam cahaya berbeda dengan
bunyi. Pada efek doppler pada cahaya Frekuensi yang teramati selalu lebih kecil jika pengamat
bergerak tegak lurus terhadap sumber.

Efek doppler relativistic dapat transversal maupun longitudinal.

Efek doppler relativistic transversal terjadi jika :

1 Penngamat bergerak tegak lurus pada baris antara ia dengan sumber cahaya.
1
t 0=
Waktu proper antara titik v 0 sehingga selang waktu antara titik berikut


t=t 0 / 1
v2
c =
2
t0

Jadi frekuensi yang teramati adalah :


v =v 0 1
v2
c2

v = frekuensi pengamat

v0 = frekuensi sumber

c = kelajuan cahaya

v = kelajuan pengamat

v0
Frekuensi yang diamati selalu lebih kecil dari frekuensi sumber
2 Pengamat menjauhi sumber cahaya. Pengamat menempuh jarak vt menjauhi sumber

antara dua titik. Hal ini berarti cahaya dari suatu titik tertentu mengambil waktu vt /c

lebih panjang untuk samapi kepadanya dibandingkan sebelumnya. Jadi total waktu antara
kedatangan gelombang yang berurutan adalah :

T = t + vt /c =
t0
1+
c
= t0

1+
v
c
1+
v
c


2
1
v
c
2

v
1+ 1
c
v
c


v
1+
c
T = t0 v , sehingga frekuensi yang teramati adalah :
1
c


v
1
1 1 c
f=
T t0 v
1+
c

f =f 0
1
v
c

1+
v
c

Atau

v =v 0
1
v
c

1+
v
c

v = frekuensi pengamat (menjauhi)


v0 = frekuensi sumber

c = kelajuan cahaya

v = kelajuan pengamat

Frekuensi yang diamati lebih rendah dari frekuensi sumber.

3 Pengamat mendekati sember cahaya. Pengamat menempuh jarak vt menuju sumber

antara titik masing-masing gelombang cahaya mengambil vt /c lebih sedikit waktu

datang dari sebelumnya. Dengan cara yang sama pada langkah 2.

v
t
T = t - vt /c = 0
1
c
= t0

1
v
c
1
v
c


2
1+
v
c2
v
1 1+
c
v
c


v
1
c
T = t0 v , sehingga frekuensi yang teramati adalah :
1+
c


v
1+
1 1 c
f=
T t0 v
1
c

f =f 0
v
c
1+


1
v
c

Atau
v =v 0
v
1+
c

1
v
c

v = frekuensi pengamat (menjauhi)

v0 = frekuensi sumber

c = kelajuan cahaya

v = kelajuan pengamat

Frekuensi yang diamati lebih tinggi dari frekuensi sumber.

Efek doppler longitudonal relativistic berlaku jika pengamat O bergerak menuju atau
menjauhi sumber dalam suatu garis yang menghubungkan keduanya. Frekuensinya dapat
dinyatakan :


v
1+
c
v long =v 0
v
1
c

Dengan mengambil konvensi v+ untuk sumber dan pengamat saling mendekati dan v-
untuk sumber dan pengamat saling menjauhi. Frekuensi untuk sumber dan pengamat saling
mendekat menjadi lebih tinggi dari frekuensi sumber, dan sebaliknya.

Contoh tentang efek doppler relativistic dari astronomi, seperti red shift yang
diperlihatkan spektrum cahaya bintang-bintang diluar galaksi kita. Setiap unsur dicirikan oleh
spektrum garis yang spesifik. Pengamatan spektrum cahaya yang dipancarkan bintang-bintang
diluar galaksi Bimasakti menunjukkan bahwa spektrum spesifik unsur bergeser kearah frekuensi
yang lebih rendah (ke arah warna merah). Pergeseran spektrum ini memberi petunjuk bahwa
rasi-rasi bintang bergerak menjauhi galaksi kita. Ahli astronomi berpendapat bahwa alam
semesta ini mengambang dengan kecepatan yang sangat tinggi, dikenal dengan the exponding
universe. Jika dianggap bahwa alam semsta yang mengambang ini bermula dari ledakan masa
lalu yang maha dahsyat maka hasil pengamatan sekarang menunjukkan bahwa ledakan itu telah

terjadi 13 109 tahun yang lalu. Pandangan tentang terjadinya bintang-bintang jagad raya ini

dikenal sebagai Big Bang Theory (teori ledakan raksasa).

Contoh lain adalah tentang bintang ganda (double stars) juga dibidang astronomi.
Bintang ganda terdiri dari dua bintang yang satu bergerak mengelilingi yang lain. Untuk seorang
pengamat dibumi yang tidak melihat kedua bintang itu sebagai benda yang terpisah dilangit,
kesimpulan tentang bintng ganda hanya dapat dibuat setelah mengkaji spektrum cahayanya. Jika
salah satu dari dua bintang bergerak menjauh dari pengamat, maka terlihat bahwa spektrumnya
bergeser ke arah merah dan sebaliknya jika mendekati pengamat menunjukkan garis yang
bergeser ke ujung spektrum biru. Jadi setiap garis asli spektrum terurai menjadi dua. Penguraian
ini memberi petunjuk tentang kehadiran bintang ganda.

B. DINAMIKA RELATIVITAS
A. Momentum dan Energi
1. Relativitas Massa
Sekarang mari kita tinjau dua buah partikel A dan B bertumbukan
elastik/lenting masing-masing berada pada sistem koordinat S dan S.

s
'
vB
y
y' Y
x
vA
Sebelum s
tumbukan, partikel A dalam keaadaan diam tehadap
kerangka
z S dan partikel B terhadap S. Pada saat yang sama A dilemparkan

z'
vA
dalam arah +y dengan kelajuan , sedangkan B dalam arah y dengan

v B'
kelajuan dengan

v A v B'

Jadi kelakuan A sama seperti terlihat dari S sama benar dengan


kelakuan B seperti terlihat dari S. Ketika kedua partikel bertumbukan, A

v A'
memantul dalam arah y dengan kelajuan sedangkan B memantul ke arah

v B'
+y dengan kelajuan . Jika partikel tersebut dilemparkan dari kedudukan
yang berjarak y, pengamat di S menemukan bahwa tumbukannya terjadi

1
Y
y 2
pada dan pengamat di S menemukan tumbukannya terjadi pada

1
y' Y
2
. Waktu pulang pergi To untuk A diukur dari kerangka S menjadi

Y
To
vA
dan untuk B oleh kerangka S adalah

Y
To
v B'

Tumbukan yang terjadi adalah kekal dalam kerangka S, maka berlaku:

m Av A mB vB
vB
Dalam kerangka acuan S, didapat dari

Y
vB
T T
, = waktu yang diperlukan B untmuk melakukan pulang-pergi

To

diukur dari S. Dalam S perjalanan b memerlukan waktu dengan

To
T
1 v2 c2

Y
vB
T To
Persamaan dengan besaran yang sama dinyatakan dalam ,

Y 1 v2 c2 Y
vB vA
To To
kita peroleh dan

m Av A mB vB
Berdasarkan persamaan , dengan memasukkan

vA
persamaan dan v B , maka diperoleh

m A mB 1 v 2 c 2

m A mo mB m
Dalam kerangka acuan S, dimana dan sehingga

mo
m
1 v2 c2
persamaan di atas menjadi (massa relativistik). Hal yang
sama berlaku untuk momentum linear yaitu :
po mo v
p mv
1 v c 2 2
1 v2 c2
= (1)

Contoh:

Seorang pria bermasa 100 kg di bumi. Ketika ia berada dalam roket


yang meluncur, masanya menjadi 101 kg dihitung terhadap pengamat di
bumi. Berapa kelajuan roket itu?

Solusi :

mo
m
1 v2 c2

100
101
1 v2 c2 v 2 0,019704
,

2. Relativitas Energi

Menghitung energi kinetik dEk = F ds dimulai dari besaran momentum

v v
d
o dt v
o u dv v du
Ek = (mv) ds = d(mv) lewat bentuk =uv-

m
o
2
hasilnya menjadi Ek = m v - v dv
v
mo v 2 mo v dv
1 v2 / c2

o 1- v2 / c2
atau berubah menjadi Ek = - .

mo v
1 v2 / c2 1 v2 / c2
Dengan demikian bentuk Ek = + m o c2 - mo c2.
Dengan menghitung akhirnya diperoleh energi kinetik partikel yang
bergerak dengan kecepatan v relatif terhadap pengamat menjadi
mo c 2
1 v2 / c2
Ek = - mo c2 = ( m - mo ) c2 (2)
2
Besaran moc disebut energi diam partikel serta energi total (E)
meliputi Ek dan energi diam.
Persamaan (9) dapat diinterpretasikan (untuk dikembangkan)
sebagai perubahan massa (m) dan akan berubah menjadi bentuk energi
(E) sistem dalam suatu hubungan
E = (m) c2 (3)

mo c 2
1 v2 / c2
E = Ek + moc2 = = m c2 (4)
Dengan penggabungan persamaan (1 dan 4) akan menghasilkan v = c2
p/E. Besaran kecepatan bentuk v = c 2 p/E merupakan bentuk kecepatan
dinyatakan da-lam momentum dan energi. Jika kecepatan (v) dan
momentum (p) searah sehingga hubungan dua besaran tersebut dalam
bentuk besaran vektor dapat ditulis sebagai
c2
E
v = p
Persamaan (4) dapat pula dinyatakan sebagai bentuk
mo2 c 2 p 2
E = c (5)
Jika kecepatan sangat besar kecepatan v dapat diganti dengan c
sehingga p = mc. Kemudian Ek persamaan (2) menjadi
Ek = pc - mc2 = c (p - mo c)
Kasus khusus terjadi jika partikel tidak memiliki massa diam (mo = 0)
sehingga persamaan (5)
E
c
E = cp atau p =
Partikel dengan massa diam nol dapat bergerak hanya dengan
kecepatan cahaya (c) dan tidak dapat diam dalam sistem inersial.
Penyelesaian menggunakan persamaan (1 dan 3) Momentum p = m

mo v
1 v2 / c2
v sehingga dalam kasus ini akan berlaku m v = m o c atau =

v2
c2
mo c sehingga bila dihitung m o2 v2 = mo2 c2 (1 - ). Atau v 2 = c2 - v2

2
dengan demikian akan dihasilkan nilai kecepatan v = c .
2
Energi total E = m c sehingga dalam kasus ini bentuknya akan
menjadi
mo c 2 mo c 2 mo c 2
1 v2 / c2 1 1/ 2 1/ 2 2
2
mc = = = = mo c2 .
Energi kinetik Ek = (m) c sehingga berlaku Ek = (m - mo)c2 dengan
2

demikian diperoleh bentuk


mo
1 v2 / c2
Ek = [ - mo ] c2.
mo mo
1 1/ 2 1/ 2 2
Ek = [ - mo ] c2 = [ - mo ] c 2 = m o c 2 ( - 1)
2
Dengan demikian energi kinetiknya bernilai Ek = m o c2 ( - 1)

3. Massa Dan Energi


Hubungan yang paling terkenal yang diperoleh Einstein dari postulat
relativitas khusus ialah mengenai massa dan energi. Hubungannya dapat
diturunkan secara langsung dari definisi energi kinetik K dari suatu benda yang
bergerak sebagai kerja yang diperlukan untuk membawa benda itu dari

v
keadaan diam hingga mempunyai kecepatan .

Perhitungan energi kinetik secara relativistik dirumuskan:

s
K Fds
0

F
dengan menyatakan komponen gaya yang beraksi dalam arah perpindahan
ds dan s menyatakan jarak selama gaya tersebut beraksi. Dengan memakai
bentuk relativistic hokum gerak kedua.

d (mv)
F
dt

rumus energi kinetic menjadi

v m0v
vd
0
1 v /c
2 2


K , dengan menerapkan integral parsial, maka

m0v 2 v vdv
K v m0
1 v2 / c2 0
1 v2 / c2
m0 v 2 m0 c 2 v

2 1 v2 / c2
1 / 2

d 1 v2 / c2
1 v / c
2 2 0


m0 v 2
1 v2 / c2
m c2
0 2 1 v 2 / c 2
2
1/ 2 v
0
m0 v 2

m0 c 2 1 v 2 / c 2 1/ 2
m0 c 2
1 v / c
2 2

m0 v 2

1 v 2 / c 2 m0 c 2 1 v 2 / c 2 m0 c 2
1 v / c
2 2

m 0 v 2 m 0 c 2 m0 v 2 m0 c 2 1 v 2 / c 2 1/ 2

m0 c 2
K m0 c 2
1 v / c 2 2

mc m0 c 2
2

Jika v relative kecil, maka:

m0 c 2
K m0 c 2
1 v / c 2 2

1 v2
m0 c 2 1 m0 c 2
2 c2
1
K m0 v 2
2

(seperti dalam fisika klasik)

mc 2 mo c 2 K
atau

E Eo K
, dengan

E o mo c 2
adalah energi diam

Jika benda bergerak mendekati kecepatan cahaya, maka energi


totalnya adalah
mo c 2
E mc 2

1 v2 c2
Energi Total

Contoh :

1. Berapa energi diam sebuah elektron? (masa elektron 9,1.10-31kg)


E o mo c 2
Solusi : = 8,19.10-14 joule atau 5,1.105 ev

2. Sebuah aselerator sedang mempercepat elektron-elektron dengan


melewatkannya melalui beda potensial 5 Mv. A) carilah energi kinetik
elektron tersebut. b) hitung masa elektron saat bergerak. c) berapa
kecepatan elektron tersebut?
Solusi:

a) K= ev = 8.10-13J = 5 Mev
mc 2 mo c 2 K
b)
K
m mo
c2
=9,81.10-30 kg

mo c 2
K mo c 2
1 v c
2 2

c)

v 2,98.10 8 m / s

B. Momentum dan Energi

Persamaan (5) merupakan bentuk hubungan antara energi dan momentum yang harus
sama untuk seluruh pengamat inersial. Selanjutnya kita perbandingkan dua besaran
tersebut jika dihitung oleh dua pengamat yang melakukan gerakan relatif. Untuk
pengamat 0 persamaan (5) dapat ditulis dalam bentuk
E2
c2 mo2
p2 - = - c2

Diingatkan p besaran vektor yang memiliki konponen px, py dan pz (dalam sistem

p x2 p y2 p z2
koordinat kartesian tiga dimensi) dan p2 = + + sehingga

E2
2
p x2 p y p z2 c2 mo2
+ + - = - c2 (6)

Asumsi prinsip relativitas persamaan harus selalu invariant untuk seluruh pengamat
inersial. Dengan kerangka acuan lain (pengamat 0 !) yang bergerak dengan kecepatan v
relatif terhadap acuan mula-mula mengakibatkan bentuk persamaan diatas dapat
menjadi

E !2
!2
p !2
x!
p y! p !2
z! c2 mo2
+ + - = - c2

Nilai mo selalu sama karena merupakan massa diam (suatu partikel). Dengan kata lain
kita akan memiliki bentuk

E2 E !2
p x2 p 2y p z2 c2 p !x2! p !y2! p !z2! c2
+ + - = + + -

Selanjutnya sebagai bentuk konsekuensi invariantsi hukum-hukum alam se-hingga


persamaan (6) sebagai transformasi Lorentz menggantikan x, y dan z sehingga
bentuknya menjadi

p x vE / c 2 p !x! vE! / c 2
p !x! 1 v2 / c2 1 v2 / c2
= px =

p !y! p !y!
= py py =
p !z! p !z!
= pz pz =

E vpx E ! vp!x!
1 v2 / c2 1 v2 / c2
E! = E =

Partikel Tak Bermassa

Dalam fisika klasik, suatu partikel harus mempunyai massa diam


supaya memiliki energi dan momentum. Tetapi dalam mekanika relativistic,
hal tersebut tak berlaku. Marilah kita periksa apa yang bisa kita pelajari dari
rumusan relativistic untuk energi total dan momentum linear.

Energi total dan momentum relativistic dirumuskan sebagai berikut:

m0c 2
E
1 v2 / c2
m0v
P
1 v2 / c2

m 2 0c 4
E2
1 v2 / c2
m 2 0v 2
P2
1 v2 / c2
m 2 0 v 2c 2
P 2c 2
1 v2 / c2

P 2c 2
dengan mengurangi dari E2 menghasilkan:
m 2 0 c 4 m 2 0 v 2 c 2 m 2 0 c 4 1 v 2 / c 2
E P c
2 2 2

1 v2 / c2 1 v2 / c2
m 2 0c 4

sehingga:

E 2 m 2 0c 4 P 2 c 2
E m 2 0 c 4 P 2c 2

m0 0
Menurut rumusan itu, bila ada partikel dengan , maka hubungan

E Pc
antara energi dan momentumnya harus diberikan dengan (partikel tak
bermassa)

KESIMPULAN

1.1. Kesimpulan
t
t '
v2
1 2
c
a. Dilatasi waktu adalah peristiwa dimana terdapatnya perbedaan
kecepatan waktu pada suatu kejadian yang diamati oleh 2 pengamat yang berbeda medan
grafitasinya

b. Kontraksi panjang
c. Pemuaian massa

m0
m=
1V 2 /C2
d. Efek Doppler


v =v 0 1
v2
c
2

e. Menurut fisika Newton atau fisika klasik, massa benda konstan tidak bergantung
pada kecepatan. Akan tetapi, berdasarkan teori relativitas Einstein massa benda
adalah besaran relatif. Massa benda yang bergerak (m) relatif terhadap seorang
pengamat akan lebih besar dari massa diam (m0) benda tersebut.
f. Momentum linear suatu benda adalah p = m v. Untuk benda-benda yang bergerak
mendekati kecepatan cahaya, momentum relativistiknya diperoleh dengan
memperhatikan massa relativistik benda.
s
W F .ds
0
g. Usaha yang dilakukan oleh gaya F untuk memindahkan suatu
benda sejauh s dapat dihitung secara integrasi

Dengan menggunakan bentuk relativistik untuk Persamaan gerak, yaitu F =


d(mv)/dt, maka Einstein menyelesaikan Persamaan di atas dan memperoleh hasil bahwa
energi kinetik relativistik suatu benda, Ek, adalah

h. Hubungan energi total dengan momentum secara relativistik sebagai :

DAFTAR PUSTAKA
Beiser, arthur. 1987. Konsep Fisika Modern. Inggris: McGraw-Hill.

Husna, Nailil. 2003. Penyusunan Diktat Mata Kuliah Fisika Modern. Padang : UNP.

Noname. 2016. http://mafia.mafiaol.com/2013/03/kontraksi-panjang-akibat-prinsip.html .


(diakses pada tanggal 15 Februari 2017).

www.wikipedia.com