Anda di halaman 1dari 10

PERAN GEODESI DALAM PERENCANAAN LOKASI

PELABUHAN

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi yang pesat pada era
globalisasi telah menjalar sampai pada wilayah-wilayah pelosok pada negara-
negara berkembang termasuk Indonesia. Transportasi memiliki peran utama
dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara menyeluruh.
Transportasi laut merupakan salah satu pilihan sistem transportasi yang efektif
untuk wilayah kepulauan. Maka untuk mendukung perkembangan ekonomi perlu
ditunjang juga dengan infrastruktur yang memadai.
Selain itu, pembangunan pelabuhan laut juga memberikan kontribusi
dalam memperkenalkan kekayaan alam, adat-istiadat dan budaya kepada
wisatawan domestik maupun mancanegara. Laju pertumbuhan ekonomi yang
meningkat tentunya akan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Untuk itu, peranan geodesi sangat dibutuhkan pada perencanaan
pembangunan pelabuhan laut terutama dalam penentuan kesesuaian lokasi
pelabuhan melalui kegiatan survei hidrografi yakni: pengamatan pasang surut air
laut, pemetaan bathimetri dan oseanografi (angin, gelombang, arus).

Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dibahas adalah peranan geodesi dalam kegiatan
perencanaan lokasi pelabuhan yang didalamnya meliputi kegiatan survei
hidrografi: pengamatan pasang surut air laut, pemetaan bathimetri dan oseanografi
(angin, gelombang, arus) beserta data tambahan lainnya yang turut mendukung
dalam menentukan kesesuaian lokasi pelabuhan.

1
Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah menjelaskan peranan
geodesi pada kegiatan Survei Hidrografi untuk menentukan lokasi pelabuhan
berdasarkan data dan peta hidrografi yang meliputi peta topografi, bathimetri, data
angin, peta, arus, data pasang surut dan data gelombang.

Manfaat
Manfaat dari kegiatan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui
peranan geodesi serta tahapan pekerjaan yang dilakukan dalam penentuan lokasi
perencanaan pembangunan pelabuhan.

ISI
Survei Hidrografi
Kata hidrografi merupakan serapan dari bahasa Inggris hydrography.
Secara etimologis, hydrography ditemukan dari kata sifat dalam bahasa Perancis
abad pertengahan hydrographique, sebagai kata yang berhubungan dengan sifat
dan pengukuran badan air, misalnya: kedalaman dan arus (Merriam-Webster
Online, 2004 dalam Poerbandono dan Djunarsiah,2005). Fenomena dasar perairan
meliputi: pasang surut muka dan arus. Data mengenai fenomena dasar perairan
dan dinamika badan air diperoleh dari pengukuran yang kegiatannya disebut
sebgai survei hidrografi. Data yang diperoleh kemudian diolah dan disajikan
sebagai informasi geospasial atau informasi yang terkait dengan posisi dimuka
bumi. Sehubungan dengan hal itu, maka seluruh informasi yang disajikan harus
memiliki referensi tertentu. Maka posisi suatu obyek, di dalam dan di dasar
perairan sangat diutamakan dalam hidrografi. Informasi hidrografi pada dasarnya
bertujuan untuk navigasi keselamatan, penetapan batas wilayah atau daerah dilaut,
dan studi dinamika pesisir serta pengelolaan sumberdaya laut.
Pemanfaatan produk hidrografi terdiri dari berbagai bidang antara lain:
transportasi maritim dan navigasi, pengelolaan kawasan pesisir, eksplorasi dan
eksploitasi sumberdaya laut, pengelolaan lingkungan laut, rekayasa lepas pantai,
hukum laut dan zona ekonomi eksklusif, serta aplikasi-aplikasi survei di pesisir
dan laut lainnya.

2
Pengamatan Pasang Surut Untuk Perencanaan Pelabuhan
Prinsip pengamatan pasang surut laut (pasut) adalah mengamati
perubahan kedudukan permukaan laut dalam selang waktu tertentu. Pengamatan
pasut pada survei batimetri adalah untuk mendefenisikan bidang referensi
kedalaman (chart datum) dan rata-rata muka air laut. Rentang waktu pengamatan
pasut yang lazim dilakukan untuk keperluan praktis adalah 15 atau 29 piantan ( 1
piantan = 25 jam). Interval waktu pencatatan atau perekaman tinggi muka laut
biasanya adalah 15, 30 atau 60 menit.
Kegiatan perencanaan pelabuhan, pengamatan pasut sangat diperlukan.
Elevasi muka air tertinggi (pasang) dan terendah (surut) sangat penting untuk
merencanakan bangunan-bangunan di pelabuhan seperti: elevasi puncak bangunan
pemecah gelombang dan dermaga ditentukan oleh elevasi muka air laut saat
pasang dan kedalaman alur pelayaran/pelabuhan ditentukan oleh muka air surut.
Pengamatan pasut dapat dilakukan secara manual menggunakan bak ukur dan
secara digital menggunakan (automatic water level record). Untuk mendapatkan
hasil pengamatan yang baik, dan terhindar dari pengaruh gelombang, lokasi
pengamatan dilakukan di muara sungai atau teluk.

Gambar 1. Ilustrasi Pengamatan Pasut

Pengolahan Data Pasut


Data pasut hasil pembacaan dicatat dalam formulir pengamatan pasut.
Contoh formulir pengamatan pasut, sebagai berikut:

3
Gambar 2. Contoh Format Data Pengamatan Pasut

Melalui analisis harmonik terhadap data pengamatan pasut diperoleh


amplitudo komponen-komponen pasut. Berdasarkan amplitudo komponen
harmonik tersebut ditetapkan muka surutan yang berada pada jarak sebesar Z0
terhadap MSL. Z0 diperoleh dengan penjumlahan amplitudo komponen tertentu.
Banyaknya komponen yang digunakan tergantung dari banyaknya komponen
harmonik pasut yang diperoleh dari analisi harmonik (Poerbandono & Djurnasih,
2005).

Gambar 3. Diagram Alir Pengamatan Pasut

4
Pengukuran Kedalaman untuk Perencanaan Pelabuhan
Metode Akustik
Pengukuran kedalaman menggunakan metode akustik adalah salah satu
metode untuk mengukur kedalaman dengan menggunakan alat echosounder
(perum gema). Teknologi ini menggunakan transmisi gelombang akustik yang
dipancarkan dari transmitter transducer (transduser pengirim). Gelombang
akustik tersebut merambat pada medium air. Gelombang yang membentur dasar
kemudian dipantulkan kembali ke atas dan diterima oleh receiver transducer
(transduser penerima). Transduser adalah bagian dari perum gema yang
mengubah energi listrik menjadi mekanik dan sebaliknya. Alat ini pertama kali
dikembangkan di Jerman pada tahun 1920.

Gambar 4. Sistem Kerja Echosounder

Gambar 5. Pengukuran Kedalaman Metode Akustik

5
Peta Bathimetri
Survei bathimetri merupakan survei pemeruman yaitu suatu proses
pengukuran kedalaman yang ditunjukan untuk memperoleh gambaran (model)
bentuk permukaan (konfigurasi) dasar perairan (seabed surface). Bentuk yang
dimaksud hanya sebatas pada konfigurasinya saja, tidak sampai pada kandungan
materialnya ataupun biota yang tumbuh diatasnya. Peta bathimetri umumnya
digunakan untuk kegiatan perencanaan dengan skala yang lebih besar dan
penentuan posisi dan pengukuran kedalaman yang teliti sangat diperlukan.
Pemanfaatannya untuk kegiatan perencanaan pelabuhan, seperti perencanaan
lokasi pelabuhan, penentuan alur pelayaran, dan perencanaan lokasi dermaga.

Gambar 6. Diagram Alir Survei Bathimetri

Pengukuran Topografi
Pengukuran topografi dilakukan pada wilayah pesisir yang tidak
terpengaruhi peristiwa pasang surut, agar diperoleh gambaran mengenai tinggi
rendahnya permukaan tanah serta obyek-obyek yang bersifat alamiah maupun

6
buatan manusia yang terdapat pada wilayah tersebut. Pemanfaatan data topografi
adalah sebagai dasar perencanaan fasilitas pelabuhan dan perencanaan jalan
menuju pelabuhan.
Kegiatan pengukuran topografi terdapat beberapa metode antara lain:
metode triangulasi, trilaterasi dan poligon.

Gambar 7. Contoh Peta Bathimetri

Pengaruh Angin Terhadap Tekanan Kapal dan Bangunan Pelabuhan


Pengaruh angin dalam perencanaan pelabuhan, antara lain:
Angin berpengaruh dalam pengendalian kapal (manuver), terutama
pendekatan kapal terhadap mulut pelabuhan.
Angin menimbulkan gaya-gaya horisontal yang perlu dipikul oleh
konstruksi pelabuhan.
Angin mengakibatkan gelombang laut, dimana gelombang ini
menimbulkan gaya-gaya tambahan yang wajib dipikul oleh konstruksi
bangunan pelabuhan misalnya pada pemecah gelombang pelabuhan.

Pengukuran Arus dalam Perencanaan Pelabuhan


Pengukuran arus dilakuakan dengan menggunakan current meter yang
dapat mencatat besarnya kecepatandan arah arus. Pengukuran arus dilakukan pada
saat pasang purnama dan pasang perbani. Pengukuran arus dilakukan pada satu
titik oada posisi yang mempunyai pengaruh penting dengan rentang kedalaman

7
berbeda (0.2d, 0.4d,0.6d dan 0.8d) dimana d adalah nilai kedalaman. Pengukuran
dilakukan selama satu hari (24 jam) selama 1 siklus pasut (dari saat surut sampai
saat surut berikutnya atau dari saat pasut sampai pasut berikutnya).

Gambar 8. Contoh Diagram Arus Hasil Pengukuran


(Unit radial adalah derajat, sumbu X-Y adalah m/det)
(a) Pada Saat Pasang Purnama
(b) Pada Saat Pasang Perbani

Dari gambar diketahui kecepatan arus pada lokasi tersebut kecepatan arus
pada pasang purnama (a) lebih besar dibandingkan pada pasang perbani (b). Pada
pasang purnama kecepatan maksimum mencapai 0.64 m/det dengan arah angin 85
derajat, sedangkan pada pasang perbani kecepatan maksimum mencapai 0.26
m/det dengan arah 90 derajat.

Gelombang
Pengukuran gelombang menggunakan wave recorder. Dilakukan dengan
cara pembacaan elevasi muka air laut yang terekam pada alat yang dipasang pada
tempat tertentu secara periodik (setiap 30-60 menit). Pengukuran gelombang
dapat dilakukan secara visual selama 15 hari secara terus-menerus yang mencakup
pengukuran-pengukuran tinggi, periode dan arah datang gelombang. Contoh pada
Gambar 9. hasil pengukuran arus, absis merupakan waktu dimulainya pencatatan.

8
Gambar 9. Contoh Hasil Pengukuran Gelombang

Perencanaan Alur Pelayaran


Untuk kegiatan pelayaran kapal membutuhkan kedalaman air yang sama
dengan syarat kapal (draft) ditambah dengan dengan kedalaman tambahan.
Kedalaman air untuk pelabuhan didasarkan pada frekuensi kapal-kapal dengan
ukuran tertentu yang masuk ke pelabuhan. Untuk kapal terbesar yang hanya
masuk sekali dalam beberapa hari, maka hanya boleh masuk pada saat air pasang.

Gambar 10. Contoh Peta Alur Pelayaran

Perencanaan Lokasi Dermaga


Ukuran dermaga disesuaikan dengan ukuran kapal-kapal yang akan
berlabuh dan bertambat pada dermaga, agar kapal yang datang atau meninggalkan
dermaga serta kegiatan bongkar muat tidak terganggu dan lancar.

9
Gambar 11. Contoh Peta Lokasi Pelabuhan

PENUTUP
Kesimpulan
Peranan geodesi pada kegiatan Survei Hidrografi untuk perencanaan
lokasi pelabuhan meliputi pembuatan peta topografi, pembuatan peta bathimetri,
data angin, pengukuran arus, dan pengamatan data pasang surut serta data
gelombang. Adapun pengaruh kegiatan survei hidrografi diatas terhadap
perencanaan lokasi pelabuhan yaitu:
Data kedalaman pada peta bathimetri dapat dimanfaatkan untuk
perencanaan jalur pelayaran bagi kapal-kapal yang hendak bersandar
pada pelabuhan, sesuai dengan sarat kapal (draft) kapal.
Dari nilai Chart Datum (muka surutan peta) dapat direncanakan ukuran
kapal yang akan bersandar pada pelabuhan. Kapal yang berlabuh
minimal memiliki draft maksimal adalah kurang dari nilai kedalaman
maksimal lokasi pelabuhan dibawah Chart Datum untuk dapat berlabuh.
Dari informasi peta topografi dapat didesain letak pelabuhan serta
fasilitas pelabuhan.
Data kecepatan dan arah angin dalam perencanaan pelabuhan diperlukan
karena angin menimbulkan arus dan gelombang.
Saran
Mahasiswa Teknik Geodesi hendaknya memahami peranan geodesi
dalam kegiatan Survei Hidrografi terutama dalam rekayasa kelautan.

10