Anda di halaman 1dari 9

9.

Operasi Seri dan Paralel


a. Operasi Seri Paralel dengan Karakteristik Pompa Sama
Jika head atau kapasitas yang diperlukan tidak dapat dicapai dengan satu pompa saja, maka dapat
digunakan dua pompa atau lebih yang disusun secara seri atau paralel. Susunan Seri Bila head yang
diperlukan besar dan tidak dapat dilayani oleh satu pompa, maka dapat digunakan lebih dari satu pompa
yang disusun secara seri. Penyusunan pompa secara seri dapat digambarkan sebagai berikut :
Susunan Paralel
Susunan paralel dapat digunakan bila diperlukan kapasitas yang besar yang tidak dapat dihandle oleh
satu pompa saja, atau bila diperlukan pompa cadangan yang akan dipergunakan bila pompa utama
rusak/diperbaiki. Penyusunan pompa secara paralel dapat digambarkan sebagai berikut :

Agar unjuk kerja pompa yang disusun seri/parael optimal, maka sebaiknya digunakan pompa dengan
karakteristik yang sama. Karakteristik pompa yang disusun seri/paralel dapat dilihat pada gambar berikut
ini.

Gambar di atas menunjukan kurva headkapasitas dari pompapompa yang mempunyai karakteristik
yang sama yang di pasang secara paralel atau seri. Dalam gambar ini kurva untuk pompa tunggal
diberi tanda (1) dan untuk susunan seri yang terdiri dari dua buah pompa diberi tanda (2). Harga
head kurva (2) diperoleh dari harga head kurva (1) dikalikan (2) untuk kapasitas (Q) yang sama.
Kurva untuk susunan paralel yang terdiri dari dua buah pompa, diberi tanda (3). Haraga kapasitas (Q)
kurva (3) ini diperoleh dari harga kapasitas pada kurva (1) dikalikan (2) untuk head yang sama.
Dalam gambar ditunjukkan tiga buah kurva headkapasitas sistem, yaitu R1, R2, dan R3. Kurva R3
menujukkan tahanan yang lebih tinggi dibanding dengan R1 dan R2.
Jika sistem mempunyai kurva headkapasitas R3, maka titik kerja pompa 1 akan terletak di (D). Jika
pompa ini disusun seri sehingga menghasilkan kurva (2) maka titik kerja akan pindah ke (E). Disini
terlihat bahwa head titik (E) tidak sama dengan dua kali lipat head (D), karena ada perubahan (berupa
kenaikan) kapasitas.
Sekarang jika sistem mempunyai kurva headkapasitas R1 maka titik kerja pompa (1) akan terletak di
(A). Jika pompa ini disusun paralel sehingga menghasilkan kurva (3) maka titik kerjanya akan
berpindah ke (B). Disini terlihat bahwa kapasitas dititik (B) tidak sama dengan dua kali lipat kapasitas
dititik (A), karena ada perubahan (kenaikan) head sistem.
Jika sistem mempunyai kurva karakteristik seperti R2 maka laju aliran akan sama untuk susunan seri
maupun paralel. Namun jika karakteristik sistem adalah seperti R1 dan R3 maka akan diperlukan pompa
dalam susunan paralel atau seri. Susunan paralel pada umumnya untuk laju aliran besar, dan susunan seri
untuk head yang tinggi pada operasi. Untuk susunan seri, karena pompa kedua menghisap zat cair bertekanan
dari pertama, maka perlu perhatian khusus dalam hal kekuatan konstruksi dan kerapatan terhadap kebocoran
dari rumah pompa.

b. Operasi Paralel dengan Karakteristik Pompa Berbeda


Pompapompa yang berbeda karakteristiknya dapat pula bekerjasama secara paralel. Hal ini ditunjukkan
dalam gambar di bawah dimana pompa (1) mempunyai kapasitas kecil dan pompa (2) mempunyai
kapasitas besar.

Jika keduanya dipasang secara paralel maka akan menghasilkan kurva karakteristik (3). Disini, untuk
kurva headkapasitas sistem R1 akan dicapai titik operasi paralel di (C) dengan laju aliran total
sebesar Q. Dalam hal ini pompa (1) beroperasi dititik (D) dengan kapasitas Q1 dan pompa (2) beroperasi
dititik (E) dengan kapasitas aliran Q2. Laju aliran total Q = Q1 + Q2.
Apabila kurva headkapasitas sistem naik lebih curam dari pada R2, maka pompa (1) tidak dapat lagi
menghasilkan aliran keluar karena head yang dimiliki tidak tinggi untuk melawan head sistem. Bahkan
jika head sistem lebih tinggi dari pada head ini pompa, aliran akan membalik masuk kedalam pompa
(1). Untuk mencegah aliran balik ini pompa perlu dilengkapi dengan katup cegah (check valve) pada
pipa keluarnya. Kondisi operasi seperti ini pada umumnya tidak dikehendaki. Jadi untuk operasi paralel
sebaiknya dipakai pompa pompa dengan head tertutup (shutoff head) yang tidak terlalu berbeda.

c. Operasi Seri dengan Karakteristik Pompa Berbeda


Pada gambar di bawah memperlihatkan karakteristik susunan seri dari dua buah pompa yang mempunyai
karakteristik berbeda. Kurva (1) adalah dari pompa kapasitas kecil, kurva (2) dari pompa kapasitas besar,
dan kurva (3) merupakan karakteristik operasi kedua pompa dalam susunan seri.

Jika sistem pipa mempunyai kurva karakteristik R1 maka titik operasi dengan pompa susunan seri akan
terletak di (C). Dalam keadaan ini pompa (1) bekerja dititik (D) dan pompa (2) dititik (E). Untuk
sistem yang mempunyai kurva karakteristik R2 menjadi negatif sehingga akan menurunkan head pompa
(2). Jadi untuk kurva sistem yang lebih rendah dari R2 lebih baik dipakai pompa (2) saja.

KURVA KARAKTERISTIK

Kurva karakteristik pompa biasa disebut juga kurva performansi, menggambarkan


hubungan antara kapasitas, head, tenaga dan efisiensi pompa (Gambar 3.1).
Pengetahuan kurva karakteristik pompa diperlukan untuk memilih pompa pada
kondisi operasional tertentu yang memberikan nilai efisiensi tinggi dan biaya
operasional yang rendah. Umumnya Head, input tenaga dan efisiensi disusun sebagai
ordinat sedangkan kapasitas sebagai absis pada kecepatan pompa konstan. NPSH
apabila ditunjukan juga dipasang pada ordinat. Sekitar 6 - 12 titik digunakan selama
uji pompa (pump test). Kurva yang halus dihubungkan pada titik-titik tersebut.
Kurva Head - Kapasitas memperlihatkan berapa besarnya debit air akan dikeluarkan
pada head tertentu. Debit bertambah dengan menurunnya head. Efisiensi yang
dihasilkan naik dari nol pada debit nol sampai suatu titik maksimum dan selanjutnya

Teknik Irigasi dan Drainase


Topik 8. Irigasi Pompa, dkk
17
menurun kembali. BHP pada pompa sentrifugal biasanya naik sampai pada suatu
selang sebagaimana debit bertambah, mencapai suatu titik maksimum. Kurva ini
berubah dengan kecepatan pompa. Maka kecepatan harus dipertimbangkan dalam
pemilihan pompa untuk mendapatkan efisiensi maksimum. Masing-masing kurva juga
berubah terhadap tipe pompa.
Gambar 3.1. Tipikal
Kurva Karakteristik
Pompa Sentrifugal
Beberapa kurva menggambarkan kecepatan atau diameter impeller yang berbeda
dapat digambarkan pada gambar yang sama. Jenis gambar ini menunjukan sejumlah
kurva head-kapasitas untuk satu diameter impeller dan kecepatan berbeda, atau kurva
head-kapasitas untuk diameter impeller berbeda tapi pada satu kecepatan. (Gambar
3.2). Kurva jenis ini disebut dengan Kurva Karakteristik Komposit.
Cara membaca kurva, misalnya pada Gambar 3.1, diinginkan untuk mendapatkan
head, HP dan efisiensi pada kapasitas 10,7 lt/detik. Dengan membaca kurva, pada
10,7 lt/detik pompa akan menghasilkan head 38 m, memerlukan 7,1 BHP dengan
efisiensi 75,5%.
Pembacaan kurva karakteristik komposit seperti pada Gambar 3.2 lebih banyak
informasi yang didapatkan. Contohnya, diperlukan untuk memilih pompa dan unit
tenaga yang mampu mengalirkan debit 16 lt/det pada head 30 meter. Hal yang penting
adalah memilih pompa yang mampu bekerja pada puncak efisiensi. Dari gambar
tersebut didapatkan dengan memilih diameter impeller 176 mm, yang akan
beroperasi pada efisiensi tertinggi 69%. Untuk menentukan tenaga yang diperlukan
antara 5,5 KW dan 7,5 KW, maka kita dapat memilih motor 7,5 KW.
Dasar-dasar Pompa (2): Kurva
Karakteristik Pompa
Mechanical

by Onny

Setiap pompa yang dibuat oleh produsen memiliki karakteristik yang berbeda-beda sesuai
dengan fungsi dan desain pembuatannya. Hal ini dipengaruhi oleh ukuran besar dan desain
pompa, ukuran dari diameter impeler, serta besar putaran operasionalnya. Karakteristik
sebuah pompa ditunjukkan melalui sebuah kurva Head vs. Debit pompa.

Kurva Head-Kapasitas Pompa Sentrifugal

Kurva karakteristik pompa di atas juga biasa dikenal di dunia engineering dan industri
sebagai Kurva Performa Pompa.

Jika pada sebuah pompa tertentu dijaga konstan putaran porosnya, maka kita dapat
menggeser kurva performansinya dengan cara memvariasikan besar diameter impellernya.
Begitu pula jika kita menjaga diameter impeller pompa pada kondisi konstan, lalu kita
memvariasikan besar putaran porosnya, maka kita juga dapat menggeser kurva performansi
pompa ke kanan maupun ke kiri.

Pemvariasian kondisi pompa di atas memang tampak kurang lazim. Namun di dunia industri
hal tersebut menjadi hal yang lumrah. Pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap misalnya, pompa
utama yang mensupply air menuju boiler harus dapat memvariasikan besar debit air yang
dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan uap air yang akan diproduksi boiler. Perubahan beban
listrik maka kebutuhan uap airnya juga berbeda-beda. Pemvariasian putaran pompa menjadi
solusi yang masuk akal untuk digunakan pada industri ini. Artikel lengkap mengenai pompa
ini dapat Anda baca di sini.

Komponen Tambahan Kurva Karakteristik Pompa


Ada hal-hal lain yang perlu diketahui oleh kita semua mengenai beberapa parameter yang
biasanya juga dicantumkan di dalam kurva karakteristik pompa. Yang pertama adalah
informasi Brake HorsePower (BHP) yang diperlukan untuk mengoperasikan pompa. BHP
juga dikenal dengan daya mesin murni adalah sebuah satuan penunjukan daya sebuah mesin
sebelum dikurangi oleh losses akibat desain sistem atau losses lainnya.

Informasi BHP Pada Kurva Karakteristik Pompa

Perlu diingat bahwa informasi BHP pada kurva karakteristik pompa adalah untuk fluida air
yang memiliki nilai spesific gravity = 1. Jika pompa akan digunakan untuk fluida lain, maka
nilai BHP harus dihitung terlebih dahulu. Misal fluida yang akan digunakan adalah bensin
dengan nilai spesific grafity 0,72, maka nilai BHP yang diperlukan adalah

5 bhp x 0,72 = 3,6 bhp

Informasi lain yang diberikan bersama kurva karakteristik pompa biasanya adalah titik
efisiensi hidrolik-nya. Best Efficiency Point(BEP) / efisiensi hidrolik adalah efisiensi pompa
yang sudah dikurangi dengan losses akibat efek hidrolik.
Efisiensi Hidrolik Terbaik Ditunjukkan Pada Kurva

Parameter yang ketiga adalah Net Positive Suction Head Required (NPSHR). NPSHR
adalah sebuah parameter pompa yang nilainya didapatkan dari uji lab. NPSHR merupakan
besaran yang menujukkan losses dari internal pompa yang besarnya ditentukan oleh desain
pompa, ukurannya, dan operasional putarannya.

Kurva NPSHR Sebuah Pompa

Besar NPSHR dipengaruhi oleh besar putaran pompa saat digunakan pada sistem. Sedangkan
putaran pompa tergantung dari desain sistem itu sendiri. Lain halnya dengan NPSH yang
nilainya dipengaruhi langsung oleh desain sistem. Nilai NPSH (Net Positive Suction Head)
harus selalu lebih tinggi daripada nilai NPSHR ini. NPSH dan NPSHR akan dibahas lebih
lanjut pada artikel selanjutnya.

Informasi terakhir pada kurva karakteristik pompa yang perlu kita perhatikan adalah
kemampuan pompa dalam mengangkat air pada sisi inletnya (priming lift). Perhatikan pada
gambar berikut ini.
Pada kurva di atas ditunjukkan informasi kemampuan pompa dalam mengangkat air dari
kedalaman tertentu pada setiap diameter impeller. Informasi ini sangat penting terutama pada
saat nanti kita melakukan pemilihan pompa untuk digunakan pada sebuah sistem.