Anda di halaman 1dari 23

PEDOMAN

PELAYANAN KLINIS
POLI UMUM
UPT PUSKESMAS ARJOSARI

PEMERINTAH KABUPATEN PACITAN


DINAS KESEHATAN KABUPATEN PACITAN
UPT PUSKESMAS ARJOSARI
JL. Nawangan No.Km 02
Telp. 0357 631045 Kode Pos 63581

1
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Ruang Lingkup
1.3 Landasan Hukum

BAB II. PENGORGANISASIAN

BAB III STANDART KETENAGAAN

BAB IV STANDART FASILITAS

BAB V TATA LAKSANA PELAYANAN


A. Tata Laksana Pelayanan di poli Umum
5.1 Petugas Penanggung Jawab
5.2 Perangkat Kerja
5.3 Tata laksana Pelayanan di Poli Umum
5.4 Jenis Pelayanan Yang Dilakukan di Poli Umum

BAB VI LOGISTIK
A. Standart Obat di Poli Umum
6.1 Obat Live Saving

BAB VII KESELAMATAN PASIEN

BAB VIII KESELAMATAN KERJA

BAB IX PENGENDALIAN MUTU

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelayanan kesehatan adalah upaya yang diselenggarakan oleh suatu organisasi


untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan
penyakit serta memulihkan kesehatan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat
Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat
memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kepuasan
rata-rata penduduk, serta yang penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan
standar pelayanan profesi yang telah ditetapkan.dan prefentif untuk mencapai derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi tingginya di wilayah kerjanya.
Pusat Kesehatan masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah
fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat
dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan
upaya promotif dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Upaya kesehatan perseorangan yang selanjutnya disebut UKP adalah suatu
kegiatan dan atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk
peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat
penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan.
Dengan semakin meningkatnya jumlah penderita rawat jalan, maka
diperlukan peningkatan pelayanan rawat jalan di fasilitas pelayanan kesehatan /
Puskesmas.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka di Poli Umum perlu dibuat standar
pelayanan yang merupakan pedoman bagi semua pihak dalam tata cara pelaksanaan
pelayanan yang diberikan ke pasien rawat jalan UPT.Puskesmas Arjosari.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas maka, dalam melakukan pelayanan rawat
jalan di Poli Umum UPT.Puskesmas Arjosari harus berdasarkan standar pelayanan
Poli Umum UPT.Puskesmas Arjosari

3
Ruang Lingkup

Ruang lingkup pelayanan di Poli Umum meliputi :


- Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar secara komprehensif,
berkesinambungan dan bermutu
- Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya promotif
dan preventif
- Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada individu,
kelompok dan masyarakat
- Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan keamanan dan
keselamatan pasien, petugas dan pengunjung
- Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan prinsip koordinatif dan
kerjasama inter dan antar profesi
- Melaksanakan rekam medis
- Melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi terhadap mutu dan akses
pelayanan kesehatan
- Melaksanakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan
- Mengkoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya
- Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan sistem
rujukan
- Sebagai wahana pendidikan tenaga kesehatan.

B. Landasan Hukum
1. Undang undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang undang No 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
3. Undang undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
4. Undang undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
5. Peraturan Pemerintah No 46 tahun 2014 tentang Sistem Informasi
Kesehatan
6. Peraturan Presiden No 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan
Nasional

4
7. Peraturan Menteri Kesehatan No 75 Tahun 2004 tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat.

BAB II
PENGORGANISASIAN

5
Puskesmas merupakan unit pelaksanan teknis Dinas Kesehatan Kabupaten /
Kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan perorangan tingkat pertama
secara terintegrasi dan berkesinambungan.
Organisasi puskesmas disusun oleh DinasKesehatan Kabupaten / Kota
berdasarkan kategori, upaya kesehatan dan beban kerja puskesmas.
Organisasi puskesmas paling sedikit terdiri atas :
a. Kepala Puskesmas
b. Kepala sub bagian tata usaha
c. Penanggung jawab UKM dan Keperawatan Kesehatan Masyarakat
d. Penanggung jawab UKP, Kefarmasian dan laboratorium
e. Penanggunag jawab jaringan pelayanan Puskesmas dan jejaring fasilitas
pelayanan kesehatan
Upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dilaksanakan dalam bentuk :
a. Pelayanan rawat jalan
b. Pelayanan gawat darurat
c. Pelayanan satu hari ( one day care )
d. Rawat Inap
e. Home care
Di Pelayanan rawat jalan yang melakukan pemeriksaan, pengobatan,
konseling, maupun rujukan adalah tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter
dan tenaga paramedis.

BAB III
STANDAR KETENAGAAN

6
Kualifikasi SDM ( Sumber Daya manusia )

Pola ketenagaan dan kualifikasi SDM Poli Umum adalah :

Nomor Nama Jabatan Kualifikasi Keterangan


Formal
1 Penanggung jawab Dokter Bersertifikat
Pelayanan Poli Umum Umum ACLS/ATLS

2 Dokter Poli Umum Dokter Bersertifikat


Umum ACLS/ATLS

3 Perawat Pelaksana S1/D III Bersertifikat


Poli Umum Keperawatan BLS/BTCLS/PPGD

BAB IV
STANDAR FASILITAS

7
A. Standar Fasilitas

I. Jenis Peralatan

Peralatan yang tersedia di Poli Umum untuk penunjang kegiatan pelayanan


terhadap pasien rawat jalan :
a. Meubelair, terdiri dari :
1. Meja kerja : 2 buah
2. Kursi kerja : 4 buah
3. Tempat tidur pemeriksaan : 1 buah
4. Lemari arsip : 1 buah
5. Lemari tempat peralatan : 2 buah
b. Perlengkapan, terdiri dari :
1. Komputer desk : 1 buah
2. Laptop : 1 buah
3. Printer : 1 buah
4. Bantal :1 buah
5. Sarung bantal : 1 buah
6. Sprei :1 buah
7. Taplak meja : 2 buah
8. Wastafel cuci tangan : 1 buah
9. Perlak : 1 buah
10. Tempat sampah tertutup yang dilengkapi dengan injakan pembuka
penutup : sampah organik, sampah anorganik
c. Set pemeriksaan umum, terdiri dari ;
1. Buku tes ishihara
2. Snellen chart ( alphabet chart )
3. Senter untuk periksa
4. Tensimeter
5. Stop watch
6. Stetoskop
7. Termometer
8. Metline ( pengukur lingkar pinggang )
9. Timbangan injak dewasa dan pengukur tinggi badan

8
d. Bahan Habis Pakai, teridir dari :
1. Masker wajah
2. Sarung tangan non steril
3. Sabun tangan atau antiseptic
e. Pencatatan dan Pelaporan, terdiri dari :
1. Buku Register Harian Pelayanan Poli umum
2. Buku Register Rujukan Internal
3. Buku Register Rujukan Eksternal
4. Kertas Resep : putih, biru, pink
5. Formulir Permintaan Rujukan Internal
6. Formulir Rujukan Eksternal
7. Formulir Surat Keterangan Dokter ( surat keterangan sehat )
8. Formulir Surat Keterangan Sakit
9. Formulir Informed consent

BAB V
TATA LAKSANA PELAYANAN

9
A. TATA LAKSANA PELAYANAN DI POLI UMUM

I. Petugas Penanggung Jawab

Dokter

Tenaga paramedis / perawat

II. Perangkat Kerja

1. Buku Register Harian Pelayanan Poli umum

2. Buku Register Rujukan Internal

3. Buku Register Rujukan Eksternal

4. Kertas Resep : putih, biru, pink

5. Formulir Permintaan Rujukan Internal

6. Formulir Rujukan Eksternal

7. Formulir Surat Keterangan Dokter ( surat keterangan sehat )

8. Formulir Surat Keterangan Sakit

9. Formulir Informed consent

10. Rekam medis

III. Tata Laksana Pelayanan di Poli Umum

1. Pendaftaran pasien yang datang ke Poli Umum dilakukan

oleh pasien / keluarga dibagian admission

2. Sebagai bukti pasien sudah mendaftar di bagian admission

akan memberikan status/ rekam medis untuk diisi oleh dokter / tenaga

paramedis yang bertugas

3. Petugas admission memberikan rekam medis ke Poli Umum

4. Paramedis memanggil pasien, kemudian mencocokkan

identitas pasien dengan rekam medisnya

10
5. Paramedis melakukan anamnesa untuk mengetahui kondisi

yang dialami pasien

6. Paramedis melakukan pemeriksaan vital sign

7. Dokter melakukan pemeriksaan fisik

8. Bila diperlukan, akan dilakukan rujukan internal ke

laboratorium untuk kejelasan diagnosa dan ke poli gizi bila memerlukan

konseling gizi.

9. Dokter menegakkan diagnosa, bila pasien memerlukan

tindakan dilakukan di Ruang Tindakan / UGD, dan bila memerlukan

rujukan paramedis membuatkan surat rujukan ke fasilitas kesehatan

yang lebih tinggi.

10. Dokter memberikan terapi, mengedukasi, menulis resep dan

menyerahkan ke pasien / keluarga,

11. Dokter mencatat hasil pemeriksaan, tindakan, terapi ke

dalam rekam medis.

12. Paramedis menulis hasil pemeriksaan ke dalam buku register

harian.

13. Paramedis melakukan entry data ke dalam komputer ( SIK /

P.CARE )

14. Paramedis mengembalikan rekam medis pasien ke bagian

admission.

IV. Jenis Pelayanan Yang Dilakukan Di Poli Umum

1. Kajian awal klinis meliputi :

Anamnesis

11
adalah wawancara terhadap pasien atau keluarganya tentang
penyakit / keluhan, lamanya sakit dan pengobatan yang sudah
didapatkan
Sebelum anamnesis dilakukan sebaiknya konfirmasi dahulu identifas
pasien.

Keluhan utama
Adalah keluhan yang paling dirasakan atau yang paling berat sehingga
mendorong pasien datang berobat atau mencari pertolongan medis.

Riwayat Penyakit Sekarang


Adalah perjalanan penyakit dimulai saat pertama kali pasien
merasakan munculnya keluhan atau gejala penyakitnya atau dengan
kata lain mulai dari akhir masa sehat. Setelah itu ditanyakan
bagaimana perkembangan penyakitnya apakah cenderung menetap,
berfluktuasi atau bertambah lama bertambah berat sampai akhirnya
datang mencari pertolongan medis.

Riwayat Penyakit Dahulu


Merupakan informasi tentang riwayat penyakit dahulu ini secara
lengkap, karena seringkali atau penyakit riwayat pengobatan yang
pernah diterimanya.

Riwayat Penyakit Keluarga


Merupakan penyakit yang berhubungan dengan faktor keturunan
seperti misalnya diabetes melitus, hipertensi. Menanyakan riwayat
penyakit orangtua, kakek nenek dan lain lain.

Riwayat kebiasaan/sosial
Kebiasaan yang biasa dilakukan oleh pasien yang bisa mempengaruhi
kondisi kesehatannya. Seperti kebiasaan merokok, atau minum
alkohol, dan lain lain

12
Kesadaran
Penentuan tingkat kesadaran dilakukan secara kualitatif dan
kuantitatif. Secara kualitatif : compos mentis, apatis, somnolen, stupor,
koma. Sedangkan secara kuantitatif dengan glasgow coma scale (GCS)

Tanda tanda vital


Pemeriksaan tanda tanda vital meliputi pemeriksaan tekanan darah,
nadi, suhu, dan respirasi.

Pemeriksaan fisik
adalah pemeriksaan yang mencakup :
a. Inspeksi : Keadaan umum pasien secara visual
b. Palpasi: Pemeriksaan raba(perabaan benjolan,konsistensi hepar/
lien)
c. Perkusi : Pemeriksaan ketuk (batas jantung, paru , hepar ,
asites)
d. Auskultasi : Periksa dengan menggunakan stetoskop

Pemeriksaan penunjang sederhana


Adalah pemeriksaan yang diperlukan untuk membantu
menegakkan diagnosa penyakit yaitu Laboratorium, Rontgen,
EKG

Penegakan diagnosis (assesment)


adalah menetapkan jenis penyakit yang diderita oleh pasien
berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang yang dilakukan oleh dokter atau oleh paramedik apabila
dokter tidak ada

Rencana penatalaksanaan komprehensif (plan)

13
Bagian ini berisi rencana tindakan yang akan dilakukan terhadap
pasien
1. Pengobatan / terapi

Pengobatan diberikan sesuai dengan diagnosa yang ditegakkan


berdasarkan hasil pemeriksaan dan penunjang.
Pengobatan juga memberikan kesempatan kepada pasien untuk
memilih menerima atau pun menolak akan tindak lanjut terapi
yang akan diberikan kepada pasien.
2. Rujukan internal
adalah rujukan yang ditujukan atau berasal dari sub unit lain
dalam lingkungan Puskesmas meliputi KIA - KB, Gigi, UGD/
Rawat Inap, Kesling, Gizi, Poli Umum, MTBS, Laboratorium.
3. Rujukan Eksternal
adalah rujukan ke fasilitas kesehatan di luar Puskesmas
( Rumah Sakit, Laboratorium swasta )
Kriteria rujukan
Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan yaitu diluar diagnosa
144 penyakit yang tidak boleh dirujuk.
Berdasarkan persetujuan dari pasien
4. Pengisian rekam medis
Harus diisi secara lengkap oleh petugas yang melaksanakan
layanan klinis mulai dari anamnesa, riwayat penyakit sekarang,
riwayat penyakit dahulu, riwayat alergi, konseling pasien, diagnosa
pasien, serta terapi yang akan diberikan ( S/ subjektif,O/
objektif,A/ assesment,P/ planning )

14
BAB VI
LOGISTIK

STANDART OBAT DI POLI UMUM

I. OBAT LIVE SAVING

a. Injeksi

No Nama Obat Satuan Jumlah

1. Aminophilin Ampul 1
2. Diazepam Ampul 1

3. Adrenalin Ampul 2
4 Vit k Ampul 2

5. Dexametason Ampul 2
6 Mgso4 Ampul 1
7 Deladryl Flacon 2

b. CairanInfus

No Nama Obat Satuan Jumlah

1. Dextrose 5 % 500 ml Kolf 1

2. Ringer Lactat Kolf 1

15
c. Alat

No Nama Alat Satuan Jumlah

1. Spuit 1 cc buah 1
2. Spuit 3 cc buah 1
3. Spuit 5 cc buah 1
4. Infusion set buah 2
5. Abocat no 18 buah 1
6. Abocat no 22 buah 1
7. Abocat no 24 buah 1

Penyediaan obat dan bahan habis pakai dilakukan melalui Instalasi Farmasi.
Pengadaan obat dan alat kesehatan dilakukan oleh panitia pengadaan setelah
mendapat persetujuan dari kepala Puskesmas.

16
BAB VII
KESELAMATAN PASIEN

A. Pengertian

Keselamatan Pasien ( Patient Safety )

Adalah suatu sistem dimana Puskesmas membuat asuhan pasien lebih aman.
Sistem tersebut meliputi :
Asesment resiko
Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien
Pelaporan dan analisis insiden
Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya
Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko

Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh :


Kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan
Tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil

B. Tujuan
Terciptanya budaya keselamatan pasien di Puskesmas
Meningkatnya akuntabilitas Puskesmasterhadap pasien dan
masyarakat
Menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD ) di Puskesmas
Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD )

STANDAR KESELAMATAN PASIEN


1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan

17
4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk
melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
5. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
6. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien

KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN ( KTD )


ADVERSE EVENT :
Adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan, yang mengakibatkan cedera pasien
akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil, dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien.
Cedera dapat diakibatkan oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan medis
karena tidak dapat dicegah

KTD yang tidak dapat dicegah


Unpreventable Adverse Event :
Suatu KTD yang terjadi akibat komplikasi yang tidak dapat dicegah dengan
pengetahuan mutakhir

KEJADIAN NYARIS CEDERA ( KNC )


Near Miss :
Adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan ( commission ) atau
tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission ), yang dapat
mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi :
Karena keberuntungan
Karena pencegahan
Karena peringanan

KESALAHAN MEDIS
Medical Errors:
Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan
atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien

18
KEJADIAN SENTINEL
Sentinel Event :
Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius;
biasanya dipakai untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat
diterima, seperti : operasi pada bagian tubuh yang salah.

Pemilihan kata sentinel terkait dengan keseriusan cedera yang terjadi ( seperti,
amputasi pada kaki yang salah ) sehingga pencarian fakta terhadap kejadian ini
mengungkapkan adanya masalah yang serius pada kebijakan dan prosedur yang
berlaku.

C. TATA LAKSANA
a. Memberikan pertolongan pertama sesuai dengan kondisi yang terjadi pada
pasien
b. Melaporkan pada dokter jaga puskesmas
c. Memberikan tindakan sesuai dengan instruksi dokter jaga
d. Mengobservasi keadaan umum pasien
e. Mendokumentasikan kejadian tersebut pada formulir Pelaporan Insiden
Keselamatan

19
BAB VIII
KESELAMATAN KERJA

I. Pendahuluan
HIV / AIDS telah menjadi ancaman global. Ancaman penyebaran HIV
menjadi lebih tinggi karena pengidap HIV tidak menampakkan gejala. Setiap
hari ribuan anak berusia kurang dari 15 tahun dan 14.000 penduduk berusia 15 -
49 tahun terinfeksi HIV. Dari keseluruhan kasus baru 25% terjadi di negara -
negara berkembang yang belum mampu menyelenggarakan kegiatan
penanggulangan yang memadai.
Angka pengidap HIV di Indonesia terus meningkat, dengan peningkatan
kasus yang sangat bermakna. Ledakan kasus HIV / AIDS terjadi akibat
masuknya kasus secara langsung ke masyarakat melalui penduduk migran,
sementara potensi penularan dimasyarakat cukup tinggi (misalnya melalui
perilaku seks bebas tanpa pelindung, pelayanan kesehatan yang belum aman
karena belum ditetapkannya kewaspadaan umum dengan baik, penggunaan
bersama peralatan menembus kulit : tato, tindik, dll).
Penyakit Hepatitis B dan C, yang keduanya potensial untuk menular
melalui tindakan pada pelayanan kesehatan. Sebagai ilustrasi dikemukakan
bahwa menurut data PMI angka kesakitan hepatitis B di Indonesia pada
pendonor sebesar 2,08% pada tahun 1998 dan angka kesakitan hepatitis C
dimasyarakat menurut perkiraan WHO adalah 2,10%. Kedua penyakit ini
sering tidak dapat dikenali secara klinis karena tidak memberikan gejala.
Dengan munculnya penyebaran penyakit tersebut diatas memperkuat
keinginan untuk mengembangkan dan menjalankan prosedur yang bisa
melindungi semua pihak dari penyebaran infeksi. Upaya pencegahan
penyebaran infeksi dikenal melalui Kewaspadaan Umum atau Universal
Precaution yaitu dimulai sejak dikenalnya infeksi nosokomial yang terus
menjadi ancaman bagi Petugas Kesehatan.

20
Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak yang melayani dan melakukan
kontak langsung dengan pasien dalam waktu 24 jam secara terus menerus
tentunya mempunyai resiko terpajan infeksi, oleh sebab itu tenaga kesehatan
wajib menjaga kesehatan dan keselamatan darinya dari resiko tertular penyakit
agar dapat bekerja maksimal.

II. Tujuan
a. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya
dapat melindungi diri sendiri, pasien dan masyarakat dari penyebaran
infeksi.

b. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya


mempunyai resiko tinggi terinfeksi penyakit menular dilingkungan
tempat kerjanya, untuk menghindarkan paparan tersebut, setiap petugas
harus menerapkan prinsip Universal Precaution.

III. Tindakan yang beresiko terpajan


a. Cuci tangan yang kurang benar.
b. Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.
c. Penutupan kembali jarum suntik secara tidak aman.
d. Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman.
e. Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat.
f. Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.

IV. Prinsip Keselamatan Kerja


Prinsip utama prosedur Universal Precaution dalam kaitan keselamatan
kerja adalah menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan
sterilisasi peralatan. Ketiga prinsip tesebut dijabarkan menjadi 5 (lima) kegiatan
pokok yaitu :
a. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
b. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna
mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksi yang lain.
c. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai

21
d. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan
e. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.

BAB IX
PENGENDALIAN MUTU

Indikator mutu yang digunakan di UPT.Puskesmas Arjosari dalam


memberikan pelayanan di poli Umum adalah pemberi pelayanan adalah dokter
dengan target 100%, kepuasan pelanggan terhadap pelayanan yang diberikan di Poli
Umum dengan target > 90%
Dalam pelaksanaan indikator mutu menggunakan kurva harian dalam format
tersendiri dan dievaluasi serta dilaporkan setiap bulan pada panitia mutu dan Kepala
Upt.Puskesmas Arjosari.

22
23