Anda di halaman 1dari 5

D.

Kontrak Karya

Pasal 169 UU 4/2009 di antaranya menjelaskan bahwa pada saat UU 4/2009 mulai berlaku, yaitu
12 Januari 2009, kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara
(PKP2B) yang telah ada sebelum berlakunya UU 4/2009 tetap diberlakukan sampai jangka
waktu berakhirnya kontrak/perjanjian. Ketentuan yang tercantum dalam pasal kontrak karya dan
PKP2B disesuaikan selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak UU 4/2009 diundangkan kecuali
mengenai penerimaan negara.

1. Dasar Pengaturan Kontrak Karya

Untuk kontrak karya, asal mula kata ini berawal dari Pasal 10 UU 11/1967, khususnya
penjelasannya, yang menyebutkan sbb.:

(1) Menteri dapat menunjukan pihak lain sebagai kontraktor apabila diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh
Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa
ertambangan. (2) Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang
dimaksud dalam ayat (1) pasal ini Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara harus
berpegang pada pedoman-pedoman, petunjuk-petunjuk, dan syarat-syarat yang diberikan oleh
Menteri. (3) Perjanjian karya tersebut dalam ayat (2) pasal ini mulai berlaku sesudah disahkan
oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat apabila menyangkut
eksploitasi golongan a sepanjang mengenai bahan-bahan galian yang ditentukan dalam pasal
13 Undang-undang ini dan/atau yang perjanjian karyanya berbentuk penanaman modal asing.

Di dalam penjelasannya disebutkan bahwa Pasal 10 UU 11/1967 tersebut menjadi dasar untuk
kontrak karya baik dengan pihak modal dalam Negeri maupun dengan modal Asing. Konsultasi
termaksud dilakukan dengan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat c.q. Komisi yang
bersangkutan. Penentuan penempatan Kontrak Karya dan pelaksanaannya diatur dengan cara
yang paling menguntungkan bagi Negara dan masyarakat. Sementara itu, secara definitif
pengertian kontrak karya terlihat pada Tabel I.13.

Tabel I.13 Perbandingan Definisi Kontrak Karya

Definisi Referensi
1) kontrak karya adalah suatu perjanjian antara pemerintah RI Pasal 1 Keputusan Menteri
dengan perusahaan swasta asing atau patungan antara asing Pertambangan dan Energi No.
dengan nasional (dalam rangka PMA) untuk pengusahaan 1409.K/201/M.PE/1996
mineral dengan berpedoman kepada UU 1/1967 tentang
Penanaman Modal Asing serta UU 11/1967 tentang
Ketentuan Pokok-pokok Pertambangan Umum
2) kontrak karya adalah perjanjian antara pemerintah Pasal 1 angka 1 Keputusan
Indonesia dengan perusahaan berbadan hukum Indonesia Menteri Energi dan Sumber Daya
dalam rangka penanaman modal asing untuk melaksanakan Mineral No. 1614 tahun 2004
usaha pertambangan bahan galian, tidak termasuk minyak
bumi,gas alam, panas bumi, radio aktif, dan batu bara.

Sumber: Salim (2005) dalam Hukum Pertambangan di Indonesia, hal. 127-131, PT


RajaGrafindo Persada

Selain UU No. 11/1967, landasan hukum kontrak karya meliputi:

a) UU No. 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing jo. UU No. 11/1970 tentang perubahan dan
tambahan UU No. 1/1967
b) UU No. 6/1968 tentang penanaman modal dalam negeri jo. UU No. 12/1970 tentang
perubahan dan tambahan UU No. 6/1968

2. Sejarah Ringkas Model Kontrak Karya

Salim dalam bukunya Hukum Pertambangan di Indonesia (hal. 134, 2005) menjelaskan bahwa
model awal kontrak karya bukanlah konsep yang dirancang pemerintah Indonesia, melainkan
hasil rancangan PT Freeport Indonesia. Awalnya Menteri Pertambangan Indonesia menawarkan
kepada Freeport konsep bagi hasil berdasarkan petunjuk pelaksanaan kontrak perminyakan
asing yang disiapkan pada waktu pemerintahan Soekarno. Freeport menyatakan bahwa kontrak
seperti itu hanya menarik untuk perminyakan yang dapat menghasilkan dengan cepat, tetapi
tidak untuk pertambangan tembaga yang memerlukan investasi besar dan waktu lama untuk
sampai pada tahap produksi. Secara singkat, kontrak karya mengambil jalan tengah antara model
konsesi pada zaman kolonial Belanda, yang di dalamnya kontraktor asing mendapatkan hak
penuh terhadap mineral dan tanah, dengan model kontrak bagi hasil, yang di dalamnya negara
tuan rumah langsung mendapatkan hak atas peralatan dan prasarana dan dalam waktu singka
seluruh operasi menjadi milik negara.

Sejak tahun 1967, kontrak karya yang dikenal pengusaha sebagai contrack of work mengalami
perubahan. Setiap perubahan dijadikan sebagai dasar sebutan bagi generasi kontrak. Karena itu,
sampai saat ini dikenal kontrak karya generasi I hingga generasi VII, padahal tidak ada
perbedaan mendasar antara generasi I dengan yang lainnya, kecuali kewajiban keuangan yang
harus dipenuhi pada pemerintah.

Bentuk usaha pertambangan mineral dan batubara menurut UU No. 4/2009, sebagaimana
diuraikan sebelumnya, berupa IUP, IPR, dan IUPK. Namun demikian, pada saat UU No. 4/2009
berlaku, masih ada bentuk usaha pertambangan yang mengacu pada UU No. 11/1967. Dalam
ketentuan peralihan Pasal 169 huruf a UU No. 4/2009 dinyatakan bahwa Kontrak Karya (KK)
dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) masih berlaku sampai
jangka waktu berakhirnya kontrak/perjanjian. Lebih lanjut, Pasal 112 PP 23/2010 menjelaskan
ketentuan peralihan terkait dengan kontrak karya dan PKP2B. Ketentuan tersebut di antaranya
menegaskan kembali bahwa kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan
batubara yang ditandatangani sebelum iundangkan PP 23/2010 pada tanggal dinyatakan tetap
berlaku sampai jangka waktunya berakhir.

Perkembangan kontrak karya terlihat pada Tabel I.14. Sampai saat ini ada delapan generasi
kontrak karya. Menurut Salim (2005: 134) setiap perubahan dalam isi kontrak dijadikan sebagai
dasar sebutan generasi kontrak, padahal tidak ada perbedaan mendasar antara generasi I dan
lainnya, kecuali kewajiban keuangan yang harus dipenuhi pemerintah.

Tabel I.14 Generasi Kontrak Karya

Generasi
Periode Prinsip-prinsip utama dalam KK
KK

erusahaan kontraktor sebagai pemegang kuasa pertambangan atas


dasar izin pemerintah

pembagian hasil dalam bentuk uang dalam jumlah bebas (tidak


ditentukan besarnya) untuk tahun ke-1 sampai dengan ke-3, dengan
Generasi ketentuan bahwa penghasilan pemerintah untuk tahun ke-4 sampai
1967
I dengan ke-10 sebesar 35%..

Manajemen maupun operasional dalam melakukan eksplorasi itu


berada di tangan kontraktor.

jangka waktu kontrak selama 30 tahun dan dapat diperpanjang

kontraktor pertambangan dapat bekerja sama dengan pihak lain yang


telah memegang kuasa pertambangan.

pembagian hasil ditentukan berdasarkan tarif yang ditetapkan pada


Generasi 1968- setiap kontrak karya
II 1983
Manajemen maupun operasional dalam melakukan eksplorasi itu
berada di tangan kontraktor.

jangka waktu kontrak selama 30 tahun [sama dengan Generasi I]

Generasi 1983-
III 1986 Perusahaan kontraktor sebagai pemegang kuasa pertambangan atas
dasar izin pemerintah

manajemen dan operasional kontrak karya ditanggung oleh kontraktor


[sama dengan Generasi I]

bagi hasil mengacu pada Peraturan Menteri Nomor 352 Tahun 1971

Jangka waktu pengusahaan tambang selama 30 tahun [sama dengan


Generasi I]

Perusahaan kontraktor sebagai pemegang kuasa pertambangan atas


dasar izin pemerintah [sama dengan generasi II].

Masalah operasional dan manajemen berada di tangan kontraktor


[sama dengan generasi II]

Pembagian hasil
Generasi 1986-
IV 1994
1) emas: 1% dari harga jika harga emas sebesar USD 300 dolar per
troy ons dan 2% dari harga jika harga emas mencapai USD 400 per
troy ons.
2) perak: 1% jika harga USD 10 per troy ons dan 2% per troy ons jika
harga USD 15 per troy ons

Jangka waktu kontrak sama dengan generasi I

Generasi 1994-
V 1996 Perusahaan kontraktor sebagai pemegang kuasa pertambangan atas
dasar izin pemerintah [sama dengan generasi II]

Manajemen dan operasional ada di tangan kontraktor [sama dengan


generasi II]

Terdapat aturan tambahan soal rasio kewajaran utang yang dimiliki


kontraktor. Ratio kewajaran utang (Debt to Equity Ratio atau DER)
5:1 untuk tidak kurang atau sama dengan $200 juta investasi dan 8 1
untuk lebih dari $200 juta

Pembagian hasil mengacu pada Peraturan Menteri Nomor 1166.K/


844/ MPE/1992 tanggal 12 September 1992
Jangka waktu kontrak masih 30 tahun [sama dengan generasi I]

Tidak ada perubahan perizinan, manajemen, maupun operasional


perusahaan yang mendapat kontrak karya.
Generasi 1996-
VI 1998 Pembagian hasil masih sama dengan generasi V

Jangka waktu kontrak 30 tahun [sama dengan generasi I]

Generasi 1998-
tidak ada perubahan dari kontrak karya generasi sebelumnya
VII 2004

Perusahaan negara sebagai pemegang kuasa pertambangan sedangkan


perusahaan swasta bertindak sebagai kontraktor.

Manajemen di tangan kontraktor dan resiko operasional di tanggung


oleh kontraktor.

Pembagian hasil dalam bentuk uang atas dasar perbandingan


Generasi 2004- pemerintah perusahaan negara : kontraktor = 60% : 40% dengan
VIII 2008 ketentuan bahwa penghasil pemerintah tiap tahun tidak boleh kurang
dari 20% hasil kotor.

Jangka waktu kontrak 30 (tigapuluh) tahun untuk daerah baru dan 20


tahununtuk daerah lama.

Penyisihan wilayah dilakukan 2 (dua) atau 3 (tiga) setelah jangka


waktu tertentu

Sumber: Salim (2005: 134-135); Patty (2008: .), Palupi (2011)

- See more at: http://www.transformasi.net/articles/read/143/kontrak-


karya.html#sthash.jemtvLUx.dpuf