Anda di halaman 1dari 73

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Reproduksi adalah suatu proses biologis suatu individu organism


baru diproduksi. Reproduksi merupakan cara dasar mempertahankan
diri yang dilakukan oleh semua bentuk kehidupan oleh pendahulu
setiap individu organism untuk menghasilkan suatu generasi
selanjutnya. Cara reproduksi secara umum dibagi menjadi dua jenis,
yakni seksual dan aseksual.

Sapi betina tidak hanya memproduksi sel kelamin yang sangat


penting untuk mengawali kehidupan turunannya yang baru, tetapi ia
menyediakan pula tempat beserta lingkungan untuk mengembangkan
individu baru itu, dimulai dari waktu pembuahan ovum dan
memeliharanya selama awal kehidupan. Tugas ini dilaksanakan oleh
alat reproduksi primer dan sekunder.

Dalam makalah ini kami akan membahas tentang organ reproduksi


betina. Organ reproduksi betina terdiri dari organ reproduksi primer,
yaitu ovarium memproduksi ovum dan hormone betina (Estrogen dan
Progesteron). Organ reproduksi sekunder terdiri dari tuba fallopi
(Oviduct), uterus (Cornua, Corpus, Cerviks), vagina, dan vulva. Fungsi
alat alat ini adalah menerima dan mempersatukan sel kelamin jantan
dan betina, memelihara dan melahirkan individu baru.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian dan organ penyusun system reproduksi betina?

2. Bagaimana struktur histology ovarium dan oviduct?

3. Bagaimana struktur histology uterus, servik, dan vagina?

1.3 TUJUAN

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :

1
1. Mengetahui pengertian dan organ penyusun system reproduksi
betina.

2. Mengetahui struktur histology ovarium dan oviduct.

3. Mengetahui struktur histology uterus, servik, dan vagina.

1.4 MANFAAT

Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu :

1. Hasil tugas kami dapat dimananfaatkan oleh kalangan mahasiswa


Universitas Udayana khususnya Kedokteran Hewan.

2. Hasil tugas ini dapat menjadi arsip yang dapat membantu untuk
mengerjakan tugas yang berhubungan denga organ reproduksi
betina pada hewan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2
2.1 Pengertian Organ Reproduksi Betina
Organ reproduksi merupakan sistem genitalia feminim yang mana
terdiri dari Ovarium, Oviduct, Uterus, Vagina, dan Glandula mammae

Organ reproduksi betina pada hewan terdiri dari organ kelamin


primer dan organ kelamin sekunder.

2.2 Organ Kelamin Primer


1. Ovarium

Gambar 2.1 Struktur Histologi Ovarium

Jumlahnya sepasang, berada dalam rongga tubuh yang ditunjang oleh


alat penggantung (mesovarium). Ukuran serta bentuk ovaria pada
hewan muda dengan yang dewasa menunjukkan perbedaan yang
sangat jelas. Ovaria dapat dianggap sebagai kelenjar ganda, yakni :
Kelenjar eksokrin karena menghasilkan ova, dan kelenjar endokrin
karena pada periode tertentu menghasilkan hormon estrogen (folikel
the graaf) progesteron (korpus luteum) dan relaksin (korpus luteum).

Struktur histologi bangun ovaria dewasa berubah-ubah tergantung


pada siklus kelamin, tetapi bangun umum pada mamalia secara garis
besarnya hampir sama, sedangkan pada kuda dan ayam agak
menyimpang. Begitu pula bangun ovaria muda dan dewasa juga
berbeda.

Strukutur histologi nya sebagai berikut :

3
Kapsula :

Epithel kuboid (germinal epithelium). Pada hewan muda


bangun epithel kubis atau silindris rendah tapi pada yang
dewasa kubis rendah. Hampir seluruh permukaan ovaria
dibalut oleh epithel kecambah, kecuali daerah hilus ovari
yang dibalut oleh peritoneum. Pada kuda sebagian besar
ovarium dibalut oleh peritoneum, hanya sebagian kecil
disebut ovulation fossa dibalut oleh epithel kecambah.

Tunika albuginea, disusun atas jaringan ikat kolagen


tanpa serabut elastis dan retikuler, sedikit mengandung
sel, letaknya langsung dibawah epithel kecambah.

Korteks :

Gambar 2.2 Struktur Histologi Korteks

Disebut juga Korteks ovarii atau Zona parenchymatosa,


letaknya dibagian perifer ovarium langsung dibawah
tunika albuginea, kecuali pada kuda yang terletak di
sebelah bagian dalamnya. Pada korteks terdapat
stroma kortikalis dan parenkhim yang terdiri dari folikel
pada berbagai stadia.

Stroma kortikalis terdiri atas jaringan ikat yang banyak


mengandung sel bebas serabut elastis. Serabut
kolagen dan retikuler terdapat didalamnya. Sel stroma
yang tersebar dan saling mengelompok, diduga bukan
4
fibroblast melainkan sel khusus disebut sel interstitial.
Sel tersebut mudah berdiferensiasi, prolifrasi dan
menyimpan bahan lemak serta zat warna. Dalam
keadaan darurat mampu berubah menjadi makrofag,
ataupun menjadi sel glandula, misal pada teka interna
dan korpus luteum.

Pada hewan betina sel interstitial terlebih dahulu


berdifrensiasi dan baru bersekresi. Stroma ovarii pada
kuda sering mengandung sel berpigmen, tetapi
semakin tua hewan semakin sedikit selnya. Pada
stroma kortikalis tersebar follikel yang pada hewan
dewasa terdapat pada berbagai stadia. Pada hewan
multipara (anjing, kucing dan babi) follikel sering
mengelompok, tetapi pada unipara (kuda, sapi dan
kerbau) tersebar secara merata.

Penelitian yang dilakukan pada anjing menunjukkan bahwa


pembentukan follikel berlangsung hampir sepanjang hidupnya, melalui
invaginasi epithel kecambah menembus tunika albuginea.

Folikel primordial

5
Gambar 2.3 Struktur Histologi Folikel Primordial

Pada hewan yang baru lahir folikel seluruhnya adalah folikel


premordial. Folikel yang belum memasuki siklus pada hewan dewasa
sering disebut folikel premordial juga, untuk membedakan dengan
folikel primer yang telah memasuki siklus. Folikel ini terdiri dari sel
telur (oogonium) membran basal yang cukup tipis dan sel folikel (sel
granulosa) berbentuk pipih selapis. Membran basal merupakan batas
antara folikel dengan stroma kortikalis. Diameter oogonium 30-50 m,
inti besar, aparatus golgi, mitokhondria dan endoplasmik retikulum
yang jelas.

Folikel primer

Folikel ini telah memasuki siklus, dan dibawah pengaruh hormon FSH
dari hiphofisa terjadi proses pertumbuhan. Pembesaran diameter dari
seluruh komponen folikel disebabkan oleh perubahan pada : Sel telur
yang membesar karena intinya sedikit membesar akibat kromatin
bertambah, sitoplasma khususnya kuning telur (para plasma)
bertambah secara bertahap sel telur yang sedang berkembang ini
disebut oosit primer.

Sel-sel follikel turut berkembang yang tadinya berbentuk pipih


selapis, berubah menjadi kubis sebaris.

Membran basal masih tetap tipis.

Folikel Sekunder

6
Gambar 2.4 Struktur Histologi Folikel Sekunder

Periode ini disebut Growing follicle dibedakan tiga stadium, yakni :

1; Stadium permulaan

Oosit primer terus berkembang, sel folikel mulai berkembang biak


sehingga tampak dua lapis. Di luar selaput vitelin mulai terjadi zona
pelusida yang dihasilkan oleh sel folikel. Di sebelah dalam selaput
vitelin kuning telur bertambah banyak, membran basal sedikit
menebal. Penambahan diameter keseluruhan follikel, demikian juga
oosit primer.

2; Stadium pertengahan

Perkembangan oosit primer terus berjalan, dengan bertambahnya


kuning telur posisi inti yang sentris mulai bergeser agak ke tepi. Zona
pelusida agak menebal dan sel folikel berlapis mencapai tiga sampai
enam lapis. Membran basal agak menebal.

3; Stadium akhir

Perkembangan oosit primer berakhir, zona pelusida tebal. Sel follkel


yang ada ditengah mulai tampak tanda degenerasi yang berakhir
dengan hancur (lisis) sehingga terbentuk rongga sebagai permulaan
dari antrum folikuli.

Folikel Tertier

7
Seperti halnya dengan follikel sekunder, stadium ini dibagi dalam 3
sub stadium :

1; Stadium permulaan

Perkembangan oosit primer telah berhenti, zona pellusia sudah cukup


tebal. Sel-sel follikel yang mengitari zona pellusida mulai teratr
letaknya. Pada waktu yang bersamaan sel follikel yang terdapat
ditengah berdegenerasi, handur dan membentuk antrum follikuli yang
baru. Antrum follikuli yang telah terbentuk mulai meluas dan berisi
cairan Liquor follikuli. Membran basal tetap ada, sel-sel stroma diluar
membran basal berdiferensiasi menjadi sel-sel theca folliculi.

2; Stadium pertengahan

Pada stadium ini diduga oosit primer telah memasuki stadium


pemasukan pertama dan mengeluarkan benda kutub (polosit)
pertama. Dengan demikian sel telur disebut oosit sekunder. Sel folikel
yang langsung mengelilingi zona pelusida telah teratur letaknya
disebut : Corona radiata. Diluar corona radiata, sel folikel selanjutnya
disebut sel granulosa, membentuk dinding antrum folikuli. Dengan
bergabungnya antrum folikuli dan bertambahnya liquor folikuli maka
posisi sel telur terhadap folikel jadi semakin eksentris. Pertautan sel
telur dengan dinding folikel berlangsung melalui susunan sel
granulosa berbentuk tangkai disebut : Kumulus ooforus. Pada mamalia
lazimnya hanya sebuah tetapi pada kelinci terdapat beberapa buah
disebut : Retinakulum. Membran basal yang memisahkan sel
granulosa dan sel teka folikuli, selanjutnya disebut: Membran
skhalavianski. Teka foliculi terdiri atas : Teka interna dan teka eksterna.
Teka interna terdiri disusun oleh jaringan ikat dengan sel epitheloid
mengandung butiran didalamnya, diduga menjadi sumber hormon
estrogen. Pembuluh darah banyak terdapat didalamnya berbentuk
kapiler. Sebagian dari hormon estrogen memasuki pembuluh darah
dan sebagian lain menembus sel jaringan ikat dengan sel memanjang
mengelilingi folikel. Perubahan teka eksterna dengan stroma
kortikalispun tidak jelas.

3; Stadium terakhir

8
Stadium ini sering dikenal sebagai : Folikel renier de graaf suatu folikel
yang sudah siap mengalami ovulasi. Keadaannya hampir sama
dengan substadium sebelumnya, hanya pada yang terakhir ini
terdapat adanya stigma, berupa dinding folikel yang paling tipis yang
nantinya akan pecah dan merupakan jalan keluar bagi oosit sekunder.

Folikel de graf

Gambar 2.5 Struktur Histologi Folikel de graf

Folikel ini merupakan tingkatan terakhir dalam fase folikuli. Folikel ini
terbentuk karena adanya peningkatan FSH pada ovarium. Folikel de
graf yang matang berisi likuor folikel, mengandung estrogen dan siap
berovulasi

Follikel atretis (Korpora atretika)

Selama folikel primordial berkembang menjadi folikel de graaf banyak


mengalami kematian. Kematian folikel pada berbagai stadia dimulai
dengan degenerasi pada oosit yang disusul dengan sel granulosa.
Sebaliknya sel teka ber frolifrasi menyerap sisa folikel dan selanjutnya
mengisinya. Proses atresia berbeda untuk tiap jenis hewan. Secara
mikroskopis tampak adanya masa sel yang mengandung lemak
diantara folikel pada stroma ovari. Kasus atresia pada stadium muda
lebih mudah lenyap dari pada stadium lanjut yang biasa memakan
waktu agak lama. Ovulasi adalah: Peristiwa pecahnya folikel de graaf
dan terlemparnya ovum dari ovarium. Oosit sekunder yang terlempar

9
keluar selanjutnya ditangkap oleh fimbriae dari tuba falopii, kemudian
menuju uterus.

Korpus Luteum

Gambar 2.6 Struktur Histologi Corpus Luteum

Korpus luteum (Yellow body) mulai terbentuk setelah folikel


mengalami ovulasi, pembentukan ini berlangsung terus sampai
sempurna, apabila terjadi kebuntingan (korpus luteum gravidiatatum),
tetapi apabila tidak terjadi pembuahan pembentukan korpus luteum
terhenti, sehingga terjadi korpus albikans atau korpus fibrosum,
Korpus luteum periodikum albikans adalah bentuk degenerasi dari
korpus luteum yang fungsional. Letaknya lebih dalam dan ukurannya
besar, sehingga hilangnya lambat. Sel luteum masih tampak meskipun
sedikit dengan butir sekreta didalamnya. Warna kuning disebabkan
oleh adanya pigmen lutein yang terkandung dalam sel pembentuk
parenkhim. Lutein terdapat pada korpus luteum kuda, sapi, karnivora
dan manusia. Pada domba, kambing dan babi pigmen lutein tidak ada
sehingga warna korpus luteum jadi putih kelabu. Korpus luteum
tergolong kelenjar endokrin dan menghasilkan hormon progesteron
yang berfungsi memelihara kelangsungan kebuntingan.

Medula ovari
10
Sering disebut : Zona vaskulosa, karena banyak mengandung
pembuluh darah. Stroma ovari di daerah medula berubah menjadi
jaringan ikat fibro-elastis yang banyak mengandung pembuluh darah,
pembuluh limfe dan saraf, terdapat pula otot polos yang berhubungan
dengan muskulator dari ligamentum suspensorium. Adanya sel
interstitial pada kucing dan rodensia diduga menghasilkan hormon
ovarium. Didaerah pertautan mesobarium dilaporkan adanya sel yang
mirip dengan sel interstitial hewan jantang yang disebut : Sel hilus
yang menghasilkan androgen. Pada karnivora dan ruminansia dekat
mesovarium sering terlihat sisa dari rete ovari, sisa mesonefros yakni
efooforon dan parooforon. Sisa mesonefros tersebut berbentuk saluran
berliku-liku dengan ujung yang buntu. Epithelnya pipih selapis, pada
epooforon silindris bersilia keduanya kadang membentuk kista.

Ovarium adalah organ primer (atau esensial) reproduksi pada


betina seperti halnya testes pada hewan. Ovari dapat dianggap
bersifat endokrin atau sitogenik (menghasilkan sel) karena mampu
menghasilkan hormon yang akan diserap langsung ke dalam
peredaran darah, dan juga ovum.

Ovarium merupakan sepasang kelenjar yang terdiri dari ovari


kanan yang terletak di belakang ginjal kanan dan ovari kiri yang
terletak di belakang ginjal kiri. Ovarium seekor sapi betina bentuknya
menyerupai biji buah almond dengan berat rata-rata 10 sampai 20
gram. Sebagai perbandingan, pada sapi jantan dimana biji pejantan
berkembang di tubulus seminiferus yang letaknya di dalam pada
betina jaringan yang menghasilkan ovum (telur) berada sangat dekat
dengan permukaan ovari.

Ovarium terletak di dalam rongga perut berfungsi untuk


memproduksi ovum dan sebagai penghasil hormon estrogen,
progesteron dan inhibin. Ovarium digantung oleh suatu ligamentum
yang disebut mesovarium yang tersusun atas syaraf-syaraf dan
pembuluh darah, berfungsi untuk mensuplai makanan yang diperlukan
oleh ovarium dan sebagai saluran reproduksi. Ovarium pada preparat
praktikum ini berbentuk lonjong bulat.

11
Fungsi ovarium sendiri adalah memproduksi ovum, penghasil
hormon estrogen, progesteron dan inhibin.

Pada semua hewan menyusui mempunyai sepasang ovarium dan


mempunyai ukuran yang berbeda-beda tergantung pada species,
umur dan masa (stadium) reproduksi hewan betina. Bentuk ovarium
tergantung pada golongan hewan:

1. Pada golongan hewan yang melahirkan beberapa anak dalam


satu kebuntingan disebut Polytocous, ovariumnya berbentuk
seperti buah murbei, contoh: babi, anjing, kucing

2. Pada golongan hewan yang melahirkan satu anak dalam satu


kebuntingan disebut Monotocous, ovariumnya berbentuk bulat
panjang oval, contoh: sapi, kerbau, sedang pada ovarium kuda
bebentuknya seperti ginjal.

Ovarium mengandung folikel-folikel yang di dalamnya terdapat


masing-masing satu ovum. Pembentukan dan pertumbuhan folikel ini
dipengaruhi oleh hormon FSH (Folicle stimulating hormone) yang
dihasilkan oleh kelenjar adenohipofise. Folikel di dalam ovarium terdiri
dari beberapa tahap yaitu folikel primer, terbentuk sejak masih dalam
kandungan dan mengandung oogonium yang dikelilingi oleh satu lapis
sel folikuler kecil; folikel sekunder, terbentuk setelah hewan lahir dan
sel folikulernya lebih banyak; folikel tertier, terbentuk pada saat
hewan mencapai dewasa dan mulai mengalami siklus birahi; dan yang
terakhir adalah folikel de Graaf, merupakan folikel terbesar pada
ovarium pada waktu hewan betina menjelang birahi.

Folikel de Graaf inilah yang akan siap diovulasikan (peristiwa


keluarnya ovum dari folikel) dan jumlahnya hanya satu karena sapi
merupakan hewan monotokosa yang menghasilkan satu keturunan
setiap kebuntingan. Peristiwa ovulasi diawali dengan robeknya folikel
de Graaf pada bagian stigma dipengaruhi oleh hormon LH (Luteinizing
hormone) yang dihasilkan oleh kelenjar adenohipifise. LH
menyebabkan aliran darah di sekitar folikel meningkat dan
menyebabkan dinding olikel pecah. Bekas tempat ovum yang baru
keluar disebut corpus haemorragicum yang dapat kemasukan darah

12
akibat meningkatnya aliran darah dan menjadi merah, setelah itu
terbentuk corpus luteum (berwarna coklat) yang akan menghasilkan
hormon progesteron untuk mempertahankan kebuntingan dan
menghambat prostaglandin. Sehingga pada saat bunting tidak terjadi
ovulasi karena prostaglandin yang mempengaruhi hormon estrogen
dan FSH.

Apabila pembuahan tidak terjadi, corpus luteum bertambah


ukurannya di bawah hormon pituitari anterior yaitu prolaktin dan
dibentuklah hormon progesteron yang menekan birahi yang
berkepanjangan dan memepertahankan kebuntingan (Blakely and
Bade, 1998).

2.3 Organ Kelamin Sekunder


1. Oviduct

Pada mammalia terdapat sepasang yang berfungsi sebagai :


Menangkap oosit sekunder yang diovulasikan (oleh fimbriae), memberi
lingkungan yang baik untuk pembuahan dan menyalurkan oosit
sekunder atau embrio menuju uterus.

Secara morfologis dibagi menjadi : Infundibulum dan fimbriae,


ampulla dan istmus. Bangun umum ketiga daerahnya hampir sama
hanya berbeda dalam struktur selaput lendirnya serta ketebalan
lapisan otot.

Mukosa daerah ampula membentuk lipatan komplek dengan


adanya lipatan primer, sekunder dan tertier. Semakin menuju uterus
bentuk lipatan semakin sederhana dan rendah. Lamina epitelialis
terdiri atas epitel silindris sebaris, kecuali pada ruminansia dan babi
yang memiliki daerah epitel silindris banyak baris.

Pada epitel terdapat dua macam sel yang berbeda, yakni : Sel
yang memiliki silia yang aktif bergetar menjelang oosit lewat. Tipe sel
ini menjamin kelancaran transport oosit embrio menuju uterus. Sel
tanpa silia banyak mengandung butir sekreta didalamnya, diduga
menghasilkan sekreta yang bersifat nutritif bagi embrio. Aktivitas
epithel ini ternyata sejalan dengan aktivitas seluruh saluran kelamin
13
meskipun tidak sehebat uterus. Lamina propria terdiri atas jaringan
ikat longgar dengan banyak sel dan serabut retikuler. Serabut otot
polos sering tampak didalamnya. Sub mukosa terdiri atas jaringan ikat
longgar berbatasan langsung dengan mukosa sebab muskularis
mukosa tidak ada.

Tunika muskularis pada lapis dalamnya tersusun melingkar dan


lapis luarnya longitudinal. Diantaranya terdapat jaringan ikat yang
mengandung pembuluh darah yang dikenal sebagai stratum
vaskulare. Pada bibir infundibulum atau fibriae otot polos hampir tidak
tampak atau hanya soliter. Semakin menuju uterus lapis otot polos
semakin jelas bahkan membentuk dua lapis yang berbeda
susunannya.

Tunika muskularis dengan gerakan peristaltiknya bertugas


mendorong oosit atau embrio menuju uterus. Serosa terdiri dari
mesothelium dan subserosa. Serosa ini merupakan kelanjutan dari
serosa yang membalut alat penggantung tuba uterina (mesosalpinx).

Oviduct merupakan saluran yang bertugas untuk menghantarkan


sel telur (ovum) dari ovarium ke uterus. Oviduct digantung oleh suatu
ligamentum yaitu mesosalpink yang merupakan saluran kecil yang
berkelok-kelok dari depan ovarium dan berlanjut di tanduk uterus.

Oviduct terbagi menjadi 3 bagian. Pertama adalah infundibulum,


yaitu ujung oviduct yang letaknya paling dekat dengan ovarium.
Infundibulum memiliki mulut dengan bentuk berjumbai yang berfungsi
untuk menangkap ovum yang telah diovulasikan oleh ovarium. Mulut
infundibulum ini disebut fimbria. Salah satu ujungnya menempel pada
ovarium sehinga pada saat ovulasi dapat menangkap ovum.
Sedangkan lubang infundibulum yang dilewati ovum menuju uterus
disebut ostium. Setelah ovum ditangkap oleh fimbria, kemudian
menuju ampula yaitu bagian oviduct yang kedua, di tempat inilah
akan terjadi fertilisasi. Sel spermatozoa akan menunggu ovum di
ampula untuk dibuahi. Panjang ampula merupakan setengah dari
panjang oviduct. Ampula bersambung dengan bagian oviduct yang
terakhir yaitu isthmus. Bagian yang membatasi antara ampula dengan
isthmus disebut ampulary ismich junction. Isthmus dihubungkan

14
langsung ke uterus bagian cornu (tanduk) sehingga di antara
keduanya dibatasi oleh utero tubal junction.

Dinding oviduct terdiri atas 3 lapisan yaitu membrana serosa


merupakan lapisan terdiri dari jaringan ikat dan paling besar,
membrana muscularis merupakan lapisan otot dan membrana mucosa
merupakan lapisan yang membatasi lumen.

Fungsi oviduct :

1. menerima sel telur yang diovulasikan oleh ovarium,

2. transport spermatozoa dari uterus menuju tempat pembuahan

3. tempat pertemuan antara ovum dan spermatozoa (fertilisasi)

4. tempat terjadinya kapasitasi spermatozoa

5. memproduksi cairan sebagai media pembuahan dan kapasitasi


spermatozoa

6. transport yang telah dibuahi (zigot) menuju uterus.

Menurut Bearden and Fuquay (1997) panjang oviduct untuk


kebanyakan spesies ternak adalah 20 sampai 30 cm.

2. Uterus

Gambar 2.7 Struktur Histologi Uterus

Bentuk uterus pada berbagai hewan piara tidak sama, hal ini
berhubungan dengan perkembangan embriologi. Perbedaannya

15
terletak pada derajat penyatuan bagian kaudal buluh Muller. Secara
umum uterus dibagi dalam 4 bagian yaitu :

Uterus simplex : uterus hanya satu, ditemukan pada primata


(bangsa kera) termasuk manusia.
Uterus dupleks (uterus bipartius) : tipe ini memiliki dua uterus
yang terpisah, sehingga memiliki dua serviks yang masing-masing
bermuara kedalam uterus. Tipe ini terdapat pada rodentia seperti :
kelinci dan marmut.
Uterus Bipartius : mempunyai dua buah kornu yang panjang, yang
bersatu di daerah istmus dekat servik, kemudian bermuara pada
vagina tunggal. Tipe ini terdapat pada : karnivora dan babi.
Uterus Bikornis : Kornua uteri yang tidak begitu panjang, karena
penyatuan korpus uteri berlangsung agak jauh dari servik. Servik
hanya sebuah dan bermuara kedalam vagina. Tipe ini terdapat
pada : kuda dan ruminansia.

Struktur histologi :

a. Endometrium

Istilah yang diberikan untuk mukosa dan submukosa, karena


muskularis mukosa memang tidak ada. Lamina epithelialis terdiri atas
epitel silindris sebaris, pada babi dan ruminansia sering tampak
adanya bentuk epithel silindris banyak baris.

Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang hanya mengandung


sel disebut Stratum selulare, dibawahnya terdapat lapis jaringan ikat
longgar dengan sedikit sel disebut : Zona spongiosa. Pada waktu birahi
(estrus) zona spongiosa mengandung banyak cairan sehingga
menggembung (edematus), sebaliknya setelah estrus pada
ruminansia besar dan anjing sering terjadi perdarahan kecil dan
berakhir pada diestrus.

b. Karunkula (carunculae)

Merupakan penonjolan endometrium, bersifat bebas kelenjar dan


banyak mengandung sel jaringan ikat dan pembuluh darah. Dengan
pewarnaan HE daerah ini kuat mengambil zat warna sehingga tampak
jelas. Pada uterus yang tidak bunting karunkula ini kecil, tapi pada
yang bunting sangat membesar, bahkan pada sapi dapat sebesar

16
ketan, jumlahnya tidak tentu, berkisar antara 60-120 buah. Pada
uterus bunting khorion melekat bahkan membenamkan vili
kedalamnya.

Submukosa terdiri atas jaringan ikat longgar dengan sedikit sel


jadi jelas dapat dibedakan dengan tunika propria. Sebagian besar
kelenjar dari uterus (glandula uterina) terdapat dalam submukosa
khsusnya ujung kelenjar, sebagian alat penyalurnya terdapat pada
tunika propria. Bangun kelenjarnya adalah tubulus sederhana dengan
ujung kelenjar menggulung, keadaan kelenjar sangat dipengaruhi oleh
siklus kelamin.

c. Myometrium

Sebagai pengganti istilah tunika muskularis mukosa, terdiri atas


otot polos yang tersusun secara melingkar sebelah dalam dan
memanjang sebelah luar. Diantaranya terdapat stratum vaskulare.
Pada uterus yang pernah bunting stratum vaskulare ini memiliki
pembuluh darah yang besar, lebih jelas dari uterus dara.

Perimetrium (serosa), lapis luar merupakan kelanjutan dari


peritoneum (serosa) hanya saja sub serosa relatip tebal dan
mengandung otot polos membentuk alat penggantung uterus
(ligamentum lata uteri).

Uterus merupakan struktur saluran muskuler yang diperlukan


untuk menerima ovum yang telah dibuahi dan perkembangan zigot.
Uterus digantung oleh ligamentum yaitu mesometrium yaitu saluran
yang bertaut pada dinding ruang abdomen dan ruang pelvis. Dinding
uterus terdapat 3 lapisan, lapisan dalam disebut endometrium, lapisan
tengah disebut myometrium dan lapisan luar disebut perimetrium.

Uterus terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah cornu uteri
atau tanduk uterus. Cornu uteri ini jumlahnya ada 2 dan persis
menyerupai tanduk yang melengkung. Cornu uteri merupakan bagian
uterus yang berhubungan dengan oviduct. Kedua cornu ini memiliki
satu badan uterus yang disebut corpus uteri dan merupakan bagian
uterus yang kedua. Corpus uteri berfungsi sebagai tempat
perkembangan embrio dan implantasi. Selain itu pada corpus uteri

17
terbentuk PGF2 alfa. Bagian uterus yang ketiga adalah cervix atau
leher uterus.

Bentuk-bentuk uterus ada 3, yaitu: 1) uterus bicornus: cornu uteri


sangat panjang tetapi corpus uteri sangat pendek. Contoh pada babi.
2) uterus bipartinus: corpus uteri sangat panjang dan di antara kedua
cornu terdapat penyekat. Contoh pada sapi cornunya membentuk
spiral. 3) uterus duplex: cervixnya terdapat dinding penyekat. Contoh:
uterus pada kelinci dan marmut. 4) uterus simple: bentuknya seperti
buah pir. Contoh: uterus pada manusia dan primata.

Fungsi uterus: 1) saluran yang dilewati gamet (spermatozoa).


Spermatozoa akan membuahi sel telur pada ampula. Secara otomatis
untuk mencapai ampulla akan melewati uterus dahulu. 2) tempat
terjadinya implantasi. Implantasi adalah penempelan emrio pada
endometrium uterus. 3) tempat pertumbuhan dan perkembangan
embrio. 4) berperan pada proses kelahiran (parturisi). 5) pada hewan
betina yang tidak bunting berfungsi mengatur siklus estrus dan fungsi
corpus luteum dengan memproduksi PGF2 alfa.

Di dalam uterus terdapat curuncula yang berfungsi untuk


melindungi embrio pada saat ternak bunting. Hasil pengukuran uterus
pada praktikum ini, panjang corpus uteri adalah 20 cm, panjang cornu
uteri adalah 13 cm. Menurut Lindsay et al., (1982) bahwa uterus pada
sapi yang tidak bunting memiliki diameter 5 sampai 6 cm. Perbedaan
ini dipengaruhi oleh umur, bangsa ataupun kondisi ternak.

3. Cervix

Merupakan pintu gerbang antara uterus dan vagina. Bangun


umum hampir mirip dengan uterus, selaput lendirnya (sesuai dengan
peranannya) membentuk lipatan primer, sekunder dan tersier.
Epithelnya silindris sebaris, tetapi bersifat sekretoris menghasilkan
lendir. Beberapa sel tampak memiliki silia.

Tunika propria terdiri atas jaringan ikat longgar, dan pada waktu
estrus bersifat odematus, pada submukosa terdapat kelenjar (anjing
dan kambing), bersifat tubulus dan mukus. Tunika muskularis yang
sirkuler tebal, bahkan berlapis-lapis dibatasi oleh jaringan ikat, lapis
18
lungitudinal bersatu dengan vagina. Serosa merupakan kelanjutan dari
uterus mengandung lebih sedikit sel otot polos tapi lebih banyak
mengandung ujung saraf perifer.

Cervix terletak di antara uterus dan vagina sehingga dikatakan


sebagai pintu masuk ke dalam uterus. Cervix ini tersusun atas otot
daging sphincter. Terdapat lumen cervix yang terbentuk dari gelang
penonjolan mucosa cervix dan akan menutup pada saat terjadi estrus
dan kelahiran. Cervix menghasilkan cairan yang dapat memberi jalan
pada spermatozoa menuju ampula dan untuk menyeleksi sperma.

Selama birahi dan kopulasi, serviks berperan sebagai masuknya


sperma. Jika kemudian terjadi kebuntingan saluran uterin itu tertutup
dengan sempurna guna melindungi fetus. Beberapa saat sebelum
kelahiran, pintu itu mulai terbuka, serviks mengembang, hingga fetus
dan membran dapat melaluinya pada saat kelahiran (Blakeli and Bade,
1998).

Fungsi dari cervix adalah menutup lumen uterus sehingga


menutup kemungkinan untuk masuknya mikroorganisme ke dalam
uterus dan sebagai tempat reservoir spermatozoa.

4. Vagina

Gambar 2.8 Struktur Histologi Vagina

Vagina berbentuk buluh terbuka, dibagian kranial berbatasan


dengan servik uteri dan dibagian kaudal adalah vestibulum vulva.

19
Sebagian kecil (kranial) vagina terdapat dalam rongga perut yang
dibalut oleh serosa, dan sisi selebihnya terdapat dalam ruang pelvis
dibalut oleh adentitia.

Sebagaimana pada saluran kelamin yang lain, vagina pun


mengikuti perubahan sesuai dengan siklus kelamin. Perubahan mana
tampak jelas pada epithel vagina yang penting untuk identifikasi siklus
kelamin khusunya pada rodensia dan karnivora. Fungsi vagina adalah :
pada waktu kopulasi menerima penis serta pancaran air mani setelah
ejakulasi berlangsung.

Struktur histologi:

Mempunyai epithel pipih banyak lapis, pada pengenalan siklus


kelamin epitel ini mendapat sorotan khusus. Pada ruminansia besar
epithel vagina kranial sering tampak adanya sel mangkok, yang
jelas dan besar pada waktu esterus, sel ini penghasil lendir,
dikeluarkan pada waktu metestrus.

Pertandukan (keratinization) pada permukaan epithel pada


ruminansia besar tidak jelas, hanya sel permukaan jumlahnya
meningkat. Pada karnivora anjing pertandukan tampak jelas pada
waktu estrus, banyak sel permukaan lepas dan tercampur dengan
eritrosit berasal dari endometrium.

Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang langsung berbatasan


dengan sub mukosa, semakin menuju vestibulum jumlah folikel
getah bening semakin meningkat, pembuluh darah banyak terdapat
didalamnya. Sub mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar yang
lebih sedikit mengandung sel jaringan ikat

Tunika muskularis terdiri atas lapis melingkar dan memanjang. Pada


anjing tampak adanya tiga lapis yakni lapis longitudinal luar dan
dalam dan lapis melingkar disebelah dalam, pada hewan piara yang
lain lapis longitudinal dalam jarang tampak.

Tunika adventitia terdiri atas jaringan ikat longgar yang


mengandung sel lemak, pembuluh darah pembuluh limfe dan folikel
getah bening serta kelenjar di daerah vestibulum. Serosa hanya
tampak dibagian kranial.

20
Vagina adalah organ reproduksi hewan betina yang terletak di
dalam pelvis di antara uterus dan vulva. Vagina memiliki membran
mukosa disebut epitel squamosa berstrata yang tidak berkelenjar
tetapi pada sapi berkelenjar. pada bagian kranial dari vagina terdapat
beberapa sel mukosa yang berdekatan dengan cervix.

Vagina terdiri dari 2 bagian yaitu vestibulum yang letaknya dekat


dengan vulva serta merupakan saluran reproduksi dan saluran
keluarnya urin dan yang kedua adalah portio vaginalis cervixis yang
letaknya dari batas antara keduanya hingga cervix. Vestibulum dan
portio vaginalis cervixis dibatasi oleh suatu selaput pembatas yang
disebut himen.

Fungsi dari vagina adalah sebagai alat kopulasi dan tempat


sperma dideposisikan; berperan sebagai saluran keluarnya sekresi
cervix, uterus dan oviduct; dan sebagai jalan peranakan saat proses
beranak. Vagina akan mengembang agar fetus dan membran dapat
keluar pada waktunya.

Menurut Toelihere (1981), pada hewan yang tidak bunting


panjang vagina sapi mencapai 25,0 sampai 30,0 cm. Variasi ukuran
vagina ini tergantung pada jenis hewan, umur dan frekuensi beranak
(semakin sering beranak, vagina semakin lebar).

2.4 Organ Kelamin Luar

1. Glandula Mamae

21
Gambar 2.8 Struktur Histologi Kelenjar Mammae

Keterangan :
1. Adenomer
2. Lobuli
3. duktus intralobularis (kuboid simplek)
4. Sinus Laktiferous
5. Septa interlobularis

Setiap glandula mammae memiliki satu puting dengan dua


saluran yang menerima aliran dari daerah sekretoris yang terpisah
pada masing-masing glandula. Glandula mammae dapat dibagi
menjadi:

1. Jaringan-jaringan penunjang

2. Jaringan-jaringan yang terlibat dalam sintesis dan pengangkutan air


susu.

Struktur-struktur penunjang adalah: kulit, ligamenta dan jaringan


ikat. Penunjang utama berasal dari : ligamentum suspensorius
lateralis. Berada diluar ambing tepat di bawah kulit juga mengirimkan
lamella ke dalam ambing, lamella-lamella ini melanjutkan diri dengan
kerangka interstitial ambing sehingga penunjang menjadi bertambah.
Ligamentum suspensorius medialis membentang longitudinal diantara
dua bagian ambing dan menyatu pada abdomen karena elastisnya,
ligamentum ini teregang ketika ambing terisi dengan air susu.

22
Glandula mamae terdiri atas 15-20 lobus yang dipisah-pisahkan
oleh jaringan lemak. Setiap lobus dibagi lagi oleh jaringan ikat menjadi
lobulus-lobulus. Pada setiap lobulus terdapat kumpulan kelenjar-
kelenjar keringat yang disebut alveoli. Saluram-saluran kelenjar
payudara pada satu lobus berkumpul menjadi duktus mamilaris. Dekat
putting susu saluran ini melebar menjadi ampulla yang berfungsi
sebagai tempat penampungan air susu.

BAB III

PENUTUP

3.1; Kesimpulan

Organ reproduksi betina terdiri dari organ reproduksi primer, yaitu


ovarium memproduksi ovum dan hormone betina (Estrogen dan
Progesteron). Organ reproduksi sekunder terdiri dari tuba fallopi
(Oviduct), uterus (Cornua, Corpus, Cerviks), vagina, dan vulva. Fungsi
alat alat ini adalah menerima dan mempersatukan sel kelamin jantan
dan betina, memelihara dan melahirkan individu baru.

3.2; Saran

Saran yang dapat diambil dari makalah ini adalah :


23
Agar dilakukannya penelitian lebih lanjut mengenai organ-organ
reproduksi pada hewan betina.

Harus lebih memahami perbedaan struktur dan fungsi organ


reproduksi betina.

DAFTAR PUSTAKA

1; Aswin. 2009. Anatomi Perkembangan Sistem Uropoetika.


http://nemalz88 veterinerblog.blogspot.com/2009/06/i.html. Diakses
pada tanggal 12 April 2016.

2; Brown. 1992. Buku Teks Histology Veteriner. UI Press, Jakarta

3; Frandson. 1986. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM Press,


Yogyakarta.

4; Iqbal. 2007. Sistem Reproduksi.


http://iqbalali.com/biologi/sistem_reproduksi.dtml. Diakses pada
tanggal 12 April 2016.

24
5; Nuryadi. 2010. Serviks dan klitoris .
http:nongue.gsnu.ac.kr/~cspark/
teaching/chap3.html. Diakses pada tanggal 12 April 2016.

6; Marawali dkk. 2010. Ovarium. .


http://bubblehousebandryfarm.blogspot.comDiakses pada tanggal
12 April 2016.

7; Partodiharjo,S. 1980. Ilmu Reproduksi Ternak. Prduksi Mutiara.


Jakarta.

8; Mozez. 2006. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kerbau. UI


Press, Jakarta.

9; Salisbury. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan. UGM


Press, Yogyakarta.

Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013

HISTOLOGI ULAS VAGINA dan WAKTU SIKLUS ESTRUS


MASA SUBUR MENCIT BETINA SETELAH PEMBERIAN
EKSTRAK RIMPANG RUMPUT TEKI
Drs. Hendri Busman, M.Biomed
Jurusan Biologi FMIPA UNILA
email;hendri_busman@yahoo.com

Abstrak

Untuk mengatasi masalah jumlah penduduk maka perlu adanya penelitian tentang
bahan-bahan alami yang dapat digunakan sebagai bahan kontrasepsi tradisional.
Rumput teki (Cyperus rotundus L) merupakan salah satu tanaman obat tradisional
25
yang pada bagian rimpangnya mengandung alkaloid, flavonoid, minyak atsiri.
Diduga diantara senyawa tersebut ada yang bersifat antiestrogen sehingga
berpengaruh pada sistem reproduksi antara lain pada siklus estrus mencit (Mus
musculus L) betina.Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh ekstrak rimpang
rumput teki terhadap struktur histologi ulas vagina dan siklus estrus masa subur,
pada fase proestrus dan estrus mencit betina. Perlakuan pada hewan uji dilakukan
setiap hari secara oral selama 14 hari. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak
Lengkap dengan 3 dosis perlakuan dan 1 kontrol, masing-masing diulang sebanyak
5 kali. Dosis ekstrak rimpang teki yang digunakan adalah 0 mg (kontrol); 4,5 mg; 45
mg; 135 mg (perlakuan) dilarutkan dalam 0,4 ml aquabidest untuk satu kali
pencekokan. Parameter yang diamati adalah perubahan sel epitel vagina pada fase
berlangsungnya siklus estrus. Data dianalisis dengan analisis ragam, apabila terdapat
perbedaan nyata maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil pada taraf 5 %.
Diperoleh hasil penelitian bahwa secara umum pemberian ekstrak rimpang rumput
teki tidak berpengaruh terhadap struktur histologi ulas vagina, tetapi dapat
mempersingkat waku masa subur pada fase proestrus dan estrus mencit.

Kata kunci: Mencit, histologi vagina, proestrus, estrus, rimpang rumput teki.

PENDAHULUAN kontrasepsi (Pramono dan Katno.


2002).
Untuk mengatasi masalah
bertambahnya jumlah penduduk
maka telah banyak digunakan
metode kontrasepsi modern.
Tumbuh-tumbuhan (bahan alami)
dapat dijadikan dimanfaatkan
secara optimal sebagai penemuan
obat baru, termasuk obat

26
Diantara jenis tumbuhan yang betina untuk mengetahui
digunakan sebagai obat pengaruhnya terhadap sistem
tradisional, adalah rumput teki reproduksi mencit khususnya siklus
(Cyperus rotundus L.), bagian estrus masa subur mencit.
yang digunakan sebagai obat
adalah umbi (rimpang). Rimpang METODE PENELITIAN
teki mengandung alkaloid,
flavonoid dan minyak atsiri, antara Penelitian ini menggunakan
lain digunakan sebagai obat kuat, Rancangan Acak Lengkap dengan
obat rasa sakit sewaktu haid 3 dosis perlakuan dan 1 kontrol,
(dysmenorrhea), datang haid tidak serta ulangan 5 kali. Dosis
teratur (irregular menstruation) ekstrak rimpang teki yang
dan penyakit pada wanita digunakan adalah 0 mg (kontrol);
(gynecological diseases) (Saroni 4,5 mg; 45 mg; 135 mg
dan Wahjoedi, 2002).Dengan (perlakuan) dalam 0,4 ml
demikian diduga rimpang rumput aquabidest untuk satu kali
teki dapat mempengaruhi sistem pencekokan. Data dianalisis
reproduksi. Berdasarkan hal dengan analisis ragam, apabila
tersebut, maka telah dilakukan terdapat perbedaan nyata,
penelitian pemberian ekstrak dilanjutkan dengan uji beda nyata
rimpang rumput teki pada mencit terkecil pada taraf 5 % untuk

27
rpm) selama 1 jam, sehingga
perbandingan dari masing-masing diperoleh ekstrak rimpang rumput
kelompok.. teki.
Alat yang digunakan antara lain Hewan Uji (mencit betina)
kandang mencit sejumlah 20 diaklimatisasi (1 minggu) dan
kandang, tempat makanan dan dikelompokkan secara acak
minuman mencit, kertas label menjadi 4 kelompok (5 ekor mencit
untuk preparat, objek dan cover per kelompok). Dosis ekstrak
dan objek glas preparat, cotton rimpang rumput teki yang digunakn
bud untuk mengambil sel-sel adalah : Kelompok kontrol diberi
vagina, mikroskop cahaya, 0,4 ml aquabides (A);
kamera untuk foto atau gambar;
soklet untuk pembuatan ekstrak
rimpang teki, rotary evaporator
untuk memekatkan ekstrak
rimpang teki. Bahan yang
digunakan yaitu
20 ekor mencit betina fertil
berumur 3-4 bulan (berat sekitar
40 gram), pellet ayam sebagai
makanan mencit, aquades,
Giemsa 3% untuk pewarnaan,
minyak emersi untuk memperjelas
objek yang akan diamati, ekstrak
rimpang rumput teki, aquabidest
untuk pengenceran ekstrak
rimpang teki. Rimpang rumput
teki yang diperoleh dibersihkan
(dicuci), kemudian dijemur,
selanjutnya dibuat serbuk dengan
cara digiling. Kemudian dibuat
ekstrak dari serbuk dengan
menggunakan soklet dan pelarut
methanol. Ekstrak dipekatkan
dengan menggunakan rotary
evaporator pada suhu 35C (60
Kelompok perlakuan diberi dosis sel-sel epitel biasa dan leukosit
4,5mg/40grBB (B), dosis 45mg/ pada preparat histologi,
40grBB (C), 135mg/40grBB (D) sedangkan fase estrus ditandai
masing-masing dalam 0,4 ml dengan adanya sel-sel epitel
aquabides. Pemberian ekstrak bertanduk. Perhitungan panjang
rimpang rumput teki pada hewan lama waktu siklus estrus dengan
uji dengan cara dicekok (secara cara mengamati berapa lama
oral) (selama 14 hari), kemudian waktu siklus estrus mencit setelah
dilakukan pemeriksaan ulas pemberian perlakuan dikurangi
vagina mencit dan dilihat fase dengan lama waktu siklus estrus
proestrus dan estrus dalam sebelum pemberian perlakuan.
struktur histologi vagina dengan
pewarna Giemsa, (perbesaran HASIL DAN PEMBAHASAN
100x). Pengambilan sampel epitel
vagina dilakukan setiap 4 jam Berdasarkan hasil pada gambar
sekali. 1, struktur histologi ulas vagina
Parameter yang diamati adalah mencit fase proestrus antara
bentuk sel epitel vagina dan lama kontrol dan perlakuan, tidak
waktu (panjang) siklus estrus menunjukkan perbedaan nyata,
masa subur fase proestrus dan diketahui adanya sel epitel biasa
estrus mencit betina. Fase dan leukosit.
proestrus ditandai dengan adanya
Fase Proestrus

sel epitel biasa sel leukosit sel epitel


biasa sel leukosit A B
C D
Gambar 1. Perbandingan struktur histologi ulas vagina betina antara kontrol dan
perlakuan pada fase proestrus. Perbesaran 100x.
Jurnal Veteriner Maret 2010 Vol. 11 No. 1 : 30-35

ISSN : 1411 - 8327

Tampilan Reproduksi Kambing Betina Lokal yang Induksi Berahinya


Dilakukan dengan Sistem Sinkronisasi Singkat
(THE REPRODUCTIVE PERFORMANCE OF LOCAL DOES

FOLLOWING AN INDUCED OESTROUS WITH SHORT SYNCHRONIZATION SYSTEM)


Tongku Nizwan Siregar1, Teuku Armansyah2,

Arman Sayuti3, Syafruddin3

1
Laboratorium Reproduksi, 2Laboratorium Farmakologi, 3Laboratorium Klinik,

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala

Jalan Syech Abdul Rauf No. 4 Darussalam, Banda Aceh, 23111. e-mail: tongku_ns@yahoo.com

ABSTRACT

The aim of this study is to determine the reproduction performance of local does in which their estrous was induced by
short synchronization system. In this study 10 healthy female, unpregnant and have relatively homogenous body weights
were used. All does were devided into 2 experiment groups. Group 1 consisted of 4 does as control and group II consisted
of 6 does as treatment. Group I, were injected with 125 g cloprostenol intramuscular, twice in 11 days interval. Group
II, was treated with short synchronization using 125 g cloprostenol intramuscular, and then followed by injection of 300
IU hCG and 0.5 mg estradiol benzoate after 12 hours later. The does were inseminated 10 hours after onset of estrous and
repeated 12 hours later. Parameters measured were oestrous percentage, pregnancy, and litter size. Results showed that all
does (100%) from both groups showed estrous. Percentage of pregnant does group I and II were 75.00% and 83.33%
respectively, and the averages litter size were 2.0 1.0 and 1.4

0.3, respetively. Treatment with short synchronization can increase pregnancy and delivered percentage although litter
size not affected.

Keywords: local goat, short synchronization system, reproduction, estrous induction

PENDAHULUAN rendahnya fertilitas, gejala berahi tidak teramati dan


tidak terkontrolnya waktu berahi, sehingga waktu
Populasi ternak kambing di wilayah Asia dan Pasifik perkawinan tidak dapat diperkirakan (Hafez, 1993).
Selatan sampai tahun 1990-an mencapai 294,4 juta Beberapa program pemberian hormonal telah
ekor dengan angka pertumbuhan hanya 0,2%. dikembangkan untuk mengatasi kondisi tersebut
Jumlah ini merupakan 52,9 % dari total populasi melalui teknologi sinkronisasi berahi. Tetapi hampir
kambing dunia. Di Pulau Jawa, jumlah rumah tangga semua jenis perlakuan tersebut mempunyai dua
yang memelihara ternak kambing mencapai 30%. kelemahan dalam pelaksanaannya yaitu mahalnya
Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa kambing biaya yang diperlukan dan lamanya interval waktu
memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pelaksanaan. Kelemahan pertama telah dapat diatasi
sumber produk asal ternak di Indonesia (Suyadi, dengan menggunakan prostaglandin F2 yang dapat
2003). Populasi kambing sampai tahun 2005 diberikan melalui intrauterin atau intravulva pada
mencapai 13.182.064 ekor dengan angka kambing. Dosis prostaglandin F2 dapat dikurangi
pertumbuhan sekitar 3,14% (Dinas Peternakan NAD, sampai seperempat kali dengan cara pemberian
2006). Rendahnya angka pertumbuhan ini karena melalui intrauterin atau intravulva pada kambing
kambing tropis memperlihatkan efisiensi reproduksi (Gustari et al., 1996; Siregar et al., 2001).
yang rendah dibandingkan dengan kambing pada Pelaksanaan metode ini kemungkinan prostaglandin
daerah subtropis (Gall dan Phillipen, 1981). F2 akan cepat dimetabolisma karena secara
fisiologi prostaglandin F2 disintesis oleh
Salah satu penyebab rendahnya efesiensi reproduksi endometrium uterus dan didistribusikan ke ovarium
kambing tropis adalah karena melalui

30
Siregar etal Gatius, 2000a). Sistem sinkronisasi singkat pada sapi
dilakukan dengan penyuntikan prostaglandin F2
diikuti dengan human chorionic gonadotrophine
(hCG) dan estradiol benzoate (EB). Perlakuan
dengan hCG akan dapat menghasilkan ovulasi pada
mekanisme counter current (Gustari et al., 1996). keseluruhan siklus berahi, sedang estrogen dapat
menginduksi LH surge dan ovulasi. Hormon hCG
Untuk mempercepat pelaksanaan sinkro-nisasi telah dan EB efektif pada fase folikuler, sedang pada
dikembangkan sistem sinkronisasi singkat (Lopez- ternak yang berada pada fase luteal, hCG akan
menurunkan ovulation rate dan estradiol akan Holland), dan estradiol benzoat (Ovalumon, PT.
bertindak sebagai faktor luteolitik dan meningkatkan Wonderindo, Pharmatama). Alat yang dipergunakan
aktivitas folikulogenesis (Lopez-Gatius, 2000b). dalam penelitian ini adalah spuit insulin dan kit IB.

Peranan hCG pada ternak antara lain adalah


memperpanjang masa hidup korpus luteum, Prosedur Penelitian
peningkatan sintesis progesteron oleh korpus
luteum, induksi ovulasi pada keseluruhan siklus Kelompok I (KI), mendapat perlakuan protokol 125
berahi, dan membantu pembentukan korpus luteum g cloprostenol/ekor secara intramuskular 2 kali
asesoris ketika diberikan pada awal fase luteal dengan interval 11 hari. Kelompok II (KII),
(Rajamahendra dan Sianangama, 1992). Hormon mendapat perlakuan 125 g cloprostenol/ekor secara
hCG dapat dipakai untuk mengobati kesuburan pada intramuskular, diikuti dengan injeksi 300 IU
hewan piaraan, mengobati gejala sistik ovaria, hCG/ekor dan 0,5 mg estradiol benzoate/ekor 12 jam
menimbulkan berahi, menghilangkan nimpomania kemudian.
dan untuk merangsang ovulasi (Kaltenbach dan
Dunn, 1993). Aktivitas LH yang dikandungnya
menyebabkan hCG bersifat luteotropik dan Deteksi Berahi dan Inseminasi Buatan
memperpanjang fungsi corpus luteum beberapa hari,
sehingga dapat meningkatkan angka kebuntingan Pengamatan berahi dilakukan 3 kali sehari, mulai
(Rajama-hendra dan Sianangama, 1992). hari pertama setelah penyuntikan dengan lama
pengamatan 1 jam. Pengamatan dilakukan pada
pukul 08.00, 12.00 dan 16.00 WIB. Kambing-
kambing yang memperlihatkan gejala berahi
Tampilan berahi kambing lokal setelah induksi diinseminasi 10 jam setelah awal berahi dan diulang
dengan sistem sinkronisasi singkat telah dilaporkan 12 jam kemudian. Awal berahi dihitung saat
(Hamdan dan Siregar, 2004). Oleh karena itu maka kambing mau dinaiki oleh pejantan pertama kali.
perlu diketahui pengaruh penerapan sistem
sinkronisasi singkat terhadap tampilan reproduksi
kambing lokal. Penelitian ini bertujuan mengetahui
tampilan reproduksi kambing yang mengalami Parameter Penelitian
sistem sinkronisasi singkat. Data hasil penelitian ini
diharapkan dapat menjadi acuan keberhasilan Persentase berahi yaitu jumlah kambing berahi
pelaksanaan sistem sinkronisasi singkat pada dibagi dengan jumlah kambing perlakuan dan
kambing. dinyatakan dalam persen.

Persentase kebuntingan yaitu jumlah kambing yang


MATERI DAN METODE berhasil menjadi bunting dibagi dengan jumlah
kambing yang dikawinkan dan dinyatakan dalam
Pada penelitian ini digunakan 10 ekor kambing persen.
betina lokal dengan kriteria umur 2,5-3,5 tahun,
sehat, tidak bunting, pernah Persentase kelahiran yaitu jumlah kambing yang
berhasil melahirkan dibagi dengan jumlah kambing
Jurnal Veteriner yang dikawinkan dan dinyatakan dalam persen.

Jumlah anak per kelahiran yaitu jumlah anak


kambing lahir dari tiap ekor kambing
melahirkan, dan mempunyai bobot badan yang
Analisis Data
relatif sama. Seluruh kambing dibagi dalam 2
kelompok perlakuan, masing-masing terdiri dari 4
ekor sebagai kelompok kontrol dan 6 ekor sebagai Data persentase berahi, kebuntingan dan kelahiran
kelompok perlakuan. Bahan yang digunakan dalam dilaporkan secara deskriptif sedangkan jumlah anak
penelitian ini adalah cloprostenol (Estroplan Inter- per kelahiran dianalisis menggunakan uji-t (Sudjana,
Ag, Hamilton, NZ), hCG (Chorulon, Intervet, 2005).

31
Jurnal Veteriner Maret 2010
Persentase Berahi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua


HASIL DAN PEMBAHASAN kambing pada kedua kelompok perlakuan
memperlihatkan berahi (100%) seperti yang terlihat setelah berahi akibat pemberian PGF2 yang
pada Tabel 1. Tanda- tanda berahi yang terlihat pertama. Demikian juga dengan penelitian Perera et
sesuai dengan pernyataan Murtidjo et al,. (1993), al. yang disitasi oleh Devendra dan Burns (1994) di
bahwa pada waktu berahi yang terlihat kambing Srilangka mendapatkan hasil 5 dari 6 ekor kambing
betina menunjukkan tanda-tanda gelisah, ekor berahi, setelah diinjeksi dengan cloprostenol (analog
diangkat dan digoyang-goyangkan, berusaha PGF2 sintesis) secara ganda dengan dosis 125 g
mendekati kambing jantan, mengembik, vulva dengan interval waktu 10 hari. Injeksi awal
bengkak dan berwarna kemerahan, lembab dan bila prostaglandin F2 akan menyebabkan kambing
diraba terasa hangat serta mengeluarkan cairan mencapai fase pertengahan luteal dari siklus berahi.
(lendir) yang jernih. Respon kambing lokal terhadap Injeksi kedua akan efektif memper-singkat masa
metode pemberian PGF2 dapat menyebabkan hidup korpus luteum dengan cara melisisnya
regresinya korpus luteum fungsional dan (Hunter, 1995). PGF2 efektif dalam meregresi
memungkinkan dimulainya siklus yang baru, yang korpus luteum fungsional tidak pada korpus luteum
dinyatakan dalam bentuk timbulnya berahi. yang sedang tumbuh (Partodihardjo, 1992).

Tingginya persentase berahi pada kelompok kontrol Timbulnya berahi akibat pemberian PGF2
(K0) sesuai dengan laporan Siregar et al., (2001) disebabkan karena lisisnya korpus luteum oleh kerja
yang memperoleh persentase berahi 100% pada vasokontriksi PGF2 sehingga aliran darah menuju
kambing lokal yang diinduksi dengan PGF2 secara korpus luteum menurun secara drastis (Toelihere,
intramuskuler maupun intravulva. Heinonen et al., 1981). Akibatnya, kadar progesteron yang dihasilkan
(1996) mendapatkan persentase berahi pada sapi oleh korpus luteum akan menurun di dalam darah.
yang mendapatkan perlakuan prostaglandin F2 Penurunan kadar progesteron akan merangsang
secara intrauterin sebesar 62,5% dan sapi yang hipofisis anterior menghasilkan dan melepaskan
mendapat perlakuan prostaglandin F2 secara follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing
intramuskuler sebesar 60,6%. Hal ini menunjukkan hormone (LH). Kedua hormon ini bertanggung
bahwa kambing yang digunakan pada penelitian ini jawab dalam proses folikulogenesis dan ovulasi,
mempunyai respon yang baik terhadap pemberian sehingga terjadi pertumbuhan dan pematangan
PGF2 secara ganda dengan interval 11 hari. folikel. Folikel-folikel tersebut akhirnya
menghasilkan hormon estrogen yang mampu
memanifestasikan gejala berahi (Hafez, 1993).
Tingginya persentase kambing yang berahi setelah
penyuntikan ke-2 menunjukkan bahwa prostaglandin Apabila dibandingkan dengan penelitian Gustari et
F2 efektif untuk sinkronisasi mulai fase al., (1996) dan Heinonen et al., (1996) persentase
pertengahan luteal. Hal ini sesuai dengan hasil berahi yang diperoleh pada penelitian ini tergolong
penelitian Nuti et al., (1992) bahwa semua kambing tinggi. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh
(100%) menunjukkan berahi setelah pemberian perbedaan breed dan jenis ternak yang digunakan.
PGF2 pada hari ke-12 Kedua penelitian di atas masing-masing
menggunakan kambing peranakan Ettawa dan sapi.
Vol. 11 No. 1 : 30-35
Pada kelompok perlakuan (KII), terjadinya berahi
akibat sinergis kerja antara hCG dengan estradiol.
Hormon hCG dan estradiol lebih efektif

Tabel 1. Pengaruh perlakuan hormonal terhadap persentanse berahi, kebuntingan, kelahiran, jumlah anak dan
rataan per kelahiran pada kambing lokal

Status kambing betina (ekor)


Jumlah
Rataan

Kelompok
n

anak lahir
jumlah
Berahi (%)
Bunting (%)
Melahirkan (%)

sekelahiran

KI
4
4 (100)
3 (75,00)
3 (75,00)
6
2,01,0

KII
6
6(100)
5 (83,33)
5 (83,33)
7
1,40,3

n = Jumlah sampel

32
Siregar etal Persentase Kebuntingan

Pada Tabel 1 terlihat persentase kebuntingan pada


kedua kelompok menunjuk-kan bahwa kambing
pada fase folikuler (Lofez- Gatius, 2000a) atau luteal yang berahi kemudian diinseminasi tidak semuanya
awal (Lopez-Gatius, 2000b). Injeksi PGF2 akan berhasil bunting. Pemberian PGF2 dengan
menggiring fase berahi hewan menuju fase folikuler, menggunakan protokol standar secara intramuskular
sedangkan hewan yang tidak respon terhadap menghasilkan angka kebuntingan sebesar 75,00%
PGF2 pada saat tersebut kemungkinan telah berada dan dengan sistem sinkronisasi singkat
pada fase folikuler atau luteal awal. menghasilkan 83,33%. Hasil penelitian ini sedikit
berbeda dengan hasil penelitian Heinonen et al.,
(1996) pada sapi sebesar 66,7% dan Atmamihardja
(1982) pada kambing kacang sebesar 90%.
Heinonen et al., (1996) mem-berikan prostaglandin Budiarsana dan Sutama (2001) melaporkan hasil
F2 secara intrauterin sedangkan Atmamihardja penelitian dengan IB terjadwal 20-25 dan 35-40 jam
(1982) secara intramuskular. setelah awal berahi pada kambing peranakan Ettawa
yang dilakukan meng-hasilkan persentase kelahiran
masing-masing sebesar 37,5 dan 40,9%. Selanjutnya
Budiarsana dan Sutama (2001) menyatakan salah Sadat (2003) melaporkan persentase kelahiran
satu penyebab rendahnya persentase kebuntingan sebesar 66,6% pada kambing yang dikawinkan
pada kambing adalah karena sebaran waktu ovulasi setelah diberi CIDR-G selama 17 hari. Perbedaan
yang sangat panjang sedang waktu kapasitasi persentase kelahiran pada penelitian tersebut
spermatozoa relatif lebih cepat. Peningkatan kemungkinan karena perbedaan waktu dan jumlah
persentase kebutingan setelah pemberian hCG akan perkawinan yang dilakukan. Secara umum diketahui
mengakibatkan waktu ovulasi lebih cepat dan bahwa persentase kebuntingan dan kelahiran akan
bertindak sebagai kontrol terbaik untuk ovulasi lebih tinggi jika ternak dikawinkan secara alami
(Lopez- Gatius, 2000b). Selanjutnya, Hansel et al., dibandingkan perkawinan secara IB. Frekuensi
(1997) menemukan hubungan antara peningkatan perkawinan yang tinggi akan memperbesar peluang
dosis hCG dengan mengurangi efek yang tidak keberhasilan dari fertilisasi.
diinginkan terhadap kebuntingan.

Mekanisme kerja hCG dalam meningkat-kan angka


kebuntingan mungkin disebabkan optimalisasi Jumlah Anak Sekelahiran
fungsi korpus luteum dan peningkatan produksi
hormon progesteron. Peningkatan sintesis hormon Data total jumlah anak lahir dan rataan jumlah anak
progesteron dihasilkan dari hipertrofi sel- sel luteal sekelahiran (litter size) pada kambing lokal dapat
pada korpus luteum yang terbentuk secara spontan dilihat pada Tabel 1. Jumlah anak yang lahir pada
(Hermel dan Britt., 1986) dan pembentukan korpus kelompok kontrol adalah 6 ekor dengan rataan
luteum assesoris (Rajamahendra dan Sianangama, jumlah anak sekelahiran 2,01,0 dan pada kelompok
1992). Pemberian hCG akan mencegah terjadinya perlakuan adalah 7 ekor dengan rataan jumlah anak
regresi luteal yang merupakan faktor utama sekelahiran 1,40,3. Hasil uji-t menunjukkan jumlah
terjadinya kematian embrio dini (Hamdan dan anak per kelahiran yang tidak berbeda nyata antara
Siregar, 2004). kedua kelompok. Jumlah anak yang dilahirkan
ternyata tidak dipengaruhi oleh pemberian hCG. Hal
Jurnal Veteriner ini bertolak belakang dari pernyataan Situmorang
(2005) yang menyatakan salah satu faktor yang
mempengaruhi jumlah embrio adalah tingkat
hormon LH sebelum ovulasi.
Persentase Kelahiran

Data persentase kelahiran kambing yang diperoleh


dari penelitian ini seperti terlihat pada Tabel 1. Pada
kelompok kontrol, 3 ekor induk bunting dan berhasil SIMPULAN
melahirkan, sedangkan untuk kelompok perlakuan, 5
ekor induk yang mengalami kebuntingan juga
Sistem sinkronisasi singkat dapat meningkatkan
berhasil melahirkan. Persentase kelahiran pada
persentase kebuntingan dan kelahiran, dan tidak
kelompok kontrol dan perlakuan masing-masing
mempengaruhi jumlah anak yang dilahirkan.
adalah 75,00 dan 83,33%.

33
Jurnal Veteriner Maret 2010
UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Rektor


SARAN Universitas Syiah Kuala dan Dekan Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala atas
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada ternak kepercayaan yang diberikan melalui Hibah
pada satu galur kesuburan yang sama terhadap Penelitian SP4 Pengembangan Jurusan Klinik
jumlah anak per kelahiran. Veteriner Tahun Anggaran 2007. Selanjutnya,
terimakasih kepada Saudara Suryadi dan Dewi
Syafrina yang telah memberikan kontribusi yang Trop Anim Hlth Prod 28:121 125. Hunter RHF.
besar sehingga penelitian ini dapat dilaksanakan 1995. Fisiologi Teknologi
dengan baik.
Reproduksi Hewan Betina Domestik. Terjemahan D.
K. Harya Putra. Bandung Penerbit ITB.
DAFTAR PUSTAKA
Kaltenbach CC, Dunn JG. 1993. Endocrinology of
Dinas Peternakan NAD. 2006. Laporan Tahunan reproduction. In Hafez ESE. (Ed):
Dinas Peternakan Propinsi Nanggroe Aceh
Darussalam, Banda Aceh. Reproduction in farm animals. Philadelphia:Lea and
Febiger.
Atmamihardja, S. 1982. Derajat kebuntingan
kambing kacang yang berahinya diseragamkan Lopez-Gatius F. 2000a. Short synchronization
dengan PGF2 serta dikawinkan secara alami, system for cycles in dairy heifers: a preliminary
inseminasi buatan dengan mani cair dan beku report. Theriogenology 54 (8): 1186-1190.
butiran. (Tesis). Bogor: IPB Bogor.
Lopez-Gatius F. 2000b. Reproductive performance
Budiarsana IGM, Sutama IK. 2001. Fertilisasi of lactatin of dairy cows treated with cloprostenol,
kambing peranakan Ettawah pada perkawinan alami hCG, and estradiol benzoate treatment on berahi
dan inseminasi buatan. Dalam: Prosiding Seminar synchronization of berahi followed by time AI.
Nasional Peternakan dan Veteriner, Bogor. Pp:85-92. Theriogenology 54 (2): 551-558.

Davendra C, Burns M. 1994. Goat Production in the Murtijdo BA. 1993. Memelihara Kambing Sebagai
Tropic. Common Wealth. Agriculture Bureaux. Ternak Potong dan Perah. Yogyakarta. Kanisius.
Farnham Royal, England.
Nuti L.J, Bretzlaff KN,. Elmore RG, Meyers SA,
Gall CWP, Phillipe H. 1981. Perspective on Regsla JN, Brinslev SP, Blahohard TL, Weston PG.
utilization goats. Anim Res Developmt. 19:7-16. 1992. Synchronnization of estrus in dairy goat
treated with PGF2 various stages of the oestrus
Gustari S, Kusumawati A, Subagyo S, Putro PP. cycle. Am J Vet Res 52:934-937
1996. Pemberian prostaglandin secara intrauterin
untuk induksi berahi pada kambing peranakan Partodihardjo S. 1992. Ilmu Reproduksi Hewan.
Ettawa. Bull. FKH-UGM XV(1&2):1-8 Jakarta. Penerbit Mutiara.

Hafez ESE. 1993. Semen evaluation. In Hafez ESE. Rajamahendra R. Sianangama PC. 1992. Effect of
(Ed): Reproduction in farm animals. Philadelphia. dominant follicles in cows: formation of accessory
Lea and Febiger. corpora lutea, progesterone production and
pregnancy rates. J Reprod Fert 95:577-584.
Hamdan dan Siregar TN. 2004. Perbandingan sistem
sinkronisasi singkat dengan sistem sinkronisasi Sadat A. 2003. Pengaruh kehadiran pejantan dengan
standar terhadap tampilan berahi kambing lokal. breed yang berbeda pada sinkronisasi berahi dengan
JIIP VII (3) : 17-22. CIDR-G pada kambing dara lokal. Banda Aceh:
FKH-Unsyiah.
Vol. 11 No. 1 : 30-35
Siregar TN, Riady G, Al Azhar, Budiman H,
Armansyah T. 2001. Pengaruh pemberian
prostaglandin F2 alfa terhadap tampilan reproduksi
Heinonen K, Shieferans T, Heinonen M. 1996. kambing lokal. J Medika Vet 1(2):61-65.
Oestrus synchronization in ethiopian highland zebu
cattle by means of intravaginal cloprostenol Situmorang P. 2005. Pengaruh pemberian hormon
administration. hCG pada perlakuan superovulasi ternak kerbau.
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner. 10 (4) : 286-
29
2
Subandriyo, Setiadi PS. 1986. Produktivas ternak kambing domba. Makalah disampaikan pada Seminar Regional
pada stasiun percobaan Cilebut, Bogor. Ilmu Peternakan 3 Prospek Pengembangan Ternak Kambing/Domba di
(1):5-8. Indonesia di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya,
Malang, 25 Oktober 2003.
Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung. Tarsito
Toelihere MR. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak.
Sumoprastowo M. 1980. Beternak Kambing yang Berhasil. Bandung. Angkasa.
Jakarta. Bharatara Karya Aksara.

Suyadi. 2003. Potensi reproduksi ternak kambing dan


Buletin Peternakan Vol. 35(1): 17-23, Februari 2011 ISSN 0126-4400

KARAKTERISTIK DAN ORGAN REPRODUKSI BETINA KANGURU POHON KELABU


(Dendrolagus inustus) DI PAPUA

THE CHARACTERISTICS AND FEMALE REPRODUCTIVE ORGAN OF GRAY TREE KANGAROO


(Dendrolagus inustus) IN PAPUA

Johan Fredrik Koibur1*, Kustono2, dan Diah Tri Widayati2


1
Fakultas Peternakan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Negeri Papua, Jl. Gunung Salju, Amban, Manokwari,
Papua Barat, 98314
2
Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Jl. Fauna No. 3, Bulaksumur, Yogyakarta, 55281

ABSTRACT

Lima ekor betina Kanguru Pohon Kelabu (Dendrologus inustus) dewasa dengan rerata umur 1 s/d 2,5 tahun, bobot
badan 10,83 kg dan panjang tubuh 72,8 cm, dibedah memakai peralatan bedah dan diambil organ reproduksinya.
Karakteristik organ reproduksi didokumentasikan dengan kamera digital, diukur dan ditimbang. Penelitian ini
menggunakan metode studi eksperimen deskriptif dengan teknik studi kasus. Analisis data menggunakan statistik
deskriptif dan korelasi bagi beberapa informasi yang dibutuhkan lalu ditampilkan dalam nilai rerata dan standar deviasi
(SD). Hasil pengamatan diperoleh panjang organ reproduksi betina D. inustus berkisar 18,880,78 cm (kiri) dan
19,000,78 cm (kanan) dengan panjang ovarium berkisar 1cm (kiri/kanan) dengan berat berkisar 0,590,85 g (kiri) dan
1g (kanan). Diameter dan panjang tuba fallopi, cornu uteri, corpus uteri, dan serviks masing- masing adalah: 0,570,01
mm (kiri) dan 0,600,01 mm (kanan), dan 3,00 (kiri) dan 3,260,18 cm (kanan); 0,540,02 mm (kiri) dan 0,560,02
mm (kanan), dan 4cm (kiri) dan 4,80,45 cm (kanan); 1,160,09 mm (kiri) dan 1,30,12 mm (kanan), dan 1cm; 0,3mm
(kiri/kanan) dan 3cm (kiri/kanan), sedangkan panjang vagina dan vulva berturut-turut adalah 4 dan 2 cm. Hasil studi
menunjukkan bahwa bentuk dan model organ reproduksi D. inustus menyerupai organ betina mamalia umumnya,
namun semua organ berjumlah dua dengan sekat yang tampak jelas serta ukurannya yang berbeda.

(Kata kunci: Kanguru Pohon Kelabu, Organ reproduksi betina)

ABSTRACT

Five females of 1 up to 2.5 years old Gray Tree Kangaroo (Dendrologus inustus), 10.83 kg body weight and 72.8 cm
body length were dissected, and then the reproductive organ were observed for its morphology, length, and weight using
digital camera, tape measured and scale. This study used experimental studies-descriptive case study technique,
statistical analytic and correlation displayed in the average value and standard deviation (SD). The length of female D.
inustus reproductive organ was 18.880.78 cm (left) and 19.000.78 cm (right). The length of ovarian was 1 cm
(left/right), the weights of left and right of ovarian weight were 0.590.85 g (left) and 1 g (right), respectively. Diameter
and length of fallopian tube, uterine horn, corpus uteri, and cervical were 0.570.01 mm (left) and 0.600.01 mm
(right) and 3.00 cm (left) and 3.260.18 cm (right); 0.540.02 mm (left) and 0.560.02 mm (right) and 4 cm (left) and
4.80.45 cm (right); 1.160.09 mm (left) and 1.30.12 mm (right) and 1 cm (left/right); 0.3 mm (left/right) and 3 cm
(left/right), respectively. Length of vagina and vulva were 4 and 2 cm, respectively. The result showed that shape and
model of D. inustus reproductive organs were similar with the mammalian female reproductive organs in general but all
of the organs have two sparated parts with different sizes.

(Key words: Female reproductive organs, Gray Tree Kangaroo)

_________________________________

* Korespondensi (corresponding author): Telp.+62 852 3466 2992

E-mail: koiburdipapua@yahoo.com
Johan Fredrik Koibur et al. Karakteristik dan Organ Reproduksi Betina Kanguru Pohon Kelabu di Papua

Pendahuluan makan, minum, bermain, beristirahat dan


reproduksi telah dilakukan Yepasedanya (2003).
Papua yang merupakan penyumbang ke- Secara khusus untuk tingkah laku reproduksi pada
anekaragaman hayati terbesar di Indonesia, secara penelitian ini hanya merupakan data sekunder jadi
khusus untuk keberadaan satwa liar dilaporkan oleh intensitas pengamatan dan spesifik tingkah laku
WWF Regional Papua (2007) bahwa keberadaan reproduksi-nya kurang tergambarkan.
satwa liar di Papua mulai terancam dan mengarah Sifat-sifat reproduksi Kanguru Pohon Kelabu betina
pada kelangkaan dan kepunahan. Hal ini disebabkan menyangkut dewasa kelamin, tingkah laku kawin
karena Papua kaya akan deposit dan minyak bumi terutama karakteristik organ reproduksi betina
sehingga menarik para investor untuk melakukan (struktur dan morfologi) adalah informasi dasar
eksploitasi tambang dan gas secara besar-besaran. (database) yang mestinya diketahui dalam upaya
Ancaman lainnya adalah rencana pembangunan pengembangan satwa ini ke depan.
wilayah seperti pembangunan area industri berskala Demi menjawab permasalahan di atas di-butuhkan
besar di Mamberamo, perluasan perkebunan kelapa suatu penelitian yang dapat memberikan gambaran
sawit, pembangunan jalan Trans-Papua, konsesi kondisi nyata ukuran dan bentuk organ reproduksi
hutan dan pengembangan wilayah pemukiman Kanguru Pohon Kelabu betina, sehingga penelitian
penduduk sebagai akibat dari pengembangan ini dianggap penting untuk dilakukan.
wilayah pemerintahan di seluruh Papua.
Penelitian ini bertujuan mempelajari karak-teristik
Kanguru Pohon (Dendrolagus sp) adalah salah satu organ reproduksi Dendrolagus inustus betina. Hasil
satwa endemik Papua yang merupakan satu dari dua penelitian ini diharapkan dapat menjadi
jenis mamalia darat terbesar di Papua yang telah pengetahuan baru di dunia biologi khusus-nya
dikenal dan dimanfaatkan oleh masya-rakat Papua. reproduksi tentang karakteristik organ repro-duksi
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian betina Dendrolagus inustus serta sebagai informasi
Nomor 247/Kpts/Um/4/1979 tanggal 5 April 1979, dan acuan bagi mahasiswa, masyarakat, pemerhati
spesies ini termasuk dalam spesies satwa yang satwa, pemerintah daerah dan semua pihak yang
dilindungi oleh pemerintah (Primack et al., 1998), berkeinginan untuk melaksanakan budidaya D.
tetapi intensitas perburuan terhadap satwa ini terus inustus.
berlangsung. Petocz (1987) menyata-kan bahwa
satwa ini merupakan hewan yang sering diburu oleh Materi dan Metode
masyarakat Papua yang berada dekat dengan hutan-
hutan primer dan lindung di Papua untuk Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Sub
dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani selain Laboratorium Reproduksi Ternak, Kesehatan
Macropus sp, bandikut, phalangeridae, serta satwa Hewan, dan Satwa Liar pada Laboratorium
unggas lain. Koibur (2006) melaporkan di Produksi Ternak, Jurusan Produksi Ternak, Fakultas
Angkaisera Yapen Papua, Kanguru Pohon Kelabu Peternakan Perikanan dan Ilmu Kelautan,
(Dendrolagus inustus) diburu oleh masyarakat Universitas Negeri Papua, Manokwari, Papua Barat.
menggunakan senjata tradisional (parang, tombak, Penelitian dilakukan mulai September 2009 sampai
busur-panah), senjata modern dan jerat untuk dengan September 2010.
dikonsumsi dan dijual dalam bentuk hidup atau
mati dengan harga Rp. 500.000,00 Materi
1.000.000,00/ekor. Yepasedanya (2003) dan Gombo
(2004) melapor-kan D. inustus dapat hidup dengan Penelitian ini menggunakan lima (5) buah organ
baik di penangkaran serta cepat beradaptasi dengan reproduksi betina Kanguru Pohon Kelabu (D.
lingkungannya yang baru. inustus) dewasa. Peralatan yang digunakan antara
lain: seperangkat alat bedah, timbangan kapasitas
Pengetahuan tentang reproduksi Kanguru Pohon 200 g (Ohause Jepang), penggaris/pita ukur,
umumnya dan Kanguru Pohon Kelabu khususnya di timbangan gantung digital kapasitas 25 kg, parang,
Papua masih sangat terbatas atau bahkan belum kayu, calliper, kamera, dan alat tulis menulis.
sama sekali diungkapkan dalam berbagai penelitian.
Penelitian-penelitian selama ini hampir semuanya Metode
pada kanguru yang terdapat di Australia. Aspek
reproduksi sangat vital dalam pengembangan suatu Metode studi eksperimen- deskriptif dengan teknik
satwa atau ternak, tanpa pengetahuan tentang studi kasus. Karakteristik organ reproduksi betina
reproduksi maka upaya- upaya budidaya dan D. inustus adalah kasus yang diteliti. Pelaksanaan
pengembangan suatu satwa atau ternak akan sia-sia penelitian dilakukan dalam 2 tahap, yaitu persiapan
belaka. Penelitian tentang tingkah laku harian penelitian dan pelaksanaan penelitian.
Kanguru Pohon Kelabu di dalam penangkaran yang Persiapan penelitian mencakup, pengadaan D.
menyangkut tingkah laku
inustus, dan penyediaan sarana prasarana

Buletin Peternakan Vol. 35(1): 17-23, Februari 2011 ISSN 0126-4400

penelitian. D. inustus yang dipakai pada penelitian Pengukuran panjang keseluruhan organ reproduksi
ini dibeli dari masyarakat di Kab. Kepulauan Yapen D. inustus dari ujung bagian atas ovarium hingga
seharga Rp. 1.500.000,00/ekor dan Kab. ujung bawah klitoris menggunakan mistar/pita ukur
Manokwari Rp. 1.000.000,00/ekor. D. inustus dari dengan memakai rerata hasil pengukuran antara
Kab. Kepulauan Yapen lalu dimuat dengan kapal panjang dari ovarium hingga klitoris kanan dan
laut ke Kab. Manokwari sebagai lokasi pelaksanaan panjang ovarium hingga klitoris kiri sebagai
penelitian, menempuh jarak 1.500 mil selama 14 panjang keseluruhan tiap sisi organ reproduksi
jam perjalanan. Proses pembelian dan betina D. inustus dalam satuan cm.
pengangkutan terjadi dalam 2 periode yaitu pada Panjang ovarium D. inustus diukur meng-gunakan
pertengahan September 2009 sebanyak 2 ekor dan pita ukur dalam satuan cm. Cara pe-ngukurannya
awal Desember 2009 sebanyak 1 ekor. Sedangkan adalah pita ukur pada angka 0 (nol) diletakkan pada
D. inustus yang berasal dari Kab. Manokwari dibeli ujung bawah ovarium lalu ditarik hingga ujung atas
pada Maret 2010 sebanyak 1 ekor dan Juli 2010 ovarium, dan dibaca panjang ovarium. Rerata
sebanyak 2 ekor. panjang ovarium kanan dan kiri dinyatakan sebagai
kisaran panjang ovarium D. inustus.
Dalam pelaksanaan penelitian dilakukan beberapa Berat ovarium diukur menggunakan tim-bangan
kegiatan yaitu identifikasi/penafsiran umur dan analitik merek Ohause berkapasitas 200 g. Cara
pembedahan. Sebelum D. inustus yang di-peroleh pengukurannya adalah mengaktifkan tim-bangan
dibedah untuk diambil organ reproduksinya terlebih analitik Ohause dan menormalkan skalanya hingga
dahulu diidentifikasi/ditafsir umurnya, hal ini mencapai angka 0 (nol), lalu ovarium diletakkan
dimaksud untuk menyeragamkan umur D. inustus, pada timbangannya maka akan terbaca berat
sehingga data ukuran organ reproduksi yang ovarium yang ditampilkan pada skala timbangan
diperoleh juga berada pada kisaran tingkat analitik Ohause dalam satuan gram (g). Rerata berat
kedewasaan D. inustus yang sama. Tafsiran ovarium kanan dan kiri dinyatakan sebagai kisaran
umur/kedewasaan D. inustus merujuk pada berat berat ovarium D. inustus.
badan saat ditimbang, panjang tubuh saat diukur
dan informasi lama dipelihara oleh pemiliknya Panjang tuba fallopii diukur menggunakan
sebelum dibeli untuk menaksir lama hidup yang mistar/pita ukur dalam satuan cm. Cara pe-
tentunya dapat menjadi gambaran umur D. inustus ngukurannya dengan meletakkan mistar/pita ukur
saat ini. Lima ekor D. inustus yang dipakai organ pada skala 0 (nol) di ujung bawah tuba fallopii yang
reproduksinya adalah yang ditafsir memiliki umur 1 bertautan dengan cornu uteri dan membaca angka
s/d 2,5 tahun. terakhir pada mistar/pita ukur yang tampak pada
ujung bagian atas tuba fallopii yang bertautan
Proses pembedahan didahului dengan mem-bunuh dengan ovarium. Rerata panjang tuba fallopii kanan
D. inustus. Proses pembunuhan D. inustus dan kiri dinyatakan sebagai kisaran panjang tuba
dilakukan mengikuti pola masyarakat saat mem- fallopii D. inustus.
bunuh D. inustus untuk dikonsumsi, yaitu memukul
bagian belakang kepala D. inustus hingga mati Diameter tuba fallopii diukur menggunakan
menggunakan alat tumpul, kemudian dibedah calliper dalam satuan mm. Cara pengukurannya
memakai peralatan bedah yang telah disiapkan dengan meletakkan tuba fallopii pada tangkai skala
untuk diambil organ reproduksi betinanya, lalu calliper lalu merapatkannya hingga tuba fallopii
dibersihkan organ reproduksi tadi dari lemak, kulit tertekan pada kedua sisi, dengan demikian dapat
dan darahnya, dan mengamati organ reproduksi terbaca diameter tuba fallopii. Rerata diameter tuba
betina D. inustus. fallopii kanan dan kiri dinyatakan sebagai kisaran
diameter tuba fallopii D. inustus.
Variabel pengamatan Panjang cornu uteri diukur menggunakan
mistar/pita ukur dalam satuan cm. Cara pe-
Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi ngukurannya dengan meletakkan mistar/pita ukur
variabel utama dan variabel penunjang. Varibel pada skala 0 (nol) di ujung bawah cornu uteri yang
utama adalah karakteristik organ reproduksi betina bertautan dengan corpus uteri dan membaca angka
yang terdiri atas bentuk/morfologi dan panjang terakhir pada mistar/pita ukur yang tampak pada
organ reproduksi betina, panjang dan berat ujung bagian atas cornu uteri yang bertautan
Ovarium, panjang dan diameter tuba fallopii, dengan tuba fallopii. Rerata panjang cornu uteri
panjang dan diameter cornu dan corpus uteri, kanan dan kiri dinyatakan sebagai kisaran panjang
panjang dan diameter luar serviks, serta ukuran cornu uteri D. inustus.
vagina dan vulva.
Johan Fredrik Koibur et al. Karakteristik dan Organ Reproduksi Betina Kanguru Pohon Kelabu di Papua
bertautan dengan vulva dan membaca angka
Diameter cornu uteri diukur menggunakan calliper terakhir pada mistar/pita ukur yang tampak
dalam satuan mm. Cara pengukurannya dengan
meletakkan cornu uteri pada tangkai skala calliper pada ujung bagian atas vulva yang bertautan dengan
lalu merapatkannya hingga cornu uteri tertekan vagina. Rerata panjang vulva kanan dan kiri di -
pada kedua sisi, dengan demikian dapat terbaca nyatakan sebagai kisaran panjang vulva D. inustus.
diameter cornu uteri. Rerata diameter cornu uteri
kanan dan kiri dinyatakan sebagai kisaran diameter Variabel penunjang yang meliputi bobot badan,
cornu uteri D. inustus. umur dan panjang tubuh Kanguru Pohon Kelabu.
Bobot badan diukur menggunakan tim-bangan
Panjang corpus uteri diukur menggunakan digital gantung kapasitas 25 kg. Umur di-duga
mistar/pita ukur dalam satuan cm. Cara pe- berdasarkan fase hidup saat ditangkap masyarakat,
ngukurannya dengan meletakkan mistar/pita ukur lama dipelihara sebelum dibeli, bobot badan dan
pada skala 0 (nol) di ujung bawah corpus uteri yang panjang tubuh saat penelitian. Panjang tubuh diukur
bertautan dengan serviks dan membaca angka menggunakan pita ukur (cm) dimulai dari moncong
terakhir pada mistar/pita ukur yang tampak pada hingga pangkal ekor Kanguru Pohon Kelabu.
ujung bagian atas corpus uteri yang bertautan
dengan cornu uteri. Rerata panjang corpus uteri Analisis data
kanan dan kiri dinyatakan sebagai kisaran panjang
corpus uteri D. inustus. Data yang dikumpulkan diolah dan dianalisis secara
statistik deskriptif dan korelasi untuk beberapa
Diameter corpus uteri diukur menggunakan bagian yang diperlukan dan ditampilkan dalam
calliper dalam satuan mm. Cara pengukurannya rerata dan standar deviasi (SD).
meletakkan corpus uteri pada tangkai skala calliper
lalu merapatkannya hingga corpus uteri tertekan Hasil dan Pembahasan
pada kedua sisi, dengan demikian dapat terbaca
diameter corpus uteri. Rerata diameter corpus uteri Pendugaan fase hidup kanguru pohon kelabu
kanan dan kiri dinyatakan sebagai kisaran diameter (D. inustus) betina
corpus uteri D. inustus.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa D.
Panjang serviks diukur menggunakan mis-tar/pita inustus yang digunakan rerata berumur 1,80,45
ukur dalam satuan cm. Cara pengukurannya dengan tahun. Umur D. inustus diduga berdasarkan bobot
meletakkan mistar/pita ukur pada angka 0 (nol) di badan, fase perkembangan saat ditangkap dan
ujung bawah serviks yang bertautan dengan vagina lamanya dipelihara oleh masyarakat sebelum dibeli,
dan membaca angka terakhir pada mis-tar/pita ukur dan panjang tubuh D. inustus saat penelitian.
yang tampak pada ujung bagian atas serviks yang Petocz (1994), melalui penelusurannya pada
bertautan dengan corpus uteri . Rerata panjang kehidupan Kanguru Pohon di Papua, menyatakan
serviks kanan dan kiri dinyatakan sebagai kisaran bahwa anak Kanguru Pohon masih mungkin berada
panjang serviks D. inustus. dalam kantung induknya hingga berumur 6 bulan
karena selama itu proses pertumbuhan dan per-
Diameter serviks diukur menggunakan cal-liper kembangan yang kedua terjadi hingga tumbuhnya
dalam satuan mm. Cara pengukurannya dengan bulu pada seluruh tubuh kanguru, setelah itu anak
meletakkan serviks pada tangkai skala cal-liper lalu tersebut akan hidup mandiri dengan mencari
merapatkannya hingga serviks tertekan pada kedua makanan sendiri namun tidak menutup ke-
sisi, dengan demikian dapat terbaca diameter mungkinan untuk kembali menyusui pada puting
serviks. Rerata diameter serviks kanan dan kiri induknya tanpa melukai saudaranya yang lebih
dinyatakan sebagai kisaran diameter serviks D. muda jika ada kelahiran berikutnya.
inustus.
Vagina diukur menggunakan mistar/pita ukur dalam Pendapat ini didukung Newsome (2002), atas
satuan cm. Cara pengukurannya dengan meletakkan risetnya pada Kanguru Merah di Australia Tengah
mistar/pita ukur pada angka 0 (nol) di ujung bawah yang mendapatkan anak kanguru selama kurang
vagina yang bertautan dengan vulva dan membaca lebih 200 hari masih berada dalam kantung
angka terakhir pada mistar/pita ukur yang tampak induknya dan baru secara penuh meninggalkan
pada ujung bagian atas vagina yang bertautan kantung induknya pada umur 240 hari. Bayi
dengan serviks. Rerata panjang vagina kanan dan kanguru lahir buta, tak berbulu dan tinggal di
kiri dinyatakan sebagai kisaran panjang vagina D. kantung induknya dengan mendapatkan makanan
inustus. melalui susu induknya, dan anak kanguru tersebut
Vulva diukur menggunakan mistar/pita ukur dalam masih berada di kantung induknya selama kurang
satuan cm. Cara pengukurannya dengan meletakkan lebih 9 bulan (Anonimus, 2005).
mistar/pita ukur pada angka 0 (nol) di klitoris yang
melalui bobot badannya. Kanguru Pohon Kelabu
Kematangan seks betina D. inustus dapat diduga betina dalam penelitian ini memiliki bobot badan
rerata 10,831,03 kg. Flannery (1995)

Buletin Peternakan Vol. 35(1): 17-23, Februari 2011 hambat.

melaporkan, Kanguru Pohon betina pada bobot


badan 8-10 kg telah mencapai dewasa kelamin.
Panjang tubuh Kanguru Pohon juga dapat menjadi
indikator kedewasaan. Hasil penelitian diperoleh
rerata panjang tubuh D. inustus 72,83,96 cm.
Flassy (2007) menyatakan seekor Kanguru Pohon
dengan panjang tubuh antara 500-800 mm telah
memasuki fase dewasa tubuh.

Karakteristik organ reproduksi betina kanguru


pohon kelabu

Organ reproduksi Kanguru Pohon Kelabu betina


yang diperoleh dalam penelitian ini, memiliki
susunan dan bentuk yang menyerupai organ-organ
reproduksi betina mamalia pada umumnya, dan
sepintas memiliki kemiripan dengan organ repro-
duksi betina anjing (Yatim, 1990). Akan tetapi
masing-masing organ tersebut berpasang-pasangan
dan dipisahkan oleh sekat yang jelas. Organ-organ
itu antara lain ovarium atau gonad sebagai alat
kelamin utama, saluran- saluran reproduksi yang
terdiri dari tuba fallopii, cornu dan corpus uteri,
serviks, vagina, dan organ kelamin luar yang terdiri
dari vulva dan klitoris.

Panjang organ reproduksi betina Kanguru Pohon


Kelabu yang diperoleh dalam penelitian ini berkisar
antara 18,880,78 cm (kiri) dan 19,000,77 cm
(kanan). Panjang organ reproduksi memiliki
korelasi positif dengan panjang tubuh dan berat
badan, namun tidak memiliki hubungan dengan
umur Kanguru Pohon Kelabu. Hafez (2000) me-
nyatakan bahwa panjang organ reproduksi individu
ternak memiliki hubungan positif dengan panjang
tubuh, bobot badan dan umur hidup individu ternak
itu sendiri. Tidak adanya hubungan umur Kanguru
Pohon Kelabu dengan bobot badan, panjang tubuh
dan panjang organ reproduksinya diduga akibat
minimnya materi yang dipakai dalam penelitian ini.
Ovarium D. inustus dari hasil penelitian di-ketahui
berbentuk oval, dengan kisaran panjang 1 cm
(kiri/kanan), dan kisaran berat antara 0,590,09 g
(kiri) dan 0,650,17 g (kanan). Berat ovarium D.
inustus sangat ringan jika dibandingkan dengan
berat ovarium pada sapi (10-20 g), domba (3-4 g)
dan kerbau (3,97 g) (Murti, 2002). Secara individu
Kanguru Pohon Kelabu 2 memiliki berat yang lebih
besar (0,93 g) pada ovarium kanan dan Kanguru
Pohon Kelabu 1 memiliki berat paling kecil (0,50 g)
pada ovarium kiri, kondisi ini diduga akibat dari
adanya perkembangan folikel di dalam ovarium
yang telah memasuki fase de Graaf dan per-
kembangan ovarium kiri khususnya maupun organ
kelamin betina D. inustus bagian kiri sedikit ter-
ISSN 0126-4400 cm (kiri) dan 3,260,18 cm (kanan). Panjang tuba
fallopii Kanguru Pohon Kelabu lebih pendek dari
Toelihere (1985) melaporkan bahwa besar ovarium panjang tuba fallopii beberapa mamalia lain (sapi
yang tentunya berpengaruh pada berat ovarium erat 25 cm; domba 15-29 cm; kerbau (22-28 cm) (Murti,
hubungannya dengan jumlah folikel de Graaf yang 2002); babi 15-30 cm dan kuda 20-30 cm) (Hafez,
terbentuk, lebih jauh dijelaskan jumlah folikel de 2000).
Graaf yang terbentuk tergantung pada hereditas dan
faktor-faktor lingkungan. Hardjo-pranjoto (1995) Cornu uteri D. inustus yang diperoleh pada
menegaskan adanya kejadian pada satu individu penelitian ini berbentuk tanduk bulat panjang
ternak, dapat terjadi pada salah satu organ atau sedikit lebih besar jika dibandingkan dengan tuba
keseluruhan salah satu bagian organ kelaminnya fallopii, memiliki kisaran diameter antara 0,54
(jantan maupun betina) kemungkinan mengalami 0,02 mm (kiri) dan 0,560,02 mm (kanan) dan
abnormalitas perkembangan yang ber-sifat genetik panjang berkisar 4,000,00 cm (kiri) dan 4,800,45
maupun lingkungan sehingga organ tersebut cm (kanan). Cornu uteri D. inustus lebih pendek
cenderung lebih besar atau kecil dari kondisi jika dibandingkan sapi (35-40 cm); domba (10-12
normal umumnya. Pendapat ini dibenarkan Hafez cm) dan kerbau (21,2 cm) (Murti, 2002).
(2000) yang menyatakan bahwa ada ke-
cenderungan salah satu atau seluruh bagian organ Kanguru Pohon Kelabu 2 memiliki diameter uterus
reproduksi (jantan maupun betina) bagian kiri (ter- yang lebih besar (0,60 mm) . Keadaan ini diduga
kadang kanan namun jarang ditemukan) mengalami merupakan pertanda belum sempurnanya proses
perkembangan yang tidak sempurna (rudimenter) involusi pada uterus karena Kanguru Pohon Kelabu
sehingga tampak sangat kecil bahkan tidak ada, 2 memiliki anak, yang umurnya kira-kira 1-2
yang diduga sebagai akibat pengaruh lingkungan minggu. Sharman (1970) berpendapat bahwa lama
maupun hereditas individu ternak dimaksud. bunting seekor kanguru adalah 33 hari. Ada
sebagian kanguru yang dapat langsung kembali
Tuba fallopii/oviduct D. inustus berbentuk bulat birahi lagi tanpa melalui proses involusi tetapi juga
kecil dan panjang, ujungnya menyerupai corong. ada sebagian yang membutuhkan waktu 1-2 minggu
Diameternya berkisar 0,570,01 mm (kiri) dan untuk proses involusi guna persiapan kebuntingan
0,600,05 mm (kanan), panjang berkisar 3,000,00 dan kelahiran berikutnya.
Johan Fredrik Koibur et al. Karakteristik dan Organ Reproduksi Betina Kanguru Pohon Kelabu di Papua

Corpus uteri D. inustus berbentuk bulat dan ketika Vulva berbentuk kumpulan daging yang memiliki
disentuh/dipegang terasa tebal, hasil peneliti-an penampakan hymen yang sangat jelas dengan
memperlihatkan diameter dan panjang corpus uteri kontur yang sangat lembut, sementara klitoris
D. inustus berkisar 1,160,09 mm (kiri) dan tampak seperti timbunan daging yang menyerupai
1,300,12 mm (kanan); 1,00 cm (kiri/kanan). kacang yang timbul keluar dari vulva. Rerata
Panjang corpus uteri pada D. inustus dibandingkan panjang vulva dalam penelitian ini mencapai 2 cm
dengan beberapa mamalia yang telah didomestikasi (kiri/kanan).
terdapat kedekatan ukuran maupun perbedaan yang
cukup mencolok seperti: sapi 2-4 cm; domba 1-2 Kesimpulan
cm; kerbau 1,75 cm (Murti, 2002); babi 5 cm dan
kuda 15-20 cm (Hafez, 2000). Organ kelamin betina Kanguru Pohon Kelabu
(Dendrolagus inustus) memiliki bentuk, model dan
Serviks D.inustus berbentuk bulat panjang, sebutan yang menyerupai organ kelamin betina
dipegang bagaikan daging berbentuk cincin yang mamalia umumnya akan tetapi keseluruhannya
bertumpuk dan sangat kenyal. Memiliki kisaran berpasangan dengan sekat pemisah yang jelas dan
panjang 3cm (kiri/kanan) dan diameter 0,3 mm berbeda ukuran. Organ kelamin betina Kanguru
(kiri/kanan). Bentuk serviks Kanguru Pohon Kelabu Pohon Kelabu (Dendrolagus inustus) bagian kanan
menyerupai bentuk serviks mamalia umumnya, mengalami perkembangan yang lebih sempurna dari
sebagaimana pendapat Toelihere (1985) bahwa bagian kiri. Perlu dilakukan penelitian lanjutan
bentuk serviks sapi, domba, babi dan kuda memiliki untuk mempelajari tingkah laku reproduksi dan
lumen yang berbentuk cincin annuler, sekrup fisiologi reproduksi Kanguru Pohon Kelabu dalam
pembuka botol dan memiliki lipatan-lipatan yang penangkaran.
jelas dan sangat alot atau kenyal ketika dipegang.
Kondisi ini disinyalir Hafez (2000) sebagai akibat Daftar Pustaka
dari sifat serviks yang selektif permiabel terhadap
segala zat yang hendak masuk ke dalam uterus. Anonimus. 2005. Reproduction Kangaroo. Avai-
lable at http://encarta.msn.com. Accession date:
Panjang serviks D. inustus ini lebih pendek dari April 10, 2009.
sapi (8-10 cm), domba (4-10 cm), kerbau (5,2-5,9
cm) (Murti, 2002), babi (10 cm) dan kuda (7-8 cm) Flannery, T. 1995. Mamals of New Guinea.
(Hafez, 2000). Perbedaan ini menurut Hafez (2000), Australian Museum.
Toelihere (1985), Partodihardjo (1982) dan Yatim Flassy, D.A. 2007. Fauna Tanah Kita untuk
(1990) disesuaikan dengan bentuk dan panjang Pengenalan di Sekolah dan Pengetahuan Umum.
penis jantan tiap hewan ini. Sharman (1970) dan Balai Pustaka. Jakarta.
King (2001), menyatakan serviks kanguru terdapat
dua pasang yang disesuaikan dengan bentuk penis Gombo, H. 2004. Tingkat kesukaan Kanguru Pohon
jantannya yang menyerupai garpu. Kelabu terhadap beberapa jenis pakan dalam
penangkaran di kampung Famboaman Distrik
Vagina D. inustus memiliki bentuk bulat panjang Yapen Selatan Kabupaten Yapen Waropen. Skripsi
dengan kontur yang lembut dan hymennya tampak Sarjana Peternakan FPPK UNIPA. Manokwari.
jelas, panjangnya mencapai 4 cm (kiri/kanan). Hafez, E.S.E. 2000. Anatomy of Female Repro-
Dibandingkan dengan mamalia lain kanguru duction, in Reproduction in Farm Animals, Hafez,
memiliki ukuran panjang vagina yang kecil, sapi
E.S.E. ad, 7th ed. Lea & Febiger. Philadelphia.
(25-30 cm) dengan hymen yang tidak jelas; domba
10-14 cm hymen berkembang baik; babi 10 -15 cm
hymen tidak jelas dan kuda 20-35 cm dengan Hardjopranjoto, S.H. 1995. Ilmu Kemajiran Pada
hymen yang berkembang baik (Hafez, 2000). Ternak. Airlangga University Press. Sura-baya.
Pendeknya ukuran vagina D. inustus diduga
berhubungan erat dengan panjang dan bentuk penis King, A. 2001. Discoveries about Marsupial
pejantannya, sebagaimana pendapat Sharman Reproduction. Available at www.biology.
(1970) dan King (2001). iastate.edu. Accession date: April 12, 2009.
Organ kelamin luar D. inustus berupa vulva dan
klitoris, pada penelitian ini diketahui bahwa Koibur, J.F. 2006. Perburuan Kanguru Pohon
ternyata vulva dan klitoris Kanguru Pohon Kelabu Kelabu (Dendrolagus inustus) dan pe-manfaatannya
juga terdapat 2 buah dan keduanya (kanan dan kiri) oleh masyarakat Angkaisera di Yapen Papua.
berkembang dengan baik. Sharman (1970) dan King Laporan Penelitian Dosen Muda Dirjen Dikti
(2001) menduga berkembang sempurnanya kedua Jakarta.
vulva dan klitoris (kanan dan kiri) berkaitan dengan
bentuk penis pejantan yang menyerupai garpu. Murti, T.W. 2002. Ilmu Ternak Kerbau. Percetakan
Kanisius, Yogyakarta. populations of the red kangaroo, Megaleia
Newsone, A.E. 2002. Reproduction in natural

Buletin Peternakan Vol. 35(1): 17-23, Februari 2011 ISSN 0126-4400

rufa (Desmarest), in central Australia. Aust. J. Zool. Toelihere, M.R. 1985. Fisiologi Reproduksi
13(5): 735-760. Pada Ternak. Penerbit Angkasa Bandung.
Partodihardjo, S. 1982. Ilmu Reproduksi Hewan. Bandung.
Penerbit Mutiara. Jakarta.
WWF Regional Papua. 2007. Laporan
Petocz, R.G. 1987. Konservasi Alam dan Pem- Tahunan. Jayapura.
bangunan Irian Jaya. Graffiti Press, Jakarta. Yatim, W. 1990. Reproduksi dan Embriologi.
. 1994. Mamalia Darat Irian Jaya. Gramedia. Penerbit PT. Tarsito. Bandung.
Jakarta. Yepasedanya, S. 2003. Tingkah laku harian
Kanguru Pohon Kelabu (Dendrolagus
Primack, R.B., J. Supriatna, M. Indrawan, dan P. inustus) dalam penangkaran di Kampung
Kramadibrata. 1998. Biologi Konservasi. Yayasan Famboaman Distrik Yapen Selatan Kabu-
Obor Indonesia, Jakarta. paten Yapen Waropen. Skripsi Sarjana
Peternakan FPPK UNIPA. Manokwari.
Sharman, G.B. 1970. Reproductive Physiology of
Marsupials. Science 167 (3922): 1221-1228.
STRUKTUR MORFOLOGIS DAN HISTOLOGIS
GONAD KEPITING KELAPA (Birgus
1
latro)
(Morphological and Histological Structures of Gonad of Coconut Crab
(Birgus latro))

Suzana Refiani2 dan Sulistiono3


ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur
morfologis dan histologis gonad kepiting kelapa (Birgus latro).
Struktur morfologis gonad jantan dan betina dideskripsikan
berdasarkan ukuran, keadaan per-mukaan, warna dan tingkat
kepenuhan dalam abdomen. Struktur histologis gonad jantan
dicirikan dengan a-danya spermatosit, spermatid dan
spermatofor dengan metode pewarnaan PAS -Hematoksilin,
sedangkan go-nad betina dideskripsikan berdasarkan
perkembangan oosit, keadaan nukleus, dan deposit kuning telur
de-ngan metode pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa secara morfologis testes
berwarna putih-kecoklatan, permukaan halus dan mengisi sekitar
5-40% abdomen, sedangkan ovarium ber-warna putih, abu-abu
sampai merah tua, permukaan halus sampai kasar, dan mengisi
sekitar 25-80% abdo-men. Secara histologis, pada testes terlihat
adanya spermatosit, spermatid, dan spermatozoa yang
terbungkus dalam spermatofor, sedangkan pada ovarium terlihat
adanya oosit yang berada pada stadia awal sampai ber-kembang.
Kata kunci: Struktur morfologis dan histologis gonad, kepiting
kelapa (Birgus latro).

ABSTRACT
The study was aimed to investigate the secondary
morphological and histological structures of gonad of coconut
crab (Birgus latro). Morphologically, male and female gonads
were described based on size, sur-face condition, colour and
ocupied stage in abdomen. Histologically, male gonad was
described based on ap-pearance of spermatocyte, spematid and
spermatophore using PAS-Hematoksilin method, while female
gonad was described on oocyte development, nucleus condition,
and deposit of oocyte using Hematoksilin-Eosin methods.
Morphologically, testes are smooths, white-brownish, and
occupied about 9-40% abdoment, while ovarium surface are
smooth-granule, whitish, grey-dark, red, and occupied about 25-
80% abdoment. His-tologically, the testes showed spermatocyte,
spermatid, and spermatozoa in spermatophore, while the
ovarium showed oocyte at premature-mature conditions.
Key words: Morphological and histological structures, gonad,
coconut crab (Birgus latro).
Kepiting kelapa menyebar luas
dari laut-an Pasifik Barat hingga
Samudra Hindia bagian timur.
Di daerah tersebut hewan ini
menempati pulau-pulau
berbatu di kawasan lautan.
Selain i-tu hewan ini juga hidup
di daerah pantai yang menyatu
dengan daratan kepulauan dan
umum-nya tidak dijumpai di
daerah karang atol karena di
wilayah tersebut sumber
makanan yang dibu-tuhkan
tidak memadai. Biota ini juga
tersebar di pulau-pulau kecil di
wilayah pantai Tanzania dan
Sentinal selatan (Andaman dan
PENDAHULUAN Nikobar), Kepulauan Keeling
Kepiting kelapa (Birgus dan Mauritius. Di Filipina
latro) pertama kali ditemukan dilaporkan bahwa kepiting
oleh Rumphius pada tahun kelapa hanya terda-pat di Pulau
1705. Hewan ini telah menarik Ilongo dan sebagian di Pulau
perhatian ba-nyak ahli biologi Cebu. Di kawasan Pasifik
yang mengunjungi pulau-pu- kepiting ini dapat dijumpai di
lau di Samudra Hindia dan Ryuku, Fiji, dan kepulauan
Pasifik. Kebanyakan literatur Marshall. Di Pa-pua Nugini
awal menulis tentang anekdot dapat ditemukan di Propinsi
kepiting ini dan lebih Manus, yakni Rantan, Sae dan
memperhatikan Los Negros (PPSDAHP
kemampuannya memindahkan 1987/1988)
dan membuka kelapa dari
pohon-nya. Dalam penelitian
yang lebih mendalam pa-da
tahun-tahun berikutnya
terdapat informasi yang
berkaitan siklus hidup, tingkah
laku, re-produksi, fisiologi, dan
anatominya (Brown dan Fielder
1991).
0 Diterima 6 Maret 2007 /
Disetujui 6 Maret 2009.
1 Dinas Kelautan dan Perikanan,
Provinsi Aceh.
2 Bagian Ekobiologi,
Departemen Manajemen
Sumberdaya Per-airan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia,
Juni 2009, Jilid 16, Nomor 1: 1-6
(n = 39 ekor) ditangkap dengan
Di wilayah Indonesia kepiting menggunakan ta-ngan (tanpa
kelapa ini dapat ditemukan di peralatan) dan perangkap kawat
kawasan Indonesia timur yaitu di berbentuk kotak, berukuran sekitar
pulau-pulau Sulawesi, Nusa 75 cm x 50 cm x 100 cm.
Tenggara, Maluku, dan Papua. Di Pengambilan contoh kepiting ke-
Sulawesi, kepiting kela-pa terdapat lapa dilakukan sejak bulan Juni
di wilayah Kepulauan Talaud (Sula- 2004 sampai dengan Februari
wesi Utara) (Rondo dan Limbong 2005 di Pulau Pasoso, Kabupa-ten
1990); Pulau Siompu, Tongali, Donggala, Sulawesi Tengah.
Kaimbulawa, dan Liwutong-kidi
(Sulawesi Tenggara) (Ramli 1997), Bahan dan Metode
Pulau Pasoso (Sulawesi Tengah) Gonad kepiting kelapa diambil
(Sulistiono et al. 2005), Pulau Yoi melalui pembedahan bagian
(Maluku Utara) (Sulistiono et al . abdomen. Gonad dikelom-pokkan
2008), sedangkan di Nusa berdasarkan jenis kelamin (jantan
Tenggara terdapat di pantai dan betina) dan tingkat
berbatu Pulau Yamdena (Monk et kematangannya. Struktur
al. 2000), dan di Kalimantan morfologis gonad ditentukan
terdapat di Pulau De-rawan. melalui pengamat-an terhadap
Di Indonesia, penelitian beberapa ciri antara lain: warna, u-
terhadap biota i-ni masih sangat kuran, dan tingkat kepenuhan
jarang dilakukan, terutama yang dalam abdomen. Untuk keperluan
berkaitan dengan keadaan histologis, gonad diawetkan dalam
morfologi atau-pun anatomi larutan bouin. Pengamatan
internal. Penelitian yang telah dila- struktur histologis gonad dilakukan
kukan berkaitan dengan melalui metode pewarna-an PAS-
keberadaan biota ini di alam dan Hematoksilin (untuk gonad jantan)
hubungannya dengan kondisi dan Hematoksilin-Eosin (untuk
habitat-nya (Ramli 1997). gonad betina).
Penelitian terhadap keadaan HASIL DAN PEMBAHASAN
morfologi dan histologi gonad ini
merupakan dasar bagi kegiatan Gonad Jantan
penelitian yang berkaitan dengan Sistem reproduksi kepiting
aspek reproduksi kepiting kelapa. kelapa jantan terdiri atas sepasang
Tuju-an dari penelitian ini adalah gonad atau testis yang se-cara
untuk mengetahui struktur khusus terdapat pada bagian
morfologis dan histologis dari
abdomen. Se-pasang gonad jantan
gonad kepiting kelapa (Birgus
menyatu dengan organ he-
latro).
patopankreas. Gonad jantan
BAHAN DAN METODA tersebut terdiri atas testis dan
saluran-salurannya (Gambar 1 dan
Lokasi dan Waktu
2). Dari hasil penelitian telah
Penelitian ini dilakukan di terlihat bahwa kepi-ting kelapa
Bagian Eko-biologi, Departemen jantan mempunyai alat untuk men-
Manajemen Sumberdaya Perairan, transfer spermatozoa yang telah
FPIK, IPB. Contoh kepiting kelapa matang dengan menggunakan
koksa dari pasangan kaki ke -lima di dalam abdo-men
periopoda (kaki jalan ke-lima). Alat kepiting kelapa.
untuk men-transfer sperma ini
mirip dengan penis atau klasper.
Hasil pengamatan ciri -ciri gonad
jantan secara morfologi
disampaikan pada Tabel 1.

Gambar 2. Organ kepiting


kelapa jantan de-ngan
berat gonad 7.87
gram dan panjang
gonad 8.2 mm terdiri
atas vas deferens
(Vd), Clasper (Cl), dan
Gambar 1. Posisi gonad jantan testis (Te).
Refiani S dan Sulistiono, Struktur Morfologis dan Histologis Gonad Kepiting
Kelapa
.....................................................................................................................
3
membentuk spermatozoa.
Tabel 1. Ciri morfologis gonad Pada penelitian ini, keadaan
jantan kepiting kelapa struktur his-tologis dari testis
(Birgus latro). kepiting kelapa memperlihat-kan
adanya aktivitas
Kond
isi spermatogenesis, ditandai dengan
kemata Ciri-ciri ditemukannya kumpulan sel-sel
ngan sper-matogenik dalam berbagai
Sepasang gonad jantan terdapat tahap. Hasil penga-matan secara
Tidak pada bagian abdo- histologis disampaikan pada Tabel
matan men. Gonad berwarna putih 2 dan Gambar 3.
g kekuningan, berukuran
kecil dan mengisi sekitar 5% dari
rongga abdomen. Tabel 2. Ciri histologis gonad
Gonad terdiri atas testis dan jantan kepiting kelapa
Awal saluran-salurannya (Birgus latro).
matan yang berbentuk tabung melingkar
g (spiral) berukuran Kondisi
sedang. Gonad berwarna putih kematang Ciri-ciri
kekuningan dan an
mengisi sekitar 10% dari Tidak berukuran kecil, ditemukan
rongga abdomen. matang spermatosit primer
Sedan Gonad terdiri atas testis dan
g saluran-salurannya
matan yang berbentuk tabung melingkar Awal Berukuran lebih besar,
g (spiral) berukuran matang ditemukan spermatid
cukup besar. Gonad berwarna Sedang Ditemukan adanya
putih kekuningan dan matang spermatozoa yang terbung-
mengisi sekitar 30% dari kus dalam kapsul
rongga abdomen. spermatofora
Matan Gonad terdiri atas testis dan Ukuran lebih besar
g saluran-salurannya dibandingkan sebelumnya.
yang berbentuk tabung melingkar Mata Ditemukan adanya
(spiral) berukuran ng spermatozoa yang terbung-
besar. Gonad berwarna putih kus dalam kapsul
susu dan mengisi spermatofora
kurang-lebih 40% dari
rongga abdomen.
Dalam testis, sel germinal Sediaan gonad jantan yang
primer ber-kembang menjadi sel diwarnai de-ngan pewarnaan PAS
gonial sekunder kemudian berfungsi untuk mende-teksi
membelah secara mitosis dan adanya karbohidrat yang bersifat
meosis. Pada ma-sa spermatosit, netral (Kiernan 1990), yang
pembelahan sel pertama dan sel terdapat di dalam sel-sel gonad
kedua akan membentuk dengan memperlihatkan PAS
spermatid. Secara nor-mal, empat positif
spermatid yang terbentuk berasal yang ditunjukkan dengan adanya
dari satu spermatosit. Pematangan
warna merah. Pada metode
spermatid se-lanjutnya akan
pewarnaan PAS digunakan perio-de testis kepiting kelapa
jantan
acid yang berfungsi dalam
memperlihatkan tu-
mengoksidasi gu-gus-gugus glikol buli dengan sel
menjadi aldehid. Aldehid ini spermatogenik pada
berbagai tahap yaitu
kemudian bereaksi dengan reagens
spermatosit primer
Schif. Se-lain itu PAS juga dapat (A), spermatid (B),
mendeteksi adanya ke-lompok Sperma-tozoa yang
sulphat ester, sialic acid, dan terbungkus di dalam
spermatofora yang
beberapa gula amino. Hasil berbentuk kap-sul (C)
penelitian sediaan histologi gonad (D), melalui
menunjukkan adanya reaksi PAS pewarnaan PAS (A-D)
positif yang menunjukkan adanya
Mathews (1953) melaporkan
karbohidrat di dalam sel-sel bahwa sa-yatan testis dari
spermatozoa kepiting kelapa, Dardanus punctulatus me-
sekaligus menandakan adanya nampakkan bentuk seperti koil,
berkelanjutan, dan memiliki
suatu aktivitas (aktivitas
dinding tabung tipis yang ber-
spermatogenesis). hubungan dengan banyak tubuli
terbuka. Po-tongan melintang
tubuli diamati pada semua tahap
kematangan. Tubulus yang belum
matang atau dewasa diisi dengan
sper-matosit primer berukuran
besar, tubulus yang lebih matang
di-isi dengan spermatid pada
semua tahapan me-tamorfosis.
Spermatid ini dikeluarkan dari tu-
bulus ke dalam tubula pengumpul
dari testis melalui proliferasi
spermatosit primer baru dari epitel
germinal pada masing- masing
tubulus. Sehingga spermatid yang
Gambar 3. Struktur histologis
telah mengalam
i
tamorfosis dan berusia tua yang Ukuran gonad terkecil terdapat
telah penuh ba-nyak didorong pada kepiting dengan panjang
keluar dari tubulus melalui per- karapas 5.27 mm (berat gonad
kembangan spermatosit primer 1.24 gram), se-dangkan ukuran
baru. gonad yang paling besar de-ngan
panjang karapas 1 010.6 mm
Penelitian mengenai tubulus
(berat gonad 58.73 gram).
adalah se-bagai suatu proses
ritmis. Proses ini akan meng- Gonad kepiting kelapa betina
hasilkan massa sperma secara (ovarium) yang diamati secara
kontinyu. Massa sperma yang tidak morfologi disampaikan pa-da Tabel
terdiferensiasi ini berukuran kecil 3. Perubahan morfologi ovarium
dan memasuki bagian proksimal baik, dari segi ukuran maupun
dari vas deferen. Mathew (1993) warna dipengaruhi oleh
menambahkan bahwa pada perkembangan sel telur terutama
dasarnya, sayatan testis dari dalam ber-tambahnya deposisi
Coenobita rugosus serupa dengan kuning telur di dalam sel telur.
D. punctulatus. Tubuli terbuka Bertambahnya jumlah kuning telur
sesaat, bergelung-gelung tinggi me-nyebabkan perubahan warna
menuju tubulus pengumpul. ovarium dan mem-besarnya sel
telur.
Sayatan dari testis kepiting
kelapa (B. latro) juga serupa Pada sediaan gonad kepiting
dengan testis D. punctulatus, dan kelapa be-tina yang diwarnai
C. rugosus. Terdapat semua tubuli dengan HE (Hematoksilin Eosin),
pada setiap tahap kematangan dapat terlihat struktur dan
dan aktivitas ritmisnya mampu komponen jaringan gonad
mengisi tubula pengumpul, kepiting. Dalam pewarnaan HE,
kemudian menjadi spermatid yang hematoksilin akan mewarnai inti
telah bermetamorfosis. dan akan menunjukkan warna biru,
Perbedaannya adalah pada sedangkan eosin merupakan
ukuran. Tubululi D. punctulatus warna asam yang akan mewarnai
dan C. rugosus secara umum lebih komponen basa dalam jaringan. Di
kecil daripada tubuli B. latro . dalam komponen sel, basa
Karena secara morfologi dan terdapat di dalam protein
fisiologi ukuran panjang dan berat sitoplasma sehingga eosin akan
B. latro lebih besar dari D. mewarnai sitoplasma dan akan
punctulatus dan
menunjukkan warna merah. Hasil
C. rugosus.
pengamatan strutur histologis
Gonad Betina gonad betina disampaikan pada
Tabel 4.
Menurut Mc Laughlin (1983)
sistem re-produksi betina pada Berdasarkan hasil
malacostraca adalah se-pasang pengamatan warna ovarium
ovarium atau sebuah ovari dan selama penelitian didapatkan
terletak di abdomen (Gambar 4) adanya variasi warna ovarium,
yang tidak menyatu dengan yaitu berwarna keputihan pada
hepatopankreas. Pada penelitian ovarium yang belum matang dan
ini ditemukan gonad kepiting menjadi oranye setelah ovarium
kelapa betina dengan 4 matang (Gambar 6). Adanya
kematangan gonad (Gambar 5). perubahan tersebut disebabkan
oleh adanya akumulasi dari kuning
telur dalam bentuk lipoprotein dan
pigmen atau proses vi-
tellogenesis. Menurut Silversand et
al. (1993) vitellogenesis adalah
proses pembentukan ku-ning telur;
vitellogenin disekresikan ke dalam Gambar 4. Posisi gonad betina
darah dan di bawa ke sel telur
di dalam tubuh
untuk dibentuk menjadi kuning
kepiting kelapa.
telur. Kuning telur ini adalah
sumber nutrisi pada
perkembangan embrio. Vitelogenin
adalah bahan baku (prekursor)
protein kuning telur yang disintesa
pada ovarium.

Gambar 5. Gonad kepiting


kelapa betina pada
tidak matang (A), awal
matang (B), sedang
matang (C), dan
matang (D).
Refiani S dan Sulistiono, Struktur Morfologis dan Histologis Gonad Kepiting
Kelapa
.....................................................................................................................
5
relatif sama dan bentuknya
bulat. Butir-butir telur
Tabel 3. Ciri morfologis gonad semakin membesar,
betina kepiting kelapa hampir mengisi seluruh
(Birgus latro). abdomen dan terlihat dengan
Kondi jelas berwarna merah
si tua dengan mudah dapat
Ciri-ciri dipisahkan karena lapisan
kematan
minyak yang menyelubungi
gan
Permukaan ovarium halus, sudah berkurang.
Tidak belum terbentuk butir- Pengisian ovarium didalam
an-butiran telur. Ovarium abdomen sekitar 80
Matang belum mulai berkem- persen.
bang, berbentuk sepasang,
ovarium berwarna abu-
abu muda. Pengisian ovarium Tabel 4. Ciri histologis gonad
di dalam abdomen betina kepiting kelapa
adalah sekitar 25 persen. (B. latro).
Permukaan ovarium lembut, Kond
Awal mulai terlihat butiran- isi
butiran telur, jika di tekan Ciri-ciri
kemata
Matang mudah hancur. Ukuran
ngan
ovarium semakin bertambah Telur masih berukuran kecil
dan meluas, warna Tidak dengan nukleus yang
dari putih menjadi abu-abu tua. matan
Pengisian ovarium g relatif kecil-besar.
didalam abdomen sekitar Telur berukuran lebih besar
30 persen. Awal dari keadaan tidak
Permukaan ovarium terasa matan matang, nukleus yang
Sedang kasar, karena butiran- g masih relatif besar.
butiran telur semakin Butir-butir kuning telur
Matang membesar dan padat, jika di sedang berwarna gelap terlihat
tekan kuat dan tidak matan pada seluruh sitoplasma
mudah hancur. Volume g sel telur.
ovarium semakin membesar, matan Perbedaan yang paling jelas
berwarna orange. g pada fase ini adalah
Butiran telur terlihat dengan deposisi kuning telur secara
jelas, namun masih total dalam sel telur.
dilapisi oleh kelenjar minyak. Setiap butiran kuning telur
Pengisian ovarium membesar sehingga
didalam abdomen kurang tidak ada tanda sitologikal
lebih adalah 60 persen. kecuali membran dari
Permukaan ovarium terasa inti sel telur.
Matang kasar dan padat, karena
butiran-butiran telur yang
semakin membesar dan Adanya butiran lemak dan
jelas, jika di tekan kuat dan lipovitelin me-rupakan komponen
tidak akan hancur. kecil pada ovarium dan te-lur yang
Hampir semua telur belum matang tetapi
mempunyai ukuran yang konsentrasinya meningkat
manjadi komponen besar pada
ova-rium dan sel telur matang. kelapa (B. Latro L),
Pillay dan Nair (1973) memperlihat-kan
mendeterminasikan unsur pokok tidak matang (A),
bio- awal matang (B),
kimia dari gonad dan sedang matang (C),
dan matang
hepatopankreas berhubungan
(D). N=Nukleus, dan
terhadap siklus reproduksi. S= sitoplasma.
Besarnya le-mak berfluktuasi
dalam hubungannya dengan siklus
KESIMPULAN DAN SARAN
reproduksi, dimana ovari matang
berisi lemak lebih banyak daripada Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa sistem
yang tidak matang atau ovari yang
reproduksi kepiting kelapa (Birgus
telah dikeluarkan. Hepatopan-kreas latro) jantan terdiri atas sepasang
adalah organ penyimpanan berisi testes dan saluran-nya yang
lipid dan glikogen yang banyak. menyatu dengan hepatopankreas.
Se-dangkan kepiting kelapa betina
Sehingga diindikasi-kan lemak dari
terdiri atas sepa-sang ovari yang
hepatopankreas akan ditranslo- tidak menyatu dengan hepato-
kasikan ke ovari. Perbedaan pankreas. Secara morfologi, testes
perubahan unsur u-tama biokimia terdapat se-pasang, berwarna
putih kekuningan sampai pu-tih
pada testis adalah tidak nyata.
susu, dengan tingkat pemenuhan
bervariasi 5-40%; sedangkan
ovarium berwarna putih, a-bu-abu,
kuning sampai kemerahan, kondisi
per-mukaan halus sampai kasar
dan mengisi abdo-men sekitar 25-
80%. Secara histologi, testes ke-
150
piting kelapa jantan menunjukkan
A m
adanya sper-matosit, spermatid,
10
dan spermatozoa yang ter-
C m
bungkus dalam spermatofora yang
berbentuk kapsul. Sedangkan
pada kepiting kelapa betina
terlihat adanya sel telur (ovum)
Gambar 6. Struktur histologi yang berada pa-da stadia awal
ovarium kepiting sampai berkembang.
Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia, Juni 2009, Jilid 16,
Nomor 1: 1-6

Perlu dilakukan penelitian


biologi yang berkaitan dengan
sistem yang lain, seperti ana-tomi,
penceranaan dan respirasi yang
akan sa-ngat berguna baik dalam
pengembangan penge-tahuan
biologi maupun aplikasinya
(budidaya). Perlu penelitian ekologi
yang berkaitan dengan habitat dan
keadaan kematangan gonadnya di
a-lam.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis mengucapkan terima
kasih kepa-da Direktorat
Pembinaan Penelitian dan Peng-
abdian kepada Masyarakat,
Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi, Departemen Pendidikan Na-
sional RI, yang telah memberikan
kepercayaan untuk dapat
melakukan kegiatan penelitian me-
lalui Program Kompetisi Hibah
Bersaing 2004-2005 dengan
Nomor kontrak 026/SPPP/PP-PD/
DP3M/IV/2005.
PUSTAKA
Brown IW dan Fielder DR. 1991. The Coconut Crab:
Aspects of the Biology and Ecology of Birgus latro in the
Republic of Vanuatu. Australian Centre for International
Agricultural Research. Canberra, Austra-lia. 128p.
Fletcher WJ, Brown IW, Fielder DR, dan Obed A. 1991.
Moulting and Growth Characteristics. In: Brown IW dan
Fielder DR. The Coconut Crab: Aspects of the Biology and Ecology
of Birgus latro in the Republic of Vanuatu. Australian Centre for
International Agri-cultural Research. Canberra, Australia. 128p.
Kierman JA. 1990. Histological and Histochemical Methods:
Theory and Practice. 2th ed. Pergamon Press.
Mathew DC. 1956. The Probable Method of Fertilisa-tion in
Terestrial Hermit Crabs Based on Com-parative Study of
Spermathofores. Pac. Sci. 10: 303-309.
McLaughin AP. 1983. Internal Anatomy, Biology of Crustacea.
Vol. 5. Internal anatomy and physiological regulation. City collage
of the University of New York
Rondo M dan Limbong D. 1990. Bioekologi Ketam Ke-nari
(Birgus Latro, LINNAEUS 1767) di Pulau Sali-babu,
Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Jurnal Fakultas Perikanan
Unsrat. 2: 87-94.
Sciller C, Fielder DR, Brown IW, dan Obed A. 1991.
Reproduction, Early Life History and Recruitment.
In: Brown IW dan Fielder DR (eds). Coconut Crab: Aspects of
Birgus Latro Biology and Ecology in Va-nuatu. Aciar Monograf 8:
128p.
Silversand C, Hyllner SJ, dan Haux C. 1993. Isolation,
Immunochemical, and Observation of the Instabil-ity of
Vitellogenin from Four Teleostei. The J. of Exp. Zool.,
267:587-597.
Sulistiono, Muslihuddin, dan Rafiani S. 2005. Teknologi
Penangkaran Kepiting Kelapa (Birgus latro) di In-donesia.
Laporan Penelitian. Institut Pertanian Bogor. 57p.
Sulistiono, Kamal MM, Butet NA, Simanjuntak CP, dan Nugroho T.
2008. Kajian Pola Reproduksi dan Po-pulasi Kepiting
Kenari (Birgus latro) di Pulau Yoi (Kep. Gebe) Maluku
Utara. Kerjasama antara Insti-tut Pertanian Bogor dan PT Antam
Tbk. 82p.
Evaluasi Penampilan Reproduksi Sapi
Perah
(Studi Kasus Di Perusahaan Peternakan Sapi Perah
KUD Sinarjaya)

(Evaluation performance reproduction


on dairy cattle (Case study in sinarjaya
dairy cattle cooperation)

Siti Darodjah Rasad1


1
Laboratorium Reproduksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas
Padjadjaran, Bandung
has been opportunity to find out the
ABSTRACT performance reproduction of dairy
cattle in that cooperation. Dairy cattle
Aim of the identification of
about 197 cattles was used as a
performance reproduction was to find
sample of the treatment, which were
out the successfully of reproduction minimum two times calving period
management in the dairy cattle firm or with the completely recording of
farmers. Performance reproduction of reproduction activity. The method of
dairy cattle include days open, calving this research was descriptive method
interval, service per conception, first and the data was collected as a
service postpartum and length of the census method. As a conclusion,
pregnancy. All of that performance reproduction performance for the first
reproduction values was ideal value and service postpartum, days open and
close relation to the production and that calving interval were ideal values but
values was diference between farmer service per conception was bigger
and depend of management themselves. than optimal value.
Sinar Jaya cooperation is one of dairy
cattle cooperation, since 1977 with the
population about 1554 dairy cattles in
year 2006,

Key words : Performance Reproduction, Dairy Cattle, case study


2009 Agripet : Vol (9) No. 1: 43-49
peternakan di Jawa Barat. Bangsa
PENDAHULUAN 1 Sapi Perah yang umum dipelaihara
adalah bangsa sapi Fries Holland
Sapi perah merupakan salah (Frisien Holstein) dan mulai
satu ternak yang telah lama diintroduksikan sejak tahun 1800-
menjadi komoditas usaha an oleh pemerintah Belanda. Saat
ini populasinya mencapai 106,489 sifat reproduksi ideal yang tinggi
ekor (Disnak. Jabarprov, 2009). dan berkontinuitas dari hewan
yang tersebar di beberapa daerah ternak pada setiap tahunnya dapat
di Jawa Barat. memberikan dampak yang baik
Produktivitas ternak bagi jalannya usaha. Dalam
merupakan tolak ukur keberhasilan beberapa kasus pengafkiran
dari suatu perusahaan peternakan ternak, kebanyakan adalah karena
Sapi Perah dan keuntungan alasan produksi yang rendah dari
ekonomis dari sektor peternakan seekor sapi, sebagian besar dari
khususnya pada peternakan ternak hal ini disebabkan karena adanya
sapi perah tergantung pada kegagalan reproduksi sapi yang
keberhasilan reproduksi ternak. bersangkutan.
Adapun keuntungan yang Efisiensi reproduksi dalam
diperoleh adalah berdasarkan dari populsi ternak tidak dapat diukur
produksi susu rata-rata per ekor semata-mata oleh proporsi ternak
per hari, yang dimaksimumkan yang tidak mampu menghasilkan
oleh suatu interval kelahiran 12 anak. Sebagian induk dalam suatu
bulan, masa kering 60 hari, masa populasi mungkin mampu
kosong 100-110 hari serta interval menghasilkan anak dalam jangka
antara partus dan konsepsi waktu hidupnya, akan tetapi
berikutnya 60-85 hari. Angka seberapa besarkah persentase
keberulangan (repeatability) dari induk yang mampu memberikan
sifat- pencapaian performans sifat-sifat
reproduksi yang optimum dan
konsisten selama jangka waktu
Corresponding author: sd_rasad@unpad.ac.id
pemeli-haraannya, karena sifat-
sifat reproduksi seperti selang
Agripet Vol 9, No. 1, April 2009
beranak, masa kosong dan jumlah
kawin perkebuntingan (S/C)
memiliki kriteria ideal dalam hal
jumlah ataupun waktu
pencapaiannya guna mencapai
efisiensi reproduksi. Oleh karena
itu evaluasi reproduksi

performa sifat-sifat reproduksi


per ekor induk setiap tahunnya Penelitian ini dilakukan untuk
adalah sangat penting untuk menda-patkan gambaran
dilakukan. mengenai penampilan performans
Reproduksi pada hewan reproduksi sapi perah FH pada
betina merupakan suatu proses berbagai periode laktasi dalam
yang kompleks dan dapat suatu manajemen pemeliharaan di
terganggu pada berbagai stadium perusahaan peternakan sapi perah
sebelum atau sesudah permulaan KUD Sinarjaya, Ujungberung,
siklus reproduksi. Efisiensi Kotamadya Bandung. KUD
reproduksi, hanya dapat diraih Sinarjaya merupakan suatu
melalui suatu manajemen yang koperasi yang hingga saat ini
baik dan pengambilan kebijakan masih memiliki sub unit usaha
yang tepat dalam tata laksana ternak sapi perah dengan total
kegiatan sehari-harinya. Sistem populasi sebanyak 2.255 ekor sapi
tata laksana reproduksi yang tepat perah FH, dengan jumlah sapi
memegang peranan penting dalam induk sebanyak 1.500 ekor
menentukan tingkat keberhasilan (Anonimous, 2008).
produksi suatu usaha peternakan
sapi perah. Parameter keberhasilan MATERI DAN METODE
manajemen reproduksi dapat juga
diukur dari tingkat pencapaian Materi Penelitian
Materi yang digunakan dalam pengumpulan data dilakukan
penelitian ini adalah catatan menurut metode sampling. Metode
reproduksi induk sapi perah FH sampling yang digunakan adalah
betina produktif di KUD Sinarjaya purposive sampling (berdasarkan
Jalan Raya Ujung Berung, meliputi pertimbangan). Pertimbangan
catatan masa kosong, selang yang diambil adalah, bahwa
beranak, dan juga catatan individu induk yang dapat diambil
perkawinan tiap individu induk sebagai sampel adalah seluruh
pada berbagai periode laktasi. induk yang memiliki catatan
Data yang diperoleh adalah reproduksi lengkap dari dua
periode tahun 2003-2005. Dalam kejadian beranak yang berurutan.
pengambilan data terdapat
masalah, dimana recording berupa Peubah yang Diamati
data reproduksi ternak sapi-sapi Penampilan sifat reproduksi
induk hanya sampai tahun 2005, yang dijadikan bahan kajian adalah
hal tersebut disebabkan petugas :
recording telah tidak lagi 3 Selang Beranak (Calving
melakukan pencatatan setelah Interval)
tahun 2005.
Selang beranak dihitung dari
jarak waktu antara dua kejadian
Metode Penelitian beranak yang berurutan. Satuan
Metode penelitian yang yang digunakan adalah hari.
dilakukan adalah metode 4 Masa Kosong (Days Open)
penelitian deskriptif dimana Masa kosong dihitung dari
pengambilan data dilakukan tanggal beranak hingga tanggal
melalui metode penelitian sensus perkawinan terakhir yang
terhadap seluruh induk yang telah menghasilkan kebuntingan.
beranak dua kali. Pemilihan sample Satuan yang digunakan adalah
dan hari.
5 Jumlah kawin per kebuntingan
(Service Per Copnception)
Jumlah kawin per kebuntingan
adalah jumlah perkawinan yang
telah dilakukan untuk
menghasilkan suatu
kebuntingan dari setiap
individu.
6 Kawin Pertama Setelah Beranak
(First Mating)
Adalah jarak waktu sejak sapi
beranak hingga dikawinkan
kembali untuk pertama kalinya
setelah beranak.

Analisis Data
Analisis data deskriptif yang
digunakan mengacu kepada
Robert and Rohlf (1992); Sudjana
(1996); Rasyad (2003), yaitu
a. Nilai Rata-rata atau Mean ( x )
x
x i

n
Keterangan :

xi Jumlah dari semua


ha1rga x
0 Banyaknya data
sampel i
0,1,2.......N
mengetahui rata-rata dari
Nilai rata-rata (Mean) pencapaian sifat-sifat reproduksi
tersebut digunakan untuk yang dijadikan kajian dari sejumlah
sampel yang diambil.

Evaluasi Penampilan Reproduksi Sapi Perah (Studi Kasus Di Perusahaan Peternakan Sapi Perah KUD Sinarjaya), (Dr.
Agr. Ir. Siti Darodjah Rasad, MS)
(kesiapan induk untuk
2
0 Ragam ( s ) menyediakan kondisi uterus bagi
n x 2
x 2
kebuntingan berikutnya) dan juga
2 i i sangat tergantung dari kebijakan
s peternak untuk menentukan waktu
nn 1
yang tepat untuk mengadakan
Keterangan : perkawinan setelah sapi beranak.
Varians atau Tingkat pencapaian angka
s2 ragam jarak waktu antara beranak dan
n Banyaknya data atau perkawinan pertama induk sapi
perah FH di KUD Sinar Jaya
sampel xi Bilangan dari disajikan dalam Tabel 1 berikut.
suatu peubah
i 0,1,2.......N
c. Simpangan Baku atau Standar Agripet Vol 9, No. 1, April 2009
deviasi (S)
2
S s
Keterangan :
S Standar
Deviasi s 2
Ragam

Perhitungan simpangan
baku merupakan analisis untuk
mengetahui batas kesalahan
yang dianggap benar.
0 Koefisien Variasi (KV)
s x 100
KV %
x
Keterangan :
s = Simpangan Baku
x = Rata-rata

Koefisien variasi merupakan


parameter untuk mengetahui
besarnya keragaman atau nilai
heterogen dari sampel yang
dijadikan bahan kajian.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Perkawinan Pertama Setelah
Beranak (First Service
Postpartum)
Penentuan waktu kawin
pertama setelah beranak dapat
menentukan tingkat interval waktu
kelahiran (selang beranak)
(Jainudeen and Hafez, 2000).
Angka dari pencapaiannya
tergantung dari lama involusi uteri
Tabel 1. Perkawinan pertama setelah pelaksanaan perkawinan pertama
beranak sapi perah FH Di setelah beranak dari setiap
KUD Sinar Jaya
Kawin Pertama Setelah Beranak
induknya, hal ini dapat terlihat dari
Tahun Max Min Rata-rata
rata-rata jumlah hari minimum dan
(hari) (hari) (hari) maksimum yang dicapai, yaitu
2003 188 34 90,38
sebesar 32 hari dan 188 hari dari
pelaksanaan perkawinan pertama
2004 148 32 73,70
setelah beranak tersebut. Kondisi
2005 130 32 70,33
tersebut disebabkan antara lain
Rata-rata 155.33 32.66 78.13 29,63 pertimbangan kondisi kesehatan
induk tersebut. Para peternak
Dari hasil analisis data mempunyai anggapan bahwa
perkawinan pertama setelah mengawinkan ternak pada saat
beranak yang didapat selama berahi pertama setelah beranak
tahun 2003-2005 terhadap 197 belum tentu memberikan dampak
ekor induk menunjukan bahwa, yang positif terhadap efisiensi
rata-rata induk sapi perah yang reproduksi. Selain
ada di KUD Sinar Jaya mulai mempertimbangkan aspek
dikawinkan dengan interval 32- kesehatan ternak sapinya sendiri,
188 hari atau rata-rata 77,82 juga karena pertimbangan
29,61 hari setelah beranak. Ball ekonomis yakni dalam hal
and Peters (2004) menyatakan mendapatkan kesempatan bagi
bahwa untuk menghindari peternak untuk memperoleh
kemungkinan gangguan repro- produksi susu yang lebih lama dan
duksi dan mendapatkan angka pedet yang dilahirkan. Apabila
konsepsi yang tinggi, maka dilihat dari segi penam-pilan
sebaiknya sapi betina mulai reproduksi yang optimal (selang
dikawinkan paling sedikit 60 hari beranak 12 bulan), memperoleh
setelah melahirkan, oleh karena kebuntingan pada saat
itu angka rata-rata dari interval mengawinkan ternak pada saat
beranak dengan kawin pertama berahi pertama ( 30 hari setelah
yang dicapai di KUD ini dapat beranak), akan memberikan
dikatakan masih berada dalam selang beranak kurang dari 12
kisaran normal. Dari data hasil bulan. Menurut Makin et al. (1980)
pengamatan, terlihat bahwa selang beranak kurang dari
terdapat perbe-daan yang cukup
besar dalam hal pencapaian
Jumlah kawin per
12 bulan akan menyebabkan kebuntingan (S/C) menunjukan
penurunan produksi susu 3,7 -9 % jumlah perkawinan yang telah
pada laktasi yang sedang berjalan. dilakukan untuk menghasilkan
Pelaksanaan inseminasi suatu kebun-tingan. Angka
dilakukan oleh inseminator ketika pencapaian jumlah kawin per
mendapat laporan pengaduan dari kebuntingan di KUD Sinar Jaya
disajikan dalam tabel 2 berikut ini.
peternak ketika sapi betina
miliknya menunjukan tanda-tanda
kehadiran siklus berahi. Dengan Tabel 2. Jumlah kawin per
kebuntingan sapi perah FH Di
kata lain, pencapaian angka KUD Sinar Jaya
perkawinan pertama setelah Jumlah Kawin Per Kebuntingan
beranak ini dipengaruhi pula oleh Tahun
Max Min Rata-rata
keputusan peternak sendiri. Risiko
2003 5 1 1,96
keterlambatan kebuntingan adalah
2004 5 1 2,28
salah satu alasan para peternak
2005 4 1 2,37
untuk mengawinkan kembali sapi-
Rata-rata 4,6 1 2,200,98
sapinya sesegera mungkin setelah
beranak.
Analisis data yang
Jumlah Kawin per Kebuntingan dilakukan sejak tahun 2003-2005
(Service Per Conception) dengan total sampel 197 ekor
induk sapi perah FH terhadap bahwa adanya gangguan
catatan perkawinan menunjukan reproduksi dapat terlihat apabila
bahwa untuk menghasilkan suatu persentase jumlah induk yang
kebuntingan dibutuhkan 1-5 kali membutuhkan lebih dari 3 kali
perkawinan atau rata-rata 2,20 perkawinan untuk mencapai suatu
0,92 kali perkawinan. Ball and kebuntingan lebih dari 30%.
Peters (2004), menyatakan bahwa
rata-rata angka pencapaian jumlah Tabel 3. Jumlah sampel dengan S/C 1-
kawin perkebuntingan yang 2 kali dan > 2 kali Di KUD
dianggap normal adalah 1,6-2,0 Sinar Jaya tahun 2003-2005
dari 198 ekor induk sapi perah
kali, atau dapat dikatakan idealnya FH
seekor sapi betina harus Jumlah Kawin Per
mengalami kebuntingan setelah Kebuntingan
Tahun
menjalani 1-2 kali proses 1-2 kali > 2 kali
perkawinan. 2003 63 20
Persentase jumlah sapi 2004 37 24
betina yang memberikan angka 2005 33 18
jumlah kawin per kebuntingan 1-2 total 136 61
kali, yaitu sebesar 66,66%, sedang
jumlah sapi betina yang dianggap Ada beberapa faktor yang
mengalami kesulitan kebuntingan
dapat menjadi perhatian dari
sebanyak 33,4 %. Hardjopranjoto
tingkat pencapaian jumlah kawin
(1995) menyatakan
per kebuntingan di KUD Sinar Jaya.
Fasilitas Handy Talky yang
diberikan kepada petugas
kesehatan dan inseminator dapat
menjadi nilai tambah bagi
manajemen reproduksi di KUD ini,
akan tetapi dengan jumlah induk
sebanyak 1500 ekor (Nopember
2005) yang hanya ditangani oleh 5
(lima) orang petugas inseminator
dapat memberikan hasil yang
kurang optimal dalam beberapa
kondisi yang terjadi di lapangan.
Kehadiran berahi yang
merupakan dasar dari pelaksanaan
perkawinan (inseminasi)
cenderung hadir tidak teratur pada
setiap siklusnya. Hal ini kadang
menimbulkan kesulitan bagi
peternak untuk dapat mendeteksi
kehadiran siklus berahi secara
tepat, oleh karena itu dalam
pelaksanaan inseminasi, ada
kalanya inseminator kehilangan
waktu terbaik untuk melakukan
inseminasi buatan kepada sapi
betina yang sedang berahi.
Hasil analisis data catatan
perkawinan menunjukan bahwa
rata-rata interval waktu antara
perkawinan pertama dan
perkawinan berikutnya dari
sejumlah sampel yang didapat
adalah 36,19 hari. Smith dan
Becker (2006) menyatakan bahwa
selang perkawinan lebih dari 35
hari memberikan ketepatan
deteksi berahi tidak lebih dari
60%, oleh karena itu dapat
dikatakan bahwa ketepatan penderita kawin berulang dapat
peternak di KUD Sinar Jaya dalam dilakukan dengan beberapa cara,
mendeteksi kehadiran siklus berahi diantaranya adalah pemeriksaan
adalah 60%. klinis pada alat kelamin betina,
pemeriksaan
Diagnosa pada hewan betina

Evaluasi Penampilan Reproduksi Sapi Perah (Studi Kasus Di Perusahaan Peternakan Sapi Perah KUD Sinarjaya), (Dr.
Agr. Ir. Siti Darodjah Rasad, MS)
KUD Sinar Jaya yang masuk ke
cairan uterus dan vagina untuk dalam kriteria mencapai 37,5%
memeriksa populasi dan dari total keseluruhan sampel.
mikroorganisme yang ada. Fenomena ini diduga timbul
Penanggulangan yang dapat karena adanya gangguan
dilakukan untuk mengatasi hal ini reproduksi dari beberapa ekor
adalah melalui perbaikan induk yang menyebabkan
pengelolaan reproduksi termasuk tingginya angka service periode
lebih baiknya deteksi berahi, akibat dari kesulitan dalam
perbaikan mutu ransum pakan, mencapai kebuntingan.
pelaksanaan inseminasi buatan Perencanaan dari target
yang lebih baik serta sanitasi pencapaian masa kosong pada
kandang dan lingkungan yang dasarnya dilakukan untuk
lebih baik. menghasilkan selang beranak
yang optimal. Estimasi angka
Masa Kosong (Days Open) selang beranak dari lama masa
kosong 119,3 42,29 hari adalah
Masa kosong pada ternak berada pada
sapi perah didefinisikan sebagai
jarak waktu antara sapi beranak
hingga perkawinan terakhir yang
menghasilkan suatu kebuntingan.
Pencapaian angka masa kosong di
KUD Sinar Jaya disajikan dalam
Tabel 4 berikut ini.

Tabel 4. Masa kosong sapi perah FH Di


KUD Sinar Jaya
Masa
Kosong
Tahun Max Min Rata-rata
(hari) (hari) (hari)
2003 276 38 130,50
2004 211 37 119,34
2005 191 47 108,16
Rata-rata 226 40.66 119.33

Hasil analisa terhadap data


yang didapat dari seluruh sampel
yang diambil menunjukan bahwa
masa kosong sapi perah FH di KUD
Sinar Jaya adalah 37-276 hari atau
rata-rata 119,3 42,29 hari. Pada
data tersebut terdapat perbedaan
masa kosong yang ekstrim, baik
itu jumlah hari tersingkat maupun
jumlah hari terlama dari
pencapaian angka masa kosong
ini. Subandrio dan Sitorus (1979),
menyatakan bahwa masa kosong
sapi perah FH di daerah tropis
berkisar antara 91-164 hari.
Persentase jumlah induk di
kisaran 13-14 bulan (didasarkan Pancapaian angka selang beranak
pada lama kebuntingan 285 hari), di KUD Sinar Jaya disajikan dalam
sedangkan untuk mendapatkan Tabel 5 berikut ini.
selang beranak 12-13 bulan, masa
kosong harus berada pada kisaran Tabel 5. Selang beranak sapi perah FH
95-105 hari atau rata-rata 100 hari Di KUD Sinar Jaya
(Meadows et al. 2005). Selang
Beranak
Singkatnya masa kosong Tahun Max Min Rata-rata
dapat disebabkan oleh keputusan (hari) (hari) (hari)
peternak yang terlalu dini 2003 557 310 411,27
mengawainkan sapi betinanya
2004 482 319 399,83
setelah sapi tersebut beranak.
2005 464 319 385,16
Sedangkan tingginya masa
kosong, disebabkan karena Rata-rata 501 316 398,75
kesulitan untuk mendapatkan
kebuntingan setelah beberapa kali Hasil analisa data dari
sapi tersebut dikawinkan. catatan dua kejadian beranak
Ketidakyakinan peternak bahwa yang berurutan selama tahun
sapinya akan bunting dalam satu 2003-2005 menunjukan bahwa
kali perkawinan adalah alasan sapi perah FH betina yang
mengapa perkawinan dilakukan dijadikan sampel penelitian
sesegera mungkin setelah sapi memiliki selang beranak 310-557
betina miliknya beranak, dalam hari dengan mode 398 42,15
beberapa kondisi mengawinkan hari atau 13,1 bulan. Beberapa
sapi betina pada saat berahi hasil penelitian menyatakan
pertama setelah beranak dapat bahwa selang beranak yang ideal
menimbulkan risiko kegagalan adalah 12-14 bulan. Jika dilihat
reproduksi. dari nilai rata-rata sampel dapat
dikatakan bahwa selang beranak
Selang Beranak (Calving sapi-sapi induk di KUD Sinar Jaya
Interval) masih berada dalam kisaran ideal.
Selang beranak adalah Untuk mengetahui adanya
gangguan reproduksi pun dapat di
interval waktu diantara dua temukan dari
kejadian beranak yang berurutan.

Agripet Vol 9, No. 1, April 2009


masa kosong dan lama
pencapaian selang beranak. kebuntingan. Besarnya persentase
Hardjopranjoto (1995) menyatakan jumlah sampel yang memberikan
bahwa gangguan repro-duksi dari angka masa kosong lebih dari 120
seekor induk dapat terlihat dari hari telah berimbas kepada
lama waktu selang beranak yang tingginya angka selang beranak.
mencapai lebih dari 400 hari. Dari Walaupun dianggap memiliki
data yang didapatkan dari variasi yang kecil, lama
sejumlah sampel menunjukan ada kebuntingan memberikan
43 ekor pada tahun 2003, 28 ekor pengaruh terhadap lamanya
pada tahun 2004, dan 10 ekor selang beranak. Lama kebuntingan
pada tahun 2005 yang dari sejumlah sampel yang didapat
memberikan angka selang beranak menun-jukan bahwa rata-rata lama
lebih dari 400 hari atau sekitar kebuntingan sapi perah FH di KUD
41,1% dari seluruh total sampel. Sinar Jaya adalah 262-302 hari
Walaupun memberikan nilai rata- dengan rataan 279,74 hari.
rata yang ideal, ternyata Bearden and Fuquay (2004)
persentase jumlah sampel yang menyatakan bahwa kelahiran
diduga mengalami gangguan prematur dengan anak yang hidup
reproduksi di KUD Sinar Jaya juga normal dapat terjadi pada umur
tinggi. kebuntingan 240-270 hari, dan
Angka selang beranak kelahiran dianggap tertunda
merupakan penjumlahan dari apabila usia kebuntingan lebih dari
295 hari. Hasil perhitungan lama KESIMPULAN
kebuntingan dari seluruh sampel
menunjukan ada 31 ekor sampel Dari hasil pengamatan dapat
yang memberikan lama disimpulkan bahwa performans
kebuntingan 240-270 hari reproduksi untuk sifat reproduksi
(prematur), dan 7 ekor sampel kawin pertama post partum, masa
yang kelahirannya tertunda (lebih kosong dan calving internal masih
dari 295 hari). Kelahiran prematur berada dalam kisaran yang ideal
dapat disebabkan oleh faktor (first servis post partum 78,13
penyakit, stress, dan juga 26, 93 hari, DO 119,33 42,29
pemberian pakan yang kualitasnya hari dan CI 398,75 42,15 hari),
buruk. Sedangkan perpanjangan sedangkan angka S/C 2,20 0,98
waktu kelahiran dapat disebabkan kali menunjukan adanya
oleh penyuntikan progesteron penyimpangan dari kisaran ideal
dalam jumlah besar secara yang diharapkan (1,6-2,0 kali).
berkesinambungan, defisiensi
vitamin A dan abnormalitas foetus DAFTAR PUSTAKA
(Yusof, 2005). Walaupun dianggap
membe-rikan pengaruh yang relatif Anonimous, 2005. Catatan
Reproduksi Sapi Perah FH.
kecil, lama kebuntingan harus Tata Usaha KUD Sinarjaya.
menjadi perhatian dari peternak. Ujungberung, Bandung
Ball, P.J., and Peters, A.R., 2004.
Reproduction in Cattle. 3rd
ed. Blackwell Science, Inc.
Bearden, H.J., Fuquay, J. W.,
Willard. S.T., 2004. Applied
Animal Reproduction, Sixth
Edition. Pearson Prentice Hall.
Disnak. Jabarprov, 2009. Data
Statistik Populasi Sapi Perah
Tahun 2008 di Jawa Barat.
www.disnak.jabarprov.go.id
Hardjopranjoto, S.H., 1995. Ilmu
Kemajiran Pada Ternak. Air
Langga University Press.
Surabaya.
Jainudeen, M.R. and Hafez, E.S.E.,
2000. Cattle and Bufalo. In :
B.Hafez/E.S.E. Hafez.
Reproduction in Farm Animals.
7th ed. Lippincott Williams &
Wilkins. Philadelphia,
Baltimore, New York, London,
Buenos Aires, Hongkong,
Sydney, Tokyo, p. 159
Makin, M., Sukraeni, E., Suamba,
I.B., Jaya, W. and Suwardi, N.
K., 1980. Ilmu Produksi
Ternak Perah. Fakultas
Peternakan Universitas
Padjadjaran. Bandung.
Meadows, c; Rajala-Schultz, P.J. and
Frazer, G.S., 2005. A
Spreadsheet-Based Model
Demonstrating the
Nonuniform Economic Efects
of Varying Reproductive
Performance in Ohio Dairy
Herds. J. Dairy Sci. 88:1244-
1254
Rasyad, R., 2003. Metode Statistik
Deskriptif Untuk Umum. Grasindo. Jakarta. 43; 52; 65.
73