Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

Disusun Oleh:

Kelompok 2

Bayu Heri Swara NIM. 1401622


Fani Oktaviani NIM. 1400877
Nadila Dewi Utami NIM. 1400461
Syva Sopianti NIM. 1406177

MATA KULIAH PENGANTAR MANAJEMEN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2014

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat

limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini yang berjudul

, dengan maksud untuk menyelesaikan tugas dari mata kuliah pengantar manajemen.
Makalah ini dibuat dengan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu

menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu,

kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam

penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.

Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat

membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk

penyempurnaan makalah selanjutnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian.

Bandung, 2 Oktober 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

2
3
DAFTAR GAMBAR

BAB I

PENDAHULUAN

4
A. Latar Belakang
Sesungguhnya mulai kapan konsep manajemen administrasi itu ada? Yaitu
mulai sejak para pelaku usaha berkecimpung memikirkan upaya terbaik dalam
melakukan suatu aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, hal ini terjadi sejak
Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan memulai hidup berkeluarga bersama
Hawa serta anak-anaknya. Sejak itu pula konsep manajemen mulai diakui
keberadaannya,untuk mengelola kerjasama dalam keluarga dengan memanfaatkan
kekayaan bumi bagi kemakmuran, kesejahteraan manusia dan melindungi serta
memelihara kelanjutan lingkungannya.

Semakin kompleks permasalahan manusia, untuk memecahkan masalah


tersebut diperlukan skill manusia untuk mengorganisir aktivitas-aktivitas dengan
keikutsertaan mereka. Oleh karena itu setiap orang yang sedang mempelajari
manajemen harus mengetahui sejarah perkembangan pemikiran manajemen dari awal
karena dengan mengetahui hal tersebut kita dapat menemukan kembali ide-ide dasar
yang telah diletakan oleh para pionir manajemen terdahulu.

Selain makalah ini memberikan penjelasan tentang sejarah dan gambaran


bagaimana konsep pemikiran manusia tentang manajemen masa lalu, diharapkan
dapat bermanfaat bagi teman-teman yang ingin mempelajari ilmu manajemen lebih
lanjut.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penyusun merumuskan masalah sebagai berikut.
1. Penerapan pengembangan pemikiran manajemen dalam era globalisasi.
2. Solusi bagi pengusaha untuk menghadapi era globalisasi.

C. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin diperoleh adalah :
1. Untuk mengetahui perkembangan pemikiran para ahli tentang manajemen
sejak masa lalu hingga masa kini.
2. Untuk mengetahui paham-paham manajemen dan administrasi

D. Manfaat

5
1. Bagi Mahasiswa, sebagai bahan referensi pembelajaran dan pengkajian mengenai
bagaimana perkembangan pemikiran manajemen.
2. Bagi Masyarakat luas, sebagai bahan referensi dalam menjalankan segala aktivitas
dengan usaha yang lebih baik.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Sejarah Manajemen
Menurut Schroeff & Meij (Soemita Adikoesoema 1968) dalam buku Manajemen
konsep, prinsip dan aplikasi, ada dua aliran penganut darimana manajemen
berkembang, yaitu (1) Aliran Continental, yang berinduk di Eropa Barat. Pada
awalnya aliran ini berpendapat bahawa manajemen itu adalah bagian dari rumpun
ilmu ekonomi perusahaan dan tidak merupakan ilmu yang berdiri sendiri.
Manajemen merupakan inti daripada organisasi intern suatu perusahaan, sebab tugas
manajemen serta bentuk organisasinya ditentukan oleh tujuannya. Dalam alat-alat
manajemen timbul antara lain administrasi yang timbul dalam siasat kebijakan oleh
Top Management. Manajemen berperan menetapkan kebijaksanaan yang harus
diturut dalam pelaksanaan dan penyelenggaraannya oleh administrasi. Mereka juga
berpendapat bahwa pemimpin tidak bisa dibuat, tetapi dilahirkan, dan merupakan
suatu seni bukan suatu ilmu. (2) Aliran Anglo Saxon, yang bersumber di Amerika.
Mereka yang sehaluan dengan aliran ini berpendapat bahwa manajemen itu
merupakan suatu ilmu yang dalam perkembangannya sedang mendewasakan diri
sebagai suatu disiplin ilmu yang betul-betul berdisi sendiri. Tetapi tidak terlepas
kaitannya dari ilmu-ilmu lain yang telah lama mendapat pengakuan ilmiah dari para
ahli. Manajemen masiih mempunyai antar hubungan dengan ilmu lainnya yang
sangat menunjang, dan saling terkait. Aliran ini berpendapat bahwa untuk menjadi
seorang pemimpin tidak hanya dilahirkan sebagai suatu bakat, tetapi dapat juga
dibentuk melalui pendidikan. Untuk membentuk pemimpin/ manajer yang efektif
agar mereka dapat melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya, ia harus memperluas
ilmu pengetahuannya dan memperdalam penglihatannya dalam masalah
kepemimpinan dan ketatalaksanaan. Manajemen itu dapat dipelajari sebagai suatu
disiplin ilmu karena telah memenuhi dengan syarat-syarat yang telah dimilikinya
yaitu mempunyai objek , tersusun secara sistematis, mempunyai metoda-metoda

6
pendekatan dan merupakan sistem kerja yang dirinya melalui pendekatan
intergrated, interdisiplin, multidimensional, dan global ke seluruh dunia.

B. Perkembangan Teori Manajemen

Dua Aliran manajemen yaitu aliran continental dan aliran anglo saxon semakin
berkembang, di Erofah Henry Fayol (1916) yang berkebangsaan Perancis
menuangkan pengalaman dan penelitiannya selama bekerja di Commantry
Dourchambault Company dalam bukunya Administration Industrielle et Generale, ia
menyebut kegiatan mengatur usaha kerjasama manusia dalam pekerjaan dengan
segala aktivitas dan berbagai pengaruh intern maupun ekstern untuk mencapai tujuan
itu dengan nama prinsip-prinsip umum administrasi. F.W. Taylor (1911) yang
berkebangsaan Amerika dengan kegiatan yang sama dalam melaksanakan
pekerjaannya du pabrik dalam judul bukunya Principles of Scientific Management.
Setelah buku Administration Industrielle et Generale diterjemahkan di Amerika pada
tahun 1949 diterjemahkan menjadi General and Industrial Management. Maka istilah
Manajemen dan Administrasi dianggap satu dan sama. Sejak itu pemakaiannnya
sering terjadi pembauran secara saling berganti, baik untuk kepentingan teoritis
maupun untuk praktis, dalam perusahaan atau pemerintahan.
Hal tersebut tentu saja akan membingungkan, mungkin bisa menimbulkan
kesalahfahaman. Sampai saat ini muncul 3 pendapat yang tetap memperbandingkan
Manajemen dan Administrasi sebagai berikut: (1) Manajemen adalah lebih luas
daripada Administrasi, disini Administrasi berdungsi sebagai pelaksanaan daripada
masalah-masalah yang timbul dalam siasat kebijaksanaan yang dilakukan Top
Management. E.F.L. Brench (1961) dalam bukunya Principles and Practice of
Management mengatakan bahwa: Administrasi adalah bagian dari manajemen yang
berhubungan dengan penerapan instalasi dari pelaksanaan prosedur-prosedur dan
dengan cara itu program diletakkan serta kemajuan aktivitas diatur dan direncanakan
kembali. Para pengarang manajemen dari Inggris memang berpendapat bahwa
manajemen menunjukkan pada sebuah tingkatan yang tinggi daripada aktivitas
manajerial tertentu dalam menentukan tujuan, pembentukan kebijakan dan pembuatan
strategi. Sedangkan administrasi dilihat sebagai bagian operatid yang berhunbungan
dengan perintah terbawah daripada aktivitas manajemen sebagai implementasi
daripada rencana dan keputusan-keputusan lainnya (Nirmal Singh, 2002). (2)
Manajemen lebih sempit dari Administrasi, menurul Drs. Sukarno dalam buku

7
Manajemen konsep, prinsip dan aplikasi, manajemen sebagai inti daripada
administrasi. Hal ini menjukkan bahwa pengertian administrasi mencakup di
dalamnya unsur manajemen dan kedudukannya manajemen adalah merupakan alat
pelaksana daripada administrasi. Oliver Scheldon, Willian Schull dan Spriegel
mengatakan, bahwa administrasi adalah lebih luas, lebih generik. (3) Manajemen
adalah sama dengan Administrasi. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Prof. Dr.
Achmad Sanusi, SH., MPA., (1969), dalam Seminar Ilmu Manajemen di IKIP
Bandung, yang mengatakan: Manajemen sama (identik) dengan
Administrasi.Dalam menanggapi hal tersebut Prof. Dr. Sondang Siagian., MPA.,
(1971) dalam buku Manajemen konsep, prinsip dan aplikasi mengemukakan harus
diakui bahwa kalangan para ilmuan administrasi dan praktisi masih terjadi silang
pendapat yang bahkan bersifat perennial tentang perbedaan yang dapat dilakukan
antara administrasi dan manajemen.
Perkembangan pemikiran manajemen sebagai praktik yang dilandasi
pendekatan teori dalam buku Manajemen konsep, prinsip dan aplikasi adalah
sebagai berikut:
1. Pendekatan Klasik
a. Prasanintifik Manajemen
Dalam The Encyclopedia Of Management Carl Heyel (1973) mengemukakkan
bahwa teori-teori manajemen secara relative merupakan denomena baru dalam sejarah
bisnis dan merupak ide yang radikal ketika pada tahun 1886, Henry R Towne sebagai
Presiden Pabrik Yele dan Towne Co.m mengemukakan bahwa manajemen sebagai
lapangan studi yang independen sama pentingnya dengan enjinering. Sehingga
disarankan perlunya mengkodifikasikan pengalaman praktek ke dalam prinsip-prinsip
dan teori. Dalam tesisnya ia menyatakan: Revolusi Industri abad 18 dan 19 akan
berlalu, dan menyebabkan perubahan social ekonomi sehingga untuk menangani
bisnis yang lebih kompleks sangat dibutuhkan pendekatan manajemen yang canggih
(sophisticated).

b. Fase Saintifik Manajemen


F.W. Taylor dalam bukunya yang berjudul The Principles of Scientific
Management tahun 1911 mengemukakan bahwa terbentuknya manajemen ilmiah
bukan hanya ditentukan oleh suatu unsur saja, akan tetapi didukung oleh unsur-unsur
lain yang satu sama lain saling berkaitan dan merupakan kombinasi keseluruhan. Ia

8
mengatakan: Bukan hanya ada satu unsur yang menjadikan manajemen ilmiah, tetapi
dikarenakan adanya kombinasi yang menyeluruh.
Dengan melalui karyanya The Principles of Scientific Management F.W Taylor diakui
sebagai Bapak Manajemen Keilmuan, sebagai anugerah atas keterlibatannya dalam
usaha menaikan produktivitas melalui tindakan efisiensi dalam produksi dan
meningkatkan upah melalui metode keilmuan.

c. Fase Manajemen Administratif


Henry Fayol dalam bukunya Administration Industrielle et Generale pada
tahun 1949, ia mengemukakan pengalaman, penyelidikannya yang berusaha mencari
prinsip-prinsip yang praktis dan sederhana yang dapat digunakan dalam menerangkan
kerja seorang manajer, prinsip-prinsip umum manajer, unsure-unsur, aturan-aturan,
dan pedoman-pedoman untuk melakukan kegiatan manjerial skill.
Didalam kegiatan perusahaan Fayol membagi kedalam 6 kegiatan, yaitu:
(1) Bagian teknisi yang berfungsi membuat produk;
(2) Bagian perdagangan yang berfungsi membeli bahan-bahan dan menjual produk;
(3) Bagian keuangan yang berfungsi mencari dan menggunakan modal;
(4) Bagian keamanan berfungsi menjaga dan melindungi kekayaan dan personalia;
(5) Bagian akuntansi yang berfungsi mencatat, mengecek biaya, keuntungan dan
neraca;
(6) Bagian manajerial yang berfungsi merencanakan, mengorganisasikan,
memerintah, mengkoordinasikan dan mengawasi.
Manajemen tugas yang bersifat manajerial yang ke-6 itulah merupakan
fungsi seorang manajer atau dinamakan manajemen administratif yang difokuskan
pada aspek-aspek yang luas dalam mengurusi organisasi.
Dengan karyanya Administration Industrielle et Generale, ia dianugrahi
kehormatan sebagai Bapak Teori Manajemen Modern karena telah berkontribusi
teradap perkembangan manajemen yang ia buktikan dengan kehadiran sosok
manajerial dalam kegiatan industry sehingga pengajaran manajemen yang
diinformasikan kepada 14 prinsip-prinsip manajemen, pada garis besarnya mencakup
kekuasaan dan tanggung jawab, kesatuan komando, rantai berskala kebersamaan.

d. Fase manajemen Organisasi Birokrasi


Menurut Max Weber karakteristik utama dari birokrasi adalah: (1)
Pembagian kerjayang jelas. (2) Hirarki kewenangan yang jelas. (3) Aturan dan

9
prosedur formal. (4) Impersonal (tanpa pandang bulu). (5) Karir berdasarkan prestasi
(merit sistem).
Apabila kesemuanya dijalankan dalam suatu organisasi, maka akan
menghasilkan efisiensi kerja dari para pegawai. Akan tetapi pada akhir-akhir ini
sering dirasakan apabila dilaksanakan dengan ketat, maka akan terjadi kekakuan dan
apabila kurang fleksibel bisa menimbulkan kerugian dalam pelaksanaannya
mengingat adanya situasi yang khusus dan keadaan yang berubah-ubah setiap waktu.
Birokrasi memiliki keunggulan walaupun dalam pelaksanaannya sering terjadi
penyimpangan-penyimpangan yang merungikan. Para pendahulu sebagai perintis
jalan beranggapan bahwa manajemen ilmiah adalah suatu cara berfikir tentang proses
pencapaian tujuan atau tugas tanpa penghamburan dengan menggunakan metode-
metode efisiensi yang bisa diukur.

2. Pendekatan Teori Manajemen Perilaku


Pendekatan teori manajemen perilaku dikembangkan oleh kelompok ahli-ahli
manajemen diantara tahun 1920-1950an. Karakteristik yang dominan dari aliran
perilaku adalah ide dasarnya ditekankan pada kebutuhan-kebutuhan social, motivasi,
dan perilaku individu. Menurut pemikiran manajemen perilaku bahwa para pekerja
tak dapat direspon secara sederhana bahwa mereka itu: dapat diperintah oleh aturan-
aturan secara rasional, mengikuti begitu saja rantai kewenangan dan insentif ekonomi.
Sebab para pekerja masuk dalam organisasi memiliki kebutuhan social diantara
mereka dan manajemen yang efektif untuk mengendalikannya harus dengan
pendekatan kemanusiaan.
Esensi daripada pandangan social teori manajemen perilaku adalah penekanan
pada kebutuhan social, dalam memimpin strategi manajemen agar para supervisor
menggunakan keterampilan kemanusiaan dalam hubungan mengarahkan para pekerja
pada pekerjaannya.

3. Teori Manajemen Modern


Teori manajemen modern dari tahun 1940 sampai saat dengan tahun 2000
ingin membuat pencerahan atas penggunaan pokok-pokok penting dari teori klasik,
perilaku, kuantitatif, dan kontingensi dengan melihat kompleksitas organisasi yang
harus memadukan teori-teori tersebut kedalam satu kesatuan bagi pemecahan
masalah-masalah manajemen.

10
Kesimpulan dari evolusi perkembangan pemikiran manajemen sampai masa
kini merupakan produk dari ketiga pendekatan: (1) Pendekatan Klasik (2) Pendekatan
Perilaku dan (3) Pendekatan Modern. Semua pendekatan tersebut akan terus
dikembangkan oleh para ahli manajemen sesuai kebutuhan akan permintaan tingkat
peradaban manusia yang dicapainya.

BAB III

PEMBAHASAN

Gambaran Evolusi Pemikiran Manajemen

Pendekatan-Pendekatan Klasik Pendekatan-Pendekatan Kontemporer

1890 1900 1910 1920 1930 1940 1950 1960 1970 1980 1990
2000

Manajemen Manajemen
Hubungan Perilaku
Sistematik Kualitas
Kemanusiaan Organisasi Reenji
aku Org Terpadu n-
Manajemen Manajemen ering
Manajemen Teori
Saintifik Administratif
Kuantitatif Kontingensi
Organisasi
Birokrasi Teori Pembelajaran
Sistem

GLOBALISASI

11
Sumber: Bateman And Snell, Management, Mcgraw Hill, New York, 2002 dalam buku
Manajemen konsep, prinsip dan aplikasi.

Dari gambar diatas kita bisa melihat perkembangan pemikiran manajemen berubah
sesuai kebutuhan praktek dilapangan. Dalam era globalisasi, manajemen berkembang
mengikuti trend sampai akhir abad 20. Teori manajemen pastilah akan selalu dikembangkan
dengan perubahan-perubahan yang terjadi secara dinamis (mengikuti perkembangan zaman).
Keterbatasan teori-teori sebelumnya juga menjadi alasan mengapa terjadi perkembangan
pemikiran manajemen, para ahli akan selalu mengembangkan teori untuk mendapatkan
jawaban atas permasalahan pada masa kini. Masalah-masalah yang semakin kompleks juga
mendorong para manajer untuk lebih kreatif dalam perencanaan dan kontrol terhadap
organisasi secara keseluruhan.

Dengan perkembangan teori manajemen menjadi sebuah kontribusi yang besar bagi
para manajer dalam menciptakan kesempatan yang lebih efektif dalam mengambil keputusan,
dan memberikan arahan kepada para manajer dalam beradaptasi dengan sebuah
permasalahan.

Mengelola perubahan bukan berarti mengontrol perubahan tersebut, melainkan


memahami dan melakukan adaptasi apabila diperlukan serta mengarahkannya hal tersebut
memungkinkan untuk dilakukan. Oleh karena itu para manajer harus lebih memperhitungkan
dan lebih banyak dari pada karyawannya, konsekuensinya, bentuk baru dari globablisasi
menjadi lebih umum, misalnya tim berpusat pada bekerja (worker center team) tim yang
menorganisuasi dirinya (self oragizing team) dan tim merancang dirinya sendiri (self
designing team).

Perubahan baru diperkirakan akan dapat mengantisipasi perubahan situasi dengan


berbagai strategi yang dianggap ampuh untuk mengangkal daripada kehancuran organisasi
perusahaan-perusahaan besar. Ini tidak berarti tidak berlaku bagi semua organisasi unutuk
melaju kualitas dunia. Karena adanya persaingan antar penguhasa, Negara, maka kualitas
barang dan jasa yang bagus, harga murah, dan penyampaian pada konsumen dengan cepat
dan tepat di era globalisasi. Oleh karena itu, pengusaha ini membutuhkan metode tertentu
agar bisa menaikkan kembali kinerjanya, mengingat persaingan yang sangat ketat,maka
responden amat berorientasi pada kepuasan costumer dan konsumennya. Malah dengan pesat
menghasilkan produk-produk unggulan yang cocok bernilai lebih dari yang diharapkan dari
konsumen tingkat dunia.

Ada dua cara kemungkinan strategi yang dapat dilakukan di era globalisasi ini yaitu
dengan cara bersaing dan bermitra. Apabila belum mampu untuk bersaing para pengusaha
bisa bermitra dengan pengusaha lain, mungkin cara bermitra akan lebih banyak
menguntungkan bagi Negara-negara berkembang ketimbang harus bersaing secara terbuka.
Selain saling menguntungkan dengan bermitra kita bisa saling menghargai, saling
membutuhkan dan saling memperkuat dalam melakukan kegiatan berbisnis.

Motif perubahan manajemen yang dinamis mendorong para pengusaha mengambil


keputusan perusahaannya beraliansi dengan perusahaan lain, bahkan dengan kompetitornya.

12
Aliansi strategis adalah praktik bisnis yang member peluang kepada suatu perusahaan untuk
membagi risiko sehingga meminimumkan biaya, waktu, dan sumber daya dalam
pengembangan atau memperkenalkan produk dan teknologi baru ke pasar, dengan melalaui
dua atau lebih aliansi perusahaan menghasilkan suatu produk.

Aliansi strategis akan merupakan cara utama bagi perusahaan atau Negara sekalipun
yang kurang memiliki kemampuan dalam bidang-bidang tertentu maupun sumber-sumber
daya, keduanya dapat saling member dan menerima berdasarkan keunggulan yang dimiliki
masing-masing sehingga bisa saling melengkapi dan menutupi kekurangan yang dapat
memperkuat keunggulan komptetitif yang dapat dicapai bersama. Oleh karena itu, bagi para
manajer atau pimpinan suatu perusahaan maupun lembaga pemerintahan dituntut kemampuan
profesional yang unggul dan ia percaya diri akan apa yang akan ia lakukan adalah cara
terbaik untuk pemecahan masalah dalam mencapai keberhasilan.

Dalam aliansi strategis koordinasi menjadi salah satu proses penyatuan tujuan-tujuan
perusahaan dan kegiatan pada tingkat satuan-satuan yang terpisah dalam suatu organisasi
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.

Tujuan Koordinasi :

Koordinasi diharapkan keharmonisan atau keserasian seluruh kegiatan mencapai tujuan


yang diharapkan.

Koordinasi merupakan usaha untuk menciptakan keadaan yang serasi, selaras, dan
seimbang.

Dalam mengkoordinasi perusahaan-perusahaan yang menjadi aliansi kita,integrasi adalah


suatu usaha untuk menyatukan tindahan-tindakan berbagai badan/instansi/unit tersebut
sehingga merupakan satu kebulatan pemikiran dan kesatuan tindakan yang terarah kepada
suatu sasaran yang telah ditentukan dan difahami bersama

Singkronisasi, juga merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan kegiatan-kegiatan/tindakan-


tindakan dari berbagai badan atau instansi / unit termaksud sehingga didapat keserasian.

Pendekatan-pendekatan untuk mencapai koordinasi yang efektif yang bisa dilakukan bagi
pengusaha yaitu :

Menggunakan pendekatan teknik-teknik dasar manajemen yang berupa hirarki


manajerial, rencana dan tujuan sebagai dasar bertindak.
Meningkatkan koordinasi potensial bila tiap bagian saling tergantung satu dengan
lainnya serta lebih luas dalam ukuran dan fungsi. Koordinasi ini dapat ditingkatkan
dengan melalui dua cara, yaitu:
a. System informasi vertikal, penyaluran data-data melalui tingkatan-tingkatan
organisasi. Komunikasi ini bisa di dalam atau diluar rantai perintah.

13
b. Hubungan lateral (horizontal), dengan membiarkan informasi dipertukarkan dan
keputusan dibuat pada tingkat dimana informasi diperlukan. Ada beberapa
hubungan lateral :
- Hubungan langsung
- Hubungan kelompok langsung
- Hubungan silang

BAB IV

PENUTUP

A. SIMPULAN
B. SARAN

14