Anda di halaman 1dari 129

PT.

AGRO RAYA MALINDO


PROPOSAL BUDIDAYA SINGKONG GAJAH
DI KECAMATAN MUARA KAMAN DAN SEBULU
KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA KALIMANTAN
TIMUR

OLEH PT AGRO RAYA MALINDO


DALAM UPAYA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN
MASYARAKAT

BAB I
PENDAHULU
AN
I LATAR BELAKANG
MASALAH

INDONESIA IMPORTIR BAHAN PANGAN


TERBESAR
Sudah menjadi rahasiah umum, Indonesia merupakan
importer terbesar dibidang pangan seperti: beras, jagung,
kedelai, singkong dan daging. Unik
lucu dan ironis di Negara agraris yang mayoritas penduduknya
petani harus inpor bahan pangan.

Selama bertahun-tahun Indonesia menjadi importir singkong


terbesar dibandingkan negara-negara lain. Hal tersebut
disampaikan pengamat pertanian Bustanul Arifin. Menurut
data yang dirilis oleh Thai Tapioka Trade Organization
(TTTO), Indonesia mengimpor singkong dari Thailand sebesar
dua juta ton. Menurut Bustanul, itu membuktikan kurangnya
peran pemerintah untuk mengawasi sektor pertanian, dalam
meningkatkan produksi pangan dalam negeri. Padahal,
sebenarnya Indonesia mampu memproduksi singkong 28 juta
ton. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Thailand
yang hanya memproduksi 26 juta ton.

Akan tetapi, menurut Bustanul, penyebab impor adalah


besarnya kebutuhan sektor industri yang menggunakan bahan
baku singkong. Pemerintah, kata Bustanul, harus segera
1|Page
mengambil langkah untuk memperbaiki kondisi pangan dalam
negeri. Selama ini singkong hanya dihargai rendah. Pada saat
panen, harga jatuh. Ini membuat para petani tidak bergairah
menanam singkong. (DNI)

2|Page
PERKEMBANGAN
SINGKONG DI
INDONESIA
Menurut Data BPS luas area
tanaman singkong tahun
2011 tercatat 1,2 juta
Ha dengan produksi 23
juta ton singkong segar
setara dengan 8 juta ton
chips singkong atau 6,4
juta ton
tepung singkong. Industri kecil, menengah, dan besar berbahan
baku singkong terus tumbuh sampai mereka kesulitan
bahan baku sudah berjalan cukup lama, terutama di
Lampung dan Jawa Barat;

Singkong sebagai bahan pangan pokok alternatif mendukung


diversifikasi pangan nasional telah masuk ke jajaran Kadin
Indonesia, menjadi salah satu komoditas strategis pangan
nasional.

Mulai 28 Febuari 2010 telah berdiri Masyarakat Singkong


Indonesai (MSI) dengan Visi Singkong Sejahtera
Bersama , dengan Misi Mensejahterakan petani.

Tanggal 28 Februari 2011 pada HUT MSI I di Pondok Ratna Farm


Ciawi Bogor, Menteri Pertanian RI bersama Masyarakat
Singkong Indonesia (MSI) telah mencanangkan program :
PENGEMBANGAN KLASTER AGROINDUSTRI SINGKONG
TERPADU

Tanggal 28 Febuari 2012 di Pandeglang, Kalimantan Timur


dalam rangka hut MSI ke-2, Menteri Perindustrian RI dan
Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) telah mencanangkan :
GERAKAN NASIONAL SINGKONG SEJAHTERA BERSAMA
(GERNAS SSB) 2012-2016.

Sampai Desember 2012 telah terbentuk 25 MSI Provinsi dan 75


MSI Kabupaten/Kota yang siap melaksanakan Gernas SSB 2012-
2016.

3|Page
Dewan Pimpinan MSI Nasional telah mengirim surat kepada
Menko Perekonomian RI dan Ketua Komisi IV DPR RI untuk
menetapkan singkong sebagai komoditas strategis pangan
utama setingkat dengan padi, jagung dan kedelai. Tepung
singkong dibebaskan dari pengenaan PPN 10% atau PPN 10%
ditanggung oleh pemerintah. Dukungan kepada Menteri BUMN
untuk mengucurkan CSR dari BUMN untuk mendukung
pelaksanaan GERNAS SSB 2013-2016 untuk memproduksi
tepung singkong sebanyak :

4|Page
a. Tahun 2013
memproduks 1,2 juta ton tepung singkon
b. Tahun 2014
imemproduk 2,4 juta ton tepung g
singkon
c. Tahun si
2015 g
memproduks 4,8 juta ton tepung singkon
d. Tahun imemproduk 9,6 juta ton tepung g
2016 singkon
si g
Dewan Pimpinan Nasional MSI telah mengirim surat dan
program GERNAS SSB 2013-2016 kepada menteri BUMN RI
untuk mohon dukungan dana CSR dari BUMN untuk
pelaksanaan GERNAS SSB 2013-2016.

Berdasarkan dukungan dana CSR dari BUMN tersebut pada butir


2.9. dan perkiraan hasil pelaksanaan GERNAS SSB 2013-2016
seperti pada butir 2.8. tersebut diatas, mulai tahun 2013-2016
Indonesia akan dapat mengurangi import gandum sekitar 20-
40%. Maka akan terjadi penghematan devisa negara.

Dengan adanya import singkong yang semakin meningkat


sampai mencapai sekitar 2 juta ton tahun 2012, merupakan
peluang emas bagi MSI dan Pemerintah Indonesia untuk
memotivasi peningkatan produksi tepung berbahan baku
singkong (Tapioka Starch, Cassava Flour dan Mocaf) melalui
pelaksanaan program GERNAS SSB 2013-2016 diseluruh
Indonesia.

Dengan berhasilnya pelaksanaan GERNAS SSB 2013-2016


diharapkan mulai tahun 2013-2016 dan seterusnya Indonesia
akan menjadi exportir tepung singkong terbesar (Tapioka
Starch, Cassava Flour dan Mocaf). Singkong akan
menjadi pemasuk devisa bagi negara.

GERAKAN NASIONAL SINGKONG SEJAHTERA BERSAMA


(GERNAS SSB)

1. Untuk mencapai Singkong Sejahtera Bersama (SSB), maka


Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) telah meluncurkan
kegiatan Proyek : PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI AGRO
SINGKONG TERPADU .

2. Melalui Pengembangan Klaster ini, para petani peserta


Klaster dilatih mengolah singkong untuk menghasilkan produk
setengah jadi ( chips, gaplek, tepung singkong , mocaf,
tapioka dsb) sebagai bahan baku industri lanjutan atau
5|Page
industri derivatif, sehingga petani hanya menjual barang-barang
setengah jadi tersebut.

3. Ditargetkan tahun 2016 petani singkong di Indonesia tidak


menjual singkong segar lagi dan tidak lagi
mempermasalahkan harga singkong rendah , tapi yang
menjadi acuan petani harga chips singkong kering.

6|Page
4. Berdasarkan program Klaster tersebut, maka Masyarakat
Singkong Indonesia (MSI) mulai tahun 2012 meluncurkan :
GERAKAN NASIONAL SINGKONG SEJAHTERA BERSAMA ATAU
GERNAS SSB , Phase I , 5 Tahun , mulai tahun 2012
-2016,dengan target :
Th. 2012 (Februari) : Sosialisasi GERNAS SSB keseluruh
Kab/Kota yang telah ada MSI-nya (16 Propinsi dan 50
Kabupaten).
Tahun 2013 : Pelaksanaan Pilot Proyek di 50
Kabupaten/Kota sebanyak 150 Klaster atau 3 klaster per
Kabupaten/Kota, yaitu masing-masing , 1 klaster Petani, 1
klaster buruh tani dan 1 klaster pemuda/pemudi tani .
Total biaya 150 klaster aRp 20 Milyar/klaster
= Rp 3 Triliyun ( CSR BUMN) dengan melibatkan 18.000 KK
petani atau 72.000 orang ( 1 KK = 4 orang, bapak, ibu dan
2 anak ). 150x300
Hax100 T=4,5 juta ton singkong segar= 1,5 juta chips
singkong = 1,2 juta ton Tepung Singkong.
Tahun 2014 : Pelaksanaan Proyek 300 klaster (ada
penambahan 150
klaster dengan biaya tambahan Rp 3 Triliyun ( CSR BUMN
phase ke-2
) di 50 Kabupaten/kota di 16 propinsi, melibatkan 36.000
KK petani atau 144.000 orang. Produksi : 300x300Hax100
Ton = 9 juta ton singkong = 3 juta ton chips Singkong =
2,4 juta ton setara tepung singkong.
Tahun 2015 : Perluasan MSI ke 17 Propinsi lainnya,
sehingga menjadi
33 propinsi, dengan pelaksanaan proyek 600 Klaster ,
biaya dari pengembanlian CSR pase-1 , dengan
melibatkan 72.000 KK petani
atau 288.000 orang diseluruh Kabupaten/Kota yang telah
ada MSI- nya di 33 Provinsi. Produksi :
600x300x100ton=18 juta ton singkong= 6 juta ton chips
= 4,8 ton setara tepung singkong.
Tahun 2016 : Diteruskan melaksanakan 1.200
Klaster a 300 ha/klaster dengan melibatkan 144.000 KK
atau 576.000 orang. Biaya dari pengembalian CSR pase
ke-2 oleh petani peserta terdahulu.

7|Page
Pada tahun 2016 tersebut akan dihasilkan singkong Darul
Hidayah atau Manggu sebanyak 1.200 Klaster x 300 ha x 100
ton/ha = 36 juta ton singkong basah atau setara dengan 12
juta ton chips singkong Setara dengan 9,6 juta tong tepung
singkong/Mocaf.

Apabila harga chips aRp 2.000/Kg, maka akan ada uang


beredar sekitar Rp
24T ditambah peredaran uang dari hasil penjualan 9,6 juta ton
mocaf (1 kg chips = 0,8 kg mocaf) a Rp 3.500/kg sekitar Rp
33,6 T. Sehingga total uang beredar pada akhir GERNAS SSB
(thn 2016) akan mencapai Rp 57,6 T.

Jadi pada tahun th.2016 dana beredar di lingkup petani


peserta klaster di

8|Page
seluruh Kabupaten/Kota di 33 Provinsi sebesar Rp 57,6 Triliyun
(dari dana awal Rp 6 Triliyun) dan dapat mensejahterakan
144.000 KK petani atau
576.000 jiwa ( 1 KK petani terdiri 4 orang, ayah, ibu
dan 2 anak).

Dengan dicanangkannya Gerakan Nasional Singkong Sejahtera


Bersama (GERNAS SSB) phase I, 2012-2016, maka penanganan
singkong diseluruh tanah air secara profesional akan dapat
mensejahterkan rakyat Indonesia dan Ketahanan Pangan
Nasional semakin kuat. Apabila seluruhnya memproduksi mocaf
akan dihasilkan 9,6 juta TON MOCAF dan sebagian dapat
dicampur dengan tepung terigu sehingga dapat mengurangi
impor gandum. Penghematan devisa nasional. Sisa mocaf untuk
expor.

GERNAS SSB phase I, 2012-2016 dengan biaya Rp 6 Triliyun


menjadi Rp
57,6 T dan secara kumulatif 2013-2016 dapat mensejahterakan
270.000 KK
petani atau 1.080.000 jiwa ( 1 kk terdiri dari 4 orang : ayah, ibu
dan 2 anak
). Belum termasuk multiplier efect dari bisnis singkong dan
produk sampingannya (bibit, pakan ternak dan pupuk organik),
diperkirakan akan
mensejahterakan diatas 3 juta orang dan uang beredar akan
mencapai lebih
dari Rp 100
Triliyun.

Singkong yang juga dikenal


sebagai ketela pohon atau
ubi kayu, adalah pohon
tahunan tropika dan
subtropika dari keluarga
Euphorbiaceae. Umbinya
dikenal luas sebagai
makanan pokok penghasil
karbohidrat dan daunnya
sebagai sayuran.

9|Page
Syarat Tumbuh Tanaman
Singkong
Tanaman Singkong tumbuh optimal pada ketinggian antara 10-
700m dpl. Tanah yang sesuai adalah tanah yang berstruktur
remah, gembur, tidak liat
juga tidak poros. Selain itu kaya akan unsure hara. Jenis tanah
yang sesuai adalah tanah alluvial, latosol, podsolik merah
kuning, mediteran, grumosol dan andosol. Sementara itu pH
yang dibutuhkan antara 4,5-8, dan untuk pH idealnya adalah
5,8.

Curah hujan yang yang diperlukan antara 1.500 2500


mm/tahun. Kelembaban udara optimal untuuk tanaman antara
60%-65%. Suhu udara

10 | P a g e
minimal 10C. Kebutuhan akan sinar matahari sekitar 10
jam tiap hari. Hidup tanpa naungan.

Persiapan Bibit
Singkong
Ubu kayu paling mudah untuk diperbanyak. Cara yang
lazim digunakan adalah perbanyakan dengan cara setek batang
dari batang panenan sebelumnya. Setek yang baik diambil dari
batang bagian tengah tanaman agar matanya tidak terlalu tua
maupun tidak terlalu tua. Batang yang baik berdiameter 2-3 cm.
Pemotongan batang stek dapat dilakukan dengan
menggunakan pisau atau sabit yang tajam dan steril.
Jangan memakai gergaji untuk memotongnya karena gesekan
gergaji akan menimbulkan panas yang akan merusak bagian
pangkal dari batang. Potongan batang untuk setek yang baik
adala 3-4 ruas mata atau 15-20 cm. Bagian bawah dari
batang stek dipotong miring dengan maksud untuk menambah
dan memperluas daerah perakaran.

Persiapan Lahan Budidaya


Singkong
Untuk menanam ubi kayu ini tidak begitu sulit. Untuk daerah
yang mempunyai curah hujan cukup tinggi ataupun terlalu
banyak air, penanaman dilakukan dalam sebuah guludan
atau bedeng. Selain itu, dengan menggunakan guludan
memudahkan kita dalam pemanenan.

Untuk daerah yang mempunyai curah hujan sedikit atau kering,


penanaman tidak perlu dilakukan dengan membuat guludan.
Penanaman dapat dilakukan pada tanah yang rata. Tanah di
cangkul dan di remahkan kemudian diratakan dan pengguludan
dapat dilakukan setelah tanaman berumur 2-3 bulan setelah
tanam. Pada saat perataan dapat pula disebarkan pupuk
kandang atau kompos untuk penambahan unsure hara.
Pengolahan tanah yang sempurna diikuti dengan pembuatan
guludan yang dibuat searah dengan kontur tanah sebagai
upaya pengendalian erosi. Selain itu dengan pembuatan
guludan juga dapat memaksimalkan hasil dibandingkan dengan
system tanpa olah tanah setelah tanam.

Penanaman Ubi
Kayu
11 | P a g e
Waktu penanaman yang baik dilakukan pada awal musim kering
atau kemarau dengan maksud untuk hasil penanaman dapat
dipanen pada awal
musim
hujan.

Batang yang telah dipotong tadi kemudian ditanamkan dalam


tanah. Jangan sampai terbalik, tanda yang dapat kita lihat dari
arah mata dari tiap ruas batang yang disetek. Arah mata
menuju ke atas dibawahnya bekas tangkai daun.

12 | P a g e
Batang setek di tanam agak miring dengan kedalaman 8-12 cm.
Pada lahan tanaman yang subur dapat digunakan populasi
tanaman 10.000 batang/ha dan untuk lahan yang kurang
begitu subur dapat digunakan populasi
14.500 batang/ha. Jarak tanam dengan system monokultur
adalah 100 x 50 cm. Untuk system tumpang sari, penanaman
dapat menyesuaikan dengan
lahan dan tanaman
lainnya.

Pemeliharaan Tanaman
Singkong
Tanaman ini termasuk tanaman yang dapat mandiri sehingga,
tanaman ini menjadi mudah dalam pemeliharaanya.

Penyulaman dapat kita lakukan 2-3 minggu setelah


tanam. Bibit penyulaman seharusnya sudah disediakan ketika
pengadaan bibit tanaman yang dapat pula ditanam pada
pinggir lahan pertanaman. Hal ini untuk membuat
tanaman ini seragam dalam
pemanennya.

Agar tanaman dapat tumbuh baik dan optimal dilakukan dengan


pengurangan mata tunas saat awal tunas itu muncul atau
1-1,5 bulan setelah tanam. Sisakan maksimal 2 tunas yang
paling baik dan sehat dalam satu tanaman.

Penyiangan dilakukan pada umur 2-3 bulan setelah tanam dan


menjelang panen. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan
pemanenan serta mencegah kehilangan hasil panen selain
mengendalikan populasi gulma yang tumbuh. Selain itu saat
penyiangan dilakukan dengan membumbuni batang tanaman
sehingga dapat menjadi guludan.

Hama dan penyakit Tanaman


Singkong
Hama yang sering menyerang tanaman ini biasanya adalah
hama tungau merah (Tetranus urticae) dan serangan bakteri
layu (Xanthomonas campestis) serta penyakit Hawar Daun
(Cassava Bacterial Bligh / CBB)

13 | P a g e
Panen
Singkong
Kriteria ubi kayu yang optimal adalah pada saaat kadar pati
optimal. Yakni ketika tanaman itu berumur 6-9 bulan
apabila untuk konsumsi. Untuk
pembuatan produk seperti tepung sebaiknya ubi kayu dipanen
pada umur
lebih dari 10 bulan, dan itu juga tergantung akan varietas yang
ditanam. Ciri saat panen adalah warna daun menguning dan
banya yang rontok.

Cara pemanenan dilakukan dengan membuat atau memangkas


batang ubi kayu terlebih dahulu dengan tetap meninggalkan
batang sekitar 15 cm

14 | P a g e
untuk mempermudah pencabutan. Batang dicabut dengan
tangan atau alat pengungkit dari batang kayu atau linggis.
Hindari pemakaian cangkul, karena permukaannya yang lebar
yang tanpa disadari dapat memotong ubi.

Umbi yang baik setelah panen hanya berumu 1-3 hari


tergantung penyimpanan. Setelah itu umbi sudah melakukan
banyak perombakan kalori. Bahkan, kadang umbi berwarna
kebiruan apabila kandungan HCNnya tinggi. Dan munculnya
warna ini sangat mempengaruhi kualitas tepung.

Disamping kebutuhan singkong yang begitu banyak dipasar


lokal dan internasional, kebutuhan daging untuk memenuhi
pasar lokal juga cukup signifikan seperti yang disampaikan
Menteri Pertanian Republik Indoneisia. JAKARTA,
KOMPAS.com - Menteri Pertanian Suswono menargetkan,
pertumbuhan produksi daging sapi di tahun 2014 sebesar 23
persen. Tahun ini produksi daging sapi sebesar 430.000 ton,
dan tahun depan produksinya ditargetkan 530.000 ton.

Namun demikian, ketersediaan daging sapi nasional


masih kurang dibanding kebutuhan. Berdasarkan
kesepakatan Ditjen Teknis pada saat pra Rakor Pangan-
Bukit Tinggi November lalu, pada tahun depan
kebutuhan nasional daging sapi ditaksir mencapai
580.000 ton.

"Daging sapi diperkirakan masih mengalami defisit 0,04


juta ton," ujar
Suswono dalam paparan kinerja 2013, Jakarta, Senin
(30/12/2013).

Produksi daging sapi pada tahun ini mencatat kenaikan 2


persen dibanding tahun lalu. Tahun lalu, produksi daging
sapi sebesar 420.000 ton, sementara produksi daging sapi
sebesar 430.000 ton.

Namun, nyatanya produksi sebesar 430.000 ton tersebut masih


belum mencukupi kebutuhan nasional tahun ini. Kebutuhan
nasional daging sapi sepanjang tahun ini mencapai 540.000
ton, atau masih ada kekurangan
15 | P a g e
114.000 ton dari yang
tersedia.

"Kebutuhan daging sapi lebih tinggi dari produksi. Situasi tidak


mudah dan kita atasi dengan impor. Tapi nyatanya setelah
kita buka, (harga) tidak turun signifikan. Ada permasalahan
perdagangan. Harga tinggi karena sarana angkutan dan
distribusi yang belum memadai. Nah ini yang kita harapkan
ada alat transportasi untuk sapi-sapi," papar Suswono.

16 | P a g e
Kebutuhan daging yang belum tercukupi merupakan pelung
pasar yang sangat menjanjikan bagi peternak sapi potong.
Tersajinya pasar yang cukup memadai disatu pihak, dipihak lain
melimpahnya pakan sapi potong dalam bentu hijauan dan
konsentrat merupakan peluang besar yang dapat ditangkap
oleh peternak.

Berdasarkan latar belakang masalah, penulis


merumuskan masalah- masalah yang harus dicarikan
solusinya dalam penulisan proposal ini. Masalah yang dapat
dirumuskan dalam proposal ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah budi daya singkong gajah menguntungkan dan
dapat meningkatkan kesejahteraan petani ?
2. Apakah budi daya singkong gajah dapat memberikan
solusi krisis pangan dan energi.
3. Bagaimana cara budidaya singkong gajah yang baik
dan benar sehingga menghasilkan produksi yang sangat
menguntungkan petani.
4. Apakah peternakan sapi potong dapat memberikan
solusi krisis daging di Indonesia.
5. Bagaimana cara beternak sapi potong yang baik dan
benar sehingga menghasilkan produksi daging yang
sangat menguntungkan petani.

Tujuan penulisan proposal ini adalah :


1. Untuk memberikan gambaran secara komperhensip
mengenai tata cara budidaya singkong gajah .
2. Memberikan gambaran Study Kelayakan Investasi budi
daya singkong gajah .
3. Untuk memberikan gambaran besaran biaya investasi
dalam menjalankan proyek budi daya singkong gajah .
4. Menyediakan informasi tentang peluang investasi di
bidang usaha
penggemukan sapi yang sangat potensial untuk
dikembangkan mengingat kebutuhan akan daging yang
terus meningkat.
17 | P a g e
5. Menyediakan informasi dan pengetahuan untuk
mengembangkan usaha penggemukan sapi di Kabupaten
Purwakarta.

18 | P a g e
Biaya yang diperlukan untuk menjalankan proyek budi daya
singkong gajah sebesar Rp.233.845.600.000 (dua ratus tiga
puluh tiga milyar delapan ratus empat puluh lima juta
enam ratus ribu rupiah) sedangkan pendapatan yang
diperoleh sebesar Rp.298.136.000.000 (dua ratus Sembilan
puluh delapan juta seratus tiga puluh enam juta rupiah)
sehingga laba bersih perusahaan sebesar
Rp.201.781.540.000 (dua ratus satu milyar tujuh ratus
delapan puluh satu juta lima ratus empat puluh ribu rupiah)
dengaa rincian sebagai berikut:

Biaya yang diperlukan untuk menjalankan proyek Budi daya


singkong gajah
adalah sebagai berikut:
NO URAIAN KEGIATAN VOLUME HARGA (Rp)
SATUAN JUMLAH
1. Perencanaan 1 Ls 1% 1.129.800.000
2. Pembelian Lahan 14.795 Ha 5.000 100.000.000.000
3. Biaya izin usaha 14.795 Ha 500 10.000.000.000
4. Pengolahan Tanah 14.795 Ha 150 3.000.000.000
5. Pembelian Bibit 60.000.000 bt 50 3.000.000.000
6. Singkong
Upah penanaman 14.795 Ha 70.000 140.000.000
7. Pupuk Kandang 20.000 Ton 500 1.000.000.000
8. Upah buruh 14.795 Ha 280.000 560.000.000
9. pemupukan
Pupuk Urea dan TSP 800.000 Kg 2.500 2.000.000.000
10. Upah buruh 2.000 140.000 280.000.000
11. Pembersihan
pemupukan rumput 14.795 Ha 750.000 1.500.000.000
12. Pestisida 14.795 Ha 200.000 400.000.000
13. Biaya Panen 14.795 Ha 750.000 1.500.000.000
Jumlah Biaya Produksi 124.509.800.000
Hasil Produksi 200.000 Kg 700 140.000.000.000
Laba Sebelum Pajak 15.490.200.000
Keuntungan Pembelian Tanah 100.000.000.000
Jumlah Keuntungan 115.490.200.000
Pajak Penjualan 10% 1.549.020.000
Laba bersih Perusahaan 113.941.180.000

19 | P a g e
BAB
II
KAJIAN TEORI
Pada bab ini akan dibahas
secara teori mengenai :a)
Cara budi daya singkong
gajah dan b) cara
beternak penggemukan
sapi potong berikut kompoten terkait yang berhubungan
dengan dua masalah tersebut.
"SINGKONG GAJAH"
merupakan VARIETAS "ASLI"
KALIMANTAN TIMUR YANG
DITEMUKAN OLEH PROF. DR.
RISTONO, MS.
Dari berbagai sampel
cabutan
Singkong Gajah dengan umur
antara 4 - 9 bulan memiliki
rasa
yang enak dan gurih
dengan
tekstur empuk bahkan ada
nuansa rasa ketan. Berbagai
jenis olahan Singkong basah
menjadi makanan diperoleh
kualitas yang bagus
antara lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan
sayur pengganti
kentang, dan lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang
cukup tinggi.

Umbi umur 9 - 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi


sehingga berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung
Tapioka, Tepung Mocal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol.
Dengan demikian Singkong Gajah akan memiliki potensi
strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan Bahan
Bakar Nabati (Energi).

Secara fisik Singkong Gajah memiliki sistem perakaran yang


kuat sehingga memungkinkan bisa menyerap (menahan) air
dan sangat berguna bagi keperluan irigasi dan pengendalian
11 | P a g e
banjir. Sedangkan pertumbuhan batang, cabang dan daun
mencapai tinggi 5 meter. Tumbuhan ini mempunyai potensi
tinggi dalam penyerapan CO2, dengan demikian keberadaan
Singkong Gajah besar peranannya bagi pengendalian
ekosistem.

Lewat budidaya singkong gajah ini ke depan dapat tercipta


lapangan usaha, seperti mendirikan UKM, pabrik tapioka.
Bahkan, singkong gajah bisa menjadi komoditi ekspor setelah
diolah menjadi bio-etanol. Lewat budidaya singkong gajah
ini ke depan dapat tercipta lapangan usaha,

12 | P a g e
seperti mendirikan UKM, pabrik tapioka. Bahkan, singkong
gajah bisa menjadi komoditi ekspor setelah diolah menjadi bio-
etanol.

A. SYARAT PERTUMBUHAN

1. IKLIM
Untuk dapat berproduksi optimal, ubikayu memerlukan
curah hujan
150-200 mm pada umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada
umur 4-7 bulan, dan 100-150 mm pada fase menjelang
dan saat panen (Wargiono, dkk., 2006).
Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela
pohon/singkong sekitar
10 derajat C. Bila suhunya dibawah 10 derajat C
menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit
terhambat, menjadi kerdil karena
pertumbuhan bunga yang kurang
sempurna.
Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela
pohon/singkong
antara 60 "
65%.
Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman
ketela pohon /
singkong sekitar 10 jam / hari terutama untuk kesuburan
daun dan perkembangan umbinya.

2. MEDIA TANAM
Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon / singkong
adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak
terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan
organik. Tanah dengan struktur remah
mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih
mudah tersedia dan mudah diolah.
Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon
/ singkong adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah
kuning, mediteran, grumosol dan andosol.
Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk
budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5 - 8,0 dengan
pH ideal 5,8. pada umumnya tanah di Indonesia ber pH
rendah (asam), yaitu berkisar 4,0- 5,5,

12 | P a g e
sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi
suburnya tanaman
ketela
pohon.

B. PEDOMAN BUDIDAYA
1) BIBIT
Gunakan varietas unggul yang mempunyai potensi
hasil tinggi, disukai konsumen, dan sesuai untuk daerah
penanaman. Sebaiknya varietas unggul yang
dibudidayakan memiliki sifat toleran kekeringan,
toleran lahan pH rendah dan/atau tinggi, toleran

13 | P a g e
keracunan Al, dan efektif memanfaatkan hara P yang
terikat oleh Al dan Ca.
Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup
tua (10-12 bulan).
Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal
dan sehat serta seragam
Batang telah berkayu dan berdiameter 2,5 cm lurus.
Belum tumbuh tunas-tunas baru

2) PENGOLAHAN MEDIA
TANAM
2.1. Persiapan, kegiatan yang perlu dilakukan sebelum
pengolahan lahan adalah :
Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan
kertas lakmus, pH meter dan atau cairan pH tester.
Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel
tanah yang akan ditanami untuk mengetahui
ketersediaan unsur hara, kandungan
bahan
organik.
Penetapan jadwal / waktu tanam berkaitan erat dengan
saat panen.
Hal ini perlu diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam
bersamaan dengan tanaman lainnya (tumpang sari),
sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi
tanaman sejenis.
Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan
kebutuhan setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume
produksi penting juga
diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan
harga saat panen dan pasar.

2.2. Pembukaan dan Pembersihan


Lahan
Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan
dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan
akar-akar tanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan
untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan
menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan
penyakit yang mungkin
ada.

13 | P a g e
2.3. Pembentukan Bedengan
(Guludan)
Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap
penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk
memudahkan penanaman, sesuai
dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan
ditujukan untuk
memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti
permbersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan
tanaman.

14 | P a g e
2.4. Pengapuran (Bila
diperlukan)
Untuk menaikan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat
sangat asam / tanah gambut, perlu dilakukan pengapuran.
Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan
(CaCO3). Dosis yang biasa digunakan adalah 1 " 2,5 ton /
hektar. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau
pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan
pemberian pupuk kandang.

C. TEKNIK
PENANAMAN
Penentuan Pola Tanam Pola tanaman harus memperhatikan
musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu
tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah
penanaman padi. Jarak tanam yang digunakan pada pola
monokultur adalah 80 x 120 cm.

Cara Penanaman Sebelum bibit ditanam disarankan agar


bibit direndam terlebih dahulu dengan pupuk hayati MiG-6 Plus
yang telah dicampur dengan air selama 3-4 jam. Setelah itu
baru dilakukan penanaman dilahan hal ini sangat bagus untuk
pertumbuhan dari bibit.

Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah


stek ketela pohon, kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau
kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila
tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal
saja.

D. PEMELIHARAAN
TANAMAN Penyulaman
Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman,
yakni dengan cara mencabut dan diganti dengan bibit yang
baru/cadangan. Bibit atau tanaman muda yang mati harus
diganti atau disulam. Penyulaman
dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu
panas. Penyiangan Penyiangan bertujuan untuk
membuang semua jenis
rumput/tanaman liar./ pengganggu (gulma) yang hidup disekitar
tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2
kali penyiangan. Periode kritis atau periode tanaman harus
21 | P a g e
bebas gangguan gulma adalah antara 5-10 minggu setelah
tanam. Bila pengendalian gulma tidak dilakukan selama
periode kritis tersebut, produktivitas dapat turun sampai
75% dibandingkan kondisi bebas gulma. Pembubunan Cara
pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah
disekitar tanaman dan setelah dibuat seperti gundukan.
Waktu pembubunan bersamaan dengan waktu penyiangan,
hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman
ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman
sehingga perlu
dilakukan pembubunan /ditutup dengan tanah agar akan
tidak kelihatan.

22 | P a g e
Perempelan / Pemangkasan Pada tanaman ketela pohon perlu
dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal
setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3, hal ini agar
batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi
dimusim tanam mendatang. .

E.
PEMUPUKAN
Pemupukan Secara Konvensional / Kebiasaan Petani Pemupukan
dilakukan dengan system pemupukan berimbang antara N, P,
K dengan dosis Urea :
135 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 135 kg. pupuk tersebut
diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K = 1/3 : 1: 1/3
atau Urea : 50 kg, TSP/SP36 :
75 kg dan KCL : 50 kg (sebagai pupuk dasar) dan pada
saat tanaman
berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K = 2/3:0:2/3
atau Urea :
85 kg dan KCL : 85
kg.

Pemupukan dengan Sistem Teknologi MiG-6 Plus Sistem


pemupukan menggunakan teknologi MiG-6 Plus , dapat
mengurangi kebutuhan pupuk kimia/anorganik sampai dengan
50%, adapun cara pemupukannya adalah sebagai berikut :
Disarankan saat pengolahan lahan diberikan pupuk kandang
pada setiap lubang yang akan ditanami bibit. Kebutuhan
5ton/ha.
3 hari sebelum tanam diberikan 2 liter MiG-6 Plus per hektar
dengan campuran setiap 1 liter MiG-6 Plus
dicampur/dilarutkan dengan air max
200 liter atau 1 tutup botol (10 ml) dicampur/dilarutkan dengan
air sebanyak 2 liter (jumlah air tidak harus 200 liter boleh
kurang asal cukup
untuk 1 hektar) disemprotkan pada lahan secara merata
disarankan disemprotkan pada pupuk kandang/kompos agar
fungsi dari pupuk kandang/kompos lebih maksimal. Setelah 3
hari bibit / stek siap ditanam. 5 hari setelah tanam berikan
campuran pupuk NPK dengan dosis Urea : 50 kg, TSP/SP36 : 75
kg dan KCL : 50 kg pada lahan 1 hektar, 1 pohon diberikan
campuran sebanyak 22,5 gram dengan cara ditugalkan
pada jarak 15 cm
22 | P a g e
dari tanaman dengan kedalaman 10cm. Pemberian MiG-6 Plus
selanjutnya pada saat tanaman singkong berumur 2 bulan :2
liter, umur 4 bulan : 2 liter,
umur 6 bulan : 2 liter dan 8 bulan : 2 liter. Pemberian pupuk
anorganik selanjutnya pada umur tanaman 60-90 hari berupa
campuran pupuk N:P:K dengan dosis Urea : 85 kg, dan KCL : 85
kg. Asumsi bila 1 hektar lahan ditanam 7.500 pohon berarti 1
pohon diberikan sebanyak 22,5 gram dengan cara
ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman
10c
m.

F. PENGAIRAN DAN
PENYIRAMAN
Kondisi lahan ketela pohon dari awal tanam sampai umur 4-
5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab tapi tidak
terlalu becek. Pada
tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan
dari sumber

23 | P a g e
air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering
dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat
merusak tanah. System yang baik digunakan adalah system
genangan sehingga air dapat sampai kedaerah perakaran
secara resapan. Pengairan dengan system genangan dapat
dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan
berdasarkan kebutuhan.

G. HAMA DAN
PENYAKIT

Hama
Uret
(Xylenthropus)
Ciri: berada dalam akar dari
tanaman.
Gejala: tanaman mati pada yg usia muda, karena akar
batang dan umbi dirusak.
Pengendalian: bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat
tanam dan atau mencampur sevin pada saat pengolahan
lahan.
Tungau merah (Tetranychus
bimaculatus)
Ciri: menyerang pada permukaan bawah daun dengan
menghisap cairan daun tersebut.
Gejala: daun akan menjadi
kering.
Pengendalian:menanam varietas toleran dan
menyemprotkan air yang banyak.

Penyakit
Bercak daun
bakteri
Penyebab: Xanthomonas manihotis atau Cassava
Bacterial Blight/CBG
.
Gejala: bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak
dan mengakibatkan pada daun kering dan akhirnya mati.
Pengendalian:menanam varietas yang tahan, memotong
atau memusnahkan bagian tanaman yang sakit,
melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun.

23 | P a g e
Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum
E.F. Smith) Ciri: hidup di daun, akar dan batang.
Gejala: daun yang mendadak jadi layu seperti
tersiram air panas.
Akar, batang dan umbi langsung
membusuk.
Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman, menanam
varietas yang tahan seperti Adira 1, Adira 2 dan
Muara, melakukan
pencabutan dan pemusnahan tanaman yang
sakit berat.
Bercak daun coklat (Cercospora
heningsii)
Penyebab: jcendawan yang hidup di
dalam daun. Gejala: daun bercak-bercak coklat,
mengering, lubang-lubang bulat kecil dan
jaringan daun mati. Pengendalian:
melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman

24 | P a g e
varietas yang tahan, pemangkasan pada daun
yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.
Bercak daun konsentris (Phoma
phyllostica) Penyebab: cendawan yang hidup pada daun.
Gejala: adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada
daun muda.
Pengendalian : memperlebar jarak tanam,
mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian
tanaman yang sakit

H. WAKTU PENYEMPROTAN PESTISIDA /


INSEKTISIDA
Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya.
Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi
hari setelah embun hilang atau pada sore hari. Dosis pestisida
disesuaikan dengan serangan hama/penyakit, baca dengan baik
penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan.
Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka
dosis pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus
hati-hati karena serangga yang menguntungkan dapat ikut
mati.

RUMUS
PRODUKSI
Produktivitas = Genetika + Lingkungan +
Manajemen
Untuk memperoleh produktivitas singkong yang tinggi dan
oftimal, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

GENETIKA
SINGKONG
Pada dasarnya Singkong Gajah merupakan komoditas atau jenis
singkong yang ditemukan oleh Prof Ristono dari Indonesia. Dan
Karakter Singkong Gajah ini sangat istimewa : gen batang yang
cepat membelah dalam proses terbentuknya akar sehingga
pohon Singkong Gajah ini bisa cepat tumbuh dan sanggup
menghasilkan jumlah buah / umbi yang banyak. Singkong Gajah
ini juga mampu menghasilkan singkong yang enak gurih lagi
renyah.

LINGKUNG
AN
24 | P a g e
Dan Ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian
dalam menentukan pilihan lahan untuk menanam Singkong
Gajah (dan juga singkong jenis lain) : Beberapa perubah
lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas
adalah:
1. Sinar matahari harus full dari pagi sampai sore jangan
sampai ada yang menghalanginya lagi.
2. Ketersediaan air yang mencukupi selama
dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman
tersebut.
3. Kondisi tanah gembur (pourositas daya pegang air lembut
dan stabil)
begitu.
4. Ketersediaan bahan organik yang lengkap dan mencukupi
nutrisi.

25 | P a g e
5. Kombinasi kelembaban dan angin yang pas sangat
membantu proses transpirasi sehingga dapat
menghasilkan proses fotosintesis dengan baik dan benar.

MANAJEM
EN
Dan Tahapan ini merupakan sebuah proses dari tahapan
persiapan bibit pengolahan lahan dan perawatan tanaman.

1.
Bibit
Pada kenyataannya Batang Singkong Gajah yang baik
dipergunakan sebagai bibit adalah pohon yang tidak terlalu
muda sudah mencapai ukuran diameter optimal namun tidak
terlalu tua. Batang muda akan mudah rusak tergores sehingga
memudahkan proses terinfeksi dan rusak pada tanaman. Dan
Batang yang terlalu tua akan menghambat proses perakaran
sehingga pertumbuhannya akan kerdil pendek. Lalu, Batang
dipotong/stek seukuran sekitar 25 cm atau setidaknya stek
memiliki 10 mata tunas. Pemotongan
diupayakan mempergunakan alat potong yang tajam dan steril
dari bakteri dan jamur, begitu. Dan, Batang stek sebaiknya
diupayakan dari luka gores/rusak saat pemotongan
penyimpanan atau pengangkutan serta dalam proses
penanaman, begitu. Dan, Perendaman stek bibit
menggunakan hormone auksin (pemacu akar) sitokinin
(memacu tunas baru) dan giberilin (pembesaran) juga sangat
bagus dilakukan sebelum stek ditanam, begitu.

2. Persiapan
Lahan
Dan, Buah singkong yang berada pada akar memerlukan ruang
gerak yang gembur aerasi yang bagus daya pegang akan air
yang bagus serta adanya sehingga ada ruang yang cukup bagi
akar serta adanya cadangan makanan/unsur hara organik yang
banyak , begitu.

3.
Penanaman
Dan, Proses penanam dilakukan dengan menancapkan
batang stek ke dalam tanah. Sepertiga hingga setengah
batang stek masuk ke dalam tanah. Jarak tanam yang ideal
25 | P a g e
adalah 1.5 m X 1.5 meter dengan jarak tanam yang ideal ini
memungkinkan cahaya matahari tetap akan bisa menembus
daun batang dan permukaan tanah sehingga proses fotosintesis
bisa maksimal, begitu.

4.
Perawatan
.
Dan, Cukup sederhana tidak serumit merawat tanaman hias
atau komoditas pertanian yang lain, begitu. Dan,
Pemupukan selain pupuk dasar yang
diberikan pada masa pra tanam sangat diperlukan juga adanya
pemupukan

26 | P a g e
susulan. Pemupukan susulan menggunakan pupuk kandang /
kompos dilakukan pada usia tanam 3 bulan, begitu. Dan,
Lahan juga perlu dijaga dari tumbuhnya gulma gulma
pengganggu. Kondisi lahan hingga usia tanam 4 bulan perlu
dijaga kelembabannya jika musim kemarau perlu dilakukan
menyiraman atau leb (dialiri air) cukup basah saja tidak
sampai tergenang air, begitu. Dan, Ada kemungkinan
muncul hama pengganggu seperti tungau kutu kebul tikus
atau jamur sehingga perlu diperhatikan sehingga bisa segera
diatasi munculnya hama pengganggu, begitu. Dan, Dengan
memperhatikan ketiga unsur (Genetika Lingkungan dan
Manajemen) dipastikan hasil panenan Singkong Gajah akan
tinggi dan sehat per batang memanen singkong di atas 20 kg
tidaklah sulit, begitu.
2. TEKNIS BUDIDAYA SINGKONG GAJAH

1. Pembibitan
a. Persyaratan Bibit
Berasal dari tanaman induk yang cukup
tua (10-12 bulan).
Pertumbuhannya normal ,sehat dan seragam.
Batangnya telah berkayu dan berdiameter 2,5
cm lurus.
BelumBibit
b. Penyiapan tumbuh tunas-tunas baru.
Bibit berupa stek batang.
Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai
tengah.
Setelah stek terpilih kemudian diikat,
masing-masing ikatan berjumlah antara 2530
batang stek.
Bibit yang akan ditanam, harus dilukai
pada 3 ruas
dibawah
2. Pengolahan lahan ketiak daunnya dan direndam
a. Pembukaan lahan
- Pembersihan lahan
b. Pemupukan dasar
- Pupuk dasar untuk luas lahan 10.000 m : Pupuk
kandang :
3 ton, Be
- pupuk Natural
padat padat
, ditebar : 10 kg
merata
c. Pengairan dan Penyiraman
- Lahan dibajak dan digaru dalam kondisi lembab

27 | P a g e
-
Pembuatan bedengan dengan lebar 1 2,5 m, tinggi
50 cm(kedalaman gembur), jarak antar bedeng
menyesuaikan lahan.
- Lahan didiamkan selama 1 minggu
- Setelah satu minggu lahan siap ditanami
3. Penanaman
- Jarak tanam 1 meter x 1 meter atau 1 meter x 1,25
meter
- Penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung
bawah stek ketela pohon kemudian tanamkan
sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian
stek tertimbun
- Populasi tanah.
per 10.000 m kurang lebih 8.000 10.000
tanaman
4. Pemeliharaan
a. Penyulaman, dilakukan pada umur 1 -2 mst
b. Penyemprotan Be Natural Cair dosis 4-6 tutup
pertangki 14 liter air mulai umur 2 mst, 6 mst, 9
mst (+ 2 tutup Be Natural Hormon) Penyemprotan
Be Natural Cair dosis 4-6 tutup pertangki 14 liter air
mulai umur 2 mst, 6 mst, 9 mst (+ 2 tutup Be Natural
c. Hormon)
Penyiangan
Penyiangan dilakukan sebelum pemupukan atau
melihat kondisi gulma di lapangan. Minimal dilakukan
2 kali selama masa budidaya.
d. Perempelan/Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan dengan menyisakan 2 atau
3 cabang
utama.
e. Pemupukan
Pemupukan susulan I dilakukan pada umur 2 mst
Pemupukan susulan II dilakukan pada umur 4 mst

Tabel 1. Dosis pemupukan tanaman ubi kayu per 10.000


m
Dosis dan waktu Keterang
aplikasi an
Total DasapupukSus I Sus
No Jenis pupuk
(kg) r (3 II (
(kg) mst 3bst
) )
1 Urea 200 - (kg
70 (kg)
130 Pupuk Urea, NPK dan KCl
2 NPK Phonska 300 - 200 100 dicampur kemudian ditebar di
3 KCl 180 - 60 120 parit sekeliling tanaman atau
4 Be Natural Padat 20 kg 10 kg 10 - dengan tugal
Diencerkan dengan air
kg kemudian disiramkan atau
dicampur pupuk makro
5 Be Natural Cair Mulai umur 2 mst setiap 2 Ket: usia 1,5 bulan, 3,5 bulan
minggu sekali dengan dosis dan 4
0,5 bulan Be Natural Cair 5 tutup
1 ml/per + 1-2 tutup Be Natural
pohon Hormon (disemprotkan ke
28 | P a g e
5. Kondisi lahan dari awal tanam sampai umur 45
bulan selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek.
Penyiraman 2 minggu sekali atau tergantung kebutuhan
6. tanaman
Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida
yang sesuai dengan jenis dan tingkat serangan hama
atau penyakit
7. Panen (10 12 bulan setelah tanam)
- Ciri Panen
- Pertumbuhan daun bawah mulai berkurang.
- Warna daun mulai menguning dan banyak yang
rontok.
Cara Panen
Ketela pohon dipanen dengan cara mencabut
batangnya dan umbi yang tertinggal diambil dengan
cangkul atau garpu tanah.

29 | P a g e
Singkong Gajah
adalah singkong
yang
berteknologi
dalam arti bahwa
tanaman ini
perlu campur
tangan
manusia dengan
kasih sayang
atau
memerlukan
pemeliharaan
yang serius.
Walaupun tanaman
ini mempunyai
daya adaptasi
yang tinggi
dibandingkan dengan jenis lainnya. namun
kemampuannya
bertahan hidup
dalam
mengahadapi
rumput liar
kurang kuat

Namun ketika pemeliharaan dilakukan dengan baik


misalnya penggemburan tanah dengan penyiangan
rerumputannya, pemupukan dan penambahan unsur-unsur hara
yang diperlukannya, dan pengurangan daun atau cabang yang
kurang diperlukan. Harus diperhatikan adalah musuh utama
tanaman ini yaitu babi hutan, tikus dan landak.

Pada dasarnya Singkong Gajah tidak memilih tempat tumbuh,


karena dapat tumbuh dan bertumbuh di daerah dataran rendah
sampai dataran tinggi namun ia tidak cukup baik di daerah rawa
atau terus menerus berair. Kelebihan dari budidaya Singkong
Gajah ini adalah bibitnya mempunyai kekebalan terhadap
hama dan penyakit tanaman. Dalam hal ini umur panen pun
yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan ubi kayu lainnya.

30 | P a g e
Kandungan kayunya cukup tinggi sehingga biasa menjadi
sasaran dan berakibat kropos, bahkan mati. Oleh karena
itu, bibit tanaman ini sebaliknya direndam bahan anti
rayap atau obat perangsang tumbuh Petani singkong
tradisional lebih menggutamakan hasil panen pada umbi
sebagai bahan pangan. Dibebrapa tempat, umbi singkong
dijadikan bahan baku bioetanol. Sekarang budidaya singkong
bukan lagi terpancang pada umbi sebagai bahan pangan
melainkan sudah mulai ada petani singkong yang menjual
daunnya.

31 | P a g e
Teknik Dasar Penanaman
Singkong Gajah
Jarak Tanam pada penanaman Singkong Gajah perlu
diperhatikan untuk memperoleh umbi, bibit, dan daun yang
maksimal. Keteraturan jarak tanam menghasilkan keindahan
kebun dan juga mempermudah pemeliharaan tanaman seperti
pemupukan, penyiangan, dan pemeliharaan bedeng. Jarak
tanam pada singkong ini berdasarkan hasil penelitian yang di
pimpin oleh Prof. Ristono menunjukan adanya ketergantungan
pada tingkat kesuburan tanah. Pada tanah yang subur justru
menghendaki jarak tanaman yang longgar karena keinginan
singkong ini untuk keleluasaan membangun umbinya menjadi
panjang , besar serta banyak. Selain itu, percabangan
batang dan pertumbuhan daun dan batang juga akan leluasa
bisa mencapai tingkat kerimbunan yang cukup padat.
Keteraturan jarak antar pohon paling tidak satu meter,
bahkan ada pula yagn menanam dengan model jarak satu
meter kali dua meter. Sebaliknya, pada tanah yang tidak subur
penanaman dengan ukuran jarak yang berdekatan walaupun
umbi yang
diproduksinya menjadi
pendek.

Untuk memaksilmalkan produk maka tanaman ini menginginkan


tumbuh pada tanah yang digulud atau dibedeng dengan tinggi
gundukan sekitar 50 cm dan lebar bedeng paling tidak 70 cm.
Dengan bedeng sirkulasi air yang diperlukan tumbuhan ini
menjadi lebih terjamin karena Singkong Gajah tidak senang
hidup pada genangan air yang berlebihan. Apabila is terpaksa
ditanam secara tumpang sari maka ia adalah tanaman yang
dominan dala memperoleh sinar matahari sedangkan tanaman
yang lainnya harus berada dibawahnya dan umur Singkong
Gajah harus lebih tua daripada tanaman yang nebeng
tersebut. Oleh karena itu untuk tumpang sari sebaiknya
dilakukan secara bersamaan penanaman dengan jenis tanaman
yang dapat mendukung pertumbuhan singkong misalnya
kacang tanah, kacang hijau, atau kedelai.
Teknik menanam singkong oleh petani di Indonesia bervariasi.
Untuk Singkong Gajah disarankan mengikuti banyaknya mata
benih yang yang mungkin dapat tumbuh menjadi batang
tanaman yaitu antara tiga hingga lima mata. Ini berarti panjang
benih dari 10 cm hingga 20 cm. Diameter benih yang
disarankan sekitar 1,5 cm yang diambil baigan yang relatif lebih
muda.
Penanaman Singkong Gajah harus mengacu pada input
teknologi berupa bibit tanaman. Yaitu agar bibit yang ditanam
mempunyai keyakinan tinggi dapat hidup secara baik maka
sebaiknya diamati apakah bibit masih segar dengan cara
mengupas kulitnya ( dengan kuku ) apabila masih kelihatan
segar maka bibit tersebut sehat cukup tinggi.
Teknik Dasar Pemeliharaan
Tanah
Tanah yang telah dibuka untuk lahan penanaman singkong ini
harus diberi kesempatan memperoleh sinar matahari yang
cukup agar semua baigan dipermukaan tanah memperoleh
oksigen yang diperlukan oleh mikroba tanah. Penyuburan tanah
menggunakan pupuk kandan atau pupuk organic berupa Bokasi
atau kompos memerlukan sekitar 2 ton / hektar. Akan lebih baik
apabila pupuk ini bersamaan dengan proses penggemburan
tanah, proses ini akan lebih cepat dan efisien apabila dibantu
dengan input pupuk hayati. Penggunaan Biotonik yang
berkualitas pada awal penanaman diperlukan 2 - 4 liter/hektar
yang berati pencampurannya 200 400 liter air. Penambahan
pupuk hayati ini perlu diulangi lagi ketika tanaman telah
tumbuh dan berumur 1 bulan dan berikutnya setelah berumur 3
bulan 5 bulan. Pada Awal tanam biasnay tumbuh rumptu
pengganggu. Untuk menagtasi gangguan ini sebaiknya
dilakukan secara manual pada waktu tanaman umur satu
bulan yaitu dengan menggunakan tangan karena tanah
masih lentur dan rumptu juga masih muda dan midah dicabut.
Langkah selanjutnya dilakukan penyiangan secara manual pada
umur tanam 2 bulan dan 4 bulan. Pada singkong umur lebih
dari 3 bulan rumput akan otomatis mati di sekitar pohon karena
ternaungi oleh daun singkong yang semakin rimbun. Hasil
penyiangan rumpt secara manual berupa rumput atau
serasah lainnya yang sangat baik untuk bahan pupuk organik.
Pada waktu pemeliharaan tanah secara manual dilakukan,
petani juga harus memeriksa ada tidaknya gangguan hama
penyakit dan bahkan serangan hama tikus atau babii hutan.

Pemberian Pupuk
Organik
Kunci keberhasilan pertanian Sinkogn Gajah terlihat dari
pengolahan laha sejak awal dan pemberian pupuk organic
secara teratur. Apabila dirasakan memang biaya yagn
diperlukan cukup tinggi, namun hasil yang diperoleh tinggi
pula. Apabila pemberian pupuk hanya menggunakan pupuk
organi
dan pupuk hayati dalam artian tidak menggunakan pupuk
kimia sama sekali maka umbi yang dihasilkan paling tepat
untuk bahan industri pangan rasa Singkong Gajah yang
istimewa.
34 | P a g e
Penggemburan
Tanah
Penggemburan tanah akan lebih efektif dengan sekaigus
menaburkan pupuk organic atau pupuk kandang sehingga
percampuran bahan yang diperlukan untuk pertumbuhan
tanaman sedini mungkin telah dilakukan.

Teknik Dasar Pemanenan


Singkong Gajah
Dalam memanen singkong tergantung pada teknik pemanenan
dan dalam hal ini bagaimana keberhasilan mencabut umbi
tersebut dari dalam tanah . Pada tanah yang bersifat liat atau
keras biasanya berusaha mencengkram umbi sehingga banyak
yang tertinggal didalam tanah karena putus dan bahkan apabila
tercabut pun dalam keadaan rusak. Oleh karean itu teknik
panen umbi singkong perlu dipelajari. Dengan tanaman berada
4.
padaPENGOLAHAN SINGKONG
gulud atau bedng maka proses pemanenan akan lebih
MEMPRODUKSI GAPLEK DAN PATI SINGKONG
mudah karena umbi yang dihasilkan sebagian besar berada di
atas permukaan tanah utama dan gundukan tersebut relatif
gembur. Apabila waktu panen ternyata laha kering atau
keras maka dilakukan penggemburan tanah dengan menyiram
tanah denga pompa air dan dibiarkan selama 1 (satu) malam
agar pengemburan samapai ke ujung umbi/perakaran.

Umur Panen Singkong


Gajah
Penegrtian panen singkong adalah pengambilan hasil
dari tanaman singkong tersebut yang biasanya diutamakan
pada pengambilan umbi.
Umur tanaman 7-11 bulan akan menghasilkan umbi segar
mencapai 200 ton/ha dengan prediksi perbatangnya 20kg.

35 | P a g e
Di pasar internasional, gaplek dikenal dengan nama dagang
casava. Sementara pati singkong (tepung aci, tepung kanji)
disebut sebagai tapioka. Masyarakat Jakarta malahan menyebut
tepung aci ini sebagai sagu. Padahal jelas sekali perbedaan
antara tepung sagu dengan pati singkong. Yang disebut gaplek
adalah singkong (ketela pohon, ubi kayu = Manihot
esculenta/Manihot utillisima) yang telah dikupas dan
dikeringkan. Biasanya pengupasan dilakukan secara manual
dengan pisau dan tangan. Sementara pengeringannya
dilakukan dengan cara menjemurnya langsung di bawah panas
matahari. Tepung tapioka adalah pati singkong. Pati ini
diperoleh melalui penghancuran singkong segar, pelarutan
dengan air, pemerasan, pengendapan pati dan pengeringan.
Masyarakat tradisional melakukan proses ini secara manual
dengan mengupas singkong, memarutnya, memberinya air,
memeras lalu mengendapkan air perasan hingga diperoleh pati
yang kemudian dijemur sampai kering.

Meskipun singkong berasal dari Amerika tropis dan baru


ditanam di Indonesia setelah kedatangan bangsa kulit putih,
namun pengembangan dan pemanfaatannya sudah demikian
luas. Di Jawa Tengah, terutama di kawasan-kawasan yang
kering, gaplek merupakan komoditas pangan yang
penting. Tepung gaplek yang diberi air dan dikukus akan
menjadi tiwul, yang oleh sebagian masyarakat dijadikan
makanan pokok. Apabila proses pengeringan gaplek tidak
sempurna hingga berjamur (sebagian berwarna hitam dan
cokelat) maka akan diperoleh komoditas yang dikenal sebagai
gatot. Selain ditepungkan untuk bahan tiwul, gatot juga bisa
direndam, dijadikan serpih kecil-kecil secara manual dan
dikukus untuk langsung dikonsumsi. Selain lebih lezat, gatot
juga bergizi lebih baik karena jamur (kapang) yang merusak
pati singkong tersebut justru menghasilkan protein dan asam
amino yang sebelumnya tidak terdapat pada singkong. Proses
pembuatan gatot sedikit lebih rumit dibandingkan dengan
gaplek. Singkong yang telah dikupas, dijemur sebentar untuk
mematikan sel-sel (jaringannya) tetapi jangan sampai kering.
Biasanya penjemuran cukup dilakukan selama sehari sampai
dua hari. Selanjutnya singkong diperam dalam wadah yang
tertutup rapat sampai berjamur. Setelah itu singkong dijemur
lagi sampai kering untuk disimpan sebagai gatot.

36 | P a g e
Dalam masyarakat modern, tepung casava adalah bahan pakan
ternak yang cukup penting, terutama untuk ternak unggas.
Bersamaan dengan jagung, bungkil, dedak, dan tepung ikan,
gaplek merupakan bahan utama pakan unggas dan juga ternak
ruminansia serta babi. Fungsi gaplek adalah sebagai sumber
serat dan karbohidrat bermutu namun harganya murah.
Karena singkong hanya bisa ditanam di kawasan tropis, maka
kebutuhan gaplek negara-negara sub tropis disuplai dari Afrika
dan Amerika tropis serta Asia Tenggara. MEE, AS dan RRC
merupakan konsumen gaplek dengan volume cukup besar.
Seharusnya Indonesia sebagai negara tropis bisa menangkap
peluang ini. Namun kenyataannya kuota ekspor gaplek dan
tepung tapioka kita ke MEE hampir selalu tidak bisa kita
penuhi. Bebarapa kali kita terpaksa mengimpor dari Thailand
untuk kita reekspor ke MEE. Hingga Thailand pun protes ke
MEE agar kuota mereka dinaikkan serta Indonesia diturunkan.
Masalahnya adalah, Indonesia sendiri sebagai penghasil
singkong, sekaligus juga merupakan konsumen yang cukup
besar pula. Industri ternak unggas kita yang maju pesat,
tentu memerlukan suplai pakan yang akan cenderung makin
banyak juga. Hingga kebutuhan bahan pakan ternaknya pun
akan terus bertambah besar. Termasuk kebutuhan gapleknya.

Kalau dalam kehidupan modern gaplek labih banyak


digunakan untuk bahan pakan ternak, maka sekarang
tepung tapioka justru merupakan bahan makanan manusia
yang cukup penting. Dulu, pemanfaatan tepung tapioka
hanyalah untuk lem dan kanji guna mengeraskan dan
melicinkan pakaian sebelum diseterika. Tetapi dalam kehidupan
modern sekarang ini, penggunaan tepung tapioka terbanyak
adalah untuk bahan baku gula cair (High Fructose Syrup =
HFS), asam sitrat, bakso dan kerupuk. Negara- negara maju
seperti MEE, memerlukan tepung tapioka untuk menunjang
industri HFS dan asam sitrat mereka. HFS dan asam sitrat
merupakan bahan baku utama berbagai minuman instant
yang diberi embel-embel sari buah. Sementara di dalam
negeri, kebutuhan tepung tapioka juga terus naik
sehubungan dengan tumbuhnya kebiasaan makan mie bakso
dengan kerupuknya, serta kebiasaan menyantap singkong
goreng di kakilima. Bahan utama bakso adalah tepung tapioka
dan daging segar (daging yang belum dilayukan). Karenanya,
meskipun industri tepung gaplek dan tapioka tumbuh di mana-
37 | P a g e
mana (terutama di Lampung), namun kuota ekspor kita ke MEE
tetap tidak kunjung bisa terpenuhi. Bahkan trend terakhir, harga
gaplek dan tepung tapioka di dalam negeri menjadi lebih tinggi
dari harga ekspor (FOB).

Kelangkaan gaplek dan tepung tapioka ini sedikit banyak juga


disebabkan pula oleh turunnya minat masyarakat untuk
menanam singkong. Harga singkong yang setiap panen raya
antara bulan Juni, Juli dan Agustus hanya sekitar Rp 100,-
(pembeli mencabut sendiri) atau Rp 200,- (pemilik melakukan
pencabutan). Telah menyebabkan masyarakat enggan untuk
menanam singkong. Dengan hasil rata-rata 10 ton per hektar,
maka pendapatan kotor seorang petani singkong hanyalah Rp
1.000.000,- dari tiap hektar lahan mereka. Dengan
mengolahnya lebih lanjut menjadi gaplek dan tepung tapioka,
maka keuntungan petani akan bertambah besar. Sebab harga
gaplek di tingkat petani mencapai Rp 800,- per kg. sementara
tepung tapioka bisa sampai Rp 2.000,- per kg. Dari 1 ton (1.000
kg.) singkong segar dengan harga Rp 200.000,- 10% terdiri dari
kulit dan bagian yang harus dibuang. Sementara sekitar 60%
adalah air. Hingga, dari 1 ton singkong segar tersebut, akan
dihasilkan gaplek (berkadar air 14%) dengan bobot
440 kg. Kalau harga gaplek di tingkat petani Rp 800,- maka nilai
gaplek tersebut adalah Rp 352.000,- Ongkos kupas dan jemur
sekitar Rp 100.000,-
hingga masih ada marjin Rp 52.000,- untuk tiap ton
singkong segar.
Sementara upah cabut (Rp 100.000,-) dan upah kupas serta
penjemuran (juga Rp 100.000,-) sebenarnya juga dinikmati
oleh para petani sendiri. Hingga keuntungan yang Rp 52.000,-
per ton singkong segar tersebut merupakan nilai tambah riil
yang dinikmati oleh pemilik singkong.

Kalau singkong diolah menjadi tepung tapioka, maka nilai


tambahnya akan makin besar. Peralatan untuk mengolah
singkong segar menjadi tepung tapioka, tidak harus berupa
mesin-mesin mahal. Alat pemarut kelapa yang banyak dijumpai
di pasar dan warung-warung itu pun, bisa digunakan untuk
mengolah singkong segar menjadi tepung tapioka. Selain itu
juga diperlukan alat pemeras (pengempa) dan wadah untuk
mengendapkan

38 | P a g e
tepung tapiokanya. Biaya investasi untuk peralatan ini
diperkirakan antara
Rp 5.000.000,- sampai dengan Rp 10.000.000,- yang bisa
disusutkan sekitar
3 tahun. Kapasitas olahnya sekitar 1 sampai dengan 2 ton
singkong segar per hari. Setelah dikupas dan digiling,
diendapkan serta dijemur, dari 1 ton singkong segar itu, akan
diperoleh sekitar 200 kg. tepung aci. Dengan rincian, 10% dari
dari volume tersebut merupakan kulit dan pangkal serta pucuk
yang harus dibuang. Sekitar 60% berupa air yang 50%nya juga
akan dibuang. Dan dari 40% bahan padat tersebut, 20% akan
berupa pati dan
20% ampas. Dengan harga Rp 2.000,- per kg. nilai 200 kg.
tepung aci tersebut sekarang mencapai 400.000,- ditambah
dengan nilai ampas kering (untuk pakan ternak) @ Rp 100,- per
kg X 200 kg menjadi Rp 20.000,- Jadi total pendapatan dari
pengolahan tepung aci ini adalah Rp 400.000 + Rp
20.000,- = Rp 420.000,- Dengan ongkos prosesing Rp
150.000,- per ton singkong segar, maka masih ada marjin Rp
70.000,- yang menjadi hak pemilik singkong dan investor.

Jika dilihat sepintas, keuntungan dari memproses sigkong segar


menjadi gaplek maupun pati ini relatif kecil. Tetapi singkong
merupakan komoditas yang jangka waktu panennya sangat
pendek. Antara bulan Juni sampai dengan Oktober (5 bulan),
jutaan hektar tanaman singkong akan dibongkar untuk diambil
umbinya. Hasilnya adalah jutaan ton singkong segar. Pada
waktu panen raya demikian, harga singkong segar akan jatuh
kurang dari Rp 100,- per kg. Upaya inilah yang mestinya harus
diatasi oleh para petani sendiri dengan melakukan proses
pembuatan tepung tapioka atau gaplek. Tetapi untuk itu, para
petani perlu membentuk kelompok. Kemudian mereka juga
perlu modal untuk membeli singkong secara cash ke petani
dan menunggu proses pembuatan aci serta proses
pemasarannya yang akan makan waktu antara 2 sampai
dengan 3 bulan. Kalau dalam satu kelompok beranggotakan 30
orang ada 1.000 ton singkong segar, maka diperlukan
modal untuk pembelian singkong senilai Rp 100.000.000,-
Dalam kurun waktu 2 bulan (6 hari kerja dalam seminggu)
para petani anggota kelompok itu harus bekerja mencabut
singkong, mengupas, menggiling, memeras, mengendapkan

35 | P a g e
tepung dan menjemurnya dengan upah sekitar Rp 10.000,- per
hari. Berarti diperlukan modal kerja sekitar Rp
180.000.000,- Modal investasi diperkirakan paling banyak Rp
20.000.000,- Hingga keperluan modal adalah Rp 300.000.000,-

Dari 1.000 ton singkong tersebut, akan diperoleh 200 ton


tepung tapioka dengan nilai Rp 2.000.000,- per ton.
Atau total pendapatannya Rp
400.000.000,- Berarti masih ada marjin sekitar Rp
100.000.000,- yang akan dinikmati oleh kelompok tani
tersebut. Selain itu para petani juga bisa
bekerja dengan nilai upah mencapai Rp 180.000,- dalam
kurun waktu

36 | P a g e
sekitar 2 bulan pada waktu panen singkong. Namun yang
menjadi pertanyaan adalah, siapa yang harus menyediakan
(memberi pinjaman) senilai Rp 300.000.000,- tersebut?
Seandainya pinjaman itu diperoleh dari bank, tentunya bank
akan meminta koleteral. Sebenarnya para petani tersebut bisa
mengajukan singkong yang hasil akhirnya akan menjadi
tepung tapioka tersebut sebagai koleteral. Tetapi koleteral
demikian tentu akan ditolak oleh bank. Sebab bank biasanya
minta koleteral berupa tanah atau tanah dengan bangunan,
kendaraan, emas dan lain-lain yang mudah diuangkan kembali.
Jaminan berupa raw material dan tepung tapioka masih tidak
lazim bagi kalangan perbankan di Indonesia. Padahal, jaminan
ini juga relatif mudah diuangkan. Dan dari hitung-hitungan
kasar yang ada, proses mengolah singkong segar menjadi
tepung tapioka relatif menguntungkan. Sebab kalau tidak
menguntungkan, bagaimana mungkin Gunung Sewu Grup,
Astra PENGOLAHAN
4.1 dan lain-lain konglomerat
UBI KAYU papan atasGAPLEK,
MENJADI Indonesia tertarik
untuk menangani
TEPUNG singkongDAN
SINGKONG segarTAPIOKA
menjadi tapioka?

Ubi Kayu atau singkong (manihot utilisima) merupakan


salah satu hasil pertanian yang tidak tahan lama dan mudah
rusak. Ubi kayu segar hanya dapat disimpan selama 3 hari. Jika
disimpan lebih dari 3 hari, umbinya akan berwarna coklat
kebiruan. Oleh karena itu,setelah dipanen ubi kayuharus segera
dikonsumsi atau diproses lebih lanjut. Untuk mempertahankan
daya simpannya, ubi kayu dapat diolah menjadi gaplek, tepung
ubi kayu atau tapioka.

Pembuatan
Gaplek
Berdasarkan bentuknya, gaplek dibedakan menjadi beberapa
jenis, yaitu gaplek gelondongan, gaplek rajangan (chips),
gaplek irisan (slice) dan
gaplek kubus (cubes). Secara umum tahapan pembuatan
gaplek adalah
sebagai
berikut:
36 | P a g e
Kupas ubi kayu lalu cuci dengan air bersih.
Belah, iris atau Rajang ubi sesuai dengan
keinginan, yaitu: Gaplek gelondongan:
Belah ubi kayu memanjang dengan menggunakan
pisau atau alat pemotong lainnya menjadi 3-5 belahan.
Gaplek
Rajangan:
Belah ubi kayu menjadi 2 atau 3 bagian, kemudian
potong-potong atau Rajang dengan pisau atau alat
pemotong (chopper)

37 | P a g e
Gaplek irisan:
Iris ubi kayu tipis-tipis dengan pisau atau alat
pengiris khusus
(silicer)
Gaplek kubus potong-potong ubi kayu dengan mesin
khusus menjadi bentuk kubus dengan sisinya 1-2 cm.
Rendam ubi kayu dalam larutan garam dapur 8% (0,8
gram garam dalam 1 liter air) selama 15 menit.
Jemur hingga kadar airnya mencapai 14% dengan
menggunakan alas dan anyaman bambu, plastic, tikar
atau lantai jemur.
Untuk gaplek gelondongan, pengeringan dapat
dilakukan dengan menggantung belahan-belahan ubi
tersebut. Caranya belahan ubi ditusuk dan disusun berjejer
dalam satu rentangan tali yang masing- masing ujungnya
diikatkan pada tiang.

Ubi kayu segar


Dikupas dan dicuci sampai bersih
Dibelah sesuai bentuk yang
dikehendaki Direndam dalam air
garam Dikeringkan/dijemur
Gaplek
Alur pembuatan gaplek
Tepung ubi kayu
Kupas ubi kayu, cuci sampai bersih lalu jemur hingga
kering.
Masukkan ubi kayu kening kedalam lumpang, kemudian
tumbuk.
Ayak dengan ayakan halus.
Sisa pengayakan ditumbuk dan diayak lagi, demikian
seterusnya hingga diperoleh tepung halus.
Jemur tepung dibawah sinar matahari. Apabila hujan,
pemgeringan dilakukan di dalam ruangan dengan
pemanas buatan,seperti kompor, oven atau lampu
petromak.

Ubi kayu segar


Dikupas dan dicuci sampai bersih
Dijemur
Ditumbuk
Diayak
37 | P a g e
Tepung hasil ayak dijemur
Tepung ubi kayu

Alur pembuatan tepung ubi kayu


Tepung tapioka
Kupas ubi kayu lalu cuci hingga bersih.

38 | P a g e
Rendam ubi yang telah dikupas dalam larutan garam
dapur 8% (0,8 gram dalam 1 liter air) selama 15 menit
atau dalam larutan soda kue (natrium bisulfit) yang biasa
dijual ditoko kue. Banyaknya soda kue yang diperlukan
adalah 0,04 gram dalam 1 liter air.
Parut ubi, campur hasil parutan dengan air bersih sambil
diremas- remas, lalu saring.
Endapkan hasil penyaringan untuk memisahkan pati
dengan air.
Pisahkan endapan dan air dengan jalan membuang air
yang terdapat diatas endapan.
Keringkan endapan atau aci basah lalu giling.
Hasil gulingan kemudian disaring untuk mendapatkan
tepung tapioka yang halus.

Ubi kayu
segar
Dikupas dan dicuci sampai bersih
Direndam dalam air garam 8% selama 15 menit
Diparut
Hasil parutan dicampur dengan air diremas-remas
Disaring
Endapan dikeringkan
Endapan yang telah kering digiling
Hasil gilingan disaring
5. PEMASARAN SINGKONG GAJAH
Tepung tapioka

Penting !! Sebelum Kita Memutuskan Menanam Singkong


Secara Luas Baiknya Kita Cari Tahu Dahulu Dimana Nantinya
Kita Akan Menjual Hasil Panen Singkong Jika Kita Belum
Mengetahui Pemasaranya.

Singkong Dalam Kehidupan Kita Sehari Hari Banyak Sekali


Kegunaanya :
1. Sebagai Bahan Berbagai Macam Olahan Makanan ,
Seperti Getuk , Keripik Dll. Sebagai Bahan Berbagai
Macam Olahan Makanan , Seperti
Getuk , Keripik Dll.
38 | P a g e
2. Sebagai Bahan Baku Tepung
Tapioka :
Tepung Tapioka Sebagai Bahan Baku Bebagai Macam Kue ,
Krupuk Dan
Makanan Ringan Lainya.
Tepung Tapioka Sebagai Bahan Dasar Pasta
Gigi [ Odol ]
Tepung Tapioka Sebagai Bahan Baku Perekat Kertas & Cat
Tembok Dll.
3. Sebagai Bahan Baku Tepung Mocaf [ Pengganti Tepung
Terigu Yang

39 | P a g e
100 Persen Masih
Impor ]
4. Bahan Baku Bioetanol [ BBM Pengganti
Bensin ]
5. Gaplek [ Singkong Yang Di Kupas Dan Di Jemur Sampai
Kering ] "Di
Ekspor Ke
China"
6. Bahan Baku Pakan
Ternak

Dengan Segudang Manfaat Singkong Di Atas , Apakah Anda


Masih Bingung
Dimana Menjual Hasil Panen Singkong Nantinya ?? Jika Anda
Masih Bingung
, Berarti Ini Adalah Masalah Buat
Anda.

Dalam Hukum Bisnis , Masalah Adalah Peluang - Peluang


Adalah Bisnis
Jadi Tanpa Kita Sadari Kita Telah Menemukan Peluang Bisnis
Baru , Bisnis
Yang Saya Maksud
Adalah :
Membuat Berbagai Macam Olahan Makanan Dari Singkong
Sendiri
Membuat Tepung Tapioka Sendiri
Membuat Tepung Mocaf Sendiri
Membuat Bioetanol Sendiri.
Daftar Pabrik Tepung Tapioka Di
Indonesia
Kendala yang sering di alami ketika kita mau membudidayakan
singkong adalah pemasaranya , dimana nantinya kita menjual
hasil panen !! Kalau hanya 1 s/d 3 ton mungkin kita bisa
menjualnya di pasar dikit demi sedikit , tapi bagaimana kalau
penen kita perhari mencapai puluhan bahkan ratusan ton.
Berikut Adalah Daftar Pabrik Tapioka Di Indonesia Yang
Siap Menerima Hasil Panen Singkong Basah.

1. Jawa
Timur
39 | P a g e
PT. Sorini Agro
Asia
Alamat : Jl. Halim Perdana Kusuma No 15 Desa Tajug,
Siman Ponorogo
Kapasitas Produksi Per Hari / Kebutuhan Bahan Baku Singkong
: 800 Ton
Harga Semua Jenis Singkong : Rp.700
s/d 1200
Refaksi : 10 s/d 15
Persen

2. Jawa
Tengah
Ngemplak Kab.
Pati
Karena Pabrik Di Ngempak Jumlahnya Mencapai Puluhan Pabrik
Yang Tersebar Di Sepanjang Jalan Utama , Saya Tidak Bisa
Menyebutkan Satu Persatu Nama Pabriknya. Kapasitas Produksi
Per Hari / Kebutuhan Bahan
Baku Singkong : Di Atas
1000 Ton. Harga Singkong :
Rp.900 s/d 1800
Refaksi : 30 s/d 50
Persen

40 | P a g e
3. Jawa Barat
CV. DELVIN AGRO
Alamat : Ds. Kaso Kec.Tambak Sari Ciamis. - Jawa Barat
Cp. 085777674822

4. Lampung Timur
PT. SORINI AGRO ASIA CORPORINDO Tbk.
Alamat : Ds. Tambah Subur , Kec. Way Bungur -
Lampung Timur

Lampung Selatan
CV. SEMANGAT JAYA
Alamat : Desa Bangunsari , Kec. Negrikaton , Kab. Pesawaran
- Lampung
Selatan
Pemilik Pabrik : Bapak Supar , HP : 081369501555

5. NTB
PT TAMBORA MAKMUR SEJAHTERA
Alamat : Jalan Raya Sumbawa Tano Km.26 Bhree , Desa
Bremang Sumbawa
NTB.

5.1 PERUSAHAAN CINA PESAN RIBUAN


TON GAPLEK

TEMPO Interaktif, Purwokerto - Perusahan yang bermarkas di


Cina, Jiangsu Gadot Noubei Biochemical Co Ltd,
menandatangani kontrak pembelian gaplek senilai total Rp
40 miliar
selama lima tahun dengan CV
Syasa Food and Agricultural
Product Company, perusahaan
di Banyumas,
Jawa
Tengah. Tiap tahun Syasa
mengirim gaplek
ke Negeri Panda sebanyak 240
ribu ton. Perusahaan itu
membeli singkong dari
petani Rp 700 per
40 | P a g e
kilogram dan dijual dalam bentuk gaplek U$ 320 per
kilogram. Omzet
penjualan gaplek Rp 124 miliar per tahun, kata Direktur Utama
Syasa, Nurazman Sidik, usai melepas ekspor perdana gaplek ke
Cina, Selasa (19/10).

Permintaan gaplek atau singkong kering dari sejumlah negara


di Asia dan
Eropa terus meningkat dari tahun ke tahun. Banyumas
sendiri mampu

41 | P a g e
mengekspor gaplek sebanyak 20 ribu ton setiap bulan.
Padahal kebutuhan
gaplek dari berbagai negara mencapai 60 ribu ton per
bulan, ujar dia.

Tahun ini, kata dia, Banyumas hanya mampu mengekspor


gaplek 2.000 ton per bulan. Namun tahun depan ekspor gaplek
dinaikan menjadi 3.600 ton per bulan. Untuk itu, ia meminta
pemerintah Banyumas mampu menyediakan lahan untuk
ditanami singkong karena prospek ekspor gaplek cukup tinggi.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Banyumas Achmad


Husein mengatakan pemerintah daerah Banyumas akan
menyiapkan lahan seluas
100 hektare untuk ditanami singkong. Untuk tahap awal, kami
sediakan 40
hektare dulu, kata
Husein.

Banyumas merupakan sentra hasil bumi seperti singkong,


kunyit, jahe, jagung, dan lainnya. Omzet tahunan untuk ekspor
hasil bumi mencapai Rp
20 miliar. Husein menambahkan, Banyumas salah satu daerah
tujuan investasi menarik. Di Jawa Tengah, kata dia, Banyumas
menjadi daerah proinvestasi nomor dua terbaik setelah
Purbalingga.

Menurut Mose Rachmut, Board Of Director Jiangsu Gadot Noubei


Biochemicals Co Ltd, pihaknya mengaku senang dengan
penandatanganan kontrak selama lima tahun untuk ekspor
gaplek. Kami juga akan menandatangani MoU dengan
pemerintah Banyumas untuk mendirikan pabrik asam sitrat di
Banyumas, katanya.

Melalui proses sedemikian rupa, gaplek dapat menghasilkan


asam sitrat, yang juga salah satu bahan pembuat minuman
berkarbonasi. Menurut Mose, gaplek Banyumas berkualitas
yang cukup baik dibandingkan dengan gaplek dari daerah lain.
Selain berwarna putih, kadar air gaplek Banyumas juga tidak
terlalu tinggi.

41 | P a g e
Perusahaannya, kata Mose, setiap tahun membutuhkan
pasokan gaplek sebanyak 600 ribu ton. Tak hanya di Cina,
perusahaannya juga tersebar di beberapa kawasan termasuk di
Amerika Serikat, Belanda, dan India.

5.2 POTENSI EKSPOR GAPLEK INDONESIA KE


CHINA MENCAPAI US$150 JUTA

Jakarta (ANTARA News) - Peluang ekspor gaplek ke China bisa


mencapai
150 juta dolar AS (sekitar Rp1,365 triliun) per tahun, namun
pasar yang

42 | P a g e
sangat besar itu hanya dimanfaatkan Indonesia tidak lebih dari
14 persen atau senilai 21 juta dolar AS (sekitar Rp191,1 miliar).

Padahal kebutuhan gaplek di negara tirai bambu itu mencapai


lima juta ton per tahun, yang sekitar 70 persennya dipasok oleh
Thailand, kata seorang pelaku usaha dari China, Liang Guo Tao,
kepada pers di Jakarta, Jumat.

Liang datang ke Indonesia untuk menjajaki berbagai


kemungkinan bisnis dengan pengusaha Indonesia, khususnya
yang berkaitan dengan biofuel, baik dari sisi mesinnya atau
pun bahan baku.

Bersama dengan mitra bisnisnya di Indonesia, Benny Kusbini,


Liang mengatakan bahwa gaplek akan dijadikan etanol di China.
China selama beberapa tahun ini sudah mulai mengurangi
konsumsi minyak bumi yang semakin langka dan mahal. Etanol
sudah dijadikan sebagai campuran BBM di 16 provinsi di China.

Bukan hanya China yang melirik potensi etanol di Indonesia,


bahkan beberapa negara asing, lanjutnya, juga sudah mulai
menjajaki kemungkinan pembukaan pabrik etanol di
Indonesia, termasuk penyediaan bahan bakunya yaitu
tanaman singkong.
"Saya sedikit terlambat datang ke Indonesia, negara lain sudah
melirik potensi gaplek dan singkong di sini sejak delapan tahun
lalu," katanya.

Indonesia merupakan salah satu dari empat produsen singkong


terbesar di dunia, setelah Nigeria, Brazil dan Thailand, dengan
tingkat produksi mencapai 20 juta ton dari produksi dunia 220
juta ton.

Sementara itu, Benny Kusbini yang juga Presiden Direktur PT


Mitra Globalindo Agribisnis mengatakan, dari kebutuhan China
sebesar lima juta ton gaplek per tahun, negara itu sudah
menyatakan kesediaannya untuk menampung sekitar satu juta
ton gaplek.

Pasar gaplek yang demikian besar itu, menurut Benny,


seharusnya direspon pemerintah pusat dan daerah karena akan
memberi dampak bergulir yang besar kepada masyarakat.
42 | P a g e
Jika Indonesia bisa memasok gaplek sebesar itu, katanya, maka
ada omset sebesar 150 juta dolar AS yang berasal dari harga
gaplek di China yang mencapai 150 dolar AS per ton.

"Nilai itu jika dirupiahkan bisa mencapai Rp1,3 triliun per


tahun. Itu akan

43 | P a g e
memberi pengaruh besar bagi masyarakat, karena ada
penyerapan tenaga kerja yang besar," kata Benny yang juga
salah seorang pengurus Dewan Koperasi Indonesia.

Infrastruktur dan layanan publik lainnya juga bisa


bergerak jika pemerintah bisa memanfaatkan potensi pasar
yang demikian besar. Belum lagi jika ada dorongan dari
pemerintah agar pengembangan etanol berbasis singkong
digalakkan.

Potensi etanol, menurut dia, juga demikian besar karena


harganya bisa mencapai 750 dolar AS per ton. "Potensi kita
untuk etanol bisa mencapai dua miliat dolar AS ke China,"
katanya.

China juga menawarkan mesin-mesin untuk pembuatan etanol


yang bisa dibeli pengusaha Indonesia dengan dukungan
pinjaman berbunga lunak enam persen per tahun dari
pemerintah China selama 10 tahun.

"Pengusaha Indonesia cukup menyediakan dana sebesar 20


persen dari harga mesin, dan sisanya bisa dipinjam dari China,"
katanya dan menambahkan investasi untuk pabrik etanol
berikut mesinnya dengan kapasitas 50 ribu ton per bulan
sekitar 25 juta dolar AS. (*)

6. BIOETANOL DARI UBI KAYU

Secara garis besar ada 4 langkah proses pembuatan


bioetanol dengan menggunakan ubi kayu
a. Mengubah zat pati dalam ubi kayu menjadi zat gula
(hidrolisis)
b. mengubah gula (glukosa) menjadi etanol (fermentasi)

1. Destilasi, Pemurnian etanol hasil fermentasi menjadi


etanol dengan
kadar 95-96%.
2. Proses dehidrasi , penghilangan air sehingga kadar etanol
meningkat
menjadi 99,5%.

43 | P a g e
Teknis pembuatan setanol dengan bahan ubi kayu.
1. Kupas ubi kayu segar sebanyak 50kg. Cuci dan giling.
2. Saring hasil gilingan untuk memperoleh bubur ubi kayu.
3. Tambahkan air 40-50 lt, aduk sambil dipanasi.

44 | P a g e
4. Tambahkan 1,5 ml enzym alfa-amilase. Panaskan selama
30-60 menit pada suhu 90 derajat Celcius. (hidrolisis)
5. Dinginkan hingga suhu mencapai 55-60 derajat Celcius
selama 3 jam , lalu dinginkan hingga suhu dibawah 35
C . Gunakan alat penukar
panas (Heat exchanger) untuk mempercepat proses
pendinginan.
6. Tambahkan 1 g ragi roti ,ure 65 g dan NPK 14 g .
Biarkan selama 72 jam dalam keadaan tertutup , tetapi
tidak rapat agar gas karbondioksida yang terbentuk bisa
keluar. Fermentasi yang berhasil ditandai dari aroma
berupa tape , suara gelembung gas yang naik keatas , dan
keasaman (PH) diatas 4. (fermentasi)
7. Pindahkan cairan yang mengandung 7-9% bioetanol itu
kedalam drum
lain yang didesain sebagai penguap
(evaporator).
8. Gunakan destilator , panaskan cairan bioetanol tersebut
pada suhu
79C. Kontrol suhu dapat dilakukan dengan
menggunakan dua cara yaitu mengatur aliran air refluks
dalam alat destilasi atau dengan mengatur api kompor.
(destilasi)
9. Fraksi bioetanol 90-95% akan berhenti mengalir secara
perlahan

Proses pembuatan Alkohol dari bahan


mollasse
Sebelum memutuskan menggunakan bahan mollasse
untuk proses pembuatan alkohol, ada beberapa pertimbangan
yang patut disimak: Mollasse merupakan bentuk gula
sederhana, sehingga dapat langsung
difermentasikan dengan menggunakan ragi/yeast . Berbeda
dengan bahan yang masih berupa pati seperti jagung dan
singkong yang memerlukan perubahan terlebih dahulu menjadi
bentuk gula/glukosa dengan menggunakan enzym. Dengan kata
lain langkah-langkah proses menjadi lebih singkat sehingga
menghemat biaya. Namun demikian, pertimbangan lain,
disesuaikan dengan kondisi daerah , karena tidak semua lokasi
mudah

44 | P a g e
mencari
mollase.

Jagung? Untuk alkohol atau


biodiesel
Jagung dapat diproses menjadi bahan bakar nabati yaitu
menjadi alkohol dan menjadi biodiesel. Mana yang lebih
menguntungkan?
Kalau dilihat dari segi ekonomis tentu kita harus
memperhitungkan faktor-
faktor lain seperti pemasaran dan harga dipasar. Namun untuk
sejenak kita lihat perbedaanya dari segi teknis pembuatan.
Proses yang lebih singkat dan cepat tentu memberikan
keuntungan , berupa biaya produksi yang lebih rendah.

45 | P a g e
7. INVESTOR DAN BIOETHANOL PRODUCTION

Pemerintah dan rakyat seolah buta bahwa ada banyak sumber


energi selain bahan bakar minyak (BBM) dan listrik.
Bahan bakar yang tak bisa diperbarui itu sudah mengikat
masyarakat sedemikian eratnya sehingga terus dicari dan
diburu kendati harganya selalu melambung tinggi. Rasanya
sudah jemu para pemerhati lingkungan dan ilmuwan
mengingatkan bahwa bahan bakar fosil merupakan bahan bakar
yang tak bisa diperbarui, juga tidak ramah lingkungan. Selain
terancam punah, bahan bakar jenis ini dikenal pemicu polusi
udara nomor satu. BBM yang dipakai kendaraan bermotor saat
ini menghasilkan zat beracun seperti CO2, CO, HC, NOX, SPM
dan debu. Kesemuanya menyebabkan gangguan
pernapasan, kanker, bahkan pula kemandulan.

Pemerintah harus memberi perhatian khusus pada


pengembangan sumber energi bahan bakar alternative
ramah lingkungan. Bahan bakar macam inilah yang kita
kenal dengan sebutan bioetanol. Indonesia berpotensi
sebagian produsen bioetanol terbesar di dunia. Menurut
Dr. Ir. Arif Yudiarto, periset di Balai Besar Teknologi Pati. Ada
3 kelompok tanaman sumber bioetanol: tanaman yang
mengandung pati (seperti singkong, kelapa sawit,
tengkawang, kelapa, kapuk, jarak pagar, rambutan, sirsak,
malapari, dan nyamplung), bergula (tetes tebu atau molase,
nira aren, nira tebu nira surgum manis) dan serat selulosa
(batang sorgum, batang pisang, jerami, kayu, dan
bagas).seluruh bahan baku itu semuanya ada di
Indonesia. Bahan yang mengandung pati, glukosa, dan serat
selulosa ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Baru
segelintir produsen Indonesia mencetak keuntungan dari
proses nilai tambah bioethanol ini, padahal banyak perusahaan
seperti PERTAMINA, pabrik kosmetik, parfum, farmasi, dll.
sangat membutuhkan dan siap menampung dalam jumlah
berapapun produk bioethanol ini, jadi potensi kedepan sangat
menjanjikan dan tidak akan pernah mati. Pada proposal ini
menerangkan visi dan misi perusahaan, konsep produksi,
perencanaan pemasaran dan keuangan, , serta strategi bisnis
menjalankan agrobisnis ini.

45 | P a g e
Dengan harga premium yang semakin tinggi yang diakibatkan
menipisnya minyak bumi dunia, ketika harga minyak dunia US$
60 perbarel pemerintah Indonesia pasti harus menaggung
beban subsidi Rp 90 triliun/tahun. David j. o. Relly, CEO
chevron International seperti dikutip Herald Tribune,
memperkirakan satu triliun barel cadangan minyak bumi dunia
akan habis dalam waktu 30 tahun. Disamping itu,konsumsi
minyak bumi yang terus melonjak turut memicu pemanasan
global. Solusinya ? Bioetanol salah satu

46 | P a g e
alternatif jawabannya. Seiring dengan issu menipisnya
cadangan minyak bumi dunia dan seluruh bahan baku yang
melimpah di Indonesia. Peluang bioetanol sebagai bahan
bakar alternatif dimasa mendatang bakal menanjak. Itulah
sebabnya peluang usaha bioetanol di tanah air semakin
terbuka. Dengan begitu bioetanol tidak hanya
menyelamatkan tanah air dari krisis bahan bakar minyak tapi
juga dari krisis ekonomi.

Dengan melihat peluang yang ada dalam pasaran dunia, bahan


baku yang berlimpah, dan posisi Indonesia yang strategis
sebagai jalur transportasi internasional sehingga banyak
reseller danrelation antar perusahaan baik asing maupun lokal
yang siap menampung hasil produksi ini. Perlu diketahui, Kami
mahasiswa semester akhir Teknik Mesin ITS mampu
memproduksi bioethanol dengan teknologi terbaru dan telah
memasarkannya dalam skala kecil. Kami berkeinginan
mengembangkannya dalam jumlah yang lebih besar dari
sebelumnya, tetapi Kami mengalami kendala yaitu dana. Maka
dengan proposal ini, Kami bertujuan menjalin kerja sama
dengan investor agar proses produksi bioethanol ini dapat
berlangsung.

I.3 VISI DAN


MISI VISI
Menciptakan sebuah perusahaan yang integritas, komunikatif,
winning goal point, positive dan learning attitude sesuai dengan
standart ISO.
MIS
I
I. Menjalin kerjasama dibidang
Agrobisnis.
II. Membuat perencanaan dan strategi bisnis yang
efektif untuk memperkecil resiko bisnis dan keuangan
dan kendala perusahaan.
III. Membuat struktur manajemen, organisasi, serta
SDM yang berkualitas dan sistem yang terorganisir.
IV. Membangun dan menciptakan sebuah
branding sistem.

KONSEP
PRODUKSI
46 | P a g e
Pada proposal ini akan diketahui tentang konsep produksi
yang kami hasilkan, dimana nantinya Kami tawarkan hubungan
kerjasama kedua- belah pihak. Baik pengelola & investor
dalam proses produksi ini, produk
yang dihasilkan adalah
Bioetanol
Dalam memenuhi standart yang ada di pasaran maka Kami
mengutamakan kualitas dalam menjalankan proses produksi,
baik dari bahan baku, mesin, manajemen, organisasi, sistem
pemasaran, dan hubungan kerjasama yang saling
menguntungkan bagi kedua belah pihak.

47 | P a g e
Sebagai bangsa yang besar dengan jumlah penduduk sekitar
220 juta jiwa, Indonesia menghadapi masalah energi yang
cukup mendasar. Sumber energi yang tidak terbarukan
(non-renewable) tingkat ketersediaannya semakin berkurang.
Sebagai contoh, produksi minyak bumi Indonesia yang telah
mencapai puncaknya pada tahun 1977 yaitu sebesar 1.7 juta
barel per hari terus menurun hingga tinggal 1.125 juta barel
per hari tahun 2004. Di sisi lain konsumsi minyak bumi terus
meningkat dan tercatat 0.95 juta barel per hari tahun 2000,
menjadi 1.05 juta barel per hari tahun 2003 dan sedikit
menurun menjadi 1.04 juta barel per hari tahun 2004 (Tabel 1).
Tabel 1. Produksi dan Konsumsi Minyak Bumi di Indonesia

Tahun Produksi (juta Konsumsi (juta


barel/hari) barel/hari)
2000 1.4 0.9446
2001 1.3 0.9632
2002 1.2 0.9959
2003 1.1 1.0516
2004 1.125 1.0362
Sumber: Media Indonesia, 8 September 2004 dan Kompas,
27 Mei 2004

Petunjuk pelaksanaan pengembangan energi alternatif secara


detail sudah diatur dalam dokumen Pengelolaan Energi Nasional
(PEN). Didalamnya disebutkan mengenai rencana (roadmap)
pengembangan seluruh jenis energi alternatif. Dalam waktu
dekat, pemerintah juga akan menerbitkan Inpres tentang
biofuel (biodisel dan bioetanol) yang akan merinci intensif bagi
pengembangan biofuel, termasuk instruksi kepada menteri-
menteri untuk menindaklanjuti di departemen masing-masing.

Dengan diterbitkannya tujuh izin investasi pembangunan pabrik


energi alternatif (biodiesel dan bioetanol) oleh Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM) pada pertengahan tahun 2005 yang
lalu, memperkuat indikasi bahwa peluang bisnis di bidang
bioenergi (bioetanol) dan pengembangan perkebunan energi
menjadi sesuatu yang prospektif di masa depan.

BIOETAN
OL
47 | P a g e
Bioetanol adalah sebuah bahan bakar alternatif yang diolah dari
tumbuhan, dimana memiliki keunggulan mampu
menurunkan emisi CO2 hingga
18 %. DiIndonesia, minyak bioethanol sangat potensial untuk
diolah dan dikembangkan karena bahan bakunya
merupakan jenis tanaman yang
banyak tumbuh di negara ini dan sangat dikenal masyarakat.
Tumbuhan

48 | P a g e
yang potensial untuk menghasilkan bioetanol adalah
tanaman yang memiliki kadar karbohidrat tinggi, seperti:
tebu, nira, sorgum, ubi kayu, garut, ubi jalar, sagu, jagung,
jerami, bonggol jagung, dan kayu.

Banyaknya variasi tumbuhan yang tersedia memungkinkan


kita lebih leluasa memilih jenis yang sesuai dengan kondisi
tanah yang ada. Sebagai contoh ubi kayu dapat tumbuh di
tanah yang kurang subur, memiliki daya tahan yang tinggi
terhadap penyakit dan dapat diatur waktu panennya.
Namun kadar patinya yang hanya 30 persen, masih lebih
rendah dibandingkan dengan jagung (70 persen) dan tebu (55
persen) sehingga bioetanol yang dihasilkan jumlahnya pun lebih
sedikit.

Biaya produksi bioetanol tergolong murah karena sumber bahan


bakunya merupakan limbah pertanian atau produk pertanian
yang nilai ekonomisnya rendah serta berasal dari hasil
pertanian budidaya tanaman pekarangan (hortikultura) yang
dapat diambil dengan mudah. Dilihat dari proses produksinya
juga relatif sederhana dan murah.

2.
POTENSI
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, dari
beberapa jenis tanaman tersebut ada jenis tanaman yang
potensialdikembangkan kerena karakteristik yang dimilikinya,
diantaranya adalah :

a. Kelapa
sawit
Kelapa sawit (Elaeis Guineensis Jack) merupakan jenis
tumbuhan monokotil, dimana kandungan sabutnya
(mesocarps) berakumulasi minyak. Pabrik-pabrik biodisel skala
komersial yang sekarang sudah beroperasi di tanah air
menggunakan CPO dari kelapa sawit sebagai bahan bakunya.
Faktor ketersediaan menjadi alasan utama kenapa
digunakannya CPO.

Dalam proses produksi CPO, 1 ton Tandan Buah Segar (TBS)


menghasilkan

48 | P a g e
200 kg CPO, limbah padat Tandan Kosong Kelapa sawit (TKKS)
250 kg dan
0,5 m3 LCPKS. Ini dihitung dari neraca PKS, Jika dihitung dengan
cara ini, maka diperkirakan jumlah TKKS tahun 2006 adalah
sebanyak 20.75 juta
ton. Misalkan kadar air TKKS ini adalah 50%, maka jumlah
TKKS kering (OD) kira-kira 10.375 juta ton. Kandungan TKKS
adalah 45.80% selulosa dan 26.00% hemiselulosa. Kembali
ke perhitungan menurut Badger (2002) maka potensi
bioetanol adalah sebesar 2,000 juta Liter. Jumlah yang tidak
sedikit dan setara dengan 1446.984 liter bensin.

49 | P a g e
b. Jarak pagar (Jathropa curcas
linneaus).
Tanaman ini tergolong tanaman yang nakal karena dapat
dengan mudah beradaptasi pada berbagai cuaca dan tidak
membutuhkan banyak air serta pupuk. Usia panen tanaman ini
adalah enam hingga delapan bulan, namun hasil buah yang
optimal baru dapat dinikmati pada usia lima tahun. Bagian yang
diambil dari jarak pagar adalah biji dan kulit (karnel) buahnya,
dengan kandungan minyak masing-masing sebesar 33 persen
dan 50 persen. Setiap satu hektar lahan dapat ditanami
dengan 2.500 jarak pagar dan diperkirakan mampu
menghasilkan biodisel sekitar 1,7 kilo liter biodisel pertahun.

Rekayasa bioteknologi memungkinkan kita untuk menghasilkan


bibit jarak pagar yang memiliki kemampuan menyerap unsur
hara, terutama fosfor dan nitrogen serta mikronutrien (Zn, Mo,
Fe dan Cu) lebih baik. Selain itu, bibit tanaman tersebut akan
memiliki peningkatan ketahanan terhadap kekeringan, serangan
patogen akar dan meningkat produktivitasnya.

c. Tetes Tebu
( Molase )

Molase atau tetes tebu mengandung kurang lebih 60%


sellulosa dan 35,5% hemiselullosa. Kedua bahan polysakarida
ini dapat dihidrolisis menjadi gula sederhana yang selanjutnya
dapat difermentasi menjadi ethanol. Potensi produksi molase
ini per ha kurang lebih 10 15 ton, Jika
seluruh molase per ha ini diolah menjadi ethanol (fuel grade
ethanol), maka potensi produksinya kurang lebih 766 hingga
1,148 liter/ha FGE (perhitungan ada di lampiran).

Produksi bioetanol berbahan baku molase layak diusahakan


karena tingkat keuntungan mencapai 24%. Jumlah itu lebih
menguntungkan daripada menyimpan dana di bank dengan
tingkat bungan bank Indonesia per 6
Desember 2007 sebesar 8%. Investasi yang ditanamkan
untuk produksi
bioetanol berbahan baku molase ini sangat
menjanjikan .

49 | P a g e
d.
Sorgum
Sorgum yang selama ini dikenal sebagai bahan pangan
juga berprospek menjadi bahan bioetanol. Rendemen sorgum
biji jauh lebih tinggi, kata Dr M
Arif Yudianto, kepala bidang Teknologi Etanol dan
Derivatif B2TP.
Alumnus Tokyo University of Agriculture & Technologyitu
menggambarkan
2,5 kg sorgum kawali dapat menjadi seliter bioetanol.
Itu artinya rendemen Sorghum bicolor 40%.

50 | P a g e
Tingginya nilai pati mendorong Balai Tenaga Nuklir Nasional
(BATAN) mencetak sorgum dengan kadar gula tinggi. Tetua
yang dipakai adalah durra asal ICRISAT India. 'Sorgum itu
kemudian diinduksi sinar gamma. Nantinya ia akan memiliki
sifat tahan kekeringan, tahan serangan penyakit, dan menelan
biaya produksi rendah,' kata Dr Soeranto Hoeman, peneliti
BATAN.

Sejak diuji multilokasi pada 2001 di daerah kering seperti


Gunungkidul, Yogyakarta, diperoleh sorgum unggulan bahan
bioetanol: sweet sorgum. Sorgum dengan kode B-100 itu
cukup istimewa karena memiliki kadar briks 17. Jumlah
itu mendekati tebu gula dengan kadar briks 190.
'Batangnya mengandung jus yang kalau diperas seperti
tebu,' tambah
Soeranto. Dari 15 kg batang sorgum dihasilkan 1 liter
bioetanol.

e. Jerami
Padi
Jerami padi mengandung kurang lebih 39% sellulosa
dan 27,5%
hemiselullosa. Kedua bahan polysakarida ini dapat dihidrolisis
menjadi gula sederhana yang selanjutnya dapat difermentasi
menjadi ethanol. Potensi produksi jerami padi per ha kurang
lebih 10 15 ton, jerami basah dengan kadar air kurang lebih
60%. Jika seluruh jerami per ha ini diolah menjadi ethanol (fuel
grade ethanol), maka potensi produksinya kurang lebih 766
hingga 1,148 liter/ha FGE (perhitungan ada di lampiran).
Dengan asumsi harga ethanol fuel grade sekarang adalah Rp.
5500,- (harga dari pertamina), maka nilai ekonominya kurang
lebih Rp. 4,210,765 hingga 6,316,148 /ha.

Menurut data BPS tahun 2006, luas sawah di Indonesia adalah


11.9 juta ha. Artinya, potensi jerami padinya kurang lebih
adalah 119 juta ton. Apabila seluruh jerami ini diolah menjadi
ethanol maka akan diperoleh sekitar 9,1 milyar liter ethanol
(FGE) dengan nilai ekonomi Rp. 50,1 trilyun. Jika dihitung-hitung
ethanol dari jerami sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan
bensin nasional.

Komponen Kandungan (%)


50 | P a g e
Hemiselulosa 27(+/- 0.5)
Selulosa 39(+/- 1)
Lignin 12(+/- 0.5)
Abu 11(+/- 0.5)

Potensi etanol dari jerami padi menurut Kim and Dale


(2004) adalah sebesar 0.28 L/kg jerami. Sedangkan kalau
dihitung dengan cara Badger

51 | P a g e
(2002) adalah sebesar 0.20L/kg jerami. Nah, dari data ini bisa
diperkirakan berapa potensi etanol dari jerami padi di Indonesia,
yaitu:

Jerami Kim and Dale Badger (2002)


54,700 (2004)
15,316 juta liter 10,940 juta liter
82,050 22,974 juta liter 16,410 juta liter

Kita ambil data yang pesimis yaitu cara Badger (2002), jumlah
etanol tersebut dapat menggantikan bensin sejumlah: 7,915 -
11,874 juta liter. Cukup untuk memenuhi kebutuhan bensin
nasional selama satu tahun.

Karakteristik Lignoselulosa Sebagai Bahan


Baku Bioetanol
Biomassa lignoselulosa sebagian besar terdiri dari campuran
polymer karbohidrat (selulosa dan hemiselulosa), lignin,
ekstraktif, dan abu. Kadang-kadang disebutkan holoselulosa,
istilah ini digunakan untuk menyebutkan total karbohidrat
yang dikandung di dalam biomassa dan
meliputi selulosa dan
hemiselulosa.

Selulo
sa
Selulosa adalah polymer glukosa (hanya glukosa) yang tidak
bercabang. Bentuk polymer ini memungkinkan selulosa saling
menumpuk/terikat menjadi bentuk serat yang sangat
kuat. Panjang molekul selulosa
ditentukan oleh jumlah unit glucan di dalam polymer,
disebut dengan
derajat polymerisasi. Derajat polymerase selulosa tergantung
pada jenis tanaman dan umumnya dalam kisaran 2000 27000
unit glucan. Selulosa dapat dihidrolisis menjadi glukosa dengan
menggunakan asam atau enzim. Selanjutnya glukosa yang
dihasilkan dapat difermentasi menjadi etanol.

Hemiselulo
sa
Hemiselulosa mirip dengan selulosa yang merupakan polymer
gula. Namun, berbeda dengan selulosa yang hanya tersusun

51 | P a g e
dari glukosa, hemiselulosa tersusun dari bermacam-macam
jenis gula. Monomer gula penyusun hemiselulosa terdiri dari
monomer gula berkarbon 5 (C-5) dan 6 (C-6), misalnya:
xylosa, mannose, glukosa, galaktosa, arabinosa, dan
sejumlah kecil rhamnosa, asam glukoroat, asam metal
glukoronat, dan asam galaturonat. Xylosa adalah salah satu
gula C-5 dan merupakan gula terbanyak kedua di di biosfer
setelah glukosa. Kandungan hemiselulosa di dalam biomassa
lignoselulosa berkisar antara 11% hinga 37 % (berat kering
biomassa). Hemiselulosa lebih mudah dihidrolisis daripada
selulosa,
tetapi gula C-5 lebih sulit difermentasi menjadi etanol
daripada gula C-6.

52 | P a g e
Gambar hemiselulosa
Ligni
n
Lignin adalah molekul komplek yang tersusun dari unit
phenylphropane yang terikat di dalam struktur tiga dimensi.
Lignin adalah material yang paling kuat di dalam biomassa.
Lignin sangat resisten terhadap degradasi, baik secara biologi,
enzimatis, maupun kimia. Karena kandungan karbon yang
relative tinggi dibandingkan dengan selulosa dan hemiselulosa,
lignin memiliki kandungan energi yang tinggi.

Glukos
a
Glukosa (C6H12O6) adalah gula sederhana
(monosakarida). Glukosa adalah salah satu produk utama
fotosistesis dan merupakan komponen structural pada
tanaman. Glukosa merupakan gula C-6 yang memiliki beberapa
bentuk, tetapi umumnya digambarkan sebagai cincin karon
seperti gambar di bawah ini.

Gambar
glukosa
Ethanol dapat diproduksi melalui fermentasi glukosa.
Umumnya biokonversi glukosa menjadi etanol dilakukan dengan
memanfaatkan yeast.
Reaksi umumnya adalah sebagai berikut: C6H12O6 -> 2CO2
+2C2H5OH +
52 | P a g e
Pana
s.
Pembakaran akan merombak etanol, oksidasi (penambahan
oksigen dari udara) hydrogen menghasilkan uap air (H2O),
karbon menjadi karbondioksida (CO2) dan melepaskan energi.

53 | P a g e
Kandungan Lignoselulosa & Potensi Etanol Yang
DapatDihasilkan Komponen selulosa yang bisa dirombak
menjadi etanol adalah hasil hidrolisis selulosa dan
hemiselulosa. Data-data di bawah ini dikumpulkan dari
beberapa sumber. Potensi produksi etanol dihitung dengan
metode yang disampaikan oleh Badger (2002). Kalau ada
yang punya data lebih baik dan lebih akurat silahkan dikoreksi.

Secara umum proses produksi ethanol dari lignoselulosa


adalah sebagai berikut:
bahan baku -> pretreatment -> hidrolisis -> fermentasi
-> distilasi &
dehidrasi -> fuel grade
ethanol
Magnet Pacu
Etanol

Para ilmuwan Brazil menemukan kegunaan gelombang


magnetik untuk meningkatkan produksi etanol. Victor Perez dan
mahasiswa Universitas Campinas menggunakan gelombang
magnet frekuensi rendah untuk memacu jumlah etanol yang
dihasilkan dari fermentasi gula. Produksi etanol meningkat
17% setelah menggunakan gelombang magnetik frekuensi
rendah dalam proses peragian tebu. Selain itu, produksi etanol
berlangsung 2 jam lebih cepat daripada metode fermentasi
biasa sehingga biaya produksi lebih irit

Pervapor
asi
Pervaporasi merupakan proses pemisahan suatu campuran
dengan perubahan bentuk dari cair menjadi uap pada
sisi membran. Letak
perbedaannya, teknik pemisahan berbasis membran ini
bekerja berdasarkan mekanisme difusilarutan. Dengan
menggunakan metode pervaporasi inilah dipastikan bioetanol
yang dihasilkan fuel grade etanol alias sesuai standar mutu
bahan bakar yang berkadar etanol 99,8%.
Efekt
if
Untuk meningkatkan kadar etanol, teknologi membran lebih
efektif. Bandingkan dengan cara konvensional berupa
destilasi dan dehidrasi. Ketika proses destilasi, bioetanol
membentuk azeotrop. Artinya, antara etanol dan air yang
terkandung sulit dipisahkan. Destilasi dengan meninggikan
kolom sekali pun, air sulit diceraikan dari etanol. Memang
masih ada sebuah cara untuk menarik air yaitu dengan
menambahkan zat toluen.

Toluen merupakan sebuah pelarut air. Ketika zat itu


ditambahkan sesuai dengan kadar air yang terkandung, air
akan tertarik. Namun, tetap saja masih ada air tersisa.
Celakanya sebagian zat toluen itu juga bercampur dengan
bioetanol menjadi kontaminan.

Efisie
n
Artinya biaya itu jauh lebih murah ketimbang teknologi
gamping. Gamping alias kalsium karbonat acap
dimanfaatkan sebagai penyerap air untuk
mengatrol kadar etanol. Pelaksanaannya memang mudah.
Produsen tinggal
mencelupkan 1 kg gamping ke dalam wadah berisi 4 liter
bioetanol. Sayang, bukan cuma air yang terserap, tetapi juga
bioetanol. Kehilangan bioetanol akibat serapan gamping
mencapai 30%. Alkohol tak dapat keluar lagi lantaran terikat
pada pori-pori gamping.

Jadi secara garis besar, teknologi membran ini


mempunyai beberapa keistimewaan seperti menghasilkan
bioetanol berkualitas tinggi. Selain itu produsen juga
mudah mengoperasikan, ramah lingkungan, dan
ukuran alat yang lebih kecil. Satu
lagi keistimewaan membran yaitu hemat energi,
karena membran hanya membutuhkan energi listrik sebesar
1.000 watt untuk kapasitas 50 liter per hari.

Pemanfaatan Limbah
Bioetanol
Limbah dari proses produksi pun dapat dimanfaatkan
sebagai bahan campuran pembuatan pupuk organik. Karena
berasal dari biomasa, limbah bioetanol baik cair maupun
padat mengandung bahan organik yang dibutuhkan
tanaman, mengandung unsur makro dan mikro yang
diperlukan tanaman.
Limbah
Cair
Untuk membuat pupuk, 4 liter limbah cair dicampur dengan 1
liter larutan mineral, 1 kg ampas tebu yang sudah menjadi abu,
dan 2 sak alias 100 kg pupuk kandang. Pupuk kandang asal
kotoran ternak adalah sumber nitrogen, unsur makro yang
paling dibutuhkan tanaman. Limbah bioetanol
yang mengandung enzim alfa-amilase berperan mengurai
protein dalam kotoran ternak menjadi zat organik yang bisa
diserap tanaman. Untuk memperkaya hara, ditambahkan
larutan mineral terdiri dari unsur mikro seperti magnesium,
besi, mangan, dan boron.

Sedangkan abu ampas tebu mengandung karbon aktif


penghambat pertumbuhan cendawan yang kerap menyerang
akar tanaman. 'Karbon aktif menyerap aflatoksin yang
dihasilkan cendawan sehingga cendawan tidak berkembang.
Seluruh bahan itu lantas diaduk sampai rata dengan
pengaduk berkekuatan 2 PK alias 1500 watt. Dengan itu, semua
bahan tercampur sempurna sehingga bisa langsung
ditaburkan di lahan. Sebaiknya pupuk didiamkan semalam
dan ditutup plastik agar enzim bekerja sempurna.

Pengaruh pupuk organik dengan campuran limbah singkong.


Dibanding Canavalia ensiformis yang hanya dipupuk dengan
pupuk kandang biasa, produktivitas kacang kara pedang Made
Satria lebih tinggi. Setiap tanaman menghasilkan 10-15 polong,
dengan pupuk kandang saja, 5 polong.

Manfaat lain jika pupuk itu dipakai pada penanaman bunga


potong dan jagung. Jagung yang ditanam di lahan 2 ha
maksimal hanya 1% yang terserang cendawan akar rigidoporus
dan sclerotium. Padahal biasanya serangan cendawan akar
jagung mencapai 20%.Pada bunga potong, pertumbuhan krisan
dan sedap malam lebih cepat 15-20%. Pemakaian pupuk
limbah bioetanol pun hemat, hanya 10% dosis pupuk
kandang murni.

Limbah
Padat
Sementara limbah padat bioetanol dicampur dengan bekatul
dan pupuk kandang digunakan sebagai pakan ternak
sapi. Hasil penelitian di
Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas
Brawijaya,
Malang, limbah padat kaya kandungan karbohidrat, glukosa,
dan serat. Total kalori yang dihasilkan lebih tinggi dibanding
onggok ampas tapioka, yang sama-sama dihasilkan dari
singkongdan bungkil kedelai. Ragi untuk fermentasi kaya
protein. Fermentasi juga membuat protein singkong lebih
mudah diubah menjadi daging,Makanya total
kalorinya lebih tinggi. Maklum, meski pakan
utamanyatanaman hijau, asupan karbohidrat dan glukosa
pada sapi membuat pertambahan bobot lebih cepat. Itu
lantaran keduanya lebih mudah dikonversi menjadi daging
ketimbang selulosa-kandungan utama pakan hijauan. Makanya
begitu pakan mengandung limbah padat bioetanol diberikan
pada 3 sapi peranakan ongole, bobotnya naik 10% dari 240
kg. Tak melulu sapi, limbah padat
bioetanol bisa menjadi alternatif konsentrat buatan pabrik
untuk kerbau, kambing, dan ayam.

3.1 BAHAN
BAKU :
Ada 3 kelompok tanaman yang dapat dijadikan bahan baku
untuk produksi biethanol yaitu :
Mengandung Pati, semisal : singkong, kelapa sawit,
tengkawang, kelapa, kapuk, jarak pagar, rambutan, sirsak,
malapari, dan nyamplung.
Bergula, semisal : tebu (sugarcane), gandum
manis (sweet sorghum), tetes tebu (molase), nira
aren, nira tebu nira surgum manis, dan
Serat Selulosa, semisal : batang sorgum, batang pisang,
jerami, kayu, dan bagas. Seluruh bahan baku ini semuanya
ada di Indonesia
Sumber biomassa lignoselulosa antara lain adalah
sebagai berikut:
1. Limbah pertanian/industri pertanian : jerami, tongkol
jagung, sisa pangkasan jagung, onggok, dll
2. Limbah perkebunan: TKKS, bagase, sisa pangkasan
tabu, kulit buah
kakao, kulit buah kopi, dll
3. Limbah kayu dan kehutanan: sisa gergajian, limbah
sludge pabrik kertas, dll
4. Sampah organik: sampah rumah tangga, sampah pasar,
dll

3.2 PERALATAN DAN PROSEDUR


PRODUKSI
Secara umum, produksi bioethanol ini mencakup 3 (tiga)
rangkaian proses, yaitu: Persiapan Bahan baku, Fermentasi,
dan Pemurnian. Dimana terdiri dari tangki penampungan,
tangki evaporator, tangki pendingin, dan tangki destilator.
Untuk mendapatkan bioetanol 90%, mesin berkapasitas 100
liter ini mampu menghasilkan 32,5-35 liter bioetanol dalam
waktu 4 jam.

Peralata
n:
Adapun rangkaian peralatan proses adalah
sebagai berikut:
Peralatan penggilingan
Pemasak, termasuk support, pengaduk dan motor,
steam line dan insulasi
External Heat Exchanger
Pemisah padatan - cairan (Solid Liquid Separators)
Tangki Penampung Bubur
Unit Fermentasi (Fermentor) dengan pengaduk serta motor
Unit Distilasi, termasuk pompa, heat exchanger dan alat
kontrol
Boiler, termasuk system feed water dan softener
Tangki Penyimpan sisa, termasuk fitting
Tangki penyimpan air hangat, termasuk pompa dan
pneumatik
Pompa Utilitas, Kompresor dan kontrol
Perpipaan dan Electrikal
Peralatan Laboratorium
Lain-lain, termasuk alat-alat maintenance

Proses Produksi Rahasial Perusahaan


Mesin Destilator
Termometer
Pipa Pengatrol Kadar Ethanol

RINCIAN KEUANGAN

BAHAN BAKU
No Jenis Biaya Jumlah Harga Satuan Total
MOLASE
Biaya investasi
1 Mesin 1 paket Rp Rp
pengolah bioetanol 100.000.000/pak 100.000.000
2 Zeolit local 2 X et 1.500/kg
Rp Rp 141.000
47 kg
Total biaya investasi Rp
100.141.000
Biaya produksi
1 Molase 280 kg Rp 700/kg Rp 196.000
2 Ragi 310 g Rp 75.000/kg Rp 23.250
3 Urea 161 g Rp 2.000/kg Rp 322
4 NPK 80 g Rp 3.500/kg Rp 280
5 Biomassa 1 m3 Rp 10.000/m3 Rp 10.000
6 Listrik 5 kwh Rp 650/kwh Rp 3.250
7 Tenaga kerja 2 orang Rp Rp 40.000
operator 20.000/orang/ha
9 Biaya ri Rp 141
penyusutan zeolit
Totallokal
biaya produksi perhari Rp 273.243
Biaya produksi per liter Rp 3.903,5
Pendapatan perhari 70 liter x Rp 10.000 per liter Rp 700.000
Laba perhari Rp 426.757
R/C ratio 2,561
Net B/C ratio 61 %
Payback period 0,98
Laba Bersih perbulan = Laba per hari x
30 hari
= Rp 426.757 x 30
= Rp 12.802.710 / 2100 Liter
= atau Rp 6.096,5 / Liter

Produksi bioetanol berbahan baku molase ini layak diusahakan


karena tingkat keuntungan mencapai 61 %. Jumlah itu lebih
menguntungkan daripada menyimpan dana di bank dengan
tingkat bungan bank Indonesia per 6 Desember 2007 sebesar
8%. Investasi yang ditanamkan untuk produksi bioetanol
berbahan baku molase ini kembali setelah kurang lebih
11
bulan.

BAHAN BAKU
SINGKONG
No Jenis Biaya Jumlah Harga Satuan Total
Biaya investasi
1 Mesin 1 paket Rp Rp
pengolah 150.000.000/pak 150.000.000
2 bioetanol
Zeolit lokal 2 X 47 et 1..500/kg
Rp Rp 141.000
Total biaya investasi kg Rp
150.141.000
Biaya produksi
1 Bahan baku 455 kg Rp 300/kg Rp 136.500
singkong
2 Enzim alfa amilase 135 g Rp 71.000/kg Rp 9.585
3 Enzim beta 81 g Rp 77.000/kg Rp 6.237
4 amilase
Ragi 310 g Rp 75.000/kg Rp 23.250
5 Urea 161 g Rp 2.000/kg Rp 322
6 NPK 80 g Rp 3.500/kg Rp 280
7 Biomassa 2 m3 Rp 10.000/m3 Rp 20.000
10 Tenaga 3 orang Rp Rp 60.000
kerja operator 20.000/orang/ha
12 Biaya penyusutan zeolit lokal ri Rp 141
Total biaya produksi perhari Rp 256.315
Biaya produksi per liter Rp 3.661,6
Pendapatan perhari 70 liter x Rp 10.000 per liter Rp 700.000
Laba perhari Rp 443.685
R/C ratio 2,73
Net B/C ratio 63,4%
Payback period 0,94

Laba Bersih perbulan = Laba per hari x 30 hari


= Rp 443.685 x 30
= Rp 13.310.550 / 2100 Liter
= Atau Rp 6.338,4 / Liter
Produksi bioetanol berbahan baku singkong layak diusahakan
karena tingkat keuntungan mencapai 63,4 %. Jumlah itu lebih
menguntungkan daripada menyimpan dana di bank dengan
tingkat bungan bank Indonesia per 6 Desember 2007 sebesar
8%. Investasi yang ditanamkan untuk produksi bioetanol
berbahan baku singkong ini kembali setelah kurang lebih 11
bulan produksi.

BAHAN BAKU LIMBAH KELAPA


SAWIT
No Jenis Biaya Jumlah Harga Satuan Total
Biaya investasi
1 Mesin 1 paket Rp Rp
pengolah bioetanol 150.000.000/pak 150.000.00
2 Zeolit lokal 2 X et 1..500/kg
Rp 0 141.000
Rp
47 kg
Total biaya investasi Rp
150.141.000
Biaya produksi
1 Bahan 455 kg Rp 150/kg Rp 68.250
baku limbah klp
sawit alfa amilase 135 g Rp 71.000/kg
2 Enzim Rp 9.585
3 Enzim beta amilase 81 g Rp 77.000/kg Rp 6.237
2 Ragi 310 g Rp 75.000/kg Rp 23.250
3 Urea 161 g Rp 2.000/kg Rp 322
4 NPK 80 g Rp 3.500/kg Rp 280
5 Biomassa 1 m3 Rp 10.000/m3 Rp 10.000
7 Tenaga kerja 3 orang Rp Rp 60.000
operator 20.000/orang/ha
9 Biaya penyusutan zeolit lokalri Rp 141
Total biaya produksi perhari Rp 178.065
Biaya produksi per liter Rp 2.543.8
Pendapatan perhari 70 liter x Rp 10.000 per Rp 700.000
liter perhari
Laba Rp 521.935
R/C ratio 3,93
Net B/C ratio 75 %
Payback period 0,79
Laba Bersih perbulan = Laba per hari x 30 hari
= Rp 521.935 x 30
= Rp 15.658.050 / 2100 Liter
= Atau Rp 7.456,2 / Liter
Produksi bioetanol berbahan baku limbah kelapa sawit layak
diusahakan karena tingkat keuntungan mencapai 75 %.
Jumlah itu lebih menguntungkan daripada menyimpan dana di
bank dengan tingkat bungan bank Indonesia per 6 Desember
2007 sebesar 8%. Investasi yang ditanamkan untuk produksi
bioetanol berbahan baku limbah kelapa sawit ini kembali
setelah 9 bulan.

Asumsi untuk keseluruhan


bahan baku :
1. Lahan yang digunakan untuk produksi adalah milik
sendiri bukan sewaan.
2. Umur ekonomis mesin produksi bioetanol
10 tahun.
3. Umur ekonomis zeolid lokal 500 kali pemakaian
setara 500 hari.
4. Jam kerja produksi 8 jam
perhari.
5. Harga jual bioetanol berkadar 99 % adalah Rp
10.000 perliter.
6. Tingkat suku bunga bank Indonesia saat
perhitungan 8%.
7. Kapasitas produksi 70 liter
perhari.
8. Bioetanol yang dihasilkan dari proses produksi
berkadar 99,8 %.

KESIMPUL
AN
Bioetanol adalah bahan bakar alternatif masa depan
yang ramah lingkungan dan bersifat renewable

Pengembangan biodiesel dalam negeri terutama ditujukan


untuk mengatasi polusi yangdiakibatkan oleh emisi yang
dikeluarkan oleh bahan bakar petroleum atau bensin.

Terlaksananya pengembangan biodiesel sangat


ditentukan oleh komitmen dan dukungan pemerintah,
melalui kewenangannya dalam regulasi

Pengurangan pemborosan devisa negara karena


pengurangan impor minyak mentah.

Meningkatkan permintaan dalam negeri untuk CPO,


perbaikan harga CPO, yang pada akhirnya diharapkan
berdampak pada perbaikan pendapatan
petani atau pekebun
Penurunan anggaran pemerintah untuk subsidi kesehatan
golongan masyarakat ekonomi lemah (mayoritas korban
emisi tinggi petrodiesel)

Perbandingan 1 Liter bioethanol = 2 Liter


bensin dan
pembakarannya pun sempurna serta tidak mudah menguap
seperti bensin.

Pemakaian bioethanol tidak perlu mengganti mesin


"apabila anda memakai bioethanol berkadar 100%" dan
tidak merusak mesin kendaraan anda.

Bioethanol adalah alternatif BBM yang saat ini telah dipakai


di beberapa negara lainnya.

Negara kita sangat bagus untuk produksi bioethanol,


karena kita tidak akan kekurang bahan dan kita dapat
merubah limbah industri menjadi Energi baru.

Pada bab ini dibahas


analisis usaha budi daya
singkong gajah dan budi
daya sapi potong beserta
usaha turunannya, seperti
analisis usaha
bioetanol, analisis usaha
biogas dan stserusnya.

1. ANALISA USAHA BUDI DAYA


SINGKONG GAJAH

Singkong sejauh ini masih dipandang sebelah mata. Namun


dengan singkong mata siapa saja bisa terbelalak lebar,
karena ternyata singkong mampu menghasilkan puluhan juta
rupiah per bulan. Almarhum Arie Wibowo di tahun 1980-an
menggubah sebuah lagu pop yang dia beri judul Anak Singkong.
Dalam lirik-liriknya yang bernada jenaka, lagu itu
menggambarkan keterpurukan singkong dibandingkan dengan
keju. Ya, singkong memang selalu dipandang remeh. Tapi, jika
saja Arie Wibowo masih segar bugar saat ini dan mengetahui
bahwa salah satu varietas singkong yang asli Indonesia
sekaligus hasil penelitian anak negeri sendiri, tentu dia akan
menggubah lagu lain yang merupakan kebalikan dari Anak
Singkong.

Tanaman singkong sangat mudah tumbuh di bumi Indonesia


dari Sabang sampai Merauke, demikian juga kegunaannya
sangat beraneka ragam kebutuhan dari dimakan langsung
tanpa dimasak hingga menjadi bahan olahan dan sekarang
digunakan sebagai pengganti terigu dalam bentuk tepung
mocaf. Namun budidaya singkong masih dilakukan
secara traditional, belum maksimal dan masih memakai bibit
umum yang memiliki produksi singkong relative rendah
sehingga hasil produksi per batang tanaman per tahun berkisar
antara 3 s.d 5 kg atau dapat dikatakan masih berada pada
kisaran produksi rendah sehingga singkong masih dianggap
sebagai tanaman terpinggirkan yang belum memiliki nilai
ekonomis.

Terdapat beberapa singkong varietas unggul merupakan


prestasi besar di dunia tanaman pangan yang diukirkan oleh
beberapa pakar singkong Indonesia. Melalui penelitian serta
teknik penanaman super maka berhasil dikembangkan
singkong yang berukuran jumbo bahkan raksasa bila
dibandingkan dengan singkong biasa. Diantara varietas
singkong unggulan kemudian dikenal seperti singkong manggu,
singkong dewo, singkong emas, singkong gajah, singkong darul
hidayah dan lain-lain. Dari berbagai sampel cabutan singkong
ungulan tersebut dengan umur antara 9
12 bulan memiliki rasa yang enak dan gurih dengan
tekstur empuk bahkan ada nuansa rasa ketan.

Seperti diketahui berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),


total impor singkong (bentuk Chip) hingga Oktober 2012
sebesar 13.300 ton dengan nilai US$ 3,4 juta atau Rp 32,3
miliar. Situasinya adalah hasil panen singkong dalam negeri
sampai 2012 belum bisa memenuhi kebutuhan bahan baku
industi sehingga masih harus bersusah-susah impor untuk
memenuhi kebutuhan bahan baku dalam negeri. Bahkan
sampai saat ini kita masih mengimpor singkong sebesar 3.000
ton seminggu untuk keperluan industri pangan.
Komoditi singkong sebagai bahan baku industri
seperti :
1. Sebagai bahan baku pada industri tepung (gaplek, tapioka
dan mocaf), serta bahan baku pada industri makanan
ringan seperti kripik singkong, roti atau mie instan
2. Sebagai bahan baku sektor energi yakni dijadikan bahan
bakar jenis
bio ethanol pengganti bahan bakar fosil. Bio ethanol
juga dipakai dalam industri obat-obatan dan minuman.
3. Singkong dibuat chip yaitu singkong dirajang menjadi
potongan kecil- kecil kemudian dikeringkan, untuk chip
ini kita masih mengimpor untuk indusrti pangan serta
bioethanol.
4. Limbah padat dari sisa pembuatan turunan singkong
(kripik dan tepung) yang banyak mengandung selulosa
bisa dijadikan bahan
campuran pembuatan pelet ikan/burung, lem, pupuk
organik dan lain- lain.
5. Limbah cair dari sisa pembuatan turunan singkong
(khususnya tepung) bisa dijadikan bahan baku pembuatan
natan the cassava atau untuk industri kimia lainnya

Biaya yang diperlukan untuk menjalankan proyek Budi daya


singkong gajah
adala Rp. dengan rincian sebagai berikut:
h URAIAN
NO 124.509.800.000
KEGIATAN VOLUME HARGA (Rp)
SATUAN JUMLAH
1. Perencanaan 1 Ls 1% 1.129.800.000
2. Pembelian Lahan 2.000 Ha 5.000 100.000.000.000
3. Biaya izin usaha 2.000 Ha 500 10.000.000.000
4. Pengolahan Tanah 2.000 Ha 150 3.000.000.000
5. Pembelian Bibit 60.000.000 bt 50 3.000.000.000
6. Singkong
Upah penanaman 2.000 Ha 70.000 140.000.000
7. Pupuk Kandang 20.000 Ton 500 1.000.000.000
8. Upah buruh 2.000 Ha 280.000 560.000.000
9. pemupukan
Pupuk Urea dan TSP 800.000 Kg 2.500 2.000.000.000
10. Upah buruh 2.000 140.000 280.000.000
pemupukan
11. Pembersihan rumput 14.795 Ha 750.000 1.500.000.000
12. Pestisida 14.795 Ha 200.000 400.000.000
13. Biaya Panen 14.795 Ha 750.000 1.500.000.000
Jumlah Biaya Produksi 124.509.800.000
Hasil Produksi 200.000 Kg 700 140.000.000.000
Laba Sebelum Pajak 15.490.200.000
Keuntungan Pembelian Tanah 100.000.000.000
Jumlah Keuntungan 115.490.200.000
Pajak Penjualan 10% 1.549.020.000
Laba bersih Perusahaan 113.941.180.000

Tenaga Kerja yang dibutuhkan


Utuk menjalankan usaha budi daya singkong seluas 14.795
Ha, dibutuhkan tenaga kerja sebagai berikut:
200 orang Petani Kebun
100 orang Pekerja pengolah hasil panen
10 orang staf administrasi
3 orang supervisor
2 orang staf marketing
2 orang Ir perkebunan
2 orang staf tenaga ahli perkebunan
2 orang manager.

Dengan adanya adanya tehnologi serta peluang seperti


disampaikan di atas maka kami menawarkan anda untuk
bekerja sama dalam budidaya perkebunan singkong yang telah
kami tekuni selama 3 tahun. Budidaya perkebunan singkong
ini adalah salah satu jenis usaha yang sangat prospektif, simple,
aman dan sangat menguntungkan dengan keuntungan minimal
mencapai 60% per tahun dan resiko kegagalan sangat minim
bahkan hampir 0 %. Berikut gambaran mengenai Investasi
Kerjasama Budidaya Perkebunan Singkong yang kami
kembangkan :

1. Lokasi
Kebun
Sebagian besar lahan perkebunan untuk para calon
investor terletak di bahu jalan dan dapat dilalui oleh mobil
keluarga. Lokasi berada di daerah
Kota Serang yaitu di Kecamatan Cipocok, Kecamatan Curuk
serta di daerah Kabupaten Serang yaitu Kecamatan Pabuaran,
Kecamatan Ciomas, Kecamatan Padarincang, Kecamatan
Mancak. Saat ini kami sedang melakukan pengembangan
perkebunan hingga di daerah Pandeglang Kalimantan Timur,
yakni di Kecamatan Bojong (lokasi kebun berjarak 5 km
dari
pabrik tepung tapioka modern). Sebagian besar lahan
perkebunan mengunakan sistem sewa berjangka.

2. Bibit
Singkong
Bibit Singkong yang kami tanam adalah 2 macam, yaitu:
Bibit kawinan antara Singkong Karet dan
Singkong Manggu
Bibit kawinan antara Singkong Karet dan
Singkong Kasesa

3. Modal
Investasi
Modal Investasi Kerjasama Budidaya Perkebunan
Singkong adalah sebesar Rp. 20.000.000,- per pohon
(batang), minimal modal investasi
adalah 22.000.000
batang.
4. Hasil Keuntungan
Investasi
Hasil Keuntungan Investasi Kerjasama Budidaya Perkebunan
Singkong adalah sebesar Rp. 5.000,- per pohon (batang)
atau setara dengan Rp.
100.000.000.000 (seratus milyar
rupiah)
5. Jumlah Tanaman yang
ditanam
Jumlah sesungguhnya tanaman yang kami tanam
kami lebihkan minimal 50% dari jumlah milik Investor.
Misalnya jika investor bergabung untuk 5000 tanaman,
maka kami menanam sejumlah minimal 7.500 tanaman. Hal
ini untuk mengantisipasi tanaman yang mati atau rusak
akibat hama serta apabila terjadi kegagalan
pencapaian produksi panen (panen tidak mencapai 20 kg
per batang misalnya).

Dengan adanya safety factor ini maka kami dapat memastikan


bahwa investor sangat aman untuk mendapatkan haknya sesuai
MOU yang disepakati bersama, tentunya dengan asumsi tidak
terjadi force majeur (bencana alam) selama masa kerjasama.

6. Bagi
Hasil
Pola Bagi Hasil Kerjasama Budidaya Perkebunan Singkong ini
adalah:
Untuk Investor (Pemodal) adalah sebesar 50% dari
Panen Bersih
Pengelola (Pengarap) sebesar 50% dari
Panen Bersih
7. Durasi
Kerjasama
Durasi Kerjasama Budidaya Perkebunan Singkong ini
adalah selama
12 bulan.
Akte perjanjian kerjasama ditandatangani bersama
di hadapan
Notaris di
Serang.
8. Pemasaran Hasil
Panen
Saat ini kami memproduksi sendiri hasil panen
singkong menjadi berbagai turunannya seperti kripik
singkong, gaplek dan tepung.
Kami juga adalah salah pemasok singkong segar dan
turunannya ke pasar lokal, industri food, industri feed serta
industri bio ethanol di daerah Kalimantan Timur hingga
Lampung.
Para investor yang telah bergabung, kami bebaskan anda untuk
memonitor perkembangan kebun singkongnya kapan saja mulai
dari awal pembukaan lahan sampai penimbangan saat panen
raya (terbuka/transparan) tanpa
perlu membuat perjanjian atau menghubungi kami
terlebih dahulu, langsung saja ke kebun anda (on the spot).

Berikut contoh perhitungan satuan paket kerjasama investasi


perkebunan singkong yang kami tawarkan :

Misalnya anda membeli paket minimal 1.000 batang, maka


anda adalah pemodal untuk membudidayakan minimal 1.000
batang tanaman singkong., maka modal investasi yang
dibutuhkan dalam paket kerjasama ini adalah sebesar :
1.000 batang x Rp 8.000,- = Rp.
8.000.000,-
Ilustrasi Perhitungan Modal Investasi serta Hasil Investasi
adalah sebagai berikut :

Perhitungan Bagi Hasil adalah sebagai


berikut :
Panen Raya (Rp. 750 x 20.000 kg) ............... Rp.
15.000,000,-
Modal Investasi (Rp. 8.000 x 1000 batang) ..... Rp.
8.000,000,-

Hasil Panen Kotor ................................... Rp. 7.000,000,-


Biaya Panen (Rp.1000 x 1000 batang) ............. Rp.
1.000,000,-

Hasil Panen Bersih ................................. Rp. 6.000,000,-

(JAMINAN KEUNTUNGAN dari MODAL) Rp. 5.000,- x 1000


batang = Rp. 5.000,000,-

Bagi Hasil untuk Pengarap atau Pengelola adalah : Rp.


1.000,- x 1000 batang = Rp. 1.000,000,-

Dengan demikian dana yang akan anda terima selang 12


bulan kedepan terhitung sejak anda menandatangai kerjasama
investasi tersebut adalah :

= (Modal Investasi + Jaminan Keuntungan Hasil Investasi)


= Rp. 8.000.000,- + Rp. 5.000.000,- = Rp. 13.000.000,-

Untuk paket di bawah 5000 batang, kami kenai Biaya


Pembuatan Akte
Notaris sebesar Rp. 500.000,-

Berikut Tabel Garansi Keuntungan Hasil Investasi


berdasarkan Nilai
Investasi yang diinginkan Calon Investor.
*)

Nilai investasi pada tabel di atas tidak mengikat pada kelipatan


500 batang.
Misalnya, anda ingin berinvestasi sebesar Rp. 10juta, maka
investasi anda equivalen dengan 1.250 batang (Rp. 10juta
dibagi Rp.8.000,-), Sehingga Garansi Keuntungan Hasil
Investasinya adalah sebesar 1.250 batang x Rp.
5.000,- = Rp. 6,25juta. Dana yang akan anda terima selang 12
bulan adalah sebesar Rp. 16,25juta.
Pentin
g:
GARANSI HASIL PANEN dan GARANSI KEUNTUNGAN HASIL
INVESTASI tersebut di atas kami berikan dengan syarat bahwa
selama masa kerjasama joint investasi (durasi 12 bulan) tidak
terjadi force majeure yang kriterianya sudah diatur dalam
hukum yang berlaku di Indonesia.

Dari paparan serta analisa di atas maka dapat disimpulkan


bahwa dalam
Joint Investasi yang kami tawarkan adalah
sebagai berikut :
1. Biaya Investasi per batang adalah sebesar Rp. 8.000,-
per batang, minimal investasi adalah 1.000 batang
tanaman, untuk investasi
penanaman di bawah 5000 batang, kami kenai biaya
Akte Notaris sebesar Rp. 500.000,-
2. Jaminan Keuntungan Hasil Investasi adalah sebesar Rp.
5.000,- per batang.
Jaminan keuntungan yang kami berikan pada
investasi ini pun bukanlah jaminan yang tidak
mempunyai kelayakan bisnis. Seperti
yang dipaparkan dalam perhitungan di atas
bahwa jaminan
keuntungan dalam investasi ini adalah sebesar
62,5% pertahun dari modal, berarti perbulan sebesar
5,2 %. Angka ini menurut kami cukup mempunyai
kewajaran bisnis dalam budang perkebunan khususnya
perkebunan singkong.
Keuntungan yang tidak wajar (layak) secara bisnis atau
pemberian keuntungan yang terlalu besar tentunya
sangat mengiurkan untuk
investor. Namun pada hakekatnya adalah
mengandung tingkat
resiko yang tinggi bagi calon investornya. Karena potensi
tidak tercapainya BEP (Break Even Point) sangat
tinggi. Dengan tidak tercapainya BEP tentunya pihak
pengelola akan merugi, otomatis pihak pengelola tidak
mampu memberikan kewajiban untuk para investornya
yang pada akhirnya merugikan para investornya.
3. Perjanjian Kerjasama (MOU) berlaku selama 12 bulan
sejak MOU
ditandatangani di hadapan Notaris di Kota Serang.
4. Safety Factor mencapai lebih
dari 50%.
Dengan perhitungan analisa biaya serta proyeksi
keuntungan yang memasukkan safety faktor otomatis
BEP sudah pasti tercapai
dalam durasi kerjasama ini. Dengan demikian modal
investasi anda
akan kembali berikut keuntungannya setelah 12
bulan kedepan.
Seluruh Garansi atau Jaminan yang kami berikan
sudah terdapat point safety faktor lebih dari 50%,
sehingga apabila terjadi kegagalan pencapaian hasil
produksi panen (panen tidak mencapai
20 kg per batang misalnya) atau penurunan harga jual
pada saat panen maka otomatis sudah terasi dengan
adanya safety faktor tersebut, dengan kata lain investor
kami pastikan mendapatkan haknya sesuai MOU yang
disepakati bersama, yakni keamanan pengembalian
modal dan hasil keuntungan tentunya dengan
asumsi tidak terjadi force majeur selama masa
kerjasama.
Dengan demikian Investor mendapatkan jaminan
keamanan kerjasama, jaminan modal kembali, jaminan
bagi hasil yang halal
dan transparan serta dapat diperpanjang lagi apabila
investor berkenan melanjutkan kerjasama di tahun
mendatang.

Demikian proposal joint investasi perkebunan singkong ini


kami sampaikan. Semoga bisa memberikan gambaran bagi
anda sebelum memutuskan untuk bergabung dalam budidaya
perkebunan singkong yang kami kembangkan ini.

Bilamana ada pertanyaan lebih lanjut, anda dapat hubungi kami


kembali di nomor telepon di bawah, Insya Alloh akan kami
paparkan apa yang menjadi ketidakjelasan anda seputar
investasi budidaya perkebunan singkong kami. Semoga
bermanfaat, terima kasih..
2. ANALISIS USAHA BIOETANOL
Harga minyak dunia
semakin lama semakin
melambung, minyak bumi
(fossil fuel) adalah bahan
bakar yang tidak dapat
diperbaharui, karena cepat
atau lambat pasti akan
habis, kedepannya jika
negara- negara di dunia
tidak segera
minyak akan naik tinggi sekali. mengantisipasi
kelangkaan minyak
bumi, maka harga

Saat ini banyak bahan alternatif pengganti minyak bumi, salah


satunya etanol yang terbuat dari singkong, singkong
merupakan salah satu sumber pati, karena pati merupakan
senyawa karbohidrat yang komplek. Penggunaan bahan baku ini
bisa digunakan sebagai bahan bakar yang apabila digunakan di
kendaraan bertenaga bensin tanpa perlu modifikasi mesin maka
pembakarannya akan lebih sempurna, asapnya lebih ramah
lingkungan dan tanaman ini dikenal gampang hidup walau
hanya ditancap batangnya ditanah basah tetap akan tumbuh.

Hal ini merupakan peluang usaha yang menarik, apalagi


mengingat bahan baku ubi kayu untuk membuat bioetanol
harganya sangat murah dan mudah didapatkan. Permintaan
akan bioetanol semakin hari juga semakin meningkat, apalagi
mengingat perusahaan di Indonesia yang memproduksi
bioetanol belum terlalu banyak. Jadi usaha di bidang ini
merupakan usaha yang bagus untuk dijalani.

Pada umumnya pelaku Usaha Bioetanol tinggal berhitung


berapa pundi- pundi rupiah yang akan Ia dapat dengan
menghitung volume Bioetanol yang Ia miliki. Luar biasa

Dengan semua kelebihan usaha Bioetanol , maka


tidaklah heran bila banyak pelaku usaha baru yang berminat
untuk memulai usaha Bioetanol ini .
Di antara berbagai jenis biofuel,
bioetanol tergolong paling mudah
diproduksi. Biaya operasional produksi
dan pembuatan instalasinyapun relatif
murah akan tetapi keuntungan yang
didapat dari bisnis biofuel jenis ini
cukup besar. Karena termasuk low
tech, maka bioetanol dapat diproduksi
oleh siapapun dan dimanapun, asal
ada kemudahan akses ke bahan baku.
Sebenarnya masyarakat kita telah
lama mengenal teknik pembuatan
bioetanol, khususnya untuk miras,
misalnya ciu, dan arak. Jadi secara
teknologi kita tidak punya
masalah atau sudah menguasai
teknik pembuatan
bioetanol sehingga seharusnya kita dapat pula
mengembangkan industri bioetanol bersekala besar maupun
kelas UMKM atau home industry.

Analisis SWOT pendirian UMKM


Bioetanol
Sebelum mendirikan UMKM atau usaha home industry
sebaiknya dilakukan perencanaan yang matang terlebih dahulu.
Sebagai tindakan awal biasanya pelaku bisnis menjalankan
analisis SWOT terhadap usahanya. Analisis SWOT juga
dilakukan setelah bisnis berjalan agar perusahaan dapat tetap
bersaing. Teknik analisis SWOT dapat dianggap sebagai teknik
atau metoda analisis yang paling fundamental, yang
bermanfaat untuk melihat suatu permasalahan bisnis/usaha
dari 4 bidang yg berbeda. Hasil analisis biasanya adalah
rekomendasi untuk mempertahankan kekuatan dan menambah
keuntungan dari peluang yang ada, sambil mengurangi
kekurangan dan menghindari ancaman. Jika digunakan dengan
tepat, analisis SWOT akan membantu kita untuk melihat
sisi-sisi yang tidak terlihat selama ini.

Untuk membantu membedakan apakah suatu hal dikelompokan


ke dalam kekuatan ataukah peluang dapat dilakukan dengan
cara melihat asal dari suatu hal tersebut. Hal penting yang
harus diingat selama menggunakan analisis SWOT adalah
semua yang dituliskan harus berdasarkan fakta. Dalam
menganalisis data digunakan teknik deskriptif kualitatif guna
menjawab perumusan permasalahan mengenai apa saja yang
menjadi kekuatan dan kelemahan yang ada pada objek
penelitian dan apa saja yang menjadi peluang dan ancaman
dari luar yang harus dihadapinya (Freddy Rangkuti, 2001).
Berikut analisis SWOT yang dapat diterapkan untuk
mengembangkan UMKM atau home industry bioetanol.
Kekuatan
(Strengths):
Kepakaran yang dimiliki
perusahaan
Produk baru atau service
yang unik
Lokasi perusahaan yang
strategis
Kualitas produk atau
proses

Kelemahan
(Weaknesses):
Minimalnya pengetahuan pemasaran
(marketing)
Produk yang dihasilkan tidak dapat dibedakan
dengan produk pesaing
Letak perusahaan atau institusi
terpencil
Mutu produk
rendah
Peluang
(Opportunities):
Market yang terus
berkembang
Penggabungan
perusahaan
Munculnya segmen pasar
yang baru
Market
internasional
Pasar yang kosong karena ketidaksanggupan kompetitor
memenuhi permintaan pelanggan
Ancaman
(Threats):
Pesaing baru di segmen pasar
yang sama
Persaingan harga dengan
pesaing
Pesaing mengeluarkan produk yang lebih bagus
kualitasnya
Pesaing menguasai pangsa pasar
terbesar

Bioetanol dan
Pembuatannya
Bioetanol pada dasarnya adalah etanol atau senyawa
alkohol yang diperoleh melalui proses fermentasi biomassa
dengan bantuan mikroorganisme. Bioetanol yang diperoleh dari
hasil fermentasi bisa memilki berbagai macam kadar. Bioetanol
dengan kadar 90-94% disebut bioetanol tingkat industri. Jika
bioetanol yang diperoleh berkadar 94-99,5% maka disebut
dengan bioetanol tingkat netral. Umumnya bioetanol jenis ini
dipakai untuk campuran minuman keras, dan yang
terakhir adalah bioetanol tingkat bahan bakar. Kadar
bioetanol tingkat ini sangat tinggi, minimal 99,5%. Dewan
Standarisasi Nasional (DSN) telah menetapkan Standar Nasional
Indonesia (SNI) untuk bioetanol. Saat ini ada dua jenis SNI
bioetanol, yaitu SNI DT 27-0001-2006 untuk bioetanol
terdenaturasi dan SNI-06-3565-1994 untuk alkohol teknis yang
terdiri dari Alkohol Prima Super, Alkohol Prima I dan Alkohol
Prima II. Alkohol Prima Super memiliki kadar maksimum 96,8 %
dan minimum 96,3 %, sedangkan Prima I dan Prima II minimal
96,1 % dan 95,0 %. Semua diukur pada temperature 15 oC.
Untuk mengkonversi biomassa menjadi bioetanol diperlukan
langkah- langkah sebagai berikut (Gan Thay Kong, 2010)
1. Proses hidrolisis pati menjadi glukosa. Pada langkah
ini pati atau
karbohidrat dihancurkan oleh enzim atau asam mineral
menjadi karbohidrat yang lebih sederhana. Jika bahan baku
yang digunakan buah-buahan mengandung gula tidak
perlu dilakukan hidrolisis
2. Proses Fermentasi, atau konversi gula menjadi etanol dan
CO2. Jumlah dan kadar bioetanol yang dihasilkan sangat
tergantung pada proses ini, oleh karena itu proses ini
harus dikontrol sehingga dapat dihasilkan bioetanol dalam
jumlah banyak dan berkadar tinggi.
3. Proses distilasi untuk memisahkan bioetanol dari air
sehingga diperoleh bioetanol dengan kadar 95-96%.
Karena titik didih air berbeda dengan bioetanol, maka
kedua komponen tersebut dapat dipisahkan melalui teknik
distilasi.
4. Proses dehidrasi untuk mengeringkan atau
menghilangkan sisa air di
dalam bioetanol sehingga tercapai bioetanol dengan
kadar lebih dari
99,5% (Fuel Grade Ethanol
(FGE))

Bahan baku pembuatan bioetanol (bioetanol generasi


pertama) yang banyak terdapat di Indonesia antara lain
singkong atau ubi kayu, jagung, ubi jalar, dan tebu.
Semuanya merupakan biomassa yang kaya karbohidrat dan
berasal dari tanaman penghasil karbohidrat atau pati.

Keunggulan
Bioetanol
Bioetanol merupakan zat kimia yang memiliki banyak
kegunaan, misalnya : Sebagai bahan kosmetik, sebagai
bahan bakar, sebagai pelarut, sebagai bahan minuman
keras
Penggunaan bioetanol mengurangi emisi gas CO (ramah
lingkungan)
secara signifikan, Bioetanol bisa dipakai langsung sebagai
BBN atau dicampurkan ke dalam premium sebagai aditif
dengan perbandingan tertentu (Gasohol atau Gasolin
alcohol), jika dicampurkan ke bensin maka bioetanol bisa
meningkatkan angka oktan secara signifikan.
Campuran 10% bioetanol ke dalam bensin akan
menaikkan angka oktan premium menjadi setara dengan
pertamax (angka oktan 91),
Production cost bioetanol relatif rendah oleh karena
itu bioetanol dapat dibuat oleh siapa saja termasuk UMKM
dan home industry.
Teknologi pembuatan bioetanol tergolong low
technology sehingga masyarakat awam dengan
pendidikan terbatas dapat membuat bioetanol sendiri
Sumber bioetanol, seperti singkong, tebu, buah-buahan
dan jagung
mudah
dibudidayakan.
Instalasi dan nilai
investasi

Untuk pembuatan instalasi bioetanol dengan kapasitas produksi


150 L/hari (kelas UMKM atau home industry), biaya investasi
instalasi yang dibutuhkan diperkirakan sebesar Rp.
123.000.000,- . Biaya ini belum termasuk bahan baku. Dengan
modal dasar Rp.123.000.000,- maka BEP (Break Event Point)
usaha diperkirakan tercapai dalam kurun waktu 7-11 bulan
tergantung fluktuasi harga bahan baku dan nilai jual bioetanol.

Tabel 1. Spesifikasi Instalasi bioetanol berbahan baku ubi


kayu/singkong
(Sumber : Dr.Edi Mulyadi,
2011)

NO URAIAN SPESIFIKAS JUMLAH/


UNIT
1. Pemarut/chopper Ubi 100 Kg/jam (SS304) 1
2. Kayu Sakarifikator
Tangki 200 L (Galvanes) 6
3. Tangki Hidrolisasi 200 L 6
4. Penyaring/Press Cake D 38 T 120: 100 1
5. Kompor LPG Mesh
Bumer 2
6. Regulator dan Selang Bumer 2
7. Tangki LPG 3 Kg 2
8. Bak akumulator 60 L 3
9. Fermentor 1100 L 6
10. Reflux 11x190 cm SS-304 1
11. Kondensor Multitube 12,120 1
12. Reboiler P80. T40. L150 1
13. Tangki Air Pendingin 1100 L 1
14. Jarigen Produk 20 L 3
15. Pompa Sirkulasi Submersible 1
16. Panel Pengendali Terkontrol 1
17. Alkoholmeter/Tester Kadar Alkohol 1
18. Bak Akumulator 60 L 3
(Sumber Dr.Edy Mulyadi,
2011)

Tabel 2. Perkiraan biaya operasional dan total


investasi
Investasi tetap untuk peralatan Rp.123.500.0
Pengeluaran (Bahan, Gaji, Utilitas) selama 00
30hari
Singkong Rp.11.250.00
0
No Cook Rp.6.750.000
Ragi Rp.960.000
NPK Rp.247.500
Urea Rp.96.000
Gaji 2 sift x 2 orang Rp.7.200.000
Air Rp.75.000
LPG Rp.8.640.000
Listrik Rp.375.000
Total Rp.35.593.50
Penjualan (Pendapatan) 0
Etanol 150 Liter/Hari 90% up Rp.56.250.00
Laba (Sebelum penghitungan investasi alat) 0
Rp.20.656.50
Perhitungan laba rugi untuk 150 Liter/hari 0
Investasi tetap untuk peralatan Rp.123.500.0
Modal kerja untuk 1 bulan (30 hari) 00
Rp.35.593.50
Total Investasi 0
Rp.159.093.5
00
Peluang pasar
Bioetanol merupakan bahan kimia yang ramah
lingkungan (green chemicals, biodegradable, emisi ramah
lingkungan) karena dibuat dari bahan-bahan alam yang
edible maupun non edible.Hasil pembakaran bioetanol
menghasilkan CO2 yang dapat dimanfaatkan oleh
tanaman sehingga bioetanol sangat menjanjikan sebagai bahan
bakar masa depan. Selain sebagai bahan bakar bioetanol
digunakan pula dalam
Industri kosmetika
Industri farmasi dan kesehatan
Rumah tangga dan UMKM (sebagai bahan bakar genset)
Pertanian
Laboratorium penelitian
Bahan baku fine chemicals lainnya seperti bioeter dan
biodietilasetat
dan sebagainya
Mengingat manfaatnya dan pasarnya yang luas maka
bioetanol sangat potensial untuk terus dikembangkan di
Indonesia baik sekala industri besar
maupun UMKM dan home industry.
MENGHITUNG PRODUKSI
BIOETANOL

Seringkali kita ingin


mengetahui berapa kira-kira
potensi produksi bioetanol dari
suatu bahan baku. Ini penting,
terutama untuk menghitung
kelayakan usaha bioetanol,
potensi produksi, kapasitas
produksi, sampai menentukan
berapa kapasitas distilator,
kebutuhan fermentor, tenaga
kerja, dan lain-lain.

FAKTOR KONVERSI GLUKOSA-


ETANOL

Fermentasi etanol adalah proses perombakan gula oleh mikroba


(bisa yast/khamir atau bakteri)
menjadi etanol. Persamaan reaksinya adalah sebagai
berikut: C6H12O6 > CH3CH2OH + CO2

Sedikit kita cerita tentang reaksi kimia. Persamaan reaksi yang


telah disetarakan adalah: C6H12O6 > 2CH3CH2OH + 2CO2

Jadi setiap 1 mol glukosa akan dihasilkan 2 mol etanol. Kita


ingat-ingat lagi pelajaran kimia waktu SMU/SMA dulu. Berat
molekul (BM) Glukosa adalah
180,16 gr/mol. BM etanol adalah
46,07 gr/mol. Jadi kalau kita memfermentasi 1 gr glukosa,
etanol yang dihasilkan kurang lebih adalah = (2 x 46,07)/180,16
= 0,511gr (etanol absolute) Atau bisa disimpukan faktor
konversinya adalah 51%.

Berat jenis etanol pada kondisi standard adalah 0,789 gr/cm3 ,


sehingga volumenya adalah= 0,511 gr /(0,789 gr/cm3)= 0,648
cm3

Pada kenyataannya tidak ada atau zulit zekali kita


mendapatkan etanol absolute, apalagi dengan peralatan
seadanya. Demikian pula rasanya tidak mungkin
mendapatkan/merecovery 100% etanol yang ada di dalam
cairan fermentasi. Dengan kata lain rasanya mustahil bin
mustahal efisiensi hidrolisisnya mencapai 100%. Kalau kita bisa
mendapatkan 95% dari total etanol saja sudah bagus sekali.
Kadar bioetanol maksimal yang bisa diperoleh dari proses
distilasi adalah
95%. Seringkali kadarnya hanya 60%, 80%, atau 90%. Kita
menghitungnya berdasarkan kadar etanol yang keluar dari
distilator saja.

MENGHITUNG KADAR GULA

Menakar molases sebelum


fermentasi
Kini saatnya mulai berhitung.
Pertama yang perlu diketahui
adalah kadar gula atau kadar
glukosanya. Data ini menjadi
dasar dari semua perhitungan.
Kalau tida ada yadiperkirakan
saja, yang realistis. Coba cicipi dan
perkirakan kadar gulanya. Sebagai
contoh orang jogja kalau membuat
teh manis banget, kadar
gulanya kira2
lebih dari
10%.

Sebagai contoh: Kadar gula =


10% Volume =
100 liter maka total etanol
teoritis yang bisa diperoleh adalah:
= 10% x 100 liter x
0,511= 5,11
kg

Volume etanolnya adalah= 5,1 kg x 0,789 =


4,03 liter.

Karena efisiensi distilasi tidak pernah 100%, maka perlu


dikoreksi dengan efisiensi hidrolisisnya. Misalkan saja 95%.
Jadi volume etahnol absolute yang bisa didapat adalah: =
4,03 liter x 95% = 3,83 liter

Kalau kadar etanolnya 95%, maka volumenya adalah: =


(100%/95%) x 3,83 liter = 4,03 liter. Kalau kadar etanolnya
60%, bisa dihitung dengan cara yang sama: = (100%/60%) x
3,83 litere = 6,38 liter.
MENGHITUNG PERKIRAAN
OMZET

Kalau data potensi produksinya


sudah diperoleh, menghitung
perkiraan omzet menjadi lebih
mudah. Kita perlu cari informasi
terlebih dahulu berapa harga
pasaran etanol saat ini. Dan juga
tidak kalah penting adalah
spesifikasi
yang diminta. Misalnya saja etanol untuk pelarut/solvent, etanol
untuk industri farmasi, industri kosmetik, disinfektan, atau
biofuel. Sejauh yang saya tahu, bioethanol untuk fuel adalah
yang paling murah, meskipun kadarnya paling tinggi (99%).
Saya tidak tahu berapa harga bioethanol yang diminta
Pertamina saat ini, tetapi info beberapa tahun yang lalu cuma
Rp. 6000/liter. Sedangkan harga etanol untuk industri bisa
mencapai Rp.
13.000/liter. Jauh banget ya????!!!! Biar lebih menarik
secara ekinomi,
kita ambil yang tertinggi saja, etanol untuk
industri.

Omzetnya tinggal kita kalikan potensi produksi dengan


harga jualnya. Masih dengan contoh di atas,
Kadar gula = 10%
Volume = 100 liter
Efisiensi hidrolisis = 95%
Kadar etanol yang dihasilkan = 95%
Harga jual = Rp.
13.000/liter
(catatan: harga ini hanya contoh saja, harga aktualnya harus
dicari sendiri)

Cara menghitungnya lihat lagi contoh perhitungan yangdi atas.


= Rp. 13.000 x 4,03 liter =Rp. 52.390 per 100 liter cairan
fermentasi

Kalikan lagi dengan potensi bahan baku yang tersedia. Atau


kapasitas produksi yang diinginkan.

Bagaimana? Apakah nilainya cukup menarik secara ekonomi?


Kalau cukup prospektif, jangan tunggu lama-lama untuk
memulainya.

Bahan baku untuk bioetanol bisa bermacam-macam, bisa nira


tebu, nira kelapa, nira aren, sisa buah-buahan, atau bahan-
bahan lain. Dari contoh perhitunhan di atas kita sudah
bisa memperkirakan berapa potensi produksi bioetanol dari
suatu bahan. Kita bisa analisis, apakah usaha ini cukup layak
dikembangkan apa tidak.

MENGHITUNG KAPASITAS
PRODUKSI

Kita perlu mencari data terlebih dahulu berapa potensi


ketersediaan bahan baku. Cari data sevalid mungkin, karena ini
urusannya dengan duit, investasi, dan berimbas ke banyak hal.
Agar lebih mudah kita pakai contoh lagi. Misalkan saja di
sebuah kebun pepaya. Potensi buah afkir yang bisa diolah
menjadi etanol adalah: = 0.25 ton buah per minggu per ha atau
= 2 ton buah per ha per bulan
Sari buah yang bisa kita peroleh sekitar 80% dari beratnya, jadi
volumenya:
= 2000 kg x 80% =
1600 liter

Andaikan kadar gulanya 10%, efisiensi hidrolisisnya 95%, dan


kadar etanol yang dihasilkan 95%, maka volume etanol yang
dihasilkan adalah = 10% x
1600 liter x 0,511 x 0.789 x 95% x
(100%/95%)
= 64,408 liter per ha per
bulan.

Omzetnya adalah = 64,408 liter x Rp 13.000/liter =


Rp. 838.612

Andaikan dalam sebulan ada 25 hari kerja, maka kapasitas


pengolahannya adalah = 64 liter per hektar per hari dan
kapasitas produksinya adalah =
2,56 liter etanol per hektar
per hari

Andaikan luas kebun di wilayah itu adalah 50 ha,


maka kapasitas produksinya = 2,56 x 50 = 128.16 liter Dan
omzetnya = 128,16 liter X Rp.
13.000/liter = Rp.
1.666.080/hari

Nilai yang cukup untuk sebuah produk yang diolah dari limbah.
Nilai keuntungan ini akan semakin melimpah andaikata
limbah bioetanol tersebut diolah menjadi POC yang nilainya
bisa 3 x lipat lebih tinggi dari bioetanol. Catatan volume limbah
bioetanol 13 x lipat dari kapasitas produksinya. Jadi nilai
ekonomi POC bisa mencapai 39 kali dari potensi ekonomi
bioetanol.

MENGHITUNG KEBUTUHAN
PERALATAN

Masih dengan contoh di atas. Karena kapasitas pengolahannya


1600 liter x
25 hari, maka distilator yang dibutuhkan adalah distilator
dengan kapasitas olahnya 1600 per hari.

Drum
fermentor
Volume cairan yang
difermentasi 1600
liter x
25 hari = 40.000
liter, karena itu
kapasitas
fermentornya harus
bisa menampung
sebanyak itu.
Karena lama
fermentasi 3 hari,
jadi kapasitas
fermentornya adalah
4800 liter. Kalau
pakai drum dengan kapasitas 200 liter berarti perlu 14 drum.
Bisa juga menggunakan tandon air dengan kapasitas 500 liter
yang jumlahnya 10 tandon.

Tandon
Fermentor

Kebutuhan kebutuhan yang lain,


seperti tangki penampungan,
luas pabrik, tenaga kerja,
fasilitas pengolahan limbah bisa
dihitung sendiri. (Saya sendiri
ngak hafal, maklum bukan
lulusan teknik kimia).

Kurang lebih seperti itu cara


menghitung potensi dan
kapasitas
produksi bioetanol. Harap maklum kalau kurang lengkap,
kurang detail, dan banyak salahnya. Artikel ini ditulis sambil
naik bis Damri Jgj-Mgl dan hanya bermodalkan ingatan saja.
Semoga bermanfaat.

3. ANALISIS USAHA
BIOETANOL

Indonesia berpotensi sebagai produsen bioetanol terbesar


di dunia. Menurut Dr Ir Arief Yudiarto, periset di Balai Besar
Teknologi Pati, ada 3 kelompok tanaman sumber bioetanol:
tanaman mengandung pati, bergula, dan serat selulosa.
Seluruhnya ada di Indonesia, ujarnya.

Salah satu bahan baku yang sohor digunakan di tanah air


adalah molase alias tetes tebu. Limbah pabrik gula itu berkadar
gula mencapai 50%. Untuk menghasilkan seliter bioetanol
diperlukan 4 kg molase. Bahan baku lainnya adalah singkong.
Tanaman itu adaptif di berbagai daerah. Itulah sebabnya
singkong menjadi salah satu pilihan bahan baku. Kerabat
euphorbia itu salah satu sumber pati. Rata-rata kadar pati
singkong 28,5%. Untuk menghasilkan seliter bietanol perlu 6,5
kg singkong. selain itu sagu juga bisa digunakan sebagai
bahan baku bioetanol.

Berikut analisis usaha produksi bioetanol dari kedua bahan baku

singkong. Asumsi:
1. Lahan yang digunakan untuk produksi adalah milik
sendiri, bukan sewa.
2. Umur ekonomis mesin produksi bioetanol 10 tahun.
3. Umur ekonomis zeolit lokal 500 kali pemakaian setara 500
hari.
4. Jam kerja produksi 8 jam/hari.
5. Harga jual bioetanol berkadar 99% Rp5.500 per liter.
6. Tingkat suku bunga Bank Indonesia saat perhitungan 8%.
7. Kapasitas produksi 70 liter per hari.
8. Bioetanol yang dihasilkan berkadar

99%. Bahan baku singkong


Jenis biaya Jumlah harga satuan total (Rp)
1. mesin 1 paket (Rp)
150.000.000 150.000.000
2. zeolit local 2x47kg 1500/kg 141.000
Total 150.141.000
Biaya produksi 455 kg 300/kg 136.500

Enzim alfa amilase 81 g 71.000/kg 9.585

Enzim beta amilase 81 g 77.000/kg 6.237

Ragi 310 g 75.000/kg 23.250

Urea 161g 2000/kg 322

NPK 80 g 3500/kg 280

Minyak tanah 121L 3000/L 36.000

Listrik 10 kwh 650/kwh 6500

Air 4 m3 1000/m3 4000

Tenaga kerja 3 orang 50.000/org/hari 150.000

Biaya 41.096
penyusutan mesin

Biaya 141
penyusutan zeolit

Total biaya produksi per hari 323.911


Biaya produksi per liter 4.627.3
Pendapatan per hari 385.000
Laba per hari 61.089
R/C ratio 1,19

Net B/C ratio 19%

Payback period 6,73

Sumber: PT Panca Jaya Raharja dan B2TP BPPT,


telah diolah

Dari analisis di atas dapat disimpulkan, dengan tingkat


keuntungan 19%, produksi bioetanol berbahan baku singkong
layak diusahakan karena lebih menguntungkan daripada
menyimpan dana di bank dengan tingkat bunga Bank
Indonesia per 6 Desember 2007 sebesar 8%. Investasi yang
ditanamkan untun usaha produksi bioetanol kembali setelah 6
tahun 9 bulan.

BAB IV
PENUTUP
Proyek usaha terpadu
Budidaya
singkong gajah
berdasarkan hasil
analisis usaha
diatas
sangat
menguntungkan.

Keterpaduan usaha pada lahan yang sama dapat menghemat


biaya pembelian tanah, pengolahan tanah, dan tenaga kerja.

Hasil yang diperoleh dari Budidaya singkong gajah disamping


menghasilkan produksi pokok yaitu singkong, juga
menghasilkan produk ikutan seperti hijauan untuk pakan tenak,
bioetanol, gaplek, tepung tapioka, dan banyak usaha ikutan
lainnya.

Usaha terpadu Budidaya singkong gajah disamping bernilai


ekonomis, juga bernilai sosial yaitu dapat menyerap tenaga
kerja lokal yang jumlahnya cukup signifikan, sehingga secara
tidak langsung dapat memperkecil pengangguran dan
mengentaskan kemiskinan.

Dilihat daari sudut pasar, kebutuhan gaplek dan atau tepung


tapioka untuk konsumsi dunia dan untuk pakan ternak, sangat
besar sekali, sehingga hasil produksi jangan takut tidak
terserap. Khusus untuk kebutuhan daging, pasar lokal
Indonesia masing kekurangan bangak sekali pasokan daging,
sehingga daging impor terus menerus didatangkan.

Demikian proposal Budidaya singkong gajah ini dibuat, kami


menyadari masih banyak kekurangan disana sini, oleh sebab
itu saran, masukan serta bimbingannya sangat kami harapkan.

DAFTAR PUSTAKA
21. Wodzicka, M., Tomaszewska, A. Djajanegara, S.
Gardiner, T.R.
Wiradarya, dan I.M. Mastika, 1993. Small Ruminant
Production In The Humid Tropics (With Special Reference to
Indonesia). Sebelas Maret University Press. Surakarta.
26. Suprapto., I.K.Mahaputra., M.A. T. Sinaga., I.G.A.
Sudaratmaja dan M.Sumartini. 1999. Laporan Akhir
Pengkajian SUT Tanaman Pangan di Lahan Marginal.
Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian
Denpasar. Bali
27. Yasa, I.M.R., I.N. Adijaya., IGAK Sudaratmaja., I.K.
Mahaputra., I.W.
Trisnawati., J. Rinaldi., D.A. Elizabeth., A.K. Wirawan dan
A. Rachim.
2005. Laporan Participatory Rural Appraisal di Desa Patas
dan Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak Buleleng Bali. Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian. Denpasar.