Anda di halaman 1dari 10

PETA GEOLOGI, TOPOGRAFI DAN MORFOLOGI

A. PENGERTIAN PETA
Peta adalah proyeksi bidang lengkun (permukaan bumi) kedalam bidang
datar dengan menggunakan skala dan metode tertentu.
Secara umum peta diartikan sebagai gambaran konvensional dari pola
bumi yang digambarkan seolah olah dilihat dari atas ada bidang datar melalui
satu bidang proyeksi degan dilengkapi tulisan-tulisan untuk identifikasinya. (Erwin
Raisz,1948).
Pembuatan peta bertujuan untuk menunjukkan lokasi dari obyek-obyek
alamiah maupun obyek buatan manusia, baik ukuran maupun hubungan antara
satu obyek dengan obyek lainnya. Sebagaimana dengan foto, peta juga
menyajikan informasi yang barangkali tidak praktis apabila dinyatakan atau
digambarkan dalam susunan kata-kata.
Kebanyakan dari peta yang dikenal hanya memperlihatkan bentuk 2
dimensi saja, sedangkan para pengguna peta seperti ahli geologi membutuhkan
bentuk 3 dimensi (dengan unsur ketinggian) juga disajikan dalam peta. Peta
yang menyajikan unsur ketinggian yang mewakili dari bentuk lahan disebut
dengan peta topografi. Meskipun berbagai teknik telah banyak dipakai untuk
menggambarkan unsur ketinggian, akan tetapi metoda yang paling akurat/teliti
adalah memakai garis kontur. Indonesia pertama kali di petakan secara detail
oleh pemerintah kolonial Belanda dan selesai pada tahun 1943. Peta ini
kemudian disempurnakan lagi di tahun 1944. Peta topografi tahun 1944 ini
akhirnya dipakai sebagai acuan dasar pemetaan Indonesia. Tahun 1966 peta
Indonesia disempurnakan lagi melalui sistem pencitraan satelit oleh American
Map Service (AMS) namun dengan skala terbesar 1:50000. Peta topografi
awalnya hanya dipakai untuk kebutuhan pertahanan dan militer sehingga sangat
dirahasiakan dan tidak sembarang orang bisa mengakses. Akan tetapi dengan
dunia informasi yang makin terbuka, maka peta topografi sudah disesuaikan
dengan kepentingan publik.

1
B. BAGIAN-BAGIAN PETA
1. Judul Peta, diambil dari bagian terbesar wilayah yang tercantum dalam
satu sheet peta. Biasanya terletak di bagian atas peta atau di samping untuk
peta buatan Badan Koordinasi dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).
2. Legenda Peta, penjelasan dari simbul simbul yang tercantum dalam peta.
Bagian ini adalah komponen yang sangat vital karena kita akan jadi buta dalam
membaca peta jika tidak ada legendanya.
3. Skala Peta, bagian yang menunjukan ukuran dalam lembar peta dengan
medan sebenarnya. Skala ini ada dua jenis yaitu skala garis dan skala angka.
Dalam peta topografi biasanya dicantumkan keduanya. Rumus perhitungan :
jarak dimedan sebenarnya = jarak di peta x skalanya. (Contoh : skala peta
1:25000; 1:50000; 1:100000) cara membacanya adalah 1:25000 berarti 1 cm
dalam peta adalah 25000 cm di medan sebenarnya atau 250 meter.
4. Garis Koordinat, jaring-jaring dalam peta yang terdiri dari garis vertikal
dan garis horisontal. Guna garis ini adalah untuk batas perhitungan koordinat.
Koordinat peta dikenal ada dua jenis yaitu koordinat grid dan koordinat geografis.
Koordinat geografis merupakan koordinat dari jarring-jaring bumi yang terdiri
garis lintang untuk horizontal dan garis bujur untuk vertical. Penulisanya biasanya
denga koordinat geografis, derajat, menit dan detik (Contoh: 9415114,4)
biasanya disertakan L untuk Lintang dan B untuk Bujur. Koordinat grid adalah
jaring jaring koordinat lokal yang dipakai untuk acuan pengkoordinatan dalam
peta. Biasanya hanya disebutkan dengan angka saja dan dikenal dengan
koordinat 8 angka atau 12 angka. Untuk peta Indonesia ada 2 acuan pokok
dalam koordinat ini yaitu dengan dikenal dengan sistem UTM/UPS atau LCO
masing masing dengan acuan 0 yang berbeda.
5. Tahun Pembuatan Peta, merupakan keterangan yang menunjukkan tahun
terakhir peta tersebut diperbaharui. Hal ini sangat penting karena kondisi
permukaan bumi bisa berubah sewaktu waktu.
7. Deklinasi, yaitu garis keterangan yang menunjukan beda Utara Peta dan
Utara Magnetik (Utara Kompas). Deklinasi ini direvisi tiap 5 tahun sekali. Kenapa
ada perbedaan antara Utara peta dan Utara sebenarnya dan Utara Magnetik.
Seperti kita ketahui Utara Bumi kita ditunjukan oleh di Kutub Utara. Sedangkan
sumbu utara magnet bumi sebenarnya ada di sebuah kepulauan di dekat dataran
Green Land. Setiap tahun karena rotasi Sumbu bumi ini mengalami pergeseran

2
rata-rata 0,02 detik bisa ke timur dan ke barat. Jadi utara sebenarnya bisa
ditentukan dari mengkonversi antara utara magnetik dengan utara Peta.
Biasanya akan dicantumkan di setiap lembar peta.

C. JENIS-JENIS PETA
Jenis-jenis peta dapat digolongkan berdasarkan :
Penggolongan berdasarkan skala
Peta skala besar dengan skala 1: 25.000. Peta ini isinya lebih detail
contoh peta tofografi. Peta skala sedang dengan skala 1: 25,000 1: 2.000.000
peta ini hanya memuat yang penting penting saja. Peta skala kecil dengan skala
lebih dari 1:200.000.
Penggolongan berdasarkan isi dan fungsi
Peta umum (General Map) yaitu peta yang memuat kenampakan
kenampakan umum (lebih dari satu jenis ) memuat kenampakan fisis alamiah
dan kenampakan budaya. Peta ini lebih berfungsi sebagai orientasi. Peta tematik
yaitu peta yang memuat satu jenis kenampakan saja peta tertentu baik
kenampakan fisis maupun kenampakan budaya.
Peta khusus atau tematik adalah peta yang hanya menggambarkan satu
atau dua kenampakan pada permukaan bumi yang ingin ditampilkan. Dengan
kata lain, yang ditampilkan berdasarkan tema tertentu. Peta khusus adalah peta
yang menggambarkan kenampakan-kenampakan (fenomena geosfer) tertentu,
baik kondisi fisik maupun sosial budaya.
Penggolongan berdasarkan tujuan
Peta geologi bertujuan untuk menunjukan formasi batuan atau aspek
geologi lainnya di suatu daerah. Peta iklim bertujuan untuk menunjukkan
berbagai macam sifat iklim di suatu daerah. Jenis jenis lainnya : misalnya peta
tanah, peta kependudukan peta tata guna lahan dan sebagainya

Jenis-jenis peta yang sering digunakan dalam dunia pertambangan :


1. Peta Geologi
Peta geologi merupakan proyeksi bidang datar yang bertujuan untuk
menggambarkan tubuh batuan, penyebaran batuan, kedudukan unsur struktur
geologi dan hubungan antar satuan batuan serta merangkum berbagai data
lainnya. Peta geologi juga merupakan gambaran teknis dari permukaan bumi dan
sebagian bawah permukaan yang mempunyai arah, unsur-unsurnya yang
merupakan gambaran geologi, dinyatakan sebagai garis yang mempunyai
kedudukan yang pasti.

3
Pada dasarnya peta geologi merupakan rangkaian dari hasil berbagai
kajian lapangan. Hal ini pula yang menyebabkan mengapa pemetaan geologi
diartikan sama dengan geologi lapangan. Peta geologi umumnya dibuat diatas
suatu peta dasar (peta topografi/rupabumi) dengan cara memplot singkapan-
singkapan batuan beserta unsur struktur geologinya diatas peta dasar tersebut.
Pengukuran kedudukan batuan dan struktur di lapangan dilakukan dengan
menggunakan kompas geologi. Kemudian dengan menerapkan hukum-hukum
geologi dapat ditarik batas dan sebaran batuan atau satuan batuan serta unsur
unsur strukturnya sehingga menghasilkan suatu peta geologi yang lengkap
Peta geologi dibuat dengan dasar dan tujuan ilmiah dimana pemanfaatan
lahan, air dan sumberdaya ditentukan atas dasar peta geologi. Peta geologi
menyajikan sebaran dari batuan dan tanah di permukaan atau dekat permukaan
bumi, yang merupakan penyajian ilmiah yang paling baik yang menghasilkan
informasi yang dibutuhkan oleh para pengambil keputusan untuk
mengidentifikasi dan mencegah sumberdaya yang bernilai dari resiko bencana
alam dan menetapkan kebijakan dalam pemanfaatan lahan.

Sumber: Astian, 2017


Gambar 1.1
Peta Geologi Kampus ll Unisba

Pekerjaan pemetaan geologi lapangan mencakup observasi dan


pengamatan singkapan batuan pada lintasan yang dilalui, mengukur kedudukan
batuan, mengukur unsur struktur geologi, pengambilan sampel batuan, membuat
catatan pada buku lapangan dan memproyeksikan data geologi hasil pengukuran

4
keatas peta topografi (peta dasar). Catatan hasil observasi lapangan biasanya
dibuat dengan menggunakan terminologi deskripsi batuan yang baku terutama
dalam penamaan batuan. Tatanama batuan dan pengelompokkan satuan batuan
harus mengikuti aturan Sandi Stratigrafi. Penentuan lokasi singkapan dengan
menggunakan kompas serta membuat sketsa singkapan dan
mendokumentasikan melalui kamera.
Pada dasarnya, peta geologi disusun dan diolah di lapangan melalui
kegiatan lapangan, kemudian disempurnakan setelah dibantu dengan hasil
analisa di laboratorium (petrologi / petrografi, paleontologi, radiometri dsb),
analisa struktur dan studi literatur dan data sekunder. Setiap unsur geologi
dianggap sebagai bentuk bentuk yang sederhana, batas satuan batuan, sesar,
diperlakukan sebagai bidang-bidang teratur yang dapat diukur kedudukannya
dan digambarkan dalam peta. Peta geologi pada hakekatnya merupakan gambar
teknik yang memperlihatkan sebaran satuan satuan batuan dan secara teknis
dapat dipertanggungjawabkan. Berkat perkembangan teknologi saat ini,
memungkinkan pemanfaatan GPS (Global Positioning System) untuk penentuan
lokasi dari obyek-obyek geologi secara akurat serta penggunaan computer note-
book (Laptop) dan PDA (Personal Digital Assistant) untuk mencatat dan
merekam data geologi langsung di lapangan.
2. Peta Topografi
Topografi berasal dari bahasa yunani, topos yang berarti tempat dan
graphi yang berarti menggambar. Peta topografi berfungsi untuk memetakan
tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut
menjadi bentuk garis-garis kontur, dengan satu garis kontur mewakili satu
ketinggian. Peta topografi mengacu pada semua ciri-ciri permukaan bumi yang
dapat diidentifikasi, apakah alamiah atau buatan, yang dapat ditentukan pada
posisi tertentu. Oleh sebab itu, dua unsur utama topografi adalah ukuran relief
(berdasarkan variasi elevasi axis) dan ukuran planimetrik (ukuran permukaan
bidang datar).
Peta topografi menyediakan data yang diperlukan tentang sudut
kemiringan, elevasi, daerah aliran sungai, vegetasi secara umum. Peta topografi
juga menggambarkan sebanyak mungkin ciri-ciri permukaan suatu kawasan
tertentu dalam batas-batas skala. Peta topografi dapat juga diartikan sebagai
peta yang menggambarkan kenampakan alam (asli) dan kenampakan buatan

5
manusia, diperlihatkan pada posisi yang benar. Selain itu peta topografi dapat
diartikan peta yang menyajikan informasi spasial dari unsur-unsur pada muka
bumi dan dibawah bumi meliputi, batas administrasi, vegetasi dan unsur-unsur
buatan manusia. Peta topografi mempunyai garisan lintang dan garisan bujur
dan titik pertemuannya menghasilkan koordinat. Koordinat ialah titik persilangan
antara garisan lintang dan bujur.

Sumber : Astian, 2017


Gambar 1.2
Peta Topografi Kampus ll Unisba

Peta topografi dalam pemetaan geologi dikenal sebagai peta dasar (base
maps) dan merupakan peta yang mendasari dalam pembuatan peta geologi.
Sebagaimana diketahui bahwa peta dasar tidak saja diperlukan oleh para ahli
geologi, namun juga diperlukan oleh para ahli teknik lainnya dan para teknisi
serta para pelaksana dalam melaksanakan pekerjaannya atau melaksanakan
suatu proyek pembangunan. Ketelitian suatu peta sangat ditentukan oleh Skala
Peta. Skala peta adalah suatu perbandingan antara obyek yang terdapat di
permukaan bumi dan di atas peta. Dalam prakteknya, skala peta ditentukan oleh
kebutuhan si pengguna.
Untuk perencanaan teknis, seperti perencanaan gedung, saluran
ventilasi, kontruksi bangunan dan pondasi, umumnya menggunakan skala peta
yang besar, yaitu skala 1 : 500 ; 1 : 1.000, 1 : 2.000; atau 1 : 5.000. Pada
umumnya peta skala besar dibuat dengan cara pengukuran langsung di

6
lapangan dengan menggunakan theodolite dan atau tenol sebagai alat ukur
dalam pembuatan peta teknis dan peta skala besar bersifat detail serta memiliki
ketelitian dan akurasi yang sangat tinggi.
Di Indonesia untuk memperoleh peta topografi atau rupa bumi yaitu
dengan cara memesan atau membeli ke lembaga yang memang bertugas
menyediakan peta rupabumi. Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
(Bakosurtanal) adalah lembaga pemerintah yang fungsi dan tugasnya
menyediakan peta rupabumi standar yang diperlukan oleh pengguna, baik sektor
pemerintah maupun sektor swasta maupun perorangan. Adapun skala peta yang
diterbitkan oleh Bakosurtanal pada umumnya adalah peta-peta berskala
1 : 10.000 (khusus untuk wilayah Jabotabek), sedangkan untuk pulau Jawa
umumnya adalah peta-peta berskala 1 : 25.000 dan 1 : 50.000, sedangkan untuk
Sumatra, Bali, Sebagian Kalimantan, Sebagian Sulawesi tersedia peta rupabumi
berskala 1 : 50.000 dan wilayah-wilayah lainnya masih berskala 1 : 100.000
sampai skala yang lebih kecil lagi.
3. Peta Morfologi
Peta Morfologi berisi infornasi tentang bentuk permukaan bumi. Klasifikasi
morfologi sesuai dengan Permen PUNo. 20/PRT/M/2007 antara lain: Gunung,
bukit atau perbukitan, datar atau dataran.
Saat ini di Indonesia baru tersedia peta morfologi skala kecil, yaitu peta
morfologi Pulau Jawa oleh Pannekoek (1946) dalam skala 1 : 1.000.000.
Kemudian Verstappen (1973), berhasil membuat peta morfologi pulau Sumatera
dan pulau-pulau di sekitarnya dengan menggunakan cara penelitian
memanfaatkan citra inderaan jauh dalam skala 1 : 2.500.000.
Sampai saat ini literatur dan peta mengenai morfologi Indonesia masih
sedikit sekali. Peta yang ada, daerahnya sangat terbatas dan berskala kecil.
Sedangkan peta tersebut sangat dibutuhkan sebagai data dasar untuk
mendukung perencanaan pengembangan suatu wilayah.
Beberapa instansi di Indonesia, akhir-akhir ini telah berusaha membuat
peta morfologi, akan tetapi penekanan masalahnya masih di sekitar timbulan
(relief) permukaan bumi, sedangkan proses pembentukannya belum
diungkapkan dengan rinci. Sejak tahun 1989, Puslitbang Geologi telah
melakukan pemetaan morfologi dengan menggunakan Sistem ITC di 16 daerah.
Pemetaan tersebut menghasilkan 16 lembar peta morfologi yang seluruhnya

7
telah diterbitkan dalam skala 1 : 100.000 (15 lembar) dan skala 1 : 50.000
(1 lembar).
Berdasarkan kenyataan tersebut di atas, maka standar Penyusunan Peta
morfologi ini disusun untuk menghasilkan peta morfologi standar (baku). Sistem
(metoda) penyusunannya menganut sistem ITC (International Institute for
Aerospace Survey and Earth Sciences) dengan buku acuan berjudul Aerial
Photo-Interpretation in Terrain Analysis and Geomorphologic Mapping (Van
Zuidam, 1985). Sistem ITC dipilih dan dipakai sebagai acuan mengingat sistem
ini merupakan gabungan dari beberapa sistem yang ada, baik di daerah tropis,
sub tropis, kering dan agak kering.
Dalam penyusunan peta morfologi, faktor pemanfaatan dan
penampilannya perlu dipertimbangkan, antara lain :
Dapat dipakai untuk aneka tipe terrain dan fleksible .
Dapat dipakai dlam berbagai cara.
Sederhana dan informative.

Sumber : Ganny, 2016


Gambar 1.3
Peta Morfologi

KESIMPULAN

Secara umum peta dapat diartikan sebagai gambaran konvensional dari


pola bumi (permukaan bumi) yang digambarkan atau diproyeksikan seolah olah

8
dilihat dari atas bidang datar degan menggunakan skala dan metode tertentu
dan dilengkapi tulisan-tulisan untuk identifikasinya (memperjelas).
Pemetaan geologi merupakan suatu proses ilmiah yang bersifat
interpretasi dan dapat menghasilkan berbagai jenis peta untuk berbagai macam
tujuan, termasuk misalnya untuk penilaian kualitas air bawah tanah dan resiko
pencemaran, memprediksi bencana longsor, gempabumi, erupsi gunungapi,
karakteristik sumberdaya mineral dan energi, manajemen lahan dan
perencanaan tambang, dan lain sebagainya. Fungsi utama pembuatan peta
Geologi yaitu :

Keteknikan (Pembangunan Pondasi Bendungan, Jalan Raya, Daya


Dukung Lahan, Daerah Rawan Longsor, Daerah Rawan Banjir, dll)
Perencanaan Wilayah dan Kota (Perencanaan Tata Ruang)
Pertambangan (Potensi Bahan Galian Ekonomis)
Perminyakan (Potensi Sumberdaya Gas dan Minyakbumi)
Industri (Potensi Sumberdaya Air dan Mineral).
Peta topografi dalam pemetaan geologi dikenal sebagai peta dasar (base
maps) dan merupakan peta yang mendasari dalam pembuatan peta geologi.
Peta geomorfologi adalah peta yang menggambarkan bentuk lahan,
genesa beserta proses yang mempengaruhinya dalam berbagai skala.

9
DAFTAR PUSTAKA

1. Wulandari, Yunnia, 2015. Resum Peta Topografi Scribd app


. Diakses pada tanggal 27 Februari 2017.
2. Qadarusman, Rakhmadi, 2013. Mengenal Peta Geologi Scribd app
. Diakses pada tanggal 27 Februari 2017.
3. Rizal, Muhammad, 2015. Pengertian Peta Topografi Docslide
. Diakses pada tanggal 27 Februari 2017.
4. Hamdani, Haris, 2014. Perbedaan Peta Topografi dan Geologi
. Diakses pada tanggal 27 Februari 2017.

10

Anda mungkin juga menyukai