Anda di halaman 1dari 8

Nama : Cheptien Winda V.

NIM : 145130100111006
Kelas : 2014 A
Asisten : Nevi Diah

Laporan Praktikum Diagnosa Klinik

Pemeriksaan Pada Sapi

PEMBAHASAN

Diagnosa klinik merupakan ilmu yang mempelajari teknik diagnosis standart dari
suatu penyakit berdasarkan pada pemahaman terhadap normal atau abnormalnya parameter
patofisiologi yang dapat diidentifikasi dari tubuh dengan menggunakan teknik-teknik
diagnosa standard.

Cara pemeriksaan fisik hewan dapat dilakukan dengan catur indera pemeriksa, yakni
dengan penglihatan, perabaan, pendengaran, serta penciuman (pembauan) antara lain dengan
cara inspeksi, palpasi atau perabaan, perkusi atau mengetuk, auskultasi atau mendengar,
mencium atau membaui, mengukur dan menghitung, pungsi pembuktian, tes alergi,
pemeriksaaan laboratorium klinik serta pemeriksaan dengan alat dignostik lain (Widodo,
2011).

Pada tanggal 14 Desember 2016, pukul 15.00 WIB telah dilakukan praktikum
pemeriksaan fisik hewan sapi yang bertempat di daerah Pujon Malang.

Bahan dan peralatan yang dipergunakan dalam praktikum ini selain seekor hewan sapi
antara lain adalah stetoskop serta termometer. Metode yang digunakan adalah metode
sinyalmen, anamnesis, inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi, membaui, mengukur dan
menghitung, dan pemeriksaan dengan alat diagnostik tersebut diatas.

Langkah-langkah penetapan diagnosa diawali dari registrasi/sinyalemen pasien,


anamnesa, pemeriksan fisik, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan lanjutan.
Registrasi/sinyalemen untuk klien meliputi nama, alamat, dan nomor telepon klien.
Sedangkan untuk pasien meliputi breed (ras), jenis kelamin, umur, dan tanda yang menciri
(jika ada). Registrasi ini ditulis dalam selembar kertas yang dinamakan ambulator (Lane dan
Coper, 2003).

Berdasarkan pemeriksaan sinyalemen dari klien yang beralamat Pujon-Malang,


selanjutnya didapatkan data hewannya antara lain, pasien sapi bernama Umi, berjenis
kelamin betina, ras peranakan FH, umur 8 tahun, dan rambut berwarna putih-hitam khas sapi
perah, serta tidak memiliki tanda khusus lainnya.

Setelah mendapat data sinyalemen, dilanjutkan dengan anamnesa (Boddie, 2006) yang
berupa keterangan dari pemilik tentang sejarah penyakit si pasien (hewan) diperoleh
keterangan bahwa pasien tidak sedang menderita penyakit dan belum pernah terkena
penyakit, feses baik/normal, dan nafsu makan baik. Setelah anamnesa selesai, selanjutnya
dilakukan pemeriksaan umum, perhitungan berat badan hewan yaitu didapat sekitar 400 kg,
sapi termasuk normal tidak gemuk dan juga tidak kurus, dengan body scoring 3 (normal).

Pemeriksaan dilanjutkan dengan melihat sikap sapi yang didapatkan normal, bentuk
tubuh lateral norma, bentuk tubuh posterior berbentuk pear, serta gait (cara berjalan dan
berdiri) yang normal, dalam hal ini tidak terdapat kelainan yang diamati oleh praktikan.
Kemudian pemeriksaan dilanjutkan dengan pemeriksaan status hidrasi, yang dicek dengan
cara mencubit bagian kulit sapi di bagian lateral leher, status hidrasi didapatkan normal
karena kulit kembali normal yakni kurang dari 2 detik. Pada pemeriksaan kulit, pada sapi
ditemukan adanya lesi yang tidak terlalu parah dan dapat dikategorikan sebagai lesi yang
ringan.
Untuk pemeriksaan temperatur atau suhu tubuh sapi dilakukan dengan menggunakan
alat termometer yang dimasukkan kedalam rektum sapi, suhu didapatkan sebesar 38,5 C
(normal) dimana pada sapi suhu tubuh normalnya adalah berkisar 37 C- 39,5 C.

Pulsus didapatkan sebesar 60 kali per menit (normal) dimana pada sapi pulsus
normalnya berkisar 40-60 kali per menit. Kemudian frekuensi pernafasan didapatkan sebesar
36 kali per menit, yang pada kisaran normalnya adalah sekitar 10-30 kali per menit.
Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan nervus cranialis yang didapatkan normal.
Pengecekan pada telinga juga dilakukan untuk mengetahui apakah teraba panas ataukah
dingin, pada sapi yang kami periksa didapat telinga sapi tersebut normal.
Pemeriksaan pada mata dilihat pada sklera ada tidaknya darah, mata yang normal
pada sapi yakni pada mata tidak terdapat darah. Pada sapi yang praktikan periksa, didapat
mata sapi yang normal. Pemeriksaan pada hidung didapatkan normal, yakni hidung terlihat
lembab. Pada mulut dan lidah juga tampak normal, tidak terdapat adanya lesi ataupun
keabnormalan lainnya. Pemeriksaam pada mulut dilakukan dengan cara membuka mulut sapi
dan mengamati organ-organ pada mulut termasuk lidah.

Pemeriksaan dilanjutkan dengan mengecek bagian submandibular dan brisket edema,


apabila sapi menunjukkan adanya pembesaran pada bagian brisket ataupun
submandibularnya maka dicurigai bahwa sapi tersebut mengalami keabnormalan. Namun,
pada sapi yang kami periksa tidak didapatkan adanya kelainan pada submandibular ataupun
brisket.

Pemeriksaan dilanjutkan dengan pengecekan vena jugularis sapi untuk menilai sistem
vena, dimana jika terjadi distensi vena maka diindikasikan sapi mengalami tekanan pada vena
dan dapat terjadi gagal jantung. Penilaian pulsus pada vena jugularis paling baik dilakukan
dengan kepala ditinggikan

Pemeriksaan dilanjutkan dengan melakukan auskultasi suara nafas, untuk menilai


apakah pada hewan tersebut terdapat keabnormalan seperti dyspnea ataupun suara ronchi.
Tekniknya yakni dengan meletakkan kepala stetoskop pada bagian yang ditandai kuning pada
gambar diatas. Namun, pada sapi yang kami periksa tidak ditemukan adanya keabnromalan.

Kemudian pemeriksaan kontraksi dari rumen, dilakukan untuk menilai apakah terjadi
keabnormalan pada sistem digesti dari sapi itu sendiri. Untuk frekuensi normal kontraksi
rumen adalah sekitar 1-3 kali per menit, dimana itu tergolong konraksi yang sangat kuat.
Kemudian auskultasi bagian rumen didalam sistema pencernaan sangat penting untuk
meilai apakah dalam sistem pencernaan sapi tersebut terjadi keabnormalan ataukah tidak.
Pemeriksaan dengan auskultasi ini juga dapat untuk mendeteksi adanya ping sound yang
dapat ditimbulkan akibat adanya kelainan seperti displacement abomasum. Pada sapi yang
kami periksa didapatkan suara auskultasi normal.

Selanjutnya pemeriksaan kelenjar mamari, hal ini sangat penting dilakukan, terutama
pada ternak sapi perah, dalam hal ini untuk mendeteksi penyakit seperti mastitis yang
disebabkan oleh bakteri maupun mikotik. Pengujian mastitis dapat dilakukan dengan inspeksi
organ mamari apakah ada kebengkakan ataukah tidak, kemudian dilihat apah terdapat
penggumpalan pada susu yang dikeluarkan pada kelenjar mamae sapi tersebut. Pada kasus
mastitis yang parah bahkan dapat juga mengeluarkan darah. Sedangkan untuk mastitis
subklinis akan dapat terdeteksi lebih baik dengan menggunakan test CMT, yakni dengan
mereaksikan susu yang terduga terkena mastitis dengan reagen CMT, apabila positif mastitis
diidentifikasi dengan adanya perubahan konsistensi yakni agak mengental. Namun pada
pemeriksaan sapi perah yang kami dapatkan kemarin hasilnya normal (sapi tidak mengalami
mastitis atau keabnormalan lainnya) (Suwed, 2011).
Selanjutnya adalah pemeiksaan rektal, pada sapi yang kami periksa kemarin tidak
terdapat adanya keabnormalan. Kemudian untuk urin sapi sendiri juga nampak normal, dan
feses yang dikeluarkan juga normal, tidak terjadi konstipasi maupun diare. Pada organ-organ
genitaliapun didapat hasil yang normal.

Kesimpulan

a. Diagnosis: pasien sapi mengalami lesi yang tidak terlalu parah pada tubuhnya. Lesi
kemungkinan akibat dari gesekan tubuh sapi dengan benda yang terdapat di kandang.
b. Pengobatan: meski secara alamiah dapat sembuh sendiri, namun alangkah baiknya
jika lesi tersebut dirawat dengan memberi bagian kulit yang terdapat lesi luka dengan
antiseptik, serta menjaga kebersihan tubuh sapi serta kandang.
c. Prognosis: fausta (baik/memberi harapan).
DAFTAR PUSTAKA

Boddie., G.F. 2006. Diagnostic Methods in Veterinary Medicine. Philadelphia: J.B.


Lippincott Company.

Lane, Cooper. 2003. Veterinary Nursing: Formery Jones Animal Nursing 5th edition. USA:
Pergamon.

Suwed, MA & Napitulu, RM. 2011. Panduan Lengkap Ruminansia. Jakarta: Penebar
Swadaya