Anda di halaman 1dari 8

2.1 Dactylogyrus sp.

2.1.1. Klasifikasi dan Morfologi


Klasifikasi Dactylogyrus sp. menurut Kabata (1985) adalah sebagai
berikut:
Filum : Vermes
Subfilum : Platyhelminthes
Class : Trematoda
Ordo : Monogenea
Famili : Dactylogyridae
Genus : Dactylogyrus
Spesies : Dactylogyrus sp.
Bentuk cacing ini pipih seperti daun berukuran
antara 0,2 0,5 mm dan dapat mencapai 2 mm pada
cacing dewasa. Dactylogyrus sp. mempunyai dua pasang mata. Pada bagian
posterior Dactylogyrus sp. terdapat ophisthaptor yang dikelilingi oleh 14 kait
marginal. Serta terdapat kait besar dari khitin yang terletak di tengah-tengah
ophisthaptor (Kabata, 1985). Menurut Dujin (1967) dalam Kardi (2013) pada
bagian anterior terdapat prohaptor yaitu alat menghisap bercabang empat dan
memiliki ujung kelenjar yang dapat mengeluarkan semacam cairan kental yang
berfungsi untuk penempelan maupun pergerakan pada permukaan tubuh inang.
Dactylogyrus adalah hewan yang kedalam golongan cacing-cacingan.
Berukuran sangat kecil dan tidak bisa dilihat dengan kasat mata, tetapi hanya bisa
dilihat lewah mikroskop. Dalam tubuh ikan, hewan ini digolongkan sebagai
parasit. Artinya hewan yang mengambil makanan untuk hidupnya dari hewan
yang ditumpanginya. Keadaan itu menimbulkan kerusakan (Anonim, 2009).
Hewan parasit ini termasuk cacing tingkat rendah (Trematoda).
Dactylogyrus sp sering menyerang pada bagian insang ikan air tawar, payau dan
laut. Pada bagian tubuhnya terdapat posterior Haptor. Haptornya ini tidak
memiliki struktur cuticular dan memiliki satu pasang kait dengan satu baris.
Cacing dewasa berukuran 0,2 0,5 mm. Mempunyai dua pasang eye spots
pada ujung anterior. Sucker terletak dekat ujung anterior. Pada ujung posterior
tubuh terdapat alat penempel yang terdiri dari 2 kait besar yang dikelilingi 16 kait
lebih kecil disebut Opisthaptor. Mempunyai testis dan ovary.
Kutikular, memiliki 16 kait utama, satu pasang kait yang sangat kecil.
Dactylogyrus sp mempunyai ophistapor (posterior suvker) dengan 1 2 pasang
kait besar dan 14 kait marginal yang terdapat pada bagian posterior. Kepala
memiliki 4 lobe dengan dua pasang mata yang terletak di daerah pharynx. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar . Gejala infeksi pada ikan antara lain :
pernafasan ikan meningkat, produksi lendir berlebih.
Sifat Biologis: Bersifat hermaprodit, sebagian besar telur terlepas dari
insang dan sebagian kecil tertanam pada insang, ukuran telur : 50 um, bentuknya
ovoid dan berspina seperti duri mawar/ rosethorn like, sexual maturity 3 6 hari.
Larva dapat hidup tanpa hospes selama 1 hari, ikan mas dapat terinfeksi
berat,juga ikan-ikan air tawar di kolam dan ikan-ikan impor.

2.1.2. Siklus Hidup


Dactylogyrus sp. mempunyai siklus hidup langsung yang melibatkan satu
inang. Dactylogyrus sp. merupakan ektoparasit pada insang ikan. Telur-telur
yang dilepaskan akan menjadi larva cilia yang yang dinamakan penetasan
oncomiracidium. Oncomiracidium mempunyai haptor dan dapat menyerang
sampai menyentuh inang. Hal ini sesuai dengan pendapat Anshary (2004) yang
menyatakan sebagian besar parasit monogenea seperti Dactylogyrus spp. bersifat
ovivarus (bertelur) dimana telur yang menetas menjadi larfa yang berenang bebas
yang dinamakan oncomiracidium.

2.1.3. Gejala Pada Ikan


Ikan yang terinfeksi Dactylogyrus sp akan memperlihatkan sekresi mukosa
yang berlebihan serta ikan terlihat sesak nafas dan biasanya akan menjadi kurus,
berenang menyentak-nyentak, tutup insang tidak dapat menutupi dengan
sempurna karena insangnya rusak, dan kulit ikan tidak bening lagi. Rukmono
(1998) dalam Eka (2011) mengatakan ciri ikan yang terserang monogenea adalah
produksi lendir pada bagian epidermis akan meningkat, kulit terlihat lebih pucat
dari normalnya, frekuensi pernapasan terus meningkat karena insang tidak dapat
berfungsi secara sempurna, kehilangan berat badan (kurus) melompat- lompat ke
permukaan air dan terjadi kerusakan berat pada insang. Namun menurut (Rahayu
dkk, 2013) karena Dactylogyrus sp. merupakan cacing parasitik yang tidak
bersifat patogen, sehingga tidak mempengaruhi terjadinya penurunan berat badan
akibat adanya infestasi cacing parasitik tersebut walaupun jumlahnya tinggi.
Dactylogyrus sp. sering menyerang ikan di kolam yang kepadatannya
tinggi dan ikan-ikan yang kurang makan lebih sering terserang parasit ini
dibanding yang kecukupan pakan.
Parasit golongan monogenea, tidak memerlukan inang antara untuk
kelangsungan hidupnya. Parasit ini dapat ditemukan menginfeksi ikan di alam
meskipun tingkat prevalensi dan intensitasnya relatif rendah, Hal ini disebabkan
karena lingkungan alami yang relatif seimbang antara pathogen, ikan dan
lingkungannya. Jika salah satu dari inang tidak ada maka siklus hidup parasit
akan terputus (Sriwulan et al, 1998 dalam Susanti, 2004).
2.1.4. Penanggulangan
Menurut (Rahayu dkk, 2013) ikan yang terinfeksi Dactylogyrus sp. dapat
ditangani dengan menjaga kualitas air agar tetap bersih. Hal ini disebabkan
karena kualitas air yang bersih mampu mempercepat penyembuhan luka akibat
infeksi Dactylogyrus sp. serta dapat mencegah terjadinya infeksi ulang.

2.2 Gyrodactylus sp.


2.2.1. Klasifikasi dan Morfologi Gyrodactylus sp.
Filum : Vermes
Anak filum : Plathihelminthes
Kelas : Trematoda
Bangsa : Monogenea
Anak bangsa : Monopisthocotylae
Suku : Gyrodactylidae
Marga : Gyrodactylus
Species : Gyrodactylus (G) elegans, G medius, G gracilis, G salaris

Gyrodactylus memiliki bentuk tubuh yang kecil, bulat memanjang atau


oval dan pipih. Salah satu ujung yang lebih besar (posterior) yang merupakan
tempat menempel pada inang. Bagain posterior terdapat ophisthaptor yang
memiliki 16 kait (hook) tepi yang mengelilingi ophisthaptor dan sepasang kait
tengah (anchor) yang menyerupai kuping. Ophisthaptor yang fungsinya untuk
menghisap darah dan memakan jaringan hospes. Gyrodactylus tidak memiliki
bintik mata. Bagain anterior berbentuk seperti 2 tonjolan atau cuping.
Dalam siklus hidupnya, Gyrodactylus tidak memerlukan inang perantara,
artinya setelah keluar dari embryo induk, larva akan langsung mencari inang
baru. Hewan ini berukuran 0,5 0,8 mm. Cacing dewasa dapat melekat pada
kulit hospes karena dilengkapi serta tidak memiliki vitelaria atau bersatu dengan
ovary.
Gambar Gyrodactylus

2.2.2. Siklus hidup Gyrodactylus


Siklus Gyrodactylus sp. dari larva hingga menjadi dewasa membutuhkan
waktu kira-kira 60 jam. Itu terjadi pada suhu 25 27 O C (Anonim, 2009).
Gyrodactylus sp. ini sering ditemukan menginfeksi ikan-ikan air tawar seperti
Ikan Mas (Cyprinus carpio), Betutu (Oxyeleotris marmorata) Nila (Oreochromis
niloticus) dan lainnya. Pada umumnya berkumpul/bergerombol di sekitar kulit
dan sirip ikan, meskipun kadang-kadang juga ditemukan di insang (secara umum
Dactylogyrus lebuh menyukai insang) (Dedi, 2010).
Monogenes ovipar (yaitu Dactylogyridae) melepaskan telur ke dalam
kolom air yang menetas dan dewasa sebelum mencari host baru. Monogenes
vivipar (yaitu Gyrodactylidae) mengeluarkan larva hidup yang segera dapat
menempel ke jaringan host. Ada dua genera umum di air tawar, Gyrodactylus dan
Dactylogyrus, yang berbeda nyata dalam strategi mereka bereproduksi serta cara
mereka menempel pada ikan inang. Gyrodactylus umumnya ditemukan pada
tubuh dan sirip ikan. Mereka vivipar yang berarti bahwa mereka melahirkan
larva muda. Parasit dewasa membawa embrio yang identik dengan induknya
yang diwariskan pada generasi berikutnya. Oleh karena itu, setiap individu
parasit dapat mewakili beberapa generasi. Strategi reproduksi ini memungkinkan
populasi Gyrodactylus untuk memperbanyak diri sangat cepat, terutama dalam
sistem air tertutup.
Gambar siklus hidup oviparous monongenea (Dactylogyrus) dan viviparus
monogenea (Gyrodactylus)

2.2.3. Gejala terserang Gyrodactylus


Penularan parasit ini melalui kontak langsung dengan ikan yang sakit
dengan ikan yang sehat, atau antara ikan dengan lingkungannya. Apabila
terserang parasit ini, biasanya menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut :
Bintik-bintik merah pada beberapa bagian tubuh
Kulit berwarna putih keabu-abuan
Produksi lendir (muskus) tidak normal, biasanya berlebih dengan lendir yang
kental sehingga kulit ikan terlihat kusam
Sisik dan/atau kulit terkelupas, biasanya akan diikuti luka
proses osmoregulasi dan respirasi terganggu
ikan sering menggosok-gosokkan badan pada jaring atau diding dan dasar
kolam
Sel darah putih meningkat (dilihat melalui pengamatan sel darah)
Nafsu makan rendah dan gerakan lamban sehingga pertumbuhan ikan menjadi
terganggu
Gambar Gyrodactylus menyerang kulit ikan salmon

2.2.4. Penanggulangan
Cara pengangulangan ikan yang terserang penyakit ini adalah dengan cara
berikut:
Methylene Blue
Pemberian dilakukan dengan perendaman dengan dosis 3 ppm selama 24 jam
atau lebih, jika larutan yang tadinya berwarna biru berubah menjadi biru
terang, maka larutan perlu diganti dengan yang baru
Larutan ammonium
Perendaman dilakukan dengan larutan ammonium 1:2000 selama 5-15
menit.umunya dalam jangka waktu tadi kedua monogenia di atas sudah dapat
diberantas. Untuk mendapatkan larutan ammonium 1:2000, dilakukan dengan
membuat larutan dengan perbandingan ammonium dengan air 1:9. Kemudian
dari campuran tadi, diambil sekitar 5% untuk dicampurkan dengan 1 liter air
sehingga didapat larutan ammonium 1:2000
Formalin atau MGO
Menggunakan dosis 15-50 ppm atau dengan MGO 0,1ppm selama 24 jam.
Perendaman dilakukan 3x selama seminggu untuk memastikan ikan terbebas
dari parasit
Garam dapur
Garam merupakan yang paling mudah didapat dan cukup efektif. Perendaman
dilakukan dengan dosis 100-500 ppm dan dapat dilakukan dalam jangka
panjang, atau 1-2% selama 30menit. Perendaman dapat dilakukan dengan
melarutkannya dalam air terlebih dahulu atau langsung ditebar di kolam