Anda di halaman 1dari 31

EKSTRAKSI

1. Posisi Pasien
a. Maksila
i. Mulut pasien sama tinggi dengan pundak dokter gigi
ii. Dental unit dengan lantai = 120o
iii. Permukaan oklusal gigi maksila dgn lantai = 450
b. Mandibula
i. Dental unit dengan lantai = 110o
ii. Permukaan oklusal gigi mandibula = lantai
2. Posisi Drg
a. Gigi maksila dan posterior mandibula = depan kanan
b. Anterior mandibula depan kanan atau belakang kanan

9-12 = belakang kanan

6-9 = depan kanan

3. Teknik ekstraksi = separasi gigi dari jaringan lunak & pelepasan gigi dari
soketnya
a. separasi gigi dari jaringan lunak
i. merusak perlekatan jaringan lunak
1. instrument:
a. desomotome lurus = 6 anterior maksila
b. desomotome bengkok = sisa gigi maksila dan
seluruh gigi mandibula
2. teknik
a. desomotom di tangan dominan dengan pen grip
b. diposisikan di bawah sulkus gingival
c. di putari mesial buccal distal
d. di putari mesial lingual/palatal distal
e. tangan non dominan:
i. telunjuk di palatal & ibu jari di buccal (untuk
13-18)
ii. telunjuk di buccal & ibu jari di palatal (untuk
12-28)
iii. telunjuk di buccal &j jari tengah di lingual
(untuk 38 42)
iv. telunjuk di lingual & jari tengah di lingual
(untuk 43-48)
ii. refleksikan jaringan lunak
1. instrument:
a. chompret elevators bengkok
b. compret elevator lurus
2. fungsi:
a. untuk menekan atau sedikit merefleksikan gingival
disekitar gigi yang utuh agar cervical line gigi
terlihat dan membisakan forcep ekstraksi
menggenggam gigi dibawah garis cervical seapical
mungkin
b. membebaskan gigi yang hancur dari jaringan
gingival hiperplastic agar instrument ekstraksi
dapat di letakkan dengan benar
3. teknik = sama dengan pemakaian desomotom dengan
gerakkan yang sedikit berbeda dengan tekanan yang
sedikit lebih dan gerakkan mengarah ke luar
b. pelepasan gigi dari soketnya menggunakan forcep gigi
ekstraksi mengikuti 3 guideline (1) cara yang benar memegang forcep
dan gigi (2) banyaknya kekuatan yang diaplikasikan kepada gigi
tersebut (4) arah pergerakkan ekstraksi.
Forcep ekstraksi di pegang pada tangan dominan,ibu jari diletakkan di
antara handle dibelakang engsel agar banyaknya kekuatan yang
diberikan pada gigi dapat terkontrol.
Peran tangan non-dominan:
merefleksikan jaringan lunak pipi, bibir dan lidah agar cukup
terlihat daerah surgical
mendukung prosesus alveolar maxilla dan membantu
menstabilak kepala pasien. Mengkontrol ekspansi tulang alveolar
dalam perasaan dan luksasi gigi pada saat pergerakkan.
Mendukung dan menstabilkan mandibula, melawan gerakkan
yang diaplikasikan oleh forcep ekstraksi yang apabila terlalu
kuat dapat menginjuri TMJ

i. Teknik dasar
1. gingival di refleksikan
2. beak pada forcep di letakkan di garis cervical gigi, parallel
dengan aksisnya yang panjang tanpa menggengam
tulang atau gingival di saat yang bersamaan.
3. Gerakkan ekstraksi awalnya dengan lembut.
a. Tekanan slow and steady untuk menggerakkan gigi
ke arah buccal palatal/lingual
4. Tekanan ditambahkan secara bertahap
a. Tekanan pada buccal harus lebih kuat daripada
pada lingual/palatal tulang buccal lebih tipis dan
lebih elastic dibanding palatal/lingual
5. Apabila memungkinkan (berdasarkan akar gigi tunggal,
conical), tekanan rotasional dapat diaplikasikan.
Gerakkan-gerakkan ini mengekspansi tulang alveolar dan
melepaskan serat periodontal. Dapat juga di berikan sdikit
gaya tarik di saat yangbersamaan untuk membantu
ekstraksi. Pada ekstraksi terakhir gaya tarik tidak
diperbolehkan karena terdapat resiko kerusakan karena
pelepasan gigi yang mendadak dan beresiko forsep
mengenai gigi lain.
6. Gerakkan terakhir ekstraksi harus kearah labial/buccal
dalam gerakkan membelok kearah keluar dan kebawah
untuk mandibula dan gerakkan keluar dan keatas untuk
maksila
7. Sebelum gigi dikeluarkan dari soketnya, dapat di periksa
adanya perlekatan gingival dengan gigi. Seharusnya
gingival harus terlepas secara total dari gigi agar tidak
ada resiko terobeknya jaringan.
ii. Ekstraksi Maksila
1. Central incisor
a. Instrument: extraction forceps for six anterior
maxillary teeth or maxillary universal forceps (no.
150)
b. Teknik
i. Posisi: depan kanan pasien
ii. Tangan nondominan: telunjuk=labial, ibu
jari=palatal, memegang erat pros. Alveolar
disebelah gigi yang akan di ekstraksi
iii. beak dari forcep di adaptasikan pada gigi,
harus parallel dengan aksis panjang dari gigi.
iv. Tekanan inisial = Gerakkan lembut ke arah
labial palatal, tekanan dikuatkan secara
bertahap.
v. Tekanan arah ekstraksi terakhir kearah labial
vi. Dapat dirotasikan = dirotasikan ke satu arah
lalu ke arah lawannya hingga serat
periodontal robek secara total dan gigi
diekstraksikan dengan sedikit gaya tarik
2. Lateral incisor
a. Instrument: extraction forceps for six anterior
maxillary teeth or maxillary universal forceps (no.
150)
b. Teknik
i. Posisi: depan kanan pasien
ii. Tangan nondominan: telunjuk=labial, ibu
jari=palatal, memegang erat pros. Alveolar
disebelah gigi yang akan di ekstraksi
iii. beak dari forcep di adaptasikan pada gigi,
harus parallel dengan aksis panjang dari gigi.
iv. Tekanan inisial = Gerakkan lembut ke arah
labial palatal, tekanan dikuatkan secara
bertahap.
v. Tekanan arah ekstraksi terakhir kearah labial
vi. Tidak boleh dirotasikan karena akarnya pipih.
Sedikit rotasi diberikan pada tahap akhir saat
melepaskan gigi dari socketnya
3. Canines
a. Instrument: extraction forceps for six anterior
maxillary teeth or maxillary universal forceps (no.
150)
b. Factor mempersulit:
i. Tertanam kuat pada tulang alveolar
ii. Akarnya panjang dan seikit kurvatur pada
ujung akar
iii. Pada akar labial ada lapisal tulang alveolar
tipis dan beresiko mefraktur pros. alveolar
c. Teknik
i. Posisi: depan kanan pasien
ii. Tangan nondominan:
1. C kanan: telunjuk =palatal, ibu jari
=labial
2. C kiri: telunjuk=labial, ibu jari=palatal,
memegang erat pros. Alveolar
disebelah gigi yang akan di ekstraksi
iii. beak dari forcep di adaptasikan pada gigi,
harus parallel dengan aksis panjang dari gigi.
iv. Tekanan inisial = Gerakkan lembut ke arah
labial palatal, tekanan dikuatkan secara
bertahap.
v. Tekanan arah ekstraksi terakhir kearah labial
vi. Tidak boleh dirotasikan karena akarnya pipih
dan ujung akarnya membengkok ke arah
distal boleh diberikan dengan sangat lembut
4. Premolar
a. Instrument: maxillary universal forceps (no. 150)
b. Teknik
i. Posisi: depan kanan pasien
ii. Tangan nondominan:
1. P kanan: telunjuk =palatal, ibu jari
=buccal
2. P kiri: telunjuk=buccal, ibu
jari=palatal,
memegang erat pros. Alveolar
disebelah gigi yang akan di ekstraksi
iii. beak dari forcep di adaptasikan pada gigi,
harus parallel dengan aksis panjang dari gigi.
iv. Tekanan inisial = Gerakkan lembut ke arah
buccal palatal, tekanan dikuatkan secara
bertahap.
v. Tekanan arah ekstraksi terakhir kearah
buccal
vi. P1: karena ada 2 akar, gerakkan buccal-
palatal harus lembut dan sedikit karena
ujung akar dapat fraltur, namun dapat
dikeluarkan dengan mudah
vii. P2: cenderumg lebih mudah karena memiliki
1 akar.
5. First and second molar
a. Instrument: maxillary right molar forceps maxillary
left molar forceps. Bedanya di buccal beak, ada
ujung tajam untuk masuk ke bifurkasi
b. Prinsip
i. M1
1. Memiliki 3 akar
Palatal= paling lebar dan melebar scr
divergen ke palatum
2 akar buccal= membengkok secara
distal.
2. Terjangkar pada tulang alveolar secara
erat
3. Permukaan buccal di kuatkan dengan
adanya perpanjangan pros.
Zygomaticus
4. Memerlukan tekanan kuat pada saat
ekstraksi dan beresiko untuk fraktur
5. Harus berhati-hati karena ujung
akarnya mendekatu sinus maksillary
dan memungkinkan terjadinya
oroantral connections
ii. M2
1. Lebih mudah daripada M1
2. Lebih sedikit tahanan dari pros.
Alveolar buccal
3. Akar lebih tidak divergen
4. Terkadang akar fusi
c. Teknik
i. Posisi: depan kanan pasien
ii. Tangan nondominan:
1. M kanan: telunjuk =palatal, ibu jari
=buccal
2. M kiri: telunjuk=buccal, ibu
jari=palatal,
memegang erat pros. Alveolar
disebelah gigi yang akan di ekstraksi
iii. beak dari forcep di adaptasikan pada gigi,
harus parallel dengan aksis panjang dari gigi.
iv. Tekanan inisial = Gerakkan lembut ke arah
buccal palatal, tekanan dikuatkan secara
bertahap dan menambahkan rentang
gerakkan terutama pada daerah buccal
(yang tahanannya paling lemah)
v. Gerakkan akhir ekstraksi melengkung keatas
sesuai dengan arah akar palatal

6. Third molar
a. Instrument: maxillary third molar forceps.
Bedanya di buccal beak, ada ujung tajam untuk
masuk ke bifurkasi
b. Prinsip
i. Memiliki variasi jumlah dan morphology
ii. Tergantung pada lokasi dan bentuk/jumlah
akar
iii. Tulang alveolar buccal tebal
iv. Tulang alveolar palatal tipis dan rendah
c. Teknik
i. Posisi: depan kanan pasien
ii. Tangan nondominan:
1. M kanan: telunjuk =palatal, ibu jari
=buccal
2. M kiri: telunjuk=buccal, ibu
jari=palatal,
memegang erat pros. Alveolar
disebelah gigi yang akan di ekstraksi
iii. beak dari forcep di adaptasikan pada gigi,
harus parallel dengan aksis panjang dari gigi.
iv. Tekanan inisial = Gerakkan lembut ke arah
buccal palatal
Akar fusi = tekanan kearah buccal (untuk
menghindari frakturnya pros. Alveolar
palatal.
Akar 3/lebih = tekanan kearah buccal dan
dengan lembut ke palatal
v. Gerakkan akhir ekstraksi ke arah buccal
vi. Dapat dipermudah dengan straight elevator.
Diletakkan di antara molar 2&3 dan di
luksasikan sesuai arah akarnya
iii. Mandibula
1. Anterior teeth
a. Instrument: mandibular universal forceps (no. 151)
b. Teknik
i. Posisi: depan kanan/belakang kanan pasien
dengan tangan kiri pada kepala pasien
ii. Tangan nondominan: Mandibula di
stabilisasikan dengan 4 jari di daerah sub
mandibula dan ibu jari di permukaan oklusal
gigi.
iii. beak dari forcep di adaptasikan pada gigi,
harus parallel dengan aksis panjang dari gigi.
iv. Tekanan inisial = Gerakkan lembut ke arah
labial lingual, tekanan dikuatkan secara
bertahap.
v. Tekanan arah ekstraksi terakhir kearah labial
keluar dan kebawah
vi. Tekanan rotasi hanya sedikit diperbolehkan
vii. 32-42: Akarnya sempit dan gepeng, tidak
tertanam kuat pada tulang alveolar,
membengkok sedikit pada ujungnya, tulang
alveolar labial tipis
viii. 33&43: akar panjang lurus dan mungkin ada
bengkokan kearah distal pada ujung akar
2. Premolars
a. Instrument: mandibular universal forceps (no. 151)
b. Teknik
i. Posisi: depan kanan pasien
ii. Tangan nondominan:
1. Premolar kiri: Mandibula di
stabilisasikan dengan 4 jari di daerah
sub mandibula dan ibu jari di
permukaan oklusal gigi incisor
2. Premolar kanan: Mandibula di
stabilisasikan dengan 4 jari di daerah
sub mandibula dan ibu jari di
permukaan oklusal gigi gigi molar
pada region yang sama
iii. beak dari forcep di adaptasikan pada gigi,
harus parallel dengan aksis panjang dari gigi.
iv. Tekanan inisial = Gerakkan lembut ke arah
buccal lingual, tekanan dikuatkan secara
bertahap.
v. Tekanan arah ekstraksi terakhir kearah
buccal keluar dan kebawah
vi. Tekanan rotasi lembut pada ekstraksi P2
vii. Dikelilingi oleh tulang yang kuat dan padat
namun ekstraksinya mudah karena akarnya
yang lurus dan cobical, walau terkadang bisa
tipis atau ujung akar yang tebal.
3. Molar
a. Instrument: mandibular molar forceps (no. 151)
b. Teknik
i. Posisi: depan kanan pasien
ii. Tangan nondominan:
1. molar kiri: Mandibula di stabilisasikan
dengan 4 jari di daerah sub mandibula
dan ibu jari di permukaan oklusal gigi
incisor
2. molar kanan: Mandibula di
stabilisasikan dengan 4 jari di daerah
sub mandibula dan ibu jari di
permukaan oklusal gigi gigi premolar
pada region yang sama
iii. beak dari forcep di adaptasikan pada gigi,
harus parallel dengan aksis panjang dari gigi.
iv. Tekanan inisial = Gerakkan lembut ke arah
buccal lingual, tekanan dikuatkan secara
bertahap.
v. Tekanan arah ekstraksi terakhir kearah
buccal keluar dan kebawah
vi. M1: memiliki 2 akar (mesial-distal),
membengkok kearah distal, akar distal lebih
lurus, sempit, membulat daripada akar
mesial
vii. M2: dikelilingi tulang yang padat namun lebih
mudah di ekstraksi daripada M1, akarnya
lebih kecil, lebih tidak divergen, terkadang
fusi
4. Third molar
a. Instrument: mandibular third molar forceps (no.
151)
b. Teknik
i. Posisi: depan kanan pasien
ii. Tangan nondominan: (dapat lebih kearah
posterior)
1. Mandibula di stabilisasikan dengan 4
jari di daerah sub mandibula dan ibu
jari di permukaan oklusal gigi incisor
2. molar kanan: Mandibula di
stabilisasikan dengan 4 jari di daerah
sub mandibula dan ibu jari di
permukaan oklusal gigi gigi premolar
pada region yang sama
iii. beak dari forcep di adaptasikan pada gigi,
harus parallel dengan aksis panjang dari gigi.
iv. Tekanan inisial = Gerakkan lembut ke arah
lingual buccal, tekanan dikuatkan secara
bertahap. Tekanan kelingual lebih kuat.
tekanan ke buccal dengan lembut
v. Tekanan arah ekstraksi terakhir kearah
buccal keluar dan kebawah
iv. Deciduous teeth
a. Instrument: deciduus forceps, kecil dan beaknya
yang sempit
b. Teknik
i. Posisi: depan kanan pasien
ii. Tangan nondominan:
1. molar kiri: Mandibula di stabilisasikan
dengan 4 jari di daerah sub mandibula
dan ibu jari di permukaan oklusal gigi
incisor
2. molar kanan: Mandibula di
stabilisasikan dengan 4 jari di daerah
sub mandibula dan ibu jari di
permukaan oklusal gigi gigi premolar
pada region yang sama
iii. beak dari forcep di adaptasikan pada gigi,
harus parallel dengan aksis panjang dari gigi.
iv. Tekanan inisial = Gerakkan lembut ke arah
buccal lingual, tekanan dikuatkan secara
bertahap.
v. Tekanan arah ekstraksi terakhir kearah
buccal keluar dan kebawah
vi. M1: memiliki 2 akar (mesial-distal),
membengkok kearah distal, akar distal lebih
lurus, sempit, membulat daripada akar
mesial
vii. M2: dikelilingi tulang yang padat namun lebih
mudah di ekstraksi daripada M1, akarnya
lebih kecil, lebih tidak divergen, terkadang
fusi
INERVASI + ANESTESI
TEKNIK ANESTESI RA
1. Teknik biasanya Infiltrasi di gigi yang akan di lakukan, 5-7mm
dari servikal gigi 1,5ml pada mukosa buccal/labial, 0,5ml di
palatal.
2. Posterior Superior Alveolar Nerve Blok (PSA)
a. Injeksi di infratemporal fossa
b. Area yang teranastesi:
i. All Molar kecuali akar mesiobuccal M1
ii. Gingiva @ Molar
c. Tahapan:
i. @mucobuccal fold M2
ii. Masukkan sedalam 15mm
iii. Aspirasi negative, injeksikan

3. Nasopalatine Nerveblock (NP)


a. @Nasopalatine Nerve
b. Area yang teranestesi: C-C
c. Tahapan:
i. Swab Applicator
ii. @mukosa palatal, 1cm dibawah margin ginggiva 11-21,
dibawah insisif papilla di rugae ke2
iii. Masukkan until palatum keras
iv. Aspirasi, negative deposit
4. Greater Palatine Nerveblock (GP)
a. @Greater Palatine nerve
b. Area yang teranastesi:
i. Palatal of P1 till posterior-palatum keras till midline
c. Tahapan
i. Cari lokasi telusuri w/ Swab applicator dari m1-
posterior-turun ke jaringan, biasanya di post M2
ii. Tekan w/ swab applicator
iii. Masukkan jarus, deposit dikit supaya nyaman
iv. Masukkan sampe palatum keras
v. Aspirasi, negative depositkan

5. Middle Superior Alveolar Nerveblock (MSA


a. @ Middle Superior Alveolar Nerve
b. Area yang teranestesi:
i. P1-P2-akar mesiobuccal M1
ii. Gingival Buccal @(up)
c. Tahapan:
i. @muccobuccal fold P2
ii. Dorong till @ superior apeks gigi P2
iii. Aspirasi, negative Deposit

6. Infraorbital/Anterior Superior Alveolar Nerveblock (ASA)


beresiko kena mata
a. @anterior superior alveolar nerve
b. Saraf yang teranastesi:
i. ASA
ii. MSA
iii. Ifo
c. Area yang teranastesi:
i. I-akar mesiobuccal M1 +gingival buccal
ii. Lateral Hidung, upper lip, lower eyelid
d. Tahapan:
i. CAri infraorbital foramen @muccobuccalfold P1
ii. Masukkan @muccobuccalfold P1
iii. Dorong till tulang foramen
iv. Aspirasi, negative Deposit

7. Maxillary Division Block all nervus maksillaris


a. Yang teranastesi:
i. PSA
ii. ASA
iii. MSA
iv. NP
v. Ifo
vi. GP
b. Area Yang teranastesi:
i. All gigi maksila
ii. All buccal
iii. All palatal
iv. Nose, upperlip, lower eyelid
c. Tahapan:
i. Cari foramen GP w/ cotton swab @posterior M2
ii. Injeksi dikit
iii. Masukin sampe foramen masukkin lagi sampe 28-
30mm, sampai pterygopalatine fossa (jangan maksa)
iv. Aspirasi, negative Deposit

TEKNIK ANESTESI RB
1. Inferior Alveolar Block
a. @ Alveolar Inferios (+incisive nerve + mental nerve) + Lingual
Nerve
b. Daerah yang teranastesi:
i. I-M
ii. 2/3 anterior lidah
iii. Lingual
iv. Buccal P-Midline
v. Lower lip
c. Tahapan
i. @mukosa between coronoid notch ~ pterygomandibular
raphe lateral
ii. Arahkan kontralateral P, maju sejajar occlusal plane
mandibula sampai berkontak (20-25mm)
iii. Aspirasi, negative Deposit
2. Buccal Block
a. @buccal nerve
b. Yang teranastesi gingival buccal M + retromolar trigone
c. Tahapan:
i. Masukkan @ mukosa buccal posterior molar terakhir
(masuk 2mm)
ii. Aspirasi, negative Deposit
3. Mental Block
a. @mental nerve
b. Yang teranastesi
i. Buccal P1-Midline
ii. Lower lip
c. Tahapan:
i. Cari foramen mentalis, sekitar p2, masuk dikit
ii. Aspirasi, negative Deposit

4. Gow-Gates Mandibular Nerveblock variasi inferior alveolar block


(or fischer I dunno)
a. Saraf yang teranastesi:
i. IA
ii. Mylohioid nerve
iii. N Lingual
iv. N Long buccal
v. N. Auriculotemporal
b. Yang teranastesi:
i. All gigi
ii. 2/3 ant lidah
iii. All lingual
iv. All buccal
v. Kulit pipi posterior, di anterior telinga
c. Tahpan
i. Buka mulut lebar
ii. Cari linea oblique interna:
Jari telunjuk diletakkan di belakang gigi terakhir
mandibula, geser ke lateral dan palpasi linea oblique
eksterna pada ramus mandibula, kemudian telunjuk
digeser ke median untuk mencari linea oblique interna.
Ujung lengkung kuku berada di linea oblique interna dan
permukaan samping jari berada di bidang oklusal gigi
rahang bawah.
iii. Masukkin tegak lurus oklusal sampe mentok
Jarum diinsersikan dipertengahan lengkung kuku dari
sisi rahang yang tidak dianestesi tepatnya dari regio
premolar dan jarum dengan bevel mengarah ke tulang
sampai jarum kontak dengan tulang (Posisi I). Arah
jarum hampir tegak lurus dengan tulang.
iv. Geser sampe sejajar oklusal, masukkin sampe mentok
(tarik dikit), aspirasi+deposit
Spuit digeser kesisi yang akan dianestesi, sejajar
dengan bidang oklusal dan jarum ditusukkan sedalam 5
mm, lakukan aspirasi bila negatif keluarkan anestetikum
sebanyak 0,5 ml untuk menganestesi N. Lingualis (Posisi
II).
v. Geser sampe tegak lurus oklusal, sampe mentok (tarik
dikti) aspirasi+deposit
Spuit digeser ke arah posisi I tapi tidak penuh sampai
sekitar region kaninus lalu jarum ditusukkan sambil
menyelusuri tulang sedalam kira-kira 10-15 mm.
Aspirasi dan bila negatif keluarkan anestetikum
sebanyak 1 ml untuk menganestesi N. Alveolaris inferior
(Posisi III). Setelah selesai spuit ditarik kembali.
Posisi I = tegak lurus oklusal
Posisi II = sejajar oklusal
KLASIFIKASI IMPAKSI
A. Berdasarkan Angulasi
a. Mesioangular
b. Horizontal
c. Vertikal
d. Distoangular
e. Buccal
f. Lingual
g. inverted

B. Berdasarkan batas anterior ramus (Pells and Gregory/PG)


a. Kelas 1 seluruh mahkota di anterior ramus mandibula, jarak m2-
ramus > md m3

b. Kelas 2 mahkota lebih ke posterior, setengah mahkota tertutup


ramus, jarak m2-ramus < md m3
c. Kelas 3 seluruh mahkota di dalam ramus, ,no jarak m2-ramus

C. Berdasarkan bidang Oklusal (Pells and Gregory/PG)


a. Kelas A sedikit lebih rendah/sama dengan M2

b. Kelas B Diantara Oklusal dan servikal M2

c. Kelas C Dibawah Servikal M2


CARA PENULISAN:
Impaksi (sudut) Kelas (1/2/3)
D. Modifikasi untuk Maksila (Angulasi):
(A/B/C)
a. Vertikal

b. Distoangular

c. Mesioangular

E. Berdasarkan Jaringan Lunak


a. Impaksi jaringan lunak Mahkota hanya tertutupi jaringn lunak
b. Partial bony impaction Sebagian tertutup jar keras, sebagian jar
lunak

c. Complete bony impaction Terlingkupi tulas seluruhnya

F. Buat Kaninus: