Anda di halaman 1dari 17

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam rangka memenuhi kebutuhan protein masyarakat dengan mengkonsumsi


ikan, usaha budidaya mempunyai andil dalam menyukseskan pembangunan kelautan
dan perikanan. Budidaya ikan pada umumnya terbagi dalam pembenihan, pendederan
dan pembesaran. Pembenihan pada khususnya dimulai dari seleksi induk, persiapan
kolam, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva, dan pemanenan benih.
Usaha pembenihan ikan mas (Cyprinus carpio L) dapat dilakukan dengan
berbagai cara yaitu tradisional, semi intensif dan intensif. Saat ini usaha pembenihan
masih banyak dilakukan secara tradisional. Campur tangan manusia boleh dikatakan
tidak terlalu berperan karena semua kegiatan sangat bergantung terhadap kondisi
alamiah. Penyedian benih merupakan faktor mutlak dalam budidaya ikan. Mutu benih
dipengaruhi oleh mutu induk dan lingkungan seperti mutu air, makanan dan penyakit.
Sifat-sifat induk diharapkan dapat diturunkan kepada benih antara lain pertumbuhan
yang cepat, tahan terhadap serangan penyakit dan tidak cacat tubuh.
Sejalan dengan kemajuan teknologi, keberhasilan usaha pembenihan tersebut
tidak lagi banyak bergantung terhadap kondisi alam, karena manusia telah mampu
memanipulasi berbagai faktor alam yang berpengaruh di dalam budidaya ikan. Usaha
tersebut diantaranya berupa peningkatan penggunaan bibit unggul, mempercepat dan
mempermudah pemijahan ikan dengan hipofisa, peningkatan tingkat pembuahan telur
dengan teknik pembuahan buatan, penetasan telur secara terkontrol, pengendalian
kualitas dan kuantitas air serta pemurnian varietas induk ikan dan lain-lain.
Ikan mas (Cyprinus carpio L) dikenal sebagai salah satu komoditas budidaya
perairan tawar karena nilai jualnya yang cukup baik di pasaran. Oleh karena itu
budidaya ikan mas banyak diusahakan dibeberapa daerah di Indonesia. Menurut
Rukmana (2006), ikan mas merupakan salah satu dari 15 jenis komoditas ikan yang
ditujukan untuk peningkatan produksi dan pendapatan petani, serta pemenuhan untuk
jenis ikan budidaya air tawar di Indonesia karena memiliki daging yang putih dan
lunak memungkinkan untuk dicerna oleh semua umur. selain itu Ikan mas juga

1
memiliki cita rasa yang sangat tinggi dan mudah dalam pemeliharaannya. Ikan mas
dapat dibudidayakan dengan berbagai sistem antara lain: sistem air deras, keramba,
jaring terapung dan lainnya. Oleh karena itu, banyak pembudidaya ikan yang
memilih memelihara ikan mas baik dalam skala kecil maupun besar.
Salah satu kendala yang dialami oleh para konsumen saat ini adalah ketersediaan
benih yang terbatas. Berdasarkan hal tersebut, maka usaha pembenihan ikan mas
yang dilakukan di Balai Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar ( BPBIAT )
Ngrajek, Magelang, Jawa Tengah merupakan suatu usaha dalam menyediakan benih
secara berkesinambungan mengingat tingginya permintaan masyarakat terhadap ikan
mas yang berkualitas baik sebagai salah satu produk ikan konsumsi perairan tawar.
Balai Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar ( BPBIAT ) mempunyai tempat yang
strategis untuk kegiatan pembenihan dan lokasi yang terjangkau oleh transportasi
yang ada. Dari beberapa uraian mengenai Balai Perbenihan dan Budidaya Ikan Air
Tawar (BPBIAT), penulis mempunyai minat dan ketertarikan terhadap tempat,
pengetahuan teknis pembenihan ikan mas (Cyprinus carpio L).

1.2. Tujuan

Tujuan dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) pembenihan ikan mas di Balai
Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar ( BPBIAT ) Ngrajek, Magelang, Jawa
Tengah ini adalah sebagai berikut :
1. Mempelajari tentang teknik dan pengetahuan pembenihan ikan mas.
2. Mengidentifikasi permasalahan yang terdapat pada proses kegiatan
pembenihan ikan mas.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2
2.1. Klasifikasi dan Morfologi
Secara umum ikan mas (Cyprinus carpio L) mempunyai sifat-sifat umum
sebagai hewan omnivora (pemakan segala). Menurut Amri dan Khairuman
(2002), berdasarkan penggolongan ikan mas dapat dipaparkan sebagai berikut:
Phyllum : Chordata
Subphyllum : Vertebrata
Superclass : Pisces
Class : Osteichthyes
Subclass : Actinopterigii
Ordo : Cypriniformes
Subordo : Cyprinoidea
Family : Cyprinidae
Subfamily : Ciprinidae
Genus : Cyprinus
Species : Cyprinus carpio L

Gambar .1 Ikan mas (Cyprinus carpio L)

Ikan mas mempunyai ciri-ciri antara lain bentuk badan agak memanjang pipih
kesamping (compressed), mulut berada di ujung tengah (terminal) dapat disembulkan

3
dan lunak, memiliki kumis (barbel) dua pasang, kadang-kadang mempunyai sungut
dua pasang, jari-jari sirip punggung (dorsal) yang kedua mengeras seperti gergaji.
Sedangkan letak antara kedua sirip punggung dan perut bersebrangan, sirip dada
(pectoral) terletak dibelakang tutup insang (operculum). Pada bibirnya yang lunak
terdapat dua pasang sungut (berbel) dan tidak bergerigi. Pada bagian dalam mulut
terdapat gigi kerongkongan (pharynreal teeth) sebanyak tiga baris berbentuk geraham
(Pribadi dkk, 2002).
Tubuh ikan mas digolongkan tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor. Pada
kepala terdapat alat-alat seperti sepasang mata, sepasang cekung hidung yang tidak
berhubungan dengan rongga mulut, celah-celah insang, sepasang tutup insang, alat
pendengar dan keseimbangan yang tampak dari luar. Seluruh bagian tubuh ikan mas
ditutupi dengan sisik yang besar, dan berjenis ctenoid. Pada bagian itu terlihat ada
garis linea lateralis, memanjang mulai dari belakang tutup insang sampai pangkal
ekor. Ikan mas memiliki lima buah sirip, yaitu sirip punggung, sirip dada, sirip perut,
sirip dubur, dan sirip ekor. Sirip punggung panjang terletak di bagian punggung. Sirip
dada sepasang terletak di belakang tutup insang, dengan satu jari-jari keras, dan yang
lainnya berjari-jari lemah. Sirip perut hanya satu terletak pada perut. Sirip dubur
hanya terletak di belakang dubur. Sirip ekor juga hanya satu, terletak di belakang,
dengan bentuk cagak (Cahyono, 2000).
Ikan Mas ( Cyprinus carpio L ) menyukai tempat hidup berupa perairan tawar
yang airnya tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras. Ikan ini hidup
dengan baik di daerah dengan ketinggian 150-600 m dpl (di atas permukaan laut)
dengan suhu berkisar antara 25-300C. Meskipun tergolong ikan air tawar, Ikan Mas
kadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai dengan selinitas sampai 25-
30% (permil). Jika dilihat dari kebiasaan makannya, Ikan Mas tergolong ikan
omnivora, karena ikan ini merupakan ikan yang bisa memakan berbagai jenis makan,
baik yang berasal dari tumbuhan maupun binatang renik. Meskipun demikian, pakan
utamanya adalah yang berasal dari tumbuhan di dasar perairan dan daerah tepian
( Amri dan Khairuman, 2002 ).

4
2.2. Pembenihan Ikan Mas
Dalam pelaksanaan teknik pembenihan ikan mas terdapat beberapa proses yaitu
persiapan kolam, seleksi induk, pemijahan dan penetasan telur, pemeliharaan larva,
dan pemanenan.

2.2.1. Persiapan Kolam


Menurut Cahyono (2000), kolam tempat hidup ikan mas harus subur. Pada
kolam yang subur tumbuh pakan alami dengan beragam jenis, dan ukuran serta
jumlah yang melimpah. Pakan alami sangat penting untuk kelangsungan hidup dan
pertumbuhan benih, hingga kelangsungan hidupnya tinggi dan pertumbuhannya
cepat. Persiapan kolam terdiri dari pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan
tanah dasar, perbaikan kemalir, pengapuran, pemupukan, serta pengairan.
a. Pengeringan
Pengeringan dilakukan dengan cara membuang seluruh air kolam. Kolam
dibiarkan terjemur sinar matahari. Pengeringan dianggap cukup bila tanah dasar
sudah retak-retak. Biasanya selama 4 7 hari. Pengeringan bertujuan untuk
memberantas hama dan penyakit, memperbaiki struktur tanah dasar dan
membuang gas-gas beracun. Selain itu juga untuk mempermudah perbaikan
pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir.
b. Perbaikan pematang
Perbaikan pematang dilakukan dengan cara menutup seluruh permukaan
pematang dengan tanah dasar, agar semua bocoran dalam pematang tertutup. Bila
ada bocoran yang lebih besar, sebaiknya pematang dibongkar, lalu ditutup
kembali dengan tanah. Bila bocorannya banyak, sebaiknya pematang dilapisi
plastik. Perbaikan pematang bertujuan agar kolam terbebas dari bocoran,
sehingga bila diisi air, ketinggian air dan kesuburannya dapat dipertahankan.
Kondisi ini sangat baik untuk benih, karena pakan alami selalu tersedia.
c. Pengolahan tanah dasar
Pengolahan tanah dasar dilakukan dengan mencangkul seluruh bagian dasar
kolam, tapi tidak terlalu dalam. Tujuannya agar tanah dasar kedap air, strukturnya
baik dan higenis. Tanah dasar yang kedap dapat menahan air. Struktur tanah yang

5
baik dapat memperlancar proses penguraian bahan organik (pupuk), sehingga
pakan alami tumbuh dengan baik. Higenis artinya tanah dasar terbebas dari gas-
gas beracun, seperti amoniak, belerang dan lain-lain.
d. Pembuatan kemalir
Pembuatan kemalir dilakukan dengan cara menarik dua buah tali plastik dari
pintu pemasukan ke pintu pengeluaran. Jarak antara tali atau lebar kemalir antara
40 - 50 cm. Tanahnya digali sedalam 5 10 cm, lalu dilemparkan ke pelataran.
Pembuatan kemalir bertujuan untuk memudahkan penangkapan benih saat panen.
Di depan lubang pengeluaran dibuak kobakan dengan panjang 1,5 m, lebar 1 m,
dan tinggi 20 cm. Setelah kemalir dibuat, tanah dasar diratakan.
e. Pengapuran
Pengapuran dilakukan setelah pembuatan kemalir dengan cara menyiramkan
air kapur ke seluruh bagian tanah dasar dan pematang. Sebelumnya ditebar atau
disiram, kapur direndam terlebih dahulu dengan air. Untuk kapur yang sudah
kering, pengapuran dapat dilakukan dengan cara menaburkan ke seluruh bagian
tanah dasar dan pematang. Pengapuran bertujuan untuk meningkatkan
produktivitas tanah, terutama pH dan alkalinitasnya. Untuk kolam yang pH-nya
sudah 7, pengapuran tidak perlu dilakukan. Dosis pengapuran yaitu 40-50
gram/m2.
f. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan menebar pupuk ke seluruh tanah dasar kolam.
Dengan cara seperti itu pupuk dapat tersebar merata dan pertumbuhan pakan
alami akan merata di seluruh bagian kolam. Pemupukan dalam kolam bertujuan
untuk menumbuhkan pakan alami agar kolam menjadi subur. Pakan alami sangat
berguna untuk berudu agar tumbuh lebih cepat. Setelah kolam dipupuk, kolam
diisi air selama 4 6 hari. Caranya dengan menutup pintu pengeluaran air
(monik) dengan 3 4 buah belahan papan selebar masing-masing 10 cm, tidak
terbuang. Selain cara di atas, pemupukan dapat pula dilakukan setelah kolam
diisi air, agar tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Pupuk yang baik untuk
kolam adalah kotoran ayam atau puyuh. Dosis pupuknya 500-1000 gram/m.

2.2.2. Seleksi induk

6
Induk yang akan digunakan untuk praktek adalah induk ikan mas (Cyprinus
carpio L) yang sudah matang gonad dan siap pijah. Menurut Amri dan Khairuman
(2008), induk mas betina yang sudah matang gonad memiliki ciri-ciri yaitu bagian
perutnya tampak gendut dan tampak menggelambir jika dilihat dari atas. Apabila
diraba, perutnya terasa lembek dan disekitar lubang urogenitalinya tampak memerah
dan akan keluar telurnya jika dipijit. Induk jantan yang sudah matang gonad memiliki
ciri-ciri yaitu ditandai dengan keluarnya sperma yang berwarna putih jika daerah
urogenitalnya dipijit atau diurut. Induk yang dianggap ideal untuk dipijahkan adalah
yang memiliki berat antara 6 kg sampai 12 kg/ekor. Pakan yang diberikan berupa
pellet dengan kandungan protein 25%. Dosis pemberian pakan sebanyak 3% per
bobot biomas per hari. Pakan tersebut diberikan 3 kali/hari. Induk yang digunakan
dalam pemijahan harus dalam kondisi sehat, tidak terserang penyakit, baik parasiter
maupun non parasiter, tidak cacat, dan gerakannya lincah.

Gambar 2. Induk Jantan dan Induk Betin


Menurut Bachtiar (2002), beberapa tips cara memilih ikan mas yang hendak
dijadikan calon indukan yaitu :
a) Ditinjau dari morfologinya calon indukan yang baik untuk ikan mas dipilih
dengan ciri-ciri yang dimilikinya berkualitas baik, seperti ikan mas dalam
keadaan sehat, tidak cacat tubuh, tidak terluka, atau tidak sedang menderita suatu

7
penyakit. Tubuh ikan mas jika ditekan menggunakan jari-jari tangan orang
dewasa tidak terlalu keras atau terlalu lembek.
b) Bagi pembudidaya yang telah memiliki beberapa ekor ikan mas yang telah
berumur minimal setahun diseleksi untuk dijadikan indukan. Langkah ini
dilakukan merupakan seleksi yang pertama oleh pembudidaya memilih calon
indukan. Diusahakan induk yang diseleksi benar-benar jenis unggul dengan
pertumbuhan bagus, sehat, tidak cacat, dan bersisik besar dengan letak beraturan.
Ikan mas hasil seleksi tersebut setelah dipisahkan, kemudian dipelihara tersendiri
di kolam pemeliharaan induk.
c) Setelah seleksi pertama tersebut selesai dilakukan kemudian dilakukan seleksi
kedua yaitu berdasarkan jenis kelamin ikan mas calon indukan. Hasil seleksi ikan
mas berdasarkan jenis kelamin tersebut dipelihara di kolam khusus, yaitu semua
ikan mas jantan dipelihara dalam satu kolam khusus jantan. Demikian pula
dengan ikan mas yang betina. Tujuan pemisahan ikan mas calon indukan
berdasarkan jenis kelamin tersebut adalah agar induk-induk tersebut tidak dapat
kawin sembarangan.
d) Cara menentukan jenis kelamin ikan mas dilakukan dengan cara menekan bagian
perut ke arah ekor. Bila dari lubang kelamin ikan mas yang sedang diperiksa
mengeluarkan cairan berwarna putih susu (sperma), maka dapat dipastikan ikan
mas tersebut jantan. Sedangkan ikan mas betina ditentukan dengan cara melihat
bagian perut ke arah lubang kelamin (uroginetal). Bila di bagian tersebut terlihat
seperti membengkak, maka ikan mas tersebut dapat dipastikan betina.untuk
memastikan hal tersebut, dilakukan dengan cara mengurut perut yang
membengkak ke arah ekor. Bila dari lubang kelamin keluar cairan berwarna
kuning bening, maka dapat dipastikan ikan mas tersebut betina.
e) Diberikan perlakuan secara khusus pada ikan mas calon indukan agar benih yang
dihasilkan berkualitas baik, terutama mengenai masalah kesehatan dan asupan
pakan. Pakan berupa pellet (kandungan protein 20-25%) dan pakan alami berupa
dedaunan atau cacing tanah.
f) Dihindari adanya kawin silang dalam antar induk ikan mas. Jika sampai terjadi
perkawinan antarkerabat dekat dari ikan-ikan mas, maka hal itu akan

8
menghasilkan benih ikan mas dengan kualitas buruk. Digunakan stok induk dari
set induk yang pemijahannya berbeda untuk menghindari hal tersebut.
g) Generasi-generasi stok induk dipelihara secara terpisah agar tidak terjadi
pemijahan di antara induk dan keturunannya sehingga kualitas genetik induk
dapat dipertahankan.

2.2.3. Pemijahan dan Penetasan Telur


Pemijahan pada ikan mas diawali dengan memasukkan pasangan induk yang
sudah terseleksi. Pelepasan induk diusahakan tidak menimbulkan gangguan fisik atau
gangguan non fisik. Dalam keadaan normal dan faktor lingkungan yang mendukung,
pemijahan dapat berlangsung pada malam harinya sekitar pukul 23.00 sampai dengan
menjelang subuh. Pemijahan ditandai dengan adanya suara riuh air akibat pasangan
yang berpijah saling berkejaran dan berlompatan pada saat pelepasan telur dan
sperma. Telur-telur hasil pemijahan tersebut akan menetas setelah 3-4 hari kemudian.
Larva-larva yang baru menetas tersebut tidak langsung diberi pakan tambahan karena
masih ada kandungan kuning telurnya (Djarijah, 2001).
Ikan mas tergolong ikan yang mudah melakukan pemijahan, walaupun dibak-
bak terkontrol. Apabila induk benar-benar mencapai matang gonad, maka ikan mas
sudah siap untuk dipijahkan. Pemijahan ikan mas berlangsung selama 1 hari dan bak
yang digunakan untuk pemijahan sesuai dengan teknik pemijahan yang digunakan
pemijahan dilakukan secara alami (manipulasi lingkungan) tanpa rangsangan
hormonal menghasilkan telur ikan mas sekitar 20.000 s.d 30.000/ekornya
(http://boche-z.blogspot.com, 2012).

2.2.4. Pemeliharaan Larva


Setelah larva ikan mas dilepas atau dipelihara dalam kolam pendederan maka
selanjutnnya dilakukan tahap pemeliharaan dan perawatan antara lain dengan
mengatur air masuk dan air keluar, jangan sampai ada kebocoran pada kolam yang
dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Padat tebar telur untuk penetasan
yaitu 10.000-20.000 butir/ m kakaban. Air kolam hendaknya diatur sedemikian rupa
jangan sampai kolam mengalami kekeringan atau kelebihan air. Tahap berikutnya

9
memberikan pakan berupa dedak halus yang sebelumnya dedak tersebut harus
dibasahi terlebih dahulu dengan air dan diberikan secara merata disekelilingnya
kolam ada pula pakan alami yang banyak macamnya, yaitu Rotifera, Daphnia, Moina
dan Branchionus. Waktu pemberian pakan tersebut dilakukan pada waktu pagi hari
atau sore hari selama satu minggu (Bachtiar,2002).
Pada minggu kedua ikan baru bisa diberi pakan dedak halus ditaburkan
disekeliling kolam tanpa dibasahi lagi, pada minggu kedua dan ketiga bisa juga
diberikan makanan tambahan berupa pellet tapi pellet tersebut harus dihancurkan atau
ditumbuk sampai halus dan ditebarkan secara merata, serta harus memperhatikan
lingkungan sekitar kolam agar usaha pemeliharaan benih ikan mas tidak mengalami
kegagalan. Setelah umur benih tiga minggu (21 hari) dapat dilakukan panen pertama
dengan ukuran sekitar 1-3 cm dan bisa dilanjutkan dengan pemeliharaan benih untuk
menjadi ukuran 3-5 cm (http://budidayausaha.blogspot.com, 2013).

2.2.5. Penyakit dan Cara Penanggulangannya


Dalam budidaya ikan mas sering timbul penyakit yang menyerang benih atau
ikan dewasa.Penyakit merupakan suatu masalah yang sering merepotkan petani. Tak
jarang suatu usaha perikanan gagal karena serangan penyakit.Untuk itu perlu
dilakukan langkah-langkah pengendaliannya.

2.2.5.1. Penyakit Bakteri


Penyakit bakteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Serangan
penyakit ini dapat secara kronis (menahun), oporinis (tidak bersifat ganas, tetapi
bila kondisi induk dan lingkungan memburuk dapat bersifat ganas serta dapat
dijumpai dimana-mana) dan septisemia (penyebab lewat aliran darah dan dapat
menginfeksi organ lain seperti ginjal dan hati) (Rukmana, 2006).
a) Penyakit Columnaris
Gejala
Ikan kehilangan nafsu makan. Terjadi infeksi kulit pada bagian kepala dan
badan belakang, sirip, insang, serat bagian tubuh lainnya. Penyerangan
penyakit ini berlangsung lambat dan pada suhu 200C akan timbul borok kulit.

10
Penyebab : Flekxibakter columnaris
Pengendalian
Menjaga kualitas air agar tetap baik adalah salah satu cara pengendalian
penyakit ini.Untuk pengobatannya dapat dilakukan dengan perendaman dalam
kuprisulfat dosis (1-200) ppm selama (1-20) menit atau oksitetrasiklin HCl
dosis 10 mg/1 selama 30 menit. Selain itu,pengobatan dapat dilakukan lewat
pakan dosis 75 mg/kg ikan/hari.
b) Penyakit Penducle
Gejala
Gejala penyakit penducle hampir sama dengan penyakit columnaris pada suhu
160C timbul borok.
Penyebab : Cytophago psychoropohylla
Pengendalian
Dilakukan perendaman dengan oksitetrasiklin dosis 10 ppm selama 30 menit
atau dengan melalui pakan dengan 100 mg sulfixzole/kg berat ikan/hari
selama 10-20 hari berturut-turut.
c) Penyakit Pseudomonas flurescens
Gejala
Terjadi pendarahan pada bagian kulit, hati, ginjal dan limpa juga terjadi borok
pada kulit.
Penyebab : Pseudomonas sp.

Pengendalian
Tindakan preventif untuk mencegah kualitas air.untuk mengobati dilakukan
perendaman dengan oxitetrasiklin HCL dosis 25-30 mg/kg ikan/hari selama 7-
10 hari berturut-turut.
d) Penyakit Aeromonas Punctata
Gejala
Warna badan ikan suram tidak cerah, kulit kesat dan melepuh, cara bernafas
mengap-mengap, kantong empedu gembung, pendarahan dalam organ hati
dan ginjal.
Penyebab : Aeromonas punctata
Pengendalian
Dilakukan penyuntikan chloramphenicol 10-15 mg/kg ikan atau streptomycin
80-100 mg/kg ikan; pakan dicampur terramicine 50 mg/kg ikan selama 7 hari
berturut-turut.

11
2.2.5.2. Penyakit Parasit
Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit, misalnya
protozoa, cacing, jamur dan lainnya (http://budidayausaha.blogspot.com, 2012).
a. Penyakit Bintik Putih
Gejala
Pakan ikan terserang tidak ikut berenang dan selalu tinggal dipermukaan
air.Pada bagian kulit,sirip dan insang terdapat bintik-bintik putih.Ikan yang
sakit menggosok-gosokan badannya di dasar kolam atau ke benda keras.
Penyebab : Ichthyphyhirius multifillis
Pengendalian
Dilakukan pemberokan untuk mencegah bintik putih di air yang mengalir dan
memperkecil padat tebar dan untuk pengobatan dilakukan perendaman ikan
dengan formalin dosis 25 ml/m3 air yang ditambah dengan larutan melacit
green 0,1 gr/m3 air selama (20-24) jam.

b. Penyakit Lernea sp.


Gejala
Penyakit ini menyerang bagian-bagian insang, sirip dan mata. Pada bagian
tersebut akan tampak luka.
Penyebab : Parasit Lernea sp.
Pengendalian
Pencegahannya dilakukan dengan penyaringan inlet dengan filter.Tindak
lain adalah dengan penyemprotan kolam dengan dipterex dosis 1 ml/m3.
c. Penyakit Kutu
Gejala
Ikan yang terserang akan tampak kurus dan di daerah serangan akan tampak
bekas gigitan dengan warna merah.
Penyebab : Parasit jenis Argulus sp. Parasit ini menempel pada bagian
insang, kulit insang.
Pengendalian
Pengendalian dilakukan dengan pengeringan kolam dan pengapuran dengan
dosis 200 gr/m2,selain itu dilakukan penyaringan inlet dengan filter dan
pengobatan dengan cara dicelupkan dalam larutan NaCl 20 gr/lt (2%) selama
15 menit.

2.2.6. Pemanenan

12
Menurut Khairuman (2002), sebelum dilakukan pemanenan benih ikan,
terlebih dahulu dipersiapkan alat-alat tangkap dan sarana perlengkapannya. Peralatan
yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan mas antara lain adalah
warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan
penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba
kupyak, fish bus(untuk mengangkut ikan jarak dekat), ayakan penyabetan dari
alumunium/bamboo, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap
benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap ikan), scoopnet (untuk
Panen benih ikan dimulai pagi-pagi, yaitu antara jam 04.0005.00 pagi dan sebaiknya
berakhir tidak lebih dari jam 09.00 pagi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari
terik matahari yang dapat mengganggu kesehatan benih ikan tersebut. Pemanenan
dilakukan mula-mula dengan menyurutkan air kolam pendederan sekitar pukul 04.00
atau 05.00 pagi secara perlahan-lahan agar ikan tidak stres akibat tekanan air yang
berubah secara mendadak. Setelah air surut benih mulai ditangkap dengan seser halus
atau jaring dan ditampung dalam ember atau keramba. Benih dapat dipanen setelah
dipelihara selama 21 hari. Panenan yang dapat diperoleh dapat mencapai 70-80%
dengan ukuran benih antara 8-12 cm (Khairuman, 2008).

13
III. RENCANA KEGIATAN

3.1. Waktu dan tempat


Kegiatan PKL I semester III Sekolah Tinggi Perikanan, Jurusan Penyuluhan
Perikanan Tahun Akademik 2014/2015, dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2014
sampai dengan 14 November 2014 yang bertempat di Balai Perbenihan dan Budidaya
Ikan Air Tawar ( BPBIAT ) Ngrajek, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

3.2. Metode Kegiatan


Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan dengan metode magang yaitu
mengikuti semua kegiatan-kegiatan yang dilakukan di BPBIAT khususnya mengenai
teknik pembenihan ikan mas.
Pengambilan data pada Praktek Kerja Lapangan ini meliputi data primer dan data
sekunder. Data primer merupakan pengumpulan data berupa kegiatan yang dilakukan
dengan pengamatan (observasi). Observasi dilakukan terhadap berbagai kegiatan
yang bersangkutan dengan pembenihan ikan mas. Data sekunder diperoleh dari
wawancara dengan petugas/pembimbing ekstern di lapangan, studi pustaka, laporan
yang diperoleh dari lembaga penelitian swasta atau masyarakat yang berhubungan
dengan teknik pembenihan ikan mas (Cyprinus carpio L).

3.3. Materi Kegiatan


Materi kegiatan Praktek Kerja Lapangan yang akan dilaksanakan meliputi :
1. Identifikasi keadaan BPBIAT

14
2. Identifikasi kegiatan BPBIAT dengan mengambil materi pembenihan ikan
mas (Cyprinus carpio L). Tabel 1 adalah rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan
selama kegiatan.
Tabel 1. Materi kegiatan praktek kerja lapangan

KEGIATAN RINCIAN KEGIATAN

a. Mengetahui sarana dan


1. Sarana dan Prasarana
prasarana yang digunakan
untuk kegiatan pembenihan
ikan mas

2. Persiapan kolam a. Pengeringan kolam


b. Perbaikan pematang
c. Pengolahan tanah dasar
d. Pembuatan kemalir
e. Pengapuran
f. Pemupukan
2. Seleksi induk a. Pengukuran berat induk
b. Umur induk sebelum
dipijah
c. Jumlah induk betina dan
induk jantan yang dipijah
(perbanding)
d. Asal induk
e. Kualitas induk
3. Pemeliharaan induk a. Pemisahan induk jantan dan
betina
b. Pemberian pakan
4. Pemijahan dan penetasan telur a. Persiapan Kakaban
b. Pemasukan induk ke dalam
kolam pemijahan
c. Waktu pemijahan
d. Tanda-tanda memijah
e. Jumlah telur yang

15
dihasilkan setelah memijah
f. Lama penetasan telur
g. Daya tetas telur
5. Pemeliharaan larva a. Pengaturan pemasukan dan
pengeluaran air
b. Padat tebar larva
c. Pemberian pakan untuk
larva
d. Lama pemeliharaan larva
6. Pemanenan a. Persiapan alat-alat
pemanenan
b. Waktu pemanenan
c. Cara pemanenan
d. Kelangsungan hidup ikan
mas
e. Pemindahan larva ke kolam
pendederan
3.4. Kalender Kegiatan
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang akan dilaksanakan di Balai
Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (BPBIAT) Ngrajek, Kabupaten Magelang,
Jawa Tengah dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kalender rencana kegiatan Praktek Kerja Lapangan


OKTOBER-NOVEMBER 2014
MINGGU I MINGGU MINGGU
No KEGIATAN
/Hari ke II /Hari ke III /Hari ke
1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6
Tiba di lokasi
1 BPBIAT,orientasi
lapangan
2 Pengambilan data
3 Penyiapan induk
4 Persiapan kolam
5 Pemijahan
6 Penetasan telur
7 Pemeliharaan

16
larva
8 Pemberian pakan
9 Pemanenan
Kembali ke
10
kampus
Catatan : Kalender kegiatan di atas dapat berubah disesuaikan dengan situasi
dilapangan.

17