Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawatan endodontik merupakan bagian dari ilmu kedokteran gigi yang

menyangkut perawatan penyakit atau cedera pada jaringan pulpa dan jaringan periapikal.

Tujuan perawatan endodontik adalah mengembalikan keadaan gigi yang sakit agar dapat

diterima secara biologik oleh jaringan sekitarnya sehingga gigi dapat dipertahankan

selama mungkin didalam mulut. Hal ini berarti gigi tersebut tidak menimbulkan keluhan

dan dapat berfungsi baik. Perawatan endodontik terdiri dari perawatan non bedah yaitu

perawatan kaping pulpa, pulpotomi, mumifikasi, perawatan saluran akar dan perawatan

endodontik bedah.
Tujuan perawatan endodontik adalah mereduksi atau mengeliminasi

mikroorganisme dan produknya dari saluran akar sehingga gigi dapat dipertahankan

selama mungkin di dalam mulut. Walaupun instrumentasi dan teknik irigasi dilakukan,

namun mikroorganisme kemungkinan masih tertinggal di saluran akar terutama di dalam

tubuli dentin. Peneliti menyebutkan bahwa cleaning, shaping dan irigasi saluran akar

secara signifikan menurunkan atau mengeliminasi mikroorganisme dari saluran akar akan

tetapi, eliminasi mikroorganisme secara komplit tidak selalu dapat dicapai secara klinis,

oleh karena kompleksnya anatomi saluran akar dan keterbatasan instrumentasi dan irigasi

(Anusavine KJ.,1996). Masuknya bakteri ke dalam pulpa sering disebabkan oleh proses

kelanjutan dari karies. Infeksi yang berlangsung terlalu lama memungkinkan bakteri

mengadakan penetrasi ke kamar pulpa dan saluran akar melalui tubulus dentin yang

1
terbuka karena proses karies tersebut. Bakteri yang biasa dapat bertahan dalam saluran

akar adalah golongan bakteri anaerob. Salah satunya yaitu Enterococcus faecalis

merupakan bakteri yang paling banyak ditemukan dalam saluran akar yang menyebabkan

kegagalan perawatan endodontik. Keberadaan bakteri ini dapat diketahui dari hasil kultur

dan metode polymerase chain reaction (PCR). Sundqvist menemukan sejumlah bakteri

anaerob seperti Entercoccus Faecalis, Streptococcus anginosus, Bacteroides gracilis dan

Fusobacterium nucleatum pada saluran akar yang gagal (Fisher K, Philip C.,2009).

Interaksi dan produksi toksin oleh bakteri akan menimbulkan inflamasi berlanjut dan

menyebabkan keluhan selama perawatan dilakukan.


Penelitian menunjukkan bahwa dari 100 pengisian akar yang gagal disertai

periodontitis apikalis, terdapat bakteri fakultatif sebanyak 69% dan 50% diantaranya

merupakan Enterococci. Walaupun Enterococcus biasanya ditemukan pada saluran akar

yang tidak dirawat dalam jumlah sedikit, bakteri ini sering ditemukan pada saluran akar

yang gagal dan dapat menyebabkan infeksi saluran akar yang persistensi. Enterococcus

faecalis bertanggung jawab terhadap 80-90% infeksi saluran akar oleh Enterococci dan

biasanya merupakan satu-satunya spesies Enterococcus yang diisolasi dari saluran akar

yang telah diisi.

BAB II

PEMBAHASAN

2
A. Definisi

Endodontik merupakan bagian dari ilmu kedokteran gigi yang menyangkut

diagnosis serta perawatan penyakit atau cedera pada jaringan pulpa dan jaringan

periapikal. Sedangkan Perawatan endodontik adalah suatu usaha menyelamatkan gigi

terhadap tindakan pencabutan agar gigi dapat bertahan dalam soket. Akhir-akhir ini

perawatan endodontik mengalami perkembangan yang sangat pesat, sehingga perawatan

ini menjadi suatu alternatif sebelum dilakukan ekstraksi. Selama dekade terakhir,

perbaikan konsep, strategi, dan teknik dapat meningkatkan kesuksesan perawatan

endodontik. Pemahaman tentang anatomi sistem saluran akar memegang peranan penting

dalam kesuksesan dan kegagalan perawatan endodontik.

Perawatan endodontik dikatakan berhasil apabila dalam waktu observasi minimal

satu tahun tidak terdapat keluhan dan lesi periapikal yang ada, dapat berkurang atau tetap.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan perawatan endodontik

adalah faktor patologi, factor penderita, faktor anatomi, faktor perawatan dan kecelakaan

prosedur perawatan (Ingle, 1985; Cohen & Burn, 1994; Walton & Torabinejab, 1996).

1. Faktor Patologis

Keberadaan lesi di jaringan pulpa dan lesi di periapikal mempengaruhi tingkat

keberhasilan perawatan saluran akar. Beberapa penelitian menunjukan bahwa tidak

mungkin menentukan secara klinis besarnya jaringan vital yang tersisa dalam saluran

akar dan derajat keterlibatan jaringan peripikal. Faktor patologi yang dapat

3
mempengaruhi hasil perawatan saluran akar adalah (Ingle, 1985; Walton & Torabinejad,

1996) :

a. Keadaan patologis jaringan pulpa.


Beberapa peneliti melaporkan tidak ada perbedaan yang berarti dalam

keberhasilan atau kegagalan perawatan saluran akar yang melibatkan jaringan pulpa

vital dengan pulpa nekrosis. Peneliti lain menemukan bahwa kasus dengan pulpa

nekrosis memiliki prognosis yang lebih baik bila tidak terdapat lesi periapikal.
b. Keadaan patologis periapikal
Adanya granuloma atau kista di periapikal dapat mempengaruhi hasil perawatan

saluran akar. Secara umum dipercaya bahwa kista apikalis menghasilkan prognosis

yang lebih buruk dibandingkan dengan lesi granulomatosa. Teori ini belum dapat

dibuktikan karena secara radiografis belum dapat dibedakan dengan jelas ke dua lesi

ini dan pemeriksaan histologi kista periapikal sulit dilakukan.


c. Keadaan periodontal
Kerusakan jaringan periodontal merupakan faktor yang dapat mempengaruhi

prognosis perawatan saluran akar. Bila ada hubungan antara rongga mulut dengan

daerah periapikal melalui suatu poket periodontal, akan mencegah terjadinya proses

penyembuhan jaringan lunak di periapikal. Toksin yang dihasilkan oleh plak

dentobakterial dapat menambah bertahannya reaksi inflamasi.


d. Resorpsi internal dan eksternal
Kesuksesan perawatan saluran akar bergantung pada kemampuan menghentikan

perkembangan resorpsi. Resorpsi internal sebagian besar prognosisnya buruk karena

sulit menentukan gambaran radiografis, apakah resorpsi internal telah menyebabkan

perforasi. Bermacam-macam cara pengisian saluran akar yang teresorpsi agar

mendapatkan pengisian yang hermetis.

2. Faktor Penderita

4
Faktor penderita yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu

perawatan saluran akar adalah sebagai berikut (Ingle, 1985; Cohen & Burns, 1994;

Walton &Torabinejad, 1996) :

a. Motivasi Penderita
Pasien yang merasa kurang penting memelihara kesehatan mulut dan

melalaikannya, mempunyai risiko perawatan yang buruk. Ketidaksenangan yang

mungkin timbul selama perawatan akan menyebabkan mereka memilih untuk

diekstraksi (Sommer, 1961).


b. Usia Penderita
Usia penderita tidak merupakan faktor yang berarti bagi kemungkinan

keberhasilan atau kegagalan perawatan saluran akar. Pasien yang lebih tua usianya

mengalami penyembuhan yang sama cepatnya dengan pasien yang muda. Tetapi

penting diketahui bahwa perawatan lebih sulit dilakukan pada orang tua karena

giginya telah banyak mengalami kalsifikasi. Hali ini mengakibatkan prognosis yang

buruk, tingkat perawatan bergantung pada kasusnya (Ingle, 1985).


c. Keadaan kesehatan umum
Pasien yang memiliki kesehatan umum buruk secara umum memiliki risiko yang

buruk terhadap perawatan saluran akar, ketahanan terhadap infeksi di bawah normal.

Oleh karena itu keadaan penyakit sistemik, misalnya penyakit jantung, diabetes atau

hepatitis, dapat menjelaskan kegagalan perawatan saluran akar di luar kontrol ahli

endodontis (Sommer, dkk, 1961; Cohen & Burns, 1994).

5
3. Faktor Perawatan

Faktor perawatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu

perawatan saluran akar bergantung kepada :

a. Perbedaan operator
Dalam perawatan saluran akar dibutuhkan pengetahuan dan aplikasi ilmu biologi

serta pelatihan, kecakapan dan kemampuan dalam manipulasi dan menggunakan

instrumen-instrumen yang dirancang khusus. Prosedur-prosedur khusus dalam

perawatan saluran akar digunakan untuk memperoleh keberhasilan perawatan.

Menjadi kewajiban bagi dokter gigi untuk menganalisa pengetahuan serta

kemampuan dalam merawat gigi secara benar dan efektif (Healey, 1960; Walton

&Torabinejad, 1996).
b. Teknik-teknik perawatan
Banyak teknik instrumentasi dan pengisian saluran akar yang tersedia bagi dokter

gigi, namun keuntungan klinis secara individual dari masing-masing ukuran

keberhasilan secara umum belum dapat ditetapkan. Suatu penelitian menunjukan

bahwa teknik yang menghasilkan penutupan apikal yang buruk, akan menghasilkan

prognosis yang buruk pula (Walton & Torabinejad, 1996).


c. Perluasan preparasi atau pengisian saluran akar.
Belum ada penetapan panjang kerja dan tingkat pengisian saluran akar yang ideal

dan pasti. Tingkat yang disarankan ialah 0,5 mm, 1 mm atau 1-2 mm lebih pendek

dari akar radiografis dan disesuaikan dengan usia penderita. Tingkat keberhasilan

yang rendah biasanya berhubungan dengan pengisian yang berlebih, mungkin

disebabkan iritasi oleh bahan-bahan dan penutupan apikal yang buruk. Dengan tetap

6
melakukan pengisian saluran akar yang lebih pendek dari apeks radiografis, akan

mengurangi kemungkinan kerusakan jaringan periapikal yang lebih jauh (Walton &

Torabinejad, 1996).

4. Faktor Anatomi Gigi

Faktor anatomi gigi dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan suatu

perawatan saluran akar dengan mempertimbangkan :

a. Bentuk saluran akar


Adanya pengbengkokan, penyumbatan,saluran akar yang sempit, atau bentuk

abnormal lainnya akan berpengaruh terhadap derajat kesulitan perawatan saluran akar

yang dilakukan yang memberi efek langsung terhadap prognosis (Walton &

Torabinejad, 1996).
b. Kelompok gigi
Ada yang berpendapat bahwa perawatan saluran akar pada gigi tunggal

mempunyai hasil yang lebih baik dari pada yang berakar jamak. Hal ini disebabkan

karena ada hubungannya dengan interpretasi dan visualisasi daerah apikal pada

gambaran radiografi. Tulang kortikal gigi-gigi anterior lebih tipis dibandingkan

dengan gigi-gigi posterior sehingga lesi resorpsi pada apeks gigi anterior terlihat lebih

jelas. Selain itu, superimposisi struktur radioopak daerah periapikal untuk gigi-gigi

anterior terjadi lebih sedikit, sehingga interpretasi radiografinya mudah dilakukan.

Radiografi standar lebih mudah didapat pada gigi anterior, sehingga perubahan

periapikal lebih mudah diobservasi dibandingkan dengan gambaran radiologi gigi

posterior (Walton & Torabinejad, 1989).


c. Saluran lateral atau saluran tambahan
Hubungan pulpa dengan ligamen periodontal tidak terbatas melalui bagian apikal

saja, tetapi juga melalui saluran tambahan yang dapat ditemukan pada setiap

7
permukaan akar. Sebagian besar ditemukan pada setengah apikal akar dan daerah

percabangan akar gigi molar yang umumnya berjalan langsung dari saluran akar ke

ligamen periodontal (Ingle, 1985). Preparasi dan pengisian saluran akar tanpa

memperhitungkan adanya saluran tambahan, sering menimbulkan rasa sakit yang

hebat sesudah perawatan dan menjurus ke arah kegagalan perawatan akhir (Guttman,

1988).

5. Kecelakaan Prosedural

Kecelakaan pada perawatan saluran akar dapat memberi pengaruh pada hasil akhir

perawatan saluran akar, misalnya :

a. Terbentuknya ledge (birai) atau perforasi lateral.


Birai adalah suatu daerah artifikasi yang tidak beraturan pada permukaan dinding

saluran akar yang merintangi penempatan instrumen untuk mencapai ujung saluran

(Guttman, et all, 1992). Birai terbentuk karena penggunaan instrumen yang terlalu

besar, tidak sesuai dengan urutan; penempatan instrument yang kurang dari panjang

kerja atau penggunaan instrumen yang lurus serta tidak fleksibel di dalam saluran

akar yang bengkok (Grossman, 1988, Weine, 1996). Birai dan ferforasi lateral dapat

memberikan pengaruh yang merugikan pada prognosis selama kejadian ini

menghalangi pembersihan, pembentukan dan pengisian saluran akar yang memadai

(Walton & Torabinejad, 1966).


b. Instrumen patah
Patahnya instrumen yang terjadi pada waktu melakukan perawatan saluran akar

akan mempengaruhi prognosis keberhasilan dan kegagalan perawatan. Prognosisnya

bergantung pada seberapa banyak saluran sebelah apikal patahan yang masih belum

dibersihkan dan belum diobturasi serta seberapa banyak patahannya. Prognosis yang

8
baik jika patahan instrumen yang besar dan terjadi ditahap akhir preparasi serta

mendekati panjang kerja. Prognosis yang lebih buruk jika saluran akar belum

dibersihkan dan patahannya terjadi dekat apeks atau diluar foramen apikalis pada

tahap awal preparasi (Grossman, 1988; Walton & Torabinejad, 1996).


c. Fraktur akar vertikal
Fraktur akar vertikal dapat disebabkan oleh kekuatan kondensasi aplikasi yang

berlebihan pada waktu mengisi saluran akar atau pada waktu penempatan pasak.

Adanya fraktur akar vertikal memiliki prognosis yang buruk terhadap hasil perawatan

karena menyebabkan iritasi terhadap ligamen periodontal (Walton &Torabinejad,

1996).

B. Tujuan Perawatan Endodontik

Tujuan perawatan endodontik adalah mengembalikan keadaan gigi yang sakit

agar dapat diterima secara biologik oleh jaringan sekitarnya, ini berarti bahwa gigi

tersebut tanpa simptom, dapat berfungsi dan tidak ada tanda-tanda patologik yang lain.

Tujuan perawatan endodontik juga untuk membersihkan kavitas pulpa yang terinfeksi

dan kotoran toksik serta untuk membentuk saluran akar agar dapat menerima bahan

pengisi yang akan menutup seluruh sistem saluran akar dari jaringan periodontal dan dari

rongga mulut.

Tujuan perawatan saluran akar adalah reduksi mikroba di dalam sistem saluran

akar, agar terjadi proses penyembuhan melalui tindakan pembersihan dan pembentukan

saluran akar (cleaning and haping). Pembersihan di lakukan dengan mengeluarkan

jaringan pulpa vital dan nekrotik serta mereduksi mikroorganisme.

9
Pembentukan dilakukan dengan membentuk saluran akar sedemikian rupa agar

dapat menerima bahan pengisi.

C. Indikasi dan Kontraindikasi Perawatan Endodontik

Dalam melakukan perawatan saluran akar, ada tiga faktor yang mempengaruhi

keputusan apakah perawatan saluran akar dilakukan atau tidak, yaitu :

1. Daya tahan tubuh pasien secara umum

2. Tingkat keterlibatan jaringan periapeks

3. Pencapaian daerah periapeks melalui saluran akar

Indikasi Perawatan Endodontik:

a. Karies yang luas.

b. Email yang tidak di dukung oleh dentin.

c. Gigi sulung dengan infeksi yang melewati kamar pulpa, baik pada gigi vital, nekrosis

sebagian maupun gigi sudah nonvital.

d. Saluran akar yang dapat dimasukkan instrumen.

e. Kelainan jaringan periapeks pada gambaran radiografi kurang dari sepertiga apeks.

f. Mahkota gigi masih bisa direstorasi dan berguna untuk keperluan prostetik (untuk pilar

restorasi jembatan).

g. Gigi tidak goyang dan periodonsium normal.

h. Foto rontgen menunjukan resorpsi akar tidak lebih dari sepertiga apikal, tidak ada

granuloma pada gigi sulung.

i. Kondisi pasien baik

10
j. Pasien ingin giginya di pertahankan dan bersedia untuk memelihara kesehatan gigi dan

mulutnya.

k. Keadaan ekonomi pasien memungkinkan.

Kontraindikasi Perawatan Endodontik :

a. Bila dijumpai kerusakan luas jaringan periapikal yang melibatkan lebih dari sepertiga

panjang akar.

b. Bila saluran akar gigi tanpa pulpa dengan daerah radiolusen terhalang oleh akar

berkurva/bengkok, akar berliku-liku, dentin sekunder, kanal yang mengapur atau

sebagian mengapur, gigi malposisi, atau suatu instrumen yang patah.

c. Bila apeks akar mengalami fraktur.

Pada umumnya kontraindikasi perawatan saluran akar bergantung pada :

a. Status pasien

b. Alasan dental

c. Alasan lokal

d. Gigi tidak dapat direstorasi lagi

e. Resorpsi akar lebih dari sepertiga apikal

f. Kondisi pasien buruk, mengidam penyakit kronis, seperti diabetes melitus, TBC, dan

lain-lain.

g. Terdapat belokan ujung dengan granuloma (kista) yang sukar di bersihkan atau sukar

dilakukan bedah endodonti.

D. Prosedur Perawatan Endodontik

Perawatan endodontik adalah suatu usaha menyelamatkan gigi terhadap tindakan

pencabutan agar gigi dapat bertahan dalam soket. Tujuan dari perawatan endodontik

11
adalah mengembalikan keadaan gigi yang sakit agar dapat diterima secara biologik oleh

jaringan sekitarnya. Ini berarti gigi tersebut tanpa simtom, dapat berfungsi, dan tidak ada

tanda-tanda patologik yang lain.

Perawatan saluran akar terbagi atas tiga tahapan, tahap preparasi biomekanis

saluran akar yaitu suatu tahap pembersihan dan pembentukan saluran akar dengan

membuka jalan masuk menuju kamar pulpa dari korona, tahap sterilisasi yaitu dengan

irigasi dan disinfeksi saluran akar, dan tahap pengisian saluran akar.

Prosedur perawatan saluran akar gigi terbagi atas 3 tahapan umum yaitu:

1. Tahap diagnosis, yang meliputi penentuan penyakit dan perencanaan perawatan.

2. Tahap preparasi, pada tahap ini isi saluran akar dikeluarkan dan saluran akar

dipreparasi untuk menerima bahan pengisi.

3. Tahap pengisian, pada tahap terakhir ini saluran akar diisi dengan bahan yang dapat

menutupnya secara hermetik sampai batas dentin dan sementum.

E. Jenis perawatan endodontic


1. Endo Konvensional
a. Pulp capping
Pulp Capping didefinisikan sebagai aplikasi dari satu atau beberapa lapis

bahan pelindung di atas pulpa vital yang terbuka. Bahan yang biasa digunakan

untuk pulp capping ini adalah kalsium hidroksida karena dapat merangsang

pembentukan dentin sekunder secara efektif dibandingkan bahan lain. Tujuan pulp

capping adalah untuk menghilangkan iritasi ke jaringan pulpa dan melindungi

pulpa sehingga jaringan pulpa dapat mempertahankan vitalitasnya. Dengan

demikian terbukanya jaringan pulpa dapat terhindarkan. Teknik pulp capping ini

ada dua yaitu direct pulp capping dan indirect pulp capping.
1) Direk

12
Direct Pulp Capping menunjukkan bahwa bahan diaplikasikan langsung

ke jaringan pulpa. Daerah yang terbuka tidak boleh terkontaminasi oleh saliva,

kalsium hidroksida dapat ditempatkan di dekat pulpa dan selapis semen zinc

okside eugenol dapat diletakkan di atas seluruh lantai pulpa dan biarkan

mengeras untuk menghindari tekanan pada daerah perforasi bila gigi di

restorasi. Pulpa diharapkan tetap bebas dari gejala patologis dan akan lebih

baik jika membentuk dentin sekunder. Agar perawatan ini berhasil maka pulpa

di sekitar daerah terbuka tersebut harus vital dan dapat terjadi proses

perbaikan.

Langkah-langkah Pulp Capping :

a) Siapkan peralatan dan bahan.


Gunakan kapas, bor, dan peralatan lain yang steril.
b) Isolasi gigi.
Selain menggunakan rubber dan isolasi gigi juga dapat

menggunakan kapas dan saliva ejector, jaga posisinya selama perawatan.


c) Preparasi kavitas
Tembus permukaan oklusal pada tempat karies sampai kedalaman

1,5 mm (yaitu kira-kira 0,5 mm ke dalam dentin. Pertahankan bor pada

kedalaman kavitas dan dengan hentakan intermitten gerakan bor melalui

fisur pada permukaan oklusal.


d) Ekskavasi karies yang dalam
Dengan perlahan-lahan buang karies dengan ekskavator, mula-

mula dengan menghilangkan karies tepi kemudian berlanjut ke arah pulpa.

Jika pulpa vital dan bagian yang terbuka tidak lebih besar diameternya

dari ujung jarum maka dapat dilakukan pulp capping.


e) Berikan kalsium hidroksida

13
Keringkan kavitas dengan cotton pellet lalu tutup bagian kavitas

yang dalam termasuk pulpa yang terbuka dengan pasta kalsium

hidroksida.

2) Indirek
Istilah ini digunakan untuk menunjukan penempatan bahan adhesif di atas

sisa dentin karies. Tekniknya meliputi pembuangan semua jaringan karies dari

tepi kavitas dengan bor bundar kecepatan rendah. Lalu lakukan ekskavasi

sampai dasar pulpa, hilangkan dentin lunak sebanyak mungkin tanpa

membuka kamar pulpa. Basis pelindung pulpa yang biasa dipakai yaitu zinc

okside eugenol atau dapat juga dipakai kalsium hidroksida yang diletakan di

dasar kavitas. Apabila pulpa tidak lagi mendapat iritasi dari lesi karies

diharapkan jaringan pulpa akan bereaksi secara fisiologis terhadap lapisan

pelindung dengan membentuk dentin sekunder. Agar perawatan ini berhasil

jaringan pulpa harus vital dan bebas dari inflamasi. Biasanya atap kamar pulpa

akan terbuka saat dilakukan ekskavasi. Apabila hal ini terjadi maka tindakan

selanjutnya adalah dilakukan direct pulp capping atau tindakan yang lebih

radikal lagi yaitu amputasi pulpa (pulpotomi).

b. Pulpotomi
Pulpotomi disebut juga pengangkatan sebagian jaringan pulpa, kemudian

diikuti oleh penempatan obat di atas orifis yang akan menstimulasikan perbaikan

atau memumifikasikan sisa jaringan pulpa vital di akar gigi. Biasanya jaringan

pulpa di bagian korona yang cedera atau mengalami infeksi dibuang untuk

mempertahankan vitalitas jaringan pulpa dalam saluran akar. Pulpotomi dapat

14
dipilih sebagai perawatan pada kasus yang melibatkan kerusakan pulpa yang

cukup serius namun belum saatnya gigi tersebut untuk dicabut.


1) Pulpotomi Vital
Langkah-langkah perawatan pulpotomi pada gigi yang masih vital:
1. Siapkan instrumen dan bahan. Pemberian anestesi lokal untuk mengurangi

rasa sakit saat perawatan


2. Isolasi gigi.
Pasang rubber dam, jika rubber dam tidak bisa digunakan isolasi dengan

kapas dan saliva ejector dan jaga keberadaannya selama perawatan.


3. Preparasi kavitas.
Perluas bagian oklusal dari kavitas sepanjang seluruh permukaan oklusal

untuk memberikan jalan masuk yang mudah ke kamar pulpa.


4. Ekskavasi karies yang dalam.
5. Buang atap pulpa.
Dengan menggunakan bor fisur steril dengan handpiece berkecepatan

rendah. Masukkan ke dalam bagian yang terbuka dan gerakan ke mesial dan

distal seperlunya untuk membuang atap kamar pulpa.


6. Buang pulpa bagian korona.
Hilangkan pulpa bagian korona dengan ekskavator besar atau dengan bor

bundar kecepatan rendah.


7. Cuci dan keringkan kamar pulpa.
Semprot kamar pulpa dengan air atau saline steril, syringe disposible dan

jarum steril. Penyemprotan akan mencuci debris dan sisa-sisa pulpa dari

kamar pulpa. Keringkan dan kontrol perdarahan dengan kapas steril.


8. Celupkan kapas kecil dalam larutan asam hidroklorida atau formokresol,

buang kelebihannya dengan menyerapkan pada kapas dan tempatkan dalam

kamar pulpa, menutupi pulpa bagian akar selama 4 sampai dengan 5 menit.
9. Berikan bahan antiseptik.
Siapkan pasta antiseptik dengan mencampur eugenol dan formokresol

dalam bagian yang sama dengan zinc oxide. Keluarkan kapas yang

mengandung formokresol dan berikan pasta secukupnya untuk menutupi

15
pulpa di bagian akar. Serap pasta dengan kapas basah secara perlahan dalam

tempatnya. Dressing antiseptik digunakan bila ada sisa-sisa infeksi.


10. Restorasi gigi.
Tempatkan semen dasar yang cepat mengeras sebelum menambal

dengan amalgam atau penuhi dengan semen sebelum preparasi gigi untuk

mahkota stainless steel.


2) Pulpotomi Non Vital
Prinsip dasar perawatan endodontik gigi pulpa non vital adalah untuk

mencegah sepsis dengan cara membuang jaringan pulpa non vital,

menghilangkan proses infeksi dari pulpa dan jaringan periapikal, memfiksasi

bakteri yang tersisa di saluran akar. Perawatan endodontik untuk pulpa non

vital yaitu perawatan pulpotomi mortal (pulpotomi devital). Pulpotomi mortal

adalah teknik perawatan endodontik dengan cara mengamputasi pulpa

nekrotik di kamar pulpa kemudian dilakukan sterilisasi dan penutupan saluran

akar.
Langkah-langkah perawatan pulpotomi devital :
Kunjungan pertama :
1) Siapkan instrumen dan bahan.
2) Isolasi gigi dengan rubber dam.
3) Preparasi kavitas.
4) Ekskavasi karies yang dalam.
5) Buang atap kamar pulpa dengan bor fisur steril dengan handpiece

kecepatan rendah.
6) Buang pulpa di bagian korona dengan ekskavator besar atau dengan bor

bundar.
7) Cuci dan keringkan pulpa dengan air atau saline steril, syringe disposible

dan jarum steril.


8) Letakkan arsen atau euparal pada bagian terdalam dari kavitas.
9) Tutup kavitas dengan tambalan sementara.

16
10) Bila memakai arsen instruksikan pasien untuk kembali 1 sampai dengan 3

hari, sedangkan jika memakai euparal instruksikan pasien untuk kembali

setelah 1 minggu
Kunjungan kedua :
1) Isolasi gigi dengan rubber dam.
2) Buang tambalan sementara.
Lihat apakah pulpa masih vital atau sudah non vital. Bila masih vital

lakukan lagi perawatan seperti pada kunjungan pertama, bila pulpa sudah

non vital lakukan perawatan selanjutnya.


3) Berikan bahan antiseptik.
4) Tekan pasta antiseptik dengan kuat ke dalam saluran akar dengan cotton

pellet.
5) Aplikasi semen zinc oxide eugenol.
6) Restorasi gigi dengan tambalan permanen.

c. Perawatan Saluran Akar


Perawatan saluran akar yaitu pembersihan dan pembentukan saluran akar,

merupakan salah satu fase dalam perawatan endodontik yang paling penting.

Langkah pertama dalam preparasi saluran akar yaitu membuat jalan masuk ke

kamar pulpa untuk menghasilkan penetrasi garis lurus ke orifis saluran akar.

Langkah selanjutnya yaitu eksplorasi saluran akar, ekstirpasi jaringan pulpa yang

masih tertinggal dan debridement jaringan nekrotik kemudian diikuti dengan

instrumensasi. Preparasi saluran akar dapat dilakukan secara manual dengan

beberapa teknik yaitu :


1) Teknik konvensional
Teknik konvensional merupakan teknik preparasi biomekanikal untuk

melebarkan saluran akar sampai foramen apikal dengan menggunakan

instrumen tertentu secara mekanis. Alat yang digunakan adalah jarum

ektirpasi, reamer dan file.


Prinsip preparasi konvensional :
1. Preparasi harus mengikuti garis lurus

17
2. Instrumen yang halus lebih dahulu digunakan daripada yang kasar
3. Menggunakan instrumen yang kecil dahulu baru kemudian ukuran yang

besar
4. Reamer hanya dipakai -1/2 putaran dalam satu gerakan
5. Menggunakan file dengan gerakan tarikan
6. Menggunakaan reamer dan file dengan stoper karet
7. Instrumen dengan pegangan pendek digunakan untuk gigi posterior atas

atau bawah dan gigi anterior bawah serta instrumen dengan pegangan

panjang untuk gigi anterior atas


8. Instrumen tidak boleh dipaksakan bila tersangkut
9. Semua pekerjaan dengan memakai instrumen dilakukan dalam keadaan

akar yang basah

Teknik konvensional ini memerlukan waktu perawatan yang lama

dan merupakan prosedur yang kurang efisien terutama untuk saluran akar

yang bengkok.

2) Teknik Step-back
Teknik step-back disebut juga preparasi serial. Teknik pertama sekali

diperkenalkan oleh Clem pad tahun 1969. Teknik step-back ini menghasilkan

bentuk corong yang lebih halus dari apeks ke korona. Tujuannya untuk

menjaga agar preparasi apikal tetap kecil dan melebar ke korona sepanjang

saluran akar. Selain itu, preparasi apeks harus tetap atau tidak bergeser dari

posisi saluran akar sebelumnya. Teknik Step-back menggunakan alat yaitu

file-K setelah akses lurus dan ekstirpasi dilakukan. Preparasi Step-back terdiri

dari tahap yaitu preparasi apeks dan preparasi koronal.


a) Preparasi apeks
Preparasi apeks merupakan tahap berikutnya setelah dicapai akses

yang lurus. Kemudian dilakukan ekstirpasi dengan jarum ekstirpasi, dan

panjang kerja ditentukan dahulu. File-K dengan ukuran yang sesuai

18
dimasukkan perlahan sampai panjang kerja. File-K dikenakan pada

dinding dentin dengan tekanan lateral kemudian ditarik. Prosedur ini di

ulangi sampai semua dinding di instumensasi dan dilakukan dengan hati-

hati mengikuti arah saluran. Pengikisan sirkumferensial dilakukan sampai

ujung apekal file yang kecil ini terasa bebas dalam saluran pada panjang

kerja.
b) Preparasi korona
Setelah preparasi apeks, peraparasi saluran akar sebaiknya

dilakukan dengan memperpendek panjang kerja 1,0 mm setiap kali

kenaikan satu nomor alat dengan gerakan mengikis ke lateral. Preparasi

koronal dimulai dengan file satu nomor diatas FAU kemudian rekapitulasi

dengan FAU sampai panjang kerja.

Keuntungan preparasi step-back yaitu lebih efektif dalam

membersihkan saluran akar dibanding dengan konvensional dan lebih

mudah melakukan pengisian saluran akar dengan metode kondensasi

lateral.
3) Teknik Step-Down
Teknik dilakukan pada daerah saluran akar dekat mahkota sebelum

preparasi pada 1/3 apikal dilakukan. Teknik ini digunakan untuk

mempreparasi saluran akar gigi molar yang bengkok. Alat yang digunakan

pada teknik preparasi step-down ini selain file adalah bur Gates-Glidden.
Keuntungan step down :
a) Memberikan jalan masuk yang lebih baik ke arah apikal
b) Menghilangkan hambatan ke arah preparasi apikal yang disebabkan oleh

kalifikasi, dentikel.
c) Pembersihan debris pulpa
d) Memperlancar proses irigasi
4) Teknik Crown-down pressureless

19
Merupakan variasi dari teknik step-down, teknik ini bertujuan untuk

menghilangkan masalah ekstruksi yang berhubungan dengan preparasi saluran

konvensional dengan tetap membuat saluran yang melebar dengan potongan

melintang tersempit pada penyempitan apikal. Teknik ini dilakukan setelah

atap pulpa dibersihkan dengan bur bulat.


5) Teknik Balanced force
Teknik ini digunakan pada saluran akar yang bengkok dan alat

dimasukkan ke dalam saluran akar tanpa dibengkokanterlebih dahulu. Alat ini

sangat efisien untuk memotng dentin.


d. Pulpektomi
Pulpektomi adalah pengangkatan seluruh jaringan pulpa. Pulpektomi

merupakan perawatan untuk jaringan pulpa yang telah mengalami kerusakan

yang bersifat irreversibel atau untuk gigi dengan kerusakan jaringan keras

yang luas. Meskipun perawatan ini memakan waktu yang lama dan lebih

sukar daripada pulp capping atau pulpotomi namun lebih disukai karena hasil

perawatannya dapat diprediksi dengan baik. Jika seluruh jaringan pulpa dan

kotoran diangkat serta saluran akar diisi dengan baik akan diperoleh hasil

perawatan yang baik pula.


Indikasi perawatan pulpektomi adalah gigi yang dapat direstorasi, anak

dengan keadaan trauma pada gigi insisif sulung dengan kondisi patologis pada

anak usia 4-4,5 tahun, tidak ada gambaran patologis dengan resorpsi akar

tidak lebih dari dua pertiga atau tiga perempat.


1) Pulpektomi Vital
Langkah-langkah perawatan pulpektomi vital :
a) Pembuatan foto Rontgen.
Untuk mengetahui panjang dan jumlah saluran akar serta keadaan

jaringan sekitar gigi yang akan dirawat. Pemberian anestesi lokal

untuk menghilangkan rasa sakit pada saat perawatan.

20
b) Daerah operasi diisolasi dengan rubber dam untuk menghindari

kontaminasi bakteri dan saliva.

c) Jaringan karies dibuang dengan bor fisur steril. Atap kamar pulpa

dibuang dengan menggunakan bor bundar steril kemudian diperluas

dengan bor fisur steril.

d) Jaringan pulpa di kamar pulpa dibuang dengan menggunakan

ekskavatar atau bor bundar kecepatan rendah.

e) Perdarahan yang terjadi setelah pembuangan jaringan pulpa

dikendalikan dengan menekankan cotton pellet steril yang telah dibasahi

larutan saline atau akuades selama 3 sampai dengan 5 menit.

f) Kamar pulpa dibersihkan dari sisa-sisa jaringan pulpa yang telah

terlepas kemudian diirigasi dan dikeringkan dengan cotton pellet steril.

Jaringan pulpa di saluran akar dikeluarkan dengan menggunakan jarum

ekstirpasi dan headstrom file.

g) Saluran akar diirigasi dengan akuades steril untuk menghilangkan

kotoran dan darah kemudian dikeringkan dengan menggunakan paper

point steril yang telah dibasahi dengan formokresol kemudian

diaplikasikan ke dalam saluran akar selama 5 menit.

h) Saluran akar diisi dengan pasta mulai dari apeks hingga batas koronal

dengan menggunakan jarum lentulo.

i) Lakukan lagi foto rontgen untuk melihat ketepatan pengisian.

21
j) Kamar pulpa ditutup dengan semen, misalnya dengan semen seng

oksida eugenol atau seng fosfat.

k) Selanjutnya gigi di restorasi dengan restorasi permanen.

2) Pulpektomi Non Vital

Perawatan endodontik untuk pulpa non vital adalah pulpektomi mortal

(pulpektomi devital). Pulpektomi mortal adalah pengambilan semua

jaringan pulpa nekrotik dari kamar pulpa dan saluran akar gigi yang non

vital, kemudian mengisinya dengan bahan pengisi. Walaupun anatomi akar

gigi sulung pada beberapa kasus menyulitkan untuk dilakukan prosedur

pulpektomi, namun perawatan ini merupakan salah satu cara yang baik

untuk mempertahankan gigi sulung dalam lengkung rahang.

Langkah-langkah perawatan pulpektomi non vital :

Kunjungan pertama :

a) Lakukan foto rontgen.


b) Isolasi gigi dengan rubber dam.
c) Buang semua jaringan karies dengan ekskavator, selesaikan preparasi

dan desinfeksi kavitas.


d) Buka atap kamar pulpa selebar mungkin.
e) Jaringan pulpa dibuang dengan ekskavator sampai muara saluran akar

terlihat.
f) Irigasi kamar pulpa dengan air hangat untuk melarutkan dan

membersihkan debris.
g) Letakkan cotton pellet yang dibasahi trikresol formalin pada kamar

pulpa.
h) Tutup kavitas dengan tambalan sementara.

22
i) Instruksikan pasien untuk kembali 2 hari kemudian.

Kunjungan kedua :

a) Isolasi gigi dengan rubber dam.


b) Buang tambalan sementara.
c) Jaringan pulpa dari saluran akar di ekstirpasi, lakukan reaming, filling,

dan irigasi.
d) Berikan Beechwood creosote.
e) Celupkan cotton pellet dalam beechwood creosote, buang

kelebihannya, lalu letakkan dalam kamar pulpa.


f) Tutup kavitas dengan tambalan sementara.
g) Instruksikan pasien untuk kembali 3 sampai dengan 4 hari kemudian.

Kunjungan ketiga :

a) Isolasi gigi dengan rubber dam.


b) Buang tambalan sementara.
c) Keringkan kamar pulpa, dengan cotton pellet yang berfungsi sebagai

stopper masukkan pasta sambil ditekan dari saluran akar sampai apeks.
d) Letakkan semen zinc fosfat.
e) Restorasi gigi dengan tambalan permanen.

1) Endointrakanal
Endo intrakanal adalah pengangkatan seluruh jaringan pulpa yang sudah

mati seluruhnya. Endo intrakanal merupakan perawatan untuk jaringan pulpa

yang telah mengalami kerusakan yang bersifat irreversibel atau untuk gigi

dengan kerusakan jaringan keras yang luas. Jika seluruh jaringan pulpa dan

kotoran diangkat serta saluran akar diisi dengan baik akan diperoleh hasil

perawatan yang baik pula. Tahapan perawatan endo intrakal sama dengan

perawatan pulpektomi, perbedaan perawatannya adalah pada pemakaian

anastesi, pada perawatan endo intrakanal tidak memerlukan anastesi karena

gigi dalam kondisi non vital.

23
Indikasi endo intrakanal :
a) Nekrosis pulpa totalis
b) Perawatan ulang
c) Kelainan periapikal
Kontraindikasi endo intrakanal :
a) OH jelek
b) Tidak mempunyai nilai estetik / fungsional
c) Fraktur dengan arah vertikal
d) Mengganggu pertumbuhan gigi tetangga
e) Resorbsi interna / eksterna meliputi setengah akar

Langkah-langkah perawatan endo intrakanal :


1. Pembuatan foto Rontgen.
Untuk mengetahui panjang dan jumlah saluran akar serta keadaan jaringan

sekitar gigi yang akan dirawat.


2. Daerah operasi diisolasi dengan rubber dam untuk menghindari

kontaminasi bakteri dan saliva.


3. Jaringan karies dibuang dengan bor fisur steril. Atap kamar pulpa dibuang

dengan menggunakan bor bundar steril kemudian diperluas dengan bor fisur

steril.
4. Jaringan pulpa di kamar pulpa dibuang dengan menggunakan ekskavatar

atau bor bundar kecepatan rendah.


5. Kamar pulpa dibersihkan dari sisa-sisa jaringan pulpa yang telah terlepas

kemudian diirigasi dan dikeringkan dengan cotton pellet steril. Jaringan pulpa

di saluran akar dikeluarkan dengan menggunakan jarum ekstirpasi dan

headstrom file.
6. Saluran akar diirigasi dengan akuades steril untuk menghilangkan kotoran

dan darah kemudian dikeringkan dengan menggunakan paper point steril yang

telah dibasahi dengan formokresol kemudian diaplikasikan ke dalam saluran

akar selama 5 menit.


7. Saluran akar diisi dengan pasta mulai dari apeks hingga batas koronal

dengan menggunakan jarum lentulo.


8. Lakukan lagi foto rontgen untuk melihat ketepatan pengisian.

24
9. Kamar pulpa ditutup dengan semen, misalnya dengan semen seng oksida

eugenol atau seng fosfat.


10. Selanjutnya gigi di restorasi dengan restorasi permanen.

F. Kesalahan-Kesalahan dalam Perawatan Endodontik


Ada beberapa kesalahan-kesalah dalam perawatan endodontik yaitu:
1. Tidak mengikuti perencanaan perawatan. Suatu tahap perawatan harus diselesaikan

sebelum mulai dengan tahap berikutnya. Sebagai contoh kesalahan yang akan

menyebabkan waktu terbuang adalah jika telah dimulai mengisi saluran akar,

sedangkan pelebaran dan pembersihannya belum selesai. Seperti tahap-tahap lain

dalam perawatan kedokteran gigi, disini tidak dijumpai alternatif lain dalam

pendekatan prosedur perawatannya.


2. Tidak menyediakan waktu yang cukup. Kesalahan yang paling banyak

menimbulkan problema, adalah jika operator tidak menyediakan waktu yang cukup

untuk menyelesaikan suatu tahap perawatan yang telah direncanakan. Dalam

perawatan endodontik setiap informasi baru yang tidak disangka sebelumnya, seperti

adanya saluran akar tambahan, dan saluran akar yang sangat bengkok, dapat

memperpanjang waktu perawatan. Asumsi bahwa waktu yang direncanakan akan

cukup adalah tidak bijaksana. Kecuali jika telah diperhitungkan pula kemungkinan

ditemukannya hal-hal seperti diatas sebagai sesuatu yang wajar. Jika waktu kurang,

diperlukan rencana kunjungan tambahan untuk menyelesaikan perawatan. Jika tidak

pekerjaan akan terburu-buru yang mungkin akan mengakibatkan kesalahan. Usaha

untuk menyelesaikan suatu tahap yang waktunya tidak cukup dapat mengakibatkan

perforasi, patahnya instrumen pada waktu melebarkan saluran akar, atau dapat pula

terjadi kesalahan lainnya. Sebaiknya disediakan waktu yang lebih banyak daripada

yang telah diperkirakan.

25
3. Tidak membuang seluruh jaringan pulpa. Pembersihan gigi vital yang tidak

sempurna akan mengakibatkan tertinggalnya jaringan dalam saluran akar. Jika

pembersihan dilanjutkan pada kunjungan berikutnya, mungkin akan timbul kesukaran

untuk mendapatkan anastesi yang dalam bagi sisa jaringan tersebut. Karena itu

seluruh jaringan pulpa harus diangkat dari setiap saluran akar pada kunjungan

pertama yang dijadwalkan untuk pembersihan saluran akar.


4. Membiarkan gigi terbuka. Pembukaan kamar pulpa gigi dengan abses alveolar akut

adalah cara yang efektif untuk drainase dan meredakan rasa sakit. Keadaan ini adalah

satu-satunya indikasi untuk membiarkan gigi terbuka. Kesalahan yang sering terjadi

adalah jika gigi dengan pulpitis dibiarkan terbuka. Meskipun tindakan ini mungkin

dapat meredakan rasa sakit, tetapi umumnya malah mengakibatkan rasa sakit yang

lebih parah dalam waktu 1-2 hari.


5. Tidak ada catatan yang akurat. Karena perawatan endodontik harus dan

membutuhkan pengukuran panjang kerja yang tepat, diameter pelebaran, patokan

tumpuan pengukuran, dan sebagainya, maka diperlukan catatan yang akurat. Tahap

yang telah diselesaikan pada tiap kunjungan, juga ukuran dan panjang alat yang

digunakan terakhir harus dicatatat. Jika hal ini tidak dilakukan, maka akan membuang

waktu untuk memeriksa dan menentukannya kembali.

26
BAB III

KESIMPULAN

Endodontik merupakan bagian dari ilmu kedokteran gigi yang menyangkut

diagnosis serta perawatan penyakit atau cedera pada jaringan pulpa dan jaringan

periapikal. Sedangkan Perawatan endodontik adalah suatu usaha menyelamatkan gigi

terhadap tindakan pencabutan agar gigi dapat bertahan dalam soket. Akhir-akhir ini

perawatan endodontik mengalami perkembangan yang sangat pesat, sehingga perawatan

ini menjadi suatu alternatif sebelum dilakukan ekstraksi. Selama dekade terakhir,

perbaikan konsep, strategi, dan teknik dapat meningkatkan kesuksesan perawatan

endodontik. Pemahaman tentang anatomi sistem saluran akar memegang peranan penting

dalam kesuksesan dan kegagalan perawatan endodontik.

Tujuan perawatan endodontik adalah mengembalikan keadaan gigi yang sakit

agar dapat diterima secara biologik oleh jaringan sekitarnya, ini berarti bahwa gigi

tersebut tanpa simptom, dapat berfungsi dan tidak ada tanda-tanda patologik yang lain.

Indikasi Perawatan Endodontik:

a. Karies yang luas.

b. Email yang tidak di dukung oleh dentin.

c. Gigi sulung dengan infeksi yang melewati kamar pulpa, baik pada gigi vital, nekrosis

sebagian maupun gigi sudah nonvital.

d. Saluran akar yang dapat dimasukkan instrumen.

e. Kelainan jaringan periapeks pada gambaran radiografi kurang dari sepertiga apeks.

27
f. Mahkota gigi masih bisa direstorasi dan berguna untuk keperluan prostetik (untuk pilar

restorasi jembatan).

g. Gigi tidak goyang dan periodonsium normal.

h. Foto rontgen menunjukan resorpsi akar tidak lebih dari sepertiga apikal, tidak ada

granuloma pada gigi sulung.

i. Kondisi pasien baik

j. Pasien ingin giginya di pertahankan dan bersedia untuk memelihara kesehatan gigi dan

mulutnya.

k. Keadaan ekonomi pasien memungkinkan.

Kontraindikasi Perawatan Endodontik :

a. Bila dijumpai kerusakan luas jaringan periapikal yang melibatkan lebih dari sepertiga

panjang akar.

b. Bila saluran akar gigi tanpa pulpa dengan daerah radiolusen terhalang oleh akar

berkurva/bengkok, akar berliku-liku, dentin sekunder, kanal yang mengapur atau

sebagian mengapur, gigi malposisi, atau suatu instrumen yang patah.

c. Bila apeks akar mengalami fraktur.

Jenis-jenis perawatan endodontik :

ENDO KONVENSIONAL

1. PULP CAPPING

a. DIREK

b. INDIREK

2. PULPOTOMI

28
3. PERAWATAN S.A

a. PULPEKTOMI

b. ENDOINTRAKANAL

DAFTAR PUSTAKA

29
Alhamid A, Savitri E. Journal Of The Indonesian Dental Assosiation ; 2003 : 5

Bakar A. Kedokteran gigi klinis. Yogyakarta : Quntum S : 2012, hal 46

Bence R. Endodontik klinik. Jakarta : Sundoro E.H : 2005, hal 80-81

Iskandar BHH. Upaya proteksi radiasi di bidang kedokteran gigi dengan proyeksi radiografi

yang tepat, Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi ; 2006 : 1 (2) : 75-9

Juwono L. Perawatan pulpa gigi (endodonti) ed 2. Jakarta : Tarigan R, hal 93-7

Perawatan endodontik / saraf gigi. Avaiable at : http://www.Holisticcaredentalclinnical.

Prawitasari E, Ratih DN. Perawatan saluran akar ulang pada insisivus satu kiri

maksilaris dengan khlorheksidin : TINI II ; 2012 : 121

Toppo S. Tingkat penggunaan ct-scan untuk pemeriksaan ameloblastoma di RS Wahidin

Sudirohusodo lebih tinggi dibandingkan dengan radiogravi konvensional, Dentofasial

Jurnal Kedokteran Gigi ; 2013 : 12 (1) : 16

Sarianoferni, Brahmanta A. Dental Jurnal Kedokteran Gigi ; 2006 : 1 (1) : 54-7

Sisthaningsih E, Suprastiwi E. Perawatan ulang saluran akar akibat lepasnya restorasi : Dep.

Ilmu Konservasi Gigi FKG UI : 1-3

Soraya C. Perawatan endodontik ulang pada gigi insisivus sentral atas kanan : Cakradonya

Dental Journal ; 2009 : 1 ST : 69-70

Suryo S. Ilmu endodontik dalam praktek ed 11. Jakarta : Abyono R, hal 383-94

1415.

Yuwono L. Anatomi gigi. Jakarta : Itjingningsih Wangidjaja Harshanur; 1991, hal 219

30
31