Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Tonsila palatina adalah suatu jaringan limfoid yang terletak di fossa

tonsilaris di kedua sudut orofaring dan merupakan salah satu bagian dari cincin

Waldeyer. Tonsila palatina merupakan jaringan limfoepitel yang berperan penting

sebagai sistem pertahanan tubuh terutama terhadap protein asing yang masuk ke

saluran makanan atau masuk ke saluran nafas (virus, bakteri, dan antigen

makanan). Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil

mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Onsil merupakan

jaringan limfoid yang mengandung sel limfoid yang mengandung sel limfosit, 0,1-

0,2% dari kesuluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. (Kartika, 2008)

Tonsillitis adalah inflamasi pada tonsila palatine yang disebabkan oleh

infeksi virus atau bakteri. Saat bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh melalui

hidung atau mulut, tonsil berfungsi sebagai filter/ penyaring menyelimuti

organisme yang berbahaya tersebut dengan sel-sel darah putih. Hal ini akan

memicu sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi terhadap infeksi yang

akan datang. Tetapi bila tonsil sudah tidak dapat menahan infeksi dari bakteri atau

virus tersebut maka akan timbul tonsillitis. Tonsilitis dapat dibagi menjadi

,onsillitis akut dan ,onsillitis kronik. Tonsilitis akut adalah radang akut pada

tonsil akibat infeksi kuman terutama Streptokokus hemolitikus (50%) atau virus.

Sedangkan ,onsillitis kronik dapat disebabkan oleh rangsangan menahun rokok,

1
makanan tertentu, ,onsill mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik, dan

pengobatan ,onsillitis akut yang tidak adekuat. (Rusmarjano dan Efiaty, 2009)

Tonsilitis akut merupakan infeksi yang paling sering terjadi dan mengenai

pada usia anak-anak atau remaja sehingga pengetahuan dan pencegahan terhadap

,onsillitis ini perlu diketahui agar bisa mencegah perburukan ,onsillitis. Untuk

itu, ,onsil predisposisi, patofisiologi, diagnosis, dan tatalaksana patut diketahui

dan dipelajari agar komplikasi akibat ,onsillitis akut ini dapat dihindari dan tidak

terjadi kambuhan yang bisa menyebabkan terjadinya tonsillitis kronik.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Tonsil

Tonsila palatina adalah suatu jaringan limfoid yang terletak di fossa

tonsilaris di kedua sudut orofaring dan merupakan salah satu bagian dari cincin

Waldeyer selain tonsil lainnya yaitu tonsil. Tonsila palatina lebih padat

dibandingkan jaringan limfoid lain. Permukaan lateralnya ditutupi oleh kapsul

tipis dan di permukaan medial terdapat kripta (Amarudin, 2007). Tonsila palatina

merupakan jaringan limfoepitel yang berperan penting sebagai sistem pertahanan

tubuh terutama terhadap protein asing yang masuk ke saluran makanan atau

masuk ke saluran nafas (virus, bakteri, dan antigen makanan). Mekanisme

pertahanan dapat bersifat spesifik atau non spesifik. Apabila patogen menembus

lapisan epitel maka sel-sel fagositik mononuklear pertama-tama akan mengenal

dan mengeliminasi antigen (Farokah, 2003).

Gambar 2.1 Anatomi tonsila palatine

3
Tonsila palatina merupakan dua massa jaringan limfoid yang terletak pada

dinding lateral orofaring di dalam fossa tonsilaris. Setiap tonsil diliputi oleh

membran mukosa, dan permukaan medialnya yang bebas menonjol ke dalam

faring. Pada permukaannya banyak lubang kecil, yang membentuk kripta

tonsillaris. Permukaan lateral tonsila palatina ini diliputi oleh selapis jaringan

fibrosa, disebut kapsula. Tonsil mendapat darah dari a. Palatina asendens, cabang

tonsil a. maksila eksterna, a. faring asendens, dan a. lingualis dorsal. Tonsil

mencapai ukuran terbesarnya pada masa kana-kanak, tapi sesudah masa pubertas

akan mengecil dengan jelas. Batas-batas tonsilla palatina adalah sebagai berikut :

(Soepardi dkk, 2007)

a. Anterior : arcus palatoglossus

b. Posterior : arcus palatopharyngeus

c. Superior : palatum molle. Disini, tonsilla palatina dilanjutkan oleh jaringan

limfoid di bawah permukaan palatum molle.

d. Inferior : sepertiga posterior lidah. Disini, tonsilla palatina dilanjutkan oleh

tonsilla lingualis.

e. Medial : ruang oropharynx.

f. Lateral : kapsula dipisahkan dari m. constrictor pharyngis superior.

Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh

ligamentum glosoepiglotika. Pada garis tengah, di sebelah anterior massa ini

terdapat foramen sekum pada apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papila

sirkumvalata. Tempat ini kadang-kadang menunjukkan penjalaran duktus

4
tiroglossus dan secara klinik merupakan tempat penting bila ada massa tiroid

lingual atau kista duktus tiroglossus. (Soepardi dkk, 2007)


Tonsil dan adenoid, bersama-sama dengan lingual tonsil dan folikel

lymphe merupakan bagian dari cincin Waldeyer, sebuah lingkaran yang

berkesinambungan dari jaringan limfoid yang mengelilingi saluran pernapasan

dan saluran pencernaan bagian atas. Fungsinya adalah untuk menghasilkan

antibodi terhadap sejumlah besar antigen dan patogen yang dihirup saat bernapas

dan ditelan saat makan setiap saat. Biasanya, jaringan limfoid mendapatkan

episode peradangan dan hipertrofi yang kita sebut tonsilitis. (Soepardi dkk, 2007)
Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang arteri karotis eksterna,

yaitu 1) arteri maksilaris eksterna (arteri fasialis) dengan cabangnya arteri

tonsilaris dan arteri palatina asenden; 2) arteri maksilaris interna dengan

cabangnya arteri palatina desenden; 3) arteri lingualis dengan cabangnya arteri

lingua lis dorsal; 4) arteri faringeal asenden. Kutub bawah tonsil bagian anterior

diperdarahi oleh arteri lingualis dorsal dan bagian posterior oleh arteri palatina

asenden, diantara kedua daerah tersebut diperdarahi oleh arteri tonsilaris. Kutub

atas tonsil diperdarahi oleh arteri faringeal asenden dan arteri palatina

desenden.Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan

pleksus dari faring. Aliran balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul tonsil, vena

lidah dan pleksus faringeal. Tonsil bagian bawah mendapat sensasi dari cabang

serabut saraf ke IX (nervus glosofaringeal) dan juga dari cabang desenden lesser

palatine nerves. (Wiatrak BJ, 2005)

2.2 Definisi Tonsilitis Akut

5
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan

bagian dari cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa

yang terdapat di dalam rongga mulut yaitu tonsil faringeal (adenoid), tonsil

palatina (tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil tuba

Eustachius (lateral band dinding faring atau Gerlachs tonsil). (Rusmarjano dan

Efiaty, 2009)

Tonsilitis akut adalah radang akut pada tonsil akibat infeksi kuman

terutama Streptokokus hemolitikus (50%) atau virus. (Rusmarjano dan Efiaty,

2009)

2.3 Epidemiologi Tonsilitis Akut

Tonsilitis akut dapat terjadi pada usia berapapun tetapi paling sering pada

anak usia di bawah 9 tahun. Pada bayi di bawah usia 3 tahun dengan tonsilitis

akut, 15% dari kasus yang ditemukan disebabkan oleh bakteri streptokokus,

sisanya itu biasanya virus. Pada anak-anak yang lebih tua, sampai dengan 50%

dari kasus disebabkan streptococus pyogenes. Tonsilitis akut juga dapat terjadi

pada laki-laki dan perempuan dengan jumlah insiden yang sama rata. (Soepardi

dkk, 2007)

2.4 Etiologi Tonsilitis Akut

Penyebab utamanya adalah infeksi bakteri streptococcus atau infeksi virus.

Tonsil berfungsi membantu menyerang bakteri dan mikroorganisme lainnya

sebagai tindakan pencegahan terhadap infeksi. Tonsil bisa dikalahkan oleh bakteri

6
maupun virus, sehingga membengkak dan meradang, menyebabkan tonsillitis.

(Bhargava, 2005)

Penyebab tonsilitis antara lain :

1. Pneumococcus

2. Staphilococcus

3. Streptokokus beta hemolitikus grup A

4. Hemofilus Influenza

5. Virus Epstein Barr

6. Kadang streptococcus non hemoliticus atau streptococcus viridens.

Faktor predisposisi dari tonsilitis akut, antara lain :

1. Postnasal discharge karena sinusitis.

2. Residual jaringan tonsil karena tonsilektomi.

3. Mengkonsumsi minuman dingin atau makanan dingin dapat secara

langsung menyebabkan infeksi atau menurunkan daya tahan dengan

vasokonstriksi.

4. Adanya benda asing yang bisa menyebabkan mudahnya terjadi infeksi

7
2.5 Patofisiologi Tonsilitis Akut

Adanya infeksi berulang pada tonsil maka pada suatu waktu tonsil tidak

dapat membunuh semua kuman sehingga kuman kemudian bersarang di tonsil.

Pada keadaan inilah fungsi pertahanan tubuh dari tonsil berubah menjadi sarang

infeksi (fokal infeksi) dan satu saat kuman dan toksin dapat menyebar ke seluruh

tubuh misalnya pada saat keadaan umum tubuh menurun (Farokah, 2003).

Bakteri atau virus memasuki tubuh melalui hidung atau mulut. Tonsil

berperan sebagai filter yang menyelimuti bakteri ataupun virus yang masuk dan

membentuk antibodi terhadap infeksi. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, bila

epitel terkikis maka jaringan limfoid superfisial mengadakan reaksi. Terdapat

pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit poli morfonuklear. Proses ini

secara klinik tampak pada korpus tonsil yang berisi bercak kuning yang disebut

detritus. Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang terlepas,

suatu tonsillitis akut dengan detritus disebut tonsillitis falikularis. Pada tonsilitis

akut dimulai dengan gejala sakit tenggorokan ringan hingga menjadi parah. Pasien

hanya mengeluh merasa sakit tenggorokannya sehingga sakit menelan dan demam

tinggi (390C-400C). Sekresi yang berlebih membuat pasien mengeluh sakit

menelan, tenggorokan akan terasa mengental. (Amiruddin, 2007).

2.6 Manifestasi Klinis Tonsilitis Akut

Gejala pada tonsillitis akut adalah rasa gatal/ kering ditenggorokan,

anoreksia, otalgia, tonsil membengkak. Dimulai dengan sakit tenggorokan yang

ringan hingga menjadi parah, sakit menelan, kadang muntah. Pada tonsillitis dapat

8
mengakibatkan kekambuhan sakit tenggorokan dan keluarnya nanah pada lekukan

tonsil. (Soepardi dkk, 2007)

Tanda klinisnya dijumpai tonsil membengkak dan meradang. Tonsila

biasanya bercak-bercak dan kadang-kadang diliputi oleh eksudat. Eksudat ini

mungkin keabu-abuan dan kekuningan. Eksudat ini dapat berkumpul, membentuk

membran dan pada beberapa kasus dapat terjadi nekrosis jaringan local yang

biasanya disebut detritus. (Soepardi dkk, 2007)

Gambar 2.2 Pembesaran tonsila palatine serta detritus

Gejala dan tanda tonsilitis akut adalah :

1. Sakit tenggorokan dan disfagia. Anak kecil mungkin tidak mengeluh

sakit tenggorokan tapi akan menolak untuk makan.

2. Otalgia sebagai akibat dari nyeli alih melalui N.IX.

3. Demam, hal ini bisa menyebabkan kejang demam pada bayi.

4. Malaise, nyeri sendi, dan tanda-tanda dehidrasi.

9
5. Tonsil membesar dan hiperemis serta dapat menunjukkan pus dari

kriptus di tonsilitis folikularis (detritus),

6. Durasi perlangsungan tonsilitis akut biasanya 4 sampai 6 hari.

2.7 Pemeriksaan Fisik Tonsilitis Akut

Dari pemeriksaan fisik dengan inspeksi dijumpai:

1. Tonsil dapat membesar bervariasi. Kadang-kadang tonsil dapat bertemu di

tengah. Standar untuk pemeriksaan tonsil berdasarkan pemeriksaan fisik

diagnostik diklasifikasikan berdasarkan ratio tonsil terhadap orofaring

(dari medial ke lateral) yang diukur antara pilar anterior kanan dan kiri.

(Soepardi dkk, 2007)

Gambar 2.3 Grading Pembesaran Tonsil

10
Interpretasi pembesaran tonsil :

(0) Amandel sepenuhnya dalam fossa tonsil, atau tonsil tidak ada (post-

tonsilektomi.

(1+) Amandel menempati kurang dari 25 persen, dari dimensi lateral

orofaring yang diukur antara pilar-pilar anterior tonsil.

(2+) Amandel menempati kurang dari 50 persen dari dimensi lateral

orofaring.

(3+) Amandel menempati kurang dari 75 persen dari dimensi lateral

orofaring.

(4+) Amandel menempati 75 persen atau lebih dari dimensi lateral

orofaring.

2. Dapat terlihat butiran pus kekuningan pada permukaan medial tonsil.


3. Bila dilakukan penekanan pada plika anterior dapat keluar pus atau

material menyerupai keju.


4. Warna kemerahan pada plika anterior bila dibanding dengan mukosa faing,

merupakan tanda penting untuk menegakkan infeksi kronis pada tonsil.

11
Gambar 2.4 Gambaran tonsilitis dengan detritus dan pembersaran tonsil

2.8 Pemeriksaan Penunjang Tonsilitis Akut

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penderita Tonsilitis

akut adalah sebagai berikut: (Probst, 2006)

a. Inflammatory parameter : pemeriksaan darah menunjukkan leukositosis,

dan erhytrocyte sedimentation rate (ESR) dan C-reactive protein (CRP)

meningkat.

b. Pemeriksaan bakteri : sebuah kultur bakteri jarang diambil dari apus

tenggorok karena biasanya membutuhkan 2-3 hari untuk mendapatkan

hasil yang definitif, dimana waktu pengobatan sudah harus dimulai. Itu

sbaiknya dilakukan sebuah rapid immunoassay, yang dapat

mengidentifikasi organisme penyebab seperti Streptococcus grup A

hanya dalam waktu 10 menit.

2.9 Diagnosis Banding

1. Difteri
Difteri memiliki onset yang berbahaya dan ditandai dengan membran abu-

abu (susah dihilangkan) di tonsil, tenggorokan, dan uvula. Diagnosis

difteri melalui pemeriksaan dan kultur swab.

Tonsilitis Akut Difteri


Riwayat Tonsilitis berulang Telah terpapar difter
Temperatur Tinggi Rendah atau normal
Tidak sebanding
Sebanding dengan
Takikardi dengan demam, nadi
demam
lemah

12
Toxaemia Tidak ada Bisa ada
Nyeri / sakit Berat Sedang atau tidak ada.
Albuminuria Tidak ada Selalu ada
2. Scarlett fever
Scarlett fever dapat menyerupai tonsilitis akut. Scarlett fever disebabkan

oleh infeksi streptococcus dan menyebabkan ruam eritematosa berwarna

abu-abu. Pasien didaptkan tanda berupa strawberry tongue.

Gambar 2.5 scarlett fever.

3. Abses peritonsil
Abses peritonsilar adalah sekumpulan pus yang terletak diantara kapsul

tonsil dan muskulus konstriktor faringeal superior. Gejala yang paling

sering adalah sulit menelan, mengeluarkan air liur, trismus, dan demam.

Asimetris peritonsiler dapat terjadi dan disertai deviasi uvula.

Gambar 2.6 Abses Peritonsiler

13
2.10 Penatalaksanaan Tonsilitis Akut

1. Pasien diharuskan untuk tirah baring.

2. Aspirin atau parasetamol diberikan untuk menghilangkan rasa tidak

nyaman. Ingat bahwa aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak umur

dibawah 12 tahun karena risiko sindrom Reye.

3. Mengedukasi pasien untuk selalu minum air supaya terhindar dari dehidrasi.

4. Antibiotik golongan penicilin atau sulfanamid selama 5 hari dan obat kumur

atau obat isap dengan desinfektan, bila alergi dengan diberikan eritromisin

atau klindomisin.

5. Pengangkatan tonsil (tonsilektomi).

Indikasi tonsilektomi dibagi menjadi dua, yaitu indikasi absolut dan indikasi

relatif. (Soepardi dkk, 2007)

Indikasi absolut :

a. Timbulnya kor pulmonale karena obstruksi jalan napas yang kronik.

b. Hipertrofi tonsil atau adenoid dengan sindroma apnea waktu tidur.

c. Hipertrofi berlebihan yang menyebabkan disfagia dengan penurunan

berat badan penyerta.

d. Biopsi eksisi yang dicurigai keganasan (limfoma).

14
e. Abses peritonsilaris berulang atau abses yang meluas pada ruang

jaringan sekitarnya.

Indikasi relatif :

Seluruh indikasi lain untuk tonsilektomi dianggap relatif. Indikasi yang

paling sering adalah episode berulang dari infeksi streptokokus beta

hemolitikus grup A. Sekarang ini, di samping indikasi-indikasi absolut,

indikasi tonsilektomi yang paling dapat diterima adalah :

a. Serangan tonsilitis berulang yang tercatat (walaupun telah diberikan

penatalaksanaan medis yang adekuat).

b. Tonsilitis yang berhubungan dengan biakan streptokokus menetap

dan patogenik.

c. Hiperplasia tonsil dengan obstruksi fungsional.

d. Hiperplasia dan obstruksi yang menetap enam bulan setelah infeksi

mononukleosis.

e. Riwayat demam reumatik dengan kerusakan jantung yang

berhubungan dengan tonsilitis rekurens kronis dan pengendalian

antibiotik yang buruk.

f. Radang tonsil kronis menetap yang tidak memberikan respons

terhadap penatalaksanaan medis.

15
g. Hipertrofi tonsil dan adenoid yang berhubungan dengan

abnormalitas orofasial dan gigi geligi yang menyempitkan jalan

napas bagian atas.

h. Tonsilitis berulang atau kronis yang berhubungan dengan adenopati

servikial persisten.

Gambar 2.7 Tonsilectomy

Teknik operasi tonsilektomi yang dapat digunakan untuk pengangkatan

tonsil yang terbanyak digunakan saat ini adalah teknik Guillotine dan diseksi.

a. Dissection method

Diseksi dikerjakan dengan menggunakan Boyle-Davis mouth gag, tonsil

dijepit dengan forsep dan ditarik ke tengah, lalu dibuat insisi pada

membran mukus. Dilakukan diseksi dengan disektor tonsil atau gunting

sampai mencapai pole bawah dilanjutkan dengan menggunakan senar

untuk menggangkat tonsil.

16
b. Guillotine method

Teknik Guilotin sudah banyak ditinggalkan. Hanya dapat dilakukan bila

tonsil dapat digerakkan dan bed tonsil tidak cedera oleh infeksi berulang.

c. Elektrokauter

Kedua elektrokauter unipolar dan bipolar dapat digunakan pada tehnik ini.

Prosedur ini mengurangi hilangnya perdarahan namun dapat menyebabkan

terjadinya luka bakar.

d. Laser

Laser tonsilektomi diindikasikan pada penderita gangguan koagulasi.

Laser KTP-512 dan CO2 dapat digunakan namun laser CO2 lebih

disukai.tehnik yag dilakukan sama dengan yang dilakukan pada tehik

diseksi.

Manajemen setelah operasi perlu diperhatikan. Pasien harus ada di daerah

pemulihan yang berdekatan dengan ruang operasi sampai sepenuhnya sadar.

Sangat penting untuk memastikan bahwa semua perdarahan telah berhenti.

Perhatikan denyut nadi dan tekanan darah, harus sering diperiksa. Beberapa jam

setelah operasi, sebagian besar pasien dapat minum cairan asalkan tidak

berlebihan. Demam biasanya ada dikarenakan infeksi lokal, biasanya infeksi

saluran kecing atau otitis media. Biasanya setelah tonsilektomi, akan muncul

cairan eksudat berwarna kuning. Cairan ini normal dan akan hilang dengan

sendirinya. Setelah tonsilektomi, sebisa mungkin pasien harus diinstruksikan

17
untuk makan secara normal. Makan makanan yang normal biasanya menghasilkan

pengurangan rasa sakit setelah itu. (Soepardi dkk, 2007)

Kontraindikasi tonsilektomi:

a. Umur : Tonsilektomi adalah kontraindikasi untuk usia dibawah 5 tahun,

karena fungsi imunitas tonsil penting pada umur ini. Pada pasien umur

sangat muda, tonsilektomi juga susah dilakukan karena keterbatasan

ruang untuk anestesi, dan kehilangan darah yang sulit untuk dihadapi.

b. Diabetes Mellitus.

c. Hipertensi.

d. Kelainan darah.

e. Polio : Tonsilektomi membawa risiko dari bulbar poliomyelitis.

f. Rinitis alergi dan asma.

2.11 Komplikasi Tonsilitis Akut

1. Komplikasi dari tonsilitis akut dapat menyebabkan abses peritonsiler.

Terjadi diatas tonsil dalam jaringan pilar anterior dan palatum mole, abses

ini terjadi beberapa hari setelah infeksi akut dan biasanya disebabkan oleh

streptococcus group A.

2. Pada anak juga sering menimbulkan komplikasi otitis media akut. Infeksi

dapat menyebar ke telinga tengah melalui tuba auditorius (eustochi) dan

dapat mengakibatkan otitis media yang dapat mengarah pada ruptur spontan

gendang telinga. Ruptur spontan gendang telinga lebih jauh menyebarkan

infeksi ke dalam sel-sel mastoid.

18
3. Akibat hipertrofi tonsil akan menyebabkan pasien bernapas melalui mulut,

tidur mendengkur, gangguan tidur karena terjadinya sleep apnea yang

dikenal sebagai Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS). (Graham,

2007)

2.12 Prognosis

Tonsilitis biasanya sembuh dalam beberapa hari dengan beristrahat dan

pengobatan suportif. Menangani gejala-gejala yang timbul dapat membuat

penderita Tonsilitis lebih nyaman. Bila antibiotika diberikan untuk mengatasi

infeksi, antibiotika tersebut harus dikonsumsi sesuai arahan demi penatalaksanaan

yang lengkap, bahkan bila penderita telah mengalami perbaikan dalam waktu

yang singkat. Gejala-gejala yang tetap ada dapat menjadi indikasi bahwa penderita

mengalami infeksi saluran nafas lainnya, infeksi yang sering terjadi yaitu infeksi

pada telinga dan sinus. Pada kasus-kasus yang jarang, Tonsilitis dapat menjadi

sumber dari infeksi serius seperti demam rematik atau pneumonia (Edgren, 2004).

19
BAB III

KESIMPULAN

1. Tonsillitis adalah inflamasi pada tonsila palatina yang disebabkan oleh

infeki virus atau bakteri.


2. Tonsilitis akut paling sering disebabkan oleh streptokokus beta

hemolitikus grup A.
3. Gejalanya berupa nyeri tenggorokan (yang semakin parah jika penderita

menelan) dan juga nyeri alih yang seringkali dirasakan di telinga (karena

tenggorokan dan telinga memiliki persyarafan yang sama).


4. Pada pemeriksaan fisik bisa ditemukan tanda-tanda infeksi, abses dan

sumbatan jalan nafas.


5. Penatalaksanaan tonsilitis jika penyebabnya bakteri diberi antibiotik dan

bisa juga tonsilektomi.


6. Komplikasinya adalah abses peritonsilitis, otitis media akut, dan OSAS.

DAFTAR PUSTAKA

20
1. Adams GL, Boies LR, Higler PA. 1997. BOIES Buku Ajar Penyakit THT.
Edisi 6. EGC : Jakarta. Hal. 320-322, 330, 339-340, 342.
2. Amarudin, T., Chrisanto, A. Kajian Manfaat Tonsilektomi. Dalam:
Setiawan, B., Sadana, K., Zahir, S.S., Fadli, S. 2007. Majalah Cermin
Dunia Kedokteran No. 155. Grup PT Kalbe Farma Tbk; 61-68.
3. Bhargava KB, Bhargava SK, Shah TM. 2005. A Short Textbook of ENT for
Students and Practitioners. Seventh Edition. Usha : Mumbai. P. 226, 243-
244, 249-250, 252.
4. Edgren AL, Davitson T, 2004. Sore Throat. Journal of the American
Assosiation, no.13 (April 7) :1664-78.
5. Farokah, Suprihati, Suyitno S, 2003. Hubungan Tonsilitis Kronik dengan
Prestasi Belajar pada Siswa Kelas II Sekolah Dasar di Kota Semarang.
Cermin Dunia Kedokteran, 155, hal.16-22.
6. Graham JM, Scadding GK, Bull PD.. 2007. Pediatric ENT. Springer :
New York. P.131-136.
7. Kartika H, 2008. Tonsilektomi. Welcome & Joining otolaryngology in
Indonesian Language, February 23, p.4-36.
8. Probst R, Grevers G, Iro H. 2006. Basic Otorhinolaringology. Thieme :
Stuttgart. P. 113-115.
9. Rusmarjono dan Efiaty, 2009. Faringitis, Tonsilitis, dan Hipertrofi
Adenoid dalam Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Jakarta: Balai
penerbit FKUI. hal: 217-225.
10. Soepardi Arsyad, et al. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala & Leher. Edisi 7. FKUI : Jakarta. Hal. 221-223.
11. Wiatrak, B.J., Woolley, A.L., 2005. Pharyngitis and Adenotonsillar
Disease. In: Cummings, C.W., Flint, P.W., Harker, L.A., Haughey, B.H.,
Richardson M.A., Robbins K.T., et al. Cummings Otolaryngology Head
& Neck Surgery. Volume 4. 4th Edition. Elsevier Mosby Inc.; 4135-4138.

21