Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Medik


2.1 Pengertian
Pneumonia adalah suatu proses peradangan di mana terdapat konsolidasi
yang disebabkan pengisian rongga alveoli oleh eksudat. Pertukaran gas tidak
dapat berlangsung pada daerah yang mengalami konsolidasi, begitupun dengan
aliran darah di sekitar alveoli, menjadi terhambat dan tidak berfungsi maksimal.
Hipoksemia dapat terjadi, bergantung pada banyaknya jaringan paru-paru yang
sakit.
Pneumonia merupakan peradangan pada parenkim paru yang terjadi pada
masa anak-anak dan sering terjadi pada masa bayi. Penyakit ini timbul sebagai
penyakit primer dan dapat juga akibat penyakit komplikasi.(A. Aziz Alimul :
2006)
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru distal dari
bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli serta
menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan ganganguan pertukaran gas
setempat(Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Hal. 801)
Pneumonia adalah kondisi peradangan akut pada paru-paru dimana alveolus
dan bronkhus yang lebih kecil terisi oleh eksudat radang(JM. Gibson, MD,
Mikrobiologi dan Patologi Modern, hal. 111)
2.2 Patogenesis
Pneumonia di kelompokan berdasarkan sejumlah sistem yang berlainan.
Salah satu di antaranya adalah berdasarkan cara diperolehnya, di bagi menjadi dua
kelompok, yaitu community-acquired (di peroleh di luar sarana pelayanan
kesehatan) dan hospital-acquired (di peroleh di rumah sakit atau sarana kesehatan
lainnya). Streptococcus pneumoniae menjadi penyebab tersering terjadinya
pneumonia yang di dapat di rumah sakit cenderung bersifat lebih serius karena
pada saat menjalani perawatan di rumah sakit, sistem pertahanan tubuh penderita
untuk melawan infeksi sering kali terganggu. Selain itu, kemungkinan terjadinya
infeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotokmenjadi lebih besar.

Pneumonia bakteri di tandai oleh eksudat intraalveolar supuratif di sertai


konsilidasi. Proses infeksi dapat diklasifikasikan berdasarkan anatomi. Jika terjadi
pada satu atau lebih lobus disebut pneumonia lobaris, sedangkan pneumonia
lobularis atau bronkopneumonia menunjukkan penyebaran daerah infeksi yang
memiliki bercak dengan diameter sekitar 3-4 cm mengelilingi dan mengenai
bronkus.
Penting juga diketahui tentang perbedaan antara pneumonia yang didapat
dari masyarakat dengan pneumonia yang didapat dirumah sakit. Frekuensi relatif
dari agen-agen penyebab pneumonia berbeda pada kedua sumber ini. Infeksi
nasokomia sering disebabkan oleh bakteri gram negatif atau staphylococcus
aureus. Stadium dari pneumonia karena pneumococcus adalah sebagai berikut :
1. Kongesti ( 4 12 jam pertama): eksodat masuk ke serosa masuk kedalam
alveolus dari pembuluh darah yang bocor.
2. Hepatisasi merah ( 48 jam berikutnya): paru-paru tampak merah dan tampak
bergranula karena sel darah merah, fibrin, dan leukosit PMN mengisi alveolus.
3. Hepatisasi kelabu ( 3-8 hari): paru-paru tampak abu-abu karena leukosit dan
fibrin mengalami konsolidasi dalam alveolus yang terserang.
4. Resolusi (7 -11 hari): eksudat mengalami lilis dan di reabsorbsi oleh
makrofag sehingga jaringan kembali pada struktur semula.

2.3 Etiologi, Tanda, dan Gejala


Jenis pneumonia Etiologi Faktor resiko Tanda da
Sindroma tipikal Sreptococcus
pneumonia Sicklo cell diseases Onset mendadak ding
tanpa penyulit Hipogammaglobulinemia (39-40C)
Sterptococcus pneumonia
Multipel mieloma Nyeri dada pleuritis
dengan penyulit Batuk produktif, sput
serta mungkin menga
Terkadang hidung kem
Reaksi interkostal
aksesorius, dan bisa tim

Sindroma atipik Haemophilus influenzae Usia tua Onset bertahap dalam


Staphilococcus aureus COPD Malaise, nyeri kepa
Flu dan batuk kering.
Nyeri dada karena bat
Mycoplasma pneumonia Anak-anak
Virus patogen Dewasa muda
Aspirasi
Aaspirasi basil gram negatif, Alkoholismedebilitas Pada kuman anaerob
klebsiela, pseudomonas,
Perawatan (misal infeksi onset perlahan
enterobacter, escherchia nosokimial). Demam rendah, batuk
proteus, basil gram positif Gangguan kesadaran Produksi sputum/bau
Starfilococcus Foto dada terlihat
Aspirasi asam lambung tergantung bagian y
terkena.
Infeksi gram negatif a
Gambaran klinik m
pneumonia klasik.
Disters respirasi men
sianosis, batuk, hipo
tanda infeksi sekunder
Hematogen
Terjadi bila kuman patogen Kateter IV
yang Gejala pulmonaltimbu
menyebar ke paru-paru terinfeksi gejala septikemi

melalui aliran darah, seperti Endokarditis Batuk nonproduktif
pada kuman stafilococcus, E.
Drug abuse sama seperti yang terja
Coli, anaerob enteritik
Abses intraabdomen
Pielonefritis
Empiema kandung
kemih

2.4 Patofisiologi
Paru merupakan struktur komplek yang terdiri atas kumpulan unit yang di
bentuk melalui percabangan progresif jalan napas. Saluran napas bagian bawah
yang normal adalah steril, walaupun bersebelahan dengan sejumlah besar
mikroorganisme yang menepati orofaring dan terpajang oleh mikroorganisme dari
lingkungan di dalam udara yang di hirup. Sterilisasi saluran napas bagian bawah
adalah hasil mekanisme penyaring dan pembersihan yang efektif.
Saat terjadi inhalasi-bakteri mikroorganisme penyebab pneumonia ataupun
akibat dari penyebaran secara hematogen dari tubuh dan aspirasi melalui
orofaring-tubuh pertama kali akan melakukan mekanisme pertahanan primer
dengan meningkatkan respons radang.
Pneumonia dapat terjadi akibat menghirup bibit penyakit di udara, atau
kuman di tenggorokan terisap masuk ke paru-paru. Penyebaran bisa juga melalui
darah dari luka di tempat lain, misalnya di kulit. Jika melalui saluran napas, agen
(bibit penyakit) yang masuk akan dilawan oleh pelbagai sistem pertahanan tubuh
manusia. Misalnya, dengan batuk-batuk, atau perlawanan oleh sel-sel pada lapisan
lendir tenggorokan, hingga gerakan rambut-rambut halus (silia) untuk
mengeluarkan mukus (lendir) tersebut keluar. Tentu itu semua tergantung besar
kecilnyaukuran sang penyebab tersebut.

(BAGAN FATOFISIOLOGI)
Mikrorganisme
(bakteri, virus dan jamur)

Inhalasi mikrorganisme Penyebaran hematogen dari


Ke dalam paru-paru Fokus lain

Reaksi inflamasi pada parenkim paru


(sebagai upaya organ paru melawan mikroorganisme)

Pe permeabilitas kapiler Nekrotik parenkim


Cairan dan protein keluar Pleura


Eksudat Pleuritis


Nyeri dada


Gang

guan rasa nyaman


Konsolidasi paru
Edema paru


Membran respirasi >tebal Inefektif clearance airway
(alveolus)


Dispnoe
*Pe

kecepatan difusi
* Pe compliance
Inefektif pola napas

hipoksemia


Pe metabolisme


Pe produk energi
Merangsang chemo reseptor

Kelelahan RR

Intoleransi Me ventilasi

aktivitas

2.5 PENATALAKSAAAN MEDIS dan KEPERAWATAN

PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Pemberian antibiotic
Kepada penderita yang penyakitnya tidak terlalu berat, bias diberikan
antibiotik per-oral (lewat mulut) dan tetap tinggal di rumah.seperti:
penicillin, cephalosporin.

Penderita yang lebih tua dan penderita dengan sesak nafas atau dengan
penyakit jantung atau paru-paru lainnya, harus dirawat dan antibiotic
diberikan melalui infus. Mungkin perlu diberikan oksigen tambahan,
cairan intravena dan alat bantu nafas mekanik.

2. Pemberian antipiretik, analgetik, bronchodilator

3. Pemberian O2

4. Pemberian cairan parenteral sesuai indikasi

Kebanyakan penderita akan memberikan respon terhadap pengobatan dan


keadaannya membaik dalam waktu 2 minggu.

PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN

Penatalaksanaan untuk pneumonia bergantung pada penyebab, sesuai


yang ditentukan oleh pemeriksaan sputum mencakup :

1. Oksigen 1-2 L/menit.


2. IVFD dekstrose 10 % :NaCl 0,9% = 3 : 1, + KCl 10 mEq/500
ml cairan.
3. Jumlah cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu, dan status
hidrasi.
4. Jika sesak tidak terlalu berat, dapat dimulai makanan enteral
bertahap melalui selang nasogastrik dengan feeding drip.
5. Jika sekresi lender berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan
salin normal dan beta agonis untuk memperbaiki transport
mukosilier.
6. Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit
7. Antibiotik sesuai hasil biakan atau berikan :

Untuk kasus pneumonia community base :


Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian.
Kloramfenikol 75 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian

Untuk kasus pneumonia hospital base :


Sefatoksim 100 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.
Amikasin 10-15 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN PNEUMONIA


2.6 Pengkajian
1. Biodata
Pneumonia lobularis sering terjadi secara primer pada orang dewasa,
Ketika seorang dewasa mempunyai penyakit bronkopneumonia,
kemungkanan besar ada penyakit yang mendahuluinya.
Pneumonia pada orang dewasa paling sering disebabkan oleh bakteri (
yang tersering yaitu bakteri streptococcus pneumoniae pneumococcus),
Pneumonia sering kali menjadi infeksi terakhir( sekunder) pada orang tua dan
orang yang lemah akibat penyakit tertentu.

2. Riwayat kesehatan
Keluhan utama dan riwayat kesehatan sekarang
Keluhan utama yang sering timbul pada klien pneumonia adalah
adanya awitan yang ditandai dengan keluhan mengigil, demam 40C, nyeri
pleuritik, batuk, sputum berwarna seperti karat, takipnea terutama setelah
adanya konsilidasi paru.
Riwayat kesehatan masa lalu
Pneumonia sering kali timbul setelah infeksi saluran nafas atas
( infeksi pada hidung dan tenggorokan). Resiko tinggi timbul pada klien
dengan riwayat alkoholik, post operasi, infeksi pernafasan, dan klien
dengan imonosupresi ( kelemahan dalam sistem imun). Hampir 60% dari
klien kritis di ICU dapat menderita pneumonia dan 50% (separuhnya) akan
meninggal.

3. Pemeriksaan fisik
Presentasi bervariasi bergantung pada etiologi, usia dan keadaan klinis
( Sudoyo,2006).
o Awitan akut biasanya oleh kuman patogen seperti S. Pneumoniae,
sterptococcus spp,dan Staphylococcus.
o Awitan yang tidak terlihat dan ringan pada orang tua atau orang dengan
penurunan imunitas akibat kuman yang kurang patogen atau opertunistik.
o Tanda-tanda fisik pada pneumonia klasik yang biasa di jumpai adalah deman,
sesak napas, tanda-tanda konsilidasi paru ( ronki nyaring serta suara
pernapasan brokial.
o Ronki basah dan gesekan pleura dapat terdengar di atas jaringan yang terserang
karena eksudat dan fibrin dalam alveolus.

4. Pemeriksaan diagnostik
a. Foto rontgen dada (chest x-ray): teridentifikasi penyebaran, misalnya
lobus, bronkial; dapat juga menunjukan multipel abses atau
infiltrat,empiema ( staphylococcus ); penyebaran atau lokasi infiltrasi
( bakterial ) ; atau penyebaran ekstensif nodul infiltrat ( sering kali viral )
; pada pneumonia mycoplasma, gambaran chest x- ray mungkin bersih.
b. ABGs / pulse oximetry: abnormalitas mungkin timbul bergantung pada
luasnya perusakan paru .
c. Kultur sputum dan darah atau gram stain: di dapatkan dengan needle
boipsy, transtracheal aspiration, fiberopticf bronchoscopy atau biopsi
paru terbuka untuk mengeluarkan organisme penyebab. Akan di
dapatkan lebih dari satu jenis kuman, seperti diplococcus pneumoniae,
staphylococcus aureus, A hemolitik steapthococcus dan haemophilus
influenzae.
d. Hitung darah lengkap/ complete blood count ( CBC ): leukositosis
biasanya timbul, meskipun nialai SDP rendah pada infeksi virus.
e. Tes serologik: membantu membedakan diagnosis pada organisme secara
spesifik.
f. Laju endap darah ( LED ): meningkat.
g. Pemeriksaan fungsi paru: volume mungkin menurun ( kongesti dan
kolaps alveolar ), tekanan saluran udara meningkat, compliance
menurun, dan akhirnya dapat terjadi hipoksemia.
h. Elektrolit: sodium dan klorida mungkin rendah.
i. Bilirubin

2.7 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa yang muncul pada pasien dengan gangguan sistem pernafasan :
pneumonia, diantaranyaadalah :
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d inflamasi trakeobronkial, pembentukan
udem, dan peningkatan produksi sputum.
b. Kerusakan pertukaran gas b.d perubahan membran alveolar kapiler (efek
inflamasi).
c. Resiko tinggi penyebaran infeksi b.d tidak adekuatnya mekanisme
pertahanan tubuh primer (penurunan aktivitas silia, sekret, stasis disaluran
nafas).
d. Intoleransi aktivitas b.d tidak seimbangnya oksigen suplay dan deman
e. Nyeri akut b.d inflamasi pada parenkim paru

2.8 Rencana Keperawatan

Tindakan yang perlud ilaksanakan


1. Inefektif pola napas b/d dispnoe
Kriteria evaluasi : pola napas kembali normal
INTERVENSI RASIONALISASI
Observasi pola napas dan catat pasien pada ventilator dapat mengalami
frekuensi pernafasan, jarak antara hyper ventilasi atau hypo ventilasi, dispnoe
pernafasan spontan dan napas dan berupaya memperbaiki kekurangan O2.
ventilator. Peninggian kepala pasien mempemudah
fungsi pernafasan dengan menggunakan
Tinggikan kepala tempat tidur atau gravitasi.
letakkan pada kursi ortopedik bila Dapat membantu mengurangi akibat yang
mungkin. ditimbulkan memenuhi O2 yang diperlukan
Pemberian O2 dipertahankan oleh tubuh.
Memberikan pasien beberapa cara untuk
mengatasi dan mengontrol dispnoe.

Bantu latihan napas efektif.

2. Inefektif clearance airway b/d konsolidasi paru atau eksudat


Kriteria evaluasi :mengidentifikasi perilaku mencapai bersihan jalan
napas.
INTERVENSI RASIONALISASI
Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan Takipnea, pernafasan dangkal dan
dan gerakan dada. gerakan dada tidak simetris sering terjadi
karena ketidaknyamanan dinding dada/
cairan paru.

Napas dalam memudahkan ekspansi


Bantu pasien latihan batuk efektif. maksimum paru-paru/ jalan napas lebih
Tunjukan/bantu pasien mempelajari kecil. Batuk adalah mekanisme
melakukan batuk. pembersihan jalan napas alami.
Merangsang batuk atau pembersihan
Penghisapan sesuai indikasi jalan napas secara mekanik pada pasien
yang tak mampu melakukan sendiri.
Cairan yang hangat dapat memobilisasi
dan pengeluaran sekret.
Berikan cairan hangat. Obat untuk menurunkan spasme
bronkus dengan mobilisasi sekret.
analgesik diberikan untuk memperbaiki
Kolaborasi pemberian obat sesuai batuk dengan menurunkan

indikasi : ekspektoran, bronkhodilator ketidaknyamanan tetapi harus digunakan

dan analgesik. secara hati-hati karena dapat


menurunkan upaya batuk.

3. Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d peradangan pada pleura.


Kriteria evaluasi : menyatakan nyeri hilang/ terkontrol
INTERVENSI RASIONALISASI
Tentukan karakteristik nyeri Nyeri dada biasanya ada dalam beberapa
derajat pada pneumonia.
Perubahan frekuensi jantung atau TD
Pantau tanda vital menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri.
Dengan relaksasi saraf tidak dipacu untuk
bekerja secara aktif.
Berikan tindakan nyaman dengan Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan
latihan napas dada sementara meningkatkan keefektifan
upaya batuk.
Anjurkan dan bantu pasien dalam Obat ini dapat digunakan untuk menekan
teknik menekan dada selama batuk non produktif/ menurunkan mukosa
episode batuk. berlebihan.
Kolaborasi pemberian obat
analgesik dan antitusif sesuai
indikasi.

4. Intoleransi aktivitas b/d hypoksemia


Kriteria evaluasi : peningkatan toleransi terhadap aktivitas
INTERVENSI RASIONALISASI
Berikan lingkungan tenang dan Menurunkan stress dan rangsangan
batasi pengunjung selama berlebihan, meningkatkan istirahat.
perawatan. Tirah baring dipertahankan selama fase akut
Jelaskan pentingnya istirahat dalam untuk menurunkan kebutuhan metabolik,
rencana pengobatan dan perlu menghemat energi untuk penyembuhan.
keseimbangan aktivitas dan istirahat. Pasien nyaman dengan kepala tinggi, tidur di
kursi atau menunduk ke depan bantal.
Bantu pasien memilih posisi Meminimalkan kelelahan dan membantu
nyaman untuk istirahat/tidur keseimbangan suplai dan kebutuhan O2.

Bantu aktivitas perawatan diri dan


berikan kemajuan peningkatan
aktivitas selama fase penyembuhan.

2.9 Implementasi
Selama tahap implementasi perawat melaksanakan rencana asuhan
keperawatan. Instruksi keperawatan diimplementasikan untuk membantu klien
memenuhi criteria hasil. Implementasi keperawatan biasa dilakukan secara
mandiri maupun berkolaborasi dengan tim medic lainnya.

3.0 Evaluasi
Tahap evaluasi adalah perbandingan hasil-hasil yang diamati dengan
criteria hasil/ tujuan yang di buat pada tahap perencanaan. Klien keluar dari siklus
proses keperawatan apabila criteria hasil/ tujuan telah tercapai. Klien akan masuk
kembali kedalam siklus apabila criteria hasil belum tercapai.