Anda di halaman 1dari 56

STUDI PENANGANAN REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG BATUKAPUR DI

PT.SEMEN TONASA DESA BIRINERE KABUPATEN PANGKEP


PROVINSI SULAWESI SELATAN

LAPORAN KERJA PRAKTEK

ABDULLAH KILIAN
093 2014 0213

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

PANGKEP
2017
KATA PENGANTAR
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji bagi Allah SWT, yang dengan izin-nya, saya dapat menyelesaikan
laporan kerja praktek dengan judul Studi Penanganan Reklamasi Lahan Bekas Tambang
Batukapur di PT.Semen Tonasa Desa Birinere Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi
Selatan mulai tanggal 1 Februari 2017 sampai 28 Februari 2017.
Dan tak lupa pula saya ucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Ir. Hasbi Bakri, S.T., M.T. selaku Ketua Jurusan Teknik Pertambangan
Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia.
2. Bapak H. Karim, SE selaku Senior Manager of Training.
3. Bapak Ir. H. Basri selaku Senior Manager of Mining.
4. Bapak M. Yasin, SE selaku Supervisor of Reclamation dan pembimbing di PT.
Semen Tonasa.
5. Bapak Taufik Mento selaku pembimbing lapangan pada lokasi reklamasi batukapur
di PT. Semen Tonasa.
6. Bapak Sirajudin, Bapak Sudding dan Bapak Sakka selaku karyawan pada lokasi
reklamasi batukapur di PT. Semen Tonasa.
7. Kedua orang tua saya cintai selaku pemberi semangat dan doa kepada saya.
8. Teman-teman angkatan 2014 Teknik Pertambangan Universitas Muslim Indonesia
yang selalu setia dalam suka maupun duka.
Semoga laporan ini dapat berguna bagi penulis sendiri maupun pembaca.
Semoga Allah SWT memberikan berkah pada setiap umatnya yang senantiasa berbagi
ilmu.
Billahi Taufik Walhidayah, Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu.

Pangkep, 28 Februari 2017

Penulis

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING


2
KERJA PRAKTEK

Yang bertanda tangan dibawah ini menerangkan bahwa:

Nama : Abdullah Kilian


NIM : 09320140213
Jurusan : Teknik Pertambangan
Fakultas : Teknologi Industri
Universitas : Universitas Muslim Indonesia

Telah melakukan kegiatan Penelitian Kerja Praktek di PT. Semen Tonasa sejak
tanggal 01 Februari hingga 28 Februari 2017 dan menyetujui laporan mahasiswa seperti
yang terlampir.
Demikian disampaikan untuk dipergunakan seperlunya.

Pangkep, 28 Februari 2017

Disahkan, Mengetahui,
PT. Semen Tonasa Pembimbing,
a.n. Direksi

Ir. H. Basri M. Yasin, SE


Senior Manager of Mining

LEMBAR PENGESAHAN PERUSAHAAN


3
NO. /ST/PA.11/42.20/02-17

Yang bertanda tangan dibawah ini menerangkan bahwa:

Nama : Abdullah Kilian


NIM : 09320140213
Jurusan : Teknik Pertambangan
Fakultas : Teknologi Industri
Universitas : Universitas Muslim Indonesia

Telah melakukan kegiatan Penelitian Kerja Praktek di PT. Semen Tonasa sejak
taggal 01 Februari hingga 28 Februari 2017 dan mengesahkan laporan mahasiswa seperti
yang terlampir.
Demikian disampaikan untuk dipergunakan seperlunya.

Pangkep, 28 Februari 2017

Disahkan, Mengetahui,
PT. Semen Tonasa
a.n. Direksi

H. Karim, SE Zam Zam, SE


Senior Manager of Training Manager Of Training Planning and Organizing

DAFTAR ISI

4
Halaman
HALAMAN JUDUL.................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................... ii
KATA PENGANTAR................................................................................. iv
DAFTAR ISI............................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. vii
DAFTAR TABEL ...................................................................................... viii
BAB I. PENDAHULUAN.................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.................................................................... 1
1.2 Maksud dan Tujuan ............................................................ 2
1.3 Batasan masalah.................................................................. 2
1.4 Manfaat Penelitian.............................................................. 2
1.5 Metode Penelitian................................................................ 3
BAB II. TINJAUAN UMUM................................................................ 4
2.1 Sejarah Singkat PT. Semen Tonasa..................................... 4
2.2 Keadaan Geografi ............................................................... 9
2.3 Kondisi Geologi.................................................................. 12
2.4 Satuan Morfologi Tonasa.................................................... 13
2.5 Statigrafi.............................................................................. 13
2.6 Sifat Fisik dan Keadaan Batugamping................................ 14
2.7 Kegiatan Penambangan Batugamping................................ 15
BAB III. LANDASAN TEORI............................................................... 17
3.1 Pembangunan Berkelanjutan dan Penutupan Tambang...... 17
3.2 Pengertian dan Landasan Hukum Reklamasi...................... 18
3.3 Ruang Lingkup Reklamasi.................................................. 19
3.4 Perencanaan Reklamasi....................................................... 20
3.5 Pelaksanaan Reklamasi....................................................... 22
3.6 Kriteria Hasil Kegiatan Reklamasi...................................... 23
BAB IV. PEMBAHASAN....................................................................... 27
4.1 Persiapan Reklamasi........................................................... 27
4.2 Pelaksanaan Reklamasi....................................................... 30
5
4.3 Manfaat Reklamasi.............................................................. 42
4.4 Faktor Pendukung Reklamasi............................................. 43
BAB V. PENUTUP................................................................................ 46
4.1 Kesimpulan......................................................................... 46
4.1 Saran.................................................................................... 47
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 48
LAMPIRAN ............................................................................................... 49

6
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
2.1 Peta lokasi PT Semen Tonasa............................................................. 11
4.1 Lokasi pembibtan............................................................................... 28
4.2 Pemeliharaan bibit tanaman................................................................ 30
4.3 Flow chart kegiatan reklamasi batukapur........................................... 31
4.4 Pemeliharaan bibit tanaman................................................................ 32
4.5 Pembibitan.......................................................................................... 33
4.6 Pemantauan pertumbuhan tanaman cover crop.................................. 34
4.7 Pengajiran........................................................................................... 35
4.8 Perkembangan tanaman pioneer (Sesbania Sericia).......................... 36
4.9 Beberapa jenis tanaman inti pada bekas tambang batukapur.............. 37
4.10 Diagram presentase hidup tanaman reklamasi tahun 2016 Blok I...... 39
4.11 Diagram presentase hidup tanaman reklamasi tahun 2016 Blok II..... 40
4.12 Perbandingan tingkat pertumbuhan pada Blok I dan Blok II.............. 40
4.13 Rona awal (sebelum reklamasi) bekas tambang batukapur................. 41
4.14 Kondisi (setelah reklamasi) bekas tambang batukapur....................... 41
4.15 Peta rencana reklamasi bekas tambang batukapur tahun 2017-2021. . 45

7
DAFTAR TABEL

Gambar Halaman
2.1 Data curah hujan dan hari hujan Januari-Februari 2017........... 12
4.1 Penambahan jenis pohon saat dilakukan reklamsi ................... 42

8
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sumberdaya alam yang meliputi vegetasi, tanah, air, dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya merupakan salah satu modal dasar dalam pembangunan
Nasional, oleh karena itu harus dimanfaatkan sebesar besarnya untuk kepentingan
rakyat dan kepentingan pembangunan nasional dengan memperhatikan
kelestariannya.
Salah satu kegiatan dalam memanfaatkan sumber daya alam tersebut adalah
kegiatan pertambangan bahan galian industri salah satunya batugamping atau
batukapur seperti yang dilakukan oleh PT. Semen Tonasa yang hingga saat ini
merupakan salah satu sektor penyumbang devisa negara. Akan tetapi kegiatan
pertambangan apabila tidak dilaksanakan secara tepat dapat menimbulkan dampak
negatif terhadap lingkungan terutama gangguan keseimbangan permukaan tanah
yang cukup besar.
Penambangan dapat mengubah lingkungan fisik, kimia, dan biologi seperti
bentuk lahan dan kondisi tanah, kualitas dan aliran air, debu, getaran, pola vegetasi
dan habitat fauna, dan sebagainya. Perubahan perubahan ini harus dikelola untuk
menghindari dampak lingkungan yang merugikan seperti erosi, sedimentasi,
drainase yang buruk, masuknya gulma, hama atau penyakit tanaman, pencemaran
air permukaan, air tanah oleh bahan beracun dan lain lain.
Industri pertambangan umum hubungannya dengan kepentingan lingkungan
yang dimuat dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Republik
Indonesia Nomor 7 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan reklamasi dan pasca tambang
pada kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara.
Dari beberapa kerusakan kerusakan yang ditimbulkan dari kegiatan
penambangan tersebut harus diatasi setiap perusahaan tersebut melalui kegiatan
reklamasi perusahaan tersebut untuk mengembalikan keadaan lingkungan seperti
pada keadaan sebelumnya dengan kata lain sesuai dengan peruntukannya.

1
Pada setiap perusahaan tambang sebelum melakukan operasi perlu
merencanakan kegiatan reklamasinya. Hal ini dilakukan agar nantinya setelah
selesai operasi lahan tersebut tidak ditinggalkan begitu saja sehingga merugikan
masyarakat sekitarnya.
1.2 Maksud dan Tujuan
1.2.1 Maksud
Maksud dari penelitian ini adalah sebagai arahan pelaksanaan di
lapangan agar dalam melakukan reklamasi dapat memperoleh hasil yang
optimal. Pedoman teknis ini membahas teknik reklamasi lahan bekas tambang
batukapur.
1.2.3 Tujuan
1. Mengetahui tahapan reklamasi dan pengelolaan lingkungan.
2. Mengetahui kegiatan persiapan reklamasi.
3. Mengetahui kegiatan pelaksanaan reklamasi.
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah pembersihan lahan, revegetasi,
penanaman, pemeliharaan, dan pemantauan pertumbuhan tanaman pada lahan bekas
penambangan batukapur PT. Semen Tonasa.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Mahasiswa
Dapat memberikan dan menambah serta melatih kemampuan mahasiswa
terhadap kondisi nyata yang terjadi di Perusahaan dengan teori yang didapat dari
kampus. Juga mempersiapkan mahasiswa untuk mengetahui dunia kerja apabila
bekerja nanti.

1.4.2 Universitas
Terciptanya pola kemitraan yang baik dengan perusahaan tempat
mahasiswa melaksanakan penelitian dan kerja praktek.

1.4.3 Perusahaan
Memenuhi andil perusahaan terhadap dunia pendidikan di Indonesia, serta
mendapat masukan bermanfaat terhadap perusahaan.

2
1.5 Metode Penelitian
1.5.1 Daerah Dan Waktu Penelitian
Adapun yang menjadi obyek penelitian ini adalah pada perusahaan
PT. Semen Tonasa yang berlokasi di Desa Biring Ere Kabupaten Pangkep
Provinsi Sulawesi Selatan. Sedangkan waktu yang diperkirakan dalam
pengambilan data-data mulai dari tanggal 1 Februari hingga 28 Februari 2017.
1.5.2 Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan ini, metode pengumpulan data yang penulis tempuh
adalah sebagai berikut :
1. Observasi
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan
atau peninjauan secara langsung pada obyek penelitian yakni pada
perusahaan PT. Semen Tonasa Kabupaten Pangkep untuk mendapatkan
data-data yang diperlukan sehubungan dengan penelitian ini.
2. Interview
Penelitian ini dilakukan dengan mengadakan wawancara atau
tanya jawab secara langsung dengan pimpinan perusahaan dan sejumlah
personil yang ada hubungannya dengan pembahasan ini, khususnya pada
bagian pemasaran.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah bentuk penelitian yang dilakukan dengan
mengumpulkan dokumen atau arsip-arsip perusahaan yang berhubungan
dengan masalah strategi pemasaran.
1.5.3. Sumber Data
1. Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari lapangan,
serta wawancara dengan pembimbing sekaligus kepala bagian reklamasi,
dan karyawan yang berhubungan dengan masalah yang dibahas.
2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari perusahaan melalui
dokumen-dokumen dan laporan tertulis serta informasi lain yang ada
hubungannya dengan masalah ini.

3
B A B II
TINJAUAN UMUM

2.1 Sejarah Singkat Berdirinya PT. Semen Tonasa


PT. Semen Tonasa mempunyai empat unit pabrik masing-masing yaitu :
Semen Tonasa Unit I, II, III, dan IV. Pabrik Semen Tonasa I terletak di desa Tonasa
Kecamatan Balocci Kabupaten Pangkep, mulai berproduksi sejak tahun 1968
dengan kapasitas 110.000 ton/tahun. Pelaksanaan survey dilaksanakan pada tahun
1960 oleh Bank Industrialisasi Negara (Bapindo) dengan Biro Industrialisasi
Departemen Perindustrian dan Pertambangan (Dirjen Industri Kimia Dasar). Atas
dasar hasil survey tersebut maka tanggal 13 Juni 1960 ditandatangani kontrak
antara Tenko Expo Cekoslowakia dan di ikuti pelaksanaan survey yang mendalam
mengenai letak deposite bahan baku pabrik. Mengingat akan kebutuhan Semen
Tonasa untuk pembangunan di wilayah Indonesia Timur yang semakin berat bila
dibandingkan dengan produksi semen pabrik unit I yang sangat terbatas, maka
dirintislah usaha untuk membangun pabrik Semen Tonasa unit II. Tahap I dimulai
tanggal 19 April 1975, dengan dilakukan suatu studi kelayakan oleh Team
Dyckerhoff Semen Work Ag dari Jerman Barat. Dari hasil studi tersebut di dapat
kesimpulan bahwa pembangunan pabrik Semen Tonasa unit II memenuhi syarat.
Pabrik ini terletak di desa biring Ere, Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep
mulai berproduksi sejak tahun 1979 dengan kapasitas 590.000 ton / tahun.
Peresmian pabrik ini dilakukan oleh Bapak Presiden Soeharto pada tanggal 28
Februari 1980.
Pabrik Semen Tonasa unit III terletak pada areal yang sama dengan pabrik
Semen Tonasa unit II dan mulai berproduksi pada tahun 1985, dengan kapasitas
produksi 590.000 ton / tahun. Bentuk badan hukum berdasarkan Kepres No. 54
tahun 1971 dengan merubah status perusahaan dari proyek semen Tonasa menjadi
perusahaan umum Semen Tonasa. Tapi atas dasar Kepres No. 1 tahun 1975 berubah
lagi statusnya dari perusahaan umum menjadi PT. Semen Tonasa ( Persero ). Status
ini mulai berlaku sesuai Akta Notaris H. Babasa Dg. Lolo tanggal 9 januari 1976.
Pabrik Semen Tonasa unit IV terletak berdampingan dengan Tonasa unit II, dan unit
4
III mulai berproduksi pada tahun 1996 dengan kapasitas 2.300.000 ton / tahun.
Pembangunan dilakukan dengan swakelola yang mana Analisa Mengenai dampak
Lingkungan (AMDAL) bekerja bersama dengan Universitas Hasanuddin. Selain itu
dilakukan pengadaan PTG ( Boiler Turbin Generator ) untuk kebutuhan generator
listrik sendiri dengan kapasitas 2 x 25 MW.
2.1.1 Pabrik Semen Tonasa I
Pabrik Semen Tonasa I berlokasi di desa Tonasa Kecamatan Balocci
Kabupaten Pangkajene Kepulauan Propinsi Sulawesi Selatan. Letaknya
kurang lebih 60 km sebelah utara Kota Makassar dan didirikan berdasarkan
Tap. MPRS RI No.II/MPRS/1960 tanggal 5 Desember 1960.
Survei bahan baku untuk keperluan pabrik dilaksanakan oleh tim
Technoexport Cekoslowakia berdasarkan kontrak yang ditandatangani di
Jakarta pada tanggal 13 Juni 1960. Pada survei ini, Team Technoexport
Cekoslowakia dibantu oleh Lembaga Geologi Bandung dalam hal
pengeboran dan pengambilan sampel bahan baku yang berlangsung antara
tanggal 8 Agustus 1960 sampai 5 Mei 1961. Sedang analisa sampel bahan
baku tersebut dilakukan oleh Balai Penelitian Kimia Ujung Pandang.
Berdasarkan hasil survei bahan baku tersebut, Bank Industri Negara
Jakarta, Bakit Jakarta dan Biro Industrial Departemen Perindustrian Dasar
Pertambangan, menyusun studi kelayakan pendirian pabrik PT. Semen
Tonasa. Dalam studi kelayakan tersebut disimpulkan bahwa kapasitas
produksi Semen Tonasa adalah 350 ton terak per hari atau 110.000 ton
semen Portland type I per tahun. Proses yang digunakan adalah proses basah
dengan bahan bakar Bunker-C oil. Penyusunan studi kelayakan selesai pada
tahun 1962.
Jumlah investasi proyek adalah sebesar Rp. 3,1 milyar atau USD
10,098 juta (1 USD = Rp. 307) yang terdiri dari valuta asing sebesar USD
6,515 juta, dan biaya lokal sebesar Rp. 1,1 milyar.
Adapun biaya valuta asing diperoleh dari bantuan pemerintah
Cekoslowakia. Bantuan ini disampaikan kepada pemerintah Indonesia
berupa mesin-mesin pabrik, alat-alat kerja, alat-alat berat, serta perangkat

5
lunak berupa perencanaan/design dan supervisi untuk konstruksi,
pemasangan mesin/ listrik sampai mesin masa operasi percobaan.
Pelaksanaan pembangunan yang dimulai bulan Juni 1962, sepenuhnya
dilaksanakan oleh Proyek Semen Tonasa dan dibantu oleh kontraktor lokal
untuk semua jenis pekerjaan. Pada tanggal 2 November 1968, pembangunan
pabrik selesai dilaksanakan dan pabrik diresmikan oleh Menteri
Perindustrian, M. Yusuf.
Sesudah operasi selama 16 tahun, ternyata pabrik Semen Tonasa I yang
menggunakan proses basah tidak lagi mampu untuk diteruskan beroperasi
secara ekonomis akibat terjadinya beberapa kali kenaikan bahan bakar
minyak. Di samping itu, adanya pabrik Semen Tonasa II dan mulai
beroperasinya pabrik Semen Tonasa III pada tahun 1984, menyebabkan
kebutuhan semen di wilayah pemasaran PT Semen Tonasa masih dapat
disuplai oleh pabrik Semen Tonasa II dan Tonasa III tersebut.
Oleh karena itu, pada bulan November 1984 diputuskan untuk
menghentikan sementara Semen Tonasa I sambil meneliti kemungkinan
pemanfaatan lebih lanjut.
2.1.2 Pabrik Semen Tonasa II
Pabrik Semen Tonasa II yang berlokasi di Desa Mangilu, Kecamatan
Bungoro, Kabupaten Pangkep, Propinsi Sulawesi Selatan, 25 Km di Sebelah
Utara Pabrik Semen Tonasa I, yang didirikan berdasarkan persetujuan
Bappenas No.023/XL-LC/B.V/76 dan No.285/D.I/IX/76 tanggal 2
September 1976.
Survei bahan baku dilakukan Dyckerhoff Engineering dari Jerman
Barat, dibantu oleh kontraktor dalam negeri yang bekerja sama dengna
Direktorat geologi Bandung. Berdasrakan hasil survei Dyckerhoff
Engineering maka disusunlah studi kelayakan pendirian Pabrik Semen
Tonasa II. Dalam studi kelayakan tersebut disimpulkan bahwa kapasitas
produksi Semen Tonasa II adalah 1.650 ton terak/hari atau 510.000 ton
semen Portland tipe I/tahun dengan kemungkinan perluasan lebih lanjut.
Peroses yang digunakan adalah proses kering dengan bahan bakar minyak
buncker-C oil. Pelaksanaan akhir tahun 1976-1979.
6
Jumlah investasi yang digunakan untuk membiayai pembangunan
pabrik Semen Tonasa II adalah sebesar Rp. 53,18 milyar terdiri dari Can$
127.525 (1 Can$=Rp.417), terdiri dari valuta asing sebesar Can$ 83,6 juta
dan biaya lokal sebesar 18,307 milyar. Adapun biaya valuta asing tersebut
diperoleh dari bantuan kredit ekspor pemerintah Canada.
Proyek pembangunan pabrik Semen Tonasa II secara resmi dimulai
tanggal 20 Oktober 1976. Perencanaan dan pembangunan pabrik dilakukan
oleh Countinho Caro & Co dari Jerman Barat bersama Swan Wooster
Canada, secara Fized Fee, berdasarkan perencanaan dasar yang dibuka oleh
Dyckerhoff Engineering. Mesin-mesin utama pabrik dan sebagian besar
bahan konstruksi untuk pekerjaan sipil didatangkan dari Canada. Dalam
pengawasan seluruh proyek, baik dalam pemasangan mesin-mesin utama
maupun dalam pelaksanaan konstruksi sipil, PT. Semen Tonasa dibantu oleh
Dyckerhoff Engineering. Sedangkan yang menyangkut masalah hukum, PT.
Semen Tonasa dibantu oleh Konsultan Hukum Delson dan Gordon dari
Amerika Serikat.
Pada tanggal 15 Desember 1979, pembangunan Pabrik Semen Tonasa
II selesai dan diresmikan oleh Bapak Presiden Soeharto pada tanggal 28
Februari 1980.
2.1.3 Pabrik Semen Tonasa III
Pabrik Semen Tonasa III yang berlokasi di tempat yang sama dengan
Pabrik Semen Tonasa II, dibangun berdasarkan persetujuan Bappenas:
No.32/EXC-LC/B.V/1981 dan No.2177/WK/10/1981 tanggal 30 Oktober
1981.
Survei bahan baku tidak dilaksanakan lagi karena lokasi yang sama
dan telah dilakukan pada saat survei bahan baku Semen Tonasa II,
sedangkan studi kelayakan masih tetap dilakukan Dyckerhoff Engineering.
Dalam studi tersebut disimpulkan bahwa kapasitas produksi pabrik
Semen Tonasa III adalah 1900 ton terak/hari atau 590000 ton Semen
Portland Tipe I/tahun. Proses yang digunakan adalah proses kering dengan
bahan bakar minyak buncker-C pada tahap uji dan saat operasi komersial
menggunakan batu bara.
7
Jumlah investasi sebesar Rp. 98.807 milyar atau DM.343 juta (1 DM
=Rp.288), terdiri dari biaya valuta asing sebesar DM.204 juta dan biaya
lokal sebesar Rp.40.055 milyar. Adapun biaya valuta asing tersebut sebagian
besar bantuan kredit ekspor Pemerintah Jerman Barat. Proyek pembangunan
pabrik Semen Tonasa III dimulai pada tanggal 9 Januari 1082. Perencanaan
dan Pembangunan dilakukan oleh Countinho Caro & Co, Jerman Barat
secara Lump Sum Contrct Price (Turn Key).
Mesin-mesin pabrik seluruhnya didatangkan dari Jerman. Dalam
pengawasan seluruh proyek baik pemasangan mesin-mesin utama maupun
pelaksanaan konstruksi sipil, PT. Semen Tonasa dibantu oleh Dyckerhoff
Engineering. Sedangkan menyangkut masalah hukum, dibantu oleh
Konsultan Hukum Delson dan Gordon dari Amerika Serikat.
Pada tanggal 3 April 1985 Pabrik Semen Tonasa III selesai dan
diresmikan oleh Bapak Presiden Soeharto didampingi Perdana Menteri
LeeKwan Yew dari Singapura.
2.1.4 Pabrik Semen Tonasa IV
Perluasan Pabrik Semen Tonasa tidak berhenti hanya pada Semen
Tonasa II dan III yang telah berkapasitas total 1.180.000 ton/tahun. Untuk
menunjang laju pembangunan nasional, Semen Tonasa yang memiliki bahan
baku yang cukup serta dukungan pemerintah kepada perusahaan milik
negara ini, maka didirikanlah pabrik Semen Tonasa IV berdasarkan SK.
Menteri Perindustrian No.82/MPP.IX/1990 tanggal 2 Oktober 1990, dan SK.
Menteri Keuangan RI No.9.1549/MK.013/1990 tanggal 29 November 1990.
Pabrik Semen Tonasa Unit IV dibangun pada lokasi sama dengan
Tonasa II dan III, dengan kapasitas yang lebih besar yaitu 2.300.000
ton/tahun dengan menggunakan teknologi canggih yaitu Digital Control
System (DCS) dalam proses pengendalian operasional.
Dengan demikian PT. Semen Tonasa memiliki pabrik semen dengan
total kapasitas terpasang sebesar 3.480.000 ton/tahun. Pabrik Tonasa Unit IV
diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 10 September 1996. Tonasa
Unit IV dikerjakan secara Swakelola oleh PT Semen Tonasa dibantu oleh PT
Rekayasa Industri sebagai konsultan.
8
2.1.5 Pabrik Semen Tonasa V
Seiring dengan semakin meningkatnya permintaan semen khususnya
dikawasan timur indonesia maka dibangun parik Semen tonasa unit V yang
beroperasi berdekatan dengan Tonasa II, III, dan IV yang saat ini telah
beroperasi. Pabrik Tonasa unit V berkapasitas 2.500.000 ton semen/tahun
dengan proses kering.
2.2 Keadaan Geografi
2.2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah
Secara administratif wilayah penambangan dan areal pabrik PT.
Semen Tonasa unit II, III, dan IV terletak di Biringere, desa Mangilu,
Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan.
Posisi geografis daerah penambangan PT. Semen Tonasa berada
pada koordinat 119 o 36 55 Bujur Timur sampai pada 119 o 38 00 Bujur
Timur dan 04o 46 54 Lintang Selatan sampai 04 o
47 34 Lintang
Selatan. Secara umum daerah ini merupakan dataran rendah, perbukitan
bergelombang dan perbukitan Karst dengan elevasi berkisar 20 m 500 m
dari permukan laut.
Lokasi pabrik terletak 64 Km ke arah utara kota Makassar
kemudian dari Bungoro ke jalan poros utama lokasi pabrik dengan jarak
10 km kearah timur. Kondisi jalan untuk mencapai lokasi tersebut
umumnya beraspal, sehingga dapat di tempuh dengan berbagai jenis
kendaraan bermotor dalam waktu tempuh 1,5 jam dari Makassar.
Kemudian dari lokasi pabrik menuju lokasi penambangan berjarak 1 1,5
km ke arah Timur dilalui dengan menggunakan jalan tambang. Lokasi
penambangan batugamping di lakukan di dua lokasi yaitu quarry A terletak
di sebelah utara lokasi pabrik, sedangkan quarry B terletak di sebelah timur
lokasi pabrik (Lihat gambar 2.1 ).
Saat ini PT. Semen Tonasa melakukan penambangan batugamping
pada quarry B yang dibagi dalam 8 wilayah kerja yaitu quarry B2, B3 , B4 ,
B5 , B6, B7, B8, dan B9 untuk kebutuhan crusher II, III dan IV.

9
Gambar 2.1: Peta lokasi PT Semen Tonasa
Sumber: PT. Semen Tonasa

10
2.2.2 Iklim dan Curah Hujan
Seperti halnya daerah-daerah di Indonesia, daerah Pangkep dan
sekitarnya juga tergolong beriklim tropis dimana setiap tahunnya
dipengaruhi oleh dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Suhu udara permukaan menunjukkan angka yang bervariasi, antara 28 0
32 0 C. Curah hujan di kawasan pabrik Semen Tonasa diukur sendiri oleh
Seksi Perencanaan dan Persiapan Tambang ( PPT ) PT. Semen Tonasa.
Data curah hujan tahun 1999 2003 (Tabel 2.2) menunjukkan bahwa
musim hujan hanya terjadi dari bulan Oktober Maret, Sedangkan
musim kemarau terjadi dari bulan April September. Dari data tersebut
terlihat bahwa curah hujan tahunan tertinggi terjadi pada bulan januari
2001 yaitu 972,04 mm dengan hari hujan 26 hari.
2.2.3 Vegetasi
Pada lokasi penambangan batugamping dan tanah liat terdapat
jenis tumbuhtumbuhan tropis mulai dari semak-semak hingga pohon-
pohon yang berdiameter cukup besar seperti pohon jambu mente, pohon
mangga, pohon asam, dan beberapa tumbuhan kayu jenis lainnya yang
tumbuh subur di sekitar daerah lokasi pertambangan.
Tabel 2.1: Data curah hujan dan hari hujan Januari-Februari 2017

JANUARI FEBRUARI
Total 604,52 Total 3,82
Max 178,34 Max 3,18
Min 0,00 Min 0,00
Rata-Rata 22,37 Rata-Rata 0,35
Hari Hujan Hari Hujan 11
Sumber : PT. Semen Tonasa
2.3 Kondisi Geologi
Geologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bumi dan
gejala-gejala yang terdapat di atas muka bumi dan di dalam permukaan bumi serta
menyelidiki tentang lapisan batuan yang ada di dalam kerak bumi. Secara umum

11
sifat-sifat kenampakan yang di cirikan oleh batugamping menyerupai bentuk
kerucut dengan ketinggian berkisar antara 65 500 meter, di atas permukaan air
laut, kompak, keras, berfosil berwarna abu-abu dan putih, ketebalan batugamping
diperkirakan 135 meter. Sedangkan kenampakan topografi yang tersusun oleh
tanah liat (clay) relative mendatar di antara perbukitan batugamping yang
merupakan endapan alluvial, ketebalan kira-kira antara 3 - 7 meter. Endapan ini
berwarna kemerah-merahan dan sifat lunak, plastis dan lembab. Daerah ini di
jadikan sebagai daerah perkampungan bagi penduduk setempat untuk areal
pertanian.
2.4 Satuan Morfologi Daerah Tonasa
Kondisi morfologi di PT. Semen Tonasa II, III, IV ditunjukkan oleh
keadaan morfologi yang terdiri atas dua satuan morfologi, yaitu :
2.4.1 Satuan Morfologi Dataran Rendah
Satuan morfologi ini merupakan satuan dataran rendah yang
relatif bergelombang. Batuan pembentukan dataran ini berupa endapan
sungai dan lempung. Sungai yang mengalir adalah sungai Pangkajene
dengan satu anak sungainya. Pada sisi sungai terdapat tebing dengan
ketinggian 2 sampai 4 meter dan pada sisi yang lain relatif landai.
2.4.2 Satuan Morfologi Perbukitan Karst
Satuan Morfologi ini terdiri atas Batugamping dengan ciri-ciri
morfologi karst seperti gua, lubang, rekahan, sungai bawah tanah.
Ketinggian satuan ini berkisar antara 65 500 meter dari permukaan laut.
Umumnya batugamping daerah ini bersifat keras dan kompak, sehingga
satuan ini terdiri atas dinding perbukitan curam dan tegak.
2.5 Stratigrafi
Stratigrafi daerah ini dapat dibagi menjadi 3 satuan batuan yaitu ; Satuan
batugamping, lempung dan endapan sungai
2.5.1 Satuan batugamping
Satuan ini umumnya dicirikan oleh batugamping yang tidak berlapis,
kristalin, keras dan kompak, umumnya berwarna abu-abu kekuningan
hingga kuning kecoklatan. Fosil yang dikandung adalah foraminifera besar
12
seperti Alvenolina sp, Nummulites sp, Disciciclina sp dan Biplanispira sp
yang berumur Eosen Miosen bawah oleh ( Soekamto 1973 ).
2.5.2 Satuan lempung
Satuan ini umumnya di cirikan oleh batuan berwarna coklat
kemerahan dan bersifat pasiran. Penyebarannya terletak pada dataran
rendah dan menyebar luas hingga ke lokasi persawahan.
2.5.3 Satuan Endapan Sungai
Satuan ini merupakan hasil pengendapan sungai Pangkajene, terdiri
dari lempung pasiran, kerikil bongkahan andesit, kwarsit dan skiss mika.
2.6 Sifat fisik dan Keadaan Batugamping
Sifat fisik dan keadaan batuan khususnya batugamping dapat di jelaskan
sebagai berikut :
2.6.1 Sifat fisik batugamping :
1. Warna : Putih kecoklatan, dan putih keabuan
2. Kilap : Kaca, dan tanah
3. Goresan : Putih sampai putih keabuan
4. Bidang belahan : Tidak teratur
5. Pecahan : Uneven
6. Kekerasan : 2,7 3,4 skala mohs
7. Berat jenis : 2,387 Ton / m 3
8. Sisipan : Kalsit, clay stone, dan clay sand
9. Tenacity : Keras, kompak, sebagian berongga
2.6.2 Keadaan Batugamping
Batugamping dengan kekerasan yang relative tinggi, umumnya
berwarna putih bersih hampir tidak mengandung clay ( tanah liat ) maupun
kalsit yang tidak mengkilat.
Batugamping dengan kekerasan sedang banyak mempunyai
rekahan atau rongga-rongga aktivitas binatang laut yang mengandung
sisipan clay sebagian berwarna kecoklatan dan putih keabuan.
Batugamping dengan kekerasan lunak umumnya dalam keadaan lapuk dan
mempunyai struktur berongga yang berfariasi
13
2.7 Kegiatan Penambangan Batugamping
2.7.1 Perintisan (Pioneering)
Perintisan adalah suatu rangkaian pekerjaan yang dilakukan untuk
meratakan, membuat jalan untuk dilalui oleh alat-alat mekanis, serta
penyediaan lokasi penambangan agar memudahkan dalam pengambilan
material. Pekerjaan perintisan dilakukan oleh Seksi Perintisan dan
Perencanaan Tambang.
Setelah pekerjaan perintisan selesai dilaksanakan, maka pekerjaan
diserahkan kepada Seksi Penambangan untuk melanjutkan pekerjaan
produksi.
2.7.2 Pembongkaran (Loosening)
Pembongkaran adalah serangkaian pekerjaan yang dilakukan untuk
membebaskan bahan galian dari endapan induknya. Untuk melakukan
pembongkaran diperlukan alat-alat yang sesuai dan tepat untuk daerah
yang akan dikerjakan. Pemilihan alat-alat tersebut tergantung pada faktor
teknis dan ekonomis. Ditinjau dari sifat fisik material pembongkaran
endapan batuan ada yang lunak dan ada yang keras. Untuk pembongkaran
endapan batuan yang keras dan massive dapat dilakukan dengan peledakan.
Peledakan adalah serangkaian pekerjaan terhadap batuan untuk
membebaskan batuan dari induknya menjadi fragmen-fragmen dengan
ukuran yang dikehendaki dengan menggunakan bahan peledak.
2.7.3 Pemuatan (Loading)
Pemuatan adalah serangkaian kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan
untuk mengambil atau memuat material hasil ledakan ke alat angkut untuk
Selanjutnya diangkut ketempat penampungan (stock yard).
Kegiatan pemuatan quarry B dilakukan dengan menggunakan Whell
Loader Type Komatsu WA-600-1 dengan kapasitas bucket 5,4 m dan
Loading Shovel Type Komatsu PC-1000-1 dengan kapasitas bucket 6,1
m3.
2.7.4 Pengangkutan ( Hauling )

14
Pengangkutan adalah serangkaian pekerjaan yang dilakukan untuk
mengangkut endapan material hasil ledakan dari front penambangan
ketempat penampungan stock yard atau ketempat pengolahan lebih lanjut.
Pada kegiatan pengangkutan material hasil peledakan di quarry B
dilakukan dengan alat angkut dump truck HD 465 dapat digunakan sesuai
kebutuhan produksi.

15
BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Pembangunan Berkelanjutan dan Penutupan Tambang

Dalam dunia yang sempurna, tambang hanya akan tutup ketika Sumberdaya
mineralnya sudah habis dan rencana penutupan tambang sudah tersedia dan
diterapkan secara progresif. Terdapat waktu untuk merencanakan, memantau dan
melakukan uji coba, dan dana disimpan secara eksternal untuk menutup biaya
penerapan rencana penutupan. Target hasil dapat dicapai atau dilaksanakan secara
memuaskan, dan harus ada banyak peluang untuk mengatasimasalah besar apapun
yang dapat menciptakan kesulitan setelah penutupan tambang. Semuapemangku
kepentingan telah disiapkan mengenai rencana tanggal penutupan, karyawan dapat
merencanakan untuk mendapatkan pekerjaan alternatif, dan masyarakat
berpeluang untuk bekerjasama dengan tambang untuk memastikan adanya manfaat
yang berkelanjutan dari aktifitas pertambangan.
Tambang yang ditutup dengan buruk atau ditelantarkan (ditinggalkan begitu
saja) akan menyebabkan masalah warisan yang sulit bagi pemerintah, masyarakat,
perusahaan mineral,dan pada akhirnya akan merusak citra industri pertambangan
secara keseluruhan. Dan karena akses ke Sumberdaya semakin terikat dengan
reputasi industri dan perusahaan, proses penutupan yang efektif dan penyelesaian
tambang yang memuaskan menjadi sangat penting terhadap kemampuan
perusahaan untuk mengembangkan proyek-proyek baru. Perencanaan yang buruk
dan pendanaan yang tidak memadai umumnya akan meningkatkan biaya
penutupan dan menurunkan keuntungan keseluruhan, sehingga merintangi
kemampuan perusahaan untuk mengembangkan proyek-proyek baru. Dengan
menggunakan cara pendekatan yang lebih terpadu dalam perencanaan penutupan
tambang, sertamelaksanakannya sejak lebih dini, dapat mewujudkan penutupan
dan penyelesaian tambang yang efektif, dan menghilangkan efek negatif dari
penutupan yang tak terduga-duga atau takterencana.

16
Baru-baru ini, telah dikembangkan serangkaian kerangka kerja kebijakan
pembangunan berkelanjutan oleh industri dan organisasi lain, yang kini berfungsi
sebagai faktor pendorong praktek kerja yang lebih baik. Salah satu pendekatan itu
adalah dari International Councilon Mining and Metals (ICMM) atau Dewan
Internasional Pertambangan dan Logam yang menetapkan 10 Prinsip-Prinsip
Pembangunan Berkelanjutan di tahun 2003, untukmengarahkan komitmen industri
dalam pembangunan berkelanjutan di dalam suatu kerangkakerja yang strategis
(ICMM, 2003).
3.2 Pengertian Reklamasi dan Dasar Hukum Reklamasi
3.2.1 Pengertian Reklamasi
Reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata
kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha
pertambangan, agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya.
Reklamasi lahan bekas tambang selain merupakan upaya untuk memperbaiki
kondisi lingkungan pasca tambang, agar menghasilkan lingkungan ekosistem
yang baik dan diupayakan menjadi lebih baik dibandingkan rona awalnya,
dilakukan dengan mempertimbangkan potensi bahan galian yang masih
tertinggal.
3.2.2 Dasar Hukum
Upaya pengendalian dampak negatif kegiatan pertambangan terhadap
lingkungan hidup dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan
sebagai berikut :
1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Pertambangan.
2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Pengolahan Lingkungan Hidup.
3. Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 tantang Penataan Ruang.
4. Mijn Politie Reglement (MPR Stbl 1930 No. 341).
5. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisa Mengenai
Dampak Lingkungan.

17
6. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan.
7. Intruksi Presiden R.I No. 1 Tahun 1976 tentang Sinkronisasi Pelaksanaan
Tugas Bidang Keagrariaan dengan Bidang Kehutanan, Pertambangan,
Transmigrasi dan Pekerjaan Umum.
8. SKB Menteri Pertambangan dan Energi dan Menteri kehutanan Nomor :
996 K/05/M. PE/1969 tentang Pedoman Pengaturan Pelaksanaan
Undang-undang No. 429/K.pts. II/1939 Pertambangan dan Energi dalam
Kawasan Hutan.
9. SKB menteri Pertambangan dan Energi dan Menteri Kehutanan Nomor :
1101. K/702/M. PE/1991 tentang Pembentukan Team koordinasi
36/Kpts.II/1991
10. Tetap Departemen Pertambangan dan Energi dan Departemen Kehutanan
dan perubahan Tatacara Pengajuan Izin Usaha Pertambangan dan Energi
dalam Kawasan Hutan.
11. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi
No.0185.K/008/M.PE/1988 tentang Pedomanan Teknis Penyusunan
Penyajian Informasi Lingkungan, Analisis Dampak Lingkungan untuk
Kegiatan di Bidang Pertambangan Umum dan Bidang Pertambangan
Minyak dan Gas Bumi dan Sumberdaya Panas Bumi.
12. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.
1158.K/008/M.PE/1989 tentang Ketentuan Pelaksanaan Analsis Dampak
Lingkungan dalam Usaha Pertambangan dan Energi.
13. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.
1211.K/008/M/PE/1995 tentang Pencegahan dan Penanggulangan
Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan pada Kegiatan Usaha
Pertambangan Umum.
14. Peraturan Menteri No. 7 Tahun 2014
3.3 Ruang Lingkup Reklamasi
Rehabilitasi lokasi penambangan dilakukan sebagai bagian dari program
pengakhiran tambang yang mengacu pada penataan lingkungan hidup yang
18
berkelanjutan. Salah satu kegiatan pengakhiran tambang, yaitu reklamasi, yang
merupakan upaya penataan kembali daerah bekas tambang agar bisa menjadi daerah
bermanfaat dan berdayaguna. Reklamasi tidak berarti akan mengembalikan seratus
persen sama dengan kondisi rona awal. Pada prinsipnya kawasan atau sumberdaya
alam yang dipengaruhi oleh kegiatan pertambangan harus dikembalikan ke kondisi
yang aman dan produktif melalui rehabilitasi. Kondisi akhir rehabilitasi dapat
diarahkan untuk mencapai kondisi seperti sebelum ditambang atau kondisi lain yang
telah disepakati. Kegiatan rehabilitasi dilakukan merupakan kegiatan yang terus
menerus dan berlanjut sepanjang umur pertambangan sampai pasca tambang.
Tujuan jangka pendek rehabilitasi adalah membentuk bentang alam (landscape)
yang stabil terhadap erosi.
Selain itu rehabilitasi juga bertujuan untuk mengembalikan lokasi tambang ke
kondisi yang memungkinkan untuk digunakan sebagai lahan produktif. Bentuk
lahan produktif yang akan dicapai menyesuaiakan dengan tataguna lahan pasca
tambang. Penentuan tataguna lahan pasca tambang sangat tergantung pada berbagai
faktor antara lain potensi ekologis lokasi tambang dan keinginan masyarakat serta
pemerintah. Bekas lokasi tambang yang telah direhabilitasi harus dipertahankan
agar tetap terintegrasi dengan ekosistem bentang alam sekitarnya. Teknik
rehabilitasi meliputi regarding, reconturing, dan penaman kembali permukaan tanah
yang tergradasi, penampungan dan pengelolaan racun dan air asam tambang (AAT)
dengan menggunakan penghalang fisik maupun tumbuhan untuk mencegah erosi
atau terbentuknya AAT.
3.4 Perencanaan Reklamasi
Untuk melaksanakan reklamasi diperlukan perencanaan yang baik, agar dalam
pelaksanaannyadapat tercapai sasaran sesuai yang dikehendaki. Dalam hal ini reklamasi
harus disesuaikan dengan tata ruang. Perencanaan reklamasi harus sudah disiapkan
sebelum melakukan operasi penambangan dan merupakan program yang terpadu dalam
kegiatan operasi penambangan.

19
3.4.1 Pemerian Lahan
Pemerian lahan pertambangan merupakan hal yang terpenting untuk
merencanakan jenis perlakuan dalam kegiatan reklamasi. Jenis perlakuan
reklamasi dipengaruhi oleh berbagai faktor utama :
1. Kondisi Iklim,
2. Geologi,
3. Jenis Tanah,
4. Bentuk Alam,
5. Air permukaan dan air tanah,
6. Flora dan Fauna,
7. Penggunaan lahan,
8. Tata ruang dan lain-lain.
Untuk memperoleh data dimaksud diperlukan suatu penelitian
lapangan. Dari berbagai faktor tersebut di atas, kondisi iklim terutama curah
hujan dan jenis tanah merupakan faktor yang terpenting.
3.4.2 Pemetaan
Rencana operasi penambangan yang sudah memperhatikan upaya
reklamasi atau sebaliknya dengan sendirinya akan saling mendukung dalam
pelaksanaan kedua kegiatan tersebut. Rencana (tahapan pelaksanaan) tapak
reklamasi ditetapkan sesuai dengan kondisi setempat dan rencana kemajuan
penambangan. Rencana tahap reklamasi tersebut dilengkapi degan peta skala
1 : 1000 atau skala lainnya yang disetujui, disertai gambar-gambar teknis
bangunan reklamasi. Selanjutnya peta tersebut dilengkapi dengan peta indeks
dengan skala memadai.
Di dalam peta tersebut digambarkan situasi penambangan dan
lingkungan, misalnya kemajuan penambangan, timbunan tanah penutup,
timbunan terak (slag), penyimpanan sementara tanah pucuk, kolam
pengendap, kolam persediaan air, pemukiman, sungai jembatan, jalan,
revegetasi, dan sebagainya serta mencantumkan tanggal situasi/
pembuatannya.

20
3.4.3 Peralatan Yang Digunakan
Untuk menunjang keberhasilan reklamasi biasanya digunakan
peralatan dan sarana prasarana, antara lain :Dump Truck, Bulldozer,
excavator, traktor, tugal, back hoe, sekop, cangkul, bangunan pengendali erosi
a.l : susunan karung pasir, tanggul, susunan jerami, bronjong, pagar keliling),
beton pelat baja untuk menghindari kecelakaan dan lain-lain.
3.5 Pelaksanaan Reklamasi
Kegiatan pelaksanaan reklamasi harus segera dimulai sesuai dengan rencana
tahunan pengelolaan lingkungan (RTKL) yang telah disetujui dan harus sudah
selesai pada waktu yang telah ditetapkan. Dalam melaksanakan kegiatan reklamasi,
perusahaan pertambangan bertanggung jawab sampai kondisi/rona akhir yang telah
disepakati tercapai.
Setiap lokasi penambangan mempunyai kondisi tertentu yang mempengaruhi
pelaksanaan reklamasi. Pelaksanaan reklamasi umumnya merupakan gabungan dari
pekerjaan teknik sipil dan teknik vegetasi. Pekerjaan teknik sipil meliputi :
pembuatan teras, saluran pembuangan akhir (SPA), bangunan pengendali lereng,
check dam, penengkap oli bekas (oil cather) dan lain-lain yang disesuaikan dengan
kondisi setempat.
Pekerjaan teknik vegetasi meliputi : pola tanam, sistem penanaman
(monokultur, multiple croping), jenis tanaman yang disesuaikan kondisi setempat,
cover crop (tanaman penutup) dan lain-lain.
Mengingat sifat lahannya dan kegaitannya yang memerlukan penjelasan rinci,
maka kegiatan pelaksanaan reklamasi di atas, dalam Bab III ini juga dijelaskan
mengenai pelaksanaan reklamasi khusus, reklamasi pada infrastruktur dan reklamasi
lahan bekas tambang.
3.5.1 Persiapan Lahan
1. Pengamatan Lahan Bekas Tambang
a. Pemindahan/pembersihan seluruh peralatan dan prasarana yang tidak digunakan
di lahan yang akan direklamasi,

21
b. Perencanaan secara tepat lokasi pembuangan sampah/limbah beracun
dan berbahaya dengan perlakuan khusus agar tidak mencemari
lingkungan,
c. Pembuangan atau penguburan potongan beton dan scrap pada tempat
khusus,
d. Penutupan lubang bukaan tambang secara aman dan permanen,
e. Melarang atau menutup jalan masuk ke lahan bekas tambang yang akan
direklamasi.
2. Pengaturan Bentuk Lahan
Pengaturan bentuk lahan disesuaikan dengan kondisi topografi dan
hidrologi setempat. Kegiatan ini meliputi :
a. Pengaturan bentuk lereng
b. Pengaturan saluran pembuangan air
3. Pengaturan/Penempatan Low Grade
Maksud pengaturan dan penempatan low garde (bahan tambang yang
mempunyai nilai ekonomis rendah) adalah agar bahan tambang tersebut
tidak tererosi/hilang apabila ditimbun dalam waktu yang lama karena dapat
dimanfaatkan.

3.5.2 Revegetasi
Revegetasi dilakukan melalui tahapan kegiatan penyusunan rancangan
teknis tanaman, persiapan lapangan, pengadaan bibit/persemaian, pelaksanaan
penanaman dan pemeliharaan tanaman.
1. Penyusunan Rancangan Teknis tanaman
Rancangan teknis tanaman adalah rencana detail kegiatan revegetasi
yang menggambarkan kondisi lokasi, jenis tanaman yang akan ditanam,
uraian jenis pekerjaan, kebutuhan bahan dan alat, kebutuhan tenaga kerja,
kebutuhan biaya dan tata waktu pelaksanaan kegiatan.
Rancangan tersebut disusun berdasarkan hasil analisis kondisi
biofisik dan sosial ekonomi setempat. Kondisi geofisik meliputi topografi
22
atau bentuk lahan, iklim, hidrologi, kondisi vegetasi awal dan vegetasu
asli. Sedangkan data sosial ekonomi yang perlu mendapat perhatian antara
lain demografi, sarana, prasaran, dan eksesbilitas yang ada.
Jenis tanaman yang dipilih kalau dapat diarahkan pada penanaman
jenis tumbuhan asli. Sebaiknya dipilih jenis tumbuhan lokal yang sesuai
dengan iklim dan kondisi tanah setempat saat ini. Sehingga, perlu selalu
mengikuti perkembangan pengetahuan mengenai jenis-jenis tanaman yang
cocok untuk keperluan revegetasi lokasi bekas tambang. Perlu konsultasi
dengan instansi yang berwenang di dalam pemilihan jenis tanaman yang
cocok.
2. Persiapan Lapangan
Pada umumnya persiapan lapangan meliputi pekerjaan pembersihan
lahan, pengolahan tanah dan kegiatan perbaikan tanah. Kegiatan tersebut
sangat penting agar keberhasilan tanaman dapat tercapai.
a. Pembersihan lahan
Kegiatan pembersihan lahan merupakan salah satu penentu
dalam persiapan lapangan. Kegiatan ini antara lain : pembersihan lahan
dari tanaman pengganggu (alang-alang, liliana, dll), dengan tujuan
agar tanaman pokok dapat tumbuh baik tanpa ada persaingan dengan
tanaman pengganggu dalam hal mendapatkan unsur hara, sinat
matahari, dll.
b. Pengolahan lahan
Tanah diolah supaya gembur agar perakaran tanaman dapat
dengan mudah menembus tanah dan mendapatkan unsur hara yang
diperlukan dengan baik, diharapkan pertumbuhan tanaman sesuai
dengan yang diinginkan.
c. Perbaikan tanah
Kualitas tanah yang kurang bagus bagi pertumbuhan tanaman
perlu mendapat perhatian khusus melalui perbaikan tanah seperti
penggunaan gypsum, kapur, mulsa, pupuk (organik maupun

23
anorganik). Dengan perlakuan tersebut diharapkan dapat memperbaiki
persyaratan tumbu tanaman.
3. Pemeliharaan
Tingkat keberhasilan dari semua metode penanaman akan
berkurang bila tidak dilakukan pemeliharaan yang baik. Pemeliharaan
tanaman dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tanaman sedemikian
rupa sehingga dapat diwujudkan keadaan optimum bagi pertumbuhan
tanaman. Pemeliharaan tanaman pada tahun pertama yang dilakukan yaitu
kegiatan Penyulaman, pengendalian gulma, penyiangan, pendangiran, dan
pemupukan. Sedangkan pada tahun kedua dilakukan pberupa penyiangan,
pengendalian gulma, pendangiran dan pemupukan.
3.6 Kriteria Hasil Kegiatan Reklamasi
Untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan kegiatan reklamasi lahan bekas
tambang, perlu mengacu pada kriteria sebagai berikut :
3.6.1 Penataan Lahan
1. Pengisian kembalian lahan bekas tambang
a. Luas areal yang diisi kembali (ha), > 90 % dari areal yang seharusnya
diisi.

b. Jumlah bahan/material pengisi (m3), > 90 % dari jumlah tanah


penututup yang digali.

2. Pengaturan permukaan lahan (regrading)


a. Luas areal yang diatur (ha), > 90 % dari luas areal yang ditimbun
kembali.
b. Kemiringan lereng (%), < 8 % untuk tanaman pangan.
c. Tinggi, lebar dan panjang ters (m), disesuaikan dengan bentuk teras
dan kemiringan lereng.
3. Penaburan/penempatan tanah pucuk
a. Luas daerah yang diatur (ha), > 90 % dari areal yang harus diisi.

24
b. Jumlah tanah pucuk yang yang ditabur, > 90 % dari tanah pucuk yang
digali dan disimpan.
c. Ketebalan tanah pucuk (cm), > 80 % dari ketebalan tanah pucuk
semula pada areal tersebut.
d. Perbaikan kualitas tanah melalui pengapuran (ton/ha), sehingga pH
tanah menjadi 5,0 7,0 dan perbaikan struktur tanah, tanah menjadi
gembur.
3.6.2 Pengendalian Erosi Dan Pengelolaan Tambang
1. Pembuatan bangunan pengendali erosi, jenis, jumlah, dan kualitasnya sesuai
dengan rencana.
2. Pengelolaan limbah, pelaksanaannya sesuai dengan rencana.

25
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Persiapan Reklamasi


4.1.1 Persiapan Lahan
Dalam melaksanakan periapan lahan pada reklamasi bekas tambang
batukapur dilakukan kegiatan berikut,
1. Sebelum persiapan lahan operator harus membuat tanggul pembatas pada
area kerja agar alat berat tidak tergelincir di area kerja yang licin atau
curam akibat hujan.
2. Operator harus menutup kabin agar terhindar dari paparan debu dan
terlempar keluar bila alat berat tergelincir.
3. Pengawas menghentikan kegiatan bila kondisi medan licin akibat hujan.
4. Excavator menggali tanah dan membongkar batuan bila Bulldozer tidak
mampu.
5. PC Breaker membuat retakan membuat retakan tanam ubang apabila
Excavator tidak mampu membongkar lapisan atau lubang tanam yang
keras.
6. Bulldozer menggusur tumpukan tanah dan hasil pembongkaran kemudian
meratakan secara keseluruhan permukaan tanah.

4.1.2 Persiapan Pembibitan


Pembibitan pada reklamasi lahan bekas tambang batu kapur dilakukan
pada lokasi pembibitan dengan Panjang 35 meter dan Lebar 10 meter, dan
dikelilingi pagar jaring kain dengan tinggi 1 meter, yang bertujuan untuk
melindungi bibit tanaman dari hewan atau mahluk lain yang dapat
mengganggu pertumbuhan bibit tanaman.

26
Gambar 4.1: Lokasi pembibtan
Sumber: Foto Lapangan
Adapun persiapan bibit tanaman dilakukan sebagai berikut,
1. Mempersiapkan media bibit yang terdiri dari campuran topsoil yang
sudah diayak dengan kompos dengan perbandingan 5:1. Tenaga kerja
diharuskan memakai sarung tangan dan masker selama kontak langsung
dengan kompos agar tidak terjadi gangguan kesehatan, serta terhindar
dari resiko tergores benda tajam seperti sekop.
3
2. Memasukkan media bibit kedalam polybag sebanyak 4 ketinggian

polybag.
3. Menyusun polybag yang telah terisi media bibit pada lokasi pembibitan
dengan pola 10 x 10 bibit.
4.1.3 Pemantauan Dan Pemeliharaan Bibit Tanaman
Pemantauan dan pemeliharaan bibit tanaman perlu diperhatikan agar
bibit dapat berkembang dan bertumbuh dengan baik. Pemantauan dan
pemeliharaan bibit tanaman pada lahan bekas tambang batu kapur PT.
Semen Tonasa dilakukan pada lokasi pembibitan dengan panjang 35 meter
dan lebar 10 meter. Pada lokasi pembibitan dipasangi pagar jaring dengan

27
tinggi 1 meter. Pagar tersebut bertujuan untuk mencegah masuknya hewan
maupun mahluk lain yang dapat mengakibatkan rusaknya bibit tanaman.
Tanaman yang dibibitkan selain digunakan untuk penanaman pada lokasi
lahan bekas tambang batu kapur Tonasa II melainkan digunakan juga pada
lokasi bekas tambang clay dan lahan pasca tambang Tonasa I.
Kegiatan pemantauan dan pemeliharaan bibit tanaman antara lain,
1. Penyiraman yang dilakukan pada pagi dan sore hari.
2. Pembersihan lahan dari sampah maupun daun yang berjatuhan.
a. Lahan didalam lokasi pembibitan dibersihan menggunakan sapu.
b. Sampah dan daun yang jatuh diambil lalu dibuang ke tempat
sampah.
3. Pembersihan dari rumput liar.
a. Mencabut tanaman yang berada dalam 1 meter dari pangkal batang.
b. Menyngkirkan hasil penyiangan keluar jalur yang disiangi.
c. Membalik piringan tanaman (tanah disekitar tanaman selebar tajuk
tanaman).
4. Pemupukan organik pada tiap tanaman.
5. Penyulaman terhadap bibit tanaman yang mati.
a. Meletakkan bibit disamping lubang
b. Mengganti atau menyulam tanaman yang mati .
c. Mengisi kembali tanah galian dengan tanah penutup dan dengan
campuran pupuk kompos.
d. Membuka atau merobek kantong bibit pada bagian bawah.
e. Tempatkan bibit ditengah-tengah lubang tanam.

28
Gambar 4.2: Pemeliharaan bibit tanaman
Sumber: Foto Lapangan
4.2 Pelaksanaan Reklamasi
Untuk menunjang keberhasilan reklamasi pasca tambang batu kapur maka
dilakukan kegiatan Pengukuran & persiapan lokasi, Pembuatan lubang tanam,
Pembibitan, Penanaman cover crop, Penanaman pioneer (sesbania cerisea),
Penanaman tanaman inti, Pemeliharaan tanaman, dan Evaluasi pertumbuhan.

Gambar 4.3: Flow chart kegiatan reklamasi batukapur

29
Sumber: PT. Semen Tonasa & Foto Lapangan

4.2.1 Persiapan Lokasi


Persiapan lokasi bertujuan untuk menyiapkan lokasi yang akan
dilakukan reklamasi dengan kegiatan sebagai berikut :
1. Pengukuran lokasi yang akan direklamasi.
2. Pembersihan lokasi dengan bulldozer yang bertujuan untuk membentuk
lokasi, membersihkan semak-semak sehingga memudahkan pembuatan
lubang tanam.
3. Kemudian setelah lokasi dibentuk dan dibersihkan maka dilakukan
pengeboran lubang tanam.
4. Setelah itu dilakuakan pembreakeran lubang tanam.

Gambar 4.4: Pemeliharaan bibit tanaman


Sumber: PT. Semen Tonasa
4.2.2 Pembuatan Lubang Tanam
1. Lokasi yang sudah bersih diberi tanda dengan plastik warna sesuai jarak
yang diinginkan.
2. Selanjutnya dilakukan pemboran Hydraulic Drill dengan diameter 4
inchi dengan kedalaman 50 cm.
30
3. Kemudian lubang bor tersebut dibreaker menggunakan Hydraulic Drill,
agar sekeliling lubang bor menjadi retak dan memudahkan penjalaran
akar.
4. Selanjutnya sekeliling lokasi reklamasi dipagar dengan kawat berduri
untuk mencegah bibit dimakan ternak sapi maupun kambing.
5. Setelah tahap pembuatan lubang telah selesai kemudian dilakukan
penanaman.

4.2.3 Pembibitan
Pembibitan atau persemaian pada reklamasi lahan bekas tambang batu
kapur dilakukan pada lokasi pembibitan dengan Panjang 35 meter dan Lebar
10 meter, dan dikelilingi pagar jaring kain dengan tinggi 1 meter, yang
bertujuan untuk melindungi bibit tanaman dari hewan atau mahluk lain yang
dapat mengganggu pertumbuhan bibit tanaman. Hingga Februari 2017
terdapat 9 jenis tanaman yang bibitkan yaitu:
1. Mahoni (Swietenia Mahoni)
2. Flamboyan (Delunix Regin)
3. Tanjung (Mimusops Elengi)
4. Pulai (Alstonia Scholaris)
5. Asam Jawa (Tamarindus indica)
6. Sengon (Afbozia Fulcataria)
7. Rumput Vetiver Zizanoicles
8. Trambesi (Samanea Saman)
9. Biti (Vitex Cafassus)

31
Gambar 4.5: Pembibitan
Sumber: PT. Semen Tonasa

4.2.4 Penanaman Cover Crop


Tanaman penutup tanah akan mempengaruhi terjadinya erosi.
Tanaman penutup tanah menghalangi air hujan agar tidak jatuh langsung ke
permukaan tanah sehingga kekuatan untuk menghancurkan tanah
berkurang. Jemis tanaman cover crop tersebut adalah Mucuna &
Centrosema
Penanaman dilakukan dengan jarak 1-2 meter untuk menghasilkan
kerapatan dan rimbunnya tanaman penutup tanah dengan baik. Pembuatan
lubang tanam tidak terlalu jauh dalam yaitu 0,5 m dan diameter 4 inchi.
Kemudian rumput ditanam dan diberi pupuk organik secukupnya, serta
ditutup dengan tanah dan dipadatkan.
Pada lokasi reklamasi bekas tambang batukapur dilakukan
pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman cover crop dengan memasang
pipa-pipa untuk mengetahui pertumbuhan batukapur. Penanaman cover
crop bertujuan untuk :
1. Mendinginkan suhu permukaan quarry
2. Meningkatkan kandungan bahan organik tanah
3. Meningkatkan populasi mikro organisme tanah
32
4. Menahan unsur hara agar tidak terbawa air pada saat musim hujan

Gambar 4.6: Pemantauan pertumbuhan tanaman cover crop


Sumber: Foto Lapangan
4.2.5 Pengajiran
Pengajiran adalah pemasangan patok tanaman sebelum melakukan
penanaman sehingga terdapat jarak antar tanaman. Pada musim kemarau
kegiatan pengajiran lebih banyak dilakukan, mengingat pada saat musim
hujan kegiatan penanaman lebih diutamakan. Ajir (Patok) terbuat dari
potongan bambu dengan panjang 30cm sampai 40cm dan lebar 0,5cm
sampai 1cm, Pemasangan ajir dilakukan dengan interval 3x3 meter. Ada
beberapa keuntungan pengajiran yaitu,
1. Mengetahui luasan lahan.
2. Mengetahui biaya yang dikeluarkan.

3. Mengetahui jumlah tanaman yang akan ditanam.

33
Gambar 4.7: Pengajiran
Sumber: Foto Lapangan
4.2.6 Penanaman Tanaman Pioneer
Tanaman pioneer umurnya sekitar 1,5 tahun dengan ketinggian sekitar
2 meter sampai 3 meter, selanjutnya akan mati secara bertahap di lokasi
reklamasi. Penanaman tanaman pioneer bertujuan untuk :
1. Memperluas daerah tempat hidup mikro organisme (rhizosfer)
2. Sebagai pelindung tanaman inti dari panas matahari
3. Meningkatkan unsur hara & kualitas biologi tanah

34
Gambar 4.8: Perkembangan tanaman pioneer (Sesbania Sericia)
Sumber: PT.Semen Tonasa
4.2.7 Penanaman Tanaman Inti
Tananam inti merupakan tanaman akhir dari proses reklamasi.
Tanaman inti merupakan tanaman keras dan berumur panjang, dan
diharapkan memenuhi kriteria yang disyaratkan pada amdal terpadu PT.
Semen tonasa. Tanaman inti yang ditanam antara lain :
1. Bitti (Vitex Cofassus )
2. Jati Unggul (Guazuma Ulmifolia Lamk )
3. Sengon (Afbazia Falcataria)
4. Ketapang (Terminalia Catappa)
5. Mahoni (Swietenia Mahagoni Jacq)
6. Turi (Sesbania Grandiflora Pers)
7. Trembesi (Samanea Saman)
8. Asam Jawa (Tamarindus Indica)
9. Angsana (Pterocarpus Indica Willd)

35
Gambar 4.9: Beberapa jenis tanaman inti pada bekas tambang batukapur
Sumber: Foto Lapangan

4.2.8 Pemeliharaan Tanaman


Pemeliharaan tanaman dilakukan dalam beberapa tahap yaitu,
1. Penyiraman yang dilakukan pada pagi dan sore hari.
2. Pembersihan lahan dari sampah maupun daun yang berjatuhan.
a. Lahan didalam lokasi pembibitan dibersihan menggunakan sapu.
b. Sampah dan daun yang jatuh diambil lalu dibuang ke tempat
sampah.
3. Pembersihan dari rumput liar.
a. Mencabut tanaman yang berada dalam 1 meter dari pangkal batang.
b. Menyngkirkan hasil penyiangan keluar jalur yang disiangi.
c. Membalik piringan tanaman (tanah disekitar tanaman selebar tajuk
tanaman).
4. Pemupukan organik pada tiap tanaman.
a. Menggali paritan melingkari batang tanaman ditempat sejauh
lingkaran terluar dari tajuk daun dengan ukuran 8cm dalam dan
10cm lebar atau sedalam dan selebar mata cangkul.
b. Mencampur kompos dengan tanah galian didalam paritan.
c. Menutup kembali parit dengan tanah galian dan padatkan.

36
5. Penyulaman terhadap bibit tanaman yang mati.
a. Meletakkan bibit disamping lubang
b. Mengganti atau menyulam tanaman yang mati .
c. Mengisi kembali tanah galian dengan tanah penutup dan dengan
campuran pupuk kompos.
d. Membuka atau merobek kantong bibit pada bagian bawah.
e. Tempatkan bibit ditengah-tengah lubang tanam.
4.2.9 Evaluasi Pertumbuhan
Evaluasi pertumbuhan untuk melihat perkembangan dari berbagai jenis
tanaman yang ditanam. Kegiatan ini dilakukan dengan pengukuran diameter
pohon, tinggi pohon dan perkembangan secara visual.
Evaluasi pertumbuhan yang dilakukan peneliti yaitu pada lokasi
reklamasi bekas tambang batukapur yang ditanam pada Januari 2016.
Peneliti membagi daerah tersebut menjadi 2 (dua) blok, dimana Blok I
terdapat total 440 pohon tanaman dengan dua jenis tanaman yaitu Sengon
(193 pohon) dan Bitti (189 Pohon) dengan tanaman mati sebanyak 58 pohon.
Dengan presentase kehidupan tanaman pada Blok I mencapai 86,81% (lihat
dilampiran 1). Tinggi maksimal tanaman pada blok I mencapai 500cm
dengan diameter maksimal mencapai 6cm, dan tinggi rata-rata tanaman pada
blok I mencapai 65,61cm dengan diameter rata-rata mencapai 1,12cm (lihat
dilampiran 1).

37
13%

43% BITI
SENGON
MATI
44%

Gambar 4.10: Diagram presentase hidup tanaman reklamasi tahun 2016 Blok I

Sementara pada Blok II terdapat total 257 pohon tanaman dengan


dua jenis tanaman yaitu Sengon sebanyak 188 pohon dan Bitti sebanyak 2
Pohon dengan tanaman mati sebanyak 67 pohon. Dengan presentase
kehidupan tanaman pada Blok II mencapai 73,92% (lihat dilampiran 2).
Tinggi maksimal tanaman pada Blok II mencapai 218 cm dengan
diameter maksimal mencapai 5 cm, dan tinggi rata-rata tanaman pada
blok I mencapai 58,35cm dengan diameter rata-rata mencapai 0,97cm
(lihat dilampiran 2).

38
1%
26%
BITI
SENGON
MATI

73%

Gambar 4.11: Diagram presentase hidup tanaman reklamasi Tahun 2016 Blok II

500
450
400
350
300
250
200
150
100
50
0
BITI SENGON MATI % HIDUP TOTAL POHON

Gambar 4.12: Perbandingan tingkat pertumbuhan pada Blok I dan Blok II

Keberhasilan suatu Reklamasi lahan bekas tambang pada PT. Semen Tonasa dapat
dilihat dari pertumbuhan yang terjadi pada lahan reklamasi semenjak dilakukan
reklamasi.

39
Gambar 4.13: Rona awal (sebelum reklamasi) bekas tambang batukapur
(April 2009)
Sumber: PT. Semen Tonasa

Gambar 4.14: Kondisi sekarang (setelah reklamasi) bekas tambang batukapur


(Februari 2017)
Sumber: Foto Lapangan

4.3 Manfaat Reklamasi


40
Dari kegiatan relamasi pasca tambang, perusahaan memperoleh manfaat, baik
secara langsung maupun tidak langsung, antara lain :
4.3.1 Kewajiban reklamasi pasca tambang bagi pemegang iup terpenuhi
4.3.2 Tanaman reklamasi berfungsi sebagai green barrier
4.3.3 Meningkatkan keaneka ragaman hayati (flora & fauna) untuk mendukung
pencapaian proper hijau PT. Semen Tonasa.
4.3.4 Pohon yang ditanam dapat dimanfaatkan bila perusahaan membutuhkan.
4.3.5 Meningkatnya image perusahaan menjadi perusahaan ramah lingkungan.
Pada Reklamasi lahan bekas tambang batu kapur terjadi penambahan
pohon dari sebelumnya 6 jenis menjadi 15 jenis.
Tabel 4.1: Penambahan jenis pohon saat dilakukan reklamsi

41
No Jenis pohon (sebelum) No Jenis pohon (sesudah)
1 Paku-Pakuan (Pterydophyta) 1 Paku-Pakuan (Pterydophyta)
2 Rumput Teki (Cyperus 2 Rumput Teki (Cyperus Rotundus
Rotundus L) L)
3 Putri Malu (Minosa Pudica) 3 Putri Malu (Minosa Pudica)
4 Akasia (Acasia 4 Akasia (Acasia auricoliformis)
auricoliformis)
5 Kersen (Muntingia calabura 5 Kersen (Muntingia calabura L)
L)
6 Pule (Alstonia macrophylla 6 Pule (Alstonia macrophylla
wall ) wall)
7 Bitti (Vitex cofassus )
8 Jati Unggul (Guazuma ulmifolia
lamk )
9 Sengon (Afbazia Falcataria)
10 Ketapang (Terminalia catappa)
11 Mahoni (Swietenia mahagoni
jacq)
12 Turi (Sesbania grandiflora pers)
13 Trembesi (Samanea Saman)
14 Asam Jawa (Tamarindus indica)
15 Angsana (Pterocarpus indica
willd)
Penambahan ragam flora terjadi akibat penanaman berbagai pohon eksitu pada lahan
reklamasi. Selain ragam flora terjadi pula penambahan populasi burung akibat adanya
sumber makanan dari berbagai pohon yang ditanam saat reklamasi.
4.4 Faktor Pendukung Reklamasi
4.4.1 Alat yang digunakan
Keteknikan digunakan dalam kegiatan reklamasi ialah pengupasan
lahan, perataan lahan, penataan lahan, pengamanan lereng dll. Kegiatan
42
tersebut akan menggunakan bantuan alat mekanis berupa Mesin Bor
Furukawa HCR 1500-EWW, PC-200 Breaker, Bulldozer.
4.4.2 Sifat Fisik dan Kimia Lahan
Kegiatan penambangan menyebabkan perubahan fisik dan kimia
berubah serta hilangnya kesuburan tanah akibat dari pembersihan lahan dan
pengupasan lapisan tanah penutup. Kegiatan pembersihan lahan vegetasi dan
pengupasan tanah bagian atas sebelum tambang dibuka memberikan dampak
terhadap kesuburan media tumbuh tanaman. Pada lahan yang belum
ditambang vegetasi tumbuh pada lahan disebut tanah. Bedrock bukan
merupakan bahan dasar tanah melaikan bahan induk tanah. Pengendalian
yang dilakukan untuk menjaga lahan bekas tambang agar tidak tandus adalah
dengan melakukan manajemen lapisan penutup. Tanah pucuk dan
overburden dipindahkan dan ditumpuk pada suatu tempat, pada saat kegiatan
penambangan dilakukan. Jika deposit batu gamping sudah habis, tanah
pucuk dan overburden dimasukkan kembali sesuai urutannya mulai lapisan
terbawah sampai tanah pucuk. Lahan yang telah tertata dengan pengisian
kembali overburden dan tanah pucuk, siap untuk ditanami kembali
(revegetasi). Tujuannya adalah untuk mencegah erosi dan mengembalikan
lahan bekas tambang untuk peruntukannya
Sifat fisik lahan yang berubah tersebut diperbaiki dengan cara
diratakkan dengan menggunakan bulldozer, sedangkan sifat kimia lahan
diperbaiki dengan menggunakan cara pengembalian unsur hara melalui
topsoil dan melalui pemberian pupuk.
4.4.3 Luas Lahan Reklamasi
Luas lahan reklamasi bekas tambang batukapur PT. Semen Tonasa yaitu:
1. Tahun 2010 = Luas 0,75 Ha
2. Tahun 2011 = Luas 0,5 Ha
3. Tahun 2012 = Luas 1 Ha
4. Tahun 2013 = Luas 1,4 Ha
5. Tahun 2014 = Luas 0,9 Ha
6. Tahun 2015 = Luas 1 Ha
43
7. Tahun 2016 = Luas 0,7 Ha

Gambar 4.15: Peta rencana reklamasi lahan bekas tambang batukapur tahun 2017-2021
Sumber: PT. Semen Tonasa

44
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dilapangan dapat disimpulkan
bahwa:
5.1.1 Tahapan kegiatan reklamasi yang dilakukan meliputi kegiatan persiapan
reklamasi dan pelaksanaan reklamasi.
5.1.2 Terjadi perubahan fisik maupun kimia lahan pada daerah reklamasi
tambang batu kapur, dimana perubahan fisik lahan diperbaiki
menggunakan alat-alat mekanis sekaligus sebagai alat yang digunakan
dalam kegiatan reklamasi, antara lain:
1. Mesin Bor Furukawa HCR 1500-EWW
2. PC-200 Breaker
3. Bulldozer
Sedangkan perubahan kimia lahan diperbaiki dengan cara
pemberian unsur hara dari topsoil dan pemberian pupuk.
5.1.3 Kegiatan persiapan reklamasi meliputi,
1. Persiapan lahan
2. Persiapan pembibitan
3. Pemantauan dan pemeliharaan bibit tanaman.
5.1.4 Kegiatan pelaksanaan reklamasi meliputi,
1. Persiapan lokasi
2. Pembuatan lubang tanam
3. Pembibitan
4. Penanaman cover crop
5. Pengajiran
6. Penanaman tanaman pioneer
7. Penanaman tanaman inti
45
8. Pemeliharaan tanaman
9. Evaluasi pertumbuhan tanaman.
5.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada reklamasi lahan bekas tambang
batukapur pada PT. Semen Tonasa saran yang diberikan peneliti antara lain:
5.2.1 Perlu dilakukan penggantian terhadap tanaman yang telah mati dan diganti
dengan tanaman yang baru.
5.2.2 Perlu dilakukan pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman pada musim-
musim tertentu yang ekstrim, terutama pada musim hujan yang dapat
mengakibatkan pohon yang tumbang maupun tanaman yang mati.
5.2.3 Diberikan rambu-rambu atau tanda larangan menginjak tumbuhan maupun
lahan disekitar lokasi reklamasi agar tanaman yang masih baru ditanam dan
dalam proses pertumbuhan tidak mati karena diinjak.

46
DAFTAR PUSTAKA

Graha, Doddy Setia. 1987. Batuan dan Mineral. Nova: Bandung.


Kementrian ESDM. 2004. Tata Cara Perhitungan Jaminan Reklamasi. Diambil dari:
https://www.scribd.com/doc/282898951/Tata-Cara-Perhitungan-Jaminan-
Reklamasi (18 Februari 2017)
Macfarlane, Ian. 2006. Penutupan dan Penyelesaian Tambang. Kementerian
Perindustrian, Pariwisata dan Sumberdaya: Australia.
Partanto, P. 1992. Penanganan Masalah Lingkungan Dalam Industri Pertambangan
Bahan Galian Industri. Simposium UPN Veteran: Yogyakarta.

47
48