Anda di halaman 1dari 3

Devina Cahyani Wangsa

Scherlly Reviana

Tugas dr. Suyanto Sidik, Sp. PD

1. Plasmacytoma

Plasmacytoma adalah keganasan sel pasma yang memiliki karakteristik proliferasi otonom
dari sel plasma. Keganasan ini dapat bermanifestasi sebagai myeloma diffus dengan
keikutsertaan sistemik (plasma cel myeloma atau multiple myeloma), monoclonal
gammopathy of undermined significance (MGUS) atau sebagai varian dari plasma sel
myeloma seperti indolent myeloma, smoldering myeloma, osteosclerotic myeloma, plasma
cell leukimia dan non secretory myeloma. Multiple myeloma adalah tumor ganas sel pasma
yang mensekresikan paraprotein monoklonal. Angka kejadian MM sebesar 10% dari
keganasan hematologi, dengan insiden 5,5 kasus per 100.000 populasi. Usia median
diagnosis pada usia 70 tahun dan hanya 3,4% dari kasus didiagnosis antara usia 35-44 tahun.

Extramedullary Plasmacytoma

Plasmacytoma adalah massa soliter yang berasal dari neoplastic monoclonal sel plasma bisa
terdapat di tulang atau jaringan lunak. Ada beberapa jenis plasmacytoma yaitu plasmacytoma
extramedullar atau plasmasitoma jaringan lunak, plasmasitoma tulang soliter, bentuk
multifocal dari multiple myeloma, multiple myeloma, plasmablastic sarcoma. Untuk lebih
simpel, dibedakan menjadi 2 berdasarkan lokasinya yaitu plasmacytoma of skeletal system
(SBP) dan extramedullary plasmacytoma (EMP).

Untuk mengidentifikasi SBP, ada beberapa kriteria dari beberapa penulis. Kriteria tersebut
termasuk pasien yang memiliki lebih dari satu lesi dan peningkatan level dari protein
myeloma, tidak termasuk pasien yang progress penyakitnya dalam kurun waktu 2 tahun atau
protein abnormal yang persisten setelah radioterapi. Dengan pengunaan MRI, flow
cytometry, PCR, kriteria yang diterima adalah :

- Satu area dari destruksi tulang karena clonal plasma cells


- Sel infiltrasi plasma sumsum tulang tidak 5% dari semua total nucleated cells
- Tidak adanya lesi osteolitik tulang atau jaringan lainnya (tidak ada evidence
myeloma)
- Tidak ada anemia, hiperkalsemia, atau renal impairment akibat myeloma
- Konsentrasi serum atau protein monoclonal urin rendah
- Preserved level dari uninvolved immunoglobulins

Kriteria diagnosis dari extramedullary plasmacytoma :

- Biopsi jaringan menunjukan histologi sel plasma monoclonal


- Sel infiltrasi plasma sumsum tulang tidak 5% dari semua nucleated cells
- Tidak adanya lesi osteolitik tulang atau jaringan lainnya (tidak ada evidence
myeloma)
- Tidak ada hiperkalsemia atau gagal ginjal
- Konsentrasi M protein serum yang rendah

Plasmacytoma bisa timbul dibagian tubuh mana saja. SBP timbul dari sel plasma yang
terletak di sumsum tulang, sedangkap EMP timbul dari sel plasma yang terletak di
permukaan mukosa. Keduanya menunjukan grup yang berbeda dari neoplasma berdasarkan
lokasi, progress tumor dan survival rate.

SBP menyerang <5% pasien dengan kelainan sel plasma sedangkan EMP 3% dari total
neoplasma sel plasma. SBP menjadi multiple myeloma pada 50-60% pasien dengan survival
time rata-rata 10 tahun sedangkan EMP progress menjadi multiple myeloma pada 11-30%
pasien dalam 10 tahun dengan survival rate 70%. Ratio pria : wanita pada SBP adalah 2:1
sedangkan pasien dengan EMP kebanyakan laki-laki. Rata-rata usia pasien yang terkena
SBP dan EMP adalah 55 tahun.

SBP dapat menyerang tulang dimana saja tetapi memiliki predisposisi sumsum tulang merah
termasuk tulang axial. Pada spinal terdapat 34-72% kasus. Yang paling sering terkena adalah
vetebrae thorakal diikuti oleh lumbal, sakral dan servikal. Tulang costae, sternum, klavikula
dan scapula ada 20% kasus. Temuan klinis yang didapat adalah massa yang menyebabkan
sakit, fraktur patologis, spinal cord compression syndrome. Pasien dengan SBP bisa terdapat
gejala polineuropatu perifer.

EMP dapat terkena di bagian mana saja tetapi 80-90% dari tumor di area leher dan kepala,
khususnya di traktus digestivus. 80% kasus sinus paranasal, faring, cavum nasi, dan mukosa
oral. Massa di area ini biasanya ditemukan dengan kompresi atau invasidi struktur
sekitarnya. Pasien dengan tumor di basis branii bisa tampak kelumpuhan otot cranialis. Pada
EMP, kemungkinan etiologi dikaitkan dengan stimulasi kronik dari inhalasi iritan atau infeksi
virus karena persentasi >80% di mukosa traktus pernafasan dan digestivus.

Pada biopsi lesi SBP ditemukan infiltrasi ke tulang oleh sel plasma monoklonal dan juga pada
biopsi jaringan lunak EMP menunjukan infiltrasi oleh sel plasma monoklonal.

Plasmasitoma jaringan lunak dibagi menjadi 3 stadium :

Stage I : terbatas pada extramedullary

Stage II : termasuk limfa regional

Stage III : Metastasis multiple


2. TIBC N SI meningkat

Hai terlibat dalam metabolisme besi, meliputi absorpsi dan penyimpanan besi. Zat besi
merupakan unsur yang penting untuk replikasi seluruh organisme, termasuk virus. Sementara
itu sel hati yang mengandung virus cenderung untuk mengakumulasi besi. Pada hepatitis
virus kronis didapatkan kadar besi serum, saturasu transferin dan feritin meningkat. Pada
hepatitis virus C nilai ketiga variabel diatas lebih tinggi dari hepatitis virus B, bahkan disertai
penimbunan besi yang berat di hati. Penimbunan besi pada hepatitis virus C akan
memperberat penyakit, ini dikarenakan besi meningkatkan kerusakan radikal bebas pada
hepatosit yang telah rusak sebelumnya akibat infeksi virus hepatitis C. Selain itu, besi jugs
mengganggu respons imun penjamu sehingga menyebabkan perjalanan penyakit yang lebih
berat.