Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum PMP

UJI FORMALIN DAN BORAKS

( TAHU, BAKSO DAN IKAN KERING)

DISUSUN OLEH :

WAODE DINNY NARISWARI (P00313013029)

SISMAYANTI LASAIMA (P00313013028)

NOVA RESTI ARPA (P00313013022)

DIN RATNO KAMALUDIN (P00313013008)

TK III

PRODI DIV

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI

JURUSAN GIZI D IV

2016
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sekarang ini banyak bahan kimia dan berbagai campuran lain yang digunakan oleh
manusia untuk membuat makanan bahkan dijadikan pengawet pada makanan. Dengan
campuran bahan kimia, makanan akan terlihat lebih menarik dan menghasilkan rasa yang
lebih enak dan dapat awet dalam waktu yang sangat lama. Sehingga masyarakat lebih
tertarik untuk membeli dan mengkonsumsinya. Perkembangan produk pengawet saat ini
hanya mungkin terjadi karena semakin tingginya kebutuhan masyarakat perkotaan
terhadap berbagai jenis makanan yang praktis dan awet.
Pada awalnya, masyarakat belum menyadari akan bahaya yang ditimbulkan oleh
bahan kimia tersebut, akan tetapi jika bahan tersebut dikonsumsi terus-menerus akan
mengakibatkan terhadap masyarakat itu sendiri.kerugian yang ditimbulkan tidak hanya
pada fisiknya saja, akan tetapi juga pada psikisnya apalagi untuk anak yang mengalami
masa pertumbuhan.
Begitu banyak masyarakat yang tercemar oleh bahan pengawet boraks atau formalin
yang sangat membahayakan ini, hanya dengan mendapatkan keuntungan yang banyak
tapi tidak memperdulikan masyarakat yang mengkonsumsi makanan berpengawet
tersebut.
Sejak pertengahan abad ke-20 ini, peranan bahan tambahan pangan (BTP)
khususnya bahan pengawet menjadi semakin penting sejalan dengan kemajuan teknologi
produksi bahan tambahan pangan sintesis. Banyaknya bahan tambahan pangan dalam
bentuk lebih murni dan tersedia secara komersil dengan harga yang relative murah akan
mendorong meningkatnya pemakaian bahan tambahan pangan yang berarti
meningkatnya konsumsi bahan tersebut bagi setiap individu.
Dewasa ini, masyarakat bukan hanya tertarik pada aspek bahan pangan yang
memberikan cita rasa yang enak, tetapi lebih dari itu masyarakat telah tertarik pada hal-
hal yang dimana bahan pangan itu baik untuk dikonsumsi, baik dalam hal cita rasa
maupun komposisi penyusun dari makanan itu sendiri.
Penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) dalam proses produksi pangan perlu
diwaspadai bersama, baik oleh produsen maupun oleh konsumen. Dampak
penggunaannya dapat berupa positif maupun negative bagi masyarakat. Penyimpanan
dan penggunaannya akan membahayakan kita bersama, khususnya generasi muda
sebagai penerus pembangunan bangsa.
Saat ini, bahan tambahan pangan sulit untuk kita hindari karena kerap terdapat
dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi setiap hari, khususnya makanan
olahan. Apalagi penggunaan bahan tambahan makanan yang melebihi batas maksimum
penggunaan dan bahan tambahan kimia yang dilarang penggunaannya (berbahaya) yang
kerap menjadi isu hangat di masyarakat. Sama halnya seperti bahan pengawet lainnya,
bahan tambahan pangan seperti formalin dan boraks merupakan salah satu bahan yang
dilarang digunakan dalam makanan namun keberadaannya di sekitar kita sudah tidak
dapat dihindari karena begitu banyaknya produsen yang dengan sengaja menggunakan
formalin dan boraks dalam mengolah produksi pangan misalnya seperti produk olahan
daging yakni bakso maupun siomay, guna tujuan tertentu tanpa memperdulikan dampak
yang akan ditimbulkan.
Pangan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi manusia untuk bisa tetap
mempertahankan hidup. Tidak heran jika saat ini industri pangan di Indonesia menjadi
usaha yang banyak digeluti masyarakat. Kualitas makanan ditinjau dari segi
mikrobiologis, fisik dan kandungan gizinya. Namun kebanyakan masyarakat menjadikan
kualitas fisik makanan sebagai modal utama agar makanan banyak diminati konsumen.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan laporan ini yaitu :
1. Untuk mengetahui definisi dari boraks dan formalin
2. Untuk mengetahui adanya boraks pada bahan makanan khususnya bakso
3. Untuk mengetahui adanya formalin pada bahan makanan khususnya tahu dan ikan
kering
BAB III

METODE KERJA

A. Waktu dan Tempat


- Waktu : 11.00 13.00 WITA
- Tempat : Lab. Kimia
B. Alat dan Bahan
Alat :
- Uji Boraks :
Blender Gelas kimia
Timbangan Kaki tiga
Cawan petri Gegep kayu
Bunsen Pengalas
Alat penyangga Gelas ukur
Sendok Karet pengisap
Pipet ukur
- Uji Formalin :
Blender Erlenmeyer
Pastle dan mortal Corong
Piring kecil Pipet ukur
Gelas kimia Batang pengaduk
Sendok Rak tabung reaksi
Pipet tetes Pipet ukur
Tabung reaksi Karet pengisap


Bahan :
- Uji boraks :
Bakso
Suspensi CaO
Aquades
HCL pekat
Kertas kurkumin
Korek api
- Uji formalin :
Tahu
Ikan asin
Aquades
Kapas ( penyaring )
H2S04
Kertas aluminium foil

C. Prosedur kerja
Uji formalin ( tahu )
a. Persiapan sampel :
Timbang sampel tahu 50 gram
Larutkan kedalam 100 ml aquades
Saring, ambil filtrat (Uji secara kualitatif)
b. Prosedur kerja :
Masukkan 2 ml sampel tahu ke dalam tabung reaksi
Tambahkan 2 ml aquades
Tambahkan 2 ml H2SO4 pekat, masukkan lewat dinding secara pelan-pelan
Amati perubahan jika terbentuk cincin warn ungu maka positif mengandung
formalin

Uji Boraks ( ikan kering dan bakso )
a. Prosedur kerja uji boraks (ikan kering) :
Ikan kering di hancurkan
Timbang sampel 10 gram yang telah di haluskan, masukkan kedalam cawan
petrik
Tambahkan suspensi CaO sampai alkalis/tercampur
Uapkan/keringkan sampai kering, dikeringkan memakai lampu spritus sambil
diaduk sampai kering
Encerkan dengan aquades kurang lebih 15 ml
Kemudian dibawah keluar dan tambahkan 5 ml Hcl pekat
Celupkan kertas curcuman, kemudian keringkan
Amati, apabila kertas berwarna merah berarti mengandung boraks.

b. Prosedur kerja uji boraks ( bakso ) :
Ikan kering di hancurkan, menggunakan blender
Timbang sampel 10 gram yang telah di haluskan, masukkan kedalam cawan
petri
Tambahkan suspensi CaO sampai alkalis/tercampur
Uapkan/keringkan sampai kering, dikeringkan memakai lampu spritus sambil
diaduk sampai kering
Encerkan dengan aquades kurang lebih 15 ml
Kemudian dibawah keluar dan tambahkan 5 ml Hcl pekat
Celupkan kertas curcuman, kemudian keringkan
Amati, apabila kertas berwarna merah berarti mengandung boraks
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Tabel hasil pengamatan Uji Formalin dan Boraks

Boraks
Warna

H
S

K
B - u
n
i
n
g

K
B - u
n
i
n
g

Formalin
W
H a
S
r
n
a
P
T - u
t
i
h

b
e
n
i
n
g
P
T - u
t
i
h

b
e
n
i
n
g
C
I + i
n
c
i
n

u
n
g
u
C
I + i
n
c
i
n

u
n
g
u
P
T - u
t
i
h

b
e
n
i
n
g

B. Pembahasan
Pada pengujian kandungan formalin dan boraks pada bahan tahu, ikan kering
dan bakso, yang pertama dilakukan adalah menyiapkan sampel tahu sebanyak 50 gram
dan sampel ikan kering dan bakso sebanyak 10 gram. Pada saat kami melakukan
pengamatan pada uji formalin sampel tahu tidak ada di temukannya formalin pada
sampel tersebut dan begitupun pada uji boraks pada saat melakukan pengamatan pada
sampel ikan kering dan bakso tidak ditemukan adanya boraks dalam sampel, semua
sampel negatif tidak mengandung formalin dan boraks.
Dapat kita ketahui bahwa formalin merupakan senyawa kimia yang biasanya
digunakan sebagai antibakteri atau pembunuh kuman dalam berbagai keperluan jenis
industri, pengawet produk kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa dan
masih banyak lainnya. Namun, penggunaan formalin oleh sebagian orang disalah
gunakan dengan menggunakannya pada bahan pangan untuk mengawetkan makanan.
Seperti kita ketahui boraks adalah bahan kimia berbahaya lain yang sering
digunakan pada produk olahan pangan adalah boraks. Boraks merupakan garam natrium
Na2B4O7.10H2O serta asam borat yang tidak merupakan kategori bahan tambahan
pangan food grade, biasanya digunakan dalam industri nonpangan seperti industri kertas,
gelas, keramik, kayu, dan produk antiseptik toilet (Didinkaem, 2007). Di industri
farmasi, boraks digunakan sebagai ramuan bahan baku obat seperti bedak, larutan
kompres, obat oles mulut, semprot hidung, salep dan pencuci mata. Bahan industri
tersebut tidak boleh diminum karena beracun (Winarno, 1997).
1. Uji Boraks
Dari hasil pengamatan uji boraks pada bakso didapatkan hasil bahwa
bakso tidak mengandung boraks ditandai dengan nilai negatif, warna kuning keruh
dan tidak memiliki warna merah bata pada kertas curcumin. Hal ini menunjukan
bahwa ikan asin tersebut terbebas dari formalin, dan bakso tersebut layak
dikonsumsi.
2. Uji Formalin
a. Tahu
Dari hasil pengamatan uji formalin pada tahu didapatkan hasil bahwa
tahu tidak mengandung formalin ditandai dengan nilai negatif, warna putih
bening dan tidak memiliki cincin berwarna ungu. Hal ini menunjukan bahwa tahu
tersebut layak untuk dikonsumsi.
b. Ikan Kering
Dari hasiil pengamatan uji formalin pada ikan kering didapatkan hasil
bahwa ikan kering mengandung formalin ditandai dengan nilai positif karna
terdapat cincin ungu dan berwarna merah bata. Hal ini menunjukan bahwa ikan
asin tersebut tidak terbebas dari formalin, dan ikan asin tersebut tidak layak
dikonsumsi. Hal ini disebabkan karena kosentrasi formalin pada ikan asin.
Semakin pekat warna ungu pada sampel maka menunjukkan bahwa semakin
banyak pula konsentrasi formalin yang terapat pada sampel.



BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa :
1. Formalin dan boraks adalah suatu bahan kimia yang digunakan untuk mengawetkan
makanan agar dapat bertahan lama.
2. Uji formalin dengan sampel tahu : tidak mengandung formalin dengan warna tahu
(putih bening) dengan hasil uji negatif sedangkan uji formalin pada sampel ikan
kering : mengandung formalin yang ditandai dengan terdapatnya cincin warna ungu
dan ikan asin tersebut tidak layak untuk dikonsumsi.
3. Uji boraks dengan sampel bakso : tidak mengandung boraks dengan warna kuning,
dengan hasil uji negatif.
4. Jadi, semua sampel yang digunakan untuk praktek uji kimia bahan pangan (bakso,
ikan kerinh, dan tahun) menunjukan bahwa bahan pangan tersebut layak dikonsumsi.

B. Saran
Semoga hasil dari praktikum ini bisa dijadikkan bahan pertimbangan bagi
masyarakat yang mengkonsumsi dan juga bisa lebih berhati-hati dalam memilih
makanan yang akan dikonsumsi. Tentunya laporan ini masih banyak kekurangan dan
kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi
yang ada hubungannya dengan judul laporan ini.
Diharapkan agar para mahasiswa yang melakukan praktikum dapat
menjalankan proses prosedur kerja praktikum dengan benar. Diharapkan agar mahasiswa
tidak berisik di dalam ruangan jika sedang melakukan praktikum.


DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2006. Formalin bukan formalitas. Buletin CP. Edisi Januari 2006). Hal 1-
3.
Anonimous, 2012. Pengertian bakso dan cara membuat bakso, (online),
(http://www.geoklik.com/pengertian-bakso-dan-cara-membuat-bakso/290/. diakses
tanggal 22 April 2013).
Didinkaem, 2007. Bahan beracun lain dalam makanan. Pikiran Rakyat, 26 Januari

Gazette, P. 2003. Thailand crackdown on hazardous food additives, (online),


http://www.thaivisa.com/index.php? 514 &backPID=10&tt_news=291, diakses tanggal
19 Maret 2013.
Groliman, A. 1962. Pharmakology and theyrapetics, Edisi ke- 5, Lea dan Febiger,
Philadelphia.
Keju, 2012. Isi kandungan gizi bakso komposisi bakso. (online).
(http://keju.blogspot.com/1970/01/isi-kandungan-gizi-bakso-komposisi-nutrisi-bahan-
makanan.html. Diakses tanggal 24 April 2013).
Keju, 2012. Isi kandungan gizi siomay komposisi bakso. (online).
(http://keju.blogspot.com/1970/01/isi-kandungan-gizi-bakso-komposisi-nutrisi-bahan-
makanan.html. Diakses tanggal 27 April 2013).
Vepriati, 2007. Dasar teknologi pembuatan dendeng dan bakso. Universitas
Sebelasmaret. Surakarta.
Winarno dan Rahayu, 2004. Formalin, (online),
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22567/4/Chapter%20II. Pdf. diakses
pada Tanggal 24 April 2013).
Yellashakti, 2008. Uji nyala sampel boraks, (online).
(yellashakti.wordpress.com/2008/12/17/uji-nyala-sampel-boraks/, Diakses tanggal 25
April 2013).