Anda di halaman 1dari 30

Asuhan Keperawatan sindrom pascatrauma

Diagnosis Keperawatan

Diagnosis keperawatan yang dapat ditegakkan pada pasien ini adalah :

1. Sindrom pasca-trauma .Diagnosis keperawatan ini dapat ditetapkan jika pasien


sebagai korban,saksi atau penolong peristiwa traumatis yang telah mengalami gejala-
gejala sindrom pascatrauma (lihat data subjektif dan objektif).
2. Risiko sindrom pascatrauma .Diagnosis keperawatan ini dapat diterapkan pada pasien
yang menjadi korban,saksi,atau penolong peristiwa traumatis yang memiliki faktor-
faktor risiko,tetapi saat ini tanda dan gejala sindrom pascatrauma belum ada.

Tindakan Keperawatan

Tujuan tindakan keperawatan pada pasien sindrom pascatrauma :

1. Pasien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.


2. Pasien dapat mengenali peristiwa traumatis yang dialaminya.
3. Pasien dapat memahami hubungan antara peristiwa traumatis yang dialaminya dan
keadaan dirinya saat ini.
4. Pasien dapat mengidentifikasi cara-cara mengatasi sindrom pascatrauma yang
dialami.
5. Pasien dapat mengindentifikasi faktor pendukung yang dapat dijangkau.
6. Pasien memanfaatkan faktor pendukung.
7. Pasien dapat menggunakan obat-obatan yang diperlukan sesuai dengan aturan.

Tindakan yang dilakukkan meliputi :

1. Bina hubungan saling percaya dengan pasien


a. Perkenalkan diri.
b. Buat kontrak asuhan dengan pasien.
c. Jelaskan bahwa perawat akan membantu pasien.
d. Jelaskan bahwa perawat akan menjaga kerahasiaan informasi tentang pasien.
e. Dengarkan dengan penuh empati ungkapan perasaan pasien.
2. Diskusikan dengan pasien kejadian traumatis yang dialaminya.
a. Tanyakan kesiapan pasien untuk bercerita.Apabila pasien mengatakan belum
siap,perawat tidak boleh memaksa pasien untuk bercerita sampai kondisinya
betul-betul siap.
b. Diskusikan kejadian yang dialami oleh pasien: apa jenis kejadian,kapan
terjadinya,di mana kejadian tersebut berlangsung.
c. Berikan penghargaan (reinforcement) kepada pasien yang mampu menceritakan
kejadian traumatis yang dialaminya.
3. Diskusikan dengan pasien keadaan sebelum dan sesudah trauma
a. Kondisi pikiran,perasaan,fisik,sosial,dan spritual pasien sebelum terjadi peristiwa
traumatis.
b. Kondisi pikiran,perasaan,fisik,sosial dan spiritual pasien setelah terjadi peristiwa
traumatis.
c. Hubungan antar kondisi saat ini dengan peristiwa traumatis yang terjadi.
4. Diskusikan cara-cara mengatasi sindrom pascatrauma
a. Cara verbal (ventilasi perasaan), menceritakan pikiran,perasaan yang dialami
kepada orang yang dipercayai.
b. Cara fisik (napas dalam,senam,joging).
c. Cara sosial (sharing atau berbagi rasa dengan orang lain yang mengalami
peristiwa serupa melalui self-help group).
d. Cara spritual (berdoa ,berserah /tawakal ).

5. Diskusikan sumber bantuan yang ada di masyarakat yang dapat dimanfaatkan oleh
pasien
a. Bantu mengidentifikasi sumber bantuan yang dimiliki (keluarga terdekat).
b. Eksplorasi sistem pendukung yang tersedia.
c. Bantu berhubungan dengan sumber bantuan dan sistem pendukung untuk
memenuhi kebutuhan pasien.
d. Bantu membuat rangkuman aktivitas lama dan memulai aktivitas yang baru.
6. Bantu pasien menggunakan obat-obatan sesuai aturan (pada pasien yang mendapat
obat).

SP 1-Pasien.Mendiskusikan peristiwa trauma yang dialami oleh pasien,tanda dan gejala


sindrom yang terjadi,cara mengatasi,dan belajar satu cara mengatasi sindrom pascatrauma
(verbal).

Orientasi

Selamat pagi,Nama saya . . . Saya senang dipanggil . . . . Nama Ibu siapa ? Senang dipanggil
apa ?Saya perawat puskesmas . . . . Saya datang ke mari untuk merawat ibu.

Bagaimana perasaan Ibu setelah mengalami kejadian trauma yang lalu ?

Bagaimana kalau kita berbincang tentang apa yang ibu alami dan perasaan saat ini
berhubungan dengan kejadian tersebut ? Mau berapa lama kita berbincang bincang ?
Bagaimana kalau 30 menit ? Mau di mana ? Bagaimana kalau di ruang tamu ini saja ?
Kerja

Coba ibu ceritakan peristiwa yang ibu alami !

Apa yang ibu rasakan ? Apakah ada perasaan takut dan terbayang terus peristiwa itu ? (dapat
dikaji tanda dan gejala yang lain) Apa yang ibu pikirkan saat ini dengan adanya peristiwa itu?

Bagaimana kondisi fisik ibu setelah peristiwa itu ? Apakah ada nyeri lambung ,atau sukar
tidur atau sakit kepala ?

Bagaimana kehidupan beribadah Ibu setelah peristiwa itu terjadi ? Apakah jadi terganggu ?

Bagaimana hubungan ibu dengan anggota keluarga? Apakah ibu menghindari bertemu
dengan orang lain? Apakah ada perubahan interaksi dengan orang lain?

Bagus ibu ibu sudah mau mnceritakan peristiwa yang ibu alami dan apa yang ibu alami saat
ini.

Apa yang ibu lakukan untuk mengatasi rasa tidak nyaman selama ini?

Apakah cara itu bisa mengatasi masalah ibu?

Ada cara yang bisa ibu lakukan untuk mengatasi ketidaknyamanan yang ibu alami akibat
peristiwa trauma tersebut yaitu bercerita dengan orang lain ibu bisa pilih orang yang ibu rasa
nyaman bercerita. Silahkan ibu ceritakan segala pikiran dan perasaan yang ibu alami kepada
orang yang ibu percaya, seperti saat ini yang kita lakukan. Siapa orang yang dekat dan ibu
percaya? Bagaimana bu ? mau dicoba? Ya , bagus.

Terminasi

Bagaimana perasaan ibu setelah bercerita panjang lebar tadi? Apakah merasa lebih lega?

Jadi peristiwa yang ibu alami adalah . . .Peristiwa itu menimbulkan perasaan kondisi fisik ibu
menjadi . . . . . sementara itu hubungan dengan orang lain menjadi . . . . kegiatan keagaman
ibu menjadi. . . . . sampai sekarang.

Bagaimana kalau ibu mulai bercerita hal-hal yang ibu rasakan kepada saya atau keluarga
sehingga beban perasaan menjadi berkurang.

Kita akan ketemu lagi 2 hari lagi ya ,Bu? Saya akan datang pukul 10 pagi. Kita akan bicara
yentang cara-cara mengurangi ketegangan . Sampai jumpa.
SP 2-Pasien. Melatih pasien mengatasi trauma dengan melakukan latihan fisik.

Orientasi

Selamat pagi. Masih ingat saya?

Bagaimana perasaan ibu hari ini? Tampaknya lebih cerah ya? Apakah sudah mencoba
bercerita tentang pikiran dan perasaan ibu dengan orang lain. Dengan siapa?

Bagaiman kalau kita berbincang tentang bagaimana mengatasi perasaan akibat trauma yang
telah ibu alamidengan cara relaksasi? Mau berapa lama kita berbincang-bincang? Bagaimana
kalau 30 menit? Mau dimana? Bagaimana kalau diruang tamu ini saja?

Kerja

Ada berapa cara untuk mengatasi rasa tidak nyaman yaitu relaksasi badan berupa latihan
fisik.

Latihan fisik membuat diproduksinya zat-zat yang berguna meningkatkan semangat hidup
sehingga rasa trauma akan diganti dengan semangat hidup.

Apa kira-kira latihan fisik yang dapat ibu lakukan? Adakah kebiasaan ibu berolahraga?
Bagaimana kalau lari pagi (joging) atau senam? Atau ibu mau mencoba latihan napas dalam?
Baik, mari kita latihan napas dalam.

Caranya : tarik napas dalam melalui hidung, hirup perlahan-lahan sambil menghitung dari
angka 10 sampai angka 0. Mari bu, boleh duduk tegak atau berdiri. Yah tarik napas dalam
dari hidung, ya terua, tahan, nah tiup dari mulut perlahan-lahan. Ya tarik napas dalam lagi
sampai 5-10 kali. Ibu lakukan 10x setiap hari dapat mengurangi ketegangan yang ibu alami
dan akan membuat otot lebih rileks dan muncul semangat hidup.

Terminasi

Bagaimana perasaan ibu setelah latihan napas dalam? Apakah merasa lebih lega?

Jadi, apakah relaksasi badan akan mengurangi rasa tidak nyaman yang ibu alami? Jadi sudah
berapa cara ibu pelajari? Iya, dua cara yaitu bercerita dan latihan tarik napas dalam.
Saya anjurkan ibu melakukan latihan fisik ini 1-2 kali per hari untuk mengatasiperasaan yang
selama ini yang ibu alami. Mari kita jadwalkan latihan ibu. Mau berapa kali sehari? Baik, 2
kali pukul 9 pagi dan 3 sore.

Kita akan ketemu lagi 2 hari lagi ya, Bu? Saya akan datang pukul 10 pagi. Kita akan
bicarakan cara yang lain yaitu cara sosial. Sampai jumpa.

SP 3-Pasien. Melatih pasien mengatasi trauma dengan cara sosial.

Orientasi

Selamat pagi Bu.

Bagaiman perasaan ibu hari ini? Tampaknya lebih cerah ya? Mana jadwal kegiatannya?
Apakah sudah mencoba latihan fisik ( senam/joging/napas dalam)? Berapa kali ibu
melakukannya? Bagaimana rasanya setelah joging,senam,atau napas dalam? Bagaimana
dengan bercakap-cakap, sudah dilakukan? Bagus sekali.

Bagaimana kalau kita berlatih cara mengatasi trauma yang telah ibu alami dengan cara sosial
( berbagi rasa dengan teman yang mempunyai pengalaman yang sama)? Mau berapa lama
kita berbincang-bincang> bagaimana kalau 30 menit? Mau dimana? Bagaimana kalau
diruang tamu ini saja?

Kerja

Cara ketiga untuk mengatasi rasa tidak nyaman akibat trauma adalah saling berbagi dengan
teman sesama yang mengalami trauma yang sama.

Apakah disekitar ini, ada yang mengalami kejadian seperti yang ibu alami?

Coba diantara kenalan ibu, siapa saja yang mengalami peristiwa seperti yang ibu alami?

Apakah ibu pernah berbagi pengalam dengan mereka?

Apa yang ibu rasakan setelah berbagi dengan teman-teman? Apakah perasaan menjadi lebih
ringan?apakah dengan berbagi pengalaman ada pengalam teman yang bisa ibu pakai untuk
mengatasi perasaan tidak nyaman akibat ( mis.trauma peristiwa tsunami)? Bagaimana kalau
kita ajak tetangga ibu yang mengalami juga peristiwa tsunami)? (dapat dilakukan self help
group berbagi pengalaman tentang bencana yang di alami)

Ya, bagus sekali kalau ibu mau mencobanya. Coba buat jadwal bertemu dengan teman-teman
disekitar rumah ibu ini.

Terminasi

Bagaimana perasaan ibu setelah bercakap-cakap? Sudah berapa cara yang ibu pelajari? Bagus
sekal. Sudah 3 cara ya, Bu, bercerita dengan orang lain, latihan fisik,dan tukar pengalaman
dengan orang yang punya pengalaman sama.

Kapan ibu mau bertemu dengan teman-teman/ tetangga yang punya trauma tsunami juga. Ya,
selamat mencoba. Nanti ibu bisa cerita hasilnya minggu depan saat saya berkunjung kembali.
Hari kamis, pukul 10 ya Bu. Sampai jumpa.

SP 4- Pasien. Melatih pasien mengatasi sindrom pascatrauma dengan cara spiritual.

Orientasi

Selamat pagi,Bu.

Bagaimana perasaan ibu hari ini? Tampaknya lebih cerah ya? Mana jadwal kegiatannya?
Apakah sudah mencoba latihan fisik (senam/joging/napas dalam)? Berapa kali ibu
melakukannya? Bagaimana rasanya setelah joging,senam atau napas dalam? Bagaimana
dengan bercakap-cakap, sudah dilakukan? Bagus sekali.

Bagaimana kalau kita berlatih cara mengatasi trauma yang telah ibu alami dengan cara
spiritual atau ibafah agama? Mau berapa lama kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 30
menit? Mau dimana? Bagaimana kalau diruang tamu ini saja?

Kerja

Cara keempat untuk mengatasi rasa tidak nyaman akibat trauma adalah dengan kegiatan
ibadah.
Apa kegiatan ibadaha yang membuat ibu menjadi tenang? Sholat,zikir, mengaji,istigfar?
Bagus sekali! Mana diantara kegiatan ibadah tersebut yang setiap saat ibu bisa kerjakan untuk
mengatasi rasa trauma setiap kali muncuk? Mana yang ibu pilih? Ya,bagus!

Coba ibu peragakan yang ibu pilih tadi! Ya . bagus sekali!

Terminasi

Bagaimana perasaan ibu setelah praktik ibadah tersebut? Nah , sekarang sudah berapa cara
yang ibu pelajari? Bagus sekali. Udah 4 cara ya bu : bercerita dengan orang lain, latihan fisik,
berbagi pengalaman dengan orang yang punya pengalaman yang sama, dan yang terakhir tadi
dengan ibadah. Silahkan ibu mencoba cara yang terakhir kita latih tadi yaitu bila timbul
trauma langsung melakukan ibadah, misalnya istigfar, setuju Bu?

Ya, selamat mencoba. Nanti sibu bisa cerita hasilnya, minggu depan saat saya berkunjung
kembali, hari kamis pukul 10 ya Bu. Sampai jumpa.

SP 4- Pasien. Membantu pasien mengidentifikasi dan membina hubungan dengan sistem


pendukung yang ada.

Orientasi

Selamat pagi bu , bagaimana perasaan ibu hari ini ? bagaimana jadwal kegiatannya ? apakah
4 cara yang sudah kita bicarakan telah dilakukan ? bagaimana perasaan ibu setelah itu ?
bagaimana kalau hari ini kita berbincang-bincang sumber sumber yang bisa ibu manfaatkan
untuk mengatasi masalah trauma ibu ? mau berapa lama kita berbincang-bincang ? mau
dimana ? bagaimana kalau diruang tamu ini saja ?

Kerja

Coba ibu ceritakan fasilitas kesehatan yang ada disekitar tempat tinggal ibu disini ?
Apakah ada puskesmas terdekat , tempat-tempat konsultasi ? apakah ada kelompok-
kelompok pengajian ditempat ini ? apakah ada keluarga dekat ? bagaimana dengan keluarga
ibu sendiri ?

Semua yang ibu sebutkan tadi adalah sumber bantuan yang bisa ibu manfaatkan. Manfaatkan
fasilitas puskesmas. Ibu bisa datang ke puskesmas setiap hari kerja dari pukul 9 sampai 12.
Disana ibu bisa berkonsultasi dengan dokter dan saya, ibu juga bisa menghubungi saya lewat
telepon, ini nomornya........ manfaatkan juga kelompok-kelompok pengajian untuk saling
menguatkan antar teman atau tetangga. Demikian pula bercakap-cakap dengan anggota
keluarga.

Terminasi

Bagaimana perasaan ibu setelah kita berbincang-bincang ?

Coba ibu sebutkan fasilitas kesehatan yang bisa ibu manfaatkan. Kelompok pengajian atau
yang bisa ibu mintakan nasihat, tolong sebutkan! Ya, bagus.

Jadi sudah berapa cara untuk mengatasi perasaan trauma ibu ? Bagus sudah 4 cara itu
bercerita dengan orang lain, latihan fisik tarik napas dalam, kumpul dengan kelompok yang
memeiliki masalah yang sama, dan menggunakan sumber fasilitas yang ada.

Saya anjurkan ibu mau memanfaatkan sumber-sumber tadi.

Kita akan adakan pertemuan 2 hari lagi ya bu ? saya juga ingin bertemu dengan keluarga ibu.
Saya akan datang pada pukul 10 pagi. Sampai jumpa.

SP 5- Pasien. Melatih pasien menggunakan terapi obat sesuai dengan program terapi dokter
(jika pasien mendapat obat).

Orientasi

Selamat pagi, Bu.

Bagaimana perasaan ibu hari ini ? apakah sudah mencoba memanfaatkan sumber bantuan di
daerah ini ? ya bagus. Jadi ibu sudah ke puskesmas ? ibu dapat obat ? bagiamana kalau kita
berbincang-bincang tentang minum obat yang teratur ? mau berapa lama ? bagaimana kalau
30 menit ? mau dimana ? bagimana kalau diruang tamu saja ?
Kerja

Apakah ibu mendapatkan pengobatan dari dokter setelah konsultasi ke puskesmas ? coba
saya liat bu , ini obat.....,obat.....,obat..... (sebutkan nama obat dan gunanya, lihat obat untuk
ansietas)

Berapa kali obat tersebut diminum ? bagimana perasaan dan manfaat yang ibu rasakan
setelah minum obat ? apakah ada efek samping yang ibu alami ?

Obat merupakan sesuatu yang sangat penting untuk mengatasi masalah yang ibu alami.
Untuk itu ibu harus minum obat sesuai dengan petunjuk dokter. Kalau obat tidak diminum
dengan baik maka khasiatnya tidak akan maksimal.

Ada lima hal yang perlu diperhatikan saat minum obat . lima hal tersebut meliputi :

1. Obat yang diminum adalah obat yang benar, jangan minum obat yang salah. Liat
kemasan obatnya.
2. Benar pasien. Obat yang diminum pastikan bahwa obat tersebut milik ibu, bukan
milik orang lain.
3. Benar dosis. Dosis yang ibu minum harus sesuai dengan aturan, jika setiap minum 1
tablet , jangan diminum 2 tablet.
4. Benar waktu. Jangan minum obat pada saat yang salah kalau obat harus diminum 3x
sehari berarti harus diminum setiap 8 jam.
5. Benar cara. Obat harus diminum sesuai dengan cara yang dianjurkan. Kalau harus
makan dulu , ibu juga harus menepati suapaya kasiatnya optimal.

Itu tadi cara-cara minum obat yang benar. Saya harap ibu bisa tepati. Kemudian saya akan
jelaskan keguanaan dari masing-masing obat ini. (anda jelaskan).

Terminasi

Bagaimana perasaan ibu setelah bercakap-cakap ?

Jadi dengan minum obat secara teratur dan sesuai dengan aturan membuat penurunan rasa
tidak nyaman yang ibu alami. Coba sebutkan 5 hal yang harus diperhatikan saat minum
obat! Ya, benar sekali. Saya anjurkan ibu minum obat sesuai dengan 5 cara tadi. Coba
sebutkan kegunaan obat. Betul sekali !

Kita akan ketemu dua hari lagi ya bu ? saya akan datang pukul 10 pagi. Saya akan
bertemu dengan keluarga ibu. Sampai jumpa.
Tujuan tindakan keperawatan pada keluarga pasien sindrom pascatrauma :

1. Keluraga mengenal sindrom pascatrauma yang terjadi pada pasien.


2. Keluarga memahami cara merawat pasien.
3. Keluarga dapat mempraktikan cara merawat pasien.
4. Keluarga dapat memanfaatkan sumber yang tersedia di masyarakat.

Tindakan yang dilakukan pada keluarga :

1. Diskusikan dengan keluarga peristiwa traumatis yang terjadi dan dampak yang terjadi
pada pasien.
2. Diskusikan dengan keluraga cara-cara mengatasi sindrom pascatrauma yang dialami
oleh pasien.
3. Latih keluarga mempraktikan cara merawat pasien
4. Diskusikan dengan keluarga untuk mengatasi sindrom pasca trauma yang dialami oleh
pasien.

SP 1-Keluarga . Memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang trauma yang


dihadapi oleh pasien dan cara penanganannya.

Orientasi

Selamat pagi. Nama saya....... saya senang dipanggil.... nama bapak siapa ? senang dipanggil
apa ? saya perawat...... , dinas di PKM......, yang selama ini merawat istri bapak dengan
berkunjung kerumah ini.

Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang apa yang istri bapak alami? Mau berapa
lama? Bagaimana kalau 30 menit? Mau dimana? Bagaimana kalau diruang tamu saja?

Kerja

Coba bapak ceritakan peristriwa yang istri bapak alami. Bagus! Bapak sudah mau cerita.
Bagimana dengan keadaan istri bapak setelah peristiwa itu?

Bagaimana kondisi istri bapak ?? Bagaiaman hubungan istri bapak dengan keluarga ?

Bagaimana kegiatan ibadah istri bapak setelah peristiwa itu ? bagaimana perasaan bapak
terhadap kondiri sistri bapak ?
Saya bisa memahami apa yang bapak rasakan.

Apa yang istri bapak alami itu disebut sebagai respons pascatrauma, berupa perasan kelut,
takut, pikiran menjadi tidak jenih, selalu dihantui oleh peristiwa yang terjadi. Selain itu,
mungkin jantungnya berdebar-debar, menjadi tidak mau bergaul dengan biak, cenderung
menyendiri, bahkan kegiatan keagamaan menjadi tidak teratur.

Bagus. Bapak sudah mau menceritakan tetang keadaan istri bapak.

Apa yang terjadi dengan istri bapak tersebut adalah syndrom pascatrauma yaitu sindrom yang
dialami oleh seseorang akibat peristiwa yang sangat traumatis, seperti tsunami yang baru
terjadi.

Apa yang sudah bapak lakukan untuk mengatasi maslah yang istri bapak alami ?

Ya bagus. Apakah cara tersebut dapat mengatasi masalah yang istri bapak alami ?

Ada beberapa cara untuk merawat istri bapak yaitu memberi kesempatan istri bapak untuk
menceritakan apa yang dirasakan dan dialaminya. Pertama jangan membantah istri bapak.
Dengarkan dengan penuh perhatian. Cara kedua adalah latihan fisik. Saya sudah latih istri
bapak untuk senam atau jogging. Coba nanti bapak beri semangat kepada istri bapak untuk
mengerjakan latihan fisik yang sudah dijadwalkan.

Cara ketiga adalah berbagi pengalaman dengan teman senasib. Disekitar sini banyak juga
yang mengalami peristiwa seperti yang istri Bapak alami. Oleh karena itu, beri kesempatan
kepada istri Bapak untuk saling berbagi dengan teman senasibnya.

Cara keempat adalah memanfaatkan sumber bantuan yang ada disekitar lingkungan ini. Ada
perawat CMHN di Puskesmas, IMC, dan LSM lain Bisa Bapak manfaatkan juga untuk
menolong istri Bapak.

Cara terakhir adalah menggunakan obat secara teratur. Istri Bapak mendapatkan beberapa
obat dari dokter. Bapak bisa menolong untuk ikut mengawasi agar obat diminum secara
teratur dan tidak terputus sebelum berkonsultasi dengan dokter.

Diantara cara0cara tadi, mana yang Bapak mau lakukan lebih dahulu? Ya, Bagus

Terminasi

Bagaimana perasaan Bapak setelah kita berbincang-bincang?


Coba Bapak sebutkan cara-cara merawat istri Bapak yang mengalami sindrom pascatrauma!
Ya, bagus sekali

Saya anjurkan Bapak bisa menerapkan cara-cara tersebut secara tepat agar istri Bapak cepat
pulih.

Kalau sewaktu-waktu ingin berkonsultasi, saya siap setiap saat. Ini nomor HP saya...........

Saya bertugas di Puskesmas................... Bapak bisa hubungi saya kapan saja Bapak mau.
Sampai jumpa. Selamat pagi.

SP 2-Keluarga. Melatih keluarga memanfaatkan sumber bantuan yang tersedia di


masyarakat.

Orientasi

Selamat pagi!

Bagaimana perasaan Bapak? Cara-cara mana yang beberapa waktu lalu saya jelaskan, Bapak
sudah terapkan? Bagaimana hasilnya? Bagus.

Bagaimana kalau kita berbincang tentang sumber bantuan yang Bapak bisa manfaatkan untuk
menolong istri Bapak? Mau berapa lama? Bagaimana kalau 30 menit? Mau di mana?
Bagaimana kalau di ruang tamu ini saja?

Kerja

Apakah di sini ada tempat-tempat yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah yang
terjadinya pada istri Bapak, misalnya kelompok pengajian, teman atau kelompok berbagi
rasa, atau tempat konsultasi?

Selain tempat-tempat tersebut ada beberapa fasilitas kesehatan yang Bapak bisa manfaatkan.
Ada puskesmas. Bapak bisa menemui dokter dan perawat puskesmas seperti saya ini. Bila
Bapak merasa belum puas, Bapak bisa pergi ke rumah sakit jiwa untuk bisa berkonsultasi
dengan psikiater maupun psikolog. Bapak juga bisa memanfaatkan kelompok keluarga yang
mengalami masalah serupa. Bapak bisa berbagi dengan mereka semua cara mengatasi
masalah seperti yang istri Bapak alami. Ada yang Bapak ingin tanyakan atau kurang jelas?
Bagus, Bapak sudah bisa cerita kepada saya.

Terminasi

Bagaimana perasaan Bapak setelah kita berbincang-bincang?

Coba Bapak sebutkan fasilitas kesehatan yang Bapak bisa manfaatkan! Betul sekali. Mana
yang Bapak pilih dulu? Ya, Bagus.

Saya anjurkan Bapak bisa memanfaatkan fasilitas yang ada. Kalau sewaktu-waktu ingin
konsultasi, saya siap setiap saat. Ini nomor HP saya ...........

Saya bertugas di Puskesmas ... Bapak bisa hubungi saya kapan saja Bapak mau. Sampai
jumapa. Selamat pagi.

Tujuan tindakan keperawatan untuk pasien berisiko sindrom pascatrauma:

1. Pasien dapat membina hubungan saling percaya


2. Pasien memahami adanya resiko sindrom pascatrauma
3. Pasien dapat mencegah timbulnya sindrom pascatrauma
a. Meningkatkan kekuatan ego
b. Mengkespresikan perasaan kepada orang lain
c. Meningkatkan hubungan sosial
d. Meningkatkan dukungan sosial
e. Mengidentifikasi dan menggunakan strategi koping yang efektif.
4. Pasien dapat menggunakan obat sesuai aturan (jika mendapatkan obat dari dokter).

Tindakan yang dilakukan meliputi:

1. Bina hubungan saling percaya dengan pasien


a. Berkenalan dengan pasien
b. Buat kontrak terapi
c. Jelaskan bahwa perawat akan menjaga kerahasiaan informasi tentang pasien.
d. Tunjukkan sikap empati terhadap ekspresi perasaan pasien.
2. Diskusikan dengan pasien peristiwa traumatis yang telah dialami oleh pasien
a. Diskusikan dengan pasien tentang sindrom psiologis terhadap trauma.
b. Diskusikan situasi di dalam keluarga
c. Diskusikan sumber-sumber pendukung yang ada di masyarakat.
3. Diskusikan dan latih pasien
a. Meningkatkan kekuatan ego (ketabahan diri)
b. Ekspresi perasaan kepada orang lain
c. Meningkatkan hubungan sosial
d. Megidentifikasi dan menerapkan mekanisme koping yang adaptif
4. Latih pasien menggunakan obat sesuai aturan (jika pasien mendapatkan obat dari
dokter).
SP 1-Pasien. Mendiskusikan peristiwa traumatis yang telah dialami pasien, mendiskusikan
dan melatih pasien meningkatkan kekuatan ego, mengekspresikan perasaan dan
meningkatkan hubungan sosial.

Orientasi

Selamat pagi. Nama saya .... Saya senang dipanggil . . . Nama Ibu siapa? Senang dipanggial
apa?

Bagaimana perasaan Ibu setelaha mengalami kejadian trauma yang lalu?

Bagiman kalau kita berbincang tentang apa yang Ibu alami, perasaan saat ini berhubungan
dngan kejadian tersebut dan dukungan yang Ibu bisa peroleh? Mau berapa lama kita
berbincang-bincang? Bagaimana kalau 30 menit? Mau dimana? Bagaimana kalau di ruang
tamu ini saja?

Kerja

Coba ceritakan peristiwa yang Ibu alami? Terus ... lalu ... ya, saya ikut prihatin.

Bagaimana perasaan Ibu tentang peristiwa itu saat ini? (kaji apakah ada tanda atau gejala
sindrom pascatrauma)

Bagaimana dengan keluarga? Apakah ada juga mengalami kejadian yang sama? Apakah Ibu
pernah bercakap-cakap dalam keluarga tentang bencana/ trauma yang dialami? Apakah
keluarga memberikan dukungan pada Ibu? Bagus sekali.

Wah dari cerita Ibu, ibu dapat mengatasi trauma dengan baik. Namun, agar Ibu tetap kuat,
akan saya jelaskan beberapa cara untuk menjaga tetap sehat.

Ada tiga cara yang dapat dilakukan yaitu:

1. Memperkuat diri dengan cara menerima peristiwa secara realistis, berusaha


memikulnya dan berserah/ tawakal kepada Tuhan.
2. Berbagi perasaan dengan bercerita atau bercakap-cakap dengan orang lain, keluarga,
kelompok dengan masalah yang sama. Disebut juga ventilasi (mengungkapkan
perasaan). Bertambah banyak sahabt, teman, keluarga yang di percaya untuk tempat
berbagi perasaan lebih baik.
3. Mengembangkan cara penyelesaian masalah, dengan tehapan sebagai berikut.
a. Buat daftar masalah yang lalu yang pernah dihadapi
b. Buat daftar cara menyelesaikan masalah yang berhasil dilakukan
c. Pilih cara yang sesuai dengan masalah saat ini

Nah, bagaiman jika hari ini kita coba 2 cara. Mana yang kita coba dulu agar Ibu semakin kuat
dan tidak terjadi masalah walaupun ada peristiwa/bencana.

Baik, kita coba cara yang pertama yaitu berusaha menerima dengan realistis. Apakah Ibu
sudah bisa menerima peristiwa tersebut. Atau masih ada penyesalan atau merasa bersalah
atau menyalahkan orang lain. Apakah Ibu sudah siap menghadapinya dan minta pertolongan
Tuhan.

Bagus sekali, Ibu luar biasa.

Cara berikutnya, Ibu berbagi dengan bercerita tentang pikiran dan perasaan Ibu kepada orang
yang Ibu percayai. Beban diri akan berkurang jika kita mau berbagi dengan bercerita dengan
orang lain. Bangun persahabatan dengan teman-teman yang lain. Jangan menanggung semua
ini dengan berdiam diri. Cari teman sebanyak-banyaknya untuk bisa berbagi. Siapa saja
kenalan Ibu?

Bagaimana Ibu? Apakah sudah cukup jelas?

Dari penjelasan saya, mana yang mau Ibu coba lebih dulu?

Bagus Ibu sudah membuat keputusan!

SP 1-Pasien. Mendiskusikan peristiwa traumatis

Terminasi

Bagaimana perasaan ibu setelah bercerita panjang lebar tadi? Apakah merasa lebih lega?

Ibu masih dapat mengahadapinya dan belum bermasalah. Jadi, coba terapkan 2 cara yang
telah kita bicarakan.

Kita akan ketemu lagi 2 hari lagi ya, Bu? Saya akan datang jam 10 pagi untuk membahas cara
ketiga yaitu latihan menyelesaikan masalah. Sampai jumpa.
SP 2-Pasien. Melatih pasien menyelesaikan masalah (mekanisme koping yang efektif).

Orientasi

Selamat pagi Bu! Masih ingat dengan saya kan. Ya, saya...

Bagaimana perasaan Ibu hari ini? Apakah ibu sudah mencoba 2 cara yang kita pelajari?
Bagaimana hasilnya?

Bagaimana kalau hari ini kita berbincang-bincang tentang cara ketiga untuk menyelesaikan
masalah? Mau berapa lama kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau 30 menit? Dimana kita
bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ruang tamu ini?

Kerja

Apa yang Ibu lakukan selama ini bila menghadapi masalah? Apa langkah yang ibu tempuh?
Apakah dengan cara tersebut masalah yang ibu alami selesai?

Baik, kita akan belajar cara ketiga yaitu menyelesaikan masalah setelah terjadi trautama.

1. Apakah ada masalah masa lalu yang Ibu hadapi (buat daftar) yang berhasil diatasi
2. Apa cara yang Ibu lakukan yang berhasil (buat daftar). Baik sekali
3. Nah, coba kita bicarakan masalah atau trautama yang Ibu hadapi

Pertama, apa penyebab trauma Ibu? Ya, betul ada gempa dan air akibat tsunami.

Tentu keduanya tidak di bawah kendali kita. Berikutnya, apa akibat gempa dan tsunami
tersebut? Ya, kita prihatin, rumah Ibu hancur, kita menjadi takut kalau terjadi lagi.

Nah sekarang kita bicarakan beberapa cara untuk mengatasi masalah dan mencegah masalah
(bahas cara mengatasi rasa takut, perbaiki rumah; bahas juga cara mencegah kejadian yang
sama).

Coba Ibu pilih cara yang akan dicoba. Bagus sekali. Nah, Ibu coba cara yang telah dipilih.

Terminasi
Bagaimana perasaan Ibu setelah kita bercakap-cakap? Jadi sudah berapa cara yang kita
pelajari?

Ya, betul sekali.

Nah, coba terapkan pilihan Ibu ya! Nanti kita lihat hasilnya.

Minggu depan saya akan kesini lagi. Kita akan mendiskusikan keberhasilan cara yang Ibu
sudah terapkan. Pukul 10 minggu depan saya akan datang. Sampai jumpa.

Keluarga yang akan menjadi penolong adalah keluarga yang tidak mengalami trauma. Jika
sekeluarga terkena gempa dan tsunami, dicari keluarga lain yang dapat menolong. Tujuan
tindakan keperawatan pada keluarga berisiko sindrom pascatrauma diuraikan dibawah ini:

1. Keluarga memahami masalah risiko sindrom pascatrauma.


2. Keluarga mengetahui cara merawat pasien risiko sindrom pascatrauma.
3. Keluarga mampu merawat pasien dengan risiko sindrom pascatrauma.
4. Keluarga mampu memanfaatkan sumber bantuan yang tersedia dimasyarakat.

Tindakannya meliputi:

1. Bina hubungan saling percaya dengan keluarga.


2. Diskusikan risiko sindrom pascatrauma.
3. Diskusikan cara mencegah sindrom pascatrauma.
4. Latih keluarga merawat pasien.
5. Diskusikan dengan keluarga sumber bantuan yang bisa dimanfaatkan oleh keluarga.

SP 1-Keluarga: Melatih keluarga mencegah sindrom pascatrauma.

Orientasi

Selamat pagi. Nama saya...Saya senang dipanggil...Nama Bapak siapa? Senang dipanggil
apa?

Bagaimana perasaan Bapak dengan kondisi keluarga Bapak Ibu...Saudara Bapak...

Bagaimana kalau kita berbincang tentang apa yang mereka alami dan perasaan Bapak? Mau
berapa lama kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 30 menit? Mau dimana? Bagaimana
kalau di ruang tamu ini saja?

Kerja
Coba Bapak ceritakan perasaan bapak saat mendengar peristiwa yang di alami saudara
Bapak! Apa yang Bapak lakukan saat itu untuk menolong?

Bagus. Bapak sudah bisa cerita kepada saya.

Bagus sekali yang telah Bapak lakukan.

Keluarga Ibu... betul menghadapi musibah gempa dan tsunami, tetapi setelah saya bercakap-
cakap, keadaan mereka masih baik,belum ada tanda-tanda sindrom pascatrauma. Jadi upaya
pencegahan perlu dilakukan agar tidak terjadi sindrom pascatrauma. Baik, saya akan jelaskan
Sindrom Pascatrauma adalah gejala-gejala yang dirasakan oleh seseorang akibat peristiwa
traumatis yang telah dialami. Gejala-gejala tersebut antara lain selalu terbayang-bayang
peristiwa tersebut, takut, was-was, gelisah, dan tidak bisa tidur, tegang.

Cara mencegah gejala itu adalah memahami peristiwa tersebut secara ril sebagai bencana
yang tidak bisa diduga, sebagai kehendak Tuhan. Cara lain adalah mencari teman bicara
sebagai tempat ventilasi (curhat), dan melakukan aktivitas positif untuk mengatasi rasa
tegang misalnya olahraga, relaksasi, atau latihan napas dalam.

SP 1- Keluarga : Melatih keluarga mencegah sindrom pascatrauma

Dari [cara} pencegahan sindrom pasca trauma tadi mana yang bapak pilih? Bagus tindakan
itu juga akan membantu ibu.. untuk mencegah masalah akibat trauma.

Teriminasi

Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang ?

Coba bapak sebutkan cara yang bapak bisa lakukan untuk membantu ibu..! Betul sekali,
mana yang bapak pilih dulu ? Ya, bagus. Segera saja lakukan untuk membantu ibu.

Kalua sewaktu-waktuingin berkonsultasi dengan saya, saya siap setiap saat. Ini nomor HP
saya yaitu...

Saya bertugas di Puskesmas.. Bapak bisa hubungi saya kapan saja bapak mau. Sampai
jumpa. Selamat pagi.

Evaluasi
Evaluasi kemampuan pasien dan keluarga dalam mengatasi masalah sindrom pasca trauma
dan risiko sindrom pascatrauma dinilai menggunakan format di bawah ini :

PENILAIAN KEMAMPUAN PASIEN DAN KELUARGA

DENGAN SINDROM PASCATRAUMA

Nama Pasien :

Nama Perawat :

Petunjuk pengisisan :

1. Berilah tanda () jika pasien dan keluarga mampu melakukan kemampuan dibawah
ini.
2. Tuliskan tanggal setiap dilakukan penilaian.
Kemampuan Tanggal
Pasien
SP 1
1. Mendiskusikan peristiwa traumatis yang
dialami
2. Mendiskusikan dampak terjadinya peristiwa
traumatis
3. Mendiskusikan keadaan emosi dan pikiran
4. Mendiskusikan keadaan fisik
5. Mensiskusikan keadan sosial
6. Mendiskusikan keadaan spriritual
7. Mendiskusikan cara mengatasi sindroma
pascatrauma
8. Mempraktikan latihan cara verbal
mengekspresikan perasaan
SP 2
1. Mempraktikan latihan cara fisik( napas
dalam/snam/jogging
SP 3
1. Mempraktikan latihan carasosial mengatasi
rasa sosial
SP 4
1. Mempraktikan latahan cara spritual
SP 5
1. Mengidentiikasi sumber bantun yang bisa
dimanfaatkan oleh pasien
SP 6
1. Menggunakan obat sesuai aturan

Keluarga
SP 1
1. Menyebutkan pengertian sindrom pasca-
trauma dan proses
2. Menyebutkan cara merawat pasien dengan
sindrom pasca trauma
SP 2
1. Mempraktikan cara merawat pasien dengan
sindrom pasca trauma
SP 3
1. Mngidentifikasidan memanfaatkan sumber
bantuan yang tersedia

PENILAIAN KEMAMPUAN PASIEN DAN KELUARGA

DENGAN RISIKO SINDROM PASCATRAUMA

Nama Pasien :

Nama Perawat :

Petunjuk pengisisan :

3. Berilah tanda () jika pasien dan keluarga mampu melakukan kemampuan dibawah
ini.
4. Tuliskan tanggal setiap dilakukan penilaian.
Kemampuan Tanggal
Pasien
SP 1
1. Mendiskusikan peristiwa traumatis yang
dialami
2. Mendiskusikan cara mencegah sindroma
pasca-trauma
3. Latihan cara meningkatkan ketabahan
4. Latihan mengekspresikan perasaan denan
orang lain
5. Latihan meningkakan hubungan sosial
dengan orang lain
SP 2
1. Latihan tahap-tahap penyelesaian masalah
(mekanisme koping)
Keluarga
SP 1
1. Menyebutkan pengertian sindrom pasca trauma
2. Menyebutkan cara merawat pasien dengan
sindrom pasca trauma
3. Mempraktikan cara merawat pasien dengan
risiko sindrom pasca-trauma

Evaluasi juga dilakukan pada kemampuan perawat dalam melaksanakan asuhan


keperawatan pasien sindrom pascatrauma dan risiko sindrom pasca trauma. Evaluasi
dilakukan dengan format dibah ini.

PENILAIAN KEMAMPUAN PERAWAT DALAM MERAWAT PASIEN DENGAN


SINDROM PASCATRAUMA

Petunjuk pengisian:

1. Berilah tanda () jika perawat menunjukkan kemampuan yang harus ditampilkan.


2. Tuliskan tanggal setiap dilakukan penilaian.

Kemampuan Tanggal
Pasien
SP 1p
1. Mendiskusikan kejadian peristiwa
traumatis yang dialami
2. Mendiskusikan keadaan pasien
setelah kejadian traumatis yang
dialami
3. Mendiskusikan keadaan pikiran dan
perasaan pascatrauma
4. Mendiskusikan keadaan fisik
pascatrauma
5. Mendiskusikan sosial pascatrauma
6. Mendiskusikan keadaan spiritual
pascatrauma
7. Mendiskusikan cara mengatasi
sindrom pascatrauma
8. Melatih pasien mengendalikan
sindrom pascatrauma dengan cara
verbal
9. Menganjurkan pasien
memasukkandalam jadwal kegiatan
harian
Nilai SP 1p
SP 2p
1. Mengevaluasi jadwal kegiaatan
harian pasien
2. Melatih pasien mengendalikan
sindrom pascatrauma dengan cara
fisik
3. Menganjurkan pasien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian
Nilai SP 2p

PENILAIAN KEMAMPUAN PERAWAT DALAM

Kemampuan Tanggal
SP 3 p
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Melatih pasien mengembalikan sindrom pascatrauma dengan carasosial
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
NilaiSP 3 p
SP 4 p
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Melatih pasien mengembalikan sindrompasca trauma denngan cara spiritual
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
NilaiSP 4 p
SP 5 p
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Mendiskusikan sumber bantuan yang tersedia di masyarakat yang dapat dimanfaatkan
NilaiSP 5 p
SP 6p
1. Melatih pasien menggunakan obat sesuai aturan
2. Memasukkan ke jadwal kegiatan harian
Nilai SP 6p
Keluarga
SP 1k
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, serta proses terjadinya syndrome paska trauma
3. Menjelaskan cara merawat pasien dengan sindrom pasca trauma
4. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien dengan sindrom pascatrauma
5. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien dengan sindrom
pascatrauma
Nilai SP 1k
SP 2k
1. Mendiskusikan sumber bantuan yang tersedia
2. Mendiskusikan cara memanfaatkan sumber bantuan
NilaiSP 2k
Nilai Total SP p + SP k

Penilai
PENILAIAN KEMAMPUAN PERAWAT DALAM MERAWAT PASIEN DENGAN
RESIKO SINDROM PASCATRAUMA

Nama pasien :

Nama perawat :

Petunjukpengisian :

1. Beritanda () jika perawat mampu melakukan kemampuan di bawah ini.

2. Tuliskan tanggal setiap dilakukan penilaian.

Kemampuan Tanggal
Pasien
SP 1
1. Membina hubungan saling percaya
2. Mendiskusikan dengan pasien peristiwa traumatis yang dialami
3.Mendiskusikan cara mencegah sindrom pascatrauma
4. Melatih pasien cara meningkatkan ketabahan
5. Melatih pasien mengekspresikan perasaan dengan orang lain
Nilai SP 1p
SP 2p
1. Melatih pasien tahap- tahap penyelesaian masalah
Keluarga
SP 1k
1. Menjelaskan masalah syndrome pasca trauma dan proses
terjadinya
Masalah syndrome pasca trauma
2. Mendiskusikan cara merawat pasien dengan resiko pasca trauma
3. Melatih keluarga mempraktikan cara merawat pasien dengan
resiko syndrome pasca trauma
Nilai SP 1k
Nilai total SPp + SPk

Penilai

Dokumentasi

Dokumentasi dilkukan terhadap pengkajian, perencanaan, tindakan dan evaluasi


keperawatan. Dokumentasi pengkajian

Trauma :
Kekerasan : Pelaku /korban/saksi (umur ____th)
Perkosaan : Pelaku /korban/saksi (umur ____th)
Kriminal : Pelaku /korban/saksi (umur ____th)
Bencana Alam : Pelaku /korban/saksi (umur ____th)
Kekerasan Rumah Tangga : Pelaku /korban/saksi(umur ____th)

CATATAN KEPERAWATAN DI KOMUNITAS (CMHN)


Nama pasien
Nama puskesmas
No. RM

Tanggal
Data

Tindakan Keperawatan

Evaluasi

Nama perawat

(tanda tangan)
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS PTSD

A. Pengkajian

1. Identitas:

nama, tempat tangga lahir, alamat, agama, pekerjaa, status perkawinan, dll.

2. Riwayat Kesehatan

a. Keluhan utama : cemas/ ansietas

b. pengkajian fisik :

1) Aktivitas atau istirahat

- gangguan tidur

- mimpi buruk

- hipersomnia
- mudah letih

- keletihan kronis

2) Sirkulasi

- denyut jantung meningkat

- palpitasi

- tekanan darah meningkat

- terasa panas

3) Integritas ego

- derajat ansietas bervariasi dengan gejal yang berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu,


berbulan-bulan

- gangguan stres akut terjadi 2 hari 4 minggu dalam 4 minggu peristiwa traumatik

- PTSD akut gejala kurang dari 3 bulan

- PTSD kronik gejala lebih dari 3 bulan

- Melambat awitan sedikitnya 6 bulan setelah peristiwa traumatik

- kesulitan mencari bantuan atau menggerakkan sumber personal (menceritakan pengalaman


pada anggota keluarga/teman)

- perasaan bersalah, tidak berdaya, isolasi

- perasaan malu terhadap ketidakberdayaan sendiri; demoralisasi

- perasaan tentang masa depan yang suram atau memendek

4) Neurosensori

- gangguan kognitif sulit berkonsentrasi

- kewaspadaan tinggi

- ketakutan berlebihan

- ingatan persisten atau berbicara terus tentang suatu kejadian

- pengendalian keinginan yang buruk dengan ledakan perilaku yang agresif tidak dapat
diprediksi atau memunculkan perasaan (marah, dendam,benci, sakit hati)
- perubahan perilaku (murung, pesimistik, berpikir yang menyedihkan, iritabel), tidak
mempunyai kepercayaan diri, afek depresi, merasa tidak nyata, kehidupan bisnis tidak
dipedulikan lagi

- ketegangan otot, gemetar, kegelisahan motorik

- Nyeri atau ketidaknyamanan

5) Pernapasan

- frekuensi pernapasan meningkat

- dispneu

6) Keamanan

- marah yang meledak-ledak

- perilaku kekerasan terhadap lingkungan atau individu lain

- gagasan bunuh diri

7) Seksualitas

- hilangnya gairah

- impotensi

- ketidakmampuan mencapai orgasme

8) Interaksi sosial

- menghindari oarang/tempat/kegiatan yang menimbulakan ingatan tentang trauma, penurunan


responsif, mati rasa secara psikis, pemisahan emosi/mengasingkan diri dari orang lain

- hilangnya minat secara nyata pada kegiatan yang signifikan, termasuk pekerjaan

- pembatasan rentang afek, tidak ada respon emosi

B. Diagnosa Keperawatan

1. Ansietas berhubungan dengan Koping individu tidak efektif

2. Ansietas berhubungan dengan Tidak efektifnya koping keluarga

3. Resiko gangguan pesepsi sensorik dan audiotori : Halusinasi berhubungan dengan Ansietas

4. Resiko gangguan isi fikir : Waham berhubungan dengan Ansietas


C. Rencana keperawatan

DX Intervensi
Tujuan
1 Klien dapat menjalin jadilah pendengar yang hangat dan responsif
dan membina beri waktu yang cukup pada klien untuk
hubungan saling berespon
percaya
beri dukungan pada klien untuk
mengekspresikan perasaannya

identifikasi pola prilaku klien atau pendekatan


yang dapat menimbulkan perasaan negatif

bersama klien mengenali perilaku dan respon


sehingga cepat belajar dan berkembang.

dorong klien untuk menggunakan relaksasi


dalam menurunkan tingkat ansietas

2 Klien dapat mengenal bantu klien untuk mengidentifikasi dan


ansietasnya menguraikan perasaannya

hubungkan perilaku dan perasaannya

validasikesimpulan dan asumsiterhadapklien

gunakan pertanyaan terbuka untuk


mengalihkan dari topik yang mengancam ke
hal yang berkaitan dengan konflik

gunakan konsultasi

ajarkan klien teknik relaksasi untuk


meningkatkan kontrol dan rasa percaya diri
3 Klien dapat bantu klien mernjelaskan situasi dan interaksi
memperluas yang dapat segera menimbulkan ansietas
kesadarannya terhadap bersama klien meninjau kembali penilaian
perkembangan ansietas klien terhadap stressor yang dirasakan
mengancam dan menimbulkan konflik

kaitkan pengalaman yang baru terjadi dengan


pengalaman masa lalu yang relevan
4 Klien dapat gali cara klien mengurangi ansietas di masa
menggunakan lalu
mekanisme koping tunjukkan akibat mal adaptif dan destruktif
yang adaptif dari respons koping yang digunakan

dorong klien untuk menggunakan respons


koping adaptif yang dimilikinya

bantu klien untuk menyusun kembali tujuan


hidup, memodifikasi tujuan, menggunakan
sumber dan menggunakan koping yang baru

latih klien dengan menggunakan ansietas


sedang

Beri aktivitas fisik untuk menyalurkan


energinya

libatkan pihak yang berkepentingan sebagai


sumber dan dukungan sosial dalam membantu
klien menggunakan koping adaptif yang baru