Anda di halaman 1dari 11

FRAKTUR DAN DISLOKASI

Ais Dafitri / 641415066 / 03

FRAKTUR
1. Definisi

Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi disintegritas tulang,


penyebab terbanyak adalah insiden kecelakaan, tetapi faktor lain seperti proses
degeneratif juga dapat berpengaruh terhadap kejadian fraktur.

2. Epidemilogi
a. Distribusi Frekuensi
1. Berdasarkan Orang
Fraktur lebih sering terjadi pada laki laki daripada perempuan
dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olah raga,
pekerjaan atau luka yang disebabkan oleh kendaraan bermotor. Mobilisasi
yang lebih banyak dilakukan oleh laki laki menjadi penyebab tingginya risiko
fraktur. Sedangkan pada orang tua, perempuan lebih sering mengalami
fraktur daripada laki laki yang berhubungan dengan meningkatnya insidens
osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon pada menopause. 18
Tahun 2001, di Amerika Serikat terdapat lebih dari 135.000 kasus cedera
yang disebabkan olahraga papan selancar dan skuter. Dimana kasus cedera
terbanyak adalah fraktur 39% yang sebagian besar penderitanya laki laki
dengan umur di bawah 15 tahun. Di Indonesia, jumlah kasus fraktur yang
disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas 4 kali lebih banyak terjadi pada laki
laki daripada perempuan.
2. Berdasarkan Tempat dan Waktu
Di negara maju, masalah patah tulang pangkal paha atau tulang
panggul merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mendapat
perhatian serius karena dampak yang ditimbulkan bisa mengakibatkan
ketidakmampuan penderita dalam beraktivitas. Menurut penelitian Institut
Kedokteran Garvan tahun 2000 di Australia setiap tahun diperkirakan 20.000
wanita mengalami keretakan tulang panggul dan dalam setahun satu
diantaranya akan meninggal karena komplikasi. Di negara negara Afrika
kasus fraktur lebih banyak terjadi pada wanita karena peristiwa terjatuh
berhubungan dengan penyakit Osteoporosis. Di Kamerun pada tahun 2003,
perbandingan insidens fraktur pada kelompok umur 50 64 tahun yaitu, pria
4,2 per 100.000 penduduk, wanita 5,4 per 100.000 penduduk. Angka yang
lebih tinggi di Maroko pada tahun 2005 insidens fraktur pada pria 43,7 per
100.000 penduduk dan wanita 52 per 100.000 penduduk. Di Indonesia jumlah
kasus fraktur akibat kecelakaan lalu lintas meningkat seiring pesatnya
peningkatan jumlah pemakai kendaraan bermotor. Berdasarkan laporan
penelitian dari Depkes RI tahun 2000, di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin
Bandung terdapat penderita fraktur akibat kecelakaan lalu lintas sebanyak
444 orang.

3. Klasifikasi Fraktur
Fraktur dapat dibedakan jenisnya berdasarkan hubungan tulang dengan
jaringan disekitar, bentuk patahan tulang, dan lokasi pada tulang fisis.

a. Berdasarkan sifat fracture


Fraktur dapat dibagi menjadi :
1. Fraktur tertutup (closed),bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar.

2. Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragmen


tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka
terbagi atas tiga derajat (menurut R. Gustillo), yaitu:
a. Derajat I :
Luka <1 cm
Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk
Fraktur sederhana, transversal, oblik, atau kominutif ringan
Kontaminasi minimal
b. Derajat II :
Laserasi >1 cm
Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/ avulsi
Fraktur kominutif sedang
Kontaminasi sedang
c. Derajat III :
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit,
otot, dan neurovaskular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur terbuka
derajat III terbagi atas:
Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun
terdapat laserasi luas/flap/avulsi atau fraktur segmental/sangat
kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa
melihat besarnya ukuran luka.
Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar
atau kontaminasi masif.
Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki
tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.
b. Berdasarkan bentuk patahan tulang
1. Transversal
Adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang
tulang atau bentuknya melintang dari tulang. Fraktur semacam ini biasanya
mudah dikontrol dengan pembidaian gips.
2. Spiral
Adalah fraktur meluas yang mengelilingi tulang yang timbul akibat torsi
ekstremitas atau pada alat gerak. Fraktur jenis ini hanya menimbulkan sedikit
kerusakan jaringan lunak.
3. Oblik
Adalah fraktur yang memiliki patahan arahnya miring dimana garis patahnya
membentuk sudut terhadap tulang.
4. Segmental
Adalah dua fraktur berdekatan pada satu tulang, ada segmen tulang yang
retak dan ada yang terlepas menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari
suplai darah.
5. Kominuta
Adalah fraktur yang mencakup beberapa fragmen, atau terputusnya keutuhan
jaringan dengan lebih dari dua fragmen tulang.
6. Greenstick
Adalah fraktur tidak sempurna atau garis patahnya tidak lengkap dimana
korteks tulang sebagian masih utuh demikian juga periosterum. Fraktur jenis
ini sering terjadi pada anak anak.
7. Fraktur Impaksi
Adalah fraktur yang terjadi ketika dua tulang menumbuk tulang ketiga yang
berada diantaranya, seperti pada satu vertebra dengan dua vertebra lainnya.
8. Fraktur Fissura
Adalah fraktur yang tidak disertai perubahan letak tulang yang berarti,
fragmen biasanya tetap di tempatnya setelah tindakan reduksi.
c. Berdasarkan lokasi pada tulang fisis
Tulang fisis adalah bagian tulang yang merupakan lempeng
pertumbuhan, bagian ini relatif lemah sehingga strain pada sendi dapat berakibat
pemisahan fisis pada anak anak. Fraktur fisis dapat terjadi akibat jatuh atau
cedera traksi. Fraktur fisis juga kebanyakan terjadi karena kecelakaan lalu lintas
atau pada saat aktivitas olahraga. Klasifikasi yang paling banyak digunakan
untuk cedera atau fraktur fisis adalah klasifikasi fraktur menurut Salter Harris :
1. Tipe I : fraktur transversal melalui sisi metafisis dari lempeng
pertumbuhan, prognosis sangat baik setelah dilakukan reduksi tertutup.
2. Tipe II : fraktur melalui sebagian lempeng pertumbuhan, timbul melalui
tulang metafisis , prognosis juga sangat baik denga reduksi tertutup.
3. Tipe III : fraktur longitudinal melalui permukaan artikularis dan epifisis dan
kemudian secara transversal melalui sisi metafisis dari lempeng
pertumbuhan. Prognosis cukup baik meskipun hanya dengan reduksi
anatomi.
4. Tipe IV : fraktur longitudinal melalui epifisis, lempeng pertumbuhan dan
terjadi melalui tulang metafisis. Reduksi terbuka biasanya penting dan
mempunyai resiko gangguan pertumbuhan lanjut yang lebih besar.
5. Tipe V : cedera remuk dari lempeng pertumbuhan, insidens dari
gangguan pertumbuhan lanjut adalah tinggi.

4. Tanda dan Gejala

5. Faktor Resiko

1. Faktor Manusia
Beberapa faktor yang berhubungan dengan orang yang mengalami
fraktur atau patah tulang antara lain dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin,
aktivitas olah raga dan massa tulang.
a. Umur
Pada kelompok umur muda lebih banyak melakukan aktivitas yang
berat daripada kelompok umur tua. Aktivitas yang banyak akan cenderung
mengalami kelelahan tulang dan jika ada trauma benturan atau kekerasan
tulang bisa saja patah. Aktivitas masyarakat umur muda di luar rumah cukup
tinggi dengan pergerakan yang cepat pula dapat meningkatkan risiko
terjadinya benturan atau kecelakaan yang menyebabkan fraktur. Insidens
kecelakaan yang menyebabkan fraktur lebih banyak pada kelompok umur
muda pada waktu berolahraga, kecelakaan lalu lintas, atau jatuh dari
ketinggian. Berdasarkan penelitian Nazar Moesbar tahun 2007 di Rumah
Sakit Haji Adam Malik Medan terdapat sebanyak 864 kasus patah tulang, di
antaranya banyak penderita kelompok umur muda. Penderita patah tulang
pada kelompok umur 11 20 tahun sebanyak 14% dan pada kelompok umur
21 30 tahun sebanyak 38% orang
b. Jenis Kelamin
Laki laki pada umumnya lebih banyak mengalami kecelakaan yang
menyebabkan fraktur yakni 3 kali lebih besar daripada perempuan.18 Pada
umumnya Laki laki lebih aktif dan lebih banyak melakukan aktivitas
daripada perempuan. Misalnya aktivitas di luar rumah untuk bekerja sehingga
mempunyai risiko lebih tinggi mengalami cedera. Cedera patah tulang
umumnya lebih banyak terjadi karena kecelakaan lalu lintas. Tingginya kasus
patah tulang akibat kecelakaan lalulintas pada laki laki dikarenakan laki
laki mempunyai perilaku mengemudi dengan kecepatan yang tinggi sehingga
menyebabkan kecelakaan yang lebih fatal dibandingkan perempuan.
Berdasarkan penelitian Juita, pada tahun 2002 di Rumah Sakit St. Elisabeth
Medan terdapat kasus fraktur sebanyak 169 kasus dimana jumlah penderita
laki laki sebanyak 68% dan perempuan sebanyak 32%.
c. Aktivitas Olahraga
Aktivitas yang berat dengan gerakan yang cepat pula dapat menjadi risiko penyebab cedera
pada otot dan tulang. Daya tekan pada saat berolah raga seperti hentakan, loncatan atau
benturan dapat menyebabkan cedera dan jika hentakan atau benturan yang timbul cukup
besar maka dapat mengarah pada fraktur. Setiap tulang yang mendapat tekanan terus
menerus di luar kapasitasnya dapat mengalami keretakan tulang. Kebanyakan terjadi pada
kaki, misalnya pada pemain sepak bola yang sering mengalami benturan kaki antar pemain.
Kelemahan struktur tulang juga sering terjadi pada atlet ski, jogging, pelari, pendaki gunung
ataupun olahraga lain yang dilakukan dengan kecepatan yang berisiko terjadinya benturan
yang dapat menyebabkan patah tulang. Massa tulang yang rendah akan cenderung mengalami
fraktur daripada tulang yang padat. Dengan sedikit benturan dapat langsung menyebabkan
patah tulang karena massa tulang yeng rendah tidak mampu menahan daya dari benturan
tersebut. Massa tulang berhubungan dengan gizi tubuh seseorang. Dalam hal ini peran
kalsium penting bagi penguatan jaringan tulang. Massa tulang yang maksimal dapat dicapai
apabila konsumsi gizi dan vitamin D tercukupi pada masa kanak kanak dan remaja. Pada
masa dewasa kemampuan mempertahankan massa tulang menjadi berkurang seiring
menurunnya fungsi organ tubuh. Pengurangan massa tulang terlihat jelas pada wanita yang
menopause. Hal ini terjadi karena pengaruh hormon yang berkurang sehingga tidak mampu
dengan baik mengontrol proses penguatan tulang misalnya hormon estrogen.

2. Faktor Perantara
Agent yang menyebabkan fraktur sebenarnya tidak ada karena
merupakan peristiwa penyakit tidak menular dan langsung terjadi. Namun
bisa dikatakan sebagai suatu perantara utama terjadinya fraktur adalah
trauma benturan. Benturan yang keras sudah pasti menyebabkan fraktur
karena tulang tidak mampu menahan daya atau tekanan yang ditimbulkan
sehingga tulang retak atau langsung patah. Kekuatan dan arah benturan
akan mempengaruhi tingkat keparahan tulang yang mengalami fraktur. Meski
jarang terjadi, benturan yang kecil juga dapat menyebabkan fraktur bila terjadi
pada tulang yang sama pada saat berolahraga atau aktivitas rutin yang
menggunakan kekuatan tulang di tempat yang sama atau disebut juga stress
fraktur karena kelelahan.
3. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan yang mempengaruhi terjadinya fraktur dapat
berupa kondisi jalan raya, permukaan jalan yang tidak rata atau berlubang,
lantai yang licin dapat menyebabkan kecelakaan fraktur akibat terjatuh.
Aktivitas pengendara yang dilakukan dengan cepat di jalan raya yang padat,
bila tidak hati hati dan tidak mematuhi rambu lalu lintas maka akan terjadi
kecelakaan. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi banyak menimbulkan fraktur.
Berdasarkan data dari Unit Pelaksana Teknis Makmal Terpadu
Imunoendokrinologi FKUI di Indonesia pada tahun 2006 dari 1690 kasus
kecelakaan lalu lintas proporsi yang mengalami fraktur adalah sekitar 20%. 5
Pada lingkungan rumah tangga, kondisi lantai yang licin dapat
mengakibatkan peristiwa terjatuh terutama pada lanjut usia yang cenderung
akan mengalami fraktur bila terjatuh. Data dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya
pada tahun 2005 terdapat 83 kasus fraktur panggul, 36 kasus fraktur tulang
belakang dan 173 kasus pergelangan tangan, dimana sebagian besar
penderita wanita >60 tahun dan penyebabnya adalah kecelakaan rumah
tangga.

6. Penanganan/Penyembuhan

Proses penyembuhan fraktur terdiri atas lima fase yaitu :


a. Pembentukan hematom
Fraktur merobek pembuluh darah dalam medulla, korteks dan periosteum
sehingga timbul hematom.
b. Organisasi
Dalam 24 jam, kapiler dan fibroblas mulai tumbuh ke dalam hematom disertai
dengan infiltrasi sel sel peradangan. Dengan demikian, daerah bekuan darah
diubah menjadi jaringan granulasi fibroblastik vaskular.
c. Kalus sementara
Pada sekitar hari ketujuh, timbul pulau pulau kartilago dan jaringan osteoid
dalam jaringan granulasi ini. Kartilago mungkin timbul dari metaplasia fibroblas
dan jaringan osteoid ditentukan oleh osteoblas yang tumbuh ke dalam dari ujung
tulang. Jaringan osteoid, dalam bentuk spikula ireguler dan trabekula, mengalami
mineralisasi membentuk kalus sementara. Tulang baru yang tidak teratur ini
terbentuk dengan cepat dan kalus sementara sebagian besar lengkap pada
sekitar hari kedua puluh lima.
d. Kalus definitif
Kalus sementara yang tak teratur secara bertahap akan diganti oleh tulang yang
teratur dengan susunan havers kalus definitif.
e. Remodeling
Kontur normal dari tulang disusun kembali melalui proses remodeling akibat
pembentukan tulang osteoblastik maupun resorpsi osteoklastik. Keadaaan terjadi
secara relatif lambat dalam periode waktu yang berbeda tetapi akhirnya semua
kalus yang berlebihan dipindahkan, dan gambaran serta struktur semula dari
tulang tersusun kembali.

f. Pencegahan
Pencegahan fraktur dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Pada
umumnya fraktur disebabkan oleh peristiwa trauma benturan atau terjatuh baik
ringan maupun berat. Pada dasarnya upaya pengendalian kecelakaan dan trauma
adalah suatu tindakan pencegahan terhadap peningkatan kasus kecelakaan yang
menyebabkan fraktur.
a. Pencegahan Primer
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan upaya menghindari
terjadinya trauma benturan, terjatuh atau kecelakaan lainnya. Dalam
melakukan aktifitas yang berat atau mobilisasi yang cepat dilakukan dengan
cara hati hati, memperhatikan pedoman keselamatan dengan memakai alat
pelindung diri.
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan untuk mengurangi akibat akibat
yang lebih serius dari terjadinya fraktur dengan memberikan pertolongan
pertama yang tepat dan terampil pada penderita. Mengangkat penderita
dengan posisi yang benar agar tidak memperparah bagian tubuh yang
terkena fraktur untuk selanjutnya dilakukan pengobatan. Pemeriksaan klinis
dilakukan untuk melihat bentuk dan keparahan tulang yang patah.
Pemeriksaan dengan foto radiologis sangat membantu untuk mengetahui
bagian tulang yang patah yang tidak terlihat dari luar. Pengobatan yang
dilakukan dapat berupa traksi, pembidaian dengan gips atau dengan fiksasi
internal maupun eksternal.
c. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier pada penderita fraktur yang bertujuan untuk
mengurangi terjadinya komplikasi yang lebih berat dan memberikan tindakan
pemulihan yang tepat untuk menghindari atau mengurangi kecacatan.
Pengobatan yang dilakukan disesuaikan dengan jenis dan beratnya fraktur
dengan tindakan operatif dan rehabilitasi. Rehabilitasi medis diupayakan
untuk mengembalikan fungsi tubuh untuk dapat kembali melakukan
mobilisasi seperti biasanya. Penderita fraktur yang telah mendapat
pengobatan atau tindakan operatif, memerlukan latihan fungsional perlahan
untuk mengembalikan fungsi gerakan dari tulang yang patah. Upaya
rehabilitasi dengan mempertahankan dan memperbaiki fungsi dengan
mempertahankan reduksi dan imobilisasi antara lain meminimalkan bengkak,
memantau status neurovaskuler, mengontrol ansietas dan nyeri, latihan dan
pengaturan otot, partisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari, dan melakukan
aktivitas ringan secara bertahap.

DISLOKASI

1. Definisi
Dislokasi adalah keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak
lagi berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari sendi). Atau dislokasi adalah
suatu keadaan keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya. Dislokasi
merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera. Bila terjadi
patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi disertai luksasi sendi yang disebut
fraktur dislokasi. Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan
sendi. Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau
terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk
sendi).
Dislokasi biasanya disebabkan karena faktor fisik yang memaksa sendi untuk
bergerak lebih dari jangkauan normalnya, yang menyebabkan kegagalan tekanan,
baik pada komponen tulang sendi, ligamen dan kapsula fibrous, atau pada tulang
maupun jaringan lunak. Struktur-struktur tersebut lebih mudah terkena bila yang
mengontrol sendi tersebut kurang kuat.
2. Epidemilogi

3. Klasifikasi
Dislokasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Dislokasi kongenital : Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.
b. Dislokasi patologik : Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi,
misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan
tulang yang berkurang.
c. Dislokasi traumatik : merupakan kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan
saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat
oedema (karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat
sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin
juga merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan
terjadi pada orang dewasa.
4. Tanda / Gejala

5. Faktor resiko
a. Trauma: jika disertai fraktur, keadaan ini disebut fraktur dislokasi.
Cedera olahraga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak
bola dan hoki, serta olah raga yang beresiko jatuh misalnya :
terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan
pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan
dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain
lain.
Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga.
Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya
menyebabkan dislokasi.
Terjatuh
Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang
licin
b. Kongenital
Sebagian anak dilahirkan dengan dislokasi, misalnya dislokasi pangkal paha.
Pada keadaan ini anak dilahirkan dengan dislokasi sendi pangkal paha
secara klinik tungkai yang satu lebih pendek dibanding tungkai yang lainnya
dan pantat bagian kiri serta kanan tidak simetris. Dislokasi congenital ini
dapat bilateral (dua sisi). Adanya kecurigaan yang paling kecil pun terhadap
kelainan congenital ini mengeluarkan pemeriksaan klinik yang cermat dan
sianak diperiksa dengan sinar X, karena tindakan dini memberikan hasil yang
sangat baik. Tindakan dengan reposisi dan pemasangan bidai selama
beberapa bulan, jika kelainan ini tidak ditemukan secara dini, tindakannya
akan jauh sulit dan diperlukan pembedahan.
c. Patologis
Akibatnya destruksi tulang, misalnya tuberkolosis tulang belakang. Dimana
patologis: terjadinya tear ligament dan kapsul articuler yang merupakan
kompenen vital penghubung tulang.

6. Penanganan / Pengobat
7. Pencegah