Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semakin berkembangnya jaman banyak pula ilmu yang harus dipelajari.
Dalam kehidupan sehari-hari terdapat ilmu tentang analisis struktur yang
mampu menganalisis bangunan sedemikian rupa dengan hitungan dan rincian
yang tepat. Maka dari itu dalam kesempatan ini, akan dibahas mengenai
analisis struktur yang bertujuan untuk mempelajari tentang gabungan antara
bidang mekanika teknik, mekanika material dan matematika.

1.2 Tujuan
Untuk mempelajari pembahasan tentang analisis struktur secara ringkas
dan jelas.

1.3 Batasan Masalah


Makalah ini membahas tentang analisis struktur dengan penjelasan
sederhana dengan materi yang umum.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian dan Sejarah Analisis Struktur

Analisis struktur merupakan ilmu untuk menentukan efek dari beban


pada struktur fisik dan komponennya. Adapun cabang pemakaiannya meliputi
analisis bangunan,jembatan, perkakas, mesin, tanah, dll. Analisis struktur
menggabungkan bidang mekanika teknik, teknik material dan matematika
teknik untuk menghitung deformasi struktur, kekuatan internal, tekanan,
reaksi tumpuan, percepatan, dan stabilitas. Hasil analisis tersebut digunakan
untuk memverifikasi kekuatan struktur yang akan maupun telah dibangun.
Dengan demikian analisis struktur merupakan bagian penting dari desain
rekayasa struktur.

Tulisan Galileo Gallilei mengenai lentur balok kantilever


Sejarah analisis struktur lahir dari ilmu mekanika yang merupakan
cabang dari fisika. Tulisan tertua yang berisi ilmu ini dibuat
olehArchimedes (287-212 SM) yang membahas prinsip pengungkit dan prinsip
kemampuan mengapung. Kemajuan yang besar diawali oleh hukum kombinasi
vektor gaya oleh Stevinus (1548-1620), yang juga merumuskan sebagian besar
dari prinsip-prinsip statika. Penyelidikan tentang lentur pertama kali
dilakukan Galileo Galilei (1564-1642) namun baru dipecahkan dengan baik
oelh Auguste Coloumb (1736-1806). Robert Hooke (1635 - 1703) menemukan
kelakuan material yang dikenal dengan hukum Hooke sebagai dasar dari ilmu
elastisitas. Metode kerja maya dikembangkan awalnya oleh Leibnitz untuk
menyelesaikan masalah mekanika biasa. Selanjutnya pendekatan ini benar-
benar sangat berguna dan penggunaannya diperluas dalam berbagai kasus.
Berbeda dengan ilmuwan lain yang menekankan persamaan analitik, Christian
Otto Mohr (18351918) mengembangkan metode grafis yang antara lain
lingkaran Mohr (untuk menentukan tegangan), dan diagram Williot-Mohr
(untuk menentukan perpindahan truss). Tokoh lain yang terlibat dalam
perkembangan ilmu analisis struktur awal diantaranya, Marotte,
D'Alembert, Euler (teori balok dan tekuk), Navier, Bernoulli (teori
balok), Maxwell (Prinsip Maxwell), Betti (hukum Betti), St. Venant (torsi),
Rayleigh, dan Castigliano (teori defleksi). Teori balok Euler-Bernoulli
dibuktikan kebenarannya dengan diselesaikannya pembangunan Menara
Eiffel di Paris. Sebelumnya teori itu hanya dibahas oleh para ilmuwan semata.

Pada abad modern, perkembangan besar ilmu bahan dilakukan oleh


ilmuwan Rusia-AS Stephen P. Timoshenko. Maha karyanya Strength of
Material merupakan buku wajib mahasiswa teknik sipil hampir
diseluruh dunia. Penemuan penting lain adalah metode distribusi momen oleh
Hardy Cross pada tahun 1930 dalam tulisannya di jurnal ASCE. Kontribusi
lain Cross adalah metode analogi kolom. Namun metode klasik yang mulai
digantikan seiring dengan berkembangnya kemampuan dan kecepatan
komputer. Maka dari itu penggunaan metode elemen hingga semakin meluas
oleh insinyur struktur. Analisis yang sebelumnya memakan banyak kertas
dengan ketelitian semakin berkurang dengan banyaknya variabel berhasil
diatasi. Metode ini pertama kali dipakai dalam menganalisis gedung Opera
Sydney oleh firma konsultan kenamaan Ove Arup. Bisa dikatakan metode
elemen hingga merupakan penemuan terpenting dalam bidang analisis
struktur.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Elemen Struktur

Sebuah sistem struktur merupakan gabungan antara elemen struktur


dengan bahannya. Sangat penting bagi insinyur untuk mengklasifikasi
struktur baik bentuk maupun fungsi dengan mengenali berbagai elemen yang
menyusun struktur tersebut. Elemen struktur diantaranya :

3.1.1 Elemen lentur: Balok sederhana

Lentur balok

Sebuah balok langsing yang diberi perletakan sederhana akan


menghasilkan lenturan. Sebutan masalah lentur diartikan pada studi mengenai
tegangan dan deformasi yang timbul pada elemen yang mengalami aksi gaya.
Umumnya tegak lurus pada sumbu elemen sehingga salah satu tepi serat
mengalami perpanjangan dan tepi serat lainnya mengalami penyusutan.
Persamaan sederhana untuk menentukan tegangan lentur pada balok dengan
perletakan sederhana adalah :
Dimana :

adalah tegangan lentur

M - momen pada sumbu netral

y - jarak tegak lurus sumbu netral ke tepi

Ix - momen inersia luasan pada sumbu netral x.

3.1.2 Elemen Tekan : Kolom

Selain dinding pemikul beban, kolom juga merupakan elemen vertikal


yang sangat banyak digunakan. Umumnya kolom tidak mengalami lentur
secara langsung dikarenakan tidak ada beban tegak lurus pada sumbunya.
Kolom dikategorikan bedasarkan panjangnya. Kolom pendek adalah kolom
yang kegagalannya berupa kegagalan material (ditentukan oleh kekuatan
material). Kolom panjang adalah kolom yang kegagalannya ditentukan oleh
tekuk, jadi kegagalannya adalah kegagalan karena ketidakstabilan, bukan
karena kekuatan.

3.1.3 Pelat

Plat adalah struktur palanar kaku yang secara khas terbuat dari
material monolit yang tingginya yang kecil dibandingkan dengan dimensi
lainnya. Umumnya dapat dikatakan bahwa pelat yang terbuat dari material
homogen mempunyai sifat yang sama pada segala arah.
3.1.4 Membran

Membran adalah suatu struktur permukaan fleksibel tipis memikul


beban terutama melalui proses tegangan tarik. Struktur membran cenderung
dapat menyesuaikan diri dengan cara struktur dibebani. Selain itu struktur ini
sangat peka terhadap efek aerodinamika dari angin. Efek ini dapat
menyebabkan fluttering (getaran). Penstabilan bisa dilakukan dengan
memberi gaya pra-tegang.

3.1.5 Cangkang

Cangkang adalah bentuk struktural berdimensi tiga yang kaku dan


tipis serta mempunyai permukaan yang lengkung. Beban-beban yang bekerja
pada permukaan cangkang diteruskan ke tanah dengan menimbulkan
tegangan geser, tarik, dan tekan pada arah dalam bidang (in-plane)
permukaan tersebut.

3.2 Tipe Struktur

Kombinasi elemen struktur dan material yang menyusunnya disebut


sebagai suatu sistem struktur. Setiap sistem dibangun dari satu atau lebih dari
keempat tipe dasar struktur.
Gedung John Hancock Center, merupakan gabungan struktur kerangka kotak
(tube) sebagai penahan beban gravitasi dan truss-x sebagai pengaku lateral.

3.2.1 Truss

Truss terdiri dari ikatan elemen balok tegangan tarik dan elemen
kolom pendek dan biasanya berbentuk segitiga. Truss bidang disusun dari
elemen-elemen yang berada pada bidang yang sama (2 matra) dan seringkali
digunakan untuk jembatan-jembatan, penopang atap. Sebaliknya, truss ruang
memiliki elemen-elemen yang dapat mengembang ke dalam tiga matra dan
cocok untuk derek dan menara. Kemampuan bentangnya mulai dari
10 m hingga 125 m. Untuk kasus jembatan di Indonesia, kemampuan bentang
truss tipe Warren bisa mencapai 60 m dibandingkan dengan jembatan balok
prategang sederhana yang hanya mampu membentang sepanjang 30 m.
3.2.2 Kabel

Dua bentuk lain dari struktur yang digunakan untuk bentang panjang
adalah kabel dan bangunan berpola lengkungan. Kabel biasanya fleksibel dan
menyangga beban-bebannya dalam tegangan tarik. Tidak seperti tegangan
tarik yang mengikat, beban luar (eksternal) tidak dipakai sepanjang sumbu
kabel, dan akibatnya kabel mengalami bentuk kelengkungan tertentu.
Kabel umumnya digunakan untuk tujuan seperti menopang gelagar
jembatan dan atap bangunan. Bila digunakan untuk tujuan ini, kabel memiliki
suatu keuntungan dibandingkan balok dan truss khususnya untuk bentang
melebihi 50 meter. Karena mereka berlaku sebagai tegangan tarik, kabel-
kabel tidak akan menjadi stabil dan runtuh secara mendadak seperti yang
biasa terjadi pada balok atau truss. Dalam aspek biaya, truss akan
membutuhkan biaya tambahan dalam konstruksinya dan terjadi peningkatan
ketinggian akibat bentang yang meningkat. Penggunaan kabel-kabel pada sisi
lain dibatasi hanya oleh berat dan metode-metode penggantungan

3.2.3 Lengkungan

Lengkungan atau busur (Arch) mencapai kekuatannya dalam tegangan


mampat, karena ia memiliki suatu bentuk kurva yang berlawanan
dibandingkan dengan kabel. Lengkungan meskipun harus dimampatkan agar
dapat menjaga bentuknya dan akibatnya pembebanan sekunder seperti gaya
geser dan momen, harus dipertimbangkan dalam desainnya. Lengkungan
seringkali digunakan dalam struktur jembatan, kubah, dan untuk pintu masuk
dinding bangunan batu.
3.2.4 Kerangka

Kerangka-kerangka (Frames) sering digunakan dalam bangunan yang


tersusun dari balok dan kolom yang hubungan berupa sambungan pin (sendi)
ataupun sambungan kaku. Pembebanan pada suatu kerangka menyebabkan
pembengkokan anggota bagian dan akibat dari hubungan sambungan kaku,
struktur ini umumnya menjadi struktur tak tentu dari sudut pandang analisis.
Kekuatan dari suatu kerangka diturunkan dari interaksi momen antara balok
dan kolom pada sambungan kaku, dan hasilnya keuntungan ekonomis dari
penggunaan suatu kerangka bergantung pada peningkatan efesiensi dalam
menggunakan ukuran balok yang lebih kecil terhadap peningkatan ukuran
kolom dari aksi balok-kolom yang disebabkan pembengkokan pada
sambungan-sambungan.

3.2.5 Struktur Bidang Permukaan

Struktur bidang permukaan dibuat dari suatu bahan yang memiliki


ketebalan yang sangat tipis dibandingkan dengan ukuran dimensi lainnya.
Kadangkala material ini sangat lentur dan dapat mengambil bentuk suatu
tenda atau struktur gelembung udara. Pada kasus ini material bekerja sebagai
suatu struktur membran yang dibebankan oleh tegangan tarik murni.
Struktur bidang permukaan bisa juga dibuat dari bahan kaku seperti
beton pratekan atau ferro-semen. Sebagaimana mereka bisa dibentuk sebagai
pelat lipatan, silinder, atau parabola hiperbolik dan disebut pelat tipis atau
cangkang. Struktur ini bekerja menyerupai kabel atau lengkungan karena
mereka pada pokoknya menopang beban-beban dalam bentung tegangan tarik
atau mampatan (tekanan) dengan pembengkokan yang sangat kecil.
3.3 Beban

Jembatan tipe Warren Truss di Leupung, Aceh. Disini beban mati adalah berat
rangka baja dan perkerasan jalan. Sedang beban hidupnya adalah beban
kendaraan, angin, dan gempa.

Setelah dimensi dari struktur itu diketahui, sangat penting kemudian


menentukan beban apa saja yang ditanggung dari struktur. Beban disain
biasanya dispesifikasi oleh peraturan bangunan yang berlaku. Untuk wilayah
hukum Indonesia digunakan SNI 03 1727 1989Perencanaan Pembebanan
Untuk Rumah dan Gedung. Ada dua jenis beban pada struktur yang harus
dipertimbangkan dalam desain. Tipe pertama ini disebut dengan Beban
mati yang merupakan berat dari kumpulan setiap anggota struktur maupun
berat objek benda yang ditempatkan secara permanen. Sebagai contoh,
kolom, balok, balok penopang (girder), pelat lantai, dinding,
jendela, plumbing, alat listrik, dan lain sebagainya. Kedua adalah Beban
hidup, yang mana beban yang bergerak atau bervariasi dalam ukuran maupun
lokasi. Contohnya adalah beban kendaraan pada jembatan, beban pengunjung
pada gedung, beban hujan, beban salju, beban ledakan, beban gempa, dan
beban alami lainnya.

3.3.1 Beban Angin

Bila struktur merintangi aliran angin, energi kinetik angin


dikonversikan ke dalam energi potensial tekanan, yang menyebabkan
terjadinya suatu pembebanan angin. Efek angin pada struktur bergantung
pada kerapatan dan kecepatan udara, sudut datang angin, bentuk dan
kekakuan struktur dan kekesaran permukaannya. Pembebanan angin bisa
ditinjau dari pendekatan statik maupun dinamik.

3.3.2 Beban Gempa

Gempa bumi menghasilkan pembebanan pada suatu struktur melalui


interaksi gerakan tanah dan karakteristik respon struktur. Pembebanan ini
merupakan hasil dari distorsi struktur yang disebabkan oleh gerakan tanah
dan kekakuan struktur. Besarnya bergantung pada banyak dan tipe percepatan
gerak tanah, masa dan kekakuan struktur. Pembebanan dan analisis gempa di
Indonesia merujuk pada SNI 03 1726 2010 Standar Perencanaan Ketahanan
Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung.

3.3.3 Tekanan Hidrostatik dan Tekanan Tanah

Bila struktur-struktur digunakan untuk menahan air, tanah atau materi


glanural, tekanan yang dihasilkan oleh beban-beban ini menjadi suatu kriteria
desain yang penting. Contohnya adalah bendungan atau dinding penahan
(retaining wall). Disini hukum-hukum hidrostatik dan mekanika
tanah dipakai untuk menentukan pembebanan struktur.

3.4 Stabilitas Struktur

Pada struktur stabil, deformasi yang diakibatkan beban pada


umumnya kecil dan gaya dakhil (internal) yang timbul dalam struktur
mempunyai kecenderugan mengembalikan bentuk semula apabila bebannya
dihilangkan. Pada struktur tidak stabil, deformasi yang diakibatkan oleh
beban pada umumnya mempunyai kecenderungan untuk terus bertambah
selama struktur dibebani. Struktur yang tidak stabil mudah mengalami
keruntuhan secara menyeluruh dan seketika begitu dibebani. Sebagai contoh,
bayangkan tiga buah balok disusun membentuk rangka segiempat. Berikan
gaya horizontal diujung rangka atas balok tersebut. Maka lama kelamaan
rangka itu roboh. Salah satu cara untuk membuatnya lebih stabil
dengan bracing atau mengisinya dengan dinding. Selain dengan yang
disebutkan tadi, ketidakstabilitas struktur bisa diakibatkan juga oleh
kelemahan kolom yang diakibatkan tekuk maupun efek P-Delta.

3.5 Metode Analisis

Analisis Cremona untuk truss sederhana.

Untuk bisa menghasilkan analisis yang akurat, insinyur struktur harus


memperoleh informasi mengenai beban struktur, geometri, kondisi tumpuan,
dan sifat bahan. Hasil dari analisis biasanya berupa reaksi tumpuan, tegangan,
geser, momen, puntir, dan perpindahan. Informasi ini kemudian dibandingkan
dengan kriteria kondisi kegagalan. Analisis struktur lanjutan menyertakan
respon dinamika, stabilitas dan perilaku non-linier. Ada dua pendekatan
analisis yang umum yaitu pendekatan analitik dan grafis. Pendekatan analitik
menerapkan mekanika bahan, teori elastisitas dengan jalan analisis
matematika seperti vektor, matrik ataupun elemen hingga. Pendekatan grafis
menerapkan prinsip-prinsip geometri struktur dan garis sebagai beban untuk
menganalisis. Bagaimanapun terkadang prinsip mekanika klasik tetap
diterapkan seperti untuk mengecek kesetimbangan dan untuk menganalisis
balok statis tertentu.
Pendekatan analitik untuk menganalisis kerangka atau balok elastis
diantaranya adalah :
Metode Cross
Metode Takabeya
Metode distribusi momen
Metode analogi kolom
Metode kerja maya (energi virtual)
Metode kekakuan dan kelenturan
Metode defleksi kemiringan (slope deflection).
Sedangkan untuk menganalisis kestabilitas struktur (kemantapan kolom)
diantaranya :
Metode tekuk Euler
Teori modulus ganda
Teori modulus singgung
Metode Southwell
Metode energi
Analisis pelat :
Teori Khirchoff-Love
Teori Mindlin-Reissner
Teori ReissnerStein
Dengan pendekatan grafis :
Metode Cremona
Diagram defleksi Williot-Mohr
Analisis grafis pada analisis plastis (bukan elastis) kerangka atau balok.
3.6 Analisis Dengan Bantuan Komputer

STAAD.Pro adalah salah satu program analisis struktur.


Hingga akhir tahun 1950an, analisis beberapa tipe struktur tak-tentu
panjang dan rumit. Analisis struktur dengan banyak sambungan dan anggota
(truss ruang, contohnya) memerlukan beberapa bulan perhitungan oleh tim
insinyur berpengalaman. Itupun perlu banyak asumsi yang disederhanakan
sehingga hasilnya kadang justru menimbulkan keraguan. Sekarang, program
komputer yang tersedia bisa membuat pekerjaan lebih cepat dan akurat.
Beberapa pengecuali tetap ada. Jika struktur memiliki bentuk yang tidak
lazim dan komplek seperti dinding tebal wadah nuklir atau lambung kapal
selam, analisis komputer akan lebih rumit dan memakan waktu yang banyak.
Kebanyakan program komputer ditulis untuk analisis orde-pertama,
dimana diasumsikan, kelakuan linear-elastis, anggota tidak memiliki efek
akibat deformasi, tidak ada pengurangan kekakuan akibat beban tekan. Ketika
masalah lebih rumit,dianjurkan menggunakan analisis orde kedua dengan
memperhatikan kelakuan in-elastis, perubahan geometri, dan pertimbangan
lain yang dianggap mempengaruhi perilaku struktur. Program analisis struktur
ditulis bedasarkan metode elemen hingga. Contohnya adalah Frame3DD,
SAP2000 dan ETABS.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dengan mempelajari ilmu tentang mekanika analisis struktur


memberikan pemahaman tentang struktur-struktur bangunan dari berbagai
segi elemen maupun material yang digunakan, serta pengaruh yang terjadi
dari sebab alam maupun dari manusia.

4.2 Saran

Untuk membuat struktur yang baik harus memahami material yang


digunakan maupun keadaan alam disekitar. Karena keadaan tersebut akan
mempengaruhi struktur bangunan itu sendiri.