Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Distosia kelainan tenaga (his) adalah his tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya. Hal
ini menyebabkan gangguan pada jalur lahir dan tidak dapat diatasi sehingga menyebabkan
gangguan partus (macet).
Inersia uteri adalah kelainan his yang kekuatannya tidak mampu untuk melakukan
pembukaan serviks atau mendorong janin keluar. Sifatnya lebih lemah, lebih singkat dan lebih
jarang jika dibandingkan dengan his yang normal. Inersia uteri dibagi menjadi 2 macam yaitu
inersia uteri primer dan inersia uteri sekunder.
Atonia uteri merupakan suatu kondisi dimana myometrium tidak dapat berkontraksi dan
bila ini terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat melekatnya plasenta menjadi tidak
terkendali. Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah
melahirkan. Atonia terjadi karena kegagalan mekanisme ini. Perdarahan pospartum secara
fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang mengelilingi pembuluh
darah yang memvaskularisasi daerah implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-
serabut miometrium tidak berkontraksi.
Perdarahan Pascapersalinan (PPP) sampai saat ini masih merupakan penyebab utama
kematian maternal terutama di negara berkembang. Diseluruh dunia diperkirakan terdapat
kematian maternal sebanyak 529.000 setiap tahunnya. Dari seluruh kematian tersebut 99%
terjadi di negara-negara berkembang (Geller and Adams, 2007), dan lebih dari 25% disebabkan
perdarahan pascapersalinan. Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak, yaitu 70% sebagai
penyebab PPP.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pengaruh inersia uteri terhadap fisiologis dan patologis dari organ reproduksi
hewan betina (hewan kecil) ?
2. Bagaimana pengaruh atonia uteri terhadap fisiologis dan patologis dari organ reproduksi
hewan betina (hewan kecil) ?
3. Bagaimana cara menangani kasus inersia uteri dan atoni uteri pada hewan betina (hewan
kecil) ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengaruh inersia uteri terhadap fisiologis dan patologis dari organ reproduksi
hewan betina (hewan kecil).
2. Mengetahui pengaruh atonia uteri terhadap fisiologis dan patologis dari organ reproduksi
hewan betina (hewan kecil).
3. Mengetahui cara menangani kasus inersia uteri dan atoni uteri pada hewan betina (hewan
kecil).

BAB II
ISI

2.1 Inersia Uteri pada Anjing


Inersia Uteri merupakan abnormalitas dari fisiologis normal kontraksi uterus selama atau
setelah partus dan juga merupakan sesuatu yang umum terjadi pada sapi. Namun, dilaporkan hal
itu merupakan sesuatu yang jarang terjadi pada anjing. Inersia uteri primer berhubungan dengan
suatu kondisi disfungsi hormonal, sedangkan Inersia uteri sekunder berhubungan dengan
kelelahan dari otot uterus (Robert, 1971).

a) Contoh kasus.
Seekor anjing primiparus dengan histori kehamilan yang normal dan komplit 65 hari
dengan abdomen dan kelenjar mamary yang membesar. Anjing tersebut sebelumnya telah
diterapi menggunakan oxytocin. Histori klinikal menunjukan tanda yg normal dari labour selama
12 jam. Examinasi radiologi menunjukan satu fetus dengan presentasi anteior dan posisi
dorsopubic.

b) Treatmen
Anjing tersebut diberikan oxytocin 2 iu dan injeksi epidocin 2 ml melalui secara
intramuskular yang gagal menginisasi kontraksi uterus dan karena itu diberikan dosis yang lebih
tinggi yakni 5 iu oxytocin diberikan intramuskular 6 jam setelahnya seperti yang disarankan
Romagnoli, et al (2004). Namun anjing tersebut tidak menunjukan tanda-tanda labour.
Radiografi lateral abdominal menunjukan satu fetus dengan presentasi anterior dan posisi
dorsopubic. Examinasi per vaginal menunjukan bahwa canal vaginanya kering dan menyempit
dan kemudian dilubrikasi dengan petroleum jelly dan whelping forceps. Kepala fetus kemudian
dijepit dengan forcep dan fetus dikeluarkan secara perlahan. Anjing tersebut kemudian diberikan
antibiotik cefotaxim 250mg dan meloxicum 1 ml melalui intramuskular dextrose 5% 200 ml
intrvena selama 3 hari.
Anjing adalah multiparus, umumnya sulit untuk menentukan presentasi dan posisi
melalui pemeriksaan klinis. Pada kasus ini presentasi dan posisi dapat diidentifikasi dengan
mudah mengingat hanya terdapat satu fetus yang berada di uterus. Meskipun pesentasi dan
posisinya normal, intertia uteri menyebabkan ketidakmampuan dalam berkontraksi mendorong
fetus keluar. Lubrikasi dan pengeluaran fetus dengan bantuan whelping forceps secara tepat
dapat meneluarkan anak anjing tersebut.

2.2 Inersia Uteri pada Kucing


Kejadian distokia pada spesies hewan seperti anjing dan kucing jarang terjadi (Jackson,
1995). Distokia merupakan penyebab utama terjadinya inersia uteri sekunder. Mal presentasi,
mal posisi dari fetus, ukuran fetus yang terlalu besar, mal postur fetus dan saluran lahir yang
sempit adalah penyebab inersia uteri sekunder (Kulkarni et al.,1968). Umumnya yang
menyebabkan inersia uteri pada kucing dikarenakan distokia (94%). Etiology bukan merupakan
penyebab satu-satunya, faktor lainnya yaitu mekanik, hormonal, fisik dan komponen genetik
(Jones et al., 1988).
Seekor kucing umur 2 tahun mengalami waktu kebuntingan abnormal yaitu melebihi
waktu seharusnya. Akibatnya keluar cairan dari vagina yang berwarna hijau kehitam-hitaman,
waktu ini berlangsung selama 4 hari dan terjadi kematian fetus. Pemeriksaan per vaginal dapat
membuktikan adanya kematian fetus pada saluran lahir. Indikasi distokia dapat diketahui jika
waktu partus normal telah lewat 3-4 hari (Roberts, 2002).
Salah satu penanganan kejadian distokia yang menyebabkan inertia uteri dapat dilakukan dengan
operasi cecar.

The incision was made in to the body of uterus (Fig.1) Removed all dead and oversized fetuses (Fig.2)

2.3 Penanganan PPP karena Atonia Uteri (Kelinci New Zealand)

Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak, yaitu 70% sebagai penyebab PPP.
Penanganan PPP (perdarahan pascapersalinan) yang paling penting adalah menentukan
etiologinya kemudian memberikan terapi yang sesuai. Kegagalan dalam menentukan kausa dan
terapi yang sesuai menyebabkan perdarahan tidak berhenti dan menimbulkan penyakit yang
serius (Chervenak, 2001).
Mekanisme penghentian perdarahan pada PPP berbeda dengan tempat lain yang peran
faktor vasospasme dan pembekuan darah sangat penting, pada PPP penghentian perdarahan pada
bekas implantasi plasenta terutama karena kontraksi dan retraksi miometrium sehingga
menyempitkan dan membuntu lumen pembuluh darah. Bila kontraksi dan retraksi kurang baik
maka akan dapat mengakibatkan PPP walaupun faktor pembekuan darahnya normal atau
sebaliknya walaupun sistem pembekuan darahnya abnormal tetapi bila kontraksi dan retraksi
miometrium baik dapat menghentikan perdarahan (Cunningham et al., 2010).
Penelitian dilakukan dengan menggunakan kelinci. Tujuan penelitian untuk menjelaskan
patofisiologi biomolekuler yang mendasari mekanisme penghentian perdarahan pada PPP karena
atonia uteri setelah dilakukan penjahitan kompresi uterus yang pada penelitian ini menggunakan
penjahitan modifikasi Surabaya dengan cara mengkonfirmasi peningkatan L-type Calcium
Channel, kalsium intraseluler, PAR-1 dan HSP-27 pada uterus kelinci setelah dilakukan
penjahitan modifikasi Surabaya.

Teknik operasi jahitan modifikasi Surabaya untuk PPP:

Uterus dieksteriorisasi dari rongga abdomen setelah dilakukan irisan di dinding abdomen
bila PPP pascapersalinan pervaginam atau setelah dilakukan penjahitan pada irisan
SBR(Segmen Bawah Rahim) bila PPP terjadi pada pascaseksio sesar.
Seorang asisten memegang corpus uteri sebelah kanan dan kiri, kemudian menarik uterus
kearah cranial sehingga dinding SBR menjadi lebih tipis.
Jahitan pertama dikerjakan pada 2 cm dibawah jahitan irisan SBR setelah seksio sesaria
atau pada bidang yang sejajar dengannya bila pada PPP pascapersalinan pervaginam.
Jarum ditusukkan dari ventral menembus dinding uterus sampai keluar dari dinding
dorsal SBR, benang jahitan dibawa ke atas fundus dan di klem.
Jahitan kedua dikerjakan seperti pada jahitan pertama tetapi pada sisi kontralateral
dengan menggunakan benang yang baru.
Jahitan ketiga juga dengan benang yang baru dijahitkan di antara kedua jahitan.
Asisten yang awalnya menarik uterus, sekarang dianjurkan untuk melakukan kompresi
uterus kearah anterior inferior (kaudal) sehingga posisi uterus menjadi antefleksi.
Operator melakukan pengikatan jahitan di daerah fundus 3 cm dari tepi lateral
sedemikian rupa sambil asisten tetap mempertahankan posisi antefleksi uterus. Demikian
juga pada ikatan kontralateral dan bagian yang tengah. Dengan 3 ikatan kompresi ini
maka kompresi awal yang dikerjakan oleh asisten dapat digantikan oleh ikatan ke 3
benang ini.
Untuk menilai efektivitas pengikatan kompresi uterus, sebelum dinding abdomen ditutup
dilakukan pemeriksaan perdarahan pervaginan dengan cara ibu diposisikan litotomi dan
asisten yang lain memeriksa vagina apakah masih terdapat perdarahan. Bila tidak
didapatkan perdarahan yang mengalir, berarti teknik penjahitan berhasil dan dinding
abdomen ditutup, bila masih perdarahan banyak berarti teknik penjahitan tidak berhasil,
maka perlu dilakukan tindakan operasi yang selanjutnya, ligasi arteri Hypogastrica atau
histerektomi (Sulistyono et al., 2010).

Gambar 3. Gambaran skematis jahitan uterus metode Surabaya (Sulistyono,2010).

BAB III
KESIMPULAN

Inersia Uteri merupakan abnormalitas dari fisiologis normal kontraksi rahim selama atau
setelah partus. Inersia uteri dibagi menjadi 2 macam yaitu inersia uteri primer dan inersia uteri
sekunder. Inersia uteri primer berhubungan dengan suatu kondisi disfungsi hormonal, sedangkan
Inersia uteri sekunder berhubungan dengan kelelahan dari otot uteri. Distokia merupakan
penyebab utama terjadinya inersia uteri sekunder. Mal presentasi, mal posisi dari fetus, ukuran
fetus yang terlalu besar, mal postur fetus dan saluran lahir yang sempit adalah penyebab inersia
uteri sekunder. Etiology bukan merupakan penyebab satu-satunya, faktor lainnya yaitu mekanik,
hormonal, fisik dan komponen genetik. Salah satu penanganan kejadian distokia yang
menyebabkan inertia uteri dapat dilakukan dengan operasi cecar. Pada anjing Meskipun pesentasi
dan posisinya normal, intertia uteri menyebabkan ketidakmampuan dalam berkontraksi
mendorong fetus keluar. Lubrikasi dan pengeluaran fetus dengan bantuan whelping forceps
secara tepat dapat meneluarkan anak anjing tersebut.
Atonia uteri merupakan suatu kondisi dimana myometrium tidak dapat berkontraksi dan
bila ini terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat melekatnya plasenta menjadi tidak
terkendali. Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak, yaitu 70% sebagai penyebab PPP.
Penghentian perdarahan pada PPP karena atonia uteri setelah dilakukan penjahitan kompresi
uterus yang pada penelitian ini menggunakan penjahitan modifikasi Surabaya dengan cara
mengkonfirmasi peningkatan L-type Calcium Channel, kalsium intraseluler, PAR-1 dan HSP-27
pada uterus kelinci setelah dilakukan penjahitan modifikasi Surabaya.

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY, 2010. Obstetrical
Hemorrhage. In Williams Obstetrics, 23rd Ed, McGraw-Hill Medical Publishing
Division, New York-Toronto, 757-822.
Geller SE, Adams MG, 2007. A continuum of care model for postpartum hemorrhage, Int J
Fertil; 52(23):97-105.
Jones ,D.E., Joshua,J.O and Morton,D.B. 1988. Reproductive clinical problems in the dog.2nd
Edn.,Wright publications
Kulakarni, P.E., Parelkar, A.D., Vaidya,V.G. and Jam Khedkar, P.P. 1965.Torsion of urerus
in bitches. Indian Vet J.42:55
Roberts ,S.j. 2002. Veteruinary obestrics and genital disease, 2nd Edn.CBS publication, New
Delhi. Chevernak FA, 2001. Perinatal health in North America. Proceedings of the 5th
World Congress of Perinatal Medicine. In the Perinatal Medicine of the millennium.
Editor Carrera JM: 16-19.
Romagnoli S, de Souza FF, Rota A, Vannozzi I. (2004): Prolonged interval between
parturation of normal live pups in a bitch. J.Small Anim Pract, 45(5) .pp 249-53.
Sulistyono A, Gultom ESM, Dachlan EG, Prabowo P, 2010. Conservative surgical
management of postpartum hemorrhage using Surabaya Method(Modified B-Lynch
Compression suture). Indones J Obstet Gynecol; 243: 108-113.