Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di era modern, sastra tidak lagi diminati oleh banyak orang.
Sastra dianggap hal semu yang tidak dapat mengatasi masalah yang
terjadi dalam suatu kehidupan. Hal ini terjadi karena masyarakat
Indonesia saat ini sedang mengarah ke arah masyarakat industri,
sehingga konsep-konsep yang berkaitan dengan kebutuhan fisik, sains,
dan berbagai teknologi dianggap lebih penting untuk digapai. Mereka
lebih cenderung berfikir bahwa konsep-konsep tersebutlah yang
mampu menjadi solusi bagi permasalahan mereka. Akan tetapi, perlu
diketahui bahwa sastra pada zaman jahiliyah bahkan modern di dunia
Arab masih digemari dan dianggap suatu yang memiliki kekuatan yang
dahsyat untuk menaklukan sistem kehidupan. Dari kehebatan sastra
itulah muncul sastrawan-sastrawan hebat yang mempelopori
terciptanya karya sastra yang banyak mengandung pesan dan hikmah
yang tinggi.
Ada banyak sastrawan Arab modern, yang karya-karyanya tidak
hanya berkualitas di wilayahnya saja, bahkan kualitasnya telah
mencapai internasional. Pada masa ini pun telah banyak diterjemahkan
dalam bahasa Indonesia, sehingga karya-karya tersebut mampu
menambah minat baca masyarakat terhadap berbagai karya sastra.
Diantaranya adalah karya-karya Thaha Husein, Najib Mahfudz, Taufiq
Al-Hakim, dan lain sebagainya.
Namun di sini, penulis mencoba untuk membahas sastrawan
Arab modern, Taufiq Al-Hakim, karena penulis sangat tertarik dengan
salah satu sastrawan Arab modern ini yang karya-karyanya sangat
bagus dan mengandung hikmah dan filsafat yang tinggi serta
berkualitas. Beliau merupakan sastrawan besar muslim asal Mesir.
Kebesaran nama Taufiq Al-Hakim sebagai seorang sastrawan, cerpenis,
dan novelis, bahkan melampaui Najib Mahfudz yang konon telah
memperoleh penghargaan nobel sastra. Selain itu, Najib Mahfudz

1
sendiri mengaku bahwa ia adalah pengagum berat Taufiq al Hakim.
Tak Hanya pengagum, ia bahkan menyebut Taufiq al Hakim sebagai
gurunya. Taufiq al Hakim ini tidak hanya merupakan sastrawan
bestseller saja, tapi megabestseller.
Oleh karena itu, dengan adanya makalah ini, penulis berharap
kepada semua pembaca agar dapat memahami biografi Taufiq Al-
Hakim, pemikiran-pemikirannya, dan karya-karya beliau dengan benar
dan jelas.

1.2 Rumusan Masalah


1.Bagaimana biografi sastrawan Arab modern, Taufiq Al-Hakim?
2.Apa pemikiran-pemikiran Taufiq Al-Hakim dalam karya-karya?
3.Bagaimana isi yang terkadung dalam cerpen "Mu'tamar Al-Hub"
dari antologi cerpen "Arinillah" karya monumental Taufiq Al-
Hakim?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami biografi sastrawan Arab
moder, Taufiq Al-Hakim secara jelas dan menyeluruh.
2. Untuk mengetahui dan memahami pemikiran-pemikiran Taufiq
Al-Hakim dalam karya-karyanya.
3. Untuk menganalisis dan memahami isi yang terkandung dalam
cerpen "Mu'tamar Al-Hub".
1.4 Manfaat
1. Menjadikan mahasiswa mengerti dan memahami sejarah
lahirnya salah satu sastrawan Aran modern, Taufiq Al-Hakim,
beserta pemikiran-pemikirannya.
2. Memperluas wawasan dan pemahaman terhadap salah satu
karya populer Taufiq Al-Hakim yaitu karya cerpen Mu'tamarul
Hub

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Biografi Taufiq Al-Hakim


Sastrawan Arab modern yang bernama lengkap Taufiq Ismail Al-
Hakim dilahirkan waktu musim panas pada tahun 1902 di Dlahiyatu Ar-
raml, Iskandaria, Mesir. Ia memiliki keturunan Arab-Turki dari keturunan
keluarga petani kaya. Ayahnya, Ismail beik Al-Hakim, bekerja sebagai
hakim dan ibunya adalah perempuan cantik putri perwira tinggi Turki. Ayah Taufiq
Al-Hakim adalah seorang yang kaya. Beliau memiliki banyak harta dan
ladang pertanian. Pada tahun 1915, ketika berusia 7 tahun, Taufiq al
Hakim dimasukkan ayahnya ke sekolah dasar di Damanhur. Setelah
menyelesaikan studinya di Damanhur, ayah Taufiq mendesak untuk
menyekolahkannya ke sekolah menengah "Muhammad Ali, salah satu
sekolah tingkat menengah di Kairo. Di sana, beliau hidup bersama
paman dan bibinya yang berdomisili di Kairo1.
Ketika terjadi pergolakan nasional di Mesir, pada tahun 1919,
Taufiq sempat dijebloskan bersama pamannya, Hasan, ke penjara
karena tuduhan atas afiliansi dengan pemuda-pemuda untuk
menghina dan menyerang pemerintahan. Taufiq terlibat dalam
pergolakan itu di bawah pimpinan Sad Zaglul. Kabar itu begitu cepat
sampai dan didengar oleh ayahnya dan membuat ayahnya bergegas
untuk pergi ke Kairo untuk menolong dan membebaskan Taufiq dan
pamannya dengan otoritas yang ia sandang ketika itu. Namun,
kekuasaan-kekuasaan kemiliteran tidak mudah memberikan toleransi
dan terus menentang. Penjara rupa-rupanya menjadi guru terbaik
Taufiq dalam mengembangkan pola pikir dan imaji-kreatifitasnya.
Sehingga selepas keluar dari penjara, ia pun bersungguh-sungguh
dalam mengembangkan bakat menulisnya. Ia menulis apa saja yang
ada dalam pikirannya2.

1 Jamaluddin Ar-Rimadi, Min Alamil Adabil Maashir, (pdf) Hlm. 128

3
Pada tahun 1920, setelah memperoleh ijazah kafaah (kredibel) di
mesir, beliau melanjutkan studi ke sekolah hukum di Eropa. Beliau
kemudian menetap di Paris cukup lama untuk belajar ilmu hukum dan
hingga akhirnya pada tahun 1925, ia memperoleh gelar Doktor di
bidang hukum. Selama studi hukum itu, Taufiq biasa menulis naskah
drama untuk dimainkan oleh Teater Uzbek. Taufiq Al-Hakim merasa
bahwa sesungguhnya belajar ilmu hukum bukanlah kemauan dan
bukan menjadi kebutuhannya melainkan Taufiq lebih ingin untuk belajar
ilmu sastra dan seni drama. Di Perancis telah banyak pemuda yang
menekuni kehidupan kota paris yang di dalamnya banyak kesenian dan
fenomena-fenomea keindahan. Hal tersebut membuat Taufiq semakin
gigih untuk giat membaca cerita-cerita dan menekuni kesenian bidang
drama3.

Pada tahun 1928, sepulangnya dari Perancis, Taufiq bukannya meniti karier secara
serius di bidang hukum, ia malah kian hobi menulis naskah drama dan kemudian
mementaskannya dengan kelompok-kelompok teater yang dibentuknya. Pementasan
naskah dramanya berjudul "Ahlul Kahfi" (Penghuni Gua) yang terilhami dari Al-Quran
surat Al-Kahfi, pada tahun 1932, begitu menggemparkan Mesir karena dianggap sebagai
pelopor drama kontemporer di Mesir.
Nama Taufiq semakin melambung ke puncak tangga popularitas, ketika dua tahun
kemudian, yakni pada tahun 1934, ia mengeluarkan naskah drama yang berjudul
"Syahrazad" (Kisah Seribu Satu Malam). Naskah ia banyak mendapat tanggapan dari
kalangan sastrawan. Tak selang berapa lama kemudian, novel perdananya, "Audaturruuh"
(kembalinya Sang Arwah) pun meluncur di pasaran. Novel itu pun mendulang sukses
besar. Kapasitasnya sebagai novelis segera diakui banyak kalangan. Kesuksesan di
bidang sastra itulah, yang kemudian membuat Taufiq berfikir ulang tentang kariernya.
Pada tahun 1935, ia mengundurkan diri dari tempat kerjanya di Departemen
Kehakiman, dan ia beralih ke Departemen Pendidikan, karena di bidang yang terakhir
2 Anif Sirsaeba, Dalam perjamuan Cinta, (Jakarta: Penerbit Replubika, 2008)
Hlm. 151-152

3 Ibid, hlm. 128

4
inilah ia merasa menemukan kecocokan. Tapi di Departemen Pendidikan ini ia hanya
bertahan selama tiga tahun. Ia kemudian pindah ke Departemen Sosial pada tahun 1939,
dan empat tahun kemudian mengundurkan diri pada tahun 1943. Semenjak
kemundurannya dari Departemen Sosial ini, ia bertekad mengabdikan dirinya hanya di
bidang sastra yang begitu dicintainya dan telah membesarkan namanya, hingga beliau
wafat tahun 1987 di Kairo4.

2.2 Pemikiran-Pemikiran Taufiq Al-Hakim dalam Karya-Karyanya


2.2.1 Karya-karya Taufiq Al-Hakim
Taufiq Al-Hakim meninggal dunia pada tahun 1987 dengan
mewariskan lebih dari 60 naskah drama Arab modern, 2 kumpulan
cerpen dan 20 novel yang bermutu tinggi. Adapun beberapa dari
karya-karya yang terkenal diantaranya sebagai berikut5:
1. merupakan naskah drama yang ditulis ketika ia
masih remaja pada saat terjadi revolusi 1919 melawan penjajah
Inggris.
2. (1933) , merupakan sebuah karya terjemahan.
Karya ini adalah karya masrahiyyah terbaik dalam sastra Arab
modern yang diambil dari kisah Ashabul Kahfi dalam al Quran.
3. (1933) , merupakan karya Taufiq al Hakim berupa
novel yang diterbitkan pada tahun 1933 oleh Dar al Syuruq di
Kairo. Ilmuwan timur dari Jerman mengatakan bahwa Audatur
Ruh ini merupakan novel Mesir yang temanya berisikan tentang
kebangkitan Mesir, beberapa suku, dan juga tuntutan adanya
kebebasan. Dalam novel ini pula, percakapan ditulis dalam
bahasa Amiyah, sedangkan isinya menggunakan bahasa fushah.

4. (1938) , sebuah novel yang


menceritakan keseharian Taufiq Al-Hakim ketika menjadi wakil di
departemen kehakiman.

4 Ahmad Athoillah Fathoni, Leksikon Sastrawan Arab Modern (Yogyakarta:


Datamedia, 2007) Hlm. 145

5 Ahmad Athoillah Fathoni, Op.cit., hlm. 146

5
5. (1953) merupakan novel sekaligus antologi cerpen,
yang mana nama ini diambil dari salah satu cerpen karyanya.
Dalam antologi ini termuat 18 cerpen Taufiq al Hakim,
diantaranya; Arinillah (Lihatkan Allah Padaku), Asy Syahiid (Sang
Martir), Mauziul Barid (Seorang Tukang Pos), Wakaanatid Dunya
(Dan Dunia Pun Ada), Daulatul Ashaafir (Negeri Burung Pipit), dan
masih banyak lagi yang lainnya.

6. (1934) , sebuah karya terjemahan.


7. (1938) , merupakan sebuah karya drama.
8. , sebuah karya kumpulan dari tiga fragmen naskah drama,
sebuah cerpen komedi, dan dua cerpen.
9. (1936) , sebuah karya novel yang ditulis bersama
Thaha Husen.
10. (1936) , sebuah biografi Nabi Muhammad saw dalam bentuk
cerita.

2.2.2 Hikmah dalam Imajinasi Tingkat Tinggi


Dari memahami penjelasan karya-karya di atas, Taufiq Al-Hakim adalah
tokoh sastrawan arab modern yang sangat mencintai dunia kesusastraan khususnya
bidang cerita pendek dan seni drama. Pemikiran-pemikiran beliau pun banyak
berbicara tentang persoalan-persoalan sastra, seni, dan kehidupan, seperti yang
dijelaskan bahwa Taufiq Al-Hakim adalah sang pelopor yang menundukkan
imajinasi dan abstraksi. Kehidupan beliau dipenuhi dengan imajinasi dan hayalan-
hayalan tingkat tinggi yang mengandung nilai-nilai hikmah dan filsafat. Kehidupan
tersebut membuat Taufiq Al-Hakim melihat bahwa hidup itu abstrak dan penuh teka-
teki, hingga Taufiq Al-Hakim memenuhi kehidupannya dengan seni dan agama yang
murni. Beliau menemukan bahwa di dunia timur ada bentuk hubungan kehidupan
dengan agama yang murni. Beliau meyakini bahwa kehidupan di dunia timur
menyeru untuk menguatkan gumpalan ruh timur yang suci di atas gumpalan ruh
yang ada di dunia barat6.
2.2.3 Drama Intelektual
6 Ismail Adham dan Ibrahim Naji, Op.cit., hlm. 55

6
Kebanyakan drama yang diciptakan oleh Taufiq Al-Hasan adalah bersifat
drama intelektual (al-mashrah adz-dzihniy) yang ditulis dan dibacakan kepada
khalayak penonton hingga hati pembaca terbuka untuk mengetahui makna dan simbol
yang mungkin didapatkan dalam kehidupan nyata secara mudah. Taufiq Al-Hakim
mempunyai ambisi yang kuat untuk mempertegas hakikat melalui karyanya yang
begitu banyak dan beliau menjelaskan sulitnya inkarnasi dalam aksi drama-dramanya
dan sulitnya menampilkannya di atas panggung. Beliau berkata: Aku sekarang
membangun dramaku ke dalam aliran intelektualitas seseorang dan aku menjadikan
para aktor berfikir untuk bergerak dalam luasnya makna yang absolut dan keluar dari
balutan simbol-simbol.
Drama Taufiq Al-Hakim yang berjudul Ahlul Kahfi merupakan karya yang
paling hebat dan mengangumkan dalam sejarah sastra arab modern. Beliau
menciptakan drama tersebut karena terinspirasi dari cerita abadi yang datang dari
salah satu surat di Al-Qur'an Al-Karim yaitu surat Al-kahfi. Drama ahlul kahfi ini
dipentaskan untuk yang pertama kali pada tahun 1933 M dan drama itu berasal dari
novel yang dibuka oleh sekelompok kaum di Mesir dan dimulai dengan melihat
ahlul kahfi di goa Ar-Raqim yang sangat gelap dan tidak ada orang yang dapat
melihat kecuali dua orang pemuda yang sedang duduk jongkok ditemani oleh anjjing
yang mengunjurkan kedua tangannya di muka pintu goa7.
2.3 Analisis Cerpen Mu'tamarul Hub dalam Antalogi Cerpen Arinillah
Cerpen Mu'tamarul hub atau Konferensi Cinta merupakan salah satu cerpen yang
terkenal di kalangan dunia internasional. Cerpen tersebut merupakan bagian cerita yang
dihimpun dalam satu karya antologi cerpen yang berjudul Arilillah (lihatkan Allah
padaku). Taufiq Al-Hakim menulis cerpen tersebut dengan penuh hikmah dan
mengandung filsafat yang tinggi. Dari segi tema, karya Taufiq al-Hakim ini menceritakan
tentang pentingnya cinta, makna cinta, dan misteriusnya cinta.
Ceritanya begitu menarik dan substansial dalam mengisahkan sebuah analogi sebuah
misteri cinta dengan peliknya politik dunia. Nilai itu terkandung dalam penggalan
perkataan Taufiq Al-Hakim melalui perantara seorang penyair di akhir cerita:
:
! ... -
7 Jamaluddin Ar-Rimadi, Op.cit., hlm. 130

7
... ...
... ...
... ... ...
...
8
...
Tidak hanya dalam segi kandungan hikmah dan filsafat yang beliau
jelaskan dalam karyanya, melainkan juga menggambarkan keelokan
dan keindahan bahasa yang beliau gunakan dalam mengeskplorasi
dalamnya hakikat cinta. Stilistika bahasa yang beliau gunakan adalah
jenis metafora yang mampu menyentuh bahkan menyihir hati
pembaca. Hal itu tergambar dalam penggalan kalimat yang dikatakan
oleh sang penyair:
:

! 9
"Cinta adalah alunan bait-bait syair. Maknanya meledak dari hati.
Keindahan akan hilang tatkala akal menjadi alat pertimbangannya!"

Dalam penggalan kalimat tersebut, terdapat kata yang secara


leksikal bermakna meledak atau meletus. Kata meledak sesungguhnya
tidak sesuai dengan kata makna yang menjadi subjeknya. Karena kata
meledak identik dengan bom atau bahan kimia yang bersifat reaktif.
Akan tetapi di sini, kata meledak digunakan untuk tujuan melebih-
lebihkan karena tingginya suatu maksud dari interpretasi makna yang
muncul.
Ungkapan kalimat yang penuh dengan keindahan sastra juga
muncul dalam ungkapan seorang penyair ketika megatakan bahwa
wanita yang bersama dia adalah matahari yang datang dari timur
untuk menyinari kehidupan beserta seluruh alam semesta.
Hal tersebut digambarkan dalam ungkapan:

8 Taufiq Al-Hakim, Arinillah, (Mesir: Dar Mishr Tiba'ah, 1940), hlm. 128

9 Ibid., hlm. 125

8
>><<
...
...10
Taufiq Al-Hakim menggunakan gaya bahasa Tashbih Baligh (analogi)
dalam menjelaskan keelokan dan keindahan wanita yang
diumpamakan seperti matahari yang menjadi sinar untuknya dan
untuk alam semesta.

10 Ibid, hlm. 127

9
BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Sastrawan Arab moder, Taufiq Al-Hakim, merupakan tokoh
sastrawan internasional yang begitu terkenal dan kredibel dalam
menciptakan karya sastra yang indah dan penuh dengan pesan dan
hikmah. Sastrawan Arab modern yang bernama lengkap Taufiq Ismail
Al-Hakim dilahirkan waktu musim panas pada tahun 1902 di Dlahiyatu
Ar-raml, Iskandaria, Mesir. Ia memiliki keturunan Arab-Turki dari
keturunan keluarga petani kaya. Ayahnya, Ismail beik Al-Hakim,
bekerja sebagai hakim dan ibunya adalah perempuan cantik putri perwira tinggi
Turki. Taufiq Al-Hakim adalah tokoh sastrawan arab modern yang sangat mencintai
dunia kesusastraan khususnya bidang cerita pendek dan seni drama. Karya-karya
melambung cukup banyak dan memiliki falsafah sejarah yang unik dan
beragam. Kehidupan beliau dipenuhi dengan imajinasi dan hayalan-hayalan tingkat
tinggi yang mengandung nilai-nilai hikmah dan filsafat. Kebanyakan drama yang
diciptakan oleh Taufiq Al-Hasan adalah bersifat drama intelektual (al-mashrah adz-
dzihniy) yang ditulis dan dibacakan kepada khalayak penonton hingga hati pembaca
terbuka untuk mengetahui makna dan simbol yang mungkin didapatkan dalam kehidupan
nyata secara mudah. Terutama dalam cerpen Mu'tamarul Hub, cerpen ini
mengandung nilai beberapa aspek kehidupan yang terhimpun dalam
balutan gaya bahasa dan sastra yang tinggi dan mempesona. Dalam
cerpenya tersebut banyak berkata tentang cinta yang misterius,
bermakna tinggi hingga membuat banyak orang tidak mampu untuk
menjelaskan dan menafsirkannya. Diketahui bahwa kebanyakan dari
cerpen maupun novel yang ditulis oleh Taufiq Al-Hakim memang
megandung banyak nilai dan hikmah. Baik hikmah kehidupan sosial,
politik, maupun agama. Tentunya nilai-nilai itu tidak sekedar
disampaikan dengan stilistika bahasa yang sederhana, melainkan

1
0
dengan stilistika bahasa yang memukau yang mampu membuat
pembaca heran dan tak mampu memprediksi apa yang akan terjadi.

1
1