Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang
sulit bagi hampir semua pasien.Berbagai kemungkinan buruk bisa saja
terjadi yang dapat membahayakan bagi pasien.Maka tak heran jika
seringkali pasien dan keluarganya menunjukkan sikap yang agak
berlebihan dengan kecemasan yang mereka alami.Kecemasan yang
mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang
harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat
segala macam prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan.

Perawat mempunyai peran yang sangat penting dalam setiap


tindakan pembedahan baik pada masa sebelum operasi, pada saat operasi,
dan sesudah operasi.Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk
mempersiapkan klien, baik secara fisik maupun psikis. Tingkat
keberhasilan pembedahan sangat tergantung pada setiap tahapan yang
dialami dan saling ketergantungan antara tim kesehatan yang terkait
(dokter bedah, dokter anestesi, dan perawat) disamping peranan pasien
yang kooperatif selama proses perioperatif.

Ada tiga faktor penting yang terkait dalam pembedahan, yaitu


penyakit yang diderita pasien, jenis pembedahan yang dilakukan, dan
pasien itu sendiri. Dari ketiga faktor tersebut, faktor pasien merupakan hal
yang paling penting, karena bagi penyakit tersebut tindakan pembedahan
adalah hal yang baik atau benar.Tetapi bagi pasien sendiri, pembedahan
mungkin merupakan hal yang paling mengerikan yang pernah mereka
alami.Mengingat hal tersebut diatas, maka sangatlah penting untuk
melibatkan pasien dalam setiap langkah-langkah perioperatif. Tindakan
keperawatan perioperatif yang berkesinambungan dan tepat akan sangat
berpengaruh terhadap suksesnya pembedahan dan kesembuhan pasien.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari keperawatan perioperatif ?
2. Sebutkan dan jelaskan fase pada keperawatan perioperatif?
3. Sebutkan dan Jelaskan jenis-jenis Pembedahan?
4. Sebutkan dan Jelaskan Jenis-jenis Anastesi ?
5. Bagaimana Asuhan Keperawatan praoperasi?
6. Bagaimana Asuhan Keperawatan Intraoperasi ?
7. Bagaimana Asuhan Keperawatan pascaoperasi ?
C. Tujuan Pembelajaran
1. Mengetahui definisi dari keperawatan perioperative
2. Mengetahui fase-fase yang terdapat pada keperawatan perioperatif
3. Mengetahui manajemen keperawatan pada fase pre operatif
4. Mengetahui manajemen keperawatan pada fase intra operatif
5. Mengetahui manajemen keperawatan pada fase pasca operatif
6. Mengetahui jenis-jenis Pembedahan
7. Mengetahui Jenis-jenis Anastesi
8. Mengetahui Asuhan Keperawatan praoperasi
9. Mengetahui Asuhan Keperawatan Intraoperasi
10. Mengetahui Asuhan Keperawatan pascaoperasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Keperawatan Perioperatif

B. Fase-fase Periode Perioperatif


1. Praoperatif
Fase ini dimulai saat keputusan untuk melakukan pembedahan atau
operasi telah dibuat dan disepakati dan akan berakhir ketika klien
dipindahkan ke meja operasi. Aktivitas keperawatan yang termasuk dalam
fase ini antara lain mengkaji klien, mengidentifikasi masalah keperawatan
yang aktual, merencanakan asuhan keperawatan berdasarkan kebutuhan
individu, dan memberikan penyuluhan praoperatif untuk klien dan orang
terdekat klien.
Sebelum melakukan prosedur pembedahan, klien harus
menandatangani informed consent, yang biasanya disediakan oleh
institusi. Formulir persetujuan ini melindungi klien dari sesuatu yang tidak
diinginkan atau tidak dipahami pada saat prosedur pembedahan. Selain itu,
formulir ini juga melindungi rumah sakit dan tim medis dari tuntutan klien
atau keluarganya. Informed consent menjadi bagian pencatatan klien dan
diikutsertakan ke ruang operasi bersama klien.
Yang mengurus pertanggung jawaban secara legal dari persetujuan
pembedahan adalah dokter bedah, namun perawat juga harus menyaksikan
klien menandatangani formulir persetujuan tersebut. Dalam melakukan hal
ini perawat harus memastikan bahwa klien memahami prosedur yang akan
dilakukan. Jika tidak dapat dipastikan apakah klien memahami dan
mnyetujui prosedur pembedahan, perawat harus menghubungi dokter
bedah sebelum pembedahan dilakukan.

Informed consent praoperatif harus terdiri dari :

a) Sifat dan tujuan pembedahan


b) Nama dan kualifikasi tenaga yang melakukan pembedahan
c) Risiko, termasuk kerusakan jaringan, kecatatan, atau bahkan kematian
d) Kemungkinan keberhasilan
e) Tindakan alternative lain yang mungkin
f) Hak klien untuk menolak persetujuan atau menarik kembali
persetujuan nantinya

2. Intraoperatif
Fase intraoperatif dimulai saat klien dipindahkan ke meja operasi
dan berakhir ketika klien masuk ke unit perawatan pascaanestesia (PACU,
pascaanesthesia care unit), yang juga disebut ruang pascaanestesi atau
ruang pemulihan. Aktivitas keperawatan yang termasuk dalam fase ini
antara lain berbagai prosedur khusus yang dirancang untuk menciptakan
dan mempertahankan lingkungan terapeutik yang aman untuk klien dan
tenaga kesehatan.
Perawat intraoperatif adalah anggota tim bedah yang penting,
berperan sebagai advokat klien, mempertahankan keselamatan, dan
mengkaji secara kontinu kebutuhan klien dan tim medis.

3. Pascaoperatif

Fase pascaoperatif dimulai saat klien masuk ke ruang pemulihan


atau ruang pascaanestesia dan berakhir ketika luka benar-benar sembuh.
Selama fase pascaoperatif, tindakan keperawatan antara lain mengkaji
respons klien (fisiologik dan psikologik) terhadap pembedahan,
melakukan intervensi untuk memfasilitasi proses penyembuhan dan
mencegah komplikasi, memberi penyuluhan dan memberikan dukungan
kepada klien dan orang terdekat, dan merencanakan perawatan di rumah.
Tujuannya adalah membantu klien mencapai status kesehatan yang paling
optimal.

Peran perawat selama fase pascaoperatif sangat penting terutama


untuk pemulihan klien. Anestesia menghambat kemampuan klien untuk
berespons terhadap stimulus lingkungan dan untuk membantu mereka
sendiri, meskipun derajat kesadaran klien mungkin akan sangat beraneka
ragam. Selain itu, pembedahan itu sendiri dapat menyebabkan trauma pada
tubuh dengan mengganggu mekanisme protektif dan homeostatis.
a. Fase Pascaanestesik Awal
Perawat pada ruang pemulihan memiliki kemampuan khusus untuk
merawat klien yang menjalani pemulihan dari pengaruh anesthesia dan
pembedahan.Jika telah stabil, klien dikembalikan ke area pembedahan
sehari sebelum dipulangkan.
Kembalinya refleks klien, seperti menelan dan gag, menandakan
pengaruh anesthesia sudah hilang.Masa pemulihan dari anesthesia
beragam, tergantung dari jenis agens anesthesia yang digunakan, dosis,
dan respons individu terhadap agens tersebut. Perawat harus
membangunkan klien dengan memanggil namanya mereka, dan
dengan nada suara normal secara berulang-ulang memberi tahu klien
bahwa pembedahan sudah selesai dan sudah bias berada di ruang
perawatan pasca-anestesik (PACU).
Jika sudah stabil, klien kembali ke ruang perawatan atau, pada
kasus bedah rawat jalan, ke area bedah sehari.
Klien biasanya pulang dari PACU jika :
Mereka sadar dan orientasi
Mereka mampu mempertahankan jalan napas bersih dan mampu
napas dalam dan batuk dengan bebas.
Tanda vital telah stabil atau konsisten dengan tanda vital sebelum
pembedahan setidaknya selama 30 menit
Refleks protektif (misal, gag, menelan) telah aktif
Mereka mampu menggerakkan keempat ekstremitas
Asupan dan haluaran urine adekuat (setidaknya 30 ml/jam)
Klien afebril atau kondisi febril yang telah ditangani
Balutan luka telah kering dan utuh; tidak ada drainase berlebih

b. Persiapan Perawatan Kontinu pada Klien Pascaoperatif


Sementara klien berada di ruang operasi, tempat tidur dan kamar
tidur klien dipersiapkan untuk fase pascaoperatif.Di beberapa institusi,
klien dibawa kembali ke ruang rawat menggunakan brangkar dan
dipindahkan ke tempat tidur yang ada di ruangan. Di institusi lain,
tempat tidur klien dibawa ke ruang operasi, dan klien akandipindahkan
di ruang tersebut. Dengan demikian, tempat tidur perlu diganti dengan
linen bersih segera setelah klien dipindahkan ke ruang operasi
sehingga dapat di bawa ke ruang operasi jika diperlukan.Selain itu,
perawat harus mendapatkan dan menyiapkan peralatan khusus, seperti
tiang infus (IV), suksion, perlengkapan oksigen, dan peralatan ortopedi
(misal traksi).

C. Jenis-jenis Pembedahan
1. Prosedur pembedahan berdasarkan tujuan
a. Diagnostik
Pembedahan yang memungkinkan penyedia layanan kesehatan
untuk mengonfirmasi atau menegakkan diagnosis.Biasanya termasuk
pengangkatan jaringan untuk pemeriksaan diagnostik selanjutnya.
Contohnya: eksplorasi laparotomi (insisi ke dalam ruang peritoneal
untuk melihat organ abdominal), biopsi massa payudara.
b. Paliatif
Prosedur pembedahan yang dilakukan untuk menurunkan atau
menguurangi nyeri atau gejala dari suatu penyakit. Contohnya:
kolostomi, debridemen (pembersihan) jaringan nekrotik, reseksi akar
saraf.
c. Ablatif
Prosedur pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat
bagian tubuh yang berpenyakit. Contohnya: amputasi, pengangkatan
usus buntu, mengangkat kantung empedu (kolesistektomi).
d. Konstruktif
Prosedur pembedahan yang dilakukan untuk memulihkan atau
memperbaiki fungsi atau penampilan yang telah hilang sebagai hasil
dari kelainan bawaan lahir. Contohnya : memperbaiki palatum yang
terbelah, merapatkan kerusakan septum arterial di jantung.
e. Transplantasi
Prosedur pembedahan dengan melakukan pengangkatan organ
dan/atau jaringan dari seseorang untuk diberikan atau
ditransplantasikan kepada orang lain. Dengan kata lain mengganti
struktur yang tidak berfungsi. Contohnya: transplantasi ginjal, jantung,
atau hati.
f. Rekonstruksi /restoratif
Prosedur pembedahan yang dilakukan untuk memulihkan
fungsi atau penampian atas jaringan yang trauma atau tidak berfungsi.
Contohnya: fiksasi internl dari fraktur, perbaikan bekas luka.
g. Kosmetika
Prosedur pembedahan yang dilakukan untuk meningkatkan
penampilan seseorang. Contohnya: blefaroplasti untuk mengoreksi
kelainan bentuk kelopak mata, rinoplasti untuk mengubah bentuk
hidung.
2. Prosedur pembedahan tingkat keterdesakan
Pembedahan diklasifikasikan oleh sifat keterdesakannya dan
kepentingannya untuk menyelamatkan hidup, bagian tubuh, atau
fungsi tubuh klien. Prosedur pembedahan tingkat keterdesakan dibagi
menjadi 3, antara lain:
Elektif
Pembedahan yang dilakukan jika intervensi bedah
merupakan terapi pilihan untuk kondisi yang tidak secara langsung
membahayakan keselamatan pasien (tetapi mungkin akan
mengancam kehidupan atau kesejahteraan klien) atau
meningkatkan kehidupan klien. Contohnya: prosedur bedah plastik
seperti bedah plastik wajah.
Mendesak
Merupakan pembedahan yang penting untuk kesehatan
klien. Pembedahan ini sering dilakukan untuk mencegah masalah
tambahan lainnya menjadi berkembang (misalnya: kerusakan
jaringan atau kegagalan fungsi organ); tetapi tidak darurat.
Contohnya: pemotongan tumor kanker, pengangkatan kantung
empedu yang disebabkan oleh batu empedu, perbaikan vaskular
dari arteri yang tersumbat (misalnya bypass arteri koroner).
Darurat
Ini harus dilakukan dengan segera untuk mempertahankan
fungsi bagian tubuh atau menyelamatkan hidup klien. Contohnya:
pembedahan untuk mengendalikan pendarahan internal,
memperbaiki fraktur, memperbaiki luka amputasi.
3. Prosedur pembedahan berdasarkan derajat risiko (keseriusan)
Pembedahan juga diklasifikasikan sebagai bedah mayor atau
minor sesuai dengan derajat risiko terhadap klien.
1) Bedah mayor
Bedah mayor merupakan pembedahan dengan derajat risiko
tinggi. Pembedahan ini dilakukan untuk berbagai alasan,
diantaranya: pembedahan mungkin memiliki komplikasi atau lama,
kehilangan darah dalam jumlah besar mungkin dapat terjadi, organ
vital mungkin terkena, atau komplikasi pascaoperatif mungkin
terjadi. Contohnya: transplantasi organ, bedah jantung terbuka, dan
pengangkatan ginjal.
2) Bedah minor
Bedah minor merupakan pembedahan dengan derajat risiko
kecil, menghasilkan sedikit komplikasi, dan sering dilakukan pada
bedah rawat jalan. Contohnya: biopsi payudara, pembedahan
lutut.

Derajat risiko dalam prosedur pembedahan dipengaruhi oleh usia klien,


status kesehatan umum, status nutrisi, penggunaan medikasi, dan status
mental.
a. Usia
Usia dan status perkembangan memengaruhi kemampuan untuk
mengatasi stress fisiologik dan psikologik akibat pembedahan. Klien bayi
dan lansia memiliki risiko pembedahan yang lebih besar dibandingkan
dengan anak-anak dan orang dewasa.Respons fisiologik bayi terhadap
tindakan pembedahan sangat berbeda dari orang dewasa.Bayi memiliki
volume darah dan cadangan air yang terbatas sehingga dapat
meningkatkan risiko kehabisan volme darah selama pembedahan yang
selanjutnya mengakibatkan oksigenasi jaringan tubuh tidak adekuat.Selain
itu, risiko hipotermia selama pembedahan juga sangat signifikan karena
mekanisme regulasi suhu tubuh bayi belum matang. Sistem organ lain
seperti ginjal, hati, dan sistem imun pada bayi juga belum matur, sehingga
memengaruhi kemampuan bayi untuk memetabolisme dan mengeliminasi
obat serta melawan infeksi.
Klien lanjut usia memiliki cadangan fisiologis yang lebih sedikit untuk
memenuhi kebutuhan yang ekstra akibat pembedahan. Lansia memiliki
persentase tubuh yang lebih rendah, penurunan fungsi ginjal, dan
penurunan respons haus, sehingga lansia memiliki resiko
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit yang lebih besar. Selain itu, klien
lansia cenderung mengalami penyakit kronis seperti penyakit
kardiovaskular, penyakit paru kronis, atau diabetes yang memengaruhi
proses penyembuhan dan respons terhadap obat-obatan dan prosedur
pembedahan.
Anak-anak mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk menjalani
pembedahan secara fisiologik. Dimana tingkat perkembangan anak,
hubungan orang tua-anak, kemampuan koping orang tua, dan penyuluhan
serta dukungan pascaoperatif akan memengaruhi seberapa baik
kemampuan anak dalam menghadapi rasa takut dan tingkat kecemasan
yang dialami anak.
b. Status kesehatan umum
Prosedur pembedahan menimbulkan sedikit risiko apabila kondisi
kesehatan umum klien baik.Adanya infeksi dapat meningkatkan
risiko.Apabila ada risiko tinggi infeksi, antibiotik mungkin diberikan
secara parenteral dalam 1 jam pembedahan dan dilanjutkan selama 24
sampai 72 jam. Masalah kesehatan umum yang dapat meningkatkan risiko
dalam pembedahan dan dapat memengaruhi keputusan untuk menunda
atau membatalkan prosedur pembedahan antara lain sebagai berikut:
Malnutrisi yang dapat menyebabkan keterlambatan penyembuhan luka,
infeksi, dan penurunan energi.
Obesitas yang mengakibatkan hipertensi, gangguan fungsi jantung, dan
gangguan ventilasi pernapasan.
Masalah jantung seperti angina pektoris, infark miokard yang baru
terjadi, hipertensi, dan gagal jantung yang dapat memperlemah jantung.
Gangguan koagulasi darah dapat menyebabkan pendarahan berat,
hemoragi, dan akhirnya terjadi syok.
Infeksi saluran nafas atas atau penyakit paru obstruktif kronis seperti
emfisema memberi efek yang merugikan pada fungsi paru terutama jika
diperburuk oleh anestesia umum.
Penyakit ginjal mengganggu regulasi cairan tubuh dan elektrolit serta
ekskresi obat dan toksin lainnya.
Penyakit hati (misalnya sirosis) mengganggu kemampuan hati untuk
mendetoksifikasi obat yang digunakan selama pembedahan,
memproduksi protrombin yang penting untuk pembekuan darah, dan
memetabolisme nutrisi yang penting untuk penyembuhan luka.
Penyakit neurologi yang tidak terkendali seperti epilepsi dapat
mengakibatkan kejang selama pembedahan atau proses pemulihan.
c. Status nutrisi
Obesitas dan malnutrisi meningkatkan risiko pembedahan, karena
pembedahan dapat meningkatkan kebutuhan tubuh terhadap zat gizi yang
diperlukan dalam proses penyembuhan dan pencegahan infeksi selama
periode pascaoperatif.
Obesitas dapat mengakibatkan komplikasi pascaioperatif seperti
pneumonia, infeksi luka, dan pembukaan luka.Klien yang obesitas dan
klien dengan berat badan yang kurang, rentan mengalami ulkus dekubitus
akibat pengaturan posisi yang diperlukan untuk pembedahan. Sehingga
perawat perioperatif menyediakan bantalan dan alat lain untuk melindungi
kulit klien terhadap titik penekanan selama pembedahan.
Klien malnutrisi berisio mengalami keterlambatan penyembuhan luka,
infeksi luka, dan gangguan cairan dan elektrolit.Jika klien mengalami
malnutrisi serius, prosedur pembedahan mungkin ditunda terlebih dahulu
untuk memperbaiki status nutrisi klien.Namun jika prosedur pembedahan
tidak dapat ditunda, nutrisi parenteral atau enteral dapat mulai diberikan.
d. Medikasi
Penggunaan obat-obatan tertentu secara rutin dapat meningkatkan risiko
pembedahan. Contohnya:
Antikoagulan meningkatkan masa koagulasi darah.
Tranquilizer dapat berinteraksi dengan agens anestesia, yang
meningkatkan risiko depresi pernapasan.
Kortikosteroid dapat memengaruhi proses penyembuhan luka dan
meningkatkan risiko infeksi.
Diuretik dapat memengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit.

Klien mungkin tidak menyadari interaksi obat yang berpotensi


merugikan dan mungkin gagal melaporkan penggunaan obat untuk kondisi
yang tidak berkaitan dengan indikasi pembedahan.Perawat yang terampil
dalam mewawancarai harus menanyakan kepada klien dan keluarga
tentang penggunaan obat resep yang umum, obat yang dijual bebas, dan
ramuan herbal tradisional untuk kondisi-kondisi spesifik yang disebutkan
selama pengumpulan riwayat keperawatan.
e. Status mental
Gangguan yang memengaruhi fungsi kognitif,seperti penyakit mental,
retardasi mental, atau keterlambatan perkembangan memengaruhi
kemampuan klien untuk memahami dan menghadapi stres akibat
pembedahan.
Klien demensia mungkin mengalami kesulitan memahami tujuan
prosedur pembedahan dan dapat berespons secara tidak terduga terhadap
anestetik. Manifestasi demensia seperti konfusi, disorientasi, dan agitasi
juga dapat dipicu oleh perubahan lingkungan di rumah sakit, yang
mengganggu kemampuan klien bekerja sama dalam perawatan praoperatif
dan pascaoperatif.
Ansietas berat juga meningkatkan risiko pembedahan dan mengganggu
kemampuan klien dalam memproses informasi dan berespons dengan tepat
terhadap instruksi yang diberikan.Sehingga penting untuk menentukan
apakah klien memiliki keterampilan koping dan sistem dukungan untuk
membantunya.

D. Jenis-jenis anastesi

Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunanian-"tidak, tanpa" dan


aesthtos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti suatu
tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan
berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh.

Obat yang dipakai merupakan zat kimia untuk menekan pekerjaan


jaringan saraf secara sentral, memblok atau bekerja pada ujung saraf.Setiap
anestesi harus memiliki dua syarat, yaitu menghilangkan refleks dan
melemaskan otot, sedangkan pada bius umum diperlukan pula untuk
menghilangkan kesadaran.

Ada dua macam anestesi, yaitu anestesi umum dan anestesi


regional.Anestesi regional dibedakan lagi menurut tempat diberikan anestesi.

1. Anestesi umum

Anestesi umum ada yang berupa gas dan ada pula yang berupa
cairan. Cara pemberian anestesi(obat bius) dapat dilakukan melalui tiga
cara, yaitu melalui isapan gas, menyuntikan cairan, dan memasukkan obat
bius ke dalam rektum. Anestesi umum adalah menghilangkan semua
sensasi dan kesadaran. Dibawah pengaruh anastesi refleks protektif seperti
batuk dan gag hilang. Anestesi ini bekerja dengan cara memblok pusat
kesadaran di otak sehingga terjadi amnesia(kehilangan memori), analgesia
(insensibilitas terhadap nyeri), hipnosis (tidur palsu), dan relaksasi
(mengurangi keteganagan pada beberapa bagian tubuh).Selama masa
induksi harus diberi cukup banyak anestesi karena sebagian anestesi
beredar pula di dalam darah dan tinggal di dalam jaringan tubuh. Setelah
semua jaringan badan terisi dan jenuh dengan anestesi, barulah pemberian
anestesi dapat diperkecil agar keadaan pembiusan dapat dipertahankan.

Anatesi umum memiliki keunggulan tertentu karena klien tidak


sadar, bukan sadar dan terjaga fungsi pernapasan dan jantung teratur.
Selain itu, anastesi dapat disesuaikan dengan lamanya operasi serta usia
dan status fisik klien. Kerugian utama anastesi umum adalah mendepresi
fungsi sistem pernapasan dan sirkulasi.Beberapa klien menjadi lebih
khawatir terhadap anastesi umum dibandingkan pembedahannya
sendiri.Hal ini terjadi karena mereka takut kehilangan kapasitas
mengendalikan tubuh mereka sendiri.

a. Cara pemberian anestesi umum


1) Anestesi isap

Obat yang dipakai adalah berupa cairan yang mudah menguap

Ada empat cara pemberian anestesi isap:

a. Open drop atau dengan cara meneteskan cairan anestesi di atas


kap atau masker. Masker pembius ditutupkan pada muka
pasien. Di atas masker itu terdapat lubang yang ditutupi dengan
berlapis-lapis kain kasa. Obat bius yang diteteskan di atas
lapisan kain kasa lalu bercampur dengan udara yang
mengandung oksigen dan diisap oleh pasien.
b. Cara insuflasi (insufflations technique), yaitu dengan peniupan
gas anestesi ke dalam hidung. Campuran gas dengan
udara/oksigen ditiupkan melalui pipa, sehingga masuk ke
dalam kerongkongan lalu terus ke trakea dan paru-paru.
c. Cara semi tertutup ( semi closed method), yaitu dengan cara
campuran gas anestesi dan oksigen diisap dari kap (masker)
yang berhubungan dengan balon pernapasan. Udara yang
keluar dari paru-paru dibuang melalui klep yang ada di atas
kap. Sedangkan klep lain yang berada di depan balon
pernapasan menjaga agar udara dari paru-paru tidak masuk ke
dalam tabung gas anestesi maupun tabung oksigen.
d. Cara tertutup (closed method), yaitu udara yang keluar dari
paru-paru diisap kembali, setelah melalui filter yang
mengandung garam dapur untuk menangkap karbondioksida.
Cara ini pun memerlukan oksigen.

Contoh anestesi isap

Nitrogen Oksida (N2O)


Eter
Klor etil
Fluotane
Trilene

2) Anestesi rectum

Tribrometanol (Avertin)

Avertin adalah golongan alcohol, tidak larut dalam air, tetapi


larut dalam armilena hidrat, sejenis alkohol juga. Avertin yang
berupa cairan itu dimasukkan ke dalam rektum dan dalam waktu 5
menit pasien menjadi tidak sadar tetapi belum dapat dilakukaan
operasi, karena refleks-refleks masih ada, maka dari itu avertin di
pakai hanya sebagai induksi pembiusan dan harus disambung
dengan obat bius atau anestesi blok saraf. Avertin dipakai pula
untuk mengatasi kejang-kejang seperti yang terjadi pada tetanus
atau rabies.

3) Anestesi suntikan melalui vena


Anestesi umum dapat juga ditimbulkan melalui
suntikan.Obat yang dipakai biasanya tergolong barbiturat yang
bekerja sangat cepat yaiut sebelum sodium pentotal (thiopental).
Pentotal bila disuntikkan ke dalam vena waktu 30 detik saja
sudah menimbulkan keadaan bius.Maka induksinya hampir tidak
terasa, jadi tidak tampak stadium I dan II, seakan-akan langsung
masuk ke stadium III. Kerugiannya adalah keadaan bius hanya
sebentar saja, sehingga operasi yang mememrlukan waktu lama,
biasanya disambung dengan pembiusan isap(eter) anestesi spinal/
lumbal.

b. Tahapan pembiusan

Kedalaman anestesi umum dibagi dalam empat stadium I, II,


III, dan IV, sedangkan stadium III dibagi dalam empat plein(plane).

1) Stadium I atau stadium analgesia


Stadium ini tercapai pada saat pasien menghirup
anestesi.Saat ini pasien merasa pusing dan seakan-akan melayang,
telinga merasa berdenging, dan bising.Kesadaran pasien masih ada,
tetapi tidak dapat berbuat apa-apa, merasa seakan-akan seluruh
badan lumpuh.Pasien menjadi sangat perasa terhadap suara, suara
bisikan terdengar sebagai teriakan yang menggaum.Karena itu,
petugas di kamar bedah tidak boleh berbicara sewaktu pasien
berada dalam stadium I.

Tanda-tanda stadium I: ukuran pupil masih seprti biasa,


refleks pupil masih kuat, pernapasannya tidak teratur, nadi tidak
teratur sedangkan tekana darah tidak berubah. Bila anestesi
diteruskan pemberiannya, pasien akan masuk ke stadium II.

2) Stadium II atau Stadium Delirium

Pada stadium ini pasien berontak, ia berusaha melepaskan


kap bius. Keadaan berontak ini dapat dicegah sebelum pembiusan
dimulai, pasien terlebih dahulu diberikan pengertian dan diminta
pada pasien agar menghirup obat bius sedalam-dalamnya dan bila
mencium bau yang tidak enak jangan berontak.

Pada stadium ini ukuran pupil seperti biasa atau agak


membesar, refleks pupil kuat, pernapasannya tidak teratur, nadi
tidak teratur dan cepat, tekanan darah meninggi.Pemberian obat
selanjutnya menyebabkan pasien masuk ke dalam stadium III.

3) Stadium III atau Stadium pembedahan

Pada stadium ini telah tercapai mati rasa sempurna.Semua


refleks permukaan telah hilang, tetapi refleks vital seperti denyut
jantung dan pernapasan seperti biasa. Ukuran pupil mulai
mengecil, tidak bergerak bila diberi cahaya dan refleks bola mata
tidak ada walaupun bulu mata atau kornea disentuh. Pernapasan
pernapasan teratur dan dalam.Denyut nadi agak lambat, tekanan
darah normal. Stadium III ini karena cukup lebar dibagi menjadi
empat substadium atau tingkatan yang disebut plei (plane)

Plein 1

Tanda-tandanya: tegangan otot masih tetap biasa, sifat


pernapasan daa lebih besar daripada pernapasan perut, bola mata
masih bergeraka bila bulu matanya disentuh atau diberi sinar
lampu. Bila pembiusan daitambah maka pasien masuk ke plein 2

Plein 2

Tanda-tandanya: tegangan otot menghilang dan bola mata


tidak bereaksi lagi terhadap sentuhan maupun cahaya, refleks pupil
juga hilang, sifat pernapan dada dan pernapasan perut sama. Bila
pembiuasn diteruskan maka pasien akan masuk ke plein 3.

Plein 3

Pada saat ini pernapasan tetap teratur tetapi dalam, seakan-


akan sedang tidur sangat nyenyak.Sifat pernapasan adalah
pernapasan perut lebih besar dapipada pernapasan dada karena
otot-otot sela iga telah kehilangan tegangan.Ukuran pupil
membesar sedikit, refleks kornea hilang, nadi agak cepat dan
tekanan darah agakk menurun.Operasi besar dilakukan dalam plein
3 sebab semua refleks telah hilang dan oto-otot sudah
melemas.Pemberian anestesi mulai dikurangi da hanya diberikan
sekadar untuk mempertahankan stadium III plein saja. Bila
pembiusan ditambah lagi maka psien masuk plein 4

Plein 4
Tanda-tandanya: semua otot dan semua refleks hilang,
termasuk otot diafragma, sehingga pernapasan perut mulai
terganngu dan terlihat inspirasi cepat tersendat-sendat, sedangkan
ekspirasi diperpanjang.

4) Stadium IV atau stadium keracunan

Pusat pernapasan yang terletak di batang otak (medulla


oblongata) menjadi lumpuh, sehingga pernapasan berhenti
samasekali. Bila pembiusan tidak segera dihentikan dan dibuat
napas buatan, jantung pun akan segera berhenti, disusul dengan
kematian.

2. Anastesia regional

Anastesia regionaladalah pemutusan sementara impuls saraf ke dan


dari area atau bagian tubuh tertentu.Klien kehilangan sensasi pada satu area
tubuh, tetapi masih tetap sadar. Beberapa teknik yang digunakan

a. Anesthesia topical (permukaan) mengoleskan atau menyemprotkan


anestesi ke kulit atau membran mukosa, permukaan kulit yang terbuka,
luka, dan luka bakar. Sehingga ujung-ujung saraf di bawahnya menjadi
mati rasa. Agens topical yang paling sering digunakan adalah lidokoin
(xylocaine) dan benzokain. Anastetik topical cepat diabsorpsi dan
bekerja cepat .
b. Anestesi lokal (infiltrasi) diinjeksikan ke area tertentu atau dengan
menyuntikkan anestesi langsung ke ujung-ujung saraf di bawah kulit
biasanya digunakan untuk untuk prosedur pembedahan minor seperti
penjahitan luka kecil atau prosedur biopsy. Lidokain atau tetrakain 0,1%
dapat digunakan
c. Blok saraf adalah teknik menginjeksikan agens anesthesia ke dalam
dan sekitar saraf atau kelompok kecil saraf yang memberikan sensasi ke
area kecil pada tubuh. Blok mayor melibatkan berbagai saraf atau
pleksus (misalnya blok pleksus brakialis menimbulkan anastesi lengan);
blok minor melibatkan saraf tunggal (misalnya saraf fasial)
d. Blok intravena (blok bier) paling sering digunakan untuk prosedur-
rosedur yang melibatkan lengan, pergelangan tangan, dan tangan.
Torniket oklusif dipasang pada ekstremitas untuk mencegah infiltrasi dan
sabsorpsi agens intravena yang diinjeksikan diluar ekstremitas yang
terlibat
e. Anestesia spinal disebut juga blok subaraknoid (SAB).
Prosedur ini memerlukan tindakan fungsi lumbal melalui salah satu
ruang antara lumbal 2 dan sacrum.Agens anestetik diinjeksikan ke dalam
ruang subaraknoid di sekitar korda spinalis.Anestesi spinal sering kali
dikategorikan rendah, sedang dan tinggi. Spinal rendah (blok pertama
atau kaudal) digunakan terutama untuk pembedahan pada area pencurn
atau rectum. Spinal sedang (di bawah tingkat umbilicus T10) dapat
digunakan untuk bedah perbaikan hernia atau apendektomi) dan spinal
tinggi (sampai sejajar putting susu T4) dapat digunakan untuk
pembedahan seperti seksio sesaria. Anestesi spinal juga biasa digunakan
untuk dada, perut, anggota bawah.
Pasien yang mendapat anestesi spinal tetap sadar, sehingga dapat
mendengar pembicaraan.Oleh karena itu jangan membicarakan keadaan
pasien di depannya.
f. Anestesia epidural (peridural) adalah injeksi agens anestesia ke dalam
ruang epidural, area di dalam kolumna spinalis, tetapi diluar durameter.

Sedasi sadar dapat digunakan tunggal atau digabungkan dengan


anastesia regional untuk beberapa uji diaknostik dan prosedur pembedahan.
Sedasi sadar bertujuan meminimalkan depresi tingkat kesadaran sehingga
klien tetap memilikikemamapuan untuk mempertahankan kepatenan dan
berespons dengan tepat terhadap perintah. Narkotik intravena seperti morfin
atau fentanil (sublirnaze) dan agens antiansietas seperti diazepam (valium)atau
midazolam (versed) biasanya digunakan untuk menginduksi dan
mempertahankan sedasi sadar. Sedasi sadar meningkatkan ambang batas nyeri
klien dan menginduksi amnesia, tetapi memungkinkan pembalikan efek segera
dan pengembalian aktivitas sehari-hari yang cepat.Prosedur seperti endoskopi,
insisi dan drainase abses, dan bahkan balon angioplasi dapat dilakukan
dibawah pengaruh sedasi sadar.

E. Asuhan Keperawatan Praoperasi


1. Pengkajian
a. Pengkajian Praoperatif

Pengkajian praoperasi mencakup mengumpulkan dan menilai data-


data klien spesifik untuk menentukan kebutuhan klien pra dan pasca
operatif.Kebutuhan fisik, spikologik, dan social ditentukan selama
pengkajian. Informasi penting praoperatif yang harus yang harus dikaji
adalah sebagai berikut :

b. Riwayat Keperawatan

Status kesehatan saat ini.Informasi penting mencakup status


kesehatan umum dan adanya penyakit kronis, seperti diabetes ata asma
yang dapat mempengaruhi respon klien terhadap pembedahan atau
anastesi. Perhatikan adanya keterbatasan fisik yang dapat mempengaruhi
mobilitas atau kemampuan klien untuk berkomunikasi setelah
pembedahan, serta alat bantu dengar atau lensa kontak.

Alergi.

Termasuk alergi terhadap obat resep dan non resep, alergi


makanan, dan alergi terhadap plaster, lateks, sabun,atau agens antisepik.
Beberapa alergi terhadapmakanan dapat menindikasikan adanya potensi
reaksiterhadapobat atau zat-zat yang digunakan selama pembedahan atau
prosedur diagnostic, sebagai contoh alergi terhadap makanan laut
menyadarkan perawat terhadap potensi alergi terhadap zat pewarna
berbahan dasar iodin yang umumnya digunakan dalam prosedur
radiologic.
Medikasi.

Buat daftar semua obat yang baru digunakan. Catatan ini mungkin
sangatpenting untuk mempertahankan kadar beberapa obat dalam darah
(mis. Antikonvulson) selamam prosedur pembedahan.sedangkan
antikoagulan atau aspirin, meningkatkan resiko pembedahan atau
anesthesia serta perlu dihentikan selama beberapa hari sebelum
pembedahan, obat herbal yang dikonsumsi klien juga harus dicatat.

Pembedahan sebelumnya.

Pengalaman pembedahan sebelumnya dapat memengaruhi respons


fisik dan psikologik klien terhadap pembedahan atau dapat menimbulkan
respons yang tidak terduga terhadap anestesia.

Status mental.

Status mental klien dankemampua untuk memahami dan berespons


dengan tepat dapat memengaruhi seluruh pengalaman perioperatif.
Perhatikan perkembangan, penyakit jiwa, riwayat demensia, atau
kecemasan yang berlebihan yang berhubungan dengan prosedur.

Pemahaman mengenai prosedur pembedahan dan anastesia.

Klien harus memahami prosedur yang direncanakan dan apa yang


terjadi selama dan setelah pembedahan, serta hasil yang diharapkan dari
prosedur.

Merokok.
Perokok mungkin mengalami kesulitan membersihkan sekresi
pernapasan setelah pembedahan, meningkatkan resiko komplikasi
pascaoperasi seperti pneumonia dan atelectasis.

Alcohol dan zat lain yang memengaruhi fungsi piker.

Penggunaan zat yang dapat memengaruhisistem saraf pusat, hati,


atau system tubuh lain dapat memengaruhi respons klien terhadap
anesthesia dan pembedahan, serta proses pemulihan pascaoperatif.

Koping.

Klien yang memiliki konsep diri sehat yang telah berhasil


menerapkan mekanisme koping yangtepat di masa lalu memiliki
kemampuan yang lebih baik untuk menghadapi stressor terkait
pembedahan.

Sumber-sumber social.

Tentukan ketersediaan keluarga atau pemberi asuhan lain serta


jaringan dukungan social klien. Sumber-sumber ini penting untuk klien
yang menjalani pembedahan sehari atau pembedahan singkat.

Pertimbangan budaya.

Budaya mempengaruhi respon klien terhadap pembedahan,


menghargai kebudayaan dan praktik budaya klien dapat menurunkan
kecemasan praoperatif dan meningkatkan pemulihan.

c. Pengkajian Fisik

Pada saat praoperatif, perawat melakukan pengkajian fisik secara


singkat tetapi lengkap dengan perhatian khusus pada system yang dapat
memengaruhi respon klien terhadap anastesia dan pembedahan.
Pengkajian fisik ini meliputi mengevaluasi status mental dan
kesadaran terhadap pembedahan, pengkajian pendengaran, penglihatan,
pernapasan, dan kardiovaskuler.

d. Uji Skrining

Dokter menggunakan pemeriksaan dari uji diagnostic untuk


praoperatif. Abnormalitas mengidentifikasikan terapi sebelum
pembedahan. Tanggung jawab perawat adalah memberikan program
dengan cermat,melihat apakah program tersebut dapat dilakukan, dan
memastikan apakah hasilnya telah didapat serta dicatat di dalam catatan
status klien sebelum pembedahan.

Selain uji rutin ini, uji diagnostic yang berhubungan langsung


dengan penyakit klien biasanya dilakukan (misalnya uji untuk
mengklarifikasi kondisi patologik sebelum pembedahan lambung).

2. Diagnosis

Kelompokkan pola dalam mendefinisikan karakteristik yang


dikumpulkan selama pengkajian untuk mengidentifikasi diagnosis
keperawatan untuk klien bedah. Contohnya pada klien yang telah
mengalami pengalaman bedah sebelumnya. Klien dengan masalah
kesehatan yang sudah ada sebelumnya cenderung memiliki berbgai
diagnosis beresiko. Sebagai contoh, klien yang sudah menderita bronkitis
memiliki suara napas tidak normal dan batuk produktif, akan beresiko
untuk tidak efektifnya bersihan jalan napas.

Diagnosis keperawatan praoperatif memungkinkan anda untuk


mengambil tindakan pencegahan dan tindakan sehingga perawatan yang
diberikan selama fase intraoperatif dan pascaoperasi sesuai dengan
kebutuhan klien.

Diagnosis keperawatan yang dibuat sebelum operasi juga akan


fokus pada potensi risiko yang mungkin dihadapi klien setelah operasi.
Perawatan pencegahan sangat penting sehingga andadapat mengatur klien
bedah secara efektif. Berikut ini adalah beberapa diagnosis keperawatan
umum yang relevam dengan klien yang menjalani operasi.

Tidak efektif bersihan jalan napas

Ansietas

Ketakutan

Risiko untuk kurangnya volume cairan

Risiko untuk cedera posisi perioperatif

Kurang pengetahuan

Gangguan mobilitas fisik

Mual

Nyeri akut

Pemulihan bedah yang tertunda

3. Perencanaan

Tujuan umum praoperatif adalah memastikan bahwa klien secara


mental dan fisik telah siap untuk menjalani pembedahan. Contoh
tindakan keperawatan untuk memenuhi tujuan ini didiskusikan pada
bagian Implementasi.

Perencanan harus juga menyertakan klien dan orang terdekat.


Keterlibatan klien lebih awal ketika mengembangkan rencana perawatan
bedah meminimalkan resiko dan komplikasi pascaoperasi bedah.
Lamanya periode praoperatif mempengaruhi asuhan praoperatif dan
perencanaan. Jika klien telah masuk rumah sakitbeberapa hari sebelum
pembedahan, rencan asuhan keperawatan, dan rencana penyuluhan dapat
disusun. Jika klien masuk rumah sakit pada hari pembedahan, perencanaan
asuhan keperawatan, dan penyuluhan praoperatif dapat dilakukan pada
asuhan berbasis rawat jalan oleh perawat komunitas.Tetapkan diagnosis,
intervensi, dan hasil untuk memastikan status pemulihan atau perawatan
praoperasi.

a. Tujuan dan Hasil

Dasari rencana perawatan praoperasi pada diagnosis keperawatan


yang terindividualis. Tinjau dan modifikasi rencana selama periode
intraoperatif dan pascaoperasi. Hasil akhir yang dibuat untuk semua
tujuan perawatan memberikan kemajuan klien ke arah tujuan yang
akan dicapai. Sebagai contoh, tujuan klien mampu mengungkapkan
pentingnya latihan pasca operasi. , dapat diukur melalui hasil yang
diharapkan berikut:

Klien mengungkapkan alasan mengapa klien harus bernapas


dalam, latihan batuk, dan insentif spirometer adalah untuk
mencegah kongesti paru dan pneumonia.

Klien mengungkapkan alasan mengapa klien harus latihan kaki dan


ambulasi pascaoperasi adalah untuk meningkatkan aliran darah
untuk mencegah pembekuan di kaki.

Klien mengungkapkan rasional untuk ambulasi awal adalah untuk


meningkatkan fungsi paru, membantu mengembalikan fungsi usus,
dan mempercepat pemulihan.

b. Menetapkan Prioritas

Menggunakan pengkajian klinis, memprioritaskan diagnosis, dan


intervensi keperawatan berdasarkan pengkajian kebutuhan unik dari
tiap-tiap klien. Klien yang memerlukan pembedahan darurat sering
mengalami perubahan dalam status fisiologis mereka yang meminta
anda untuk memprioritaskan mereka dengan cepat. Misalnya, jika
tekanan darah klien mulai turun, stabilisasi hemodinamik menjadi
prioritas diatas pendidikan dan manajemen stress. Pastikan pendekatan
untuk setiap klien secara menyeluruh dan mencermikan pemahaman
tentang implikasi usia klien, kesehatan fisik dan psikologis, tingkat
pendidikan, budaya, praktik agama, serta faktor yang lainnya, dan
keinginina yang tertulis tentang kemajuan medis.

c. Perawatan Kolaboratif

Untuk klien yang menjalani rawat jalan dan klien yang masuk
pada hari operasi mereka telah dijadwalkan, perencanaan praoperasi
terjadi beberapa hari sebelum masuk ke rumah sakit atau pusat bedah.
Seringkali pendidikan praoperasi dimulai di tempat penyediaan
perawatan kesehatan, dilanjutkan selama kunjungan yang telah
dijadwalakan, dan diperkuat oleh perawat pada hari masuknya klien.
Instruksi praoperatif memberikan waktu klien untuk berfikir tentang
pengalaman bedah, membuat persiapan fisik yang diperlukan (mis:
mengubah diet atau menghentikan penggunaan obat-obatan), dan
bertanya tentang prosedur pascaoperasi. Jadi, rencananya perawatan
praoperasi yang baik dapat memastikan bahwa klien mendapatkan
informasi yang cukup dan dapat berperan aktif pada pemulihan.
Keluarga atau pasangan juga memainkan peran aktif untuk mendukung
klien.

4. Implementasi

Peran perawat dalam implementasi praoperatif yaitu mempersiapkan


klien secara fisik dan psikologis untuk intervensi bedah serta hal-hal yang
perlu diperhatikan perawat yaitu :
a. Informed Consent

Operasi tidak dapat dilakukan apabila klien belum menandatangani


informed consent karena informed consent merupakan aspek legal dan
kode etik dalam memenuhi kebutuhan prosedur operasi. Jika kondisi
klien tidak mampu untuk melakukan informed consent, maka dapat
diwakili oleh keluarga atau wali klien. Informed consent meliputi
langkah-langkah yang terlibat selama operasi, risiko yang dapat terjadi
selama operasi serta hasil yang diharapkan selama operasi.

b. Promosi kesehatan

Kegiatan promosi kesehatan selama praoperatif berfokus pada


pemeliharaan kesehatan dan pencegahan komplikasi yang mungkin
dibutuhkan pada saat pascaoperasi.

Promosi kesehatan

Perawat memberikan pendidikan praoperatif kepada klien yang


berkaitan dengan harapan hidup klien pascaoperatif dan memberikan
pengaruh positif terhadap pemulihan klien. Dan juga perawat dapat
memberi informasi kepada klien tentang sensasi yang biasanya dialami
setelah operasi.

Perawat menyebutkan alasan intruksi praoperasi dan latihan

Setiap program pengajaran praoperasi termasuk didalamnya


penjelasan dan demonstrasi latihan pascaoperasi, yaitu : pernapasan
diafragma, spirometri insentif, batuk, berbalik, dan olahraga kaki.
Latihan ini membantu mencegah komplikasi pascaoperasi. Setelah itu,
perawat memandu klien untuk melalui setiap latihan. Sebagai contoh,
nilai apakah klien duduk dengan benar, dan bantu klien menempatkan
tangan dalam posisi yang tepat saat bernapas. Lalu biarkan klien untuk
berlatih secara mandiri. Setelah itu perawat kembali ke kamar klien,
untuk mengevaluasi latihan yang dilakukan klien sebelum operasi.

Perawat menyebutkan waktu bedah

Perawat memberi informasi kepada klien ataupun keluarga klien


berapa lama operasi akan berlangsung melalui intruksi dari dokter
bedah. Penundaan yang tidak terduga bisa saja terjadi, oleh karena itu
perawat harus mampu membuat mengerti keluarga pasien bahwa
penundaan terjadi karena berbagai alasan dan tidak selalu
menunjukkan masalah.

Perawat menyebutkan unit pascaoperasi dan lokasi keluarga


selama bedah dan pemulihan

Unit tempat klien diterima sebelum operasi sering berbeda dari unit
pascaoperasi. oleh karena itu, perawat perlu memberikan informasi
kepada keluarga klien dimana klien akan berada setelah operasi.

Apabila klien dijadwalkan untuk menjalani pembedahan pada hari


yang sama, penyuluhan praoperatif sering kali diberikan sebelum hari
pembedahan dan jika klien masih anak-anak, rasa takut dan kecemasan
anak dan keluarga harus segera diatasi.

c. Persiapan fisik

Persiapan praoperatif, diantaranya : nutrisi dan cairan, eliminasi,


hygiene, medikasi, istirahat, pengelolaan benda berharga dan prostesis,
program khusus, dan persiapan kulit pembedahan.

Nutrisi dan cairan

Perawat perlu mencatat tanda-tanda malnutrisi atau


ketidakseimbangan cairan. Menurut Crenshaw dan Winslow (2002,
hlm. 38) , panduan revisi untuk program NPO memperbolehkan :
Konsumsi cairan bening sampai 2jam sebelum pembedahan elektif
yang memerlukan anastesia umum, anastesia regional.
Sarapan ringan (contoh : teh dan roti) diperbolehkan 6 jam sebelum
prosedur
Makan malam yang lebih berat delapan jam sebelum pembedahan.

(Untuk membantu klien dalam mengatasi rasa haus selama menjadi


program NPO, maka perawat dapat mengajarkan beberapa cara untuk
mengatasinya yaitu membasuh mulu, mengunyah permen karet serta
mengisap permen)

Eliminasi

Sebelum pembedahan, pemasangan kateter retensi mungkin


diprogramkan untuk memastikan bahwa kandung kemih telah kosong.
Jika klien tidak terpasang kateter, kandung kemih harus dikosongkan
sebelum menerima obat praoperatif karena kandung kemih harus
dalam keadaan kosong selama pembedahan.

Hygiene

Tujuan tindakan hygiene ini adalah menurunkan risiko infeksi luka.


Mandi meliputi keramas apabila memungkinkan. Semua aksesoris
yang digunakan klien sebelum operasi harus dilepas terlebih dahulu
karena dapat menyebabkan kecelakaan yang mungkin terjadi pada saat
operasi berlangsung.

Medikasi

Medikasi praoperatif yang umum digunakan, diantaranya :

Sedatif atau transquilizer seperti sekorbarbital dan doazepam


(Valium) digunakan untuk meredakan kecemasan dan
memudahkan induksi anestesik
Analgesik narkotik seperti meperidin (Demerol) digunakan untuk
menurunkan jumlah anatesik yang diperlukan
Antikolinergik seperti atropin untuk menurunkan sekresi oral
Antihistamin reseptor histamin seperti simetidin (Tagamet) untuk
menurunkan volume cairan lambung
Agens neuroleptanalgesik seperti innovar untuk menginduksi
ketenangan umum dan rasa kantuk
Istirahat

Perawat harus melakukan apapun yang membantu klien untuk tidur


dimalam hari sebelum melakukan pembedahan.

Pengelolaan benda berharga dan prostesis

Barang-barang berharga seperti perhiasan dan uang harus diberi


label dan disimpan di tempat yang aman apabila orang terdekat klien
tidak membawa barang-barang tersebut ke rumah. Jika klien tidak
ingin melepas cincin kawin, perawat dapat memberi plester agar tetap
di tempatnya.Namun cincin kawin, sebaiknya dilepas jika klien
berisiko mengalami pembengkakan jari setelah pembedahan. Situasi
yang mengindikasi pelepasan benda-benda di tubuh termasuk saat
pembedahan pada atau pemasangan gips pada lengan dan mastektomi
yang melibatkan pengangkatan nodul limfe. (Mastektomi dapat
menyebabkan edema pada lengan dan tangan.)

Semua protesis( bagian tubuh palsu, seperti gigi palsu sebagian


atau seluruhnya, lensa kontak, mata palsu dan kai palsu) dan kaca
mata, wig, dan bulu mata palsu palsu harus dilepas sebelum
pembedahan. Alat bantu seringkali di biarkan tidak lepas dan saraf di
ruang operasi harus diberi tahu.

Di beberapa rumah sakit, gigi palsu di simpan dia area


penyimpanan yang dikunci; sedangkan dirumah sakit yang lain hanya
di letakan di tempat berlabel dan disimpan di lemari samping tempat
tidur klien. Gigi palsu dapat menyumbat dan menghambat pernafasan
klien yang tidak sadar. Perawat juga harus memeriksa adanya permen
karet atau gigi yang goyang, yang sering menjadi masalah pada anak-
anak 5-6 tahun yang akan menjalani tonsilektomi. Gigi yang tanggal
dapat menyumbat dan teraspirasi selama anastesia.

Program khusus

Perawat memeriksa program dokter bedah. Untuk prosedur-


prosedurkhusus (misalnya;insersi slang nasogastrik sebelum
pembedahan,pemberian obat, seperti insulin atau pemasangan stoking
antiemboli). Untuk hasil pemasangan slang nasogastrik.

Pemeriksaan kulit.

Di sebagian institusi, mempersiapkan kulit untuk pembedahan


dilakukan selama fase intraoperatif.

Tanda vital

Kaji dan catat tanda-tanda vital sebagai data dasar.Laporkan adanya


temuan abnormal, seperti peningkatan tekanan darah atau suhu tubuh
yang tinggi.

Stoking antiemboli

Stoking antiemboli ( elastis) adalah kaus kaki elastis yang menekan


vena tungkai sehingga memfasilitasi aliran balik vena ke jantung.
Stoking ini juga memperbaiki sirkulasi arterial ke kaki dan mencegah
edema pada tungkai dan kaki.Stoking ini biasanya dipasang sebelum
atau sesudah pembedahan.

Ada beberapa jenis stoking.Jenis yang pertama memanjang dari


kaki ke lutut dan yang lainnya dari kaki ke pertengahan betis.Stoking
ini biasanya memiliki bagian telapak kaki sehingga bagian tumit atau
jari-jari kaki terbuka sehingga sirkulasi ekstremitas dapat dikaji.
Stoking elastis biasanya tersedia dalam ukuran kecil,sedang, dan besar.

5. Evaluasi

Tujuan yang ditetapkan selama fase perencanaan dievaluasi sesuai


dengan hasil tertentu yang diharapkan, yang juga ditetapkan pada fase
tersebut. Contoh hasil klien dan indikator yang terkait telah dibahas
sebelumnya pada mengidentifikasi diagnosis,hasil,dan intervensi
keperawatan.

F. Asuhan Keperawatan Intraoperasi


1. Pengkajian

Pada saat klien masuk ke dalam unit bedah atau ruang prosedur bedah,
perawat perioperatif mengonfirmasi identitas klien dan mengkaji status fisik
dan emosi klien.Perawat memverifikasi informasi pada daftar tilik praoperatif
dan mengevaluasi pengetahuan klien mengenai pembedahan dan kejadian
setelahnya. Respons klien terhadap medikasi praoperatif dikaji, demikian juga
penempatan dan kepatenan slang seperti untravena, slang nasogastrik, dan
kateter urine.

Pengkajian dilakukan secara kontinyu selama pembedahan, perawat


dan ahli anestesia memantau tanda-tanda vital secara kontinyu (antara lain
tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, dan suhu), EKG dan
saturasi oksigen. Asupan cairan dan haluaran urine dipantau selama
pembedahan, dan kehilangan darah dapat diperkirakan.Selain itu, tekanan
arteri dan vena, tekanan pulmonal, dan nilai-nilai laboratorium seperti glukosa
darah, hemoglobin, hematokrit, elektrolit serum, dan gas darah arteri dapat
dievaluasi selama pembedahan.Pengkajian yang kontinu harus dilakukan
untuk mengidentifikasi dengan cepat respons yang merugikan akibat
pembedahan dan anestesia dan mengintervensi dengan segera untuk mencegah
komplikasi.

2. Diagnosis

Diagnosis keperawatan NANDA yang sesuai untuk klien intraoperatif


antara lain

Risiko aspirasi
Ketidakefektifan perlindungan
Kerusakan integrasi kulit
Risiko cedera keracunan perioperatif
Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh
Ketidakefektifan perfusi jaringan
Risiko kekurangan volume cairan

3. Perencanaan

Tujuan perawatan secara keseluruhan pada periode itraoperatif adalah


mempertahankan keselamatan klien dan mempertahankan homeostasis.
Contoh tindakan keperawatan untuk mencapai tujuan ini,antara lain:

Mengatur posisi klien yang tepat untuk pembedahan


Mempersiapkan kulit untuk pembedahan
Membantu mempersiapkan dan mempertahankan lapang steril
Membuka dan mengeluarkan peralatan steril selama pembedahan
Menuang medikasi dan cairan pada lapang steril
Memantau dan mempertahankan lingkungan yang aman dan aseptic
Menatalaksana kateter, slang,drain,dan specimen
Memeriksa kelengkapan spon,benda tajam dan instrument
Mendokumentasikan asuhan keperawatan dan respon klien terhadap
interverensi

4. Implementasi
Selama pembedahan, peran perawat sebagai perawat sirkulasi, dan
scrub nurse. Perawat sirkulasi membantu scrub nurse dan dokter bedah.
Mereka membantu posisi klien untuk operasi dan sering mengatur posisi
peralatan diperlukan.Selama pembedahan, perawat sirkulasu memperoleh
peralatan tambahan tambahan sesuai kebutuhan, mengatur pencahayaan
dan lain-lain. Scrub nurse membantu dokter bedah. Mereka menggunakan
gaun, sarung tangan, kap steril, dan lain-lain. Tanggung jawab mereka
antara lain menyelimuti klien dengan kain steril dan memegang alat
perlangkapan steril. Mereka juga menghitung perlengkapan steril. Mereka
juga menghitng spn, jarum dan instrument yang digunakan.Pada beberapa
ruang tatanan bedah, dokter bedah tidak menjahit insisi, sampai scrub
nurse menghitung semua sepon dan peralatan.Hal ini mencegah
kemungkinan tertinggalnya peralatan dalam ubuh klien.

a. Persiapan klien untuk pembedahan


Prosedur mempersiapkan kulit sebelum pembedahan antara lain
mempersiapkan area yang akan dibeda,mencukur rambutyang hanya
diperlukan, dan pemberian agens antimikroba. Pada kebanyakan pusat
pembedahan, mempersiapkan kulit dilakukan oleh anggggota tim
pembedahan sesaat sebelum pembedahan. Hal ini pertujuan untuk
menurunkan resiko infeksi luka pascaoperatif.

Prosedur ini dilakukan dengan:


Membersikan kotoran dan mikroba transien dari kulit
Menurunkan jumlah mikroba yang ada di kulit sampai pada jumlah
subpatogenik dalam waktu singkat dan dengan sedikit iritasi
jaringan.
Menghambat pertumbuhan cepat mikroba.
Association of Operating Room Nurse (1996) merekomendasikan
priktik persiapan kulit berikut untuk menurunkan resiko infeksi luka
pascaoperatif.
Bersihkan area pembedahan dan area sekitarnya. Hal ini dilakukan
sebelum persiapan pembedahan dengan meminta klien mandi dan
keramas atau membersikan area pembedahan sebelum tiba diruang
bedah, atau dengan menbersihkan area pembedahan segera
sebelum memeberikan agens antimikroba.
Kaji area pembedahan sebelum mempersiapkan kulit. Perawat
mengkaji adanya tahi lalat, kutil, ruam, atau kondisi kulit lainnya
seperti pustula, abrasi, atau eksudat, dan mendokumentasikan
keberadaannya sebelum mempersiapkan kulit.
Cukur rambut di area bedah hanya jika diperlukan atau sesuai
dengan program dokter atau kebijakan dan prosedur institusi.
Tenaga yang terampil yang mencukur rambut harus mencukur
rambut menggunakan teknik yang mempertahankan integritas
kulit. Klip elektrik atau krim penghilang rambut harus digunakan
untuk menurunkan risiko trauma pada kulit selam pencukuran. Jika
krimpenghilang rambut digunakan, uji hipersensivitas dilakukan
sebelum digunakan pada area pembedahan. Trauma dan abrasi
kulit meningkatkan risiko kolonisasi mikroorganisme pada area
pembedahan. Jika rambut harus dicukur, pencukuran dilakukan
tepat sebelum waktu pembedahan (di dekat ruang operasi) untuk
menurunkan waktu pertumbuhan mikroorganisme.
Persiapkan dan bersihkan area pembedahan dan area sekitarnya
dengan agens antimikroba jika diindikasikan. Agens antimikroba
nontoksik dengan spectrum germisidal yang luas digunakan untuk
menhambat pertumbuhan mikroorganisme selama dan setelah
prosedur pembedahan. Agens yang dipilih bergantung pada riwayat
reaksi hipersensitivitas klien, lokasi area pembedahan, dan kondisi
kulit. Area yang cukup luas untuk mengakomodasi luasnya insisi
dan semua area yang kemungkinan digunakan untuk drain atau
insisi tambahan harus dipersiapkan.
Dokumentasikan persiapan kulit untuk pembedahan dalam catatan
klien. Pendokumentasian harus termasuk kondisi kulit, yaitu
adanya pertumbuhan, abrasi atau ruam; pencukuran rambut dan
teknik yang digunakan, apabila dilakukan; persiapan kulit,
termasuk pembersihan dan pemberian agens antimikroba; siapa
yang melakukan persiapan kulit praoperatif; dan adanya respons
yang menyimpang atau hipersensitivitas.

b. Pengaturan Posisi

Pengaturan posisi klien yang benar selama pembedahan adalah


tanggung jawab perawat, dokter bedah, dan dokter anastesi. Posisi
klien yang ideal pada fase intraoperatif memberikan:

Visualisasi dan akses area pembedahan yag optimal


Akses yang optimal untuk mengkaji dan mempertahankan anastesi
serta fungsi vital ( tanda vital, respirasi, dan fungsi kardiovaskular )
Perlindungan bagi klien dari bahaya atau cedera.

Pengaturan posisi dilakukan setelah induksi anastesi dan


sebelum klien diberi selimut bedah.Klien diangkat ke posisi yang dapat
mencegah daya robekan pada kulit akibat penggeseran atau
pembalikan tubuh klien.Posisi yang tepat untuk klien bergantung pada
jenis pembedahan, yaitu pendekatan pembedahan.Sebagai contoh,
posisi litotomi biasanya digunakan untuk pembedahan vagina.

Pemberian posisi pada meja operasi distabilkan dengan tali


pengikat, dan penonjolan tubuh biasanya diberi bantalan. Posisi harus
memerhatikan rentang pergerakan sendi ang normal dan kesejajaran
tubuh yang baik, sehingga dapat mencegah terjadinya keseleo atau
cedera pada otot, tulang, dan ligamen.
Posisi yang dipilih biasanya ditentukan oleh teknik bedah yang
digunakan.Idealnya, posisi klien diatur agar dokter bedah mudah
mencapai tempat pembedahan dan fuungsi sirkulasi serta pernapasan
adekuat.Posisi tidak boleh mengganggu struktur
neuromuscular.Kenyamanan dan keselamatan klien harus diperhatikan.
Tim harus mencatat usia, berat badan, tinggi badan, status nutrisi,
keterbatasan fisik, dan kondisi ang ada sebelum pembedahan serta
mendokumentasikan nya untuk mengingatkan petugas yang akan
merawat klien setelah operasi.

Pengaturan posisi tidak boleh mengganggu pergerakan normal


diafragma atau mengganggu sirkulasi ke bagian tubuh. Apabila perlu
dilakukan pengikatan, perwatan memberi bantalan pada area yang akan
diikat untuk mencegah terjadinya cedera kulit.

5. Evaluasi

Perawat intraoperatif menggunakan tujuan yang disusun pada


tahap perencanaan ( mis., mempertahankan keamanan klien ) dan
mengumpulkan data data untuk mengevaluasi pencapaian hasil yang
diharapkan.

6. Dokumentasi

Selama fase intraoperatif, petugas keperawatan melanjutkan


rencana asuhan keperawatan melanjutkan rencana asuhan keperawatan
praoperatif.Misalnya, aseptic yang ketat harus dilakukan untuk
meminimalkan risiko infeksi luka bedah.Selama prosedur pembedahan
berlangsung, perawat menjaga agar pencatatan aktivitas perawatan klien
dan prosedur yang dilakukan oleh petugas ruang operasi tetap akurat.
Dokumentasi perawatan intraoperatif memberi data yang bermanfaat bagi
perawat yang akan merawat klien setelah pembedahan.

G. Asuhan Keperawatan Pascaoperasi


1. Pengkajian

Segera setelah klien kembali keruang perawatan, perawat melakukan


pengkajian awal. Rangkaian aktivitas ini beragam sesuai situasi. Sebagai contoh,
perawat mungkin perlu memeriksa program stat (segera) dokter sebelum
melakukan pengkajian awal; dalam keadaan seperti ini, intervensi keperawatan
untuk mengimplementasikan program tersebut dapat dilakukan bersamaan dengan
pengkajian.

Perawat mendiskusikan program pascaoperatif dokter bedah untuk


mempelajari hal-hal berikut:

Makanan dan cairan yang diperbolehkan melalui mulut


Larutan intravena dan medikasi intravena
Posisi di tempat tidur
Medikasi yang diprogramkan (misal, analgesik, antibiotik)
Uji laboratorium
Asupan dan haluaran, yang pada beberapa institusi dipantau untuk semua
klien pascaoperatif
Aktivitas yang diperbolehkan, termasuk ambulasi

Perawat juga memeriksa catatan PACU untuk data berikut:


Tindakan pembedahan yang dilakukan
Adanya dan lokasi drain
Anestesia yang digunakan
Diagnosis pascaoperatif
Perkiraan jumlah kehilangan darah
Medikasi yang diberikan di ruang pemulihan

Di beberapa institusi, pengkajian dilakukan setiap 15 menit sampai tanda vital


stabil, setiap jam selama 4 jam berikutnya, kemudian setiap 4 jam selama 2 hari
berikutnya. Pengkajian harus dilakukan sesering mungkin sesuai kondisi klien.
Perawat mengkaji:

Tingkat Kesadaran.
Kaji orientasi klien terhadap waktu, tempat, dan orang.
Kebanyakan klien sudah sadar penuh, tetapi agak mengantuk ketika
kembali keruangan mereka. Kaji reaksi klien terhadap stimulus verbal dan
kemampuan untuk menggerakkan ekstremitas.
Tanda vital.
Periksa tanda vital klien setiap 15 menit sampai kondisi stabil atau
sesuai instruksi dari rumah sakit. Bandingkan dengan data di ruang PACU.
Selain itu, kaji suara paru dan kaji tanda-tanda masalah sirkulasi umum
seperti hipotensi pascaoperatif, hemoragi, atau syok. Hipovolemia akibat
kehilangan cairan selama pembedahan adalah penyebab umum hipotensi
pascaoperatif. Hemoragi dapat terjadi akibat ligase pembuluh darah yang
tidak sempurna atau jahitan yang putus. Hemoragi massif atau insufisiensi
jantung dapat mengakibatkan syok pascaoperatif.
Warna dan suhu kulit
Terutama pada bibir dan dasar kuku. Warna bibir dan dasar kuku
merupakan indicator perfusi jaringan (peredaran darah melalui pembuluh
darah). Kulit pucat, sianotik, dingin, dan lembab dapat menjadi tanda
masalah sirkulasi
Kenyamanan.
Kaji nyeri bersamaan dengan pemeriksaan tanda vital klien dan
sesuai kebutuhan di antara pengukuran tanda-tanda vital. Kaji lokasi dan
intensitas nyeri. Jangan menganggap bahwa nyeri yang dilaporkan klien
adalah akibat luka insisi; penyebab nyeri lainnya antara lain regangan otot,
flatus, dan angina. Minta klien untuk menilai nyeri dengan rentang 0
sampai 10, dengan 0 adalah tidak nyeri dan 10 untuk nyeri hebat yang
tidaktertahankan. Evaluasi klien untuk adanya indikator nyeri yang efektif:
pucat, berkeringat, ketegangan otot, dan enggan untuk batuk, bergerak,
atau ambulasi. Tentukan analgesic itu diberikan, dan kaji adanya efek
samping medikasi seperti mual dan muntah pada klien.
Keseimbangan cairan.
Kaji jenis dan jumlah cairan intravena, kecepatan aliran, dan area
infusi. Pantauan asupan dan haluaran cairan klien. Selain mengawasi syok,
kaji tanda-tanda kelebihan beban sirkulasi, dan pantau elektrolit serum
klien.
Balutandan linen.
Inspeksi balutan dan linen klien. Drainase darah yang berlebihan
pada balutan atau pada linen, yang sering kali terlihat di bawah klien,
dapat menunjukkan adanya hemoragi.
Jumlah drainase pada balutan dilaporkan dengan menggambarkan
diameter noda atau dengan menghitung jumlah dan jenis balutan yang
basah oleh drainase.

Drain dan slang.


Tentukan warna, konsistensi, dan jumlah drainase dari semua slang
dan drain. Semua slang yang terpasangharus paten, dan slang serta
peralatan pengisap harus berfungsi dengan baik. Kantung drainase harus
digantung dengan benar.
2. Diagnosis

Karena pembedahan dapat melibatkan banyak sistem tubuh secara


langsung dan tidak langsung, dan merupakan pengalaman yang rumit bagi klien,
diagnosis perawatan berfokus pada luasnya variasi masalah actual, potensial, dan
kolaboratif .

Diagnosis actual dan potensial NANDA untuk klien pascaoperatif antara lain :

Nyeri akut
Risiko infeksi
Risiko cedera
Risiko kekurangan volume cairan
Ketidakefektifan pembersihan jlan napas
Ketidakefektifan pola napas
Defisit perawatan diri: mandi/hygiene, berpakaian/berhias, eliminasi
Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan
Gangguan citra tubuh

Masalah kolaboratif pascaoperatif yang potensial :


1. Pernapasan
a. Pneumonia yaitu inflamasi pada alveoli, yang disebabkan oleh
infeksi, toksik, atau iritan yang menyebabkan proses inflamasi.
Tanda klinis : peningkatan suhu, batuk, ekspektorasi sputum
bercampur darah atau sputum purulen, dispmea, nyeri dada.
Tindakan pencegahan : latihan nafas dalam dan batuk, bergerak
ditempat tidur, ambulasi dini
b. Pneuminia infeksius mungkin hanya terbatas pada satun atau lebih
lobus (lobaris) atau terlihat seperti bercak-bercak yang menyebar
diseluruh lapang paru (Brongkialis), juga dapat mengenai jaringan
intartisial pada paru. Penyebab : organism umum termasuk
stertococcus pneumonia, haemophilus, influenza, dan
staphylococcus aureus.
c. Pneumonia hipokstatik penyebab dari jenis pneumonia ini adalah
imoblitas dan gangguan ventilasi mengakibatkan atelektasi dan
pertumbuhan kuman pathogen
d. Pneumonia Aspirasi proses inflamasi akibat iritasi pada jaringan
paru oleh materi yang teraspirasi, terutama asam hidroklrorad darin
lambung. Penyebab : Aspirasi cairan lambun, makanan; atau zat
lainnya; sering berkaitan dengan hilangnya refleks gag.
e. Atelektasis kondisi ketika alveoli kolaps dan tidak mendapatkan
ventilasi. Penyebab : sumbatan mucus pada jalan nafas
brongkiolus, ekspansi paru tidak adekuat, analgesic, imobulitas
Tanda klinis : dispnea, takipnea, takikardia, diaforosis,
ansiestas, nyeri pluara, penurunan gerakan dada, suara nafas
tumpul atau tidak ada, penurunan saturasi oksigen (SAO2).
Tindakan pencegahan: latihan nafas dalam dan batuk, b ergerak
ditempat tidur, ambulasi dini
f. Emboli paru, bekuan darah yang bergerak ke paru dan menyumbat
arteri pulmonal, akibatnya aliran darah tersumbat ke bagian paru.
Penyebab : statis darah vena akibat imobilisasi, cedera vena akibat
fraktur atau selama pembedahan, penggunaan kontasepsi oral
tinggi estrogen, masalah koagolasi atau gangguan sirkulasi yang
telah ada.
Tanda klinis: nyeri dada, pendek napas, sianosis, syok
( fakikardia, tekanan darah rendah)
Tindakan pencegahan : berbalik, ambulasi, stoking anti
emboli, alat kompres.
2. Sirkulasi
a. Hipovolemia, volume sirkulasi darah tidak adekuat
Penyebab : deficit cairan, hemoragi
Tanda klinis : takikardia, penurunan haluaran urin, penurunan
tekanan darah.
Tindakan pencegahan : deteksi dini tanda tanda;penggantian
cairan dan atau darah
b. Hemoragi, perdarahan internal atau eksternal
Penyebab : kerusakan pada jahitan, ligasi pembuluh darah yang
tidak cukup kuat.
Tanda klinis : perdarahan yang tampak jelas ( balutan terwarnai
darah terang, darah mengalir bebas pada drain atau selang
dada), peningkatan rasa nyeri , peningkatan lingkar abdomen,
pembengkakan atau memar disekitar insisi.
Tindakan pencegahan : deteksi dini tanda tanda hemoragi.
c. Syok hipovolemik, perfusi jaringan yang tidak adekuat akibat
penurunan voume darah sirkulasi yang bermakna.
Penyebab: hipovolemia berat akibat deficit cairan atau
hemoragi
Tanda klinis : nadi lemah dan cepat , dispnea, takipnea, gelisah
dan cemas, haluaran urin kurang dari 30 ml/jam; penurunan
tekanan darah; kulit dingin dan basah, rasa haus dan pucat.
Tindakan pencegahan : pertahankan volume darah dengan
mengganti cairan yang hilang secara adekuat, cegah hemoragi;
deteksi dini tanda .
d. Tromboflebitis, inflamasi vena, biasanya tungkai dan dikaitkan
dengan bekuan darah.
Penyebab : pelambatan aliran darah vena akibat imobilitas atau
posisi duduk yang lama; trauma pada vena, mengakibatkan
inflamasi dan peningkatan koagulasi darah
Tanda klinis, kesemutan, nyeri kram; area yang sakit bengkak,
merah dan panas jika disentuh; vena teraba keras; tidak nyaman
pada betis jika kaki dorsofleksi atau saat klien berjalan.
Tindakan pencegahan: ambulasi dini, latihan fisik tungkai,
stoking, anti emboli, asupan cairan yang tidak adekuat.
e. Thrombus, pembekuan darah yang melekat di dinding vena atau
arteri ( paling umum terjadi pada vena tungkai )
Penyebab : seperti pada tromboflebitis untuk thrombus vena;
gangguan atau inflamasi dinding arteri untuk thrombus arteri
Tanda klinis: vena : sama seperti tromboflebitis, arteri : nyeri
dan pucat pada ekstremitas yang sakit; penurunan atau tidak
adanya pulsus perifer
Tindakan pencegahan : vena : seperti untuk tromboflebitis,
arterial: pertahankan posisi yang diprogramkan: deteksi dini
tanda tanda
f. Embolus, benda asing atau bekuan yang bergerak dari tempat
asalnya terbentuk ke area tubuh yang lain( mis., paru, hati atau
otak)
Penyebab : thrombus vena atau arteri; kerusakan kateter
intravena, lemah atau cairan amnion.
Tanda klinis : didalam sistem vena, biasanya menjadi emboli
paru ; tanda emboli arteri dapat bergantung pada lokasi yang
terkena.
Tindakan pencegahan : sama seperti tromboflebitis atau
trombbus; pertahankan kateter IV dengan cermat
3. Urinarius
a. Retensi urine, ketidakmampuan pengosongan kandung kemih,
disertai akumulasi urine yang berlebihan di dalam kandung kemih
Penyebab: depresi tonus otot akibat narkotik dan anestetik;
penanganan jaringan selamapembedahan pada organ
didekatnya (rektum, vagina)
Tanda klinis: asupan cairan lebih besar daripada haluaran:
ketidakmampuan berkemih atau sering berkemih dalam jumlah
sedikit, distensi kandung kemih, ketidaknyamanan suprapubik,
gelisah
Tindakan pencegahan: pantau asupan daan haluaran cairan,
intervensi untuk memfasilitasi berkemih, kateterisasi urin jika
diperlukan

b. Infeksi slauran kemih, inflamasi kandung kemih, ureter, atau uretra


Penyebab : imobilisasi dan pembatasan asupan cairan,
penggunaan alat pada sarun kemih
Tanda klinis : sensasi rasa terbakar saat berkemih, urgensi, urin
keruh, nyeri abdomen bawah
Tindakan pencegahan : asupan cairan yang adekuat, ambulasi
dini, kateter lurus aseptic hanya jika diperlukan, hygiene
perineum yang baik
4. Gastrointestinal
a. Mual dan muntah
Penyebab : nyeri, distensi abdomen, ingesti makanan atau
cairan sebelum peristaltic kembali berfungsi, obat obata
tertentu, ansiaetas.
Tanda klinis: keluhan merasa sakit diperut, muntah muntah
Tindakan pencegahan ; cairan IV sampai peristaltic kembali
berfungsin, kemudian cairan jernih, cairan penuh dan diet
regular; obat anti emetic dapat diprogramkan ; analgesic untuk
nyeri
b. Konstipasi, pengeluaran fases yang jarang atau tidak ada dalam
rentang waktu yang abdormal ( mis., dalam 48 jam setelah
pemberian diet padat dimulai )
Penyebab: kurang diet berserat, analgesic ( menurunkan
motilitas usus ), imobilisasi
Tanda klinis : tidak ada eliminasi fases, distensi abdomen, dan
rasa tidak nyaman
Tindakan pencegahan: asupan cairan yang adekuat, diet tinggi
serat, ambulasi dini
c. Timpanitis, retensi gas didalam usus
Penyebab: pelambatan motilitas usus disebabkan oleh
manipulasi usus salama pembedahan dan efek anastesi
Tanda klinis : distensi abdomen yang nyata, ketidaknyamanan
abdomen ( kembung ), tidak ada bisisng usus.
Tindakan pencegahan : ambulasi dini; hindara penggunaan
sedotan, berikan es batu atau air pada suhu kamar.
d. Ileus pascaoperatif, obstruksi usus yang ditandai dengan
ketidakadaan aktivitas peristaltic
Penyebab : manipulasi usus selama pembedahan, anastesi,
ketidakseimbangan elektrolit, infeksi luka
Tanda klinis: nyeri abdomen dan distensi;konstipasi;tidak ada
bising usus, muntah
5. Luka
a. Infeksi luka, inflamasi dan infeksi pada area insisi atau drain
Penyebab: teknik aseptic yang buruk; analisis laboratorium
pada suab luka mengidentifikasi organism kausativ
Tanda klinis : eksudat purulen, kemerahan, nyeri tekan,
peningkatan suhu tubuh, bau pada luka
Tindakan pencegahan : pertahankan luka tetap bersih dan
kering, gunakan teknik aseptic bedah ketika mengganti balutan
b. Dehisensi luka, terbukanya jalur luka jahitan sebelum luka sembuh
Penyebab : malnutrisi ( kurus, obesitas) sirkulasi yang buruk,
pergengan yang berlebihan pada luka jahitan
Tanda klinis: peningkatan drainase insisi luka, jaringan
dibawah kulit dapat terlihat disepanjang insisi
Tindakan pencegahan : nutrisi yang adekuat, penyokong luka
insisi yang adekuat dan hindari peregangan
c. Eviserasi luka, penekanan organ dan jaringan internal keluar
melalui insisi
Penyebab: sama seperti dehisensi luka
Tanda klinis: terbukanya insisi dan terlihat penonjolan organ
Tindakan pencegahan : sama seperti untuk dehisensi luka
6. Psikologi
a. Depresi pascaoperatif, ganggguan mental yang ditandai dengan
perubahan alam persaan
Penyebab: kelemahan, keterkejutan pada pembelahan darurat,
informasi mengenai keganasan, gangguan citra tubuh yang
berat, masalah pribadu lain; mungkin merupakan respon
fisiologis pada beberapa proses pembedahan
Tanda klinis: anoreksia, menangis hebat, kehilangan ambisi,
menarik diri, menolak orang lain, perasan kesal, gangguan tidur
insomnia atau tidur yang berlebihan
Tindakan pencegahan : istrahat yang adekuat, aktivitas fisik,
kesempatan untuk mengungkapkan rasa marah dan perasaan
yang negative lain
3. Implementasi
Intervensi keperawatan yang dirancang untuk meningkatkan pemulihan
dan mencegah komplikasi mencakup manajemen nyeri, pengaturan posisi,
spirometri insentif dan napas dalam serta latihan batuk, latihan tungkai, ambuasi
dini, hidrasi adekuat, diet, peningkatan eliminasi urin, pemeliharaan pengisapan,
dan perawatan luka.

Manajemen nyeri

Meskipun merupakan pengalaman sensori dan emosional yang


menyadarkan kita akan adanya bahaya,dan mengawali respon untuk menghindari
atau meminimalkan bahaya, nyeri pada klien bedah memiliki nilai protektif. Pada
kenyataannya, nyeri dapat memiliki efek yang merusak, mengakibatkan stimulasi
pada system saraf simpatis, takikardia, napas dangkal, atelektasis, gangguan
pertukaran gas, imobilisasi, dan imunosupresi ( van keuren & Eland, 1997 dalam
koezier, 2011)

Nyeri biasanya dirasa paling hebat 12 sampai 36 jam setelah pembedahan,


menurun setelah hari kedua atau ketiga pascaoperatif. Selama periode awal
pascaoperatif, pemberian medikasi analgesia yang dikontrol oleh klien (PCA,
patient-controlled analgesia) atau analgesic kontinu melalui kateter intravenaatau
epidural seringkali diprogramkan. Perawat memantau infusi atau jumlah analgesic
yang diberikan melalui PCA, mengkaji penurunan nyeri klien, dan
menginformasikan kepada dokter jika klien mengalami efek samping atau tidak
mendapat peredaraan nyeri yang adekuat. Analgesik PRN secara parenteral atau
oral harus diberikan secara rutin ( setiap 2sampai 6 jam, bergantung pada obat,
rute, dan dosis) selama 24 sampai 36 jam pertama. Apabila pemberian analgesic
secara rutin tidak lagi diperlukan, analgesic biasanya diberikan sebelum jadwal
aktivitas dan periode istirahat.

Karena ketegangan otot meningkatkan persepsi dan respon nyeri, perawat


perlu menggunakan tindakan nonfarmakologi selain analgesia yang
diprogramkan. Tindakan in termasuk memastikan bahwa klien dalam keadaan
hangat dan memberikan gosokan pada punggung , perubahan posisi, aktivitas
pengalihan, dan tindakan lain seperti imajinasi.

Pemberian posisi

Atur posisi klien sesuai program. Klien yang mendapat ansatesi spinal
biasanya dibaringkan datar selama 8 sampai 12 jam. Klien yang tidak adar atau
setengah sadar dibaringkan miring dengan kepala sedikita elevasi, jika mungkin
atau dalam posisi yang memungkinkan cairan keluar dari mulut. Kecuali jika
dikontraindikasikan, elevasi ekstremitas yang sakit ( mis., setelah pembedahan
kaki) dengan ekstremitas distal lebih tinggi daripada jantung meningkatkan
drainase vena dan meredakan pembengkakan.

Napas dalam dan latihan batuk.

Latihan napas dalam membantu mengeluarkan mucus yang dapat


dibentukdan tetap di dalam paru akibat efek anastesia umum dan analgesic. Obat-
obat ini meekan kerja silia pada memmbran mukosa yang melapisi saluran napas
dan pusat pernapasan di otak. Dengan meningkatkan ekspansi paru dan
meningkatkan ekspansi paru dan mencegah akumulasi sekresi, napas dalam
membantu mencegah pneumonia dan atelectasis (kolaps alveoli) yang dapat tejadi
akibat statis cairan dalam paru.

Spirometer insentif sering diprogramkan untuk klien pascaoperatif untuk


mendukung napas dalam. Napas dalam seringkali memancing reflex batuk.
Dorong klien untuk melakukan napas dalam dan latihan batuk setiap jam, atau
sedikitnya setiap 2 jam , selama terjaga untuk beberapa hari pertama. Klien dapat
menahan area insisi menggunakan batal ketika batuk, atau perawat dapat
membantu menahan insisi untuk menahan insisi untuk meredakan rasa tidak
nyaman klien

Latihan tungkai

Dorong klien untuk melakukan latihan tungkai dalam periode praoperatif


setiap 1 sampai 2 jam selama waktu klien terjaga. Kontraksi otot menekan vena,
mencegah statis darah dalam vena, penyebab thrombus (bekuan yang tetap
melekat di dinding pembuluh darah ) dan tromboflebitis( inflamasi vena diikuti
dengan pembentukan bekuan darah) dan emboli ( bekuan darah yang bergerak).
Kontraksi juga meningkatkan aliran darah arteri.

Pergerakan dan ambulasi

Dorong klien untuk berbalik dari stu sisi ke sisi lain setidaknya setiap 2
jam. Membalikkan posisi tubuh secara bergantian dapat meningkatkan ekspansi
paru secara maksimal Karena paru berada paling atas. Hindari meletakkan bantal
atau guling dibawah lutut Karen atekanan pada pembuluh darah popliteal dapat
menggangu sirkulasi darah ked an dari ekstremitas bawah. Klien yang berlatih
untuk membalik posisi sebelum pembedahan biasanya lebih mudah melakukannya
setelah pembedahan.

Klien harus ambulasi sesegara mungkin setelah pembedahan sesuai


program dari ahli bedah. Pada umumnya klien mulai ambulasi pada malam hari di
hari pembedahan atau sehari setelah pembedahan, kecuali dikontraindikasikan.
Ambulasi dini mencegah sirkulasi pernapasan, sirkuasi, urinarius, dan
gastrointestinal. Ambulasi juga mencegah kelemahan otot umum. Rencanakan
jadwal ambulasi untuk periode setelah klien menerima analgesic atau ketika klien
merasa nyaman. Ambulasi harus dilakukan secara bertahap , dimulai dengan klien
duduk di tempat tidur dan menjuntaikan kaki di samping tempat tidur klien yang
tidak dapat melakukan ambulasi harus dibantu secara periodic untuk posisi duduk
di tempat tidur, jika diperbolehkan, dan posisinya diganti dengan sering. Posisi
duduk memungkinkan ekspansi paru maksimal.

Hidrasi

Pertahankan infuse itravena sesuai program untuk mengganti cairan yang


hilang sebelum dan selama pembedahan. Apabila asupan oral diperbolehkan,
mula-mula hanya berikan sedikit tetes air. Jumlah air banyak dapat mengakibatkan
muntah kaena anastesia dan analgesic narkotika sementara mengahambat motilias
usus. Klien yang tidak dapat memasukkan air melalui mulut mungkin
diperbolehkan oleh dokter bedah untuk mengisap es batu. Berikan perawatan
mulut dan letakkan larutan kumur di samping tempat tidur klien. Klien
pascaoperatif seringkali mengeluh haus dan mulut kering-lengket. Rasa tidak
nyaman ini akibat periode puasa praoperatif, medikasi praoperatif (seperti
atropine) dan kehilangan cairan tubuh.

Ukur asupan dan haluaran cairan klien sedikitnya 2 hari atau sampai
keseimbangan cairan stabil tanpa infuse intravena. Keseimbangan cairan yang
adekuat harus selalu dipastikan. Cairan yang cukup mempertahankan kelembapan
membrane mukosa dan sekresi saluran napas, sehingga memfasilitasi pengeluaran
mucus seama batuk. Selain itu, keseimbangan cairan yang adekuat penting untuk
mempertahankan fungsi ginjal dan kardiovaskuler.

Diet

Dokter bedah memprogramkan diet klien pascaoperatif. Bergantung pada


luas pembedahan dan organ yang terlibat, klien dapat dipuasakan selam beberapa
hari atau mungkin mampu menerima asupan oral jika tidak lagi merasa mual.
Apabila diet sesuai toleransi diprogramkan, tawarkan cairan bening terlebih
dahulu. Jika klien dapat mentoleransi cairan tanpa merasa mual, diet dapat
dilanjutkan dengan cairan penuh dan kemudian sampai diet regular., asalkan
system gasrointerstinal berfungsi normal. Kaji kembalinya peristaltic usus dangan
mengauskultasi abdomen. Bunyi bedeguk dan gemuruh mengindikasikan
peristaltic. Agens anastetik, narkotik, penanganan usus selama pembedaha
abdomen, puasa, dan inaktivitas menghambat peristaltic. Oleh sebab itu, bising
usus harus dikaji dengan cermat 4 sampai 6 jam. Cairan dan makanan oral
biasanya dimulai setelah peristaltic kembali berfungsi. Bantu klien yang sangat
lemah untuk makan.

Observasi kemampuan toleransi klien terhadap makanan atau cairan,


perhatikan dan laporkan flatus atau distensi abdomen

Eliminasi urin
Lakukan tindakan yang meningkatkan eliminasi urin. Sebagai contoh,
bantu klien pria untuk berdiri di samping tempat tidur , atau klien wanita untuk
menggunakan kursi buang air disamping tempat tidur jika diizinkan., dan
pastikan bahwa asupan cairan klien adekuat. Tentukan apakah klien mengalami
kesulitan berkemih dan kaji adanya distensi kandung kemih pada klien. Laporkan
kepada dokter bedah jika klien tidak brkemih selam 8 jam setelah pembedahan,
kecuali telah disebutkan waktu tertentu klien akan berkemih.

Agens anastetik yang menekan sementara tonus kandung kemih, yang


biasanya kembali normal dalam 6 sampai 8 jam setelah pembedahan.
Pembedahan di area pubis, vagina, atau rectum, yang memungkinkan dokter
bedah memanipulasi kandung kemih seringkali menyebabkan retensi urin.
Apabila semua tindakan untuk meningkatkan perkemihan gagal, kateter urin
seringkali diprogramkan. Ukur asupan dan haluaran cairan pada semua klien
pascaopertif. Biasanya asupan dan haluaran dilaporkan selama 2 hari atau sampai
klien dapat mencapai kembali status keseimbangan cairan tanpa terpasang infus
atau kateter IV.

Pengisapan

Beberapa klen kembali dari pemedahan dengan terpasang slang lambung


atau usus dan diprogramkan slang tersebut dihubungkan ke slang penghisap.
Pengisapan diprogramkan kontinu atau intermitten. Pengisapan intermiten
diprogramkan jika menggunakan slang gastrik lumen tunggal untik menurunkan
resiko kerusakan membrane mukosa yang dekat dengan tempat masuk slang.
Mesin pengisapan kotinu mungkin diberikan apabila slang lumen ganda
dipasang .cairan dan elektrolit harus diganti secara intravena jika pengisapan
lambung atau drainase kontinu diprogramkan. Slang nasogatrik mungkin diirigasi
jika lumen menjadi tersumbat. Slang bisanya diirigasi sebelum dan setelah
pemberian makanan melaiu slang atau pemberian medikasi. Irigasi nasogastric
dapat memerlukan program dari dokter, terutama setelah pembedahan
gastrointestinal.

Pengisapan juga harus diberikan pada slang drainase lain seperti slang dada atau
drain luka. Jenis dan jumlah pengisapan diprogramkan oleh dokter. Kebanyakan
institusi menyediakan dinding yang dirancang khusus untuk mesin pengisapan.
Regulator pengisapan yang telah tersambung dengan penampung drainase
digubungkan dengan stopkontak dinding untuk memberikan tekanan negative.
Periksa wadah penampung dengan sering untuk mencegah drainase tumpah dari
peralatan pengisapan lainnya; kosongkan atau ganti wadah penampung sesuai
dengan kebijakan institusi. Unit pengisapan atau pompa ( mis., pompa Gomco)
mungkin digunakan di rumah atau jika dinding dengan mesin pengisap tidak
tersedia.

Perawatan luka

Kebanyakan klien yang kembali dari ruang pembedahan memiliki luka


jahitan yang ditutup dangan balutan, meskipun dalam beberapa kasus luka
dibiarkan tanpa jahitan. Balutan di inspeksi secara rutin untuk memastikan bahwa
balutan bersih, kering, dan utuh. Drainase yang berlebihan dapat mengindikasikan
adanya hemoragi, infeksi, atau luka terbuka.

Pada saat balutan diganti, perawat mengkaji penampilan, ukuran, drainase,


pembengkakan, nyeri, dan status drain atau slang. Karena insisi bedah sembih
melalui pembedahan primer, perawat dapat mengantisipasi tanda tahap proses
penyembuhan sebagai berikut;

1. Tidak ada perdarahan dan bekuan yang tampak melekat pada tepi luka.
Bagian tepi luka merapat dengan baik dan terikat oleh fibrin dalam bekuan
beberapa jam pertama setelah penutupan pembedahan.
2. Inflamasi ( kemerahan dan pembengkakan) pada tepi luka selama 2
sampai 3 hari.
3. Reduksi inflamasi ketika bekuan darah menghilang, ditandai dengan
jaringan granulasi mulai menutup area. Luka merapat dan menutup dalam
7 sampai 10 hari. Peningkatan inflamasi yang dapat ditandai dengan
demam dan drainase mengindikasikan infeksi luka; kemudian tepi luka
tampak jelas mengalami peradangan dan pembengkakan.
4. Pembentukan jaringan parut. Sintesis kolagen mulai hari keempat setelah
cedera dan dilanjutkan selama 6 bulan atau lebih.
5. Ukuran jaringan parut berkurang selama periode beberapa bulan atau
tahun. Meningkatnya ukuran jaringan parut mengindikasikan
pembentukan keloid.

Anda mungkin juga menyukai