Anda di halaman 1dari 12

Orientasi dan Migrasi

Hewan memberi respons terhadap perubahan lingkungan yang kompleks


salah satunya adalah dengan melakukan perubahan posisi melalui
pergerakan dari suatu tempat ke lokasi lain yang lebih menguntungkan
dan bermanfaat untuk kesintasannya.

ORIENTASI
Perilaku berpindah lokasi bergantung pada orientasi yang tepat untuk
berpindah di dalam maupun di luar habitat.

Orientasi terdiri dari semua respons yang mengarahkan hewan untuk


memiliki postur yang tepat di habitatnya termasuk saat bermigrasi atau
kembali ke habitat semula. Orientasi berupa respons sederhana terhadap
kondisi lingkungan diperlihatkan oleh kinesis dan taxis.

Kinesis : respons berupa pergerakan hewan tanpa arah terhadap


stimulus untuk mencari lokasi yang cocok, dengan jumlah (frekuensi)
dan kecepatan bergerak disesuaikan berdasarkan besar kecilnya
stimulus yang muncul di lokasi/mikro habitat.

Diketahui terdapat 2 jenis kinesis yaitu:


- Orthokinesis: intensitas stimulus menentukan kecepatan gerakan
- Klinokinesis: intensitas stimulus menentukan kecepatan untuk berbelok

Contoh:
(1) Perilaku caplak kayu (Oniscus asellus) teradaptasi untuk berkumpul
pada lokasi yang lembab. Hewan ini akan mati bila terpapar udara
kering yang lama. Di lokasi kering hewan ini sangat aktif, namun
aktifitas menurun saat berada di lokasi lembab.
(2) Gerakan cepat caplak kayu terhadap kondisi kering menunjukkan
orthokinesis dan gerakan berbelok caplak lebih banyak membentuk
sudut 35 daripada sudut 30 menunjukkan klinokinesis.

(2) perilaku larva belut (Lampetra planeri) yang akan mengubur


kepalanya di dasar lumpur sungai atau danau; memiliki reseptor cahaya
di ujung ekor untuk menerima stimulus cahaya. Saat berada dalam
lumpur yang akan menutupi reseptor cahaya, larva bergerak sangat
lamban, sebaliknya jika reseptor terpapar cahaya maka akan bergerak
aktif secara menggeliat. Namun, gerakan aktif larva tidak menunjukkan
respons terhadap arah datangnya cahaya.

Taksis (Taxis) : respons gerakan perilaku menuju ke- (positiv) atau


menjauh dari- (negativ) arah datangnya stimulus.

Beberapa contoh taksis a.l. :

- Phototaxis : respons terhadap cahaya


- Phonotaxsis : respons terhadap suara
- Rheotaxis : respons terhadap arus
- Geotaxis : respons terhadap gravitasi

Contoh :

(1) belatung lalat (Musca domestica) saat akan menjadi pupa


memperlihatkan goyangan kepala yang mampu mengukur intensitas
paparan cahaya dan bergerak menuju ke lokasi gelap.
(2) udang Artemia memperlihatkan reaksi bagian ventral tubuhnya
(perut) terhadap paparan cahaya.

(3) Ikan Salmon memperlihatkan respons rheotaxis negativ saat


bermigrasi dari laut menuju sungai

(3) Semut (Lasius niger) menggunakan matahari sebagai pusat kompas


(referensi arah) saat mencari makan bersama. Semut keluar sarang
untuk perjalanan jauh mencari makan dengan membentuk sudut 450 ke
arah sebelah kanan matahari, sebaliknya untuk membawa kembali
semut ke sarang maka akan ditempuh melalui jalur yang lebih pendek
dengan membentuk sudut 1350 dari arah kiri matahari.

Penggunaan kompas yang dipelihara hewan dalam jangka waktu lama


mampu mempengaruhi perubahan orientasi gerakan hewan terhadap
cahaya yang menyesuaikan dengan gerakan matahari. Keberadaan jam
biologis hewan pun mampu mengukur berjalannya waktu dan
menyesuaikan gerakan dengan sudut relatif terhadap matahari.
MIGRASI

Migrasi adalah aktivitas berpindah lokasi atau habitat di saat iklim yang
cocok untuk memenuhi kebutuhan atas ketersediaan tempat berlindung,
pakan, dan reproduksi. Hewan akan kembali ke lokasi/habitat semula di
saat iklim yang sesuai pula.

Hewan seringkali melakukan perjalanan jarak jauh (migrasi) dan kembali ke


habitat semula. Beberapa strategi menemukan jalan kembali antara lain
melalui:

(1) Panduan perjalanan (piloting), biasanya menggunakan tanda-tanda


alam landmark berupa tampilan (kondisi) daratan, dasar sungai/lautan,
pegunungan, pantai menggunakan organ sensorinya.

(2) Orientasi kompas (pusat/referensi arah) menggunakan posisi matahari,


bintang dan magnet bumi.

Contoh: kupu-kupu putih (Pieris rapae) menggunakan orientasi kompas


saat bermigrasi dalam beberapa musim, dan di musim lainnya terbang
dengan orientasi kompas yang berlawanan sehingga mampu kembali ke
tempat asal.

Salah satu bukti yang menunjukkan hewan menggunakan orientasi kompas


adalah eksperimen pada burung juvenile Jalak Eropa (Starling) yang
bermigrasi namun dipindahkan pada jarak yang cukup jauh di lokasi awal.
Burung tsb mampu terbang dengan arah dan jarak yang sama dengan
induknya (burung terbang bermigrasi secara paralel dengan arah migrasi
induk), meski tiba di lokasi yang berbeda dengan lokasi induk.
Temuan ilmiah membuktikan bahwa arah migrasi pada burung berada
dibawah kontrol genetik dan diturunkan oleh induk. Contoh: burung
Warbler (Sylvia borin) dan Blackcaps (Sylvia capilla) yang dipelihara
dalam sangkar mampu mengubah arah terbang yang sama dengan
anggota species lainnya yang hidup di alam.

Dead reckoning adalah kemampuan hewan untuk kembali ke lokasi


awal dengan mengetahui posisi relativnya berdasarkan urutan jarak dan
arah selama tahap perjalanan migrasi. Perkiraan jarak dan arah tsb juga
disesuaikan dengan perubahan angin atau arus. Hewan dapat
mengetahui posisi relativnya menuju lokasi awal dengan menggunakan
orientasi kompas.

Navigasi berdasarkan Dead Reckoning ditentukan berdasarkan posisi


individu hewan sesuai arah dan jarak dalam setiap tahap perjalanan
migrasi. Orientasi kompas digunakan untuk menentukan arah yang tepat
menuju lokasi awal.
Navigasi merupakan kemampuan untuk memelihara dan menetapkan
kompas (referensi) untuk mencapai tujuan, dimanapun hewan tersebut
berada. Burung merpati (Columba livia) adalah contoh hewan dengan
kemampuan navigasi yang membutuhkan kompas dan map yang mampu
menunjukkan posisi relativ terhadap lokasi tujuan.

Penggunaan kompas dan peta sebagai referensi:

A. Kompas

(1) Magnetik bumi (Geomagnetism)


Percobaan pada (a) burung merpati diberi lempengan kuningan mampu
menunjukkan arah kembali ke lokasi awal saat saat udara cerah dan
mengalami sedikit pergeseran saat udara berawan, namun (b) burung
merpati yang diberi lempengan magnet menunjukkan kesalahan mencapai
lokasi yang lebih banyak saat udara berawan, meski tetap mampu kembali
ke lokasi awal saat udara cerah.

Burung mampu melihat melalui photon magnetik bumi yang membentuk


pasangan radikal elektron bebas (singlet dan triplet) yang ditangkap oleh
photopigmen berpola dalam retina nya .
(2) Matahari
(3) Bintang

Burung Indigo Bunting (Passerina cyanea) bergantung pada posisi 350


bintang kutub polaris di belahan bumi utara yang sebagai titik referensi
kompas. Burung tsb belajar bagaimana menggunakan posisi bintang tsb
sebagai penunjuk arah migrasi ke kutub utara atau kutub selatan.
Percobaan di bawah ini menunjukkan fungsi bintang sebagai kompas.

(4) Kombinasi ketiganya

Burung selain menggunakan magnetik bumi sebagai sistem referensi, juga


menggunakan posisi geografi bumi dan posisi matahari untuk
menyesuaikan jam tubuh internal yang sesuai.
B. Map (Peta)

Penggunaan gradien geofisik bumi dan tanda-tanda alam (Landmark).

Navigasi berdasarkan keadaan geofisik bumi dan landmark mampu


diperlihatkan oleh burung merpati atau burung yang bermigrasi jauh.
Hewan yang bermigrasi juga menggunakan sensori lainnya seperti olfaktori
(bau wilayah, air, angin, dlsb), gravitasi, suara, arus air, ketinggian lokasi
yang diterima dari lingkungan untuk digunakan sebagai petunjuk arah.

Natal Dispersal vs Natal Phylopatry

Natal Dispersal (Penyebaran dari lokasi kelahiran)

Penyebaran/perpindahan individu hewan dari lokasi asal menuju lokasi


reproduksi; melalui reproduksi species akan mampu sintas dengan
membentuk pasangan kawin (baik secara permanen atau sementara)

Natal Philopatry (Menetap di lokasi kelahiran)

Individu anakan menetap di lokasi kelahiran dan berbagi daerah edar


(Home range) atau teritori dengan induknya.
Keuntungan Natal Dispersal vs Natal Philopatry

Keuntungan Kerugian
Natal - Inbreeding memungkinkan - Terjadi inbreeding
Philopatry individu & berada dalam - Terjadi persaingan (makanan,
kelompok yang sama lokasi bersarang, pasangan
- Pemeliharaan gen lokal yang kawin) pada Induk vs Anak,
teradaptasi dengan kondisi Anak vs Anak
lokal (habitat, sosial) - Situasi penuh sesak dalam
- Kondisi lokal meningkatkan lokasi yang sama
efisiensi dalam hal menemukan - Reduksi variansi diantara alel
lokasi makan, bersarang, anak
pasangan kawin, strategi thd - Munculnya alel homozigot,
predator karena familiarisasi akan muncul sifat merugikan
wilayah - Sukses reproduksi kecil :
jumlah dan kesintasan anak
lebih kecil

Natal - Situasi lebih baik (area lebih luas - Kebutuhan energi tinggi
Dispersal dan kaya sumber daya) - Persaingan tinggi saat
- Akses terhadap sumberdaya membangun teritori baru
lebih mudah - Kurang mengenal lokasi baru
- Tingkat persaingan induk vs
induk, induk vs anak relatif
lebih rendah
- Mengurangi inbreeding
- Sukses reproduksi besar;
Jumlah dan kesintasan anak lebih
tinggi
- Muncul bias seks: tercegah dari
inbreeding karena ada
anggota species yang menyebar

Pada burung, individu lebih banyak menyebar daripada individu ,


sebaliknya pada mamalia, individu lebih banyak menyebar daripada
individu .