Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS PRODUKTIVITAS DAN ENVIRONMENTAL PERFORMANCE

INDICATOR (EPI) PADA PRODUK SKM DENGAN METODE GREEN


PRODUCTIVITY PADA PERUSAHAAN ROKOK ADI BUNGSU MALANG

ANALYSIS OF PRODUCTIVITY AND ENVIRONMENTAL PERFORMANCE OF


SKM PRODUCTS BY USING GREEN PRODUCTIVITY METHOD IN
PERUSAHAAN ROKOK ADI BUNGSU MALANG

Nachlia Nandha Indriati1), Arif Rahman2), Ceria Farela Mada Tantrika3)


Jurusan Teknik Industri Universitas Brawijaya
Jalan MT. Haryono 167, Malang, 65145, Indonesia
E-mail : nandhaindriati23@gmail.com1), posku@ub.ac.id2), ceria_fmt@ub.ac.id3)

Abstrak

PR. Adi Bungsu merupakan salah satu unit usaha pengolahan tembakau dengan produk akhir berupa rokok.
PR. Adi Bungsu merupakan salah satu unit usaha yang memiliki potensi pencemaran lingkungan terutama
pada proses produksi rokok SKM. Dalam proses produksi rokok di PR. Adi Bungsu ditemukan bahwa
terdapat massa yang hilang (mass loss). Selisih antara massa yang masuk dan massa yang keluar menjadi
limbah. Selain itu, PR. Adi Bungsu juga menghasilkan air yang dibuang (water loss) dengan jumlah yang
cukup banyak pada proses perendaman cengkeh. PR. Adi Bungsu ini sendiri belum memiliki perhatian yang
serius terkait isu green. Penelitian ini difokuskan untuk mengurangi volume air yang dibuang, mengurangi
produk gagal (reject), serta mengurangi polusi debu yang dihasilkan mesin pelintingan SKM. Dalam
penelitian kali ini, metode yang digunakan adalah Green Productivity. Langkah awal yaitu menghitung
tingkat produktivitas yang mengacu pada neraca massa dan menghitung indeks environmental performance
indicator (EPI). Pada tahap planning dilakukan pemecahan masalah yang diawali dengan melakukan
brainstorming. Pada tahap generation and evaluation of GP option, dimunculkan berbagai option yang
sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dari beberapa option tersebut, option yang tidak
cocok diterapkan di perusahaan dapat dieliminasi dengan sieve method. Kemudian dari option yang tersedia
diprioritaskan sesuai dengan kepentingan berdasarkan kriteria tertentu dengan menggunakan weighted sum
method. Solusi terbaik untuk permasalahan water loss adalah option 3, yaitu mengganti bak perendaman
cengkeh dengan steam tube. Solusi terbaik untuk permasalahan mass loss adalah option 2, yaitu
membersihkan pisau pemotong dan memberikan pelumas, serta menggunakan dust collector dengan
penampungan tertutup.

Kata kunci : Green Productivity (GP), Environmental Performance Indicator (EPI), Weighted Sum Method

1. Pendahuluan industri rokok juga menghasilkan material yang


Meningkatnya permintaan masyarakat dibuang dan memberikan berbagai dampak
terhadap sejumlah produk mendorong negatif bagi lingkungan sekitarnya. Padahal
tumbuhnya berbagai kegiatan industri yang proses produksi yang baik tidak hanya
dapat memenuhi kebutuhan tersebut, salah memperhatikan keamanan dan efek samping
satunya yaitu industri rokok. Perkembangan ini dari limbah sisa prosesnya, namun juga
menuntut industri rokok untuk terus mereduksi limbah buangan yang dihasilkan dari
meningkatkan kinerjanya bahkan proses produksinya tersebut. Hal ini juga
memenangkan kompetisi di antara berbagai seringkali diabaikan oleh pihak industri,
industri lainnya. Yang dapat dilakukan oleh padahal saat ini permasalahan lingkungan
industri rokok ialah meningkatkan merupakan isu yang cukup hangat dibicarakan.
produktivitasnya. Produktivitas itu sendiri PR. Adi Bungsu merupakan salah satu unit
sering diartikan sebagai rasio antara luaran usaha pengolahan tembakau dengan produk
(output) dengan masukan (input) (Singgih, akhir berupa rokok. PR. Adi Bungsu memiliki
2012). Nilai produktivitas dapat menunjukkan potensi melakukan pencemaran lingkungan
seberapa efektif suatu proses telah dilakukan terutama pada proses produksi rokok SKM.
dalam upaya meningkatkan ouput serta Dalam proses produksi rokok di PR. Adi
seberapa efisiennya input yang dapat Bungsu ditemukan bahwa terdapat massa yang
dihemat.Di samping meningkatnya produksi, hilang. Adanya selisih antara massa yang

929
masuk dan massa yang keluar menjadi limbah. pembangunan, yaitu perbaikan produktivitas
Sebagai contohnya, untuk setiap kali cengkeh dan perlindungan lingkungan. Diharapkan
datang diketahui massanya sebesar 2.443 kg. dengan metode ini, peneliti dapat memberikan
Kemudian setelah cengkeh kasar tersebut alternatif solusi perbaikan untuk peningkatan
mengalami pre-proses untuk cengkeh seperti produktivitas dan kinerja lingkungan pada PR.
perendaman selama 2 hari, perajangan, dan Adi Bungsu Malang.
pengeringan. Pada proses tersebut terjadi
pengurangan massa mencapai 15-20% atau 2. Metode Penelitian
sebesar 343 kg. Adanya pengurangan massa Jenis penelitian yang digunakan dalam
seperti yang disebutkan membuat massa penelitian ini adalah penelitian deskriptif
cengkeh yang siap untuk dicampurkan dengan yaitu penelitian yang menggambarkan
tembakau ini hanya tersisa 2.182 kg. Pada sejumlah data yang kemudian dianalisis
proses perendaman cengkeh itu pun PR. Adi berdasarkan penjelasan objektif, kenyataan
Bungsu menghasilkan limbah cair dengan
yang ada, komparasi dan evaluasi sebagai
volume 5.000 m3 untuk setiap kali produksi.
Hal yang sama terjadi pada pre-proses untuk bahan pengambilan keputusan bagi yang
tembakau, yaitu pada proses pencampuran. berwenang.
Pada proses tersebut, tembakau dicampurkan
dengan saos rokok yang mengandung alkohol 2.1 Langkah langkah Penelitian
dan propilin. Tembakau yang dimasukkan Langkah langkah yang dilakukan dalam
dalam proses pencampuran sebesar 1.113 kg, melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut.
kemudian setelah mengalami proses 1. Studi Lapangan (Field Research)
pencampuran massa tembakau berkurang Metode ini digunakan dalam pengumpulan
menjadi 1.100 kg yang berarti terdapat data yang dilakukan secara langsung,
pengurangan massa sebesar 13 kg. Selain itu, dimana peneliti terjun ke lapangan tempat
perusahaan juga mendapat keluhan dari penelitian, yakni PR. Adi Bungsu.
masyarakat sekitar mengenai polusi yang Kegiatan ini dimaksudkan untuk
ditimbulkannya. Oleh karenanya diperlukan mengetahui kondisi real perusahaan dan
suatu strategi minimalisasi limbah yang efektif memperoleh data yang sebenarnya dari
sehingga akan meningkatkan efisiensi, kualitas perusahaan mengenai proses produksi dan
produk dan hubungan yang baik dengan penanganan limbahnya.
masyarakat serta perbaikan kualitas lingkungan. 2. Studi Literatur (Library Research)
Usaha yang dapat dilakukan terkait Studi literatur merupakan suatu metode
kurangnya perhatian perusahaan mengenai isu yang digunakan dalam mendapatkan data
green tersebut yaitu mengurangi sejumlah dengan jalan mempelajari literatur serta
limbah yang ditimbulkan perusahaan dengan membaca sumber-sumber data informasi
konsep waste reduction (Minnesota Pollution lainnya yang berhubungan dengan
Control Agency, 1993). Hal ini dapat dilakukan pembahasan. Dengan studi literatur ini
misalnya dengan efisiensi sumber daya yang diperoleh secara teori mengenai
digunakan dalam proses produksi. dengan permasalahan utama dalam penelitian,
efisiensi sumber daya ini maka limbah dari yaitu produktivitas, green productivity
proses produksi dapat dikurangi sehingga (GP) dan kinerja lingkungan.
perusahaan dapat meningkatkan 3. Identifikasi Masalah
produktivitasnya. Identifikasi masalah merupakan tahap awal
Green Productivity (GP) adalah suatu dalam mengetahui dan memahami suatu
strategi untuk meningkatkan produktivitas persoalan agar dapat diberikan solusi pada
bisnis dan kinerja lingkungan pada saat yang permasalahan tersebut.
bersamaan dalam pengembangan sosial 4. Perumusan Masalah
ekonomi secara keseluruhan. Metode ini Setelah mengidentifikasi permasalahan,
mengaplikasikan teknik, teknologi dan sistem dilanjutkan dengan merumuskan masalah
manajemen untuk menghasilkan barang dan sesuai dengan kenyataan di lapangan, yaitu
jasa yang sesuai dengan lingkungan atau ramah mengetahui berapa tingkat produktivitas
lingkungan (Asian Productivity Organization, dan kinerja lingkungan serta bagaimana
2006). Konsep Green Productivity diambil dari merencanakan alternatif perbaikan yang
penggabungan dua hal penting dalam strategi tepat.

930
5. Penentuan Tujuan Penelitian produktivitas dengan mereduksi limbah
Tujuan penelitian perlu ditetapkan agar dan memperhatikan dampak terhadap
penulisan skripsi dapat dilakukan lingkungan.
sistemastis dan tidak menyimpang dari e. Penyusunan alternatif solusi (GP
permasalahan yang dibahas. Selain itu, Option)
tujuan penelitian diperlukan untuk Penyusunan beberapa alternatif solusi
mengukur keberhasilan suatu penelitian. ini dilakukan untuk menyelesaikan
Tujuan penelitian ditentukan berdasarkan permasalahan yang ada. Pada tahapan
perumusan masalah yang telah dijabarkan ini dilakukan brainstorming dan
sebelumnya. konsultasi untuk mengembangkan ide-
6. Pengumpulan Data ide perbaikan dengan konsep waste
Pengumpulan data adalah pencatatan reduction.
hal/informasi sebagian atau seluruh elemen f. Pemilihan alternatif perbaikan
yang menunjang dan mendukung Setelah beberapa pilihan (alternatif)
penelitian. Data-data yang dibutuhkan tersusun, selanjutnya pilihan-pilihan
sebagai berikut: tersebut disaring dengan menggunakan
a. Profil perusahaan PR. Adi Bungsu Sieve Method dan dilakukan pemilihan
b. Struktur Organisasi PR. Adi Bungsu dengan menggunakan Weighted Sum
c. Alur proses produksi Method.
d. Limbah yang dihasilkan 8. Analisa dan Kesimpulan
e. Data input output produksi untuk Analisis dan kesimpulan yang dilakukan
menghitung produktivitas dalam penelitian ini, yaitu:
f. Hasil uji limbah a. Analisa dan pembahasan, pada tahap ini
7. Pengolahan Data dari hasil pengolahan data produktivitas
Data yang telah dikumpulkan selanjutnya dan indeks EPI kemudian dimunculkan
akan diolah dan dianalisis, adapun langkah GP option dan menganalisa option
pengolahan data sebagai berikut : terpilih.
a. Perhitungan neraca massa b. Menarik kesimpulan dari hasil
Neraca massa sangat diperlukan untuk pembahasan serta memberikan saran
mengetahui kesetimbangan massa yang untuk perusahaan dan kegiatan
dimasukkan ke dalam proses dengan penelitian selanjutnya.
massa yang dikeluarkan pada setiap
prosesnya. Kemudian dari neraca massa 3. Hasil dan Pembahasan
ini diketahui selisih massa yang disebut Pada bab ini menguraikan data-data yang
limbah. dikumpulkan dan langkah-langkah pengolahan
b. Perhitungan produktivitas data yang digunakan dalam penelitian untuk
Tujuan pada tahap ini yaitu untuk mendapatkan penyelesaian masalah yang terjadi
mengetahui tingkat produktivitas yang di PR. Adi Bungsu.
telah dicapai perusahaan berdasarkan
data input-output yang mengacu pada 3.1 Perhitungan Tingkat Produktivitas
neraca massa. Perhitungan untuk tingkat produktivitas
c. Perhitungan kinerja lingkungan dapat dilakukan dengan output dibagi dengan
Perhitungan kinerja lingkungan input (Gaspersz, 2000), dimana input dan
dilakukan dengan mengalikan level output yang digunakan dalam perhitungan ini
bahaya masing-masing zat kimia yang didapatkan dari neraca massa. Neraca massa
terkandung dalam limbah dengan bobot merupakan suatu tool yang dapat menunjukkan
masing-masing zat tersebut. keseimbangan antara material yang masuk
Pembobotan dilakukan dengan (input) dengan output yang dihasilkan
menyebarkan kuesioner kepada pihak (Himmelblau, 1999). Rekap perhitungan neraca
pabrik. massa dapat dilihat pada Tabel 1.
d. Penentuan tujuan perusahaan terkait GP Setelah mengetahui jumlah input dan
Setelah mengetahui permasalahannya, output untuk masing-masing proses, maka
selanjutnya menentukan tujuan yang tingkat produktivitas dapat dicari dengan
ingin dicapai perusahaan berkaitan membagi output dengan input yang
dengan tujuan GP yaitu meningkatkan dikeluarkan. Berikut contoh perhitungannya:

931
Sistem Steril Conditioning produktivitas menurun. Angka ini menunjukkan
bahwa pada ketiga sistem ini harus dilakukan
perbaikan agar mencapai produktivitas lebih
baik.

Tabel 1. Neraca Massa 3.2 Environmental Performance Indicator


(EPI)
Environmental performance adalah kinerja
perusahaan dalam menciptakan lingkungan
yang baik atau dengan kata lain green (Suratno
dkk., 2006). Sebuah indikator lingkungan
merupakan salah satu hal yang diperkirakan
dapat merefleksikan berbagai dampak dari
suatu aktivitas pada lingkungan serta usaha
untuk mereduksinya (Tyteca, 1996). EPI
merupakan tolok ukur kinerja/perfomansi
lingkungan suatu perusahaan. Sesuai dengan
neraca massa, sistem perendaman cengkeh
menghasilkan limbah cair dengan jumlah
banyak. Maka dari itu, perlu dilakukan
penentuan level bahaya limbah cair tersebut.
Kemudian dilakukan pairwise comparison
untuk membandingkan tingkat bahaya antara
zat-zat kimia (parameter) yang terkandung
dalam limbah cair tersebut hingga mendapatkan
bobot masing-masing parameter yang dilakukan
oleh pihak perusahaan, yaitu Manajer Produksi.
Setelah mendapatkan level bahaya dan bobot
masing-masing parameter, dapat dilakukan
perhitungan indeks Environmental Performance
Tabel 2. Tingkat Produktivitas Indicator (EPI). Kandungan zat kimia dalam
limbah cair PR. Adi Bungsu dapat dilihat pada
Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Uji Kualitas Air Limbah

Rekap untuk perhitungan tingkat 3.2.1 Penentuan Level Bahaya Kandungan


produktivitas masing-masing sistem dapat Zat Kimia dalam Limbah Cair
dilihat pada Tabel 2. Hasil perhitungan Dalam menentukan level bahaya
mengenai tingkat produktivitas menunjukkan kandungan zat kimia dalam limbah cair tersebut
bahwa tingkat produktivitas PR. Adi Bungsu dengan menggunakan traffic light system. Skala
bersifat fluktuatif berdasarkan sistem. Tingkat penentuan tingkat bahaya ini berkisar antara 1
produktivitas terendah berada pada sistem sampai 10. Angka yang diletakkan pada Level 0
perendaman cengkeh 27%, pengeringan yaitu kondisi terburuk zat kimia tersebut, angka
cengkeh 83%, dan pelintingan (SKM) 87%. Hal yang diletakkan pada level 3 yaitu kadar
ini dapat dikarenakan adanya mass loss, water maksimal zat kimia tersebut terkandung dalam
loss, ataupun loss karena efisiensi alat tidak air limbah menurut Peraturan Menteri Negara
100%, serta dihasilkannya produk gagal Lingkungan Hidup Nomor 6 Tahun 2010.
(reject) sehingga mengakibatkan tingkat Sehingga apabila level menunjukkan diatas

932
level 3 yang merupakan kadar maksimal air 3.2.2 Perhitungan Indeks EPI
limbah, berarti dikatakan sangat berbahaya. Indeks EPI didapatkan dengan mengalikan
Kemudian angka yang diletakkan pada level 8 bobot dari masing-masing parameter dengan
adalah kadar maksimal zat kimia tersebut level dimana parameter teruji tersebut berada.
terkandung dalam air minum menurut Peraturan Hasil perhitungan indeks EPI ditunjukkan pada
Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001. Sedangkan Tabel 6.
angka yang diletakkan pada level 10 yaitu
target yang ingin dicapai perusahaan maupun Tabel 6. Indeks EPI
kondisi terbaik zat kimia tersebut terkandung.
Angka yang berkisar antara level 8 hingga level
10 dikatakan aman. Hasil rekap level bahaya
kandungan zat kimia dalam limbah cair PR. Adi
Bungsu dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil Rekap Level Bahaya Kandungan Zat


Kimia dalam Limbah Cair Indeks EPI PR. Adi Bungsu adalah
bernilai 2,67. Dalam traffic light system, angka
ini berada dalam indikator warna merah.
Indikator warna merah menandakan bahwa
masih terdapat banyak kandungan zat kimia
dalam limbahnya yang melebihi batas
maksimum standar dari Menteri Negara
Hasil penentuan level bahaya zat kimia Lingkungan Hidup. Hal ini menunjukkan
(parameter) dalam limbah cair menunjukkan bahwa kinerja lingkungan PR. Adi Bungsu
bahwa parameter BOD, COD, Amoniak, dan masih di bawah standar. Angka ini berarti
Fenol berada pada indikator warna merah dalam bahwa kandungan zat-zat kimia dalam limbah
traffic light system. Hal ini berarti bahwa cair tidak memenuhi baku mutu limbah maupun
limbah cair yang dihasilkan PR. Adi Bungsu baku mutu air minum yang telah ditetapkan dan
dikategorikan tidak aman dan harus segera dinyatakan tidak aman bagi lingkungan
dilakukan perbaikan. sehingga harus dilakukan perbaikan segera
Setelah dilakukan penentuan tingkat terhadap kinerja lingkungan.
bahaya zat kimia yang terkandung dalam
limbah cair PR. Adi Bungsu, dilakukan 3.3 Penentuan Tujuan Perusahaan terkait
pembobotan pada masing-masing kandungan GP
zat kimia (parameter) tersebut. Untuk proses Berkaitan dengan permasalahan
pembobotan ini, sebelumnya data hasil produktivitas dan kinerja lingkungan yang
brainstorming dengan pihak dari PR. Adi dimiliki perusahaaan, maka selanjutnya disusun
Bungsu yaitu bagian produksi terutama manajer tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan
produksi dikumpulkan dalam bentuk kuesioner sehubungan dengan implementasi GP. Dari
perbandingan. Skor penilaian berkisar antara 1 perhitungan produktivitas didapatkan tiga
sampai 9, semakin besar angkanya berarti sistem dengan tingkat produktivitas terendah,
menunjukkan tingkat bahaya yang semakin yaitu sistem perendaman cengkeh, sistem
tinggi (Saaty, 1993). Hasil pembobotan masing- pengeringan cengkeh, serta sistem pelintingan
masing parameter dapat dilihat pada Tabel 5. (SKM). Cara yang dapat dilakukan untuk
mengurangi bahkan mengantisipasi water loss
Tabel 5. Hasil Pembobotan
dan mass loss yang dapat membuat tingkat
produktivitas dan kinerja lingkungan rendah
adalah meminimasi jumlah air yang keluar
dengan memperhatikan standar baku mutu air
limbah tersebut, meningkatkan output
pelintingan SKM dengan mengurangi produk
gagal karena efisiensi alat yang tidak sempurna,
serta dapat mengurangi polusi yang disebabkan
mesin pelintingan SKM dengan mengumpulkan
debu dalam penampungan tertutup.

933
3.4 Penyusunan Alternatif Solusi (GP mesin sudah lama digunakan sehingga terjadi
Option) aus dan blank miss.
Berdasarkan permasalahan yang ada, maka Sedangkan produk dikatakan gagal apabila
langkah selanjutnya yaitu menyusun alternatif- tidak memenuhi standar berat dan ukuran yang
alternatif solusi yang dapat memecahkan telah ditentukan dan diatur, hal ini juga dapat
permasalahan mengenai produktivitas dan mengurangi produktivitas suatu proses
kinerja lingkungan pada PR. Adi Bungsu sesuai produksi. Penyebab dari produk gagal yang
dengan tujuan yang telah ditetapkan dihasilkan ini seperti pisau pemotong kotor
sebelumnya. Sehubungan dengan penerapan yang menyebabkan pemotongan tidak rata.
Green Productivity, berikut merupakan Selain itu, hal utama yang dapat membuat
beberapa alternatif solusi (GP option) yang produk tersebut gagal yaitu karena kerusakan
dapat dipertimbangkan: bahan bakunya. Kerusakan bahan baku ini bisa
1. Water loss disebabkan karena supplier yang berbeda-beda.
Tujuan yang ingin dicapai untuk Beberapa perbaikan untuk meningkatkan
mengurangi water loss yang terjadi yaitu produktivitas serta kinerja lingkungan sebagai
meminimalisir volume air yang terbuang. Hal- berikut :
hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi a. Menambah mesin penghisap mampu agar
bahkan mencegah terjadinya banyaknya water melakukan operasi penghisapan campuran
loss dan meningkatkan output adalah sebagai bahan jadi secara optimal, mengganti pisau
berikut: pemotong, menggunakan dust collector
a. Memasang alat filtrasi untuk menetralisir air dengan penampungan tertutup.
rendaman cengkeh sehingga air dapat b. Membersihkan pisau pemotong dibersihkan
digunakan kembali untuk proses secara rutin dan memberikan pelumas,
perendaman cengkeh selanjutnya. menggunakan dust collector dengan
b. Menggunakan air limbah dari proses penampungan tertutup.
pengeringan cengkeh untuk digunakan c. Membersihkan pisau pemotong dan
kedalam boiler yang akan mengaliri uap memberikan pelumas, menggunakan dust
untuk proses melembabkan cengkeh dengan collector dengan penampungan tertutup,
steam tube. menggunakan supplier bahan baku yang
c. Mengganti bak perendaman cengkeh dengan sama.
steam tube yang berkapasitas hampir sama d. Mengganti pisau pemotong, menggunakan
dengan bak perendaman cengkeh. Steam supplier bahan baku yang sama,
tube menggunakan uap yang dialiri boiler menggunakan dust collector dengan
untuk melembabkan cengkeh. Dengan penampungan tertutup.
menggunakan steam tube dapat mengurangi
volume air yang dibuang. 3.5 Pemilihan Alternatif Solusi (GP Option)
d. Menggunakan sprayer untuk Langkah awal dalam memilih GP option
menyemprotkan air kepada cengkeh agar yang sesuai untuk diterapkan, yaitu dengan
cengkeh tersebut melunak sebagai pengganti Sieve Method. Metode ini melibatkan
dari proses perendaman cengkeh. pengaturan nilai cutoff untuk parameter kritis
2. Mass loss tertentu seperti biaya, waktu, dan sumber daya
Tujuan yang ingin dicapai perusahaan manusia. Semua pilihan GP yang melebihi nilai
berkaitan dengan mass loss yang terjadi pada cutoff ini langsung tereliminasi (APO, 2001).
proses produksi yaitu mengurangi produk Pemilihan dengan sieve method ditunjukkan
gagal dan mengurangi polusi debu. Yang pada Tabel 7 dan Tabel 8.
dimaksud mass loss dalam hal ini, yaitu Berdasarkan Tabel 7 ditunjukkan bahwa
banyaknya produk reject, campuran bahan jadi GP option yang tidak sesuai untuk diterapkan
yang terbuang dan debu yang dihasilkan terkait permasalahan water loss pada PR. Adi
disebabkan oleh mesin yang tidak berfungsi Bungsu yaitu option 2 sehingga harus
secara efisien. Contohnya, ketika campuran dieliminasi. Option 2 yaitu menggunakan
bahan jadi dimasukkan ke dalam mesin, kembali air limbah proses pengeringan. Option
terdapat campuran bahan jadi yang tidak ini bisa diterapkan namun pelaksanaannya
mengalami proses pengangkatan dan dihisap secara bertahap karena pelaksanaan option 2
oleh pipa penghisap untuk dibawa ke proses dianggap rumit, informasi yang ada tidak cukup
selanjutnya. Hal ini bisa disebabkan karena untuk menerapkan option ini serta terlebih

934
dahulu sebaiknya melakukan percobaan skala Langkah selanjutnya yaitu dengan
laboratorium. Karena option ini merupakan memberikan peringkat kepada GP option yang
program reuse, dimana air yang akan digunakan tidak tereliminasi untuk memilih option yang
kembali merupakan air limbah, maka paling sesuai diterapkan terkait
dibutuhkan person power , peralatan serta permasalahannya berdasarkan kepentingan
informasi yang cukup untuk melakukan terhadap kriteria tertentu dengan menggunakan
pengolahan air limbah pengeringan cengkeh Weighted Sum Method. Weighted Sum Method
sehingga dapat digunakan kembali pada proses adalah cara yang efektif untuk menentukan
lainnya. peringkat beberapa pilihan yang tersedia sesuai
dengan kepentingan mereka berdasarkan
Tabel 7. Sieve Method untuk Water Loss kriteria tertentu. Kriteria-kriteria tersebut antara
lain cost in action, cost of inaction, time
required, risk, benefits, and technical feasibility
/ complexity. Dalam metode ini, peringkat
kriteria diurutkan berdasarkan pentingnya
dengan memberikan bobot. Pilihan-pilihan
tersebut kemudian diurutkan dengan pemberian
bobot untuk masing-masing kriteria. Skala
untuk pembobotan yaitu 1-10, dimana 1
menunjukkan performansi terburuk sedangkan
10 untuk menunjukkan performansi paling baik.
Hasil dari bobot kriteria dan bobot individu
Tabel 8. Sieve Method untuk Mass Loss pilihan untuk tiap kriteria akan membentuk skor
untuk pilihan itu. Nilai dari pilihan untuk
masing-masing kriteria tersebut kemudian
ditambahkan untuk mendapatkan skor total.
Total skor dari semua pilihan kemudian
dibandingkan dan pilihan dengan total skor
tertinggi dipilih sebagai pilihan yang paling
cocok untuk kriteria yang diberikan. (APO,
2001).
Kriteria cost yaitu meliputi biaya
pelaksanaan dan pemeliharaan opsi dan biaya
tidak bertindak. Kriteria time required adalah
waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan dan
kerja yang diperkirakan dari opsi tersebut.
Kriteria risk mengacu pada risiko kegagalan
dibandingkan dengan investasi, manfaat yang
diharapkan atau bahaya fisik akibat
Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat bahwa implementasi. Kriteria benefits, menilai potensi
option yang tereliminasi terkait dengan opsi tersebut dalam menyelesaikan masalah.
permasalahan mass loss, yaitu option 1. Option Benefits secara luas dapat dibagi menjadi
1 adalah menambah mesin penghisap (vacum), ekonomi, lingkungan dan sosial. Kriteria
mengganti pisau pemotong, menggunakan dust technical feasibility/complexity berhubungan
collector dengan penampungan tertutup. Tujuan dengan keahlian teknis yang diperlukan dalam
dari option 1 ini adalah agar campuran bahan industri untuk menerapkan opsi ini. Yang harus
jadi yang masuk ke dalam sistem pelintingan dilakukan terlebih dahulu adalah memberi
dapat dihisap secara maksimal dan dilakukan peringkat untuk masing-masing kriteria
pengolahan sehingga tidak ada campuran bahan tersedia. Kemudian untuk tingkat kepentingan
jadi yang terjatuh dan menumpuk, serta dapat tiap option untuk masing-masing kriteria
mengurangi produk gagal dengan mengganti ditetapkan oleh pihak dari perusahaan, dalam
pisau pemotong, juga mengurangi polusi debun hal ini Manajer Produksi yang telah
yang dihasilkan mesin. Namun hal ini belum dikumpulkan dalam bentuk kuesioner.
dapat diterapkan karena option 1 membutuhkan Pemilihan option dengan weighted sum method
biaya yang sangat tinggi dalam penerapannya. ditunjukkan pada Tabel 9 dan Tabel 10.

935
Tabel 9. Weighted Sum Method untuk Water Loss sebelumnya. Produktivitas total produk SKM di
PR. Adi Bungsu yaitu 81%. Pada sistem
penimbangan memiliki produktivitas 100%. Hal
ini dapat terjadi karena pada penimbangan tidak
terdapat perbedaan massa yang masuk dan
massa yang keluar. Maka dari itu, sistem
penimbangan tembakau merupakan sistem
dengan tingkat produktivitas paling tinggi.
Sedangkan sistem dengan tingkat produktivitas
paling rendah yaitu dengan tingkat
produktivitas 27% yang berada pada sistem
Berdasarkan Tabel 9 dapat dilihat bahwa perendaman cengkeh. Hal ini dikarenakan pada
total nilai tertinggi yaitu pada option 3 sebesar sistem perendaman cengkeh terjadi water loss
291. Hal ini berarti bahwa option 3, yaitu yang cukup tinggi. Jumlah air yang digunakan
mengganti bak perendaman dengan steam tube pada sistem perendaman cengkeh sebanding
merupakan option yang terbaik untuk dengan jumlah air yang dibuang sehingga
memecahkan permasalahan water loss pada PR. mengakibatkan tingkat produktivitas rendah
Adi Bungsu berdasarkan kriteria yang telah pada sistem perendaman cengkeh.
ditetapkan. Tingkat produktivitas terendah kedua
yaitu pada sistem pengeringan cengkeh dengan
Tabel 10. Weighted Sum Method untuk Mass Loss tingkat produktivitas 83%. Hal yang
mempengaruhi tingkat produktivitas pada
sistem pengeringan cengkeh adalah adanya
water loss serta mass loss dari cengkeh itu
sendiri. Water loss disebabkan karena
berkurangnya kadar air cengkeh yang
diinginkan perusahaan. Kemudian tingkat
produktivitas terendah pada urutan ketiga yaitu
pada sistem pelintingan (SKM). Tingkat
produktivitas pada sistem pelintingan (SKM)
mencapai 87%. Hal yang membuat sistem ini
belum cukup produktif adalah karena
banyaknya mass loss akibat dari efisiensi alat
yang tidak 100% juga karena adanya debu yang
dihasilkan.
Environmental Performance Indicator
Berdasarkan Tabel 10 dapat dilihat bahwa (EPI) dapat dijadikan suatu ukuran dari kinerja
total nilai tertinggi yaitu pada option 2 sebesar lingkungan yang telah dicapai perusahaan.
292. Hal ini berarti bahwa option 2, yaitu Indikator yang digunakan untuk
membersihkan pisau pemotong dan menggambarkan indeks EPI ini digunakan
memberikan pelumas, menggunakan dust traffic light system yang memiliki skala antara 1
collector dengan penampungan tertutup sampai 10. Sebelumnya dilakukan penentuan
merupakan option yang terbaik untuk level bahaya dan bobot untuk masing-masing
memecahkan permasalahan mass loss pada PR. parameternya. Bobot tertinggi untuk parameter
Adi Bungsu berdasarkan kriteria yang telah dalam limbah cair PR. Adi Bungsu adalah BOD
ditetapkan. dengan bobot sebesar 0,421 dan COD dengan
bobot sebesar 0,302. Kedua parameter ini
3.6 Analisa dan Pembahasan berada dalam indikator warna merah dalam
3.6.1 Analisa Produktivitas dan EPI traffic light system. Hal ini menunjukkan bahwa
Dari perhitungan produktivitas didapatkan
kedua parameter ini memiliki tingkat bahaya
tingkat produktivitas PR. Adi Bungsu dengan
yang tinggi bagi manusia maupun lingkungan.
memproduksi rokok SKM. Nilai produktivitas
Dari hasil perhitungan, indeks EPI yang
ditinjau dari masing-masing sistem.
dimiliki perusahaan saat ini yaitu sebesar 2,67.
Perhitungan tingkat produktivitas ini mengacu
Angka ini berada pada indikator warna merah.
pada neraca massa yang telah dibuat
Hal ini berarti kinerja lingkungan PR. Adi

936
Bungsu masih benar-benar dibawah target yang yang dapat memperbaiki permasalahan terkait
telah ditetapkan dan perlu dilakukan perbaikan water loss dan mass loss. Dalam hal pemilihan
segera. alternatif ini melibatkan pihak perusahaan yang
Permasalahan yang terjadi di PR. Adi memahami tentang proses produksi rokok SKM
Bungsu adalah water loss yang cukup tinggi di PR. Adi Bungsu. Terdapat masing-masing 4
pada sistem perendaman cengkeh dan sistem option untuk permasalahan water loss dan mass
pengeringan cengkeh. Pada sistem perendaman loss.
cengkeh, air yang masuk sebanding dengan air 1. Water Loss
yang keluar. Jumlah air yang digunakan (input) a. Option 1 untuk water loss menggunakan
pada sistem perendaman cengkeh yaitu sebesar program reuse / recycle, yaitu dengan
286,88 kg/jam, sedangkan jumlah air yang memasang alat filtrasi untuk menetralisir
dikeluarkan (output) sebesar 270,12 kg/jam. air rendaman cengkeh. Sebelumnya di PR.
Hal ini sangat berpengaruh pada produktivitas Adi Bungsu pernah menerapkan alternatif
juga kinerja lingkungan. Air yang keluar setelah semacam ini, yaitu menggunakan IPAL
proses perendaman cengkeh merupakan air namun belum terlaksana dengan baik.
limbah dengan jumlah yang banyak, dimana air Dengan memasang alat filtrasi ini,
limbah ini tidak memenuhi standar baku mutu perusahaan dapat menurunkan kadar bahan
air limbah yang telah ditetapkan sehingga dapat pencemar yang terkandung dalam limbah
mencemari air untuk kehidupan. Sedangkan sehingga air rendaman cengkeh tersebut
water loss yang terjadi pada sistem pengeringan dapat digunakan untuk merendam cengkeh
cengkeh karena cengkeh mendapatkan lainnya. Biaya yang dibutuhkan
perlakuan panas, kandungan minyak yang Rp30.000.000 dan dibutuhkan waktu 5
terdapat dalam cengkeh akan keluar, sehingga bulan. Dengan menerapkan option 1 ini, air
mengakibatkan mass loss serta kandungan air dapat digunakan untuk 2 kali perendaman.
yang terdapat dalam cengkeh akan berkurang b. Program reuse / recycle juga diterapkan
yang mengakibatkan water loss. untuk option 2, yaitu menggunakan air
Permasalahan berikutnya yaitu mass loss limbah dari proses pengeringan cengkeh.
yang terjadi pada sistem pelintingan (SKM). Option 2 melakukan penghematan
Salah satu penyebab banyaknya mass loss penggunaan air. Namun air yang akan
adalah proses produksi terkadang gagal maupun digunakan tersebut harus melalui uji
dari segi ukuran, bentuk, berat dan hasil produk laboratorium terlebih dahulu. Biaya yang
yang gagal tersebut langsung dibuang dalam dikeluarkan untuk menerapkan option 2
bentuk lintingan, padahal terkadang tembakau yaitu Rp25.000.000 dengan jangka waktu
dalam lintingan tersebut masih bisa digunakan 6 bulan hingga 1 tahun. Sedangkan
dan di proses ulang. Selain itu, mass loss juga perbaikan di PR. Adi Bungsu harus segera
disebabkan adanya debu yang dihasilkan dari dilakukan.
proses produksi yang berlangsung. Debu yang c. Option selanjutnya adalah menerapkan ini
dihasilkan bisa mencapai 25 kg per hari untuk bertujuan untuk mengurangi jumlah air
setiap mesinnya. Fungsi dari pipa penghisap yang dibuang pada sistem program new
(vacum) yang terdapat pada mesin SKM juga equipment, yaitu mengganti bak
belum maksimal. Terbukti dengan masih ada perendaman cengkeh dengan steam tube.
campuran bahan jadi yang tidak terhisap Steam tube akan dialiri uap yang berfungsi
sehingga tidak di proses dan menjadi tumpukan. untuk melembabkan cengkeh sehingga
Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan tidak akan banyak air yang dibuang.
untuk mengurangi jumlah air yang keluar dari Untuk menerapkan option 3 ini dibutuhkan
sistem dan untuk mengurangi produk gagal biaya sekitar Rp30.000.000 dengan
serta mengumpulkan debu yang dihasilkan dibutuhkan waktu 2 hingga 3 bulan.
sehingga tidak menjadi polusi agar dapat d. Option 4 merupakan option yang paling
meningkatkan produktivitas dan kinerja ekonomis dan mudah untuk diterapkan.
lingkungan perusahaan. Dengan penggunaan sprayer untuk
menyemprotkan air kepada cengkeh untuk
3.6.2 Analisa Penyusunan dan Pemilihan melunakkan cengkeh sebagai ganti dari
Alternatif sistem perendaman cengkeh. Biaya yang
Setelah mendapatkan permasalahan yang dibutuhkan untuk menerapkannya yitu
terjadi, maka disusun beberapa alternatif solusi Rp10.000.000. Namun option ini masih

937
terdapat probabilitas yang cukup untuk collector dengan penampungan tertutup.
jumlah air terbuang yang cukup tinggi. Untuk menerapkan option ini membutuhkan
2. Mass Loss biaya Rp200.000.000 dan dibutuhkan waktu
a. Dengan program process optimization dan 7 bulan.
modification in existing process untuk
mengurangi mass loss dapat dilakukan 3.6.3 Analisa Alternatif Terpilih
dengan option 1, yaitu menambah mesin Option 3 untuk water loss yaitu mengganti
penghisap (vacum), mengganti pisau bak perendaman dengan steam tube merupakan
pemotong, menggunakan dust collector option yang terbaik untuk memecahkan
dengan penampungan tertutup. Hal ini permasalahan water loss pada PR. Adi Bungsu.
dilakukan agar campuran bahan jadi dapat Walaupun biaya penerapannya cukup tinggi
terhisap secara maksimal sehingga tidak namun dengan mengimplementasikan option ini
terjadi penumpukan dan campuran bahan dapat meningkatkan produktivitas dengan
jadi yang terbuang dan tidak ada polusi mengurangi volume air yang terbuang.
debu. Untuk menerapkan ini dibutuhkan Sedangkan untuk permasalahan mass loss
biaya yang sangat tinggi yaitu dipilih option 2, yaitu membersihkan pisau
Rp300.000.000 dan dibutuhkan waktu pemotong dan memberikan pelumas,
hingga 12 bulan untuk menambahkan vacum menggunakan dust collector dengan
ini. penampungan tertutup untuk memecahkan
b. Option 2 untuk permasalahan mass loss juga permasalahan mass loss pada PR. Adi Bungsu.
menggunakan program process Option 2 ini bukan hanya ekonomis dan cepat
optimization, modification in existing penanganannya, namun juga sangat membantu
process, dan yaitu membersihkan pisau dalam mengatasi permalasahan mass loss akibat
pemotong dan diberikan pelumas serta produk gagal. Dengan mengimplementasikan
menggunakan dust colector dengan GP akan dapat memberikan peningkatan
penampungan tertutup. Hal ini bertujuan produktivitas serta indeks EPI.
untuk menghindari pemotongan yang tidak
rata dan mengurangi polusi debu. Option ini 4. Kesimpulan
merupakan option ekonomis dan mudah Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai
diterapkan. Biaya yang dibutuhkan untuk berikut:
menerapkan option ini sebesar 1. Tingkat produktivitas pada produk SKM di
Rp75.000.000,- dan option bisa bisa PR. Adi Bungsu, yaitu 81%. Sedangkan
langsung diterapkan. produktivitas terendah berada pada sistem
c. Option yang ketiga untuk permasalahan dintinjau perendaman cengkeh dengan
mass loss, yaitu membersihkan pisau tingkat produktivitas 27%, pengeringan
pemotong dan memberikan pelumas, cengkeh dengan tingkat produktivitas 83%,
menggunakan dust collector dengan dan sistem pengeringan cengkeh dengan
penampungan tertutup, menggunakan tingkat produktivitas 87%. Indeks EPI PR.
supplier bahan baku yang sama.. Hal ini Adi Bungsu adalah bernilai 2,67. Angka ini
bertujuan untuk menyamakan kualitas dari menunjukkan bahwa kinerja lingkungan
bahan baku untuk mengurangi produk gagal PR. Adi Bungsu berada di dalam indikator
yang diakibatkan kerusakan bahan baku dan warna merah.
juga mengurangi produk gagal. Hal ini 2. Solusi terbaik untuk permasalahan water
mungkin diterapkan, namun ada loss yaitu option 3. Option 3 adalah
kecenderungan dimana terkadang satu- mengganti bak perendaman cengkeh
satunya supplier tersebut tidak bisa dengan steam tube. Solusi terbaik untuk
memenuhi permintaan perusahaan dan hal permasalahan mass loss yaitu option 2.
tersebut menjadi resiko untuk perusahaan. Option 2, yaitu membersihkan pisau
Biaya untuk menerapkan option ini sebesar pemotong dan memberikan pelumas,
Rp155.000.000 dan dilakukan dalam waktu menggunakan dust collector dengan
6 hingga 8 bulan secara bertahap. penampungan tertutup merupakan option
d. Option selanjutnya untuk mengatasi masalah yang terbaik untuk memecahkan
mass loss, yaitu dengan mengganti pisau permasalahan mass loss pada PR. Adi
pemotong, menggunakan supplier bahan Bungsu berdasarkan kriteria yang telah
baku yang sama, menggunakan dust ditetapkan.

938
Daftar Pustaka
Asian Productivity Organization. (2001). Saaty, Thomas L. (1993). Pengambilan
Concept of Green Productivity. APO. Tokyo. Keputusan Bagi dengan AHP. PT Pustaka
Binaman Pressindo.
Asian Productivity Organization. (2006).
Handbook on Green Productivity. APO. Singgih, Moses L. (2012). Green
Tokyo. Productivity: Konsep dan Aplikasi. Institut
Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya.
Gaspersz, Vincent. (2000). Manajemen
Produktivitas Total : Strategi Peningkatan Suratno, Ignatius Bondan, dkk. (2006).
Produktivitas Bisnis Global. Jakarta : PT. Pengaruh Environmental Performance
Gramedia Pustaka Utama. terhadap Environmental Disclosure dan
Economic Performance (Studi Empiris Pada
Himmelblau, David M. (1996). Basic Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di
Principles and Calculations in Chemical Bursa Efek Jakarta Periode 2001-2004).
Engineering. 6th Edition. Prentice Hall Inc. Simposium Nasional Akuntansi 9. Padang.
Terjemahan Ir. Ita Ananta, MSc. (1999).
Prinsip-Prinsip Dasar dan Kalkulasi Dalam Tyteca, D. (1996). Business Organisational
Teknik Kimia. Jilid 2. PT Prenhallindo. Response to Environmental Challenges :
Jakarta. Performance Measurement and Reporting.
IAG School Management.
Minnesota Pollution Control Agency. (1993).
What is Waste Reduction? www. pca.
state.mn.us/waste/pubs/2_60.pdf

939