Anda di halaman 1dari 22

BAB I

LAPORAN KASUS

Identitas Pasien
Nama : Tn. M
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 46 tahun
Alamat : Andalas, Padang
Pekerjaan : Tukang Becak

Seorang pasien laki-laki usia 46 tahun datang ke poliklinik mata RSUP DR M.


Djamil Padang pada tanggal 20 Januari 2017 untuk memeriksa keluhan massa
putih seperti lemak di bagian bening mata.

Anamnesis
Keluhan Utama :
Pasien merasa ada yang mengganjal pada kedua mata sejak 1 tahun yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien merasa ada yang mengganjal pada kedua mata sejak 1 tahun yang
lalu. Awalnya 3 tahun yang lalu pasien menyadari ada massa putih seperti
lemak pada kedua mata tepatnya di pinggir bening mata lama kelamaan
tumbuh meluas ke tengah mata. Lalu, 1 tahun ini pasien mengeluhkan
penglihatannya terganggu dan mata kanan pasien dirasakan lebih kabur.
Keluhan ini sering disertai dengan mata berair.
Pasien juga mengeluhkan mata merah. Riwayat gatal, nyeri dan keluar
kotoran dari mata disangkal.
Riwayat trauma pada kedua mata tidak ada.
Riwayat pengobatan sebelumnya tidak ada.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya
Riwayat kelainan mata sebelumnya tidak ada
Riwayat penyakit hipertensi dan DM tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga :


Anggota keluarga yang menderita keluhan yang sama dengan pasien tidak
ada
Riwayat penyakit hipertensi dan DM tidak ada

1
Riwayat Sosio-ekonomi:
Pasien seorang tukang becak. Profesi ini mulai dilakukan pasien sejak 13
tahun yang lalu. Pasien jarang sekali memakai pelindung mata dan / kepala
seperti kacamata, topi saat bekerja

Pemeriksaan Fisik
Status Oftalmologikus (23 Januari 2017)

STATUS OFTALMIKUS OD OS
Visus tanpa koreksi 5/60 pinhole (-) 6/24 pinhole (-)
Visus dengan koreksi - -
Refleks fundus (+) berkurang +
Silia / supersilia Madarosis (-), Madarosis (),
Trikiasis (-) Trikiasis (-)
Palpebra superior Edema (-) Edema (-)

Palpebra inferior Edema (-) Edema (-)

Aparat lakrimalis Normal Normal


Konjungtiva Tarsalis Hiperemis (+) Hiperemis (+)
Papil (-) Papil (-)
Folikel (-) Folikel (-)
Sikatrik (-) Sikatrik (-)
Konjungtiva Forniks Hiperemis (+) Hiperemis (+)
Papil (-) Papil (-)
Folikel (-) Folikel (-)
Sikatrik (-) Sikatrik (-)
Konjungtiva Bulbi Injeksi konjungtiva (+) Injeksi konjungtiva (+)
Jaringan fibrovaskular (+) Jaringan fibrovaskular (+)

Sklera Hiperemis Hiperemis

Kornea Jaringan fibrovaskular 5 mm Jaringan fibrovaskular 5


melewati limbus nasal dan mm melewati limbus nasal
temporal dan temporal
Kamera Okuli Anterior Cukup dalam Cukup dalam

2
Iris Coklat Coklat
Rugae (+) Rugae (+)
Pupil Refleks cahaya (+/+), Refleks cahaya (+/+),
diameter = 3 mm, bulat, letak diameter = 3 mm, bulat,
sentral letak sentral
Lensa Bening Bening
Korpus vitreum Jernih Jernih
Fundus : Sulit dinilai Sulit dinilai
Tekanan bulbus okuli Normal (palpasi) Normal (palpasi)
Posisi bulbus okuli Ortho Ortho
Gerakan bulbus okuli Bebas Bebas

3
Gambar (23/01/2017)

OD

`
OS

4
Diagnosis
Pterigium OD grade IV et OS grade III

Terapi:
Cenfresh eye drop 6 x 1 ODS
Rencana eksisi pterigium OD + Amniotic Membrane Transplant (AMT)
dalam GA

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Histologi Konjungtiva


Konjungtiva adalah membran mukosa transparan dan tipis yang
membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan
permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan
dengan kulit pada tepi palpebra (sambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea
di limbus.1
Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan
melekat erat ke tarsus. Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat ke
posterior (pada forniks superior dan inferior) dan membungkus jaringan episklera
menjadi konjungtiva bulbaris. Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum
orbital di fornices dan melipat berkali-kali. Adanya lipatan-lipatan ini
memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva
sekretorik. Konjungtiva bulbaris melekat longgar pada kapsul tenon dan sklera
dibawahnya, kecuali di limbus (tempat kapsul Tenon dan konjungtiva menyatu
sepanjang 3 mm).1

Gambar 2.1 Anatomi Konjungtiva2

6
Lapisan epitel konjungtiva terdiri atas dua hingga lima lapisan sel epitel
silindris bertingkat, superfisial, dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat
limbus, di atas caruncula,dan didekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak
mata terdiri atas sel-sel epitel skuamosa bertingkat.1,3
Sel-sel epitel superficial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang
mensekresi mucus. Mukus yang terbentuk mendorong inti sel goblet ke tepid an
diperlukan untuk disperse lapisan air mata prakornea secara merata. Sel-sel epitel
basal berwarna lebih pekat dibandingkan sel-sel superficial dan di dekat limbus
mengandung pigmen. Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid
(superfisial) dan satu lapisan fibrosa (profundus).1
Secara histologi, konjungtiva terdiri dari 3 lapisan, yaitu:
(1) Epitel
Lapisan sel epitel konjungtiva bervariasi dari masing-masing regio dan
dari bagian yang berbeda sebagai berikut:
- Konjungtiva marginal terdiri dari 5 lapisan epitel skuamosa bertingkat.
- Konjungtiva tarsal terdiri dari 2 lapis epitel: lapisan superfisial sel silindris
dan sel gepeng pada lapisan dalam.
- Konjungtiva forniks dan bulbi terdiri dari tiga lapis epitel: sel silindris pada
bagian superfisial, lapisan sel polyhedral, dan sel kuboid pada lapisan dalam.
- Konjungtiva limbal terdiri atas lima sampai 6 lapisan epitel skuamosa
bertingkat.
(2) Lapisan Adenoid
Disebut juga sebagai lapisan lymphoid dan terdiri atas retikulum jaringan ikat
dalam jerat yang mengandung limfosit. Lapisan ini paling berkebang di
forniks, muncul setelah usia 3-4 bulan kehidupan. Karena itu, inflamasi
konjungtiva pada neonatus tidak menimbulkan reaksi folikuler.
(3) Lapisan Fibrosa
Terdiri atas anyaman kolagen dan serabut elastic. Lapisan ini lebih tebal
dibandingkan lapisan adenoid, kecuali pada bagian konjungtiva tarsal yang
sangat tipis. Lapisan ini terdiri dari pembuluh darah dan serabut saraf
konjungtiva, yang bergabung dengan kapsula Tenon dibawahnya pada region
konjungtiva bulbi.1,3

7
Gambar 2.2 Histologi Konjungtiva3
2.2 Anatomi dan Histologi Kornea
Kornea merupakan struktur transparan, avaskular dan seperti kaca. Kornea
membentuk seperenam dari mantel fibrosa membungkus bola mata bagian
anterior. Kornea disispkan kedalam sclera pada limbus, lekukan melingkar pada
sambungan ini disebut sulkus skleralis1,3
Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 550 mikrometer di pusatnya.
Permukaan anterior kornea berbentuk elips dengan diameter horizontal rata-rata
11.7 mm dan diameter vertical 11 mm. Permukaan posterior kornea berbentuk
sirkular dengan diameter rata-rata 11.5 mm. Ketebalan kornea pada bagian sentral
kira-kira 0.52 mm dan bagian perifer 0.7 mm. Kurvatura kornea mempunyai
radius 5 mm pada bagian sentral, yang merupakan permukaan refraksi yang kuat.
Jari-jari kurvatura anterior dan posterior dari bagian tengah kornea ini masing-
masingnya 7.8 mm dan 6.5 mm. Kekuatan refraksi kornea adalah 45 dioptri, yang
merupakan tiga perempat dari kekuatan refraksi mata total (60 dioptri).1,3
Kornea memiliki lima lapisan berbeda dari anterior ke posterior: lapisan
epitel (yang berbatasan dengan lapisan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan
Bowman, stroma, membrane Descemet, dan lapisan endotel.1
Lapisan epitel mempunyai lima atau enam lapis sel. Lapisan Bowman
merupakan lapisan jernih aselular, yang merupakan bagian stroma yang berubah.
Stroma kornea menyusun sekitar 90% ketebalan kornea. Bagian ini tersusun atas
jalinan lamella serat-serat kolagen dengan lebar sekitar 10-250 mikrometer dan
tinggi 1-2 mikrometer yang mencakup hampir seluruh diameter kornea. Lamella
berjalan sejajar dengan permukaan kornea, dank arena ukuran dan kerapatannya

8
menjadi jernih secara optis. Membran Descemet, yang merupakan lamina basalis
endotel kornea, memiliki tampilan homogeny dengan mikroskop cahaya tetapi
akan tampak berlapis-lapis jika dilihat dengan mikroskop elektron. Endotel hanya
memiliki satu lapis sel, tetapi lapisan ini berperan besar dalam mempertahankan
deturgesensi stroma kornea. Endotel korna cukup rentan terhadap trauma dan
kehilangan sel-selnya seiring dengan penuaan.1

Gambar 2.3 Histologi Kornea2

2.3 Pterigium
2.3.1 Definisi Pterigium
Menurut American Academy of Ophthalmology, pterigium (berasal dari
bahasa Yunani yaitu Pterygos yang artinya sayap) adalah proliferasi jaringan
fibrovaskular konjungtiva menutupi permukaan kornea.4
Pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva bersifat degeneratif dan invasif.
Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal ataupun
temporal konjungtiva yang meluas ke kornea berbentuk segitiga dengan puncak di
bagian sentral atau di daerah kornea. Pterigium mudah meradang dan bila terjadi
iritasi, akan berwarna merah dapat mengenai kedua mata.5

9
Gambar 2.4 Pterigium4 (sumber: American Academy of Opthalmology).

2.3.2 Epidemiologi Pterigium


Pterigium tersebar diseluruh dunia, tetapi prevalensi kasus ini meningkat
di negara-negara beriklim tropis. Penderita pterigium lebih banyak ditemukan
pada laki-laki dibandingkan perempuan. Kejadian pterigium juga meningkat
sesuai pertambahan umur dengan insiden tertinggi umur antara 20 dan 30-an.4

2.3.3 Etiologi
Etiologi pterigium belum diketahui dengan jelas dan diduga merupakan
suatu proses neoplasma, radang dan degenerasi. Pterigium juga diduga disebabkan
oleh iritasi kronis akibat debu, sinar matahari, dan udara panas.4,5 Penyebab
paling umum adalah paparan berlebihan dari sinar matahari yang diterima oleh
mata. Sinar matahari tersebut akan diabsorbsi oleh kornea dan konjungtiva
sehingga akan terjadi kerusakan sel yang berlanjut dengan adanya proliferasi
abnormal pterigium. Faktor resiko lain terjadinya pterigium adalah faktor
pekerjaan seperti nelayan dan orang-orang dengan riwayat keratitis kronik. Dari
berbagai laporan kasus dan studi lapangan (kasus kontrol) yang dilakukan di RS
ditemukan bahwa pterigium diturunkan secara genetik (autosomal dominal).6

10
2.3.4 Klasifikasi Pterigium
Pembagian pterigium berdasarkan perjalanan penyakit dibagi atas 2 tipe3
a. Pterigium progresif: mengalami penebalan dengan banyak vaskularisasi dan
memiliki topi (cap), yaitu bagian yang menginfiltrasi kornea didepan bagian
head.
b. Pterigium regresif: tipis, atrofi, sedikit vaskularisasi, dan tidak terdapat topi
(cap). Akhirnya membentuk membran yang tidak pernah hilang.

Tipe-tipe Pterigium7:
a. Tipe I: meluas kurang 2 mm dari kornea. Stocker's line atau deposit besi dapat
dijumpai pada epitel kornea dan kepala pterigium. Lesi sering asimptomatis
meskipun sering mengalami inflamasi ringan. Pasien dengan pemakaian lensa
kontak dapat mengalami keluhan lebih cepat.
b. Tipe II: menutupi kornea sampai 4 mm, bisa primer atau rekuren setelah
operasi, berpengaruh dengan tear film dan menimbulkan astigmatisma.
c. Tipe III: mengenai kornea lebih 4 mm dan mengganggu aksis visual. Lesi
yang luas terutama yang rekuren dapat berhubungan dengan fibrosis
subkonjungtiva yang meluas ke fornik dan biasanya menyebabkan gangguan
pergerakan bola mata.

Gambar 2.5 Stockers Line pada Pterigium tipe I

11
Pterigium juga dapat dibagi ke dalam 4 derajat8:
a. Derajat 1: jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea.
b. Derajat 2: jika sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm
melewati kornea.
c. Derajat 3: sudah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata
dalam keadaan cahaya normal (pupil dalam keadaan normal sekitar 3 4 mm).
d. Derajat 4: pertumbuhan pterigium melewati pupil sehingga mengganggu
penglihatan.

2.3.5 Patogenesis Pterigium


Secara patologi pterigium merupakan kondisi degeneratif dan hiperplastik
pada konjungtiva. Jaringan subkonjungtiva mengalami degenerasi elastotik dan
berproliferasi sebagai jaringan granulasi vaskuler dibawah epitel, yang pada
akhirnya melampaui kornea. Epitel kornea, lapisan Bowman dan stroma
superfisial akan rusak.3
Patogenesis pterigium masih belum sepenuhnya dimengerti. Secara klinis,
pterigium membuat suatu pertumbuhan abnormal sentripetal dan neovaskularisasi.
Bukti terbaru melibatkan adanya hubungan mekanisme antiapoptosis, mekanisme
imunologis, infeksi virus, sitokin, faktor pertumbuhan.9
Banyak penelitian menunjukkan bahwa pterigium merupakan manifestasi
dari defisiensi atau disfungsi limbal stem cell. Limbal stem cell adalah sumber
regenerasi epitel kornea. Pada keadaan defisiensi limbal stem cell, terjadi
pembentukan jaringan konjungtiva pada permukaan kornea. Gejala dari defisiensi
limbal adalah pertumbuhan konjungtiva ke kornea, vaskularisasi, inflamasi kronis,
kerusakan membran basement dan pertumbuhan jaringan fibrotik.4 Kemungkinan
akibat sinar ultraviolet terjadi kerusakan limbal stem cell di daerah interpalpebra.10
Patogenesis pterigium berkaitan erat dengan pajanan sinar UV, walaupun
trauma lingkungkan seperti pajanan debu, angin atau iritan lainnya yang dapat
menyebabkan inflamasi kronik juga dapat menjadi faktor. Predominansi pterigium
pada sisi nasal di zona interpalpebral secara teori disebabkan merupakan hasil dari
cahaya masuk secara medial melalui kornea, terfokuskan pada area limbus nasal,
sementara bayangan dari hidung menurunkan intensitas cahaya yang
ditransmisikan ke limbus temporal.4

12
Ultraviolet adalah mutagen untuk p53 tumor suppressor gene pada limbal
basal stem cell. Tanpa apoptosis, transforming growth factor-beta diproduksi
dalam jumlah berlebihan dan menimbulkan proses kolagenase meningkat. Sel-sel
bermigrasi dan angiogenesis. Akibatnya terjadi perubahan degenerasi kolagen dan
terlihat jaringan subepitelial fibrovaskular. Jaringan subkonjungtiva terjadi
degenerasi elastoik proliferasi jaringan vaskular di bawah epithelium dan
kemudian menembus kornea. Kerusakan pada kornea terdapat pada lapisan
membran bowman oleh pertumbuhan jaringan fibrovaskular, sering disertai
dengan inflamasi ringan. Epitel dapat normal, tebal atau tipis dan kadang terjadi
displasia.10

2.3.6 Manifestasi Klinis


Pada tahap awal, pterigium berasal dari fisura interpalpebra sebagai
pertumbuhan fibrovaskular pada konjungtiva bulbar di dekat limbus yang
berbentuk seperti sayap (wing-shaped) atau segitiga. Pembuluh darah yang
tampak di sekitar pterigium dan konjungtiva di dekatnya biasanya merupakan
tanda periode pertumbuhan cepat.11 Pterigium pada tahap awal tidak menimbulkan
gejala pada pasien, kecuali masalah kosmetik. Gangguan penglihatan terjadi bila
pterigium telah mendekati area pupil atau oleh karena astigmatisme. 3
Astigmatisme terjadi sebanding dengan ukuran pterigium.4 Gejala lain yang dapat
terjadi, antara lain rasa terbakar, iritasi, lakrimasi, dan rasa mengganjal di mata.11

Pterigium yang telah tumbuh sempurna terdiri dari tiga bagian, yaitu
kepala, leher dan badan. Kepala merupakan bagian apikal yang paling dekat ke
kornea. Leher merupakan bagian yang dekat dengan limbus, sedangkan badan
pterigium merupakan bagian skleral.3 Stocker line, yaitu garis besi berpigmen
(pigmented iron line) dapat terlihat pada tepi anterior sentral pterigium pada
kornea.4,12

2.3.7 Diagnosis
Diagnosis pterigium dapat ditegakkan berdasarkan klinis pasien. Pterigium
terlihat sebagai pertumbuhan fibrovaskular pada konjungtiva bulbar di dekat
limbus yang berbentuk seperti sayap (wing-shaped) atau segitiga. Pterigium dapat

13
meluas ke kornea. Pterigium lebih sering berlokasi di nasal daripada temporal. 4
Selain itu, dapat dilakukan pemeriksaan slit-lamp pada pasien untuk
mengidentifikasi lesi dan mengevaluasi integritas dan ketebalan kornea di
sekitarnya, serta menilai apakah terdapat astigmatisme kornea pada axis
pterigium.12

2.3.8 Diagnosis Banding


Pterigium harus dapat dibedakan dengan pseudopterigium, yang dapat
terjadi setelah trauma atau sekunder akibat kelainan kornea inflamatori. 4
Pseudopterigium dapat menyerupai pterigium karena keduanya berupa jaringan
konjungtiva bulbar yang meluas ke kornea. Namun, pseudopterigium disebabkan
oleh inflamasi pada permukaan mata oleh karena sebab tertentu, antara lain
trauma mekanik, trauma kimia, pembedahan, atau pun ulserasi kornea perifer.
Perbedaan lainnya adalah perbedaan struktur dan lokasi. Struktur pseudopterigium
tidak sejelas pterigium yang mempunyai bagian kepala, leher, dan badan
pterigium. Selain itu, pseudopterigium cenderung terjadi di luar ruang
interpalpebral.11

Gambar 2.6 Pseudopterigium13


Kelainan mata lainnya yang dapat menyerupai pterigium, antara lain
pingeucula, pannus, conjunctival and corneal intraepithelial neoplasm (CIN), dan
4,12
limbal dermoid. Pingeucula merupakan jaringan konjungtiva yang berwarna
putih kekuningan yang datar atau sedikit meninggi, biasanya terdapat pada fisura
interpalpebral dan tidak meluas ke kornea.12

14
Gambar 2.7 Pingeucula13
Pannus merupakan pembuluh darah yang tumbuh ke arah kornea,
seringkali sekunder akibat pemakaian lensa kontak kronik, blefaritis, keratitis
herpes, kelainan atopi, trakoma, trauma, dan lainnya. Pannus biasanya terjadi pada
level membran Bowman tanpa elevasi atau dengan elevasi minimal.12

Gambar 2.8 Pannus13


Conjunctival and corneal intraepithelial neoplasm (CIN) merupakan
massa unilateral berbentuk seperti jelly yang berpapil, kemerahan, ataupun
leukoplakic (berwarna putih), seringkali meninggi, disertai vaskularisasi, dan
tidak berbentuk seperti sayap.12

15
Gambar 2.9 Conjunctival intraepithelial neoplasia A. Papilliform B. Gelatinous
C. Lekukoplakic13

Limbal dermoid merupakan lesi kongenital berwarna putih berbentuk


bulat, biasanya terletak pada limbus inferotemporal. Limbal dermoid dapat berupa
bagian dari manifestasi sindrom Goldenhar bila terdapat skin tag preaurikular atau
defek skeletal vertebra. 12

Gambar 2.10 Limbal dermoid13

16
2.3.9 Tatalaksana
Tatalaksana pterigium terdiri dari pencegahan, tatalaksana nonbedah, dan
tatalaksana bedah.12,13 Mata pasien perlu diberi perlindungan dari sinar matahari,
debu, dan angin.12 Pasien disarankan untuk memakai pelindung mata, kacamata
hitam, goggle, dan/atau topi lebar saat berada di bawah paparan sinar matahari
atau debu. Kacamata hitam yang direkomendasikan adalah kacamata yang
menghalangi 99-100% sinar UVA dan UVB. 13

Tatalaksana nonbedah yang dapat diberikan berupa tatalaksana


simptomatis. Pterigium kecil yang tidak disertai gangguan penglihatan dapat
diberikan tatalaksana berupa air mata artifisial. Air mata artifisial tidak
mengurangi progresi dan tidak menyebabkan regresi pterigium.13 Lubrikasi
dengan air mata artifisial dilaukan sebanyak 4-8 kali per hari untuk mengurangi
iritasi mata. Pada pterigium yang mengalami inflamasi ringan, dapat diberikan air
mata artifisial sebanyak 4 kali per hari, sedangkan bila terjadi inflamasi sedang
hingga berat, dapat diberikan steroid topikal dosis rendah (seperti fluorometolon
0,1% atau loteprednol 0,2-0,5% diberikan 4 kali per hari). Obat tetes antiinflamasi
nonsteroid, seperti ketorolac 0,4-0,5% dapat digunakan 2-4 kali per hari untuk
mengurangi gejala.12

Tidak semua pterigium memerlukan tatalaksana bedah. Pembedahan


berupa eksisi pterigium dilakukan atas indikasi berikut:12,13

a. terdapat gangguan penglihatan


b. induksi astigmatisme ireguler
c. pertumbuhan progresif ke arah visual axis
d. motilitas okular terganggu
e. ketidaknyamanan persisten
Tujuan eksisi pterigium adalah untuk menghasilkan permukaan okular
yang halus dan normal kembali, sehingga penting untuk membuang sebanyak
mungkin jaringan parut fibrovaskular yang ada. Pilihan untuk penutupan luka
setelah eksisi pterigium, antara lain:4

a. Bare sclera

17
Setelah eksisi tidak dilakukan penutupan dengan penjahitan. Teknik ini
memiliki tingkat rekurensi yang tinggi dan tidak direkomendasikan.

b. Simple closure
Tepi bebas konjungtiva dijahit (efektif hanya bila defek konjungtiva
berukuran sangat kecil).

c. Sliding flap
Insisi berbentuk huruf L dibuat berdekatan dengan luka, sehingga flap
dapat bergeser ke tempat eksisi

d. Rotational flap
Insisi berbentuk huruf U dibuat berdekatan dengan luka, sehingga
terbentuk lidah konjungtiva yang dapat mengalami rotasi ke tempat eksisi

e. Transplantasi konjungtiva autolog


Bagian yang dieksisi ditutup dengan konjungtiva dari pasien yang
bersangkutan dengan sutura ataupun adhesive jaringan

f. Transplantasi konjungtiva-limbus autolog


Transplantasi dengan konjungtiva dan stem cell limbus

g. Amniotic membrane transplantation (AMT)


AMT merupakan alternatif konjungtiva autolog. Indikasi penggunaan
amniotic membrane adalah bila terdapat keterbatasan ketersediaan
konjungtiva autolog. Penutupan luka dengan metode ini terutama berguna
pada pterigium berukuran besar yang memerlukan eksisi besar.

18
BAB III
DISKUSI

Telah dilaporkan seorang pasien laki-laki berusia 46 tahun datang ke


Poliklinik Mata RSUP Dr. M. Jamil Padang pada tanggal 20 Januari 2017 untuk
memeriksa keluhan massa putih seperti lemak di bagian bening mata. Diagnosa
ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
yang dilakukan terhadap pasien.
Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa pasien merasa ada yang
mengganjal pada kedua mata sejak 1 tahun yang lalu. Awalnya 3 tahun yang
lalu pasien menyadari ada massa putih seperti lemak pada kedua mata tepatnya di
pinggir bening mata yang lama kelamaan tumbuh meluas ke tengah mata. Lalu,
1 tahun ini pasien mengeluhkan penglihatannya terganggu dan mata kanan pasien
dirasakan lebih kabur. Keluhan ini sering disertai dengan mata berair. Pasien juga
mengeluhkan mata merah. Riwayat gatal, nyeri dan keluar kotoran dari mata
disangkal. Riwayat trauma pada kedua mata tidak ada. Riwayat pengobatan
sebelumnya tidak ada.
Massa putih seperti lemak pada kedua mata pasien diduga merupakan
pertumbuhan fibrovaskular yang abnormal, dimana sudah terjadi progresivitas
dari pertumbuhan fibrovaskular dari sisi luar bening mata ke bagian tepi bening
mata. Pertumbuhan fibrovaskular ini sudah mengganggu fungsi penglihatan pada
pasien ini yang ditandari dengan penurunan tajam penglihatan pada pemeriksaan
fisik.
Pada pemeriksaan oftalmologi, visus tanpa koreksi adalah OD 5/60 pinhole
(-) dan visus OS 6/24 pinhole (-). Reflex fundus (+) pada kedua mata, namun
berkurang pada mata kanan. Hiperemis konjungtiva tarsalis dan forniks OD dan
OS. Pada konjungtiva bulbi kedua mata didapatkan hiperemis dan terdapat
jaringan fibrovaskular. Sklera hiperemis +/+. Pada kornea, didapatkan jaringan
fibrovaskular 5 mm melewati limbus nasal dan temporal mata kanan dan kiri.
ada mata kiri, konjungtiva bulbi terdapat injeksi konjungtiva. Pemeriksaan
funduskopi sulit dinilai.

19
Diagnosis pterigium ditegakkan berdasarkan klinis pasien, yaitu
pertumbuhan fibrovaskular pada konjungtiva bulbaris di dekat limbus yang
berbentuk sepeerti sayap (wing-shaped).4 Pasien didiagnosis dengan Pterigium
oculi dextra grade IV et sinistra grade III. Pada pasien ini, pterigium pada mata
kanan sudah menggangu visual axis yang menyebabkan penurunan tajam
penglihatan. Pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga mengganggu
penglihatan. Pterigium pada mata kiri ditetapkan sebagai grade III karena sudah
melewati limbus kornea, lebih dari 2 mm, tetapi tidak melebihi pinggir pupil pada
ukuran pupil normal (3-4mm).
Faktor risiko dan patogenesis pterigium berkaitan erat dengan pajanan
sinar UV, walaupun trauma lingkungkan seperti pajanan debu, angin atau iritan
lainnya yang dapat menyebabkan inflamasi kronik juga dapat menjadi faktor. 4
Penyebab paling umum adalah paparan berlebihan dari sinar matahari yang
diterima oleh mata. Sinar matahari tersebut akan diabsorbsi oleh kornea dan
konjungtiva sehingga akan terjadi kerusakan sel yang berlanjut dengan adanya
proliferasi abnormal pterigium.6 paparan sinar UV juga diduga menyebabkan
penguapan cepat berulang dan kerusakan film air mata dengan degenerasi elastoid
dari jaringan ikat sub epitel (Achigbu et al). Pada penelitian oleh Nemet et al.,
iklim tropis merupakan faktor risiko pterigium, dengan bukti kuat terhadap
hubungan pekerjaan outdoor pajanan sinar ultraviolet (Nemet et al). Pada kasus
ini, pasien memiliki faktor risiko yaitu riwayat paparan kronis sinar UV dan debu
atas pekerjaannya sebagai pengemudi becak selama 13 tahun, yang dalam
kesehariannya jarang memakai pelindung mata dan/atau kepala.
Pada pasien ini diberikan terapi Cenfresh eye drop 6 x 1 ODS yang
mengandung carboxymethylcellulose sodium 5mg yang bekerja dengan
membentuk lapisan tear film pada permukan mata sebagai pembasah atau
lubrikan. Untuk penatalaksanaan terhadap pterigium, direncanakan untuk
dilakukan eksisi pterigium oculi dekstra + Amniotic Membrane Transplant
(AMT). Eksisi melalui pembedahan merupakan satu-satunya tatalaksana yang
memuaskan, yang diindikasikan pada (1) pterigium yang progresif yang
berpotensi menutup area pupil, (2) diplopia karena terganggunya pergerakan bola
mata, dan (3) alas an kosmetik.Indikasi dilakukannya tindakan operasi eksisi pada
pada pasien ini adalah pterigium sudah menggangu jalur visual, terutama pada

20
mata kanan. Amniotic Membrane Transplant merupakan alternatif konjungtiva
autolog. Indikasi penggunaan amniotic membrane adalah bila terdapat
keterbatasan ketersediaan konjungtiva autolog. Penutupan luka dengan metode ini
terutama berguna pada pterigium berukuran besar yang memerlukan eksisi besar.
Pada mata kiri dengan pterigium grade III tidak direncanakan dilakukan
eksisi, karena pterigium tidak menutupi visual axis, walaupun pada pasien ini
ditemukan penurunan tajam penglihatan pada kedua mata. Tindakan eksisi
nantinya dapat menyebabkan komplikasi terkait prosedur eksisi konjungtiva dari
permukaan sklera. Sklera yang tidak terlindungi akan menjadi lebih tipis dan
sebagian akan menjadi translusen kecuali tetap basah. Pengangkatan konjungtiva
perilimbal dan percampuran dengan efek basah dari tear film (setelah eksisi
pretrigium dengan teknik bare sclera) dapat mengakubatkan sclera dibawahnya
menjadi lebih tipis dan translusen dan membentuk sclera delle.4

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Riordan-Eva P. 2014. Anatomi dan Embriologi Mata, dalam Oftalmologi


Umum Vaughan & Asbury Edisi 17.The McGraw-Hill Companies: EGC
2. Lang GK. Ophtalmology: a Short Textbook. 2000. Thieme Stuttgart. New
York
3. Khurana AK. 2007. Comprehensive Ophtalmology 4th Edition. New Age
International (P) Ltd, Publishers
4. American Academy of Ophthalmology. Basic and Clinical Science Course
Section 8: External Disease and Cornea. 2014-2015.pp 317-18.
5. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 5. FKUI:Jakarta. 2015. p 3
6. Lee SB, Slomovic A. Pterygium An Update on CurrentConcepts and
Treatment Modalities. 2004; 2(7): pp. 1-2
7. Kanskii J.J. Pterygium in Clinical Ophthalmology A Systematic Approach,
6thed, 2007
8. Gondhowiarjo TD. Simanjuntak GWS. Panduan Manajemen Klinis.
Perdami. 2006.pp 56-8
9. Bradley JC, Yang W, Bradley RH, Reid TW, dan Schwab IR. The science
of pterygia. Br J Ophthalmol. 2010; 94(7): 815-20
10. Laszuami. Prevalensi Pterigium di Kaupaten Langkat. Updated: 2009.
Available from URL : http://repository.usu.ac.id Accessed 21st April, 2016
11. Waller SG, Adamis AP. Pterygium. Dalam: Tasman W, Jaeger EA, eds.
Foundations of Clinical Ophthalmology. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins. 2012.
12. Gerstenblith AT, Rabinowitz MP. 2012. The Wills eye manual: Office and
Emergency Room; Diagnosis and treatment of eye disease
13. AAO. 2015. Pterygium Asia Pacific. Tersedia di:
https://www.aao.org/topic-detail/pterygium-asia-pacific. Diakses pada 24
Januari 2017.

22