Anda di halaman 1dari 9

2.

3 TAKIKARDI ARITMIA
2.3.1 Definisi Takikardi

Takikardi didefinisikan sebagai suatu kondisi denyut jantung >100x/menit. Denyut


jantung yang cepat dengan irama yang normal (irama sinus) seringkali merupakan respon
terhadap suatu kondisi stress misalnya hipoksia, demam, rasa sakit, kondisi kekurangan volume
intravaskular dan lain-lain. Tetapi denyut jantung yang cepat dapat disebabkan oleh gangguan
irama jantung (takikardi). Takiaritmia yang ekstrim (>150 kali/menit) apat menimbulkan gejala
klinis yang disebabkan oleh menurunnya curah jantung dan meningkatnya kebutuhan oksigen
mikardium.
2.3.4 Sinus Aritmia
Aritmia adalah irama yang bukan berasal dari nodus SA atau irama yang tidak teratur
sekalipun berasal dari nodus SA atau frekuensi kurang dari 60 kali/menit (sinus bradikardi) atau
lebih dari 100 kali/menit (sinus takikardi), serta terdapat hambatan impuls supra/intraventrikular.
Seringkali, EKG akan menunjukan irama yang dari semua sisi tampak sebagai irama
sinus normal kecuali bahwa ia sedikit tidak teratur. Irama ini disebut aritmia sinus. Seringkali
aritmia sinus merupakan fenomena normal yang menggambarkan variasi frekuensi jantung
akibat adanya inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi mempercepat frekuensi jantung,dan ekspirasi
memperlambatnya.
Aritmia memiliki insidens yang tinggi sebagai penyebab kematian mendadak (sudden
death) pada populasi berumur 40-50 tahun di negara maju.Tercatat di Amerika Serikat pada
tahun 2001, 450.000 meninggal karena aritmia.10 Risiko kematian mendadak akibat aritmia
meningkat sesuai dengan meingkatnya umur, namun menurun pada dekade kedelapan. Insidens
aritmia dan kematian mendadak lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan. Pada dewasa
muda berumur di bawah 35 tahun, 100 kali lebih rendah dibandingkan dengan usia di atas 35
tahun. Secara epidemiologi, insidens dari aritmia dan kematian mendadak lebih tinggi pada
kelompok Afrika-amerika dibandingkan dengan kulit putih. Di Indonesia, data mengenai
prevalensi aritmia belum ada

2.3.5 Algoritma Takikardi


Gambar : Algoritmacardiac arrest
Gambar: Algoritma Takikardi dengan Nadi
Gambar: Algoritma Takikardi dengan nadi.
Gambar : Algoritma tatalaksana Takikardi menurut PERKI
2.4 Terapi Listrik
2.4.1 Defibrilasi

Defibrlasi merupakan suatu proses pemberian sejumlah arus listrik untuk kejut jantung
melalui alat defibrillator yang diharapkan dapat mengembalikan irama jantung menjadi normal.
Dengan kata lain proses defibrilasi mencakup penghantaran listrik melalui dinding dada menuju
jantung untuk memadamkan aliran-aliran listrik liar sel-sel miokard. Defibrilasi dilalukan pada
kondisi henti jantung yang disebabkan VT (Ventrikular Takikardi), VF (Ventrikel Fibrilasi), atau
VT Polimorfik (Torsades de Pointes). Keberhasilan akan menurun jika defibrilasi dilakukan
semakin lama dan VF akan cenderung berubah menjadi asistol dalam beberapa menit. Angka
kematian akan meningkat 7-10%.

Klasifikasi dan tingkat Energi

Defibrilator modern diklasifikaisan berdasarkan 2 tipe bentuk gelombang,


monofasik dan bifasik. Defibrilator monofasik merupakan generasi pertama, tapi
defibrillator bifasik saat ini lebih banyak digunakan. Tingkat energi bervariasi
dihubungkan dengan peluang yang lebih tinggi untuk kembalinya irama secara
spontan. Defibrillator gelombang monofasik menghantarkan energy dengan satu
kutub. Gelombang monofasik sinusoid kembali ke energy nol secara bertahap
(monophasic damped sinusoidal-MDS) atau mendadak (monophasic truncated
exponential wavefrom-MTE). Defibrillator gelombang bifasik mengunakan satu dari
dua gelombang dan setiap gelombang terbukti efektif untuk menghilangkan VF. Satu
kejut defibrilasi bifasik setara bahakan lebih baik dari tiga kali kejut defibrilasi
monofasik. Pengaturan energy untuk defbrilator diatur untuk menyediakan energy
dengan tingkat terendah namun masih efektif dalam menghilangkan VF. Karena
defibrilasi merupakan sebuah proses elektrofisiologis yang terjadi dalam 300-500
milidetik setelah penghantaran energy.
Energi Kejut

Pada defibrillator bifasik, besarnya energy awal yang digunakan adalah 150-200
J dengan gelombang bifasik ekponensial yang diperpendek atau 120 J pada
gelombang bifasik rektiliner. Untuk kejut berikutnya digunakan energi yang sama
atau lebih besar. Bila provider menggunakan defibrilator bifasik yang tidak
mengetahui rentangdosis efektif untuk mengatasi VF, maka penolong dapat
menggunakan pilihan 200 J sebagai dosis awal dan seterusnya. Bila menggunakan
defibrilator monofasik, pilih dosis 360 J untuk semua kejutan. Dosis terkecil
defibrilasi yang efektif pada bayi dan anak dan batas atas untuk defibrilasi yang aman
juga belum diketahui. Dosis 4-9 J/Kg efektif memberi defibrilasi pada anak-anak,
tanpa efek buruk yang bermakna. Pada anak usia 1-8 tahun defibrilasi manual yang
merekomendasikan (monofasik atau bifasik) adalah 2J/Kg untuk percobaan pertama
dan 4 J/Kg untuk percobaab selanjutnya.1
Defibrilasi dicapai dengan memberikan aliran listrik dan mempertahankan
dalam jangka waktu tertantu. Kecepatan pemberian defibrilasi merupakan faktor
penentu keberhasilan terapi VF. Resusitasi jantung paru (RJP) tetap dilakukan
sebelum dansesudah kejut dilakukan. Pada pasien yang diraway dengan pemantauan
hemodinamik kontinyu di unit terapi intensif, kejut listrik dapay langsung dilakukan
tanpa melakukan RJP terlebih dahulu, kecuali bila alat defibrilator membutuhkan
waktu untuk dipersiapkan.1

Elektroda
Bila menggunakan lempeng (padles), lempeng tersebut harus terpisah dan pasta
atau gel hanya dioleskan kebagian dada di tempat perlekatan. Defibrilator dengan
lempeng yang menggunakan pasta atau gel sama efektifnya dengan lembar bererekat.
Lembar ini dapat dilekatkan sebelum terjadi serangan jantung yang memungkinkan
untuk melakukan pemantauan dan kemudian pemberian kejutan pemberian kejutan
secara cepat bila dibutuhkan.1
Penolong harus menempatkan elektroda pada posisi sternal-apikal. Lempeng
dada kanan (sternal) diletakkan pada dada bagian supero-anterior bagian kanan dan
lempeng apikal (kiri) diletakkan pada dada bagian infero-lateral kiri.
Saat memberikan kardioversi atau defibrilasi pada pasien yang menggunakan
pacu jantung permanen (PPM) atau ICD (Implantable Cardioverter Defibrilator),
berikan jarakminimal 5 cm dari generator pacu jantung atauICD untuk mencegah
malfungsi pacu jantung atau ICD tersebut. Alat pacu jantung atau ICD dapat pula
mengambat sebagian arus ke jantung saat defibrilasi yang mengakibatkan
penghantaran energi yang tidak optimal. Apabila pasien menggunakan ICD yang
memberi kejutan (misalnya otot pasien berkontraksi seperti yang tampak pada
defibrilasi eksternal) berikan 30-6- detik untuk lat tersebut menuntaskan siklusnya
sebelum menempatkan lempeng defibrilator. Kadangkala znalisa dansiklus ICD dan
AED saling bertentangan. Karena sebagian arus defibrilasi mengalir ke arah sadapan
pacu jantung. Pacu jantung permanen dalamICD harus dievaluasi setelah pasien
mendapat kejutan.

Gambar: Defibrilasi
2.4.2 Kardioversi Tersingkronisasi.

Kardioversi tersinkronisasi adalah hantaran kejut yang bersamaan dengan


komplek QRS (sinkron). Sinkronisasi ini bertujuan untuk menghindari hantaran kejut
selama masa refrakter relatif siklus jantung. Energi (dosis kejut) yang digunakan
untuk kejut sinkronisasi lebih rendah daripada yang digunakan untuk kejut yang tidak
tersinkronisasi (defibrilasi). Kejut dengan energi ini seharusnya selalu dihantarkan
sebagai kejut yang sinkron karena jika dihantaekan sebagai kejut tidak tersinkronisasi
maka dapat memicu terjadinya VF.
Jika kardioversi dibutuhkan dan tidak mungkin dilakukan kejut sikron (misalnya
irama jantung pasien iregule), gunakan kejut asinkron energi tinggi. Hantaran kejut
tersinkronisasi (kardioversi) diindikasikan untuk mengobati takiaritmia yang tidak
stabil yang berhubungan dengan pembentukan komplek QRS dan adanya nadi seperti
pada SVT, atrialfibrilasi, atrial flutter. Kardioversi tersinkronisasi dapat juga
dilakukan pada VT monomorfik dengan nadi dengan hemodinamik yang tidak stabil.
Dosis energi awal yang direkomendasikan untuk kardioversi atrial fibrilasi
adalah 120-200 J. sedangkan untk atrial flutter dan supraventikuler tachicardia
membutuhkan energi yang lebih rendah; yakni 50-100 J. jika dengan dosis 50 J awal
gagal, penolong sebaiknya meningkatkan dosis secara bertahap. Pada anak-anak
dapat diberikan energi awal 0.5-1 j/Kg untuk SVT, dengan dosis maksimal 2J/Kg. VT
monomorfik yang tidak stabil dengan atau tanpa nadi diobati sebagai VF dengan
menggunakan energi kejut tinggi yang tidak tersinkronisasi (dosis defibrilasi). Dosis
untuk aak-anak direkomendasikan energi awal 0,5-1 J/Kg, dengan dosis maksimal
2J/Kh, dengan dosis maksimal 2J/Kg sama seperti pada SVT.

Gambar: Kardioversi