Anda di halaman 1dari 14

SHARING JOURNAL

Untuk Memenuhi Tugas Family Health Nursing

Oleh :
Kelompok 3 K3LN
Siti Maulidiyatul K. 125070201131016
Sanda Prima Dewi 125070201131017
Siti Nur Afifah 125070201131018

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Program krisis penitipan anak memberikan pengasuhan yang tangguh
secara darurat, konseling, dan layanan rujukan kepada orang tua yang stres dan
beresiko untuk menganiaya anak-anak mereka.
Menurut sebuah penelitian yang ada, orang tua/keluarga yang stress adalah
faktor pencetus terhadap kekerasan pada anak, terutama kekerasan fisik dan
pengabaian kronis, (Cowen, 1999; National Research Council,
1993). Selama keluarga / orangtua dalam keadaan stres sering diperparah oleh
kurangnya kemudahan mengakses alternatif perawatan anak. Program penitipan
anak sudah dimulai pada tahun 1972 di Pusat Nasional C. Henry Kempe untuk
Pencegahan dan Pengobatan Penyalahgunaan Anak dan Penelantaran di
Denver, Colorado yaitu adanya penyediaan krisis penitipan anak untuk keluarga di
bawah tekanan yang ekstrim. Program penyediaan anak ini menyediakan
keamanan, lingkungan sementara untuk anak usia 2 minggu sampai 12 tahun
dimana orang tua tidak bisa memenuhi kebutuhan anak situasi krisis yang luar
biasa karena kehidupan mereka. Orang tua menempatkan anak-anak mereka
sementara waktu di penitipan anak saat orang tua berada pada resiko
penganiayaan anak atau ketika meninggalkan mereka dalam lingkungan yang
tidak aman atau tanpa pengawasan. Orang tua bisa mengambil anaknya dengan
bebas dan tanpa membayar untuk layanan ini. Ketrebatasan sumber untuk
mengidentifikasi potensi sumber stress bagi keluarga/orang tua.
Penelitian ini meneliti tentang kontribusi terhadap karakteristik stressor
keluarga dan mengkaji efektifitas program krisis penitipan untuk mencegah
penganiayaan anak. Selama situasi krisis, keluarga/orangtua yang stres sering
diperparah oleh kurangnya layanan alternatif penitipan anak.
Tujuan spesifik dari peneltian ini adalah :
1. untuk menentukan demografi
2. karakteristik stress keluarga dalam mencari layanan krisis penitipan anak
dan
3. mengevaluasi apakah pemanfaatan program ini dapat mengurangi insiden
penganiayaan anak
4. membandingkan tingkat penganiayaan di masyarakat pedesaan yang
menerima dan tidak menerima intervensi pencegahan penitipan anak
Intervensi krisis pentipan anak yang digunakan dalam peneitian ini fokus
pada
1. pencegahan primer (beresiko untuk penganiayaan)
Contoh: orag tua muda sudah menggunkan krisis peitipan anak ketika
berada dalam kondisi stres yang ekstrim dimana tidak ada sumber atau
sarana dukungan sosial yag lain.
2. pencegahan sekunder (pencegahan dari penganiayaan).
Contoh: orang tua dengan riwayat penganiayaan anak telah mengakses
layanan dalam rehabilitasi kekerasan atau kelas pendidikan orang tua.

Perspektif teoritis
Perspektif teoritis penyebab yang berkorelasi terhadap penganiayaan
anak banyak dan beragam model. Perspektif teori ini menyediakan kerangka
untuk memahami hubungan antara stres, sistem dukungan sosial, dan
penganiayaan anak dan disesuaikan untuk memberikan bimbingan kepada
anak penganiayaan upaya intervensi pencegahan dalam bagan dibawah:

Identifikasi Faktor Resiko


Variabel yang dihubungkan dengan kekerasan pada anak dapat
diklasifikasikan berdasarkan budaya, sosial, kekeluargaan dan individu
(termasuk orang tua atau pegasuh dan karakteristik anak). Faktor resiko yang
berhubungan adalah memberikan kesempatan untuk intervensi pencegahan
yang diarahkan pada stres lingkungan, hubungan interpersonal, dan masalah
psikososial orang tua terhadap keselamatn anak, pertumbuhan dan
perkembangan aak optimal sesuai dengan keinginan.
Faktor Sosiocultural/Socioeconomic
Kekerasan fisik pada anak sangat berkorelasi dengan kemiskinan.
Kemiskinan dapat meyebabkan pengabaian anak, status sosial juga
merupakan faktor risiko untuk perilaku kekerasan terhadap anak-anak,
khususnya kekerasan yang parah dan ibu-ibu dengan anak muda yang hidup
di bawah garis kemiskinan telah ditemukan pada risiko terbesar dari perilaku
kekerasan terhadap anak-anak.
Faktor keluarga
Penganiayaan adalah faktor masalah dalam keluarga, sebagian besar
penganiayaan melibatkan tindakan secara langsung dari orang tua.
Gangguan dalam aspek keluarga berhubungan tidak hanya dengan orang
tua-dan anak tetapi karena adanya tekanan dalam keluarga sehingga anak-
anak dianiaya. Menurut penelitian dari karakteristik keluarga yang melakukan
penganiayaan atau pengabaian adalah
Adanya masalah psikososial
Ketrampilan koping yang buruk
Tingkat yang lebih besar dari stres yang dirasakan
Geografi atau isolasi sosial dari keluarga dan teman-teman.
Strategi displin keluarga yang tinggi
Kurang perilaku pengasuhan positif pada anak
Orang tua yang masih muda dengan tingkat pendidikan yang rendah,
dan jarak kelahiran anak yang dekat
Stres dan distres keluarga
Interaksi kekerasan dalam keluarga: perselisihan perkawinan,
kekerasan dalam rumah tangga, dan kekerasan keluarga
Situasi krisis terkait dengan stessor hidup seperti: kematian
perceraian, tempat penampungan, dan pengangguran
Faktor Orang tua atau pegasuh
Sangat berbeda pendekatan anak yang dibesarkan dari keluarga
yang otoritas dan sensitif. Orang tua yang sering menuntut anak dan gagal
untuk mengenali keterbatasan anak mereka melambangkan tipe/gaya fisik
dan emosional kekerasan dari orang tua. Sedangkan orang tua yang sedikit
tuntutan melambangkan sebuah pengabaian pada anak.
Orang tua yang kasar menunjukkan harapan yang tidak pantas pada
anak, mengbaiakan kebutuhan dan kemampuan anak, pembalikan peran
dengan harapan bahwa anak akan memenuhi kebutuhan mereka,
keyakinan bahwa anak sengaja mengganggu mereka, dan
praktek membesarkan anak tidak konsisten. Karakteristik yang berhubungan
dengan pengabaian orang tua berhubungan dengan ketidakmatangan,
kepribadian kekanak-kanakan yang berkaitan dengan harga diri rendah
kontrol impuls yang buruk, keterbatasan keuangan dan kerampilan
manajemen keluarga, dan kompetensi sosial yang terbatas.
Faktor Anak
Kesehatan anak, intelektual, atau karakteristik perkembangan telah
dilaporkan sebagai faktor yang berkontribusi terhadap kekerasan dan
pengabaian anak. Karakteristik anak yang rentan yang termasuk watak
adalah
impulsif (menurutkan kata hati) dan
menangis berlarut-larut,
gangguan tingkah laku,
faktor yang berhubungan dengan meningkatnya permintaan
perawatan seperti: prematur, dan BBLR, cacat kronis dan gangguan
fisik.
Karakteristik anak yang dihasilkan dari penganiayaan adalah:
perilaku agresif,
provokatif, dan
perilaku menghindar
kebanyakan penganiayaan anak terjadi saat anak usia 5 tahun (82%)
atau lebih muda, khususnya anak yang masih dalam usia 1 tahun atau lebih
(43%) terutama kekerasan fisik dan penelantaran.

PROGRAM PENITIPAN ANAK KRISIS


Program penitipan anak krisis di Lowa yang dikelola oleh komunitas
sukarela dengan pendanaan dan regulasi dari State of Iowa Department of
Human Services dan di dukung dari organisaasi pencegahan kekerasan
anak seluruh negara bagian. Pelayanan yang disediakan adalah:
jangka pendek
Perawatan anak 24 jam untuk keluarga yang mengalami krisis
Krisis situasi yang termasuk namun tidak terbatas pada situasi yang
tidak teduga dimana adanya kebutuhan perawatan anak, seperti:
sakit atau operasi, kecelakaan mobil, kematian atau bunuh diri,
kesehatan mental dan penyalahgunaan obat , penangkapan, orang
tua yang memutuskan bahwa mereka dapat mebahayakan anak
mereka.
Keamanan dan lingkungan sementara untuk anak disediakn
dengan membayar, di rumah, perawatan keluarga sehari yang terdaftar
atau fasilitas penitipan anak berlisensi, 24 jam/hari, 7 hari seminggu,
sampai 30 hari pertahun tanpa ongkos untuk keluarga.

PEMBAHASAN JURNAL
A. Metode Penelitian
1. Desain Penelitian
Desain dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasi yang
menggambarakan hubungan antara variabel keluarga yang menerima diri
mereka yang:
menggunakan layanan krisis perawatan,
level stress keluarga, dan
karakteristik demografi.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan karakter
sosiodemografi dan stres orang tua pedesaan yang mengakses layanan krisis
penitipan anak dan untuk menentukan apakah pemanfaatan layanan ini akan
mengurangi insiden dilaporkan penganiayaan anak.Dalam penelitian ini menguji
hipotesa antara kejadian penganiayaan anak yang menggunakan dan tidak
menggunakan layanan krisis perawatan.
2. Instrumen
Orang tua melengkapi dasar kuisioner sosiodemografi (form informasi
keluarga) yang berisi:
Usia
Jenis kelamin
Kesehatan anak-anak
Latar belakang etnis/budaya keluarga
Pendidikan
Status perkawinan
Pekerjaan
Jabatan
Pendapatan orang tua.

Orang tua juga diminnta untuk melengkapi Indeks stress Orang tua(PSI)
sebelum dan setelah diintervensi perawatan krisis
o Terdiri dari 101 item yang mengukur kompetensi dan stres orangtua.
o PSI ini dirancang untuk mengidentifikasi sistem orangt ua-anak yang berada di
bawah stres dan berisiko untuk pengembangan penganiayaan anak
o Item pada PSI yang dinilai pada skala Likert lima poin
mulai dari "sangat setuju" untuk "sangat tidak setuju."
o Domain subskala anak-anak adalah:
Adaptasi
Penerimaan
Tuntutan
Mood
Penolakan
o Domain subskala orang tua adalah:
Depresi
Kasih sayang/cinta
Isolasi sosial
Pasangan (hubungan mitra)
Kesehatan

3. Sample
o Keluarga dalam penelitian ini adalah yang disebutkan melalui penggunaan
hotline yang dipublikasikan dengan baik oleh lembaga pelayanan manusia.
o Populasi untuk penelitian ini adalah seluruh keluarga yang tinggal dalam
empat kabupaten di barat tengah yang didominasi pedesaan.
o Para etnis dasar populasi penelitian adalah Jerman, Irlandia, dan Inggris,
dengan komposisi rasial dari 97% Putih, 1,2% Afrika Amerika, 1,5% Hispanik,
dan 0,12% penduduk asli Amerika.
o Tingkat kelulusan sekolah tinggi untuk penduduk negara 'adalah 71,5%,
dengan 10% dari keluarga yang tidak memilikipekerjaan.
o 150 keluarga dan 269 anak-anak yang menerima program krisis perawatan,
dari jumlah ini ada:
127 keluarga (85%)
114 (90%) melengkapi form demografi/kesehatan
119 (94%) melengkapi prestes PSI
2 (2%) yang melengkapi postest PSI, dikarenakan adalah tidak
tersedianya subjek untuk menyelesaikan postest karena sifat trasien
dari gaya hidup mereka
221 anak yang ikut berpartisipasi
B. Hasil
1. Demografi
Orang tua yang sakit / kecelakaan adalah alasan untuk 43% (n = 55)
dari semua penerimaan perawatan anak krisis, dan kekerasan dalam rumah
tangga 13% dari penerimaan (n = 17). Yang paling sering tercatat sumber
rujukan orangtua untuk program perawatan anak krisis adalah agen lain
(79%, n = 100). Perawatan anak krisis juga disebut 66% (n = 84) dari semua
keluarga untuk lembaga-lembaga lain guna layanan dukungan tambahan.
Anak-anak biasanya masih sangat kecil (54% [n = 119] lebih muda dari 3
tahun) dan banyak yang saat ini sedang sakit atau memang sakit kronis
(46%, n = 102). Terlebih 20% (n = 44) dari anak-anak saat ini tidak memiliki
dokter keluarga, 16% (n = 35) tidak diimunisasi, kira-kira 11% (n = 24) berada
di bawah persentil ke-10 pada grafik pertumbuhan standar fisik, dan 4,5% (n
= 10) diduga merupakan korban penganiayaan anak.
Data demografi pada dasarnya menggambarkan potret kerugian
ekonomi (Tabel 1). Sebuah persentase yang besar (58%, n = 74) melaporkan
pendapatan tahunan kurang dari $ 6.000. Klasifikasi penggambaran diri
tetang pekerjaan orang tua utamanya adalah blue collar (70% dari ibu dan
84% dari ayah), dan total sampel memiliki tingkat pengangguran lebih besar
(12% untuk ibu dan 16% untuk ayah).

2. Indeks Stres Pengasuhan (Parenting stress index)


Rata-rata skor Total Stres adalah 255,90, pada titik puncak dari kisaran
stres yang tinggi ( 260) (Tabel 2). Itu berarti skor Child Domain (114,96) dan
skor Parent Domain (140,97).
Kisaran skor pada Child Domain dan Parent Domain normalnya
rendah, serta skor total stress yang normalnya tinggi dapat berhubungan
dengan tidak terlibatnya orang tua dan representative hasil tipe II negatif
palsu, terkait dengan orang tua yang memiliki sedikit investasi dalam peran
orangtua dan keterlibatan minimal dengan anak-anak mereka (Abidin, 1990).
Subskor Child Domain yaitu, skor total kelompok untuk penerimaan anak
(14,41) dan mood anak (11.94). Selain itu, dua temuan di subskor Parent
Domain mendukung kemungkinan hasil Tipe II negative palsu berhubungan
dengan orang tua yang tidak terlibat.
Total kelompok skor rata-rata untuk Attachment (13,59) dan Isolasi
Sosial (15.92) keduanya di bawah peringkat persentil ke 15 dari kisaran
normal. Skor ini menunjukkan bahwa orang tua memiliki tingkat keterikatan
yang rendah dengan anak mereka dan juga mereka terisolasi secara sosial.
Karena orang tua terlepas dari keadaan hidup mereka, kterkaitan orang tua
ke anak dan isolasi sosial kemungkinan besar tidak mewakili stres yang
meraka rasakan. Abidin (1990) melaporkan bahwa ketidakterlibatan orang tua
sering menyebabkan anak cemas yang menunjukkan tanda-tanda awal dari
disfungsi psikologis. Anak-anak ini juga mencatat pernah menopang cedera
yang lebih antara usia 2 dan 4 tahun, yang ditafsirkan sebagai kewaspadaan
yang rendah dan kurang pengawasan oleh orang tua.
Mean skor Stres Hidup sangat tinggi yaitu 34,58 (SD = 7.48), nilai di
atas 17 adalah indikasi tinggi stres. Seperti dijelaskan sebelumnya, nilai ini
merupakan indeks jumlah stres luar hubungan orangtua-anak. Perlu dicatat
bahwa orangtua yang dalam keadaan situasi stress sering di luar kendali
mereka, seperti kematian keluarga atau kehilangan pekerjaan (Abidin, 1990).
Mean skor total Stres untuk kelompok total dan beberapa karakteristik
demografi kelompok itu diperiksa untuk menentukan adanya hubungan yang
signifikan. Tidak ada hubungan yang signifikan ditemukan antara skor total
Stres dan salah satu karakteristik demografi yang diukur meliputi : provokasi
dari kebutuhan, usia ibu, pendidikan ibu, pendudukan ibu, pendapatan ibu,
penyakit orang tua, anak saat sakit, atau anak yang sebelumnya sakit.
Analisis lebih lanjut juga tidak memberikan bukti hubungan antara faktor
demografis yang diidentifikasi dengan skor Stres Kehidupan.

3. Insiden Penganiayaan Anak yang Dilaporkan


Negara dengan program melaporkan penurunan 13% pada kejadian
penganiayaan anak selama periode setelah pelaksanaan program perawatan
anak krisis, sedangkan lainnya mengalami penurunan 0% selama periode
yang sama. Perbandingan kejadian dilaporkan penganiayaan anak antara
negara dengan dan tanpa krisis perawatan anak menunjukkan penurunan
yang signifikan.(Tabel 3).

Faktor-faktor yang bisa menjelaskan perbedaan dalam kejadian


penganiayaan anak diperiksa untuk dilaporkan dampaknya terhadap temuan
ini. Pertama, jumlah program pencegahan disponsori oleh negara untuk
Pencegahan Pelecehan Anak tetap konstan selama periode penelitian.
Kedua, ada tidak terjadi perubahan prosedur pelaporan apapun di
Department of Human Services penganiayaan anak atau pengawas baru
Departemen Human Services selama penelitian. Namun, variabel lain yang
tidak diukur pun bisa memiliki dampak pada menurunnya catatan ini.
C. Analisis
Sebuah data demografi menggambarkan sebuah potret dari
kelemahan ekonomi, masalah kesehatan, dan lembaga dukungan sosial
lainnya yang digunakan saat ini. Persentase dari orang tua yang berupaya
untuk berpartisipasi dalam Crisis Nursery Program melaporkan bahwa
pendapatan tahunannya kurang dari $6000, jauh dibawah tingkat kemiskinan.
Crisis Nursery (CN) didefinisikan sebagai fasilitas yang dilisensikan oleh
Departemen, yang menyediakan perawatan jangka pendek yaitu 24 jam
perawatan non medis dan pengawasan untuk anak-anak di bawah enam
tahun, yang baik secara sukarela ditempatkan untuk perawatan sementara
oleh orang tua atau wali karena krisis keluarga atau situasi stres (tidak lebih
dari 30 hari), atau yang sementara ditempatkan oleh daerah tempat
tinggalnya oleh agen layanan kesejahteraan, yang tersedia gratis untuk
keluarga selama keadaan darurat.
Kerugian dari krisis ini dapat berpengaruh pada kesehatan anak-anak,
yaitu 20% dari anak-anak tidak memiliki dokter keluarga dan 16% tidak
melakukan imunisasi. Selain itu, banyak dari anak-anak yang sedang sakit
atau sakit kronis (46%) dan 4,5% diduga korban penganiayaan.
Penemuan yang paling luar biasa dari analisis PSI adalah rata-rata
yang tinggi pada skala Life Stress. Temuan ini memvalidasi persepsi orang
tua bahwa mereka dalam situasi krisis dan membutuhkan pelayanan
langsung. Selain itu, total Score Test juga termasuk dalam kisaran tinggi.
Ketika skor dari dua sub-skala ini sama-sama tinggi, maka hal tersebut
mengindikasikan perlunya bantuan layanan profesional (Abidin, 1990)
Tidak ada hubungan yang signifikan antara Total Score Stress atau
The Life Stress Score dan salah satu dari karakteristik demografi. Satu
penjelasan yang mungkin bahwa faktor demografi merupakan konstanta
dalam kehidupan masyarakat. Keluarga-keluarga ini sangat rentan untuk
mendapatkan stressor situasional eksternal karena mereka kekurangan baik
material dan sumber daya emosional untuk menghadapi kejadian tak terduga.
Sebuah hubungan linear yang kuat ditemukan antara Child Domain
score dan The Parent Domain Score (r = 0,82). Tidak ada bukti yang
ditemukan dari hubungan antara Total Score Stress dan The Life Stress
Score. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas stressor yang dialami
keluarga berasal dari luar atau eksternal, dan akibatnya keluarga yang sudah
mengalami cukup tinggi stres internal, cenderung menarik diri untuk
menghadapi krisis eksternal. Tidak ada yang signifikan dari temuan antara
Child Domain score dan The Parent Domain Score pada PSI, dimana temuan
ini menunjukkan bahwa mayoritas kelompok ini merasakan krisis terkait
dengan stres situasional yang eksternal untuk keluarga.
Secara keseluruhan, keluarga dalam penelitian ini ditampilkan untuk
menghadapi tingkat stres yang intrafamilial dari menengah sampai tinggi
setiap hari dan untuk menghadapi kesulitan ekonomi dan masalah kesehatan.
Namun, ketika mereka dihadapkan dengan stressor ekstrenal yang tak
terduga, mereka berada di posisi yang kurang menguntungkan. Selama
situasi krisis ini layanan keluarga yang dicari adalah perawatan krisis untuk
anak dengan tujuan untuk memberikan perawatan yang aman untuk anak-
anak. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua khawatir tentang kesejahteraan
anak-anak mereka, tetapi mereka tidak memiliki dukungan sosial yang cukup
untuk membantu mereka dalam perawatan anak-anaknya. Program
perawatan krisis anak yang sering hanya jaringan pengaman yang membuat
banyak klien memiliki akses atau merasa menggunakan dengan nyaman.
Program perawatan krisis anak merupakan bentuk dukungan sosial.
Studi ini menambahkan dukungan umum yang berspekulasi bahwa
ketersediaan dukungan sosial bagi keluarga yang berisiko mengalami krisis
dapat menurunkan laporan terhadap penganiayaan anak. Namun, jarak
demografi yang lebih besar dengan masuknya pusat perkotaan untuk lebih
menguji efektivitas Crisis Nuseries dalam mengurangi insiden pelaporan
terhadap penganiayaan anak. Selain itu, statistik untuk kejadian pelaporan
penganiayaan anak akan mendapat manfaat dari pemeriksaan langsung dari
penganiayaan anak untuk menentukan tingkat keaktualitasan darei
penganiayaan di kalangan keluarga yang memanfaatkan layanan ini.
KESIMPULAN
Perawatan kesehatan anak dapat diakses dengan mudah, kelompok
dukungan keluarga, kelas manajemen stres, dan intervensi pendidikan orang tua
sangat diindikasikan untuk klien di program ini. Program perawatan krisis anak yang
sering hanya jaringan pengaman yang membuat banyak klien memiliki akses atau
merasa menggunakan dengan nyaman. Mereka mewakili klien yang paling
membutuhkan dan yang berisiko dan merupakan sumber daya penting bagi perawat
untuk mengakses atau melakukan secara kooperatif untuk mengurangi risiko
terhadap klien yang berisiko. Selain itu, perawat di berbagai setting harus
menetapkan diri mereka sebagai profesional yang berafiliasi dengan program ini.
Asuhan keperawatan yang terjadi di antara setting perawatan sangat penting untuk
keefektifan intervensi keperawatan dengan keluarga berisiko. Juga, merupakan
waktu yang penting bagi perawat untuk memperluas jaringan komunitasnya untuk
mengakses sumber terkait keluarga yang berisiko dan menyediakan panduan bagi
pembuat kebijakan lokal mengenai jenis dan prioritas pencegahan upaya
penganiayaan anak yang layak didukung.