Anda di halaman 1dari 26

KONSERVASI DAERAH ALIRAN SUNGAI KAPUAS

OLEH:

BUDI DARMAWAN
D1091141016
REZA AKBAR VELAYATIE
D1091141015
RYOLLA ZATA QISTHINA
D1091141023

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


JURUSAN SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA

2015
PENDAHULUAN

Provinsi Kalimantan Barat merupakan Provinsi yang dijuluki Provinsi


Seribu Sungai. Julukan ini selaras dengan kondisi geografis Kalimantan Barat
yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil. Di Kalimantan Barat sendiri
memiliki 5(lima) wilayah sungai, yaitu wilayah sungai kapuas, wilayah sungai jelai
kendawangan, wilayah sungai pawan, wilayah sungai mempawah, dan wilayah
sungai sambas. Wilayah sungai Kapuas merupakan wilayah sungai terbesar yang
ada di Provinsi ini. Wilayah sungai Kapuas ini sendiri memiliki 9 DAS didalamnya
dan DAS Kapuaslah yang menjadi DAS terluas di wilayah sungai ini.

Menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air,


Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu
kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung,
menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke
laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografi dan batas di
laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktifitas daratan.
Sedangkan menurut Asdak (1995) Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah daerah
yang di batasi punggung-punggung gunung dimana air hujan yang jatuh pada
daerah tersebut akan ditampung oleh punggung gunung tersebut dan akan
dialirkan melalui sungai-sungai kecil ke sungai utama.

DAS juga merupakan ekosistem dimana unsur organisme dan lingkungan


biofisik serta unsur kimiawi berinteraksi secara dinamis dan didalamnya terdapat
keseimbangan sirkulasi dari material dan energi. Ekosisitem DAS, terutama DAS
di bagian hulu sangat penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap
keseluruhan dari bagian DAS.

DAS Kapuas melewati 6 Kabupaten dan 1 Kota, diantaranya Kabupaten


Kapuas Hulu, Kabupaten Melawi, Kabupaten Sintang, Kabupaten Sekadau,
Kabupaten Sanggau, Kabupaten Landak, Kabupaten Kubu Raya dan Kota
Pontianak. Sungai Kapuas ini merupakan sumber air baku dari sebagian besar
kabupaten dan kota di Kalimantan Barat. Namun, sangat disayangkan keadaan
DAS Kapuas saat ini dalam keadaan yang buruk. Tingkat pencemaran yang tinggi
menyebabkan sumber air baku utama di Kalimantan Barat ini dapat dikatan tidak
layak pakai. Hal ini menyebabkan perlu dilakukannya konservasi pada DAS
Kapuas ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI), konservasi adalah
pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah
kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan; pengawetan;
pelestarian.

GAMBARAN UMUM

Provinsi Kalimantan Barat memiliki luas wilayah mencapai 146.807,00 km2


(14,68 juta Ha) atau sekitar 7,53% dari luas Indonesia atau 1,13 kali luas Pulau
Jawa. Kalimantan Barat termasuk Provinsi terbesar keempat setelah pertama Irian
Jaya (421.891 km2), kedua Kalimantan Timur (202.440 km2) dan ketiga
Kalimantan Tengah (152.600 km2).

Wilayah ini membentang lurus dari Utara ke Selatan sepanjang lebih dari
600 Km dan sekitar 850 km dari Timur ke Barat. Di bagian Barat berbatasan
dengan Selat Karimata dengan lebar 400 km dan kedalaman perairan Laut Natuna
sampai dengan 200 m, sedangkan di bagian timur berbatasan dengan Provinsi
Kalimantan Timur dan Provinsi Kalimantan Tengah. Bagian Utara berbatasan
langsung dengan Sarawak (Malaysia Timur) dan Provinsi Kalimantan Timur,
sedangkan bagian selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan Provinsi Kalimantan
Tengah.

Kalimantan Barat secara astronomis berada pada posisi 20 05 LU serta 30


05 LS serta diantara 1080 30 - 1140 10 BT, dengan demikian garis khatulistiwa
(garis lintang 00) melintasi provinsi ini dan menjadikan Kota Pontianak sebagai
satu-satunya kota di Indonesia yang di atasnya tepat dilalui oleh garis tersebut.
Kalimantan Barat termasuk salah satu yang dijuluki Provinsi Seribu Sungai.
Beberapa sungai besar sampai dengan saat ini masih digunakan sebagai sarana
transportasi terutama ke daerah pedalaman. Sungai besar utama adalah Sungai
Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia (1.086 km), Sungai
Melawi (471 km), Sungai Sambas (233 km), Sungai Sekayam (221 km), dan
Sungai Pawan (197 km).

Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia dan di


Kalimantan Barat memiliki 5 wilayah sungai antara lain, Wilayah Sungai Kapuas,
Wilayah Sungai Jelai Kendawangan, Wilayah Sungai Pawan, Wilayah Sungai
Mempawah, dan Wilayah Sungai Sambas. Wilayah Sungai (WS) Kapuas sendiri
merupakan wilayah sungai yang terluas di Kalimantan barat ( 103.165,51 km2).

Secara geografis lokasi WS Kapuas terletak pada koordinat 2 00' LS - 2


00' LU dan 108 00' BT - 114 30' BT dengan luas sekitar 103.165,51 Km2. WS
Kapuas terdiri dari 9 daerah aliran sungai (DAS) yaitu : DAS Peniti Besar, DAS
Kapuas, DAS Sekh, DAS Bunbun, DAS Gandawalan, DAS Kelelawar, DAS
Penebangan, DAS Karimata, DAS Serutu, yang dapat dilihat dari tabel 1dibawah
ini.

Tabel 1
Luas Daerah Aliran Sungai Kapuas

No Nama Daerah Aliran Sungai Luas (Km2)

1 Peniti Besar 539,86

2 Kapuas 100.284,04

3 Sekh 391,3

4 Bunbun 675,81

5 Gandawalan 1.031,15

6 Kelelawar 14,74

7 Penebangan 22,49

8 Karimata 182,51

9 Serutu 23,61

Jumlah 103.165,51

Sumber : www.dsdan.go.id

Dari tabel diatas diketahui bahwa DAS Kapuas merupakan DAS terbesar
di Wilayah Sungai Kapuas dengan luas 100.284,04 Km2. Sementara itu, DAS
Kelelawar merupakan DAS terkecil yang hanya seluas 14,74 Km2. Luas Wilayah
Sungai Kapuas berdasarkan DAS yang ada adalah 103.165,51 Km2.
Wilayah Sungai Kapuas yang dari dari 9 (sembilan) DAS ini melewati
beberapa Kabupaten/Kota yang ada di Kalimantan Barat Seperti pada gambar 1
di bawah ini.

Gambar 1
Peta Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas
Sumber : www.dsdan.go.id
Dari gambar diatas, dapat dilihat bahwa Daerah Aliran Sungai Kapuas
melewati 9 kabupaten dan 1 kota, yaitu :

1. Kabupaten Kapuas Hulu, mencakup 25 kecamatan dengan luas 21.635


Km2,

2. Kabupaten Sintang, mencakup 14 kecamatan dengan luas 21.635 Km2,

3. Kabupaten Melawi, mencakup 11 kecamatan dengan luas 10.644 Km2,

4. Kabupaten Sekadau, mencakup 7 kecamatan dengan luas 5.444,30


Km2,

5. Kabupaten Sanggau, mencakup 15 kecamatan dengan luas 12.857,70


Km2,

6. Kabupaten Landak, mencakup 13 kecamatan dengan luas 9.252,36


Km2,

7. Kabupaten Kubu Raya, mencakup 9 kecamatan dengan luas 6.958,20


Km2,
8. Kabupaten Kayong Utara, mencakup 5 kecamatan dengan luas 4.377
Km2,

9. Kabupaten Mempawah, mencakup 9 kecamatan dengan luas 2.047,13


Km2,

10. Kota Pontianak, mencakup 6 kecamatan dengan luas 107,82 Km2.

KAJIAN PUSTAKA

Daerah Aliran Sungai (DAS) termasuk dalam sumber daya hayati,


sehingga konservasi DAS diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990
tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya. Menurut UU tersebut
dapat diketahui sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang
terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani
(satwa) yang bersama dengan unsur non hayati di sekitarnya secara keseluruhan
membentuk ekosistem. Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta
keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya
peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Konservasi
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan:
perlindungan sistem penyangga kehidupan; pengawetan keanekaragaman jenis
tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; dan pemanfaatan secara lestari
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

DAS memiliki definisi yang berbeda-beda dari setiap ahli. Menurut Linsley
(1949), DAS adalah daerah yang dialiri oleh suatu sistem sungai yang saling
berhubungan sedemikian rupa, sehingga aliran-aliran yang berasal dari daerah
tersebut keluar melalui aliran tunggal. Menurut Sri Harto (1993), DAS adalah
daerah yang semua alirannya mengalir ke dalam suatu sungai. Daerah ini
umumnya dibatasi oleh batas topografi, yang berarti ditetapkan berdasar aliran
permukaan. Menurut Christanto (1989) DAS adalah suatu areal yang airnya
dialirkan oleh sebuah sungai, dengan anak-anak sungainya. Suatu DAS dibatasi
dari DAS lainnya oleh punggung bukit yang letaknya lebih tinggi dari DAS tersebut.
Dan yang terakhir menurut Asdak (1995), Asdak mengemukakan bahwa DAS
adalah daerah yang dibatasi punggung-punggung gunung dimana air hujan yang
jatuh pada daerah tersebut akan ditampung oleh punggung gunung tersebut dan
dialirkan melalui sungai-sungai kecil ke sungai utama. Dari pengertian para ahli
tersebut dapat disimpulkan bahwa DAS adalah suatu wilayah ekosistem yang
dibatasi oleh topografi, memiliki outlet tunggal sebagai keluaran dan merupakan
suatu sistem sungai yang berfungsi sebagai daerah tangkapan, penyimpanan, dan
keluaran air, sedimen, dan energi.

DAS mempunyai ciri-ciri luas dan bentuk daerah, keadaan topografi,


kepadatan drainase, geologi dan elevasi rata-rata DAS (Subarkah, 1980).
Sedangkan keadaan fisik daerah aliran sungai dipengaruhi oleh tiga parameter
yaitu tanah, vegetasi dan sungai.

Faktor tanah meliputi luas DAS, topografi, jenis tanah, penggunaan tanah,
kadar air tanah dan kemampuan tanah menyerap air. Sedangkan vegetasi meliputi
jenis tanaman, kapasitas pengambilan air oleh tanaman, luasan hutan dan
kemampuan tanaman mengendalikan air. Sungai meliputi luas penampang
sungai, debit air sungai dan kapasitas penampungan sungai. Vegetasi menahan
sebahagian hujan yang jatuh, sebahagiannya lagi jatuh di permukaan tanah. Jika
kapasitas intersepsi, infiltrasi dan bagian yang cekung telah terpenuhi, maka akan
terjadi proses aliran permukaan yang menyebabkan erosi (Subarkah, 1980).

Karena DAS dianggap sebagai suatu sistem, maka dalam


pengembangannyapun DAS harus diperlakukan sebagai suatu sistem. Dengan
memperlakukan sebagai suatu sistem dan pengembangannya bertujuan untuk
memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan, maka sasaran pengembangan
DAS akan menciptaka ciri-ciri yang baik sebagai berikut:

1. Mampu memberikan produktivitas lahan yang tinggi. Setiap bidang


lahan harus memberikan produktivitas yang cukup tinggi sehingga dapat
mendukung kehidupan yang layak bagi petani yang
mengusahakannnya.
2. Mampu mewujudkan, pemerataan produktivitas di seluruh DAS.
3. Dapat menjamin kelestarian sumberdaya air. (Agus, dkk., 2007).

Menurut Sosrodarsono dan Tekeda (1982), bahwa bentuk daerah aliran


sungai terbagi menjadi tiga macam, yaitu: DAS berbentuk bulu burung mempunyai
debit banjir yang kecil, karena waktu tiba banjir berbeda-beda dan banjir
berlangsung agak lama; DAS yang berbentuk radial, mempunyai debit banjir
yang besar di dekat pertemuan anak-anak sungainya.; DAS yang berbentuk
paralel, banjir akan terjadi di daerah sebelah hilir titik pertemuan sungai.

DATA

1. DAS Kritis

Menurut Keputusan Direktur Jenderal Bina Pengelolaan Das Dan


Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan Nomor Sk.4/V-Das/2015 Tanggal 29
Januari 2015 Tentang Penetapan Peta Dan Data Hutan Dan Lahan Kritis Nasional
Tahun 2013, lahan yang terluas di DAS Kapuas tergolong dalam kategori
berpotensial kritis dengan luas lahan mencapai 9.838.301 ha atau sekitar 69% dari
total lahan seluruhnya. Untuk lebih jelasnya lihat pada Tabel 2 dibawah ini.

Tabel 2
Luas Hutan Dan Lahan Kritis Nasional Tahun 2013 Per Balai Pengelolaan Das
KRITERIA KRITIS (HA)
NO BPDAS TIDAK POTENSIAL AGAK SANGAT
KRITIS
KRITIS KRITIS KRITIS KRITIS
1 Krueng Aceh 936.202 2.954.772 676.153 273.922 98.257
2 Wampu Sei Ular 860.393 767.050 1.015.478 332.477 151.573
3 Asahan Barumun 1.652.025 961.361 1.003.381 722.641 220.992
4 Agam Kuantan 336.116 1.605.802 226.221 14.059 533
5 Indragiri Rokan 949.256 3.940.629 3.286.374 2.065.884 305.854
6 Batanghari 895.943 1.031.839 2.400.728 534.914 444.186
7 Musi 4.403.764 2.449.684 1.568.309 186.892 12.737
8 Ketahun 17.176 751.765 503.068 626.701 99.983
9 Way Seputih Sekampung 1.889.778 1.140.113 522.329 160.547 90.229
10 Kepulauan Riau 5.193 216.529 265.889 224.031 114.177
11 Baturusa Cerucuk 41.062 426.619 987.733 155.388 60.720
12 Citarum Ciliwung 1.186.192 933.737 800.175 234.174 29.015
13 Cimanuk Citanduy 18.204 114.144 545.338 401.547 665.730
14 Pemali Jratun 1.222.561 339.217 114.037 19.890 1.902
15 Serayu Opak Progo 511.325 371.633 269.900 63.610 864
16 Solo 702.722 551.551 631.754 76.847 805
17 Brantas 1.358.341 295.143 184.072 79.356 64.015
18 Sampean 441.894 682.975 281.615 75.775 25.268
19 Kapuas 709.946 9.838.301 2.779.565 752.711 106.864
20 Kahayan 876.770 3.573.916 2.379.589 4.309.675 326.974
21 Barito 465.016 3.845.023 2.563.563 1.053.981 181.070
22 Mahakam Berau 2.652.571 7.324.048 8.731.225 1.023.389 76.359
23 Unda Anyar 259.334 141.805 112.352 43.087 2.910
24 Dodokan Moyosari 111.131 1.275.700 400.730 154.358 23.219
25 Benain Noelmina 759.024 1.234.509 1.694.025 942.976 17.878
26 Tondano 46.363 485.557 589.613 263.125 33.972
27 Bone Bolango 121.889 406.204 395.651 110.201 202.978
28 Palu Poso 2.934.523 2.047.968 929.234 416.200 60.738
29 Lariang Mamasa 81.950 1.012.292 186.594 337.649 1.642
30 Saddang 323.609 653.111 922.201 273.745 95.792
31 Jeneberang Walanae 765.069 172.084 850.005 11.636 275.834
32 Sampara 61.292 933.984 1.577.522 728.150 273.338
33 Ake Malamo 93.809 1.303.660 1.333.395 322.948 97.153
34 Waehapu Batu Merah 612.775 1.562.842 1.716.987 471.015 257.761
35 Remu Ransiki 775.156 7.642.209 1.484.968 152.873 51.004
36 Memberamo 26.406.336 639.477 1.948.693 1.948.536 266.057
T O T A L 55.484.709 63.627.253 45.878.468 19.564.911 4.738.383

2. Tutupan Lahan
Menurut Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah III Pontianak, Tutupan
lahan yang dominan di DAS Kapuas adalah hutan di bagian hulu dan pertanian
lahan kering campur semak di bagian hilir. Intensitas pengelolaan lahan juga
cukup berbeda di masing-masing bagian sub-DAS, dimana pada bagian hilir
bersifat lebih intensif dengan pertanian dan perladangan dan di bagian hulu
pengelolaannya lebih bersifat ekstensif melalui pemanfaatan hasil hutan baik kayu
maupun non kayu. Dewasa ini, wilayah hutan di dalam DAS Kapuas terancam
semakin berkurang akibat adanya kebakaran, penebangan dan penambangan liar.
Adanya gangguan terhadap ekosistem di dalam DAS Kapuas ini dapat berdampak
pada fungsi hidrologi DAS, terutama dalam hal volume dan kualitas air.
Keberadaan sungai Kapuas baik sebagai sarana perhubungan maupun
pendukung kehidupan sehari-hari sangat penting untuk dijaga kestabilannya,
sehingga masyarakat yang tinggal di sekitar sungai tetap dapat memanfaatkan
secara maksimal.

Menurut Departemen Kehutanan, Kawasan Hutan dan Perairan Propinsi


Kalimantan Barat yang ditetapkan berdarsarkan Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor 259/Kpts-II/2000 tanggal 23 Agustus 2000 adalah seluas 9.178.759 Ha.
Kawasan hutan ini terdiri dari kawasan Hutan Konservasi, Hutan Lindung dan
kawasan Hutan Produksi dengan perincian luas dalam Tabel 3 dibawah ini.
Tabel 3.
Luas Kawasan Hutan Kalimantan Barat
Fungsi Kawasan Luas (Ha) Persen Luas (%)
Kawasan Hutan Konservasi (HAS & 1.645.579 ha 17,93 %
HPA)
Kawasan Hutan Lindung (HL) 2.307.045 ha 25,13 %
Kawasan Hutan Produksi 5.226.135 ha 56,94 %
- Hutan Produksi Terbatas (HPT) 2.445.985 ha 26,65 %
- Hutan Produksi Tetap (HP) 2.265.800 ha 24,69 %
- Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi 514.350 ha 5,60 %
(HPK)
Luas Keseluruhan 9.178.759 ha 100 %

Kawasan Konservasi terdiri dari Cagar Alam (CA), Suaka Margasatwa


(SM), Taman Nasional (TN), Taman Wisata Alam (TW), Taman Hutan Raya (THR)
dan Taman Buru (TB). Hutan Konservasi adalah hutan dengan ciri khas tertentu,
yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan
satwa serta ekosistemnya.

Di Propinsi Kalimantan Barat, Hutan Konservasi yang telah ditunjuk dan


ditetapkan adalah sejumlah 4 unit Cagar Alam (satu diantaranya adalah Cagar
Alam Laut), 1 unit Suaka Margasatwa, 4 Unit Taman Nasional dan 2 unit Taman
Wisata seperti rincian pada tabel 4 berikut:

Tabel 4
Kawasan Konservasi Kalimantahn Barat

No Nama Kawasan Kabupaten Fungsi Luas (ha) SK Penetapan


1 Lo Pat Fun Pi Sambas CA 8 Ha ZB.1 23 Maret 1936
2 Mandor Pontianak CA 2.000 Ha ZB.8.15 16 Apr 1937
3 Gunung Raya Sambas CA 3.700 Ha 111/Kpts-II/1990
Pasi 14 Maret 1990
4 Kep. Karimata Ketapang CA 77.000 Ha 381/Kpts-II/1985 14
Laut Maret 1990
5 Gunung Nyiut Pontianak/ SM 180.000 524/Kpts/Um/4/1982
Perinsen Sambas Ha 21 Januari1982
6 Gunung Palung Ketapang TN 90.000 Ha 448/Menhut/VI/90 3
Juni 1990
7 Betung Kerihun Kapuas TN 800.000 467/Kpts-II/95 5
Hulu Ha September 1995
8 Bukit Baka- Sintang TN 181.090 281/Kpts-II/92 26
Bukit Raya Kasongan Ha Pebruari 1992
9 Danau TN 132.000 34/Kpts-II/99 4
Sentarum Ha Pebruari 1999
10 Baning TW 315 Ha 129/Kpts-II/1990 1
Januari 1990
11 Gunung Kelam Sintang TW 520 Ha 594/Kpts-II/1992 6
Juni 1992

3. Daerah Tangkapan dan Resapan atau Penyangga air

Taman Nasional Bukit Baka - Bukit Raya merupakan gugusan pegunungan


yang membentang membatasi wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Rantai pegunungan Schwaner tersebut merupakan daerah tangkapan air utama
untuk Sungai Kapuas di Kalimantan Barat dan Sungai Katingan di Kalimantan
Tengah.

4. Erosi Lahan dan Sedimentasi Sungai

Tabel 5.
Pengukuran erosi dan konsentrasi sedimen di Taman Nasional Betung Kerihun
Catchment Luasan (Km2) Erosi (ton/Ha/Tahun) Konsentrasi Sedimen (mg/l)
Mendalam 1685 Tahun 1986-2004 : 2 Tahun 1986-2004 : 25
Tahun 2005 : 3 Tahun 2005 : 31
Sibau 1472 Tahun 1986-2004 : 2 Tahun 1986-2004 : 6
Tahun 2005 : 4 Tahun 2005 : 9
Kapuas 5992 Tahun 1986-2004 : 1 Tahun 1986 2004 :5
Koheng Tahun 2005 : 2 Tahun 2005 : 9
Sumber: Dinas Kehutanan, 2006
Tabel 5 menyajikan beberapa pengukuran erosi tanah dan sedimentasi di
beberapa titik di Kapuas Hulu. Pengukuran sedimentasi di sekitar Taman Nasional
masih dibawah ambang sebagaimana yang direkomendasikan oleh WHO yaitu
1500 mg/l (Widjarnarto A.B. et al, 2005). Hal ini dapat terjadi karena titik
pengukuran dilakukan berbatasan dengan kawasan taman nasional. Angka ini
menunjukkan bahwa sampai tahun 2005, Taman nasional telah berperan baik
dalam menjaga fungsi DAS. Namun demikian, masih terjadi peningkatan erosi dan
sedimentasi dari tahun 2004 ke tahun 2005. Berkurangnya tutupan hutan
dikatakan menjadi penyebab meningkatnya sedimentasi, erosi, dan berkurangnya
debit sungai.

5. Kualitas Air

Penurunan kualitas air sungai merupakan awal dari pencemaran sungai


yang disebabkan oleh terjadinya erosi lahan kritis, limbah rumah tangga, limbah
industri, limbah pertambangan dan limbah perkebunan.

Berdasarkan pengukuran yang dilakukan tim Bapedalda dan supplier


peralatan, kadar oksigen terlarut di Sungai Kapuas sebesar 4,98 miligram per liter,
dengan pH 4, 68, kepadatan terlarut 24,6 miligram per liter, kecepatan 1,6 meter
per detik, tingkat kekeruhan air 22,1 KTU, saturasi 65,3 % , kadar polutan terlarut
29,6 miligram per liter, dan daya hantar listrik atau konduktivitas sebesar 62,9
mikron per meter. Pencemaran di daerah aliran sungai (DAS) Kapuas selama ini
merupakan akibat pengaruh aliran hulu ke hilir, kandungan merkuri akibat aktivitas
penambangan emas tanpa izin (PETI), limbah rumah tangga dan industri.

ANALISIS DATA

1. DAS Kritis

Kementerian Kehutanan telah menetapkan lahan kritis dalam suatu DAS


yang kemudian disebut dengan DAS Kritis yang dapat dikelompokkan menjadi:
tidak kritis; potensial kritis; agak kritis; kritis; dan sangat kritis.

Hampir semua Kabupaten yang berada di WS Kapuas terdapat lahan


dengan kategori agak kritis dengan luasan sangat tinggi dan terdapat lahan
dengan kategori kritis dengan luasan cukup tinggi, namun untuk kategori sangat
kritis hanya terdapat pada 3 (tiga) Kabupaten, yaitu Kabupaten Melawi,
Kabupaten Sekadau dan Kabupaten Sintang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada Gambar 2, Tabel 6, Tabel 7 dan Tabel 8.

WS Kapuas

Sumber : Badan Pengelolaan DAS Kalimantan Barat , 2010


Gambar 2
Peta lahan kritis WS Kapuas

Tabel 6
Luasan tingkat kritis WS Kapuas

Tingkatan Luas (ha) %


Sangat Kritis 181.944,59 1 ,76%
Kritis 1.608.884,70 15 ,54%
Agak Kritis 4.387.196,06 42 ,39%
Potensial Kritis 31 ,52%
Tidak Kritis 795.844,68 7 ,69%
No data 114.522,64 1 ,11%
JUMLAH 10.316.551,00 100,00 %
Sumber: Hasil Analisis Data Tahun 2010
Tabel 7
Luasan tingkat kritis berdasarkan fungsi kawasan

Tidak Sangat Potensial Tidak Kritis Agak Grand


Fungsi
No. Kritis Kritis Kritis Terdata (Ha ) Kritis Total
Kawasan
(Ha ) (Ha ) (Ha ) (Ha ) (Ha ) ( Ha )
1 Air 114.523 114.523
2 Budidaya 10.927 1.698 523.877 1.841.192 2.377.694
APL
3 Kawasan 19.514 29.622 2.133.463 189.393 687.235 3.059.227
Hutan
4 Lindung APL 776.330 141.396 1.127.074 895.615 1.858.769 4.799.183
Grand Total 795.845 181.945 3.262.235 114.523 1.608.885 4.387.196 10.316.551
Sumber: Hasil Analisis Data Tahun 2010

Tabel 8
Luasan tingkat kritis lahan berdasarkan kabupaten
No Kabupaten/ Kota Tidak Kritis Sangat Kritis Potensial Kritis No data Kritis Agak Kritis Grand Total
( Ha ) ( Ha ) (Ha) ( Ha ) ( Ha ) ( Ha ) ( Ha )
1 KAPUAS HULU 273.958,81 32.423,11 1.570.586,13 284.077,08 975.909,81 3.136.954,95
2 KOTA 0,04 7.530,90 3.527,97 11.058,91
PONTIANAK
3 KUBU RAYA 156.810,50 880,16 230.847,05 154.501,05 290.616,81 833.655,57
4 LANDAK 29.531,89 3.587,63 130.130,23 181.437,81 361.093,82 705.781,39
5 MELAWI 9.317,54 79.318,24 240.035,32 206.930,71 469.884,61 1.005.486,41
6 PONTIANAK 13.610,69 3,77 5.066,25 3.157,22 16.478,36 38.316,29
7 SANGGAU 90.227,12 2.495,19 242.717,58 266.782,74 665.685,45 1.267.908,09
8 SEKADAU 4.301,31 22.897,50 96.448,88 98.955,08 338.621,38 561.224,14
9 SINTANG 57.397,12 40.085,96 599.945,59 338.699,48 1.189.779,37 2.225.907,53
10 KAYONG UTARA 49.055,93 206,94 63.919,83 39.564,90 23.868,27 176.615,87
11 KETAPANG 111.633,75 29,32 77.955,15 13.971,71 48.930,53 252.520,46
12 BENGKAYANG 16,77 4.582,53 13.276,03 2.462,79 20.338,12
No Data 114.522,64 336,88 114.859,52
Grand Total 795.844,68 181.944,59 3.262.234,59 114.522,64 1.608.884,70 4.387.196,06 10.316.551,00
Sumber: Hasil Analisis Data

No. 1 10 yang termasuk WS Kapuas


Tingkat kekritisan lahan pada WS Kapuas cenderung Agak Kritis (42,39 %
dari luasan total), namun beresiko kritis (31,52 %) sedangkan areal yang sudah
dalam tahap kritis mencapai 15,54 %, ini bisa disimpulkan bahwa tingkat kritis
lahan pada WS Kapuas sudah memprihatinkan, dan perlu penanganan yang lebih
serius.

Penanganan DAS Kritis telah dilakukan oleh Balai Pengelolaan DAS


(BPDAS) bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat,
namun mengingat keterbatasan dana, maka penanganannya dilakukan secara
bertahap dengan prioritas pada lahan dengan kategori sangat kritis.

Target/sasaran yang ingin dicapai yaitu pemulihan lahan menjadi DAS


yang tidak kritis dengan cara rehabilitasi hutan dan lahan kritis secara bertahap
sampai dengan 20 (dua puluh) tahun kedepan dengan target seluruh luas lahan
kritis dan perlu ada pencanangan kebijakan pemerintah daerah baik di tingkat
Provinsi, Kabupaten/Kota tentang upaya terpadu untuk pemulihan lahan atau DAS
Kritis.

2. Tutupan Lahan

Berdasarkan tinjauan terhadap data yang diperoleh berupa peta tutupan


hutan di Provinsi Kalimantan Barat (Sumber: Balai Pemantapan Kawasan Hutan),
dapat diuraikan sebagai berikut:

a. hutan lindung dan hutan suaka alam (Taman Nasional) terdapat dibagian
hulu sungai Kapuas di Kabupaten Kapuas, di bagian hulu anak-anak
sungai di Kabupaten Sintang, Kabupaten Melawi, dan Kabupaten
Sanggau.
b. hutan produksi (terbatas, tetap dan konversi) terdapat di semua Kabupaten
yang berada di WS Kapuas.

Tutupan hutan pada suatu daerah atau lahan berperan penting dalam
mengupayakan peningkatan penyerapan atau infiltrasi air ke dalam tanah serta
memperkecil aliran air permukaan (run off), hal ini termasuk dalam upaya
konservasi sumber daya air secara berkelanjutan. Artinya kondisi daerah atau
lahan yang memiliki tutupan hutan yang semakin luas akan lebih terjamin
ketersediaan sumber-sumber airnya.
Secara alami, tutupan lahan dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu:

a. tutupan lahan permanen, meliputi hutan lindung, hutan suaka alam atau
Taman Nasional;dan
b. tutupan lahan nonpermanen, meliputi; hutan produksi (terbatas, tetap dan
konversi), hutan rakyat.

Apabila ditinjau dari penutupan lahannya, maka hutan produksi (terbatas,


tetap dan konversi) kondisinya tidak selalu tertutup karena ada proses
penebangan, pengolahan lahan, penanaman kembali, sehingga fungsi sebagai
daerah tangkapan dan resapan atau penyangga air (recharge) akan lebih baik
hutan lindung dan hutan suaka alam (taman nasional) yang kondisinya selalu
tertutup permanen.

Upaya mempertahankan luas hutan, pemeliharaan dan rehabilitasi hutan


sesuai fungsinya tetap menjadi hal penting yang harus dilakukan pada WS Kapuas
sebagai upaya konservasi sumber daya air, khususnya dalam menjamin
keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan, memenuhi kebutuhan
hidup manusia serta mendukung berbagai kegiatan manusia di muka Bumi. Luas
tutupan lahan di WS Kapuas dapat dilihat pada Gambar 3 dan Tabel 9.

WS Kapuas

Sumber : Badan Pengelolaan DAS (BPDAS) Kalimantan Barat Tahun 2010

Gambar 3
Peta tutupan lahan WS Kapuas
Berdasarkan uraian Tabel 9 di bawah ini, secara umum prosentase luasan
tutupan hutan, khususnya hutan permanen (hutan lindung dan hutan suaka alam
atau taman nasional) telah memenuhi ketentuan yang terdapat dalam Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan
Ruang, yaitu lebih besar dari 30% luas WS Kapuas.

Tabel 9
Luasan penutupan lahan pada WS Kapuas

No. Penutupan Lahan Luas (Ha) %

1 Hutan Primer 2.772.965,30 26 , 88


2 Hutan Sekunder 1.094.587,38 10 , 61
3 Kebun Campuran 3.430.962,89 33 , 26
4 Lahan Terbuka 2.738,24 0 , 03
5 Mangrove 120.673,76 1 , 17
6 Perkebunan 311.749,63 3 , 02
7 Permukiman 47.511,82 0 , 46
8 Pertambangan 1.493,42 0 , 01
9 Rawa 1.124.268,36 10 , 90
10 Sawah 170.422,23 1 , 65
11 Semak/Belukar 1.000.773,53 9 , 70
12 Tambak/Empang 2.019,22 0 , 02
13 Tanah Terbuka 189.239,51 1 , 83
14 Tegalan/Ladang 33.298,79 0 , 32
15 Tubuh Air 115.418,83 1 , 12
JUMLAH 10.316.551,00 100,00
Sumber: Hasil Analisis Data Tahun 2010

3. Cekungan Air Tanah (CAT)

Dengan pertimbangan bahwa keberadaan CAT dan non CAT pada WS belum
ditinjau terhadap tataguna lahan, lahan kritis dan tutupan lahan, maka dilakukan
analisis overlay antara daerah CAT dengan tata guna lahan, lahan kritis dan
tutupan lahan dengan GIS.

Berdasarkan hasil analisis GIS, maka untuk daerah non CAT diusahakan dijadikan
sebagai daerah tutupan hutan lindung/suaka alam.

Berikut ini ditampilkan gambar CAT di WS Kapuas (Gambar 4) dan peta hasil
overlay GIS antara Peta CAT dan Peta Tutupan Hutan di WS Kapuas (Gambar 5).

Sumber: Dinas Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Kalimantan Barat, Balai Wilayah Sungai
Kalimantan I dan Bappeda Provinsi Kalimantan Barat
Gambar 4
Peta cekungan air tanah di WS Kapuas
WS Kapuas

Sumber : Badan Pengelolaan DAS Kalimantan Barat


Gambar 5
Hasil overlay GIS antara peta CAT dan peta tutupan hutan di WS Kapuas

Berdasarkan hasil analisis di atas maka keberadaan CAT Putusibau, CAT


Sintang dan CAT Pontianak merupakan satu rangkaian siklus ekosistem
hidrogeologi WS Kapuas yang keberadaannya sangat dipengaruhi oleh
keberadaan daerah recharge air berupa hutan lindung dan taman nasional yang
berada di hulu sungai Kapuas (Kabupaten kapuas Hulu). Keberadaan ke 3 (tiga)
CAT tersebut akan menjamin stabilitas aliran base flow pada Sungai Kapuas.

Sasaran/target yang ingin dicapai yaitu untuk mencapai tujuan


pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air, maka
diperlukan langkah-langkah diantaranya yaitu keberadaan Hutan Lindung dan
Taman Nasional di Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Sintang dan Kabupaten
Melawi, Kabupaten Landak perlu dipertahankan penetapannya, direhabilitasi,
ditingkatkan upaya pemeliharaan serta upaya penegakan hukum terhadap
pembalakan liar.
4. Daerah tangkapan dan resapan atau penyangga air

Berdasarkan pemahaman terhadap aliran tanah di atas serta hasil analisis


menggunakan Geographic Information System (GIS), dapat disimpulkan bahwa
daerah recharge (resapan dan tampungan) air terdapat di daerah:

a. Hutan lindung dan taman nasional yang berada di hulu sungai Kapuas di
Kabupaten Kapuas Hulu,
b. Hutan lindung di daerah hulu sungai Melawi di Kabupaten Sintang dan
Kabupaten Melawi,
c. Hutan lindung di daerah hulu sungai Landak di Kabupaten Landak,

Oleh karenanya keberadaan hutan dan taman nasional pada ketiga lokasi
tersebut harus tetap dipertahankan bahkan dikembangkan dalam rangka
memaksimalkan fungsinya.

5. Erosi Lahan

Erosi lahan terjadi pada daerah atau lahan pertanian (budidaya),


khususnya terjadi pada lahan-lahan pertanian yang memasuki waktu persiapan
tanam, yaitu pengolahan lahan. Lahan masyarakat untuk penggunaan lainnya
(non budidaya) yang dalam kondisi terbuka/gundul tidak terpelihara juga
berpotensi terjadinya erosi. Lahan kritis yang diuraikan tersebut juga memiliki
potensi erosi lahan yang cukup tinggi.

Kondisi yang ada sekarang ini menunjukkan bahwa kabupaten Kapuas


Hulu masuk kedalam tingkat erosi dengan kategori sedang dan luasan area erosi
cukup besar jika dibandingkan dengan kabupaten lain yang masuk dalam WS
Kapuas. Sedangkan erosi lahan dengan tingkat erosi sangat tinggi terdapat di
Kabupaten Melawi, Kabupaten Landak, sebagian Kabupaten Sanggau dan
Kabupaten Sintang, seperti yang disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10
Luasan Erosi pada WS Kapuas

No. Tingkat Erosi Luas (Ha) %


1 Air 521.126,467 5,03
2 Berat 985.166,205 9,52
3 Ringan 2.379.865,726 22,99
4 Sangat Berat 1.095.718,997 10,59
5 Sangat Ringan 2.546.027,299 24,60
6 Sedang 2.822.722,553 27,27
Grand Total 10.316.551,000 100,00

Sumber : Badan Pengelolaan DAS Kalimantan Barat Tahun 2010


Gambar 6
Peta tingkat erosi WS Kapuas

Tingkat erosi di WS Kapuas di dominasi oleh tingkat erosi sedang


(27,27%), kategori sangat ringan (24,60%) dan kategori ringan (22,99%),
walaupun masih dalam kategori sedang resiko erosi dapat meningkat lebih cepat
menuju kategori berat jika tidak dilakukan kegiatan pencegahan erosi.

Alternatif solusi permasalahan yang bisa dilakukan antara lain:

a. memberikan arahan dan penjelasan kepada masyarakat mengenai


dampak dan kerugian terhadap Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di
sekitar sungai;
b. perlu dilakukan penertiban PETI yang ada dibantaran sungai;
c. melakukan penegakan hukum sesuai dengan peraturan
perundangundangan yang berlaku dan menindak tegas pelanggar yang
tidak mematuhi aturan tersebut;
d. melakukan pemeliharaan dan rehabilitasi hutan sesuai dengan
fungsinya;dan
e. mempertahankan luas hutan dan daerah resapan.

6. Sedimentasi Sungai

Sedimentasi sungai merupakan akumulasi dari butiran-butiran kecil atau


partikel-partikel lumpur yang terbawa oleh aliran sungai dan menyebabkan
terjadinya pendangkalan dasar sungai dan muara sungai. Sedimentasi dapat
terjadi karena pengaruh sebagai berikut:

a. Terjadinya erosi lahan (diuraikan pada subbab di atas),


b. Terjadi longsor lahan,
c. Terjadinya erosi dan longsor pada tepi/tebing sungai,
d. Terjadinya erosi dasar sungai karena kecepatan aliran sungai yang
melebihi kemampuan daya lekat butiran atau partikel tanah.
e. Adanya penggalian komoditas tambang golongan mineral logam, mineral
bukan logam dan batuan

Sedimentasi sungai juga mempunyai pengaruh yang sangat besar


terhadap aktivitas dan fungsi sungai yang selama ini digunakan oleh masyarakat
pengguna air. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah penanggulangan,
pelestarian dan upaya-upaya pengendalian terhadap sedimentasi.

Upaya yang harus dilakukan seperti:

a. Perbaikan terhadap erosi lahan


b. Perbaikan terhadap tutupan hutan
c. Perbaikan terhadap DAS Kritis
d. Penertiban terhadap Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dan
komoditas tambang golongan mineral logam, mineral bukan logam dan
batuan yang berada di sekitar sungai.
e. Mengkaji kembali peraturan daerah tentang PETI dan komoditas tambang
golongan mineral logam, mineral bukan logam dan batuan, agar lebih
selektif dan tegas.
f. Melaksanakan peraturan daerah dengan sungguh-sungguh dan menindak
tegas pelanggar yang tidak mematuhi ketentuan tersebut.

7. Kualitas Air

Mengenai pencemaran sungai tidak terlepas dari hasil pengamatan


kualitas air sungai yang ada, apakah memenuhi standar yang telah ditetapkan atau
tidak. Selain itu juga titik-titik pemantau kualitas air apakah sudah ideal dengan
panjang sungai yang ada atau belum. Sampai saat ini di Kalimantan Barat
khususnya di Sungai Kapuas baru terpasang 1 (satu) unit alat pemantau kualitas
air yang terpasang di intake Imam Bonjol PDAM Kota Pontianak, sehingga sangat
tidak mewakili dengan panjang sungai Kapuas yang mencapai 1.086 Km.

Untuk itu sangat diperlukan studi tentang penempatan titik-titik lokasi


pengamatan kualitas air sungai, penambahan titik pengamat kualitas air serta
pengkajian kembali peraturan daerah yang mengatur tentang pencemaran sungai.
Pengelolaan air limbah juga harus mendapat perhatian yang serius sehingga
tingkat pencemaran sungai dapat ditekan sekecil mungkin.

Berdasarkan permasalahan tersebut diatas, maka target/sasaran yang


ingin dicapai yaitu menjadikan kualitas air sungai yang baik dan perlu
dikembangkan prasarana dan sarana sanitasi terpadu, meliputi jaringan air limbah
dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan upaya seperti:

a. penyusunan sistem sanitasi perkotaan;


b. pelaksanaan pembangunan sarana sanitasi diseluruh Kabupaten/Kota;
c. penyusunan peraturan daerah pengelolaan sanitasi;
d. sosialisasi peraturan daerah pengelolaan sanitasi;
e. penegakan hukum terhadap perda pengelolaan sanitasi;
f. penertiban terhadap PETI dan komoditas tambang golongan mineral
logam, mineral bukan logam dan batuan yang berada di sekitar sungai;
g. pengkajian kembali peraturan daerah tentang PETI dan komoditas
tambang golongan mineral logam, mineral bukan logam dan batuan, agar
lebih selektif;
h. pelaksanaan peraturan daerah dengan sungguh-sungguh dan menindak
tegas pelanggar yang tidak mematuhi ketentuan tersebut;dan
i. penerapan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan bidang
sumber daya air.

KESIMPULAN

Hampir semua Kabupaten yang berada di WS Kapuas terdapat lahan


dengan kategori agak kritis dengan luasan sangat tinggi dan terdapat lahan
dengan kategori kritis dengan luasan cukup tinggi, namun untuk kategori sangat
kritis hanya terdapat pada 3 (tiga) Kabupaten, yaitu Kabupaten Melawi,
Kabupaten Sekadau dan Kabupaten Sintang.

Tutupan lahan yang dominan di DAS Kapuas adalah hutan di bagian hulu
dan pertanian lahan kering campur semak di bagian hilir. Intensitas pengelolaan
lahan juga cukup berbeda di masing-masing bagian sub-DAS, dimana pada
bagian hilir bersifat lebih intensif dengan pertanian dan perladangan dan di bagian
hulu pengelolaannya lebih bersifat ekstensif melalui pemanfaatan hasil hutan baik
kayu maupun non kayu.

Kalimantan Barat memiliki 3 daerat Cekungan Air Tanah(CAT), yaitu CAT


Putusibau, CAT Sintang dan CAT Pontianak yang merupakan satu rangkaian
siklus ekosistem hidrogeologi WS Kapuas yang keberadaannya sangat
dipengaruhi oleh keberadaan daerah recharge air berupa hutan lindung dan taman
nasional yang berada di hulu sungai Kapuas (Kabupaten kapuas Hulu).

Daerah recharge (resapan dan tampungan) air di WS Kapuas terdapat di


daerah hutan lindung dan taman nasional yang berada di hulu sungai Kapuas di
Kabupaten Kapuas Hulu, hutan lindung di daerah hulu sungai Melawi di Kabupaten
Sintang dan Kabupaten Melawi, dan hutan lindung di daerah hulu sungai Landak
di Kabupaten Landak.

Tingkat erosi di WS Kapuas di dominasi oleh tingkat erosi sedang


(27,27%), kategori sangat ringan (24,60%) dan kategori ringan (22,99%). Kondisi
yang ada sekarang ini menunjukkan bahwa kabupaten Kapuas Hulu masuk
kedalam tingkat erosi dengan kategori sedang dan luasan area erosi cukup besar
jika dibandingkan dengan kabupaten lain yang masuk dalam WS Kapuas.
Sedangkan erosi lahan dengan tingkat erosi sangat tinggi terdapat di Kabupaten
Melawi, Kabupaten Landak, sebagian Kabupaten Sanggau dan Kabupaten
Sintang.

Sedimentasi sungai di WS Kapuas dapat terjadi karena pengaruh


terjadinya erosi lahan, terjadi longsor lahan, terjadinya erosi dan longsor pada
tepi/tebing sungai, terjadinya erosi dasar sungai karena kecepatan aliran sungai
yang melebihi kemampuan daya lekat butiran atau partikel tanah, dan adanya
penggalian komoditas tambang golongan mineral logam, mineral bukan logam dan
batuan.

Penurunan kualitas air sungai merupakan awal dari pencemaran sungai


yang disebabkan oleh terjadinya erosi lahan kritis, limbah rumah tangga, limbah
industri, limbah pertambangan dan limbah perkebunan.
Sumber:
http://bpkh3.dephut.go.id/pdf/buku_potret_hutan_kalbar.pdf

http://www.dephut.go.id/INFORMASI/INFPROP/INF-KLBR.PDF

http://www.worldagroforestry.org/downloads/Publications/PDFS/WP15426.pdf

http://pag.bgl.esdm.go.id/siat/?q=content/konservasi-air-tanah-0

http://pag.bgl.esdm.go.id/siat/?q=content/sebaran-cekungan-air-tanah-di-
indonesia

http://dsdan.go.id/index.php/component/phocadownload/category/122-strategis-
nasional?download=182:pola-psda-ws-kapuas

http://www.dephut.go.id/uploads/files/1b74df6a1c38814356e30fb572c79ce0.pdf

http://www.dephut.go.id/uploads/files/32ad1e4f428940440aa2b35b70e0518b.pdf

http://sim-rlps.dephut.go.id/web5/index.php/peraturan/peraturan-dirjen-
bpdasps?download=116:keputusan-dirjen-bpdasps-nomor-sk-4-v-das-2015-
tentang-penetapan-peta-dan-data-hutan-dan-lahan-kritis-nasional-tahun-2013

http://bappenas.go.id/files/8713/9642/3401/Luas_Lahan_Kritis.xls

http://blh.bimakota.go.id/wp-content/uploads/2015/04/UU_No_5_Tahun_1990.pdf

http://pmbpasca.ipb.ac.id/id/registerform/arsip/15011983/sinopsis.pdf