Anda di halaman 1dari 7

Pandangan Islam bagi Pernikahan Dini

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Agama Islam yang Dibimbing Oleh
Bapak Faris Khoirul Anam

Offering CO8
Kelompok 7

Ainul Fitriah Mahmudah (15034260)


Rahmat Hidayatulloh (160513609625)
Ratna Suryaningtya Sari (150342606547)
Rina fiji Lestari (150342602674)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
BIOLOGI
Maret 2017
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tidak bisa di pungkiri lagi bahwa Allah menciptakan segala sesuatu yang ada
di dunia ini dalam keadaan saling berpasang-pasangan. Begitu juga Allah
menciptakan manusia, Ia menciptakan laki-laki yang dipasangkan dengan
perempuan, yang kesemua itu merupakan ketentuan-Nya yang tidak bisa dipungkiri
lagi agar satu sama lain saling mengenal. Sehingga di antara keduanya saling mengisi
kekosongan, saling membutuhkan dan melengkapi. Sangat ironis sekali bila
seseorang tidak membutuhkan bantuan ataupun tenaga orang lain dalam
melaksanakan aktivitas sehari-hari, mungkin inilah yang disebut sebagai naluri
gregariousness yaitu untuk hidup bersama, seperti firman Allah dalam surat Az-
Zariyat: 49

Artinya: Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu


mengingat akan kebesaran Allah.

Dengan diciptakan-Nya makhluk yang saling berpasang-pasangan tersebut,


lambat laun kan tercipta suatu komunitas kecil yang di dalamnya terdiri dari
beberapa orang. Untuk menciptakan komunitas atau masyarakat kecil akan
dibutuhkan suatu ikatan yang resmi, sah menurut undang-undang dan sah menurut
Agama maka perlu adanya suatu ikatan yang resmi yakni perkawinan. Perkawinan
tersebut dalam Islam disebut juga dengan nikah. Maka dengan adanya pernikahan
tersebut akan terbentuklah suatu organisasi manusia yang saling berhubungan satu
sama lain sehingga disebut dengan masyarakat (Hairi, 2009).

Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa keluarga merupakan pondasi awal


dari bangunan masyarakat dan bangsa. Oleh karenanya, keselamatan dan kemurnian
rumah tangga adalah faktor penentu bagi keselamatan dan kemurnian masyarakat,
serta sebagai penentu kekuatan, kekokohan, dan keselamatan dari bangunan negara.
Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa apabila bangunan sebuah rumah tangga
hancur maka sebagai konsekuensi logisnya masyarakat serta negara bisa dipastikan
juga akan turut hancur (Supriyatna & Amilia, 2010).
Oleh sebab itu Islam sangat menganjurkan kepada setiap manusia untuk
melaksanakan perkawinan (pernikahan), mencari pasangan hidup dan
memperbanyak keturunan. Perkawinan merupakan ikatan suci antara seorang laki-
laki dengan seorang wanita untuk membentuk rumah tangga yang penuh
ketentraman, kebahagiaan yang dipenuhi dengan kasih sayang dan didasari oleh
nilai-nilai ajaran Islam. Sebagaimana firman Allah Dalam Q.S. ar-Rum (30) : 21

Hal inipun dijelaskan dalam Undang-undang No 1 tahun 1974 tentang


perkawinan, dalam Pasal 1 dijelaskan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara
seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa (Supriyatna & Amilia, 2010).
Hubungan antara laki-laki dan perempuan diatur secara terhormat dan
berdasarkan saling meridhoi dengan dilangsungkannya upacara perkawinan.
Pernikahan menjadikan proses keberlangsungan hidup manusi di dunia ini berlanjut,
dari generasi ke generasi. Selain itu juga untuk menyalurkan nafsu birahi yang
dimiliki manusia sebagai makhluk Allah. Dengan pernikahan akan terhindar dari
perbuatan yang dilarang oleh agama, seperti halnya sex bebas (free sex), prostitusi
dan lain sebagainya. Sebab dengan cara pernikahan maka akan lebih efektif dan
efisien untuk mencegah dan menghindari perbutan zina, sebagimana sabda
Rasullulah SAW :
Seiring dengan nilai filosofis yang positif dari pernikahan mendorong
masyarakat untuk melaksanakan pernikahan, fenomena yang muncul kemudian
adalah maraknya pernikahan dini, yakni pernikahan yang dilakukan oleh kedua
mempelai yang salah satunya atau juga keduannya dipandang masih dibawah umur
yang dianggap wajar untuk melaksanakan pernikahan.
Dalam Islam pada dasarnya tidak ada keterangan yang jelas untuk membatasi
usia/umur untuk diperbolehkannya seseorang melaksanakan akad nikah. Tapi jika
ditinjau dari hukum positif sebagaimana yang dijelaskan dalam UU No.1 /1974 Pasal
7 disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak laki-laki mencapai umur
19 dan pihak wanita mencapai 16 tahun hal ini tentu menjadi satu permasalahan yang
cukup pelik ditengah masyarakat. Berdasarkan fenomena-fenomena yang ada,
penulis ingin mengetahui Pandangan Islam untuk Pernikahan Dini.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah artikel ini yaitu agaimana pandangan Islam bagi
Pernikahan Dini?
Tujuan
Tujuan dari artikel ini yaitu untuk mengetahui pandangan Islam bagi
Pernikahan Dini.
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Pernikahan
Dalam pasal 1 Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Pernikahan,
mendefinisikan pernikahan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan
seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah
tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menurut (Bachtiar, 2004) defenisi pernikahan adalah pintu bagi bertemunya


dua hati dalam naungan pergaulan hidup yang berlangsung dalam jangka waktu yang
lama, yang di dalamnya terdapat berbagai hak dan kewajiban yang harus
dilaksanakan oleh masing-masing pihak untuk mendapatkan kehidupan yang layak,
bahagia, harmonis, serta mendapat keturunan. Pernikahan itu merupakan ikatan yang
kuat yang didasari oleh perasaan cinta yang sangat mendalam dari masing-masing
pihak untuk hidup bergaul guna memelihara kelangsungan manusia di bumi.

` menurut ajaran Islam, perasaan cinta akan membawa kebaikan pada manusia
bila disalurkan hanya dalam bingkai pernikahan. Hal ini karena dalam pernikahan,
hampir semua bentuk interaksi antara laki-laki dan perempuan menjadi halal, bahkan
bernilai pahala bila dilakukan karena Allah (Hanafi et al,. 2016).

Diluar pernikahan, semua bentuk hubungan cinta laki-laki dan perempuan


adalah terlarang. Sebab orang yang sedang jatuh cinta, umumnya diketahui bahwa
mereka sering kali menyalurkan perasaan cintanya dengan cara selalu berada dekat
dengan sang pujaan hati, saling memandang, berbicara berdua, bahkan mungkin
lebih dari itu. Semua aktivitas ini secara tegas oleh Islam terlarang dilakukan oleh
laki-laki dan perempuan yang bukan suami-istri, karena dapat menimbulkan dampak
negatif bagi individu, keluarga, maupun masyarakat (Hanafi et al,. 2016).

Salah satu ayat yang biasanya dikutip dan dijadikan sebagai dasar untuk
menjelaskan tujuan pernikahan dalam Al-Quran adalah (artinya ) Dan di antara
tanda-tanda kekuasaan- Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya
di antaramu rasa kasih sayang ... (Q.S.30:21 ) (Nurhayati, 2011).
Berdasarkan ayat di atas jelas bahwa Islam menginginkan pasangan suami
istri yang telah membina suatu rumah tangga melalui akad nikah tersebut bersifat
langgeng. Terjalin keharmonisan di antara suami istri yang saling mengasihi dan
menyayangi itu sehingga masing-masing pihak merasa damai dalam rumah
tangganya (Nurhayati, 2011).
Rumah tangga seperti inilah yang diinginkan Islam, yakni rumah tangga
sakinah, sebagaimana disyaratkan Allah SWT dalam surat ar-Rum (30) ayat 21 di
atas. Ada tiga kata kunci yang disampaikan oleh Allah dala ayat tersebut, dikaitkan
dengan kehidupan rumah tangga yang ideal menurut Islam , yaitu sakinah (as-
sakinah), mawadah (al-mawaddah), dan rahmat (ar-rahmah). Ulama tafsir
menyatakan bahwa as-sakinah adalah suasana damai yang melingkupi rumah tangga
yang bersangkutan; masing-masing pihak menjalankan perintah Allah SWT dengan
tekun, saling menghormati, dan saling toleransi.
Dari suasana as-sakinah tersebut akan muncul rasa saling mengasihi dan
menyayangi (al-mawadah), sehingga rasa tanggung jawab kedua belah pihak
semakin tinggi. Selanjutnya, para mufasir mengatakan bahwa dari as-sakinah dan al-
mawadah inilah nanti muncul ar-rahmah, yaitu keturunan yang sehat dan penuh
berkat dari Allah SWT, sekaligus sebagai pencurahan rasa cinta dan kasih suami istri
dan anak-anak mereka ( Al-Qurtubi,1387, XIV: 16-17 dan Al-Qasimi, Tanpa Tahun,
XIII : 171-172).
Hikmah Pernikahan
Ulama fiqh mengemukakan beberapa hikmah perkawinan, yang terpenting di
antaranya adalah sebagai berikut.
1. Menyalurkan naluri seksual secara sah dan benar. Secara alami, naluri yang
sulit dibendung oleh setiap manusia dewasa adalah naluri seksual. Islam ingin
menunjukkan bahwa yang membedakan manusia dengan hewan dalam
menyalurkan naluri seksual adalah melalui perkawinan, sehingga segala
akibat negatif yang ditimbulkan oleh penyaluran seksual secara tidak benar
dapat dihindari sedini mungkin. Oleh karena itu, ulama fiqh menyatakan
bahwa pernikahan merupakan satu-satunya cara yang benar dan sah dalam
menyalurkan naluri seksual, sehingga masing-masing pihak tidak merasa
khawatir akan akibatnya. Inilah yang dimaksudkan Allah SWT dalam firman-
Nya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciftakan
untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang ...
(QS.30:21). Berkaitan dengan hal itu, Rasulullah SAW bersabda :Wanita itu
(dilihat) dari depan seperti setan (menggoda), dari belakang juga demikian.
Apabila seorang lelaki tergoda oleh seorang wanita, maka datangilah
(salurkanlah kepada) istrinya, karena hal itu akan dapat menentramkan
jiwanya (HR. Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmizi).
2. Cara paling baik untuk mendapatkan anak dan mengembangkan keturunan
secara sah. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda: Nikahilah wanita
yang bisa memberikan keturunan yang banyak, karena saya akan bangga
sebagai nabi yang memiliki umat yang banyak dibanding nabi-nabi lain di
akhirat kelak (HR. Ahmad bin Hanbal).
3. Menyalurkan naluri kebapakan atau keibuan . Naluri ini berkembang secara
bertahap, sejak masa anak-anak sampai masa dewasa. Seorang manusia tidak
akan merasa sempurna bila tidak menyalurkan naluri tersebut.
4. Memupuk rasa tanggung jawab dalam rangka memelihara dan mendidik
anak, sehingga memberikan motivasi yang kuat bagi seseorang untuk
membahagiakan orang-orang yang menjadi tanggung jawab.
5. Membagi rasa tanggung jawab antara suami dan istri yang selama ini dipikul
masing-masing pihak.
6. Menyatukan keluarga masing-masing pihak, sehingga hubungan silaturrahmi
semakin kuat dan terbentuk keluarga baru yang lebih banyak.
7. Memperpanjang usia. Hasil penelitian masalah-masalah kependudukan yang
dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1958 menunjukkan bahwa
pasangan suami istri mempunyai kemungkinan lebih panjang umurnya dari
pada orang-orang yang tidak menikah selama hidupnya.
Sumber:

Hairi. 2009. Fenomena Pernikahan Di Usia Muda Di Kalangan Masyarakat Muslim

Madura. Yogyakarta: Univertas Sunan Kalijaga.

Supriyatna & Amilia, F. 2010. PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP


PERNIKAHAN DINI DI PENGADILAN AGAMA MUNGKID (STUDI ATAS
PERKARA NO. 0065/Pdt.P/2009/PA.Mkd). Yogyakarta: Universitas Negeri
Sunan Kali Jaga.

Bachtiar, S. 2004. TINJAUAN UMUM TENTANG PERNIKAHAN. Yogyakarta:


Universitas Negeri Yogyakarta.

Nurhayati, A. 2011. PERNIKAHAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN. ASAS,


Vol.3, No.1, Januari 2011.