Anda di halaman 1dari 10

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
Adenomiosis adalah invasi jinak jaringan endometrium ke dalam lapisan miometrium

yang menyebabkan pembesaran uterus difus dengan gambaran mikroskopis kelenjar

dan stroma endometrium ektopik non neoplastik dikelilingi oleh jaringan

miometrium hipertrofik dan hiperplastik. Adenomiosis berasal dari istilah adeno

(artinya kelenjar), myo (otot) dan osis (kondisi). Dikenal sebagai endometriosis rahim

adalah adenomiosis jinak dan tidak menyebabkan kanker. Paling umum penyakit

tersebut mempengaruhi dinding belakang dari rahim. Sel-sel endometrium menembus

jauh ke dalam otot rahim. Ketika ini terjadi biasanya pembesaran rahim dua kali

normal dan sangat keras. Adenomiosis sering disebut sebagai endometriosis interna

(Edmonds, 2007).
2. Etiologi
Berbagai keadaan telah diteliti sebagai faktor resiko adenomiosis antara lain usia

antara 40-50 tahun, multipara, riwayat hiperplasia endometrium, riwayat abortus

spontan, dan polimenore. Sedangkan usia menarke, usia saat partus pertama kali,

riwayat abortus provokatus, riwayat seksio sesarea, endometriosis, obesitas,

menopause, panjang siklus dan lama haid, penggunaan kontrasepsi oral dan IUD

dilaporkan tidak berkaitan dengan adenomiosis (Champo, 2012).


3. Epidemiologi
Frekuensi adenomiosis bervariasi dari 5% hingga 70%, pada literatur lain dilaporkan

8% hingga 61%, bergantung pada seleksi sampel dan kriteria diagnostik yang dipakai.

Diagnosis preoperatif sendiri masih kurang dari 10% . Studi di Nepal oleh Shrestha et

al. (2012) melaporkan insidens 23,4% pada 256 spesimen histerektomi. Jauh

sebelumnya, sebuah studi di Itali oleh Parazzini et al. (1997) melaporkan insidens

serupa sekitar 21,2% pada 707 wanita yang menjalani histerektomi atas berbagai
indikasi.Meskipun insidensnya lumayan tinggi, tetapi studi epidemiologi seputar

adenomiosis masih sangat jarang (Wiknjosastro, 2006).


4. Patofisiologi
Adenomiosis berkembang dari pertumbuhan ke bawah dan invaginasi dari

stratum basalis endometrium ke dalam miometrium sehingga bisa dilihat adanya

hubungan langsung antara stratum basalis endometrium dengan adenomiosis di dalam

miometrium. Di daerah ekstra-uteri misalnya pada plika rektovagina, adenomiosis

dapat berkembang secara embriologis dari sisa duktus Muller (Benagiono, 2006).
Mekanisme terjadinya invasi endometrium ke dalam miometrium pada masih

harus dipelajari lebih lanjut. Perubahan proliferasi seperti aktivitas mitosis

menyebabkan peningkatan secara signifikan dari sintesis DNA & siliogenesis di

lapisan fungsional endometrium daripada di lapisan basalis. Lapisan fungsional

sebagai tempat implantasi blastocyst, sedangkan lapisan basalis sebagai sumber

produksi untuk regenerasi endometrium akibat degenerasi dari lapisan fungsional saat

menstruasi. Pada saat proses regenerasi, sel-sel epitel dari kelenjar basalis

berhubungan langsung dengan sel-sel stroma endometrium yang membentuk sistem

mikrofilamentosa/trabekula intraselular dan gambaran sitoplasma pseudopodia.

Beberapa perubahan morfologi pada epitel kelenjar endometrium adenomiosis tidak

dapat digambarkan. Namun dalam studi invitro menunjukkan sel-sel endometrium

memiliki potensial invasif dimana potensial invasif ini bisa memfasilitasi perluasan

lapisan basalis endometrium ke dalam miometrium (Benagiono, 2006).


Dalam studi yang menggunakan hibridisasi & imunohistokimia insitu

menunjukkan kelenjar-kelenjar endometrium pada adenomiosis lebih

mengekspresikan reseptor mRNA hCG/LH secara selektif. Pada endometrium yang

normal, kelenjar-kelenjar ini tidak dapat mengekspresikan reseptor hCG/LH. Hal ini

mungkin meskipun belum terbukti bahwa peningkatan ekspresi reseptor epitel

endometrium berkaitan dengan kemampuan untuk menembus miometrium dan


membentuk fokal adenomiosis. Menjadi menarik dimana peningkatan ekspresi

reseptor hCG/LH ditemukan pada karsinoma endometrii dibandingkan kelenjar

endometrium yang normal seperti halnya yang ditemukan pada trofoblas invasif

dibandingkan yang non-invasif pada koriokarsinoma (Benagiono, 2006).


Studi tentang reseptor steroid menggunakan Cytosol, menunjukkan hasil yang

tidak konsisten. Beberapa menunjukkan tidak ada ekspresi reseptor progesteron pada

40% kasus adenomiosis, sedangkan yang lain menunjukkan ekspresi reseptor

progesterone yang lebih tinggi dibandingkan estrogen. Dengan menggunakan tehnik

pelacak imunohistokimia, ditemukan konsentrasi yang tinggi baik reseptor estrogen

dan progesteron pada lapisan basalis endometrium maupun adenomiosis (Benagiono,

2006).
Reseptor estrogen merupakan syarat untuk pertumbuhan endometrium yang

menggunakan mediator estrogen. Meskipun masih belum jelas evidensnya,

hiperestrogenemia memiliki peranan dalam proses invaginasi semenjak ditemukan

banyaknya hiperplasia endometrium pada wanita dengan adenomiosis. Konsentrasi

estrogen yang tinggi diperlukan dalam perkembangan adenomiosis sebagaimana

halnya endometriosis. Hal ini didukung bahwa penekanan terhadap lingkungan

estrogen dengan pemberian Danazol menyebabkan involusi dari endometrium ektopik

yang dikaitkan dengan gejala menoragia & dismenorea (Benagiono, 2006).


Pada penyakit uterus yang estrogen-dependent seperti karsinoma endometri,

endometriosis, adenomiosis & leiomioma, tidak hanya terdapat reseptor Estrogen,

namun juga aromatase, enzim yang mengkatalisasi konversi androgen menjadi

estrogen. Prekursor utama androgen, Andronostenedione, dikonversi oleh aromatase

menjadi Estrone. Sumber estrogen yang lain yaitu Estrogen-3-Sulfat yang dikonversi

oleh enzim Estrogen sulfatase menjadi Estrone, yang hanya terdapat dalam jaringan

adenomiosis. Nantinya Estrone akan dikonversi lagi menjadi 17-estradiol yang

meningkatkan tingkat aktivitas estrogen. Bersama dengan Estrogen dalam sirkulasi,


akan menstimulasi pertumbuhan jaringan yang menggunakan mediator estrogen.

mRNA sitokrom P450 aromatase (P450arom) merupakan komponen utama aromatase

yang terdapat pada jaringan adenomiosis. Protein P450arom terlokalisir secara

imunologis dalam sel-sel kelenjar jaringan adenomiosis (Benagiono, 2006).


5. Penegakan diagnosis
a. Tanda dan gejala
Tidak ada gejala yang patognomonis untuk adenomiosis sehingga menyebabkan

rendahnya tingkat akurasi diagnosisi preoperatif. Dalam sebuah studi dimana telah

ditegakkan diagnosis patologis adenomiosis yang dibuat dari spesimen

histerektomi, 35% penderitanya tidak memiliki gejala yang khas. Gejala

adenomiosis yang umum yaitu menorragia, dismenorea dan pembesaran uterus.

Gejala seperti ini juga umum terjadi pada kelainan ginekologis yang lain. Gejala

lain yang jarang terjadi yaitu dispareunia & nyeri pelvis yang kronis atau terus-

menerus (Champo, 2012).


1) Asimtomatis
Ditemukan tidak sengaja (pemeriksaan abdomen atau pelvis; USG

transvaginal atau MRI; bersama dengan patologi yg lain)


2) Perdarahan uterus abnormal
Dikeluhkan perdarahan banyak, berhubungan dengan beratnya proses

adenomiosis (pada 23-82% wanita dengan penyakit ringan berat) Perdarahan

ireguler relatif jarang, hanya terjadi pada 10% wanita dengan adenomiosis
3) Dismenorea pada >50% wanita dengan adenomiosis
4) Gejala penekanan pada vesica urinaria & usus dari uterus bulky (jarang)
5) Komplikasi infertilitas, keguguran, hamil (jarang)

Perdarahan banyak berhubungan dengan kedalaman penetrasi dari kelenjar

adenomiosis ke dalam miometrium dan densitas pada gambaran histologis dari

kelenjar adenomiosis di dalam miometirum. Kedalaman adenomiosis dan

hubungannya dengan perdarahan banyak menentukan pilihan strategi

penatalaksanaannya. McCausland menunjukkan bahwa dari biopsi reseksi

endometrium, kedalaman penetrasi adenomiosis ke dalam miometrium


berhubungan dengan jumlah perdarahan banyak yang dilaporkan. Sehingga pada

adenomiosis superfisial dilakukan reseksi atau ablasi endometrium. Sedangkan

pada kasus adenomiosis yang lebih dalam atau dengan perdarahan banyak yang

berlanjut, perlu dilakukan penatalaksanaan bedah konvensional yaitu histerektomi

(Champo, 2012).

b. Anamnesis
1) Perdarahan yang berlebihan,
2) Periode-periode menstruasi yang menyakitkan, Diharapkan dengan menikah

dan kemudian melakukan hubungan intim dan mengalami orgasme akan

mengurangi ketegangan pada rahim sehingga dismenore akan berkurang.

Kehamilan juga dapat mengurangi dimenore, yang diduga terjadi karena

hilangnya sebagian saraf pada akhir kehamilan.


3) Perdarahan diantara periode-periode
4) Hubungan seksual yang menyakitkan.
5) Parah kram atau tajam, nyeri panggul pisau seperti selama menstruasi

(dismenore)
6) Kram menstruasi yang berlangsung sepanjang periode Anda dan memburuk

seiring bertambahnya usia


7) Gumpalan darah Passing selama periode anda
c. Pemeriksaan Penunjang
Adanya riwayat menorragia & dismenorea pada wanita multipara dengan

pembesaran uterus yang difus seperti hamil dengan usia kehamilan 12 minggu

dapat dicurigai sebagai adenomiosis. Dalam kenyataannya, diagnosis klinis

adenomiosis seringkali tidak ditegakkan (75%) atau overdiagnosis. Sehingga

adanya kecurigaan klinis akan adenomiosis dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan

pencitraan berupa USG transvaginal dan MRI (Champo, 2012).


Diagnosis adenomiosis secara klinis sulit dan seringkali tidak akurat. Hal ini

disebabkan gejala adenomiosis yang tidak khas, dimana gejala tersebut juga

ditemukan pada fibroid uterus, perdarahan uterus disfungsional (PUD) maupun

endometriosis. Dulu, diagnosis adenomiosis hanya dapat ditegakkan secara


histologis setelah dilakukan histerektomi. Dengan kemajuan dalam tehnik

pencitraan, diagnosis prehisterektomi bisa ditegakkan dengan tingkat akurasi yang

tinggi (Champo, 2012).


Pencitraan mempunyai 3 peran utama dalam mengelola pasien yang dicurigai

adenomiosis secara klinis. Pertama, untuk menegakkan diagnosis dan diagnosis

diferensial adenomiosis dari keadaan lain yang mirip seperti leiomioma. Kedua,

beratnya penyakit dapat disesuaikan dengan gejala klinisnya. Ketiga, pencitraan

dapat digunakan untuk monitoring penyakit pada pasien dengan pengobatan

konservatif. Beberapa pencitraan yang digunakan pada pasien yang dicurigai

adenomiosis yaitu Histerosalpingografi (HSG), USG transabdominal, USG

transvaginal dan MRI (Champo, 2012).


Gambaran karakteristik utama pada HSG berupa daerah yang sakit dengan

kontras intravasasi, meluas dari cavum uteri ke dalam miometrium. HSG memiliki

sensitivitas yang rendah. Kriteria diagnostik dengan USG transabdominal yaitu

uterus yang membesar berbentuk globuler, uterus normal tanpa adanya fibroid,

daerah kistik di miometrium dan echogenik yang menurun di miometrium. Bazot

dkk pada 2001 melaporkan bahwa USG transabdominal memiliki spesifisitas

95%, sensitivitas 32,5% dan akurasi 74,1% untuk mendiagnosis adenomiosis.

USG transabdominal memiliki kapasitas diagnostik yang terbatas untuk

adenomiosis terutama pada wanita yang terdapat fibroid (Champo, 2012).


Biasanya USG transabdominal dikombinasikan dengan USG transvaginal

yang menghasilkan kemampuan diagnostik yang lebih baik. Kriteria diagnostik

dengan USG transvaginal untuk adenomiosis yaitu tekstur miometrium yang

heterogen/distorsi, echotekstur miometrium yang abnormal dengan batas yang

tidak tegas, stria linier miometrium dan kista miometrium. Bazot dkk melaporkan

sensitivitas 65%, spesifisitas 97,5% dan tingkat akurasi 86,6% dengan USG

transvaginal dalam mendiagnosis adenomiosis dimana kriteria yang paling sensitif


& spesifik untuk adenomiosis adalah adanya kista miometrium. MRI merupakan

modalitas pencitraan yang paling akurat untuk evaluasi berbagai keadaan uterus.

Hal ini karena kemampuannya dalam diferensiasi jaringan lunak. MRI dapat

melihat anatomi internal uterus yang normal dan monitoring berbagai perubahan

fisiologis. Menurut Bazot dkk, kriteria MRI yang paling spesifik untuk

adenomiosis yaitu adanya daerah miometrium dengan intensitas yang tinggi dan

penebalan junctional zone >12 mm (Champo, 2012).


Beberapa studi telah membandingkan akurasi pemeriksaan MRI dengan USG

transvaginal dalam mendiagnosis adenomiosis. Dalam studi-studi terdahulu

menunjukkan tingkat akurasi yang lebih tinggi pada MRI dibandingkan USG

transvaginal. Namun dalam studi-studi terakhir dikatakan tidak ada perbedaan

tingkat akurasinya (Champo, 2012).


6. Penatalaksanaan
a. Medikamentosa
Tatalaksana adenomiosis bergantung pada usia pasien dan fungsi reproduksi

selanjutnya. Dismenorea sekunder yang diakibatkan oleh adenomiosis dapat

diatasi dengan tindakan histerektomi, akan tetapi perlu dilakukan intervensi

noninvasif terlebih dahulu. Obat-obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), obat

kontrasepsi oral dan progestin telah menunjukkan manfaat yang signifikan.

Penanganan adenomiosis pada prinsipnya sesuai dengan protokol penanganan

endometriosis (Manuaba, 2010).


1) Terapi Hormonal
Pemberian terapi hormonal pada adeomiosis tidak memberikan hasil yang

memuaskan. Tidak ada bukti klinis yang menunjukkan adanya manfaat terapi

hormonal dapat mengatasi infertilitas akibat adenomiosis. Pemberian obat

hormonal hanya mengurangi gejala dan efeknya akan hilang setelah

pemberian obat dihentikan. Obat hormonal yang paling klasik adalah

gonadotrophin releasing hormone agonist (GnRHa), yang dapat


dikombinasikan dengan terapi operatif. Mekanisme kerja GnRHa adalah

dengan menekan ekspresi sitokrom P450, suatu enzim yang mengkatalisis

konversi androgen menjadi estrogen. Pada pasien dengan adenomiosis dan

endometriosis enzim ini diekpresikan secara belebihan (Trijatmo, 2005).


2) Terapi Operatif
Sampai saat ini histerektomi merupakan terapi definitif untuk adenomiosis.

Indikasi operasi antara lain ukuran adenomioma lebih dari 8 cm, gejala yang

progresif seperti perdarahan yang semakin banyak dan infertilitas lebih dari 1

tahun walaupun telah mendapat terapi hormonal konvensional. Suatu teknik

operasi baru telah dipublikasikan oleh Osada pada tahun 2011. Dengan teknik

adenomiomektomi yang baru ini, jaringan adenomiotik dieksisi secara radikal

dan dinding uterus direkonstruksi dengan teknik triple flap. Teknik ini diklaim

dapat mencegah ruptur uterus apabila pasien hamil. Dalam penelitian tersebut,

dari 26 pasien yang mengharapkan kehamilan, 16 di antaranya berhasil dan 14

dapat mempertahankan kehamilannya hingga aterm dengan bayi sehat tanpa

penyulit selama kehamilan. Akan tetapi teknik ini belum diterima secara luas

karena masih membutuhkan penelitian lebih lanjut (Sarwono, 2009).


b. Non medikamentosa
1) Edukasi penyakit adenomiosis pada pasien
2) Meningkatkan gizi seimbang
3) Kontrol rutin
4) Menjaga kebersihan
7. Komplikasi
Meskipun tidak berbahaya, rasa sakit dan perdarahan yang berlebihan berhubungan

dengan adenomiosis dapat memiliki efek negatif pada gaya hidup Anda. Anda

mungkin menemukan diri menghindari kegiatan yang sebelumnya dinikmati karena

Anda tidak tahu kapan atau di mana Anda mungkin mulai berdarah. periode Nyeri

dapat menyebabkan Anda kehilangan pekerjaan atau sekolah dan dapat strain

hubungan. Berulang sakit dapat menyebabkan depresi, mudah tersinggung,

kemarahan kecemasan, dan perasaan tak berdaya. Itulah mengapa penting untuk
mencari evaluasi medis jika Anda curiga Anda mungkin memiliki adenomiosis

(Cunningham, 2007).

DAFTAR PUSTAKA

Benagiano et al. 2006. History of adenomyosis (Abstract). Best Pract Res Clin Obstet
Gynaecol.
Campo et al. 2012. Review Article Adenomyosis and Infertility. Obstetrics and
Gynecology International
Cherney AH and Nathan L. 2003. Current Obstetric & Gynaecologic Diagnosis &
Treatment. New York : The McGraw-Hill Companies, Inc.

Cunningham, F.G. 2006. Obstetri Williams Vol.1. Edisi 21. Jakarta : EGC. Pp : 631-7.

Edmonds et al. 2007. Obstetrics and Gynaecology. London : Blackwell Science, Ltd.

Manuaba, IBG, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan KB. Jakarta : EGC

Sarwono, Medika Prawirohardjo. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka.


Trijatmo Rachimhadhi. 2005. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Wiknjosastro, H., 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.