Anda di halaman 1dari 13

1.

Latar Belakang Masalah


Apabila politik dipahami sebagai perolehan perjuangan untuk

kekuasaan dan pengatasan konflik, maka politik merupakan arena untuk

saling bersaing berebut pengaruh untuk meraih posisi kekuasaan, entah itu

dengan cara konstitusional, atau bahkan jika perlu dengan cara paksaan atau

kekerasan. Para aktor pun berjuang untuk mewujudkan kehendak mereka

demi kepentingan pribadi ataupun kelompok. Di tengah arus pertemuan

berbagai kepentingan perebutan posisi kekuasaan, kadangkala konflik

menjadi bagian tidak terpisahkan dari penyelesaian pertikaian politik, dan

masalah konflik menjadi kompleks dan rumit manakala berbagai kepentingan

institusi, kelompok masyarakat, atau individu yang merupakan bagian luar

peserta konflik (the other) berperan serta dalam pertikaian politik tersebut.
Di sisi lain, ketika konflik berlangsung adalah adanya wacana-wacana

yang dikembangkan berbagai kelompok kepentingan untuk menyudutkan

kelompok lain dengan streotipe ataupun stigma. Tujuan dari pengembangan

wacana sekedar meligitimasi bahwa tindakan politik yang dilakukan adalah

tindakan pembenaran.
Peristiwa 27 Juli 1996, adalah merupakan refleksi dan representasi dari

sebuah konflik internal partai politik yang melibatkan berbagai kelompok

kepentingan yang tidak hanya kelompok internal Partai Demokrasi Indonesia

(PDI), tetapi juga kelompok kepentingan di luar partai. Masing-masing

kelompok kepentingan mempunyai agenda yang dikembangkan dalam

berbagai wacana dan tindakan politik. Ada beberapa penyebab yang

menyatakan, di satu sisi, konflik-konflik yang berlangsung dalam internal

PDI sebagai akibat langsung dari warisan Partai Nasional Indonesia.


2

(Sukamto, Wuryandari & Sihbudi: 55:1991). Di sisi lain, juga merupakan

upaya campur tangan pemerintah untuk pengkerdilan dan pengendalian

partai politik agar tidak berkembang sebagai oposisi yang mengganggu

stablitas.
Menengok perjalanan partai dengan simbol kepala banteng ini, dari

masa kelahiran pada tahun 1973 sampai tahun 1996, selalu dirundung konflik

internal.1 Puncak konflik terjadi pada tanggal 27 Juli 1996, atau yang dikenal

peristiwa kudatuli. Yaitu, penyerangan terhadap kantor DPP PDI yang

dilakukan PDI kubu Suryadi terhadap PDI pro Mega. Konflik ini berawal

penyelenggaraan Konggres IV tahun 1996 di Medan. Konggres ini

merupakan kelanjutan dari Konggres ke IV di Medan pada tahun 1993.

Konggres tersebut, gagal membentuk kepengurusan. Hal ini disebabkan,

popularitas Megawati yang kian menanjak, membuat pendukung Mega untuk

mendudukan diposisi Ketua Umum, tetapi kebijakan pemerintah yang tidak

mendukung Mega, akhirnya Konggres itu mengalami kegagalan. Soeryadi

tetap melancarkan isu bahwa dirinya masih di dukung Soeharto, tetapi tidak

direspon peserta konggres, dan akhirnya kongres berlangsung tanpa

1 Konflik pertama dimulai ketika pasca fusi, yaitu setelah kongres I PDI 1977. Konflik terjadi
antara Sanusi Hardjadinata dan Usep Ranawidjaya (ketua Umum dan Ketua Dewan Pimpinan
Pusat hasil Kongres I) melawan Achmad Sukarmadidjaja dan Muhidin Nasution (keduanya juga
ketua Dewan Pimpinan Pusat hasil Kongres I. Konflik berawal dari perbedaan pendapat mengenai
pencalonan unsur PDI untuk duduk dalam jabatan MPR/DPR. Isnaeni terpilih menjadi wakil
ketua MPR/DPR yang didukung FKP dan F ABRI. Kondisi demikian menyebabkan pertentangan
dalam tubuh PDI, yang kemudian melebar dengan digantinya Ketua Umum Sanusi Hardjadinata
dan Usep Ranawidjaja. Mereka di gantikan secara sepihak oleh Isnaeni sebagai Ketua Umum dan
Soenawar Soekawati sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dengan menamakan DPP
tandingan yang merupakan prakarsa Achmad Sukardmidjaja. Pembentukan DPP tandingan
ditentang oleh Sanusi dan Usep yang dianggap inkonstitusional . Lihat Manuel Kasiepo) ..
3

keputusan apapun.2 Kegagalan konggres IV di Medan, mengakibatkan

kevakuman dalam kepengurusan PDI, sehingga melalui munas di Ancol

memutuskan Mega sebagai ketua umum PDI, tetapi pemerintah tetap tidak

mengakui kepemimpinan Megawati. Hal ini yang melahirkan istilah

kepengurusan de facto.
Waktu terus bergulir, hingga menjelang pemilu 1997. Pemerintah

khawatir apabila dalam pemilu 1997 nanti hanya dua (2) kontestan peserta

pemilu, yaitu Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Akhirnya,

pemerintah menginisiasi adanya konggres IV yang merupakan kelanjutan

konggres sebelumnya yang gagal.3 Koggres ke IV di Medan pada tahun 1996,

dan memutuskan Suryadi sebagai Ketua Umum dan Buttu Hutapea sebagai

Sekjen. Putusan itu sontak mendapat reaksi dari PDI Megawati, dengan

mengelar aksi massa, dan akhirnya menduduki kantor DPP PDI di Jl.

Diponegoro, Jakarta Pusat serta mendirikan Mimbar Bebas. Kurang lebih

hampir satu bulan Mimbar Bebas diadakan, pada tanggal 27 Juli 1996,

kelompok massa yang menamakan PDI pendukung Suryadi menyerbu kantor

DPP tersebut. Peristiwa itu yang kemudian dikenal dengan Peristiwa 27

2 Soeryadi sendiri pulang ke Jakarta melalui Riau dan dari Riau ke Kuala Lumpur
menuju Jakarta. Isu yang berkembang Soeryadi mau di bunuh .Wawancara Alex WS 23-
8-2016

3 Berkaitan dengan Kongres ke IV di Medan pada tahun 1996, sudah tiga kali pergantian
Kasospol karena dianggap gagal menyelenggarakan Konggres PDI. Akhirnya Pangab
ABRI, Jendral Faisal Tanjung memanggil Alex WS, konsultan BIA tentang kesanggupan
untuk konsolidasi PDI sebagai persiapan Kongres, dengan bantuan fasilitas dari BIA
Alex WS berhasil mengkonsolidir seluruh DPC PDI seluruh Indonesia dan
menyelenggarakan Kongres PDI di Medan. Wawancara dengan Alex WS 23-8-2016
4

Juli,4 setidaknya telah menumbuhkan kesadaran baru bagi rakyat untuk

melakukan resistensi terhadap kekuasaan dominan rezim Orba. Kesadaran itu

adalah untuk bisa berinteraksi dan berpartisipasi aktif dalam pembicaraan

kekuasaan, yang sekian lama dibatasi.


Kekuasan rezim Orde Baru yang menekankan pada stabilitas politik

selalu berusaha mengendalikan berbagai elemen kehidupan politik sesuai

dengan garis politik rezim Orde Baru, dengan berbagai wacana dominan yang

dikembangkan, dengan tujuan mendekonstruksi kekuatan lain yang

mengganggu stabilitas. Partai politik dikebiri sedemikian rupa agar mudah

untuk dikendalikan. Di samping itu, Rezim Orde Baru juga sering

mengkonstruksi wacana-wacana, seperti dalam istilah Gramsci apa yang

disebut dengan popular common sense, yaitu mistifikasi yang sengaja di

ciptakan penguasa dalam bentuk wacana, seperti stabilitas nasional,

pertumbuhan ekonomi, konstitusional dan lain-lain. Tetapi, bagi

masyarakat konstruksi wacana tersebut diterima sebagai suatu yang wajar.

4 Pada tanggal 26 Juli 1996, pukul 06.20 WIB, masa pendukung Suryadi dengan mengenakan
kaos berwarna merah bertuliskan DPP PDI Pendukung Kongres Medan dengan mengunakan
delapan truk mini bercat kuning datang ke kantor DPP PDI yang terletak di Jalan Diponegoro,
Jakarta Pusat. Melalui delegasi yang dikirimkan, terjadi dialog dengan massa pendukung
Megawati selama 15 menit, dan massa pendukung Megawati meminta agar kantor DPP
dinyatakan status quo. Permintaan itu ditolak, sehingga tidak tercapai. Negoisasi gagal, pukul
06.35 WIB, massa pendukung Suryadi melempari kantor DPP PDI dengan batu dan paving block.
Demikian juga dengan massa pendukung Megawati membalas serangan. Akibat kalah jumlah
massa, pendukung Megawati berlindung di dalam kantor. Pada pukul 08.00 WIB aparat datang,
dan mengambil alih kantar tersebut serta menyatakan sebagai area tertutup. Peritiwa tersebut,
kemudian dikenal dengan peristiwa sabtu kelabu atau peristiwa 27 Juli 1996. Rencana
pengambil alihan kantor DPP PDI tersebut, jauh hari sudah diwacanakan pemerintah. Kassospol
ABRI, Letjen Syarwan Hamid, ABRI akan membantu Ketua Umum DPP PDI Suryadi untuk
menempati Gedung DPP PDI di Jl. Diponegoro 58 yang kini masih dalam penguasan kelompok
Megawati.(Media Indonesia,5/7/1996). Begitu pula, Sekjen PDI, Buttu Hutapea, menyatakan,
Markas PDI akan segera diambil alih. Sebaliknya, kubu Megawati siap mempertahankannya.
(Harian Terbit, 15/7/1996). Di sisi lain, masalah pengambil alihan kantor DPP PDI muncul pada
pertemuan antara pejabat Sospol ABRI, unsur Depdagri dan fungsionaris ABRI di Hotel Regent
pada tanggal 25 Juni 1996 .
5

Kecenderungan ini terjadi karena praktek rekayasa kekuasaan yang diketahui

dan dialami setiap hari itu seakan berada di luar kesadaran manusia. Pada

tingkat kesadaran individual dan masyarakat, praktek rekayasa baru

dirasakan keberadaanya manakala ia berbenturan dengan penggunaan

kekuasaan secara memaksa (coersive). Melalui seperangkat norma maupun

peran aparatur negara, segala bentuk oposisi baik yang bersifat laten maupun

manifes dengan segala cara diintegrasikan dalam sistem kekuasaan.


Apabila terjadi perlawanan terhadap sistem kekuasaan dengan mudah

untuk diintegrasikan sedemikian rupa. Kadangkala, oposisi dalam masyarakat

tidak dicegah atau dihambat, melainkan diberi keleluasaan untuk melontarkan

protesnya (Marcuse dalam Hardiman:xii:2003). Dalam tatanan sistem politik

dominan telah tersusun kekuasaan sedemikian rupa, sehingga gelombang

perlawanan memiliki efek menstabilkan sistem. Dengan demikian perlawanan

tidak hanya berhasil diredam melainkan diintegrasikan dalam keseluruhan

sistem. Kadangkala perlawanan atau oposisi dibutuhkan atau direkayasa

untuk dimunculkan sebagai upaya mengecangkan sistem kekuasaan itu

sendiri. Realitas demikian, cukup kental dan mewarnai kehidupan politik

Orde Baru, yang cenderung menjadi negera hegemonikbirokratis dan

korporatis (Mahfud:226:2014). Begitu juga, Afan Gaffar,(186:1992 )

menyatakan all of the arguments presented by the scholars of Indonesia

politics, howefer shared one thing in common, that is, the political processes

under the New Order regime is not a democratic one.


William Liddle (xii:1992), menyatakan untuk bisa memahami praktek

politik era rezim Orde Baru, tak ubahnya seperti melihat samudera lautan, apa
6

yang tampak sebagai gelombang ombak di permukaan belum tentu sama

seperti apa yang terjadi di dalamnya. Pernyataan itu hendak menegaskan

bahwa hiruk pikuk dalam pentas politik tidak berlangsung secara alamiah,

ada struktur kekuatan yang berada dalam epicentrum pusat kekuasaan baik

bersifat manifes maupun laten yang membentuk realitas tersebut. Pusat

kekuasaan, seperti yang digambarkan Liddle sebagai realitas dalam,

seolah kelihatan tenang tanpa gejolak, tetapi sebenarnya di dalamnya

tersembunyi berbagai kelompok kepentingan dengan berbagai motif politik.


Berkaitan dengan konflik internal PDI tersebut, bukanlah sebatas

konflik antar kelompok pendukung Megawati dengan kelompok pendukung

Suryadi, tetapi melibatkan berbagai kelompok kepentingan, seperti

Pemerintah Orde Baru dan PDI Suryadi, di satu sisi, berhadapan dengan, PDI

pendukung Megawati dan aktivis LSM, di sisi lain. Penguasa rezim Orde

Baru berkepentingan bahwa adanya kepengurusan partai yang dapat

dikendalikan menjamin keberlangsungan legitimasi kekuasaannya, bahkan

konflik internal cenderung untuk dipelihara. Sedang, kelompok yang

berseberangan dengan penguasa memanfaatkan situasi konflik untuk

mendekonstruksi kekuasaan dominan.


Peristiwa 27 Juli 19965, bagi penguasa merupakan upaya pengendalian

terhadap oposisi yang mengganggu stabilitas. Hal ini tentu berbeda dengan

mereka yang berada pada posisi Megawati maupun LSM dan Ormas lain.

5 Peristiwa 27 Juli 1996, ia menjadi Komandan penyerbuan Kantor DPP Partai


Demokrasi Indonesia (PDI), yang terletak di Jalan Diponegoro, No.46, Jakarta pada 27
Juli 1996. Sebelum peristiwa itu berlangsung, pada 17 Juli 1996 AWS bertemu dengan
Gus Dur dan mengemukakan rencana tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim
Orde Baru.
7

Peristiwa tersebut merupakan salah satu bentuk resistensi yang dilakukan

terhadap rezim Orba. Dalam perjalanan, peristiwa itu ternyata bergerak

dialektis. Di satu sisi, rezim Orba mampu mengintegrasikan kekuatan oposisi,

di sisi lain peristiwa itu membawa pemahaman dan kesadaran baru untuk

mengkritisi praktek kekuasaan rezim Orba. Kendati rezim Orba mampu

mengintegrasikan bentuk resistensi tersebut, tetapi peristiwa 27 Juli

menjadi momentum bagi tumbuhnya benih-benih kesadaran tentang tatanan

kehidupan yang demokratis.


Dengan demikian yang menarik untuk dikaji dalam penelitian ini adalah

mengungkap bagaimana pusat kekuasaan bekerja, dengan segala

konfigurasi kepentingan antar aktor yang terlibat, dan siapa-siapa saja actor

tersebut ? Apa yang menjadi fondasi ideologis kekuasaan Orde Baru dalam

menstabilkan kekuasaan untuk menjaga kepentingannya? Bagaimana

kepentingan-kepentingan kekuasaan itu dimanifestasikan ? Bagaimana juga

kepentingan kekuasaan itu mengkonstruksi dengan wacana-wacana yang

menyudutkan? Begitu juga, bagi oposisi yang berseberangan dengan

kekuasaan rezim Orba, akan memunculkan sejumlah pertanyaan, siapa aktor-

aktor yang terlibat, dan motivasi yang mendasarinya ? Bagaimana upaya-

upaya yang dilakukan dalam mendekonstruksi kekuasaan rezim Orde Baru,

baik dalam bentuk aksi massa dan pembentukan wacana ?


Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kajian difokuskan,

pertama, memahami fondasi ideologis dari para aktor yang terlibat. Kedua,

peran para aktor yang terlibat dalam konflik mengkonstruksikan tindakan

politik untuk melegitimasi kepentingannya. Ketiga, memahami apakah ada


8

pengaruh faktor eksternal yang berkontribusi terjadinya konflik. Faktor

eksternal yang dimaksud adalah kekuatan yang berada di luar inner circle

rezim Orba, misalnya pengaruh luar negeri.


Riset terdahulu kaitanya dengan tema dan fokus penelitian, terbagi

dalam tiga tema, seperti keterlibatan militer dalam peristiwa tersebut dan

merupakan hasil politik konspirasi. (Ikrar Nusa Bakti, 1999, Stefan Eklf,

1999, 2003, D Yatman, 2001). Studi yang lain, menjelaskan tentang analisis

pemberitaan, khususnya surat kabar tentang peristiwa tersebut. (Ramon,

2009, Agus Trilaksana, 2015)


Penelitian sebelumnya tidak ada yang membahas ideologi sebagai

penyebab berlangsungnya konflik. Setiap aktor yang terlibat konflik

mempunyai kepentingan yang dilatar belakangi ideologi yang menjadi

pendorong dalam melakukan tindakan politik


Dalam perspektif teoritis, penelitian ini berusaha untuk memperluas

kajian dari teori tindakan komunikasi Habermas. Dalam perspektif kritis,

kekuasaan rezim Orde Baru merupakan representasi dari sistem telah

mengkolonisasi kehidupan dunia(lebenswelt) sedemikian rupa. Sistem yang

menggurita dalam kekuasaan politik Orde Baru, membebaskan imperatif

sistem yang meruntuhkan kapasitas dunia kehidupan yang mereka

instrumentasikan.(Habermas:155: 1975). Habermas melihat kekerasan yang

dihasilkan sistem membatasi dunia kehidupan dengan komunikasi. Melalui

uang dan kekuasaan, sistem telah mediferensiasi ruang-ruang kosong yang

ditinggalkan dunia kehidupan, sehingga menimbulkan patologi-patologi

dalam kehidupan sosial, seperti krisis, anomie, ketidakberdayaan dan lain-

lain.
9

Dalam dunia kehidupan adalah latar pembentuk konteks bagi

tercapainya pemahaman melalui tindakan komunikasi. (Habermas:204:

1987).

Pada saat pembentukan teori tersebut, Habermas berpijak pada realitas

tahap awal perkembangan masyarakat kapitalis (borjuasi) yang masih

mengakomodir adanya kebebasan berkumpul, berserikat, dan mengeluarkan

pendapat. Di samping itu, subyek atau pelaku dalam masyarakat yang

digambarkan Habermas adalah masyarakat yang terdidik dan otonom. Fokus

dalam penelitian ini adalah aktivis politik yang termarginalkan dan dengan

kondisi masyarakat dengan sistem yang represif. Melalui penelitian ini akan

di deskripsikan model pembentukan tindakan komunikasi maupun ruang

publik dalam sistem masyarakat yang represif.


Penelitian ini penting sebagai refleksi kritis bagi para pemangku

kekuasaan, para politisi, khususnya, dan masyarakat pada umumnya, bahwa

struktur kekuasaan dominan dan represif melahirkan sub ordinasi yang

terdominasi berakibat pada bentuk-bentuk resistensi dari berbagai elemen

masyarakat, yang berujung pada ketidakstabilan sistem. Untuk itu, penataaan

sistem yang mengaktualkan pada nilai-nilai kesetaraan dan kedaulatan,

hendaknya menjadi pedoman dalam penataan masyarakat.


Melalui kajian pengalaman hidup individu, penelitian ini memberikan

kontribusi pengetahuan bahwa dengan realitas yang dominan dan represif

masih ada ruang bagi aktivitas politik untuk mengembangkan kesadaran

politik dalam upaya tranfsormasi maupun emansipasi. Aktivitas politik adalah

juga aktivitas komunikasi dengan berbagai ragam tindakan, seperti


10

membangun relasi-relasi politik, menegoisasikan pandangan dunia (ideologi)

maupun wacana-wacana politik, serta tindakan politik. Dengan demikian

penelitian ini menawarkan sebuah model pendekatan tentang aktivitas

komunikasi politik dalam suasana organisasi kekuasaan Orde Baru yang

dikenal dominan dan represif.

1.1. Fokus Penelitian

Studi ini akan mengungkapkan konflik internal politik Partai

Demokrasi Indonesia pengalaman hidup AWS dalam aktivitas politik era

kekuasaan Orde Baru. Kekuasaan politik tersebut merupakan realitas politik

yang terbentuk dalam pola dan sistem kekuasaan dan kewenangan yang

relatif stabil, tetapi di balik realitas stabil tersebut tersembunyi kekuatan yang

bersifat laten ataupun manifes untuk mendominasi, memanipulasi dan

mengkomodifikasi dengan nilai-nilai tertentu.

Kenyataan demikian, pada ujungnya menghadapkan pada resistensi

terhadap kekuasaan itu sendiri. Bentuk resistensi bisa bermacam-macam,

mulai aksi terbuka dengan mengambil posisi yang diametral dengan

kekuasaan, membangun kelompok-kelompok politik di luar kekuasaan atau

dalam kekuasaan yang tujuannya adalah membangun kesadaran.

Melalui pendekatan naratif (biografi kritis), kegiatan aktivis politik

merupakan aktivitas dalam membangun relasi-relasi politik, menegoisasikan

pandangan dunia (ideologi) dan membangun ruang-ruang komunikasi kritis

sebagai bentuk resistensi terhadap kekuasaan hegemoni.


11

Seiring dengan pendekatan kritis, yang bertujuan untuk mengkritik

dan mengubah hubungan sosial dengan cara mengungkapkan sumber-sumber

yang mendasari kontrol sosial, hubungan kekuasaan dan kesetaraan, dengan

mengungkap mitos dan kebenaran yang tersembunyi akan membantu mereka

yang termarginalkan. (Neuman: 124:2013)

Untuk fokus dalam penelitian ini dapat di rumuskan pertanyan sentral,

yaitu Apa saja pengalaman aktivitas politik AWS sebagai bentuk resistensi

pada era Rezim Orde Baru ?

Berdasarkan pada fokus penelitian, maka dapat di rumuskan

pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana pandangan politik AWS terhadap realitas politik dalam

kekuasan pemerintah Orde Baru ?


2. Bagaimana aktivitas AWS dalam menegoisasikan ide/gagasan politik ?
3. Bagimana aktivitas AWS dalam membangun relasi-relasi politik ?
4. Bagaimana aktivitas AWS dalam memobilisir sumber daya politik dalam

struktur kekuasaan pemerintah Orde Baru ?


5. Bagaimana aktivitas AWS dalam melakukan tindakan politik dalam

struktur kekuasaan pemerintah Orde Baru ?

1.2. Tujuan Penelitan Dan Pendekatan Penelitian

Tema utama dalam penelitian ini adalah aktivitas politik dan

resistensinya dalam kekuasan pemerintah Orde Baru. Melalui pendekatan

naratif (Creswell:96:2013), penelitian di mulai dengan pengalaman yang di

ekspresikan dalam cerita yang di sampaikan oleh individu. Teknik koloberatif

menjadi ciri yang kuat dalam penelitian naratif, ketika ceritanya muncul

melalui interaksi atau dialog antara peneliti dengan partisipan.


12

Tujuan dari penelitian ini dapat di rumuskan sebagai berikut:

1. Memahami pandangan politik aktivis politik terhadap realitas politik

dalam kekuasan pemerintah Orde Baru ?


2. Memahami aktivitas AWS dalam menegoisasikan ide/gagasan politik ?
3. Memahami aktivis dalam menegoisasikan ide/gagasan politik ?
4. Memahami aktivitas AWS dalam memobilisir sumber daya politik dalam

struktur kekuasaan pemerintah Orde Baru ?


5. Memahami aktivitas AWS dalam melakukan tindakan politik dalam

struktur kekuasaan pemerintah Orde Baru ?

1.3. ManfaatPenelitian

Penelitian ini di harapkan bermanfaat secara teoritis dan praktis.

a. Teoritis

Penelitian ini akan mengkaji tentang aktivitas politik AWS dan

resistensinya pada era Rezim Orde Baru. Melalui kajian tersebut, maka

manfaat hasil penelitian :

- Menjelaskan realitas politik yang tidak demokratis dan resistensi

resistensi yang muncul akibat dari sistem tersebut.


- Menawarkan suatu model tindakan komunikasi dalam struktur

kekuasaan politik yang represif.


- Menawarkan suatu model tentang subyek atau pelaku politik yang

termarginalkan oleh sistem politik untuk melakukan tindakan politik .

b. Praktis

- Melalui penelitian ini, di harapkan menjadi referensi untuk melakukan

refleksi kritis bagi para pemangku kekuasaan, para politisi, khususnya,

dan masyarakat pada umumnya bahwa struktur kekuasaan hegemonik


13

melahirkan sub ordinasi yang terdominasi berakibat pada bentuk-bentuk

resistensi dari berbagai elemen masyarakat, yang berujung pada

ketidakstabilan sistem. Untuk itu, penataaan sistem yang mengaktualkan

pada nilai-nilai kesetaraan dan kedaulatan, hendaknya menjadi pedoman

dalam penataan masyarakat.